//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - seniya

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 221
1
Buddhisme Awal / Re: Asal manusia dalam ajaran budha
« on: 27 December 2019, 10:34:56 AM »
Mau tanya aja nih
Menurut buddhis, asal mula manusia itu dari mana ya?

“Para bhikkhu, saṃsāra ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan. Titik pertama tidak terlihat oleh makhluk-makhluk yang berkelana dan mengembara yang terhalangi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh ketagihan.

~ SN 15 Anamatagga Samyutta

2
Perkenalan / Re: Penyerahan Masa Remaja
« on: 29 November 2018, 07:14:29 AM »
Itu sptnya tradisi Tridharma (Konghucu), bukan tradisi Buddhis krn tdk ada istilah tsb dlm Buddhis

3
Diskusi Umum / Re: Tradisi India dan Bumi Bulat
« on: 26 November 2018, 03:24:19 PM »
Sedikit pendahuluan, Tulisan ini memiliki kesamaan dari sumber lain yang juga menggunakan penggeseran istilah "parimandala", dan dari sumber yang sama juga, yaitu Satapatha Brahmana; juga nuansa apologetic yang kental. Klaim dari aneka pihak religius dengan format "ilmu modern X sudah ada di kitab Y, Z tahun sebelum Sains menemukan" adalah hal yang sangat umum ditemukan. Bagi orang awam yang asing dengan studi literatur historis ataupun sains, prinsip logika sederhana dapat dipakai untuk menguji kebenarannya, yaitu merumuskan pertanyaan berikut:

1. Jika sudah dituliskan Z tahun sebelumnya, apakah ada aplikasi teknologi tersebut dalam masyarakat tempat teknologi itu ditemukan? Contoh: jika ada klaim "listrik ditemukan 3000 tahun lalu di wilayah tertentu, apakah kemudian ada aplikasi apapun yang berkenaan dengan listrik misalnya lampu, blender, atau mesin bentuk sederhana apapun?
Jika teknologi abad modern dikatakan telah ditemukan oleh pihak tertentu di masa lampau tapi kehidupan masyarakat tersebut tidak terimbas dari penemuan tersebut dan tetap seperti jaman batu, kemungkinan besar adalah klaim semata.

2. Jika sudah dituliskan, apakah ada dampak terhadap kehidupan dan budaya di sana pada waktu itu, dalam bidang lain, misalnya penggambaran dalam kesenian; bahasan dalam literatur lain yang merespon "penemuan" tersebut; atau misal dalam hal klaim geodesy seperti tulisan di atas, kemudian muncul pengukuran diameter dunia, pemetaan benua dan samudra, penjelasan iklim dan musim, perbedaan zona waktu, dan lain-lainnya.
Jika pengetahuan dikatakan telah diketahui oleh pihak tertentu di masa lampau, tapi tidak ada reaksi dan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan apapun, tidak memicu sebuah kemajuan dalam bentuk apapun, maka kemungkinan besar juga itu hanya klaim belaka.


Parimaṇ­ḍala

Sepertinya istilah mandala adalah umum dan merujuk pada bentuk lingkaran. Bagi yang asing dengan istilah ini, silahkan baca-baca.

Bagaimana dengan parimandala? Apakah berbeda? Dalam DN 30. Lakkhanasutta terdapat istilah ini:
"...nigrodha­parimaṇ­ḍalo hoti, yāvatakvassa kāyo tāvatakvassa byāmo yāvatakvassa byāmo tāvatakvassa kāyo..."
"...His proportions have the symmetry of the banyan-tree: the length of his body is equal to the compass of his arms, and the compass of his arms is equal to his height..."
Penjelasan di sini adalah panjang kedua tangan terentangkan adalah sama dengan tinggi badannya. Di sini jelas bahwa yang disinggung adalah proyeksi dua dimensi seperti dalam Vitruvian Man oleh Leonardo da Vinci (perhatikan bahwa proporsi nigrodhaparimandala yang adalah ciri manusia besar adalah berbeda dengan Vitruvian Man yang mewakili orang kebanyakan). Jika parimandala di sini diseret ke bahasan 3 dimensi menjadi bentuk bola, tentu dapat dibayangkan seorang Buddha memiliki proporsi seperti Pac-man, yang sepertinya amat sangat kecil kemungkinannya.

Dalam Vinaya, Sekkhiya, juga ada istilah ini, saya tidak yakin persisnya, namun sepertinya merujuk pada jubah yang dipakai membalut/melingkari tubuh secara menyeluruh. Kalau ada yang bisa info, silahkan bantu.

Istilah ini bukanlah khas Buddhis. Dalam tradisi Jainisme, misalnya postur tubuh demikian adalah salah satu dari 6 jenis ukuran simetri tubuh yang disebabkan oleh samsthana nama-karma.[1] Dijelaskan bahwa bagian atas tubuh berkembang sempurna, namun bagian bawah tidak, sehingga kaki dan lengan memiliki panjang yang sama. (Ini yang memberikan gambar lebih jelas mengenai perbedaan Vitruvian Man dan Lakkhanasutta.) Dalam Tradisi Hindu, postur demikian dianggap sebagai tanda manusia luar biasa.[2]

Aneka teks mengenai seni dan desain dalam Shilpa Sastra membahas bentuk ini, dan menurut Wisdomlib,  Dharma-saṃgraha (section 34) karya Nagarjuna memasukannya ke salah satu dari 20 bentuk objek.

Singkat kata, seperti mandala, istilah parimandala merujuk pada bentuk lingkaran, bukan bola.

Bagaimana dengan istilah "Bhugolo"? Benar, itu adalah bola dan disebutkan dalam Surya Siddhanta, literatur abad 3-4 Masehi. Namun tidak istimewa sebab 500 tahun sebelumnya, di dunia Hellenistik sudah ada bahkan usaha perhitungan keliling bumi. Juga, walaupun menggambarkan bumi secara bulat, namun menggunakan prinsip geosentris di mana bumi adalah diam, dan matahari dan bulan yang mengelilingi. 
Secara singkat bisa dibaca sejarah perkembangan ide bumi bulat.


[1] J. Jaini. Outline of Jainism. Cambridge University Press. p.34
[2] J. Roy. Theory of Avatāra and Divinity of Chaitanya. Atlantic Publishers & Distributors (P) Limited.



Matahari tenggelam di satu bagian, maka terbit di bagian lain

Untuk yang awam dengan kosmologi India kuno (Hindu, Jain, Buddhis), bisa baca-baca tentang gunung Mahameru dulu. Ini adalah gunung sebagai pusat dari dunia yang berbentuk piring. Dalam kosmologi Buddhis setiap cakkavala terdiri dari Mahameru sebagai pusatnya, lalu dikelilingi pegunungan yang lebih kecil dan hutan, kemudian samudera luas. Di piringan bagian utara Mahameru terdapat benua Uttarakuru, sedangkan di selatan, barat, dan timur ada Jambudīpa, Aparagoyāna, dan Pubbavideha. Benua ini adalah mengambang di atas permukaan air seperti dijelaskan dalam DN 16. Air tidak tumpah ke luar angkasa karena setiap cakkavala dibatasi pegunungan melingkar yang menutup samudera, cakkavālasilā. Silahkan baca di sini untuk lengkapnya, sekaligus sumber rujukan.

Sumber paralel dari Abhidharma Sarvastivada lebih detail menggambarkan mengenai struktur ini. Bagi yang berminat bisa buka di sini, hal. 45 untuk bab dunia, atau hal. 49 untuk langsung lihat gambarnya. Di sini kita bisa lebih jelas mengapa matahari terbit di satu tempat berarti tenggelam di tempat lain: karena terbenam di balik Mahameru.

Itu juga menjelaskan frasa "candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā" dalam AN 3.80 yang mengatakan bulan dan matahari (di sini digabung dalam kata majemuk/dvandva) mengelilingi (Mahameru). Sejauh jangkauan cahayanya itulah adalah satu "sistem dunia". Proporsi besar matahari dan bulan yang hampir sama besar itu juga dikuatkan dalam Visuddhimagga (VII.44) yang menyebutkan lingkar bulan adalah 49 Yojana dan matahari 50 Yojana. Hanya selisih 2% saja. Menurut sains modern, radius matahari sekitar 696 ribu KM, 40.000% lebih besar dari bulan yang hanya sekitar  1.7 ribu KM saja.



Bonus: suara merambat di angkasa luar

Saya tertarik membahas bagian ini sebab polanya sering ditemukan: 

1. Kitab suci mengatakan sesuatu yang secara pengetahuan adalah tidak mungkin.
Kitab suci: Buddha bisa memperdengarkan suara sampai ke 1000 dunia.
Sains: suara tidak merambat di vakum.

2. Cari pembenaran yang mirip dan judulnya sepertinya mendukung argumen:
* Menurut headline Telegraph sepertinya menggambarkan adanya suara (musik) di angkasa yang didengar Astronot Apollo 10.

* Menurut headline gizmodo ada suara di luar angkasa.

3. Masukkan link dengan headline yang sepertinya mendukung, sehingga membenarkan kitab suci.
--

Menurut saya, jika penulis tidak paham apa isi berita tersebut dan bagaimana mekanisme gelombang suara di ruang angkasa, maka bisa dinilai penulis tersebut adalah orang yang lompat pada kesimpulan tanpa paham isi sumber yang dicantumkannya. Tetapi jika penulis paham isi berita tersebut dan menggiring opini dengan headline berita, maka penulis tersebut adalah seorang penipu. 


[TL;DR] Headline 1: yang didenger di radio astronot adalah interference/gangguan gelombang;
Headline 2: gelombang suara normal terendah yang kita dengar: panjang gelombang 17m, osilasi 20x dalam 1 detik, sementara di ruang angkasa panjang gelombang hitungan tahun cahaya, osilasi 1x dalam jutaan tahun.

Saran untuk pembaca: Bacalah yang kritis, tidak membuta dalam menerima/menolak.




 :jempol: :jempol: :jempol:

4
Diskusi Umum / Tradisi India dan Bumi Bulat
« on: 26 November 2018, 08:17:07 AM »
Copas tulisan dari FB:

Quote from: Eka Wirajhana
Ketika Tradisi India membantai TUHAN "agama Langit"

Di Satapatha Brahmana, Yajnavalka [900-800 SM] menyampaikan bahwa bumi berbentuk pari-mandala atau seluruhnya bulat [SB 7.1.1.37: "ayaṃ vaí loko gā́rhapatyaḥ parimaṇḍalá u vā́ ayáṃ lokáḥ/dunia ini adalah Gārhapatya, dunia ini seluruhnya bulat tak diragukan lagi"], bentuk matahari seluruhnya bulat/pari-mandala [SB 9.1.2.40: "asau va ādityo hŕ̥dayaṃ ślakṣṇá eṣá ślakṣṇaṃ hŕ̥dayam parimaṇḍalá eṣá parimaṇḍalaṃ/matahari dan inti matahari halus, inti halus matahari seluruhnya bulat, Ia (matahari) seluruhnya bulat] matahari mengikat planet-planet [SB 8.7.3.10: "tadasāvāditya imāṃlokāntsūtre samāvayate tadyattatsūtraṃ vāyuḥ/kemudian di sana matahari mengikat planet-planet ke dirinya dengan ikatan. ikatan ini sama dengan vayu (getar/gerak/tarik/angin)"]. Arti "mandala" = lingkaran, bentuk putaran/lengkungan yang membulat.[1]

Penggunaan kata "mandala" juga terdapat di teks Buddhis Hinayana/Theravada, misal "pathavimaṇḍala" (SNP 5.1, AN 7.62, SN 3.25, DN 21, DN 5), "jāṇumaṇḍala" (AN 5.196, AN 4.21, DN 14), "nalāṭamaṇḍala" (SNP 3.7, MN 91, 92, DN 3) dan "mandalāgga/maṇḍal’āgra". Arti mandalaagra = pedang/golok berbentuk lengkung membulat. Kata "Pathavi" = bumi/daratan; "jāṇu" = lutut; "nalāṭa" = dahi. Jadi, objek 3 dimensi ini (bumi, lutut dan dahi) bentuknya lengkung membulat

Selain kata "mandala", juga digunakan kata "gola"/bola dan "cakra"/lingkaran untuk menunjukan suatu benda yang berbentuk bulat [2], misal:

"Cakrācāsaħ pariņaham pŗthivyā"/Orang-orang berdiam di sekeliling permukaan bumi [Rig Veda 1.33.8]
"Madhye samantāņđasya bhūgolo vyomni tisthati"/Di tengah jagat/Brahmanda, Bulatan bumi berdiam kokoh di ruang angkasa [Surya Sidhantha 12.32, 1000 SM]
"Bhūgolaħ sarvo vŗttaħ"/Bola Bumi bulat di sekelilingnya [Astronom Indian, Aryabhatta (476 M), Aryabhattiyam, Golapada, sloka ke 6]
"Paňca mahābhūtam ayastrārāgaņa paňjare mahigolah"/5 element menyebabkan bumi di ruang angkasa seperti bola besi tergantung di dalam kandang [Astronom India, Varahamihirä, Abad ke-6 M, Pancha Sidhanthika, Bab 13-sloka 1]

Bahwa bumi berbentuk bulatan tampaknya sudah merupakan pengetahuan umum di India. misalnya lewat penjelasan ahli matematik India, Bhaskarachrya, 1150 M, dalam bukunya, “Leelavathi” yang menjawab pertanyaan seorang gadis cilik bernama Leelavathi:

"Apa yang matamu lihat bukanlah realitas. Bumi tidaklah datar seperti yang kau lihat. Ia Bulat. Ketika kau menggambarkan lingkaran besar dan dilihat dari ¼ lingkaran, engkau akan melihat suatu garis lurus. Namun sebenarnya lengkungan. Sama juga dengan Bumi adalah berbentuk bulat"

Juga bahkan diketahui bahwa bumi BEROTASI dan MENGELILINGI MATAHARI:

"ahastā yad apadī vardhata kṣāḥ śacībhirvedyānām śuṣṇaṃ pari pradakṣiṇid/bumi tanpa tangan dan kaki, dengan kekuatan tertentu bergerak berputar kearah kanan sekitar matahari".(ahasta = tanpa tangan; apadi = tanpa kaki; śacībhirvedyānām = tahu dengan kekuatan tertentu; Kshaa = Bumi (Nigantu 1.1); Vardhat = bergerak; Shushnam Pari = Sekitar matahari; Pradakshinit = memutar ke kanan) [Rig Veda 10.22.14]

Aitareya Brahmana [3] menyampaikan bahwa di saat yang sama, ketika matahari bersinar di suatu tempat, maka di tempat lain di belahan lainnya adalah malam hari:

"Atha yad enam prātar udetīti manyante rātrer eva tad antam itvā atha ātmānaṃ viparyasyate, ahar eva avastāt kurute rātrīm parastāt. Sa vai esha na kadācana nimrocati. Na ha vai kadācana nimrocaty etasya ha sāyujyaṃ sarūpatāṃ salokatām aśmute ya evaṃ veda" ["Matahari tidak pernah terbenam maupun terbit. Ketika manusia berpikir bahwa matahari tengah terbenam, Ia hanya tampak berubah (viparyasyate). Setelah sampai di penghujung siang dan membuat malam di bawah dan siang di sisi yang lainnya. Kemudian ketika manusia berpikir matahari terbit di pagi hari, Ia tampak berubah sendiri, setelah mencapai penghujung malam dan membuat siang di bawah dan malam di sisi lainnya. Sebenarnya Matahari tidaklah pernah tenggelam. Siapapun yang tahu ini bahwa matahari tidak pernah terbenam, Ia menikmati persatuan dan kesamaan alami dengannya dan berdiam di alam yang sama"]

Dalam Kitab komentar Sumangala Vilāsinī/DA, karya Buddhagosa, abad ke-5 M:

Ketika matahari terbit di Jambudipa adalah waktu jaga malam ke-2 [22.00-02.00] di Aparagoyāna. Ketika matahari terbenam di Aparagoyana adalah saat tengah malam di Jambudipa. Siang hari di Jambudipa, adalah ketika matahari terbenam di Pubbavideha dan tengah malam di Uttarakuru [DPPN: DA III.868]

Veda tampaknya tahu bahwa terdapat banyak matahari, misal: "kati agnayaḥ kati sūryāsaḥ/Berapa jumlah Api dan Matahari?" [Rig Veda 10.88.18], "sapta diśo nānāsūryāḥ/7 arah banyak matahari" [RV 9.114.3]. Tradisi India, tampaknya telah tahu tentang area semesta yang gelap yang tidak dapat ditembus cahaya, juga tentang suara dapat merambat di angkasa luar dan terdapat triliunan galaxy, serta variasi bentuk galaxy, sekurannya nampak dalam kitab Buddhism:

Area gelap Semesta yang tidak tembus cahaya:
"antara batasan loka (lokantarikā), tanpa udara (aghā), luas/tak berbatas (asaṃvutā), gelap (andhakārā), gelap gulita (andhakāratimisā), dimana cahaya matahari2 bulan2 yang sangat kuat-perkasa tak dapat menjangkau (yatthapimesaṃ can­dima­sūriyā­naṃ evaṃ­ma­hiddhi­kā­naṃ evaṃma­hā­nubhā­vā­naṃ ābhā nānubhonti)" [SN 56.46; AN 4.127; MN 123; DN 14] -> area tidak berpenghuni di antara sahassadhāloka

Suara dapat merambat di angkasa luar dan triliunan galaksi:
“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke 1000 sistem dunia (sahassilokadhātuṃ).’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya? [4]”

“Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Tathāgata adalah tidak terukur (appameyyā)

sejauh, Ananda, (Yāvatā, ānanda,) matahari-rembulan membawa kesekitar, menjelajahi arah cahayanya (candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā) sejauh 1000 dunia (tāva sahassadhā loke). 1000 dunia ini terdapat 1000 rembulan, 1000 matahari, 1000 raja pegunungan Sineru, 1000 Jambudīpa, 1000 Aparagoyāna, 1000 Uttarakuru, 1000 Pubbavideha, dan 1000 4 mahasamudra (alam asura); 1000 4 raja dewa, 1000 para deva yang dipimpin oleh 4 raja dewa, 1000 Tāvatiṃsa, 1000 Yāma, 1000 Tusita, 1000 para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, 1000 para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, 1000 alam brahmā. Inilah Ananda yang disebut 1000 dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu) [5]

Ananda, 1000 dunia kecil sejauh 1000 dunia ini (sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "dvisahassī majjhimikā lokadhātu".

Ananda, 1000 dunia menengah sejauh 1000 dunia (dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "tisahassī mahāsahassī lokadhātu".

Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat menyampaikan suara-Nya (saranena) hingga di Tisahassi mahasahassi lokadhatu [AN 3.80/culanika sutta]

Ragam bentuk semesta:
"..Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, "Para Murid Buddha, system dunia memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu.." [Avatamsaka Sutra, bab 4. Perkembangan sutra mahayana sekitar konsili ke-3, 247 SM, terjemahan ke bahasa China mulai abad ke-2 M]

--

Ketika tuhan agama langit kr****n dan islam mengklaim diri super benar, menyatakan bahwa bumi itu datar, diciptakan duluan dari langit, siang malam baru ada beberapa waktu kemudian setelah terciptanya matahari dan bulan, malah mengatakan bahwa bintang sebagai alat pelempar setan dan seterusnya, kemudian, memaksakan seluruh dunia harus tunduk menyembahNYA, maka ini adalah suatu tindakan TIDAK TAHU DIRI, karena bahkan Tradisi INDIA (dan YUNANI), pengetahuan para manusia telah jauh mengalahkan pengetahuan tuhannya kr****n dan islam.

----
Note:

[1] Lihat juga: https://insa.nic.in/writereaddata/UpLoadedFiles/IJHS/Vol33_3_1_SCKak.pdf dan http://www.keplersdiscovery.com/Ancients.html

[2] Sanskrit-English, William Monier: bhūgola: -gola m. 'earth-ball', the terrestrial globe. BhP. -vidyā f. knowledge of the terrestrial globe, geography MW. bhūcakra: -cakra n. 'earth-circle', the equator or equinoctial line. Arti "bhu" = bumi dan "gola" = bulatan, globe, globular, bola

[3] Aitareya Brahmana, abad ke-9/8 SM, III.44, Translasi Dr Haug, di kutip di "Indian Wisdom", Monier Williams, 1893, Ed.4, Ch.2, hal.35: https://books.google.co.id/books?id=CgBAAQAAMAAJ&pg=PA35#v=onepage&q&f=false atau juga di AB 4.29

[4] bukti suara dapat merambat di angkasa luar: https://www.telegraph.co.uk/news/science/space/12169511/Nasa-releases-recording-of-strange-space-music-heard-by-Apollo-10-astronauts.html . Untuk penjelasan: https://gizmodo.com/there-actually-is-sound-in-outer-space-1738420340 dan https://www.forbes.com/sites/startswithabang/2017/05/03/there-is-sound-in-space-thanks-to-gravitational-waves/#296aa9c64049

[5] Sahassilokadhātuṃ = sahassī cūḷanikā lokadhātu: 1000 alam Brahma beserta ribuan alam di bawahnya. Dvisahassilokadhātuṃ = Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu: 1000 x 1000 = 1.000.000. Tisahassiloka-dhātuṃ = Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000

Gimana pendapat teman2? Apakah benar kitab2 kuno India sudah mengetahui bumi itu bulat (bola) sebelum sains modern menemukannya?

5
Diskusi Umum / Re: Anak Indigo Indonesia
« on: 26 November 2018, 08:08:05 AM »
Alo temen2,

Dari banyak anak Indigo yg asal Indonesia apa benar Roy Kiyoshi itu yang istilahnya paling tinggi tingkatnya? Dikatakan karna dia bukan cuma bs melihat kehidupan lampau tapi juga melihat masa depan, dan juga bisa menolong serta mencari solusi utk org2.

Apa temen2 disini ada yang pernah punya pengalaman ketemu anak Indigo buddhis/ Roy? Bagaimana pengalaman anda?

Kalo dia bisa melihat masa depan, kenapa dia gak memperingatkan org2 akan terjadi gempa di Palu?

6
Sains / Re: All About Astronomy
« on: 08 August 2018, 09:10:16 AM »
1.Apa yg dimaksud dengan planet sirkumbinari? Apakah Ada kehidupan disana?

Silahkan baca link yg diberikan di atas.

Quote
2. Syarat apa yg harus dipenuhi suatu planet dapat ditinggalin makhluk hidup? Sehingga dikatakan hanya bumi yg cocok buat tempat tinggal manusia?

Salah satunya harus berada di zona laik huni dr bintang induknya, yaitu daerah yg tdk terlalu dekat jg tdk terlalu jauh dr bintang induknya sehingga suhunya pas utk mendukung kehidupan di sana. Selain itu planetnya harus berupa planet batuan, yg komposisi penyusunnya batuan spt bumi, bukan planet gas raksasa spt Saturnus, Yupiter dst. Dan memiliki atmosfer yg kandungan gas yg mendukung kehidupan (O2)

Quote
3. Sirius punya bintang katai? Itu berarti dia mengorbit bersama 1 bintang "teman" yg berekor? Apakah namanya?

Sirius A adalah sebuah bintang deret utama dengan kelas spektrum A0 atau A1 dan memiliki massa sekitar 2,1 Matahari.[26][27] Pasangannya, Sirius B, adalah bintang yang sudah berevolusi dari deret utama menjadi katai putih. Kedua bintang ini mengorbit satu sama lain pada jarak sekitar 20 AU (hampir sama dengan jarak Matahari dan Uranus) dengan periode orbit mendekati 50 tahun.
https://id.wikipedia.org/wiki/Sirius

Quote

4. Bagaimana Kita membedakan planet Dan bintang dengan Mata telanjang?

Cahaya bintang tampak berkelap-kelip, sedangkan cahaya planet cenderung tidak berkelap-kelip. Letak bintang sangat jauh dari Bumi sehingga cahaya yang tiba di permukaan Bumi sudah sangat lemah dan mudah terganggu turbulensi udara di atmosfer. Turbulensi udara ini bisa membiaskan atau membelokkan cahaya sehingga cahaya bintang tampak berkelap-kelip.
Sedang cahaya dari planet cenderung lebih stabil karena planet lebih dekat sehingga cahaya yang sampai di permukaan Bumi "lebih banyak". Gangguan turbulensi udara di atmosfer juga tak terlalu berpengaruh.

Quote
5. Bagaimana pengaruh konstelasi bintang2 di langit terhadap kehidupan di bumi? Apakah hanya gerhana Dan purnama yg mempengaruhi kehidupan bumi? Pengaruhnya karena apa, gravitasi atau medan magnet???
Thanks😎

Konstelasi bintang gak ada pengaruh bagi kehidupan manusia. Pengaruh bulan terhadap kehidupan manusia juga dlm hal terjadinya pasang surut

7
Sains / Re: All About Astronomy
« on: 20 June 2018, 10:36:06 AM »
Hi TS, nanya dong
1. Bagaimana penjelasan fenomena jumlah matahari yg lebih dari 1 alias bisa 3, atau lebih?

Di alam semesta terdapat sistem bintang biner (kembar/ganda) di mana dua bintang saling mengitari satu sama lain, contohnya bintang terdekat dengan matahari kita, yaitu Alpha Centauri sebenarnya merupakan sistem bintang kembar (sebenarnya sistem Alpha Centauri terdiri dari 3 bintang, tetapi bintang ketiga Proxima Centauri berukuran kecil dan jaraknya agak jauh dari kedua bintang Alpha Centauri A & B dan masih diselidiki apakah bintang ketiga tsb mengeliling kedua bintang lainnya)

Jika ada planet yg mengelilingi sistem bintang ganda ini, maka penghuni planet tsb akan melihat 2 matahari di langitnya. Planet yg mengeliling 2 bintang/matahari ini disebut planet sirkumbinari.

Selengkapnya:
http://astro-indonesia.blogspot.com/2008/04/mengenal-bintang-ganda.html
https://langitselatan.com/2016/06/15/planet-sirkumbinari-terbesar-yang-mengorbit-bintang-ganda/

Quote
2. Fenomena bulan Dan Venus dalam 1 garis lurus apakah hanya bisa dinikmatin pada bulan syawal menurut kalender Muslim ataukah dinikmatin waktu bulan2 Juni juli??
Tidak, jadwalnya bisa berubah2 tergantung gerak planet, bumi, dan bulan.

Quote
Bagaimana astrologi astronomi menjelaskan fenomena itu?

Dalam bidang astronomi, konjungsi dapat diartikan dengan kedudukan planet (misalnya venus), bumi , dan matahari akan berada di garis lurus atau sejajar dengan sudut 0 derajat. Konjungsi juga melibatkan baik satu maupun lebih dari satu objek di tata surya dan objek yang lebih jauh seperti bintang. Untuk konjungsi bulan-venus, berarti bumi, venus dan bulan berada dalam satu garis lurus sehingga di langit tampak bulan dan venus berdekatan.

Quote
3. Apakah syarat terlihatnya summer triangle di langit malam?

Thanks

Summer triangle bisa terlihat jika menjelang musim panas di belahan bumi utara (daerah 4 musim) atau di Indonesia dapat terlihat sekitar bulan Juli s/d Oktober

8
Dīrghāgama 12
Kotbah tentang Tiga Kelompok

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Śrāvastī di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍada, bersama-sama dengan perkumpulan besar dari seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu. Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan mengajarkan kalian Dharma yang mulia, yang maknanya memiliki rasa kemurnian di mana kehidupan suci diberkahi dengannya, yaitu tiga kelompok Dharma. Dengarkanlah, perhatikan dengan seksama dan ingatlah apa yang akan kuajarkan pada kalian.” Kemudian para bhikkhu mendengarkan untuk menerima ajaran itu.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Satu kelompok dalam tiga hal: Satu hal yang membawa pada tujuan yang buruk, satu hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan satu hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

1) “Apakah satu hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, tanpa belas kasih dan menyimpan kebencian dalam pikiran. Ini disebut satu hal yang membawa pada tujuan yang buruk.

“Apakah satu hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, tidak menanam kebencian terhadap makhluk-makhluk hidup dalam pikiran. Ini disebut satu hal yang membawa pada tujuan yang baik.

“Apakah satu hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, dapat berusaha dengan tekun berlatih perhatian terhadap jasmani. Ini disebut sebagai satu hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

2) “Selanjutnya, dua hal yang membawa pada tujuan yang buruk, dua hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan dua hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah dua hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, yang pertama adalah pelanggaran moralitas, kedua adalah pandangan salah.

“Apakah dua hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, yang pertama adalah memiliki moralitas, kedua adalah memiliki pandangan [benar].

“Apakah dua hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, yang pertama adalah ketenangan, kedua adalah pandangan terang.

3) Selanjutnya, tiga hal yang membawa pada tujuan yang buruk, tiga hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan tiga hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah tiga hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, tiga akar tidak bermanfaat: akar tidak bermanfaat dari nafsu, akar tidak bermanfaat dari kebencian, dan akar tidak bermanfaat dari delusi.

“Apakah tiga hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, tiga akar bermanfaat: akar bermanfaat dari tanpa nafsu, akar bermanfaat dari tanpa kebencian, dan akar bermanfaat dari tanpa delusi.

“Apakah tiga hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, tiga konsentrasi: konsentrasi pada kekosongan, konsentrasi pada tanpa-tanda, dan konsentrasi pada tanpa-nafsu.

4) “Selanjutnya, empat hal yang membawa pada tujuan yang buruk, empat hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan empat hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah empat hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, berkata dengan keinginan, berkata dengan kebencian, berkata [apa yang menyebabkan] ketakutan, dan berkata dengan delusi.

“Apakah empat hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, berkata tanpa keinginan, berkata tanpa kebencian, berkata [apa yang] tidak [menyebabkan] ketakutan, dan berkata tanpa delusi.

“Apakah empat hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, empat penegakan perhatian: penegakan perhatian pada jasmani, penegakan perhatian pada perasaan, penegakan perhatian pada pikiran, dan penegakan perhatian pada objek-objek pikiran.

5) “Selanjutnya, lima hal yang membawa pada tujuan yang buruk, lima hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan lima hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah lima hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, melanggar lima aturan moralitas: membunuh, mencuri, melakukan perbuatan seksual yang salah, berkata bohong, dan meminum minuman keras.

“Apakah lima hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, menjalankan lima aturan moralitas: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan seksual yang salah, tidak berkata bohong, dan tidak meminum minuman keras.

“Apakah lima hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, lima indria: indria keyakinan, indria semangat, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan.

6) “Selanjutnya, enam hal yang membawa pada tujuan yang buruk, enam hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan enam hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah enam hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, enam jenis ketidakhormatan: tidak menghormati Sang Buddha, tidak menghormati Dharma, tidak menghormati Sangha, tidak menghormati moralitas, tidak menghormati konsentrasi, dan tidak menghormati ayah dan ibu sendiri.

“Apakah enam hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, enam jenis penghormatan: menghormati Sang Buddha, menghormati Dharma, menghormati Sangha, menghormati moralitas, menghormati konsentrasi, dan menghormati ayah dan ibu sendiri.

“Apakah enam hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, enam perenungan: perenungan terhadap Sang Buddha, perenungan terhadap Dharma, perenungan terhadap Sangha, perenungan moralitas, perenungan kedermawanan, dan perenungan terhadap para dewa.

7) “Selanjutnya, tujuh hal yang membawa pada tujuan yang buruk, tujuh hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan tujuh hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah tujuh hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perbuatan seksual yang salah, berbohong, mengatakan ucapan memecah belah, berkata kasar, dan berkata omong kosong.

“Apakah tujuh hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, tidak membunuh, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan perbuatan seksual yang salah, tidak berbohong, tidak mengatakan ucapan memecah belah, tidak berkata kasar, dan tidak berkata omong kosong.

“Apakah tujuh hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, tujuh faktor pencerahan: faktor pencerahan perhatian, faktor pencerahan penyelidikan fenomena, faktor pencerahan semangat, faktor pencerahan ketenangan, faktor pencerahan konsentrasi, faktor pencerahan sukacita, dan faktor pencerahan keseimbangan.

8) “Selanjutnya, delapan hal yang membawa pada tujuan yang buruk, delapan hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan delapan hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah delapan hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, delapan praktek salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah.

“Apakah delapan hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, pandangan benar duniawi, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

“Apakah delapan hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

9) “Selanjutnya, sembilan hal yang membawa pada tujuan yang buruk, sembilan hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan sembilan hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah sembilan hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, sembilan jenis kekesalan: seseorang telah menyinggung dan membuatku kesal, sedang menyinggung dan membuatku kesal, atau akan menyinggung dan membuatku kesal; ia telah menyinggung dan membuat kesal mereka yang kusayangi, sedang menyinggung dan membuat kesal mereka, dan akan menyinggung dan membuat kesal mereka; ia telah mengasihi mereka yang tidak kusukai, sedang mengasihi mereka, atau akan mengasihi mereka.

“Apakah sembilan hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, sembilan jenis ketidakkesalan: ‘Ia telah menyinggungku’ – apakah manfaatnya bagiku menjadi kesal karena hal ini? Demikianlah kekesalan belum muncul, kekesalan tidak muncul saat ini, dan kekesalan tidak akan muncul. “Ia telah menyinggung dan membuat kesal mereka yang kusayangi’ – apakah manfaatnya bagiku menjadi kesal karena hal ini? Demikianlah kekesalan belum muncul, kekesalan tidak muncul saat ini, dan kekesalan tidak akan muncul. ‘Ia mengasihi mereka yang tidak kusukai’ – apakah manfaatnya bagiku menjadi kesal karena hal ini? Demikianlah kekesalan belum muncul, kekesalan akan muncul, dan kekesalan tidak muncul saat ini.

“Apakah sembilan hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, sembilan keadaan sukacita: yang pertama adalah sukacita, kedua adalah belas kasih, ketiga adalah kegembiraan, keempat adalah kebahagiaan, kelima adalah konsentrasi, keenam adalah pengetahuan sebagaimana adanya, ketujuh adalah pelepasan, kedelapan adalah kebosanan, dan kesembilan adalah pembebasan.

10) “Selanjutnya, sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang buruk, sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan sepuluh hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, sepuluh [jalan] perbuatan tidak bermanfaat: [jalan] perbuatan jasmani dari membunuh, mencuri, dan melakukan perbuatan seksual yang salah; [jalan] perbuatan ucapan dari ucapan memecah belah, ucapan kasar, ucapan bohong, dan omong kosong; serta [jalan] perbuatan pikiran dari keserakahan, kebencian, dan pandangan salah.

“Apakah sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, sepuluh [jalan] perbuatan bermanfaat: [jalan] perbuatan jasmani dari tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak melakukan perbuatan seksual yang salah; [jalan] perbuatan ucapan dari tanpa ucapan memecah belah, tanpa ucapan kasar, tanpa ucapan bohong, dan tanpa omong kosong; serta [jalan] perbuatan pikiran dari tanpa keserakahan, tanpa kebencian, dan pandangan benar.

“Apakah sepuluh hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, jalan langsung [berunsur] sepuluh: pandangan benar, kehendak benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar, pembebasan benar, dan pengetahuan benar. Para bhikkkhu, dengan cara ini sepuluh hal ini membawa menuju Nirvāṇa.

“Inilah yang disebut Dharma sejati yang mulia dalam tiga kelompok. Sebagai Tathāgata, aku telah melakukan apa yang seharusnya terhadap perkumpulan para siswa, tanpa pengurangan. Karena pikiran yang perhatian kepada kalian, aku telah menguraikan kotbah tentang sang jalan ini. Adalah untuk kalian sendiri harus memperhatikan diri kalian, kalian seharusnya berdiam di tempat-tempat sunyi, bermeditasi di bawah pepohonan. Janganlah lalai. Jika kalian sendiri tidak mengerahkan usaha sekarang, tidak ada gunanya kelak menyesalinya.”

Para bhikkhu yang telah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Sumber: Terjemahan bahasa Inggris DA 11 dalam Three Chinese Dīrgha-āgama Discourses without Parallels dan DA 12 dalam Summaries of the Dharma: A Translation of Dīrgha-āgama Discourse No. 12 oleh Bhikkhu Anālayo

9

9. “Selanjutnya, sembilan hal yang membawa keberhasilan besar, sembilan hal yang seharusnya dilatih, sembilan hal yang seharusnya dipahami, sembilan hal yang seharusnya dilenyapkan, dan sembilan hal yang seharusnya direalisasikan.

9.1 “Apakah sembilan hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu sembilan faktor pengerahan usaha untuk pemurnian: faktor pengerahan usaha untuk pemurnian moralitas, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian pikiran, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian pandangan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan membedakan [apa yang merupakan sang jalan dari apa yang bukan sang jalan], faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan [pengetahuan dan penglihatan terhadap] sang jalan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan pelenyapan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan kebosanan, dan faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan pembebasan.

9.2 “Apakah sembilan hal yang seharusnya dilatih? Yaitu sembilan hal yang merupakan akar sukacita: yang pertama adalah sukacita [itu sendiri], kedua adalah belas kasih, ketiga adalah kegembiraan, keempat adalah kebahagiaan, kelima adalah konsentrasi, keenam adalah pengetahuan sebagaimana adanya, ketujuh adalah pelepasan, kedelapan adalah kebosanan, dan kesembilan adalah pembebasan.

9.3 “Apakah sembilan hal yang seharusnya dipahami? Yaitu sembilan kediaman makhluk hidup: Terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya dan berbeda persepsinya, seperti beberapa dewa dan manusia – ini adalah kediaman makhluk hidup yang pertama.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya tetapi sama persepsinya, seperti para dewa Brahmā pada waktu mereka pertama kali terlahir – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kedua.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya dan berbeda persepsinya, seperti para dewa Ābhāsvara – ini adalah kediaman makhluk hidup yang ketiga.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk yang sama jasmaninya dan sama persepsinya, seperti para dewa Śubhakṛtsna – ini adalah kediaman makhluk hidup yang keempat.

“[Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup] tanpa persepsi, yang tidak merasakan atau mengetahui apa pun, seperti para dewa tanpa persepsi – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kelima.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah kediaman makhluk hidup yang keenam.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah kediaman makhluk hidup yang ketujuh.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kekosongan – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kedelapan.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kesembilan.

9.4 “Apakah sembilan hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu sembilan hal yang berakar pada ketagihan: bergantung pada ketagihan terdapat pencarian, bergantung pada pencarian terdapat perolehan, bergantung pada perolehan terdapat penggunaan, bergantung pada penggunaan terdapat keinginan, bergantung pada keinginan terdapat kemelekatan, bergantung pada kemelekatan terdapat keirihatian, bergantung pada keirihatian terdapat penjagaan, bergantung pada penjagaan terdapat perlindungan.

9.5 “Apakah sembilan hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu sembilan pelenyapan: Dengan memasuki jhāna pertama, duri suara lenyap. Dengan memasuki jhāna kedua, duri awal dan kelangsungan pikiran lenyap. Dengan memasuki jhāna ketiga, duri sukacita lenyap. Dengan memasuki jhāna keempat, duri napas masuk dan keluar lenyap. Dengan memasuki landasan ruang [tanpa batas], duri persepsi bentuk lenyap. Dengan memasuki landasan kesadaran [tanpa batas], duri persepsi ruang lenyap. Dengan memasuki landasan kekosongan, duri persepsi kesadaran lenyap. Dengan memasuki landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, duri persepsi kekosongan lenyap. Dengan memasuki konsentrasi lenyapnya, duri persepsi dan perasaan lenyap.

10. “Selanjutnya, sepuluh hal yang membawa keberhasilan besar, sepuluh hal yang seharusnya dilatih, sepuluh hal yang seharusnya dipahami, sepuluh hal yang seharusnya dilenyapkan, dan sepuluh hal yang seharusnya direalisasikan.

10.1 “Apakah sepuluh hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu sepuluh perlindungan: Yang pertama adalah ketika seorang bhikkhu memiliki dua ratus lima puluh aturan moralitas dan memiliki perilaku yang layak, dengan melihat pelanggaran kecil yang muncul dalam dirinya dengan penuh ketakutan, ia juga berlatih moralitas dengan pikiran yang tidak cenderung pada kesalahan.

“Kedua adalah memperoleh seorang sahabat baik.

“Ketiga adalah berkata apa yang berimbang dan tepat, dan memiliki kesabaran yang tinggi.

“Keempat adalah mencari Dharma yang baik dan membagikannya [dengan orang lain] tanpa kekikiran.

“Kelima adalah membantu teman-temannya dalam kehidupan suci dalam apa yang harus mereka kerjakan tanpa menjadi lelah, dengan dapat melakukan apa yang sulit dilakukan, dan mengajarkan orang lain melakukannya.

“Keenam adalah terpelajar, dapat mengingat kembali apa yang telah didengar tanpa melupakannya.

“Ketujuh adalah bersemangat dalam melenyapkan keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat dan meningkatkan keadaan-keadaan yang bermanfaat.

“Kedelapan adalah ia sendiri terus-menerus memiliki perhatian yang tidak terbagi, tanpa [terbawa] oleh persepsi yang berbeda-beda, dan [dengan demikian dapat] mengingat aktivitas-aktivitas baik sebelumnya seakan-akan hal tersebut ada di depan matanya.

“Kesembilan adalah sempurna dalam kebijaksanaan, dengan merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena-fenomena, dan melalui disiplin mulia meninggalkan akar duḥkha.

“Kesepuluh adalah menyenangi keterasingan, dengan memperhatikan perhatian yang tidak terbagi dan tanpa kegelisahan dalam bermeditasi.

10.2 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya dilatih? Yaitu sepuluh praktek yang benar: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar, pembebasan benar, dan pengetahuan benar.

10.3 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya dipahami? Yaitu sepuluh landasan materi: landasan mata, landasan telinga, landasan hidung, landasan lidah, landasan badan, landasan bentuk, landasan suara, landasan bebauan, landasan rasa kecapan, dan landasan sentuhan.

10.4 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu sepuluh praktek salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, konsentrasi salah, pembebasan salah, dan pengetahuan salah.

10.5 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu sepuluh hal yang melampaui latihan: pandangan benar yang melampaui latihan, kehendak benar ... ucapan benar ... perbuatan benar ... pencaharian benar ... usaha benar .... perhatian benar ... konsentrasi benar ... pembebasan benar ... dan pengetahuan benar [yang melampaui latihan].

“Para bhikkhu, ini disebut hal-hal yang meningkat satu per satu. Sekarang setelah mengajarkan kalian Dharma dengan cara ini, sebagai Tathāgata aku telah melakukan apa yang seharusnya terhadap para siswaku, di mana kalian semua sekarang telah mengetahuinya. Aku telah mengajarkan kalian demi belas kasih dan perhatian. Kalian seharusnya tekun dan menerimanya dengan hormat. Para bhikkhu, kalian seharusnya berdiam di tempat-tempat sunyi, di bawah pepohonan, di tempat-tempat kosong, dengan bersemangat duduk bermeditasi. Janganlah kalian lalai. Jika kalian tidak mengerahkan usaha sendiri sekarang, apakah manfaatnya menyesalinya kemudian hari? Ini adalah nasihatku, jalankanlah dengan tekun.”

Pada waktu itu para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

10
Studi Sutta/Sutra / DA 11 & 12 (sutra Dirgha Agama tanpa paralel)
« on: 31 May 2018, 08:59:57 AM »
Berikut adalah terjemahan Dirgha Agama kotbah 11 dan 12 yang tidak memiliki padanan Pali:

Dīrghāgama 11
Kotbah Meningkat Satu per Satu

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Śrāvastī di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍada, bersama dengan perkumpulan besar dari seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan mengajarkan kalian Dhamma yang mulia, yang ungkapannya pada awal, pertengahan, dan akhirnya adalah benar keseluruhannya, yang mengandung makna dan diberkahi dengan kemurnian kehidupan suci, yaitu, hal-hal yang meningkat satu per satu. Dengarkanlah dan perhatikan apa yang akan kuajarkan kepada kalian.” Kemudian para bhikkhu menerima pengajaran itu dan mendengarkan.

1. Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Hal-hal yang meningkat satu per satu [adalah sebagai berikut]: satu hal yang membawa keberhasilan besar, satu hal yang seharusnya dilatih, satu hal yang seharusnya dipahami, satu hal yang seharusnya dilenyapkan, dan satu hal yang seharusnya direalisasikan.

1.1 “Apakah satu hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: tidak mengabaikan hal-hal yang bermanfaat.

1.2 “Apakah satu hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: perhatian terus-menerus pada jasmani sendiri.

1.3 “Apakah satu hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: dikontak oleh arus-arus [kekotoran batin]

1.4 “Apakah satu hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu: kesombongan ‘aku’.

1.5 “Apakah satu hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: pembebasan pikiran yang tidak terhalangi.

2. “Selanjutnya, dua hal yang membawa keberhasilan besar, dua hal yang seharusnya dilatih, dua hal yang seharusnya dipahami, dua hal yang seharusnya dilenyapkan, dan dua hal yang seharusnya direalisasikan.

2.1 “Apakah dua hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: memiliki rasa malu dan takut berbuat jahat.

2.2 “Apakah dua hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: ketenangan dan pandangan terang.

2.3 “Apakah dua hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: nama dan bentuk.

2.4 “Apakah dua hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu: ketidaktahuan dan ketagihan terhadap kelangsungan.

2.5 “Apakah dua hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: pengetahuan dan pembebasan.

3. “Selanjutnya, tiga hal yang membawa keberhasilan besar, tiga hal yang seharusnya dilatih, tiga hal yang seharusnya dipahami, tiga hal yang seharusnya dilenyapkan, dan tiga hal yang seharusnya direalisasikan.

3.1 “Apakah tiga hal yang membawa keberhasilan besar? Yang pertama adalah bergaul dengan para sahabat baik, kedua adalah [memasang] telinga untuk mendengarkan Dharma, dan ketiga adalah menjadi terampil dalam Dharma [sesuai dengan] Dharma.

3.2 “Apakah tiga hal yang seharusnya dilatih? Yaitu tiga konsentrasi: konsentrasi pada kekosongan, konsentrasi pada tanpa-tanda, dan konsentrasi pada tanpa-nafsu.

3.3 “Apakah tiga hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, dan perasaan netral.

3.4 “Apakah tiga hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu tiga jenis ketagihan: ketagihan terhadap kesenangan indera, ketagihan terhadap kelangsungan, dan ketagihan terhadap pemusnahan.

3.5 “Apakah tiga hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu tiga pengetahuan: pengetahuan tentang ingatan kehidupan lampau, pengetahuan mata dewa, dan pengetahuan lenyapnya arus-arus [kekotoran batin].

4. “Selanjutnya, empat hal yang membawa keberhasilan besar, empat hal yang seharusnya dilatih, empat hal yang seharusnya dipahami, empat hal yang seharusnya dilenyapkan, dan empat hal yang seharusnya direalisasikan.

4.1 “Apakah empat hal yang membawa keberhasilan besar? Yang pertama adalah berdiam di negeri tengah (madhyadeśa), kedua adalah bergaul dengan para sahabat baik, ketiga adalah pengendalian diri, dan keempat adalah telah menanam akar-akar kebajikan pada masa lampau.

4.2 “Apakah empat hal yang seharusnya dilatih? Yaitu empat penegakan perhatian: Sehubungan dengan jasmani internal seorang bhikkhu merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia; sehubungan dengan jasmani eksternal ia merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia; sehubungan dengan jasmani internal dan eksternal ia merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia. Perenungan perasaan ... pikiran ... dan objek-objek pikiran juga seperti ini.

4.3 “Apakah empat hal yang seharusnya dipahami? Yaitu empat jenis makanan: potongan makanan [dari bahan makanan yang bisa dimakan], makanan kontak, makanan pikiran [yang disertai kehendak], dan makanan kesadaran.

4.4 “Apakah empat hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu empat jenis kemelekatan: Kemelekatan pada kesenangan indera, kemelekatan pada diri, kemelekatan pada aturan moralitas, dan kemelekatan pada pandangan.

4.5 “Apakah empat hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu empat buah pertapaan: buah pemasuk-arus, buah sekali-kembali, buah tidak-kembali, dan buah Kearhatan.

5. “Selanjutnya, lima hal yang membawa keberhasilan besar, lima hal yang seharusnya dilatih, lima hal yang seharusnya dipahami, lima hal yang seharusnya dilenyapkan, dan lima hal yang seharusnya direalisasikan.

5.1 “Apakah lima hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu lima faktor pengerahan usaha: yang pertama adalah keyakinan terhadap Sang Buddha, Sang Tathāgata, arhat, yang memiliki sepuluh gelar; kedua adalah tidak memiliki penyakit, dengan tubuh yang selalu tenang; ketiga adalah jujur tanpa kebengkokan, benar-benar membangkitkan jalan menuju Nirvāṇa dari Sang Tathāgata; keempat adalah memiliki pikiran terpusat yang tidak bingung, [dapat] mengulangi kembali tanpa lupa; kelima adalah terampil dalam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena, dan dengan latihan mulia melenyapkan akar-akar duḥkha.

5.2 “Apakah lima hal yang seharusnya dilatih? Yaitu lima indria: indria keyakinan, indria semangat, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan.

5.3 “Apakah lima hal yang seharusnya dipahami? Yaitu lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati: kelompok jasmani yang dilekati, perasaan ... persepsi ... bentukan .... dan kelompok kesadaran yang dilekati.

5.4 “Apakah lima hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu lima rintangan: rintangan nafsu keinginan indera, rintangan kebencian, rintangan kemalasan dan kelambanan, rintangan kegelisahan dan kekhawatiran, dan rintangan keragu-raguan.

5.5 “Apakah lima hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu lima kelompok yang melampaui latihan (aśaikṣa): kelompok moralitas yang melampaui latihan, kelompok konsentrasi yang melampaui latihan, kelompok kebijaksanaan yang melampaui latihan, kelompok pembebasan yang melampaui latihan, dan kelompok pengetahuan dan penglihatan pembebasan yang melampaui latihan.

6. “Selanjutnya, enam hal yang membawa keberhasilan besar, enam hal yang seharusnya dilatih, enam hal yang seharusnya dipahami, enam hal yang seharusnya dilenyapkan, dan enam hal yang seharusnya direalisasikan.

6.1 “Apakah enam hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: enam prinsip penghormatan. Jika seorang bhikkhu mengembangkan enam prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, yang tidak berbeda dari berlatih sendiri. Apakah enam hal itu? Demikianlah seorang bhikkhu terus-menerus berperilaku dengan cinta kasih (maitrī), dengan melingkupinya pada [teman-temannya] dalam pengembangan kehidupan suci, berkembang dalam pikiran berbelas kasih – ini disebut prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, tidak berbeda dari berlatih sendiri.

“Selanjutnya, seorang bhikkhu berkata dengan cinta kasih ...

“[Selanjutnya], ia berpikir dengan cinta kasih ...

“[Selanjutnya], ia berbagi dengan yang lain barang-barang perlengkapannya sendiri, sampai dengan apa yang tersisa dalam mangkuknya, tanpa menyimpannya dari mereka ...

“Selanjutnya, seorang bhikkhu tidak melanggar aturan moralitas yang dilatih oleh para mulia, tidak melalaikannya dan tanpa noda [sehubungan dengan hal ini], seperti yang dipuji oleh para bijaksana, sepenuhnya diberkahi dengan penegakan aturan moralitas ...

“[Selanjutnya], ia menyempurnakan pandangan benar, yang mulia dan melampaui, dan yang sepenuhnya melenyapkan duḥkha, dengan melingkupi [pikirannya] kepada semua [teman-teman] dalam kehidupan suci – ini disebut prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, tidak berbeda dari berlatih sendiri.

6.2 “Apakah enam hal yang seharusnya dilatih? Yaitu enam perenungan: perenungan terhadap Sang Buddha, perenungan terhadap Dharma, perenungan terhadap Sangha, perenungan terhadap moralitas, perenungan terhadap kedermawanan, dan perenungan terhadap para dewa.

6.3 “Apakah enam hal yang seharusnya dipahami? Yaitu enam landasan internal: landasan mata, landasan telinga, landasan hidung, landasan lidah, landasan badan, dan landasan pikiran.

6.4 “Apakah enam hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu enam jenis ketagihan: ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap suara, ketagihan terhadap bebauan, ketagihan terhadap rasa kecapan, ketagihan terhadap sentuhan, dan ketagihan terhadap objek-objek pikiran.

6.5 “Apakah enam hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu enam pengetahuan yang lebih tinggi: yang pertama adalah pengetahuan lebih tinggi dari kemampuan batin, kedua adalah pengetahuan lebih tinggi dari telinga dewa, ketiga adalah pengetahuan lebih tinggi mengetahui pikiran orang lain, keempat adalah pengetahuan lebih tinggi mengingat kehidupan-kehidupan lampau, kelima adalah pengetahuan lebih tinggi tentang mata dewa, dan keenam adalah pengetahuan lebih tinggi tentang pelenyapan arus-arus [kekotoran batin].

7. “Selanjutnya, tujuh hal yang membawa keberhasilan besar, tujuh hal yang seharusnya dilatih, tujuh hal yang seharusnya dipahami, tujuh hal yang seharusnya dilenyapkan, dan tujuh hal yang seharusnya direalisasikan.

7.1 “Apakah tujuh hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu tujuh jenis harta: harta keyakinan, harta moralitas, harta rasa malu [berbuat jahat], harta rasa takut berbuat jahat, harta pembelajaran, harta kedermawanan, dan harta kebijaksanaan. Ini adalah tujuh jenis harta.

7.2 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: tujuh faktor pencerahan. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan faktor pencerahan perhatian yang bergantung pada kebosanan, bergantung pada lenyapnya, dan bergantung pada keterasingan; ia mengembangkan [faktor pencerahan] [penyelidikan] fenomena ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] semangat ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] sukacita ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] ketenangan ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] konsentrasi ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] keseimbangan yang bergantung pada kebosanan, bergantung pada lenyapnya, dan bergantung pada keterasingan.

7.3 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: tujuh stasiun kesadaran. Jika makhluk-makhluk hidup berbeda jasmaninya dan berbeda persepsinya, [seperti beberapa] dewa dan manusia – ini adalah stasiun kesadaran pertama.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya tetapi sama persepsinya, seperti para dewa Brahmā pada saat pertama kali mereka terlahir – ini adalah stasiun kesadaran kedua.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya tetapi berbeda persepsinya, seperti para dewa Ābhāsvara – ini adalah stasiun kesadaran ketiga.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya dan sama persepsinya, seperti para dewa Śubhakṛtsna – ini adalah stasiun kesadaran keempat.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah stasiun kesadaran kelima.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah stasiun kesadaran keenam.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kekosongan – ini adalah stasiun kesadaran ketujuh.

7.4 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu tujuh jenis kecenderungan tersembunyi: kecenderungan tersembunyi pada ketagihan terhadap kesenangan indera, kecenderungan tersembunyi pada ketagihan terhadap penjelmaan, kecenderungan tersembunyi pada pandangan, kecenderungan tersembunyi pada kesombongan, kecenderungan tersembunyi pada penolakan, kecenderungan tersembunyi pada ketidaktahuan, dan kecenderungan tersembunyi pada keragu-raguan.

7.5 “Apakah tujuh hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: tujuh kekuatan seorang yang telah melenyapkan arus-arus [kekotoran batin]. Demikianlah, seorang bhikkhu yang telah melenyapkan arus-arus memahami dan melihat sebagaimana adanya keseluruhan duḥkha, munculnya, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar [darinya].

“Ia merenungkan kesenangan indera bagaikan lubang yang berapi atau bagaikan sebilah pisau atau pedang, [sehingga ketika] ia mengetahui mengetahui kesenangan indera dan melihat kesenangan indera, ia tidak [memunculkan] nafsu terhadap kesenangan indera dan pikirannya tidak berdiam dalam kesenangan indera. Di sini setelah lebih jauh menyelidikinya dengan baik dan setelah memperoleh pengetahuan sebagaimana adanya, penglihatan sebagaimana adanya, ia tidak membangkitkan nafsu indera di dunia, hal-hal yang jahat dan tidak bermanfaat, dan ia tanpa arus-arus [kekotoran batin].

“Ia mengembangkan empat penegakan perhatian, terus-menerus mengembangkannya dan selalu melatihnya ... lima indria ... lima kekuatan ... tujuh faktor pencerahan ... jalan mulia berunsur delapan, terus-menerus mengembangkannya dan selalu melatihnya.

8. “Selanjutnya, delapan hal yang membawa keberhasilan besar, delapan hal yang seharusnya dilatih, delapan hal yang seharusnya dipahami, delapan hal yang seharusnya dilenyapkan, dan delapan hal yang seharusnya direalisasikan.

8.1 “Apakah delapan hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: delapan sebab dan kondisi untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh. Apakah delapan hal itu?

“Dalam hal ini seorang bhikkhu berdiam bergantung pada Sang Bhagavā, atau bergantung pada seorang guru senior, atau bergantung pada seorang sahabat yang bijaksana dalam kehidupan suci, dan dengan memiliki kasih sayang dan penghormatan [terhadap mereka] ia membangkitkan rasa malu dan takut berbuat jahat – ini adalah sebab dan kondisi pertama untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh.

“Selanjutnya, dengan berdiam bergantung pada Sang Bhagavā ... pada waktu yang tepat ia menanyakan pertanyaan: ‘Apakah makna dari ajaran ini? Bagaimanakah seseorang memunculkannya?’ Sang Bhagavā mengungkapkan kepadanya makna mendalamnya – ini adalah sebab dan kondisi kedua ....

Setelah ia mendengar ajaran itu, jasmani dan pikirannya menjadi gembira dan tenang – ini adalah sebab dan kondisi ketiga ....

“Ia tidak terlibat dalam berbagai pembicaraan yang tidak bermanfaat yang menghalangi sang jalan. Ketika ia tiba di antara perkumpulan [para bhikkhu], ia mengajarkan Dharma sendiri atau ia mengundang yang lain untuk mengajarkannya; namun ia juga tidak mengabaikan keheningan luhur – ini adalah sebab dan kondisi keempat ....

“Ia sangat terpelajar, mengingat tanpa lupa ajaran-ajaran mendalam yang baik pada awalnya, pertengahan, dan akhirnya, yang mengandung makna dan kebenaran, dan diberkahi dengan kehidupan suci; apa yang ia dengar memasuki pikirannya dan pandangannya tidak berubah-ubah – ini adalah sebab dan kondisi kelima ....

“Ia mengembangkan semangat untuk pelenyapan keadaan-keadaan tidak bermanfaat dan setiap hari meningkatkan keadaan-keadaan bermanfaat, ia berusaha dan tetap kokoh, tidak mengabaikan hal-hal [bermanfaat] ini – ini adalah sebab dan kondisi keenam ....

“Selanjutnya, ia mengetahui muncul dan lenyapnya fenomena, melalui kebijaksanaan yang dibangkitkan oleh para mulia, dan dapat melenyapkan duḥkha sepenuhnya – ini adalah sebab dan kondisi ketujuh ....

“Selanjutnya, ia merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, ciri-ciri munculnya dan ciri-ciri lenyapnya: ini adalah bentuk jasmani, ini adalah munculnya bentuk jasmani, dan ini adalah lenyapnya bentuk jasmani; ini adalah perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran, ini adalah munculnya kesadaran, dan ini adalah lenyapnya kesadaran – ini adalah sebab dan kondisi kedelapan untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh.

8.2 “Apakah delapan hal yang seharusnya dilatih? Yaitu [faktor-faktor] jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

8.3 “Apakah delapan hal yang seharusnya dipahami? Yaitu delapan kondisi duniawi: untung dan rugi, tidak terkenal dan terkenal, pujian dan celaan, penderitaan dan kebahagiaan.

8.4. “Apakah delapan hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu delapan [faktor jalan yang] salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah.

8.5 “Apakah delapan hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu delapan pembebasan: dengan memiliki bentuk, seseorang merenungkan bentuk – ini adalah pembebasan pertama; tidak mempersepsikan bentuk secara internal, seseorang merenungkan bentuk secara eksternal – ini adalah pembebasan kedua. Pembebasan melalui kemurnian – ini adalah pembebasan ketiga. Melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi hambatan, seseorang berdiam dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah pembebasan keempat. Melampaui landasan ruang [tanpa batas], seseorang berdiam dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah pembebasan kelima. Melampaui landasan kesadaran [tanpa batas], seseorang berdiam dalam landasan kekosongan – ini adalah pembebasan keenam. Melampaui landasan kekosongan, seseorang berdiam dalam landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi – ini adalah pembebasan ketujuh. Melampaui landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, seseorang berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan – ini adalah pembebasan kedelapan.

11
Theravada / Re: Penyakit yg diturunkan
« on: 07 May 2018, 09:20:30 AM »
Alo temen,

Misalkan kita dilahirkan di keluarga yg memiliki penyakit turunan, penyakit turunan ada banyak sekali jenisnya, jasmani dan jiwa. Contohnya, diabetes, kanker, gangguan kecemasan, dll.

Pertanyaannya, kalo kita terlahirkan di keluarga yg memiliki penyakit turunan. Jika kita suatu hari menikah dan memiliki anak, otomatis penyakit turunan ini akan turun juga ke anak kita, apakah kita berbuat karma buruk? Ada orang berkata lebih baik tdk menikah dan punya anak.

Definisi karma itu kan udah jelas dalam Buddhis, trus tinggal dicek apakah perbuatan tsb termasuk karma dlm definisi Buddhis

12
Theravada / Re: Perbuatan anak dan perbuatan orang tua
« on: 28 April 2018, 08:32:10 AM »
Namo Buddhaya,

Kita sering mendengar kalo seorang anak tidak baik terhadap orang tuanya, anak tersebut melakukan kamma buruk. Yang belum pernah saya dengar adalah bagaimana kalo orang tuanya yang tidak baik dan melakukan perbuatan2 buruk terhadap anaknya. Apakah orang tua tersebut menanam kamma buruk?

Tentu saja, bahkan berbuat buruk kepada org lain yg tdk ada hubungan keluarga jg karma buruk, apalagi sama anak sendiri

13
Theravada / Re: Apakah bisnis restoran mata pencaharian benar?
« on: 23 April 2018, 11:08:31 AM »
Vaṇijjāsuttaṃ

“Pañcimā, bhikkhave, vaṇijjā upāsakena akaraṇīyā. Katamā pañca? Satthavaṇijjā, sattavaṇijjā, maṃsavaṇijjā, majjavaṇijjā, visavaṇijjā — imā kho, bhikkhave, pañca vaṇijjā upāsakena akaraṇīyā”ti. Sattamaṃ.


“Para bhikkhu, seorang umat awam seharusnya tidak terlibat dalam kelima jenis perdagangan ini. Apakah lima ini? Berdagang senjata, berdagang makhluk-makhluk hidup, berdagang daging, berdagang minuman memabukkan, dan berdagang racun. seorang umat awam seharusnya tidak terlibat dalam kelima jenis perdagangan ini.”

14
Buddhisme untuk Pemula / Re: Tanya ? Jawab untuk Pemula
« on: 08 April 2018, 04:18:39 PM »
Terima kasih banyak inputnya  ^:)^ ^:)^ ^:)^
tapi masih mau tanya,maksud dari "secara formalnya" apa ya ?
karena apakah bisa saya mendapatkan surat tanpa mengikut upacara visudhi?. hanya dengan membuat surat pernyataan ke vihara apakah vihara bersedia mengeluarkan surat keterangan bahwa saya pindah agama untuk dilampirkan ke catatan sipil?

Tergantung viharanya ada yg mau mengeluarkan surat keterangan tanpa visuddhi, ada yg gak mau...

Quote
maksud saya bertanya seperti ini karena hall sbb
1. ktp saya jakarta, saya kerja di pedalaman sumatra
2. mau ubah agama di ktp shg perlu surat dari vihara di jakarta, tidak bisa dari vihara di tempat saya bekerja
3. tapi ga bisa ikut acara visudhi pas hari waisak nanti di jakarta , jadi apa bisa ikut kebaktian saja di vihara di daerah saya kerja?. karena disini tidak bisa mengadaka upacara visudhi dengan alasan vihara tidak ada bhikhu/bhante nya.

Mohon petunjuknya  _/\_ _/\_ _/\_

terima kasih.

Kalo gitu terpaksa ambil cuti utk visudhi di jkt aja. IMO....

15
Berikut adalah terjemahan bebas (kata per kata) Samyukta Agama (SA) kotbah 1041 yang merupakan padanan Agama Sutra dari AN 10.177 tentang persembahan kepada leluhur/sanak keluarga yang telah meninggal dunia:

Saṃyuktāgama 1041
生聞
Jāṇussoṇi

如是我聞:
Demikianlah telah kudengar:

一時,佛住王舍城迦蘭陀 竹園。
Suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha di hutan bambu Kalandaka.

時,有生聞梵志來詣佛所,與世尊 面相問訊慰勞已,退坐一面,白佛言:「瞿曇! 我有親族,極所愛念,忽然命終,我為彼故,信 心布施。云何?世尊!彼得受不?」
Pada waktu itu, Brahmana Jāṇussoṇi mendatangi Sang Buddha. Setelah bertukar salam ramah tamah dengan Sang Bhagava, ia duduk pada satu sisi dan bertanya kepada Sang Buddha: “Gotama, aku memiliki sanak keluarga yang sangat disayangi dan telah meninggal dunia. Oleh sebab itu, aku memberikan persembahan dalam upacara sraddha [untuk sanak keluarga yang telah meninggal tersebut]. Bagaimanakah, Gotama? Apakah hal ini bermanfaat atau tidak bermanfaat?”

佛告婆羅門: 「非一向得。若汝親族生地獄中者,得彼地 獄眾生食,以活其命,不得汝所信施飲食; 若生畜生、餓鬼、人中者,得彼人中飲食,不 得汝所施者。婆羅門!餓鬼趣中有一處,名 為入處餓鬼,若汝親族生彼入處餓鬼中者, 得汝施食。」
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Tidak sepenuhnya bermanfaat. Jika sanak keluargamu terlahir kembali di neraka, mempertahankan hidupnya dengan memakan makanan makhluk neraka di sana, maka ia tidak memperoleh manfaat dari persembahan makanan dan minuman yang engkau berikan dalam upacara sraddha. Jika ia terlahir kembali sebagai binatang, hantu kelaparan, dan di antara para manusia, [mempertahankan hidupnya dengan] memakan makanan makhluk tersebut, maka ia [juga] tidak memperoleh manfaat dari persembahan yang engkau berikan. Brahmana, kelahiran kembali di antara para hantu kelaparan terdapat satu alam yang disebut hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya]; jika sanak keluargamu terlahir di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya] itu, maka ia memperoleh manfaat dari persembahan makanan yang engkau berikan.”

婆羅門白佛:「若我親族不生入 處餓鬼趣中者,我信施,誰應食之?」
Brahmana itu bertanya kepada Sang Buddha: “Jika sanak keluargaku tidak terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], siapakah yang akan memakan persembahan sraddha yang kuberikan?”

佛告婆 羅門:「若汝所可為信施親族不生入處 餓鬼趣者,要有餘親族知識生入處餓鬼趣 中者,得食之。」
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Jika  sanak keluarga yang engkau berikan  persembahan sraddha tidak terlahir kembali sebagai hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], masih terdapat sanak keluarga lainnya yang terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya] yang akan menerima persembahan makanan tersebut.”

婆羅門白佛:「瞿曇!若我所 為信施親族不生入處餓鬼趣中,亦無更 餘親族知識生入處餓鬼趣者,此信施食,誰 當食之?」
Brahmana itu bertanya kepada Sang Buddha: “Gotama, jika sanak keluarga yang kuberikan persembahan itu tidak terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], dan juga tidak ada lagi sanak keluarga lainnya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], persembahan makanan sraddha ini, siapakah yang akan memakannya?”

佛告婆羅門:「設使所為施親族知 識不生入處餓鬼趣中,復無諸餘知識生 餓鬼者,且信施而自得其福,彼施者所作 信施,而彼施者不失達嚫。」
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Bahkan jika sanak keluarga yang kuberikan persembahan itu tidak terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], dan juga tidak ada [sanak keluarga] lainnya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan, tetapi persembahan sraddha itu akan berbuah bagi dirinya sendiri, orang yang mengadakan persembahan sraddha itu, pendana itu tidak akan kehilangan [buah dari] pemberian tersebut.”

婆羅門白佛: 「云何施者行施,施者得彼達嚫?」
Brahmana itu bertanya kepada Sang Buddha: “Mengapakah dikatakan orang yang memberikan persembahan itu, pendana itu memperoleh [buah dari] pemberian tersebut?”

佛告婆羅 門:「有人殺生行惡,手常血腥,乃至十不善業 跡……」如淳陀修多羅廣說,「而復施諸沙門、婆 羅門,乃至貧窮、乞士,悉施錢財、衣被、飲食、燈 明、諸莊嚴具。婆羅門!彼惠施主若復犯戒, 生象中者,以彼曾施沙門、婆羅門錢財、衣 被、飲食,乃至莊嚴眾具故,雖在象中,亦得 受彼施報,衣服、飲食,乃至種種莊嚴眾具。
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu, “Terdapat seseorang yang berbuat kejahatan dengan membunuh makhluk hidup, melukai makhluk hidup dengan tangannya, ... [dan seterusnya sampai dengan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat, yang disebutkan dalam Cunda Sutta (SA 1039 = AN 10.176)] berdana kepada para pertapa, brahmana, ... [dan seterusnya sampai dengan] orang-orang miskin, para bhikkhu [dengan memberikan] semua kekayaannya, pakaian, minuman dan makanan, cahaya pelita, dan berbagai hiasan. Brahmana, karena orang yang memberikan dana tersebut telah melanggar moralitas, maka ia terlahir kembali di antara para gajah, [tetapi] karena telah berdana kepada para pertapa dan brahmana [dengan memberikan] kekayaan, pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] berbagai hiasan, bahkan [ketika terlahir kembali] di antara para gajah ia juga memperoleh buah dari pemberian tersebut [berupa] pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] berbagai hiasan.

「若 復生牛、馬、驢、騾等種種畜生趣中,以本施惠 功德,悉受其報,隨彼生處所應受用,皆悉 得之。婆羅門!若復施主持戒,不殺、不盜,乃 至正見,布施諸沙門、婆羅門乃至乞士錢財、 衣服、飲食,乃至燈明,緣斯功德,生人道中, 坐受其報,衣被、飲食,乃至燈明眾具。
“Jika ia terlahir kembali di antara para sapi, kuda, keledai, bagal, dan berbagai jenis binatang lainnya, dengan akar kebajikan dari berdana tersebut ia memperoleh buahnya sesuai dengan tempat kelahiran di mana ia mengalami akibat perbuatannya dan memperoleh semua [benda yang didanakan] itu. Brahmana, jika ia menjalankan moralitas, dengan tidak membunuh, tidak mencuri, ... [dan seterusnya sampai dengan] memiliki pandangan benar, berdana kepada para pertapa, brahmana, ... [dan seterusnya sampai dengan] para bhikkhu [dengan memberikan] kekayaan, pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] cahaya pelita, dikondisikan oleh hal ini ia terlahir kembali di antara para manusia dan menikmati kenikmatan indria dari buah [pemberian]nya [berupa] pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] cahaya pelita [dan] berbagai [hiasan].

「復次,婆 羅門!若復持戒生天上者,彼諸惠施天上受 報,財寶、衣服、飲食,乃至莊嚴眾具。婆羅門!是 名施者行施,施者受達嚫,果報不失。」
“Lebih lanjut, Brahmana, jika melalui pelaksanaan moralitas ia terlahir kembali di alam surga, karena buah perbuatan berdana tersebut ia memperoleh kenikmatan indria surgawi [berupa] kekayaan, pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] berbagai hiasan. Brahmana, ini disebut dengan melakukan praktek berdana, seorang pendana memperoleh [buah dari] persembahannya, tidak akan kehilangan buahnya.”

時,生 聞婆羅門聞佛所說,歡喜隨喜,從坐起去。
Pada waktu itu, setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Brahmana Jāṇussoṇi sangat bergembira. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi [meninggalkan tempat itu].

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 221
anything