Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Konsep aku menurut Tipitaka  (Read 2893 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Konsep aku menurut Tipitaka
« on: 08 August 2009, 10:42:57 PM »
PATISAMBHIDA MAGGA
[TREATISE ON INSIGHT]  (hal 401)


(1.)Demikianlah yang kudengar. suatu ketika Sang bhagava tinggal di Savatthi di hutan jeta, taman Anatthapindika. Disana Beliau berkhotbah kepada para bhikkhu, demikian: 'Para bhikkhu'. 'Ya Bhante' mereka menjawab. Sang Bhagava berkata demikian:

(2.) Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat bentuk apapun sebagai permanen (nicca) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak mungkin ia akan memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan tanpa memasuki kebenaran hakiki tidak mungkin ia akan menyelami Sotapatti phala atau Sakadagami Phala atau anagami Phala  atau arahatta Phala.
Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat bentukan apapun sebagai tidak permanen (anicca) mungkin ia akan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan dengan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran memungkinkan baginya untuk memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan dengan memasuki kebenaran hakiki memungkinkan baginya menyelami Sotapatti phala atau Sakadagami Phala atau anagami Phala  atau arahatta Phala.

(3.) Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat bentuk apapun sebagai menyenangkan (sukha) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak mungkin ia akan memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan..[dstnya seperti no:2 hingga].. atau Arahatta Phala. Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat segala bentukan apapun sebagai tidak menyenangkan (dukkha) mungkin ia akan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan...[dstnya seperti no:2 hingga]... atau Arahatta Phala.

(4.) Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat ide apapun sebagai aku (atta) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak mungkin ia akan memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan..[dstnya seperti no:2 hingga].. atau Arahatta Phala. Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat semua ide sebagai bukan aku (anatta) mungkin ia akan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan...[dstnya seperti no:2 hingga]... atau Arahatta Phala.

(5.)  Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat Nibbana tidak menyenangkan (dukkha) tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan tanpa membuat pilihan yang sesuai dengan kebenaran tidak mungkin ia akan memasuki kebenaran hakiki (certainty of rightness), dan..[dstnyaseperti no:2 hingga].. atau Arahatta Phala. Bhikkhu, jika seorang bhikkhu melihat Nibbana menyenangkan (sukha) mungkin ia akan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran, dan...[dstnyaseperti no:2 hingga]... atau Arahatta Phala.

                                                      (A iii 441 f.). [238]

komentar: Pandangan benar juga penting untuk membawa kemajuan pada meditasi Vipassana, pada tahap tertentu dalam meditasi Vipassana bila latihan kita benar maka kita mulai mengetahui mana jalan dan bukan jalan (magamagga nanavisuddhi), ini sejalan dengan Patisambhida Magga yang mengatakan pilihan yang sesuai dengan kebenaran (conformity with actuality).

Pada tahap pemurnian pandangan (ditthi visuddhi) jika seorang bhikkhu melihat ide apapun sebagai aku maka dikatakan tidak mungkin ia membuat pilihan sesuai dengan kebenaran.

Pertanyaan menarik yang bisa kita ajukan dalam hal ini, apakah yang dimaksud aku dalam Patisambhida Magga? apakah aku hanya terbatas pada eksistensi suatu entitas entah apapun namanya? Ternyata Patisambhida Magga mengatakan bahwa ide tanpa aku meliputi semua bentuk gagasan apapun, atau ide apapun tentang aku.

Jadi Patisambhida Magga dengan jelas menyatakan bahwa bila seseorang menganggap ada aku yang merasa, ada aku yang melihat, ada aku yang marah, ada aku yang menjadi penyebab, maka ia tak akan membuat pilihan sesuai dengan kebenaran.

Ajaran Sang Buddha dengan jelas tak pernah mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan berasal dari "aku", karena bila semua keburukan berasal dari aku maka itu adalah ide keakuan juga. Dan seterusnya ajaran Sang Buddha juga mengatakan bahwa penyebab dari semua kekacauan ini adalah asava (lobha, dosa dan moha)

Lobha dosa dan moha bukanlah siapa-siapa, lobha dosa moha bukan aku, bukan milikku, lobha dosa moha hanyalah proses yang muncul dan lenyap kembali oleh berbagai sebab.

Semoga artikel ini menambah pengertian kita bersama, semoga kita semua memasuki Jalan
« Last Edit: 09 August 2009, 11:38:25 AM by Indra »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Konsep aku menurut Tipitaka
« Reply #1 on: 09 August 2009, 11:34:27 AM »
siip deh si om turun gunung lagi  :jempol: GRP send  ;D
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Konsep aku menurut Tipitaka
« Reply #2 on: 09 August 2009, 11:46:33 AM »
^ yoi, lebih jelas...

Rasanya, syair2 Sang Buddha jauh lebih mudah dipahami dan lebih sesuai dengan pengalaman kita, dibanding rumusan ide2 baru yg muncul belakangan...

'klik' juga...

::
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Utphala Dhamma

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 109
  • Reputasi: 16
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Konsep aku menurut Tipitaka
« Reply #3 on: 15 June 2010, 11:37:49 PM »
Dan kalau dicermati, Sang Buddha dalam kotbah-kotbahnya selalu mengarahkan kita untuk melihat dalam konteks atau kerangka pancakhandha atau enam indera & objeknya. Dalam Abhidhamma juga kita diajak untuk melihat (bahwa yang ada hanya semata) komponen-komponen atau unsur-unsur atau elemen-elemen batin dan jasmani, beserta sifat, perilaku, mekanisme interaksi, dan kesalingtergantungannya. Tidak ada notion, ide atau gagasan tentang "Atta/Aku/Diri", kecuali hanya untuk rujukan konvensional.

Penyebabnya lobha, dosa dan moha.. karakteristik alamiah dari sankhara karena diliputi avijja.

Catatan: Tanha/lobha, ditthi & mana dikategorikan dalam bentuk batin yg dipimpin oleh lobha. Lobha selalu berdampingan dengan dosa. Bentuk batin yang buruk selalu disertai oleh moha. Bentuk batin buruk selalu timbul lenyap karena sankhara masih diliputi avijja)

Kembali ke topik, secara alami begitu ada kontak dengan enam indera, bagi batin yg belum terlatih, akan ada vipallasa (persepsi keliru) seperti subha vipallasa, nicca vipallasa, sukha vipallasa dan atta vipallasa. Karena belum melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Persepsi keliru ini dikikis dengan memperoleh kebijaksanaan (pañña) mulai dari mendengar Dhamma, melakukan perenungan Dhamma, dan secara total menyelami Dhamma melalui pengalaman langsung (pandangan terang/vipassana). Tiga jenis kebijaksanaan ini ada dinyatakan dalam Tipitaka, tapi saya tidak tahu persisnya. Disamping itu, melihat segala sesuatu sebagaimana adanya hanya dimungkinkan bila konsentrasi dan perhatian diarahkan pada Empat Landasan Perhatian, bukan pengarahan perhatian pada ide atau gagasan "Aku" dengan kata lain pelaksanaan Perhatian Benar (yang tentunya ditunjang oleh pelaksanaan unsur-unsur lain dalam Jalan Mulia Beruas 8 secara simultan dan konsisten). Bila latihan tidak tepat, tidak dilandasi pengertian benar, apalagi bila landasan perhatiannya keliru, pengamatan atas sifat atau corak sejati fenomena batin jasmani tidak akan terealisasikan.

Jadi pengertian benar memang diperlukan, bukan hanya menurut anjuran Bhante Mogok Sayadaw atau Bhante Mahasi Sayadaw, dan guru-guru lainnya, tapi juga yang diupayakan oleh Sang Buddha dengan berbagai cara mulai dari kotbah pertamanya. kotbah kedua, dan seterusnya sampai menjelang beliau parinibbana.

Demikian pendapat saya,
Mettacittena _/\_

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Konsep aku menurut Tipitaka
« Reply #4 on: 17 June 2010, 06:10:53 PM »
Quote
Kembali ke topik, secara alami begitu ada kontak dengan enam indera, bagi batin yg belum terlatih, akan ada vipallasa (persepsi keliru) seperti subha vipallasa, nicca vipallasa, sukha vipallasa dan atta vipallasa. Karena belum melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Persepsi keliru ini dikikis dengan memperoleh kebijaksanaan (pañña) mulai dari mendengar Dhamma, melakukan perenungan Dhamma, dan secara total menyelami Dhamma melalui pengalaman langsung (pandangan terang/vipassana). Tiga jenis kebijaksanaan ini ada dinyatakan dalam Tipitaka, tapi saya tidak tahu persisnya. Disamping itu, melihat segala sesuatu sebagaimana adanya hanya dimungkinkan bila konsentrasi dan perhatian diarahkan pada Empat Landasan Perhatian, bukan pengarahan perhatian pada ide atau gagasan "Aku" dengan kata lain pelaksanaan Perhatian Benar (yang tentunya ditunjang oleh pelaksanaan unsur-unsur lain dalam Jalan Mulia Beruas 8 secara simultan dan konsisten). Bila latihan tidak tepat, tidak dilandasi pengertian benar, apalagi bila landasan perhatiannya keliru, pengamatan atas sifat atau corak sejati fenomena batin jasmani tidak akan terealisasikan.

Bro Utphala Dhamma yang baik, inilah yang terjadi bagi mereka yang batinnya tak terlatih, selalu membentuk konsep/persepsi keliru. Atta hanya persepsi, tak lebih.

 _/\_
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline sukuhong

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 279
  • Reputasi: 8
Re: Konsep aku menurut Tipitaka
« Reply #5 on: 18 June 2010, 08:39:36 PM »
Quote
Kembali ke topik, secara alami begitu ada kontak dengan enam indera, bagi batin yg belum terlatih, akan ada vipallasa (persepsi keliru) seperti subha vipallasa, nicca vipallasa, sukha vipallasa dan atta vipallasa. Karena belum melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Persepsi keliru ini dikikis dengan memperoleh kebijaksanaan (pañña) mulai dari mendengar Dhamma, melakukan perenungan Dhamma, dan secara total menyelami Dhamma melalui pengalaman langsung (pandangan terang/vipassana). Tiga jenis kebijaksanaan ini ada dinyatakan dalam Tipitaka, tapi saya tidak tahu persisnya. Disamping itu, melihat segala sesuatu sebagaimana adanya hanya dimungkinkan bila konsentrasi dan perhatian diarahkan pada Empat Landasan Perhatian, bukan pengarahan perhatian pada ide atau gagasan "Aku" dengan kata lain pelaksanaan Perhatian Benar (yang tentunya ditunjang oleh pelaksanaan unsur-unsur lain dalam Jalan Mulia Beruas 8 secara simultan dan konsisten). Bila latihan tidak tepat, tidak dilandasi pengertian benar, apalagi bila landasan perhatiannya keliru, pengamatan atas sifat atau corak sejati fenomena batin jasmani tidak akan terealisasikan.

Bro Utphala Dhamma yang baik, inilah yang terjadi bagi mereka yang batinnya tak terlatih, selalu membentuk konsep/persepsi keliru. Atta hanya persepsi, tak lebih.

 _/\_

setuju