Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: 45 tahun Sang Buddha  (Read 23551 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
45 tahun Sang Buddha
« on: 23 February 2010, 02:56:44 PM »
Teman-teman DC,

beberapa waktu lalu saya menerima kiriman buku dari YM Thanavaro Thera (terima kasih Bhante) berjudul Forty-Five Years of the Buddha (disusun oleh H.H. Somdet Phra Nyanasamvara) . buku ini menceritakan perjalanan Sang Buddha selama 45 vassa. tentu saja bukan seperti buku harian, tetapi cukuplah bagi kita untuk dapat mempelajari secara kronologis apa yg Sang Buddha lakukan selama 45 tahun.

Di sini saya ingin membagikan isi buku kepada teman2, saya berencana untuk memposting 1 bab setiap minggu, semoga terlaksana.

semoga bermanfaat buat kita semua _/\_


Edit: Pembahasan di sini : http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,15189.0.html
Agar lebih rapi.
« Last Edit: 26 February 2010, 08:43:50 PM by gachapin »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha
« Reply #1 on: 23 February 2010, 02:59:04 PM »
Teks Riwayat Buddha di Thailand berlimpah baik dalam bahasa Pali maupun Thai, yang bahasa Thai sebagai sumber-sumber rujukan adalah Pathama Sambodhi Katha oleh Pemimpin Tertinggi Kromphra Paramanujitajinorasa, Pathama Sambodhi oleh pemimpin Sa Pussadeva, Life of the Buddha oleh Pemimpin Tertinggi H.R.H. Prince Vajirananavarorasa. Masing-masing memiliki tujuan yang bervariasi, yang pertama menekankan pada kekuatan batin sebagai sarana untuk meningkatkan keyakinan pada Buddha, yang ke dua menekankan pada aspek ajaran, dengan sedikit penjelasan tentang peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Sang Buddha, sedangkan yang ke tiga memberikan penekanan pada fakta-fakta histories dan data sehubungan dengan kehidupan Sang Buddha. Dengan tujuan-tujuan yang berbeda itu, masing-masing versi adalah berharga dalam kebenarannya. Akan tetapi, harus diperhatikan, bahwa fakta-fakta dan data banyak berserakan dalam berbaagi tempat dalam naskah asli, yaitu, Kanon Pali. Untuk mengumpulkannya sebanyak mungkin untuk membentuk suatu kesatuan yang menggambarkan peristiwa-peristiwa berurutan dari kehidupan Sang Buddha, adalah perlu untuk menelusurinya secara keseluruhan sebelum seseorang dapat merangkainya menjadi suatu kisah lengkap dari peristiwa-peristiwa secara kronologis yang dapat diandalkan. Tentu saja, pengerjaan ini harus berdasarkan pada sumber-sumber kitab yang dirujuk sebanyak mungkin.

Tidak dapat disangkal bahwa riwayat hidup Sang Buddha, yang menggambarkan aktivitas-aktivitas tanpa pamrih yang dilakukan demi makhluk-makhluk yang dapat dilatih, tentu saja bermanfaat besar bagi para terpelajar yang mengejar pendidikan mereka dengan tujuan untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. Ini tentu saja mendukung pada baik pengembangan-diri maupun pelayanan tanpa pamrih. Karya sekarang ini yang berjudul Empat Puluh Lima Tahun Sang Buddha adalah hasil dari tujuan itu. Selain menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam urutan kronologis, karya ini juga dimaksudkan sebagai suatu pembahasan dengan tema Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Buddha kepada orang-orang pada peristiwa tersebut. Pembahasan ditambahkan, jika memungkinkan, dengan rujukan-rujukan pada peristiwa-peristiwa yang berkaitan yang terdapat dalam tradisi Mahàyàna serta dari versi Theravàda, baik yang berasal dari masa itu maupun yang muncul belakangan. Oleh karena itu, karya ini, dapat dianggap sebagai gabungan dari berbagai elemen yang disebutkan di atas.

Sumber-sumber rujukan termasuk naskah asli yaitu Kanon Pali, Komentar dan teks-teks belakangan yang disebut òãkà. Sebagiannya – khususnya yang berguna untuk tujuan yang dimaksudkan – dikumpulkan, dikutip dan dicerna.

Harus diperhatikan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi selama 45 tahun Sang Buddha membabarkan Dhamma tidak disusun dalam urutan kronologis dlam Kanon Pali. Sumber-sumber itu harus dipelajari dengan saksama sebelum dapat dirangkai untuk menarik kesimpulan dari sana, seperti untuk mengetahui dengan pasti kapan (dari 45 tahun) suatu peristiwa terjadi. Suatu bukti yang lebih kuat dapat dibaca dari teks belakangan yang disebut Manorathapurani – Komentar atas Anguttaraniksya dari Suttapitaka, yang disusun oleh Yang Mulia Buddhaghosà. Yang lain adalah teks yang disebut Jinamahanidana, yang penulisnya tidak diketahui, dan teks Pathamasambodhikathà yang disusun dalam Bahasa Thai oleh Pemimpin Tertinggi Kromphra Paramànujitajinorasa. Teks-teks yang belakangan itu disusun lebih dari 1000 tahun sejak wafatnya Sang Buddha. Menurut teks Manorathapurani, urutan kronologis kediaman masa vassa Sang Buddha adalah sebagai berikut:

Vassa pertama, di Taman Rusa Isipatana, Benares.
Ke dua hingga ke empat, di Kota Rajagaha.
Ke lima, di Kutagarasala, Hutan Mahàvana, Vesàli.
Ke enam, Makula Pabbata (yaitu, Gunung).
Ke tujuh,  alam surga Tavatimsa.
Ke delapan, Bhesakalavana, Sumsumaragira.
Ke sembilan, Kota Kosambi.
Ke sepuluh, Hutan Parileyyaka.
Ke sebelas, Brahmanagama, Kota Nala.
Ke dua belas, Kota Veranjà.
Ke tiga belas, Caliya Pabbata (yaitu, Gunung).
Ke empat belas, Hutan Jetavana, Kota Savatthi.
Ke lima belas, Kota Kapilavatthu.
Ke enam belas, Kota alavi.
Ke tujuh belas, Kota Rajagaha.
Ke delapan belas dan ke sembilan belas, Caliya Pabbata (yaitu, Gunung).
Ke dua puluh, Kota Rajagaha.
Dari ke dua puluh satu hingga ke empat puluh lima, kadang-kadang di Hutan Jetavana dan kadang-kadang di Hutan Pubbà, Kota Savatthi.

Juga terdapat dalam sumber lain sedikit perbedaan sehubungan dengan urutan masa vassa dan nama beberapa tempat. Akan tetapi, semua ini menunjukkan bahwa sumber ini diturunkan dari sumber yang sama.

Edisi pertama buku ini (dalam Bahasa Thai) agak tergesa-gesa diterbitkan pada 2510 BE dan karenanya terdapat sejumlah ketidak-akuratan. Dalam edisi yang sekarang ini kesalahan tersebut telah diperbaiki. Juga terdapat penambahan untuk menjelaskan hal tersebut.

Namun harus diperhatikan bahwa bahkan sejauh ini karya ini tidak dapat diharapkan sebagai sesuatu yang sempurna dan tanpa kesalahan. Masih mungkin berubah, diperbaiki, dan ditambah.
« Last Edit: 23 February 2010, 11:40:34 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha VASSA 1: DI TAMAN RUSA ISIPATANA, KOTA BENARES
« Reply #2 on: 23 February 2010, 03:13:39 PM »
VASSA PERTAMA DI TAMAN RUSA ISIPATANA, KOTA BENARES

Empat puluh lima tahun sebelum wafatnya Sang Buddha, pada hari ketika bulan purnama melintasi gugusan bintang yang disebut Visàkha, Pangeran Siddhattha tercerahkan ke dalam Dhamma. Sebelum saat itu Beliau disebut Bodhisatta, secara literal berarti seorang yang melekat pada Pengetahuan. Ini menyiratkan fakta bahwa Beliau tidak melekat pada hal lainnya. Adalah karena ‘kemelekatan, atau pencarian, atas pengetahuan maka Beliau sepanjang waktu itu mencari hingga akhirnya Beliau tercerahkan dan selanjutnya disebut Buddha, yang mengetahui. Tempat di mana Beliau mencapai Penerangan Sempurna adalah di bawah kerindangan sebatang pohon bernama Assattha, kelak disebut Bodhi, yang berarti ‘mengetahui’. Demikianlah pohon ini, yang dibawahnya Sang Buddha duduk ketika Beliau mencapai Penerangan Sempurna, disebut Bodhirukkha, Pohon Penerangan Sempurna. Terletak di tepi sungai Neranjara, di wilayah Gaya, negeri Magadha.

Setelah mencapai Penerangan Sempurna,  Beliau duduk bermandikan kebahagiaan dan kegembiraan luar biasa yang muncul dari kebebasan di sejumlah tempat di dekat sana selama beberapa minggu. merenungkan Dhamma yang Beliau temukan, Beliau yakin akan betapa halusnya Dhamma dan karenanya praktis diluar jangkauan kebanyakan orang. Karena itu Beliau cenderung merasa puas, tidak perlu bersusah-payah untuk mengajarkannya kepada makhluk-makhluk lain. akan tetapi, pada perenungan selanjutnya, melihat ke dalam potensi berbagai makhluk, Beliau mengetahui bagaimana makhluk-makhluk memiliki kecenderungan dan tingkat kematangan yang bervariasi seperti halnya berbagai jenis teratai dalam sebuah kolam teratai. Beberapa dari mereka, seperti halnya teratai yang segera membukan kuntumnya untuk menyapa matahari fajar, akan mampu memahami Dhamma dalam waktu singkat. Kemudian ada yang lain, seperti halnya teratai yang masih berada di bawah permukaan air namun segera keluar keesokan harinya, juga akan mampu memahami ajaranNya beberapa waktu kemudian. Di samping itu, terdapat sejumlah orang yang, bagaikan taratai yang tidak pernah menembus permukaan air, tidak mampu memahami. Ini digambarkan dalam cara bahwa Beliau dimohon, oleh makhluk tinggi dari alam Brahma bernama Sahampati, untuk membabarkan Dhamma demi umat manusia. Yang mana Beliau menerima permohonan itu. Disamping kata-kata kiasan, ini dapat dianggap sebagai suatu panggilan, atau ‘undangan,’ di pihak Belas kasihan dari Sang Buddha sendiri yang mendorongNya untuk membabarkan Dhamma yang Beliau temukan kepada makhluk-makhluk hidup.


Lima Petapa

Setelah memutuskan, Sang Buddha bertekad untuk memelihara kehidupan jasmaniNya hingga AjaranNya telah kokoh, dengan empat kelompok Buddhis (yaitu, Bhikkhu, Bhikkhuni, umat awam laki-laki dan perempuan) mantap dalam Dhamma. Sekarang ketika merenungkan orang yang akan memperoleh manfaat dari ajaranNya pertama kali, Beliau teringat kedua petapa, Alara dn Uddaka, yang mana pada mereka Beliau pernah menetap dan belajar. Tetapi melalui mata batin Beliau mengetahui bahwa mereka telah meninggal dunia. Kemudian Beliau teringat pda Lima Petapa yang melayaniNya sewaktu Beliau sedang melakukan praktik pertapaan menyiksa-diri tetapi kemudian meninggalkanNya setelah Beliau mengehentikan praktik itu. Dengan cara yang sama Beliau mengetahui bahwa pada saat itu mereka menetap di taman rusa Isipatana, di Kota Benares. Kemudian Beliau meninggalkan Uruvela, pergi menuju taman rusa. Di sini para komentator mencatat bahwa Sang Buddha meninggalkan Uruvela di pagi hari tanggal ke empat belas, bulan ke delapan lunar, sehari sebelum periode tiga bulan masa vassa. Dikatakan bawah Beliau tiba di sore hari menjelang malam pada hari yang sama. Akan tetapi, menurut peta, jarak antara Uruvelà, yang sekarang dikenal sebagai Buddhagaya, dan taman rusa Isipatana, sekarang disebut Sarnath, adalah lebih dari seratus mil. Akan tetapi Kanon pali, tidak menyebutkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh Sang Buddha dalam perjalanan itu, hanya ada jalan-jalan yang Beliau lalui berturut-turut (melewati berbagai lokasi dalam perjalanan itu).

Sehubungan dengan Lima Petapa, mereka bernama Kondanna, Vappa, Bhaddiya, Mahanama dan Assaji, yang pertama adalah pemimpin bagi yang lainnya. Dikatakan bahwa ia adalah satu dari 108 brahmana yang diundang untuk memberikan ramalan atas kehidupan Bayi Siddhattha ketika Beliau berusia lima hari. Para brahmana lain meramalkan dua kemungkinan bagi bayi kerajaan: menjadi Raja Dunia atau Guru Religius Dunia. Ini tergantung pada apakah Beliau lebih menyukai kehidupan sekular atau monastik. Brahmana Kondanna, yang termuda dari semuanya, meramalkan dengan penuh keyakinan bahwa sang bayi pasti memilih kehidupan religius dan karenanya akan menjadi Guru Religius Dunia. Adalah karena keyakinan ini maka Brahmana Kondanna selalu mendengarkan dengan penuh harap mengenai segala sesuatu yang terjadi pada sang bayi kerajaan. Setelah mengetahui bahwa Pangeran Siddhattha telah meninggalkan keduniawian untuk menjalani kehidupan religius, ia menjadi lebih yakin dan karena itu ia mengajak 4 brahmana lain – yang semuanya adalah putera dari para brahmana yang meramalkan takdir bayi Siddhattha – agar menyertainya mengikuti teladan Sang Pangeran. Adalah ketika petapa kerajaan itu menjalankan praktik penyiksaan diri yang sangat mereka yakini, maka mereka datang melayaniNya dengan penuh kesetiaan. Dengan harapan bahwa ketika ia mencapai penerangan sempurna melalui cara itu, Beliau akan mengajarkan kepada mereka apa yang Beliau temukan. Tetapi mereka merasa cemas, melihat sang petapa kerajaan meninggalkan praktik penyiksaan diri, yang bagi mereka adalah jalan satu-satunya untuk mencapai penerangan sempuana. Tentu saja mereka menganggap hal ini sebagai tindakan kembali kepada kenikmatan dank arena itu, setelah kehilangan keyakinan pada sang pangeran-petapa, mereka meninggalkanNya dan pergi menuju ke taman rusa Isipatana.

Pada hari bersejarah itu, melihat Sang Buddha datang dari kejauhan, mereka sepakat untuk tidak memberi hormat kepadaNya. Akan tetapi, sebagai bentuk penghormatan sebelumnya, mereka menyediakan sebuah tempat duduk sehingga Beliau dapat menutuskan sendiri apakah akan menerimanya atau tidak. Tetapi ketika Beliau tiba mereka lupa akan kesepakatan mereka dan bangkit dan bersujud kepada Beliau seperti yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Mereka membasih kaki Beliau dengan air, menyediakan bangku agar Beliau dapat meletakkan kakiNya dan juga menyediakan sepotong kain untuk menggosok kakiNya. Sang Buddha duduk di sana dan, setelah mencuci kakiNya,  mengeringkannya dengan kain yang telah disediakan. Sekarang kelima Petapa, masih belum yakin, menyapa Beliau dengan kata ‘Avuso’, yang diucapkan pada orang dengan derajat yang sama, bukan kepada orang yang lebih mulia. Di sini Sang Buddha menghentikan mereka, mengatakan bahwa Beliau datang untuk membabarkan Dhamma Keabadian kepada mereka. Jika mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan hidup di dalamnya dengan tekun, maka mereka akan memperoleh berkah padamnya penderitaan yang mereka cari. Mereka menolak untuk percaya, memperdebatkan bahwa bahkan selagi mempraktikkan penyiksaan-diri Beliau telah gagal dalam usahaNya. Bagaimana mungkin, mereka memperdebatkan, bahwa Beliau yang telah meninggalkan praktik demikian, bias memperoleh pencapaian? Sekali lagi Sang Buddha mengkonfirmasi pencapaianNya dan sekali lagi Kelima Petapa itu tidak mempercayainya. Hal ini berlangsung tiga kali hingga ketika Sang Buddha menyarankan agar mereka mengingat-ingat apakah Beliau pernah berkata seperti itu sebelumnya. Tentu saja, mereka memberikan jawaban negative dan dengan jawaban itu kekerasan mereka berkurang, menjadi lebih lunak dan siap untuk mendengarkan. Mengetahui dengan mata batin bahwa batin mereka siap untuk menerima, Sang Buddha membabarkan kepada mereka apa yang kelak dikenal sebagai Roda Dhamma, atau dalam istilah kitab, Dhammacakkappavattanasutta, Khotbah PertamaNya. Di sini tercatat bahwa khotbah ini dibabarkan pada keesokan harinya, yaitu, sehari setelah Beliau tiba di tempat di mana Kelima Petapa itu menetap. Hari itu adalah hari purnama bulan âsàëha, yang adalah bulan ke delapan Lunar. Kelak dikenal sebagai sehari sebelum masa vassa tiga bulan dan di Thailand ditetapkan sebagai Hari Saïgha, suatu hari penuh berkah ketika muncul di alam manusia yang ke tiga dari Tiga Permata dalam sosok Kondanna, yang sebagai seorang Sotapanna atau seorang Pemasuk-Arus menjadi saksi pertama atas pencerahan Sang Buddha.



Khotbah Pertama: Roda Dhamma


Khotbah ini, atau Roda Dhamma seperti umunya disebut, - sesuai nama dalam Pali, dapat dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan pencarian, Apakah yang membuat Sang Buddha puas akan PencerahanNya, Seperti apakah, dan dengan cara apakah Sang Buddha telah mempraktikkan sehingga Beliau terberkahi dengan pencapaian demikian. Oleh karena itu Sutta (khotbah) mengenai pembabaran ini adalah sangat penting dan layak dipelajari dengan mendalam dan terperinci.

Pada bagian pertama
Sang Buddha menunjukkan cara-cara praktik yang harus dihindari oleh para bhikkhu atau mereka yang meninggalkan keduniawian, yang bercita-cita untuk mencapai kebosanan yang mengecewakan, lenyapnya kenikmatan dan kemelekatan yaitu Penerangan Sempurna atau Nibbàna. Ini adalah kedua ekstrim pemuasan indria dan penyiksaan-diri, keduanya harus dihindari oleh mereka yang bercita-cita untuk mencapai tujuan yang disebutkan di atas. PenemuanNya, demikianlah Beliau mengatakan kepada Kelima Petapa, adalah antara kedua ekstrim ini, dengan tidak mendekati salah satunya. Ini adalah praktik yang mendukung ‘Mata’ (kebijaksanaan). Pandangan terang, Kedamaian, Pengetahuan Tertinggi, Penerangan Sempurna, NIbbàna (padamnya kekotoran). Ini adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang terdiri dari Pandangan Benar, Kehendak Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar dan Meditasi Benar.

Pada bagian ke dua
Beliau mengajarkan Dhamma kepada Kelima Petapa yang dengannya Beliau menjadi tercerahkan. Ini adalah akibat dari menghindari kedua ekstrim dan menapak apa yang disebut Jalan Tengah. Dhamma itu disebut Empat Kebenaran Mulia. Ini menyiratkan Kebenaran-kebenaran dari orang-orang mulia atau kebenaran-kebenaran yang memuliakan seseorang. Empat Kebenaran itu adalah:

Kebenaran Mulia Pertama tentang Dukkha, biasanya diterjemahkan sebagai Penderitaan. Sewaktu menjelaskan manifestasinya, Sang Buddha menunjukkan fenomena kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratapan, penyakit, dukacita, keputus-asaan, berkumpul dengan yang tidak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan atau yang dicintai dan akhirnya, sebagai suatu sintesa, tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Rangkumannya, Kelima kelompok usnur kehidupan yang dilekati adalah (tempat bagi) penderitaan.

Kebenaran Mulia Ke dua tentang Dukkhasamudaya, Sebab Penderitaan. Sutta menunjuk pada Tanha atau keinginan sebagai penyebabnya. Ia menarik seseorang pada penjelmaan kembali atau kelahiran kembali, yang disertai dengan Nandi atau kenikmatan dan dengan keserakahan atau nafsu. Keinginan ini ada tiga jenis, yaitu, Keinginan untuk memiliki obyek-obyek kenikmatan indria, Keinginan untuk menjadi atau menjelma kembali dan Keinginan (pada aspek negative) untuk tidak menelma kembali (sebagai lawan dari jenis ke dua).

Kebenaran Mulia Ke tiga tentang Dukkhanirodha, Padamnya penderitaan. Menurut Sutta, hal ini dimungkinkan dengan cara memuntahkan keinginan dengan tanpa meninggalkan bekas, berpisah dengan, melepaskan dan kebebasan dari Keinginan, tanpa kemelekatan yang tertinggal.

Kebenaran Mulia ke empat tentang Dukkhanirodhagaminipatipada atau, singkatnya, Sang Jalan. Ini adalah apa yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan telah dijelaskan.

Pada bagian ke tiga, Sang Buddha menjelaskan seperti apakah yang disebut Penerangan Sempurna,. Ini menyiratkan munculnya pengetahuan secara spontan, atau berdasarkan intuisi, terhadap tiga putaran atau tahapan dari masing-masing dari Empat Kebenaran Mulia. Demikianlah Kebijaksanaan spontan atau Kebijaksanaan intuitif mengetahui bahwa

1.   (Sehubungan dengan Kebenaran Pertama) ini adalah penderitaan, maka penderitaan ini harus diketahui, dan ini telah diketahui sekarang;
2.   (Sehubungan dengan Kebenaran Ke dua) ini adalah sebab penderitaan, maka penyebab ini harus dilenyapkan, dan ini telah dilenyapkan sekarang.
3.   (Sehubungan dengan Kebenaran Ke tiga) ini adalah padanya penderitaan, maka padamnya ini harus dicapai, dan ini telah dicapai sekarang.
4.   (Sehubungan dengan Kebenaran Ke empat) ini adalah jalan menuju padamnya penderitaan, maka jalan ini harus dikembangkan, dan ini telah dikembangkan sempurna sekarang, yaitu, dalam segala hal.

Ada istilah lain yang merujuk pada pengetahuan demikian, yang bersinonim dengan Pencerahan. Yaitu yang disebut nana atau Pandangan Terang dan melibatkan tiga putaran atau tingkat kehalusan atau kemendalaman yang disebut:

a)   Saccanana: Pandangan Terang ke dalam sifat Kebenaran-kebenaran itu sendiri. Ini menyiratkan pengetahuan bagaimana ini adalah penderitaan, ini adalah Penyebabnya, ini adalah Padamnya dan ini adalah Jalan menuju ke sana.
b)   Kiccanana: Pandangan Terang ke dalam apa yang harus dilakukan pada masing-masingnya. Demikianlah penderitaan ini harus dikenali atau diketahui; Penyebabnya harus dilenyapkan atau dihilangkan; Padamnya harus dicapai; dan Sang Jalan menuju ke sana harus dikembangkan aatu disempurnakan.
c)   Katanana: Pandangan Terang ke dalam apa yang telah dilakukan sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran. Menyiratkan pengetahuan bahwa segala penderitaan telah dikenali atau diketahui, tidak ada yang tersisa dari jenis ini. Sehubungan dengan Kebenaran ke dua, menyiratkan pengetahuan bahwa segala penyebab penderitaan telah dilenyapkan selamanya, tidak ada lagi yang tersisa untuk dilenyapkan lebih jauh lagi. Pada Kebenaran ke tiga, ini merujuk pada pengetahuan bahwa segala lenyapnya penderitaan telah dicapai, tidak ada lagi yang tersisa untuk dicapai lebih jauh lagi. Dan sehubungan dengan kebenaran ke empat, ini menunjukkan Pengetahuan bahwa segala Jalan (yaitu, praktik) yang menuju pada Padamnya telah diikuti, tidak ada lagi yang tersisa untuk dikembangkan lebih jauh lagi.


« Last Edit: 23 February 2010, 06:39:16 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Tiga Tahapan Spiral yang Mencakup Empat Kebenaran dalam Dua Belas Hal

Demikianlah dalam Sutta digambarkan Pencerahan Sang Buddha sebagai Pandangan Terang yang merupakan tiga tahapan spiral yang mencakup dua belas hal. Ketiga tahap merujuk pada Pengetahuan Pandangan Terang ke dalam, pertama, sifat Empat Kebenaran; ke dua, penilaianNya terhadap Empat Kebenaran itu; dan ke tiga, pencapaianNya sepenuhnya  sehubungan dengan penilaian itu. Dengan Pandangan Terang demikian yang mengerucut mencakup Empat Kebenaran tiga kali, apa yang dihasilkan dari sana adalah dua belas manifestasi Pandangan Terang yang mendukung PencerahanNya. Adalah seseorang yang terberkahi dengan pandangan terang yang lengkap dan sempurna ini yang membuatNya disebut Buddha, Yang Terceerahkan. Karena itu Panna-Nya (Kebijaksanaan atau Pandangan Terang) disebut Bodhi, yang berarti Pencerahan.

Dari apa yang telah dibahas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran Sutta ini dapat menjawab tiga pertanyaan pencarian dari para buddhis. Pertama, praktik seperti apakah yang telah dilakukan oleh Sang Buddha hingga Beliau tercerahkan; ke dua, ke dalam Dhamma apakah Sang Buddha tercerahkan; dan ke tiga, Pengetahuan (atau Pandangan Terang) apakah yang mencirikan Pencerahan Sang Buddha. Jelas bahwa ketiga pertanyaan ini dapat dijawab melalui bagian-bagian yang bersesuaian dari khotbah pertama yang telah dibahas sebelumnya. Adalah karena fakta ini maka, setelah bagian ke tiga khotbah ini, Sang Buddha dapat menyatakan, bagaikan auman singa, bahwa selama Pandangan TerangNya dengan tiga lingkaran spiral yang mencakup dua belas hal belum lengkap dan berkembang sempurna dan murni, maka selama itu ia tidak dalam posisi yang dapat menyatakan bahwa Beliau telah tercerahkan. Adalah ketika Pandangan Terang itu telah murni sempurna maka Beliau dapat menyatakan dirinya sebagai Buddha, Yang Tercerahkan., melalui penemuanNya sendiri. Itulah pencerahan oleh diri sendiri karena fakta bahwa Pandangan Terang itu muncul secara spontan, terjadi dari dalam, tidak didengar, dipelajari atau disarankan oleh siapapun.

Mempelajari isi dari Sutta, kita menemukan bahwa bahkan cara melepaskan keduniawian atau ketidak-melekatan adalah karena tekadNya sendiri. Beliau telah meninggalkan cara praktik dari berbagai tradisi dan guru pada masa itu satu demi satu selama pencariannya akan jalan yang ‘Benar’. Ini terjadi hingga Beliau menemukan dan mengikuti apa yang Beliau yakini benar. Bukan hingga Beliau telah mengikuti, telah mengembangkannya hingga sempurna dan tingkat terakhir, maka Beliau memperoleh Pandangan Terang ke dalam Empat Kebenaran Mulia yang belum pernah Beliau dengar atau pelajari dari siapapun. Pandangan Terang itu spontan, tidak bergantung pada instruksi orang lain, dihasilkan dari supremasi praktik. Ini memuncak dengan gelar Yang Tercerahkan oleh diri sendiri yang Beliau peroleh, klimaks dari pencarian dan pencapaianNya, Sang Buddha.

Dengan khotbah pertama di taman rusa Isitapatana di Kota Benares (atau Baranasi) yang merujuk pada negeri Kasi, sebaiknya dijelaskan secara lebih terperinci kisah-kisah latar belakang sehubungan dengan tempat-tempat itu.

Negeri Kasi. Menurut naskah-naskah Buddhis, negeri Kasi telah berkembang bahkan sebelum masa Sang Buddha. Ini bersama dengan negeri Kosala yang berbatasan. Dapat dipahami bahwa istilah Kàsã merujuk pada suku orang-orang Arya yang telah menetap di wilayah itu atau merujuk pada raja yang memerintah di wilayah itu di masa lalu.

Kata Baranasi oleh beberapa orang dianggap berasal dari kata ‘barana’ dan ‘Asi’. Ini merujuk pada sungai Barana di utara dan sungai Asi di selatan. Tetapi oleh orang-orang lain ini dipercaya sebagai titik pertemuan sungai Gangga dan sungai Varuna, dengan kepercayaan tambahan bahwa masih ada sungai lain yang mengalir di bawahnya dan bertemu dengan dua sungai yang disebutkan di atas. Akan tetapi, jelas adalah pertemuan kedua sungai, kombinasi nama itu yang menghasilkan kata ‘Baranasi.’

Istilah Isipatana , secara literal berarti tempat jatuhnya para petapa atau rishi. Ada dua interpretasi untuk arti ini. Pertama adalah bahwa di sanalah adalah tempat di mana lima ratus Paccekabuddha datang melalui angkasa dan mendadak meninggal dunia, dengan tubuh-tubuh mereka berjatuhan pada saat yang bersamaan. Arti lainnya adalah, bahwa di sana lima ratus Paccekabuddha – yang berarti jumlah yang banyak, tidak harus berjumlah persis lima ratus – datang dari hutan untuk beristirahat. Menurut arti ini, ‘tempat jatuhnya’ dapat digunakan untuk menyiratkan ‘tempat pertemuan’ atau ‘tempat peristirahatan’. Istilah ‘rishi’, secara literal berarti seorang yang mencari, menyiratkan mereka yang mencari kualitas-kualitas mulia. Sebelumnya kata ini digunakan untuk merujuk pada para petapa Buddhis atau para Bhikkhu. Namun belakangan, dalam beberapa khotbah Sang Buddha, kata ini juga digunakan untuk menyiratkan mereka yang mencari kualitas-kualitas mulia dalam Buddhisme. Karena itu rujukan pada para siswa Sang Buddha sebagai ‘rishi’ atau ‘isã’ berarti mereka yang mencari Dhamma.

Sehubungan dengan kata majemu
k ‘migadaya’, kata daya kadang-kadang diterjemahkan sebagai ‘hutan’. Dengan demikian migadaya berarti hutan tempat kediaman rusa. Dalam pengertian lain, kata ‘dava’ juga digunakan dalam arti hutan. Dengan demikian migadava juga berarti hutan tempat kediaman rusa. Dalam pengertian lain lagi, ‘daya’ berarti ‘memberi’. Oleh karena itu kata ‘migadaya’ berarti tempat di mana rusa-rusa diberikan perlindungan. Ini berarti rusa-rusa, termasuk burung-burung, di wilayah itu diperbolehkan hidup dengan aman, perburan atau pembunuhan atas mereka adalah terlarang. Dengan kata lain, tempat itu adalah suaka bagi rusa-rusa.

Kemakmuran negeri Kasi
. Di sebutkan dalam beberapa tempat dalam Jataka mengenai tingkatan tinggi dari kemakmuran moral Kasi. Dalam Rajovada jataka , terdapat seorang raja bernama Brahmadatta. Akan tetapi, nama ini, merujuk pada dinasti yang memerintah negeri itu bukan pada seorang raja tertentu. Dikatakan bahwa ia memerintah negerinya dengan adil, dengan mengokohkan dirinya dalam keadilan dan memutuskan kasus-kasus dengan jujur dan tanpa memihak. Ia memerintah dalam kedamaian dan kebahagiaan yang dikenal dan dipuji hingga jauh. Ia sering bepergian dengan menyamar untuk mengetahui oleh dirinya sendiri bagaimana kehidupan warganya, dan tidak menemukan seorangpun yang mengeluh.

Pada suatu ketika ia bepergian dengan kereta bersama kusirnya ke wilayah perbatasan yang berbatasan dengan negeri Kosala. Rajanya bernama Bhallika, yang, seperti juga Brahmadatta, adalah raja yang adil dan lebih suka bepergian dengan menyamar untuk mengetahui sendiri kesejahteraan warganya. Pada saat yang sama kereta Raja Bhallika bertemu dengan kereta Raja Brahmadatta di jalan yang sempit di wilayah perbatasan. Kedua kusir saling menolak memberi jalan pada yang lain. Untuk menyelesaikan persoalan itu, mereka saling menanyakan status dari raja mereka dan mengetahui bahwa kedua raja berusia sama dan memiliki kekayaan dan kekuatan militer yang sama. Oleh karena itu, hal-hal ini tidak dapat menjadi kriteria untuk memutuskan siapa yang lebih unggul dan berhak untuk jalan terlebih dulu. Oleh karena itu yang tersisa adalah Dhamma atau tingkat kebajikan dari kedua raja, yang akan menjadi dasar keputusan.

Menjelaskan kebajikan rajanya, kusir Raja Bhallika dari Kosala mengatakan bahwa rajanya melawan kekerasan dengan kekerasan dan kebaikan dengan kebaikan. Ia juga menjawab baik dibalas dengan baik dan jahat dibalas dengan jahat. Demikianlah Raja Bhallika, kata kusirnya.

Menjawab ini, kusir Raja Brahmadatta berkata bahwa rajanya menaklukkan kemarahan dengan tidak marah, kejahatan dengan kebaikan dan kesengsaraan dengan kedermawanan.

Pernyataannya menyelesaikan permasalahan itu, dengan kusir Bhallika mengakui keunggulan moral dari Raja Brahmadatta dan setuju memberi jalan kepadanya.

Kisah lain. Ada kisah lain di balik kisah perlindungan yang diberikan kepada rusa-rusa . Ini merujuk pada satu Raja Brahmadatta yang memerintah negeri Kasi yang menyukai daging rusa dan secara rutin pergi berburu rusa. Ia juga memerintahkan orang-orang agar membantunya dalam setiap perjalanannya berburu rusa. Begitu sering sehingga orang-orang menjadi lelah akan hal ini, karena mereka dipaksa untuk meninggalkan pekerjaan mereka setiap kali raja pergi berburu. Oleh karena itu mereka berencana untuk menyediakan suatu daerah tertentu dimana sejumlah besar rusa akan diarahkan, menunggu untuk dibunuh setiap hari. Setelah ini dilakukan, rusa-rusa yang terkurung di sana terbagi dalam dua kelompok, pemimpin salah satu kelompok bernama Nigrodha, dan pemimpin kelompok lain bernama Sakka. Keduanya adalah binatang yang indah sehingga ketika raja melihat mereka, ia terpesona oleh keindahan mereka dan menganugerahkan pengampunan, mengecualikannya dari pembantaian.

Dengan rusa-rusa yang terkurung itu, kadang-kadang raja datang sendiri, dan kadang-kadang ia memerintahkan koki kerajaan untuk datang mewakilinya, untuk membunuh rusa sebagai makanan setiap harinya. Bintang-binatang itu merasakan takdir mereka berlari untuk menyelamatkan hidup mereka, bahkan beberapa binatang terluka sebelum salah satu dari mereka tertangkap. Melihat itu kedua pemimpin rusa bertemu dan berdiskusi dan akhirnya sepakat bahwa, karena mereka pasti akan mati, akan sangat membantu mereka menghindari kesulitan dan kebingungan yang tidak perlu jika salah satu dari mereka secara sukarela menerima takdirnya setiap hari ketika tiba gilirannya. Ini dilakukan dengan cara salah satu dari mereka menunggu di tiang pembantaian. Dengan kesepakatan ini, semua berjalan dengan baik selama beberapa waktu di mana salah satu dari binatang-binatang itu menunggu dengan tenang di tiang pembantaian setiap hari.

Pada suatu hari tibalah giliran seekor rusa betina yang sedang hamil dan waktu kelahirannya semakin dekat. Ia pergi menemui sang pemimpin untuk memohon penundaan hingga ia melahirkan anaknya. Tetapi sang pemimpin tetap pada keputusannya, karena tidak dapat menemukan penggantinya. Mendengar hal ini rusa betina itu mendatangi pemimpin kelompok lainnya yang bernama Nigrodha. Setelah mempelajari persoalan itu, Nigrodha, tergerak oleh belas kasihan dan melihat tidak ada pengganti dirinya, menawarkan untuk menyerahkan dirinya sendiri untuk menggantikan si rusa betina dan pergi ke tiang pembantaian untuk menunggu kematiannya. Ketika si koki datang dan melihat Nigrodha di sana, ia tidak berani menyentuh binatang itu, karena mengetahui bahwa binatang itu telah dianugerahi pengampunan oleh raja. Ia menghadap raja dan menceritakan kejadian itu kepada raja. Ketika raja datang ke tempat itu dan diberitahukan kisah yang melatar-belakangi, ia tergerak oleh pengorbanan diri sang pemimpin dan berpikir bahwa bahkan seekor binatang dapat memiliki kualitas mulia demikian. Mengapa, ia berpikir, seorang manusia kehilangan hal yang sama? Dengan sikap adil ia menganugerahkan pengampunan kepada seluruh rusa, melarang pembunuhan mereka sejak saat itu.

Kisah-kisah Jataka dalam Buddhisme. Terlihat bahwa sebagian besar kisah Jàtaka dalam naskah-naskah Buddhis diceritakan terjadi di negeri Kasi. Ini menunjukkan fakta bahwa negeri ini telah berkembang maju sebelum masa Sang Buddha. Akan tetapi, kekuasaaannya menjadi menurun hingga negeri itu dikuasai oleh Kosala, yang merupakan negeri yang lebih kuat pada masa itu. Akan tetapi, tidak jelas apakah, pada masa Sang Buddha, negeri itu masih berdiri sendiri atau tidak. Tetapi jelas, masih berhubungan dengan negeri Kosala dan Magadha, sesuatu dari kedua negeri ini yang patut dicatat adalah sebagai berikut.

Negeri Magadha
pada masa Sang Buddha diperintah oleh raja bernama Bimbisara, dengan ibukota bernama Kota Ràjagaha, sedangkan pada saat yang sama Kosala beribukota Savatthi dan Pasenadi sebagai rajanya. Kedua negeri terikat oleh hubungan perkawinan, masing-masing raja adalah saudara ipar dari raja lainnya. Ini berarti adik perempuan Raja Pasenadi adalah ratu dari Raja Bimbisara, yang saudara perempuannya adalah ratu dari Pasenadi. Pada saat mengawinkan adik perempuan Pasenadi dengan Bimbisara, Raja Mahàkosala atau Mahapasenadi, ayah dari Raja Pasenadi sekarang, menmganugerahkan Kasikagama atau Kota Kasika sebagai hadiah kebesaran dan harta pribadi untuk puterinya.

Akan tetapi, Penguasa negeri Kasi tidak jelas diketahui. Ini karena hanya sedikit berhubungan dengan Buddhisme, yang membuat kisahnya hanya sedikit disebut dalam naskah-naskah Buddhis. Akan tetapi, menurut Komentar Vinaya (Disiplin)  seorang raja Kasi berhubungan darah dengan Raja pasenadi dari Kosala. Juga di tempat lain , raja Kasi dikatakan pernah mengirimkan kain dari bahan yang sangat halus sebagai hadiah untuk Tabib Jivaka, yang telah menyembuhkan penyakit kronisnya. Kain Kasi terkenal bernilai tinggi dan mahal. Negeri ini juga terkenal sebagai pusat kegiatan religius, khususnya di Kota Baranasi pada masa Sang Buddha. Tempat ini dikenal sebagai tempat pertemuan berbagai guru religius, terutama enam guru terkenal pada masa itu, yang masing-masing memiliki sejumlah besar murid. Dari naskah-naskah, kita mengetahui bahwa Brahmanisme dan Jainisme berkembang berdampingan. Pada pusat, atau jantung ajaran dan praktik religius inilah Sang Buddha menghadirkan hasil dari pencarian dan penemuanNya.


KHOTBAH PERTAMA: ‘RODA’ DHAMMA

Khotbah di Taman ini,
Suaka bagi rusa-rusa liar,
Bagi umat Buddha adalah tanda,
Buddha memulai,

Memutar Roda Dhamma,
Kepada Lima Petapa,
Untuk menuntun mereka menuju pantai,
Nibbàna kehidupan.

Hari itu adalah Malam Purnama Bulan asalha,
Ketika Brahmana Kondanna,
Yang terberkahi dengan kelahiran mulia
Menjadi Sotapanna.

Menjadi saksi Buddha
Atas tingginya Dhamma,
Bermahkotakan keberhasilan cemerlang
Melampaui kedua ekstrim.

Demikianlah lahir Permata Ketiga
Menandai hari Saïgha
Agung bagaikan mahkota
Dalam diri Koõóa¤¤a.

Berdasarkan pada Empat Kebenaran Mulia
Adalah Khotbah Pertama Buddha
Dinyatakan bagaikan “Auman Singa”
Membelah hingga kaki langit diujung terjauh.

Ini bagi umat Buddha untuk mengingatkan
Mereka akan betapa berharganya
Harta yang dapat mereka temukan
Dan menjadi saksi Buddha

Jangan seperti rusa-rusa itu
Yang tidak mampu menghargai
Walaupun mereka mendengarkan
Namun tidak mampu menembus

Makna dari kata-kata Sang Buddha,
Yang hanya menyerupai suatu suara.
Betapapun banyaknya mereka mendengar,
Tidak ada makna yang dapat ditemukan.

Semoga keyakinan kokoh
Pada Pencerahan Sang Buddha
Sebelum nafas kita lenyap
Dan demikianlah kehidupan kita dilewatkan.

---- Bab 1 selesai -----
« Last Edit: 23 February 2010, 06:43:43 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha, Bab 2: 4 Kebenaran Mulia
« Reply #4 on: 26 February 2010, 10:31:50 PM »
BAB 2
EMPAT KEBENARAN MULIA


Berikut ini adalah penjelasan singkat atas Khotbah Pertama

Kebenaran Mulia Pertama tentang Penderitaan. Kata Dukkha, secara etimologi merujuk pada apa yang tidak stabil atau tidak berubah, dapat diinterpretasikan dalam dua kategori.

Pertama, istilah ini menunjuk pada segala sesuatu, yang setelah terlahir, mengalami perubahan, menjadi usang dan akhirnya lenyap. Secara sederhana, ini merujuk pada kebenaran atas apapun yang dilahirkan pasti mengalami kematian. Ini sungguh adalah Dukkha (tidak peduli apapun terjemahannya dalam Bahasa Indonesia) karena tidak dapat selalu stabil setiap saat. Jika ia mampu terus-menerus ada tanpa mengalami perubahan maka ia tidak akan usang dan lenyap. Ini adalah sifat dari Dukkha (sebutlah sebagai sifat dari penderitaan, kesakitan, atau ketidak-memuaskan jika anda menginginkannya), yang mencakup segala sesuatu di dunia, termasuk dunia itu sendiri. Tidak ada apapun yang, setelah terlahir, tidak akan mengalami pelenyapan atau kematian, perbedaannya hanya pada berapa cepat atau lambat proses itu terjadi.

Dalam Sutta atau Khotbah, konsep Dukkha lebih spesifik. Menunjuk secara langsung ke dalam, menunjuk pada Dukkha yang mengendalikan tubuh, menguraikannya sebagai kelahiran, usia tua dan kematian. Manifestasi demikian harus dijelaskan, misalnya, penderitaan dan kesakitan yang dialami pada saat melahirkan (oleh ibu dan bayi). Ini lebih kabur daripada jelas. Riwayatnya, melihat hanya dengan manfaat dari masa lalu. Bahkan apa yang disebut “menjadai tua” juga memiliki beberapa aspek positif dan menyenangkan – dari anak-anak hingga dewasa, yang secara halus disebut ‘tumbuh menjadi muda’. Perubahan demikian, jelas sebagaimana adanya dalam berbagai cara, diterima sebagai aspek perubahan yang estetis dan indah, bukannya dianggap sebagai suatu aspek dukkha. Hanya ketika perubahan telah mulai menurun maka aspek yang nyata dan negative dari Dukkha menjadi lebih nyata. Dukkha kematian, pada kenyataannya, pada tahap tertentu, adalah menyesatkan. Karena kebenaranya adalah bahwa Dukkha apapun yang ada (yaitu, kesakitan, betapapun menyakitkan) muncul sesaat sebelum kematian. Pada saat-saat kritis tidak dapat diketahui bagaimana Dukkha terjadi. Rasa takut akan kematian, pada kenyataannya, adalah ketakutan sebelum kematian. Selama masih ada ketakutan, maka selama itu tidak mungkin ada kematian. Tetapi pada saat kematian, tidak ada ketakutan demikian, yaitu, tidak ada perasaan takut, tidak ada perasaan bahwa itu adalah Dukkha. Semua ini menunjukkan bagaimana masih ada makna tersembunyi yang harus diungkapkan demi suatu pemahaman yang lebih langsung dan lebih jernih dari apa itu Dukkha yang sesungguhnya dimaksudkan.

Oleh karena itu, mungkin saja, bahwa makna sebenarnya yang disiratkan oleh Dukkha pada dasarnya adalah makna literal, dengan sikap batin atau reaksi yang ditambahkan atau berhubungan dengannya. Untuk mengulangi, makna literal atau etimologis menunjukkan kondisi alami dan sesuai sifatnya sebagai kondisi yang terus-menerus berubah, tidak mampu tetap stabil atau kokoh. Ini, seperti disebutkan sebelumnya, mencakup dunia itu sendiri dan segala sesuatu di dalamnya. Sekarang ini, seperti biasanya, termasuk apa yang merupakan tubuh kita, yang, setelah terlahir, menjalani proses tumbuh menjadi muda, kemudian tumbuh menjadi tua, menjadi usang dan rusak yaitu kematian. Ini adalah makna dasar dari kata Dukkha.

Sekarang yang ke dua, aspek pendamping dari kata ini. Ini berasal dari reaksi atau sikap seseorang terhadap aspek alami dan mendasar yang dijelaskan di atas. Reaksi ini berdasarkan pada Taõhà atau keinginan (atau kegemaran, sebutlah apa yang anda kehendaki), yang darinya muncul aspek kembar yaitu, Upàdàna atau keterikatan atau kemelekatan. Adalah dua ini yaitu keinginan dan kemelekatan yang secara kolektif yang pada gilirannya memunculkan serangkaian Dukkha batin seperti kesedihan, ratapan, dukacita dan kegelisahan. Tanpa si jahat kembar ini, seperti halnya pada Sang Buddha dan para siswa Arahant, maka tidak ada Dukkha yang ke dua, kategori pendamping untuk mempengaruhi mereka dalam cara apapun atau dalam tingkat apapun. Mereka telah menyadari oleh diri sendiri bagaimana segala sesuatu yang berkondisi itu, termasuk jasmani mereka, dikuasai oleh hukum kejadian atau alam. Kejadian alami demikian, setelah dikondisikan untuk terlahir atau menjelma, secara intrinsik – dan oleh karena itu tidak terhindarkan – pasti mengalami perubahan, kemunduran, keusangan, dan lenyap: secara kiasan, menuju ke ketiadaan. Tanpa Kilesa (kekotoran secara umum) atau Taõhà (khususnya Keinginan) yang berfungsi sebagai rantai penghubung, belenggunya putus dan Dukkha dari kategori ke dua menjadi padam.

Adalah karena fakta inilah maka aspek lain dari Dukkha yang disebut Taõhà atau Keinginan disebutkan. Melaluinya muncul ‘kembaran’nya yang disebut Upàdàna atau kemelekatan, yang membawa berbagai penderitaan batin. Kebenaran ke dua ini disebut Samudaya, asal-mula penderitaan yaitu Dukkha.

Sekarang, dengan padamnya Keinginan atau Kemelekatan muncullah padamnya Dukkha. Apapun yang muncul tidak dapat mempengaruhi batin. Ini dapat dilihat ketika kita melihat sekeliling, mengamati segala sesuatu, dan kejadian-kejadian, pada saat terjadi. Dengan faktor yang mengintervensi yaitu Keinginan dan Kemelekatan (termasuk ketidak-senangan dan kejijikan seperti biasanya), kemunculan ini tentu menurunkan Dukkha jika termasuk dalam kategori ‘yang tidak menyenangkan’. Sebaliknya, tanpa si jahat itu, hanya akan ada Keseimbangan yang mengecewakan dan menjemukan di tengah-tengah segala situasi, apakah menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dengan demikian, tidak aka nada Dukkha, khususnya yang berasal dari batin. ‘peristiwa-peristiwa’ yang terlihat, dan dianggap, sebagaimana adanya – sebagai terlahir, berlangsung, memudar dan lenyap.

Dengan Magga atau Sang Jalan yang dimaksudkan adalah proses mengembangkan batin atau menghaluskan hingga sejauh munculnya kebijaksanaan (di antara kualitas mulia lainnya) yang dengannya Keinginan dan kemelekatan yang disebutkan di atas dilenyapkan. Ini adalah makna ringkas dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, Kebenaran Mulia Ke empat. Apa yang perlu dicatat adalah bahwa pengetahuan sebagai hasil dari Kebijaksanaan itu harus memungkinkan seseorang untuk mengatasi dan menaklukkan Kekotoran seperti Keinginan dan Kemelekatan. Oleh karena itu maka jalan itu haruslah cukup praktis dan cukup kuat. Jika prasyarat ini tidak tercapai, maka ia hanya mengetahui namanya namun tidak mampu mengatasi dan mencabut kekotoran itu. Apa yang memungkinkan seseorang untuk melakukannya adalah, menurut Khotbah Pertama, tiga tahapan yang mencakup masing-masing Kebenaran Mulia, yang menghasilkan dua belas aspek berbentuk spiral dari Nana atau Pandangan Terang.

Sekarang, Tiga Tahap Pandangan Terang adalah sebagai berikut:

1.   Pertama adalah Saccanana, Pandangan Terang ke dalam apa itu Empat Kebenaran Mulia.
2.   Ke dua adalah Kiccanana, Pandangan Terang ke dalam apa yang harus dilakukan sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran Mulia.
3.   Ke tiga adalah Katanana, Pandangan Terang ke dalam apa yang telah dilakukan dengan sempurna sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran Mulia.

Memahami ketiga tahapan Pandangan Terang berturut-turut dapat menjadi jelas melalui perbandingan dengan kinerja dari tugas-tugas seseorang dalam beberapa aspek kehidupannya. Pertama, ia perlu mengetahui apa yang merupakan tugas atau tanggung jawabnya. Dengan kata lain, ini adalah mengetahui sejauh mana tanggung jawab yang harus ia pikul. Ini dapat dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta dan data yang dikumpulkan dari sebanyak mungkin sumber. Ini diperlukan bagi seseorang yang memikirkan tugas-tugas dalam pekerjaannya, keluarganya dan aspek sosil lainnya. Ini serupa dengan “Saccanana” – pada tahap duniawi, mengetahui apa yang merupakan batas-batas tugas dan kinerjanya.

Setelah mengetahui ini, ia berusaha untuk memenuhi sebatas kemampuannya apa yang dibutuhkan darinya. Ini serupa dengan Kiccanana pada tahap duniawi. Pengamatannya sendiri yang memastikan bahwa tidak ada lagi yang belum dilakukan adalah sesuai dengan Kata¤àõa yang memberikan kepuasan dan kegembiraan yang selayaknya padanya.

Contoh lain dari tahap duniawi dapat dilihat dalam kasus seorang dokter, yang pertama-tama harus mengetahi penyakit apakah yang harus ia sembuhkan, - juga penyebab dan gejala-gejalanya secara terperinci. Kemudian ia memanfaatkan apa yang telah ia pelajari dari pengalaman, mengetahui seberapa baik menanggulangi sindrom dan memberikan hasil terbaik untuk menyembuhkan penyakit. Setelah itu, melalui pengalaman professional dan praktik, ia mampu mengendalikan, dan kemudian menyembuhkan penyakit, memulihkan kesehatan pasien (yang mungkin saja dirinya sendiri). Ini telah ia capai dan, tentu saja, berhak untuk bangga akan kinerjanya. Semua ini berfungsi untuk memberikan gagasan atas ketiga ¥àõa sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia.

Sekarang kembali kepada Empat Kebenaran Mulia itu sendiri. Terbukti bahwa Sang Buddha telah dengan jelas memberikan penjelasan untuk masing-masingnya, menunjukkan apa yang secara komprehensif disiratkan oleh, pertama, Dukkha atau Penderitaan, kemudian oleh penyebab atau asal-mulanya. Dalam merujuk pada padamnya Dukkha, Beliau secara jelas menunjukkan apa yang harus dipadamkan dan sewaktu menyebutkan Jalan yang menuju padamnya, sekali lagi Beliau secara sistematis menjelaskannya pada pendengarNya. Sekarang bagi umat Buddha adalah disarankan untuk memutuskan apakah penjelasan Beliau dapat kita terima atau tidak, apakah itu Dukkha seperti lahir, tua dan mati, atau asal-mula Dukkha yaitu Keinginan, kemudian padamnya dan akhirnya Sang Jalan yang menuju ke sana. patokan tingkat penerimaan atas fenomena-fenomena adalah oleh sendiri, melalui keyakinannya, terlepas apakah disebutkan oleh Sang Buddha atau guru lainnya. Penerimaan melalui keyakinan seseorang demikian adalah, dengan kata lain, berasal dari dalam. Ini karena Empat Kebenaran, apakah Dukkha, penyebabnya, dan seterusnya, bukan merujuk pada yang di luar. Oleh karena itu, pencapaiannya, dimulai dari, atau berdasarkan pada, di mana keseluruhan tema itu berasal-mula, kalau tidak maka tidak dapat disebut Sacca¤àõa, Pandangan Terang ke dalam sifat dari masing-masing dari Empat Kebenaran. Suatu perbandingan dapat dilakukan, katakanlah, melihat empat orang yang berjalan bersama-sama. Untuk mengetahui segala sesuatu sehubungan dengan mereka seperti ciri-ciri, kebiasaan, kecenderungan dan kapasitas mereka mengumpamakan apa yang disebut Saccanana sehubungan dengan Empat Kebenaran.

Tahap ke dua disebut Kiccanana, Pandangan Terang ke dalam apa yang harus dilakukan atas Kebenaran-kebenaran itu. Dukkha yaitu segala manifestasi yang dijelaskan sebelumnya harus diketahui yaitu menentukan atau mendeteksi hingga tingkat yang selengkapnya, atau sedalam-dalamnya. Batasannya jelas, - tidak boleh melewati. Sekarang, penyebabnya, dalam bentuk atau tingkat apapun, harus secara total ditinggalkan atau dilenyapkan. Padamnya harus dicapai, sementara Sang Jalan yang menuju ke sana harus dikembangkan atau dilatih, - sekali lagi hingga tingkat yang selengkapnya, atau setinggi-tingginya. Semua ini merupakan sikap batin yang benar terhadap masing-masing dari Empat Kebenaran, dengan masing-masing sikap berfungsi di dalam apa yang menjadi pendekatan yang sesuai atau menjadi pendamping tanpa tumpang tindih dengan yang lainnya.


Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha, Bab 2: 4 Kebenaran Mulia
« Reply #5 on: 26 February 2010, 10:34:37 PM »
Usaha yang Keliru

Kesulitan yang ditemukan dalam beberapa kasus adalah kekeliruan, walaupun bermakna benar, usaha yang bingung akan fungsi satu Kebenaran dengan Kebenaran lainnya. Tentu saja, ini menghasilkan lebih banyak, bukan lebih sedikit, kesulitan atau Dukkha. Contohnya dapat dilihat dalam kasus-kasus mereka yang dikuasai oleh kesedihan karena kekecewaan. Karena putus asa, mereka bahkan melakukan bunuh diri, secara naif menyimpulkan bahwa hal itu jalan keluar yang lebih baik, atau bahkan yang terbaik. Kebodohan mereka atas fakta bahwa tubuh yang akan mereka bunuh bukanlah penderitaan sebenarnya, melainkan, itu termasuk, sejauh pembahasan pada usia tua, penyakit, dan kematian, dalam manifestasi Dukkha atau Penderitaan, yang harus ditetapkan demikian, tidak boleh dihancurkan atau dibunuh. Apa yang harus dibunuh atau dilenyapkan adalah Penyebab atau Asal-mula Dukkha yaitu Keinginan dalam berbagai bentuk dan tingkat. Secara kolektif, adalah apa yang oleh naskah-naskah disebut Kilesa atau Kekotoran, yang dalam satu pengertian dikelompokkan sebagai Keserakahan (atau Nafsu), Kebencian dan Kebodohan. Untuk mengulangi, semua ini melekat pada pikiran seseorang. Untuk melenyapkan, atau minimal mengurangi, gejala Dukkha, adalah keharusan bagi  seseorang untuk menanggulangi langsung dari sumbernya, yang adalah Keinginan yang dibiarkan berkeliaran bebas, - yang merusak dirinya.

Bahwa banyak perselisihan sering kali berakhir dengan kekerasan kriminal sebagai penyerangan atau pembunuhan adalah contoh lain dari suatu diagnosa keliru, yang diikuti sebagai akibat dari penanganan yang keliru, dalam arti kiasan. Kedua belah pihak telah meningkatkan Dukka mereka dan melepaskan kemarahan mereka pada pihak lainnya, yang bukan merupakan penyebab dari perselisihan itu. Apa yang seharusnya mereka kalahkan, atau bahkan bunuh, adalah kemarahan atau kebencian mereka sendiri dalam pikiran mereka sendiri, yang adalah Samudaya atau penyebab sesungguhnya dari Dukkha dalam kasus mereka.

Sehubungan dengan Nirodha atau Padamnya Dukkha, disarankan bahwa ketika seseorang telah maju dalam praktiknya hingga mereka mampu menenangkan pikirannya hingga tingkat tertentu, maka pertama-tama ia harus mempertahankan dan memeliharanya. Setelah itu ia harus memperkuat atau meningkatkan intensitasnya hingga kokoh. Akan tetapi, sungguh disesalkan bahwa sebagian besar orang hanya sedikit mempedulikan ketenangan batin. Meskipun faktanya kondisi batin demikian lebih kurang dapat tercapai, walaupun pada saat-saat yang tidak mereka sadari. Kekotoran sebagai Keinginan demikian tidak secara aktif menguasai batin selamanya, kalau tidak maka batin, yang tanpa istirahat, akan sangat terbebani dan tak mampu bertahan. Orang-orang kadang-kadang dapat bersantai dan mendapatkan istirahat berkat saat-saat ‘istirahat’ di sela-sela waktu-waktu sibuk itu. Ini adalah fakta yang para umat Buddha harus perhatikan pertama-tama dan kemudian berusaha untuk ‘menyelipkan’ lebih banyak dan lebih lama saat-saat santai tersebut ketika ketenangan atau kedamaian dapat menggantikan kekotoran tersebut. Singkatnya, mereka dianjurkan untuk dengan penuh perhatian mempertahankan saat-saat santai yang muncul secara alami dan dengan tekun meningkatkan intensitas dari ketenangan yang diperoleh melalui usaha yang gigih.

MAGGA atau Sang Jalan adalah yang terakhir dari Empat Kebenaran Mulia, tetapi bukan yang paling tidak penting. Seberapa baik ini berfungsi bagi seseorang biasanya bergantung pada seberapa jauh ia telah mengembangkannya – dalam batinnya. Ini menuntut adanya pengamatan-diri yang tulus, menentukan seberapa banyak, atau seberapa kuat, tubuh dari delapan unsur, yaitu, Pandangan Benar, Kehendak Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar dan Meditasi Benar. Pengamatan-diri ini harus diikuti dengan koreksi-diri dan perbaikan-diri. Akan tetapi, sering ditemukan dalam banyak kasus di mana umat Buddha yang lebih suka mengamati dan mengoreksi apa yang mereka percaya dalam kelemahan dan kekurangan orang lain. Ini sangat tidak dianjurkan, khususnya sejauh berhubungan dengan aspek praktik Buddhisme. Jika mereka harus mengkritik, adalah kualitas batin mereka sendirilah yang harus dikritik. Setelah itu, mereka dituntut untuk mengemban dua tugas, yang negatif aspek melepaskan di satu pihak dan, yang positif aspek melatih di pihak lain, untuk memenuhi apa yang diharapkan dari mereka.

Fungsi demikian disebut Kiccanana, Pandangan Terang ke dalam fungsi atau komitmen sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran.

Ketika fungsi-fungsi itu telah siap diterima sebagai tanggung jawab yang harus diemban dan dilaksanakan semaksimal mungkin olehnya, maka akan tiba saatnya di mana muncul dalam diri mereka Katanana, Pandangan Terang ke dalam apa yang telah dilakukan, yaitu pemenuhan sehubungan dengan masing-masing dari Empat Kebenaran Mulia. Adalah melalui pemenuhan demikian maka Sang Buddha mampu menyatakan diriNya demikian, dengan segala manifestasi Dukkha terdeteksi dan dikenali, yang asal-mulanya telah ditinggalkan dan dicabut, yang Padamnya telah tercapai, dengan sarana untuk mencapainya telah dikembangkan dengan sempurna.

Ringkasan Ajaran

Empat Kebenaran Mulia ini adalah ringkasan, atau inti, dari semua tema lain dari AJaran Buddha seperti pada perumpamaan bahwa jejak kaki gajah menutupi jejak semua binatang lainnya. Berdasarkan fungsinya terdapat empat jenis dari apa yang harus dilakukan, sebagai berikut:

1)   Parinneyyadhamma (Apa yang harus diketahui atau dikenali). Ini merujuk pada fenomena Dukkha dalam Kebenaran Mulia Pertama, termasuk segalanya yang ditakdirkan untuk terlahir, mengalami kemunduran dan mati atau lenyap seperti Khandha (kelompok-kelompok unsure kehidupan), âyatana (pintu-pintu indria dan obyek-obyek indria), Dhatu (apa yang disebut ‘unsur-unsur’ atau sifat-sifat materi).

2)   Pahatabbadhamma (apa yang harus ditinggalkan atau dicabut). Ini adalah segala Kilesa (Kekotoran), apapun nama untuk menyebutkannya (Dalam Pali atau Bahasa Indonesia). Demikianlah segala kualitas-kualitas tidak bermanfaat seperti Tiga Akar Kejahatan, Lima Rintangan Batin, Sembilan Polusi dan Enam belas Kekotoran termasuk dalam kelompok ini.

3)   Sacchikatabbadhamma (apa yang harus dicapai) yaitu, hasil praktik dan usaha yang selaras dengan Ajaran Buddha seperti ketenangan batin.

4)   Bhavetabbadhamma (apa yang harus dikembangkan atau dilatih). Ini menunjuk pada praktik kualitas-kualitas bermanfaat seperti apa yang dijelaskan dalam Kelompok Dua, Tiga, dan seterusnya (dalam buku kecil yang berjudul ‘Khotbah Dasar Bertingkat atau Navakovada oleh Pemimpin Tertinggi H.R.H. Prince Vajirananavarorasa).


Apa yang harus dicatat sebagai tambahan adalah bahwa dalam Khotbah Pertama ini fenomena Dukkha digambarkan dengan tidak merujuk pada penyakit, mungkin dengan alasan bahwa penyakit dijelaskan belakangan dalam kata majemuk “Soka-parideva-dukkha-domanassa-upayasa”, di mana kata ‘dukkha’ yang di tengah dimaksudkan merujuk pada penyakit jasmani. Akan tetapi, dalam sumber lain, hanya penderitaan jasmani yaitu, lahir, usia tua, penyakit, dan kematian  disebutkan secara lengkap, dengan padanannya dalam sisi batin yaitu Soka, Kesedihan dan lainnya dihilangkan.

Setelah Khotbah pertama, tercatat bahwa muncul ‘Mata Dhamma’ pada Kondanna, pemimpin dari Lima Petapa, mencerahkannya pada Kebenaran bahwa segala sesuatu yang dilahirkan pasti mengalami kematian atau lenyap. Ini menyiratkan fakta bahwa ia mampu mencapai atau menembus implikasi dari makna Dukkha yaitu segala sesuatu tidak dapat senantiasa stabil atau kokoh. Demikianlah kelahiran akan menuju kematian, kelahiran tidak dapat senantiasa kokoh atau kebal terhadap kematian. Setelah memperoleh Mata-Dhamma, Kondanna memohon penahbisan dari Sang Buddha, yang kemudian memberikannya dengan formula yang dimulai dengan Ehi, yang berarti “Mari, jadilah Bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan sempuna. Semoga engkau berlatih demi Padamnya Dukkha.” Dengan kata tersebut, ia menerima penahbisan dari Sang Buddha sendiri. Cara penahbisan seperti ini disebut Ehibhikkhu-Upasampadà, penahbisan oleh Sang Buddha dengan ucapan yang dimulai dengan ‘Ehi Bhikkhu’.

Khotbah ini disebut Dhammacakkappavattana Sutta, Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Ini sebanding, namun tidak sama, dengan Roda Pusaka dari seorang Cakkavati atau Raja Dunia, yang dipercaya memiliki tujuh pusaka yaitu Roda (sesuatu yang menyerupai Rudal Kendali Balistik), gajah, kuda, permata, perempuan (yaitu ratu), hartawan dan kecakapan, semuanya berfungsi sebagai menteri utama. Ini dikatakan sebagai faktor-faktor pendukung yang tidak bisa habis, atau tanda kebesaran dari individu mulia tersebut. Ini adalah cita-cita dari mereka yang ambisius, puncak dari pencapaian sementara, sejak zaman dulu hingga sekarang, perbedaannya hanya pada cara-cara dan sarana yang digunakan. Dari ketujuh pusaka, Cakka atau roda (yang sebanding dengan rudal kendali balistik) dipercaya sebagai yang paling utama, mungkin karena memberikan kekuasaan mutlak kepada pemiliknya yang dengannya lebih banyak wilayah dapat dikuasai atau ditaklukkan. Sekarang, dalam hal Sang Buddha, Khotbah Pertama-Nya dapat dianggap sebagai meletakkan dasar untuk membangun kerajaan Buddhis dan dengan demikian berfungsi sebagai Pusaka Roda dari Raja Dunia. Akan tetapi Kerajaan Buddha tidak dibangun atau diperluas dengan cara-cara kekerasan atau kekuatan sementara. Namun berdasarkan pada DhammaNya yang damai dan penuh kebahagiaan.

EMPAT KEBENARAN MULIA

Empat ‘Sacca’ Sang Buddha
Pertama-tama harus dicapai
Agar mereka menjadi Ariya
Bagi mereka yang mampu

Menanggung sakit untuk melatih
Ketenangan-Pandangan Terang
Maka dengan itu melenyapkan
Keinginan dengan segala kekuatan mereka

Tentu saja ini termasuk
Ketidak-senangan sebagai lawannya
Dari koin kebenaran yang sama
Keduanya harus ditaklukkan pertama kali

Juga pasangan kembarnya
Kemelekatan-Kejijikan,
Keduanya sebagai kerabat terdekat,
Penggoda dan penjahat.

Tiga gerakan spiral
Dengan masing-masing Kebenaran mencakup tiga kali
Dengan pendakian memutar
Dengan seluruh Empat Kebenaran tercapai.

Mengetahui seperti apa masing-masingnya
Kemudian apa yang harus dilakukan,
Setelahnya bagaimana mengatasinya
Cara-cara yang benar terus-menerus.

Semoga kita para umat Buddha menanggung sakit
Berjuang demi Mata-Dhamma,
Yang adalah keuntungan besar
Yang dengannya kita menguji

Bagaimana Ajaran Buddha kita
Yang tanpa banding, tanpa batas waktu,
-   pelindung bagi semua makhluk,
melalui kita sebagai SaksiNya.

- Bab 2 selesai -
« Last Edit: 27 February 2010, 11:17:49 AM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha, Bab 3. Anattalakkhana Sutta
« Reply #6 on: 06 March 2010, 10:52:11 AM »
ANNATTALAKKHANASUTTA
(Khotbah tentang Karakteritik Bukan-diri)

Yang Mulia Kondanna setelah memperoleh Mata-Dhamma dan diterima menjadi Bhikkhu pertama dalam Buddhisme, Sang Buddha melanjutkan mengajar keempat petapa lainnya dengan berbagai tema Dhamma hingga kedua petapa lainnya, Vappa dan Bhaddiya, juga memperoleh Mata-Dhamma, kemudian memohon penahbisan dan diterima oleh Sang Buddha. Setelah itu ketiga petapa, sekarang telah menjadi para bhikkhu yang telah ditahbiskan, pergi mengumpulkan dana makanan untuk kelompok enam. Beberapa lama kemudian, Petapa Mahanama dan Assaji juga menjadi Pemenang-Arus dan menerima penahbisan dengan cara yang sama dengan tiga petapa lainnya. Menurut Komentar, tercatat bahwa Petapa Vappa memperoleh Mata-Dhamma dan ditahbiskan oleh Sang Buddha pada hari pertama paruh ke dua, Bhaddiya pada hari ke dua, Mahanama pada hari ke tiga dan Assaji pada hari ke empat. Ini agak berbeda dengan sumber Pali, yang menggambarkan masing-masing pasang memperoleh Mata-Dhamma dan ditahbiskan pada hari yang sama seperti disebutkan di atas.

Sekarang, pada hari ke lima paruh ke dua bulan lunar Savana, yang sama dengan hari ke lima paruh ke dua bulan ke delapan lunar di Thailand, Sang Buddha membabarkan kepada para bhikkhu Khotbah ke dua yang disebut Anattalakkhana Sutta, secara literal berarti Khotbah tentang (bagaimana menentukan) karakteristik bukan-diri, yang dapat diringkas sebagai berikut:

Bagian Pertama: Sang Buddha menjelaskan kelima kelompok unsur kehidupan (Khandha) yaitu Bentuk (Jasmani), Perasaan, Persepsi, Pengondisi Pikiran dan Kesadaran sebagai bukan-diri. Karena jika hal-hal itu adalah diri, tentu tidak akan menjadi sakit dan mungkin seseorang dapat berkeinginan agar kelima itu: semoga seperti ini, dan tidak seperti itu, tetapi karena kelima itu bukan-diri, maka kelima itu dapat menjadi sakit dan tidak mungkin seseorang berkeinginan: semoga seperti ini, dan tidak seperti itu.

Bagian Ke dua: Untuk menguji seberapa jauh mereka mampu menerima instruksinya, Sang Buddha bertanya kepada mereka apakah kelima kelompok unsur kehidupan adalah kekal atau tidak kekal. Yang mana mereka memberikan jawaban negative. Ketika sekali lagi ditanya apakah segala sesuatu yang tidak kekal boleh dianggap kebahagiaan atau tidak, seperti sebelumnya mereka memberikan jawaban negative. Ke tiga, Sang Buddha bertanya kepada mereka apakah mereka menganggap segala sesuatu yang tidak kekal, menjadi sumber bagi penderitaan dan tunduk pada perubahan dan kemunduran sebagai diri atau bukan. Dengan cara yang sama mereka menjawab tidak demikian.

Bagian Ke tiga: sebagai penutup, Sang Buddha memberikan kepada mereka peninjauan secara keseluruhan terhadap kelima kelompok unsur kehidupan, dengan mengatakan bahwa segala kelompok unsur kehidupan, apakah di masa lalu, di masa depan atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, jahat atau baik, dan jauh atau dekat, hanyalah kelompok unsur kehidupan – Bentuk, Perasaan, Persepsi, Pengondisi Pikiran dan Kesadaran, yang harus dianggap, melalui Pengetahuan Benar bahwa semua itu bukan milik kita, bahwa kita bukanlah kelompok-kelompok itu, dan bahwa semua itu bukan diri kita.

Bagian Ke empat: Dengan mengilustrasikan akibat dari Pengetahuan Benar yang disebutkan di atas, Sang Buddha melanjutkan mengatakan bahaw seorang Siswa Mulia, setelah meyakini demikian, maka ia terberkahi dengan Nibbida, yaitu, kekecewaan terhadap kelompok-kelompok itu. Dengan kekecewaan muncullah kebosanan, yang membawa kebebasan, bersama dengan Pandangan Terang yang memahami Kebebasan itu. Selanjutnya muncul Pengetahuan bahwa kelahiran telah dilenyapkan, kehidupan suci telah disempurnakan dan apapun yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang harus dilakukan untuk (pencapaian) ini.

Menurut para penyusun naskah Pali, ada disebutkan bahwa di akhir Khotbah ini kelima Bhikkhu tersebut, setelah mendengarkan khotbah ini, semuanya terberkahi dengan kebahagiaan dan kegembiraan luar biasa, sehingga batin mereka menjadi terbebas dari segala kekotoran. Mereka semuanya menjadi Arahant yaitu Yang Terbebaskan Sempurna.

Demikianlah ringkasan dari Khotbah ke Dua, makna lebih mendalam akan dibahas sebagai berikut:

Khotbah ini membahas tentang Anatta, yang dapat diterjemahkan tanpa-diri atau bukan-diri. Mungkin ini karena kepercayaan yang ada sehubungan dengan ‘diri’, yang mana terdapat dua aliran utama yaitu Sassataditthi: kepercayaan akan kekekalan atau keabadian, dan Ucchedaditthi: kepercayaan akan ketiadaan atau pemusnahan. Menurut yang pertama yaitu Doktrin Keabadian, terdapat dalam hidup ini sesuatu yang disebut Atta atau diri, yang tetap ada bahkan setelah kematian. Diri ini kekal dan abadi. Yang ke dua yaitu Doktrin Pemusnahan menganggap Atta hanya ada dalam kehidupan ini, tidak ada yang bertahan tetap ada setelah kematian.

Buddhisme memperkenalkan sebuah jalan tengah antara kedua ‘ekstrim’ tersebut dengan memperlihatkan bahwa keduanya memiliki cacat. Maka dalam Buddhisme tidak ada penekanan pada apapun yang disebut Atta atau diri, yang senantiasa menjadi tempat bersandarnya Upadana atau Kemelekatan. Di mana ada Kemelekatan, demikian menurut Buddhisme, maka padamnya Kekotoran dan Penderitaan tidak akan dapat tercapai. Ini karena Kemelekatan itu juga adalah sejenis Kekotoran.

Akan tetapi, dalam Paticcasamuppada atau Sebab-akibat yang saling bergantungan, digambarkan suatu rantai dengan mata rantai yang saling berkaitan seperti ada, misalnya, Kebodohan, ada pendamping-pendampingnya seperti kelahiran. Dengan padamnya Kebodohan maka padam pula kelahiran. Akan tetapi, tidak disebutkan apakah ini secara khusus merujuk pada kelahiran di masa lampau, masa sekarang atau masa depan. Mungkin ini menyiratkan fakta bahwa selama ada mata-rantai yang saling berkaitan itu yang berfungsi sebagai sebab dan akibat satu sama lain, maka selama itu prose situ akan berlanjut. Itulah maka penekanan ditujukan pada fungsi sebab akibat, tanpa menyebutkan waktu yaitu ‘kapan.’

Sehubungan dengan kemelekatan pada konsep Atta atau diri, apakah Atta pada kehidupan sekarang atau Atta yang tetap ada setelah kematian, tidak dapat dihindari bahwa pasti ada definisi Atta yang mendasari kepercayaan itu. Karena konsep itu berdasarkan pada salah satu dari lima kelompok unsur kehidupan atau Khandha, yang menunjuk salah satu darinya sebagai ‘diri’.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha, Bab 3. Anattalakkhana Sutta
« Reply #7 on: 06 March 2010, 10:53:51 AM »
Dasar bagi konsep-diri
 
Kelompok unsur kehidupan pertama Rupa atau Bentuk. Ini merujuk pada tubuh dan manifestasinya yang secara totan berjumlah tiga puluh dua seperti tertulis pada naskah-naskah atau lebih dari itu jika diuraikan dalam fisiologi modern. Menurut penjelasan dari naskah-naskah, terdapat Mahabhutarupa, yaitu, apa yang disebut karakteristik utama yaitu sifat-sifat materi (padat, cair, angin dan panas), bersama dengan Upadayarupa atau fungsi-fungsi pendamping seperti sistem syaraf. Semua ini disebut kelompok unsur bentuk atau Rupakhandha, yang terdiri dari beberapa bagian yang bekerja bersama-sama. Dari legenda etimologis, kita mengetahui bagaimana telah diamati bahwa, ketika masih ada denyut nadi, atau jantung, maka masih ada akibat Jãva (vitalitas) atau Atta. Tanpa adanya denyut atau nafas maka Jãva tidak aka nada dan Atta secara otomatis hilang. Demikianlah nafas disebut Atta dalam Bahasa Pali, atau Atman dalam Sanskrit. Kata Atman bersesuaian dengan kata kerja yang sama dalam Bahasa Jerman yang berarti nafas. Ini menunjukkan bahwa terdapat pemahaman umum bahwa ‘Atta’ terletak pada nafas. Ini adalah bagaimana Atta atau diri dihubungkan dengan Jasmani atau ‘Bentuk.’

Terdapat konsep lainnya yang menyamakan Atta dengan Vedana (Sensasi atau Perasaan), yang terbagi dalam tiga jenis yaitu menyenangkan,b tidak menyenangkan dan netral. Ini adalah disebabkan oleh fakta bahwa, dengan pemikiran yang lebih mendalam, orang dapat mengamati bahwa, bahkan dengan Bentuk atau tubuh yang masih bernafas, namun tubuh tidak dapat aktif tanpa Vedana. Karena itu adalah Vedana yang merupakan faktor yang menentukan kehidupan, yang mengalami atau ‘memakan’ perasaan-perasaan itu. Demikianlah implikasi lain dari Atta, yang berarti ‘pemakan’ kebahagiaan dan penderitaan.

Kemudian terdapat pengertian lain, kali ini menunjuk pada kelompok unsur Sanna, yang dapat diterjemahkan sebagai Persepsi atau, dalam pengertian yang lebih sederhana, faktor penentu atau yang membedakan yaitu ingatan. Gagasannya adalah bahwa tindakan ‘memakan’ itu, sekali ia muncul dan kemudian lenyap seluruhnya, tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada kemampuan untuk mengingatnya kelak. Ini adalah pengertian dari Sanna yang mengarah kepada kekekalan dan ketidak-berubahan.

Pemikiran analitis tidak berakhir di sini. Terdapat suatu percabangan yang menentukan bahwa hanya Sanna seperti yang disebutkan di atas adalah penggunaan yang kurang praktis tanpa pemikiran (dan emosi) yang diakibatkan yang mengondisikan atau mewarnai apa yang telah diingat. Oleh karena itu adalah ‘pengondisi’ ini yang menambahkan nilai dan ‘warna’ di sana. Karena itu Atta atau diri disamakan dengan fungsi ini, yang merupakan implikasi dari kelompok unsur Sankhara.

Tetapi ini juga belum berakhir. Masih ada sudut pandang lain yang muncul mengambil bagian, menetukan Vinnana sebagai tempat yang paling mungkin bagi Atta. Akan tetapi, kata Vinnana mengandung lebih dari satu makna. Dalam satu pengertian, kata ini berarti apapun yang mengalami kelahiran kembali setelah kematian jasmani, sedangkan pengertian lain menyiratkan kesadaran melalui pintu-pintu indria yang disebut kesadaran-mata, kesadaran-telinga dan seterusnya. Alasan bagi konsep ini adalah bahwa kesadaran adalah bebas dan tidak terbatas, karena mampu bepergian kemanapun ia menginginkan. Jasmani mungkin saja berada di sini, misalnya, tetapi Vinnana dapat berada di mana saja, kapan saja, dalam sekejap. Konsep ini didukung oleh pemahaman bahwa Vinnana adalah alat untuk mengalami kelahiran kembali yang berfungsi untuk menegaskan bahwa adalah pasti Vinnana ini yang disebut Atta atau diri. Harus diperhatikan juga bahwa konsep ini dapat diterima oleh sebagian besar orang, yang menerimanya mentah-mentah bahwa Vinnana adalah suatu entitas yang bebas bepergian kemanapun ia menginginkan dan ditakdirkan untuk mengalani kelahiran kembali.

Alasan logis dan dapat dipahami atas ‘diri’

Sekarang seorang manusia hidup jelas tersusun dari kelima kelompok unsur kehidupan ini, yang menjadi tempat bersandar atau landasan bagi pemahaman akan diri. Selama kelima ini berada dalam kondisi sempurna, maka dapat dimengerti bahwa diri juga berada dalam kondisi sempurna. Jika salah satunya lemah atau menjadi cacat, maka ‘diri’ dianggap cacat atau pincang. Demikianlah, jika seseorang menjadi buta, tuli, atau tidak dapat mencium, tidak dapat mengecap, menyentuh atau bergerak, maka ‘diri’ adalah sangat lemah. Dalam hal jasmani yang jatuh pingsan, maka ‘diri’ secara praktis hilang. Ini menunjukkan betapa pentingnya bahkan hanya jasmani saja pada konsep diri, karena jasmani adalah manifestasi yang paling jelas dan paling nyata di mana gagasan diri berpijak. Empat lainnya, walaupun tidak begitu nyata, namun tidak kalah penting. Melalui Vedana berbagai perasaan dialami dan seseorang merasakan kebahagiaan atau penderitaan. Sekali lagi, adalah dengan Sanna maka kekuatan pengenalan atau ingatan dapat muncul dan dengan Sankhara muncullah pikiran-pikiran dan emosi yang mengondisikan. Melalui Vinnana seseorang dapat menyadari dunia luar melalui pintu-pintu indria. Jika salah satunya tidak ada, maka jasmani menjadi tidak sempurna dalam hal reaksinya terhadap obyek-obyek indria. Jika seluruhnya tidak ada, maka tidak ada kesadaran sama sekali. Bahwa seseorang masih merasakan tubuhnya, dengan kekuatan vitalitas yang berfungsi secara normal, adalah karena kelima kelompok unsur kehidupan masih dapat bekerja secara harmonis sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu cukup logis untuk menganggap seluruh kelompok unsur kehidupan ini sebagai diri atau Atta. Tanpa adanya kelima ini yang bergabung maka tidak aka nada apapun yang dilekati; juga tidak ada pikiran kelemekatan. Demikianlah logika yang berlaku sepanjang waktu, apakah sebelum, selama dan setelah masa Sang Buddha. Sehubungan dengan kelima petapa, tentu mereka juga terpengaruh oleh konsep itu. Itulah sebabnya mengapa Kondanna menjadi satu-satunya yang memperoleh Mata-Dhamma di akhir Khotbah Pertama. Dan ketika keempat lainnya lebih jauh lagi menerima berbagai tema maka mereka juga memperoleh Mata-Dhamma. Akan tetapi, itu hanyalah penembusan Kebenaran Dukkha, batu loncatan pertama pada pemahaman yang lebih mendalam yang memuncak pada penembusan Kebenaran Anatta di akhir Khotbah ke Dua.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha, Bab 3. Anattalakkhana Sutta
« Reply #8 on: 06 March 2010, 10:54:52 AM »
Penjelasan lebih lanjut mengenai Lima Kelompok Unsur Kehidupan

Perlu dicatat bahwa masing-masing dari kelima Khandha dibahas sebagai suatu kata benda kolektif, dengan sebutan ‘kelompok’ yaitu hal-hal yang digabungkan dan dianggap sebagai sekelompokj. Demikianlah asal nama-nama dari kelompok unsur Rupa, Vedana, Sanna, Saïkhara dan Vinnana. Semua itu adalah kata yang paling sering digunakan dalam naskah-naskah.

Dalam bahasa normal sehari-hari, tentu saja ‘diri’ biasanya pasti merujuk pada kumpulan kelima kelompok ini, yang tanpanya maka tidak ada apapun yang dirujuk. Adalah kelompok-kelompok ini yang menjadi anggapan, pemahaman, dan tempat bersandar bagi kemelekatan pada apa yang disebut ‘diri’. Karena itulah kata lain dengan awalan ‘Upadana’ ditambahkan pada kata itu, yang menjadi Upadanakkhandha’, Kelompok-kelompok sebagai tempat bersandarnya Kemelekatan. Dengan penomoran ‘panca’ berarti ‘lima’ ditambahkan sekali lagi, kata itu menjadi ‘Pancaupadanakhandha’, Lima Kelompok Unsur sebagai tempat bersandarnya Kemelekatan (sebagai Atta).

Dalam Sutta ini Sang Buddha menunjukkan kelima kelompok unsur kehidupan sdebagai bukan-diri atau Anatta. Ini jelas bertentangan dengan kepercayaan umum dan kelima petapa itu. Alasannya, Beliau melanjutkan, adalah bahwa jika kelompok-kelompok itu adalah Atta, maka kelompok-kelompok itu tidak akan mendatangkan ‘penyakit’ dan memenuhi keinginan seseorang sehubungan dengan kelompok-kelompok itu: semoga kelompok-kelompok itu seperti ini dan tidak seperti itu. Tetapi, karena kelompok-kelompok itu mendatangkan ‘penyakit’ dan tidak sesuai dengan kepercayaan umum dan kelima petapa itu, alasannya, Beliau melanjutkan, adalah bahwa karena kelompok-kelompok itu adalah Anatta, yaitu tidak dapat dianggap sebagai diri.

Frasa ‘mendatangkan penyakit’ dapat diartikan secara literal maupun secara konotatif. Dalam kasus pertama, maknanya cukup jelas. Akan tetapi dalam kasus ke dua, kata ini dapat diartikan sebagai ‘terpapar, dan tunduk pada, mencelakai atau unsur-unsur yang menghancurkan.’ Melalui konotasi ini, adalah mungkin memperluas maknanya, menunjukkan fakta bahwa kelima kelompok unsur ini, begitu terlahir, akan terpapar pada kekuatan penghancur usia tua, penyakit dan kematian. Dengan kata lain, kelahiran diikuti oleh kehancuran, kemunduran dan kelenyapan  sebagai akibatnya. Tidak kebal dari sambutan kekuatan-kekuatan penghancur tersebut.

Dengan secara khusus merujuk pada kelompok unsur Bentuk atau jasmani, terlihat jelas bagaimana jasmani mengalami tingkatan perubahan dan kerusakan. Bahwa jasmani tidak lenyap walaupun mengalami perubahan itu adalah karena pertumbuhan yang dihasilkan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Adalah proses ini yang berkontribusi pada kelangsungannya. Pengetahuan medis modern juga menegaskan bahwa bahkan bagian yang paling keras dari tubuh yaitu tulang juga tidak terlepas dari fakta ini. Dapat dikatakan bahwa tulang-belulang ketika seseorang baru lahir dan tulang-belulang ketika ia dewasa adalah sama sekali berbeda. Apalagi bagian lainnya, yang lebih lunak seperti kulit dan daging, proses regenerasi dari bagian-bagian itu tentu saja terjadi lebih cepat lagi. Ini menunjukkan bagaimana kelompok unsur Rupa telah mengalami kelahiran dan kematian terus-menerus. Dan karena kontinuitas inilah, yang disebut Santati dalam Bahasa Pali, bahwa jasmani terlihat hidup walaupun berubah-ubah dan bertransformasi.

Kelompok unsur Vedana, sebutlah Sensasi atau Perasaan, walaupun bukan bersifat materi, terbukti lebih nyata dan lebih cepat dalam hal ini. Coba ingat-ingat berapa kali suatu sensasi bahagia muncul dan lenyap, digantikan oleh perasaan menderita, yang kemudian digantikan oleh perasaan netral, yang pasti akan lenyap tidak lama kemudian. Hal yang sama juga terjadi pada kelompok-kelompok non-materi lainnya, yaitu, Sanna, Saïkhara dan Vinnana. Ingatan atau kekuatan pengenalan kita muncul dan lenyap, kadang-kadang menipu kita. Saïkhara juga tidak kalah cepatnya. Satu pikiran muncul, segera digantikan oleh pikiran lain dalam sekejab. Bahkan Vinnana sebagai kelompok unsur juga mengalami nasib yang sama.

Sekarang, kata Vinnana layak mendapat perhatian khusus. Seperti disebutkan sebelumnya, kata ini memiliki berbagai interpretasi, kadang-kadang berarti pikiran, kadang-kadang berarti sebagai apapun yang mengalami kelahiran kembali, dan kadang-kadang juga berarti kesadaran melalui pintu-pintu indria, misalnya, kesadaran-mata,m kesadaran-telinga. Ini bergantung konteks di mana kata itu digunakan. Umumnya dipahami bahwa kata ini merujuk pada apa yang terlahir kembali. Ini muncul di beberapa tempat dalam naskah-naskah Buddhis dalam kasus-kasus cerita. Ini membuat pemahaman menjadi cukup logis. Akan tetapi, sebagai kelompok unsur ke lima, Vinnana memiliki makna berbeda. Kata ini merujuk pada kesadaran yang dihasilkan karena mata yang bereaksi pada pemandangan dan karena itu disebut Cakkhu Vinnana atau Kesadaran-mata. Melalui pintu-pintu indria lainnya seperti telinga, sebagai reaksi telinga atas suara-suara, disebut Sota Vinnana atau Kesadaran-telinga. Dengan cara yang sama, reaksi atau kesadaran melalui pintu-pintu indria lainnya, yaitu, antara hidung dan bau-bauan, lidah dan rasa kecapan, badan dan kontak disebut Ghana Vinnana (Kesadaran-hidung), Jivha Vinnana (Kesadaran-lidah), Kaya Vinnana (Kesadaran-badan). Yang terakhir disebut Kesadaran-pikiran atau Mano Vinnana, sebagai reaksi pikiran atas tema atau topik pikiran. Dalam makna ini Kelompok unsur Vinnana dapat dilihat sebagai bentuk jamak dengan jumlah banyak jika dipandang dari jalur-jalur kemunculannya. Seperti juga kelompok-kelompok lainnya, Vinnana dalam makna ini juga tidak terkecuali mengalami kemunculan dan kelenyapan terus-menerus yaitu lahir dan mati.

Demikianlah bagaimana kelima kelompok unsur kehidupan terpapar pada ‘penyakit’, karena tunduk pada usia tua, kemunduran, kematian atau kemunculan dan pelenyapan. Kelompok-kelompok ini tidak tunduk di bawah perintah atau keinginan atau apapun atau siapapun, baik dalam hal positif maupun negatif. Kelompok Rupa, misalnya, terus-menerus berubah tanpa henti, tida pernah menetap pada titik di mana seseorang menginginkannya. Vedana juga demikian dalam kondisi berubah terus-menerus. Kebahagiaan, waklaupun kita menginginkannya agar tetap stabil, dan penderitaan, walaupun kita menginginkannya agar lenyap, mengikuti perjalanan alaminya dan bukan mengikuti keinginan dan ketidak-inginan kita. Sanna (atau disebut juga persepsi atau ingatan), Sankhara (pikiran yang terkondisi) dan Vinnana (Kesadaran indria) juga berada dalam perahu yang sama. Karena semua itu ‘terlahir bebas’, karena tidak bergantung pada keinginan atau kendali siapapun, mengikuti bahwa semua itu, dalam makna Buddhis, ‘terpapar pada penyakit’. Karena senantiasa berubah dan terpapar pada penyakit, maka dianggap bukan-diri atau Anatta, bukan diri siapapun dan bukan milik siapapun.

Oleh karena itu, jika ada yang layak untuk dianggap sebagai Atta, maka ia tidak akan terpapar pada ‘penyakit’ dan seharusnya tunduk di bawah kendali seseorang. Sebaliknya, maka tidak dapat disebut Atta atau diri. Demikianlah maka kelima kelompok unsur ini bukanlah Atta.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddham, Bab 3. Anattalakkhana Sutta
« Reply #9 on: 06 March 2010, 10:56:35 AM »
Ujian Pertama

Setelah menunjukkan bagaimana karakteristik Anatta dapat dikenali, Sang Buddha menguji pemahaman kelima petapa dan penerimaan mereka atas kebenaran itu, menanyakan kepada mereka apakah kelima kelompok unsur kehidupan adalah kekal atau tidak. Mereka memberikan jawaban negatif. Beliau menanyakan lebih jauh apakah yang tidak kekal itu dapat dianggap mengakibatkan kebahagiaan atau penderitaan. Mereka mengakui bahwa itu mengakibatkan penderitaan. Pada ke tiga kalinya, Sang Buddha mempertanyakan sikap mereka, dengan menanyakan, sehbungan dengan apa yang menimbulkan penderitaan dan tunduk pada kemunduran dan kerusakan, apakah layak menganggapnya sebagai Atta atau diri. Mereka memberikan jawaban seperti sebelumnya, negatif.

Itu dapat dianggap sebagai ujian pertama yang terjadi pada pengajaran Buddhis, sebagai ujian persis setelah instruksi disampaikan. Pertanyaan ujian di sini adalah berdasarkan pada ketiga karakteristik yaitu, perubahan, kehancuran dan corak tanpa inti atau bukan-diri. Adalah setelah Sang Buddha selesai menjelaskan karakteristik-karakteristik dari kelompok-kelompok unsur, maka Beliau menyimpulkan apa yang telah Beliau instruksikan sejauh ini, mempertanyakan sikap mereka terhadap kelompok-kelompok unsur ini. Setelah memahami karakteristik-karakteristik tersebut, mereka siap menerima perubahan atas dasar bahwa kelompok-kelompok unsur itu tunduk pada ‘penyakit’ dan dengan demikian tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, selanjutnya, bahwa kelompok-kelompok itu menghasilkan Dukkha, -- apa yang tidak dapat selalu stabil atau tidak tak-terhancurkan. Ini disebut Viparinama-dhamma, apa yang bersifat bergerak dan berubah. Kata ini banyak terdapat dalam naskah-naskah. Karena itu tidaklah layak untuk menganggap kelompok-kelompok itu sebagai ‘Etaÿ mama’ – ini milikku, ‘Eso hamasmi’ – ini aku, ‘Eso me atta’ – ini diriku.

Setelah bertanya kepada kelima petapa dan mengetahui sikap mereka, Sang Buddha merangkum instruksinya, menuntun mereka menuju kesimpulan yang mencakup segalanya bahwa semua kelompok unsur kehidupan, apakah di masa lalu, di masa sekarang atau di masa depan, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, jauh atau dekat, adalah sekadar kelompok Rupa, Vedana, Sanna, Sankhara dan Vinnana. Tidak untuk dianggap, dengan sikap batin yang benar, bahwa kelompok-kelompok itu adalah milik seseorang, bahwa seseorang bukanlah kelompok-kelompok itu dan bahwa kelompok-kelompok bukanlah diri seseorang.

Kemudian Sang Buddha melanjutkan membabarkan kepada mereka sehubungan dengan hasil dari penembusan itu yang mengakibatkan bahwa seorang siswa mulia, setelah mendengar, yaitu setelah memiliki pengetahuan benar demikian, menjadi kecewa terhadap kelima kelompok unsur kehidupan. Dengan kekecewaan itu muncullah kebosanan (viraga). Selanjutnya muncul kebebasan (Vimutti).  Kemudian dalam rangkaian itu muncullah pandangan terang yang memahami kebebasan itu. Ini adalah hasil Lokuttara yang terdiri dari Sammappanna (Pengetahuan Benar), Nibbida (Keletihan yang mengecewakan), Viraga (Kebosanan), Vimutti (Kebebasan) dan Vimuttinanadassan (Pandangan terang yang menembus kebebasan itu).

Ini adalah bagaimana Pengetahuan Benar yang melibatkan kelima kelompok unsur kehidupan adalah batu loncatan yang menuntun menuju pencapaian yang lebih tinggi, yang memuncak pada Pandangan terang yang menembus semua pencapaian sebelumnya. Ini layak diperhatikan demi pemahaman yang lebih baik atas instruksi-instruksi pada tahap ini dalam naskah dan khotbah lainnya.

‘Mengenali wajah-wajah’

Akan kita lihat bagaimana pentingnya bagi umat Buddha untuk ‘mengenali wajah-wajah’ dalam arti kiasan, dari kelima kelompok unsur kehidupan ini setiap saat kelima itu muncul dalam batin. Ini sebagai tambahan dari mengingat namanya. Karenanya adalah penting untuk mengetahui sifatnya, yaitu, ketiga karakteristik yang olehnya kelompok-kelompok itu dikendalikan, yaitu, perubahan, kehancuran dan sifat tanpa-inti atau bukan-diri. Ini akan jauh lebih bermanfaat daripada mengetahuinya melalui Sanna yaitu dengan cara menghapalkan namanya. Adalah dengan mengetahui, yaitu, mengenali sifatnya, setelah mengenali ‘wajahnya’, maka batu loncatan pertama menuju hasil Lokuttara, yaitu Nibbida (keletihan yang mengecewakan atau kekecewaan) dapat muncul. Seorang Buddhis yang memahami proses ini berada dalam posisi untuk memahami kebenaran yang lebih mendalam dari praktik ini.

Menurut Sutta, kelima petapa itu setelah mendengarkan instruksi Sang Buddha, batin mereka diliputi oleh kegembiraan meluap, yang berakibat mereka menjadi sama sekali terlepaskan dari segala kekotoran tersembunyi yang melekat di sana. dengan demikian itu adalah saat di mana terdapat enam Arahant di dunia ini, dengan Sang Buddha sendiri sebagai yang pertama dalam kelompok itu. Dengan pencapaian itu maka pada hari itu muncullah tiga permata dalam makna tertinggi dari kata ini. Yaitu Sang Buddha, Dhamma dan pada saat ini, Sangha dalam sosok kelima petapa. Disebutkan bahwa hari itu adalah hari ke lima paruh ke dua pada bulan Lunar Savana, yang sama dengan hari ke lima bulan lunar ke delapan Thailand.

Sehubungan dengan hari purnama lima hari sebelumnya, ketika Sang Buddha membabarkan Khotbah Pertama, hanya Petapa Kondanna yang memperoleh Mata-Dhamma, menjadi seorang Pemasuk-arus, masih belum menjadi seorang Arahant, ini dapat dianggap sebagai hari di mana batu-loncatan pertama menuju Kearahatan diletakkan. Adalah lima hari kemudian, ketika kelima petapa menjadi saksi penuh atas Pencerahan Sang Buddha, maka Kerajaan Buddhisme untuk pertama kalinya dibangun dengan kokoh di dunia.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha, Bab 3. Anattalakkhana Sutta
« Reply #10 on: 06 March 2010, 10:57:30 AM »
KETIGA KARAKTERISTIK

Adalah perlu
Untuk mengenali ‘wajah-wajah’
Jika seseorang ‘melihat’
Masing-masing dari lima kelompok unsur kehidupan

Ini akan mendorong
Perenungan mereka
Menjadi jauh lebih produktif
Menghasilkan buah yang lebih pasti

Daripada sekadar menghapalkan
Hanya mengetahui nama-namanya,
Tidak mengetahui ukuran,
Dan wajah, and bentuk dan popularitas.

Khandha Vinnana
Adalah seperti penyihir
Dikatakan oleh Sang Buddha
Dalam salah satu khotbahNya

Popularitas dan pengaruhnya
Menguasai ketiga alam
Dengan semua individu
Berada dalam jajahannya

Bagaimana semua kelompok unsur ini
Bergabung dalam jasmani-dan-batin
Lahir, berlangsung dan lenyap
Dengan kemelekatan terjalin

Seorang yang bercita-cita harus ‘melihat’
Berdasarkan pada perenungan pada
Tiga Karakteristik
Tanpa Keinginan untuk melekat

Dengan masing-masing ‘wajah’ diingat
Dan semua tipuan dikenali
Tidak ada beban yang dipikul
Juga kemelekatan oleh sang bijaksana

Demikianlah batu loncatan
Minimal bagi Pemasuk-arus,
Benih mulia telah ditanam
Tidak ada langkah mundur selamanya.


Kelompok-Kelompok unsur Terprogram

Semua kelompok unsur telah terprogram
Oleh kelompok Tiga ‘Tilakkhana’
Keberadaannya hanyalah sekadar kepura-puraan
Ini dinyatakan oleh Sang Buddha.

Demikianlah tidak ada apapun yang dapat dimiliki
Yang ada hanyalah hal-hal yang ‘dipinjamkan’
Suatu hari hal-hal itu harus ditinggalkan
‘Dikembalikan’ dengan pelepasan

Semoga umat-umat Buddha tidak mengidengtifikasikan
Diri mereka sebagai kelompok unsur apapun
Melekatinya sebagai “Aku, diriku, milikku.”
Ini agar mereka dapat menurunkan beban

Hal itu menguasai kehidupan dan batin mereka
Selanjutnya mereka akan terberkahi oleh
Mata batin mereka tidak lagi buta
Tugas-tugas mereka selesai


- Bab 3 Selesai -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 4. Yang Mulia Yasa
« Reply #11 on: 08 March 2010, 10:23:32 AM »

Bab 4
Yang Mulia Yasa


Pada saat itu di Kota Benares terdapat putera seorang perumah tangga kaya bernama Yasa, yang merupakan putera kesayangan orang tuanya. Orang tuanya yang sangat mengasihinya telah (seperti dalam kasus Sang Buddha) membangun tiga tempat tinggal untuknya, satu untuk setiap musim. Sejak lahir ia selalu mendapatkan apapun yang diinginkan oleh seorang anak atau pemuda seusianya. Ia menjalani kehidupan yang nyaman dan menyenangkan di tengah-tengah kenikmatan musik dan hiburan yang disajikan kepadanya oleh gadis-gadis muda. Hari terpenting dalam hidupnya adalah pada suatu malam ketika ia, setelah pergi tidur paling awal, terbangun pada larut malam, dan menyaksikan apa yang menjadi batas kehidupannya. Ini adalah pemandangan dari selir-selirnya yang sedang tidur di kamarnya dalam berbagai posisi yang tidak senonoh. Pemuda ini seketika dikuasai oleh perasaan jijik, yang memicunya menyerukan, “betapa kotornya tempat ini! Betapa menyedihkannya!” terdorong oleh perasaan jijik demikian ia pergi keluar menuju kegelapan malam, secara kebetulan ia berjalan ke arah Taman Rusa Isipatana, di mana Sang Buddha sedang bermeditasi jalan. Mendengar pemuda itu masih mengeluhkan ketidak-senangannya, Sang Buddha memanggilnya dengan berkata, “Tempat ini tidak kotor, juga tidak menyedihkan …” Setelah mendengar kata-kata itu, sang pemuda gembira, dan berkata kepada diri sendiri, “Baik sekali jika tempat ini tidak kotor juga tidak menyedihkan.” Ia duduk di depan Sang Buddha, yang kemudian membabarkan Khotbah tentang Lima Tema Penting Bertingkat. Ini dalan Bahasa Pali disebut Anuppubãkathà. Instruksi ini diikuti dengan Khotbah tentang Empat Kebenaran Mulia, yang pada akhirnya sang pemuda terberkahi dengan Mata-Dhamma, yang dengan demikian mentransformasinya menjadi seorang Sotàpanna atau Pemenang-arus.

Sang pemuda menghilang ketika si ibu pergi menemuinya di pagi hari dan tidak menemukannya di kamarnya. Ia memberitahukan kepada sang ayah, yang segera membentuk tim pencari ke segala penjuru. Dan dirinya sendiri mencari ke arah Isipatana, ia melihat sandal puteranya dan, mengikuti jejaknya, ia mendekati Sang Buddha dan bertanya kepada Beliau apakah Beliau melihat puteranya. Sang Buddha memintanya untuk duduk agar ia dapat melihat puteranya. Kemudian Sang Buddha membabarkan kepadanya Lima Tema Penting Bertingkat dan Empat Kebenaran Mulia seperti yang Beliau babarkan kepada Yasa. Di akhir khotbah itu ayah Yasa menjadi seorang Pemasuk-arus dan menyatakan dirinya sebagai seorang Upàsaka atau siswa awam laki-laki, menerima perlindungan dari Buddha, Dhamma, dan Sangha seumur hidupnya. Ia adalah siswa awam laki-laki yang pertama yang mengambil Tiga Permata sebagai perlindungannya.

Apa yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa, sewaktu Sang Buddha sedang memberikan instruksi kepada ayah Yasa, sang pemuda juga mendengarkan khotbha yang sama, meninjau kembali dan meningkatkan intensitas pemahamannya akan Dhamma selagi duduk di dekat sana (Baik si ayah maupun putera tidak saling melihat). Di akhir khotbah itu, sang pemuda dengan penembusannya yang diperdalam mampu mencapai Kearahatan, dan karena itu menjadi seorang Arahant. Pada saat itulah sang ayah dapat melihat puteranya dan menyuruhnya untuk segera pulang agar ia dapat menyelamatkan hidup ibunya, yang meratapi kehilangannya. Kemudian Sang Buddha memberitahukan kepada sang ayah bahwa puteranya telah mencapai Kearahatan dan oleh karena itu tidak berada dalam posisi untuk kembali kepada kehidupan awam seperti sebelumnya. Kemudian ayah Yasa memberikan penghormatan dan mengundang Sang Buddha, bersama dengan Yasa sebagai bhikkhu pelayan, untuk makan di rumahnya. Kemudian ia pulang untuk memberitahukan kabar gembira itu kepada istrinya, sementara Yasa memohon penahbisan dari Sang Buddha, -- yang diberikan oleh Sang Buddha dengan cara seperti sebelumnya yang disebut penahbisan Ehi Bhikkhu.

 Pagi harinya Sang Buddha dan Yang Mulia Yasa sebagai Bhikkhu pelayan pergi ke rumah Yang Mulia Yasa untuk makan. Di sana Beliau membabarkan khotbah kepada Ibu Yasa dan mantan istrinya, yang dalam Bahasa Pali di sebut Purànadutiyika, perempuan yang dulunya adalah istrinya. Keduanya menjadi Pemasuk-arus melalui khotbah yang sama tentang Lima Tema dan Empat Kebenaran Mulia. Kedua perempuan itu menyatakan diri mereka sebagai Upàsikà, umat awam perempuan yang mengambil Perlindungan di dalam Tiga Permata seumur hidup mereka. Mereka adalah umat awam perempuan pertama dalam Buddhisme.

Kemudian empat teman Yang Mulia Yasa. Mereka adalah juga para putera keluarga kaya yang telah lama bersahabat satu sama lain. Setelah mendengar pelepasan keduniawian Yasa, mereka datang dan mendekati Sang Buddha, yang membabarkan khotbah yang sama dan ditahbiskan dengan cara yang sama, setelah semuanya menjadi Arahant. Demikianlah pada saat itu terdapat sebelas Arahant di dunia. Kemudian lagi sekelompok yang berjumlah lima puluh orang teman yang Mulia Yasa, Setelah mendengar pelepasan keduniawian teman-teman mereka dan menyimpulkan bahwa itu tentu berdasarkan pada tujuan mulia dan dianugerahi dengan pencapaian mulia pula, mereka datang menghadap Sang Buddha, yang kemudian membabarkan instruksi yang sama diikuti dengan berbagai khotbah dan akhirnya mencapai Kearahatan seperti sebelumnya, dengan demikian jumlah Arahant menjadi enam puluh satu. Dengan jumlah yang cukup banyak ini, Sang Buddha memanggil mereka dan memberikan instruksi khusus kepada mereka, dengan mengatakan:

“Sang Tathagata terbebaskan dari segala belenggu, baik surgawi maupun manusiawi. Demikian pula kalian semua. Sekarang pergilah demi manfaat, keuntungan dan kebahagiaan banyak makhluk, dewa serta manusia. Jangan ada dua orang pergi bersama pada arah yang sama. Pergilah sendiri-sendiri, pada arah tertentu. Babarkanlah Dhamma, yang indah di awal, di pertengahan, dan di akhir, baik dalam makna maupun kata-katanya, nyatakanlah kehidupan suci yang murni dan sempurna. Ada makhluk-makhluk yang mata-kebijaksanaannya tidak terlalu tertutup oleh debu kekotoran. Makhluk-makhluk itu, jika tidak mendengarkan Dhamma, akan kehilangan pencapaian. Demikianlah terdapat makhluk-makhluk yang mampu memahami Dhamma. Sedangkan Sang Tathagata, Aku akan pergi ke wilayah Uruvela untuk membabarkan Dhamma.”

Demikianlah pertama kali Sang Buddha mengutus para siswa Arahant untuk memulai misi mereka, dengan masing-masing mengambil satu arah dan tujuan.

Setelah mengutus dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Para siswa Arahant pergi ke arah dan tujuan berbeda dan berhasil dalam menginspirasi serta mengesankan orang-orang di berbagai negeri dengan Dhamma yang mereka babarkan. Akan tetapi, ketika dimohon penahbisan, mereka terpaksa membawa orang-orang itu kepada Sang Buddha agar mereka dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu secara resmi. Ini menghabiskan banyak waktu dan banyak kesulitan karena mereka harus melakukan perjalanan jauh. Sang Buddha melihat hal ini kemudian memberikan mandatnya kepada para bhikkhu agar mereka berkuasa untuk memberikan penahbisan. Ini dilakukan dengan jenis lain penahbisan yang disebut Tisaraõagamanupasampada. Dengan cara ini seorang calon harus terlebih dulu mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah Kàsàya dengan menutup satu bahunya. Kemudian ia bersujud di kaki Bhikkhu gurunya, berlutut dan merangkapkan tangan sebagai penghormantan, kemudian membacakan kata-kata yang mengungkapkan keyakinannya pada Tiga Permata tiga kali. Demikianlah penahbisan cara ke dua yang resmi.
« Last Edit: 08 March 2010, 02:34:13 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 4. Yang Mulia Yasa
« Reply #12 on: 08 March 2010, 10:25:17 AM »
Anupubbikatha: Lima Tema Penting Bertingkat
 
Berikut ini adalah penjelasan atas apa yang disebut Lima Tema Penting Bertingkat dan Empat Kebenaran Mulia yang dengannya Sang Buddha memberikan instruksi kepada Yasa dan para siswa lainnya.

Anupubbikatha, secara literal berarti topik-topik penting bertingkat, yang berjumlah lima, adalah: Dana (Kedermawanan), Sila (Aturan-aturan moralitas), Sagga (Alam surga), Kamadinava (cacat dari kenikmatan indria) dan Nekkhammanisansa (Manfaat dari pelepasan yaitu melepaskan kenikmatan indria).

Dàna memiliki dua makna yaitu yang merujuk pada materi, ini berarti benda-benda materi yang diberikan atau dilepaskan, sedangkan yang merujuk pada Cetanà berarti niat untuk memberi atau turut mengambil bagian. Tujuan dari Dàna dalam Buddhisme adalah mendorong orang-orang untuk bergembira dalam memberi, yang kadang-kadang dapat berupa memberikan bantuan dan kadang-kadang dalam bentuk puja. Akan tetapi, kedua kasus dimaksudkan untuk mengurangi keserakahan dan kekikiran yang mengotori batin dan pada saat yang sama berbagi harta kekayaan seseorang dengan orang lain. Ini sama dengan berbagi kebahagiaan seseorang, tidak menyimpannya semua untuk diri sendiri.

Akan tetapi, agar suatu tindakan kedermawanan memberikan hasil maksimum, ada tiga faktor yang terlibat. Pertama adalah Vatthusampatti, kesempurnaan benda-benda yang diberikan, yang harus bermanfaat bagi yang menerima hingga batas tertentu, bukan, misalnya, racun. Ke dua adalah Cetanàsampatti, kesempurnaan niat atau kehendak. Ini merujuk pada kehendak yang benar dan tidak egois sebelum, pada saat, dan setelah tindakan kedermawanan itu. Ke tiga adalah Pañigàhakasampatti, kesempurnaan pada pihak si penerima. Ini berarti bahwa si penerima juga harus, memiliki kualitas, yang layak untuk diberikan kedermawanan, misalnya seseorang yang membutuhkan atau seorang yang layak dipuja. Dari sini, jelas bahwa kedermawanan yang dipuji oleh Sang Buddha adalah yang berdasarkan pada kebijaksanaan penyelidikan. Dengan kata lain, harus selektif dan analitis, tidak dilakukan secara acak. Seperti disebutkan sebelumnya, orang yang memberikan kedermawanan harus memilih benda-benda untuk diberikan, menganalisa kehendaknya sendiri dan memperhatikan si penerima dengan saksama. Ini untuk mencegah agar si pemberi tidak menyesal atau mengalami kesulitan kelak. Demikianlah yang pertama dari lima tema penting bertingkat.

Ke dua dalam rangkaian ini adalah Sila, Aturan-aturan atau Moralitas, secara literal berarti ‘normal’. Kata ini merujuk pada kondisi jasmani, ucapan dan pikiran normal dalam arti bahwa tidak dikuasai oleh kekotoran atau Kilesa, sehingga tidak melakukan kejahatan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran. Untuk mencapai ini, harus ada apa yang disebut Viratticetana, niat untuk menghindari tindakan demikian. Sila dalam Buddhisme terdiri dari berbagai jenis dan tingkat, seperti Lima Aturan, niat untuk menghindari lima jenis perbuatan mencelakai makhluk lain. Demikianlah Lima Aturan adalah kondisi tidak mencelakai atau tidak dalam posisi membahayakan makhluk lain. Untuk melaksanakan Aturan-aturan berarti sama dengan memberikan Dàna keselamatan kepada semua makhluk hidup. Pelaksana-aturan sendiri juga menikmati manfaat dari tidak dibenci atau tidak membahayakan diri mereka sendiri dari makhluk-makhluk lain. Ini adalah Tema Penting Bertingkat yang ke dua.

Berikutnya adalah Tema Sagga atau alam surga. Akar etimologis dari kata ini layak diperhatikan, karena kata ini dapat diinterpretasikan sebagai berarti belenggu atau kenikmatan luar biasa. Umumnya dipahami bahwa alam surga adalah alam atau dimensi lain dari kehidupan saat ini di sini. Ini dicapai setelah hancurnya jasmani dari mereka yang telah mengumpulkan jasa dalam kehidupan ini. Ada beberapa rujukan dalam naskah Pali seperti Cha-kamavacara Sagga yaitu enam alam surga kenikmatan indria. Konsep ini berasal dari masa sebelum Buddhisme. Konsep ini sebagian masuk ke dalam Buddhisme pada masa setelahnya.

Dalam makna lain, Tercatat bahwa Sang Buddha menginterpretasikan makna ‘alam kebahagiaan’ (dalam Saÿ. Saëa 18/159/215), berkonsentrasi pada kondisi-kondisi saat-saat pikiran yang jelas, yang menghasilkan,

“Ketika muncul pengalaman yang nikmat dan menyenangkan, melalui mata, itu adalah Phassayatana (kontak melalui pintu-pintu indria) alam surga melalui pemandangan.

“Ketika muncul pengalaman yang nikmat dan menyenangkan, melalui telinga, itu adalah Phassayatana  alam surga melalui suara-suara.

“Ketika muncul pengalaman yang nikmat dan menyenangkan, melalui hidung, itu adalah Phassayatana  alam surga melalui hidung.

“Ketika muncul pengalaman yang nikmat dan menyenangkan, melalui lidah, itu adalah Phassayatana  alam surga melalui lidah.

“Ketika muncul pengalaman yang nikmat dan menyenangkan, melalui badan, itu adalah Phassayatana  alam surga melalui badan.

“Ketika muncul perenungan melalui pikiran yang nikmat dan menyenangkan, melalui mata, telinga, dan seterusnya, itu adalah Phassayatana  alam surga melalui Dhamma (di sini berarti pikiran).”

Kata-kata Sang Buddha di atas menunjukkan  makna secara umum dan menyeluruh dari kata ‘surga’ atau ‘alam surga’, karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu dapat merujuk pada masa sekarang atau masa depan, di sini atau setelah kehidupan ini. Ketika muncul pengalaman demikian, maka itu dapat diinterpretasikan sebagai Sagga atau surga karena hal tersebut merupakan jenis atau tingkatan yang tinggi dank arena hal tersebut juga merupakan tempat bersandarnya kemelekatan pada tingkat yang cukup kuat, sebagai terpenuhinya keinginan seseorang. Akan tetapi, alam surga dalam makna yang dirujuk di atas adalah berdasarkan pada perbuatan baik Dàna atau kedermawanan yang diikuti oleh seseorang yang menjalankan aturan-aturan atau Moralitas yaitu Sila. Dalam konsep praktis saat ini, penjelasan Sang Buddha bukanlah tidak masuk akal. Jika orang-orang bergembira dalam membagi apa yang mereka miliki sebagai suatu cara untuk berbagi kebahagiaan dan jika mereka kokoh dalam Aturan-aturan moralitas, tidak melakukan praktik mencelakai atau kekerasan dalamn bentuk apapun, melainkan siap memaafkan dan melupakan, maka mereka pasti dapat menjalani kehidupan yang harmonis dan bersahabat. Ke arah manapun mereka berpaling, jelas bahwa mereka akan selalu terberkahi dengan pengalaman-pengalaman yang damai dan menyenangkan melalui semua pintu indria, baik melalui mata, telinga dan seterusnya. Mereka tidak akan pernah mengalami kesulitan atau penderitaan sebagai akibat dari mengambil keuntungan secara curang dari orang lain, yang dapat menanamkan benih kemarahan, kebencian atau kekerasan. Demikianlah karakteristik praktis dan nyata dari kehidupan di ‘alam surga’. Ini adalah Tema Penting Bertingkat yang ke tiga.
« Last Edit: 08 March 2010, 02:35:00 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 4. Yang Mulia Yasa
« Reply #13 on: 08 March 2010, 10:26:41 AM »
Tema ke empat disebut Kamadinava, cacat atau bahaya dari kenikmatan indria. Bahwa alam surga disebut Kama atau alam kenikmatan indria adalah karena masih terselimuti dalam kenikmatan indria-indria yang sangat memuaskan, memenuhi-keinginan. Kata ‘Kama’, yang secara literal diterjemahkan menjadi kenikmatan-indria, dapat digunakan untuk merujuk pada obyek-obyek eksternal yang menghasilkan kenikmatan atau pada perasaan nikmat yang disebabkan oleh obyek-obyek tersebut. Sesungguhnya, apa yang menghasilkan perasaan nikmat dalam obyek-obyek eksternal bukan lain adalah kekotoran yang melekat pada pikiran itu sendiri. Oleh karena itu faktor internal inilah yang menjadi penyebab sebenarnya dari kenikmatan itu. Tanpa adanya kekotoran demikian dalam pikiran maka obyek-obyek eksternal itu akan menjadi netral. Oleh karena itu, bagi kaum duniawi, ke manapun mereka pergi dan menetap, tempat-tempat tersebut dapat memberikan sesuatu yang menyenangkan indria. Sebaliknya, bagi para Arahant, yang telah mencabut seluruh keinginan dalam kenikmatan indria, mereka tidak akan menemukan apapun yang dapat memunculkan kenikmatan indria, yang telah mereka singkirkan untuk selamanya. Adalah karena fakta inilah maka kata Kàmà dapat digunakan untuk merujuk baik pada obyek-obyek eksternalo maupun pada kekotoran dalam batin walaupun dalam banyak kasus makna pertama lebih sering disiratkan.

Sekarang alam surga Sagga, betapapun besar dan halusnya kenikmatan yang ditawarkan, namun itu tetap adalah kenikmatan indria. Oleh karena itu tunduk pada perubahan dan kemunduran, karena berada dalam lingkaran kelahiran dan kematian, tidak peduli betapa lambatnya proses perubahan itu dibandingkan dengan alam manusia. Dengan keinginan dan akibat kemelekatan pada makhluk0makhluk itu yang memberikan banyak kenikmatan dan kesenangan, dapat dipastikan bahwa, ketika tiba saatnya bagi mereka untuk mengalami penderitaan yang tak terhindarkan dari kemunduran dan kelenyapan, kesedihan dan dukacita sebagai akibat dari keinginan yang kuat dan kemelekatan juga pasti menjadi kuat dan tajam. Oleh karena itu, ini adalah cacat dan bahaya dari kenikmatan indria, yang menjadi tema ke empat dari Lima Tema Penting Bertingkat.

Terakhir adalah Tema Nekkhamma, manfaat dari melepaskan keinginan dan kemelekatan terhadap kenikmatan dalam obyek-obyek indria itu. Ini dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu, jasmani dan batin. Kelompok jasmani menyiratkan pelepasan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, sedangkan kelompok batin merujuk pada usaha untuk menenangkan dan memusatkan pikiran, sehingga bebas dari kualitas-kualitas tidak baik, yaitu pikiran-pikiran dan emosi yang tidak terampil. Sebagai akibat dari ini, batin menjadi diliputi oleh kebahagiaan dan kedamaian, karena terlepas dari kemelekatan pada ‘kenikmatan’ yang dianggap dihasilkan dari obyek-obyek ‘kenikmatan’ itu. Ini adalah tema ke lima dari rangkaian yang disebut Anupubbikathà.

Adalah ketika Sang Buddha melanjutkan hingga titik ini Beliau mengamati (secara batin) bahwa batin para pendengarNya telah terberkahi dengan sinar, dan karenanya bebas dari rintangan-rintangan batin dan dengan demikian siap untuk menerima instruksi lebih lanjut. Ini bagaikan sehelai kain yg noda-nodanya tercuci, siap untuk menyerap pewarna. Kemudian Beliau melanjutkan dengan memberikan instruksi lebih lanjut kepada mereka tentang Empat Kebenaran Mulia, menunjukkan kepada mereka Kebenaran tentang Dukkha, Penyebabnya, Padamnya dan Jalan menuju ke sana, semua ini dengan cara yang telah dijelaskan dalam Khotbah Pertama. Tema tentang Empat Kebenaran Mulia ini disebut Samukkansika dhammadesana yaitu Khotbah yang dibabarkan kepada orang-orang yang telah Beliau tembus sendiri melalui PencerahanNya. Biasanya, setelah Sang Buddha membabarkan tema-tema ini satu demi satu kepada para pendengarNya, para pendengarNya akan, menuruti aturan, mencapai Mata-Dhamma yang disebut Jalan Pemenang-Arus atau Sotapanna.

Yang juga harus diperhatikan adalah bahwa Kelima Tema Penting ini yang diikuti dengan Empat Kebenaran Mulia dibabarkan oleh Sang Buddha hanya kepada manusia yang adalah orang awam. Tidak pernah tercatat pernah dibabarkan kepada para bhikkhu atau para dewa. Terlebih lagi, orang-orang awam itu harus telah dilihat (melalui mata batin) cukup matang untuk diberkahi dengan cahaya batin dan kegembiraan setelah mendengarkan khotbah. Sebagai akibatnya, khotbah itu tidak pernah gagal memberikan hasil seperti yang telah diramalkan: pencapaian Mata-Dhamma atau Pemenang-arus oleh pendengar.

Kata Dhammacakkhu digunakan untuk menyiratkan pencapaian kebenaran bahwa apapun yang dilahirkan pasti mengalami kemunduran atau lenyap. Karena hal ini mengkarakteristikkan kondisi dari seorang Sotàpanna, maka, tidak peduli melalui khotbah apapun orang itu menerima instruksi, jika ia mampu memenangkan tahap pencapaian ini, maka ia pasti memperoleh penembusan ini. Atas dasar ini maka dapat diduga bahwa hal ini bukan lain adalah penembusan ke dalam kebenaran-kebenaran sehubungan dengan penderitaan. Karena memahami kelahiran dan kemunduran berarti memahami penderitaan, dan sebaliknya.  Dalam kasus kaum duniawi, hanya kelahiran yang dapat diketahui yaitu dikenali atau diterima karena itu adalah proses yang telah dijalani. Akan tetapi, masih belum ada pengenalan atau penerimaan atas kemunduran atau kematian, karena bagi mereka hal tersebut masih berada di masa depan, masih belum terjadi pada mereka. Ini berarti pengenalan sebagian atau satu-sisi. Ini adalah pengetahuan  separuh, karena kehilangan separuh lainnya, yang menjadi tambahan atau pelengkapnya. Demikianlah Mata-Dhamma, seorang yang melihat Dhamma atau Kebenaran, harus menyiratkan kedua sisinya, aspek yang tidak terpisahkan: Kelahiran dan kematian yang bergantian dalam suatu proses tanpa akhir. Adalah ketika seseorang mampu melihat keseluruhan proses ini secara terus-menerus yaitu tanpa terputus maka tahta kekotoran dapat diturunkan, karena tidak ada landasan di mana ia dapat bersandar. Untuk selanjutnya tidak ada tempat bagi cinta dan benci, atau bagi keinginan dan ketidak-senangan, yang keduanya tumbuh subur di atas konsep bahwa ada sesuatu yang sungguh-sungguh ada. Tanpa ada sesuatu yang terlihat ada, maka tidak aka nada apapun sebagai tonggak atau landasan bagi kekotoran untuk bergantung atau bersandar.
« Last Edit: 08 March 2010, 02:35:48 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 4. Yang Mulia Yasa
« Reply #14 on: 08 March 2010, 10:27:27 AM »
Karena alasan ini, kaum duniawi tidak dapat dikatakan telah menembus Kebenaran Penderitaan. Jika mereka  melihat atau mengenalinya, itu hanyalah sebagian, -- hanya pada tingkat yang sepele. Karena agar Mata-Dhamma dapat muncul, seseorang harus melihat atau mengenali prose situ secara menyeluruh, memahami kemunduran dan kematiannya secara bersamaan yaitu pada saat kelahiran terlihat. Ini disebut masa kini, seperti meneropong kedua aspek kebenaran dan menyelaraskannya ke dalam satu saat pada saat ini, ketika kekotoran kehilangan tonggak atau landasannya. Ini adalah apa yang dimaksud dengan Mata-Dhamma. Oleh karena itu, tidak peduli apapun tema khotbah yang disampaikan, apakah awalnya, pertengahannya, dan akhirnya. Dengan kata lain, tidak ada penekanan pada kemampuan untuk menghapalkan khotbah atau instruksi itu kata demi kata. Tujuannya di sini hanyalah makna yang disiratkan oleh kata-kata itu, yang bervariasi sesuai konteksnya, dan dengan akibat pemahaman itu, yang berarti pemahaman mendalam atas kata-kata itu dimaksudkan untuk menuntun seseorang. Pencapaian pertama dalam Buddhisme adalah pencapaian Mata-Dhamma ini, yang merupakan batu-loncatan menuju pencapaian yang lebih tinggi atau yang tertinggi, melalui beberapa instruksi lainnya yang dilihat oleh Sang Buddha sesuai bagi orang tersebut.


Dhamma bukanlah sebuah jurang
Sebaliknya, Dhamma adalah lembah yang landai
Dengan sistem praktik setahap demi setahap
Bagi kita semua agar memiliki harapan

Seandainya saja kita bias bersungguh-sungguh
Memperbaiki kekurangan kita,
Tidak mundur oleh ketakutan,
Berusaha untuk naik setahap demi setahap.

Selagi menikmati kenikmatan indria
Jangan sampai terbawa arusnya
Penuh perhatian akan bahayanya
Agar kita dapat melepaskannya suatu hari

Merenungkan Kebenaran Mulia,
Kita akan menunaikan pendakian kita,
Memenangkan yang mutlak
Terberkahi dengan Pencerahan.

Proses ini telah dijalankan
Dengan batin yang teguh dan berani.
Mereka tidak putus harapan merasakan kesedihan
Melainkan berjuang hingga mereka menemukan

Minimal hingga pada ‘Arus’
Di mana seseorang tidak akan mundur –
Langkah pertama menuju kebahagiaan tertinggi –
Sebagai patokan, puncak keberhasilan.

Ini tidak dapat dimonopoli,
Karena meupakan panggilan batin
Yang mengisyaratkan kita untuk mengukur ketinggiannya
Dan memenangkan kebahagiaan tertinggi dari segalanya.

-Bab 4 Selesai –

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #15 on: 12 March 2010, 11:39:33 PM »
- BAB 5 –
Para Petapa Berambut Kusut


Sang Buddha
setelah melewatkan masa vassa di taman rusa Isipatana kemudian pergi kembali, menurut Komentar, pada hari pertama paruh ke dua bulan itu, menuju wilayah Uruvela Senanigama, di mana Beliau mencapai Pencerahan. Tujuannya adalah untuk mencerahkan kelompok petapa berambut kusut, yang berjumlah seribu orang yang membangun pertapaan mereka di sana. Sewaktu dalam perjalanan itu Beliau berisitarahat di bawah keteduhan pohon berdaun rimbun di sebuah kebun kapas. Pada saat itu di sana sekelompok 30 pemuda yang disebut Bhaddavaggiya yang sedang bersenang-senang bersama dengan istri mereka masing-masing di dekat sana. Akan tetapi, ada seorang pemuda yang, tidak memiliki istri, membayar jasa pelacur untuk menjadi istri sementaranya. Pada saat mereka semua lengah, pelacur itu membawa pergi benda-benda berharga milik mereka. Setelah mengetahui hal ini, mereka pergi mencari perempuan itu dan bertemu dengan Sang Buddha. Ketika ditanya mengenai perempuan yang mereka cari Sang Buddha bertanya kepada mereka apakah lebih baik mencari perempuan itu atau mencari diri mereka sendiri. Mungkin karena bingung, mereka menjawab, karena penasaran, bahwa mereka lebih baik mencari tahu siapakah  mereka itu. Selanjutnya, Sang Buddha membabarkan kepada mereka, seperti khotbahNya kepada Yasa dan keluarganya, khotbah Anupubbikatha yaitu Lima Tema Penting Bertingkat dan dilanjutkan dengan ajaran Empat Kebenaran Mulia. Ini mengakibatkan para penmuda itu memperoleh Mata-Dhamma dan memohon penahbisan. Setelah memberikan penahbisan Ehi kepada mereka, kemudian Beliau mengutus mereka dalam misi penyebaran Dhamma sedangkan Beliau sendiri melanjutkan perjalanan menuju daerah Uruvela di mana menetap kelompok seribu petapa berambut kusut.

Di antara seribu petapa itu terdapat tiga pemimpin. Yang tertua bernama Uruvelakassapa, dengan lima ratus murid, semuanya menetap di sebuah pertapaan di tepi sungai. Yang lebih muda bernama Nadikassapa, dengan  tiga ratus murid yang mendirikan pertapaan tidak jauh di hilir. Yang termuda bernama Gayakassapa membangun pertapaannya lebih ke hilir lagi, memiliki dua ratus murid.

Pertama-tama Sang Buddha mendatangi pertapaan Uruvelakassapa, saudara tertua. Dan meminta izin untuk bermalam di sana. Beliau diizinkan. Selanjutnya terjadi serangkaian pertunjukan kekuatan batin oleh Sang Buddha, yang ingin menunjukkan kepada Uruvela bahwa ia bukanlah seorang Arahant, seperti yang ia akui. Di sini kita mengetahui dari naskah-naskah bagaimana Sang Buddha beberapa kali menggunakan apa yang disebut Iddipatihariya dan AdesanapaMihariya dalam usahaNya tersebut. Iddipatihariya merujuk pada demonstrasi kekuatan batin dramatis sebagai hasil dari kekuatan pikiran, sedangkan AdesanapaMihariya merujuk pada kemampuanNya dalam membaca pikiran yaitu pikiran dan emosi dari si petapa Uruvela.

Setelah lama akhirnya usaha Sang Buddha membuahkan hasil. Si petapa akhrinya yakin akan kesalahan anggapannya dan kemuliaan Sang Buddha. Ia memohon agar ditahbiskan ke dalam Sangha. Kemudian Sang Buddha menyuruhnya agar memberitahukan kepada para muridnya terlebih dulu, yang segera ia lakukan. Para murid petapa itu yang juga berkeyakinan menghanyutkan segala perlengkapan mereka ke sungai dan kemudian, bersama dengan Uruvela sebagai pemimpin, menerima penahbisan dari Sang Buddha. Ketika kedua adik Uruvela, yaitu Nadi dan Gaya, melihat perlengkapan kakak mereka hanyut di sungai, mereka berpikir suatu malapetaka melanda kakak mereka dan mereka bergegas menemui sang kakak dan karena itu menjadi berkeyakinan pada pencerahan Sang Buddha. Mereka semua memohon penahbisan dan diterima oleh Sang Buddha sendiri. Demikianlah bagaimana seribu petapa berambut kusut, bersama dengan tiga pemimpin mereka, ditahbiskan ke dalam Sangha dalam Buddhisme.

Sekarang adalah waktunya bagi para petapa itu untuk menerima tema Dhamma yang lebih tinggi melalui Anusasanipatihariya yaitu keajaiban-keajaiban Ajaran bagi pencapaian yang lebih tinggi. Dengan tujuan itu, Sang Buddha membawa mereka menuju wilayah Gayasisa di tepi Sungai Gaya dan membabarkan khotbah yang oleh para penyusun masa lampau disebut Adittapariyayasutta, secara literal berarti Khotbah tentang kekuatan membakar dari Api.

Pada awal Khotbah Sang Buddha mengingatkan para petapa akan kekuatan membakar dari apa yang Beliau sebut “Segala sesuatu”.

Berikut ini adalah penjelasanNya.

Bagian Pertama:
Kelompok satu: Mata, pemandangan yang dilihat oleh mata, kesadaran-mata, kontak-mata, sensasi atau perasaaan yang muncul di sana.
Kelompok dua: Telinga, suara-suara yang didengar oleh telinga, kesadaran-telinga, kontak-telinga, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok tiga: Hidung, bau-bauan yang dicium oleh hidung, kesadaran-hidung, kontak-hidung, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok empat: Lidah, rasa kecapan yang dikecap oleh lidah, kesadaran-lidah, kontak-lidah, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok lima: Badan, sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh badan, kesadaran-badan, kontak-badan, dan sensasi yang muncul di sana.
Kelompok enam: Pikiran, hal-hal yang dipikirkan oleh pikiran, kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan sensasi yang muncul di sana.

Semua ‘hal’ ini, Beliau menyimpulkan, sedang terbakar.

Bagian dua.
Sang Buddha melanjutkan dengan menjelaskan mengapa hal-hal tersebut terbakafr dan apa yang membakarnya. Dalam penjelasannya Beliau memberitahu mereka bahwa ‘hal-hal’ itu terbakar karena api nafsu, kebencian, kebodohan, kemunduran, kematian, kesedihan, ratapan, penyakit-penyakit fisik, dukacita dan keputus-asaan.

Bagian tiga. Di sini Beliau memberitahukan kepada mereka tentang manfaat yang diperoleh dengan penembusan itu. Bagi seorang siswa mulia, setelah diberi tahu demikian. Setelah yakin, maka ia menjadi letih akan semua itu. Karena letih, ia meninggalkan keinginan nafsunya itu. Tanpa keinginan nafsu, ia menjadi terbebaskan dari sana. karena terbebaskan ia menjadi memiliki pandangan terang yang dengannya ia mampu mengetahui bahwa ia telah terbebaskan, tidak akan ada lagi kelahiran, kehidupan sucinya telah selesai, tidak ada lagi yang harus dilakukan demi pencapaian itu.

Tercatat bahwa keseribu petapa itu setelaj mendengarkan khotbah ini, batin mereka menjadi terbebaskan dari belenggu kekotoran, karenanya mereka menjadi seribu Arahant.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #16 on: 12 March 2010, 11:43:31 PM »
CATATAN

Harus diperhatikan, sebagai suatu perbandingan, bahwa dalam Khotbah ini penjelasan lebih terperinci pada berbagai bagian daripada kedua khotbah sebelumnya. Dalam Dhammacakkappavattanasutta dan Anattalakkhanasutta Sang Buddha membabarkan membabarkan khotbah kepada lima petapa, menunjukkan Lima Kelompok Unsur Kehidupan Bentuk, Perasaan, Persepsi, Pengondisi Pikiran dan Kesadaran, tetapi tidak menjelaskan bagaimana, atau melalui saluran apakah kekotoran-kekotoran itu terlahir. Akan tetapi, dalam khotbah ini, sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan, Beliau menekankan pada kelompok unsur Perasaan atau Vedana. Oleh karena itu adalah disarankan untuk membahas topik ini sebagai berikut:

Dari sudut pandang umat Buddha, dapat disimpulkan, sesuai dengan berbagai Khotbah, bahwa seseorang tersusun dari dua bagian utama yaitu jasmani dan batin, jasmani merujuk pada bagian yang nyata dan terlihat sedangkan batin merujuk pada suatu entitas, atau sesuatu, yang melakukan fungsi berpikir atau mengetahui. Dengan kata lain, unsur mengetahui. Sekarang Doktrin Buddhis, khususnya aspek praktik, menekankan latihan dan mengendalikan bagian tubuh yang kurang nyata namun lebih penting yaitu pikiran. Dalam hal Sang Buddha sendiri, hingga ketika Beliau telah menemukan, selagi masih menjadi seorang Bodhisatta, cara untuk dengan benar mengendalikan pikirannya, sehingga Beliau dikatakan telah menemukan Jalan Benar. Adalah di atas jalan itu Beliau dengan tekun mengikuti hingga akhirnya Beliau mencapai Pencerahan. Ini menujukkan bagaimana di dalam Buddhisme bahwa pikiran adalah yang paling penting.

Akan tetapi kata citta, atau pikiran, bukan berarti tubuh atau bagian tubuh manapun. Singkatnya, bukan merupakan Rupa yaitu bukan apa yang disebut Bentuk. Salah satu sabda Sang Buddha jelas menunjukkan fakta ini. Yaitu, “Asariram, bukan jasmani, yaitu, tidak berbentuk. Ini adalah Guhasayam: tempat kediaman dalam gua yaitu jasmani. Kehidupan seseorang dapat terus berlangsung selama jasmani dan pikirannya masih bekerja secara harmonis. Ketika apa yang disebut pikiran telah meninggalkan jasmani atau ketika jasmani telah lenyap hingga pikiran tidak dapat bekerja di dalamnya, maka kehidupan berhenti. Bagaimana keberadaan dari apa yang disebut pikiran dapat dikonfirmasi sesuai dengan ajaran Buddha akan dibahas nanti. Berikut ini adalah penjelasan dari Vithicitta atau batin yang berwujud melalui organ-organ indria.

Adalah benar bahwa pikiran, atau citta, sebagai unsur ‘mengetahui’ memperlihatkan kemampuannya untuk ‘mengetahui’ melalui ayatana atau organ-organ indria. Demikianlah pikiran ‘mengetahui’, atau dalam pengertian ini ‘menjadi sadar akan’, pemandangan melalui mata atau, lebih tepat lagi, syaraf-syaraf mata. Dengan cara yang sama, pikiran menyadari suara melalui syaraf–syaraf telinga. Bau-bauan melalui syaraf-syaraf hidung, rasa kecapan melalui sistem syaraf lidah, sentuhan melalui sistem syaraf badan dan kemudian dhamma, di sini merujuk pada fenomena di dalam (pikiran) melalui ‘mana’ yang juga merujuk pada pikiran. Demikianlah enam ayatana yaitu, mata, telinga, hidung, lidah, badan dan mana bertindak sebagai pintu masuk yang melaluinya citta dapatb menyadari pemandangan, suara, bau-bauan, rasa kecapan, sentuhan dan dapat mewujudkan fungsi berpikir. Tanpa enam ‘pintu masuk’ ini, lima pertama cukup jelas, sedangkan yang ke enam yaitu mana memerlukan penjelasan lebih terperinci untuk memahami dengan lebih jelas.

Kata mana umumnya diterjemahkan pikiran. Akan tetapi, secara etimologis, kata ini berarti ‘menyadari’. Obyeknya di sini adalah kata dhamma yang dapat diterjemahkan (dalam Bahasa Indonesia) topik-topik dari berbagai jenis misalnya dari pemandangan, dari suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, sentuhan yang biasanya dialami beberapa waktu yang lalu tetapi teringat pada saat ini. Jelas bahwa hal-hal ini mungkin tidak melalui mata, telinga dan seterusnya. Namun dapat teringat, dapat mendatangi pikiran. Sesuatu dapat terlihat dalam hal pemandangan dan suara yang terlihat dan terdengar sebelumnya, misalnya, tadi pagi. Akan tetapi, pemandangan dan suara itu dapat teringat bahkan pada saat ini. Walaupun mata dan telinga tidak berfungsi sama sekali pada saat ini. Ini sangat berbeda dengan yang dialami sebelumnya, yang muncul melalui mata dan telinga. Apa yang berfungsi dalam mata dan telinga ini disebut mana, yang dapat diterjemahkan pikiran, yang dijelaskan sebagai ‘menyadari’, atau ‘mengingat’, sebagai pintu ke enam dalam Buddhisme. Akan tetapi, tidak sama dengan apa yang disebut syaraf atau sistem-syaraf. Menurut sudut pandang Almarhum Yang Mulia Pangeran Vajirananavarorasa, ini adalah otak.

Dari komentar Abhidhamma, mana adalah pintu-indria ke enam yang memiliki fungsi yang dijelaskan sebagai berikut.

Dengan kontak dari mata dan pemandangan muncullah kesadaran-mata. Kata ‘kesadaran’ maksudnya adalah kesadaran akan pemandangan melalui mata.

Dengan kontak dari telinga dan suara-suara muncullah kesadaran-telinga yaitu menyadari suara-suara melalui telinga.

Dengan kontak hidung dan bau-bauan muncullah kesadaran-hidung yaitu menyadari bau-bauan melalui hidung.

Dengan kontak lidah dan rasa kecapan muncullah kesadaran-lidah yaitu menyadari rasa kecapan melalui lidah.

Dengan kontak badan dan sentuhan muncullah kesadaran-sentuhan yaitu menyadari sentuhan melalui badan.

Dengan kontak topik-topik dengan pikiran muncullah kesadaran-pikiran yaitu menyadari topik-topik melalui pikiran (yaitu mana).

Menurut Sutta atau Khotbah ini, Vinnana (Kesadaran) muncul pertama kali, diikuti oleh Samphassa (Kontak), yang mana bersesuaian dengan enam jenis atau jalur yang berdasarkan pada enam pintu-indria. Ada penjelasan bahwa kata Samphassa merujuk pada kemunculan bersama dari tiga faktor untuk masing-masing jalur yaitu, mata, pemandangan dan kesadaran-mata, ketiga ini secara kolektif disebut kontak-mata (Cakkhu-Samphassa).

Demikian pula, kemunculan bersama-sama telinga, suara-suara dan kesadaran-telinga membentuk kontak-telinga (Sota-samphassa). Kemunculan bersama-sama hidung, bau-bauan dan kesadaran-hidung membentuk kontak-hidung (Ghana-Samphassa). Kemunculan bersama-sama lidah, rasa kecapan dan kesadaran-lidah membentuk kontak-lidah (Jivha-Samphassa). Kemunculan bersama-sama badan, sentuhan dan kesadaran-badan membentuk kontak-badan (Kaya-Samphassa). Kemunculan bersama-sama mana, dhamma dan kesadaran-mano membentuk kontak-pikiran (Mano-Samphassa).

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #17 on: 12 March 2010, 11:45:44 PM »
Ke tiga adalah kelompok perasaan (Vedana), pengalaman kebahagiaan, penderitaan dan netral, yang sesuai dengan enam kontak. Terdapat enam jalur di mana Vedana dapat muncul. Satu yang muncul melalui mata disebut Cakkhusamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui telinga disebut Sotasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui hidung disebut Ghanasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui lidah disebut Jivhasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui badan disebut Kayasamphassaja Vedana; satu yang muncul melalui pikiran disebut Manosamphassaja Vedana.

Ke empat adalah apa yang disebut Sanna atau Persepsi, atau indria pengenal. Ini juga terdiri dari enam jenis yang bersesuaian dengan enam jalur seperti sebelumnya. Yaitu: Rupasanna: untuk mengenali atau mengingat pemandangan; Saddasanna: untuk mengenali atau mengingat suara-suara; Ghanasanna: untuk mengenali atau mengingat bau-bauan; Rasasanna: untuk mengenali atau mengingat rasa kecapan; PhoMMhabbasanna: untuk mengenali atau mengingat sentuhan; dan Dhammasanna: untuk mengenali atau mengingat pikiran-pikiran.

Berikutnya adalah Sankhara, di sini bermakna pikiran-pikiran yang mengondisikan sebagai akibat dari Sanna sebelumnya. Ini terbagi menjadi tiga jenis yaitu Kusala atau bermanfaat, Akusala atau tidak bermanfaat, dan Abyakata atau netral, bukan bermanfaat dan bukan tidak bermanfaat.

Demikianlah Kesadaran, Kontak, Perasaan, Persepsi dan Pengondisi semuanya adalah Namadhamma, secara literal berarti ‘nama’ yaitu tidak berwujud nyata atau bukan jasmaniah. Kata Pali ‘Nama’ merujuk pada apapun yang condong pada (sesuatu yang lain). Dalam makna praktis, ini berarti fungsi batin yang condong, mengarah, kepada menyadari sesuatu melalui enam pintu-indria seperti disebutkan sebelumnya. Ketika pikiran atau citta condong, atau bergerak, maju, akibat pertama dari sana adalah menyadari. Ini adalah karakteristik dari Vinnana, yang umumnya diterjemahkan sebagai Kesadaran. Berikutnya akibat ke dua adalah Kontak atau Samphassa, kemudian Perasaan atau Sensasi, yang merupakan arti dari Vedana. Ke empat muncul Sanna atau apa yang umumnya diterjemahkan sebagai Persepsi, dan ke lima adalah Sankhara atau Pikiran, yang dapat disebut Pengondisi.

Akan tetapi, dalam Lima Kelompok Unsur Kehidupan, Samphassa atau Kontak tidak termasuk, sementara Rupa atau Bentuk adalah yang pertama dan Vinnana adalah yang terakhir. Jika menurut urutan kemunculannya maka Vinnana adalah yang pertama. Urutannya menjadi Vinnana, Vedana, Sanna dan Sankhara. Alasan mengapa Vinnana berada pada urutan terakhir adalah untuk menjadikan siklus lengkap dari kelompok ini. Ini karena kecenderungan atau proses pergerakan batin – yang disebut Nama 0 dimulai dengan Vinnana. Dengan pengecualian Kontak, ke dua adalah Vedana, ke tiga adalah Sanna dan ke empat adalah Sankhara, - yang belakang sebagai yang mengondisikan, menghasilkan reaksi yang bermanfaat, tidak bermanfaat atau netral sesuai kasusnya.

Sekarang, Sewaktu proses pengondisian terjadi, muncul kesadaran atau menjadi sadar secara bersamaan atau secara sinkronis. Ini adalah manifestasi Kesadaran atau Vinnana sekali lagi. Ini melengkapi siklus dan memulai yang baru dalam suatu proses tanpa akhir. Demikianlah bagaimana Kelima Kelompok Unsur Kehidupanb yaitu Rupa, Vedana, Sanna, Sankhara dan Vinnana menjalani proses ‘kelahiran-kembali’ dan juga sebagai akibatnya ‘kematian-kembali’, keduanya tanpa henti. Seperti yang telah diketahui, Lima Kelompok Unsur Kehidupan terbagi dalam dua kelompok yaitu Rupa atau bentuk, yaitu jasmani, dan Nama, secara literal yaitu ‘Nama’ – apa yang tidak nyata atau bukan-materi, merujuk pada kecenderungan atau sifat pergerakan citta ataun batin.

Kesadaran Indriawi atau Batin indriawi (Vithicitta)

Vithicitta adalah manifestasi, atau jalan setapak bagi Citta, yang tidak nyata dan bukan-materi. Karena itu Vithicitta memerlukan sesuatu yang bermateri untuk pengungkapannya. Dengan kata lain, citta mewujudkan dirinya melalui bentuk (yaitu jasmani), yang melaluinya menjadi sadar akan pemandangan, suara-suara dan sebagainya, pergerakan pertamanya dikarakteristikkan oleh, atau dalam bentuk, Vinnana – Kesadaran, diikuti oleh Vedana (Perasaan atau Sensasi), Sanna (Persepsi), Sankhara (Pengondisi pikiran) sebelum memulai proses Vinnana sekali lagi.

Sekarang untuk mendiskusikan sifat dari apa yang disebut Mana. Apa yang telah dijelaskan sejauh ini sehubungan dengan enam pintu-indria dan enam obyek-indria, bersama dengan Vithicitta adalah sesuai dengan Tipitaka Pali. Terdapat beberapa paragraph dari Komentar Abhidhamma yang membahas Mana yang akan dibahas secara lebih terperinci sebagai berikut:

Dari Komentar ini, kita mengetahui bahwa Mana, seperti halnya Ayatana atau pintu-indria ke enam, selalu berpasanggan dengan lima pendampingnya yang lain. Ini adalah agar kesadaran indriawi bersama-sama dengan jalur-jalurnya dapat muncul. Demikianlah, pada kontak antara mata dengan pemandangan, ada Mana yang menyertai, jika tidak maka kesadaran-mata tidak muncul. Demikian pula halnya dengan pintu-pintu indria dan obyek-obyek indria lainnya. Harus adan Mana setiap saat terjadi kontak antara telinga dan suara, hidung dengan bau-bauan, lidah dengan rasa kecapan, badan dengan sentuhan, jika tidak maka tidak akan ada kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah dan kesadaran-badan, sebagai akibatnya.

Sehubungan dengan yang ke enam, setiap saat Mana dan dhamma mengalami kontak satu sama lain, di sana seketika muncul kesadaran-pikiran (Manovinnana). Ini adalah karena fakta inilah maka Mana selalu terlibat dalam lima jalur kesadaran-indriawi sebelumnya.

Dalam Abhidhamma, terdapat penjelasan yang lebih rinci. Disebutkan di sana bahwa, dalam hal mata, pemandangan juga dikatakan memiliki Vanna atau warna, disertai dengan cahaya (yang dengannya pemandangan dapat terlihat). Dan kemudian Manasikara, secara literal berarti mempertahankannya di dalam mana. Ini sebelum munculnya kesadaran-mata. Dari penjelasan ini, dari lima jalur pertama, pemandangan, misalnya, harus mengalami kontak dengan sistem syaraf mata dan kemudian bekerja berdasarkan atas Mana secara bersamaan. Proses ini dikatakan muncul sangat cepat, - pada saat terjadi kontak antara pemandangan dengan mata, Mana terpengaruh pada saat yang sama. Seperti halnya burung yang hinggap di atas dahan pohon. Pada saat burung itu hinggap di dahan, bayangannya seketika muncul di tanah, - tanpa jeda waktu, demikianlah.

Dari penjelasan rinci ini, dapat diketahui perbedaan dalam penggunaan dan makna dari ketiga kata Vinnana, Mana atau Mano, dan Citta sebagai berikut:

VINNANA, kata ini digunakan untuk merujuk pada kesadaran dalam hal kesadaran-mata. Tidak pernah digunakan untuk mengartikan apapun yang mengalami proses kelahiran kembali (setelah hancurnya jasmani) atau mengartikan sesuatu yang kekal.

MANA atau MANO. Kata ini hanya dimaksudkan untuk merujuk pada pintu-indria atau Ayatana ke enam. Mana atau Mano berfungsi dengan berhubungan dengan lima pintu-indria sebelumnya dan juga dengan ‘dhamma’, dalam makna apapun yang menyangkut topik-topik sebagai rupa (pemandangan yang terlihat melalui mata) seperti dijelaskan sebelumnya. Dengan kata lain, ini adalah, mata rantai penghubung, atau pintu masuk, atau jalur yang melaluinya citta bekerja, dengan cara yang sama dengan lima pendamping sebelumnya.

CITTA. Kata ini merujuk pada suatu entitas yang tidak berbentuk tetapi ada, di dalam ‘gua’, yang berarti jasmani. Citta berfungsi sebagai sesuatu yang mengetahui, yang memperlihatkan cetana yaitu kehendak, yang berada di belakang semua Kamma (perbuatan – jasmani, ucapan dan pikiran). Demikianlah Citta berfungsi sebagai sebuah gerakan kea rah ‘mengetahui’ di sepanjang jalur yang telah dijelaskan. Adalah Citta ini yang harus dilatih untuk melaksanakan Aturan-aturan (Sila), Meditasi (Samadhi), Kebijaksanaan atau Pengetahuan (Panna) dan akhirnya terbebaskan (Vimutti), seperti telah dijelaskan dalam Anattalakkhana Sutta dan Adittapariyaya Sutta. Kalimat di akhir kedua Sutta itu menunjukkan fakta bahwa batin (citta) dari para bhikkhu itu terbebaskan dari segala kekotoran yang tertidur (Asava) yang dengannya batin mereka biasanya dikuasai. Di sini yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak pernah di bagian manapun juga Sang Buddha mengatakan bahwa citta adalah Atta atau diri. Sebaliknya, terdapat kalimat di mana Sang Buddha sendiri mengatakan bahwa bahkan citta tidak boleh dianggap sebagai diri atau atta. Dalam Samyuttanikaya, Nidanavagga (16/114/231-2) Sang Buddha tercatat mengatakan bahwa adalah lebih baik, jika atta itu ada, untuk menganggap jasmani sebagai atta. Bagaikan seekor monyet yang gelisah, yang selalu melompat dari satu dahan ke dahan lain, batin jelas selalu melompat dan gelisah. Jika Atta atau diri itu ada, maka diri itu bahkan lebih tidak stabil daripada jasmani. Karena itu, sangat tidak dianjurkan untuk menganggap citta sebagai diri.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 5. Para Petapa Berambut Kusut
« Reply #18 on: 12 March 2010, 11:46:50 PM »
Sesungguhnya, Doktrin Buddhis seluruhnya berdasarkan pada tidak menggenggam apapun sebagai diri, genggeman demikian adalah manifestasi dari Upadana atau Kemelekatan, dengan konsekuensi munculnya keinginan untuk mengendalikannya, untuk membuatnya menuruti keinginan seseorang. Karena itu adalah karakteristik dari Bhava atau Penjelmaan. Sekarang Bhava atau Penjelmaan adalah kondisi yang tidak terhindarkan, karena tunduk pada kemunculan dan lenyapnya. Adalah karena kebenaran ini maka pelepasan dianjurkan. Ini adalah melepaskan apa yang tunduk pada sifatnya sendiri, yang tidak dapat dikendalikan melalui keinginan atau kemelekatan siapapun.

Kembali pada apa yang disebut Nama, yang tidak nyata dan tidak bermateri untuk memahami lebih jauh atas prosesnya. Seperti dijelaskan sebelumnya, Nama merujuk pada Vithicitta atau kekuatan pikiran yang ‘bekerja’ yang menjalankan siklus proses tanpa akhir atau kelahiran yang tanpa akhir yaitu kelahiran berulang. Bahwa ia menjalankan kelahiran berulang yang tanpa akhir secara otomatis menyiratkan kebenaran bahwa ia juga menjalan kematian berulang yang tanpa akhir. Ketika, misalnya, kita melihat buku, maka di sana muncul kesadaran-mata, yang dapat merupakan sesuatu yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral. Berikutnya muncul Sanna atau pengenalan (bahwa itu adalah sebuah buku bukan sebuah kotak). Setelahnya mengikuti Sankhara, pengondisi pikiran (bergantung pada Vedana dan Sanna yang mendahuluinya). Kemudian muncul Mano-vinnana, kesadaran-pikiran sebagai reaksi dari kelompok-kelompok sebelumnya. Demikianlah siklus dimulai sekali lagi, dengan Vedana, Sanna dan Sankhara saling mengikuti berturut-turut.

Sekarang, jika pada saat suara, misalnya, denting jam mengirimkan gelombangnya ke telinga, yang menerimanya, terdapat kesadaran-telinga di sana. Subyek buku ditinggalkan di sini. Apa yang mengikuti adalah rangkaian Vedana, Sanna dan Sankhara seperti di atas. Siklus ini dapat terputus, misalnya, oleh munculnya bau-bauan dari dupa. Maka kelompok non-jasmani, dengan kesadaran-hidung sebagai pemimpinnya, memulai siklus baru dengan cara yang sama. Siklus kesadaran-suara lenyap secara otomatis. Kesadaran-hidung dapat diputus, seperti sebelumnya, misalnya oleh kesadaran-lidah ketika seseorang mulai makan. Siklus ini dapat memberikan jalan kepada kesadaran-badan ketika jalur kesadaran lainnya muncul, seperti ketika seseorang mulai mandi, ketika siklus kesadaran-badan berjalan untuk melakukan tugasnya. Kadang-kadang, ketika mana (yaitu pikiran) mengingat sesuatu di masa lalu maka kesadaran-pikiran akan membuka untuk menjalankan fungsinya.

Akan terlihat bagaimana kelompok-kelompok unsur non-materi ini, atau Nama dalam istilah kitab, harus mengalami kemunculan dan pelenyapan terus-menerus yang tidak terhitung dan tanpa akhir bahkan hanya dalam satu hari, bergantung pada apa yang membangkitkannya. Jika ada perhatian khusus pada tema yang manapun, atau ketika tema itu cukup kuat (misalnya suatu kesakitan yang luar biasa), Nama akan lebih lama terpusat pada subyek tersebut.  Sebaliknya, jika kurang penting, maka Nama akan meninggalkannya dalam waktu singkat. Ini menunjukkan bagaimana Nama dan Rupa adalah akibat personal atau kediaman semua orang yaitu yang bertujuan untuk berfungsi. Muncul dan lenyapnya berlangsung dalam arus tanpa henti dan terus-menerus.

Adalah benar bahwa muncul dan lenyapnya Rupa atau jasmani adalah lebih nyata; meskipun demikian proses Nama yang bersesuaian tidaklah terlalu sulit untuk diikuti. Lebih cepat berlalu, tetapi tidak terlalu cepat bagi kemampuan pendeteksian seseorang jika ia menginginkannya.

Penting untuk dicatat bahwa dalam Khotbah Api, Sang Buddha menjelaskan Vedana atau Sensasi, menunjukkan kepada para petapa bagaimana Vedana mereka terbakar setiap waktu. Ini, dengan kata lain, bukan lain adalah Kebenaran Mulia Pertama yaitu Penderitaan. Kemudian Beliau melanjutkan dengan menjelaskan Kebenaran Mulia ke Dua yaitu Penyebab, dengan secara khusus menunjuk pada Nafsu, Kebencian, dan Kebodohan dan menjelaskan bagaimana hal-hal tersebut ‘Membakar’ dalam diri mereka. Adalah melalui ‘Api’ ini maka mereka selalu terbakar oleh penderitaan demikian seperti kesedihan, usia tua dan kematian, yang berlangsung seperti biasanya. Selanjutnya Beliau memperkenalkan Kebenaran Mulia Sang Jalan, dengan merujuk pada Kebijaksanaan sebagai elemen penting yang dengannya Pandangan Terang dikembangkan. Akhirnya Beliau menjelaskan Kebenaran Padamnya, dimulai dari Nibbida atau Kekecewaan, yang diikuti dengan Viraga atau Kebosanan, Vimutti atau Kebebasan dan akhirnya Vimutti-Nanadassana atau Pandangan Terang yang mengenali atau menembus Kebebasan itu. Demikianlah dengan cara yang sama seperti dalam Anattalakkhanasutta Beliau membabarkan kepada Kelima Petapa.

KHOTBAH API

Demikianlah Khotbah Api oleh Sang Buddha
Dibabarkan kepada seribu petapa
-- sebuah fenomena yang menonjol
Yang disesuaikan dengan manfaat mereka.

Hasilnya sungguh luar biasa;
Khotbah itu adalah untuk keuntungan mereka.
Mereka meninggalkan praktik pemujaan-api
Dan Pencerahan tercapai.

Ini adalah jejak menyala
Oleh seorang yang berani merintis,
Yang menawarkan kepada mereka suatu ajaran baru
Menggantikan apa yang biasanya mereka puja.

Aspek membakar dari ‘api’
Dalam batin mereka selalu menghabiskan.
Dengan memperoleh Mata-Dhamma.
Mereka terselamatkan dari malapetaka.

Dengan panas disingkirkan, melimpahkan ‘cahaya’,
Aspek lain dari api,
Sang Buddha menyebutnya Pandangan terang,
Yang menghancurkan segala kegelapan di sana.

Ini menunjukkan kecakapan terampil Sang Buddha
Bagaimana Beliau mengarahkan sikap mereka,
Mengetahui apa yang terbaik bagi mereka:
Agar tidak lagi ‘termakan’, seperti sebelumnya.

Mengubah panas menjadi cahaya,
Sang Buddha adalah ‘Pengubah’,
Dari kegelapan pekat menjadi terang gemerlap
Diturunkan oleh seseorang, dinaikkan oleh orang lain.

Marilah kita putar kunci kontak kita
Untuk menjalankan ‘mesin pengubah’ batin
Agar menjadi terjamin
Menuju pencapaian yang dapat kita menangkan.

Agar selalu waspada
Terhadap panas, yang merebus dan membakar,
Berkat perhatian yang intensif,
Minimal kita tidak lagi teraduk,

Bergelembung di dalam kuali rebus
Dengan BANTUAN-BANTUAN Spiritual,
Tetapi kebal terhadap racun mematikan
Tidak pernah lagi naik untuk menangkap umpan.

Demikianlah bagaimana ‘pengubah’ mulia
Menurunkan ‘panas’, menaikkan ‘cahaya’
Itu hanyalah seni yang sederhana dan halus.
Sang Buddha menyebutnya Pandangan Terang.

Pengubah agung ini telah dibangun
Menunggu ‘kunci-kontak’ kita
Untuk memulai dan kemudian menjalankannya selamanya
Demi kemajuan hingga tingkat tertinggi.

- Bab 5 selesai -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #19 on: 18 March 2010, 11:01:15 PM »
Di Hutan Veluvana, Kota Rajagaha

NEGERI MAGADHA. RAJA BIMBISARA

Sang Buddha setelah memberikan instruksi kepada para mantan petapa berambut kusut dan memberikan pencerahan kepada mereka hingga mencapai Kearahatan, menetap di Gayasisa selama beberapa waktu. Kemudian Beliau melakukan perjalanan, bersama dengan para bhikkhu yang baru ditahbiskan tersebut, menuju Rajagaha, ibukota Negeri Magadha.

NEGERI MAGADHA. Menurut naskah-naskah, Magadha adalah sebuah negeri yang makmur, dengan ibukota Rajagaha. Pada masa Sang Buddha, rajanya bernama Bimbisara, yang dalam Pali disebut Raja Magadha. Ini adalah sebutan pujian, menganggapnya sebagai raja besar Magadha. Namanya juga didahului oleh Seniyo, sehingga menjadi Seniyo Bimbisara, berarti Bimbisara, Pemimpin Besar.

Dikatakan bahwa Kota Rajagaha dikelilingi oleh tembok lima gunung yaitu Gijjhakuta, Vebhara, Vepulla, Isigili dan Kalakuta. Karena itu kota ini juga disebut Giribbaja, kota berdinding gunung. Ibukota sebelumnya disebutkan terletak di lereng gunung, tetapi sering terjadi bencana kebakaran. Ini menyebabkan kota itu pindah lebih ke bawah, - di kaki gunung, yang masih dikelilingi oleh lima gunung. Menjelang hari terakhir Sang Buddha Raja Ajattasattu membangun kota lain di luar dinding gunung itu, di sebelah utara. Rajagaha adalah kota yang makmur, dengan sejumlah guru spiritual yang membentuk ajarannya dan dilindungi hingga taraf tertentu oleh raja, yang, walaupun tidak berhubungan dengan mereka, namun memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengajarkan ajaran mereka dengan cara-cara mereka. Selama kekuasaan Raja Bimbisara, negeri Kasikagama diserahkan kepadanya oleh Raja Kosala Pasenadi ketika ia menikahi adik perempuan Raja Pasenadi.

Meletakkan Batu landasan bagi Buddhisme

Bahwa Sang Buddha melakukan perjalanan menuju Rajagaha – setelah membabarkan Dhamma kepada para petapa pemuja api – sebagian adalah untuk memenuhi janjinya sebelumnya kepada raja dan sebagian lagi adalah niatnya untuk mengembangkan Buddhisme di kota itu, yang merupakan tempat yang makmur. Dapat diperhatikan bahwa Sang Buddha lebih menyukai membabarkan Dhamma yang Beliau temukan kepada para bhikkhu pertama-tama adalah sebagian besar dari mereka yang menjalani kehidupan tanpa rumah adalah berkehendak baik dan juga terpelajar. Sementara kepada orang-orang awam, Beliau juga menargetkan mereka yang tidak kurang terpelajar dan yang menjadi pemimpin seperti raja-raja, kepala-kepala suku, pejabat-pejabat istana, serta brahmana-brahmana dan orang-orang berpengetahuan luas. Begitu orang-orang tersebut telah memperoleh Mata-Dhamma dan menjadi Buddhis yang baik, maka para pengikut dan bawahan mereka minimal akan menjadi tertarik dan akibatnya menjadi lebih berkeinginan untuk mempelajari Dhamna dan meneladani pemimpin  yang mereka hormati. Ini sangat menghemat waktu yang mendukung penyebaran Dhamma secara cepat dan mendirikan Buddhisme di wilayah tersebut. Sang Buddha sendiri karena sangat dihormati oleh para pemimpin dan penguasa di mana-mana menjadi praktis aman dari segala fitnah yang diakibatkan oleh kecurigaan. Selain itu, Beliau tidak pernah terlibat dalam urusan sekular, usaha-usaha Beliau hanya berurusan dengan hal-hal religius saja. Bukti akan hal ini dapat dilihat di bawah ini.

Mendekati Kota Rajagaha, Sang Buddha tidak langsung memasukinya, melainkan berhenti dan menetap di sebuah hutan yang disebut Laññhivana, secara literal berarti kebun palem muda, mungkin itu adalah tempat tumbuhnya pohon-pohon palem. Ini kemudian diketahui oleh Raja Bimbisara, yang mengetahui bahwa pada saat itu Petapa Gotama, orang Sakya yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga,  telah tiba dan menetap di Hutan Laññhivana. Berita juga telah menyebar bahwa Sang Petapa, adalah Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan dan juga indah di akhir. Beliau menyatakan kehidupan suci yang murni dan sempurna baik dalam makna maupun katanya. Oleh karena itu adalah suatu berkah dapat menemui Arahant demikian.

Sekarang Raja Bimbisara, bersama dengan pengikutnya yangb berjumlah 12 Nahuta (dapat berarti ‘sepuluh juta’ atau menunjukkan jumlah yang sangat banyak) brahmana dan orang-orang kaya penduduk Negeri Magadha, mendatangi Sang Buddha di tempatNya menetap. Sang Raja sendiri, setelah memberi hormat kepada Sang Buddha, duduk di tempat yang selayaknya di satu sisi. Akan tetapi, kedua belas Nahuta penduduk Magadha itu memperlihatkan sikap yang berlainan. Beberapa dari mereka bersujud di hadapan Sang Buddha, sementara yang lain mengucapkan kata-kata penghargaan, dan yang lainnya lagi merangkapkan tangan sebagai penghormatan. Kemudian terdapat sejumlah orang yang memperkenalkan nama dan suku mereka, sementara kelompok lain lagi hanya duduk diam. Disebutkan bahwa sebagian besar orang masih meragukan sehubungan apakah Sang Buddha menjalani kehidupan suci di bawah Uruvela atau sebaliknya.

Melenyapkan keraguan orang-orang

Melihat keragu-raguan mereka, Sang Buddha, untuk melenyapkan keraguan mereka, bertanya kepada Uruvela Kassapa untuk tujuan apakah ia meninggalkan upacara pemujaannya sebelumnya. Dijawab oleh Uruvela bahwa ritual demikian memuji pemuasan kenikmatan-indria yaitu, pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, termasuk perempuan. Setelah menyadari bahwa semua itu adalah noda, ia berkata, ia tidak lagi bergembira di dalamnya.

Kemudian Sang Buddha bertanya lebih jauh lagi kepadanya, kalau begitu, kemanakah perhatiannya sekarang. Uruvela menjawab dengan mengatakan:

“Dhamma yang damai, tanpa kekotoran, telah kutembus, O Bhagava. Tanpa belenggu, tidak tunduk pada perubahan. Tidak disarankan oleh orang lain, untuk dicapai oleh diri sendiri. Adalah melalui Dhamma ini, O Bhagava, maka aku meninggalkan praktik ritual pemujaan.

Setelah menyatakan keyakinannya, Uruvela bersujud di kaki Sang Buddha, menyatakan di hadapan kerumunan itu bahwa Sang Buddha adalah gurunya sedangkan ia sendiri adalah seorang siswa.

Adalah karena pernyataan dari pihak Uruvela Kassapa itulah maka batin orang-orang Magadha itu menjadi terbebas dari keragu-raguan dan menjadi siap untuk menerima instruksi. Kemudian Sang Buddha membabarkan kepada mereka, seperti sebelumnya, Lima Tema Penting Bertingkat dan diikuti dengan Empat Kebenaran Mulia. Tercatat bahwa dari kedua belas Nahuta pendendar yang hadir, sebelasnya berhasil mencapai Mata-Dhamma, sedangkan satu Nahuta sisanya berkeyakinan pada Tiga Permata.

Pada saat itu Raja Bimbisara memberitahu Sang Buddha bahwa lima keinginan yang telah lama ia cita-citakan sekarang telah terpenuhi. Yaitu:

1.   Semoga ia menjadi raja di negeri Magadha.
2.   Semoga seorang Arahant mengunjungi negerinya.
3.   Semoga ia dapat duduk di sebelah Arahant itu.
4.   Semoga Sang Arahant membabarkan Dhamma kepadanya.
5.   Semoga ia menembus Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Arahant.

Sang Raja memuji Kohtbah Sang Buddha dan mengundang Beliau, bersama dengan para siswa bhikkhu, untuk menerima persembahan makan di istananya pada keesokan harinya. Sang Buddha menerima undangannya dengan berdiam diri, - yang berarti penerimaan olehNya dan para siswaNya. Akan tetapi, mungkin terdapat beberapa yang tidak memahami hal ini dan bertanya lebih jauh untuk mengatakannya secara verbal.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #20 on: 18 March 2010, 11:03:28 PM »
Menerima Persembahan Hutan Bambu

Keesokan harinya Sang Buddha dan para bhikkhu pergi untuk makan di Istana Raja Bimbisara. Pada saat itu sebuah pemikiran muncul pada Raja sehubungan dengan tempat yang layak bagi Sang Buddha dan para siswaNya. Ia mengetahui bahwa tempat itu haruslah:
1.   Tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh dari sebuah desa.
2.   Terjangkau oleh para pengunjung.
3.   tidak terlalu ramai di siang hari dan cukup tenang, tidak terganggu oleh keramaian dan          orang-orang yang berlalu-lalang.
4.   cocok sebagai tempat keheningan bagi para petapa untuk mendukung usaha mereka.
5.   layak sebagai tempat tinggal bagi Sang Buddha.

Dengan niat ini dalam pikirannya, raja mempertimbangkan Hutan Bambu Veluvana miliknya, tidak terlalu jauh di sebelah utara kota dan menyadari bahwa semua persyaratan itu terpenuhi. Sebagai simbol persembahannya, raja menuangkan air dari kendi emasnya (menyiratkan persembahan suatu benda tidak bergerak), memberitahukan Sang Buddha atas niatnya untuk mempersembahkan Hutan Bambu sebagai tempat tinggal bagi Sang Buddha dan para siswa Bhikkhu dan memohon kepada Sang Buddha agar menerimanya. Kemudian Sang Buddha membabarkan khotbah kepada raja, membangkitkan semangat dan menggembirakannya dengan manfaat-manfaat dari tindakan tersebut. Dengan merujuk pada peristiwa ini, Sang Buddha memperbolehkan para Bhikkhu untuk menerima sebuah arama yaitu Hutan (atau vihara) yang dipersembahkan kepada mereka sebagai tempat tinggal.

Menurut naskah, di Hutan Bambu inilah Sang Buddha menetap selama Vassa ke dua, ke tiga dan ke empat. Terjadi beberapa peristiwa dalam periode ini yang akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Berikut ini akan dijelaskan tradisi dan budaya dari apa yang telah disebutkan sebelumnya.

Mempersembahkan sesuatu. Apa yang dapat diserahkan dengan tangan harus, seperti seharusnya, diberikan dengan tangan. Tetapi sehubungan dengan suatu benda yang tidak bergerak atau sesuatu yang terlalu besar untuk dilakukan dengan cara demikian, ada tradisi menuangkan air dari kendi di hadapan si penerima. Oleh karena itu, persembahan hutan sebagai tempat tinggal, yang adalah benda tidak bergerak, dilakukan dengan cara ini. Itulah sebabnya Raja Bimbisara, sewaktu mempersembahkan Hutan Bambu kepada Sang Buddha, menuangkan air dari kendi emas. Demikian pula Pangeran Vessantara, Sang Calon Buddha, ketika memberikan gajah kepada brahmana yang memintanya. Dalam apa yang disebut ‘Membagi buah kebajikan’, - yang juga tidak dapat diserahkan dengan tangan, -  menuang air dari kendi juga berlaku. Akan tetapi, ini mungkin diturunkan dari tradisi Brahmanisme. Harus diperhatikan bahwa air harus dituang hingga tidak ada yang tersisa dalam kendi. Ini melambangkan kehendak penuh untuk memberi, bukan memberi dengan setengah hati.

Pujian pada Kualitas-kualitas Buddha

Dalam kebaktian pagi terdapat kalimat yang dimulai dengan “Tam kho pana bhagavantam evam kalyano Kittisaddo abbhuggato, ini adalah kata-kata pujian atas kualitas mengagumkan Sang Buddha yang menyebar di antara orang-orang: Sang Bhagava adalah seorang Arahant, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, dan seterusnya.” Ini menyatakan fakta bahwa kata-kata pujian itu telah terdengar sebelumnya dan secara umum diterima oleh banyak orang pada masa itu. Kata-kata itu bukan disusun oleh orang terpelajar manapun. Kata-kata dalam kalimat itu juga telah digunakan sebelumnya seperti Bhagava (Yang Terberkahi), Araham (Arahant) dan Sammasambuddho (Yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dengan demikian, ketika terdapat seseorang yang dihormati banyak orang dan diterima sebagai Sattha atau Guru Religius, ia selaras dengan kata-kata pujian itu dan diterima sebagai Sattha baru. Juga terdapat kepercayaan tradisional bahwa adalah suatu berkah untuk pergi menemui orang suci demikian. Oleh karena itu, karena adanya tradisi ini, maka ketika ada berita kedatangan seorang Arahant, orang-orang jadi menginginkan minimal mendapat berkah dari melihat Arahant itu. Jika diketahui bahwa raja juga melakukan hal itu, akan lebih banyak lagi orang yang berkeinginan dan lebih banyak orang memenuhi tempat itu. Akan tetapi, sehubungan dengan keyakinan sejati, adalah melalui pencapaian Mata-Dhamma maka seseorang, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, akan dengan kokoh terberkahi dengan keyakinan tak tergoyahkan pada Tiga Permata.

Veluvana atau Hutan Bambu, menurut beberapa legenda, terbagi menjadi dua bagian, bagian yang disebut Kalandakanivapa, tempat di mana tupai-tupai diberi makan. Ini adalah tempat yang dipersembahkan oleh Raja Bimbisara kepada Sang Buddha dan para siswaNya. Bagian lain disebut Moranivapa, di mana ayam-ayam hutan diberi makan, yang dikatakan telah dipersembahkan kepada para pengembara atau Paribbajaka, jenis lain dari Bhikkhu pada masa itu. Ini menunjukkan fakta bahwa raja adalah penyokong bagi keyakinan lain, walaupun ia tidak memuja mereka, namun juga tidak melarang mereka.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #21 on: 18 March 2010, 11:06:10 PM »
Siswa Utama

Setelah menerima Hutan Bambu sebagai arama atau tempat tinggal para bhikkhu, Sang Buddha disebutkan menetap di sana selama vassa ke dua, ke tiga dan ke empat. Pada masa itulah Beliau bertemu dengan kedua siswa utama yang Yang Mulia Sariputta dan Yang Mulia Moggallana. Kisah mereka adalah sebagai berikut:

SARIPUTTA. Di dekat kota Rajagaha terdapat dua desa brahmana yang kedua pemimpinnya telah bersahabat sejak lama. Masing-masing dari mereka memiliki seorang putera, yang satu bernama Upatissa, sesuai nama desa itu, dan yang lain bernama Kolita, juga sesuai nama desanya. Kedua anak itu tumbuh sesuai sistem tradisional dan sebagai sahabat mereka selalu bepergian bersama, bersenang-senang dalam kemudaan mereka bersama-sama. Salah satu tempat kesukaan mereka adalah puncak bukit di mana pada saat itu sedang berlangsung pertunjukan hiburan tahunan. Dalam puncak masa mudanya, mereka sama dengan para pemuda lain, kadang-kadang gembira dan kadang-kadang sedih oleh tontonan dan kadang-kadang memberikan imbalan kepada para actor dan aktris kesukaan mereka.

Titik balik kehidupan mereka terjadi pada suatu hari ketika, dengan matangnya jasa kebajikan mereka, mereka tergerak oleh Samvega yaitu keletihan yang mengecewakan bahkan selagi mereka menonton acara hiburan kesukaan mereka. Sementara orang-orang lain tertawa dan bersorak, mereka secara misterius menarik diri dan lupa pada adegan kegembiraan tersebut. Pikiran mereka dikuasai oleh kebenaran bahwa tidak lama lagi – dalam seratus tahun, - orang-orang itu akan lenyap dan ‘hilang’, pergi ke tempat yang tidak dapat digambarkan. Mereka saling melihat reaksi masing-masing dan, memahami kesamaan pikiran mereka, mereka sepakat untuk ‘meninggalkan keduniawian’ yaitu menjalani kehidupan tanpa rumah menjadi petapa, jenis pengembara dalam naungan guru spiritual bernama Sanjaya. Mereka menyelesaikan pelajaran dari Sanjaya dan menyadari bahwa itu tidak memuaskan keinginan mereka tetapi, karena tidak mengetahui tempat lain lagi, mereka sepakat bahwa siapapun yang lebih dulu menemukan Dhamma Keabadian harus memberitahukan penemuannya kepada yang lain.

Suatu hari Upatissa bertemu dengan Yang Mulia Assaji, satu dari Kelima Petapa – kelompok pertama dari para siswa Sang Buddha, sewaktu ia sedang dalam perjalanan menerima dana makanan di Kota Rajagaha. Pada pandangan pertama ia terkesan dengan sikap Sang Bhikkhu tetapi, karena mengetahui bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat untuk bertanya, ia mengikutinya hingga Sang Bhikkhu selesai makan. Melihat bahwa saatnya telah tepat, pemuda itu bertanya kepada Sang Bhikkhu di bawah siapakah ia menjalani kehidupan suci, siapakah gurunya dan Dhamma (ajaran) siapakah yang ia jalankan.

Dalam jawabannya Sang Bhikkhu berkata bahwa ia menjalani kehidupan suci di bawah Sang Buddha, yang meninggalkan keduniawian dari Suku Sakya. Adalah Sang Buddha itu yang menjadi Gurunya. Dhamma Sang Buddha-lah yang ia jalankan.

Upatissa meminta kepada Sang Bhikkhu agar menceritakan Dhamma itu kepadanya. Yang Mulia Assaji berkata bahwa ia masih baru dalam Pengajaran Buddha, oleh karena itu tidak berada dalam posisi untuk mengajarkan Dhamma secara terperinci. Tetapi Upatissa mendesak, berkata bahwa tidak perlu menceritakan kata demi kata. Sebuah ringkasan pun akan mencukupi.

Demikianlah Yang Mulia Assaji, meringkas ajaran Buddha untuk pemuda itu yang disusun dalam bentuk syair oleh paar penyusun naskah masa lalu sebagai berikut:

“Ye Dhamma hetuppabhava       Tesam hetumtathagato
Tesana yo nirodho ca                   Evamvadi mahasamano.”

Segala Dhamma muncul karena sebab
Sang Tathagata (Buddha) telah menjelaskan
Sebab kemunculan dan lenyapnya.
Demikianlah ajaran dari Petapa Agung.


Dengan ajaran singkat ini, pemuda Upatissa ini mampu mencapai Mata-Dhamma, memahami bahwa segala sesuatu yang mengalami kelahiran, pasti juga akan mengalami kematian.

Kemudian ia dengan penuh hormat meninggalkan Sang Bhikkhu dan bergegas pergi menemui sahabatnya Kolita untuk memberitahukan berita baik sesuai janji mereka. Ia mengulangi syair di atas kepada Kolita, yang serupa dengan sahabatnya seketika mencapai Mata-Dhamma. Mereka pergi menemui guru mereka Sanjaya, menceritakan pengalaman mereka kepadanya dan mengajaknya untuk bersama-sama menemui Sang Buddha. Tetapi Sanjaya, melekat pada kebanggaan bahwa ia adalah seorang guru terkenal, menolak ajakan itu, mengatakan bahwa baginya untuk menjadi siswa dari seorang guru lain adalah bagaikan menempatkan seekor buaya dewasa ke dalam sebuah kendi-air dari tanah. Sebuah posisi yang tidak mungkin ia terima. Komentar Dhammapada lebih jauh menyebutkan bahwa Sanjaya bertanya kepada Upatissa dan Kolita apakah terdapat lebih banyak orang bijaksana atau orang dungu di dunia ini. Ketika mereka menjawab adalah orang dungu yang lebih banyak, ia berkata bahwa biarlah orang-orang bijaksana mendatangi Sang Buddha, sedangkan mereka yang dungu, yang lebih banyak jumlahnya, mendatangiku, dan ia puas dengan itu.

Kedua pemuda itu kemudian meninggalkan guru mereka dan pergi, bersama dengan pengikut mereka yang berjumlah 250 orang, untuk menemui Sang Buddha dan memohon penahbisan, yang semuanya diterima dengan cara ‘Ehi Bhikkhu’. Tercatat bahwa para pengikut mereka, setelah ditahbiskan, mengerrahkan usaha mereka dan segera mencapai Kearahatan.

MOGGALLANA. Sehubungan dengan pemuda Kolita, yang terkenal sebagai Bhikkhu bernama Moggallana, sesuai nama ibunya Moggalli. Tercatat bahwa tujuh hari setelah penahbisannya, ia mengerahkan usahanya di desa Kalvanamuttagama di Kota Magadha. Sang Buddha pada saat itu sedang berada di hutan yang bernaam Bhesakalavana, tempat rusa-rusa diberi makan, di dekat kota Sumsumaragira, ibukota negeri Bhagga. Pada saat itu ia dikuasai oleh perasaan mengantuk. Kemudian Sang Buddha muncul untuk menyemangatinya agar melawan perasaan itu dengan berbagai cara yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.   Senantiasa penuh perhatian terhadap persepsi atau mengetahui apa yang menyebabkan kantuk.
2.   Merenungkan Dhamma yang telah ia dengar dan pelajari.
3.   Mengulangi Dhamma secara terperinci.
4.   Mencubit telinga dengan jari dan menepuk badan dengan tangan.
5.   Berdiri, basahi mata dengan air, lihat sekeliling ke segala penjuru dan menatap bintang-bintang.
6.   memperhatikan persepsi cahaya, berdiam dengan pikiran pada siang dan malam hari, membuka pikiran, melepaskan penutupnya, mengembangkan pikiran yang bermandikan cahaya.
7.   Melakukan meditasi jalan yaitu berjalan mondar-mandir, dengan pengendalian indria, tidak memperhatikan apapun di luar.
8.   (Yang terakhir) Berbaring dengan “posisi singa” yaitu di sisi kanan, dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan memusatkan pikiran pada waktunya bangun.


Cara-cara yang diatas diajarkan sebagai pilihan, untuk digunakan satu demi satu, jika yang sebelumnya tidak berhasil mengatasi kantuk, jika semuanya tidak berhasil, maka disarankan agar mengikuti keinginann tubuh dan beristirahat dengan cara yang dijelaskan di atas.

Melanjutkan cara-cara menaklukkan kantuk, Sang Buddha memberikan tiga instruksi lainnya kepada Yang Mulia Moggallana yaitu:

1.   Melenyapkan Keangkuhan. Jangan sampai ia “menaikkan belalainya” (yaitu melayang di udara juga tidak menyenangi perasaan membanggakan diri sendiri) ketika memasuki rumah umat awam; kalau tidak, jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga yang memerlukan perhatian dari orang-orang itu dan akibatnya mereka menjadi lupa manyapa si bhikkhu, bhikkhu itu mungkin menjadi malu dan terganggu. Ia akan meninggalkan pengendalian diri dan menjadi terasing dari meditasi.

2.   Mengendalikan Ucapan. Jangan mengucapkan kata-kata yang dapat mengarah pada pertengkaran atau mencari kesalahan, karena banyak pembicaraan dan perdebatan akan muncul. Kemudian muncul pengalihan yang diikuti oleh kurangnya pengendalian diri dan batin menjadi terasing dari meditasi.

3.   Pergaulan. Sang Buddha tidak merekomendasikan pergaulan; juga Beliau tidak mencelanya sama sekali. Tempat manapun yang tenang dan tidak terganggu oleh suara-suara orang yang berlalu-lalang, cocok bagi seorang Samana (petapa) yang menginginkan keheningan, juga cocok sebagai sebuah tempat kediaman bagi mereka yang menyukai kehidupan terasing, pergaulan dengan tempat demikian direkomendasikan oleh Sang Buddha.

Setelah menerima instruksi demikian, Yang Mulia Moggallana meminta ringkasan praktik dari Sang Buddha yang dengannya seorang bhikkhu dapat dianggap sebagai condong pada padamnya keinginan dan mengarah menuju keberhasilan transenden, keamanan transenden dari belenggu, kesucian transenden dan puncak tertinggi dari semua manusia dan para dewa.

Dalam jawabanNya Sang Buddha berkata bahwa seorang bhikkhu dalam pengajaranNya, setelah mendengar bahwa segala jenis Dhamma adalah tidak layak dilekati, melihat semua Dhamma dengan kebijaksanaan, mengetahui bagaimana agar tidak melekatinya. Selanjutnya, ketika ia mengalami perasaan yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan atau yang netral, ia merenungkannya sebagai tidak kekal. Ini ia lakukan dengan Pandangan terang yang menuju Keletihan, menuju Pemadaman, menuju Pemisahan dirinya dengan perasaan-perasaan itu. Maka ia kemudian akan terlepas dari segala sesuatu di dunia, dengan tidak terganggu dan mampu melenyapkan semua kekotoran, mengetahui bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah disempurnakan dan semua yang harus dilakukan telah selesai dilakukan, tidak ada lagi yang harus dilakukan untuk Pencerahan ini.

Dengan mengikuti instruksi Sang Buddha, Yang Mulia Moggallana mencapai Kearahatan pada hari itu juga.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #22 on: 18 March 2010, 11:07:38 PM »
Yang Mulia SARIPUTTA

Sehubungan dengan Yang Mulia Sariputta, yang namanya berasal dari ibunya Sari, setengah bulan setelah penahbisannya ia mengikuti Sang Buddha menuju Gunung Gijjhakuta (Puncak Nasar), di Kota Rajagaha. Pada hari itu Sang Buddha berdiam di sebuah Gua yang disebut Sukarakhata ketika seorang pengembara bernama Dighanakha Aggivesana datang dan berdiri di tempat yang selayaknya. Yang Mulia Sariputta sedang mengipasi Sang Buddha. Pengembara itu kemudian mengungkapkan pandangannya, mengatakan bahwa segala sesuatu tidak menyenangkan baginya dan bahwa ia tidak bergembira di dalamnya.

Dalam jawabannya Sang Buddha berkata, “Kalau begitu, Aggivesana, pandanganmu itu tentu tidak menyenangkan bagimu dan engkau pasti tidak gembira di dalamnya juga.”

Setelah itu Beliau melanjutkan mengatakan kepada si pengembara tentang tiga kelompok pandangan yaitu pertama, segala sesuatu menyenangkan bagi mereka; ke dua, segala sesuatu tidak menyenangkan bagi mereka; dan ke tiga, beberapa hal menyenangkan, sementara yang lainnya tidak menyenangkan.

Pandangan pertama, lanjut Sang Buddha, cenderung mengarah pada nafsu akan hal-hal tersebut, sedangkan yang ke dua mengarah pada kebencian atau permusuhan, dan ke tiga, tunduk pada keduanya pada saat-saat yang berbeda. Oleh karena itu, semua itu menghasilkan kekotoran, karena kemelekatan pada salah satunya secara alami berlawanan dengan yang lainnya. Selanjutnya akan diikuti oleh pertengkaran dan kekerasan baik dalam ucapan maupun tindakan. Seorang bijaksana menyadari fakta ini akan meninggalkan pandangan itu dan tidak melekat pada pandangan yang lain. Dengan cara ini ketiga pandangan itu dapat ditinggalkan.

Setelah itu Sang Buddha melanjutkan memberikan instruksi kepada pengembara itu dengan menjelaskan bahwa tubuh ini adalah kumpulan dari empat unsur utama yaitu tanah, air, udara, api. Terlahir dari ayah dan ibu, tumbuh melalui makanan dan selalu memerlukan pengharum dan sabun untuk menutupi baunya yang menyengat. Tubuh ini juga harus dibersihkan dan digosok (untuk melepaskan kotoran-kotoran yang menumpuk di kulit). Tubuh ini pasti memudar dan membusuk. Oleh karena itu seseorang harus menganggapnya tidak kekal, penuh penderitaan yang sulit ditahankan, menganggapnya sebagai penyakit, bisul dan anak panah karena selalu didera oleh kesulitan dan kemunduran. Ia harus merenungkannya sebagai hampa dari diri.

Melanjutkan instruksiNya, Sang Buddha menjelaskan kepada pengembara itu tentang ketiga jenis Vedana (Sensasi atau Perasaan) yaitu menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral, menjelaskan bahwa ketika salah satu dari tiga itu muncul maka kedua lainnya secara otomatis lenyap. Akan tetapi ketiga ini, mengalami perubahan, karena terkondisi, muncul karena sebab-sebab. Mengalami kemunduran, peluruhan dan padam. Seorang siswa mulia  yang memahami ini menjadi letih, dengan pikiarnnya terpisah dari nafsu dan terbebas dari kemelekatan. Selanjutnya dalam rangkaian ini adalah sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam Anattalakkhanasutta.

Selama waktu itu Yang Mulia Sariputta, dengan kipas ditangannya melayani Sang Buddha, juga mendengarkan instruksi yang diberikan kepada si pengembara. Dengan merenungkannya, ia menjadi yakin akan bagaimana Sang Buddha menganjurkan untuk melepaskan semua Dhamma dengan kebijaksanaan tertinggi. Sebagai akibatnya batinnya terbebaskan dari segala jenis kekotoran-kekotoran halus, telah melepaskan kemelekatan.

Di akhir khotbah itu si pengembara mencapai Mata-Dhamma. Tercatat bahwa pengembara itu adalah keponakan Yang Mulia Sariputta. Adalah karena ia ingin mengunjungi Yang Mulia Sariputta maka ia mendatangi Sang Buddha dan kemudian berkesempatan untuk mengungkapkan pandangannya, merujuk secara tidak langsung bahwa ia tidak puas akan ajaran Sang Buddha. Kemungkinan Sang Buddha mengetahui hal itu dan dengan bijaksana memberikan jawaban, sehingga menuntunnya menuju tema yang lebih bermanfaat demi keuntungannya.

Yang Mulia Moggallana

Yang Mulia Moggallana dipuji oleh Sang Buddha sebagai yang terkemuka dalam pencapaian kekuatan batin, sedangkan Yang Mulia Sariputta dalam hal Kebijaksanaan, Yang Mulia Moggallana juga dianggap sebagai siswa ‘tangan-kiri’ Sang Buddha sedangkan Yang Mulia Sariputta sebagai ‘tangan-kanan’Nya. Adalah karena fakta ini maka ketika sebuah patung Buddha dibuat, juga terdapat dua siswa, masing-masing di satu sisi patung tersebut, kadang-kadang berdiri dan kadang-kadang duduk. Akan tetapi, keduanya memiliki ciri-ciri dan ukuran yang sama dan, untuk menentukan yang mana adalah Yang Mulia Sariputta dan yang mana Moggallana, aturannya adalah dengan berpatokan pada patung Sang Buddha. Dengan demikian siswa di sebelah kanan patung Buddha adalah Yang Mulia Sariputta dan di sebelah kiri adalah Moggallana. Akan tetapi, bagi orang yang menghadap patung Buddha, siswa di sebelah kirinya adalah Yang Mulia Sariputta, sedangkan yang lain di sebelah kanannya adalah Moggallana. Tradisi ini juga berlaku pada prosedur penahbisan, di mana yang berada di sebelah kanan penahbis adalah senior dan yang lain di sebelah kirinya adalah junior. Tetapi bagi si calon, yang berada di sebelah kirinya (dengan menghadap pada penahbis) adalah senior, sedangkan yang lain di sebelah kanannya adalah junior.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #23 on: 18 March 2010, 11:09:34 PM »
Penjelasan

Berikut ini adalah penjelasan atas apa yang menjadi keprihatinan kedua siswa utama. Ini dimulai dengan kata-kata Yang Mulia Assaji dalam menjawab pengembara Upatissa. Ini dianggap sebagai inti dari Empat Kebenaran Mulia, terbukti dengan dituliskan dalam sebuah prasasti pada masa Raja Ashoka.

Syair itu dimulai dengan YE DHAMMA …, menyiratkan kebenaran bahwa Dhamma apapun juga muncul karena sebab-sebab, Sang Tathagata (Sang Buddha) menjelaskan sebab-sebabnya, bersama dengan padamnya. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Petapa Agung. Di atas permukaan, syair ini sepertinya tidak menginspirasi, khususnya bagi seseorang yang belum menangkap makna Empat Kebenaran Mulia hingga tingkat tertentu. Hanya dengan pemahaman demikian maka penembusan dapat tercapai.

Bagi seseorang yang telah menangkap makna dari kebenaran-kebenaran itu, akan jelas bahwa Kebenaran Penderitaan dan bahwa Kebenaran Penyebab adalah sebab dan akibat, atau, untuk menyelaraskannya, akibat dan sebab dalam hal aspek munculnya Penderitaan. Kemudian muncul Kebenaran Padamnya dan Kebenaran Sang Jalan. Keduanya adalah akibat dan sebab dalam hal aspek padamnya Penderitaan. Demikianlah ajaran Petapa Agung.

Untuk menerapkan syair ini pada prinsip umum Buddhisme, sebagai seorang yang telah mempelajarinya, dapat dikatakan bahwa Buddhisme mengajarkan hukum yang mencakup segala sesuatu bahwa semua akibat buruk yang terjadi berasal dari sebab yang sama buruknya, yang dapat disebut jahat yaitu Karma tidak lurus atau tidak bermanfaat. Sebaliknya, akibat baik, muncul dari sebab baik yang bersesuaian, yang dapat disebut jasa kebajikan yaitu perbuatan  lurus atau bermanfaat. Bagian pertama dari syair Yang Mulia Assaji – Segala Dhamma muncul karena sebab – merujuk pada akibat, yang baik maupun buruk, sedangkan bagian ke dua – Sang Tathagata telah menjelaskan penyebabnya – menunjukkan kualitas-kualitas baik, lurus dan bermanfaat sebagai penyebab dari akibat baik, kemudian menunjukkan kualitas-kualitas jahat, tidak lurus dan tidak bermanfaat sebagai penyebab dari akibat buruk. Sehubungan dengan bagian ke tiga – Sang Tathagata mengajarkan lenyapnya – dapat dianggap sebagai penutup dua sisi, mendesak orang-orang agar meninggalkan sebab-sebab buruk agar mereka dapat membersihkan akibat-akibat buruk di satu pihak dan di pihak lain juga mengembangkan penyebab-penyebab baik agar memperoleh akibat-akibat baik.

Akan tetapi, agar suatu ajaran religius menjadi sempurna, maka harus ada titik terakhir bagi seseorang untuk dicapai, jika tidak maka melakukan kebaikan akan menjadi suatu proses tanpa akhir. Oleh karenanya, ini menyiratkan fakta bahwa ajaran itu belum selesai. Segala sesuatu memiliki akhir atau penyelesaian, apakah itu adalah kehidupan seseorang, pembelajaran atau aktivitas apapun juga. Demikianlah apa yang diharapkan. Jika suatu ajaran religius mendesak penganutnya untuk melakukan kebaikan tanpa akhir, maka itu berarti ajaran itu masih belum selesai.

Titik Akhir

Dalam Buddhisme terdapat titik akhir – ‘Titik akhir yang agung’, dari melakukan kebaikan. Orang-orang yang telah berjuang melakukan kebaikan adalah karena fakta bahwa mereka belum sampai pada titik itu. Mereka masih berusaha untuk melakukan lebih lagi, karena masih ada yang ‘lebih’ lagi yang menunggu di depan. Jika dan ketika ‘kebaikan’ merekja telah selesai dan sempurna, maka pada saat itu ‘cukup sudah’ tidak ada lagi yang ‘lebih’ untuk dilakukan karena ‘Titik akhir’ telah tercapai. Itu adalah ‘selesai’ dalam makna terselesaikan sepenuhnya.

Sekarang, kapan dan dimanakah titik ini dicapai dan tujuan terpenuhi? Buddhisme menjelaskan bahwa hanya ketika asavakilesa, secara literal berarti Kekotoran-kekotoran melimpah, telah dilenyapkan maka seseorang dapat treberkahi dengan ‘Titik akhir’. Setelah itu tidak ada lagi benih, atau sebab, atau kejahatan yang tersisa. Oleh karena itu tidak ada lagi yang harus dilakukan untuk membersihkan noda-noda kejahatan. Di sini Sang Buddha dengan tepat mengartikan salah satu konsep Brahmanis, dengan menyebut orang demikian sebagai seorang yang ‘menghanyutkan kebaikan maupun kejahatan.’ Oleh karena itu pada titik inilah Titik akhir itu, yang mutlak, atau puncak, dari apa yang baik, tidak ada kebaikan lain yang lebih tinggi dari ini. Ini adalah padamnya Limpahan (Asava), dengan akibat padamnya kebaikan dan kejahatan. Ajaran Buddhisme menunjuk pada kondisi ini sebagai akhir Khotbah, akhir dari segalanya yang harus dilakukan.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #24 on: 18 March 2010, 11:12:24 PM »
Terunggul dalam Kebijaksanaan

Yang Mulia Sariputta terkenal sebagai yang terunggul dalam jangkauan dan cakupan Kebijaksanaan tetapi tercatat bahwa ia mencapai Titik akhir lebih lambat daripada para pengikutnya yaitu lima belas haris setelah penahbisannya, sedangkan Yang Mulia Moggallana memerlukan waktu tujuh hari. Namun, para pengikutny6a telah mencapai Kearahatan lebih cepat daripada itu. Alasan dari hal ini, menurut naskah-naskah, adalah bahwa tingkat dan jangkauan Kebijaksanaannya jauh melebihi para bhikkhu lain. Sebagai akibat dari keragu-raguan yang lebih besar, yang memerlukan penyelidikan yang lebih mendalam khususnya pada tingkatan yang lebih tinggi. Akan tetapi, bahwa ia mampu menangkap dan memahami instruksi singkat dari Yang Mulia Assaji dengan cepat, walaupun ia belum mempelajari Ajaran Buddha sebelumnya, membuktikan bahwa ia memiliki kebijaksanaan yang unggul.

Ini menjadi lebih jelas jika kita membandingkan kasus orang-orang yang telah mempelajari Buddhisme sebelumnya atau bahkan yang telah mempelajarinya sedikit. Demikianlah, betapa tinggi atau dalamnya tingkat kebijaksanaannya!

Berbagai Lapisan Keinginan

Fakta lain yang layak dipertimbangkan adalah mengapa, dalam instruksiNya kepada kedua siswa utama, Sang Buddha menekankan pada praktik perenungan Vedana yaitu Sensasi atau Perasaan. Dikatakan bahwa mereka yang memiliki bentuk atau tingkatan Tanha atau Keinginan yang kasar akan cenderung melekat pada jasmani atau materi. Dengan demikian mereka menikmati menghias tubuh mereka, rumah mereka, perkakas mereka, dan peralatan lainnya. Mereka dapat menerima ketidaknyamanan dalam batas tertentu tetapi tidak tahan melihat tubuh mereka dan hal-hal lainnya tampak rendah dan  tidak menarik. Kadang-kadang, atau sering kali, mereka rela menderita agar dapat menjadi cantik. Demikianlah karakteristik dari mereka yang melekat pada jasmani dan materi.

Tingkat keinginan yang lebih tinggi dan lebih halus terwujud dalam kemelekatan Vedana, sensasi atau perasaan bahagia itu sendiri. Di sini ada sedikit perhatian pada keindahan fisik atau materi. Ini adalah kepuasan atas segala sesuatu yang mendukung kebahagiaan. Makanan, pakaian atau tempat tinggal apapun yang memenuhi keinginannya, tidak peduli bagaimana penampilannya, adalah tujuannya.

Sekarang, Vedana ada tiga jenis. Seperti telah disebutkan sebelumnya, juga terdapat jenis yang memberikan perasaan tidak-menyenangkan dan netral. Jika keinginan dibangun di atas perasaan itu, maka keengganan akan muncul. Dalam kasus-kasus demikian, dimana terdapat tingkat tertentu dari keengganan yang bermanfaat, seperti ketekunan dalam bekerja atau belajar, maka keengganan akan menjadi penghalang bagi kemajuan dan keberhasilan. Itu akan menahan mereka tetap di tempatnya, mengurung mereka selalu dalam keadaan pasif dan stagnan.

Kedua siswa utama dikenal sebagai keturunan dari keluarga-keluarga kaya, dan biasanya dimanjakan oleh segala kemewahan yang bisa mereka dapatkan. Setelah ditahbiskan, gaya hidup mereka mendadak berubah, dengan perasaan tdiak menyenangkan sebagai akibatnya. Ini adalah benar terutama pada masa Sang Buddha, ketika para bhikkhu harus melaksanakan empat Nissaya (yaitu, mengumpulkan makanan, mengenakan jubah potongan kain, menetap di bawah pohon dan meminum air kencing sebagai obat) lebih ketat daripada masa sekarang. Kehidupan demikian menghasilkan ketidak-senangan yang jauh lebih tinggi, baik dalam jumlah maupun intensitasnya. Tidak ada jaminan pasti mendapatkan makanan, pakaian, tempat tinggal atau obat-obatan yang dapat memuaskan keinginan. Oleh karena itu, kemelekatan pada perasaan menyenangkan pasti mengalahkan tujuan dari mereka yang ditahbiskan. Terlepas dari fakta bahwa banyak dari mereka yang jelas memiliki tingkat pengetahuan dan tingkat penerimaan ajaran yang cukup tinggi. Mungkin karena fakta ini maka Sang Buddha, dalam instruksiNya kepada kedua siswa itu, menekankan pada pentingnya ketidak-melekatan pada segala jenis Vedana yang muncul. Yang pada satu saat hanya muncul satu, melenyapkan kedua lainnya. Semua itu tunduk pada perubahan dan pelenyapan dan karenanya tidak layak dilekati. Jika Vedana yang menyenangkan terlepaskan, maka secara alami tidak ada perhatian atau kekhawatiran yang mengganggu pikiran. Tanpa keinginan untuk memperhatikan, yang menggelisahkan atau yang berdiam di sana, maka muncullah penembusan atas segala Dhamma (fenomena) sebagai akibatnya. Ini adalah makanan yang baik bagi pikiran yaitu pikiran yang serius. Menunjukkan fakta bahwa salah satu rintangan pada keberhasilan dalam bekerja, belajar atau berbuat baik adalah kemelekatan pada perasaaan menyenangkan ini. Jika ini dapat dilepaskan, dengan keberanian untuk menghadapi penderitaan apapun yang akan muncul, maka jelas akan muncul suatu perasaan pasrah, dan kelegaan. Tidak ada yang terlalu sulit; tidak ada pelaksanaan yang terlalu sulit; tidak ada tempat yang terlalu jauh atau berbahaya.

Ada suatu sabda yang layak diperhatikan. Yaitu “Sabbe dhamma nalam abhinivesaya: segala dhamma seharusnya tidak dilekati.” Inti dari makna ini serupa dengan kalimat dalam kebaktian pagi kita “Sabbe dhamma anatta: segala dhamma adalah bukan-diri.” Harus diperhatikan bahwa kalimat-kalimat ini merujuk pada kebenaran tertinggi, yang biasanya dibabarkan oleh Sang Buddha kepada mereka yang ingin menembus tingkat kebenaran tersebut. Kepada orang-orang biasa yang belum siap untuk tingkatan ini Sang Buddha tidak akan menyebutkannya.

Umumnya, “segala dhamma” dapat dibagi dalam dua jenis yaitu baik dan buruk. Pertama-tama, ada ajaran untuk menghindari kejahatan. Kemudian muncul praktik melakukan kebaikan, yaitu melakukan perbuatan baik setelah menghindari perbuatan jahat. Pada tingkat ini praktik melakukan kebaikan harus digenggam yaitu dilekati. Tidak boleh dilepaskan karena tentu saja ada tingkat kebaikan yang lebih tinggi dan lebih baik untuk dilakukan. Tujuan tertinggi masih belum tercapai dan seseorang harus berjuang.

Sekarang, akan tiba saatnya, di mana titik tertinggi tercapai. Ini berarti tidak ada lagi yang harus dilakukan karena “Puncak Everest”, secara kiasan, telah ditaklukkan. Tetapi ini juga di mana kemelekatan harus ditinggalkan selamanya. Dengan kemelekatan yang masih ada, maka keinginan juga masih ada; dan dengan keinginan yang masih ada, Kilesa atau Kekotoran juga selalu ada, dan karenanya puncak tertinggi, yang tenang dan tidak terkondisi, masih jauh. Ini mungkin dapat diumpamakan sebagai seorang murid yang, setelah lulus, namun menolak untuk meninggalkan sekolahnya yang telah menjaganya. Adalah demi puncak pencapaian tertinggi inilah Sang Buddha menganjurkan untuk melepaskan, atau melampaui, apa yang bahkan berada dalam wilayah kebaikan. Dalam tingkat biasa yaitu dasar atau menangah, Beliau tidak menunjukkan ‘Titik Akhir’ ini. Apa yang Beliau nasihatkan adalah agar selalu meninggalkan kejahatan dengan menambah keinginan, atau kemelekatan pada perbuatan baik. Demikianlah pentingnya menerapkan instruksi Dhamma dengan menyesuaikan tingkat kematangan pendengarnya. Jika diterapkan dengan cara yang keliru, maka instruksi itu akan menghasilkan akibat yang tidak diinginkan seperti kesalah-pahaman dan kebingungan.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 6. Vassa ke dua, ke tiga, dan ke empat
« Reply #25 on: 18 March 2010, 11:13:12 PM »
Penyebab Kritik

Terdapat satu fakta yang harus diperhatikan di sini. Dengan beralihnya keyakinan kedua siswa utama itu kepada Buddhisme, maka mereka diikuti oleh sejumlah besar pemuda dari keluarga-keluarga kaya dan terkenal di kota itu. Akan tetapi, ini mengakibatkan munculnya kritik dari orang-orang Magadha, banyak yang menuduh Sang Buddha memotong garis silsilah para perumah tangga, merenggut anggota keluarga dari keluarganya dan juga menyebabkan banyak istri menjadi janda. Melihat para bhikkhu ketika berkeliling menerima dana makanan, mereka mengeluh, mengatakan bahwa mereka adalah para bhikkhu yang telah merampas sejumlah siswa dari Sanjaya, dan bertanya dengan menyindir putera atau suami manakah yang akan mereka bujuk. Kritik-kritik ini kemudian disampaikan kepada Sang Buddha, yang meyakinkan mereka bahwa komentar-komentar demikian akan berlangsung selama paling lama tujuh hari. Kemudian ia menasihati para bhikkhu agar memberitahukan kepada para mereka yang melontarkan kritik bahwa Sang Tathagata mengajarkan Kebenaran, yang bermanfaat bagi makhluk hidup. Oleh karena itu, sangat disarankan, agar mereka yang memahami fakta ini tidak lagi memendam benci atau permusuhan terhadap kebenaran atau Dhamma.

Merujuk pada insiden ini, harus diperhatikan bahwa banyak dari mereka yang beralih keyakinan kepada Buddhisme sebelumnya telah ditahbiskan sebagai pengikut dari aliran kepercayaan religius lain. Kedua siswa utama, bersama dengan para pengikut mereka, telah lama termasuk dalam kategori ini. Mereka bukan menjalani kehidupan tanpa rumah persis ketika mulai menganut Buddhisme. Oleh karena itu, kemungkinan kritik itu dilontarkan oleh para guru religius yang kehilangan banyak pengikutnya yang beralih kepada Sang Buddha. Suara-suara celaan mereka adalah karena kecemburuan dan bukan karena keprihatinan yang tulus pada keluarga-keluarga yang kehilangan putera dan suami mereka.


TITIK AKHIR

Keinginan terdiri dari berbagai tingkat.
Kasar, sedang, halus.
Semuanya adalah jebakan untuk menjerat kaum duniawi
Dalam segala kegiatan mereka.

Yang kasar berdasarkan pada materi;
Jasmani, uang sebagai jangkarnya.
Segala sesuatu yang menyenangkan bagi kelima pintu-indria
Adalah apa yang mereka inginkan lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Jenis yang sedang adalah puas
Dengan kebahagiaan yang telah diperoleh
Melalui pikiran yang damai, tenang,
Merasa bahwa tujuan tertinggi telah tercapai.

Menghindar dari usaha keras;
Tidak suka bergerak maju
Berkubang dalam kepuasan diri,
Berpikir bahwa itu adalah kemenangan akhir.

Apapun yang menyenangkan mata, telinga, hidung,
Lidah, dan sentuhan mereka menganggapnya sebagai yang terpenting.
Selain ini mereka tidak memedulikannya
Semua lainnya tidak mereka perhatikan.

Yang halus terkembang jauh;
Demikianlah pikiran tidak mau berhenti,
Dengan bodoh merasa puas,
Namun mengharapkan pencapaian.

Di antara Dhamma yang melampaui keduniawian itu, -
Yang tidak pernah bertambah maupun berkurang,
Sebagai mahkota dari segala yang baik
Melampaui segala kebesaran.

Di antara kecemerlangan astronomis,
Yang kokoh, stabil, tiadk berubah,
Dimana konsep-konsep duniawi tidak ada,
Itulah apa yang disebut dengan Pencerahan.

Marilah para umat Buddha menghaluskan keinginannya,
Dengan pikiran yang perlahan-lahan dimurnikan
Hingga mereka mencapai atmosfir
Yang dihormati dan dipuji oleh para dewa dan manusia,

Dimana ada kemauan, di sana ada jalan
Tetapi kita semua pertama-tama harus memperlihatkan
Keyakinan, semangat, dan tekad kita
Untuk menghirup udara dimensi itu

Dalam melakukan kebaikan terdapat akhir,
Seseorang mencapai titik ini ketika
Mereka mencapai kemenangan lengkap terakhir
Kemudian muncullah bagi mereka Titik Akhir.

Mereka menjadi murni dan tenang sempurna,
Dimana ketenangan tidak tergoyahkan
Kesempurnaan mereka adalah mutlak
Ini adalah dimana ia Tecerahkan.



- Bab 6 Selesai -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #26 on: 27 March 2010, 09:43:49 PM »
-7-
YANG MULIA MAHAKASSAPA

Sewaktu Sang Buddha sedang menetap di Hutan Bambu, terdapat seorang siswa unggul lainnya yang layak disebutkan di sini. Ia bernama Yang Mulia Maha Kassapa. Ia, dalam biografi singkatnya, adalah putera seorang brahmana bernama Kapila dari keluarga Kassapa di suatu desa brahmana bernama MahatiMMha, negeri Magadha. Nama brahmananya adalah Pipphali Manava, pemuda Pipphali. Keluarga di mana ia dilahirkan adalah kelaurga kaya. Di usia dewasa, ia menikah dengan seorang gadis bernama Bhaddakapilanã, puteri seorang brahmana dari keluarga Kosiya di kota Sagala, negeri Magadha.

Kelak ia menjadi letih dengan kehidupan duniawi dan berkeinginan kuat untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, kehidupan suci. Menyadari bahwa sebagai umat awam ia tidak akan mampu mencapai kesempurnaan, “bagaikan kulit kerang yang digosok halus,” kehidupan suci yang ia cita-citakan sambil ia menjalani kehidupan duniawi, ia mencukur rambut dan janggutnya dan, setelah mengenakan jubah Kasaya (jubah kuning kemerahan yang dicelup dengan cairan penyusut), meninggalkan rumah, mengabdikan pelepasan keduniawiannya kepada Yang Tercerahkan Sempurna manapun yang ada masa itu. Ini berarti bahwa ia masih belum mengetahui siapa yang telah tercerahkan sempurna kepada siapa ia akan mengabdikan kehidupan pelepasan keduniawiannya, tetapi, dengan meyakini bahwa pasti ada, ia bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada Bhagava itu, siapapun dan dimanapun Beliau berada.

Bagian kisah hidupnya ini menunjukkan fakta bahwa kata Bhagava, Araham dan Sammasambuddha telah digunakan, merujuk pada siapapun yang sangat dihormati sebagai manusia ‘super’ atau ‘melampaui keduniawian’. Pipphali juga menganut kepercayaan itu, yakin bahwa pasti ada seorang Arahant di suatu tempat tetapi tidak mengetahui siapa. Akan tetapi, ia bertekad untuk mengabdikan kehidupan tanpa rumahnya kepada orang itu. Beberapa siswa Sang Buddha juga tercatat mengambil keputusan untuk menjalani kehidupan tanpa rumah dengan cara yang sama.

Ketika dalam pengembaraannya mencari Sang ‘Arahant’, ia bertemu dengan Sang Buddha di suatu tempat antara kota Rajagaha dan kota Nalanda sewaktu Sang Buddha sedang duduk di bawah keteduhan pohon banyan bernama Bahuputta Nigrodha, secara literal berarti pohon banyan beranak banyak. Mungkin pohon itu adalahb pohon yang telah tumbuh besar dengan banyak akarnya yang mengelilingi. Ketika melihat Sang Bhagava di sana, ia tiba-tiba, mungkin karena naluri ia menyadari bahwa orang itu bukan lain adalah Sang Buddha sendiri. Segera ia bersujud di kaki Sang Bhagava, menyatakan bahwa Sang Buddha adalah gurunya dan ia adalah siwa Sang Buddha.

Apakah yang ia lihat yang membuatnya yakin bahwa ia telah bertemu dengan Sang Buddha? Ini tidak disebutkan dalam Kanon Pali. Hanya tercatat dalam Komentar, menjelaskan kekuatan gaib sebagai penyebab keyakinan Kassapa. Ini berbeda dengan para siswa lain yang juga mengabdikan kehidupan pelepasan keduniawiannya kepada Sang Buddha. Yang Mulia Pukkusati, misalnya, menjalani kehidupan tanpa rumah dengan cara yang sama. Ia bertemu dengan Sang Buddha di rumah seorang pembuat tembikar. Namun ia tidak mengetahui hal ini bahkan selama ia bermalam bersama dengan Sang Buddha di dalam rumah itu. Hingga ia mendengarkan khotbah, maka ia menyadari siapa bhikkhu yang sedang membabarkan khotbah itu. Dalam kasus Yang Mulia Mahakassapa, tidak disebutkan khotbah apa yang disampaikan. Begitu ia melihat Sang Buddha, ia menyadari bahwa Beliau adalah orang yang mana ia akan mengabdikan kehidupan pelepasan keduniawiannya dan seketika menyatakan dirinya sebagai siswa Sang Bhagava. Demikianlah pasti ada suatu petunjuk baginya, yang, dengan memiliki kebijaksanaan yang dalam, mampu mendeteksi, secara naluriah, siapa orang tersebut. Kebijaksanaan serupa dapat dilihat dalam kasus Yang Mulia Sariputta, yang mampu menangkap dalamnya Dhamma segera setelah ia mendengarkan instruksi singkat dari Yang Mulia Assaji hanya satu kali.

Berikut ini adalah tiga instruksi yang dikatakan disampaikan oleh Sang Buddha kepada Pengembara Pipphali.

Pertama, membentuk pikirannya agar hormat dan patuh kepada semua bhikkhu, apakah yang berstatus senior, baru atau menengah.

Ke dua, membentuk pikirannya untuk mendengarkan dan memperhatikan semua Dhamma yang bermanfaat.

Ke tiga, tidak meninggalkan perhatian yang terarah pada jasmani yang menunjang kondisi bahagia. Ini bermakna gembira dalam perhatian pada jasmani.

Dipercaya bahwa Yang Mulia Maha Kassapa ditahbiskan melalui penahbisan Ehi yaitu secara informal oleh Sang Buddha sendiri. Akan tetapi, hal ini tidak disebutkan dalan riwayat hidupnya.

Delapan hari setelah penahbisannya, ia mampu mencapai kebijaksanaan menyeluruh, yang berarti Kearahatan, dengan batinnya terbebaskan dari segala jenis dan segala tingkat Kekotoran. Tercatat bahwa istrinya juga mengabdikan pelepasan keduniawiannya pada Sang Buddha dan kelak ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhunã.

Ada empat bhikkhu lain yang bernama Kassapa, tiga adalah para petapa berambut kusut yaitu Uruvela Kassapa, Nadi Kassapa dan Gaya Kassapa, dan yang ke empat adalah Kumara Kassapa. Demikianlah seluruhnya menjadi lima yang dinamai menurut nama keluarga mereka. Dalam kasusnya, ia mendapat awalan Maha yang ditambahkan di depan namanya, untuk membedakannya dengan yang lain. Kelak ia menjadi seorang siswa penting dalam penyebaran Buddha Dhamma setelah Sang Buddha wafat.
« Last Edit: 27 March 2010, 10:18:21 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #27 on: 27 March 2010, 09:45:34 PM »
Instruksi-instruksi Ketiga Siswa Unggul

Berikut ini adalah beberapa instruksi dari ketiga siswa unggul yang telah disebutkan sebelumnya.

YANG MULIA SARIPUTTA. Ia sangat dipuji oleh Sang Buddha karena luasnya kebijaksanaannya yang karenanya ia mampu membabarkan Empat Kebenaran Mulia sejelas dan serinci Sang Buddha. Pada beberapa kesempatan ketika Sang Buddha didatangi oleh para Bhikkhu yang ingin pergi ke tempat jauh, Beliau memberitahu mereka agar menemui Yang Mulia Sariputta juga. Satu contoh dari kejadian ini adalah suatu ketika, sewaktu Sang Buddha sedang menetap di kota Devadaha, sejumlah besar bhikkhu yang hendak pergi ke tempat jauh datang untuk berpamitan dengan Beliau. Mereka juga diminta untuk berpamitan dengan Yang Mulia Sariputta. Si tempat tinggalnya mereka ditanya apa yang akan mereka jawab ketika saat menetap di sana mereka didatangi oleh orang-orang cerdas yang menanyai mereka tentang apa instruksi dari guru mereka. Bagaimana mereka harus menjawab orang-orang itu, ia bertanya kepada mereka, sehingga jawaban mereka selaras dengan ajaran Sang Buddha, bukan sebaliknya. Para bhikkhu memohon kepadanya agar menjelaskan kepada mereka. Yang mana ia menasihati mereka agar menjawab orang-orang itu bahwa guru mereka mengajarkan mereka untuk meninggalkan kenikmatan dan nafsu. Ditanya lebih jauh dalam hal-hal apakah mereka harus meninggalkan kenikmatan dan nafsu, ia melanjutkan, mereka harus menjawab yaitu meninggalkan nafsu dan kenikmatan dalam Bentuk, Sensasi, Persepsi, Pengondisi Pikiran dan Kesadaran. Ditanya lagi apakah bahayanya, apakah manfaatnya, melakukan hal itu, mereka harus menjawab bahwa, dengan nafsu dan kenikmatan demikian masih ada, maka pasti ada penderitaan seperti kesedihan dan dukacita ketika salah satu dari kelima itu secara alami mengalami perubahan atau kemunduran. Begitu nafsu dan keinginan ditinggalkan, maka tidak akan ada kesedihan dan dukacita ketika salah satu dari kelima itu secara alami mengalami perubahan atau kemunduran. Itu adalah apa yang diajarkan oleh guru mereka, yang setelah melihat bahaya dan manfaatnya, kemudian mengajarkan kepada mereka.

Pada kesempatan lain, terdapat seorang bhikkhu bernama Yamaka, yang menganut kepercayaan bahwa seorang Arahant musnah setelah kematian. Banyak bhikkhu telah berusaha untuk membujuknya agar meninggalkan kepercayaan itu, namun tidak berhasil. Maka mereka mendatangi Yang Mulia Sariputta dan memintanya untuk membantu Yamaka meninggalkan konsep keliru tersebut. Demikianlah Yang Mulia Sariputta  mendatangi Bhikkhu Yamaka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut satu demi satu: Apakah yang engkau lihat yang merupakan Arahant? Di dalam apakah Arahant itu? Apakah engkau melihat bahwa Bentuk, Sensasi, Persepsi, Pengondisi Pikiran, dan Kesadaran adalah Arahant? Atau apakah engkau melihat bahwa ada Arahant di dalam kelima kelompok unsur itu?” yang mana Yamaka memberikan jawaban negatif.

Kemudian Yang Mulia Sariputta menanyakan lagi, “Oleh karena itu, apakah layak untuk mengatakan bahwa seorang Arahant setelah kematian adalah musnah sepenuhnya? Yang mana Yamaka menjawab, “Sebelumnya saya tidak memiliki pengetahuan ini.” Selanjutnya Yang Mulia Sariputta bertanya lebih lanjut, “Sekarang, jika engkau ditanya apa yang terjadi pada seorang Arahant setelah kematian, bagaimana engkau akan menjawab?” Yang menjawab dengan mengatakan, “Saya akan mengatakan bahaw bentuk, sensasi, persepsi, pengondisi pikiran dan kesadaran, yang mengalami perubahan, telah padam.” Ini, adalah poin penting untuk diingat.

Untuk memberikan instruksi lebih jauh kepada Yamaka, Yang Mulia Sariputta berkata, “Misalkan, ada seorang kaya yang dijaga oleh para pengikutnya. Kemudian seseorang yang ingin membunuhnya, tetapi tidak mampu melakukannya secara langsung. Maka ia menyerahkan dirinya sebagai pelayan si orang kaya. Ia melayani majikannya begitu baik hingga akhirnya ia dipercaya sepenuhnya oleh si orang kaya. Tidak lama kemudian ia memperoleh kesempatan untuk memenuhi keinginannya dengan membunuh majikannya. Bahkan ketika sang majikan hampir mati, ia masih tidak tahu siapa pembunuhnya. Ini adalah sebuah analogi bagi mereka yang terikat pada kelima unsur kehidupan, demikianlah Yang Mulia Sariputta berkata, yang menganggap kelompok-kelompok unsur itu sebagai diri mereka. Ketika kelompok-kelompok unsur itu mengalami perubahan atau kemunduran, kemelekatan itu juga membuat mereka menderita. Tanpa kemelekatan maka pasti tidak ada penderitaan bahkan walaupun kelompok-kelompok unsur itu mengalami kemunduran atau lenyap.

Ada kejadian lain yang menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan Yang Mulia Sariputta dalam menerapkan instruksinya sesuai situasinya. Pada suatu pagi ketika ia sedang menetap di Hutan Bambu. Ia sedang dalam perjalanan kembali dari menerima dana makanan di Kota Rajagaha dan pada saat itu sedang makan di bawah atap sebuah rumah. Kemudian ada seorang Paribbajika atau pengembara perempuan bernama Sucimukhã, secara literal berarti memiliki mulut seperti jarum, mungkin merujuk pada lidahnya yang tajam atau perilakunya yang suka menyindir. Ia mendekati Sang Bhikkhu dan mulai menusuknya dengan ‘mulut jarum’nya dengan mengatakan, “Petapa ini makan dengan kepala menunduk rendah”. Yang mana Sang Bhikkhu membantah, dengan mengatakan bahwa ia tidak melakukan hal itu. “Kalau begitu, engkau pasti nmakan dengan kepala mendongak ke atas.” Sekali lagi Sang Bhikkhu memberikan jawaban negatif. “Ya, engkau pasti makan dengan menghadap ke empat penjuru utama.” Sekali lagi Sang Bhikkhu membantahnya. “Sekarang engkau pasti makan dengan menghadap arah antara penjuru utama.” Seperti sebelumnya, Sang Bhikkhu memberikan jawaban negatif. “Sekarang,” Pengembara Sucãmukhã berkata, “Dengan menyangkal segala yang kukatakan, dapatkah engkau memberitahukan bagaimana engkau makan?”

Sang Bhikkhu berkata kepadanya, “Petapa manapun yang mengikuti praktik (gaib) meramalkan pertanda-pertanda baik dan buruk di suatu tempat dikatakan makan dengan kepala menunduk rendah; petapa manapun yang melakukan praktik (gaib) astrologi dikatakan makan dengan kepala mendongak ke atas; petapa manapun yang memberikan layanan kepada perumah tangga, melayani para perumah tangga dalam berbagai cara, adalah bagaikan makan dengan menghadap empat penjuru utama, sedangkan yang lainnya yang meramal dengan mengamati organ-organ tubuh adalah mereka yang makan dengan menghadap arah antara penjuru utama.”

Sebagai penutup, Yang Mulia Sariputta mengatakan bahwa ia tidak melakukan hal-hal tersebut, makanannya diperoleh melalui cara-cara yang benar dan selayaknya. Itulah sebabnya maka ia tidak termasuk dalam kelompok petapa manapun yang disebutkan sebelumnya. Ini menunjukkan betapa bijaksananya Sang Bhikkhu dalam membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Instruksi-instruksinya yang panjang dan terperinci dirangkum oleh para guru masa lalu dalam sutta-sutta seperti Sangãtisutta dan Dasuttarasutta, yang mana Dasuttarasutta adalah penuntun dalam pengelompokan dan standarisasi ajaran-ajaran dalam Konsili Agug yang disebut Sangayana.

YANG MULIA MOGGALLANA, di pihak lain, dipuji karena kemampuannya dalam menginspirasi keyakinan dari keluarga-keluarga para perumah tangga yang masih belum berkeyakinan dan tidak pernah secara finansial merugikan para keluarga. Ia diibaratkan dengan lebah, yang hanya mengecap madu dari bunga tanpa merusak kuntum, warna, dan keharuman bunga itu. Ia mungkin yang paling terampil dalam kegiatan pembangunan karena, setiap saat ada pekerjaan konstruksi untuk Arama atau vihara pada masa itu, maka ia sering kali ditugaskan sebagai penanggung jawabnya. Satu contoh dapat dilihat dalam pembangunan Pubbarama di Savatthã oleh umat awam perempuan Visakha ketika ia diserahi tanggung jawab untuk mengawasi proyek itu. Ajaran-ajarannya dirangkum dalan Anumanasutta, yang membahas tentang bagaimana mengetahui dan menilai diri sendiri dengan tanpa membeda-bedakan. Dalam sutta ia memberikan instruksi kepada para bhikkhu agar seorang bhikkhu dapat mengatakan bahaw ia memperbolehkan para bhikkhu lain memperingati atau menasihatinya setiap saat ia melakukan kesalahan. Tetapi, jika ia kelak didapati keras kepala, tidak mendengarkan alasan, maka para bhikkhu lain itu boleh meninggalkannya sendirian. Ada banyak penyebab seorang bhikkhu menjadi keras kepala, demikianlah ia berkata, di antaranya, ia sedang marah, membandel, kadang-kadang baik dan kadang-kadang jengkel, kesal, dan menunjukkan perasaan marah melalui kata-kata. Sekarang, jika seorang bhikkhu yang ingin dinasihati oleh para bhikkhu lain adalah seorang bhikkhu yang patuh, maka mereka akan dengan senang hati melakukannya. Penyebab bagi kepatuhan digambarkan sebagai lawan dari penyebab ketidak-patuhan dan keras kepala.

Setelah itu ia menginstruksikan mereka untuk membandingkan mereka dengan orang lain sehubungan dengan fakta bahwa seperti halnya mereka menjauhkan para bhikkhu lain dari keinginan jahat, demikian pula para bhikkhu lain akan menjauhkan mereka jika mereka memendam keinginan demikian. Ini adalah suatu pengingat-diri untuk mengawasi diri mereka sendiri apakah mereka sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Jika mereka menjawab positif, maka jelas mereka harus meninggalkan keinginan-keinginan itu. Hal-hal ini, ia memberitahu mereka, adalah apa yang harus senantiasa mereka ingat baik siang maupun malam seperti halnya anak-anak muda menatap cermin untuk melihat apakah di wajah atau tubuh mereka terdapat noda yang harus dibersihkan. Demikianlah seorang bhikkhu harus sering memeriksa dirinya dengan kebijaksanaan untuk membersihkan kotoran apapun yang ada dalam praktiknya. Sutta ini ia babarkan kepada para bhikkhu di taman rusa yang disebut Bhesakalavana, di negeri Bhagga.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #28 on: 27 March 2010, 09:46:48 PM »
Sehubungan dengan YANG MULIA MAHAKASSAPA, Sang Buddha memujinya sebagai yang terunggul dalam hal intruksi-instruksinya yang bertujuan untuk melenyapkan kekotoran. Ia selalu gembira dalam menasihati mereka agar puas dengan sedikit dan mengikuti praktik Dhutanga. Yang lebih penting adalah fakta bahwa Sang Bhagava juga memuji sang bhikkhu sebagai seorang yang memiliki moralitas yang setara dengan Beliau, menyiratkan praktiknya yang puas dengan sedikit, puas dengan empat benda kebutuhan dan akibatnya juga dilengkapi dengan kekebalan yang melindungi dirinya ketika mengunjungi keluarga-keluarga para perumah tangga. Untuk tujuan demikian Sang Buddha menginstruksikan para bhikkhu untuk berperilaku bagaikan bulan, mereka harus menjauhkan diri, baik secara fisik maupun pikiran, dari keluarga-keluarga perumah tangga. Hal ini bertujuan agar umat-umat awam selalu menganggap mereka sebagai pendatang baru dan agar mereka tidak berhubungan akrab dan pribadi dengan keluarga-keluarga awam tersebut. Semua moralitas ini, Sang Buddha melanjutkan, dapat ditemukan secara keseluruhan dalam diri Yang Mulia Mahakassapa. Untuk memberikan analogi, Sang Buddha mengangkat tangannya dan melambaikannya di udara, sambil menjelaskan bahwa seperti halnya tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh tangannya, yang tidak menempel pada tangan itu, demikian pula para bhikkhu yang mengunjungi rumah-rumah umat awam tidak boleh terikat dengan mereka. Mereka harus bertekad sebagai berikut: “Semoga mereka yang menginginkan kekayaan atau moralitas tercapai keinginannya.” Dan, “Semoga mereka memiliki sikap batin serupa ketika orang-orang lain memperoleh keuntungan dan kekayaan seperti mereka.” Semua kualitas ketidak-melekatan ini dapat ditemukan dalam diri Yang Mulia Mahakassapa, dan itulah sebabnya, Sang Buddha melanjutkan, ia bergantung pada ketidak-melekatan sewaktu mengunjungi rumah-rumah para perumah tangga.

Khotbahnya juga dipuji oleh Sang Buddha sebagai berdasarkan pada niat murni yang patut dicontoh. Sehubungan dengan hal ini, Sang Buddha menjelaskan bagaimana sebuah khotbah dapat berdasarkan pada motif yang tidak murni, dengan mengatakan bahwa jika seorang bhikkhu membabarkan khotbah dengan motif tersembunyi agar para pendengarnya terkesan atas dirinya dan kemudian memperlihatkan kesan mereka atas dirinya, maka khotbah demikian adalah tidak murni. Jika sebaliknya, seorang bhikkhu membabarkan khotbah dengan tujuan meyakinkan para pendengarnya, membantu mereka menembus kebenaran-kebenaran, dan, dengan penembusan itu, mereka mampu mempraktikkan Buddha Dhamma yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri, maka bhikkhu itu melakukannya dengan penuh belas kasihan, mengasihani mereka, bertujuan pada kesejahtreraan mereka, tidak secara terselubung mengharapkan kesejahteraannya. Maka khotbah demikian dikatakan sebagai murni. Dan yang demikian itu dapat ditemukan dalam khotbah dari Yang Mulia Mahakassapa.

Mahakassapa adalah yang terunggul dalam pelaksanaan rutin atas sejumlah praktik pertapaan keras (Dhutanga) misalnya menetap di hutan, berkeliling mengumpulkan dana makanan (Pindapata), mengenakan jubah potongan kain dan memiliki tidak lebih dari tiga jubah demikian. Ia lebih menyukai kehidupan terasing, tidak bergembira dalam pergaulan. Suatu ketika Sang Buddha berkata kepadanya, “Engkau sudah tua, O Kassapa. Lebih baik engkau menetap di sebuah vihara dan menerima makanan yang dipersembahkan oleh para peumah tangga.” Dalam jawabannya Yang Mulia Mahakassapa mengatakan bahwa praktiknya itu didasarkan pada dua alasan. Pertama, karena memang ia lebih menyukainya sebagai tempat yang damai. Ke dua, hal itu dapat menjadi teladan bagi para bhikkhu di masa mendatang, menunjukkan kepada mereka bahwa di masa Sang Buddha terdapat seorang Bhikkhu yang selalu gembira dalam melakukan hal-hal demikian. Atas alasan ini, Sang Buddha memberikan penghargaanNya.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: 45 tahun Sang Buddha. Bab 7: Yang Mulia Mahakassapa
« Reply #29 on: 27 March 2010, 09:48:34 PM »
YANG MULIA MAHAKASSAPA

Terunggul karena pelaksanaan keras
Pertapaan yang disebut Dhutanga,
Membuktikan kekuatan ketahanan
Dialah Yang Mulia Mahakassapa

Terlepas dari kekuatan yang telah melemah
Karena usia, menjadi rapuh,
Namun kekuatan batinnya tidak mengendur;
Ia masih memenuhi panggilan alam liar.

Tempat kedamaiannya adalah keterasingan;
Baginya itu adalah oasis;
Dikelilingi oleh hutan dan pegunungan,
Diselimuti oleh kehangatan kebahagiaan Jhana.

Tetapi ketika dipanggil oleh Sasana (Ajaran Buddha),
Ia meninggalkan tempat pengasingannya
Untuk membantu melestarikan Dhamma yang berharga,
Tidak terganggu oleh beban apapun.

Demikianlah bagaimana ia menjawab panggilan
Tugas sebagai tambahan dari
Alam liar yang ia junjung tinggi
Sekarang adalah Dhamma yang paling ia hargai.


YANG MULIA SARIPUTTA

Begitu luas dan dalamnya kebijaksanaannya
Menembus Buddha Dhamma
Jenderal dari Kerajaan Buddhis
Dialah Yang Mulia Sariputta

Peringkat ke dua setelah Sang Buddha
Ia adalah Jenderal dari para Bala Tentara
Untuk membantu semua orang, tanpa mencelakai seorangpun
Memperluas wilayah Buddhis

Ini adalah Bala tentara yang tidak kenal ampun,
Membunuh segala Kekotoran Batin,
Membidik penaklukan-diri sepenuhnya,
Menghasilkan kebahagiaan abadi tertinggi.

Ke manapun bala tentara ini menyerang
Ia menanam benih Kebijaksanaan di sekitarnya
Untuk melenyapkan Kebodohan
Mengakhiri tanah-tanah pemakaman.

Dari seorang yang telah memahami
Bagaimana kelahiran menyebabkan kematian dan sebaliknya.
Semua ini adalah penderitaan dalam samaran
Di dalam panggung Samsara.


YANG MULIA MOGGALLANA

Ketika langkah drastic diperlukan
Maka datanglah Bhikkhu Moggallana
Untuk mengatur segala sesuatu yang bersalahan,
Peringkat ke dua setelah Sang Buddha.

Ia adalah yang terunggul dalam mengerahkan
Kekuatan batin ketika segala sesuatu menjadi keliru
Ketika situasi menantang
Di sanalah ia siap melayani Sang Buddha

Kekuatannya digunakan untuk Sasana.
Bukan untuk perlindungan diri
Ketika tiba saatnya untuk Nibbana
Ia pergi setelah berpamitan.

Ia adalah sumber inspirasi
Dan keyakinan serta dorongan bagi banyak orang
Ia sekuat raksasa
Ketika berhadapan dengan kekejaman.

Caranya meninggal dunia
Masih teringat oleh kita dengan penyesalan,
- Akibat Karma terakhir berbicara –
Ia telah melunasi hutangnya.

Baginya, seorang siswa unggul
Senantiasa memiliki ketidak-melekatan,
Batinnya tidak terpengaruh,
Sama sekali tanpa Vipaka.


PASADA, KECEMERLANGAN BATIN

Demikianlah ketiga siswa pemenang
Masing-masing unggul dalam kemenangannya.
Mereka bagaikan tiga jenderal
Dalam bala tentara Dhamma Sang Buddha.

Di antara para bhikkhu dan bhikkhunã terkenal
Yang telah datang dari segala perjalanan kehidupan
Untuk disebutkan di sini dan setelahnya
Dari arsip biologis kita

Ini berfungsi sebagai penyemangat
Bagi semua teman-teman kita dalam Dhamma ini
Penderitaan apapun yang mereka alami
Dapat diubah menjadi Pasada*
-----------------------------------
*Pasada: Kecemerlangan batin sebagai akibat dari Keyakinan yang diperbarui, ini untuk melawan perasaan sedih, dan putus asa ketika mengalami kekecewaan dan kegagalan karena situasi yang tidak menguntungkan.


- Bab 7 selesai -