Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Bagaimana kamma mengenali pelakunya?  (Read 11131 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Bagaimana kamma mengenali pelakunya?
« Reply #30 on: 30 May 2019, 10:14:09 AM »
Telah lebih dahulu mereka menempuh dan meninggalkan kotoran . dilanjutkan oleh yang lebih kotor lebih tolol dan lebih g****k.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Candra Taruna

  • Teman
  • **
  • Posts: 56
  • Reputasi: -4
  • Gender: Male
  • Nice to be Important But More Important to be Nice
Re: Bagaimana kamma mengenali pelakunya?
« Reply #31 on: 05 September 2019, 06:42:05 PM »
Tampaknya ada yang salah pada pemikiran anda sehingga jadi bingung dan anda memikir dari arah yang salah Nak ......
Coba perhatikan, renungkan, pikirkan, analisa, apa yang saya katakan berikut ini :

Pertama :
Semua yang terjadi, yang kemudian timbul, bentuk dan bukan bentuk, terwujud dari Kehendak Pikiran, dari Perbuatan yang dilakukan (Jasmani), dari Perkataan
Jadi seseorang terlahir jelek itu bukan kerjaan sesuatu Mahluk (atau bukan Mahluk) yang bernama Karma, tetapi karena dirinya sendiri yang pemarah, galak dan judes
Masih kurang paham?

Gini, Apapun yang dilakukan seseorang dengan (landasan) Pikiran, Perkataan dan Perbuatan badan jasmani, itu akan berbalik kembali untuk diterima oleh dirinya di Masa mendatang
Diterima kembali itu di Masa mendatang, cara kerja yang demikian itu, yang terjadi pada setiap Mahluk, disebut sebagai Hukum Karma (Hukum Sebab Akhibat)
Sampai disini ... Paham belon?

Belon ......
He..He..He.. Gini ... perhatikan lagi :

Jadi Karma/Kamma itu adalah Hukum atau tepatnya cara kerja sesuatu kejadian, dari kejadian A menjadi kejadian B, penamaan sebagai Karma itu hanya sebagai penamaan (anda bisa saja menamakannya yang lain), BUKAN sesuatu yang bisa memilih, semisalnya, anda melihat Kodok Menangkap Nyamuk, maka itu Kodok (dinamakan) menangkap Nyamuk, kalo anda bertanya bagaimana menangkap itu bisa memilih nyamuknya, itu jadi keblinger

Masih bingung?
Gini :

Pada saat timbul kehendak pikiran pada seseorang, seperti misalkan ingin menjadi Buddha, maka ia bisa saja menjadi Buddha di Masa mendatang (jika syarat²/faktor² pendukungnya terpenuhi), Pikiran seseorang, Perkataan seseorang, Perbuatan seseorang akan timbul di Masa Mendatang dalam Bentuk Jasmani dan Bathin (Bentuk ataupun Bukan Bentuk), Jadi semisalnya seseorang melakukan kejahatan tertentu (istilahkanlah A) maka itu akan timbul menjadi Jasmaninya dan Bathinnya di Masa Mendatang, merupakan perwujudan dari A tersebut, entah baik atau buruk, bahkan, Alam² saja, terbentuk karena kekuatan Perbuatan, Perkataan dan Pikiran ini ... dikatakan, ada Masanya beberapa Alam Dewa tertentu akan kosong dan Lenyap, karena tidak adanya Mahluk yang punya keselarasan dalam Perbuatan, Perkataan dan Pikiran untuk terlahir disana

Jadi ...

Tidak perlu, tidak ada Kamma yang mengenali si Pelaku dan menimpakan akhibat (seperti Hakim menghukum orang bersalah), tetapi orang itu dari si A menjadi B, dari si B terlahir lagi menjadi C, kemudian menjadi D, E, F, G, H ...... dst adalah sesuai dengan perbuatannya sendiri (secara pikiran, perkataan dan perbuatan Jasmani)
Jadi semisalkan, seseorang menyembelih Kambing, maka di Masa Mendatang, dia pasti akan menjadi Kambing yang disembelih secara begitu juga, tidak perlu si Karma yang memilih, atau dikenali sebagai acchhh ini nich si A yang dulu menyembelih ... sekarang udah mati dan terlahir sebagai B, dia harus terima balasan disembelih juga ... bukan begitu ... tetapi kemanapun si A terlahir dan sebagai siapapun, tanpa perlu si Karma memilihnya, maka dia pasti akan disembelih ... koncinya : semua perbuatannya pasti kembali padanya ... apapun ... baik atau buruk ... besar atau kecil (kecuali Ahosi)

Jadi sebenernya sangat mengerikan melakukan kejahatan itu, karena seperti Cermin yang merefleksikan secara tepat benda² yang tergambar disana, maka saat seseorang melakukan kejahatan, secara Jasmani, perkataan bahkan Pikiran, dia akan terima kembali itu di Masa Mendatang, tanpa tawar-menawar ! ... dan hasil di Masa mendatang, akan berkali² lipat dari yang sekarang karena ketambahan unsur² Bathin (dengan ajakan, tanpa ajakan, dengan pengertian, tanpa pengertian, dengan Metta, dengan Dosa, dengan Hormat, tanpa Hormat dll) yang walaupun tidak berwujud, tidak ketara, unsur² Bathin ini memainkan peran yang sangat hebat dan jauh lebih kuat, inilah sebabnya seseorang yang membunuh 1 domba, bisa terlahir 500x menjadi domba yang terbunuh, bisa 1000x, bahkan bisa sejumlah bulu² yang ada di domba tersebut ... mengerikan sekali penderitaan pelaku kejahatan

OK ... lanjut

Peristiwa terjadinya A menerima kembali perbuatannya dan dia disembelih juga (padahal di kehidupan akan datang itu dia sudah lupa dan tidak ingat, ingatannya beku karena tertutup Tumimbal Lahir) itu menjadi Hukum (cara kerja), bahwa setiap perbuatan apapun yang dilakukan oleh Pikiran, Perkataan dan Badan Jasmani itu menjadi Hukum dan oleh Buddha Gotama dinamakan Hukum Kamma atau Hukum Perbuatan (Kamma = perbuatan)

Arus yang bekerja sehingga seseorang harus menerima kembali apa yang dilakukannya (Baik atau Buruk) itu dinamakan arus Kamma, kekuatannya dinamakan kekuatan Kamma, kekuatan ini adalah merupakan kekuatan terbesar di Jagad ini, bahkan seseorang SammaSamBuddha, Paccekha Buddha dan Arahat seperti Mogalanna harus menerima kembali apa yang sudah diperbuatnya sebelum Beliau memasuki Nibbana, tanpa diterima kembali semua perbuatan ini maka seseorang belum dapat memasuki Nibbana

Kalo disetarakan dengan hukum Fisika, Hukum ini seperti Hukum Momentum dan Impuls, dimana suatu Daya yang dilepaskan di ruang hampa akan terus berlanjut kecuali bertemu dengan daya yang berlawanan yang besarnya setara untuk menghentikannya, jadi semua perbuatan² buruk yang dilakukan itu akan terus bergulir (Tumimbal Lahir), dari abad ke abad, dari Jaman ke Jaman, dalam bentuk Akhibat, terus dan terus, tanpa henti, sebelum seseorang itu melakukan Hal yang berlawanan (Parami) yang setara dengan kekuatan tersebut untuk memberhentikan bergulirnya, saat berhenti, itulah Nibbana, berhentinya Tumimbal Lahir, lenyapnya penderitaan ...

Ngai cape juga nicchhh ... kalo masih ga' paham juga coba pikir sendiri dalam meditasi yach  :))