Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: 45 tahun Sang Buddha  (Read 24716 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #15 on: 12 March 2010, 11:39:33 PM »
- BAB 5 –
Para Petapa Berambut Kusut


Sang Buddha
setelah melewatkan masa vassa di taman rusa Isipatana kemudian pergi kembali, menurut Komentar, pada hari pertama paruh ke dua bulan itu, menuju wilayah Uruvela Senanigama, di mana Beliau mencapai Pencerahan. Tujuannya adalah untuk mencerahkan kelompok petapa berambut kusut, yang berjumlah seribu orang yang membangun pertapaan mereka di sana. Sewaktu dalam perjalanan itu Beliau berisitarahat di bawah keteduhan pohon berdaun rimbun di sebuah kebun kapas. Pada saat itu di sana sekelompok 30 pemuda yang disebut Bhaddavaggiya yang sedang bersenang-senang bersama dengan istri mereka masing-masing di dekat sana. Akan tetapi, ada seorang pemuda yang, tidak memiliki istri, membayar jasa pelacur untuk menjadi istri sementaranya. Pada saat mereka semua lengah, pelacur itu membawa pergi benda-benda berharga milik mereka. Setelah mengetahui hal ini, mereka pergi mencari perempuan itu dan bertemu dengan Sang Buddha. Ketika ditanya mengenai perempuan yang mereka cari Sang Buddha bertanya kepada mereka apakah lebih baik mencari perempuan itu atau mencari diri mereka sendiri. Mungkin karena bingung, mereka menjawab, karena penasaran, bahwa mereka lebih baik mencari tahu siapakah  mereka itu. Selanjutnya, Sang Buddha membabarkan kepada mereka, seperti khotbahNya kepada Yasa dan keluarganya, khotbah Anupubbikatha yaitu Lima Tema Penting Bertingkat dan dilanjutkan dengan ajaran Empat Kebenaran Mulia. Ini mengakibatkan para penmuda itu memperoleh Mata-Dhamma dan memohon penahbisan. Setelah memberikan penahbisan Ehi kepada mereka, kemudian Beliau mengutus mereka dalam misi penyebaran Dhamma sedangkan Beliau sendiri melanjutkan perjalanan menuju daerah Uruvela di mana menetap kelompok seribu petapa berambut kusut.

Di antara seribu petapa itu terdapat tiga pemimpin. Yang tertua bernama Uruvelakassapa, dengan lima ratus murid, semuanya menetap di sebuah pertapaan di tepi sungai. Yang lebih muda bernama Nadikassapa, dengan  tiga ratus murid yang mendirikan pertapaan tidak jauh di hilir. Yang termuda bernama Gayakassapa membangun pertapaannya lebih ke hilir lagi, memiliki dua ratus murid.

Pertama-tama Sang Buddha mendatangi pertapaan Uruvelakassapa, saudara tertua. Dan meminta izin untuk bermalam di sana. Beliau diizinkan. Selanjutnya terjadi serangkaian pertunjukan kekuatan batin oleh Sang Buddha, yang ingin menunjukkan kepada Uruvela bahwa ia bukanlah seorang Arahant, seperti yang ia akui. Di sini kita mengetahui dari naskah-naskah bagaimana Sang Buddha beberapa kali menggunakan apa yang disebut Iddipatihariya dan AdesanapaMihariya dalam usahaNya tersebut. Iddipatihariya merujuk pada demonstrasi kekuatan batin dramatis sebagai hasil dari kekuatan pikiran, sedangkan AdesanapaMihariya merujuk pada kemampuanNya dalam membaca pikiran yaitu pikiran dan emosi dari si petapa Uruvela.

Setelah lama akhirnya usaha Sang Buddha membuahkan hasil. Si petapa akhrinya yakin akan kesalahan anggapannya dan kemuliaan Sang Buddha. Ia memohon agar ditahbiskan ke dalam Sangha. Kemudian Sang Buddha menyuruhnya agar memberitahukan kepada para muridnya terlebih dulu, yang segera ia lakukan. Para murid petapa itu yang juga berkeyakinan menghanyutkan segala perlengkapan mereka ke sungai dan kemudian, bersama dengan Uruvela sebagai pemimpin, menerima penahbisan dari Sang Buddha. Ketika kedua adik Uruvela, yaitu Nadi dan Gaya, melihat perlengkapan kakak mereka hanyut di sungai, mereka berpikir suatu malapetaka melanda kakak mereka dan mereka bergegas menemui sang kakak dan karena itu menjadi berkeyakinan pada pencerahan Sang Buddha. Mereka semua memohon penahbisan dan diterima oleh Sang Buddha sendiri. Demikianlah bagaimana seribu petapa berambut kusut, bersama dengan tiga pemimpin mereka, ditahbiskan ke dalam Sangha dalam Buddhisme.

Sekarang adalah waktunya bagi para petapa itu untuk menerima tema Dhamma yang lebih tinggi melalui Anusasanipatihariya yaitu keajaiban-keajaiban Ajaran bagi pencapaian yang lebih tinggi. Dengan tujuan itu, Sang Buddha membawa mereka menuju wilayah Gayasisa di tepi Sungai Gaya dan membabarkan khotbah yang oleh para penyusun masa lampau disebut Adittapariyayasutta, secara literal berarti Khotbah tentang kekuatan membakar dari Api.

Pada awal Khotbah Sang Buddha mengingatkan para petapa akan kekuatan membakar dari apa yang Beliau sebut “Segala sesuatu”.

Berikut ini adalah penjelasanNya.

Bagian Pertama:
Kelompok satu: Mata, pemandangan yang dilihat oleh mata, kesadaran-mata, kontak-mata, sensasi atau perasaaan yang muncul di sana.
Kelompok dua: Telinga, suara-suara yang didengar oleh telinga, kesadaran-telinga, kontak-telinga, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok tiga: Hidung, bau-bauan yang dicium oleh hidung, kesadaran-hidung, kontak-hidung, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok empat: Lidah, rasa kecapan yang dikecap oleh lidah, kesadaran-lidah, kontak-lidah, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok lima: Badan, sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh badan, kesadaran-badan, kontak-badan, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok enam: Pikiran, hal-hal yang dipikirkan oleh pikiran, kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan sensasi yang muncul di sana.

Semua ‘hal’ ini, Beliau menyimpulkan, sedang terbakar.

Bagian dua.
Sang Buddha melanjutkan dengan menjelaskan mengapa hal-hal tersebut terbakafr dan apa yang membakarnya. Dalam penjelasannya Beliau memberitahu mereka bahwa ‘hal-hal’ itu terbakar karena api nafsu, kebencian, kebodohan, kemunduran, kematian, kesedihan, ratapan, penyakit-penyakit fisik, dukacita dan keputus-asaan.

Bagian tiga. Di sini Beliau memberitahukan kepada mereka tentang manfaat yang diperoleh dengan penembusan itu. Bagi seorang siswa mulia, setelah diberi tahu demikian. Setelah yakin, maka ia menjadi letih akan semua itu. Karena letih, ia meninggalkan keinginan nafsunya itu. Tanpa keinginan nafsu, ia menjadi terbebaskan dari sana. karena terbebaskan ia menjadi memiliki pandangan terang yang dengannya ia mampu mengetahui bahwa ia telah terbebaskan, tidak akan ada lagi kelahiran, kehidupan sucinya telah selesai, tidak ada lagi yang harus dilakukan demi pencapaian itu.

Tercatat bahwa keseribu petapa itu setelaj mendengarkan khotbah ini, batin mereka menjadi terbebaskan dari belenggu kekotoran, karenanya mereka menjadi seribu Arahant.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #16 on: 12 March 2010, 11:43:31 PM »
CATATAN

Harus diperhatikan, sebagai suatu perbandingan, bahwa dalam Khotbah ini penjelasan lebih terperinci pada berbagai bagian daripada kedua khotbah sebelumnya. Dalam Dhammacakkappavattanasutta dan Anattalakkhanasutta Sang Buddha membabarkan membabarkan khotbah kepada lima petapa, menunjukkan Lima Kelompok Unsur Kehidupan Bentuk, Perasaan, Persepsi, Pengondisi Pikiran dan Kesadaran, tetapi tidak menjelaskan bagaimana, atau melalui saluran apakah kekotoran-kekotoran itu terlahir. Akan tetapi, dalam khotbah ini, sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan, Beliau menekankan pada kelompok unsur Perasaan atau Vedana. Oleh karena itu adalah disarankan untuk membahas topik ini sebagai berikut:

Dari sudut pandang umat Buddha, dapat disimpulkan, sesuai dengan berbagai Khotbah, bahwa seseorang tersusun dari dua bagian utama yaitu jasmani dan batin, jasmani merujuk pada bagian yang nyata dan terlihat sedangkan batin merujuk pada suatu entitas, atau sesuatu, yang melakukan fungsi berpikir atau mengetahui. Dengan kata lain, unsur mengetahui. Sekarang Doktrin Buddhis, khususnya aspek praktik, menekankan latihan dan mengendalikan bagian tubuh yang kurang nyata namun lebih penting yaitu pikiran. Dalam hal Sang Buddha sendiri, hingga ketika Beliau telah menemukan, selagi masih menjadi seorang Bodhisatta, cara untuk dengan benar mengendalikan pikirannya, sehingga Beliau dikatakan telah menemukan Jalan Benar. Adalah di atas jalan itu Beliau dengan tekun mengikuti hingga akhirnya Beliau mencapai Pencerahan. Ini menujukkan bagaimana di dalam Buddhisme bahwa pikiran adalah yang paling penting.

Akan tetapi kata citta, atau pikiran, bukan berarti tubuh atau bagian tubuh manapun. Singkatnya, bukan merupakan Rupa yaitu bukan apa yang disebut Bentuk. Salah satu sabda Sang Buddha jelas menunjukkan fakta ini. Yaitu, “Asariram, bukan jasmani, yaitu, tidak berbentuk. Ini adalah Guhasayam: tempat kediaman dalam gua yaitu jasmani. Kehidupan seseorang dapat terus berlangsung selama jasmani dan pikirannya masih bekerja secara harmonis. Ketika apa yang disebut pikiran telah meninggalkan jasmani atau ketika jasmani telah lenyap hingga pikiran tidak dapat bekerja di dalamnya, maka kehidupan berhenti. Bagaimana keberadaan dari apa yang disebut pikiran dapat dikonfirmasi sesuai dengan ajaran Buddha akan dibahas nanti. Berikut ini adalah penjelasan dari Vithicitta atau batin yang berwujud melalui organ-organ indria.

Adalah benar bahwa pikiran, atau citta, sebagai unsur ‘mengetahui’ memperlihatkan kemampuannya untuk ‘mengetahui’ melalui ayatana atau organ-organ indria. Demikianlah pikiran ‘mengetahui’, atau dalam pengertian ini ‘menjadi sadar akan’, pemandangan melalui mata atau, lebih tepat lagi, syaraf-syaraf mata. Dengan cara yang sama, pikiran menyadari suara melalui syaraf–syaraf telinga. Bau-bauan melalui syaraf-syaraf hidung, rasa kecapan melalui sistem syaraf lidah, sentuhan melalui sistem syaraf badan dan kemudian dhamma, di sini merujuk pada fenomena di dalam (pikiran) melalui ‘mana’ yang juga merujuk pada pikiran. Demikianlah enam ayatana yaitu, mata, telinga, hidung, lidah, badan dan mana bertindak sebagai pintu masuk yang melaluinya citta dapatb menyadari pemandangan, suara, bau-bauan, rasa kecapan, sentuhan dan dapat mewujudkan fungsi berpikir. Tanpa enam ‘pintu masuk’ ini, lima pertama cukup jelas, sedangkan yang ke enam yaitu mana memerlukan penjelasan lebih terperinci untuk memahami dengan lebih jelas.

Kata mana umumnya diterjemahkan pikiran. Akan tetapi, secara etimologis, kata ini berarti ‘menyadari’. Obyeknya di sini adalah kata dhamma yang dapat diterjemahkan (dalam Bahasa Indonesia) topik-topik dari berbagai jenis misalnya dari pemandangan, dari suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, sentuhan yang biasanya dialami beberapa waktu yang lalu tetapi teringat pada saat ini. Jelas bahwa hal-hal ini mungkin tidak melalui mata, telinga dan seterusnya. Namun dapat teringat, dapat mendatangi pikiran. Sesuatu dapat terlihat dalam hal pemandangan dan suara yang terlihat dan terdengar sebelumnya, misalnya, tadi pagi. Akan tetapi, pemandangan dan suara itu dapat teringat bahkan pada saat ini. Walaupun mata dan telinga tidak berfungsi sama sekali pada saat ini. Ini sangat berbeda dengan yang dialami sebelumnya, yang muncul melalui mata dan telinga. Apa yang berfungsi dalam mata dan telinga ini disebut mana, yang dapat diterjemahkan pikiran, yang dijelaskan sebagai ‘menyadari’, atau ‘mengingat’, sebagai pintu ke enam dalam Buddhisme. Akan tetapi, tidak sama dengan apa yang disebut syaraf atau sistem-syaraf. Menurut sudut pandang Almarhum Yang Mulia Pangeran Vajirananavarorasa, ini adalah otak.

Dari komentar Abhidhamma, mana adalah pintu-indria ke enam yang memiliki fungsi yang dijelaskan sebagai berikut.

Dengan kontak dari mata dan pemandangan muncullah kesadaran-mata. Kata ‘kesadaran’ maksudnya adalah kesadaran akan pemandangan melalui mata.

Dengan kontak dari telinga dan suara-suara muncullah kesadaran-telinga yaitu menyadari suara-suara melalui telinga.

Dengan kontak hidung dan bau-bauan muncullah kesadaran-hidung yaitu menyadari bau-bauan melalui hidung.

Dengan kontak lidah dan rasa kecapan muncullah kesadaran-lidah yaitu menyadari rasa kecapan melalui lidah.

Dengan kontak badan dan sentuhan muncullah kesadaran-sentuhan yaitu menyadari sentuhan melalui badan.

Dengan kontak topik-topik dengan pikiran muncullah kesadaran-pikiran yaitu menyadari topik-topik melalui pikiran (yaitu mana).

Menurut Sutta atau Khotbah ini, Vinnana (Kesadaran) muncul pertama kali, diikuti oleh Samphassa (Kontak), yang mana bersesuaian dengan enam jenis atau jalur yang berdasarkan pada enam pintu-indria. Ada penjelasan bahwa kata Samphassa merujuk pada kemunculan bersama dari tiga faktor untuk masing-masing jalur yaitu, mata, pemandangan dan kesadaran-mata, ketiga ini secara kolektif disebut kontak-mata (Cakkhu-Samphassa).

Demikian pula, kemunculan bersama-sama telinga, suara-suara dan kesadaran-telinga membentuk kontak-telinga (Sota-samphassa). Kemunculan bersama-sama hidung, bau-bauan dan kesadaran-hidung membentuk kontak-hidung (Ghana-Samphassa). Kemunculan bersama-sama lidah, rasa kecapan dan kesadaran-lidah membentuk kontak-lidah (Jivha-Samphassa). Kemunculan bersama-sama badan, sentuhan dan kesadaran-badan membentuk kontak-badan (Kaya-Samphassa). Kemunculan bersama-sama mana, dhamma dan kesadaran-mano membentuk kontak-pikiran (Mano-Samphassa).

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #17 on: 12 March 2010, 11:45:44 PM »
Ke tiga adalah kelompok perasaan (Vedana), pengalaman kebahagiaan, penderitaan dan netral, yang sesuai dengan enam kontak. Terdapat enam jalur di mana Vedana dapat muncul. Satu yang muncul melalui mata disebut Cakkhusamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui telinga disebut Sotasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui hidung disebut Ghanasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui lidah disebut Jivhasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui badan disebut Kayasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui pikiran disebut Manosamphassaja Vedana.

Ke empat adalah apa yang disebut Sanna atau Persepsi, atau indria pengenal. Ini juga terdiri dari enam jenis yang bersesuaian dengan enam jalur seperti sebelumnya. Yaitu: Rupasanna: untuk mengenali atau mengingat pemandangan; Saddasanna: untuk mengenali atau mengingat suara-suara; Ghanasanna: untuk mengenali atau mengingat bau-bauan; Rasasanna: untuk mengenali atau mengingat rasa kecapan; PhoMMhabbasanna: untuk mengenali atau mengingat sentuhan; dan Dhammasanna: untuk mengenali atau mengingat pikiran-pikiran.

Berikutnya adalah Sankhara, di sini bermakna pikiran-pikiran yang mengondisikan sebagai akibat dari Sanna sebelumnya. Ini terbagi menjadi tiga jenis yaitu Kusala atau bermanfaat, Akusala atau tidak bermanfaat, dan Abyakata atau netral, bukan bermanfaat dan bukan tidak bermanfaat.

Demikianlah Kesadaran, Kontak, Perasaan, Persepsi dan Pengondisi semuanya adalah Namadhamma, secara literal berarti ‘nama’ yaitu tidak berwujud nyata atau bukan jasmaniah. Kata Pali ‘Nama’ merujuk pada apapun yang condong pada (sesuatu yang lain). Dalam makna praktis, ini berarti fungsi batin yang condong, mengarah, kepada menyadari sesuatu melalui enam pintu-indria seperti disebutkan sebelumnya. Ketika pikiran atau citta condong, atau bergerak, maju, akibat pertama dari sana adalah menyadari. Ini adalah karakteristik dari Vinnana, yang umumnya diterjemahkan sebagai Kesadaran. Berikutnya akibat ke dua adalah Kontak atau Samphassa, kemudian Perasaan atau Sensasi, yang merupakan arti dari Vedana. Ke empat muncul Sanna atau apa yang umumnya diterjemahkan sebagai Persepsi, dan ke lima adalah Sankhara atau Pikiran, yang dapat disebut Pengondisi.

Akan tetapi, dalam Lima Kelompok Unsur Kehidupan, Samphassa atau Kontak tidak termasuk, sementara Rupa atau Bentuk adalah yang pertama dan Vinnana adalah yang terakhir. Jika menurut urutan kemunculannya maka Vinnana adalah yang pertama. Urutannya menjadi Vinnana, Vedana, Sanna dan Sankhara. Alasan mengapa Vinnana berada pada urutan terakhir adalah untuk menjadikan siklus lengkap dari kelompok ini. Ini karena kecenderungan atau proses pergerakan batin – yang disebut Nama 0 dimulai dengan Vinnana. Dengan pengecualian Kontak, ke dua adalah Vedana, ke tiga adalah Sanna dan ke empat adalah Sankhara, - yang belakang sebagai yang mengondisikan, menghasilkan reaksi yang bermanfaat, tidak bermanfaat atau netral sesuai kasusnya.

Sekarang, Sewaktu proses pengondisian terjadi, muncul kesadaran atau menjadi sadar secara bersamaan atau secara sinkronis. Ini adalah manifestasi Kesadaran atau Vinnana sekali lagi. Ini melengkapi siklus dan memulai yang baru dalam suatu proses tanpa akhir. Demikianlah bagaimana Kelima Kelompok Unsur Kehidupanb yaitu Rupa, Vedana, Sanna, Sankhara dan Vinnana menjalani proses ‘kelahiran-kembali’ dan juga sebagai akibatnya ‘kematian-kembali’, keduanya tanpa henti. Seperti yang telah diketahui, Lima Kelompok Unsur Kehidupan terbagi dalam dua kelompok yaitu Rupa atau bentuk, yaitu jasmani, dan Nama, secara literal yaitu ‘Nama’ – apa yang tidak nyata atau bukan-materi, merujuk pada kecenderungan atau sifat pergerakan citta ataun batin.

Kesadaran Indriawi atau Batin indriawi (Vithicitta)

Vithicitta adalah manifestasi, atau jalan setapak bagi Citta, yang tidak nyata dan bukan-materi. Karena itu Vithicitta memerlukan sesuatu yang bermateri untuk pengungkapannya. Dengan kata lain, citta mewujudkan dirinya melalui bentuk (yaitu jasmani), yang melaluinya menjadi sadar akan pemandangan, suara-suara dan sebagainya, pergerakan pertamanya dikarakteristikkan oleh, atau dalam bentuk, Vinnana – Kesadaran, diikuti oleh Vedana (Perasaan atau Sensasi), Sanna (Persepsi), Sankhara (Pengondisi pikiran) sebelum memulai proses Vinnana sekali lagi.

Sekarang untuk mendiskusikan sifat dari apa yang disebut Mana. Apa yang telah dijelaskan sejauh ini sehubungan dengan enam pintu-indria dan enam obyek-indria, bersama dengan Vithicitta adalah sesuai dengan Tipitaka Pali. Terdapat beberapa paragraph dari Komentar Abhidhamma yang membahas Mana yang akan dibahas secara lebih terperinci sebagai berikut:

Dari Komentar ini, kita mengetahui bahwa Mana, seperti halnya Ayatana atau pintu-indria ke enam, selalu berpasanggan dengan lima pendampingnya yang lain. Ini adalah agar kesadaran indriawi bersama-sama dengan jalur-jalurnya dapat muncul. Demikianlah, pada kontak antara mata dengan pemandangan, ada Mana yang menyertai, jika tidak maka kesadaran-mata tidak muncul. Demikian pula halnya dengan pintu-pintu indria dan obyek-obyek indria lainnya. Harus adan Mana setiap saat terjadi kontak antara telinga dan suara, hidung dengan bau-bauan, lidah dengan rasa kecapan, badan dengan sentuhan, jika tidak maka tidak akan ada kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah dan kesadaran-badan, sebagai akibatnya.

Sehubungan dengan yang ke enam, setiap saat Mana dan dhamma mengalami kontak satu sama lain, di sana seketika muncul kesadaran-pikiran (Manovinnana). Ini adalah karena fakta inilah maka Mana selalu terlibat dalam lima jalur kesadaran-indriawi sebelumnya.

Dalam Abhidhamma, terdapat penjelasan yang lebih rinci. Disebutkan di sana bahwa, dalam hal mata, pemandangan juga dikatakan memiliki Vanna atau warna, disertai dengan cahaya (yang dengannya pemandangan dapat terlihat). Dan kemudian Manasikara, secara literal berarti mempertahankannya di dalam mana. Ini sebelum munculnya kesadaran-mata. Dari penjelasan ini, dari lima jalur pertama, pemandangan, misalnya, harus mengalami kontak dengan sistem syaraf mata dan kemudian bekerja berdasarkan atas Mana secara bersamaan. Proses ini dikatakan muncul sangat cepat, - pada saat terjadi kontak antara pemandangan dengan mata, Mana terpengaruh pada saat yang sama. Seperti halnya burung yang hinggap di atas dahan pohon. Pada saat burung itu hinggap di dahan, bayangannya seketika muncul di tanah, - tanpa jeda waktu, demikianlah.

Dari penjelasan rinci ini, dapat diketahui perbedaan dalam penggunaan dan makna dari ketiga kata Vinnana, Mana atau Mano, dan Citta sebagai berikut:

VINNANA, kata ini digunakan untuk merujuk pada kesadaran dalam hal kesadaran-mata. Tidak pernah digunakan untuk mengartikan apapun yang mengalami proses kelahiran kembali (setelah hancurnya jasmani) atau mengartikan sesuatu yang kekal.

MANA atau MANO. Kata ini hanya dimaksudkan untuk merujuk pada pintu-indria atau Ayatana ke enam. Mana atau Mano berfungsi dengan berhubungan dengan lima pintu-indria sebelumnya dan juga dengan ‘dhamma’, dalam makna apapun yang menyangkut topik-topik sebagai rupa (pemandangan yang terlihat melalui mata) seperti dijelaskan sebelumnya. Dengan kata lain, ini adalah, mata rantai penghubung, atau pintu masuk, atau jalur yang melaluinya citta bekerja, dengan cara yang sama dengan lima pendamping sebelumnya.

CITTA. Kata ini merujuk pada suatu entitas yang tidak berbentuk tetapi ada, di dalam ‘gua’, yang berarti jasmani. Citta berfungsi sebagai sesuatu yang mengetahui, yang memperlihatkan cetana yaitu kehendak, yang berada di belakang semua Kamma (perbuatan – jasmani, ucapan dan pikiran). Demikianlah Citta berfungsi sebagai sebuah gerakan kea rah ‘mengetahui’ di sepanjang jalur yang telah dijelaskan. Adalah Citta ini yang harus dilatih untuk melaksanakan Aturan-aturan (Sila), Meditasi (Samadhi), Kebijaksanaan atau Pengetahuan (Panna) dan akhirnya terbebaskan (Vimutti), seperti telah dijelaskan dalam Anattalakkhana Sutta dan Adittapariyaya Sutta. Kalimat di akhir kedua Sutta itu menunjukkan fakta bahwa batin (citta) dari para bhikkhu itu terbebaskan dari segala kekotoran yang tertidur (Asava) yang dengannya batin mereka biasanya dikuasai. Di sini yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak pernah di bagian manapun juga Sang Buddha mengatakan bahwa citta adalah Atta atau diri. Sebaliknya, terdapat kalimat di mana Sang Buddha sendiri mengatakan bahwa bahkan citta tidak boleh dianggap sebagai diri atau atta. Dalam Samyuttanikaya, Nidanavagga (16/114/231-2) Sang Buddha tercatat mengatakan bahwa adalah lebih baik, jika atta itu ada, untuk menganggap jasmani sebagai atta. Bagaikan seekor monyet yang gelisah, yang selalu melompat dari satu dahan ke dahan lain, batin jelas selalu melompat dan gelisah. Jika Atta atau diri itu ada, maka diri itu bahkan lebih tidak stabil daripada jasmani. Karena itu, sangat tidak dianjurkan untuk menganggap citta sebagai diri.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #18 on: 12 March 2010, 11:46:50 PM »
Sesungguhnya, Doktrin Buddhis seluruhnya berdasarkan pada tidak menggenggam apapun sebagai diri, genggeman demikian adalah manifestasi dari Upadana atau Kemelekatan, dengan konsekuensi munculnya keinginan untuk mengendalikannya, untuk membuatnya menuruti keinginan seseorang. Karena itu adalah karakteristik dari Bhava atau Penjelmaan. Sekarang Bhava atau Penjelmaan adalah kondisi yang tidak terhindarkan, karena tunduk pada kemunculan dan lenyapnya. Adalah karena kebenaran ini maka pelepasan dianjurkan. Ini adalah melepaskan apa yang tunduk pada sifatnya sendiri, yang tidak dapat dikendalikan melalui keinginan atau kemelekatan siapapun.

Kembali pada apa yang disebut Nama, yang tidak nyata dan tidak bermateri untuk memahami lebih jauh atas prosesnya. Seperti dijelaskan sebelumnya, Nama merujuk pada Vithicitta atau kekuatan pikiran yang ‘bekerja’ yang menjalankan siklus proses tanpa akhir atau kelahiran yang tanpa akhir yaitu kelahiran berulang. Bahwa ia menjalankan kelahiran berulang yang tanpa akhir secara otomatis menyiratkan kebenaran bahwa ia juga menjalan kematian berulang yang tanpa akhir. Ketika, misalnya, kita melihat buku, maka di sana muncul kesadaran-mata, yang dapat merupakan sesuatu yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral. Berikutnya muncul Sanna atau pengenalan (bahwa itu adalah sebuah buku bukan sebuah kotak). Setelahnya mengikuti Sankhara, pengondisi pikiran (bergantung pada Vedana dan Sanna yang mendahuluinya). Kemudian muncul Mano-vinnana, kesadaran-pikiran sebagai reaksi dari kelompok-kelompok sebelumnya. Demikianlah siklus dimulai sekali lagi, dengan Vedana, Sanna dan Sankhara saling mengikuti berturut-turut.

Sekarang, jika pada saat suara, misalnya, denting jam mengirimkan gelombangnya ke telinga, yang menerimanya, terdapat kesadaran-telinga di sana. Subyek buku ditinggalkan di sini. Apa yang mengikuti adalah rangkaian Vedana, Sanna dan Sankhara seperti di atas. Siklus ini dapat terputus, misalnya, oleh munculnya bau-bauan dari dupa. Maka kelompok non-jasmani, dengan kesadaran-hidung sebagai pemimpinnya, memulai siklus baru dengan cara yang sama. Siklus kesadaran-suara lenyap secara otomatis. Kesadaran-hidung dapat diputus, seperti sebelumnya, misalnya oleh kesadaran-lidah ketika seseorang mulai makan. Siklus ini dapat memberikan jalan kepada kesadaran-badan ketika jalur kesadaran lainnya muncul, seperti ketika seseorang mulai mandi, ketika siklus kesadaran-badan berjalan untuk melakukan tugasnya. Kadang-kadang, ketika mana (yaitu pikiran) mengingat sesuatu di masa lalu maka kesadaran-pikiran akan membuka untuk menjalankan fungsinya.

Akan terlihat bagaimana kelompok-kelompok unsur non-materi ini, atau Nama dalam istilah kitab, harus mengalami kemunculan dan pelenyapan terus-menerus yang tidak terhitung dan tanpa akhir bahkan hanya dalam satu hari, bergantung pada apa yang membangkitkannya. Jika ada perhatian khusus pada tema yang manapun, atau ketika tema itu cukup kuat (misalnya suatu kesakitan yang luar biasa), Nama akan lebih lama terpusat pada subyek tersebut.  Sebaliknya, jika kurang penting, maka Nama akan meninggalkannya dalam waktu singkat. Ini menunjukkan bagaimana Nama dan Rupa adalah akibat personal atau kediaman semua orang yaitu yang bertujuan untuk berfungsi. Muncul dan lenyapnya berlangsung dalam arus tanpa henti dan terus-menerus.

Adalah benar bahwa muncul dan lenyapnya Rupa atau jasmani adalah lebih nyata; meskipun demikian proses Nama yang bersesuaian tidaklah terlalu sulit untuk diikuti. Lebih cepat berlalu, tetapi tidak terlalu cepat bagi kemampuan pendeteksian seseorang jika ia menginginkannya.

Penting untuk dicatat bahwa dalam Khotbah Api, Sang Buddha menjelaskan Vedana atau Sensasi, menunjukkan kepada para petapa bagaimana Vedana mereka terbakar setiap waktu. Ini, dengan kata lain, bukan lain adalah Kebenaran Mulia Pertama yaitu Penderitaan. Kemudian Beliau melanjutkan dengan menjelaskan Kebenaran Mulia ke Dua yaitu Penyebab, dengan secara khusus menunjuk pada Nafsu, Kebencian, dan Kebodohan dan menjelaskan bagaimana hal-hal tersebut ‘Membakar’ dalam diri mereka. Adalah melalui ‘Api’ ini maka mereka selalu terbakar oleh penderitaan demikian seperti kesedihan, usia tua dan kematian, yang berlangsung seperti biasanya. Selanjutnya Beliau memperkenalkan Kebenaran Mulia Sang Jalan, dengan merujuk pada Kebijaksanaan sebagai elemen penting yang dengannya Pandangan Terang dikembangkan. Akhirnya Beliau menjelaskan Kebenaran Padamnya, dimulai dari Nibbida atau Kekecewaan, yang diikuti dengan Viraga atau Kebosanan, Vimutti atau Kebebasan dan akhirnya Vimutti-Nanadassana atau Pandangan Terang yang mengenali atau menembus Kebebasan itu. Demikianlah dengan cara yang sama seperti dalam Anattalakkhanasutta Beliau membabarkan kepada Kelima Petapa.

KHOTBAH API

Demikianlah Khotbah Api oleh Sang Buddha
Dibabarkan kepada seribu petapa
-- sebuah fenomena yang menonjol
Yang disesuaikan dengan manfaat mereka.

Hasilnya sungguh luar biasa;
Khotbah itu adalah untuk keuntungan mereka.
Mereka meninggalkan praktik pemujaan-api
Dan Pencerahan tercapai.

Ini adalah jejak menyala
Oleh seorang yang berani merintis,
Yang menawarkan kepada mereka suatu ajaran baru
Menggantikan apa yang biasanya mereka puja.

Aspek membakar dari ‘api’
Dalam batin mereka selalu menghabiskan.
Dengan memperoleh Mata-Dhamma.
Mereka terselamatkan dari malapetaka.

Dengan panas disingkirkan, melimpahkan ‘cahaya’,
Aspek lain dari api,
Sang Buddha menyebutnya Pandangan terang,
Yang menghancurkan segala kegelapan di sana.

Ini menunjukkan kecakapan terampil Sang Buddha
Bagaimana Beliau mengarahkan sikap mereka,
Mengetahui apa yang terbaik bagi mereka:
Agar tidak lagi ‘termakan’, seperti sebelumnya.

Mengubah panas menjadi cahaya,
Sang Buddha adalah ‘Pengubah’,
Dari kegelapan pekat menjadi terang gemerlap
Diturunkan oleh seseorang, dinaikkan oleh orang lain.

Marilah kita putar kunci kontak kita
Untuk menjalankan ‘mesin pengubah’ batin
Agar menjadi terjamin
Menuju pencapaian yang dapat kita menangkan.

Agar selalu waspada
Terhadap panas, yang merebus dan membakar,
Berkat perhatian yang intensif,
Minimal kita tidak lagi teraduk,

Bergelembung di dalam kuali rebus
Dengan BANTUAN-BANTUAN Spiritual,
Tetapi kebal terhadap racun mematikan
Tidak pernah lagi naik untuk menangkap umpan.

Demikianlah bagaimana ‘pengubah’ mulia
Menurunkan ‘panas’, menaikkan ‘cahaya’
Itu hanyalah seni yang sederhana dan halus.
Sang Buddha menyebutnya Pandangan Terang.

Pengubah agung ini telah dibangun
Menunggu ‘kunci-kontak’ kita
Untuk memulai dan kemudian menjalankannya selamanya
Demi kemajuan hingga tingkat tertinggi.

- Bab 5 selesai -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #19 on: 18 March 2010, 11:01:15 PM »
Di Hutan Veluvana, Kota Rajagaha

NEGERI MAGADHA. RAJA BIMBISARA

Sang Buddha setelah memberikan instruksi kepada para mantan petapa berambut kusut dan memberikan pencerahan kepada mereka hingga mencapai Kearahatan, menetap di Gayasisa selama beberapa waktu. Kemudian Beliau melakukan perjalanan, bersama dengan para bhikkhu yang baru ditahbiskan tersebut, menuju Rajagaha, ibukota Negeri Magadha.

NEGERI MAGADHA. Menurut naskah-naskah, Magadha adalah sebuah negeri yang makmur, dengan ibukota Rajagaha. Pada masa Sang Buddha, rajanya bernama Bimbisara, yang dalam Pali disebut Raja Magadha. Ini adalah sebutan pujian, menganggapnya sebagai raja besar Magadha. Namanya juga didahului oleh Seniyo, sehingga menjadi Seniyo Bimbisara, berarti Bimbisara, Pemimpin Besar.

Dikatakan bahwa Kota Rajagaha dikelilingi oleh tembok lima gunung yaitu Gijjhakuta, Vebhara, Vepulla, Isigili dan Kalakuta. Karena itu kota ini juga disebut Giribbaja, kota berdinding gunung. Ibukota sebelumnya disebutkan terletak di lereng gunung, tetapi sering terjadi bencana kebakaran. Ini menyebabkan kota itu pindah lebih ke bawah, - di kaki gunung, yang masih dikelilingi oleh lima gunung. Menjelang hari terakhir Sang Buddha Raja Ajattasattu membangun kota lain di luar dinding gunung itu, di sebelah utara. Rajagaha adalah kota yang makmur, dengan sejumlah guru spiritual yang membentuk ajarannya dan dilindungi hingga taraf tertentu oleh raja, yang, walaupun tidak berhubungan dengan mereka, namun memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengajarkan ajaran mereka dengan cara-cara mereka. Selama kekuasaan Raja Bimbisara, negeri Kasikagama diserahkan kepadanya oleh Raja Kosala Pasenadi ketika ia menikahi adik perempuan Raja Pasenadi.

Meletakkan Batu landasan bagi Buddhisme

Bahwa Sang Buddha melakukan perjalanan menuju Rajagaha – setelah membabarkan Dhamma kepada para petapa pemuja api – sebagian adalah untuk memenuhi janjinya sebelumnya kepada raja dan sebagian lagi adalah niatnya untuk mengembangkan Buddhisme di kota itu, yang merupakan tempat yang makmur. Dapat diperhatikan bahwa Sang Buddha lebih menyukai membabarkan Dhamma yang Beliau temukan kepada para bhikkhu pertama-tama adalah sebagian besar dari mereka yang menjalani kehidupan tanpa rumah adalah berkehendak baik dan juga terpelajar. Sementara kepada orang-orang awam, Beliau juga menargetkan mereka yang tidak kurang terpelajar dan yang menjadi pemimpin seperti raja-raja, kepala-kepala suku, pejabat-pejabat istana, serta brahmana-brahmana dan orang-orang berpengetahuan luas. Begitu orang-orang tersebut telah memperoleh Mata-Dhamma dan menjadi Buddhis yang baik, maka para pengikut dan bawahan mereka minimal akan menjadi tertarik dan akibatnya menjadi lebih berkeinginan untuk mempelajari Dhamna dan meneladani pemimpin  yang mereka hormati. Ini sangat menghemat waktu yang mendukung penyebaran Dhamma secara cepat dan mendirikan Buddhisme di wilayah tersebut. Sang Buddha sendiri karena sangat dihormati oleh para pemimpin dan penguasa di mana-mana menjadi praktis aman dari segala fitnah yang diakibatkan oleh kecurigaan. Selain itu, Beliau tidak pernah terlibat dalam urusan sekular, usaha-usaha Beliau hanya berurusan dengan hal-hal religius saja. Bukti akan hal ini dapat dilihat di bawah ini.

Mendekati Kota Rajagaha, Sang Buddha tidak langsung memasukinya, melainkan berhenti dan menetap di sebuah hutan yang disebut Laññhivana, secara literal berarti kebun palem muda, mungkin itu adalah tempat tumbuhnya pohon-pohon palem. Ini kemudian diketahui oleh Raja Bimbisara, yang mengetahui bahwa pada saat itu Petapa Gotama, orang Sakya yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga,  telah tiba dan menetap di Hutan Laññhivana. Berita juga telah menyebar bahwa Sang Petapa, adalah Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan dan juga indah di akhir. Beliau menyatakan kehidupan suci yang murni dan sempurna baik dalam makna maupun katanya. Oleh karena itu adalah suatu berkah dapat menemui Arahant demikian.

Sekarang Raja Bimbisara, bersama dengan pengikutnya yangb berjumlah 12 Nahuta (dapat berarti ‘sepuluh juta’ atau menunjukkan jumlah yang sangat banyak) brahmana dan orang-orang kaya penduduk Negeri Magadha, mendatangi Sang Buddha di tempatNya menetap. Sang Raja sendiri, setelah memberi hormat kepada Sang Buddha, duduk di tempat yang selayaknya di satu sisi. Akan tetapi, kedua belas Nahuta penduduk Magadha itu memperlihatkan sikap yang berlainan. Beberapa dari mereka bersujud di hadapan Sang Buddha, sementara yang lain mengucapkan kata-kata penghargaan, dan yang lainnya lagi merangkapkan tangan sebagai penghormatan. Kemudian terdapat sejumlah orang yang memperkenalkan nama dan suku mereka, sementara kelompok lain lagi hanya duduk diam. Disebutkan bahwa sebagian besar orang masih meragukan sehubungan apakah Sang Buddha menjalani kehidupan suci di bawah Uruvela atau sebaliknya.

Melenyapkan keraguan orang-orang

Melihat keragu-raguan mereka, Sang Buddha, untuk melenyapkan keraguan mereka, bertanya kepada Uruvela Kassapa untuk tujuan apakah ia meninggalkan upacara pemujaannya sebelumnya. Dijawab oleh Uruvela bahwa ritual demikian memuji pemuasan kenikmatan-indria yaitu, pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, termasuk perempuan. Setelah menyadari bahwa semua itu adalah noda, ia berkata, ia tidak lagi bergembira di dalamnya.

Kemudian Sang Buddha bertanya lebih jauh lagi kepadanya, kalau begitu, kemanakah perhatiannya sekarang. Uruvela menjawab dengan mengatakan:

“Dhamma yang damai, tanpa kekotoran, telah kutembus, O Bhagava. Tanpa belenggu, tidak tunduk pada perubahan. Tidak disarankan oleh orang lain, untuk dicapai oleh diri sendiri. Adalah melalui Dhamma ini, O Bhagava, maka aku meninggalkan praktik ritual pemujaan.

Setelah menyatakan keyakinannya, Uruvela bersujud di kaki Sang Buddha, menyatakan di hadapan kerumunan itu bahwa Sang Buddha adalah gurunya sedangkan ia sendiri adalah seorang siswa.

Adalah karena pernyataan dari pihak Uruvela Kassapa itulah maka batin orang-orang Magadha itu menjadi terbebas dari keragu-raguan dan menjadi siap untuk menerima instruksi. Kemudian Sang Buddha membabarkan kepada mereka, seperti sebelumnya, Lima Tema Penting Bertingkat dan diikuti dengan Empat Kebenaran Mulia. Tercatat bahwa dari kedua belas Nahuta pendendar yang hadir, sebelasnya berhasil mencapai Mata-Dhamma, sedangkan satu Nahuta sisanya berkeyakinan pada Tiga Permata.

Pada saat itu Raja Bimbisara memberitahu Sang Buddha bahwa lima keinginan yang telah lama ia cita-citakan sekarang telah terpenuhi. Yaitu:

1.   Semoga ia menjadi raja di negeri Magadha.
2.   Semoga seorang Arahant mengunjungi negerinya.
3.   Semoga ia dapat duduk di sebelah Arahant itu.
4.   Semoga Sang Arahant membabarkan Dhamma kepadanya.
5.   Semoga ia menembus Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Arahant.

Sang Raja memuji Kohtbah Sang Buddha dan mengundang Beliau, bersama dengan para siswa bhikkhu, untuk menerima persembahan makan di istananya pada keesokan harinya. Sang Buddha menerima undangannya dengan berdiam diri, - yang berarti penerimaan olehNya dan para siswaNya. Akan tetapi, mungkin terdapat beberapa yang tidak memahami hal ini dan bertanya lebih jauh untuk mengatakannya secara verbal.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #20 on: 18 March 2010, 11:03:28 PM »
Menerima Persembahan Hutan Bambu

Keesokan harinya Sang Buddha dan para bhikkhu pergi untuk makan di Istana Raja Bimbisara. Pada saat itu sebuah pemikiran muncul pada Raja sehubungan dengan tempat yang layak bagi Sang Buddha dan para siswaNya. Ia mengetahui bahwa tempat itu haruslah:
1.   Tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh dari sebuah desa.
2.   Terjangkau oleh para pengunjung.
3.   tidak terlalu ramai di siang hari dan cukup tenang, tidak terganggu oleh keramaian dan          orang-orang yang berlalu-lalang.
4.   cocok sebagai tempat keheningan bagi para petapa untuk mendukung usaha mereka.
5.   layak sebagai tempat tinggal bagi Sang Buddha.

Dengan niat ini dalam pikirannya, raja mempertimbangkan Hutan Bambu Veluvana miliknya, tidak terlalu jauh di sebelah utara kota dan menyadari bahwa semua persyaratan itu terpenuhi. Sebagai simbol persembahannya, raja menuangkan air dari kendi emasnya (menyiratkan persembahan suatu benda tidak bergerak), memberitahukan Sang Buddha atas niatnya untuk mempersembahkan Hutan Bambu sebagai tempat tinggal bagi Sang Buddha dan para siswa Bhikkhu dan memohon kepada Sang Buddha agar menerimanya. Kemudian Sang Buddha membabarkan khotbah kepada raja, membangkitkan semangat dan menggembirakannya dengan manfaat-manfaat dari tindakan tersebut. Dengan merujuk pada peristiwa ini, Sang Buddha memperbolehkan para Bhikkhu untuk menerima sebuah arama yaitu Hutan (atau vihara) yang dipersembahkan kepada mereka sebagai tempat tinggal.

Menurut naskah, di Hutan Bambu inilah Sang Buddha menetap selama Vassa ke dua, ke tiga dan ke empat. Terjadi beberapa peristiwa dalam periode ini yang akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Berikut ini akan dijelaskan tradisi dan budaya dari apa yang telah disebutkan sebelumnya.

Mempersembahkan sesuatu. Apa yang dapat diserahkan dengan tangan harus, seperti seharusnya, diberikan dengan tangan. Tetapi sehubungan dengan suatu benda yang tidak bergerak atau sesuatu yang terlalu besar untuk dilakukan dengan cara demikian, ada tradisi menuangkan air dari kendi di hadapan si penerima. Oleh karena itu, persembahan hutan sebagai tempat tinggal, yang adalah benda tidak bergerak, dilakukan dengan cara ini. Itulah sebabnya Raja Bimbisara, sewaktu mempersembahkan Hutan Bambu kepada Sang Buddha, menuangkan air dari kendi emas. Demikian pula Pangeran Vessantara, Sang Calon Buddha, ketika memberikan gajah kepada brahmana yang memintanya. Dalam apa yang disebut ‘Membagi buah kebajikan’, - yang juga tidak dapat diserahkan dengan tangan, -  menuang air dari kendi juga berlaku. Akan tetapi, ini mungkin diturunkan dari tradisi Brahmanisme. Harus diperhatikan bahwa air harus dituang hingga tidak ada yang tersisa dalam kendi. Ini melambangkan kehendak penuh untuk memberi, bukan memberi dengan setengah hati.

Pujian pada Kualitas-kualitas Buddha

Dalam kebaktian pagi terdapat kalimat yang dimulai dengan “Tam kho pana bhagavantam evam kalyano Kittisaddo abbhuggato, ini adalah kata-kata pujian atas kualitas mengagumkan Sang Buddha yang menyebar di antara orang-orang: Sang Bhagava adalah seorang Arahant, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, dan seterusnya.” Ini menyatakan fakta bahwa kata-kata pujian itu telah terdengar sebelumnya dan secara umum diterima oleh banyak orang pada masa itu. Kata-kata itu bukan disusun oleh orang terpelajar manapun. Kata-kata dalam kalimat itu juga telah digunakan sebelumnya seperti Bhagava (Yang Terberkahi), Araham (Arahant) dan Sammasambuddho (Yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dengan demikian, ketika terdapat seseorang yang dihormati banyak orang dan diterima sebagai Sattha atau Guru Religius, ia selaras dengan kata-kata pujian itu dan diterima sebagai Sattha baru. Juga terdapat kepercayaan tradisional bahwa adalah suatu berkah untuk pergi menemui orang suci demikian. Oleh karena itu, karena adanya tradisi ini, maka ketika ada berita kedatangan seorang Arahant, orang-orang jadi menginginkan minimal mendapat berkah dari melihat Arahant itu. Jika diketahui bahwa raja juga melakukan hal itu, akan lebih banyak lagi orang yang berkeinginan dan lebih banyak orang memenuhi tempat itu. Akan tetapi, sehubungan dengan keyakinan sejati, adalah melalui pencapaian Mata-Dhamma maka seseorang, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, akan dengan kokoh terberkahi dengan keyakinan tak tergoyahkan pada Tiga Permata.

Veluvana atau Hutan Bambu, menurut beberapa legenda, terbagi menjadi dua bagian, bagian yang disebut Kalandakanivapa, tempat di mana tupai-tupai diberi makan. Ini adalah tempat yang dipersembahkan oleh Raja Bimbisara kepada Sang Buddha dan para siswaNya. Bagian lain disebut Moranivapa, di mana ayam-ayam hutan diberi makan, yang dikatakan telah dipersembahkan kepada para pengembara atau Paribbajaka, jenis lain dari Bhikkhu pada masa itu. Ini menunjukkan fakta bahwa raja adalah penyokong bagi keyakinan lain, walaupun ia tidak memuja mereka, namun juga tidak melarang mereka.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #21 on: 18 March 2010, 11:06:10 PM »
Siswa Utama

Setelah menerima Hutan Bambu sebagai arama atau tempat tinggal para bhikkhu, Sang Buddha disebutkan menetap di sana selama vassa ke dua, ke tiga dan ke empat. Pada masa itulah Beliau bertemu dengan kedua siswa utama yang Yang Mulia Sariputta dan Yang Mulia Moggallana. Kisah mereka adalah sebagai berikut:

SARIPUTTA. Di dekat kota Rajagaha terdapat dua desa brahmana yang kedua pemimpinnya telah bersahabat sejak lama. Masing-masing dari mereka memiliki seorang putera, yang satu bernama Upatissa, sesuai nama desa itu, dan yang lain bernama Kolita, juga sesuai nama desanya. Kedua anak itu tumbuh sesuai sistem tradisional dan sebagai sahabat mereka selalu bepergian bersama, bersenang-senang dalam kemudaan mereka bersama-sama. Salah satu tempat kesukaan mereka adalah puncak bukit di mana pada saat itu sedang berlangsung pertunjukan hiburan tahunan. Dalam puncak masa mudanya, mereka sama dengan para pemuda lain, kadang-kadang gembira dan kadang-kadang sedih oleh tontonan dan kadang-kadang memberikan imbalan kepada para actor dan aktris kesukaan mereka.

Titik balik kehidupan mereka terjadi pada suatu hari ketika, dengan matangnya jasa kebajikan mereka, mereka tergerak oleh Samvega yaitu keletihan yang mengecewakan bahkan selagi mereka menonton acara hiburan kesukaan mereka. Sementara orang-orang lain tertawa dan bersorak, mereka secara misterius menarik diri dan lupa pada adegan kegembiraan tersebut. Pikiran mereka dikuasai oleh kebenaran bahwa tidak lama lagi – dalam seratus tahun, - orang-orang itu akan lenyap dan ‘hilang’, pergi ke tempat yang tidak dapat digambarkan. Mereka saling melihat reaksi masing-masing dan, memahami kesamaan pikiran mereka, mereka sepakat untuk ‘meninggalkan keduniawian’ yaitu menjalani kehidupan tanpa rumah menjadi petapa, jenis pengembara dalam naungan guru spiritual bernama Sanjaya. Mereka menyelesaikan pelajaran dari Sanjaya dan menyadari bahwa itu tidak memuaskan keinginan mereka tetapi, karena tidak mengetahui tempat lain lagi, mereka sepakat bahwa siapapun yang lebih dulu menemukan Dhamma Keabadian harus memberitahukan penemuannya kepada yang lain.

Suatu hari Upatissa bertemu dengan Yang Mulia Assaji, satu dari Kelima Petapa – kelompok pertama dari para siswa Sang Buddha, sewaktu ia sedang dalam perjalanan menerima dana makanan di Kota Rajagaha. Pada pandangan pertama ia terkesan dengan sikap Sang Bhikkhu tetapi, karena mengetahui bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat untuk bertanya, ia mengikutinya hingga Sang Bhikkhu selesai makan. Melihat bahwa saatnya telah tepat, pemuda itu bertanya kepada Sang Bhikkhu di bawah siapakah ia menjalani kehidupan suci, siapakah gurunya dan Dhamma (ajaran) siapakah yang ia jalankan.

Dalam jawabannya Sang Bhikkhu berkata bahwa ia menjalani kehidupan suci di bawah Sang Buddha, yang meninggalkan keduniawian dari Suku Sakya. Adalah Sang Buddha itu yang menjadi Gurunya. Dhamma Sang Buddha-lah yang ia jalankan.

Upatissa meminta kepada Sang Bhikkhu agar menceritakan Dhamma itu kepadanya. Yang Mulia Assaji berkata bahwa ia masih baru dalam Pengajaran Buddha, oleh karena itu tidak berada dalam posisi untuk mengajarkan Dhamma secara terperinci. Tetapi Upatissa mendesak, berkata bahwa tidak perlu menceritakan kata demi kata. Sebuah ringkasan pun akan mencukupi.

Demikianlah Yang Mulia Assaji, meringkas ajaran Buddha untuk pemuda itu yang disusun dalam bentuk syair oleh paar penyusun naskah masa lalu sebagai berikut:

“Ye Dhamma hetuppabhava       Tesam hetumtathagato
Tesana yo nirodho ca                   Evamvadi mahasamano.”

Segala Dhamma muncul karena sebab
Sang Tathagata (Buddha) telah menjelaskan
Sebab kemunculan dan lenyapnya.
Demikianlah ajaran dari Petapa Agung.


Dengan ajaran singkat ini, pemuda Upatissa ini mampu mencapai Mata-Dhamma, memahami bahwa segala sesuatu yang mengalami kelahiran, pasti juga akan mengalami kematian.

Kemudian ia dengan penuh hormat meninggalkan Sang Bhikkhu dan bergegas pergi menemui sahabatnya Kolita untuk memberitahukan berita baik sesuai janji mereka. Ia mengulangi syair di atas kepada Kolita, yang serupa dengan sahabatnya seketika mencapai Mata-Dhamma. Mereka pergi menemui guru mereka Sanjaya, menceritakan pengalaman mereka kepadanya dan mengajaknya untuk bersama-sama menemui Sang Buddha. Tetapi Sanjaya, melekat pada kebanggaan bahwa ia adalah seorang guru terkenal, menolak ajakan itu, mengatakan bahwa baginya untuk menjadi siswa dari seorang guru lain adalah bagaikan menempatkan seekor buaya dewasa ke dalam sebuah kendi-air dari tanah. Sebuah posisi yang tidak mungkin ia terima. Komentar Dhammapada lebih jauh menyebutkan bahwa Sanjaya bertanya kepada Upatissa dan Kolita apakah terdapat lebih banyak orang bijaksana atau orang dungu di dunia ini. Ketika mereka menjawab adalah orang dungu yang lebih banyak, ia berkata bahwa biarlah orang-orang bijaksana mendatangi Sang Buddha, sedangkan mereka yang dungu, yang lebih banyak jumlahnya, mendatangiku, dan ia puas dengan itu.

Kedua pemuda itu kemudian meninggalkan guru mereka dan pergi, bersama dengan pengikut mereka yang berjumlah 250 orang, untuk menemui Sang Buddha dan memohon penahbisan, yang semuanya diterima dengan cara ‘Ehi Bhikkhu’. Tercatat bahwa para pengikut mereka, setelah ditahbiskan, mengerrahkan usaha mereka dan segera mencapai Kearahatan.

MOGGALLANA. Sehubungan dengan pemuda Kolita, yang terkenal sebagai Bhikkhu bernama Moggallana, sesuai nama ibunya Moggalli. Tercatat bahwa tujuh hari setelah penahbisannya, ia mengerahkan usahanya di desa Kalvanamuttagama di Kota Magadha. Sang Buddha pada saat itu sedang berada di hutan yang bernaam Bhesakalavana, tempat rusa-rusa diberi makan, di dekat kota Sumsumaragira, ibukota negeri Bhagga. Pada saat itu ia dikuasai oleh perasaan mengantuk. Kemudian Sang Buddha muncul untuk menyemangatinya agar melawan perasaan itu dengan berbagai cara yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.   Senantiasa penuh perhatian terhadap persepsi atau mengetahui apa yang menyebabkan kantuk.
2.   Merenungkan Dhamma yang telah ia dengar dan pelajari.
3.   Mengulangi Dhamma secara terperinci.
4.   Mencubit telinga dengan jari dan menepuk badan dengan tangan.
5.   Berdiri, basahi mata dengan air, lihat sekeliling ke segala penjuru dan menatap bintang-bintang.
6.   memperhatikan persepsi cahaya, berdiam dengan pikiran pada siang dan malam hari, membuka pikiran, melepaskan penutupnya, mengembangkan pikiran yang bermandikan cahaya.
7.   Melakukan meditasi jalan yaitu berjalan mondar-mandir, dengan pengendalian indria, tidak memperhatikan apapun di luar.
8.   (Yang terakhir) Berbaring dengan “posisi singa” yaitu di sisi kanan, dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan memusatkan pikiran pada waktunya bangun.


Cara-cara yang diatas diajarkan sebagai pilihan, untuk digunakan satu demi satu, jika yang sebelumnya tidak berhasil mengatasi kantuk, jika semuanya tidak berhasil, maka disarankan agar mengikuti keinginann tubuh dan beristirahat dengan cara yang dijelaskan di atas.

Melanjutkan cara-cara menaklukkan kantuk, Sang Buddha memberikan tiga instruksi lainnya kepada Yang Mulia Moggallana yaitu:

1.   Melenyapkan Keangkuhan. Jangan sampai ia “menaikkan belalainya” (yaitu melayang di udara juga tidak menyenangi perasaan membanggakan diri sendiri) ketika memasuki rumah umat awam; kalau tidak, jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga yang memerlukan perhatian dari orang-orang itu dan akibatnya mereka menjadi lupa manyapa si bhikkhu, bhikkhu itu mungkin menjadi malu dan terganggu. Ia akan meninggalkan pengendalian diri dan menjadi terasing dari meditasi.

2.   Mengendalikan Ucapan. Jangan mengucapkan kata-kata yang dapat mengarah pada pertengkaran atau mencari kesalahan, karena banyak pembicaraan dan perdebatan akan muncul. Kemudian muncul pengalihan yang diikuti oleh kurangnya pengendalian diri dan batin menjadi terasing dari meditasi.

3.   Pergaulan. Sang Buddha tidak merekomendasikan pergaulan; juga Beliau tidak mencelanya sama sekali. Tempat manapun yang tenang dan tidak terganggu oleh suara-suara orang yang berlalu-lalang, cocok bagi seorang Samana (petapa) yang menginginkan keheningan, juga cocok sebagai sebuah tempat kediaman bagi mereka yang menyukai kehidupan terasing, pergaulan dengan tempat demikian direkomendasikan oleh Sang Buddha.

Setelah menerima instruksi demikian, Yang Mulia Moggallana meminta ringkasan praktik dari Sang Buddha yang dengannya seorang bhikkhu dapat dianggap sebagai condong pada padamnya keinginan dan mengarah menuju keberhasilan transenden, keamanan transenden dari belenggu, kesucian transenden dan puncak tertinggi dari semua manusia dan para dewa.

Dalam jawabanNya Sang Buddha berkata bahwa seorang bhikkhu dalam pengajaranNya, setelah mendengar bahwa segala jenis Dhamma adalah tidak layak dilekati, melihat semua Dhamma dengan kebijaksanaan, mengetahui bagaimana agar tidak melekatinya. Selanjutnya, ketika ia mengalami perasaan yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan atau yang netral, ia merenungkannya sebagai tidak kekal. Ini ia lakukan dengan Pandangan terang yang menuju Keletihan, menuju Pemadaman, menuju Pemisahan dirinya dengan perasaan-perasaan itu. Maka ia kemudian akan terlepas dari segala sesuatu di dunia, dengan tidak terganggu dan mampu melenyapkan semua kekotoran, mengetahui bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah disempurnakan dan semua yang harus dilakukan telah selesai dilakukan, tidak ada lagi yang harus dilakukan untuk Pencerahan ini.

Dengan mengikuti instruksi Sang Buddha, Yang Mulia Moggallana mencapai Kearahatan pada hari itu juga.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #22 on: 18 March 2010, 11:07:38 PM »
Yang Mulia SARIPUTTA

Sehubungan dengan Yang Mulia Sariputta, yang namanya berasal dari ibunya Sari, setengah bulan setelah penahbisannya ia mengikuti Sang Buddha menuju Gunung Gijjhakuta (Puncak Nasar), di Kota Rajagaha. Pada hari itu Sang Buddha berdiam di sebuah Gua yang disebut Sukarakhata ketika seorang pengembara bernama Dighanakha Aggivesana datang dan berdiri di tempat yang selayaknya. Yang Mulia Sariputta sedang mengipasi Sang Buddha. Pengembara itu kemudian mengungkapkan pandangannya, mengatakan bahwa segala sesuatu tidak menyenangkan baginya dan bahwa ia tidak bergembira di dalamnya.

Dalam jawabannya Sang Buddha berkata, “Kalau begitu, Aggivesana, pandanganmu itu tentu tidak menyenangkan bagimu dan engkau pasti tidak gembira di dalamnya juga.”

Setelah itu Beliau melanjutkan mengatakan kepada si pengembara tentang tiga kelompok pandangan yaitu pertama, segala sesuatu menyenangkan bagi mereka; ke dua, segala sesuatu tidak menyenangkan bagi mereka; dan ke tiga, beberapa hal menyenangkan, sementara yang lainnya tidak menyenangkan.

Pandangan pertama, lanjut Sang Buddha, cenderung mengarah pada nafsu akan hal-hal tersebut, sedangkan yang ke dua mengarah pada kebencian atau permusuhan, dan ke tiga, tunduk pada keduanya pada saat-saat yang berbeda. Oleh karena itu, semua itu menghasilkan kekotoran, karena kemelekatan pada salah satunya secara alami berlawanan dengan yang lainnya. Selanjutnya akan diikuti oleh pertengkaran dan kekerasan baik dalam ucapan maupun tindakan. Seorang bijaksana menyadari fakta ini akan meninggalkan pandangan itu dan tidak melekat pada pandangan yang lain. Dengan cara ini ketiga pandangan itu dapat ditinggalkan.

Setelah itu Sang Buddha melanjutkan memberikan instruksi kepada pengembara itu dengan menjelaskan bahwa tubuh ini adalah kumpulan dari empat unsur utama yaitu tanah, air, udara, api. Terlahir dari ayah dan ibu, tumbuh melalui makanan dan selalu memerlukan pengharum dan sabun untuk menutupi baunya yang menyengat. Tubuh ini juga harus dibersihkan dan digosok (untuk melepaskan kotoran-kotoran yang menumpuk di kulit). Tubuh ini pasti memudar dan membusuk. Oleh karena itu seseorang harus menganggapnya tidak kekal, penuh penderitaan yang sulit ditahankan, menganggapnya sebagai penyakit, bisul dan anak panah karena selalu didera oleh kesulitan dan kemunduran. Ia harus merenungkannya sebagai hampa dari diri.

Melanjutkan instruksiNya, Sang Buddha menjelaskan kepada pengembara itu tentang ketiga jenis Vedana (Sensasi atau Perasaan) yaitu menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral, menjelaskan bahwa ketika salah satu dari tiga itu muncul maka kedua lainnya secara otomatis lenyap. Akan tetapi ketiga ini, mengalami perubahan, karena terkondisi, muncul karena sebab-sebab. Mengalami kemunduran, peluruhan dan padam. Seorang siswa mulia  yang memahami ini menjadi letih, dengan pikiarnnya terpisah dari nafsu dan terbebas dari kemelekatan. Selanjutnya dalam rangkaian ini adalah sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam Anattalakkhanasutta.

Selama waktu itu Yang Mulia Sariputta, dengan kipas ditangannya melayani Sang Buddha, juga mendengarkan instruksi yang diberikan kepada si pengembara. Dengan merenungkannya, ia menjadi yakin akan bagaimana Sang Buddha menganjurkan untuk melepaskan semua Dhamma dengan kebijaksanaan tertinggi. Sebagai akibatnya batinnya terbebaskan dari segala jenis kekotoran-kekotoran halus, telah melepaskan kemelekatan.

Di akhir khotbah itu si pengembara mencapai Mata-Dhamma. Tercatat bahwa pengembara itu adalah keponakan Yang Mulia Sariputta. Adalah karena ia ingin mengunjungi Yang Mulia Sariputta maka ia mendatangi Sang Buddha dan kemudian berkesempatan untuk mengungkapkan pandangannya, merujuk secara tidak langsung bahwa ia tidak puas akan ajaran Sang Buddha. Kemungkinan Sang Buddha mengetahui hal itu dan dengan bijaksana memberikan jawaban, sehingga menuntunnya menuju tema yang lebih bermanfaat demi keuntungannya.

Yang Mulia Moggallana

Yang Mulia Moggallana dipuji oleh Sang Buddha sebagai yang terkemuka dalam pencapaian kekuatan batin, sedangkan Yang Mulia Sariputta dalam hal Kebijaksanaan, Yang Mulia Moggallana juga dianggap sebagai siswa ‘tangan-kiri’ Sang Buddha sedangkan Yang Mulia Sariputta sebagai ‘tangan-kanan’Nya. Adalah karena fakta ini maka ketika sebuah patung Buddha dibuat, juga terdapat dua siswa, masing-masing di satu sisi patung tersebut, kadang-kadang berdiri dan kadang-kadang duduk. Akan tetapi, keduanya memiliki ciri-ciri dan ukuran yang sama dan, untuk menentukan yang mana adalah Yang Mulia Sariputta dan yang mana Moggallana, aturannya adalah dengan berpatokan pada patung Sang Buddha. Dengan demikian siswa di sebelah kanan patung Buddha adalah Yang Mulia Sariputta dan di sebelah kiri adalah Moggallana. Akan tetapi, bagi orang yang menghadap patung Buddha, siswa di sebelah kirinya adalah Yang Mulia Sariputta, sedangkan yang lain di sebelah kanannya adalah Moggallana. Tradisi ini juga berlaku pada prosedur penahbisan, di mana yang berada di sebelah kanan penahbis adalah senior dan yang lain di sebelah kirinya adalah junior. Tetapi bagi si calon, yang berada di sebelah kirinya (dengan menghadap pada penahbis) adalah senior, sedangkan yang lain di sebelah kanannya adalah junior.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #23 on: 18 March 2010, 11:09:34 PM »
Penjelasan

Berikut ini adalah penjelasan atas apa yang menjadi keprihatinan kedua siswa utama. Ini dimulai dengan kata-kata Yang Mulia Assaji dalam menjawab pengembara Upatissa. Ini dianggap sebagai inti dari Empat Kebenaran Mulia, terbukti dengan dituliskan dalam sebuah prasasti pada masa Raja Ashoka.

Syair itu dimulai dengan YE DHAMMA …, menyiratkan kebenaran bahwa Dhamma apapun juga muncul karena sebab-sebab, Sang Tathagata (Sang Buddha) menjelaskan sebab-sebabnya, bersama dengan padamnya. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Petapa Agung. Di atas permukaan, syair ini sepertinya tidak menginspirasi, khususnya bagi seseorang yang belum menangkap makna Empat Kebenaran Mulia hingga tingkat tertentu. Hanya dengan pemahaman demikian maka penembusan dapat tercapai.

Bagi seseorang yang telah menangkap makna dari kebenaran-kebenaran itu, akan jelas bahwa Kebenaran Penderitaan dan bahwa Kebenaran Penyebab adalah sebab dan akibat, atau, untuk menyelaraskannya, akibat dan sebab dalam hal aspek munculnya Penderitaan. Kemudian muncul Kebenaran Padamnya dan Kebenaran Sang Jalan. Keduanya adalah akibat dan sebab dalam hal aspek padamnya Penderitaan. Demikianlah ajaran Petapa Agung.

Untuk menerapkan syair ini pada prinsip umum Buddhisme, sebagai seorang yang telah mempelajarinya, dapat dikatakan bahwa Buddhisme mengajarkan hukum yang mencakup segala sesuatu bahwa semua akibat buruk yang terjadi berasal dari sebab yang sama buruknya, yang dapat disebut jahat yaitu Karma tidak lurus atau tidak bermanfaat. Sebaliknya, akibat baik, muncul dari sebab baik yang bersesuaian, yang dapat disebut jasa kebajikan yaitu perbuatan  lurus atau bermanfaat. Bagian pertama dari syair Yang Mulia Assaji – Segala Dhamma muncul karena sebab – merujuk pada akibat, yang baik maupun buruk, sedangkan bagian ke dua – Sang Tathagata telah menjelaskan penyebabnya – menunjukkan kualitas-kualitas baik, lurus dan bermanfaat sebagai penyebab dari akibat baik, kemudian menunjukkan kualitas-kualitas jahat, tidak lurus dan tidak bermanfaat sebagai penyebab dari akibat buruk. Sehubungan dengan bagian ke tiga – Sang Tathagata mengajarkan lenyapnya – dapat dianggap sebagai penutup dua sisi, mendesak orang-orang agar meninggalkan sebab-sebab buruk agar mereka dapat membersihkan akibat-akibat buruk di satu pihak dan di pihak lain juga mengembangkan penyebab-penyebab baik agar memperoleh akibat-akibat baik.

Akan tetapi, agar suatu ajaran religius menjadi sempurna, maka harus ada titik terakhir bagi seseorang untuk dicapai, jika tidak maka melakukan kebaikan akan menjadi suatu proses tanpa akhir. Oleh karenanya, ini menyiratkan fakta bahwa ajaran itu belum selesai. Segala sesuatu memiliki akhir atau penyelesaian, apakah itu adalah kehidupan seseorang, pembelajaran atau aktivitas apapun juga. Demikianlah apa yang diharapkan. Jika suatu ajaran religius mendesak penganutnya untuk melakukan kebaikan tanpa akhir, maka itu berarti ajaran itu masih belum selesai.

Titik Akhir

Dalam Buddhisme terdapat titik akhir – ‘Titik akhir yang agung’, dari melakukan kebaikan. Orang-orang yang telah berjuang melakukan kebaikan adalah karena fakta bahwa mereka belum sampai pada titik itu. Mereka masih berusaha untuk melakukan lebih lagi, karena masih ada yang ‘lebih’ lagi yang menunggu di depan. Jika dan ketika ‘kebaikan’ merekja telah selesai dan sempurna, maka pada saat itu ‘cukup sudah’ tidak ada lagi yang ‘lebih’ untuk dilakukan karena ‘Titik akhir’ telah tercapai. Itu adalah ‘selesai’ dalam makna terselesaikan sepenuhnya.

Sekarang, kapan dan dimanakah titik ini dicapai dan tujuan terpenuhi? Buddhisme menjelaskan bahwa hanya ketika asavakilesa, secara literal berarti Kekotoran-kekotoran melimpah, telah dilenyapkan maka seseorang dapat treberkahi dengan ‘Titik akhir’. Setelah itu tidak ada lagi benih, atau sebab, atau kejahatan yang tersisa. Oleh karena itu tidak ada lagi yang harus dilakukan untuk membersihkan noda-noda kejahatan. Di sini Sang Buddha dengan tepat mengartikan salah satu konsep Brahmanis, dengan menyebut orang demikian sebagai seorang yang ‘menghanyutkan kebaikan maupun kejahatan.’ Oleh karena itu pada titik inilah Titik akhir itu, yang mutlak, atau puncak, dari apa yang baik, tidak ada kebaikan lain yang lebih tinggi dari ini. Ini adalah padamnya Limpahan (Asava), dengan akibat padamnya kebaikan dan kejahatan. Ajaran Buddhisme menunjuk pada kondisi ini sebagai akhir Khotbah, akhir dari segalanya yang harus dilakukan.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #24 on: 18 March 2010, 11:12:24 PM »
Terunggul dalam Kebijaksanaan

Yang Mulia Sariputta terkenal sebagai yang terunggul dalam jangkauan dan cakupan Kebijaksanaan tetapi tercatat bahwa ia mencapai Titik akhir lebih lambat daripada para pengikutnya yaitu lima belas haris setelah penahbisannya, sedangkan Yang Mulia Moggallana memerlukan waktu tujuh hari. Namun, para pengikutny6a telah mencapai Kearahatan lebih cepat daripada itu. Alasan dari hal ini, menurut naskah-naskah, adalah bahwa tingkat dan jangkauan Kebijaksanaannya jauh melebihi para bhikkhu lain. Sebagai akibat dari keragu-raguan yang lebih besar, yang memerlukan penyelidikan yang lebih mendalam khususnya pada tingkatan yang lebih tinggi. Akan tetapi, bahwa ia mampu menangkap dan memahami instruksi singkat dari Yang Mulia Assaji dengan cepat, walaupun ia belum mempelajari Ajaran Buddha sebelumnya, membuktikan bahwa ia memiliki kebijaksanaan yang unggul.

Ini menjadi lebih jelas jika kita membandingkan kasus orang-orang yang telah mempelajari Buddhisme sebelumnya atau bahkan yang telah mempelajarinya sedikit. Demikianlah, betapa tinggi atau dalamnya tingkat kebijaksanaannya!

Berbagai Lapisan Keinginan

Fakta lain yang layak dipertimbangkan adalah mengapa, dalam instruksiNya kepada kedua siswa utama, Sang Buddha menekankan pada praktik perenungan Vedana yaitu Sensasi atau Perasaan. Dikatakan bahwa mereka yang memiliki bentuk atau tingkatan Tanha atau Keinginan yang kasar akan cenderung melekat pada jasmani atau materi. Dengan demikian mereka menikmati menghias tubuh mereka, rumah mereka, perkakas mereka, dan peralatan lainnya. Mereka dapat menerima ketidaknyamanan dalam batas tertentu tetapi tidak tahan melihat tubuh mereka dan hal-hal lainnya tampak rendah dan  tidak menarik. Kadang-kadang, atau sering kali, mereka rela menderita agar dapat menjadi cantik. Demikianlah karakteristik dari mereka yang melekat pada jasmani dan materi.

Tingkat keinginan yang lebih tinggi dan lebih halus terwujud dalam kemelekatan Vedana, sensasi atau perasaan bahagia itu sendiri. Di sini ada sedikit perhatian pada keindahan fisik atau materi. Ini adalah kepuasan atas segala sesuatu yang mendukung kebahagiaan. Makanan, pakaian atau tempat tinggal apapun yang memenuhi keinginannya, tidak peduli bagaimana penampilannya, adalah tujuannya.

Sekarang, Vedana ada tiga jenis. Seperti telah disebutkan sebelumnya, juga terdapat jenis yang memberikan perasaan tidak-menyenangkan dan netral. Jika keinginan dibangun di atas perasaan itu, maka keengganan akan muncul. Dalam kasus-kasus demikian, dimana terdapat tingkat tertentu dari keengganan yang bermanfaat, seperti ketekunan dalam bekerja atau belajar, maka keengganan akan menjadi penghalang bagi kemajuan dan keberhasilan. Itu akan menahan mereka tetap di tempatnya, mengurung mereka selalu dalam keadaan pasif dan stagnan.

Kedua siswa utama dikenal sebagai keturunan dari keluarga-keluarga kaya, dan biasanya dimanjakan oleh segala kemewahan yang bisa mereka dapatkan. Setelah ditahbiskan, gaya hidup mereka mendadak berubah, dengan perasaan tdiak menyenangkan sebagai akibatnya. Ini adalah benar terutama pada masa Sang Buddha, ketika para bhikkhu harus melaksanakan empat Nissaya (yaitu, mengumpulkan makanan, mengenakan jubah potongan kain, menetap di bawah pohon dan meminum air kencing sebagai obat) lebih ketat daripada masa sekarang. Kehidupan demikian menghasilkan ketidak-senangan yang jauh lebih tinggi, baik dalam jumlah maupun intensitasnya. Tidak ada jaminan pasti mendapatkan makanan, pakaian, tempat tinggal atau obat-obatan yang dapat memuaskan keinginan. Oleh karena itu, kemelekatan pada perasaan menyenangkan pasti mengalahkan tujuan dari mereka yang ditahbiskan. Terlepas dari fakta bahwa banyak dari mereka yang jelas memiliki tingkat pengetahuan dan tingkat penerimaan ajaran yang cukup tinggi. Mungkin karena fakta ini maka Sang Buddha, dalam instruksiNya kepada kedua siswa itu, menekankan pada pentingnya ketidak-melekatan pada segala jenis Vedana yang muncul. Yang pada satu saat hanya muncul satu, melenyapkan kedua lainnya. Semua itu tunduk pada perubahan dan pelenyapan dan karenanya tidak layak dilekati. Jika Vedana yang menyenangkan terlepaskan, maka secara alami tidak ada perhatian atau kekhawatiran yang mengganggu pikiran. Tanpa keinginan untuk memperhatikan, yang menggelisahkan atau yang berdiam di sana, maka muncullah penembusan atas segala Dhamma (fenomena) sebagai akibatnya. Ini adalah makanan yang baik bagi pikiran yaitu pikiran yang serius. Menunjukkan fakta bahwa salah satu rintangan pada keberhasilan dalam bekerja, belajar atau berbuat baik adalah kemelekatan pada perasaaan menyenangkan ini. Jika ini dapat dilepaskan, dengan keberanian untuk menghadapi penderitaan apapun yang akan muncul, maka jelas akan muncul suatu perasaan pasrah, dan kelegaan. Tidak ada yang terlalu sulit; tidak ada pelaksanaan yang terlalu sulit; tidak ada tempat yang terlalu jauh atau berbahaya.

Ada suatu sabda yang layak diperhatikan. Yaitu “Sabbe dhamma nalam abhinivesaya: segala dhamma seharusnya tidak dilekati.” Inti dari makna ini serupa dengan kalimat dalam kebaktian pagi kita “Sabbe dhamma anatta: segala dhamma adalah bukan-diri.” Harus diperhatikan bahwa kalimat-kalimat ini merujuk pada kebenaran tertinggi, yang biasanya dibabarkan oleh Sang Buddha kepada mereka yang ingin menembus tingkat kebenaran tersebut. Kepada orang-orang biasa yang belum siap untuk tingkatan ini Sang Buddha tidak akan menyebutkannya.

Umumnya, “segala dhamma” dapat dibagi dalam dua jenis yaitu baik dan buruk. Pertama-tama, ada ajaran untuk menghindari kejahatan. Kemudian muncul praktik melakukan kebaikan, yaitu melakukan perbuatan baik setelah menghindari perbuatan jahat. Pada tingkat ini praktik melakukan kebaikan harus digenggam yaitu dilekati. Tidak boleh dilepaskan karena tentu saja ada tingkat kebaikan yang lebih tinggi dan lebih baik untuk dilakukan. Tujuan tertinggi masih belum tercapai dan seseorang harus berjuang.

Sekarang, akan tiba saatnya, di mana titik tertinggi tercapai. Ini berarti tidak ada lagi yang harus dilakukan karena “Puncak Everest”, secara kiasan, telah ditaklukkan. Tetapi ini juga di mana kemelekatan harus ditinggalkan selamanya. Dengan kemelekatan yang masih ada, maka keinginan juga masih ada; dan dengan keinginan yang masih ada, Kilesa atau Kekotoran juga selalu ada, dan karenanya puncak tertinggi, yang tenang dan tidak terkondisi, masih jauh. Ini mungkin dapat diumpamakan sebagai seorang murid yang, setelah lulus, namun menolak untuk meninggalkan sekolahnya yang telah menjaganya. Adalah demi puncak pencapaian tertinggi inilah Sang Buddha menganjurkan untuk melepaskan, atau melampaui, apa yang bahkan berada dalam wilayah kebaikan. Dalam tingkat biasa yaitu dasar atau menangah, Beliau tidak menunjukkan ‘Titik Akhir’ ini. Apa yang Beliau nasihatkan adalah agar selalu meninggalkan kejahatan dengan menambah keinginan, atau kemelekatan pada perbuatan baik. Demikianlah pentingnya menerapkan instruksi Dhamma dengan menyesuaikan tingkat kematangan pendengarnya. Jika diterapkan dengan cara yang keliru, maka instruksi itu akan menghasilkan akibat yang tidak diinginkan seperti kesalah-pahaman dan kebingungan.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #25 on: 18 March 2010, 11:13:12 PM »
Penyebab Kritik

Terdapat satu fakta yang harus diperhatikan di sini. Dengan beralihnya keyakinan kedua siswa utama itu kepada Buddhisme, maka mereka diikuti oleh sejumlah besar pemuda dari keluarga-keluarga kaya dan terkenal di kota itu. Akan tetapi, ini mengakibatkan munculnya kritik dari orang-orang Magadha, banyak yang menuduh Sang Buddha memotong garis silsilah para perumah tangga, merenggut anggota keluarga dari keluarganya dan juga menyebabkan banyak istri menjadi janda. Melihat para bhikkhu ketika berkeliling menerima dana makanan, mereka mengeluh, mengatakan bahwa mereka adalah para bhikkhu yang telah merampas sejumlah siswa dari Sanjaya, dan bertanya dengan menyindir putera atau suami manakah yang akan mereka bujuk. Kritik-kritik ini kemudian disampaikan kepada Sang Buddha, yang meyakinkan mereka bahwa komentar-komentar demikian akan berlangsung selama paling lama tujuh hari. Kemudian ia menasihati para bhikkhu agar memberitahukan kepada para mereka yang melontarkan kritik bahwa Sang Tathagata mengajarkan Kebenaran, yang bermanfaat bagi makhluk hidup. Oleh karena itu, sangat disarankan, agar mereka yang memahami fakta ini tidak lagi memendam benci atau permusuhan terhadap kebenaran atau Dhamma.

Merujuk pada insiden ini, harus diperhatikan bahwa banyak dari mereka yang beralih keyakinan kepada Buddhisme sebelumnya telah ditahbiskan sebagai pengikut dari aliran kepercayaan religius lain. Kedua siswa utama, bersama dengan para pengikut mereka, telah lama termasuk dalam kategori ini. Mereka bukan menjalani kehidupan tanpa rumah persis ketika mulai menganut Buddhisme. Oleh karena itu, kemungkinan kritik itu dilontarkan oleh para guru religius yang kehilangan banyak pengikutnya yang beralih kepada Sang Buddha. Suara-suara celaan mereka adalah karena kecemburuan dan bukan karena keprihatinan yang tulus pada keluarga-keluarga yang kehilangan putera dan suami mereka.


TITIK AKHIR

Keinginan terdiri dari berbagai tingkat.
Kasar, sedang, halus.
Semuanya adalah jebakan untuk menjerat kaum duniawi
Dalam segala kegiatan mereka.

Yang kasar berdasarkan pada materi;
Jasmani, uang sebagai jangkarnya.
Segala sesuatu yang menyenangkan bagi kelima pintu-indria
Adalah apa yang mereka inginkan lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Jenis yang sedang adalah puas
Dengan kebahagiaan yang telah diperoleh
Melalui pikiran yang damai, tenang,
Merasa bahwa tujuan tertinggi telah tercapai.

Menghindar dari usaha keras;
Tidak suka bergerak maju
Berkubang dalam kepuasan diri,
Berpikir bahwa itu adalah kemenangan akhir.

Apapun yang menyenangkan mata, telinga, hidung,
Lidah, dan sentuhan mereka menganggapnya sebagai yang terpenting.
Selain ini mereka tidak memedulikannya
Semua lainnya tidak mereka perhatikan.

Yang halus terkembang jauh;
Demikianlah pikiran tidak mau berhenti,
Dengan bodoh merasa puas,
Namun mengharapkan pencapaian.

Di antara Dhamma yang melampaui keduniawian itu, -
Yang tidak pernah bertambah maupun berkurang,
Sebagai mahkota dari segala yang baik
Melampaui segala kebesaran.

Di antara kecemerlangan astronomis,
Yang kokoh, stabil, tiadk berubah,
Dimana konsep-konsep duniawi tidak ada,
Itulah apa yang disebut dengan Pencerahan.

Marilah para umat Buddha menghaluskan keinginannya,
Dengan pikiran yang perlahan-lahan dimurnikan
Hingga mereka mencapai atmosfir
Yang dihormati dan dipuji oleh para dewa dan manusia,

Dimana ada kemauan, di sana ada jalan
Tetapi kita semua pertama-tama harus memperlihatkan
Keyakinan, semangat, dan tekad kita
Untuk menghirup udara dimensi itu

Dalam melakukan kebaikan terdapat akhir,
Seseorang mencapai titik ini ketika
Mereka mencapai kemenangan lengkap terakhir
Kemudian muncullah bagi mereka Titik Akhir.

Mereka menjadi murni dan tenang sempurna,
Dimana ketenangan tidak tergoyahkan
Kesempurnaan mereka adalah mutlak
Ini adalah dimana ia Tecerahkan.



- Bab 6 Selesai -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #26 on: 27 March 2010, 09:43:49 PM »
-7-
YANG MULIA MAHAKASSAPA

Sewaktu Sang Buddha sedang menetap di Hutan Bambu, terdapat seorang siswa unggul lainnya yang layak disebutkan di sini. Ia bernama Yang Mulia Maha Kassapa. Ia, dalam biografi singkatnya, adalah putera seorang brahmana bernama Kapila dari keluarga Kassapa di suatu desa brahmana bernama MahatiMMha, negeri Magadha. Nama brahmananya adalah Pipphali Manava, pemuda Pipphali. Keluarga di mana ia dilahirkan adalah kelaurga kaya. Di usia dewasa, ia menikah dengan seorang gadis bernama Bhaddakapilanã, puteri seorang brahmana dari keluarga Kosiya di kota Sagala, negeri Magadha.

Kelak ia menjadi letih dengan kehidupan duniawi dan berkeinginan kuat untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, kehidupan suci. Menyadari bahwa sebagai umat awam ia tidak akan mampu mencapai kesempurnaan, “bagaikan kulit kerang yang digosok halus,” kehidupan suci yang ia cita-citakan sambil ia menjalani kehidupan duniawi, ia mencukur rambut dan janggutnya dan, setelah mengenakan jubah Kasaya (jubah kuning kemerahan yang dicelup dengan cairan penyusut), meninggalkan rumah, mengabdikan pelepasan keduniawiannya kepada Yang Tercerahkan Sempurna manapun yang ada masa itu. Ini berarti bahwa ia masih belum mengetahui siapa yang telah tercerahkan sempurna kepada siapa ia akan mengabdikan kehidupan pelepasan keduniawiannya, tetapi, dengan meyakini bahwa pasti ada, ia bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada Bhagava itu, siapapun dan dimanapun Beliau berada.

Bagian kisah hidupnya ini menunjukkan fakta bahwa kata Bhagava, Araham dan Sammasambuddha telah digunakan, merujuk pada siapapun yang sangat dihormati sebagai manusia ‘super’ atau ‘melampaui keduniawian’. Pipphali juga menganut kepercayaan itu, yakin bahwa pasti ada seorang Arahant di suatu tempat tetapi tidak mengetahui siapa. Akan tetapi, ia bertekad untuk mengabdikan kehidupan tanpa rumahnya kepada orang itu. Beberapa siswa Sang Buddha juga tercatat mengambil keputusan untuk menjalani kehidupan tanpa rumah dengan cara yang sama.

Ketika dalam pengembaraannya mencari Sang ‘Arahant’, ia bertemu dengan Sang Buddha di suatu tempat antara kota Rajagaha dan kota Nalanda sewaktu Sang Buddha sedang duduk di bawah keteduhan pohon banyan bernama Bahuputta Nigrodha, secara literal berarti pohon banyan beranak banyak. Mungkin pohon itu adalahb pohon yang telah tumbuh besar dengan banyak akarnya yang mengelilingi. Ketika melihat Sang Bhagava di sana, ia tiba-tiba, mungkin karena naluri ia menyadari bahwa orang itu bukan lain adalah Sang Buddha sendiri. Segera ia bersujud di kaki Sang Bhagava, menyatakan bahwa Sang Buddha adalah gurunya dan ia adalah siwa Sang Buddha.

Apakah yang ia lihat yang membuatnya yakin bahwa ia telah bertemu dengan Sang Buddha? Ini tidak disebutkan dalam Kanon Pali. Hanya tercatat dalam Komentar, menjelaskan kekuatan gaib sebagai penyebab keyakinan Kassapa. Ini berbeda dengan para siswa lain yang juga mengabdikan kehidupan pelepasan keduniawiannya kepada Sang Buddha. Yang Mulia Pukkusati, misalnya, menjalani kehidupan tanpa rumah dengan cara yang sama. Ia bertemu dengan Sang Buddha di rumah seorang pembuat tembikar. Namun ia tidak mengetahui hal ini bahkan selama ia bermalam bersama dengan Sang Buddha di dalam rumah itu. Hingga ia mendengarkan khotbah, maka ia menyadari siapa bhikkhu yang sedang membabarkan khotbah itu. Dalam kasus Yang Mulia Mahakassapa, tidak disebutkan khotbah apa yang disampaikan. Begitu ia melihat Sang Buddha, ia menyadari bahwa Beliau adalah orang yang mana ia akan mengabdikan kehidupan pelepasan keduniawiannya dan seketika menyatakan dirinya sebagai siswa Sang Bhagava. Demikianlah pasti ada suatu petunjuk baginya, yang, dengan memiliki kebijaksanaan yang dalam, mampu mendeteksi, secara naluriah, siapa orang tersebut. Kebijaksanaan serupa dapat dilihat dalam kasus Yang Mulia Sariputta, yang mampu menangkap dalamnya Dhamma segera setelah ia mendengarkan instruksi singkat dari Yang Mulia Assaji hanya satu kali.

Berikut ini adalah tiga instruksi yang dikatakan disampaikan oleh Sang Buddha kepada Pengembara Pipphali.

Pertama, membentuk pikirannya agar hormat dan patuh kepada semua bhikkhu, apakah yang berstatus senior, baru atau menengah.

Ke dua, membentuk pikirannya untuk mendengarkan dan memperhatikan semua Dhamma yang bermanfaat.

Ke tiga, tidak meninggalkan perhatian yang terarah pada jasmani yang menunjang kondisi bahagia. Ini bermakna gembira dalam perhatian pada jasmani.

Dipercaya bahwa Yang Mulia Maha Kassapa ditahbiskan melalui penahbisan Ehi yaitu secara informal oleh Sang Buddha sendiri. Akan tetapi, hal ini tidak disebutkan dalan riwayat hidupnya.

Delapan hari setelah penahbisannya, ia mampu mencapai kebijaksanaan menyeluruh, yang berarti Kearahatan, dengan batinnya terbebaskan dari segala jenis dan segala tingkat Kekotoran. Tercatat bahwa istrinya juga mengabdikan pelepasan keduniawiannya pada Sang Buddha dan kelak ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhunã.

Ada empat bhikkhu lain yang bernama Kassapa, tiga adalah para petapa berambut kusut yaitu Uruvela Kassapa, Nadi Kassapa dan Gaya Kassapa, dan yang ke empat adalah Kumara Kassapa. Demikianlah seluruhnya menjadi lima yang dinamai menurut nama keluarga mereka. Dalam kasusnya, ia mendapat awalan Maha yang ditambahkan di depan namanya, untuk membedakannya dengan yang lain. Kelak ia menjadi seorang siswa penting dalam penyebaran Buddha Dhamma setelah Sang Buddha wafat.
« Last Edit: 27 March 2010, 10:18:21 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #27 on: 27 March 2010, 09:45:34 PM »
Instruksi-instruksi Ketiga Siswa Unggul

Berikut ini adalah beberapa instruksi dari ketiga siswa unggul yang telah disebutkan sebelumnya.

YANG MULIA SARIPUTTA. Ia sangat dipuji oleh Sang Buddha karena luasnya kebijaksanaannya yang karenanya ia mampu membabarkan Empat Kebenaran Mulia sejelas dan serinci Sang Buddha. Pada beberapa kesempatan ketika Sang Buddha didatangi oleh para Bhikkhu yang ingin pergi ke tempat jauh, Beliau memberitahu mereka agar menemui Yang Mulia Sariputta juga. Satu contoh dari kejadian ini adalah suatu ketika, sewaktu Sang Buddha sedang menetap di kota Devadaha, sejumlah besar bhikkhu yang hendak pergi ke tempat jauh datang untuk berpamitan dengan Beliau. Mereka juga diminta untuk berpamitan dengan Yang Mulia Sariputta. Si tempat tinggalnya mereka ditanya apa yang akan mereka jawab ketika saat menetap di sana mereka didatangi oleh orang-orang cerdas yang menanyai mereka tentang apa instruksi dari guru mereka. Bagaimana mereka harus menjawab orang-orang itu, ia bertanya kepada mereka, sehingga jawaban mereka selaras dengan ajaran Sang Buddha, bukan sebaliknya. Para bhikkhu memohon kepadanya agar menjelaskan kepada mereka. Yang mana ia menasihati mereka agar menjawab orang-orang itu bahwa guru mereka mengajarkan mereka untuk meninggalkan kenikmatan dan nafsu. Ditanya lebih jauh dalam hal-hal apakah mereka harus meninggalkan kenikmatan dan nafsu, ia melanjutkan, mereka harus menjawab yaitu meninggalkan nafsu dan kenikmatan dalam Bentuk, Sensasi, Persepsi, Pengondisi Pikiran dan Kesadaran. Ditanya lagi apakah bahayanya, apakah manfaatnya, melakukan hal itu, mereka harus menjawab bahwa, dengan nafsu dan kenikmatan demikian masih ada, maka pasti ada penderitaan seperti kesedihan dan dukacita ketika salah satu dari kelima itu secara alami mengalami perubahan atau kemunduran. Begitu nafsu dan keinginan ditinggalkan, maka tidak akan ada kesedihan dan dukacita ketika salah satu dari kelima itu secara alami mengalami perubahan atau kemunduran. Itu adalah apa yang diajarkan oleh guru mereka, yang setelah melihat bahaya dan manfaatnya, kemudian mengajarkan kepada mereka.

Pada kesempatan lain, terdapat seorang bhikkhu bernama Yamaka, yang menganut kepercayaan bahwa seorang Arahant musnah setelah kematian. Banyak bhikkhu telah berusaha untuk membujuknya agar meninggalkan kepercayaan itu, namun tidak berhasil. Maka mereka mendatangi Yang Mulia Sariputta dan memintanya untuk membantu Yamaka meninggalkan konsep keliru tersebut. Demikianlah Yang Mulia Sariputta  mendatangi Bhikkhu Yamaka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut satu demi satu: Apakah yang engkau lihat yang merupakan Arahant? Di dalam apakah Arahant itu? Apakah engkau melihat bahwa Bentuk, Sensasi, Persepsi, Pengondisi Pikiran, dan Kesadaran adalah Arahant? Atau apakah engkau melihat bahwa ada Arahant di dalam kelima kelompok unsur itu?” yang mana Yamaka memberikan jawaban negatif.

Kemudian Yang Mulia Sariputta menanyakan lagi, “Oleh karena itu, apakah layak untuk mengatakan bahwa seorang Arahant setelah kematian adalah musnah sepenuhnya? Yang mana Yamaka menjawab, “Sebelumnya saya tidak memiliki pengetahuan ini.” Selanjutnya Yang Mulia Sariputta bertanya lebih lanjut, “Sekarang, jika engkau ditanya apa yang terjadi pada seorang Arahant setelah kematian, bagaimana engkau akan menjawab?” Yang menjawab dengan mengatakan, “Saya akan mengatakan bahaw bentuk, sensasi, persepsi, pengondisi pikiran dan kesadaran, yang mengalami perubahan, telah padam.” Ini, adalah poin penting untuk diingat.

Untuk memberikan instruksi lebih jauh kepada Yamaka, Yang Mulia Sariputta berkata, “Misalkan, ada seorang kaya yang dijaga oleh para pengikutnya. Kemudian seseorang yang ingin membunuhnya, tetapi tidak mampu melakukannya secara langsung. Maka ia menyerahkan dirinya sebagai pelayan si orang kaya. Ia melayani majikannya begitu baik hingga akhirnya ia dipercaya sepenuhnya oleh si orang kaya. Tidak lama kemudian ia memperoleh kesempatan untuk memenuhi keinginannya dengan membunuh majikannya. Bahkan ketika sang majikan hampir mati, ia masih tidak tahu siapa pembunuhnya. Ini adalah sebuah analogi bagi mereka yang terikat pada kelima unsur kehidupan, demikianlah Yang Mulia Sariputta berkata, yang menganggap kelompok-kelompok unsur itu sebagai diri mereka. Ketika kelompok-kelompok unsur itu mengalami perubahan atau kemunduran, kemelekatan itu juga membuat mereka menderita. Tanpa kemelekatan maka pasti tidak ada penderitaan bahkan walaupun kelompok-kelompok unsur itu mengalami kemunduran atau lenyap.

Ada kejadian lain yang menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan Yang Mulia Sariputta dalam menerapkan instruksinya sesuai situasinya. Pada suatu pagi ketika ia sedang menetap di Hutan Bambu. Ia sedang dalam perjalanan kembali dari menerima dana makanan di Kota Rajagaha dan pada saat itu sedang makan di bawah atap sebuah rumah. Kemudian ada seorang Paribbajika atau pengembara perempuan bernama Sucimukhã, secara literal berarti memiliki mulut seperti jarum, mungkin merujuk pada lidahnya yang tajam atau perilakunya yang suka menyindir. Ia mendekati Sang Bhikkhu dan mulai menusuknya dengan ‘mulut jarum’nya dengan mengatakan, “Petapa ini makan dengan kepala menunduk rendah”. Yang mana Sang Bhikkhu membantah, dengan mengatakan bahwa ia tidak melakukan hal itu. “Kalau begitu, engkau pasti nmakan dengan kepala mendongak ke atas.” Sekali lagi Sang Bhikkhu memberikan jawaban negatif. “Ya, engkau pasti makan dengan menghadap ke empat penjuru utama.” Sekali lagi Sang Bhikkhu membantahnya. “Sekarang engkau pasti makan dengan menghadap arah antara penjuru utama.” Seperti sebelumnya, Sang Bhikkhu memberikan jawaban negatif. “Sekarang,” Pengembara Sucãmukhã berkata, “Dengan menyangkal segala yang kukatakan, dapatkah engkau memberitahukan bagaimana engkau makan?”

Sang Bhikkhu berkata kepadanya, “Petapa manapun yang mengikuti praktik (gaib) meramalkan pertanda-pertanda baik dan buruk di suatu tempat dikatakan makan dengan kepala menunduk rendah; petapa manapun yang melakukan praktik (gaib) astrologi dikatakan makan dengan kepala mendongak ke atas; petapa manapun yang memberikan layanan kepada perumah tangga, melayani para perumah tangga dalam berbagai cara, adalah bagaikan makan dengan menghadap empat penjuru utama, sedangkan yang lainnya yang meramal dengan mengamati organ-organ tubuh adalah mereka yang makan dengan menghadap arah antara penjuru utama.”

Sebagai penutup, Yang Mulia Sariputta mengatakan bahwa ia tidak melakukan hal-hal tersebut, makanannya diperoleh melalui cara-cara yang benar dan selayaknya. Itulah sebabnya maka ia tidak termasuk dalam kelompok petapa manapun yang disebutkan sebelumnya. Ini menunjukkan betapa bijaksananya Sang Bhikkhu dalam membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Instruksi-instruksinya yang panjang dan terperinci dirangkum oleh para guru masa lalu dalam sutta-sutta seperti Sangãtisutta dan Dasuttarasutta, yang mana Dasuttarasutta adalah penuntun dalam pengelompokan dan standarisasi ajaran-ajaran dalam Konsili Agug yang disebut Sangayana.

YANG MULIA MOGGALLANA, di pihak lain, dipuji karena kemampuannya dalam menginspirasi keyakinan dari keluarga-keluarga para perumah tangga yang masih belum berkeyakinan dan tidak pernah secara finansial merugikan para keluarga. Ia diibaratkan dengan lebah, yang hanya mengecap madu dari bunga tanpa merusak kuntum, warna, dan keharuman bunga itu. Ia mungkin yang paling terampil dalam kegiatan pembangunan karena, setiap saat ada pekerjaan konstruksi untuk Arama atau vihara pada masa itu, maka ia sering kali ditugaskan sebagai penanggung jawabnya. Satu contoh dapat dilihat dalam pembangunan Pubbarama di Savatthã oleh umat awam perempuan Visakha ketika ia diserahi tanggung jawab untuk mengawasi proyek itu. Ajaran-ajarannya dirangkum dalan Anumanasutta, yang membahas tentang bagaimana mengetahui dan menilai diri sendiri dengan tanpa membeda-bedakan. Dalam sutta ia memberikan instruksi kepada para bhikkhu agar seorang bhikkhu dapat mengatakan bahaw ia memperbolehkan para bhikkhu lain memperingati atau menasihatinya setiap saat ia melakukan kesalahan. Tetapi, jika ia kelak didapati keras kepala, tidak mendengarkan alasan, maka para bhikkhu lain itu boleh meninggalkannya sendirian. Ada banyak penyebab seorang bhikkhu menjadi keras kepala, demikianlah ia berkata, di antaranya, ia sedang marah, membandel, kadang-kadang baik dan kadang-kadang jengkel, kesal, dan menunjukkan perasaan marah melalui kata-kata. Sekarang, jika seorang bhikkhu yang ingin dinasihati oleh para bhikkhu lain adalah seorang bhikkhu yang patuh, maka mereka akan dengan senang hati melakukannya. Penyebab bagi kepatuhan digambarkan sebagai lawan dari penyebab ketidak-patuhan dan keras kepala.

Setelah itu ia menginstruksikan mereka untuk membandingkan mereka dengan orang lain sehubungan dengan fakta bahwa seperti halnya mereka menjauhkan para bhikkhu lain dari keinginan jahat, demikian pula para bhikkhu lain akan menjauhkan mereka jika mereka memendam keinginan demikian. Ini adalah suatu pengingat-diri untuk mengawasi diri mereka sendiri apakah mereka sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Jika mereka menjawab positif, maka jelas mereka harus meninggalkan keinginan-keinginan itu. Hal-hal ini, ia memberitahu mereka, adalah apa yang harus senantiasa mereka ingat baik siang maupun malam seperti halnya anak-anak muda menatap cermin untuk melihat apakah di wajah atau tubuh mereka terdapat noda yang harus dibersihkan. Demikianlah seorang bhikkhu harus sering memeriksa dirinya dengan kebijaksanaan untuk membersihkan kotoran apapun yang ada dalam praktiknya. Sutta ini ia babarkan kepada para bhikkhu di taman rusa yang disebut Bhesakalavana, di negeri Bhagga.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #28 on: 27 March 2010, 09:46:48 PM »
Sehubungan dengan YANG MULIA MAHAKASSAPA, Sang Buddha memujinya sebagai yang terunggul dalam hal intruksi-instruksinya yang bertujuan untuk melenyapkan kekotoran. Ia selalu gembira dalam menasihati mereka agar puas dengan sedikit dan mengikuti praktik Dhutanga. Yang lebih penting adalah fakta bahwa Sang Bhagava juga memuji sang bhikkhu sebagai seorang yang memiliki moralitas yang setara dengan Beliau, menyiratkan praktiknya yang puas dengan sedikit, puas dengan empat benda kebutuhan dan akibatnya juga dilengkapi dengan kekebalan yang melindungi dirinya ketika mengunjungi keluarga-keluarga para perumah tangga. Untuk tujuan demikian Sang Buddha menginstruksikan para bhikkhu untuk berperilaku bagaikan bulan, mereka harus menjauhkan diri, baik secara fisik maupun pikiran, dari keluarga-keluarga perumah tangga. Hal ini bertujuan agar umat-umat awam selalu menganggap mereka sebagai pendatang baru dan agar mereka tidak berhubungan akrab dan pribadi dengan keluarga-keluarga awam tersebut. Semua moralitas ini, Sang Buddha melanjutkan, dapat ditemukan secara keseluruhan dalam diri Yang Mulia Mahakassapa. Untuk memberikan analogi, Sang Buddha mengangkat tangannya dan melambaikannya di udara, sambil menjelaskan bahwa seperti halnya tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh tangannya, yang tidak menempel pada tangan itu, demikian pula para bhikkhu yang mengunjungi rumah-rumah umat awam tidak boleh terikat dengan mereka. Mereka harus bertekad sebagai berikut: “Semoga mereka yang menginginkan kekayaan atau moralitas tercapai keinginannya.” Dan, “Semoga mereka memiliki sikap batin serupa ketika orang-orang lain memperoleh keuntungan dan kekayaan seperti mereka.” Semua kualitas ketidak-melekatan ini dapat ditemukan dalam diri Yang Mulia Mahakassapa, dan itulah sebabnya, Sang Buddha melanjutkan, ia bergantung pada ketidak-melekatan sewaktu mengunjungi rumah-rumah para perumah tangga.

Khotbahnya juga dipuji oleh Sang Buddha sebagai berdasarkan pada niat murni yang patut dicontoh. Sehubungan dengan hal ini, Sang Buddha menjelaskan bagaimana sebuah khotbah dapat berdasarkan pada motif yang tidak murni, dengan mengatakan bahwa jika seorang bhikkhu membabarkan khotbah dengan motif tersembunyi agar para pendengarnya terkesan atas dirinya dan kemudian memperlihatkan kesan mereka atas dirinya, maka khotbah demikian adalah tidak murni. Jika sebaliknya, seorang bhikkhu membabarkan khotbah dengan tujuan meyakinkan para pendengarnya, membantu mereka menembus kebenaran-kebenaran, dan, dengan penembusan itu, mereka mampu mempraktikkan Buddha Dhamma yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri, maka bhikkhu itu melakukannya dengan penuh belas kasihan, mengasihani mereka, bertujuan pada kesejahtreraan mereka, tidak secara terselubung mengharapkan kesejahteraannya. Maka khotbah demikian dikatakan sebagai murni. Dan yang demikian itu dapat ditemukan dalam khotbah dari Yang Mulia Mahakassapa.

Mahakassapa adalah yang terunggul dalam pelaksanaan rutin atas sejumlah praktik pertapaan keras (Dhutanga) misalnya menetap di hutan, berkeliling mengumpulkan dana makanan (Pindapata), mengenakan jubah potongan kain dan memiliki tidak lebih dari tiga jubah demikian. Ia lebih menyukai kehidupan terasing, tidak bergembira dalam pergaulan. Suatu ketika Sang Buddha berkata kepadanya, “Engkau sudah tua, O Kassapa. Lebih baik engkau menetap di sebuah vihara dan menerima makanan yang dipersembahkan oleh para peumah tangga.” Dalam jawabannya Yang Mulia Mahakassapa mengatakan bahwa praktiknya itu didasarkan pada dua alasan. Pertama, karena memang ia lebih menyukainya sebagai tempat yang damai. Ke dua, hal itu dapat menjadi teladan bagi para bhikkhu di masa mendatang, menunjukkan kepada mereka bahwa di masa Sang Buddha terdapat seorang Bhikkhu yang selalu gembira dalam melakukan hal-hal demikian. Atas alasan ini, Sang Buddha memberikan penghargaanNya.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #29 on: 27 March 2010, 09:48:34 PM »
YANG MULIA MAHAKASSAPA

Terunggul karena pelaksanaan keras
Pertapaan yang disebut Dhutanga,
Membuktikan kekuatan ketahanan
Dialah Yang Mulia Mahakassapa

Terlepas dari kekuatan yang telah melemah
Karena usia, menjadi rapuh,
Namun kekuatan batinnya tidak mengendur;
Ia masih memenuhi panggilan alam liar.

Tempat kedamaiannya adalah keterasingan;
Baginya itu adalah oasis;
Dikelilingi oleh hutan dan pegunungan,
Diselimuti oleh kehangatan kebahagiaan Jhana.

Tetapi ketika dipanggil oleh Sasana (Ajaran Buddha),
Ia meninggalkan tempat pengasingannya
Untuk membantu melestarikan Dhamma yang berharga,
Tidak terganggu oleh beban apapun.

Demikianlah bagaimana ia menjawab panggilan
Tugas sebagai tambahan dari
Alam liar yang ia junjung tinggi
Sekarang adalah Dhamma yang paling ia hargai.


YANG MULIA SARIPUTTA

Begitu luas dan dalamnya kebijaksanaannya
Menembus Buddha Dhamma
Jenderal dari Kerajaan Buddhis
Dialah Yang Mulia Sariputta

Peringkat ke dua setelah Sang Buddha
Ia adalah Jenderal dari para Bala Tentara
Untuk membantu semua orang, tanpa mencelakai seorangpun
Memperluas wilayah Buddhis

Ini adalah Bala tentara yang tidak kenal ampun,
Membunuh segala Kekotoran Batin,
Membidik penaklukan-diri sepenuhnya,
Menghasilkan kebahagiaan abadi tertinggi.

Ke manapun bala tentara ini menyerang
Ia menanam benih Kebijaksanaan di sekitarnya
Untuk melenyapkan Kebodohan
Mengakhiri tanah-tanah pemakaman.

Dari seorang yang telah memahami
Bagaimana kelahiran menyebabkan kematian dan sebaliknya.
Semua ini adalah penderitaan dalam samaran
Di dalam panggung Samsara.


YANG MULIA MOGGALLANA

Ketika langkah drastic diperlukan
Maka datanglah Bhikkhu Moggallana
Untuk mengatur segala sesuatu yang bersalahan,
Peringkat ke dua setelah Sang Buddha.

Ia adalah yang terunggul dalam mengerahkan
Kekuatan batin ketika segala sesuatu menjadi keliru
Ketika situasi menantang
Di sanalah ia siap melayani Sang Buddha

Kekuatannya digunakan untuk Sasana.
Bukan untuk perlindungan diri
Ketika tiba saatnya untuk Nibbana
Ia pergi setelah berpamitan.

Ia adalah sumber inspirasi
Dan keyakinan serta dorongan bagi banyak orang
Ia sekuat raksasa
Ketika berhadapan dengan kekejaman.

Caranya meninggal dunia
Masih teringat oleh kita dengan penyesalan,
- Akibat Karma terakhir berbicara –
Ia telah melunasi hutangnya.

Baginya, seorang siswa unggul
Senantiasa memiliki ketidak-melekatan,
Batinnya tidak terpengaruh,
Sama sekali tanpa Vipaka.


PASADA, KECEMERLANGAN BATIN

Demikianlah ketiga siswa pemenang
Masing-masing unggul dalam kemenangannya.
Mereka bagaikan tiga jenderal
Dalam bala tentara Dhamma Sang Buddha.

Di antara para bhikkhu dan bhikkhunã terkenal
Yang telah datang dari segala perjalanan kehidupan
Untuk disebutkan di sini dan setelahnya
Dari arsip biologis kita

Ini berfungsi sebagai penyemangat
Bagi semua teman-teman kita dalam Dhamma ini
Penderitaan apapun yang mereka alami
Dapat diubah menjadi Pasada*
-----------------------------------
*Pasada: Kecemerlangan batin sebagai akibat dari Keyakinan yang diperbarui, ini untuk melawan perasaan sedih, dan putus asa ketika mengalami kekecewaan dan kegagalan karena situasi yang tidak menguntungkan.


- Bab 7 selesai -