//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - D1C1

Pages: 1 2 3 4 5 6 [7] 8 9
91
Theravada / Alat kecantikan
« on: 05 December 2017, 11:25:44 AM »
Halo temen2 se-Dhamma,

Saya mau tanya pertanyaan singkat aja nich, kalo kita menjual alat2 kecantikan seperti bedak, pembersih wajah, perawatan kulit, pembersih komedo, dll, apakah karma buruk ya? Terima kasih.

92
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 01 December 2017, 07:42:26 PM »
(a) Bakteri adalah makhluk hidup karena memiliki kesadaran, bisa dibilang mereka dikelompokkan sebagai "hewan". Namun, bakteri adalah bakteri. Mungkin lebih tepatnya, sepupu hewan :)) Bakteri tidak akan bisa dilihat dengan mata telanjang. Bakteri adalah makhluk hidup yang paling banyak jumlahnya.

(b) Haha, pindah ke judul "Tujuan Sang Buddha menetapkan masa vassa". Tidak apa-apa, saya jawab.
Agak sulit dijelaskan di negara yang hanya memiliki 2 musim. Di negara yang memiliki 4 musim, musim dingin bisa saja turun salju, untuk beberapa tempat bisa menggunung saljunya. (Salju kalau kena kepala, dingin banget/akit.)

Intinya: bhikkhu hutan (nanti bahas bhikkhu di Vihara) biasanya menetap di hutan (ruang terbuka), pada masa musim hujan, buah-buahan tidak akan tumbuh-baik, di hutan dan pastinya tempat pertapaan jadi becek, berlumpur, syukur-syukur ada gua (goa). akan tetapi, semua hewan juga pada musim hujan juga kewalahan (tidak ada payung), mereka juga pastinya akan kelaparan, akhirnya saling memangsa. Mereka juga pastinya kalau ada gua, akan berlindung ke sana walaupun bisa saja ada hewan buas yang menetap di sana. Nah, di sini kalau mereka lapar, bukankah bhikkhu akan dalam masalah? Karena kalau sudah lapar, ya, apalagi hewan, tukang mangsa.

Jadi, secara umum, bhikkhu hutan (petapa), mencari tempat-sementara di luar hutan, yaitu mencari tempat-sementara di tengah-tengah masyarakat, selama musim hujan atau yang dikenal sebagai masa vassa (retret musim hujan). Untuk sementara, bhikkhu tidak tinggal di hutan walaupun ada bhikkhu yang tetap menetap di hutan, itu tadi saya kataan, jika ada gua, bhikkhu akan melewatkan masa vassa tetap di hutan. tidak semua hutan memiliki gua. Apalagi jika gua itu malah ditempati orang lain, syukur-syukur ia mau berbagi tempat.

Ini berlaku untuk semua petapa. Walaupun jika dilihat ini seperti masa sulit, akan tetapi jika bhikkhu mulia tersebut menetap selama musim hujan di tengah-tengah masyarakat maka ini dapat diartikan "masa berkah", berkah untuk menanam jasa bagi umat/siapa pun.

Nah, untuk bhikkhu di Vihara, otomatis tetap menetap di Vihara atau bhikkhu hutan menetap di sini (Vihara).

Inilah poin utama masa vassa dalam Ajaran Buddha. Ketika masa vassa, bhikkhu-bhikkhu sudah pasti berkumpul, minimal di Vihara masing-masing (sayang sekali di Indonesia belum ada bhikkhu hutan). Selesai vassa, saat itulah diadakan "Pavarana" (kira-kira artinya kegiatan yang dilakaukan di akhir vassa). Di sinilah bhikkhu mulai diskusi dengan "bhikkhu hutan", apa yang dipelajari, ada bhikkhu baru gak? Siapa namanya, berapa jumlah vassa bhikkhu itu, seperti apakah pencapaianmu di Vihara, atau seperti apakah pencpaianmu di hutan, dll.

Kira-kira, mungkin, bisa dibilang "Pavarana" = reuni para bhikkhu. Di sini cukup jelas, tetapi reuni bhikkhu tidak seperti reuni umat awam yang bicara ke sana-sini, reuni para bhikkhu, adalah seperti yang saya jelaskan di atas: "Adakah bhikkhu baru yang kamu tahbiskan, apa pencpaianmu di hutan/Vihara, blabla."

(c) Apakah lantas berarti kita juga perlu mengurangi terbunuhnya bakteri2, misalkan, dengan cara mengurangi frekuensi mandi?

Oleh karena itulah, dikatakan kehidupan duniawi adalah berdebu, kehidupan suci adalah jaminan terbaik. Umat awam tidak akan sanggup dengan mengatakan, "Saya akan waspada untuk menghindari agar "bakteri tidak mati." Umat awam secara umum, tidak akan sanggup. Mengapa? Karena, jika umat awam berjalan saja tangan bergerak-gerak, kepala lihat sana sisi (cewek cantik lewat, uda kacau pikirannya), duduk kaki bersilang, duduk bersandar, duduk silang (pergelanagan) kaki, mandi airnya banyak, cuci piring airnya banyak, makanan belum masuk mulut, mulut sudah buka, baru masuk mulut sudah ditelan, tidur bergelatak, dll.
Inilah umat awam, hal yang biasa. Ini namanya tidak menjaga indria, itulah umat awam.

Lain halnya dengan bhikkhu, bhikkhu berjalan pelan, tangan tidak melayang-layang, makan 32 gigitan sebelah kiri, 32 gigitan sebelah kanan, (kadang 32 lagi, baru telan). Cuci mangkuk, airnya kira-kira setengah gelas saja, cuci sekaligus tangan, selesai. Duduk tidak meyilang kaki, duduk tidak bersandar, tidur seperti singa, dll. Ini namanya menjaga indria. Karena menjaga indria, otomatis penuh waspada, karena penuh waspada, makhluk -makhluk yang kecil seperti bakteri, akan "lebih" aman.

Pada musim hujan, otomatis sering hujan. Para bhikkhu lebih diam di rumah (tempat) karena hujan tak menentu. Umat awam bisa saja naik motor, becak, lari-lari, naik mobil, bawa payung, akan tetapi bhikkhu tidak diizinkan naik kendaraan (pun gak ada duit), kecuali memang harus, misalnya diundang ke luar negri, otomatis harus naik pesawat. Bhikkhu tidak punya motor pribadi, tidak ada bhikkhu yang lari-lari, kecuali dikejar najing. Bhikkhu boleh menggunakan payung, jika dikasih umat, tetapi hanya sementara.

Jika hari tidak hujan, kemudian bhikkhu sedang berada di tengah jalan, tiba-tiba hujan, kan kasihan jika hujan gak berhenti-henti, syukur-syukur ada orang yang baik untuk kasih tempat teduh.

* Jika bakteri terbunuh, itu pasti tidak sengaja. Pikiran harus tetap dipertahankan untuk menghindari pembunuhan. Pikiranlah yang menjadi tonggak atas segala sesuatu, perbuatan buruk, pikiran belum tentu buruk, ucapan buruk, belum tentu pikiran buruk, tetapi jika pikiran buruk, pasti ucapan buruk, pasti perbuatan buruk.

Terima kasih Gwi Cool atas tanggapannya. Jika bakteri tergolong makhluk hidup tentu dengan mengurangi frekuensi mandi adalah perbuatan baik. Saya jadi dilema karna saya pernah tanya bhante katanya mandi aja spt biasa 2 kali sehari,  berarti Bhante tidak mempermasalahkan terbunuhnya bakterI, apa betul begitu?

93
Theravada / Re: Vegetarian atau tidak
« on: 01 December 2017, 05:11:55 PM »
oke...

Apakah mahayanis bervegetarian karena sekedar mengikuti proposal Devadata, ataukah punya alasan yang berbeda?

Maap, saya kurang paham ajaran mahayana. Jadi ini beneran murni nanya.

Setahu saya Bhikkhu Mahayana bervegetarian karena mengikuti saran seorang kaisar yang memerintah pada waktu itu, kaisar liang wu ti. Saya rasa tidak ada kaitannya dengan Devadatta.

94
Theravada / Re: Vegetarian atau tidak
« on: 01 December 2017, 05:10:33 PM »
Karena bagi sang buddha makan hanya untuk melepas rasa lapar dan mendapatkan nutrisi tubuh. Bila saja sang buddha lebih condong ke vegetarian maka bisa saja para umat yang mengikuti ajaran sang buddha akan timbul rasa sombong dan benci mungkin kepada yang tidak vegetarian dan akhirnya misi dan visi ajaran sang buddha tidak bisa terealisasi dengan baik.
Kita harus ingat menyuruh org berhenti makan daging dan pindah ke vegetarian tanpa kemauan nya sendiri. Maka ini sama seperti kita suruh org yang berbeda agama untuk pindah secara paksa ke agama kita.

Tetapi kebanyakan orang makan daging bukan untuk mendapatkan nutrisi tubuh, tapi lebih kepada kesukaannya akan rasa daging. Hal ini berbeda dengan sikap Sang Buddha, Sang Buddha makan apa saja yang diberi termasuk "scrapped meat", bukan memilih saya mau daging ini saya mau daging itu. Ajaran agama Buddha bukan tidak memaksa, tetapi Agama Buddha mengajarkan kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri.

Tanya diri kita sendiri, apa alasan saya makan daging? Jawab dengan jujur. Selanjutnya jalankan pilihan yang kita pilih dan bertanggung jawab atas pilihan kita.

95
Theravada / Re: Vegetarian atau tidak
« on: 01 December 2017, 05:04:07 PM »
Makan daging tidak melanggar sila ke 1. Seperti yang dikatakan sebelumnya makan daging dengan membunuh binatang adalah dua hal yang berbeda. Namun dengan bervegetarian kita bisa mengurangi permintaan daging yang mana secara otomatis mengurangi pembunuhan.

Tentu banyak hewan kecil yang terbunuh dengan seseorang bervegetarian, tetapi jika kita makan daging hal ini juga tidak selesai masalahnya, malah pembunuhan semakin banyak. Hewan yang lebih sentient pun juga terbunuh.

96
Theravada / Vegetarian atau tidak
« on: 29 November 2017, 05:37:38 PM »
Halo temen2,

Mungkin banyak sekali yang bisa didiskusikan mengenai mengadopsi makanan vegetarian. Ada alasan juga mengapa seseorang tidak bervegetarian. Membunuh binatang dengan makan daging adalah dua hal yang berbeda. Namun, kita juga perlu ingat hukum ekonomi yang sederhana tentang penawaran dan permintaan.

Para bhikkhu hidupnya, termasuk makanan, bergantung pada umat. Para bhikkhu tidak memilih, para bhikkhu hanya menerima saja apa yang diberikan. Sebaliknya para umat memiliki kebebasan untuk memilih, lalu mengapa kita tidak memilih pilihan yang lebih baik? Buddha memang tidak pernah menerapkan vegetarian untuk dijalani, namun kita tahu jaman telah berubah, hewan2 yang hidup pada jaman Sang Buddha dengan hewan2 potong yang hidup di peternakan modern sangat jauh sekali kondisi hidupnya. Kebiri, pemotongan paruh ayam, hidup dalam kandang seumur hidup, binatang seumur hidup tidak pernah melihat sinar matahari, penyakit, antibiotik, hormon pertumbuhan, dll. semua adalah hal yang biasa dalam peternakan modern.

Sewaktu kita membeli daging, kita secara tidak langsung meningkatkan permintaan akan daging yang mana secara otomatis meningkatkan jumlah pembunuhan. Dikatakan dalam seumur hidup, seseorang itu memakan sekitar 2000 ekor ayam, katakanlah 1000 ekor ayam, itu tetap nyawa  yang cukup banyak kan?

Jadi menurut teman2 apa alasan kita untuk tidak bervegetarian? Melihat begitu banyak manfaatnya menjadi seorang vegetarian, tidak hanya kita menjadi lebih sehat dengan mengadopsi kehidupan vegetarian yang sehat, tapi kita juga berbuat baik dengan meringankan penderitaan makhluk lain.

97
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 17 November 2017, 09:36:35 PM »
Bagaimana dengan bakteri?

Kita tau pada waktu masa vassa, Sang Buddha tidak memperbolehkan para Bhikkhu untuk keluar/berkelana karena pada musim hujan banyak sekali binatang2 kecil yang keluar, hal ini akan meningkatkan resiko terbunuhnya secara tidak sengaja tanaman2 dan serangga2 kecil.

Apakah lantas berarti kita juga perlu mengurangi terbunuhnya bakteri2, misalkan, dengan cara mengurangi frekuensi mandi?

98
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 15 November 2017, 05:47:59 PM »
good point! memang kesengajaan adalah faktor penting dalam melatih awareness.
sila adalah salah satu latihan awareness juga..

di sini rasanya kita sepakat bahwa masturbasi bukan pembunuhan.
(kalau ada yang tidak sepakat, silakan berikan argumen)

yang perlu dibedakan adalah antara sila umat awam dan sila petapa.
masturbasi tidak diatur untuk perumah tangga, tetapi diatur untuk petapa.

Iya tidak ada sila yang mengatur masturbasi untuk umat awam. Masturbasi bukan termasuk pelanggaran sila ke tiga karena tidak memenuhi syarat pelanggaran sila ke tiga.

Quote
09. Dari: Suryanto, Jakarta
Maaf sebelumnya Bhante kalo pertanyaan saya kurang baik.
Apakah melakukan masturbasi diperbolehkan dalam Agama Buddha atau apakah itu
termasuk melakukan zinah ?
Terima kasih atas perhatiannya.

Jawaban:
Dalam Ajaran Sang Buddha dikenal dengan Lima Latihan Kemoralan atau sering disebut
sebagai 'Pancasila Buddhis'. Isi Pancasila Buddhis ini adalah latihan untuk tidak
melakukan pembunuhan, latihan untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan
secara sah ( mencuri ), latihan untuk tidak melanggar kesusilaan ( berjinah ), latihan
untuk tidak berbohong dan latihan untuk tidak makan serta minum barang-barang yang
dapat memabukkan atau menghilangkan kesadaran.
Perjinahan yang dimaksudkan dalam latihan ketiga di atas mempunyai makna adanya
DUA fihak yang terlibat yaitu si pelaku dan orang lain sebagai obyek perjinahan. Oleh
karena itu, masturbasi yang dilakukan hanya oleh SATU fihak yaitu diri sendiri bukanlah
termasuk pelanggaran sila ketiga atau perjinahan. Meskipun demikian, seorang umat
Buddha hendaknya selalu berusaha menghindari kebiasaan masturbasi karena tindakan
tersebut dianggap dapat meningkatkan sifat tamak akan kenikmatan badani yang dapat
memperpanjang proses kelahiran kembali.
Semoga penjelasan ini dapat dijadikan pedoman pengendalian diri untuk mengatasi
dorongan nafsu seksual yang mengarah pada tindakan masturbasi.
Semoga selalu bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo

(https://samaggi-phala.or.id/download/tanya%20jawab%20dhamma%2010.pdf)

99
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 15 November 2017, 05:45:56 PM »
"gandhabba" hidup arti yang benar adalah matang = sehat. Tidak ada gandhabba hidup, yang ada matang atau tidak matang, yang ada sehat dan tidak sehat. Seperti halnya ketika kita menghidupkan tv, lampu, kipas, apakah tv, lampu, kipas adalah makhluk hidup? Hanya karena dikatakan "hidup"? Tidak, itu maknanya "menyala". Demikian pula gandhabba hidup artinya matang.

tv + hidup = menyala (bukan makhluk hidup)
lampu + hidup = menyala (bukan makhluk hidup)
kipas + hidup = menyala (bukan makhluk hidup)

gandhabba dikatakan hidup artinya matang (bukan makhluk hidup).

Air bergerak karena arus, demikianlah "gandhabba" bergerak karena ada arus di tempat perempuan. Gandhabba tidaklah hidup, gandhabba hanya seperti vitamin untuk rahim kemudian rahim membentuk 4 unsur dengan bantuan gandhabba seperti kabel menyalurkan listrik dan tv menjadi hidup, demikianlah gandhabba menjadikan rahim membentuk jasmani dalam waktu sekitar 9 bulan. Akan tetapi, sekitar seminggu atau lebih kurang, ketika 4 unsur menyatukan (walaupun belum sempurna), di situlah batin (Pali = nama) muncul. Ia pun menjadi hidup karena munculnya batin, ini disebut proses kelahiran kembali, yang terlahir dari rahim. Ketika ia mendapat batin, saat itulah gandhabba dan rahim disebut telah menghasilkan suatu kehidupan, tetapi gandhabba dan rahim bukan hidup.

Terima kasih ya atas tanggapannya yang detil.
Bisakah kita menyamakan sperma seperti tanaman? Tanaman kan "hidup" ya tapi bukan "makhluk hidup". Dia bisa tumbuh tapi tidak ada nyawa, tidak ada kesadaran. Bagaimanakah sesuatu itu bisa disebut makhluk hidup apakah kalau bisa bereproduksi dan punya kesadaran ya?

100
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 14 November 2017, 05:28:23 PM »
itu bukan makhluk hidup, tetapi jika "ditanam" akan menjadi makhluk hidup. Seperti benih tidak akan menjadi pohon klo tidak ditanam.


Kalo bukan makhluk hidup kenapa bisa bergerak?

101
Theravada / Tujuan masa vassa
« on: 12 November 2017, 12:24:12 PM »
Alo temen2,

Sebenarnya apakah tujuan diadakan masa vassa oleh Sang Buddha. Benarkah untuk menghindari pembunuhan binatang2 kecil yg keluar di waktu musim hujan atau ada tujuan lain? Terima kasih

102
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 10 November 2017, 12:06:47 PM »
itu bukan makhluk hidup, tetapi jika "ditanam" akan menjadi makhluk hidup. Seperti benih tidak akan menjadi pohon klo tidak ditanam.

Dalam kasus bhikkhu (sedikit meyinggung), para bhikkhu tidak "mengeluarkannya" karena meditasi (terutama persiapan meditasi penyerapan) benar-benar menguras energi jasmani (terutama bagi pemula), dalam arti jika tubuh lemah akibat "keluar", meditasi akan mengalami kendala. Biasanya klo "keluar" akan butuh 2 hingga 3 hari untuk kembali bugar (atau mungkin seminggu).

Jadi bukan termasuk membunuh ya? Terima kasih.

103
Theravada / Re: Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 10 November 2017, 12:05:28 PM »
pertanyaan yang menarik...

saya jawab pertanyaan ini dengan pertanyaan lain.

1. sperma yang tidak keluar melalui onani, pada akhirnya akan keluar juga melalui mimpi basah ketika kantung sperma sudah penuh.
apakah mimpi basah termasuk melanggar sila pertama?

2. bagaimana dengan ovum (sel telur) yang tidak dibuahi kemudian dikeluarkan melalui menstruasi?
apakah menstruasi termasuk melanggar sila pertama?

Tapi kan mimpi basah atau menstruasi bukan perbuatan sengaja seperti masturbasi.

104
Theravada / Apakah masturbasi sama dengan membunuh?
« on: 09 November 2017, 11:24:17 PM »
Halo temen2,

Maaf nich ada pertanyaan sedikit mengenai perihal masturbasi. Menurut temen2 apakah masturbasi termasuk melanggar sila pertama, mengingat sperma itu mati begitu lama di luar tubuh kita. Terima kasih.

105
Theravada / Makan daging di restoran
« on: 28 October 2017, 01:02:47 AM »
Halo temen2,

Mau nanya nich, daging kan tidak boleh dimakan apabila seseorang itu melihat, mendengar dan mencurigai hewan itu secara khusus dipotong untuk dia.

Pertanyaannya, kalo kita makan daging di restoran apakah ini termasuk? Kan pemilik restoran juga membeli daging/memesan binatang secara khusus untuk para tamu restoran. Apakah dalam hal ini berarti kita tidak bisa makan daging di restoran?

Bagaimana dengan pesta pernikahan saudara, saudara saya mungkin akan pesen kambing guling dll. Tentu kambing ini sudah pasti dipesan ditujukan untuk para tamu undangan, sebagai salah satu tamunya apakah saya masih diperbolehkan untuk memakan daging tersebut? Terima kasih.

Pages: 1 2 3 4 5 6 [7] 8 9