//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - seniya

Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9
31
Studi Sutta/Sutra / Tiga Sutta tentang Kekosongan dalam Samyukta Agama
« on: 15 August 2015, 06:28:20 PM »
Berikut adalah terjemahan tiga sutta dari Samyukta Agama (SA) yang mengambil topik tentang kekosongan (suññata / sunyata). Pentingnya ketiga sutta ini tidak hanya dalam Buddhisme awal, namun juga Mahayana yang mengomentari ketiga sutta dari kanon "Hinayana" ini sebagai yang mengandung ajaran tentang kekosongan fenomena (dharmanairātmāya) [sebagai pasangan dari kekosongan diri (pudgalanairātmāya) dalam Buddhisme awal]. Dua dari tiga sutta ini memiliki padanan Pali-nya dalam Samyutta Nikaya (SN), kecuali sutta yang terakhir.

Semoga bermanfaat _/\_

32
Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (5)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 103 sampai 110

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid kelima dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 103 sampai 110.<1>

103. [Kotbah kepada Khemaka]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika sekelompok banyak bhikkhu senior sedang berdiam di Kosambī di Taman Ghosita. Kemudian Bhikkhu Khemaka sedang berdiam di Kosambī di Taman Pohon Jujube. Tubuhnya menjadi sakit parah. Lalu Bhikkhu Dāsaka menjaga [bhikkhu] yang sakit itu. Kemudian Bhikkhu Dāsaka mendekati para bhikkhu senior, memberikan penghormatan pada kaki para bhikkhu senior, dan berdiri pada satu sisi.

Para bhikkhu senior berkata kepada Bhikkhu Dāsaka: “Dekatilah Bhikkhu Khemaka dan katakan: Para bhikkhu senior bertanya kepadamu: ‘Apakah tubuhmu sudah agak sembuh dan sudah berkurang [sakitnya], apakah parahnya penderitaan sakitmu tidak bertambah?’”<3>

Kemudian Bhikkhu Dāsaka, setelah menerima instruksi dari para bhikkhu senior, mendekati Bhikkhu Khemaka. Ia berkata kepada Bhikkhu Khemaka: “Para bhikkhu senior bertanya kepada anda: ‘Apakah perlahan-lahan sembuh dari penderitaan sakitmu? Apakah banyak kesakitan itu tidak bertambah?’”

Bhikkhu Khemaka berkata kepada Bhikkhu Dāsaka: “Aku tidak sembuh dari sakit dan tubuhku tidak berkurang [sakitnya], rasa sakit terus bertambah dan tidak ada keringanan. Seperti halnya banyak orang kuat yang memegang seorang yang lemah, menaruh tali di sekeliling kepalanya dan dengan kedua tangan menariknya dengan kuat, sehingga ia berada dalam kesakitan yang luar biasa. Rasa sakitku sekarang melebihi itu. Seperti halnya seorang tukang jagal sapi dengan sebilah pisau tajam membelah perut seekor [sapi] untuk mengambil organ dalamnya. Bagaimana mungkin sapi itu menahan kesakitan dalam perutnya? Perutku sekarang lebih sakit daripada perut sapi itu. Seperti halnya dua orang kuat memegang seorang yang lemah dan menggantungnya di atas api, yang memanggang kedua kakinya. Panas kedua kakiku sekarang melebihi itu.”<4>

Kemudian Bhikkhu Dāsaka mendekati para bhikkhu senior. Ia menceritakan semuanya kepada para bhikkhu senior apa yang telah dikatakan Bhikkhu Khemaka tentang kondisi penyakitnya.

Kemudian para bhikkhu senior mengirimkan Bhikkhu Dāsaka kembali mendekati Bhikkhu Khemaka, untuk mengatakan kepada Bhikkhu Khemaka: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, yang diajarkan Sang Bhagava.<5> Apakah lima hal itu? Mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati, perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati. Khemaka, apakah engkau dapat menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri?”

Kemudian Bhikkhu Dāsaka, setelah menerima instruksi dari para bhikkhu senior, mendekati Bhikkhu Khemaka dan berkata:<6> “Para bhikkhu senior berkata kepada anda: ‘Sang Bhagava telah mengajarkan lima kelompok unsur yang dilekati. [30a] Apakah anda dapat menyelidiki mereka sebagai bukan diri dan bukan milik diri?”

Bhikkhu Khemaka berkata kepada Dāsaka: “Aku dapat menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri.”

Bhikkhu Dāsaka kembali dan berkata kepada para bhikkhu senior: “Bhikkhu Khemaka berkata: ‘Aku dapat menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri.’”

Para bhikkhu senior kembali mengirimkan Bhikkhu Dāsaka untuk berkata kepada Bhikkhu Khemaka: “Dengan dapat menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan aku dan bukan milik diri, apakah dengan demikian engkau adalah seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan?”<7>

Kemudian Bhikkhu Dāsaka, setelah menerima instruksi dari para bhikkhu senior, mendekati Bhikkhu Khemaka. Ia berkata kepada Khemaka: “Seorang bhikkhu yang dapat merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati dengan cara ini, apakah ia seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan?”

Bhikkhu Khemaka berkata kepada Bhikkhu Dāsaka: “Aku merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai bukan diri dan bukan milik diri, [tetapi] aku bukan seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan.”

Kemudian Bhikkhu Dāsaka kembali kepada para bhikkhu senior.<8> Ia berkata kepada para bhikkhu senior: “Bhikkhu Khemaka berkata: ‘Aku merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai bukan diri dan bukan milik diri,<9> tetapi aku bukan seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan.”

Kemudian para bhikkhu senior berkata kepada Bhikkhu Dāsaka: “Kembalilah lagi untuk mengatakan kepada Bhikkhu Khemaka: Engkau mengatakan: ‘Aku merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai bukan diri dan bukan milik diri, tetapi aku bukan seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan.’ [Pernyataan] sebelumnya dan yang terakhir bertentangan satu sama lain.”

Kemudian Bhikkhu Dāsaka, setelah menerima instruksi dari para bhikkhu senior, mendekati Bhikkhu Khemaka dan berkata:<10> “Anda mengatakan: ‘Aku merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai bukan diri dan bukan milik diri, tetapi aku bukan seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan.’ [Pernyataan] sebelumnya dan yang terakhir bertentangan satu sama lain.”

Bhikkhu Khemaka berkata kepada Bhikkhu Dāsaka: “Aku menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri, tetapi aku bukan seorang arahant, [dengan arus-arus yang dilenyapkan]. Aku belum meninggalkan kesombongan ‘aku’, keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’, belum [sepenuhnya] memahaminya, belum menjadi terpisahkan darinya, belum memuntahkannya keluar.”<11>

Bhikkhu Dāsaka kembali kepada para bhikkhu senior. Ia berkata kepada para bhikkhu senior: “Bhikkhu Khemaka berkata: Aku menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri, tetapi aku bukan seorang arahant, dengan arus-arus [kekotoran batin] yang dilenyapkan. Aku belum meninggalkan kesombongan ‘aku’, keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’, belum [sepenuhnya] memahaminya, belum menjadi terpisahkan darinya, belum memuntahkannya keluar.’”

Para bhikkhu senior mengirimkan Bhikkhu Dāsaka lagi untuk berkata kepada Bhikkhu Khemaka: “Engkau [tampaknya] menyatakan bahwa terdapat suatu diri. Di manakah diri itu? Apakah bentuk jasmani adalah diri? Atau apakah diri berbeda dari bentuk jasmani? Apakah perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah diri? Atau apakah diri berbeda dari kesadaran?”

Bhikkhu Khemaka berkata kepada Bhikkhu Dāsaka:<12>  “Aku tidak mengatakan bahwa bentuk jasmani adalah diri, atau bahwa diri berbeda dari bentuk jasmani; bahwa perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah diri, [30b] atau bahwa diri berbeda dari kesadaran. Tetapi sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini aku belum meninggalkan kesombongan ‘aku’, keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’, belum [sepenuhnya] memahaminya, belum menjadi terpisahkan darinya, belum memuntahkannya keluar.”

Bhikkhu Khemaka berkata kepada Bhikkhu Dāsaka: “Mengapa merepotkanmu sekarang, membuatmu berlari ke sana ke mari? Bawakanlah tongkat jalanku. Menyokong diriku dengan tongkat jalan, aku akan mendekati para bhikkhu senior. [Jadi] aku memintamu memberikanku tongkat jalan untuk kugunakan.”

Bhikkhu Khemaka, yang menyokong dirinya dengan tongkat jalan, mendekati para bhikkhu senior. Kemudian para bhikkhu senior melihat dari jauh bahwa Bhikkhu Khemaka datang, disokong oleh sebatang tongkat jalan. Mereka sendiri menyiapkan sebuah tempat duduk untuknya dan mengatur ganjalan kaki. Mereka datang sendiri untuk menyambutnya, mengambil jubah dan mangkuknya, dan memintanya untuk duduk di sana.<13> Mereka bertukar salam ramah tamah satu sama lain. Setelah bertukar salam ramah tamah, para bhikkhu senior berkata kepada Bhikkhu Khemaka:

“Engkau mengatakan tentang kesombongan ‘aku’. Di manakah engkau melihat suatu diri? Apakah bentuk jasmani adalah diri? Atau apakah diri berbeda dari bentuk jasmani? Apakah perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah diri? Atau apakah diri berbeda dari kesadaran?”

Bhikkhu Khemaka berkata: “Bentuk jasmani adalah bukan diri dan tidak ada diri yang berbeda dari bentuk jasmani. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bukan diri, dan tidak ada diri yang berbeda dari kesadaran. Namun, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini aku belum meninggalkan kesombongan ‘aku’,<14> keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’, belum [sepenuhnya] memahaminya, belum menjadi terpisah darinya, belum memuntahkannya keluar.

“Ini seperti halnya keharuman teratai uppala, teratai paduma, teratai kumuda, teratai puṇḍarīka – apakah keharumannya berada dalam akarnya? Apakah keharumannya berbeda dari akarnya? Apakah keharumannya berada dalam tangkainya, daunnya, benang sarinya, bagian-bagian yang lebih halus dan kasarnya? Atau apakah ia berbeda dari... bagian-bagian yang lebih halus dan kasarnya? Apakah ini diucapkan dengan benar?”

Para bhikkhu senior menjawab: “Tidak, Bhikkhu Khemaka. Keharuman itu bukan berada dalam akar dari teratai uppala, teratai paduma, teratai kumuda, teratai puṇḍarīka, ataupun keharuman itu berbeda dari akarnya. Keharuman itu juga bukan berada dalam tangkainya, daunnya, benang sarinya, bagian-bagian yang halus dan kasarnya, dan keharuman itu juga bukan berbeda dari... bagian-bagian yang halus dan kasarnya.”

Bhikkhu Khemaka bertanya lagi: “Di manakah keharuman itu?”

Para bhikkhu senior menjawab: “Keharuman itu berada dalam bunganya.”

Bhikkhu Khemaka berkata lagi: “Dengan diriku ini adalah hal yang sama. Bentuk jasmani adalah bukan diri dan tidak ada diri yang berbeda dari bentuk jasmani. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bukan diri, dan tidak ada diri yang berbeda dari kesadaran. Walaupun sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini aku melihat tidak ada diri dan tidak ada milik diri, aku masih belum meninggalkan kesombongan ‘aku’, keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’, belum [sepenuhnya] memahaminya, belum menjadi terpisah darinya, belum memuntahkannya keluar.

“Para bhikkhu senior, izinkan aku untuk mengatakan suatu perumpamaan. Orang-orang bijaksana memperoleh pemahaman karena suatu perbandingan melalui perumpamaan. Seperti halnya seorang inang yang memberikan sehelai kain [yang digunakan sebagai popok] kepada tukang cuci. Dengan berbagai jenis cairan dan sabun ia membersihkan kotorannya, tetapi masih terdapat sisa bau. Dengan mencampurkannya dengan berbagai jenis keharuman ia membuatnya hilang.<15>

“Dengan cara yang sama, siswa mulia yang terpelajar dengan benar merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri,<16> ia masih belum meninggalkan kesombongan ‘aku’ sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini,<17> keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’, belum [sepenuhnya] memahaminya, belum menjadi terpisah darinya, belum memuntahkannya keluar.

“Tetapi pada waktu belakangan ia maju dalam memberikan perhatian pada lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini dengan menyelidiki muncul dan lenyapnya: [30c] inilah bentuk jasmani, inilah munculnya bentuk jasmani, inilah lenyapnya bentuk jasmani, inilah perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, inilah munculnya kesadaran, inilah lenyapnya kesadaran. Setelah merenungkan muncul dan lenyapnya lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini dengan cara ini, ia sepenuhnya melepaskan semua kesombongan ‘aku’, keinginan [yang berhubungan dengan gagasan] ‘aku’, dan kecenderungan yang mendasari terhadap ‘aku’. Ini disebut merenungkan dengan benar dan tepat.

Ketika Bhikkhu Khemaka mengucapkan ajaran ini, para bhikkhu senior mencapai mata Dharma yang murni dengan sedikit noda [batin] dan bebas dari debu [batin], dan Bhikkhu Khemaka melalui ketidakmelekatan mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikirannya.<18> Karena kebaikan dari kegembiraan Dharma, tubuhnya sepenuhnya bebas dari penyakit.

Kemudian para bhikkhu senior berkata kepada Bhikkhu Khemaka: “Ketika kami mendengar apa yang dikatakan teman [kami] untuk pertama kalinya, kami telah memahami dan bergembira di dalamnya, apa yang dikatakan dari mendengarkannya lagi dan lagi.<19> Ketika bertanya [lebih lanjut] kami berharap bahwa teman [kami] menunjukkan keahlian berkotbahnya yang murni. Tidak untuk mengganggu anda, [tetapi] agar anda bersedia dan mampu mengajarkan secara terperinci Dharma Sang Tathāgata, arahant, yang tercerahkan sempurna.”

Kemudian para bhikkhu senior, yang mendengarkan apa yang dikatakan Bhikkhu Khemaka, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

33
Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 33 sampai 58

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid keempat dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 33 sampai 58.<1>

33. [Kotbah tentang Bukan-Diri]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapindika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Bentuk jasmani adalah bukan diri. Jika bentuk jasmani adalah diri, maka tidak seharusnya terjadi bahwa penyakit dan kesakitan muncul sehubungan dengan bentuk jasmani, dan tidak seharusnya ada harapan terhadap bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu. Karena bentuk jasmani adalah bukan diri, terdapat munculnya penyakit dan kesakitan sehubungan dengan bentuk jasmani dan seseorang mengharapkan bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, apakah yang kalian pikirkan, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Dukkha, Sang Bhagava.” [7c]

[Sang Buddha berkata]: “Apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini menganggapnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semuanya adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Dengan cara ini ia seharusnya diselidiki. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya sebagai bukan diri dan bukan milik suatu diri. Setelah menyelidiki mereka sebagaimana adanya, ia tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

34. [Kotbah kepada Lima (Bhikkhu)]<3>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada [empat orang]<4> yang tersisa dari lima orang bhikkhu:<5> “Bentuk jasmani adalah bukan diri. Jika bentuk jasmani adalah diri, maka tidak seharusnya terjadi bahwa penyakit dan kesakitan muncul sehubungan dengan bentuk jasmani, dan seseorang tidak mengharapkan bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu.<6> Karena bentuk jasmani adalah bukan diri, terdapat munculnya penyakit dan kesakitan sehubungan dengan bentuk jasmani dan seseorang mengharapkan bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu.<7> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<8>

“Para bhikkhu, apakah yang kalian pikirkan, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagava.”<9>

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Dukkha, Sang Bhagava.”<10>

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini menganggapnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”<11>

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagava.”<12>

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<13>

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semuanya adalah bukan diri dan bukan milik suatu diri. Dengan cara ini ia seharusnya diselidiki sebagaimana adanya.<14> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<15>

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar melihat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik suatu diri. Dengan menyelidiki mereka dengan cara ini, ia tidak melekat pada apa pun di seluruh dunia. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [8a] [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”<16>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, melalui ketidakmelekatan sisa [empat orang] dari lima orang bhikkhu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka.<17> Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.<18>

35. [Kotbah kepada Tiga (Bhikkhu)]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Ceti di Kediaman Hutan Bambu [Timur].

Pada waktu itu terdapat tiga orang yang patut dihormati yang baru saja meninggalkan keduniawian, bernama Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nanda, dan Yang Mulia Kimbila.

Pada waktu itu Sang Bhagava, yang mengetahui pemikiran dalam pikiran mereka, menasehati mereka: “Para bhikkhu, pikiran ini, batin ini, kesadaran ini seharusnya memikirkan ini dan tidak seharusnya memikirkan itu. Tinggalkanlah keinginan indera ini, tinggalkanlah bentuk jasmani ini, dan berdiamlah dengan sepenuhnya berkembang dalam realisasi langsung. Para bhikkhu, akankah terdapat suatu bentuk jasmani yang kekal dan tidak berubah, yang bertahan dengan mantap?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Bagus, bagus. Bentuk jasmani adalah tidak kekal dan bersifat berubah-ubah, ia untuk dikecewakan, ia memudar, melenyap, untuk ditenangkan dan musnah. Dengan cara ini bentuk jasmani, sejak awalnya, sepenuhnya adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.

“Setelah memahaminya dengan cara ini, semua arus [kekotoran batin] yang berbahaya, membakar, dan kekhawatiran, yang bergantung pada bentuk jasmani muncul, akan ditinggalkan dan dilenyapkan sepenuhnya. Setelah ditinggalkan dan dilenyapkan, seseorang tidak terikat pada apa pun. Dengan tidak terikat pada apa pun, seseorang mencapai Nirvāṇa. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, melalui ketidakmelekatan tiga orang yang patut dihormati itu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka. Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

36. [Kotbah kepada Enam Belas (Bhikkhu)]<19>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Madhurā, Hutan Pohon Mangga Penahan Matahari di tepi sungai *Bhaddikā.<20>

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Berdiamlah dengan dirimu sendiri sebagai pulau, berdiamlah dengan bergantung pada dirimu sendiri; berdiamlah dengan Dharma sebagai pulau, dengan tiada pulau lain dan tiada ketergantungan yang lain.

“Para bhikkhu, dengan berdiam dengan dirimu sendiri sebagai pulau dan bergantung pada dirimu sendiri, dengan Dharma sebagai pulau dan bergantung pada Dharma, dengan tiada pulau lain dan tiada ketergantungan yang lain, kalian seharusnya menyelidiki hal ini: ‘Apakah sebab munculnya kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha? Mengapa empat hal ini ada?<21> Apakah sebabnya? Di manakah aku terikat oleh keterikatan?’

“Bagaimanakah seseorang menyelidiki diri sendiri sehubungan dengan munculnya kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang belum muncul, serta bertumbuh dan meningkatnya kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang telah muncul?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava adalah akar Dharma, mata Dharma, dan landasan Dharma. Semoga Beliau menjelaskannya. Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menerimanya dengan hormat seperti yang dikatakan.”<22>

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: [8b] “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang Ku-katakan kepada kalian. Para bhikkhu, seseorang menyelidiki diri sendiri: dengan kelangsungan bentuk jasmani, bergantung pada bentuk jasmani, dan terikat dengan keterikatan pada bentuk jasmani, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang belum muncul menjadi muncul, dan [kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha] yang telah muncul tumbuh dan meningkat. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Para bhikkhu, apakah terdapat suatu bentuk jasmani yang kekal, bertahan [lama], dan tidak berubah, yang tetap kokoh?”

Mereka menjawab: “Tidak, Sang Bhagava.”<23>

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Bagus, bagus, para bhikkhu. Bentuk jasmani adalah tidak kekal. Jika seorang anggota keluarga memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal,<24> [bersifat] berubah-ubah, memudar, melenyap, untuk ditenangkan, dan musnah; ketika mengetahui bahwa bentuk jasmani sejak awalnya sepenuhnya tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah, maka kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang muncul bergantung pada bentuk jasmani ditinggalkan. Setelah meninggalkan mereka, seseorang tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, seseorang dengan gembira berkembang dalam kedamaian. Dengan gembira berkembang dalam kedamaian disebut telah padam.<25> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, dengan tidak memunculkan [kemelekatan] enam belas orang bhikkhu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka.<26> Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

37. [Kotbah tentang [Apa yang Dianggap Orang Tidak Bijaksana sebagai] Diri]<27>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak berselisih dengan dunia; dunialah yang berselisih denganku.<28> Mengapa demikian? Para bhikkhu, jika seseorang berkata sesuai dengan Dharma, ia tidak berselisih dengan dunia. Apa yang dinyatakan orang bijaksana di dunia sebagai ada, Aku juga menyatakan ada.<29> Apakah yang dinyatakan orang bijaksana di dunia sebagai ada, yang juga Ku-nyatakan sebagai ada?

“Para bhikkhu, bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Orang bijaksana di dunia menyatakan ini ada, dan Aku juga menyatakan ini ada. Dengan cara yang sama perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Orang bijaksana di dunia menyatakan ini ada, dan Aku juga menyatakan ini ada.<30>

“Apa yang dinyatakan orang bijaksana di dunia tidak ada, Aku juga menyatakan tidak ada. Yaitu, bentuk jasmani yang kekal, bertahan [lama], dan tidak berubah, yang tetap kokoh; orang bijaksana di dunia menyatakan bahwa ini tidak ada, dan Aku juga menyatakan bahwa ini tidak ada. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran yang kekal, bertahan [lama], dan tidak berubah, yang tetap kokoh; orang bijaksana di dunia menyatakan ini tidak ada, dan Aku juga menyatakan ini tidak ada. Inilah yang disebut apa yang dinyatakan orang bijaksana di dunia tidak ada, yang juga Ku-nyatakan tidak ada.

“Para bhikkhu, terdapat fenomena duniawi di dunia yang juga Aku sendiri pahami dan merealisasikannya sendiri, dan yang Ku-analisis, jelaskan, dan perlihatkan kepada orang-orang. Mereka di dunia yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan tidak melihat ini, tetapi ini bukan kesalahan-Ku.

“Para bhikkhu, apakah fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami, merealisasikannya sendiri, [8c] yang Ku-jelaskan, analisis, dan perlihatkan kepada orang-orang, dan di mana mereka yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan melihat?

“Para bhikkhu,<31> bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.<32> Ini disebut fenomena duniawi di dunia. Dengan cara yang sama perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, [dan bersifat berubah-ubah].<33> Ini adalah fenomena duniawi di dunia.

“Para bhikkhu, inilah yang disebut fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami dan merealisasikannya sendiri, yang Ku-analisis, jelaskan, dan perlihatkan kepada orang-orang, dan di mana mereka yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan tidak melihat. Apakah yang dapat Ku-lakukan tentang mereka yang buta dan tanpa penglihatan, yang tidak memahami dan tidak melihat?”<34>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

38. [Kotbah tentang Apa yang Rendah]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Orang-orang di dunia melalui aktivitas-aktivitas rendah mencari dengan berbagai cara atas kekayaan dan pencaharian, dan untuk menjadi kaya raya. Orang-orang di dunia mengetahui tentang semua ini.

“Seperti yang diketahui orang-orang di dunia, Aku juga berkata dengan cara ini. Mengapa demikian? Karena Aku tidak terpisah dari orang-orang di dunia.

“Para bhikkhu, seperti halnya sebuah bejana di mana orang-orang di satu tempat menyebut qiáncí, beberapa menyebutnya [mangkuk], beberapa menyebutnya bǐbǐluó, beberapa menyebutnya zhēliú, beberapa menyebutnya píxīduō, beberapa menyebutnya póshénà, beberapa menyebutnya sàláo.<35> Seperti yang diketahui oleh mereka, Aku juga berkata dengan cara ini. Mengapa demikian? Karena Aku tidak terpisah dari orang-orang di dunia.

“Dengan cara ini, para bhikkhu, terdapat fenomena [duniawi]<36> di dunia yang telah Aku sendiri pahami dan merealisasikannya sendiri, dan yang Ku-analisis, jelaskan, dan perlihatkan kepada orang-orang. Mereka di dunia yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan tidak melihatnya. Apakah yang dapat Ku-lakukan tentang mereka di dunia yang buta dan tanpa penglihatan, yang tidak memahami dan melihatnya?

“Para bhikkhu, apakah fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami, merealisasinya sendiri... sampai dengan... yang tidak memahami dan tidak melihatnya? Bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Ini adalah fenomena duniawi di dunia. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Ini adalah fenomena duniawi di dunia.

“Para bhikkhu, inilah yang disebut fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami, merealisasinya sendiri... sampai dengan... apakah yang dapat Ku-lakukan tentang mereka yang buta dan tanpa penglihatan, yang tidak memahami dan melihatnya?”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

34
Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (3)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 59 sampai 87

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid ketiga dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 59 sampai 87.<1>

59. [Kotbah tentang Muncul dan Lenyapnya]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“[Para bhikkhu], renungkanlah lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini, sifatnya yang muncul dan lenyap, yaitu: ‘Inilah bentuk jasmani, inilah munculnya bentuk jasmani, inilah lenyapnya bentuk jasmani; inilah perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, inilah munculnya kesadaran, inilah lenyapnya kesadaran.’

“Apakah munculnya bentuk jasmani? Apakah lenyapnya bentuk jasmani? Apakah munculnya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran? Apakah lenyapnya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran?

“Dengan munculnya ketagihan dan kenikmatan, bentuk jasmani muncul; dengan lenyapnya ketagihan dan kenikmatan, bentuk jasmani lenyap. Dengan munculnya kontak, perasaan... persepsi... bentukan muncul; dengan lenyapnya kontak, perasaan... persepsi... bentukan lenyap. Dengan munculnya nama-dan-bentuk, kesadaran muncul; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, kesadaran lenyap.

“Para bhikkhu, dengan cara ini bentuk jasmani muncul dan bentuk jasmani lenyap, inilah munculnya bentuk jasmani dan lenyapnya bentuk jasmani. Dengan cara ini perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran muncul dan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran lenyap, inilah munculnya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran dan lenyapnya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

60. [Kotbah tentang Tidak Menyenangi]<3>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Yaitu, mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“Akan baik, para bhikkhu, jika kalian tidak menyenangi bentuk jasmani, tidak memuji bentuk jasmani, tidak melekat pada bentuk jasmani, tidak terikat pada bentuk jasmani. Akan baik, para bhikkhu, jika kalian tidak menyenangi perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, tidak memuji kesadaran, tidak melekat pada kesadaran, tidak terikat pada kesadaran. Mengapa demikian?

“Jika seorang bhikkhu tidak menyenangi bentuk jasmani, tidak memuji bentuk jasmani, tidak melekat pada bentuk jasmani, tidak terikat pada bentuk jasmani, maka dengan tidak menyenangi bentuk jasmani pikirannya mencapai pembebasan. Dengan cara yang sama [jika ia] tidak menyenangi perasaan [15c]... persepsi... bentukan... tidak menyenangi kesadaran,<4> tidak memuji kesadaran, tidak melekat pada kesadaran, tidak terikat pada kesadaran, maka dengan tidak menyenangi kesadaran pikirannya mencapai pembebasan.

“Jika seorang bhikkhu tidak menyenangi bentuk jasmani dan pikirannya telah mencapai pembebasan... dengan cara yang sama [jika ia] tidak menyenangi perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran dan pikirannya telah mencapai pembebasan, [baginya] tidak ada kemusnahan dan tidak ada kemunculan [kembali], ia berkembang dalam keseimbangan yang stabil, dengan perhatian benar dan pemahaman benar.

“Bhikkhu itu, yang memahami seperti ini dan melihat seperti ini, selamanya telah melenyapkan pandangan tentang masa lampau tanpa sisa. Dengan pandangan tentang masa lampau yang selamanya telah dilenyapkan tanpa sisa, ia juga selamanya telah melenyapkan pandangan tentang masa depan tanpa sisa. Dengan pandangan masa depan yang selamanya telah dilenyapkan tanpa sisa, ia juga selamanya telah melenyapkan pandangan tentang masa sekarang tanpa sisa dan tidak melekat pada apa pun.

“Seseorang yang tidak melekat pada apa pun tidak terikat pada apa pun di seluruh dunia. Seseorang yang tidak terikat pada apa pun tidak mencari apa pun. Seseorang yang tidak mencari apa pun secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsung yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

61. [Kotbah tentang Analisis]<5>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Yaitu, terdapat kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“Apakah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati? Apa pun bentuk jasmani, semua darinya yang merupakan empat unsur dan bentuk yang terbentuk dari empat unsur. Ini disebut kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati.

“Selanjutnya, bentuk jasmani itu adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Jika kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati itu selamanya dilepaskan tanpa sisa, sepenuhnya dilepaskan, lenyap, memudar,<6> ditenangkan, dan hancur, dan lebih jauh [kemunculan] kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati dihentikan, tidak muncul, tidak timbul – [maka] ini disebut luhur, ini disebut damai, ini disebut ditinggalkannya sepenuhnya semua perolehan, lenyapnya ketagihan, lenyapnya nafsu, terhentinya, Nirvāṇa.

“Apakah kelompok unsur perasaan yang dilekati? Yaitu, terdapat enam kelompok perasaan. Apakah enam hal itu? Yaitu, terdapat perasaan yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... perasaan yang muncul dari kontak-pikiran. Ini disebut kelompok unsur perasaan yang dilekati. Selanjutnya, kelompok unsur perasan yang dilekati itu adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah... sampai dengan... terhentinya, Nirvāṇa.

“Apakah kelompok unsur persepsi yang dilekati? Yaitu, terdapat enam kelompok persepsi. Apakah enam hal itu? Yaitu, terdapat persepsi yang muncul dari kontak-mata... sampai dengan... persepsi yang muncul dari kontak-pikiran. Ini disebut kelompok unsur persepsi yang dilekati. Selanjutnya, kelompok unsur persepsi yang dilekati itu adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah... sampai dengan... terhentinya, Nirvāṇa.

“Apakah kelompok unsur bentukan yang dilekati? Yaitu, terdapat enam kelompok kehendak.<7> Apakah enam hal itu? Yaitu, terdapat kehendak yang muncul dari kontak-mata... sampai dengan... kehendak yang muncul dari kontak-pikiran. [16a] Ini disebut kelompok unsur bentukan yang dilekati. Selanjutnya, kelompok unsur bentukan yang dilekati itu adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah... sampai dengan... terhentinya, Nirvāṇa.

“Apakah kelompok unsur kesadaran yang dilekati? Yaitu, terdapat enam kelompok kesadaran. Apakah enam hal itu? Yaitu, terdapat kelompok kesadaran-mata... sampai dengan... kesadaran-pikiran. Ini disebut kelompok unsur kesadaran yang dilekati. Selanjutnya, kelompok unsur kesadaran yang dilekati itu adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah... sampai dengan... terhentinya, Nirvāṇa.

“Para bhikkhu, jika seseorang memberikan pengamatan dengan kebijaksanaan pada ajaran ini, menyelidikinya, menganalisisnya, dan menerimanya, [maka] ia disebut seorang pengikut-keyakinan, yang melampaui dan meninggalkan di belakang [lingkaran] kelahiran,<8> yang melampaui tingkat seorang duniawi, yang pasti akan mencapai buah pemasuk-arus dan tidak akan meninggal dunia di antaranya tanpa mencapai buah pemasuk-arus.

“Para bhikkhu, jika seseorang memberikan pengamatan dengan kebijaksanaan yang lebih tinggi pada ajaran ini, menyelidikinya, [menganalisisnya], dan menerimanya, [maka] ia disebut seorang pengikut-Dharma, yang melampaui dan meninggalkan di belakang [lingkaran] kelahiran, yang melampaui tingkat seorang duniawi, yang pasti akan mencapai buah pemasuk-arus dan tidak akan meninggal dunia di antaranya tanpa mencapai buah pemasuk-arus.

“Para bhikkhu, seseorang yang melihat ajaran ini sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar akan melenyapkan tiga belenggu, meninggalkannya dengan pengetahuan, yaitu, [tiga belenggu dari] pandangan personalitas, kemelekatan pada aturan-aturan, dan keragu-raguan. Para bhikkhu, ini disebut buah pemasuk-arus; tanpa jatuh ke [alam] tujuan yang buruk ia pasti akan maju dengan tepat menuju pencerahan sempurna, setelah [paling banyak] tujuh kehidupan terlahir sebagai seorang deva atau manusia, ia akan kemudian [mencapai] akhir dukkha sepenuhnya.

“Para bhikkhu, jika seseorang melihat ajaran ini sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar dan tidak membangkitkan arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran, ia disebut seorang arahant, yang telah melenyapkan arus-arus [kekotoran batin], telah melakukan apa yang harus dilakukan, melepaskan beban berat, memperoleh manfaatnya sendiri, melenyapkan semua belenggu kehidupan, seseorang yang pikirannya dengan pemahaman benar telah mencapai pembebasan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

62. [Kotbah tentang Kemelekatan yang Penuh Nafsu]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, yaitu, kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“Seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati memunculkan pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.<9>

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar, yang memiliki pengetahuan dan penglihatan sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati tidak memiliki pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.

“Bagaimanakah seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati memiliki pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan?

“Para bhikkhu, seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, melihat bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam bentuk jasmani]. Dengan cara yang sama [ia melihat] perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam kesadaran]. Dengan cara ini seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati menyatakan suatu diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan. [16b]

“Para bhikkhu, bagaimanakah seorang siswa mulia [yang terpelajar], yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan, tidak menyatakan suatu diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan? Seorang siswa mulia [yang terpelajar] tidak melihat bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam bentuk jasmani]. Dengan cara yang sama ia tidak melihat perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam kesadaran]. Dengan cara ini seorang siswa mulia yang terpelajar, yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan tidak memiliki pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.

“Apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua [bentuk jasmani] demikian ia dengan benar merenungkannya semua sebagai sepenuhnya tidak kekal. Dengan cara yang sama [apa pun] perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua [kesadaran] demikian ia dengan benar merenungkannya semua sebagai sepenuhnya tidak kekal.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

63. [Kotbah tentang Jenis-Jenis Perenungan]<10>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, yaitu, kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“Para bhikkhu, jika para pertapa dan brahmana berspekulasi tentang keberadaan diri, mereka semuanya berspekulasi tentang keberadaan diri sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan ini.<11> Apakah lima hal itu?

“Para pertapa dan brahmana melihat bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam bentuk jasmani]. Dengan cara yang sama mereka melihat perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam kesadaran].

“Dengan cara ini seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar berspekulasi tentang diri, yang tidak tahu [bagaimana] membedakannya. Dengan merenungkannya seperti ini, ia tidak terpisahkan dari “milikku”. Seseorang yang tidak terpisahkan dari “milikku” terlibat dalam indera-indera.<12> Terlibatnya dalam indera-indera memunculkan kontak. [Melalui] enam kontak yang terlibat dengan kontak, kenikmatan dan penderitaan muncul dalam seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar, di mana jenis [pandangan] ini atau yang lain muncul, yaitu, [melalui] enam kelompok kontak. Apakah enam hal itu?

“Yaitu, terdapat landasan kontak-mata, [kontak-]telinga... [kontak-]hidung... [kontak-]lidah... [kontak-]badan... landasan [kontak-]pikiran. Para bhikkhu, terdapat unsur pikiran, unsur objek-pikiran dan unsur ketidaktahuan. Dengan dikontak oleh kontak yang bodoh, seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar menyatakan keberadaan, menyatakan ketiadaan, menyatakan keberadaan-dan-ketiadaan, menyatakan bukan-keberadaan-ataupun-bukan-ketiadaan, menyatakan dirinya sebagai yang lebih tinggi, [menyatakan diri sebagai yang lebih rendah],<13> menyatakan dirinya sebagai sama, [dengan mengatakan:] ‘Aku mengetahuinya, aku melihatnya.’<14>

“Selanjutnya, para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar, [selagi] berkembang dalam enam landasan kontak,<15> dapat menjadi kecewa dengan ketidaktahuan dan [dengan] munculnya pengetahuan ia tidak [menyatakan] keberadaan, tidak [menyatakan] ketiadaan, tidak [menyatakan] keberadaan-dan-ketiadaan, tidak [menyatakan] bukan-keberadaan-ataupun-bukan-ketiadaan, tidak [menyatakan] dirinya sebagai lebih tinggi, tidak [menyatakan] dirinya sebagai lebih rendah, [16c] tidak [menyatakan] dirinya sebagai sama, [dengan mengatakan:] ‘Aku mengetahuinya, aku melihatnya.’ Setelah menghasilkan pengetahuan seperti ini, penglihatan seperti ini, kontak yang sebelumnya muncul karena ketidaktahuan lenyap, sedangkan kontak karena pengetahuan muncul.”<16>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

35
Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (2)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 256 sampai 272

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid kedua dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 256 sampai 272.<1>

256. [Kotbah Pertama tentang Ketidaktahuan]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahākoṭṭhita sedang berada di Gunung Puncak Burung Bangkai.

Kemudian, pada sore hari Yang Mulia [Mahā]koṭṭhita bangkit dari meditasi dan mendekati Yang Mulia Sāriputta. Setelah bertukar salam ramah tamah dan dengan berbagai cara mengungkapkan kegembiraan bersama mereka, Yang Mulia Mahākoṭṭhita mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan kemudian berkata kepada [Yang Mulia] Sāriputta: “Saya ingin menanyakan suatu pertanyaan. Apakah engkau memiliki waktu luang untuk berbicara denganku?”

Sāriputta berkata: “Berdasarkan apa yang akan engkau tanyakan, dengan mengetahuinya saya akan menjawab.”

Mahākoṭṭhita bertanya kepada Sāriputta: “Sehubungan dengan ketidaktahuan: Apakah ketidaktahuan? Siapakah yang memiliki ketidaktahuan ini?”

Sāriputta menjawab: [64c] “Seseorang yang tidak tahu disebut sebagai tidak memahami, seseorang yang tidak memahami adalah orang yang tidak tahu.”

[Mahākoṭṭhita bertanya lagi]: “Apakah yang tidak ia pahami?”

[Sāriputta berkata]: “Yaitu, tentang bentuk jasmani, yang tidak kekal, ia tidak memahami sebagaimana adanya bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal. Tentang bentuk jasmani, yang bersifat tidak bertahan [lama], ia tidak memahami sebagaimana adanya bahwa bentuk jasmani bersifat tidak bertahan [lama]. Tentang bentuk jasmani, yang bersifat muncul dan lenyap, ia tidak memahami sebagaimana adanya bahwa bentuk jasmani bersifat muncul dan lenyap.

“Tentang perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran... ia tidak memahami sebagaimana adanya bahwa perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal. Tentang kesadaran, yang bersifat tidak bertahan [lama], ia tidak memahami sebagaimana adanya bahwa kesadaran bersifat tidak bertahan [lama]. Tentang kesadaran, yang bersifat muncul dan lenyap, ia tidak memahami sebagaimana adanya bahwa kesadaran bersifat muncul dan lenyap.

“Mahākoṭṭhita, tidak memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya, tidak melihatnya, tidak memahaminya, tidak tahu, tumpul, dan tanpa pemahaman [sehubungan dengan ini] – ini disebut ketidaktahuan. Seseorang yang memenuhi [kondisi] ini disebut orang yang tidak tahu.”

[Mahākoṭṭhita] bertanya lagi: “Sāriputta, sehubungan dengan seseorang yang berpengetahuan: Apakah pengetahuan? Siapakah yang memiliki pengetahuan ini?”

[Sāriputta berkata]: “Yaitu,<3> tentang bentuk jasmani, yang tidak kekal, ia memahami sebagaimana adanya bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal. Tentang bentuk jasmani, yang bersifat tidak bertahan [lama], ia memahami sebagaimana adanya bahwa bentuk jasmani bersifat tidak bertahan [lama]. Tentang bentuk jasmani, yang bersifat muncul dan lenyap, ia memahami sebagaimana adanya bahwa bentuk jasmani bersifat muncul dan lenyap.

“Tentang perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran... ia memahami sebagaimana adanya bahwa perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal. Tentang kesadaran, yang bersifat tidak bertahan [lama], ia memahami sebagaimana adanya bahwa kesadaran bersifat tidak bertahan [lama]. Tentang kesadaran, yang bersifat muncul dan lenyap, ia memahami sebagaimana adanya bahwa kesadaran bersifat muncul dan lenyap.

“[Mahā]koṭṭhita, memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya, melihatnya, memahaminya, menyadarinya, memiliki kebijaksanaan sehubungan dengannya, mengetahuinya – ini disebut berpengetahuan. Seseorang yang memenuhi kondisi ini disebut [orang yang] berpengetahuan.”

Kedua orang yang layak dihormati itu saling bergembira mendengarkan apa yang dikatakan satu sama lainnya, bangkit dari tempat duduk mereka dan kembali ke tempat kediaman mereka masing-masing.

257. [Kotbah Kedua tentang Ketidaktahuan]<4>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahākoṭṭhita sedang berada di Gunung Puncak Burung Bangkai.

Kemudian, pada sore hari [Yang Mulia] Mahākoṭṭhita bangkit dari meditasi dan mendekati Yang Mulia Sāriputta. Setelah bertukar salam ramah tamah dan dengan berbagai cara mengungkapkan kegembiraan bersama mereka, Yang Mulia Mahākoṭṭhita mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan kemudian berkata kepada [Yang Mulia] Sāriputta: “Saya ingin menanyakan suatu pertanyaan. Apakah engkau memiliki waktu luang untuk berbicara denganku?”

Sāriputta berkata: “Teman, engkat dapat bertanya, dengan mengetahuinya saya akan menjawab.”

Mahākoṭṭhita bertanya kepada Sāriputta: “Sehubungan dengan ketidaktahuan: Apakah ketidaktahuan? Siapakah yang memiliki ketidaktahuan ini?”

Sāriputta menjawab: “Seseorang yang tidak tahu disebut tidak memahami, seseorang yang tidak memahami adalah orang yang tidak tahu.”

[Mahākoṭṭhita bertanya lagi]: “Apakah yang tidak ia pahami?”

[Sāriputta berkata:] “Yaitu, ia tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani... munculnya bentuk jasmani... lenyapnya bentuk jasmani, [65a] dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani. Ia tidak memahami sebagaimana adanya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran... munculnya kesadaran... lenyapnya kesadaran, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan menuju lenyapnya kesadaran.

“Mahākoṭṭhita, tidak memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya, tidak melihatnya, tidak memahaminya, tidak tahu, tumpul, dan tanpa pemahaman [sehubungan dengan ini] – ini disebut ketidaktahuan. Seseorang yang memenuhi [kondisi] ini disebut orang yang tidak tahu.”

[Mahākoṭṭhita] bertanya kepada Sāriputta lagi: “Apakah pengetahuan? Siapakah yang memiliki pengetahuan ini?”

Sāriputta berkata: “Sehubungan dengan seseorang yang berpengetahuan, ia memahami. Seseorang yang memahami adalah [orang yang] berpengetahuan.”

[Mahākoṭṭhita] bertanya lagi: “Apakah yang ia pahami?”

Sāriputta berkata: “Ia memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani... munculnya bentuk jasmani... lenyapnya bentuk jasmani, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani. Ia memahami sebagaimana adanya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran... munculnya kesadaran... lenyapnya kesadaran, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan menuju lenyapnya kesadaran.

“[Mahā]koṭṭhita, memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya, melihatnya, memahaminya, menyadarinya, memiliki kebijaksanaan sehubungannya, mengetahuinya – ini disebut berpengetahuan. Seseorang yang memenuhi kondisi ini disebut [orang yang] berpengetahuan.”

Kedua orang yang layak dihormati itu saling bergembira mendengarkan apa yang dikatakan satu sama lainnya, bangkit dari tempat duduk mereka dan kembali ke tempat kediaman mereka masing-masing.

258. [Kotbah Ketiga tentang Ketidaktahuan]<5>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahākoṭṭhita sedang berada di Gunung Puncak Burung Bangkai.

Kemudian, pada sore hari Mahākoṭṭhita bangkit dari meditasi dan mendekati Sāriputta. Setelah bertukar salam ramah tamah dan dengan berbagai cara mengungkapkan kegembiraan bersama mereka, Mahākoṭṭhita mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan kemudian berkata kepada Sāriputta: “Saya ingin menanyakan suatu pertanyaan. Apakah engkau memiliki waktu luang untuk berbicara denganku?”

Sāriputta berkata: “Teman, engkat dapat bertanya, dengan mengetahuinya saya akan menjawab.”

Kemudian Mahākoṭṭhita berkata kepada Sāriputta: “Sehubungan dengan ketidaktahuan: Bagaimanakah seseorang tidak tahu? Siapakah yang memiliki ketidaktahuan ini?”

Sāriputta berkata: “Tidak memahami adalah ketidaktahuan.”

[Mahākoṭṭhita bertanya lagi]: “Tidak memahami apakah?”

[Sāriputta berkata]: “Yaitu, ia tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani... munculnya bentuk jasmani... lenyapnya bentuk jasmani... kepuasan dari bentuk jasmani... bahaya dalam bentuk jasmani... dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan keluar dari bentuk jasmani.<6> Ia tidak memahami sebagaimana adanya perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran... munculnya kesadaran... lenyapnya kesadaran... kepuasan dari kesadaran... bahaya dalam kesadaran... dan jalan keluar dari kesadaran.

“Mahākoṭṭhita, tidak memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya, tidak melihatnya sebagaimana adanya, tidak memahaminya, tumpul dan tidak tahu [sehubungan dengan ini] – ini disebut ketidaktahuan. Seseorang yang memenuhi kondisi ini disebut orang yang tidak tahu.”

[Mahākoṭṭhita] bertanya lagi: “[Sehubungan dengan] seseorang yang berpengetahuan: Apakah pengetahuan? Siapakah yang memiliki pengetahuan ini?”

Sāriputta berkata: “Seseorang yang memahami adalah [orang yang] berpengetahuan.”

[Mahākoṭṭhita bertanya lagi]: “Apakah yang ia pahami?”

Sāriputta berkata: “Ia memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani... munculnya bentuk jasmani... lenyapnya bentuk jasmani... kepuasan dari bentuk jasmani... bahaya dalam bentuk jasmani... dan ia memahami sebagaimana adanya jalan keluar dari bentuk jasmani.<7> Ia memahami sebagaimana adanya perasaan<8>... persepsi... bentukan... kesadaran... munculnya kesadaran [65b]... lenyapnya kesadaran... kepuasan dari kesadaran... bahaya dalam kesadaran... dan ia memahami sebagaimana adanya jalan keluar dari kesadaran.

“Mahākoṭṭhita, memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya, melihatnya sebagaimana adanya, memahaminya, menyadarinya, memiliki kebijaksanaan sehubungannya, mengetahuinya – ini disebut berpengetahuan.<9> Seseorang yang memenuhi [kondisi] ini disebut [orang yang] berpengetahuan.”

Kemudian kedua orang yang layak dihormati itu saling bergembira mendengarkan apa yang dikatakan satu sama lainnya dan pergi.

259. [Kotbah tentang Pemahaman]<10>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan [Yang Mulia] Mahākoṭṭhita sedang berada di Gunung Puncak Burung Bangkai.<11>

Kemudian, pada sore hari Mahākoṭṭhita bangkit dari meditasi dan mendekati Sāriputta. Setelah bertukar salam ramah tamah dan dengan berbagai cara mengungkapkan kegembiraan bersama mereka, Mahākoṭṭhita mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan kemudian berkata kepada Sāriputta: “Saya ingin menanyakan suatu pertanyaan. Apakah engkau memiliki waktu luang untuk berbicara denganku?”

Sāriputta berkata: “Teman, engkat dapat bertanya, dengan mengetahuinya saya akan menjawab.”

Kemudian Mahākoṭṭhita bertanya kepada Sāriputta: “Jika seorang bhikkhu, yang belum mencapai pemahaman Dharma,<12> berharap untuk memperoleh pemahaman Dharma, bagaimanakah ia dengan tekun mendapatkannya?<13> Kepada ajaran apakah yang seharusnya ia berikan pengamatan?”

Sāriputta berkata: “Jika seorang bhikkhu, yang belum mencapai pemahaman Dharma, berharap memperoleh pemahaman Dharma, ia seharusnya dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri.<14> Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah pemasuk-arus.”<15>

[Mahākoṭṭhita] bertanya lagi: “Sāriputta, setelah mencapai realisasi buah pemasuk-arus dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali, kepada ajaran apakah ia seharusnya berikan pengamatan?”

Sāriputta berkata: “[Mahā]koṭṭhita, setelah mencapai realisasi pemasuk-arus dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali,<16> ia seharusnya juga dengan bersemangat memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri.<17> Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali.”

Mahākoṭṭhita bertanya lagi kepada Sāriputta: “Setelah mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali, kepada ajaran apakah ia seharusnya berikan pengamatan?”<18>

Sāriputta berkata: “[Mahā]koṭṭhita, setelah mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali, ia seharusnya dengan bersemangat lagi memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri.<19> Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali.”<20> [65c]

[Mahākoṭṭhita bertanya lagi kepada Sāriputta: “Setelah mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali dan berharap untuk mencapai realisasi buah kearahantaan, kepada ajaran apakah ia seharusnya berikan pengamatan?”

Sāriputta berkata: “Mahākoṭṭhita, setelah mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali] dan berharap untuk mencapai realisasi buah kearahantaan,<21> ia seharusnya dengan bersemangat lagi memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan sebagai penyakit,<22> sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri.<23> Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah kearahantaan.”

Mahākoṭṭhita bertanya lagi kepada Sāriputta: “Setelah mencapai realisasi buah, kepada ajaran apakah ia seharusnya lebih jauh berikan pengamatan?”<24>

Sāriputta berkata: “Mahākoṭṭhita, seorang arahant masih memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan ini sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong dan sebagai bukan diri.<25> Mengapa demikian? [Bukan] demi kepentingan mencapai apa yang belum dicapai,<26> demi kepentingan merealisasikan apa yang belum direalisasikan, [tetapi] demi kepentingan suatu kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.”<27>

Kemudian kedua orang yang layak dihormati itu saling bergembira mendengarkan apa yang dikatakan satu sama lainnya dan pergi.

260. [Kotbah tentang Lenyapnya]<28>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada waktu itu Yang Mulia Sāriputta mendekati Yang Mulia Ānanda.<29> Setelah bertukar salam ramah tamah, Yang Mulia Sāriputta mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan kemudian bertanya kepada Yang Mulia Ānanda: “Saya ingin menanyakan suatu pertanyaan. Teman, apakah engkau memiliki waktu luang untuk memberikanku jawabannya?”<30>

Ānanda berkata: “Teman, engkau dapat bertanya, dengan mengetahuinya saya akan menjawab.”

Sāriputta berkata: “Ānanda, sehubungan dengan seseorang yang telah [merealisasikan] lenyapnya: Apakah lenyapnya? Siapakah yang telah [merealisasikan] lenyapnya ini?”<31>

Ānanda berkata: “Sāriputta, lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumnya.<32> Mereka adalah tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyap, ini disebut lenyapnya. Apakah lima hal itu? Yaitu, kelompok bentuk jasmani yang dilekati adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumnya. Ia tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyapnya, ini disebut lenyapnya. Dengan cara yang sama perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumnya. Ia tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyap, ini disebut lenyapnya.”<33>

Sāriputta berkata: “Benar, benar, Ānanda, seperti yang engkau katakan: lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumnya. Mereka adalah tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyap, ini disebut lenyapnya. Apakah lima hal itu? Yaitu, kelompok bentuk jasmani yang dilekati adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumnya. Ia tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyapnya, ini disebut lenyapnya. Dengan cara yang sama perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumnya. Ia tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyap, ini disebut lenyapnya.

“Ānanda, jika lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati bukan hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, [66a] dari kehendak-kehendak sebelumnya, bagaimana mungkin mereka lenyap? Ānanda, karena lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati adalah hasil dari perbuatan-perbuatan sebelumnya, dari kehendak-kehendak sebelumya, mereka tidak kekal dan bersifat melenyap. Karena sifatnya yang melenyap, ini disebut lenyapnya.”

Kemudian kedua orang yang layak dihormati itu saling bergembira mendengarkan apa yang dikatakan satu sama lainnya dan pergi.<34>

36
Saṃyukta Āgama (SĀ) merupakan teks Āgama (secara harfiah berarti "kitab suci") padanan Samyutta Nikaya dari aliran Sarvastivada yang terdapat dalam Tripitaka Mandarin edisi Taishō dengan nomor urut 99 (T 99) yang diterjemahkan dari bahasa Sanskrit oleh Gunabhadra pada tahun 435-443 M. Teks ini merupakan salah satu sumber yang penting untuk mempelajari Buddhisme awal. Terjemahan SĀ ini ke bahasa Inggris telah dilakukan Bhikkhu Anālayo secara serial sebagai proyek penelitian yang dilakukan Dharma Drum Buddhist College. Sampai dengan post ini dibuat, bagian pertama SĀ tentang lima kelompok unsur kehidupan dalam 5 subbagian/jilid telah selesai diterjemahkan (update dapat dilihat pada link https://www.buddhismuskunde.uni-hamburg.de/en/personen/analayo.html pada bagian Translation (only) paling bawah).

Berikut merupakan terjemahan dari bahasa Inggris tersebut ke bahasa Indonesia mulai dari bagian pertama tentang lima khanda yang mengandung 32 sutta pertama (SĀ 1-32).

37
Seremonial / Selamat hari Waisak 2559 BE / 2015
« on: 02 June 2015, 08:23:51 AM »
Sukho buddhānaṃ uppādo
Sukhā saddhammadesanā
Sukhā saṅghassa sāmaggi
Asokaṃ virajaṃ khemaṃ
Etaṃ maṅgalamuttamaṃ
Sukhī vesākha pūjā 2559 BE

Bahagia adalah kemunculan Buddha.
Bahagia adalah pembabaran Dhamma sejati.
Bahagia adalah persatuan Sangha.
Tanpa kesedihan, tanpa noda, damai;
Inilah berkah tertinggi.
Selamat peringatan hari Waisak 2559 BE
_/\_

38
Dalam beberapa minggu terakhir, isu tentang konflik Rohingya di Myanmar kembali mencuat ketika ribuan pengungsi Rohingya dari Myanmar terdampar di Aceh setelah diselamatkan para nelayan. Berita-berita tentang konflik etnis di Rakhine, salah satu negara bagian Myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh ini pun kembali bermunculan dan menjadi topik hangat di berbagai media sosial setelah sebelumnya sempat tenggelam sejak pemberitaan terakhir tentang kerusuhan etnis tersebut pada tahun 2012 yang silam. Lebih parahnya, banyak pihak yang mengaitkan permasalahan ini sebagai konflik agama tanpa mengetahui latar belakang masalah yang sebenarnya yang telah terjadi ratusan tahun yang lampau. Oleh sebab itu, tulisan ini akan menilik kembali sejarah konflik di Rakhine tersebut sehingga akar permasalahannya menjadi lebih jelas bagi kita semua.

Berdasarkan catatan sejarah, komunitas Muslim telah mendiami wilayah Arakan (nama kuno Rakhine) sejak masa pemerintahan seorang raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun (1430–1434) di kerajaan Mrauk U. Setelah diasingkan selama 24 tahun di kesultanan Bengal, Narameikhla mendapatkan tahta di Arakan dengan bantuan dari Sultan Bengal saat itu. Kemudian ia membawa serta orang-orang Bengali untuk tinggal di Arakan dan membantu administrasi pemerintahannya; demikianlah komunitas Muslim pertama terbentuk di wilayah itu.

Saat itu kerajaan Mrauk U berstatus sebagai kerajaan bawahan dari kesultanan Bengal sehingga Raja Narameikhla menggunakan gelar dalam bahasa Arab termasuk dalam nama-nama pejabat istananya dan memakai koin Bengal yang bertuliskan aksara Arab Persia pada satu sisinya dan aksara Burma pada sisi lainnya sebagai mata uangnya. Setelah berhasil melepaskan diri dari kesultanan Bengal, para raja keturunan Narameikhla tetap menggunakan gelar Arab tersebut dan menganggap diri mereka sebagai sultan serta berpakaian meniru sultan Mughal. Mereka tetap mempekerjakan orang-orang Muslim di istana dan walaupun beragama Buddha, berbagai kebiasaan Muslim dari Bengal tetap dipakai. Pada abad ke-17 populasi Muslim meningkat karena mereka dipekerjakan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya dalam pemerintahan saja. Suku Kamein, salah satu etnis Muslim di Rakhine yang diakui pemerintah Myanmar saat ini, adalah keturunan orang-orang Muslim yang bermigrasi ke Arakan pada masa ini.

Namun kerukunan dan keharmonisan ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1785 kerajaan Burma dari selatan menyerang dan menguasai Arakan; mereka menerapkan politik diskriminasi dengan mengusir dan mengeksekusi orang-orang Muslim Arakan. Pada tahun 1799 sebanyak 35.000 orang Arakan mengungsi ke wilayah Chittagong di Bengal yang saat itu dikuasai Inggris untuk mencari perlindungan. Orang-orang Arakan tersebut menyebut diri mereka sebagai Rooinga (penduduk asli Arakan), yang kemudian dieja menjadi Rohingya saat ini. Selain itu, pemerintah kerajaan Burma saat itu juga memindahkan sejumlah besar penduduk Arakan ke daerah Burma tengah sehingga membuat populasi wilayah Arakan sangat sedikit ketika Inggris menguasainya.

Pada tahun 1826 wilayah Arakan diduduki oleh pemerintah kolonial Inggris setelah perang Inggris-Burma I (1824-1826). Pemerintah Inggris menerapkan kebijakan memindahkan para petani dari wilayah yang berdekatan ke Arakan yang saat itu sudah ditinggalkan, termasuk orang-orang Rohingya yang sebelumnya mengungsi dan orang-orang Bengali asli dari Chittagong. Saat itu wilayah Arakan dimasukkan dalam daerah administrasi Bengal sehingga tidak ada batas internasional antara keduanya dan migrasi penduduk di kedua wilayah itu terjadi dengan mudah.

Pada awal abad ke-19 gelombang imigrasi dari Bengal ke Arakan semakin meningkat karena didorong oleh kebutuhan akan upah pekerja yang lebih murah yang didatangkan dari India ke Burma. Seiring waktu jumlah populasi para pendatang lebih banyak daripada penduduk asli sehingga tak jarang menimbulkan ketegangan etnis. Pada tahun 1939 konflik di Arakan memuncak sehingga pemerintah Inggris membentuk komisi khusus yang menyelidiki masalah imigrasi di Arakan, namun sebelum komisi tersebut dapat merealisasikan hasil kerjanya, Inggris harus angkat kaki dari Arakan pada akhir Perang Dunia II.

Pada masa Perang Dunia II Jepang menyerang Burma dan mengusir Inggris dari Arakan yang kemudian dikenal sebagai Rakhine. Pada masa kekosongan kekuasaan saat itu, kekerasan antara kedua kelompok suku Rakhine yang beragama Buddha dan suku Rohingya yang beragama Muslim semakin meningkat. Ditambah lagi, orang-orang Rohingya dipersenjatai oleh Inggris guna membantu Sekutu untuk mempertahankan wilayah Arakan dari pendudukan Jepang. Hal ini akhirnya diketahui oleh pemerintah Jepang yang kemudian melakukan penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap orang-orang Rohingya. Selama masa ini, puluhan ribu orang Rohingya mengungsi keluar dari Arakan menuju Bengal. Kekerasan yang berlarut-larut juga memaksa ribuan orang Burma, India dan Inggris yang berada di Arakan mengungsi selama periode ini.

Pada tahun 1940-an orang-orang Rohingya berusaha menjalin kerjasama dengan Pakistan di bawah Mohammad Ali Jinnah untuk membebaskan wilayahnya dari Burma, tetapi ditolak oleh pemimpin Pakistan tersebut karena tidak mau mencampuri urusan internal negeri Burma. Pada tahun 1947 orang-orang Rohingya membentuk Partai Mujahid yang merupakan kelompok jihad untuk mendirikan negara Muslim yang merdeka di Arakan utara. Mereka menggunakan istilah Rohingya sebagai identitas etnis mereka dan menyatakan diri sebagai penduduk asli Arakan. Kemudian Burma merdeka pada tahun 1948 dan orang-orang Rohingya semakin gencar melancarkan gerakan separatisnya.

Pada tahun 1962 Jenderal Ne Win melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan Myanmar. Ia melakukan operasi militer untuk meredam aksi separatis Rohingya. Salah satu operasi militer yang dilancarkan pada tahun 1978 yang disebut “Operasi Raja Naga” menyebabkan lebih dari 200.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh akibat kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan besar-besaran. Pemerintah Bangladesh menyatakan protes atas masuknya gelombang pengungsi Rohingya ini. Pada bulan Juli 1978 setelah dimediasi oleh PBB, pemerintah Myanmar menyetujui untuk menerima para imigran Rohingya untuk kembali ke Rakhine. Pada tahun 1982 pemerintah Bangladesh mengamademen undang-undang kewarganegaraannya dan menyatakan Rohingya bukan warga negara Bangladesh.

Sejak tahun 1990 sampai saat ini, pemerintah junta militer Myanmar masih menerapkan politik diskriminasi terhadap suku-suku minoritas di Myanmar, termasuk Rohingya, Kokang dan Panthay. Para pengungsi Rohingya melaporkan mereka mengalami kekerasan dan diskriminasi oleh pemerintah seperti bekerja tanpa digaji dalam proyek-proyek pemerintah dan pelanggaran HAM lainnya.

Pada tahun 2012 kerusuhan rasial pecah antara suku Rakhine dan Rohingya yang dipicu oleh pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Rakhine oleh para pemuda Rohingya yang disusul pembunuhan sepuluh orang pemuda Muslim dalam sebuah bus oleh orang-orang Rakhine. Menurut pemerintah Myanmar, akibat kekerasan tersebut, 78 orang tewas, 87 orang luka-luka, dan lebih dari 140.000 orang terlantar dari kedua belah pihak baik suku Rakhine maupun Rohingya. Pemerintah menerapkan jam malam dan keadaan darurat yang memungkinkan pihak militer bertindak di Rakhine. Walaupun para aktivitis LSM Rohingya menuduh bahwa pihak kepolisian dan kekuatan militer turut berperan serta dalam kekerasan dan menangkap orang-orang Rohingya, tetapi penyelidikan oleh organisasi International Crisis Group melaporkan bahwa kedua belah pihak mendapatkan perlindungan dan keamanan dari pihak militer.

Pada tahun 2014 pemerintah Myanmar melarang penggunaan istilah Rohingya dan mendaftarkan orang-orang Rohingya sebagai orang Bengali dalam sensus penduduk saat itu. Pada bulan Maret 2015 yang lalu pemerintah Myanmar mencabut kartu identitas penduduk bagi orang-orang Rohingya yang menyebabkan mereka kehilangan kewarganegaraannya dan tidak mendapatkan hak-hak politiknya. Ini menyebabkan orang-orang Rohingya mengungsi ke Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Demikianlah sekilas tentang sejarah konflik etnis yang berangkat dari permasalahan sosial politik yang telah berakar selama berabad-abad di wilayah Rakhine. Bagaimana pun, konflik ini hanyalah menyebabkan kesengsaraan pihak-pihak yang bertikai. Oleh sebab itu, setelah mengetahui akar permasalahan konflik ini, semoga para pemimpin dunia dan pihak-pihak yang bersangkutan dapat memberikan solusi yang terbaik demi perdamaian dunia.

Diambil dari: http://sejarah.kompasiana.com/2015/05/24/rohingya-sebuah-tinjauan-sejarah-konflik-yang-berkepanjangan-719132.html

39
Seremonial / Sabbe Sankhara Anicca Papa Om Ryu
« on: 21 March 2015, 07:49:28 PM »
Turut berduka cita atas meninggalnya papa om Ryu, semoga beliau terlahir di alam bahagia

_/\_

40
Perkenalan / MOVED: Hanya Sebuah Puisi
« on: 07 January 2015, 07:10:54 PM »

41
Perkenalan / MOVED: Jual Kitchen Set Murah
« on: 21 November 2014, 12:00:36 PM »

44
Kesehatan / Sendiri Tapi Tidak Kesepian
« on: 05 September 2014, 10:01:00 PM »
Apa Makna Kesepian?

Definisi umum dari kesepian adalah ‘sendirian’, tidak ada yang menemani (alone). Sebenarnya, kesepian bukan sekedar kondisi ‘sendiri’, tapi lebih condong ke ‘rasa’. Perasaan kosong, sendiri, tidak diinginkan. Orang yang kesepian merasa ‘rindu’ untuk berinteraksi dengan orang lain. Jadi kesepian (loneliness) itu berbeda dengan kesendirian (being alone). Seseorang bisa saja memilih untuk (hidup) sendiri tanpa banyak kontak dengan orang lain dan bahagia dengan kondisi kesendiriannya itu. Atau ada juga orang yang punya banyak teman, punya pasangan, punya keluarga, namun tetap merasa kesepian.

Apa Yang Menyebabkan Kesepian?

Menurut riset yang dilakukan John Cacioppo, psikolog dari University of Chicago, kesepian berhubungan erat dengan genetik. Suatu survei tentang kesepian pada anak kembar, menunjukkan bahwa anak kembar cenderung kurang merasa kesepian dari yang tidak memiliki saudara kembar. Selain itu, kondisi lingkungan dan perubahan situasi seperti pindah ke kota lain, kematian pasangan hidup, perceraian, anak-anak yang telah dewasa dan meninggalkan rumah, dapat menjadi dasar timbulnya kesepian.

Orang yang kurang percaya diri sering menganggap dirinya tidak layak untuk mendapat perhatian orang lain dan cenderung menjadi minder. Situasi ini akan menjadikannya terisolasi dari pergaulan dan lama kelamaan menjadi (kesepian) kronis.

Tingkat kesepian yang tinggi diasosiasikan dengan kondisi fisik seseorang: tinggal sendiri, jejaring pergaulan yang terbatas dan kualitas relasi kuang baik. Kelompok individu yang memiliki penghasilan serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yang menikah atau memiliki pasangan, cenderung jauh dari kesepian. Bukan banyak atau tidaknya jumlah teman yang dapat menghalau kesepian, tapi kualitas relasi dengan orang lain. Jadi meskipun teman hanya segelintir, namun akrab dan solid, kita cenderung jauh dari kesepian karena selalu ada teman yang dapat diajak ngobrol atau melakukan aktivitas bersama.

Dampak Kesepian

Beberapa studi menunjukkan adanya kaitan antara kesepian dan isolasi dari kehidupan sosial dengan beragam macam penyakit fisik, dari kanker, penyakit jantung, peradangan hingga gangguan daya tahan tubuh. Kesepian membuat level cortisol dan tekanan darah menjadi kacau dan memicu reaksi berlebihan yang menimbulkan stres.

John Cacioppo juga mengatakan bahwa orang dewasa yang kesepian cenderung mengkonsumsi alkohol lebih banyak, kurang berolahraga, kualitas tidur kurang baik, mudah merasa lelah, lebih sering makan makanan tinggi lemak serta mengalami penuaan dini (premature aging).

Dampak negatif kesepian akan lebih besar pada anak-anak remaja dibandingkan dengan yang paruh baya. Itu sebabnya mengapa sering kita jumpai remaja yang merasa down dan bahkan depresi ketika mereka tersisihkan dari kelompoknya, karena tidak ada yang mau satu grup dengannya jika ada tugas kelompok dari guru, tidak diajak hang out di mal atau tidak diundang ke acara-acara tertentu. Seorang ibu muda yang harus bed rest beberapa minggu karena kehamilannya yang rentan, bisa juga dilanda kesepian, terlebih jika sebelumnya ia adalah wanita karir yang super sibuk. Jika kesepian tidak ditangani, tentu akan mengganggu kondisi fisik dan psikologis sang ibu.

Ada banyak situasi yang dapat menimbulkan kesepian dan dampaknya berbeda bagi tiap orang.

Tips Mengatasi Kesepian

Tidak ada orang yang ingin merasakan kesepian atau dengan sengaja mengisolasi diri dari lingkungan . Namun kadang tanpa disadari, kita tenggelam dalam kesepian. Apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal kesepian?

1. Tingkatkan rasa percaya diri . Setiap orang pernah merasakan kesepian, jadi bukan hanya anda. Tidak ada yang salah dengan diri anda jika suatu saat anda merasa kesepian, jadi tidak perlu merasa minder.

2. Bergabung dengan beberapa kegiatan dalam komunitas, seperti berolahraga di klub kebugaran, menjadi relawan dalam kegiatan sosial, ikut kelas menari, melukis dan sebagainya.

3. Berteman dengan orang yang punya sikap dan menganut nilai yang sejalan dengan anda. Hal ini akan mengurangi friksi dan lebih cepat terjalin chemistry. Teman yang punya hobi sama dengan anda akan lebih menyenangkan karena banyak hal yang bisa dibahas bersama.

4. Belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Jika anda hanya sibuk berbicara tentang kehebatan diri sendiri, lawan bicara akan merasa kurang nyaman karena tidak ada kesempatan untuk bertukar cerita. Hubungan interpersonal akan terjalin dengan baik jika ada in dan out yang seimbang.

5. Keluarlah dari kamar dan lakukan kegiatan di ruang publik meskipun tidak ada teman yang bisa menemani saat itu. Pergi menonton di bioskop, menghadiri pameran, ke gym, nonton konser musik, naik sepeda mengitari kompleks tempat tinggal anda, ke toko buku, atau sekedar window shopping di mal. Meskipun dilakukan sendiri, hal ini akan lebih baik daripada mengurung diri seharian di kamar dan hanya memandang tembok kosong kamar anda. Pasti lebih bête, kan. Kegiatan di ruang publik membuka peluang anda untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain.

6. Kadang kala kita merasa rindu bukan dengan orangnya saja tapi juga dengan kegiatan yang dilakukan bersama orang tersebut. Contohnya: ada restoran yang dulu sering anda kunjungi bersama seseorang, atau setiap makan makanan tertentu, mengingatkan anda pada X, ada lagu yang menjadi favorit si Y, buku karangan penulis Z punya kesan yang dalam karena anda punya memori di dalamnya. Jadi ketika mulai merasa kesepian, lakukanlah hal-hal yang mengingatkan anda pada seseorang (meskipun tanpa kehadiran orang tersebut) atau pada suatu situasi. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi setelah itu anda akan terhibur oleh kenangan yang menempel pada objek atau kegiatan tersebut.

7. Miliki binatang peliharaan. Sepupu saya kuliah di tempat yang jauh dari tanah air, memutuskan untuk memelihara anjing di apartemennya, meskipun itu berarti dia menjadi lebih sibuk karena harus mengurus makan, memandikan, membawa jalan keluar rumah setiap pagi dan sore atau mencarikan tempat penitipan anjing setiap kali dia pulang berlibur. Katanya, mendengar suara si Oki melompat kegirangan ketika diberi makanan atau sekedar menuntun anjingnya di taman sekitar apartemen, sudah sangat menghibur.

8. Sediakan waktu untuk keluarga, apakah itu dengan pasangan, anak, orang tua, kakak, adik, keponakan atau anggota keluarga besar lainnya. Selalu ada kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama.

9. Bergabung dengan komunitas di dunia maya (online). Memiliki teman baru atau ikut dalam forum diskusi di dunia maya, kadang dapat membantu menghilangkan kesepian karena ada aktivitas yang mengisi waktu.

10. Pergunakan waktu luang anda untuk mempelajari keahlian baru, seperti: memainkan alat musik, melukis, menjahit, kursus masak, menari ataupun belajar bahasa asing.


Tidak ada yang bisa menjamin anda terhindar dari jeratan kesepian, karena semua tergantung pada bagaimana anda mengelola pikiran dan emosi anda sendiri.

Sumber: http://patahtumbuh.me/2014/04/05/sendiri-tapi-tidak-kesepian/

45
Namo Buddhaya,
 
Seperti yang telah kita ketahui dari thread sebelah, istri om Mokau Kaucu, salah satu member forum kita, yang bernama ibu Murni (62 tahun) mengalami penyakit komplikasi (diabetes, darah tinggi, dan gangguan ginjal). Sekitar tanggal 12 Juli 2014 kemarin jatuh di ruang tamu hingga tulang benggol paha retak dan memicu serangan jantung. Walaupun berhasil dioperasi untuk pergantian tulang, namun hal ini kemudian mempengaruhi jantung (obat biusnya melemahkan jantung) dan terus merembet ke paru paru yang melemah sehingga harus pasang alat bantu pernapasan dan ditambah lagi terjadi pendarahan lambung dan usus. Hingga saat ini beliau masih dirawat di Ruang ICU Rumah Sakit Gading Pluit, Kelapa Gading Permai dan masih dibantu dengan ventilator (alat bantu napas).

Karena berbagai komplikasi ini, biaya yang harus dikeluarkan sangat besar dan tidak semuanya tercover oleh asuransi, maka melalui ini kami bermaksud mengetuk hati para member DC dan para dermawan untuk mengulurkan tangan memberikan bantuan untuk pengobatan ibu Murni.

Transfer dana dapat dilakukan ke rekening DhammaCitta, yaitu :

Bank           : Bank Central Asia cabang Kebon Jeruk Raya, Jakarta
No Rek        : 6560 70 80 91
  (IDR)
Atas Nama   : BENNY
Swift Code & Alamat Bank: ShowHide
Swift Code    : CENAIDJA
Alamat         : KCP Kebon Jeruk Raya
                     Rukan Business Park Blok B 1-2
                     Jl. Meruya Ilir No. 88 Jakarta - Indonesia


tambahkan akhiran nominal transfer dengan angka 5. Contoh: Rp 100.005,-

Konfirmasi dana ke :
dana [at] dhammacitta.org­ atau
PM Elin, atau 0812 - 1000 7882 (SMS / Whatsapp)

Dengan format:
DCPeduli NamaDonatur JumlahDana NamaRekPengirim/­SetoranTunai
Contoh:
DCPeduli Andy & Keluarga 20.000 Andy Lau (Setoran Tunai)
DCPeduli Hendra 50.005 Hendra Susanto

Penggalangan dana ini akan ditutup pada tanggal 14 September 2014.

Semoga dengan adanya bantuan donasi ini dapat meringankan beban keluarga om Mokau Kaocu dan semoga ibu Murni dapat menjadi lebih baik kondisi kesehatannya. Semoga jasa kebajikan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
 
Anumodana

_/\_

Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9
anything