Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - seniya

Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9
31
Saṃyukta Āgama (SĀ) merupakan teks Āgama (secara harfiah berarti "kitab suci") padanan Samyutta Nikaya dari aliran Sarvastivada yang terdapat dalam Tripitaka Mandarin edisi Taishō dengan nomor urut 99 (T 99) yang diterjemahkan dari bahasa Sanskrit oleh Gunabhadra pada tahun 435-443 M. Teks ini merupakan salah satu sumber yang penting untuk mempelajari Buddhisme awal. Terjemahan SĀ ini ke bahasa Inggris telah dilakukan Bhikkhu Anālayo secara serial sebagai proyek penelitian yang dilakukan Dharma Drum Buddhist College. Sampai dengan post ini dibuat, bagian pertama SĀ tentang lima kelompok unsur kehidupan dalam 5 subbagian/jilid telah selesai diterjemahkan (update dapat dilihat pada link https://www.buddhismuskunde.uni-hamburg.de/en/personen/analayo.html pada bagian Translation (only) paling bawah).

Berikut merupakan terjemahan dari bahasa Inggris tersebut ke bahasa Indonesia mulai dari bagian pertama tentang lima khanda yang mengandung 32 sutta pertama (SĀ 1-32).

32
Seremonial / Selamat hari Waisak 2559 BE / 2015
« on: 02 June 2015, 08:23:51 AM »
Sukho buddhānaṃ uppādo
Sukhā saddhammadesanā
Sukhā saṅghassa sāmaggi
Asokaṃ virajaṃ khemaṃ
Etaṃ maṅgalamuttamaṃ
Sukhī vesākha pūjā 2559 BE

Bahagia adalah kemunculan Buddha.
Bahagia adalah pembabaran Dhamma sejati.
Bahagia adalah persatuan Sangha.
Tanpa kesedihan, tanpa noda, damai;
Inilah berkah tertinggi.
Selamat peringatan hari Waisak 2559 BE
_/\_

33
Dalam beberapa minggu terakhir, isu tentang konflik Rohingya di Myanmar kembali mencuat ketika ribuan pengungsi Rohingya dari Myanmar terdampar di Aceh setelah diselamatkan para nelayan. Berita-berita tentang konflik etnis di Rakhine, salah satu negara bagian Myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh ini pun kembali bermunculan dan menjadi topik hangat di berbagai media sosial setelah sebelumnya sempat tenggelam sejak pemberitaan terakhir tentang kerusuhan etnis tersebut pada tahun 2012 yang silam. Lebih parahnya, banyak pihak yang mengaitkan permasalahan ini sebagai konflik agama tanpa mengetahui latar belakang masalah yang sebenarnya yang telah terjadi ratusan tahun yang lampau. Oleh sebab itu, tulisan ini akan menilik kembali sejarah konflik di Rakhine tersebut sehingga akar permasalahannya menjadi lebih jelas bagi kita semua.

Berdasarkan catatan sejarah, komunitas Muslim telah mendiami wilayah Arakan (nama kuno Rakhine) sejak masa pemerintahan seorang raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun (1430–1434) di kerajaan Mrauk U. Setelah diasingkan selama 24 tahun di kesultanan Bengal, Narameikhla mendapatkan tahta di Arakan dengan bantuan dari Sultan Bengal saat itu. Kemudian ia membawa serta orang-orang Bengali untuk tinggal di Arakan dan membantu administrasi pemerintahannya; demikianlah komunitas Muslim pertama terbentuk di wilayah itu.

Saat itu kerajaan Mrauk U berstatus sebagai kerajaan bawahan dari kesultanan Bengal sehingga Raja Narameikhla menggunakan gelar dalam bahasa Arab termasuk dalam nama-nama pejabat istananya dan memakai koin Bengal yang bertuliskan aksara Arab Persia pada satu sisinya dan aksara Burma pada sisi lainnya sebagai mata uangnya. Setelah berhasil melepaskan diri dari kesultanan Bengal, para raja keturunan Narameikhla tetap menggunakan gelar Arab tersebut dan menganggap diri mereka sebagai sultan serta berpakaian meniru sultan Mughal. Mereka tetap mempekerjakan orang-orang Muslim di istana dan walaupun beragama Buddha, berbagai kebiasaan Muslim dari Bengal tetap dipakai. Pada abad ke-17 populasi Muslim meningkat karena mereka dipekerjakan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya dalam pemerintahan saja. Suku Kamein, salah satu etnis Muslim di Rakhine yang diakui pemerintah Myanmar saat ini, adalah keturunan orang-orang Muslim yang bermigrasi ke Arakan pada masa ini.

Namun kerukunan dan keharmonisan ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1785 kerajaan Burma dari selatan menyerang dan menguasai Arakan; mereka menerapkan politik diskriminasi dengan mengusir dan mengeksekusi orang-orang Muslim Arakan. Pada tahun 1799 sebanyak 35.000 orang Arakan mengungsi ke wilayah Chittagong di Bengal yang saat itu dikuasai Inggris untuk mencari perlindungan. Orang-orang Arakan tersebut menyebut diri mereka sebagai Rooinga (penduduk asli Arakan), yang kemudian dieja menjadi Rohingya saat ini. Selain itu, pemerintah kerajaan Burma saat itu juga memindahkan sejumlah besar penduduk Arakan ke daerah Burma tengah sehingga membuat populasi wilayah Arakan sangat sedikit ketika Inggris menguasainya.

Pada tahun 1826 wilayah Arakan diduduki oleh pemerintah kolonial Inggris setelah perang Inggris-Burma I (1824-1826). Pemerintah Inggris menerapkan kebijakan memindahkan para petani dari wilayah yang berdekatan ke Arakan yang saat itu sudah ditinggalkan, termasuk orang-orang Rohingya yang sebelumnya mengungsi dan orang-orang Bengali asli dari Chittagong. Saat itu wilayah Arakan dimasukkan dalam daerah administrasi Bengal sehingga tidak ada batas internasional antara keduanya dan migrasi penduduk di kedua wilayah itu terjadi dengan mudah.

Pada awal abad ke-19 gelombang imigrasi dari Bengal ke Arakan semakin meningkat karena didorong oleh kebutuhan akan upah pekerja yang lebih murah yang didatangkan dari India ke Burma. Seiring waktu jumlah populasi para pendatang lebih banyak daripada penduduk asli sehingga tak jarang menimbulkan ketegangan etnis. Pada tahun 1939 konflik di Arakan memuncak sehingga pemerintah Inggris membentuk komisi khusus yang menyelidiki masalah imigrasi di Arakan, namun sebelum komisi tersebut dapat merealisasikan hasil kerjanya, Inggris harus angkat kaki dari Arakan pada akhir Perang Dunia II.

Pada masa Perang Dunia II Jepang menyerang Burma dan mengusir Inggris dari Arakan yang kemudian dikenal sebagai Rakhine. Pada masa kekosongan kekuasaan saat itu, kekerasan antara kedua kelompok suku Rakhine yang beragama Buddha dan suku Rohingya yang beragama Muslim semakin meningkat. Ditambah lagi, orang-orang Rohingya dipersenjatai oleh Inggris guna membantu Sekutu untuk mempertahankan wilayah Arakan dari pendudukan Jepang. Hal ini akhirnya diketahui oleh pemerintah Jepang yang kemudian melakukan penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap orang-orang Rohingya. Selama masa ini, puluhan ribu orang Rohingya mengungsi keluar dari Arakan menuju Bengal. Kekerasan yang berlarut-larut juga memaksa ribuan orang Burma, India dan Inggris yang berada di Arakan mengungsi selama periode ini.

Pada tahun 1940-an orang-orang Rohingya berusaha menjalin kerjasama dengan Pakistan di bawah Mohammad Ali Jinnah untuk membebaskan wilayahnya dari Burma, tetapi ditolak oleh pemimpin Pakistan tersebut karena tidak mau mencampuri urusan internal negeri Burma. Pada tahun 1947 orang-orang Rohingya membentuk Partai Mujahid yang merupakan kelompok jihad untuk mendirikan negara Muslim yang merdeka di Arakan utara. Mereka menggunakan istilah Rohingya sebagai identitas etnis mereka dan menyatakan diri sebagai penduduk asli Arakan. Kemudian Burma merdeka pada tahun 1948 dan orang-orang Rohingya semakin gencar melancarkan gerakan separatisnya.

Pada tahun 1962 Jenderal Ne Win melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan Myanmar. Ia melakukan operasi militer untuk meredam aksi separatis Rohingya. Salah satu operasi militer yang dilancarkan pada tahun 1978 yang disebut “Operasi Raja Naga” menyebabkan lebih dari 200.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh akibat kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan besar-besaran. Pemerintah Bangladesh menyatakan protes atas masuknya gelombang pengungsi Rohingya ini. Pada bulan Juli 1978 setelah dimediasi oleh PBB, pemerintah Myanmar menyetujui untuk menerima para imigran Rohingya untuk kembali ke Rakhine. Pada tahun 1982 pemerintah Bangladesh mengamademen undang-undang kewarganegaraannya dan menyatakan Rohingya bukan warga negara Bangladesh.

Sejak tahun 1990 sampai saat ini, pemerintah junta militer Myanmar masih menerapkan politik diskriminasi terhadap suku-suku minoritas di Myanmar, termasuk Rohingya, Kokang dan Panthay. Para pengungsi Rohingya melaporkan mereka mengalami kekerasan dan diskriminasi oleh pemerintah seperti bekerja tanpa digaji dalam proyek-proyek pemerintah dan pelanggaran HAM lainnya.

Pada tahun 2012 kerusuhan rasial pecah antara suku Rakhine dan Rohingya yang dipicu oleh pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Rakhine oleh para pemuda Rohingya yang disusul pembunuhan sepuluh orang pemuda Muslim dalam sebuah bus oleh orang-orang Rakhine. Menurut pemerintah Myanmar, akibat kekerasan tersebut, 78 orang tewas, 87 orang luka-luka, dan lebih dari 140.000 orang terlantar dari kedua belah pihak baik suku Rakhine maupun Rohingya. Pemerintah menerapkan jam malam dan keadaan darurat yang memungkinkan pihak militer bertindak di Rakhine. Walaupun para aktivitis LSM Rohingya menuduh bahwa pihak kepolisian dan kekuatan militer turut berperan serta dalam kekerasan dan menangkap orang-orang Rohingya, tetapi penyelidikan oleh organisasi International Crisis Group melaporkan bahwa kedua belah pihak mendapatkan perlindungan dan keamanan dari pihak militer.

Pada tahun 2014 pemerintah Myanmar melarang penggunaan istilah Rohingya dan mendaftarkan orang-orang Rohingya sebagai orang Bengali dalam sensus penduduk saat itu. Pada bulan Maret 2015 yang lalu pemerintah Myanmar mencabut kartu identitas penduduk bagi orang-orang Rohingya yang menyebabkan mereka kehilangan kewarganegaraannya dan tidak mendapatkan hak-hak politiknya. Ini menyebabkan orang-orang Rohingya mengungsi ke Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Demikianlah sekilas tentang sejarah konflik etnis yang berangkat dari permasalahan sosial politik yang telah berakar selama berabad-abad di wilayah Rakhine. Bagaimana pun, konflik ini hanyalah menyebabkan kesengsaraan pihak-pihak yang bertikai. Oleh sebab itu, setelah mengetahui akar permasalahan konflik ini, semoga para pemimpin dunia dan pihak-pihak yang bersangkutan dapat memberikan solusi yang terbaik demi perdamaian dunia.

Diambil dari: http://sejarah.kompasiana.com/2015/05/24/rohingya-sebuah-tinjauan-sejarah-konflik-yang-berkepanjangan-719132.html

34
Seremonial / Sabbe Sankhara Anicca Papa Om Ryu
« on: 21 March 2015, 07:49:28 PM »
Turut berduka cita atas meninggalnya papa om Ryu, semoga beliau terlahir di alam bahagia

_/\_

35
Perkenalan / MOVED: Hanya Sebuah Puisi
« on: 07 January 2015, 07:10:54 PM »

36
Perkenalan / MOVED: Jual Kitchen Set Murah
« on: 21 November 2014, 12:00:36 PM »

39
Kesehatan / Sendiri Tapi Tidak Kesepian
« on: 05 September 2014, 10:01:00 PM »
Apa Makna Kesepian?

Definisi umum dari kesepian adalah ‘sendirian’, tidak ada yang menemani (alone). Sebenarnya, kesepian bukan sekedar kondisi ‘sendiri’, tapi lebih condong ke ‘rasa’. Perasaan kosong, sendiri, tidak diinginkan. Orang yang kesepian merasa ‘rindu’ untuk berinteraksi dengan orang lain. Jadi kesepian (loneliness) itu berbeda dengan kesendirian (being alone). Seseorang bisa saja memilih untuk (hidup) sendiri tanpa banyak kontak dengan orang lain dan bahagia dengan kondisi kesendiriannya itu. Atau ada juga orang yang punya banyak teman, punya pasangan, punya keluarga, namun tetap merasa kesepian.

Apa Yang Menyebabkan Kesepian?

Menurut riset yang dilakukan John Cacioppo, psikolog dari University of Chicago, kesepian berhubungan erat dengan genetik. Suatu survei tentang kesepian pada anak kembar, menunjukkan bahwa anak kembar cenderung kurang merasa kesepian dari yang tidak memiliki saudara kembar. Selain itu, kondisi lingkungan dan perubahan situasi seperti pindah ke kota lain, kematian pasangan hidup, perceraian, anak-anak yang telah dewasa dan meninggalkan rumah, dapat menjadi dasar timbulnya kesepian.

Orang yang kurang percaya diri sering menganggap dirinya tidak layak untuk mendapat perhatian orang lain dan cenderung menjadi minder. Situasi ini akan menjadikannya terisolasi dari pergaulan dan lama kelamaan menjadi (kesepian) kronis.

Tingkat kesepian yang tinggi diasosiasikan dengan kondisi fisik seseorang: tinggal sendiri, jejaring pergaulan yang terbatas dan kualitas relasi kuang baik. Kelompok individu yang memiliki penghasilan serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yang menikah atau memiliki pasangan, cenderung jauh dari kesepian. Bukan banyak atau tidaknya jumlah teman yang dapat menghalau kesepian, tapi kualitas relasi dengan orang lain. Jadi meskipun teman hanya segelintir, namun akrab dan solid, kita cenderung jauh dari kesepian karena selalu ada teman yang dapat diajak ngobrol atau melakukan aktivitas bersama.

Dampak Kesepian

Beberapa studi menunjukkan adanya kaitan antara kesepian dan isolasi dari kehidupan sosial dengan beragam macam penyakit fisik, dari kanker, penyakit jantung, peradangan hingga gangguan daya tahan tubuh. Kesepian membuat level cortisol dan tekanan darah menjadi kacau dan memicu reaksi berlebihan yang menimbulkan stres.

John Cacioppo juga mengatakan bahwa orang dewasa yang kesepian cenderung mengkonsumsi alkohol lebih banyak, kurang berolahraga, kualitas tidur kurang baik, mudah merasa lelah, lebih sering makan makanan tinggi lemak serta mengalami penuaan dini (premature aging).

Dampak negatif kesepian akan lebih besar pada anak-anak remaja dibandingkan dengan yang paruh baya. Itu sebabnya mengapa sering kita jumpai remaja yang merasa down dan bahkan depresi ketika mereka tersisihkan dari kelompoknya, karena tidak ada yang mau satu grup dengannya jika ada tugas kelompok dari guru, tidak diajak hang out di mal atau tidak diundang ke acara-acara tertentu. Seorang ibu muda yang harus bed rest beberapa minggu karena kehamilannya yang rentan, bisa juga dilanda kesepian, terlebih jika sebelumnya ia adalah wanita karir yang super sibuk. Jika kesepian tidak ditangani, tentu akan mengganggu kondisi fisik dan psikologis sang ibu.

Ada banyak situasi yang dapat menimbulkan kesepian dan dampaknya berbeda bagi tiap orang.

Tips Mengatasi Kesepian

Tidak ada orang yang ingin merasakan kesepian atau dengan sengaja mengisolasi diri dari lingkungan . Namun kadang tanpa disadari, kita tenggelam dalam kesepian. Apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal kesepian?

1. Tingkatkan rasa percaya diri . Setiap orang pernah merasakan kesepian, jadi bukan hanya anda. Tidak ada yang salah dengan diri anda jika suatu saat anda merasa kesepian, jadi tidak perlu merasa minder.

2. Bergabung dengan beberapa kegiatan dalam komunitas, seperti berolahraga di klub kebugaran, menjadi relawan dalam kegiatan sosial, ikut kelas menari, melukis dan sebagainya.

3. Berteman dengan orang yang punya sikap dan menganut nilai yang sejalan dengan anda. Hal ini akan mengurangi friksi dan lebih cepat terjalin chemistry. Teman yang punya hobi sama dengan anda akan lebih menyenangkan karena banyak hal yang bisa dibahas bersama.

4. Belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Jika anda hanya sibuk berbicara tentang kehebatan diri sendiri, lawan bicara akan merasa kurang nyaman karena tidak ada kesempatan untuk bertukar cerita. Hubungan interpersonal akan terjalin dengan baik jika ada in dan out yang seimbang.

5. Keluarlah dari kamar dan lakukan kegiatan di ruang publik meskipun tidak ada teman yang bisa menemani saat itu. Pergi menonton di bioskop, menghadiri pameran, ke gym, nonton konser musik, naik sepeda mengitari kompleks tempat tinggal anda, ke toko buku, atau sekedar window shopping di mal. Meskipun dilakukan sendiri, hal ini akan lebih baik daripada mengurung diri seharian di kamar dan hanya memandang tembok kosong kamar anda. Pasti lebih bête, kan. Kegiatan di ruang publik membuka peluang anda untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain.

6. Kadang kala kita merasa rindu bukan dengan orangnya saja tapi juga dengan kegiatan yang dilakukan bersama orang tersebut. Contohnya: ada restoran yang dulu sering anda kunjungi bersama seseorang, atau setiap makan makanan tertentu, mengingatkan anda pada X, ada lagu yang menjadi favorit si Y, buku karangan penulis Z punya kesan yang dalam karena anda punya memori di dalamnya. Jadi ketika mulai merasa kesepian, lakukanlah hal-hal yang mengingatkan anda pada seseorang (meskipun tanpa kehadiran orang tersebut) atau pada suatu situasi. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi setelah itu anda akan terhibur oleh kenangan yang menempel pada objek atau kegiatan tersebut.

7. Miliki binatang peliharaan. Sepupu saya kuliah di tempat yang jauh dari tanah air, memutuskan untuk memelihara anjing di apartemennya, meskipun itu berarti dia menjadi lebih sibuk karena harus mengurus makan, memandikan, membawa jalan keluar rumah setiap pagi dan sore atau mencarikan tempat penitipan anjing setiap kali dia pulang berlibur. Katanya, mendengar suara si Oki melompat kegirangan ketika diberi makanan atau sekedar menuntun anjingnya di taman sekitar apartemen, sudah sangat menghibur.

8. Sediakan waktu untuk keluarga, apakah itu dengan pasangan, anak, orang tua, kakak, adik, keponakan atau anggota keluarga besar lainnya. Selalu ada kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama.

9. Bergabung dengan komunitas di dunia maya (online). Memiliki teman baru atau ikut dalam forum diskusi di dunia maya, kadang dapat membantu menghilangkan kesepian karena ada aktivitas yang mengisi waktu.

10. Pergunakan waktu luang anda untuk mempelajari keahlian baru, seperti: memainkan alat musik, melukis, menjahit, kursus masak, menari ataupun belajar bahasa asing.


Tidak ada yang bisa menjamin anda terhindar dari jeratan kesepian, karena semua tergantung pada bagaimana anda mengelola pikiran dan emosi anda sendiri.

Sumber: http://patahtumbuh.me/2014/04/05/sendiri-tapi-tidak-kesepian/

40
Namo Buddhaya,
 
Seperti yang telah kita ketahui dari thread sebelah, istri om Mokau Kaucu, salah satu member forum kita, yang bernama ibu Murni (62 tahun) mengalami penyakit komplikasi (diabetes, darah tinggi, dan gangguan ginjal). Sekitar tanggal 12 Juli 2014 kemarin jatuh di ruang tamu hingga tulang benggol paha retak dan memicu serangan jantung. Walaupun berhasil dioperasi untuk pergantian tulang, namun hal ini kemudian mempengaruhi jantung (obat biusnya melemahkan jantung) dan terus merembet ke paru paru yang melemah sehingga harus pasang alat bantu pernapasan dan ditambah lagi terjadi pendarahan lambung dan usus. Hingga saat ini beliau masih dirawat di Ruang ICU Rumah Sakit Gading Pluit, Kelapa Gading Permai dan masih dibantu dengan ventilator (alat bantu napas).

Karena berbagai komplikasi ini, biaya yang harus dikeluarkan sangat besar dan tidak semuanya tercover oleh asuransi, maka melalui ini kami bermaksud mengetuk hati para member DC dan para dermawan untuk mengulurkan tangan memberikan bantuan untuk pengobatan ibu Murni.

Transfer dana dapat dilakukan ke rekening DhammaCitta, yaitu :

Bank           : Bank Central Asia cabang Kebon Jeruk Raya, Jakarta
No Rek        : 6560 70 80 91
  (IDR)
Atas Nama   : BENNY
Swift Code & Alamat Bank: ShowHide
Swift Code    : CENAIDJA
Alamat         : KCP Kebon Jeruk Raya
                     Rukan Business Park Blok B 1-2
                     Jl. Meruya Ilir No. 88 Jakarta - Indonesia


tambahkan akhiran nominal transfer dengan angka 5. Contoh: Rp 100.005,-

Konfirmasi dana ke :
dana [at] dhammacitta.org­ atau
PM Elin, atau 0812 - 1000 7882 (SMS / Whatsapp)

Dengan format:
DCPeduli NamaDonatur JumlahDana NamaRekPengirim/­SetoranTunai
Contoh:
DCPeduli Andy & Keluarga 20.000 Andy Lau (Setoran Tunai)
DCPeduli Hendra 50.005 Hendra Susanto

Penggalangan dana ini akan ditutup pada tanggal 14 September 2014.

Semoga dengan adanya bantuan donasi ini dapat meringankan beban keluarga om Mokau Kaocu dan semoga ibu Murni dapat menjadi lebih baik kondisi kesehatannya. Semoga jasa kebajikan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
 
Anumodana

_/\_

42
Studi Sutta/Sutra / "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« on: 10 August 2014, 04:13:30 PM »
MN 22 Alagaddupama Sutta mengisahkan tentang seorang bhikkhu bernama Ariṭṭha memunculkan suatu pandangan sesat bahwa perilaku yang dilarang oleh Sang Buddha tidak benar-benar merupakan rintangan. Sang Buddha menegurnya dan, dengan serangkaian perumpamaan yang mengesankan, menekankan bahaya dalam kesalahan memahami Dhamma.

Di sini Sang Buddha menegur Bhikkhu Arittha dengan menyebutnya sebagai "orang sesat" (dalam versi terjemahan DC yang diambil dari Bhikkhu Bodhi):

6. “Orang sesat, dari siapakah engkau mendengar bahwa Aku mengajarkan Dhamma seperti itu? Orang sesat, dalam banyak khotbah bukankah Aku telah menyebutkan bagaimana hal-hal yang merintangi adalah rintangan, dan bagaimana hal-hal itu mampu merintangi seseorang yang menekuninya? Aku telah mengatakan bagaimana kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan, dan banyak keputus-asaan, dan bahwa bahaya di dalamnya bahkan lebih banyak lagi...”

Tampaknya di sini Sang Buddha berkata agak kasar dan berkonotasi tidak menyenangkan walaupun tujuannya untuk menyadarkan sang bhikkhu yang berpandangan salah tsb. Di sini timbul pertanyaan: kenapa kok Buddha bisa berkata demikian kasar dan tidak mengenakkan bagi orang lain? Apakah sutta ini benar-benar mencerminkan sikap Sang Buddha terhadap pandangan salah yang kemudian dicap sebagai "sesat"?

Fyi, definisi kata "sesat" menurut KKBI:

Quote
sesat /se·sat/ a 1 tidak melalui jalan yg benar; salah jalan: malu bertanya -- di jalan; mati --; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dr kebenaran (tt agama dsb): ajaran yg --;-- surut, terlangkah kembali, pb memperbaiki kesalahan yg telah dibuat;

43
Seremonial / Happy birthday Dhammacitta
« on: 27 July 2014, 08:48:55 AM »
Hari ini adalah hari penciptaan forum DC yang memasuki tahun ke-8 (Sejarah DC: http://dhammacitta.org/sejarah/).  <:-P

Terima kasih kepada Tuhan Sumedho dan para senior DC yang telah mengembangkan forum ini. Semoga DC semakin berkembang, semakin rame, dan dapat bermanfaat bagi umat Buddha dan para membernya.

 _/\_

44
Theravada / MOVED: mudra
« on: 11 June 2014, 07:36:51 PM »

45
Dari blog Bhikkhu S. Dhammika tentang sebuah organisasi Buddhis yang menyediakan makanan vegetarian gratis kepada sekitar 900 orang setiap harinya, mengingatkan kita pada kisah Anathapindika sang hartawan pada masa Sang Buddha yang memberi makan orang-orang yang datang ke rumahnya setiap hari:

The Gift Of Food

The other day I went to one of Singapore’s largest and most active Buddhist organizations, the Buddhist Lodge. Founded in 1943 and now consisting of several large buildings, it has an excellent library, lecture halls, shrine and in particular a large dining room and kitchen. Several religions or religious and charitable organizations, for example Sikh temples, provide free food on a regular basis, but the Buddhist Loge really does it on a big scale and has been doing so for many years.

Every day the Lodge provides nutritious vegetarian meals for on average 900 people. It is interesting to see who comes for the food – most seem to be poor Chinese Singaporeans, young and old, but there are temple devotees, foreign workers, and I suspect not a few visa overstayers too. You will see a few well dressed locals as well who have come just for a change, the types who tend to make donations for the food. One of the really nice things about the place is the volunteers who do the preparation and cooking – cheerful elderly women and men, mostly retirees, wanting to be of service to others and to socialize at the same time. They sit peeling vegetables and washing cabbages as they chat, laugh, shout instructions and go about their various tasks.

Both before and after the meal there is a puja at the main shrine, and during my visit the devotees were having a break from a marathon chanting of the Avatamsaka Sutra (Huayan jing). There is a busy stall selling flowers and a very large free book section. I was the at the Buddhist Lodge to use the library, and I was only one of three people there, counting the librarian. In front of the main building and on the perimeter wall of the Lodge are a series of carvings in stone depicting scenes from Chinese legend and from the life of the Buddha. If you are even in Singapore drop in to the Buddhist Lodge for a free meal and to see something of traditional Chinese Buddhism. It’s on Kim Yam Rd just off River Valley Rd.

http://sdhammika.blogspot.com/2014/05/the-gift-of-food.html

Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9