Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - K.K.

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 569
1
Theravada / Re: Pencaharian dalam agama Buddha
« on: 22 June 2019, 10:15:51 AM »
Bisa di lihat ada risetnya koq makanan gorengan memang meningkatkan resiko kanker, riset itu tidak sama dengan spekulasi. Semua ilmu kedokteran itu hasil studi bukan spekulasi (ilmu ramal).
Junk Food dan produk lain dengan aneka trans-fat juga riksio kolesterol dan jantung. Orang alergi makan kacang atau kerang juga bisa mati. Bahkan minum air kebanyakan juga bisa mati.

"Spekulasi" tidak merujuk pada hasil riset, tapi pemikiran anda yang terlalu jauh. Saya sudah sarankan cek BPOM/WHO, mereka juga meregulasi sesuai riset.


Quote
Kalau dikatakan tegantung niat, lalu kenapa jual alkohol tidak dianjurkan oleh Buddha, niatnya kan blom tentu tidak baik.
Setahu saya, konteks alkohol seperti dalam Vaṇijjāsutta adalah karena penggunaannya untuk mabuk-mabukan, kebalikan dari salah satu latihan utama Buddhis: pengembangan perhatian (kewaspadaan & keawasan); orang mabuk sulit mengendalikan diri. Namun menurut saya jika menjual alkohol untuk keperluan seperti disinfektan, pelarut, dll. tidak ada masalah.

Sebaliknya sengaja jual makanan yang mengandung selai kacang ke orang penderita alergi dengan niat mencelakainya itu tidak baik, walaupun tidak ada larangan jual kacang di sutta mana pun. 


Quote
Patokannya dimana supaya mengerti apa yg baik dan yang tidak baik?
Untuk patokan universal bisa merujuk pada pusat penelitian ilmiah yang objektif dan netral. Kemudian sebagai warga negara wajib menaati hukum yang berlaku. Selebihnya tergantung pandangan pribadi, misal kita cocok dengan suatu agama, maka bisa merujuk pada kitab suci dan aturannya.

2
Studi Sutta/Sutra / Pattidāna, Makanan Hantu, dan Transfer Kamma.
« on: 20 June 2019, 01:45:31 AM »
Pelimpahan jasa atau pattidāna/pariṇāmanā adalah ritual yang melibatkan perbuatan baik dilakukan atas nama leluhur dan keluarga yang telah meninggal dengan tujuan agar mereka mendapatkan kondisi yang lebih baik. Ritual ini cukup umum dijumpai dalam masyarakat Buddhis dan dalam Tradisi Theravada prinsip dan sumber teks yang digunakan sebagai dasar adalah Tirokudda Sutta (Kp7), Petavatthu (kitab ke 7 di KN ini memberikan aneka kisah kelahiran sebagai peta karena perbuatan yang tidak baik), Janussoni Sutta (AN10.177), beserta komentar dari sutta bersangkutan. Semua kisah dari sumber-sumber tersebut menggambarkan ritual yang dilakukan oleh kerabat dari orang yang meninggal dan dalam Janussoni Sutta terdapat pernyataan bahwa ritual tersebut hanya bermanfaat bagi mereka yang terlahir di alam peta, bukan lainnya. Komentar dari Petavatthu memberikan 4 kategori peta (Paramatthajotikā memberikan daftar lebih panjang yang intinya jenis peta bersesuaian dengan kamma buruk yang dilakukan) dan hanya jenis Paradattūpajīvīka (“hidup dari pemberian orang lain”) yang dapat menerima manfaat ritual pattidāna ini. Sebagian dari sumber-sumber tersebut mengisahkan bagaimana setelah ritual dilakukan, maka para kerabat yang telah meninggal tersebut mendapatkan kondisi yang lebih baik.

Permasalahan timbul di sini berkenaan dengan prinsip utama dari Buddhisme di mana kamma tidak dapat ‘dipindah-tangan’, seperti dalam kutipan yang terkenal bahwa setiap makhluk memiliki, mewarisi, terlahir dari, berhubungan dengan, dan terlindung oleh kammanya sendiri (AN 5.57; MN 135). Pattidāna terlihat seperti memindahkan kamma baik yang dilakukan oleh pelaku ritual kepada leluhur atau sanak saudara yang telah meninggal, yang tidak melakukannya, sehingga terjadi kontradiksi.

Salah satu solusi yang dikemukakan adalah bahwa tidak ada transfer kamma di sini, namun sanak saudara yang telah meninggal tersebut diajak untuk ikut berbahagia atas kebaikan yang dilakukan atas nama mereka oleh kerabat yang masih hidup. Kebahagiaan simpatik atau muditā adalah juga bentuk kamma baik melalui pikiran dan buah dari perbuatan baik ini, yang dilakukan oleh kerabat yang telah meninggal itu sendiri, yang berbuah dan mengondisikan hal baik. Solusi ini menimbulkan permasalahan baru: mengapa muditā tersebut hanya bisa dilakukan oleh mereka yang terlahir di alam peta? Bukankah alam lebih tinggi, terutama Brahma yang utama dalam 4 Brahmavihārā justru (jauh sekali) lebih berpotensi dalam ber-muditā? Selain itu, mengapa perbuatan baik itu hanya bermanfaat bagi seorang yang berhubungan keluarga? Bagaimana jika dilakukan oleh anak angkat atau mereka yang berbudi namun tidak berhubungan darah?

Solusi lainnya adalah bahwa ritual Pattidāna ini bukan merupakan transfer kamma, juga bukan ajakan muditā, namun sebuah ritual untuk mengondisikan kamma baik dari kerabat yang telah meninggal berbuah. Namun ini juga tidak menjawab permasalahan eksklusifitas alam peta dan hubungan keluarga dalam melakukan ritual di samping menimbulkan pertanyaan lain: apakah ada ritual yang dapat memanipulasi kamma agar lebih cepat (atau mungkin menghambat) berbuah? Apakah Buddha ada mengajarkannya? Bukankah dalam Devadaha Sutta (MN 101) Buddha mengkritik para Nigaṇṭha yang dikisahkan dalam sutta melakukan ritual penyiksaan-diri untuk mengondisikan kamma buruk mereka berbuah, sementara mereka sendiri tidak tahu apa perbuatan mereka di masa lampau, dan perbuatan apa mematangkan kamma yang mana? 

Berdasarkan pengalaman pribadi, diskusi dan argumentasi topik ini biasanya buntu atau berkembang terlalu luas, dan akhirnya kembali pada Acinteyya Sutta (AN 4.77). Dan selesailah diskusi. Namun menurut saya, sebenarnya permasalahan ini tidak terlalu rumit jika saja pemahaman teks menggunakan konteks yang sesuai: latar belakang budaya, tempat, waktu, kepada siapa teks ditujukan.


Janussoni Sutta biasa dikutip untuk menguatkan konsep pattidāna hanya berlaku untuk alam peta, namun apakah benar sutta tersebut membahas pattidāna atau hal lain?

“Dānāni dema, saddhāni karoma – ‘idaṃ dānaṃ petānaṃ ñātisālohitānaṃ upakappatu, idaṃ dānaṃ petā ñātisālohitā paribhuñjantū’ti. Kacci taṃ, bho gotama, dānaṃ petānaṃ ñātisālohitānaṃ upakappati; kacci te petā ñātisālohitā taṃ dānaṃ paribhuñjantī”

“Memberikan dana, menjalankan saddhā – ‘semoga pemberian ini bermanfaat bagi kerabat yang telah pergi, semoga pemberian ini dinikmati oleh kerabat yang telah pergi.’ Seberapakah, Gotama yang baik, pemberian ini bermanfaat ... dinikmati oleh kerabat yang telah pergi?”


Saddhā atau keyakinan adalah istilah familiar bagi umat Buddhis, namun di sini merujuk pada ritual yang dilakukan untuk orang meninggal. Istilah “peta” dalam kosmologi Buddhis adalah makhluk penghuni petaloka, sebuah alam sengsara akibat dari kamma buruk yang dilakukannya, namun bagi umat Hindu adalah hal yang berbeda.

Antyeshti – ritual kremasi dilaksanakan dalam sehari setelah kematian. Setelah jasad hancur, maka orang yang meninggal dianggap memiliki tubuh ‘halus’ tersusun atas unsur angin (vayu) dan ruang (akasha), dan kondisi ini yang disebut peta/preta (“yang telah pergi”). Kemudian prosesi saddha/śrāddha dilakukan oleh sanak-saudara: anak lelaki sulung, atau jika memiliki lebih dari satu anak lelaki yang tinggal terpisah, semuanya wajib melakukannya. Jika tidak memiliki anak lelaki, maka kakak atau adik lelaki, menantu lelaki, atau cucu lelaki yang cukup umur dapat melakukannya, dan seterusnya sesuai aturan yang berlaku. Selama 10 hari pertama dibuat bola nasi pinda yang adalah pembentuk tubuh bagi peta. Pada hari ke sebelas, dilakukan ritual dana makanan bagi para leluhur dan peta, juga secara simbolis diwakili sebelas Brahmana khusus. Pada hari ke duabelas, dilakukan ritual sapiṇḍikaraṇa yang melambangkan bersatunya peta dengan para leluhur (pitr) dan merupakan lengkapnya ritual. Kesalahan ritual ini dianggap menyebabkan gagalnya transformasi peta menjadi pitr dan sebagai akibatnya akan mengembara tak menentu sebagai hantu. (Ini adalah proses umum, namun jumlah hari dan tata cara pelaksanaan bervariasi tergantung banyak hal seperti waktu meninggal, siapa yang meninggal, penyebabnya, kastanya, dan lain-lain.) Ritual inilah yang dimaksud dengan saddhā dalam Janussoni Sutta.

Konsep tumimbal lahir yang dikemukakan Buddha berbeda dan tidak mengalami fase peta tersebut, melainkan terlahir kembali langsung sesuai alam tujuannya masing-masing. Namun demikian, dinyatakan bahwa ketika seseorang terlahir sebagai peta, maka ia dapat menerima dan menikmati dana tersebut. Tidak ada apapun di sini yang mengindikasikan transfer kamma, muditā, atau manipulasi kamma baik. Di sini makhluk peta secara langsung menerima makanan yang diberikan, yang juga sesuai dengan Tirokudda Sutta di mana pemberian diberikan kepada peta: “Adāsi me akāsi me, ñātimittā sakhā ca me;Petānaṃ dakkhiṇaṃ dajjā, pubbe katamanussaraṃ.”

Spoiler: ShowHide
[Kv 7.6 mencatat perbedaan penafsiran pemberian kepada peta ini. KvA dan Paramatthajotikā merincikan sekte Rājagiriya dan Siddhatthika berpendapat bahwa pemberian diberikan kepada sangha dan manfaatnya adalah menyokong kehidupan peta. Sekte (proto-)Theravāda membantah dan menjelaskan pemberian kepada peta adalah dengan menyajikan langsung untuk dimanfaatkan peta, bukan untuk sangha, mirip dengan śrāddha. Suatu hal yang menarik mengingat ritual yang dilaksanakan sekarang lebih condong pada pendapat non-Theravāda.]


Kisah-kisah dalam Petavatthu memiliki pola yang hampir sama: seorang yang berkelakuan buruk meninggal dan terlahir dalam kondisi buruk sebagai peta. Kemudian ia muncul di hadapan kerabatnya dan menjelaskan secara spesifik bagaimana perbuatan buruknya di masa lampau mengakibatkannya terlahir dalam kondisi demikian. Sebagian dari kisah tersebut berlanjut dengan pola menasihati kerabatnya untuk melakukan perbuatan baik, khususnya ke sangha, yang kemudian dilaksanakan, mengakibatkan peta tersebut terlahir kembali di alam baik, muncul kembali di hadapan kerabat yang sama dan menceritakan bagaimana perbuatan baik tersebut membebaskannya dari kondisi buruk sebelumnya dan mencapai kondisi baik.

Pola ritual di Petavatthu memiliki kemiripan dengan pattidāna yang kita kenal karena sama-sama melibatkan sangha sebagai penerima dana, bukan merupakan pemberian langsung ke peta. Perbedaan utamanya adalah pencetus dana bukanlah oleh kerabat yang masih hidup, namun peta itu sendiri. Karena niat baik itu memang muncul dari si peta, maka ia sendiri melakukan kamma baik dan ketika perbuatan baik itu terpenuhi, maka kamma baiknya juga menjadi lengkap. Tidak terlihat pola transfer kamma di sini.

Buddhisme berkembang di masyarakat di mana pelaksanaan ritual untuk membantu keluarga yang meninggal adalah sebuah bakti, suatu keharusan. Tidaklah mengherankan jika Buddhisme juga mengadopsi ritual tersebut, yang tentu saja dengan penyesuaian doktrin, untuk menjadi substitusi bagi kebutuhan umat dalam budaya tersebut, sementara masih terlihat sifat-sifat warisan pendahulunya. Prasyarat hubungan keluarga pelaku ritual masuk akal jika dilihat sebagai warisan dari peraturan Veda, sementara tidak relevan dalam konsep Buddhisme. Pelaksanaan ritual yang segera bagi kerabat yang meninggal juga merupakan kewajaran dibanding menunggu yang bersangkutan muncul sebagai peta seperti dalam Petavatthu. Konsekwensinya, inisiatif ritual dari kerabat yang masih hidup tanpa niat dari si peta membuatnya terlihat seperti ritual transfer kamma.

Berdasarkan pertimbangan di atas, tampaknya ‘problem’ dalam konsep pattidāna ini lebih condong pada alasan tradisi dan budaya praktis ketimbang ‘perubahan’ doktrin, yang sebenarnya menjadi tidak masalah ketika dilihat lewat perspektif berbeda.

3
Theravada / Re: Pencaharian dalam agama Buddha
« on: 20 June 2019, 01:03:48 AM »
Halo,

Perkenalkan saya masih baru disini, dan ingin belajar tentang agama buddha. Pertanyaan pertama saya sederhana, saya ingin bertanya kalau dalam agama buddha kita bermata pencaharian menjual makanan itu sebenarnya salah atau tidak ya, karma buruk tidak ya? Misalkan menjual pisang goreng, jagung bakar dll. Ada artikel riset yang menjelaskan ketika makanan dimasak dalam suhu yg sangat tinggi, maka senyawa dalam makanan itu akan rusak, sehingga kalo dimakan beresiko meninggkatkan resiko kanker.

Buddha mengatakan kepada kita untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain Menjual makanan seperti di atas jelas merugikan karna meningkatkan resiko kangker. Lalu apakah menjual makanan spt yg disebutkan di atas boleh atau salah atau karma buruk atau tidak?
Dalam Buddhisme yang menjadi penentu adalah niat seseorang. Apakah niatnya menjual makanan atau penyebab kanker? Jika memang untuk menjual makanan, lakukan yang terbaik untuk menjaga kualitasnya, tidak pakai bahan yang berbahaya sesuai dengan aturan yang berlaku dari BPOM atau WHO. Tidak perlu spekulasi terlalu jauh.


4
Konsili Buddhis pertama adalah peristiwa menurut berbagai tradisi Buddhis di mana tidak lama setelah Buddha parinibbana (beberapa minggu atau pada vassa berikutnya) para bhikkhu arahant berkumpul di Rājagaha dan merumuskan apa saja yang merupakan Ajaran dan Disiplin Buddha. Kisah ini tercatat dalam sutta tentang akhir kehidupan Buddha dan dalam Vinaya berbagai sekte awal; dalam tradisi Theravāda adalah DN16. Mahāparinibbāṇa Sutta dan Khandaka, Culavagga XI. Sama seperti Vinaya Mahīśāsaka, hanya sebagian kecil sutta, yang berhubungan dengan awal dari konsili, dimasukkan ke Vinaya. Vinaya Sarvāstivāda, Dharmaguptaka, dan Haimavata mengambil sebagian besar sutta; sementara Mūlasarvāstivāda dan Mahāsāṅghika memasukkan keseluruhan isi sutta ke dalam Vinaya. Selain dari teks Pali Theravāda, sumber yang digunakan adalah terjemahan Mandarin dan pada tulisan ini menggunakan rangkuman dari karya Teitaro Suzuki yang sangat kaya informasi. Sumber yang digunakan antara lain: Pancavarga Vinaya (Mahīśāsaka), Caturvarga Vinaya (Dharmagupta), Vinaya Mahāsāṅghika, Samyuktavastu (Mūlasarvāstivāda), Sudarsana Vinaya Vibhasa (padanan Mandarin dari Pāḷi Samantapasadika), Mahāprajñāpāramitā Sastra, Catatan Transmisi Dharmapitaka.

Berbagai narasi ini memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam kejadian, pelaku, kronologis, dan detail minor lainnya, maka narasi dari Tradisi Theravāda digunakan sebagai tolok ukur strukturnya, karena kisah ini adalah yang paling umum dikenal.



I. Motivasi pelaksanaan konsili

Theravāda: ketika tersebar kabar bahwa Buddha telah wafat, seorang bhikkhu bernama Subhadda merasa senang karena ia bisa bebas dari peraturan-peraturan Buddha yang terlalu ketat. Mahākassapa yang mengetahui hal itu, merasakan perlunya melestarikan ajaran, dan setelah selesai dengan upacara kremasi Buddha, ia memutuskan untuk menggelar persamuhan untuk mengukuhkan aturan dan ajaran Buddha.

Mahīśāsaka-Dharmagupta & Mahāsāṅghika sama dengan Theravāda, namun nama bhikkhu tersebut adalah Bhananda/Mahallaka.

Sarvāstivāda & Mahāprajñāpāramitā: Para Deva khawatir akan hilangnya Ajaran dan meminta Mahākassapa untuk menyusunnya.

Dharmapitaka: Tidak ada sosok Subhadda ataupun Deva, namun atas inisiatif Mahākassapa.



II. Pemilihan anggota konsili dan pencapaian Arahatta Ananda

Theravāda: Mahākassapa memilih 499 Arahant dan kemudian mereka menganjurkan agar mengikutsertakan Ānanda, sebab walaupun belum mencapai kesempurnaan, Ānanda paling dekat dan banyak menghafal khotbah-khotbah Buddha, dan Mahākassapa menyetujuinya. Sudarsana Vibhasa menjelaskan Mahākassapa ingin melindungi persamuhan dari ketidak-murnian. Ānanda dikatakan mencapai Arahatta pada malam sebelum konsili dalam posisi unik yang tidak dalam Iriyapatha: ketika ia akan berbaring, kakinya telah terangkat dari tanah namun kepalanya belum menyentuh bantal.

Dalam Sumaṇgalavilāsini tercatat: Majjhimabhaṇāka mengatakan Ānanda menunjukkan pencapaiannya dengan keluar dari tanah muncul di tempat duduknya, sementara menurut lainnya dengan terbang di udara; Dīghabhaṇāka mengatakan Ānanda datang terakhir dengan tubuh bersinar dan wajah yang cerah seolah menyatakan pencapaiannya. Komentar Theragatha mengatakan bahwa pencapaian Ānanda disampaikan oleh Brahma dari Suddhāvāsā kepada anggota konsili.

Mahīśāsaka & Dharmagupta: Ānanda tidak mengetahui bahwa konsili akan digelar tanpa dirinya, kemudian bhikkhu yang membaca pikiran Mahākassapa memberitahu Ananda untuk berlatih dan mencapai pembebasan.

Sarvāstivāda: Mahākassapa mempertimbangkan apakah cara keras atau halus yang akan diterapkan untuk memacu Ānanda dan menetapkan cara keras sebagai yang tepat. Mahākassapa kemudian mengusir Ānanda dari perkumpulan dengan mengatakan bahwa ia tidak pantas. Ananda memohon agar tidak diusir dengan berkata bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun. Di sini Mahākassapa kemudian memberikan delapan kesalahan Ānanda. Kemudian seperti narasi Dharmaguptaka, namun bukan oleh seorang bhikkhu, melainkan seorang anak misterius yang menjadi pelayannya, mendorongnya untuk berlatih.

Mahāsāṅghika: Ketika para bhikkhu menganjurkan mengikutsertakan Ānanda, Mahākassapa menolak dan berkata bahwa mencampurkan seorang yang masih berlatih ke dalam perkumpulan orang yang melampaui latihan adalah seperti anjing/hyena/rase (?) kusta di kumpulan singa. Ananda sedang dalam perjalanan menuju Rājagaha dan diberitahukan oleh sesosok Deva mengenai hal ini dan membuatnya tidak senang. Ketika ia sedang merenung, ia mencapai Arahatta dan terbang menuju persamuhan. Mahākassapa kemudian menjelaskan ia sengaja menggunakan kata-kata keras  itu dengan tujuan untuk memacunya mencapai Arahatta.

Mahāprajñāpāramitā: seperti Sarvāstivāda, Ānanda diusir dengan tuduhan 6 kesalahan, dan pintu gerbang ditutup. Ketika Ānanda telah mencapai Arahatta, ia meminta diizinkan masuk dan Mahākassapa menyuruhnya masuk melalui lubang kunci, dan Ānanda melakukannya.



III. Pelaksanaan konsili dan penyusunan Ajaran

Theravāda: Mahākassapa menanyakan kepada Upali tentang Vinaya, dimulai dari Parajika pertama, dan seterusnya. Kemudian kepada Ānanda tentang Sutta, dimulai dari Brahmajala Sutta, Samaññaphala Sutta dan seterusnya. Dengan cara yang sama 5 nikaya diulang. Pembahasan mengenai peraturan minor (Khuddhanukhuddakasikkhapada) yang dikatakan boleh dihapus, dan disepakati tidak ada yang diubah. Kemudian tuduhan 5 kesalahan terhadap Ānanda berikut pembelaan dari Ānanda.

Dharmagupta: Ānanda dituduhkan 7 kesalahan terlebih dahulu. Upali kemudian mengulang Vinaya mulai dari Parajika. Ānanda mengulang khotbah dimulai dari Brahmajala Sutta dan lainnya yang menyusun Digha Nikaya, Majjhima Nikaya, Anguttara Nikaya, dan Samyutta Nikaya. Terakhir sutta seperti Jataka, Itivuttaka, Apadana, Dhammapada, dan lain-lain dimasukkan ke dalam Khuddaka Pitaka. Kemudian 6 kitab (yang kemungkinan adalah padanan Abhidhamma Theravāda) dimasukkan ke dalam Abhidhamma Pitaka.

Mahīśāsaka: Upali mengulang vinaya dimulai dari Parajika. Ānanda mengulang khotbah dimulai dari Ekuttara Sutta, Dasuttara Sutta, Mahanidana Suttta, dan seterusnya. Mahākassapa menyatakan khotbah yang panjang dimasukkan ke dalam Digha Nikaya, menengah ke dalam Majjhima, ... Samyutta Nikaya... Anguttara Nikaya. Ajaran lainnya yang tidak termasuk, dikumpulkan ke dalam Khuddaka Pitaka.

Sarvāstivāda: Ānanda mengulang khotbah dimulai dari Dhammacakkapavatthana. Aññā-Kondañña kemudian mengonfirmasi dan menjelaskan bagaimana ia mendapatkan mata-dhamma. Khotbah-khotbah berikutnya diulang dan juga dikonfirmasi oleh para Arahant dalam konsili. Kemudian Upali mengulang vinaya, dimulai dari sekkhiya, yang pertama dan ke dua adalah untuk Pañcavaggiyā bhikkhu. Kemudian sekkhiya ke tiga adalah parajika ke bhikkhu Sudinna, dan seterusnya. Kemudian Mahākassapa sendiri mengulang Matika/Abhidharma dimulai dari 5 sila.

Mahāsāṅghika: Ānanda diminta untuk mengulang “Dharmapitaka” dan kemudian mengulang khotbah-khotbah Buddha ke dalam 4 kelompok: Digha...Majjhima...Anguttara...Samyutta. Kemudian Upali menuduhkan 7 kesalahan kepada Ānanda, dan kemudian mengulang Vinaya. Setelah kompilasi selesai, 1000 bhikkhu di luar diundang masuk dan membahas mengenai peraturan minor. Terjadi perdebatan mengenai apa yang akan dihapus namun Mahākassapa memutuskan untuk tidak mengubah apa yang telah ditetapkan.

Catatan:
*Mahāsāṅghika menjelaskan Abhidharma sebagai 9 kategori sutta/anga, bukan teks tersendiri. Dengan demikian, Theravāda, Mahīśāsaka, dan Mahāsāṅghika menyebutkan 2 pitaka, sedangkan Dharmaguptaka dan Sarvāstivāda 3.

*Berbeda dengan catatan Theravāda di mana Kondañña lebih dahulu wafat daripada Buddha, menurut Sarvāstivāda ia masih hidup dan kemungkinan adalah sebagai pimpinan sidang berdasarkan senioritas. Mahīśāsaka memberikan daftar senioritas dimulai dari Ājñāta Kauṇḍinya, Purāṅa, Dharmika, Daśabala Kāśyapa, Bhadra Kāśyapa, Mahākāśyapa, Upāli, Anuruddha.



IV. 10 Kesalahan Ānanda

1.   Meminta penahbisan Bhikkhuni (Semua sekte)
2.   Menginjak jubah Buddha ketika mencuci/menjahitnya. (Semua sekte)
3.   Tidak memohon Buddha memperpanjang usia (Semua sekte)
4.   Memberikan Buddha air minum berlumpur/tidak memberikan air ketika diminta 3x (Semua kecuali Theravāda)
5.   Tidak bertanya mengenai Peraturan Minor (Semua sekte, kecuali Mahāprajñāpāramitā)
6.   Memperlihatkan bagian pribadi Buddha kepada para wanita (Sarvāstivāda, Mahāsāṅghika, Mahāprajñāpāramitā)
7.   Memperlihatkan tubuh emas Buddha kepada para wanita (Sarvāstivāda, Dharmaguptaka, Mahāsāṅghika)
8.   Mengizinkan wanita untuk menghormati relik Buddha lebih dahulu (Mahīśāsaka, Theravāda)
9.   Mengomentari perumpamaan Buddha di depan Buddha (Sarvāstivāda)
10.   Menolak menjadi pelayan pribadi Buddha ketika diminta sampai 3x (Dharmaguptaka)



V. Purāṇa (dan Gavāmpati)

Catatan Theravāda hanya menyinggung singkat: Bhikkhu Purāṇa yang menetap di bagian selatan bersama lebih dari 500 bhikkhu bertemu dengan para tetua yang menghadiri konsili membabarkan hasilnya dan meminta persetujuan Purāṇa, yang kemudian menolaknya dengan sopan. “Yang Mulia, Dhamma dan Disiplin telah dibacakan dengan baik, namun sebagaimana yang saya dengar dari Bhagavā, yang saya terima langsung, demikianlah yang akan saya ingat.”

Dalam catatan Mahīśāsaka dan Dharmagupta, perbedaan yang dimaksud adalah mengenai 7 atau 8 aturan: menyimpan makanan di dalam tempat tinggal; memasak di dalam; memasak sesuai kehendak; makan sesuai kehendak; menerima makanan ketika bangun awal di pagi hari; membawa pulang makanan menuruti keinginan pemberi; menerima berbagai buah-buahan; memakan yang tumbuh di kolam. Walaupun Mahāvagga Theravāda memuat peraturan ini, namun tidak disebutkan sebagai perbedaan yang dimaksud oleh Purāṇa.

Gavāmpati merupakan bhikkhu yang menyendiri dan menolak ketika diundang untuk mengikuti persamuhan. Menurut Mahāsāṅghika ia tidak menyetujui kepemimpinan Mahākassapa, sementara menurut Dulvā (Tibet) adalah karena mengetahui kematiannya tidak lama lagi, maka ia mengirimkan mangkuk dan tiga jubah ke sangha.

Kisah bhikkhu Purāṇa dan Gavāmpati ini menunjukkan perbedaan pendapat paling awal mengenai Dhamma-Vinaya.



VI. Brahmadaṇḍa

Sepertinya ini hanya ada di tradisi Mahīśāsaka & Theravāda.
Bareau: “Adalah mudah di sini untuk merekonstruksi versi primitif yang hanya mungkin disisipkan dalam pembacaan sama dari Mahīśāsaka-Theravāda sebelum mereka pecah menjadi dua sekte yang berbeda. Di Kauśāmbī terdapat bhikkhu bernama Caṇḍa atau Channa yang sifat kasar dan pemarahnya meresahkan komunitas.Pada akhir konsili, Ānanda diutus untuk memberitahunya, atas nama sangha, hukuman Brahmadaṇḍa diterapkan terhadapnya. Ketika Ānanda menjelaskan detailnya, yang bersalah merasa tergugah dan segera menjadi Arahant. Pembacaan kemungkinan dibuat oleh komunitas Mahīśāsaka-Theravāda di Kauśāmbī dengan tujuan untuk memberikan dasar kanonikal untuk prosedur Brahmadaṇḍa. Nama sanskrit dari bhikkhu tersebut, Caṇḍa, yang menyatakan kekerasan, kekejaman, tanpa diragukan lagi, pada pembacaan primitif, hanya sebagai julukan, atau setidaknya nama panggilan.”

Palikanon menjelaskan bahwa hukuman dikenakan karena ketika terjadi perdebatan antara para bhikkhu dan bhikkhuni, Channa memihak bhikkhuni; atau menurut komentar Dhammapada karena ia berulang kali mencaci Sāriputta dan Moggallāna, walau sudah diperingatkan.



---

Dari perbedaan mengenai kompilasi kitab suci, kemungkinan besar pada masa konsili pertama belum dilakukan pengategorian berdasarkan Digha, Majjhima, dan seterusnya. Setiap sekte berusaha memasukkan komposisi kanon mereka masing-masing ke dalam narasi konsili pertamanya. Perbedaan ketegori "Khuddaka" sebagai nikaya/agama atau pitaka juga menambah kerumitan. Perbedaan kronologi dan detail lainnya yang kadang sangat jauh juga mengindikasikan pengembangan kisah yang terjadi setelah masa perpecahan sekte. Namun di samping perbedaan-perbedaan, juga terdapat gambaran umum yang sama seperti pertemuan dilakukan segera setelah wafat Buddha, Ananda mencapai Arahatta, dan tuduhan terhadap Ananda. Kemungkinan ini adalah catatan tradisi sangha awal sebelum perpecahan.


Sumber bacaan:
Teitaro Suzuki, The First Buddhist Council, 1904.
J. Przyluski, Le Concile De Rajagrha, 1926.
André Bareau, Les premiers conciles bouddhiques, 1955.
Erich Frauwallner, The Earliest Vinaya and the Beginnings of Buddhist Literature, 1956.
C.S. Prebish, A Review of Scholarship on The Buddhist Councils, 1974.
La Valée Poussin, The Buddhist Councils, 1976.
Amarnath Thakur, Buddha and Buddhist Synods in India and Abroad, 1996.
Anālayo, The Dawn of Abhidharma, 2014.


5
Perkenalan / Re: Ingin Mempelaari Buddha Tapi Masih Bingung
« on: 27 February 2019, 02:35:51 PM »
- Di satu sisi jika yang dipercayai Buddha hanyalah hukum karma, dan tidak ada penolong yang bisa menolong diri kita selain diri kita sendiri, mengapa umat Buddha masih memohon dan meminta kepada banyak dewa dan dewi?
ini yang membuat saya bingung,
Sosok dewa atau dewi ini dipercaya memiliki kemampuan di atas manusia walaupun terbatas, bukan mahakuasa. Sama saja seperti kita meminta tolong pada orang lain yang lebih mampu dari kita.


6
Sesuai tagnya, pembahasan ini menggunakan sudut pandang historis, bukan teologis atau tradisi. Historical-criticism adalah pendekatan sekuler yang juga digunakan dalam studi Early Buddhist Texts, di mana semua teks diperlakukan secara netral, non-sektarian, sebagai dokumen sejarah. Post ini bertujuan untuk memberi gambaran sekilas mengenai proses penentuan tanggal (dating) suatu teks kuno.


I. Tradisi

Injil Markus yang merupakan Injil ke 2 dari Kanon Perjanjian Baru, ditulis dalam bahasa Yunani dialek umum (Koine Greek, dari "ἡ κοινὴ διάλεκτος"). Seperti 3 Injil lainnya, Injil ini juga bersifat anonim (penulis tidak memberi informasi mengenai siapa dirinya) dan penyematan "Markus" merupakan Tradisi: dijelaskan oleh Papias dari Hierapolis bahwa Injil ini adalah ditulis oleh Markus, penerjemah dari Petrus. Kutipan Papias (c. 130 CE) ini sekaligus juga menjadi petunjuk batas atas tahun penulisan Injil Markus tidak lebih telat dari 130 CE. Tradisi ini juga kemudian diteruskan misalnya oleh Irenaeus dalam Adversus Haereses bahwa Markus, murid dan penerjemah Petrus sendiri yang mewarisi ajaran Petrus lewat Injil tersebut.

Secara tradisi, mayoritas Patristik (Bapak Gereja) seperti Clement dari Alexandria, Origen, Eusebius, Tertullian, Jerome berpendapat bahwa Injil Markus ini ditulis pada masa Petrus masih hidup. Papias juga berpendapat sama, namun berpendapat bahwa Petrus tidak terlibat langsung dalam penulisannya dan Markus hanya mengandalkan ingatannya. Hanya Irenaeus yang berpendapat bahwa penulisan terjadi setelah Petrus meninggal. Mayoritas Patristik memberikan tahun 38-43 CE.


II. Radiocarbon-dating & Palaeography

Radiocarbon-dating adalah metode penanggalan untuk benda-benda organik yang berdasarkan isotop radioaktif Karbon 14. Secara prinsipnya, semua makhluk hidup mengalami pertukaran atom karbon dengan lingkungan—apakah melalui respirasi ataupun makanan, sehingga proporsi antara atom karbon 12 (non-radioaktif)/karbon 14 (radioaktif) adalah sama dengan lingkungan. Namun ketika makhluk tersebut meninggal, proses tersebut berhenti. Karena Karbon 14 tidak stabil, maka dengan berlalunya waktu akan berubah menjadi Nitrogen 14. Tingkat perubahan Karbon 14 ini adalah konstan, dengan half-life (waktu yang dibutuhkan untuk peluruhan separuh jumlah atomnya) adalah sekitar 5,730 tahun. Perhitungan ini menghasilkan tingkat keyakinan dalam rentang ± 50 tahun {misalkan hasil perhitungannya adalah 100 CE, berarti dalam rentang (100-50) sampai (100+50)}.

Palaeography adalah studi mengenai bentuk tulisan kuno untuk membaca, memecahkan sandi, juga menentukan tanggal dari manuskrip kuno. Tulisan tangan mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Dengan mempelajari tulisan tangan dengan penanggalan yang telah diketahui sebelumnya, perubahannya, maka dapat dibandingkan dengan manuskrip yang belum diketahui penanggalannya. Namun karena kebanyakan orang tidak mengubah kebiasaannya menulis, maka mungkin saja penulis tua dan muda menulis di waktu sama, namun memberikan gaya penulisan yang secara analisis berbeda waktu, maka tingkat keyakinan ini adalah 1 generasi atau sekitar ± 25-35 tahun.

Kedua metode ini dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil independen. Mayoritas hasil dari kedua metode yang dilakukan oleh para ahli profesional adalah sesuai. Namun karena Carbon-dating memerlukan sebagian kecil dari manuskrip untuk diambil (dan dibakar), maka kebanyakan naskah-naskah kuno ini sudah tidak diperbolehkan untuk diuji demikian.

Manuskrip tertua yang memuat salinan Injil Markus adalah P45 dari kumpulan Chester Beatty Papyri, yang dibeli oleh seorang insinyur pertambangan bernama Alfred Chester Beatty pada tahun 1930 di Mesir. P45 (berarti manuskrip dari bahan papirus; 45 adalah urutan penemuannya) memuat Injil Markus pasal 4-9; 11-12 dan penanggalannya sekitar 250 CE.


III. Bahasa

Mengenai penggunaan bahasa, Catholic Encyclopedia menuliskan bahwa Injil Markus
Quote
“memiliki 1,330 kata unik (60 di antaranya nama). Delapan puluh, tidak termasuk nama, tidak terdapat di tempat lain di Perjanjian Baru; namun ini adalah jumlah kecil dibandingkan dengan lebih dari 250 kata-kata unik dari Injil Lukas. Kata-kata yang ditemukan hanya sekali di PB (apax legomena) sedikit, namun seringkali luar biasa, langka di bahasa Yunani belakangan (eiten, paidiothen, dengan istilah sehari-hari seperti kenturion, xestes, spekoulator), dan dengan transliterasi seperti korban, taleitha koum, ephphatha, rabbounei (cf. Swete, op. cit., p. xlvii). Dari kata-kata khas Markus, sekitar seperempat non-klasik, sementara di Matius atau Lukas, proporsinya hanya sekitar sepertujuh (cf. Hawkins, "Hor. Synopt.", 171). Secara keseluruhan, perbendaharaan kata-kata dari Markus menunjukkan bahwa penulis sebagai orang asing yang mengenal baik bahasa Yunani sehari-hari, namun lumayan asing dengan penggunaan bahasa literal.”


Khas lain dari Injil Markus adalah Latinism (pengaruh bahasa Latin ke dalam Yunani) yang cukup signifikan. Robert Gundry (Mark: A Commentary on His Apology for the Cross, pp 1043-1044) memberi perincian kata individual:
Quote
“... (μόδιον = modius [4:21]; χόρτος = herba in the sense of a blade of grass [4:28]; λεγιών = legio [5:9, 15]; αἰτία = causa [5:33 v.1.]; σπεκουλάτωρ = speculator [6:27]; δηνάριον = denarius [6:37]; ξέστης = sextarius [7:4]; κη̂νσος = census [12:14]; κοδράντης = quadrans [12:42]; φραγελλόω = fragello [15:15]; πραιτώριον = praetorium [15:16]; κεντυρίων = centurio [15:39, 44, 45]), turns of phrase (ο̒δὸν ποιει̂ν = iter facere [2:23]; Ἡρῳδιανοί = Herodiani, like praetoriani [3:6; 12:13]; συμβούλιον ἐδίδουν = consilium dederunt [3:6]; ο̒́ ἐστιν = hoc est [3:17; 7:11, 34; 12:42; 15:16, 42]; ἐσχάτως ἔχει = in extremis esse [5:23]; εἰ̂πεν δοθη̂ναι αὐτῃ̂ φαγει̂ν = similar to duci eum iussit [5:43]; πυγμῃ̂ = pugnus [? — 7:3]; ἐκράτησεν = [memoria] tenere [? — 9:10]; κατακρινου̂σιν αὐτὸν θανάτω = capite damnare [? — 10:33]; ει̂χον... ο̒́τι = habere [11:32]; ρ̒απίσμασιν αὐτὸν ἔλαβον = verberibus eum acceperunt [14:65]; συμβούλιον ποιήσαντες = consilium capere [15:1]; τὸ ι̒κανὸν ποιη̂σαι = satisfacere [15:15]; τίθεντες τὰ γόνατα = genua ponentes [15:19]) ...”

Kata-kata ini berkenaan dengan militer, yudisial, dan ekonomi, yang memang menyebar-luas seiring Roma mengembangkan pengaruhnya, dan memang muncul pada literatur Aramaic dan Ibrani belakangan. Karakteristik ini mengarahkan pada hipotesis bawa Injil Markus ditulis di Roma, Syria, atau Galilea.

Bas van Iersel (Mark: A Reader-Response Commentary) mengemukakan dua Latinism lainnya yaitu sintaksis/penyusunan kalimat yang berbeda di bahasa Yunani di mana akusatif/datif umumnya mengikuti kata kerjanya, dan sebaliknya berlaku di Latin. Urutan Latin ini terjadi 37 kali dalam Injil Markus, kontras dibandingkan dengan Matius/Lukas yang hanya terjadi dua kali saja. Hal lainnya adalah penggunaan kata “ἵνα” seperti “ut” dalam kalimat Latin yang mengikuti kata kerja meminta, mengajak, berbicara, atau memerintah. Terjadi 31 kali dalam Injil Markus, hanya dipertahankan 8 kali dalam Matius, dan 4 kali dalam Lukas. (Sesuai hipotesis yang diterima mayoritas, sebagai sumbernya Matius & Lukas menggunakan Markus, Q [sumber hipotesis lain di mana materi tidak ada di Markus namun ada di Matius & Lukas], serta sumber unik M & L yang tidak ditemukan di injil lainnya.)  Gaya penulisan ini yang menunjukkan kecenderungan penulis menulis di Roma, bukan tempat lainnya, juga kepada audiens non-Yahudi (dilihat dari penjelasan kata-kata Aramaic).


IV. Deskripsi Kondisi Sosial-Politik

Deskripsi dalam pasal 13 merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan penanggalan. Pasal ini mengisahkan ramalan mengenai kemegahan dan hancurnya Bait Allah. Seperti tulisan dengan genre serupa mengenai “ramalan masa depan” dengan berbagai detail yang akan terjadi, yang sebenarnya merupakan tulisan yang ditulis setelah kejadian (ex eventu) namun ditempatkan ke masa sebelumnya, sehingga menjadi ramalan yang terjadi. Penghancuran Bait Allah di Yerusalem terjadi pada tahun 70 CE ketika terjadi perang (besar) pertama antara Yahudi dengan Roma tahun 66-73 CE. Ayat 14 menyebutkan tentang “desolating sacrilege” (Yun: τὸ βδέλυγμα τῆς ἐρημώσεως; Ibr: הַשִּׁקּוּץ מְשׁוֹמֵֽם‬) yang mengutip kitab Daniel 9:27; 11:31; 12:11, yang maksudnya adalah penodaan terhadap hal yang suci. Penghancuran Bait Allah ini diikuti dengan penjarahan isi Bait Allah. Beberapa pendapat mengemukakan hal ini merujuk pada kejadian yang lebih awal: perintah Caligula untuk membangun patung dirinya di Bait Allah pada tahun 40 CE. Namun dugaan ini kurang kuat karena Caligula dibunuh duluan sebelum perintahnya dijalankan, juga tidak berhubungan dengan penghancuran Bait Allah itu sendiri. Deskripsi lain yang sesuai adalah mengenai kelaparan yang parah (ayat 8 ) ketika terjadi pengepungan dan banyak warga yang lari ke pegunungan (ayat 14). Persekusi dan pembunuhan karena mengikuti Yesus (ayat 12-13) kemungkinan menggambarkan penindasan Nero (64-68 CE). Berdasarkan pengetahuan penulis Injil Markus mengenai hal ini, maka diperkirakan penulisannya tidak lebih awal dari masa hancur atau menjelang hancurnya Bait Allah, 68-70 CE.

Posisi kaum Farisi dalam Injil Markus juga digambarkan sebagai pihak yang berpengaruh dan mayoritas adalah anakronistik, sementara menurut sumber-sumber lain pada masa sebelum hancurnya Bait Allah, kekuatan politik kaum Yahudi didominasi oleh Saduki yang bertanggungjawab atas operasional Bait Allah, mendukung pemerintahan Romawi dan terbuka akan pengaruh Hellenistik. Setelah hancurnya Bait Allah ini, kaum Saduki hilang tidak terdengar lagi, dan kemudian urusan adminstrasi tradisi Yahudi (bukan pemerintahan) diberikan ke kaum Farisi yang kemudian berkembang dan berpengaruh. Hal lain seperti posisi Yesus bahwa "makanan kosher/treif tidak menyucikan/mengotori, namun ucapan seseorang" (7:1-23), menggambarkan posisi doktrin sekte Kr1sten non-Yahudi (Gentile) yang dipimpin oleh Rasul Paulus yang berseberangan dengan penganut tradisi yang dipimpin Rasul Petrus. Hal ini menjadi topik perdebatan dalam Konsili Yerusalem sekitar 50 CE, yang adalah tidak mungkin terjadi jika Injil Markus telah ditulis dan menggambarkan sangat jelas posisi Yesus.


V. Rangkuman & Kesimpulan

  • Secara tradisi gereja, mayoritas menganggap Injil Markus ini ditulis pada saat Petrus masih hidup, oleh sekretaris dan penerjemahnya yang bernama Yohanes Markus pada tahun 38-43 CE.
  • Manuskrip tertua yang ditemukan adalah P45 dengan perkiraan tahun 250 CE
  • Latinism dalam gaya penulisannya, walaupun tidak definitif, cenderung pada penanggalan belakangan di atas 50 CE; ditulis di Roma, dan untuk audiens non-Yahudi
  • Pasal 13 (yang disebut juga “Little Apocalypse”) menggambarkan situasi menjelang penghancuran Bait Allah sekitar 68-70 CE
  • Kisah-kisah Anakronistik lebih menggambarkan penulisan pasca 50 CE ketimbang situasi masa Yesus (20-30 CE)

Berdasarkan analisis di atas, maka mayoritas sejarawan menyimpulkan tahun penulisan Injil Markus sekitar 65-70 CE, berbeda dengan tradisi yang menempatkannya 3 dekade lebih awal. Demikian secara sekilas penanggalan Injil Markus. Silahkan ditanggapi, dilengkapi, dikoreksi, dan dibantah, namun sesuai koridor historis.
Tidak melayani argumen berbasis otoritas tradisi, bersifat teologis, atau hermeneutikal; apalagi debat kusir. Di sini wilayah netral, promosi atau menjelekkan agama apapun adalah terlarang.


7
Diskusi Umum / Re: Tradisi India dan Bumi Bulat
« on: 26 November 2018, 02:52:52 PM »
Sedikit pendahuluan, Tulisan ini memiliki kesamaan dari sumber lain yang juga menggunakan penggeseran istilah "parimandala", dan dari sumber yang sama juga, yaitu Satapatha Brahmana; juga nuansa apologetic yang kental. Klaim dari aneka pihak religius dengan format "ilmu modern X sudah ada di kitab Y, Z tahun sebelum Sains menemukan" adalah hal yang sangat umum ditemukan. Bagi orang awam yang asing dengan studi literatur historis ataupun sains, prinsip logika sederhana dapat dipakai untuk menguji kebenarannya, yaitu merumuskan pertanyaan berikut:

1. Jika sudah dituliskan Z tahun sebelumnya, apakah ada aplikasi teknologi tersebut dalam masyarakat tempat teknologi itu ditemukan? Contoh: jika ada klaim "listrik ditemukan 3000 tahun lalu di wilayah tertentu, apakah kemudian ada aplikasi apapun yang berkenaan dengan listrik misalnya lampu, blender, atau mesin bentuk sederhana apapun?
Jika teknologi abad modern dikatakan telah ditemukan oleh pihak tertentu di masa lampau tapi kehidupan masyarakat tersebut tidak terimbas dari penemuan tersebut dan tetap seperti jaman batu, kemungkinan besar adalah klaim semata.

2. Jika sudah dituliskan, apakah ada dampak terhadap kehidupan dan budaya di sana pada waktu itu, dalam bidang lain, misalnya penggambaran dalam kesenian; bahasan dalam literatur lain yang merespon "penemuan" tersebut; atau misal dalam hal klaim geodesy seperti tulisan di atas, kemudian muncul pengukuran diameter dunia, pemetaan benua dan samudra, penjelasan iklim dan musim, perbedaan zona waktu, dan lain-lainnya.
Jika pengetahuan dikatakan telah diketahui oleh pihak tertentu di masa lampau, tapi tidak ada reaksi dan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan apapun, tidak memicu sebuah kemajuan dalam bentuk apapun, maka kemungkinan besar juga itu hanya klaim belaka.


Parimaṇ­ḍala

Sepertinya istilah mandala adalah umum dan merujuk pada bentuk lingkaran. Bagi yang asing dengan istilah ini, silahkan baca-baca.

Bagaimana dengan parimandala? Apakah berbeda? Dalam DN 30. Lakkhanasutta terdapat istilah ini:
"...nigrodha­parimaṇ­ḍalo hoti, yāvatakvassa kāyo tāvatakvassa byāmo yāvatakvassa byāmo tāvatakvassa kāyo..."
"...His proportions have the symmetry of the banyan-tree: the length of his body is equal to the compass of his arms, and the compass of his arms is equal to his height..."
Penjelasan di sini adalah panjang kedua tangan terentangkan adalah sama dengan tinggi badannya. Di sini jelas bahwa yang disinggung adalah proyeksi dua dimensi seperti dalam Vitruvian Man oleh Leonardo da Vinci (perhatikan bahwa proporsi nigrodhaparimandala yang adalah ciri manusia besar adalah berbeda dengan Vitruvian Man yang mewakili orang kebanyakan). Jika parimandala di sini diseret ke bahasan 3 dimensi menjadi bentuk bola, tentu dapat dibayangkan seorang Buddha memiliki proporsi seperti Pac-man, yang sepertinya amat sangat kecil kemungkinannya.

Dalam Vinaya, Sekkhiya, juga ada istilah ini, saya tidak yakin persisnya, namun sepertinya merujuk pada jubah yang dipakai membalut/melingkari tubuh secara menyeluruh. Kalau ada yang bisa info, silahkan bantu.

Istilah ini bukanlah khas Buddhis. Dalam tradisi Jainisme, misalnya postur tubuh demikian adalah salah satu dari 6 jenis ukuran simetri tubuh yang disebabkan oleh samsthana nama-karma.[1] Dijelaskan bahwa bagian atas tubuh berkembang sempurna, namun bagian bawah tidak, sehingga kaki dan lengan memiliki panjang yang sama. (Ini yang memberikan gambar lebih jelas mengenai perbedaan Vitruvian Man dan Lakkhanasutta.) Dalam Tradisi Hindu, postur demikian dianggap sebagai tanda manusia luar biasa.[2]

Aneka teks mengenai seni dan desain dalam Shilpa Sastra membahas bentuk ini, dan menurut Wisdomlib,  Dharma-saṃgraha (section 34) karya Nagarjuna memasukannya ke salah satu dari 20 bentuk objek.

Singkat kata, seperti mandala, istilah parimandala merujuk pada bentuk lingkaran, bukan bola.

Bagaimana dengan istilah "Bhugolo"? Benar, itu adalah bola dan disebutkan dalam Surya Siddhanta, literatur abad 3-4 Masehi. Namun tidak istimewa sebab 500 tahun sebelumnya, di dunia Hellenistik sudah ada bahkan usaha perhitungan keliling bumi. Juga, walaupun menggambarkan bumi secara bulat, namun menggunakan prinsip geosentris di mana bumi adalah diam, dan matahari dan bulan yang mengelilingi. 
Secara singkat bisa dibaca sejarah perkembangan ide bumi bulat.


[1] J. Jaini. Outline of Jainism. Cambridge University Press. p.34
[2] J. Roy. Theory of Avatāra and Divinity of Chaitanya. Atlantic Publishers & Distributors (P) Limited.



Matahari tenggelam di satu bagian, maka terbit di bagian lain

Untuk yang awam dengan kosmologi India kuno (Hindu, Jain, Buddhis), bisa baca-baca tentang gunung Mahameru dulu. Ini adalah gunung sebagai pusat dari dunia yang berbentuk piring. Dalam kosmologi Buddhis setiap cakkavala terdiri dari Mahameru sebagai pusatnya, lalu dikelilingi pegunungan yang lebih kecil dan hutan, kemudian samudera luas. Di piringan bagian utara Mahameru terdapat benua Uttarakuru, sedangkan di selatan, barat, dan timur ada Jambudīpa, Aparagoyāna, dan Pubbavideha. Benua ini adalah mengambang di atas permukaan air seperti dijelaskan dalam DN 16. Air tidak tumpah ke luar angkasa karena setiap cakkavala dibatasi pegunungan melingkar yang menutup samudera, cakkavālasilā. Silahkan baca di sini untuk lengkapnya, sekaligus sumber rujukan.

Sumber paralel dari Abhidharma Sarvastivada lebih detail menggambarkan mengenai struktur ini. Bagi yang berminat bisa buka di sini, hal. 45 untuk bab dunia, atau hal. 49 untuk langsung lihat gambarnya. Di sini kita bisa lebih jelas mengapa matahari terbit di satu tempat berarti tenggelam di tempat lain: karena terbenam di balik Mahameru.

Itu juga menjelaskan frasa "candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā" dalam AN 3.80 yang mengatakan bulan dan matahari (di sini digabung dalam kata majemuk/dvandva) mengelilingi (Mahameru). Sejauh jangkauan cahayanya itulah adalah satu "sistem dunia". Proporsi besar matahari dan bulan yang hampir sama besar itu juga dikuatkan dalam Visuddhimagga (VII.44) yang menyebutkan lingkar bulan adalah 49 Yojana dan matahari 50 Yojana. Hanya selisih 2% saja. Menurut sains modern, radius matahari sekitar 696 ribu KM, 40.000% lebih besar dari bulan yang hanya sekitar  1.7 ribu KM saja.



Bonus: suara merambat di angkasa luar

Saya tertarik membahas bagian ini sebab polanya sering ditemukan: 

1. Kitab suci mengatakan sesuatu yang secara pengetahuan adalah tidak mungkin.
Kitab suci: Buddha bisa memperdengarkan suara sampai ke 1000 dunia.
Sains: suara tidak merambat di vakum.

2. Cari pembenaran yang mirip dan judulnya sepertinya mendukung argumen:
* Menurut headline Telegraph sepertinya menggambarkan adanya suara (musik) di angkasa yang didengar Astronot Apollo 10.

* Menurut headline gizmodo ada suara di luar angkasa.

3. Masukkan link dengan headline yang sepertinya mendukung, sehingga membenarkan kitab suci.
--

Menurut saya, jika penulis tidak paham apa isi berita tersebut dan bagaimana mekanisme gelombang suara di ruang angkasa, maka bisa dinilai penulis tersebut adalah orang yang lompat pada kesimpulan tanpa paham isi sumber yang dicantumkannya. Tetapi jika penulis paham isi berita tersebut dan menggiring opini dengan headline berita, maka penulis tersebut adalah seorang penipu. 


[TL;DR] Headline 1: yang didenger di radio astronot adalah interference/gangguan gelombang;
Headline 2: gelombang suara normal terendah yang kita dengar: panjang gelombang 17m, osilasi 20x dalam 1 detik, sementara di ruang angkasa panjang gelombang hitungan tahun cahaya, osilasi 1x dalam jutaan tahun.

Saran untuk pembaca: Bacalah yang kritis, tidak membuta dalam menerima/menolak.



8
Diskusi Umum / Re: Anak Indigo Indonesia
« on: 01 November 2018, 09:21:51 AM »
Alo temen2,

Dari banyak anak Indigo yg asal Indonesia apa benar Roy Kiyoshi itu yang istilahnya paling tinggi tingkatnya? Dikatakan karna dia bukan cuma bs melihat kehidupan lampau tapi juga melihat masa depan, dan juga bisa menolong serta mencari solusi utk org2.

Apa temen2 disini ada yang pernah punya pengalaman ketemu anak Indigo buddhis/ Roy? Bagaimana pengalaman anda?
Yang disebut Indihome indigo ini pernah berikan peringatan atau solusi konkret objektif misalnya melapor rencana teroris ke polisi, meramal gempa Palu/Donggala jauh sebelum kejadian, atau menunjuk masalah di JT 610 sebelum terbang? Atau hanya sebatas misalnya menjodohkan jomblo?
Maaf sebelumnya, karena tidak pernah nonton.

9
Theravada / Re: Kontrasepsi dan agama Buddha
« on: 01 November 2018, 09:12:40 AM »
haha

kalau definisi pembunuhan diperluas sampe ke mencegah kehidupan baru muncul, orang pakai kondom sudah bunuh jutaan makhluk dong.

Yang ditanya di sini sudah terjadi pembuahan (yang jika ada kesadaran yang sesuai maka sudah menjadi makhluk, menurut Buddhis) dan dinding rahimnya sengaja dikondisikan untuk tidak bisa menampung si makhluk tersebut.

Jadi dibedakan antara kondom yang mencegah pembuahan (tidak terjadi makhluk di sini) dengan mengondisikan rahim agar zygote (yang bisa saja adalah makhluk jika ada kesadaran sesuai) tidak dapat berkembang.


10


knpa di window 10 sacheng multi language...bisa keluar cacing ? ada yg ngalamin atao kenapa toh ? :o :o :o
Itu emang spammer nyasar dari 'dunia lain', bukan komputernya 3K.

11
Theravada / Re: Anapanasati = vayo kasina; anapanasati = vipassana
« on: 27 December 2017, 09:58:37 AM »
Langkah keempat anapanasati berbunyi:  Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’
Di sini padanan Agama nya menyebutkan 'Aku akan menarik/menghembuskan nafas dengan menghentikan bentukan jasmani’
Menurut komentar tradisi Theravada (Visudhimagga) maupun Sarvastivada (Mahavibhasa), langkah keempat ini menunjuk pada pencapaian jhana keempat di mana bentukan jasmani (yaitu napas masuk dan keluar) lenyap.
Pertanyaannya: bagaimana mungkin bisa bermeditasi pada objek napas jika napasnya udah lenyap? Komentar menjelaskan: walaupun napas berhenti, namun tanda/ciri napas masuk keluar sudah digenggam dalam pikiran dan tanda itulah yang menjadi objeknya.

Selengkapnya bisa dibaca di buku Mindfulness in Early Buddhism: https://books.google.co.id/books?id=aAl9AgAAQBAJ&pg=PA73&lpg=PA73&dq=how+mindfulness+on+breathing+lead+to+jhana&source=bl&ots=mmnnXjkgX4&sig=NDBY3SDb5d788tGrE2LyRWwC0CA&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiAhp-t56bYAhXCto8KHYXVD8kQ6AEIZTAJ#v=onepage&q&f=false
Info yang menarik.  :jempol:
Buat saya ini tetap tidak menjawab masalah karena berarti awalnya dia memusatkan perhatian pada objek satu (nafas keluar-masuk), kemudian tiba2 pindah ke objek lain ('tanda' nafas yang bukan nafas itu sendiri). Tapi saya cukup puas juga dengan bahasannya. Thanks.

12
Theravada / Re: Anapanasati = vayo kasina; anapanasati = vipassana
« on: 26 December 2017, 09:55:53 AM »
Dalam EA 17.1 yang merupakan padanan MN 62 dalam Ekottarika Agama, dikatakan setelah menjalankan instruksi anapanasati dari Sang Buddha, Rahula mencapai jhana2 melalui latihan anapanasati dan menjadi seorang Arahant....

Terlepas dari "menurut sutta, Anapanasati bisa masuk jhana" yang tak perlu diperdebatkan lagi oleh orang-orang normal, sebetulnya soal kondisi anapanasati di jhana 4 ini menarik juga sebab mengacu pada AN.9.31 (anupubbanirodhasutta), nafas berhenti di jhana 4. Objek konsentrasinya tidak ada lagi, lalu apa yang terjadi?

13
Studi Sutta/Sutra / Re: Tentang Sotapanna (Koreksi kalau salah)
« on: 15 December 2017, 11:30:13 AM »
sulit meyakinkan anda.saya dengar anda tidak takut bhaya kamma.namun jika bisa jgn spread.banyak orang yg tidak mengerti jadi ikut kena bhaya kamma krn support anda.
Kalau berbuat hal yg menimbulkan bhaya kamma, jgn cari pendukung kmd bhaya kamma ditanggung bersama.




Setelah "danda" dan "bhaya", saya sungguh antusias menunggu -10 untuk penjelmaan anda selanjutnya, kira-kira istilah apa yang akan muncul berikutnya. Boleh diberikan bocoran, teaser, trailer sedikit?



14
Buddhisme Awal / Re: Tahun Wafat Buddha
« on: 13 December 2017, 12:17:16 PM »
Beda jauh dgn link yg dikasi xeno dan kk
Chingik menuliskan artikel dari Master Sheng Yen yang menggunakan Samantapasadika sebagai basisnya, sehingga selalu didapatkan sekitar tahun 560SM.  Artikel itu juga ada menyinggung Samayabhedoparacanacakra tapi langsung mementahkannya kembali dengan dasar terlalu jauh dengan acuan Samantapasadika:

Quote
Master Yinshun juga mengutip dari Biografi Asoka, “Setelah seratus tahun Buddha wafat, raja Pataliputra bernama Asoka.” Kemudian ia juga mengutip dari kitab Risalah Delapan Belas Sekte (十八部論) , “Setelah Buddha wafat selama 160 tahun, di kota Pataliputra, saat itu Raja Asoka menguasai Jambudvipa.” Master Yinshun sendiri dan Ono Genmyo dan Ui Hakuju dari Jepang sama-sama mengacu pada Risalah Delapan Belas Sekte untuk menghitung tahun wafat Buddha. Yang juga berarti bahwa ketika Raja Asoka naik tahta pada tahun 266 SM, ditambah dengan 116 tahun, maka merupakan tahun wafat Buddha. Ditambah dengan usia Buddha 80 tahun, maka tahun 462 SM baru merupakan tahun kelahiran Buddha. Tapi ini malah melampaui satu abad dibandingkan dengan catatan Samantapasadika dari Buddhis Selatan.
 


Xeno menyertakan catatan mistik yang merupakan tradisi, bukan sejarah. Seperti catatan tradisional lainnya, angkanya bisa sangat fantastis namun tentu tidak masuk akal secara sejarah. Namun informasi ini tetap berguna untuk menambah wawasan tentang aneka perhitungan tahun kelahiran Buddha.


15
Buddhisme Awal / Re: Tahun Wafat Buddha
« on: 13 December 2017, 12:08:40 PM »
Dari sumber-sumber Sarvastivada, Samayabhedoparacanacakra (T 2032. 十八部論 & 2033. 部執異論) di India, terdapat berbagai variasi 116, dan 160 tahun sejak Buddha  wafat sampai jaman Asoka, jadi didapat 386 dan 368 BC. Perhitungan ini disebut Short Chronology. Ditinjau dari 5 generasi pewaris vinaya, jarak waktu yang lebih pendek ini lebih masuk akal ketimbang 218 tahun. Secara arkeologis, tahun belakangan ini juga lebih mendukung karena terdapat berbagai tempat yang dikatakan dikunjungi oleh Buddha baru dibangun belakangan. G. Erdosy yang meninjau dari ekonomi moneter juga memberi hipotesis iklim politik yang digambarkan adalah lebih belakangan daripada 400 BC.

Jadi, ini penghitungan yang terbaik yah? 🤔
Sejauh belum ditemukan lainnya, maka short chronology lebih didukung bukti arkeologis ketimbang long chronology, walaupun secara pastinya tetap tidak bisa diketahui akurasinya.


Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 569