Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Mohon referensi thread/artikel mengenai pandangan Sang Buddha ttg kesabaran  (Read 1978 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Hendi Wijaya

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 452
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Kepada teman2 sedharma.. Mohon bantuan nya jika ada referensi thread / artikel2 Buddhis mengenai pandangan Sang Buddha tentang kesabaran.
Saya sudah coba cari tapi belum mendapatkan hasil yang maksimal.

Terima kasih sebelumnya.

 _/\_
"Persiapan terbaik untuk hari esok adalah dengan menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan baik"

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Kesempurnaan kesabaran harus dipertimbangkan sebagai berikut:
“Kesabaran adalah senjata bebas halangan dari kebaikan di dalam
pengembangan kualitas-kualitas mulia, karena ia mengusir kemarahan,
kebalikan dari semua kualitas tersebut, tanpa sisa. Kesabaran adalah
perhiasan dari mereka yang mampu menundukkan musuh tersebut;
kekuatan dari para petapa dan brahmana; suatu aliran air yang
memadamkan api dari kemarahan; dasar untuk memperoleh sebuah
reputasi baik; sebuah mantra untuk menghentikan ucapan beracun dari
orang-orang jahat; sumber tertinggi keteguhan dari mereka yang mantap
di dalam pengendalian. Kesabaran adalah suatu samudra dalam hal
kedalamannya; suatu pantai yang membatasi samudra besar kebencian;
sebuah panel yang menutup pintu menuju alam penderitaan; sebuah
tangga yang naik menuju alam-alam para dewa dan Brahmā; lapangan
untuk tempat tinggal semua kualitas mulia; pemurninan tertinggi dari
tubuh, ucapan dan pikiran.”
Kesabaran seharusnya lebih jauh diperkuat dengan refleksi: “Mereka
yang kekurangan kesabaran menderita di dalam dunia ini dan
menerapkan diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan-perbuatan

yang akan mengakibatkan penderitaan mereka di kehidupan yang
akan datang.” Dan: “Meskipun penderitaan ini muncul melalui
tindakan-tindakan salah makhluk lain, tubuh milik saya ini merupakan
ladang bagi penderitaan itu, dan perbuatan yang merupakan bibit
dari penderitaan itu ditabur sendiri oleh saya.” Dan: “Penderitaan ini
akan membebaskan saya dari hutang kamma itu.” Dan: “Jika tidak
ada para pelaku-kesalahan, bagaimana saya bisa menyempurnakan
kesempurnaan kesabaran?” Dan: “Meskipun ia adalah pelaku-kesalahan
sekarang, di masa lalu ia adalah penyokongku.” Dan: “Pelakukesalahan
juga adalah seorang penyokong, karena ia merupakan dasar
untuk mengembangkan kesabaran.” Dan: “Semua makhluk adalah
seperti anak saya sendiri. Siapa yang menjadi marah atas perbuatanperbuatan
salah anak-anaknya sendiri?” Dan: “Ia melukai saya karena
disebabkan adanya beberapa sisa kemarahan di dalam diri saya sendiri;
sisa ini harus saya singkirkan.” Dan: “Saya adalah sama penyebabnya
seperti ia untuk kesalahan yang terjadi dalam hal penderitaan ini telah
muncul.” Dan: “Semua fenomena tersebut yang salah, telah dilakukan
dan mereka yang terkena – semua itu, pada saat ini, sudah berhenti.
Kemudian, dengan siapa sekarang kamu seharusnya marah, dan oleh
siapa kemarahan itu seharusnya dibangkitkan? Ketika semua fenomena
adalah tanpa-diri, siapa yang bisa melakukan kesalahan kepada siapa?”
Apabila, karena kekuatan kumulatif mereka, kemarahan yang
disebabkan oleh kesalahan-kesalahan makhluk lain tetap mengalahkan
pikiran, seseorang seharusnya merefleksikan: “Kesabaran adalah
penyebab yang berperan untuk memberikan pertolongan kepada
makhluk lain sebagai balasan dari kesalahan mereka.” Dan: “Kesalahan
ini, dengan menyebabkan saya menderita, adalah sebuah kondisi untuk
keyakinan, karena penderitaan dikatakan sebagai dukungan penentu
untuk keyakinan, dan kesabaran juga merupakan sebuah kondisi untuk
persepsi ketidakpuasan dengan seluruh dunia.” Dan: “Ini adalah sifat
dari indra-indra – untuk bertemu dengan objek-objek yang diinginkan
dan yang tidak diinginkan. Lalu bagaimana mungkin untuk tidak
bertemu objek-objek yang tidak diinginkan?” Dan: “Di bawah kontrol
kemarahan, seseorang menjadi gila dan hilang akal, jadi mengapa
membalas dendam?” Dan: “Semua makhluk ini diawasi oleh Buddha
seperti anak kesayangannya sendiri. Oleh karena itu saya tidak boleh
marah kepada mereka.” Dan: “Ketika pelaku-kesalahan memiliki
kualitas-kualitas mulia, saya seharusnya tidak marah kepadanya. Dan
ketika ia tidak memiliki kualitas mulia apapun, maka saya seharusnya
memandang ia dengan welas asih.” Dan: “Karena kemarahan, ketenaran
dan kualitas-kualitas mulia saya berkurang, dan demi kesenangan
musuh-musuh saya, saya menjadi jelek, tidur dalam ketidaknyamanan,
dll.” Dan: “Kemarahan adalah satu-satunya musuh yang sesungguhnya,
karena kemarahan adalah agen dari semua kejahatan dan penghancur
dari semua kebaikan.” Dan: “Ketika seseorang memiliki kesabaran, ia
tidak memiliki musuh.” Dan: “Karena kesalahannya, pelaku-kesalahan
akan mengalami penderitaan di masa depan, tetapi selama saya tetap
bersabar saya tidak akan mengalaminya.” Dan: “Musuh-musuh adalah
konsekuensi dari pemikiran marah saya. Saat saya menundukkan
kemarahan dengan kesabaran, musuh saya, yang merupakan produk
hasil dari kemarahan saya, juga akan ditundukkan.” Dan: “Saya tidak
seharusnya melepaskan kualitas mulia dari kesabaran karena sebuah
kemarahan kecil. Kemarahan adalah antitesis dan halangan terhadap
semua kualitas mulia, jadi apabila saya menjadi marah, bagaimana
moralitas saya, dll. terpenuhi? Dan ketika kualitas-kualitas tersebut
tidak ada, bagaimana saya dapat mengabdikan diri saya untuk menolong
makhluk lain dan mencapai tujuan tertinggi sesuai dengan sumpah
saya.” Dan: “Ketika terdapat kesabaran, pikiran menjadi terkonsentrasi,
bebas dari pengalihan eksternal. Ketika pikiran terkonsentrasi, semua
bentukan muncul di refleksi sebagai tidak kekal dan penderitaan,
semua fenomena sebagai tanpa-diri, nibbāna sebagai yang tidak
berkondisi, tanpa-kematian, damai, dan luhur, dan kualitas-kualitas
Buddha sebagai yang memiliki potensi yang tidak terbayangkan dan
tidak terukur. Kemudian, mantap di dalam penyetujuan tanpa protes
dalam keselarasan,[13] ketidakberdasaran dari semua ‘pembuatan-Aku’
dan ‘pembuatan-milikku’ menjadi terbukti pada refleksi dengan cara
ini: ‘Sekadar fenomena sendiri ada, tanpa adanya diri atau hal apapun
yang berkenaan dengan sebuah diri. Mereka muncul dan berlalu sesuai
dengan kondisi-kondisi mereka. Mereka tidak datang dari mana pun,
mereka tidak pergi ke mana pun, mereka tidak menetap di mana pun.
Tidak ada kepemilikan apa pun di dalam hal-hal apa pun.’ Dalam cara
ini seorang bodhisattva menjadi pasti dalam takdirnya, terikat untuk
pencerahan, tidak dapat diubah.”
Inilah metode untuk merefleksikan kesempurnaan kesabaran.

Risalah tentang Parami-Parami dari Kitab Komentar untuk Cariyāpiṭaka
Judul Asli: A Treatise on the Paramis. From the Commentary to the Cariyapitaka
Penulis: Acariya Dhammapala (diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Bhikkhu
Bodhi)
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Bodhicaryavatara
Bab 6

Kshanti Paramita

1.

Apapun tindakan-tindakan bajik

Seperti menghormati para Buddha dan dana paramita,

Yang telah terkumpul selama ribuan kalpa

Semuanya akan hancur karena satu momen kemarahan.

 

2.

Tak ada karma negatif yang menyamai kemarahan,

Dan tak ada tapa yang menyamai kshanti.

Karena itu, saya harus berupaya dengan berbagai cara.

Untuk bermeditasi pada kshanti.

3.

Citta saya tak akan mengalami kedamaian

Jika saya mempertahankan pikiran menyakitkan dari kemarahan.

Saya tak akan mendapatkan kegembiraan atau kebahagiaan;

Tak dapat tidur dan tidak merasa tenang.

4.

Seandainya seorang tuan

Memberikan kekayaan dan kebahagiaan kepada semua anak buahnya

Tuan tersebut tetap beresiko dibunuh

Jika ia memiliki kemarahan.

5.

Kemarahan membuat sahabat-sahabat dan sanak saudara merasa tidak senang;

Meskipun tertarik dengan kemurahan hati saya, mereka tak akan percaya pada saya;

Singkatnya, tak seorang pun

Hidup bahagia dengan kemarahan.

6.

Kemarahan, musuh ini

Menciptakan penderitaan-penderitaan demikian,

Namun siapapun dengan tekun mengatasinya

Mendapatkan kebahagiaan, sekarang dan seterusnya.

7.

Setelah mendapatkan bahan bakar ketidakbahagiaan mental

Menghindarkan saya dari apa yang saya inginkan,

Dan membawa hal-hal yang tidak saya inginkan,

Kemarahan bertambah dan kemudian menghancurkan saya.

8.

Karena itu, saya harus menghilangkan sepenuhnya

Bahan bakar dari musuh ini,

Karena musuh ini tidak mempunyai fungsi lain

Kecuali menyebabkan bahaya bagi saya.

9.

Apapun yang terjadi padaku,

Saya tak akan membiarkan kebahagiaan mental saya terganggu;

Karena dengan tidak bahagia, saya tak akan mencapai apa yang saya inginkan,

Dan kebajikan saya akan merosot.

 

10.

Jika ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk mengatasinya,

Mengapa harus marah?

Jika tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk mengatasinya,

Apa gunanya marah?

11.

Untuk diri sendiri dan teman-teman saya,

Saya tidak menginginkan penderitaan, sikap tidak hormat,

Kata-kata menyakitkan dan apapun yang tidak menyenangkan;

Namun untuk musuh-musuh saya, malah sebaliknya.

12.

Sebab-sebab kebahagiaan jarang dilakukan

Namun sebab-sebab penderitaan sangat banyak.

Tetapi tanpa adanya penderitaan, tak ada pengentasan diri.

Karena itu, citta, engkau harus teguh.

13.

Jika beberapa pertapa dan orang-orang Karnapa

Menanggung rasa sakit dipotong dan dibakar tanpa alasan,

Lalu demi pembebasan

Mengapa saya tidak mempunyai keberanian?

14.

Tiada sesuatu apapun

Yang tidak menjadi lebih mudah karena pembiasaan.

Jadi dengan membiasakan diri terhadap penderitaan kecil,

Saya akan belajar menanggung penderitaan yang lebih besar.

15.

Siapakah yang belum melihat memang demikian, dengan penderitaan-penderitaan sepele

Seperti gigitan ular dan serangga,

Rasa lapar dan haus,

Dan hal-hal sepele seperti bintik merah di kulit?

16.

Saya seharusnya bersabar

Terhadap panas dan dingin, angin dan hujan,

Sakit, keadaan terbelenggu dan pukulan;

Jika tidak, penderitaan yang diakibatkan akan menjadi lebih parah.

17.

Ada orang yang ketika melihat darah mereka sendiri

Menjadi sangat berani dan teguh,

Tetapi ada yang ketika melihat darah orang lain

Pingsan dan tak sadarkan diri.

 

18.

(Reaksi-reaksi) demikian muncul dari

Pikiran yang teguh maupun penakut.

Oleh karena itu, saya tak akan menghiraukan penderitaan-penderitaan yang ditujukan kepada saya,

Dan saya tak akan terpengaruh oleh duhkha.

19.

Bahkan ketika para bijaksana mengalami duhkha

Citta mereka tetap sangat jernih dan tak bergejolak;

Karena ketika berperang melawan klesha,

Banyak penderitaan akan muncul saat pertempuran.

20.

Para pendekar yang telah menang adalah mereka yang

Setelah tak menghiraukan segala penderitaan,

Menaklukkan musuh-musuh dari kemarahan dan sebagainya;

Sedangkan para pendekar biasa, hanya berani membunuh mayat.

21.

Lebih lanjut, penderitaan ada manfaat-manfaatnya;

Melalui penderitaan, kesombongan hilang,

Welas asih muncul terhadap mereka yang ada dalam samsara,

Tindakan-tindakan negatif dihindari dan muncul kebahagiaan dalam kebajikan.

22.

Karena saya tidak menjadi marah

Pada sumber penderitaan yang hebat seperti penyakit kuning,

Lalu mengapa marah pada makhluk-makhluk?

Mereka juga dipaksakan oleh kondisi-kondisi.

23.

Meskipun tidak dihendaki,

Penyakit-penyakit ini muncul;

Dan begitu pula, meskipun tidak dikehendaki

Klesha-klesha ini muncul dengan kuat.

24.

Tanpa berpikir, “Saya akan marah,”

Orang-orang menjadi marah begitu saja,

Dan tanpa berpikir, “Saya akan membangkitkan kemarahan sekarang,”

Begitu pula, kemarahan muncul dengan sendirinya.

25.

Semua kekeliruan yang ada

Serta berbagai macam tindakan negatif

Muncul melalui daya kondisi-kondisi;

Hal-hal tersebut tidak terjadi karena dayanya sendiri.

26.

Kondisi-kondisi yang muncul bersamaan ini

Tak memiliki tujuan untuk menghasilkan apapun,

Dan apa yang terbentuk

Tak memiliki tujuan untuk dibentuk.

27.

Apa yang disebut sebagai Materi Penyebab Awal (oleh para Samkhya)

Dan apa yang dianggap sebagai diri (atman),

Hal-hal tersebut tidak berpikir,

“Saya akan muncul (untuk menyebabkan penderitaan).”

28.

(Sesungguhnya), karena belum muncul, (maka) hal-hal tersebut tidak eksis,

Lalu apa yang mempunyai keinginan untuk muncul?

Dan karena [diri (atman) ini) merupakan sesuatu yang secara permanen mempersepsi objeknya,

Itu berarti diri ini akan terus-menerus demikian.

29.

Lebih lanjut, jika diri bersifat permanen seperti angkasa,

Maka jelas bahwa diri tidak akan bertindak untuk melakukan sesuatu.

Sehingga meskipun diri ini bertemu dengan kondisi lainnya,

Bagaimana bisa (sifatnya) yang tak berubah-ubah menjadi terpengaruh?

30.

Bahkan jika pada waktu adanya tindakan, diri (tetap) seperti sebelumnya,

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh tindakan tersebut?

Dengan demikian, jika saya mengatakan tindakan ini didasari (diri yang permanen)

Bagaimana mungkin keduanya (diri dan tindakan) saling terkait?

31.

Oleh karena itu, segala sesuatu dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (yang pada gilirannya) juga dipengaruhi oleh (faktor-faktor lainnya),

Dan dengan demikian, tiada sesuatu yang berdiri sendiri.

Setelah memahami ini, saya tak akan menjadi marah

Pada keberadaan apapun, yang seperti ilusi.

32.

Dan seandainya engkau berkata, “Menghindari kemarahan tidak tepat,

Karena siapa (atau apa) yang dapat menghindari apa?”

Saya nyatakan bahwa itu bukan tidak tepat

Karena dengan bergantung pada menghindari kemarahan, maka kesinambungan penderitaan dapat diakhiri.

 

33.

Dengan demikian, ketika melihat seorang musuh atau bahkan seorang teman

Melakukan tindakan-tindakan yang tidak tepat,

Saya akan tetap tenang,

Dengan berpikir bahwa hal-hal tersebut muncul karena kondisi-kondisi.

34.

Jika sesuatu itu muncul karena bisa memilih,

Lalu karena tak seorang pun menginginkan penderitaan,

Maka penderitaan tak akan terjadi

Pada makhluk manapun.

35.

Karena tidak berhati-hati,

Orang-orang bahkan menyakiti dirinya sendiri dengan duri dan hal-hal lainnya,

Dan demi mendapatkan wanita dan sebagainya,

Mereka menjadi terobsesi dan menolak makanan.

36.

Dan ada orang yang menyakiti dirinya sendiri

Dengan tindakan-tindakan negatif

Seperti menggantung diri, meloncat dari tebing

Meminum racun dan memakan makanan yang tidak sehat.

37.

Jika saat berada di bawah pengaruh klesha

Orang-orang bahkan melakukan bunuh diri atas diri yang begitu berharga,

Bagaimana mungkin mereka tidak menyakiti

Tubuh-tubuh makhluk lainnya?

38.

Bahkan jika saya tak dapat mengembangkan welas asih terhadap orang-orang seperti itu

Mereka yang karena klesha,

Mencoba membunuh saya dan sebagainya,

Paling tidak, saya tak akan marah pada mereka.

39.

Bahkan jika menyakiti makhluk-makhluk lain

Adalah sifat dari mereka yang kekanakan-kanakan,

Tidaklah tepat untuk marah pada mereka,

Karena ini seperti marah pada api karena (api) memiliki sifat membakar.

40.

Dan bahkan jika sifat dasar para makhluk adalah baik

Dan kekurangan-kekurangan mereka hanyalah sementara,

Tetap tidak tepat untuk marah,

Sebab ini seperti marah pada angkasa karena membiarkan asap muncul di dalamnya.

 

41.

Jika saya menjadi marah pada pemegang tongkat,

Meskipun saya sebenarnya disakiti oleh tongkat,

Lalu karena pemegang tongkat juga dipengaruhi oleh kemarahan,

Mestinya saya marah dengan kemarahannya (bukan orangnya).

42.

Sebelumnya, saya pasti telah menyebabkan penderitaan yang serupa

Terhadap makhluk-makhluk lainnya,

Oleh karena itu, adalah wajar jika penderitaan ini kembali pada saya,

Yang telah menyakiti makhluk-makhluk lain.

43.

Baik senjata maupun tubuh saya

Keduanya merupakan penyebab penderitaan saya.

Karena orang tersebut menyebabkan tongkat dan saya menyebabkan tubuh ini,

Pada siapa seharusnya saya marah?

44.

Jika dalam keterikatan yang membabi-buta, saya mencengkeram

Pada penderitaan abses wujud manusia ini

Yang tak tahan disentuh,

Pada siapa seharusnya saya marah ketika disakiti?

45.

Adalah kekeliruan dari mereka yang kekanak-kanakan jika mereka tersakiti,

Karena meskipun mereka tak ingin menderita,

Mereka sangat terikat pada penyebab-penyebab penderitaan.

Lalu mengapa mereka marah pada makhluk-makhluk lain?

46.

Seperti halnya para penjaga alam neraka

Dan hutan dengan dedaunan tajam seperti silet,

Begitu pula (penderitaan) ini disebabkan oleh tindakan-tindakan saya;

Oleh karena itu, pada siapa saya seharusnya marah?

47.

Disebabkan oleh tindakan-tindakan saya sendiri,

Mereka yang menyakiti saya, muncul.

Jika karena (tindakan-tindakan) mereka ini, mereka terjatuh ke alam neraka

Bukankah saya yang menghancurkan mereka?

48.

Dengan bergantung pada mereka, saya mempurifikasi banyak karma negatif,

Dengan secara sabar menerima penderitaan yang disebabkan mereka.

Namun dengan bergantung pada diri saya, mereka akan terjatuh

Ke penderitaan neraka untuk waktu yang sangat lama.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
[Sakka:]

    “’Bukan karena takut atau lemah
    Aku bersabar terhadap Vepacitti.
    Bagaimana mungkin seorang bijaksana sepertiku
    Terlibat pertempuran dengan si dungu?’

[Mātali:]

    “’Si dungu akan lebih banyak lagi melepaskan kemarahannya
    Jika tidak ada seorang pun yang melawannya.
    Karena itu, dengan hukuman drastis
    Sang bijaksana seharusnya mengendalikan si dungu.’[3]

[Sakka:]

    “’Ini adalah gagasanku sendiri
    Cara untuk melawan si dungu adalah:
    Ketika seseorang mengetahui bahwa musuhnya marah
    Maka ia harus dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaian.’

[Mātali:]

    “’Aku melihat cacat ini, O, Vāsava,
    Dalam melatih menahan kesabaran:
    Jika si dungu berpikir bahwa engkau sebagai,
    “Ia menahan sabar karena takut,”
    Si tolol akan lebih jauh lagi mengejarmu
    Seperti yang dilakukan sapi kepada seseorang yang melarikan diri.’ [222]

[Sakka:]

    “’Biarlah apa pun yang ia pikirkan atau tidak pikirkan,
    “Ia menahan sabar karena takut,”
    Di antara tujuan yang berpuncak dalam kesejahteraan seseorang
    Tidak ada ditemukan yang lebih baik daripada kesabaran.[4]

    “’Ketika seseorang memiliki kekuatan
    Dengan sabar menghadapi yang lemah,
    Mereka menyebutnya kesabaran tertinggi;
    Yang lemah harus selalu sabar.[5]

    “’Mereka menyebut kekuatan itu sebagai tidak ada kekuatan sama sekali—
    Kekuatan yang merupakan kekuatan si dungu—
    Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mencela seseorang
    Yang kuat karena dijaga oleh Dhamma.[6]

    “’Seseorang yang membalas kemarahan orang lain dengan kemarahan
    Dengan demikian membuat lebih buruk bagi dirinya sendiri.
    Tidak membalas kemarahan orang lain dengan kemarahan,
    Ia memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.’

    “’Ia berlatih demi kesejahteraan kedua belah pihak,
    Kesejahteraannya dan orang lain,
    Ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah,
    Ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.

    “‘Ketika ia mencapai penyembuhan bagi keduanya—
    Untuknya dan orang lain—
    Orang-orang yang menganggapnya dungu
    Adalah tidak terampil dalam Dhamma.’

http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_11.4:_Vepacitti_Sutta
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.387
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
There is no place like 127.0.0.1

Offline Elin

  • DhammaCitta Press
  • KalyanaMitta
  • *
  • Posts: 4.377
  • Reputasi: 222
  • Gender: Female
Kepada teman2 sedharma.. Mohon bantuan nya jika ada referensi thread / artikel2 Buddhis mengenai pandangan Sang Buddha tentang kesabaran.

Artikel Buddhist dari perpustakaan DhammaCitta :
Kesabaran - Sri Pannavaro Maha Thera

:jempol: