Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: CITTA VITHI  (Read 53319 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: CITTA VITHI
« Reply #75 on: 17 July 2009, 05:07:33 PM »
hendaknya bro jgn merasa "bodoh" karena saya sendiri belajar dari April 2005 tapi baru "ngeh" mengenai hubungan2 citta, cetasika, rupa sejak sekitar Agustus 2008
Kebayang khan dibimbing oleh mentor Pak Selamat yg sangat berkompeten aja, saya butuh 3.5 taon baru bisa "ngeh", boro2 menguasai......

Jika memang anda berkesempatan, hendaknya bisa hadir di kelas abhidhamma di Gunung Sahari tgl 8 Agustus biar kita bisa sharing bersama mengenai buddha dhamma

Nah itu dia bro ... saya gak mgkn bisa dateng tuh, di padum aja yg deket gak sempet koq ... (maklumlah) .. ;D ...

Makanya di DC ini, senang bisa belajar abhidhamma dengan bro dan sis Lily (pada sabar neranginnya) ... :)

_/\_ ...

sayang yah kondisinya lom cocok, bro........

krn saya merasa diskusi di tulisan sangat sulit untuk bisa menjelaskan keseluruhan apa yg ingin disampaikan loh....... berbeda dengan kelas dimana bsia melihat langsung bagaimana gerak tubuh, cara bicara, dsbnya.....

semoga bsia lebih cocok lain kali yah

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: CITTA VITHI
« Reply #76 on: 17 July 2009, 05:53:44 PM »
Eh ci lily tonton dvd abhidhamma yg judulnya Citta 1 lom?

disitu ratna ada terangin hubungan citta2 yg ada dalam citta vitthi, dengan ahetuka citta yg ada dalam penjelasan tabel citta

disitu juga bisa dilihat mana citta yg vipaka, yg kiriya.....

DVD yg di kasih waktu ikut kelas Dr. Mehm Tin Mon yaah? waduh...saya simpan di mana yah? saya belum tonton tuch.

Saya pernah nonton DVD yg Mentor agi jelaskan ttg Ahetuka citta itu... tapi waktu itu saya kurang tangkap penjelasan itu...kalo sempat saya mau tonton lagi aahhh...

Bro Markos...Anumodana yaah..._/\_

:lotus:

Hayo... dicari..... ;D

soalnya disitu ratna menjelaskan citta yg menyambungkan antara tabel citta dengan citta vitthi, yg menurut saya agak lebih unik dibanding yg pernah saya liat   ;)

kelas abhidhamma minggu lalu tgl 11 Juli, saya lebih jelaskan mengenai ahetuka..... mengenai ahetuka akusala 7, ahetuka kusala 8 dan kiriya 3

misal kenapa di akusala cuma 7 tapi di kusala ada 8 : itu berhubungan dengan santirana dimana pada kusala ada santirana upekkha dan somanassa
tapi di akusala hanya ada yg akusala karena yg domanassa itu hanya ada di dosa mula citta, jadi ga bisa muncul di ahetuka citta

kira2 seperti itulah penjelasan2 mengenai citta

dan topik terakhir sedang bahas mengenai kamma yg akan saya lanjutin di tgl 8 Agustus mengenai contoh2 kamma misal bagaimana kamma lampau bisa mendukung kamma saat ini, dsbnya

Bro Markos... anumodana atas sharingnya..._/\_

Nanti pulang akan saya cari DVD itu...saya lupa...apa DVD itu saya kasih ke orang lain yah? soalnya ada yg minta waktu di kelas Dr. Mehm. ;D

Mentor menjelaskan Ahetuka citta dengan menghubungkan kicca... saya rasa itu lebih menarik...:jempol:

_/\_ :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: CITTA VITHI
« Reply #77 on: 21 July 2009, 09:39:06 AM »
isi ahetuka citta, emang berhubungan kicca citta dan 17 proses dalam citta vitthi ci.....

semuanya saling berkorelasi kok.....

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: CITTA VITHI
« Reply #78 on: 22 July 2009, 06:12:21 PM »
mahakiriya itu apa ya? apa sama dengan mahakusala?
mengenai parinibbana seorang arahat[buddha] jelas pasti merujuk pada Samapatti-vitthi.
dikenal 3.
1.jhana-samapatti
2.phala-samapatti
3.nirodha-samapatti
khusus mengenai nirodha-sampatthi....
dikatakan syarat mengenani memasuki nirodha-sampatthi[yakni parinibbana]
1.anagami dan arahat [ apakah bisa anagami mencapai nirodha-samapatti]???? bukankah anagami belum bisa merealisasikan nibbana...

2.dikatakan harus memiliki rupa-jhana dan arupa....ada kutipan yang mengatakan Arahat tanpa waskita[kesaktian] jadi apakah arahat itu belum pasti memiliki rupa jhana dan arupa-jhana?
berarti arahat tersebut tidak dapat memasuki nirodha-samapatti kah?

3. apakah ketika seseorang ariya memasuki nirodha-sampatti bukan berarti parinibbana? [jadi beda nirodha dengan parinibbana]???
dengan kata lain bisa keluar masuk sesuka hati sesuai adhittana-vitthi seperti memasuki jhana..

habisnya saya mempunyai buku abhidhamma 45 jam karya panjika, tapi saya selama ini jarang baca karena bingung dengan istilah didalam dan kurang sekali mengenai penjelasan-penjelasan...


kemudian dikatakan bahwa seseorang yang bisa menimbulkan abhina-citta,harus menguasai sampatthi 8[rupa dan arupa]
kisah bikkhu Cula dimana mempertunjukkan abhinna tubuh menjadi banyak yang memenuhi jetavana, katanya membangkitkan abhinna-citta melalui kekuatan magga...
bisa beri penjelasan kekuatan magga ini?


maaf kalau saya banyak bertanya, soalnya pertanyaan mengenai abhidhamma di pikiran saya menumpuk...^^

metta.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: CITTA VITHI
« Reply #79 on: 22 July 2009, 11:39:52 PM »
mahakiriya itu apa ya? apa sama dengan mahakusala?
~ Mahakiriya dan Mahakusala adalah tidak sama
~ Mahakiriya:  Yang bukan kusala, bukan akusala dan bukan vipaka --> Mahakiriya citta: Kesadaran/pikiran yg bukan kusala, akusala dan bukan vipaka. Hanya fungsional saja. ---> timbulnya kepada Arahat.
~ Mahakusala: Yang Maha baik --> Mahakusala citta: Kesadaran/pikiran yg maha baik ---> timbulnya kepada makhluk yg tinggal di 30 alam kehidupan (tidak termasuk alam asannasatta).

  
mengenai parinibbana seorang arahat[buddha] jelas pasti merujuk pada Samapatti-vitthi.
dikenal 3.
1.jhana-samapatti
2.phala-samapatti
3.nirodha-samapatti
khusus mengenai nirodha-sampatthi....---> Memasuki Nirodha-Sampatthi: memasuki kepadaman Nama Khandha dengan terbebas dari bahaya dan merupakan kebahagiaan yang tertinggi---> Nibbana
dikatakan syarat mengenani memasuki nirodha-sampatthi[yakni parinibbana]
~ Parinibbana: padamnya Nama Khandha dan Rupa Khandha

1.anagami dan arahat [ apakah bisa anagami mencapai nirodha-samapatti]???? bukankah anagami belum bisa merealisasikan nibbana...---> jadi syarat ini ga masalah kan? bukankah begitu? (setelah baca jawaban sy di atas)

2.dikatakan harus memiliki rupa-jhana dan arupa....ada kutipan yang mengatakan Arahat tanpa waskita[kesaktian] jadi apakah arahat itu belum pasti memiliki rupa jhana dan arupa-jhana? -->
~ Kesaktian
~ Jhana: Kesadaran/pikiran yg melekat kuat dalam obyek kammatthana (meditasi) yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan Appana Samadhi (konsentrasi yg kuat).
Imo... tidak punya kesaktian... bukan berarti tidak memiliki jhana


berarti arahat tersebut tidak dapat memasuki nirodha-samapatti kah?

3. apakah ketika seseorang ariya memasuki nirodha-sampatti bukan berarti parinibbana? [jadi beda nirodha dengan parinibbana]???
dengan kata lain bisa keluar masuk sesuka hati sesuai adhittana-vitthi seperti memasuki jhana..

habisnya saya mempunyai buku abhidhamma 45 jam karya panjika, tapi saya selama ini jarang baca karena bingung dengan istilah didalam dan kurang sekali mengenai penjelasan-penjelasan...


kemudian dikatakan bahwa seseorang yang bisa menimbulkan abhina-citta,harus menguasai sampatthi 8[rupa dan arupa]
kisah bikkhu Cula dimana mempertunjukkan abhinna tubuh menjadi banyak yang memenuhi jetavana, katanya membangkitkan abhinna-citta melalui kekuatan magga...
bisa beri penjelasan kekuatan magga ini?
Bhikkhu Culapanthaka berhasil mencapai kesucian Arahat, ia pun dapat menunjukkan kesaktiannya (mengubah tubuh dari 1 menjadi byk)... Jhana seperti ini di sebut Maggasiddhi Jhana yg berarti mendapat jhana dengan kekuatan magga yaitu dengan hanya melaksanakan pengembangan pandangan terang (Vipassana Bhavana), kemudian menjadi Arahat dengan memperoleh Jhana hasil dari kesucian pikiran dan kamma dari kehidupan yang lalu.

maaf kalau saya banyak bertanya, soalnya pertanyaan mengenai abhidhamma di pikiran saya menumpuk...^^

metta.

cmiiw...
_/\_ :lotus:
« Last Edit: 22 July 2009, 11:45:09 PM by Lily W »
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: CITTA VITHI
« Reply #80 on: 23 July 2009, 09:42:41 AM »
3. apakah ketika seseorang ariya memasuki nirodha-sampatti bukan berarti parinibbana? [jadi beda nirodha dengan parinibbana]???
dengan kata lain bisa keluar masuk sesuka hati sesuai adhittana-vitthi seperti memasuki jhana..

Nirodha sampatti (pencerapan mental yang dalam)) bisa dimasuki oleh ariya yang sudah mencapai jhana ke-8 jadi tidak semua ariya akan mengalami kondisi seperti itu

misal seperti bhikkhu sariputta di Dhammapada Syair 223

Secara singkat dapat dikatakan bhw Nirodha samapatti adalah jhana ke-9

berikut saya kutip dari : http://web.mac.com/danielmingram/iWeb/Daniel%20Ingram's%20Dharma%20Blog/The%20Blook/2CECD5EA-6058-4428-8DDD-002856C2E28A.html


Quote
Appendix: The Cessation of Perception and Feeling (Nirodha Samapatti)    

The cessation of perception and feeling, (Nirodha samapatti in Pali), is the highest of the temporary attainments. As is traditional in the commentaries, I have included it last. It is discussed in a number of places, including Sutta #44, The Shorter Series of Questions and Answers, The Middle Length Discourses of the Buddha, in a talk given by a female arahat named “Dhammadinna,” and Path to Deliverance by Nyanatiloka, which draws from that fine text.

This attainment can neither be said to be a state or not a state, nor can it be said to be purely a concentration attainment or an insight attainment, as it lacks a basis for analysis. The word “Nirodha” (meaning “Cessation”) is also sometimes used without the qualifier “samapatti” (meaning “correct acquisition” or “attainment”) to refer to Fruition, so be careful to keep your terms straight when reading the old texts or speaking with others about these things. I always mean the cessation of perception and feeling when I use the word “Nirodha,” but others may not.

    It is said that Nirodha can only be attained by anagamis and arahats (those of 3rd and 4th path) who have some mastery of the formless realms. However, as Bill Hamilton once said, if you are an anagami or arahat, you are bound to run into Nirodha Samapatti eventually.

There are some reasons to question whether or not those of the lower stages of awakening might be able to attain this, or how the ability to attain this relates to the number of stages of awakening.

However, this is not a subject that I am in a mood to pursue in detail, as I have learned the hard way that such questions do not help in the end. If you manage to attain Nirodha, I wouldn’t fixate on the idea that you have attained at least 3rd path. That said, with a few months of careful work and focused intent, I was able to attain it after completing my third cycle of insight.

    One attains Nirodha by fusing insight practices and concentration practices in a fairly gentle way that is much less focused and precise than one would do if one wanted to attain Fruition. I find it easiest to attain when reclining, but the first time I attained it I was sitting. There is nothing that can really be said about this attainment, except for mentioning things about the entrance, exit, and the consequences of the attainment.

One rises through the samatha jhanas in a very low-key fashion with some weak awareness of their true nature (the Three Characteristics), enters the eighth jhana (neither perception nor yet non-perception), and then emerges from that state. Sometime shortly thereafter, and without warning or very recent premeditation, one may suddenly enter the cessation of perception and feeling. It must be noted that previous interest in attaining this during the preceding days or weeks tends to increase the chances of this attainment showing up. As one gets better at attaining this, one can slip in the inclination (resolution) to attain it after emerging from the 8th jhana and then forget about it before dropping in.

    As my dear old meditation friend Kenneth so rightly points out, between the 8th jhana and Nirodha there are a number of states very worth mentioning, thought the standard texts strangely don’t for reasons I can’t fathom. We have come to call them Pure Land One and Pure Land Two, as this seemed as good a thing to call them as anything, thus making a total of 10 jhanas and Nirodha. Both have as their overwhelming quality the feeling of deep gratitude in the purest and most profound sense, with Pure Land Two being a deepening and strengthening of Pure Land One, though it is also a bit wider and more diffuse.

These are remarkably healing, complete, pervasive, satisfying and heartfelt states, and the word “pure” applies quite nicely. Early on I barely noticed them and would jump as fast as I could from the 8th jhana to Nirodha. Now I know better and take the time to enjoy them. They write gratitude, beauty, clarity, and contentment onto the mind.

    There is also a state somewhere in that territory that seems basically like pure presence, like being a super-pervading Watcher, with the quality of perceiving or awareness itself being the dominant quality. This has a very different quality from the 6th jhana Boundless Consciousness, and in my opinion is far superior, more fundamental, and could be argued as the highest of the states that involve experience. However, the fact that states that are so clear to me continue to show up that were never described in the old texts so far as I can tell brings up another important point: the territory out there past the fourth jhana and particularly the eighth jhana is very malleable.

Kenneth and I have speculated that the limits to the states attainable out there are limited by our imagination and concentration skill only, and I have imagined staging a friendly contest among high-level practitioners to dream up states that are even better than the ones I know so that we can play around with attaining them and seeing if there are any limits to the thing. The large list of all the exotic heaven realms found in the old texts adds credence to this belief. I realize this may seem like a contradiction to earlier statements I have made about being able to master concentration practices absolutely. It is. Back to describing Nirodha…

    The texts rightly say that, on the entrance to Nirodha, verbal formations cease first, then bodily sensations, then the whole of mental functioning ceases when the attainment is finally entered. This is traditionally explained as correlating to the first jhana, fourth jhana and then the entrance into Nirodha respectively. However, it may be noticed that in the three moments before cessation of perception sets in (during the complete power failure-like entrance) the verbal formations, bodily formations and mental formations cease in that order also in three consecutive and definable moments, with the whole thing taking about 1/3 of a second.

Thus, the texts may have a double meaning, or were misinterpreted by scholars who had not ever attained Nirodha Samapatti. I say this because it is still possible for many bodily and verbal (mental) formations to arise between the eighth jhana the entrance to Nirodha, and thus the traditional interpretation does not quite hold up.

    The texts also say that this attainment may last seven days or even longer, but I don’t personally know of anyone who has admitted to having this happen. That doesn’t mean it can’t happen, but would probably require a long and sustained retreat before hand. The duration of such attainments will be related directly to one’s concentration abilities, and these are very dependent upon local practice conditions and the amount that they have recently been exercised.

    Unlike Fruition, one exits this attainment in the reverse of the way one came in, with mental formations arising first, quickly followed by physical and then verbal formations in the characteristic analogue way of the entrance and with the same timing. After leaving this attainment, the mind tends to be deeply peaceful and very clear, and one’s body tends to be very relaxed. The longer the attainment lasted, the stronger and more durable this effect will be. Thus, I would not recommend attaining this immediately before entering into situations that require high-speed decisions or actions. The texts say that one inclines to solitude or quiet after attaining this state, and in general I agree.

    I mention this attainment because it is one more of those things that is found today but has often been relegated to the realm of myth and legend or has been forgotten entirely. It is not that Nirodha is necessary, but it definitely is a good and useful thing to be able to attain.

In fact, I have not yet spoken with anyone who had attained it who didn’t consider it among the absolute King Daddy of meditation attainments other than arahatship, as the depth of its afterglow never fails to impress and amaze. Hopefully, mentioning it will raise the standard to which people feel they can reasonably aspire, which is basically the whole goal of this book.

    One more little morsel for you brave adventurers… I have noticed that the easiest time to attain Nirodha is usually a few weeks after attaining a path, when the vipassana jhana aspect of the progress of insight is becoming clear and a nice degree of mastery has been attained in that Review phase. However, it has this nice/nasty habit of helping to precipitate a new progress cycle, as the level of clarity gained in its wake is impressive.

Thus, one may go from the best highs of a Review phase and Nirodha’s glorious afterglow to the 3rd ñana, A&P and the Dark Night quickly. In fact, this seems to be a very natural part of many cycles of anagamis who also know the samatha jhanas and formless realms.
« Last Edit: 23 July 2009, 09:44:24 AM by markosprawira »

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: CITTA VITHI
« Reply #81 on: 23 July 2009, 09:54:02 AM »
Tambahan:

Ada dua jenis Arahat, yaitu Sukhavipassaka-arahanta (Arahat tidak mempunyai jhana hanya melaksanakan Vipassana Bhavana saja) DAN Samatha-yanika-arahanta (Arahat mempunyai jhana).
Nirodha berarti kepadaman Nama- Khandha (bukan berarti Parinibbana). Kepadaman Nama-Khandha berarti Nama-Khandha diam/mengendap (tidak aktif) utk sementara selama memasuki Nirodha-Samapatti. Jadinya Anagami dan Arahat yg mempunyai Jhana 8 dapat memasuki Nirodha-samapatti. Anagami dan Arahat yg tidak mempunyai jhana 8 tdk dapat memasuki Nirodha-samapatti.

_/\_ :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: CITTA VITHI
« Reply #82 on: 23 July 2009, 10:07:01 AM »
IMO kalau nirodha-samapatti berkaitan dengan tercapainya nibbana, seharusnya Sukhavipassaka arahat atau samatha yanika arahat bisa berada didalam nirodha samapatti. Dua-duanya sudah mengalami nibbana.

Pertanyaanya agar lebih jelas, apakah di Abhidhamma ada disebutkan bahwa seseorang yg mencapai Nirodha samapatti harus melalui jhana?
« Last Edit: 23 July 2009, 10:10:15 AM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: CITTA VITHI
« Reply #83 on: 23 July 2009, 11:36:42 AM »
Bro Bond...

Yang dapat memasuki Nirodha-Samapatti itu adalah orang yang memenuhi syarat-syarat sbb:
~ Harus seorang Anagami atau Arahat
~ Harus mempunyai Rupa Jhana dan Arupa Jhana (Jhana 8 )
~ Harus mempunyai Vasi, dan mahir dalam Sampada, atau pencapaian empat bagian, yaitu:
1. Ada Samatha-Bala dan Vipassana-Bala, yaitu ada Samadhi dan Panna yang kuat dan Mahir
2. Mahir dalam penahanan terhadap kaya-sankhara, vaci-sankhara dan citta-sankhara
3. Mahir dalam Solasanana (Nana 16)
4. Mahir dalam Jhanasamapatti 8 sebelumnya
Untuk dapat memasuki Nirodha-Samapatti harus mempunyai tenaga yang kuat, yaitu tenaga dari Samatha-Bhavana sampai Nevasannanayatana Jhana (jhana 8 ) dan tenaga dari Vipassana-Bhavana harus sampai paling rendah tatiyamagga, harus memakai tenaga Samadhi dan tenaga Panna secara bersama.
~ Harus orang yg diam di alam kehidupan yang mempunyai Khandha 5 (Pancavokara-Bhumi), sebab dalam Arupa bhumi tidak dapat memasuki Nirodha-Samapatti, karena tidak mempunyai Rupa Jhana.
Anagami atau Arahat yg mempunyai Samapatti 8 harus di sertai syarat-syarat tersebut di atas, bila akan memasuki Nirodha-Samapatti harus berbuat sbb:
1. Memasuki Pathama  Jhana yang telah diperoleh, sebagai obyek pathama-jhana-kusala-citta untuk Anagami atau pathama-jhana-kiriya-citta untuk Arahat, Jhana citta timbul satu khana (saat/momen) sbb :    B BC BP MA PAR UPA ANU GOT JHA B

2. Bila keluar dari Pathama Jhana, harus merenungkan jhana dengan sifat Tilakkhana, perenungan seperti ini disebut Paccavekkhana Vithi.
B BC BP MA JA JA JA JA JA JA JA B

3. Memasuki Duttiya-Jhana, Jhana citta timbul satu khana
4. Memasuki Paccavekkhana Vithi
5. Memasuki Tatiya-Jhana, Jhana citta timbul satu khana
6. Memasuki Paccavekkhana Vithi
7. Memasuki Catuttha-Jhana, Jhana citta timbul satu khana
8. Memasuki Paccavekkhana vithi
9. Memasuki Pancamajjhana, jhana citta timbul satu khana
10. Memasuki Paccavekkhana vithi
11. Memasuki Arupa Jhana, yaitu Akasannacayatana-Jhana, Jhana citta timbul satu khana
12. Memasuki Pancavekkhana vithi
13. Memasuki Vinnanancayata-jhana, jhana citta timbul satu khana
14. Memasuki Paccavekkhana vithi
15. Memasuki Akincannayatana jhana, jhana citta timbul satu khana
16. Bila keluar dari Akincannayatana-jhana, tidak usah memasuki Paccavekhana vithi lagi, tetapi memasuki Adhitthana vithi dengan melakukan empat macam tugas, yaitu:
~ Nanabaddha avikopana, dengan adhitthana menyebutkan: Segala sesuatu termasuk jasmani saya jangan sampai kena bahaya.
~ Sanghapatimanana, dengan adhitthana menyebutkan: Bila ada rapat Sangha dan menginginkan saya hadir, harap dapat keluar tepat waktunya dan tidak usah datang mencari.
~Sattupakkosana, dengan adhitthana menyebutkan: Bila Sang Buddha membutuhkan saya, harap dapat keluar tepat waktunya dan tidak usah menyuruh orang lain datang mencari
~ Addhana pariccheda, dengan adhitthana batas waktu masuk: Berapa lama mau memasuki Nirodha-Samapatti, dengan merenungkan usia saya sampai 7 hari kah? Bila tidak sampai 7 hari, tidak akan memasuki atau memasuki kurang dari 7 hari.
17. Sesudah adhitthana langsung memasuki Nevasannanasannayatana-Jhana (jhana 8 ). Citta Vithi timbul dua khana (bukan satu khana)
18. Berikutnya Citta, Cetasika dan Cittajarupa padam, sedangkan Kamajarupa, Utujarupa dan Aharajarupa masih ada sebagai penjaga. Citta, Cetasika dan Cittajarupa akan padam selama batas waktu dari Adhitthana.
19. Bila telah sampai batas waktu dari adhitthana, di sebut keluar dari Nirodha-Samapatti.  Anagamiphala untuk Anagami-puggala atau Arahattaphala untuk Arahatta-puggala, timbul satu khana dahulu, kemudian citta, cetasika dan cittajarupa akan timbul seperti sedia kala.

Pathamajjhana Vithi~Manda Puggala:
B BC BP MA PAR UPA ANU GOT JHA B B

Pathamajjhana Vithi~Tikkha Puggala:
B BC BP MA UPA ANU GOT JHA B B

Paccavekkhana-Vithi:
B BC BP MA JA JA JA JA JA JA JA B B B

Akincannayatana-Jhana Vithi (Manda Puggala):
B BC BP MA PAR UPA ANU GOT AKIN B B

Akincannayatana-Jhana Vithi (Tikkha Puggala):
B BC BP MA UPA ANU GOT AKIN B B

Adhitthana Vithi:
B BC BP MA JA JA JA JA JA JA JA  B B B

Nirodhasamapatti-Vithi (Manda Puggala):
B BC BP MA PAR UPA ANU GOT NE NE (Citta, cetasika, cittajarupa padam) PHA B

Nirodhasamapatti-Vithi (Tikkha Puggala):
B BC BP MA UPA ANU GOT NE NE (Citta, cetasika, cittajarupa padam) PHA B

Paccavekkhana-Vithi:
B BC BP MA JA JA JA JA JA JA JA B B B

Keterangan:
B    = Bhavanga
BC  = Bhavanga Calana (Bhavanga yang menggetar, sebab ada obyek baru datang)
BP  = Bhavanga Paccheda (Bhavanga menangkap obyek baru)
MA  = Manodvaravajjana (Kesadaran yg menyelidiki obyek dari Pintu Pikiran)
PAR  = Parikamma (Tingkat pendahuluan)
UPA  = Upacara (Tingkat penghampiran)
ANU  = Anuloma (Tingkat Kemajuan)
GOT  = Gotrabhu (Tingkat pemutusan)
JHA   = Jhana (Tingkat ketenangan batin)
JA     = Javana (Dorongan terhadap obyek yg telah menjadi  kusala, akusala, kiriya)
AKIN  = Akincannayatana-Jhana

Demikianlah yg tertulis di Buku Abhidhammatthasangaha (karya Pandit J Kaharuddin).

Semoga bermanfaat...

_/\_ :lotus:
« Last Edit: 23 July 2009, 11:40:38 AM by Lily W »
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: CITTA VITHI
« Reply #84 on: 23 July 2009, 11:45:42 AM »
Ok Thanks Mam, sudah jelas deh.... ;D
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: CITTA VITHI
« Reply #85 on: 23 July 2009, 11:47:31 AM »
Ok Thanks Mam, sudah jelas deh.... ;D

Ngga gampang yaah untuk memasuki Nirodha-Samapatti.... ;D

_/\_ :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: CITTA VITHI
« Reply #86 on: 23 July 2009, 12:31:59 PM »
ci lily emang TOBSS!!!!

GRP udah dikirim ekspres

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: CITTA VITHI
« Reply #87 on: 23 July 2009, 12:38:23 PM »
ci lily emang TOBSS!!!!

GRP udah dikirim ekspres

Bro Markos...

Anumodana..._/\_

:lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: CITTA VITHI
« Reply #88 on: 29 July 2009, 05:32:39 PM »
Tambahan:

Ada dua jenis Arahat, yaitu Sukhavipassaka-arahanta (Arahat tidak mempunyai jhana hanya melaksanakan Vipassana Bhavana saja) DAN Samatha-yanika-arahanta (Arahat mempunyai jhana).
Nirodha berarti kepadaman Nama- Khandha (bukan berarti Parinibbana). Kepadaman Nama-Khandha berarti Nama-Khandha diam/mengendap (tidak aktif) utk sementara selama memasuki Nirodha-Samapatti. Jadinya Anagami dan Arahat yg mempunyai Jhana 8 dapat memasuki Nirodha-samapatti. Anagami dan Arahat yg tidak mempunyai jhana 8 tdk dapat memasuki Nirodha-samapatti.

_/\_ :lotus:
mau nanya deh, kebetulan disebuah sutta,[kalau sy tidk salah baca]
"tidak mungkin meraih anagami phala, atau arahat phala tanpa jhana."

kalau arahat tanpa jhana itu ceritanya gimana?
seperti nya ini sudah pernah di bahas,tapi sy lupa...mohon di ingatkan lagi.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: CITTA VITHI
« Reply #89 on: 30 July 2009, 05:09:23 PM »
Tambahan:

Ada dua jenis Arahat, yaitu Sukhavipassaka-arahanta (Arahat tidak mempunyai jhana hanya melaksanakan Vipassana Bhavana saja) DAN Samatha-yanika-arahanta (Arahat mempunyai jhana).
Nirodha berarti kepadaman Nama- Khandha (bukan berarti Parinibbana). Kepadaman Nama-Khandha berarti Nama-Khandha diam/mengendap (tidak aktif) utk sementara selama memasuki Nirodha-Samapatti. Jadinya Anagami dan Arahat yg mempunyai Jhana 8 dapat memasuki Nirodha-samapatti. Anagami dan Arahat yg tidak mempunyai jhana 8 tdk dapat memasuki Nirodha-samapatti.

_/\_ :lotus:
mau nanya deh, kebetulan disebuah sutta,[kalau sy tidk salah baca]
"tidak mungkin meraih anagami phala, atau arahat phala tanpa jhana."

kalau arahat tanpa jhana itu ceritanya gimana?
seperti nya ini sudah pernah di bahas,tapi sy lupa...mohon di ingatkan lagi.

Coba dicek lagi deh bro karena sesungguhnya suci dan jhana itu adalah jalur yg berbeda, jadi bukan krn udah capai jhana, baru bisa capai kesucian

tapi jhana bisa digunakan untuk mempercepat pencapaian kesucian krn saat org sudah mencapai jhana, berarti konsentrasinya sudah kuat

kalo udah dapet suttanya, nti kita diskusi lagi yah