Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Buddha Abhidhamma  (Read 8293 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Buddha Abhidhamma
« on: 18 December 2011, 11:30:14 PM »
dalam thread ini saya ingin mencoba menerjemahkan buku buddha abhidhamma karangan Dr. Mehm Tin Mon..
maaf kalau terjemahannya masih agak jelek  (jangan berharap terlalu banyak pada anak kecil ;D ;D ;D) dan saya tidak berencana menerjemahkan keseluruhan bukunya, melainkan hanya pada bab-bab tertentu yang saya anggap lebih penting daripada bab lainnya   (masih manusia biasa yang masih dipengaruhi oleh thina-midha  :)) :)) :)))
penerjemahannya saya lakukan bertahap, dan mungkin akan memakan waktu yang agak lama (ngerjainnya mood2-an :hammer: :hammer:)
pada beberapa bagian kadang saya tambahkan penjelasan menurut pandangan saya sendiri(dalam tanda kurung) agar lebih mudah dipahami oleh pembaca...

maaf apabila masih terdapat kesalahan dalam penerjemahannya...
jika ada terjemahan yang saya anggap meragukan, maka akan saya sertakan bahasa inggrisnya...

silahkan dilihat teks aslinya di http://www.buddhanet.net/pdf_file/abhidhaultsci.pdf

 _/\_
« Last Edit: 18 December 2011, 11:47:05 PM by will_i_am »
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #1 on: 18 December 2011, 11:33:26 PM »
MENTAL SCIENCE OR ULTIMATE SCIENCE

NATURAL SCIENCE Meneliti tentang hukum dasar dan hukum alam untuk menjelaskan fenomena fisik yang telah muncul selama berabad-abad. Tetapi mereka tidak mampu meneliti sifat alami dari pikiran dan mereka gagal untuk menjelaskan fenomena mental yang memliki pengaruh yang sangat besar kepada fenomena jasmani.
     Sang Buddha, dengan kemahatahuan-Nya, mengetahui sifat alami dari pikiran dan menggambarkan sebab yang “memerintah” pikiran dan jasmani serta dapat menjelaskan semua fenomena fisik-mental di dunia.
     ajaran pamungkas-Nya, yang dikenal sebagai abhidhamma, menggambarkan secara detil sifat alami dari realitas-ultimit(kenyataan absolute) yang benar-benar ada di alam, tapi tidak diketahui oleh para ilmuan. Metode pembuktian-Nya lebih baik daripada metode para ilmuan, yang bergantung pada instrumen-instrumen. Ia melihat dengan mata Buddha-Nya(ing: divine eye) untuk menembusi lapisan yang menutupi sifat alami dari segala sesuatunya. Buddha juga mengajari orang lain bagaimana untuk ,mengembangkan konsentrasi dan bagaimana untuk melihatnya dengan mata batin dari segala sesuatu dan 4 kesunyataan mulia yang bisa mencerahkan seseorang untuk mencapai pembebasan dari segala penderitaan selamanya.
     Jadi, abhidhamma bisa dianggap sebagai Mental Science atau Ultimate Science—science dari realitas-ultimit
THE AGE OF ANALYSIS
Para filosofis sekarang telah menghadapi zaman analisis. Tapi siapa yang bisa menganalisis pikiran dan jasmani secara tepat dan seksama seperti yang telah Sang Buddha lakukan lebih dari 2500 tahun yang lalu!
 
     Analisis pikiran dan jasmani yang tepat adalah pencapaian terhebad di dunia ini dan penemuan yang paling bermanfaat yang pernah dicapai oleh manusia.
     Anda akan mendapatkan faedah yang sangat besar jika anda berusaha keras untuk mempelajari abhidhamma yang secara sistematis menggambarkan sifat intrinsic alami dari penyusun pikiran, jasmani, dan kebahagiaan abadi(nibbana)
PIKIRAN MENCIPTAKAN PENDERITAAN DAN KEBAHAGIAAN
     Semua fenomena mental memiliki pikiran sebagai awalnya; fenomena mental ini memiliki pikiran sebagai pemimpinnya; semua itu adalah ciptaan-pikiran.

Jika seseorang berpikir, berbicara, atau berbuat dengan pikiran yang buruk, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati yang mengikuti arah kaki lembu yang menariknya
Jika seseorang berpikir, berbicara dan berbuat dengan pikiran yang baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayangan yang tak pernah meninggalkannya
—Dhammapada, Ayat 1&2


hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #2 on: 18 December 2011, 11:36:15 PM »
ini bacaan yang paling basic, jadi kalau males baca di skip aja..  ;D


Kata Pengantar

     Ajaran Sang Buddha selama 45 tahun telah dibagi menjadi 3 koleksi utama yang disebut tipitaka dalam bahasa pali, artinya secara harafiah adalah ‘tiga keranjang’
   
      Koleksi pertama disebut sebagai ‘vinaya pitaka’, yang berisi ajaran tentang aturan-aturan (ânà-desana). Disini, sang Buddha menggunakan kekuasaan-Nya pada para bhikkhu untuk mematuhi aturan-aturan-Nya. Aturan ini merupakan kode etik paling tinggi, yang pastinya bisa memurnikan pikiran, perbuatan, dan ucapan seseorang yang membuat seseorang tersebut mulia dan dihormati.
      Koleksi kedua disebut sebagai ‘sutta pitaka’, yang merupakan pengajaran konvensional (Vohàra desana). Disini Buddha menggunakan bahasa percakapan biasa untuk menjelaskan pengajarannya. Aspek praktik dari meditasi-ketenangan dan meditasi-pandangan terang termasuk dalam koleksi buku ini.
      Koleksi ketiga adalah ‘abhidhamma pitaka’, yang merupakan metoda pengajaran yang lebih tinggi dari Sang Buddha. Disini Buddha menggunakan istilah yang abstrak untuk mengambarkan realitas-ultimit(paramattha) di alam semesta dan nibbana yang merupakan tujuan tertinggi dari umat buddhis.
      Jadi, abhidhamma bisa disebut sebagai pengajaran pamungkas (paramattha desana) maksudnya disini adalah ajaran abhidhamma merupakan yang tertinggi dari kedua pitaka lainnya) dari Sang Buddha.
      Dasar dan hubungan sebab yang dijabarkan oleh Sang Buddha dalam abhidhamma sangat natural, logis, dan sangat indah, sehingga kita dapat melihat akar dari penderitaan di dunia dan jalan untuk menghapus penderitaan ini.
      Hal yang paling indah dari pengajaran Sang Buddha adalah bahwa pengajarannya memuat keduanya, teori dan praktik, dan kita dapat menjelaskan nilai-nilai dari manusia, kode moral yang paling baik, kebahagiaan abadi dan jalan mulia berunsur delapan yang membawa kepada kedamaian. semua pengajaran yang berharga ini telah diketahui oleh jutaan makhluk Ariya(makhluk suci dari tataran pertama(sotapanna) hingga keempat(arahat))

The Significance of Abhidhamma(tetap saya biarkan dalam bahasa inggris)
      Sutta Pitaka dan Abhidhamma Pitaka dikenal juga sebagai dhamma—kata dalam bahasa pali yang secara sempit diartikan sebagai “pengajaran sang Buddha”. Dhamma adalah doktrin yang bisa mencegah makhluk terlahir dalam empat alam rendah(i.e, neraka, setan kelaparan, raksasa, dan binatang) dan dapat memurnikan pikiran dari kekotoran batin dan untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan abadi.
      Awalan ‘Abhi” diartikan sebagai ‘yang lebih tinggi, lebih baik, luar biasa,dll’. Abhidhamma pitaka lebih tinggi, lebih hebat, dan lebih terperinci dari sutta pitaka mengacu kepada:
i.   Abhidhamma memuat lebih banyak kelompok dhamma(dhammakhandha) daripada sutta pitaka dan vinaya pitaka(abhidhamma terdiri dari 42.000 kelompok dhamma, sementara sutta dan vinaya masing-masing 21.000)

ii.   Buddha menggunakan metode yang lebih banyak dalam menjelaskan Abhidhamma daripada ketika mejleaskan Sutta; dan

iii.   Dalam Abhidhamma, Buddha menganalisa pikiran dan jasmani secara detil dalam kajian realitas-ultimit yang dikenal juga sebagai “paramattha”. Penjelasan tentang paramattha akan dijelaskan lebih terperinci dalam bab perkenalan.
« Last Edit: 18 December 2011, 11:39:47 PM by will_i_am »
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #3 on: 18 December 2011, 11:41:57 PM »
What is the Mind?

   Para filosofis menggunakan term ‘batin dan jasmani’ sebagai 2 dasar utama dari diri. Tapi mereka gagal dalam menjelaskan, apa pikiran itu sebenarnya.
   Para psikolog memulai tantangan ini dengan memeriksa sifat alami pikiran. Tapi, kemudian ketika mereka tidak dapat mengkarakterisasi pikiran, mereka mengalihkan penelitian kepada “tingkah laku hewan dan manusia”. Ilmu psikologi berubah menjadi ‘studi tentang tingkah laku’, daripada ‘ilmu pengetahuan tentang pikiran’.
   Sains masa kini tidak memiliki instrument untuk mendeteksi pikiran. Jadi, para ilmuan cenderung menolak eksistensi pikiran dan memegang teori bahwa otak kita berfungsi sebagai pikiran. Teori ini tidak mampu menjelaskan fenomena-fenomena aneh, seperti telepati, perjalanan astral, extra sensory perception, psikokinetik, out-of-body experiment, kehidupan setelah kematian, dan sebagainya, yang tidak bisa dipungkiri oleh sains masa kini. Lagipula, penelitian –otak telah mengungkapkan bahwa meskipun otak berperan sebagai sebuah super-computer, ia tetap membutuhkan agen eksternal untuk menjalankannya sama seperti computer biasa yang membutuhkan manusia untuk bisa diprogram. Bukankah agen eksternal itu adalah pikiran??
Abhidhamma menggambarkan pikiran sebagai kombinasi dari citta(kesadaran)dan cetasika(factor mental). Ada 52 jenis cetasika —beberapa dapat mengotori pikiran, dan beberapa dapat memurnikan pikiran dan beberapa lainnya bersfat netral. Total angka kombinasi yang dimungkinkan antara citta dan cetasika ada 121.
   Kombinasi ini dihitung dalam berbagai kondisi pikiran. Kombinasi ini dijelaskan secara utuh mengapa pikiran terkadang jahat, terkadang baik, terkadang sedih, terkadang berbahagia, kadang mulia, kadang tercela, dan lain-lain.
   Dalam aspek praktik dalam pengajaran-Nya, Sang Buddha menggambarkan beberapa cara untuk mengembangkan Samadhi(konsentrasi/meditasi). Ketika factor mental yang tidak sehat bisa ditenangkan, dan tidak muncul dalam pikiran, maka pikiran berada dalam keadaan damai, dan bahagia. Ini adalah kondisi dari upacara-samadhi(konsentrasi mendekati/konsentrasi akses), yang berarti kondisi yang dekat dengan jhana(keadaan tercerap penuh dalam meditasi. Pada tahap ini, seseorang akan melihat objek dengan luar biasa jernih(dengan pengecualian objek nafas))
   Pada kondisi upacara Samadhi, karena kekotoran batin absen hadir dalam pikiran, seseorang menikmati ketenangan dan kedamaian yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan sensual. Kebahagiaan yang lebih tinggi dapat dinikmati ketika seseorang bisa menaikkan sedikit tingkat konsentrasinya menjadi jhana-samadhi.
   Setelah mengembangkan  rupa jhana(jhana materi-halus) dan 4 arupa-jhana(jhana tanpa-materi
), seseorang bisa melangkah lebih jauh untuk mengembangkan abhinna atau kemampuan batini. Ada lima jenis kekuatan batin, (1) kekuatan gaib (2) telinga dewa (3) mata dewa (4)kemampuan membaca pikiran orang lain dan (5) kemampuan untuk melihat masa lalu.
   Kekuatan supernormal ini jauh melebihi kekuatan telepati, perjalanan astral, psikokinetik, dll. Dengan abhinna kemampuan gaib(iddhi-vidha), seseorang bisa melewati tembok dan gunung tanpa terhalang, menyelam kedasar bumi, berjalan di atas air, dan terbang di udara. Dengan mata dewa, seseorang bisa  melihat makhluk yang terlahir di alam apaya(alam rendah) dan juga alam dewa dan brahma, serta 31 alam kehidupan lainnya sesuati dengan kamma yang mereka miliki. Dengan kemampuan membaca pikiran orang lain, seseorang bisa mengetahui pikiran orang lain dan perhatian mereka.
   Pencapaian kekuatan supranormal ini sebenarnya bukanlah merupakan tujuan akhir dari buddhisme. Kekuatan penembusan pikiran yang diikuti oleh upacara Samadhi atau jhana Samadhi ditujukan agar kita mengetahui muncul dan lenyapnya nama(pikiran dan factor mentalnya) dan rupa(jasmani) dalam tubuh. Nama(batin) dan rupa tidak dapat dilihat meskipun menggunakan mikroskop super, tetapi mereka dapat dilihat melalui pikiran-samadhi(meditasi)!
   Dengan bermeditasi atas 3 karakteristik nama dan rupa—disebut juga sebagai ketidakkekalan(anicca), penderitaan(dukkha) dan tanpa inti/diri(anatta, dan juga dengan menyelidiki hubungan nama dan rupa, seseorang sedang melankah maju dalam jalan mulia berunsur 8, dan cepat atau lambat akan mencapai jalan kesucian(magga) dan buah kesucian(phala) pertama. Kemudian seseorang tersebut akan menjadi seorang pemasuk-arus(makhluk suci tingkat pertama) dan dijamin sepenuhnya bahwa ia tidak akan dilahirkan lagi di 4 alam rendah(apaya) lagi. Seorang pemenang aros bisa menikmati kedamaian transcendental dari nibbana kapanpun ia mau. Jika ia melanjutkan meditasinya hingga meditasi vipassana(pandangan terang), ia akan merealisasi 3 magga dan phala(jalan dan buah) yang lebih tinggi, dan menjadi seorang arahat dalam kehidupan ini juga. Bahkan juga ia tidak melanjutkan meditasinya hingga tahap vipassana, seorang sotapanna akan menjadi seorang arahat dalam waktu tidak lebih dari 7 kelahirannya lagi.
   Dalam pencapaian arahat, semua akar noda batin telah dicabut sepenuhnya dan dihancurkan. Karena kekotoran ini adalah penyebab asli dari semua penderitaan, penghancuran noda batin ini berarti kebahagiaan penuh(complete happiness) dan kedamaian abadi untuk seorang arahat.
   Dengan memurnikan pikiran dari segala kekotoran batin yang menyebabkan penderitaan dan rendahnya status manusia, seseorang bisa menjadi arahat yang merupakan makhluk paling mulia diantara para manusia dan dewa dan dapat menikmati kebahagiaan tertinggi dan kedamaian abadi dari nibbana selamanya.
   Jadi, untuk menjadi seorang arahat adalah merupakan tujuan utama dari para manusia dan dewa, dan tujuan tertinggi dari hidup ini hanya dapat dicapai melalui analisis dan pemahaman yang benar tentang pikiran dan jasmanu seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.
   Harus ditekankan disini bahwa apapun yang Buddha ajarkan kepada kita  diluar pengetahuan adi-duniawinya dan pengalaman pribadinya, adalah bahwa pengalaman ini bisa dibuktikan dan dicoba oleh semua orang melalui pengalamannya sendiri.

An Intellectual Treat

   Abhidhamma membahas tentang kenyataan(realitas) yang benar-benar ada di alam. Abhidhamma menganalisis batin dan jasmani yang bekerja pada manusia dengan tepat. Abhidhamma menjelaskan tentang enam pintu indera dalam diri manusia, enam indera yang dating dari luar diri, dan kemunculan pikiran ketika indera melakukan kontak dengan pintu-indera.
   Variasi factor mental bersama dengan penyebab dari factor mental tersebut diterangkan dengan jelas dan terurut. Pikiran yang baik dan tidak baik beserta konsekuensi/akibatnya dijelaskan secara terperinci. Proses kehidupan dan kematian dan kelahiran di alam lain sesuai dengan kekuatan kammanya dijelaskan secara rinci.
   Rupa, yang mencakup jasmani dan energy, dibagi dan dikarakterisasi menjadi ultimate-states.
   Nama(factor mental dan kesadaran) dan rupa(jasmani dan energy) berumur sangat pendek. Mereka muncul dan lenyap dalam jumlah triliunan kali dalam satu detik. Jadi, pendangan bahwa kesadaran mengalir bagaikan sebuah arus seperti yang diungkapkan oleh para psikolog modern seperti william james menjadi jelas sepenuhnya bagi mereka yang mengerti abhidhamma.
   Hukum sebab akibat yang saling bergantungan dan hukum sebab akibat dijelaskan secara sistematis dan seksama dalam abhidhamma. Tidak ditemukan hukum lain yang parallel(sepadan) dalam filosofi lain.
   Kesimpulannya, empat kesunyataan mulia i.e, kesunyataan tentang dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha menjadi jelas bagi seseorang yang mempelajari abhidhamma. empat kesunyataan mulia ini adalah adalah kebenaran mutlak yang meliputi seluruh hubungan sebab akibat dalam lingkup duniawi ataupun adi-duniawi. Mereka yang bisa melihat empat kesunyataan mulia secara jelas dengan mata-samadhi-nya atau mata kebijaksanaan akan dicerahkan sebagai makhluk suci
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #4 on: 18 December 2011, 11:45:50 PM »
Esensi dari Buddha Abhidhamma

Sama seperti sains alami menyelidiki tentang hukum alami yang mengontrol proses alamiah, demikian juga abhidhamma menggambarkan kenyataan alami yang “memerintah” proses alamiah tersebut, tetapi level kajiannya berbeda.
Tetapi merupakan pikiran lah yang memimpin dunia dan kehidupan dari seluruh makhluk hidup. Semua sains dan filosofi diciptakan oleh pikiran kita, dipimpin oleh pikiran, dan merupakan”anak” dari pikiran. Jadi, pikiran tidak diragukan lagi merupakan agen paling berkuasa di muka bumi ini!.
Abhidhamma membahas tentang pikiran, menganalisanya, dan mengkarakterisasi pikiran, menjelaskan fungsi dari pikiran dan menempatkan pikiran sebagai acuannya. Kemampuan sesungguhnya dari setiap umat manusia terletak pada pikirannya. Jadi, tidak seorangpun perlu memohon kepada orang lain jika ia kekuatan paling besar itu ada dalam dirinya sendiri!.
Abhidhamma juga menjelaskan tentang jasmani dan hubungannya dengan pikiran. Abhidhamma juga mendeskripsikan nibbana yang merupakan pembebasan dari pikiran dan jasmani. Sains tidak mampu mengubah manusia jahat menjadi manusia mulia, tidak seperti abhidhamma. para ilmuan dan filosodis tidak mampu menunjukkan jalan untuk menghentikan penderitaan dan untuk mencapai kebahagiaan mutlak, tidak seperti abhidhamma.
Ilmuan, filosofis, psikolog, dan seluruh pecinta kebenaran akan melihat bahwa abhidhamma adalah sebuah pengajaran intelektual yang special.
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #5 on: 18 December 2011, 11:52:30 PM »
Pengenalan

Pengetahuan dasar Mengenai Abhidhamma

Abhidhamma pitaka memuat 7 kitab, yang dinamakan dhammasangani, vibhanga, dhatukatha, puggalapannati, katthavatthu, yamaka, dan patthana.
Subjek materi dari abhidhamma adalah empat realitas-ultimit(kebenaran absolute/paramattha) beserta hubungan diantara keduanya. Perlakuan terhadap materi-subjek sangat teknis dan sistematis dan membuat istilah pengetahuan filosofi murni menjadi jelas, mengacu kepada penginderaan absolute.
   Jika seseorang bisa bisa belajar abhidhamma secara mendalam, maka ia akan mengagumi kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Tapi tidaklah mudah untuk belajar abhidhamma sendiri, karena orang tersebut bisa saja dengan mudah terjebak dalam belantara istilah yang abstrak, dan metodologi yang aneh.
   Buku yang berjudul THE ESSENCE OF BUDDHA ABHIDHAMA menggabungkan semua subjek-materi yang ditampilkan dalam ‘abhidhammattha sangaha’.
   Abhidhamma sungguh merupakan pengetahuan berharga yang akan menolong manusia terbebas dari pandangan salah dan mendapatkan pendangan benar dari pembebasan total dari seluruh penderitaan.

Realitas
Ada 2 jenis realita, realitas ultimit dan realitas konvensional
   Realitas Konvensional merupakan kebenaran tradisional atau kebenaran yang diterima masyarakat luas(sammuti-sacca). Sammuti sacca disebut sebagai pannati
   Realitas ultimit merupakan kenyataan absolute(paramattha-sacca). Ia disebut sebagai paramattha saja dalam abhidhamma.
   Citta adalah kesadaran, dan cetasika merupakan factor mental. citta dan cetasika disebut juga sebagai nama(batin)
   Seseorang terdiri dari rupa, citta, dan cetasika, atau dengan kata lain hanya nama dan rupa. Keduanya merupakan realitas-ultimit sedangkan “manusia” itu hanyalah merupakan realitas konvensional.
   Nibbana--pembebasan dari penderitaan dan kedamaian abadi--selalu ada di alam, hanya saja kita tidak menyadarinya. Nibbana bisa direalisasi hanya dengan magga-nan(y)a dan phala-nan(y)a, i.e., mata kebijaksanaan yang diiringi dengan jalan dan buah. Citta, cetasika, dan nibbana dijelaskan secara rinci dalam abhidhamma dan bisa dibuktikan melalui samatha-vipassana bhavana i.e., meditasi ketenangan dan pandangan terang.

Empat Paramattha
i.   Citta—kesadaran dari indera dan perhatian akan benda. Citta, ceta, cittupada, mana, mano, vinnana merupakan sinonim yang bermakna sama dari citta dan sering digunakan dalam istilah abhidhamma. dalam pembicaraan umum, pikiran biasanya mengacu pada citta atau mano.
ii.   Cetasika—faktor mental. cetasika muncul dan lenyap bersama-sama dengan citta. Cetasika bergantung pada citta dalam kemunculannya, dan ia mempunyai pengaruh juga terhadap citta. Ada 52 jenis cetasika. Apa yang sebenarnya kita sebut sebagai ‘pikiran’ seenarnya merupakan kombinasi dari citta dan cetasika. Citta dan cetasika tidak bisa berdiri sendiri.
iii.   Rupa—bentuk materi bisa saja berubah bentuk dan warna tergantung pada iklim yang dingin atau panas. Ada 28 jenis rupa.
iv.   Nibbana—pemusnahan total terhadap noda batin dan penderitaan; kedamaian mutlak abadi.
noda batin yang ada dalam citta adalah keserakahan, kemarahan, kebencian, dll.;ketiganya merupakan akar dari segala penderitaan dan kelanjutan dari hidup. Pemusnahan total dari noda batin berarti kebebasan absolute dari segala kelahiran kembali, penuaan, rasa sakit, kematian, dan seluruh jenis penderitaan.
   Masing-masing dari empat paramattha di atas bisa dicermati eksistensinya. ilmuan menyangkal keeksistensian pikiran, karena mereka tidak mampu mendeteksinya. Akan tetap, keeksistensian citta, yang merupakan kesadaran dari indera dalam diri manusia dan hewan tidak bisa dibantah oleh siapapun.
   Keeksistensian cetasika, seperti lobha(keserakahan), dosa(kebencian), mana(kesombongan), issa(keiri hatian), alobha(tanpa keserakahan), adosa(cinta kasih), dll dalam diri manusia dan hewan memanglah nyata. Akan tetapi, penting bagi kita untuk melihatnya sebagai entitas yang terpisah(citta dan cetasika dilihat secara terpisah) dan bukan sebagai bagian dari pikiran atau keadaan mental lainnya. Cetasika yang buruk, seperti disa, lobha, mana, issa, bisa disingkirkan oleh pikiran melaluy meditasi pandangan terang.
   Eksistensi dari rupa sebagai materi dan energy sangat mudah sekali terlihat(tidak seperti citta dan cetasika yang perlu dilihat melalui mata batin). Tetapi nibbana, sebagai tingkatan adi-duniawi tidak bisa diamati oleh pikiran biasa, tapi bisa diamati melalui lokkutara(adi-duniawi) citta.
   Harus dicatat bahwa semua paramattha, dalam bentuk ultimate(tertinggi) adalah tak berbentuk dan tak berwujud. Citta, cetasika, dan rupa bisa dilihat melalui mata-samadhi, sedangkan nibbana bisa direalisasi melalui pengetahuan tentang 4 jalan(sottapati magga, sakadagami magga, anagami magga, dan arahatta magga).

Nama and Rupa

Citta dan cetasika keduanya menyadari kehadiran indera. Keduanya selalu diarahkan kepada objek, untuk “memegang” objek tersebut.
   Seseorang terdiri dari nama dan rupa(batin dan jasmani). Diantara keduanya, nama menyadari kehadiran indera, sedangkan rupa tidak. Jadi, nama merupakan pemimpin, dan rupa merupakan pengikutnya. Tapi dalam lingkup indera, nama membutuhkan rupa untuk kemunculannya.
   nama dapat disamakan dengan seseorang yang memiliki penglihatan yang bagus, tetapi tidak memiliki kaki, sedangkan rupa sama seperti orang buta yang memiliki kaki. Si orang tanpa kaki dan si orang yang buta bertemu di luar desa mereka dan mereka mendengar pemberitahuan bahwa ada pembagian makanan gratis. Mereka berdua ingin mendapatkan makanan tersebut, tapi bagaimana caranya mereka pergi?? Bisa, jika orang yang memiliki penglihatan bagus duduk diatas bahu dari orang buta, dan si buta kemudian berjalan melintasi jalanan, seperti yang diperintahkan oleh si tanpa kaki. Maka, mereka akan sampai pada tujuannya dan menikmati makanan tersebut.
   Nama dan rupa bekerja bahu-membahu seperti kedua orang diatas.
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline SaddhaMitta

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.327
  • Reputasi: 99
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #6 on: 19 December 2011, 04:20:10 AM »
 anumodana  _/\_
Seperti air sungai Gangga yang mengalir, meluncur, mengarah ke timur,
demikian juga barang siapa yang melakukan dan berbuat banyak didalam Delapan Jalan kebenaran, mengalir, melucur, mengarah ke Nibbana.

(Samyutta Nikaya)

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #7 on: 19 December 2011, 09:47:07 PM »
Tujuan dari analisis ultimit
untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya merupakan tujuan dari semua pecinta kebenaran, termasuk para filosofis dan ilmuan. Pandangan salah yang paling mendasar yang telah diderita oleh manusia sejak berabad-abad yang lalu adalah sakkayaditthi, yang artinya ‘kepercayaan-akan-diri’, menginterpretasikan bahwa kumpulan nama dan rupa sebagai ‘individu’, ‘aku’, atau ‘atta(diri)’.
   Karena sakkayaditthi inilah, semua orang ingin menjadi orang yang sangat penting(VIP), ingin memenuhi keinginannya dan bertindak dalam tindak yang egois. Faktanya, semua jenis masalah dan penderitaan muncul dari pandangan salah
   Melihat orang lain sebagai seorang manusia, lelaki, wanita, seorang makhluk, dll juga perupakan sakkayaditthi.  Sakkayaditthi membuat manusia membangkitkan lebih banyak lagi pandangan salah yang tidak terhitung banyaknya di dunia ini.
   Hal yang buruk dari sakkayaditthi adalah bahwa ia bisa muncul diiringi oleh kamma buruk untuk melemparkan orang jatuh ke dalam alam menderita(apaya) lagi dan lagi. Berdasarkan pada ajaran Buddha, untuk menyingkirkan pandangan sakkayaditthi merupakan hal yang paling penting. Ini sama pentingnya dengan menyingkirkan api dari kepala seseorang, ketika kepala orang tersebut terbakar, dan sama juga seperti menyingkirkan tombak dan merawat luka dari orang yang dadanya tertusuk oleh sebuah tombak.
   Studi abhidhamma melengkapi seseorang dengan pandangan benar bahwa ‘aku’ atau ‘atta’ tidak benar-benar eksis dan yang sesungguhnya eksis adalah kombinasi dari citta, cetasika, dan rupa. Memahami kenyataan seperti ini bisa membantu seseorang untuk mengontrol temperamen mentalnya dan untuk menhindari keadaan mental yang tidak baik, yang akan mengurangi tekanan batin dan menyembuhkan berbagai penyakit mental.
   Ketika seseorang memahami bahwa kehendak(cetana), yang mengarahkan tindakan, ucapan, dan perbuatan seseorang, membawapotensi kamma yang mengakibatkan kelahiran kembali dan membentuk “takdir” makhluk hidup, seseorang menjadi sadar penuh(mindful) untuk menghindari kehendak yang tidak baik.
   Lebih jauh lagi, ketika seseorang memahami hubungan sebab yang digambarkan dalam abhidhamma, ia bisa terlepas dari segala jenis pandangan salah dan memegang pandangan benar tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia.
   Ketika seseorang memutuskan untuk mengikuti jalan mulia berunsur delapan untuk membebaskannya dari segala jenis penderitaan, hal tersebut harus dimulai dengan pandangan benar dan mengembangkan sila(moralitas), Samadhi(konsentrasi) dan panna(kebijaksanaan) selangkah demi selangkah.
   Analisis ultimit dalam abhidhamma bukanlah untuk kesenangan membaca semata, tidak pula untuk pengetahuan semata; ia juga harus dicermati oleh pikiran Samadhi untuk mengembangkan kebijaksanaan pandangan terang menuju jalan dan buahnya(magga dan phala)

INTRODUCTION END
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #8 on: 19 December 2011, 09:59:17 PM »
masuk ke pembahasan pokok


Chapter 1   CITTA
                 Consciousness(kesadaran)


Empat Klasifikasi Citta
Citta disebut sebagai ‘kesadaran terhadap indera’ atau ‘kesadaran terhadap objek’
   Citta bisa dibagi menjadi 4 kelas, sesuai dengan 4 jenis alam(bhumi) atau alam kehidupan(avacara):
1.   Kamavacara citta(kesadaran lingkup indera)
Kesadaran yang paling banyak dirasakan dalam alam lingkup indera(4 alam rendah, 1 alam manusia, dan 6 alam deva)
2.   Rupavacara citta(kesadaran materi halus)
Kesadaran yang paling banyak dirasakan dalam alam lingkup materi halus(rupa-loka)
3.   Arupavacara citta(kesadaran tanpa-materi)
Jenis kesadaran yang paling banyak dirasakan dalam alam lingkup tanpa-materi(arupa-loka)
4.   Lokuttara citta(kesadaran diatas duniawi)
Jenis kesadaran yang dirasakan dalam tingkatan adi-duniawi(transendental)

Empat klasifikasi citta diatas bisa juga disebut kama citta, rupa citta, arupa citta, dan lokuttara citta.
Kamavacara citta bukan hanya dirasakan dalam alam lingkup-indera, tetapi juga di alam lain, begitu pula dengan rupavacara citta dan arupavacara citta.
alam lingkup materi-halus ditujukan kepada 16 jenis alam yang didiami oleh rupa-brahma(lebih tinggi daripada dewa), brahma yang memiliki tubuh dan bentuk
alam lingkup tanpa-materi ditujukan kepada arupa-brahma, brahma tanpa bentuk dan tubuh(mungkin disini akan terjadi keraguan, bagaimana makhluk hidup bisa hidup tanpa bentuk, tetapi memang benar, bahwa di alam ini, tidak ada tubuh dari makhluk tersebut sama sekali, yang ada hanya pikiran)
Brahma lebih kuat dan berkuasa dibandingkan dewa, dan mereka menikmati kebahagiaan dan hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan dewa.

Kamavacara Cittas
(kesadaran yang lebih banyak dirasakan dalam kama-loka)
Ada 54 kamavacara citta yang bisa dibagi menjadi 3 kelas:
1.   Akusala citta (kesadaran tak bermanfaat)—12
2.   Ahetuka citta (kesadaran tak berakar)—18
3.   Kama-sobhana citta (kesadaran bermanfaat)—24

Total jumlah kamavacara citta adalah 12+18+24=54. Semuanya akan dinamakan dan dijelaskan lebih jauh lagi dibawah ini.
Sangat disarankan agar pembaca disini harus paham dan mengerti pengucapan pali yang akan dituliskan di buku ini.

Akusala Citta(kesadaran tak berguna)
‘akusala’ berarti ‘amoral’. Orang-orang biasanya melakukan hal yang buruk dan keinginan jahat disertai dengan akusala citta. Jadi, akusala citta membawa hasil yang buruk(kamma buruk)
   12 akusala citta bisa dibagi lagi menjadi 3 kelas:
1.   Lobha-mula citta(kesadaran yang berakar pada keserakahan atau kemelekatan)—8
2.   Dosa-mula citta( kesadaran yang berakar pada kebencian atau niat jahat)—2
3.   Moha-mula citta(kesadaran yang berakar pada delusi/ketidaktahuan)—2

Lobha-mula Citta
Delapan citta yang berakar pada lobha:

1.   Somanassa-sahagatam ditthigata-sampayutam asankharikam ekam

2.   Somanassa-sahagatam ditthigata-sampayutam sasankharikam ekam

3.   Somanassa-sahagatam ditthigata-vippayutam asankharikam ekam

4.   Somanassa-sahagatam ditthigata-vippayutam sasankharikam ekam

5.   upekkha-sahagatam ditthigata-sampayutam asankharikam ekam

6.   upekkha-sahagatam ditthigata-sampayutam sasankharikam ekam

7.   upekkha-sahagatam ditthigata-vippayutam asankharikam ekam

8.   upekkha-sahagatam ditthigata-vippayutam sasankharikam ekam

Artinya:
Somanassa            : perasaan bahagia
Sahagatam             : yang disertai
Ditthi                      : pandangan salah (bahwa kamma dan akibatnya tidak ada)
Sampayuttam         : terhubung dengan
Vippayuttam           : tidak terhubung dengan
Asankharikam         : tanpa ajakan/bujukan dari diri sendiri maupun orang lain, otomatis
Sasankharikam       : dengan bujukan, tidak aktif secara kehendak
Upekkha                 : perasaan netral
Ekam                      : yang Satu

Delapan lobha-mula citta bisa diterjemahkan sebagai berikut:
1.   kesadaran yang tanpa dilandasi ajakan, disertai oleh perasaan senang, dan terhubung dengan pandangan salah
2.   kesadaran yang dilandasi dengan ajakan, disertai oleh perasaan senang, dan terhubung dengan pandangan salah
3.   kesadaran yang tanpa dilandasi ajakan, disertai oleh perasaan senang, dan tidak terhubung dengan pandangan salah
4.   kesadaran yang dilandasi dengan ajakan, disertai oleh perasaan senang, dan tidak terhubung dengan pandangan salah
5.   kesadaran yang tanpa dilandasi ajakan, disertai perasaan netral, dan terhubung dengan pandangan salah
6.   kesadaran yang dilandasi dengan ajakan, disertai perasaan netral, dan terhubung dengan pandangan salah
7.   kesadaran yang tanpa dilandasi ajakan, disertai perasaan netral, dan tidak terhubung dengan pandangan salah
8.   kesadaran yang dilandasi dengan ajakan, disertai perasaan netral, dan tidak terhubung dengan pandangan salah

(perlu diketahui disini, bahwa dari penomoran 1 sampai 8 diatas, yang dituliskan pertama merupakan yang paling buruk/tidak bermanfaat, dan kualitas keburukannya berkurang hingga yang kedelapan, yang merupakan paling ringan dari semua. CMIIW)
« Last Edit: 19 December 2011, 10:18:05 PM by will_i_am »
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #9 on: 20 December 2011, 03:16:25 PM »
Aplikasi
       Sejak waktu kita terbangun di pagi hari, hingga kita jatuh tertidur di waktu malam, kita selalu melakukan kontak dengan kelima indera dan dengan pikiran kita sendiri. Jika indera atau pikiran kita merasakan hal2 yang bagus, maka kita menyukainya, kita merasa melekat kepadanya dan berharap untuk menikmatinya sedikit lebih banyak lagi. Pada keadaan ini, maka lobha(keserakahan, kemelekatan, atau nafsu) timbul dalam pikiran kita, dan lobha-mula citta mengikuti.
       Jika kita merasa berbahagia atau senang pada satu waktu, lobha-mula citta akan menjadi somanassa-sahagatam(lihat diatas). Jika kita merasa netral, maka citta yang muncul adalah  upekkha-sahagatam. Jika kita tidak menyadari fakta bahwa akusala citta(kesadaran tak bermanfaat) yang muncul dalam pikiran kita akan membawa akibat buruk, maka jenis lobha-mula citta  kita adalah ditthigata-sampayuttam, begitu pula sebaliknya jika kita menyadari akusala citta kita akan membawa akibat buruk, maka disebut ditthigata vippayutam.
Lebih jauh lagi, jika kita merasa melekat terhadap objek tanpa ajakan dari diri kita sendiri atau orang lain, maka lobha-mula citta kita adalah jenis asankharikam. Jika kita merasa melekat terhadap objek tanpa ajakan dari orang lain, dan secara langsung, maka  lobha-mula citta kita adalah jenis sasankharikam. Asankharika citta lebih kuat dari sasankharika citta dan muncul secara spontan.
       Sekarang, bisakah anda menamakan jenis citta yang muncul dalam diri seseorang jika ia mendengar music yang indah tanpa memberikan perhatian kepada kamma dan akibatnya??

Ini adalah lobha-mula citta dengan nama:
“somanassa-sahagatam ditthigata-sampayuttam asankharika citta”

Sekarang, bagaimana dengan seseorang yang mencuri sebuah dompet setelah bujukan terus menerus(after much persuasion) dari dirinya sendiri, karena ia memahami akibat kamma buruknya. Apakah jenis citta-nya??
   Lagi-lagi, ini merupakan lobha mula citta karena lobha(keinginan) adalah penyebab orang tersebut mencuri. Nama dari citta-nya adalah
   “upekkha-sahagatam ditthigata-vippayutam sasankharika citta”
   Contoh lain untuk mengilustrasikan delapan lobha mula citta dijelaskan lebih lanjut dibawah ini(contoh ini berurut dengan urutan lobha mula citta yang telah dituliskan diatas)
   Type 1    seseorang menikmati makanan dan minuman tanpa pengertian apapun dgn kamma
        Type 2    seseorang, setelah dibujuk oleh temannya, menonton dan menikmati sebuah film tanpa pengertian akan kamma.
        Type 3    seorang wanita dengan perasaan senang memakai sebuah gaun baru, tetapi ia menyadari bahwa kemelekatannya pada gaun tersebut dapat membangkitkan lobha-mula citta
        Type 4   seorang perempuan menyadari hukum kamma dan buahnya, tapi ia, atas ajakan temannya ikut, turut mendengarkan sebuah lagu dan ia menikmatinya
        Type 5   seorang lelaki memakan nasi goreng, dengan sedikit kemelekatan pada nasi tersebut, tetapi tanpa menikmatinya dan memiliki pengetahuan akan kamma
        Type 6   seorang gadis menghargai(dengan perasaan netral, bukan senang) baju baru yang diberikan oleh ibunya, setelah dijelaskan bahwa pakaian tersebut cantik dan gadis tersebut tidak memiliki pengetahuan akan kamma
        Type 7   karena alasan kamma, anda meminum kopi dengan perasaan netral, tapi tetap saja anda mengagumi cita rasa kopi tersebut.
        Type 8   seorang wanita memiliki pengetahuan akan kamma, tapi setelah dibujuk berkali-kali oleh sales-woman, ia dengan enggan membeli sebuah gaun baru...



Dosa-mula Citta

hanya ada dua jenis citta yang berakar pada dosa(kebencian atau niat jahat) dan akan dijelaskan dibawah ini.

1.   Domanassa-sahagatam patigha-sampayuttam asankhariam ekam
2.   Domanassa-sahagatam patigha-sampayuttam sasankhariam ekam

Arti dan Aplikasinya
   Domanassa   : perasaan mental yang tidak menyenangkan, ketidak sukaan
   Patigha      : sama dengan dosa—kebencian, keinginan jahat, kemarahan
Jadi, arti dari kedua dosa-mula citta adalah:
1.   Kesadaran yang tidak berdasarkan pada ajakan, diiringi oleh perasaan tidak senang, dan terhubung dengan keinginan jahat
2.   Kesadaran yang tidak berdasarkan pada ajakan, diiringi oleh perasaan tidak senang, dan tidak terhubung dengan keinginan jahat
Setiap saat kita merasa marah, tidak senang, sedih, atau tertekan, dosa-mula citta akan muncul. Dan kapanpun ia muncul, ia selalu ditemani oleh keinginan buruk dan perasaan mental yang tidak menyenangkan. Jika ia muncul secara spontan tanpa bujukan/hasutan orang lain, maka yang muncul adalah asankharika, dan kebalikannya.
   Sekarang, seorang ibu sedang mengkhawatirkan anaknya, apakah jenis citta yang muncul dalam diri sang ibu??
   Citta yang muncul adalah  dosa-mula citta dengan nama:
   Domanassa-sahagatam patigha-sampayuttam asankharika citta.
   Seorang ayah menjelaskan kepada anaknya bahwa anaknya telah ditipu. Sang anak menjadi sedih. Apakah jenis citta yang muncul??
   Jenis citta yang muncul adalah  domanassa-sahagatam patigha-sampayuttam sasankharika citta.

Moha-mula Citta
Ada dua jenis citta yang berakar pada moha(ketidaktahuan atau delusi), dan dinamakan sebagai berikut:
1.   Upekha-sahagatam vicikiccha-sampayuttam ekam
2.   Upekha-sahagatam uddhaca-sampayuttam ekam

Arti dan Aplikasi
Vicikiccha   : keragu-raguan(maksudnya ragu kepada Sang Jalan, ragu bahwa ada akibat  perbuatan kamma, dlsb)
Uddhaca   : kegelisahan
   Kedua citta ini memiliki kekuatan yang sama,tidak ada yang lebih spontan satu dari  yang lain, dan keduanya tidak dibedakan dengan sasankharika dan asankharika.
   seseorang mendengarkan ceramah, tetapi tidak mengerti akan artinya, karena batinnya gelisah, apakah jenis citta-nya?? Jenisnya adalah moha-mula citta. Namanya adalah upekkha-sahagatam-uddhacca-sampayuta citta.
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline CintaViolet

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 536
  • Reputasi: 21
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #10 on: 28 January 2014, 08:16:08 PM »
lanjutannya mana, kk?  ;D

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #11 on: 29 January 2014, 02:07:23 PM »
Lanjut
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #12 on: 30 January 2014, 12:24:19 AM »
file-nya kemarin da hilang karena PC lg rusak...
nnt yah kalo udah beres baru sy lanjutin kalau bisa.. :)
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #13 on: 30 January 2014, 11:18:50 AM »
lanjutannya mana, kk?  ;D
kk ?
ada 2 arti kk lhooo...Kaiyin_Kutho ato kakak ?  :))
klo anak lulus SMA dipanggil kk ama sis waduuuhhhh...... :o
I'm an ordinary human only

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha Abhidhamma
« Reply #14 on: 30 January 2014, 02:54:04 PM »
kk ?
ada 2 arti kk lhooo...Kaiyin_Kutho ato kakak ?  :))
klo anak lulus SMA dipanggil kk ama sis waduuuhhhh...... :o
;D :hammer:
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_