Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - ming_l16ht

Pages: 1 2 3 4 5 [6] 7 8
77
DhammaCitta App / Re: DhammaCitta on LINE
« on: 03 August 2013, 08:55:52 AM »
 _/\_
Hai semua... ID saya ming_l16ht

78
Keluarga & Teman / Re: Ketika Hubungan Cinta Ditentang Orangtua
« on: 03 August 2013, 08:39:51 AM »
pakai kaki

Gak pakai transportasi yang modern dan tercepat aja om...  ;D

79
Humor / Re: ketawa akhir pekan
« on: 02 August 2013, 06:17:28 PM »
Pembuatan gigi palsu sudah ada sejak tahung 1939, di Bombay, India. bermacam-macam bentuk dan modelnya  ;D ;D ;D

Spoiler: ShowHide


80
Perkenalan / Re: DHAMMACITTA hadir di blackberry ....!!!
« on: 02 August 2013, 06:04:19 PM »
 _/\_

Ada ID line yang harus saya add gak ya... pingin join di groupnya DhammaCitta via Line. PM ya...
makasih...

 _/\_

81
Pojok Seni / Re: Sudut Fotografi
« on: 02 August 2013, 05:43:39 PM »
 _/\_


82
Humor / Re: Behind The Scene of National Geographics
« on: 02 August 2013, 05:22:58 PM »


Happy Long Holiday guys ...

wkwkwkwkwk......wkwkwkwkwkwk...... totalitas... lari super kencang...  :)) :)) :)) :)) :))

83
Pojok Seni / Lensa (Lens)
« on: 02 August 2013, 11:49:09 AM »
Wide Lens (Lensa Lebar) Jenis lensa yang memiliki suduh pandang mulai sekitar 60º hingga 65º dan dalam kelompok ini terdapat lensa super lebar (super wide) dengan sudut pandang sekitar 75º - 85º, lensa ultra lebar (ultra wide) dengan sudut pandang sekitar 90º - 120º, dan lensa mata ikan (fisheye lens) dengan sudut pandang 180º atau lebih.


Tele Lens (Lensa Tele) Jenis lensa sudut pandang sempit dan dirancang untuk memotret obyek-obyek yang berjarak jauh dari kamera, seperti binatang buas, burung terbang, gunung merapi, dan sebagainya. Dayanya seperti sebuah teropong. Beberapa model lensa tela mempunyai sudut padang kurang dari 10º. Makin kecil sudut pandangnya maka makin panjanglah titik fokusnya. Lensa-lensa tele ini mempunyai ruang tajam yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan lensa-lensa standard. Secara umum, lensa tele terbagi kedalam beberapa kategori: tele pendek (mempunyai sudut pandang 280-230), tele sedang (dengan sudut pandang 180-120), tele panjang (dengan sudut 100-600), dan tele superpanjang (dengan sudut 30 lebih).


Fix Lens (Prime Lens)Lensa yang mempunyai panjang fokus (titik api) tunggal sehingga sudut pandangnya tetap. Misalnya, lensa 28 mm, lensa 35mm, lensa 50mm, lensa 100mm, lensa 105mm, lensa 135 mm, lensa 200mm, lensa 210mm, dan seterusnya.

84
Keluarga & Teman / Re: Kapan Saatnya Melepaskan Sebuah Hubungan?
« on: 02 August 2013, 11:33:04 AM »
 _/\_ Namo Buddhaya

Dari prihal yang ada diatas bisa dikatakan benar semua.
Saya cuma bisa bantu kasih saran saja sih... ada beberapa hal yang perlu kita jadi pertimbangan untuk perubahan dalam diri kita, agar suatu hubungan bisa berjalan dengan lancar.

1. Buang EGO/ke-AKU-an
2. Rubah POLA PIKIR
3. Saling PENGERTIAN

Dengan melakukan seperti itu maka kita sudah pasti dalam suatu menjalin hubungan pasti akan langgeng. mungkin klo pertengkaran-pertengkaran kecil itu wajar. nama nya klo dalam hidup berpasangan pasti akan ada bumbu pertengkaran, tidak usah dengan pacar, dengan keluarga pun seperti orang tua/adik/saudara pasti akan mendapatkan pertengkaran kecil. Asal itu tadi... lakukan perubahan dalam diri kita dari ketiga di atas.

mungkin itu yang bisa saya berikan, mungkin ada yang lebih pengalaman lagi... silakan...  :)

 _/\_ Terima kasih

85
Pengalaman Pribadi / Re: Perjalanan menjadi seorang Buddhist
« on: 02 August 2013, 10:07:05 AM »
 _/\_ Namo Buddhaya

Perjalanannya saya untuk mengenal Buddha sangatlah panjang sekali, awalnya saya mulai dari SD-SMP saya bersekolah di sebuah sekolah yayasan kat***k. saya mulai mengenal ajaran Buddha, mulai SD dimana saya pernah dijanjikan oleh pihak sekolah kat***k tempat saya belajar menjanjikan akan dibaptis untuk menjadi seorang kat***k. tapi pada kenyataan tidak ada pemberitahuan atau apapun. akhirnya saya mulai masuk kedalam Buddhis mulai dari SMP mungkin bisa dibilang krn merasa di bohongi. awal pertama kali saya mempelajari agama Buddha, saya masuk kedalam aliran Maitreya dan dilakukan ciu ciam (Sorry klo salah). akhirnya saya mulai berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yg ada dlm vihara. disela-sela saya menjadi umat Maitreya saya juga sempat mempelajari agama lain juga (I*s**m)

Tapi lama kelamaan diliat kok, pengajaran nya agak extreme... ya. sekitar 1 thn bertahan, akhirnya memutuskan diri untuk pindah ke klenteng. Selama di klenteng saya merasa nyaman, dan akhirnya bergabung dengan muda mudi nya yang kegiatannya dilakukan setiap hari minggu. belajar bersama mendalami mengenal tentang Buddha. sampai diberikan kepercayaan untuk memimpin Nien Ching. Anak2 Remaja dan Dewasa

Setelah mulai beranjak SMA, saya masuk ke dalam SMA swasta dimana saat pelajaran agama berbeda-beda. saya memilih untuk pelajaran agama Buddha. Tetapi pada saat merasakan di SMA ada yang aneh dalam setiap pelajaran agama, dimana si guru yang mengajarkan agama Buddha, memaksakan seorang murid nya untuk hadir setiap minggu di Vihara. apabila si murid tidak hadir, maka akan dimarahi oleh si guru. Dengan ada penekanan seperti itu akhirnya saya memutuskan untuk pindah mata pelajaran. Saya kembali mengambil mata pelajaran agama kat***k, yang saya rasakan disini nyaman damai tentram. sampai akhirnya saya mengambil les agama (katekisasi), untuk di baptis menjadi umat kat***k. tapi saya juga tidak meninggalkan ajaran agama Buddha. krn saya msh sering membaca buku2 tentang Buddhis, yg dimana saya mengambil untuk jalan hidup saya. karena saya pernah mendapatkan kata-kata dalam buku seperti ini... "Apapun ajaran yang Anda anuti/yakini, Anda mengerti akan inti dari ajaran agama tersebut. siapapun bisa mencapai ke-Buddha-an."

Dari situlah akhirnya saya mulai coba mencari lagi, apa yg dimaksud dengan Buddha. setelah lulus dari SMA mulai masuk bangku kuliah, dan saya msh berstatus agama kat***k dan msh berada di kat***k. tapi saya juga masih mempelajari agama Buddha, sampai terkadang ada peresmian vihara pun saya masih masuk dalam kegiatannya. Seiring berjalannya waktu saya sempat pindah Negara lain. Di negara lain pun sy msh mempelajari agama Buddha dgn menyandang status agama kat***k. setelah pulang ke Indonesia, akhirnya mengambil keputusan untuk lebih mendalami ajaran Sang Buddha. berawal dari Tantrayana, disana saya mendapatkan pelajaran lebih dalam lagi mengenal tentang Buddha. Dan turut serta masuk dalam kegiatan-kegiatan yg dilakukan oleh muda mudi nya.

Disamping itu tidak hanya mengikuti kegiatan Tantra saja, tapi kadang di ajak sama teman-teman ke Theravada dan juga belajar disana, dan banyak berkenalan dengan pembimbing spt pak wowor, bhante Uttamo, serta msh banyak lagi. akhirnya coba untuk mendekatkan diri kepada mereka untuk minta bimbingan tentang ajaran Buddha, akhirnya dari sanalah saya merasa bahwa ajaran Sang Buddha membuat saya menjadi lebih dewasa, dengan terbukanya pikiran-pikiran yg dulu masih sempit. dan sejak itu mendatangi guru Agama Buddha saya di sekolah, dan saya berterimakasih atas tujuan dia memarahi krn tidak pergi ke vihara.

mungkin itu yang bisa saya bagikan dari pengalaman dan perjalanan saya, menjadi seorang Buddhist. Sebetulnya panjang banget.... jadi saya persingkat cerita nya saja  :) . takut nnt gak selesai-selesai klo membaca....  :)

 _/\_ Namo Buddhaya

86
Pojok Seni / Exposure Triangle
« on: 02 August 2013, 07:55:17 AM »
Exposure Triangle (Segitiga exposure) termasuk penyesuaian ISO, Aperture dan Shutter pengaturan kecepatan sehingga fotografer dapat menggunakan kontrol secara manual pada komposisi dan mengabadikan sebuah gambar.
 
Exposure adalah istilah yang digunakan dalam fotografi untuk mengukur jumlah cahaya yang melewati lensa dan direkam oleh fotosensitif di dalam kamera Anda. Ini bisa berupa rol film atau dalam kasus kamera digital, sensor digital. Sekarang, jumlah cahaya perlu dikontrol. Jika tidak, Anda akan mendapatkan foto yang terlalu terang (over-exposure) atau terlalu gelap (under-exposure) foto. Aperture mengontrol aliran cahaya yang masuk ke kamera. Kecepatan rana mengontrol jumlah waktu dimana cahaya yang diperbolehkan untuk tinggal di bahan fotosensitif/sensor. Kemampuan untuk menyerap cahaya dengan sensor dikendalikan oleh ISO.
 
Kamera digital modern adalah sebuah peralatan yang sangat menakjubkan. Dalam body kamera terdapat built-in metering/sistem metering. Metering yang terdapat di body kamera dapat mengukur jumlah cahaya yang diterima yang datang dari cahaya luar/subjek dan dapat menentukan exposure yang tepat berdasarkan pengukuran itu. Tergantung pada jumlah cahaya, juga dapat menampilkan exposure yang terdapat metering exposure pada kamera. Exposure meter dalam layar bidik kamera (view finder) menampilkan/ditulis dengan angka "nol" pada panel/view finder. Angka "Nol" berarti menujukan exposur yang tepat. Di bawah angka "nol" atau "minus" berarti yang terjadi adalah underexposure dan di atas angka "nol" atau "plus" berarti yang terjadi adalah overexposure
 
Sekarang sistem metering kamera Anda telah menentukan exposure yang tepat untuk Anda. Dalam mode "Auto" kamera mencoba untuk menjaga indikator pada tingkat "nol" dengan menyesuaikan Aperture, kecepatan rana (shutter speed) dan ISO. Sayangnya, dengan mode otomatis, Anda tidak akan dapat mengontrol pengaturan yang diperlukan seperti aperture, shutter speed, dan ISO. Untuk dapat mengendalikan Anda akan perlu sebuah kamera yang memiliki setting manual. Untungnya kamera digital yang beredar dipasaran banyak pilihan. Jika Anda beralih ke mode "Manual", berdasarkan pada saat Anda menentukan Shutter, Aperture & ISO, indikator kamera exposure metering kamera Anda akan menunjukkan exposure pada saat itu. Ini bisa berada di "minus" ( - ), di "plus" ( + ), atau angka "Nol" (di tengah). Dalam rangka untuk mendapatkan eksposur yang tepat, Anda akan perlu hati-hati menyeimbangkan aperture, shutter speed dan ISO dan membawa indikator untuk "Nol". Kecuali Anda sengaja ingin menentukan over atau under pada sebuah subjek.
 
Mari kita pahami secara rinci lebih dalam penggunaan kamera pada Aperture, ISO dan shutter speed, apa dan bagaimana dari ketiga itu mempengaruhi hasil foto Anda. Sebuah keuntungan besar dari memahami aspek kunci dari sebuah exposure dan dapat membantu Anda untuk keluar dari modus "Auto" dan memiliki kontrol lebih besar atas komposisi pada hasil foto Anda.
 
APERTURE
Ini mengontrol cahaya dengan menyesuaikan diameter pembukaan lensa dimana sumber cahaya melewati sebuah lensa dan mencapai sensor. Aperture dilambangkan dengan f stop. F dibagi dengan nomor. Semakin besar angka yang terdapat pada layar maka semakin kecil bukaan pada sebuah lensa dan sebaliknya. Ya, ini agak membingungkan, tapi mudah-mudahan Anda akan mendapatkan menguasainya. Lebih kecil bukaan (aperture) pada lensa maka subjek akan lebih fokus dan gambar yang dihasilkan dalam fokus akan tajam secara keseluruhan. Sebaliknya semakin besar bukaan (aperture) maka hasil akan fokus pada subjek yang kita fokus dan daerah subjek/background yang berada diluar fokus akan menjadi tidak tampak/kabur. Keduanya memiliki keuntungan. Aperture yang lebih kecil diperlukan bila Anda memotret foto grup atau lanskap ketika Anda membutuhkan seluruh frame berada dalam fokus. Bukaan besar yang diperlukan untuk menembak close-up dan terutama ketika Anda perlu untuk mengaburkan latar belakang (background), seperti pada saat pengambilan gambar bunga atau mengabadikan burung yang bertengger di pohon.
 
SHUTTER SPEED
Ini mengontrol berapa lama cahaya yang diperbolehkan untuk masuk kedalam sensor meskipun aperture sudah kita setting. Lamanya waktu akan lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam sensor & sebaliknya. Hal ini sangat penting dan sering digunakan dalam hubungan yang terbalik dengan bukaan (aperture). Besarnya bukaan (aperture) maka lebih cepat kecepatan rana (shutter speed) yang diperlukan dan sebaliknya. Kecepatan rana (shutter speed) yang lebih cepat diperlukan bila Anda ingin membekukan subjek, seperti meng-caputre seorang surfer yang menunggang papan selancarnya atau mungkin ketika Anda ingin mengabadikan momen ketika putra berusia 9 tahun Anda yang sedang bermain lari-lari dirumah. Kecepatan rana lebih lambat benar-benar digunakan untuk hasil yang lebih dramatis seperti ketika Anda butuhkan untuk menciptakan efek halus pada air seperti sutra saat pengambilan gambar air terjun.
 
ISO
Pada waktu kamera film, kebanyakan orang membeli sebuah negative film dengan kecepatan yang bervariasi. Semakin cepat film yang mereka beli, maka akan lebih peka cahaya yang diterima dan sebaliknya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui perbedaan jika tidak maka gambar akan mendapatkan lebih atau kurang terang. Kamera digital saat ini menggunakan sensor di tempat film tetapi mereka berfungsi lebih atau kurang dengan cara yang sama. Jadi saat pengambilan gambar dalam kondisi cahaya rendah, Anda memerlukan ISO yang lebih tinggi dan sebaliknya. Untungnya Anda dapat mengubah bahwa dari dalam kamera sesuai kondisi. Namun ada satu hal yang penting untuk dicatat tentang ISO. Semakin tinggi setting ISO yang lebih adalah muncul noise pada gambar. Jadi saat memotret dalam kondisi indoor atau gelap cobalah memilih ISO optimal dan dilengkapi dengan lampu kilat (flash) untuk mengisi daerah/ruang yang gelap.

87
Keluarga & Teman / Re: Ketika Hubungan Cinta Ditentang Orangtua
« on: 02 August 2013, 07:52:18 AM »
kawin lari :))

lari nya pakai apa dulu om...?  :)) :)) :))

88
Pojok Seni / Re: Sudut Fotografi
« on: 01 August 2013, 05:15:15 PM »
 _/\_ Namo Buddhaya

ijin masang lagi ya...



KEK LOK SI TEMPLE - PENANG

89
Pojok Seni / Re: Sudut Fotografi
« on: 01 August 2013, 05:13:29 PM »
 _/\_ permisi... mau ijin ikutan juga nih...


90
Buddhisme untuk Pemula / Re: Buddha adalah seorang dukun
« on: 01 August 2013, 05:03:42 PM »
menurut kakao yang dukun adalah mas tidar, liat avatarnya, aang,..doi bisa mengendalikan angin, air, api, tanah ,dialah dukun aang sejati :)) :)) :))

wkwkwkwkwkwkwkwkw.......... :)) :)) :)) :)) :)) :))

Pages: 1 2 3 4 5 [6] 7 8