Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - williamhalim

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 192
1
si Kwik bicara panjang lebar untuk menutupi esensinya, yg sebenarnya gampang saja:

"siapa yg memakai bensin paling banyak?"

dari sini bisa diurut:

- yg pakai bensin paling banyak adalah orang yg MAMPU membeli kendaraan
- jadi negara mensubsidi 200trilyun setahun untuk orang2 yg mampu beli kendaraan, padahal yg pantas dibantu adalah kalangan miskin, yg jangankan beli kendaraan, untuk makan sehari2 pun belum pasti
- seyogyanya 200 trilyun itu dipergunakan untuk menambah fasilitas2 umum (menambah jalan, menambah armada bus, meningkatkan kenyamanan bus, dll)
- seberapa besar 200 trilyun itu? Ilustrasinya kira2 sbb:
200 trilyun bisa membuat:
~ 33 juta kilometer jalan (asumsi lebar 6m, harga 1 juta per m2 <-- sudah anggaran boros amat). 33 juta km? Sebagai bayangan: panjang Indonesia dari Sabang - Merauke adalah 5000 km saja
atau
~ 20.000 buah sekolah seharga  [at]  10 milyar
atau
~ 2.000 buah Rumah Sakit seharga  [at]  100 milyar
atau
~ 200.000 buah bus seharga  [at]  1 milyar
atau
variasi dari hal2 diatas: sebagian untuk menambah ribuan km jalan + sekolah dan rumah sakit bbrp buah ditiap propinsi + ratusan armada bus ditiap propinsi yg jalanannya telah ditambah

* DAN SEMUANYA DI GRATISKAN untuk masyarakat.. DANA 200 trilyun cukup!
* DAN TAHUN DEPAN TERSEDIA LAGI 200 TRILYUN itu

----

Kenapa pemerintah tidak mau melakukan hal diatas?
Sebagian manusia2 pintar di pemerintahan tau ini, tapi ada yg menutup mata karena **** dan ada yg vokal, tapi dihabisi karirnya.
Siapa yg mengendalikan sehingga bisa begini? Industri Otomotif (Selain industri minyak yg menguasai kebijakan dunia, dan beberapa industri kuat lainnya)

Buktinya?
Lihat saja bagaimana lolosnya program 'mobil murah'. Saat mobnas anak negri rencana diluncurkan 90jtan, buru2 otomotif mendahului dgn mobil murah mereka (kenapa ga dari dulu dikeluarin?) dan setelah merk2 besar menjual 90jt an bagaimana lagi mobnas karya anak negri akan bersaing dan berhasil mencuat? Mobnas akan mati krn trik mobil murah. Siapa yg meloloskan? Lihat partai yg getol membela dgn alasan2 yg konyol. Alasan globalisasi dan persaingan. Kalau ini alasannya harusnya mobnas yg dibantu, bukan mobil murah. Lagian cek saja sendiri berapa persen kandungan lokal mobil murah ini, malah akan menambah beban impor (duit melayang keluar negri).

Partai Banteng? Partai ini juga nggak konsisten. Jika mendukung mobil karya anak negri, harusnya mereka juga mendukung penghapusan subsidi  BBM. Krn subsidi BBM hanyalah topeng atas nama rakyat kecil, namun sesungguhnya lebih dinikmati kaum bermobil, dan ujung2nya yg untung industri otomotif juga..

::


2
Vegetarian / Re: Paham vegetarian sesuai dengan asas Budhist
« on: 24 September 2013, 04:22:16 PM »
Tergantung perasaan kamu terhadap si kambing, apakah menganggapnya sebagai makanan, atau sebagai makhluk hidup yang kamu cintai, karena saya tidak tega kalau hewan piaraan saya sudah mati, terus saya masak sebagai makanan....  :)

Terima kasih pendapatnya semua saya jadikan masukan, dan saya tidak menjudge tidak vege itu orang yang buruk ya, hanya ingin kita semua lebih peduli saja.  _/\_

sama, kita juga peduli dengana sesama makhluk hidup dan bumi ini..
praktiknya:
1. apa yg tersedia di meja makan, saya makan tanpa protes (baik daging maupun sayuran)
2. tidak berlebihan mengambil makanan
3. apa yg sudah diambil, ya dihabisin, jangan dibuang2
4. tidak menjadikan kegiatan makan sebagai pemuas nafsu/hal yg utama

imo, ini cara untuk praktik yg baik.. krn menurut pikiran saya untuk latihan disiplin buddhisme: jauh lebih sulit untuk tidak memilih2 makanan ketimbang menjadi vegetarian

trims

::

3
Vegetarian / Re: Paham vegetarian sesuai dengan asas Budhist
« on: 24 September 2013, 04:18:17 PM »

Berarti boleh tidak saya makan daging hewan yang saya sudah melihat langsung proses pembunuhannya meski bukan saya yang khusus menyuruhnya?

kalau mau menilik sutta, sah2 aja, toh tidak melanggar.. ayam ketabrak mobil, mati. Lalu penduduk menggoreng ayam tsb dan mempersilahkan kita jika ingin makan... kalau mau makan, ya makan, kalau nggak ya nggak..

btw, balik ke diri sendiri aj.. nggak terlalu ribet sih..

::

4
Vegetarian / Re: Paham vegetarian sesuai dengan asas Budhist
« on: 23 September 2013, 05:09:53 PM »

Btw saya ingin tanya pendapat bro william karena belum ada yang menjawab pertanyaan saya dari kemarin,

Di kalimat diatas, manakah yang ditekankan, daging seharusnya tidak dimakan (oleh siapapun yang mencurigai daging itu disembelih), atau kata-kata yang di dalam kurung [bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya], jadi hanya orang bersangkutan yang tidak boleh makan, tapi boleh dilimpahkan ke orang lain?

dan kira-kira tujuannya apa?

*Yang lain juga boleh memberikan pendapatnya.

Arti kalimat itu cukup jelas untuk dipahami, yakni: kita dapat menyantap makanan dari daging yg dijual di pasar, tapi janganlah khusus membunuh binatang yg masih hidup untuk dimakan

Tujuannya sebisa mungkin menghindari membunuh makhluk hidup

::

5
Vegetarian / Re: Paham vegetarian sesuai dengan asas Budhist
« on: 23 September 2013, 02:48:39 PM »

Sisi lain, posting lah yang lebih bermanfaat yang tidak hanya mengundang debat kusir saja. Contoh agar tidak monoton ? banyak hal yang bisa dilakukan, saya kasih contoh,
1. salah satunya, bisa post resep vegetarian bukan ? perbanyak saja resep vegetarian yang ada

..cut..

Mengikuti anjuran Bro Forte, ini ada resep vegetarian yg cukup menghibur.. Resep ini benar2 bisa digunakan, jangan dilihat penampilannya, tampang ngeri, tapi diluar riasan itu ia sama seperti kita.. Toh tidak semua vege itu mengerikan

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=_1ei3O7y2eg[/youtube]

masih ada belasan resep2 vege lainnya mulai dari episode 1: Pad Thai, hingga episode2 lainnya: indian food, mexican  taco, dll



::


6
Vegetarian / Re: Paham vegetarian sesuai dengan asas Budhist
« on: 23 September 2013, 02:32:59 PM »
1. di komputer saya terlihat topic awal ini susunan kalimatnya memanjang kebawah. Jadinya panjang sekali dan menghabiskan halaman. Apakah TS tidak berusaha merapikan dulu copasannya?

2. tanggapan saya atas hal daging-vege ini:
~ kenapa Sang Buddha sampai membuat dua pernyataan yg berbeda. Pertama2 menjelaskan daging mana saja yg tidak boleh dimakan, artinya selain itu daging BOLEH dimakan. Tapi disisi lain menjelaskan bahwa daging TIDAK BOLEH dimakan. Bagaimana seorang yg telah tercerahkan sempurna sampai abal2 begini ngomongnya? Tidakkah hal ini terasa aneh oleh kita? Jika meyakini Sang Buddha telah tercerahkan sempurna, maka logikanya, salah satu sutta itu adalah palsu. Yang mana yg palsu? tentu saja Sutta yg munculnya belakangan, sutta yg tidak ada di mahzab2 lainnya. Silahkan cek sendiri Sutra mana itu.

3. Sangat banyak sutta2 awal yg menjelaskan Sang Buddha tidak melarang makan daging:
- Bahwa mencuri, membunuh, menipu, dll lah yg membuat seseorang menjadi ternoda, bukan makan daging (amagandha sutta? CMIIW)
- Sang Buddha menolak anjuran Devadatta untuk melarang murid2 makan daging (Vinaya pitaka)
- Sang Buddha mensyaratkan daging2 mana yg tidak boleh dikonsumsi (Vinaya pitaka)
- Bhikkhuni Arahat yg mempersembahkan daging untuk Sang Buddha (Vinaya pitaka)
- dan seabreg2 sutta2 lainnya yg jelas dan nyata

Bahwa makan daging untuk melatih menghindari kemelekatan sih sah2 aja, atau untuk kesehatan, atau untuk alasan2 lainnya... tapi yg pasti vegetarian tidak akan menjadikan seseorang suci... jangan mau terbuai dalam mimpi2 / janji jalan instan untuk tercerahkan

::

7
Buddhisme untuk Pemula / Re: Tanya ? Jawab untuk Pemula
« on: 27 June 2013, 07:31:45 AM »
begitu yah. :)
jadi intinya tetap ada kamma disana?

Jika yg dimaksudkan adalah 'ketiduran'nya, maka seperti yg dijelasin Bro Indra, maka 'ketiduran' itu sendiri adalah proses yg tidak disengaja, maka tidak ada kamma krn kita 'ketiduran'.

Tapi, didalam tidur itu sendiri, terjadi mimpi2.. artinya pikiran berproses, ada kesadaran pikiran yg sedang bekerja. Jika ini yg dimaksud: apakah ada kamma dalam pikiran saat tidur? Sejauh yg saya tau, tergantung kualitas tidurnya. Jika tidurnya nyenyak sekali, maka tidak akan mimpi, sehingga tidak terjadi kamma. Ini tidur berkualitas yg biasanya terjadi jika kita lelah sekali atau selalu terjadi pada orang2 suci.

Jika tidurnya tidak nyenyak alias banyak mimpi, maka terjadi proses kesadaran disini. Saat tidur, kesadaran kita tetap mengambil objek (yakni: objek pikiran) dan memprosesnya. Tetap terjadi kamma disini.

::

8
Buddhisme untuk Pemula / Re: Tanya ? Jawab untuk Pemula
« on: 26 June 2013, 09:40:41 AM »
kalo mo tidur terus tidur aja, gak mikir apa2 atau ketiduran, bagaimana dong?


Saat tidur, meski pikiran dalam kondisi lemah, namun pikiran terus beraksi
Batin anda bergolak, pikiran bergolak, tidur tidak nyenyak dan aksi-reaksi kamma banyak terjadi dalam alam pikiran.

Seperti contoh Bro Indra, sebelum tidur sudah diniati membunuh besok, maka pikiran akan sibuk mengatur rencana2 besok, dipenuhi dosa yg terus memotivasi pikiran kita saat tidur.


Demikian juga dengan tidur tanpa motivasi pikiran yg kuat sebelumnya, alias ketiduran maka pikiran akan dimotivasi oleh aksi-reaksi dari kejadian2 lain.


Kejadian sebelum tidur, mirip saat menjelang kematian, pikiran mana yg paling kuat sebelum tidur, itu yg akan menentukan arah batin kita saat tidur, klu ga ada, maka pikiran2 lain yg akan muncul

::

9
Kafe Jongkok / Re: sisi yang ke3=keseimbangan.
« on: 23 February 2013, 01:36:40 PM »
Rekan William yang budiman, dharma itu tujuannya untuk dipraktekkan dan direalisasikan, bukan hanya sekedar memahami teori. Jika ada ketimpangan (ketidakseimbangan) teori dan praktek, dikhawatirkan akan menjadi individu yang dogmatis, teoritis, pragmatis, atau bahkan (maaf) munafik. Ini gejala umum spiritual, dimana banyak ahli kitab (sutta), tapi minim di realisasi, secara mental kurang beretika, toleransi, lemah secara akal sehat (nalar).

1. Darimana anda tau saya budiman, bukankah anda memvonis saya?
2. Tentu saja sy tidak mengatakan praktik tidak perlu. Praktik itu bahkan sangat perlu, tapi jangan kita memvonis orang2 yg beerteori di forum ini, dan juga di ceramah2 Dhamma sebagai orang yg "tau teori doang, tapi minim praktik", seperti yg anda tulis ini:

Ya, dan berteori dan berpraktek bisa beda.

Di forum dharma dan vihara cenderung lancar menyampaikan Tilakkhana (Tiga Corak kehidupan), tapi ketika memandang sesuatu cenderung atta/atman, bukan anatta/anatman. Hukum karma dan Paticcasamuppada juga, sering jadi teori daripada direalisasikan dalam pandangan sehari-hari.  _/\_

Quote
Anda baru menunjukkan salah satu contoh, yakni Anda memvonis seseorang yang tidak Anda kenal. Saya tidak kenal Anda, karena itu saya tidak akan memvonis Anda belum lulus sarjana, belum bekerja, belum berkeluarga, belum mencapai kesucian, atau yang lain-lain. Uniknya, seperti gejala yang saya sebut di atas, Anda bisa memvonis seseorang tanpa Anda tahu sedikitpun tentang orang tersebut. :)

Itulah namanya tendensius dan asumtif (banyak prasangka dan menduga-duga).

Saya memposting hal tsb krn suatu tujuan, dan sy telah mendapatkannya  :)

Quote
Dalam agama Buddha khususnya, sifat seperti ini kurang bermanfaat, sebab lawan dari sifat analisis dan telaah komprehensif, pembuktian dan penyelidikan secara mendalam (ehipassiko).

Ehipassiko bukanlah untuk menilai praktik orang2 lain dibanding teori mereka, Ehipassiko adalah penyelidikan atas suatu Ajaran, apakah benar jika diamati dalam kehidupan keseharian kita.

Quote
Praktek yang dimaksud disini tentu bukan perbuatan, karena kita bukan satpam atau hakim untuk yang lain. Praktek yang dimaksud disini adalah praktek pandangan, yakni dalam hal ini pandangan benar (sesuai Tiga Corak Umum yang diajarkan Buddha). Kalau praktek perbuatan, tentu masing-masing yang berurusan (bertanggung jawab), bukan untuk dibicarakan kepada orang lain. Untuk hal ini saya kira Anda paham, kita bukan membahas/mengkritisi perbuatan, tapi pandangan yang secara jelas ditunjukkan disini (tentunya boleh dikoreksi sesuai prinsip Anda; saling asah pemahaman).

Bagaimana, bisa dipahami?

Semoga demikian.

Semoga damai adanya.

Salam bahagia untuk Anda dan yang lain.  _/\_

Ok, silahkan lanjutkan krn sy hanya ingin mengoreksi hal yg anda tulis dibawah ini saja...

Ya, dan berteori dan berpraktek bisa beda.

Di forum dharma dan vihara cenderung lancar menyampaikan Tilakkhana (Tiga Corak kehidupan), tapi ketika memandang sesuatu cenderung atta/atman, bukan anatta/anatman. Hukum karma dan Paticcasamuppada juga, sering jadi teori daripada direalisasikan dalam pandangan sehari-hari.  _/\_

Bahwa cukuplah kita saling sharing Ajaran disini, saling mengoreksi sebatas teori sutta, tanpa perlu menyinggung2 praktik mereka, tanpa perlu menvonis bahwa mereka masih berpandangan atta..

::

10
Kafe Jongkok / Re: sisi yang ke3=keseimbangan.
« on: 23 February 2013, 07:51:30 AM »
Ya, dan berteori dan berpraktek bisa beda.

Di forum dharma dan vihara cenderung lancar menyampaikan Tilakkhana (Tiga Corak kehidupan), tapi ketika memandang sesuatu cenderung atta/atman, bukan anatta/anatman. Hukum karma dan Paticcasamuppada juga, sering jadi teori daripada direalisasikan dalam pandangan sehari-hari.  _/\_

Apakah seseorang yg memahami teori Dhamma dengan baik, harus sudah mampu melihat segala sesuatunya sebagai Anatta?

Jika begitu, hanya para Arahat dong yg boleh membahas, sharing dan mengajarkan Dhamma, krn kita semua (termasuk anda tentunya) masih belum terbebas dari pandangan atta.

Kita semua disini saling sharing, saling belajar, saling mengasah pemahaman, yang tentu saja dalam bentuk TEORI. Urusan praktik tentu di dunia nyata. Tapi di forum ini dan di ceramah2 Dhamma, tetap yg disampaikan , yg ditulis, adalah TEORI. Kita disini membahas TEORI, sedangkan PRAKTIK adalah urusan kita masing2, tanggung jawab kita masing2. Tidak perlu memusingkan praktik orang lain. 'Praktik' mutlak urusan masing2.


::


11
Kafe Jongkok / Re: sisi yang ke3=keseimbangan.
« on: 21 February 2013, 07:49:29 AM »
Nasehat A: inilah buah karmamu, jangan bersedih, jangan disesali, wajar terjadi begitu... dstnya... nasehat ini lebih berfokus ke waktu lampau, untuk menerima dengan wajar hal2 yg terjadi.

Nasehat B: Berusahalah lebih keras, instropeksi diri, ulet tegas, teliti, hidup masih panjang...
nasehat ini berfokus ke masa depan, ke Usaha dan apa yg akan dilakukan.

Jadi, untuk berjalan kedepan, kita harus berusaha terus menerus, ulet dan tangguh (depan)
Sedangkan langkah yg telah kita lewati harus kita terima apapun hasilnya baik/buruk. (lampau)

Jangan kebalik:

Kita terus2 bersedih dan bermenung trus menyesali keadaan yg telah terjadi, (lampau)
sementara kita juga tidak berusaha dan malah melakukan hal2 yg membangun (depan)

::

12
Politik, ekonomi, Sosial dan budaya Umum / Re: redominasi rupiah
« on: 15 February 2013, 01:31:15 PM »
bagaimana uang yang di simpan di bank dan kartu flazz?

ikut dihilangin 3 nol juga

::

13
Tolong ! / Re: Lalai bayar pajak, solusinya????
« on: 15 February 2013, 01:30:23 PM »
:jempol: penjelasannya mudah dimengerti...
Jenis pajakBayarDendaLaporDenda
PPh 21tgl 102%tgl 20100rb
PPh 23tgl 102%tgl 20100rb
PPh 4 (2)tgl 102%tgl 20100rb
PPN DNtgl 302%tgl 30500rb
Ribet banget ya buat tabel ternyata...


ternyata dendanya besar juga ya: Jul-Dec 2012 = 6 bulan x 100 rb = 600rb masing2 untuk PPh25 dan 21 sehingga total 1,2 jt

::

14
Sdr. William yang berbahagia, sekali lagi cobalah untuk melihat secara lebih netral. :) Kalimat di atas, Anda interpretasikan sendiri sebagai bentuk diskriminasi kesucian, padahal sudah saya nyatakan, "Sebutan keagamaan hanya menimbulkan salah persepsi dan diskriminasi saja."
Kita cukup bicara secara umum, dari pengetahuan dan pengalaman pribadi (baik duniawi maupun spiritual), tidak perlu terlalu jauh mengutip doktrin (kecuali sudah dibuktikan, maka statusnya bukan lagi doktrin tapi testimonial).

Kalimat yg sy pakai menurut sy sudah umum Bro.. celakanya kalimat sy tsb cocok pulak dengan yg ada di Kitab.
Lantas, apakah sy tidak boleh menggunakan kalimat yg ada di kitab, hanya demi penampilan 'tidak-dogmatis'?

Dan, apakah semua yg menggunakan kata2 di kitab atau mengutip kitab anda anggap dogmatis?

Quote
Jika pesan dari saya belum Anda terima dan mengerti juga, bagaimana diskusi bisa berjalan dengan baik, bukan begitu?

Nah, bagus jika Anda bisa menegaskan bahwa Anda sudah menggunakan nalar dan juga sudah membuktikan.
Sekarang saya mau tanya, darimana Anda bisa berkata bahwa perbuatan si Ibu itu salah, apa acuannya?

Quote
Anda juga kurang bisa memahami kalimat. Baik buruk dan lurus tidak lurus adalah hal berbeda, sudah saya klarifikasi juga, tapi masih tetap diasosiasikan (cenderung dibuat seolah sama). Apa ini upaya untuk mengaburkan pengertian? Semoga bukan, saya yakin Anda seorang pribadi yang baik dan luhur.

Jika Anda minta jawaban dari saya, komentar saya terhadap perbuatan Ibu bakar anak tersebut:
Ibu tersebut akan menuai karma sesuai perbuatannya, yang persisnya hanya seorang Buddha yang mengetahuinya.

Nah, bila dilihat dari jawaban saya maupun Anda, mana yang lebih bersifat asumtif dan agak tendensius, melabeli suatu tindakan sebagai pencetus karma baik maupun karma buruk.

Anda menghindar untuk melabeli suatu perbuatan, tapi berani melabeli suatu motivasi.
Contoh:
- boddhisatva mengorbankan tubuhnya untuk binatang, perbuatatan mengorbankan diri menurut anda netral dan motivasi boddisatva baik
- ibu membakar anak, dengan motivasi ingin menghindari anaknya dari malu dan lapar: perbuatan membakar adalah netral, namun motivasi baik

Apa dasarnya penilaian anda motivasi baik/buruk, sedangkan perbuatan anda anggap netral?

Quote
Sampai disini paham kenapa saya tidak mau menghakimi dan memvonis?

Anda menghindar berpendapat soal 'perbuatan' tapi bisa berpendapat soal 'motivasi'

Quote
Anda dan anggota forum lain mungkin rajin mengkritik pemuka agama lain, yang sebentar mengharamkan sesuatu, sebentar memfatwakan sesuatu sebagai baik ataupun buruk. Tapi Anda sendiri dan mungkin anggota forum Buddhis lain, sering (acap) memberi labelisasi atau tuduhan tertentu kepada sebuah perbuatan, yang bahkan menurut Buddha semua makhluk itu anatta (sunya) dari sifat hakiki.

Jika memakai perspektif anda, kenapa anda berkeberatan orang2 mengkritik pemuka agama lain? Bukankah sesuai dgn yg anda bilang hanyalah sebab akibat, perbuatan tsb adalah netral? Juga, sesuai yg anda bilang kan hanya Buddha yg bisa menilai tindakan kritikan ini.

Quote
Bagaimana? Sudah paham atau belum bisa terima?

Kurangi ego, jika kita sama-sama dalam posisi belajar. Kalau berdiri di belakang doktrin dan merasa paling benar, niscaya diskusi akan berakhir dengan kebuntuan.

Sy paham pemikiran anda
Yg sy tidak paham, bagaimana anda bisa menilai orang lain dan tidak anda terapkan hal yg sama ke diri sendiri

::

15
Saya tidak membuka pendidikan apa-apa, hanya sekumpulan orang yang ingin belajar dari saya dan menyatakan ingin menjadi murid saya.
Meditasi salah satu pelajaran yang saya berikan juga, intinya pengembangan spiritual ke arah yang lebih baik.

Terima kasih penjelasannya..

Quote
Netral itu Anda artikan sebagai apa? Sudah saya jelaskan pengertiannya, tapi Anda tetap menggenggam pandangan Anda sendiri. Yang Anda yakini di atas itu keliru, sudah saya tulis bahwa ini sering dijadikan peringatan kepada para pembelajar Mahayana, tapi Anda tetap mengasosiasikan netral dan kosong seperti itu (seolah bebas berbuat apa saja, tak ada dampak lanjutannya). Ini seperti orang baru belajar spiritual, mana benar dan salah saja masih sulit membedakan, bagaimana mau meningkat ke tahap yang lebih tinggi (hakikat/mutlak)?

Tolong bongkar semua tulisan saya dan copaskan jika saya berpendapat bahwa Perbuatan Netral adalah bebas berbuat apa saja..

Quote
Netral itu adalah kesimpulan yang kita dapat setelah mengamati secara keseluruhan, bahwa sebuah tindakan itu lahir dari sebab-sebab yang lalu, bukan semata karena keputusan salah (sang Ibu) dalam hal ini. Kalau kita sebut Ibu itu tidak bijaksana, lebih tidak bijaksana lagi kita, sebab tidak melihat (mengabaikan) sebab-sebab lalu yang mengkondisikan peristiwa tersebut.

Kita sebagai manusia yang berakal-budi, tentu mengharapkan sosok Ibu itu ideal; sayang anak, penuh pengertian, penuh kebijaksanaan dan pengetahuan, dsb.

Celakanya, standar tersebut kita sematkan juga pada sang Ibu dalam kasus bakar anak tersebut. Kita tidak mempertimbangkan bagaimana pendidikan dan masa kecil sang Ibu, apakah memungkinkan beliau untuk mengerti dan memahami konsekuensi perbuatannya atau tidak, punya karakter cukup kuat untuk menghadapi masalah hidup atau tidak, dsb...

Terus terang saya pernah bahkan beberapa kali menghadapi kasus sulit seperti ini, walau tidak seekstrim kasus di atas. Kesimpulan saya, banyak hal yang kita kira bisa kita ubah jika saja "begini begitu" (jika ia paham dharma, jika dia berpengetahuan, jika dia... dlsb), tapi kembali lagi itu cuma harapan saja. Kenyataannya, kondisi keluarganya tidak memungkinkan ia untuk bahkan mengerti apa yang dia perbuat.

Anda sudah menjawab pengertian Perbuatan Netral versi anda. Terima kasih.

Sekarang giliran sy mendidik anda, mohon perhatikan baik2, krn hal ini sangat penting.

1.
- Anda menilai suatu perbuatan dari kacamata anda, dari kacamata pihak ke 2 atau pihak ke 3.
- Anda menilai suatu perbuatan dari sisi si penilai: apa yg mereka lakukan, salah-benar, apa sebabnya, dstnya
- Anda menilai suatu perbuatan dari faktor2 luar

2.
- Umat Buddha diajarkan untuk selalu menilai suatu perbuatan dari sisi batin si pelaku sendiri.
- Apa itu? Yaitu: faktor mental apa yg mendorong ia melakukan perbuatan itu. Apakah krn kemarahan, krn putus-asa, krn mengambil jalan pintas, krn malu, krn kekejaman, krn ketamakan? dstnya..
- Kenapa batinnya dalah penentu? Karena batin2 yg mendorong perbuatan ini yg akan membentuk karakternya yg baru, yg akan berakibat pada batinnya juga, akan berbuah dalam bentuk bahagia-derita, akan membentuk batinnya mengarah ke akhir dukkha atau sebaliknya.
- Menilai suatu perbuatan dari sebab2 lampaunya, kondisi2 yg menunjangnya, kenapa ia bisa melakukan hal tsb, latar belakangnya, hanya berguna dari kacamata si penilai. Tidak lebih.
- dari sisi si pelaku, KEPUTUSAN yg ia ambillah yg menjadi kamma nya dan akan berbuah nantinya

Kita umat Buddha, selalu melatih diri untuk memperhatikan batin kita sewaktu melakukan suatu perbuatan, kita melatih diri untuk INSIDE-OUT (bagaimana reaksi gw? gw marah ni.. oh, gw nafsu nih..)

Kebalikannya, umat agama lain, dan kita  sendiri sebenarnya terbiasa menilai segala sesuatu dari OUTSIDE-IN, yakni: apa yg mereka lakukan padaku? Siapa yg  melakukannya? Apa sebabnya? Kenapa mereka melakukannya padaku? Ia menggodaku..

Quote

Mungkin penjelasan di atas terlalu rumit dan sulit Anda pahami. Coba ambil contoh kecil saja:
Jika Anda melihat sebuah batu melayang ke arah sebuah kaca mobil, apa reaksi Anda pertama?

Reaksi yang sangat mungkin: "Wah, siapa yang begitu kurang berpengetahuan melempar batu sebesar bola golf ini ke arah kaca mobil?"

Namun, setelah Anda memutar kepala dan melihat darimana arah batu tersebut, yang ternyata berasal dari seorang anak balita (kebetulan keponakan saya juga cukup hiperaktif dan bisa melakukan perbuatan seperti ini) maka perasaan kaget campur jengkel Anda seketika itu juga sirna... "Oh, hanya anak kecil... Wajar..."

Contoh ini tidak relevan dengan pembahasan kita soal kamma-aktif, kamma dalam bentuk perbuatan
Di contoh ini yg aktif melakukan perbuatan adalah si anak kecil yg melempar batu.

Contoh Hitler dibawah ini masih relevan dengan pembahasan kita...

Quote
Begitu juga, dalam kasus Ibu atau Hitler tersebut, yang kita lihat hanyalah kondisi yang tidak memungkinkan ia untuk berpikir lebih dalam... dan hasil dari akumulasi semua kondisi tersebut, adalah "bakar anak". Maka secara matematis, jika memang elemennya ada 1+2-1+5, maka secara pasti hasilnya sudah tentu 7. Ini yang saya sebut netral, setelah mengamati semua kondisi pendukung, maka perbuatan itu sendiri tidak merupakan kesalahan siapa-siapa (apalagi kesalahan si Ibu belaka), melainkan akumulasi dari semua sebab-sebab lalu dan kondisi pendukung.

IMO, anda salah memahami hukum sebab-akibat.
Pemikiran anda -bahwa semua perbuatan kita sekarang adalah hasil kamma lampau kita- similar dengan konsep bahwa hidup ini sudah takdir, nasib, diatur oleh tuhan/diatur oleh kamma lampau kita. ini konsep FATALISM.

Logikanya, kalau semua keputusan dan perbuatan kita sekarang diakibatkan kamma lampau kita, sehingga semua perbuatan kita sekarang adalah netral, tidak berimbas apapun, bagaimana perbuatan ini akan menjadi penentu masa depan kita?

Motivasi kita, cetana kita sewaktu melakukan suatu perbuatan, Tidaklah Netral, kita mempunyai PILIHAN dan KEPUTUSAN.

Kondisi pendukung -seperti yg anda tulis- memang berpengaruh bagi kita dalam mengambil keputusan, tapi KEPUTUSAN yg kita ambil atas pilihan2 yg ada, tetap menjadi kamma kita. Apapun kondisi pendukungnya, tidak akan menjadikan perbuatan kita netral.

Misalkan kasus si Ibu: Ia membakar diri dan anak2nya krn niat mulia, krn latar belakangnya tidak berpendidikan, krn faktor ekonomi, krn lecehan masyarakat sekitar, dsbnya... semua faktor pendukung yg bisa dimaklumi ini, tidak lantas membuat perbuatan yg diambil si ibu tsb menjadi netral (atau bahkan perbuatan mulia/baik).

Quote
Jangan lupa, tetangga dan keluarga yang apatis juga turut menyumbang peran atas peristiwa itu untuk terjadi (ini banyak saya lihat di forum-forum berita, sifat introspektif dari elemen masyarakat, daripada sekedar menjatuhkan vonis bahwa ini salah mutlak Ibunya, sebab kurang bijaksana, dlsb).

Sudah jelas?

Ini penjelasan terakhir saya (terkait topik netral dan Ibu bakar anak). Jika masih belum mengerti juga, mungkin memang saya kurang mahir menjelaskan (untuk ini mohon dimaafkan sebesar-besarnya).

Cukup jelas bagi saya,
- Anda berpandangan bahwa suatu perbuatan dikarenakan sebab2 lampau dan kondisi2 pendukung lain, sehingga perbuatan tsb adalah NETRAL
- Saya berpandangan bahwa suatu perbuatan adalah KEPUTUSAN si pelaku, sehingga perbuatan TIDAK lah netral.

::

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 192