Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - hatRed

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 477
1
Maksudnya, apakah dibutuhkan bantuan dalam segi hukum? mungkin ada kenal advokat2 , yg bisa membantu?

2
Topic ini sudah lama sekali, bagaimanakah kelanjutannya? apakah ada info terbaru?

3
Kesehatan / Re: apakah emas dan perak dpt dimakan ?
« on: 25 October 2011, 08:00:58 PM »
rugi bener, tukang sedot wc bisa kaya mendadak tuh :hammer:

4
Jurnal Pribadi / Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« on: 17 October 2011, 04:12:34 PM »
Fangsheng itu seharusnya adalah praktik melepaskan makhluk yang terancam bahaya. Jadi misalnya ada lele menunggu ajal digoreng, kita beli lele itu dan kita lepaskan.

Maaf OOT, jadi FangShen itu adalah praktik penyelamatan makhluk hidup lain yang terancam bahaya yah?

Apakah pelepasan itu perlu? jadi misal ada kucing yang hampir terlindas lalu kita selamatkan, tetapi tidak kita lepas, tapi kita kurung didalam rumah itu termasuk FangShen atau tidak?

Apa FangShen itu harus ada "Penyelamatan Nyawa" AND "Pelepasan" ?

kalo misal Harus, berarti membeli burung sangkar bukan termasuk fangshen yah, karena tidak ada nyawa yg terancam disana sepertinya ???

5
Jurnal Pribadi / Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« on: 17 October 2011, 04:00:10 PM »
Ini tidak bisa dinilai secara mutlak, maka saya mengajak kita semua coba menyelidiki, benarkan kalau kita vegetarian, lalu pembantaian berkurang. Sebaliknya juga cobalah teliti apakah jika seorang vegetarian kemudian makan daging, apakah benar ada penambahan pembantaian. Bisa dicoba dari yang dekat, misalnya pasar atau pedagang penjual ayam/daging. Saya punya beberapa jawaban, tapi lebih 'afdol' kalau orang lain saja yang memberi input.

Hal ini sudah ada contohnya, dalam Negara Islam saya rasa setidaknya tidak ada babi yang diternakan dan dibunuh untuk konsumsi.

note : Walaupun mungkin ada babi yang dibunuh, tentunya misal karena sebagai hama, setidaknya pembunuhan untuk konsumsi lebih banyak daripada dibunuh karena hama.

Nah, misalkan pada suatu saat (walau tidak mungkin, lagipula ini hanya sekedar contoh) nanti di Negara Islam tersebut menghalalkan memakan babi, tentunya akan ada pemakan babi, karena ada pemakan babi, maka kebutuhan akan daging babi meningkat, karena daging babi tidak datang begitu saja, maka perlu ada babi yang dibunuh untuk diambil dagingnya. seiring semakin banyaknya pemakan babi, maka diperlukan banyak babi pula yang dibunuh dan diambil dagingnya, dst sampai ke peternakan.

Jadi kesimpulannya, karena ada yang memakan babi, jadi ada babi yang terbunuh. (walau sekali lagi saya tidak menyimpulkan secara umum, memakan daging harus membunuh makhluk yg punya daging. Tetapi umumnya kita harus membunuh makhluk itu)


Quote
Kalau ayam memang sudah dibunuh dan digoreng, maka dibeli atau tidak oleh si umat, tetap ayamnya sudah mati. Sudah tidak relevan lagi, apalagi terhadap si bhikkhu. Apakah si bhikkhu terima atau tidak, ayamnya tetap sudah mati.

Tapi jika si bhikkhu mengetahui atau minimal menduga bahwa si umat memesan ayam untuknya, yang karena hal tersebut, ada ayam yang kemudian dibunuh/disakiti, maka si bhikkhu memang sudah seharusnya menolaknya, sebab penerimaan hal tersebut berarti menyetujui makhluk dibunuh demi dia. 

Sebetulnya sederhana saja, sama seperti ada gelandangan meninggal, setelah dikremasi, sisa tubuhnya diberikan ke bhikkhu untuk meditasi asubha. Kalau memang demi si bhikkhu meditasi asubha, maka ada umat membunuh (secara langsung atau tidak) agar mayatnya bisa diberikan ke si bhikkhu, maka sudah sepatutnya si bhikkhu tidak menerima 'pemberian' itu.


Mengenai hal ini, sebelum saya bertanya lebih jauh, ada yg perlu penjelasan lebih dari om KK

Mengenai ayam yang sudah mati dan digoreng, mau dibeli atau tidak memang betul ayam itu yah sudah mati.

pertama, saya menelusuri dahulu, bagaimana ada ayam mati dan digoreng yang tau tau ada di pajang oleh penjual. tentunya sang Pembeli yaitu umat itupun tau, Ayam itu dikhususkan dibunuh oleh penjual untuk dibeli oleh pembeli.

Alasan saya mengatakan Ayam itu dikhususkan di bunuh oleh si Penjual untuk dibeli umat (umat menjadi pembeli) adalah :

Kita tilas balik, maksud si penjual. seperti yg saya katakan sebelumnya Si Penjual membutuhkan Uang, Maka dia akan menjual Daging Ayam (bukan membunuh) , bagaimana daging ayam itu diperoleh, yah tentu saja dengan Membunuh Ayam.

Dalam hal ini terlihat membunuh itu adalah syarat dia menjual daging. (Note : Penjual disini saya contohkan penjual langsung yang beternak ayam)

Lalu ada umat yang ingin membeli daging (tentunya dia bisa memilih untuk tidak harus daging) saat dia melihat daging yang dijajakan oleh penjual, tentu saja itu hanyalah seongok daging, tidak terlihat pertumpahan darah disitu.

lalu kembali ke aturan "Pembunuhan Langsung", bila saya sebagai pembeli yang tertarik dengan daging itu, lalu saya bertanya kepada penjual.

"Bang, abang menjual daging ini ke saya apakah abang dengan khusus menyembelih ayam yang abang ternak demi mendapatkan dagingnya sehingga bisa ditawarkan kepada saya?"

kira2 jawaban apa yang diterima si pembeli?
kalau menurut saya tentu jawaban si penjual adalah "Ya" , karena Penjual tersebut tidak ada maksud lain dalam membunuh ayamnya selain untuk mengambil dagingnya dan ditawarkan kepada pembeli.

(nb : walau mungkin ada jawaban "Ohhh tidak dek, saya membunuh Ayam ternak saya karena mereka selalu mengganggu tidur pagi saya, yah daripada dibuang daginggnya, jadi saya jual saja". tetapi hal ini sepertinya terlalu aneh :hammer:  )

Bila Cerita diatas adalah ideal, maka tentunya sudah tidak sesuai dengan aturan tersebut.

Lalu kembali kepada Bhikkhu, Sang Bhikkhu hanya menerima persembahan dari Umatnya, yang ternyata adalah daging ayam. Sang Bhikkhu tentu bisa bertanya,

"Apakan anda (sang Umat) mengkhususkan membunuh Ayam yang mempunyai daging dihadapan saya ini, untuk dipersembahkan kepada saya?"

Sang Umat tentu menjawab tidak, karena tidak ada pembunuhan olehnya, Pekerjaan dia hanya Membeli dan mempersembahkan, tentunya sang Bhikkhu "halal" memakan ayam tersebut. tetapi saya ingin tahu, kira2 bagaimana penilaian sang Bhikkhu saat hadir dalam percakapan Penjual dan Pembeli saat Pembeli bertanya bagaimana daging tersebut bisa ditawarkan ;D

6
Jurnal Pribadi / Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« on: 17 October 2011, 02:22:26 PM »
Betul, memang ada kalanya kita lihat dari manfaat ke bathin kita apakah bermanfaat. Tapi apakah memiliki pandangan salah yang menyebabkan diri lebih tenang, adalah bermanfaat?

saya rasa tidak ada pandangan yang salah, dalam situasi manusia dewasa yang sejak lahir telah diberi makanan non vege. tentunya sangat sulit untuk menjauhkan makanan2 berdaging tersebut dalam menu sehari hari, tanpa diberi pandangan bagaimana makanan mereka diperoleh.

sudah sangat obvious Paha KFC, Ayam Goreng, Bakso Malang, dan lain sebagainya diperoleh dengan merenggut nyawa makhluk hidup. Lain halnya jika dikatakan makanan tersebut diambil dari pemeliharaan binatang ternak, lalu ditunggu meninggal dan baru diolah.

note: saya tidak mengganggap memakan daging adalah kamma/karma buruk karena daging hanyalah objek.

Dengan mengesampingkan seperti pandangan ormas di Indo seperti MUI yang mengharamkan sesuatu berdasar penyalahgunaan, demikian juga kita mengesampingkan bahwa memakan daging adalah akar dari suatu Perbudakan dan Pembunuhan massal Makhluk hidup.

Bagi para peternak selain mereka ingin memakan daging juga, sebenarnya motif mereka adalah uang, jadi para peternak bukan memuaskan nafsu mereka dengan semakin banyak membunuh maka semakin puas mereka.

Menjadi Vege adalah sesuatu yang benar (NOTE : Saat anda bisa memilih) adalah pandangan yang paling tepat menurut saya.

Mungkin akan ada banyak kontroversi mengenai pernyataan, "Menjadi Vege Mengurangi Pembunuhan"

tetapi saya rasa tidak ada yang dapat mengcounter pernyataan "Menjadi Non Vege Menambah Pembunuhan"

Quote
Misalnya di FB kemarin ada yang beranggapan kalau saya makan ayam dari sehari sekali, dikurangi jadi 2 hari sekali, maka nantinya tiap hari terhitung fangsheng 1 ayam.

Ini adalah pendapat yang sangat lucu, karena berarti kalau diet saya adalah ayam, kambing, sapi, ikan, maka ketika hari ini saya makan ayam, saya boleh berbangga hati telah fangsheng kambing, sapi, dan ikan. Kalau besok makan ikan, maka saya fangsheng ayam, kambing, sapi. Menarik sekali pandangan salah ini, bukan? ;D Di pikiran, terdapat 'fangsheng', namun apakah 'fangsheng' bener terjadi?

Saya kurang mengerti makna FangShen sebenarnya, demikian pandangan saya mengenai Fangshen teman FB tersebut

FangShen intinya adalah selain "Merasakan" , Belajar, Melakukan Pelepasan. intinya adalah suatu usaha untuk mengorbankan (dalam arti merelakan) suatu tindakan yang tidak baik dan tidak melakukannya lagi, walaupun hal itu akan merugikannya/menyakitinya secara duniawi(sebagaimana seperti orang yg tidak lulus karena menolak contekan teman dan gurunya).
 
FangShen mungkin suatu tindakan penuh toleransi bagi seorang manusia dalam existensinya dengan Alam (saya menggunakan kata Alam sebagai wakil dari Makhluk2 lainnya)

Jadi bagi teman FB tersebut, dengan merelakan tidak memakan makanan kesukaan dia, maka dia "berharap" keesokannya tidaklah perlu lagi untuk seekor ayam yang dipersiapkan dengan dipelihara, dikandangkan, di bunuh dan juga digoreng untuknya.

memang lucu sih ;D

Quote
Kalau soal non-vege, ini tentu ada yang tidak pantang sama sekali dan ada yang pantang dengan alasan tertentu, misalnya yang menyebabkan pembunuhan langsung seperti aturan dalam Theravada. Lalu konsumsinya sendiri berkenaan dengan nafsu pada citarasa. Makanan apapun baik daging atau non-daging, yang dengannya kita memupuk kemelekatan pada rasa, itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihindari.

Mengenai kemelekatan rasa saya setuju sekali

untuk pandangan Theravada saya punya contoh, seorang bhikkhu yang memakan ayam goreng yang dibeli oleh umatnya lalu dipersembahkan kepada Bhikkhu tersebut, bagaimana hal tersebut dikatakan bukan pembunuhan langsung. Penjual ayam goreng membunuh ayamnya secara khusus untuk dijual kepada pembeli, umat adalah pembeli maka umat membeli dari penjual tersebut.

Sang Bhikkhu memang hanya menerima dan tidak terkait dengan urusan si penjual dan pembeli tadi, dia hanya berurusan dengan Umat saja. Menolak makanan sungguh tidak enak, karena menghalangi perbuatan baik si Umat.

Pertanyaannya bila apa yang dilakukan Umat tersebut pada saat menjadi Pembeli salah, bagaimanakah penilaian seorang bhikkhu seharusnya terhadap pembeli tersebut?

7
Seremonial / Re: selamat ulang tahun koko daimond
« on: 17 October 2011, 09:40:00 AM »
happy bday 8)

8
Jurnal Pribadi / Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« on: 17 October 2011, 09:13:33 AM »
intermezzo, kadang lucu melihat berbagai sikap non vege ;D

mereka kalau makan dada ayam KFC, Gurame asam manis, atau Nasi Campur pasti lahap bener, sampe bilang maknyoss :P

lalu mereka melihat video video tentang bagaimana hewan hewan tersebut dibantai dan diolah menjadi makanan yang disajikan maknyoss tersebut, mereka melihat seakan2 tidak tega, sampai meringiss

tetapi, maknyoss lah makanmah jalan terusss :P

nb: saya termasuk diantara mereka itu :hammer:

9
Jurnal Pribadi / Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« on: 17 October 2011, 09:07:52 AM »
Maaf tau tau nimbrung,

Mengenai Vege saya ada pemikiran sendiri, mungkin sama atau mungkin jg dah di post oleh yg lain

Pertama, saya selalu ingat pemikiran buddhis adalah pemikiran kediri sendiri bukan keluar

jadi saat seseorang memutuskan untuk vege,maka hendaknya keputusan itu didasari dari kepentingannya sendiri. bukan karena faktor luar.

maksud saya, bila kita mengaitkan vege itu mengurangi pembunuhan (mengurangi bukan berarti menghapus semua) maka bisa dikatakan benar. yah walaupun nantinya mungkiin yang dibunuh sama saja, hanya saja dagingnya tidak laku dan dibuang selanjutnya, tetapi kita melihat dalam diri sendiri, "pembunuhan" yang ada dipikiran lah yang berkurang, dan saya rasa itu ada manfaatnya juga.

mengenai yang non vege, kita mesti melihat bagaimana niatan mereka, ada yang makan karena demand ada yang makan karena kemudahan dan lain sebagainya.

saya jg ingat mengenai perumpamaan, bagaimana di lingkungan suku tertentu yang tidak mengenal dhamma mungkin akan melakukan kamma buruk, walaupun hal itu adalah hal lumrah bagi mereka dan tidak dianggap kejahatan. hal itu dinamakan kebodohan batin.

saya rasa juga merupakan suatu kebodohan batin bagi kita, yang mendemand daging untuk konsumsi. alasannya karena dengan "mendemand" berarti kita secara tidak langsung "menyuruh" seseorang memenuhi "demand" kita, dan dengan demikian orang tersebut melakukan karma buruk dengan menangkap makhluk hidup/memperbudak kehidupan makhluk hidup, membunuh makhluk hidup serta tidak mengubur dengan layak makhluk hidup lain.

10
Tolong ! / Re: [help]Bagaimana menghemat bateri notebook ?
« on: 08 October 2011, 11:05:01 AM »
Selama ini , batt gak pernah dicabut
sudah selama 2tahun lebih, dengan perhitungan harikerjaxjamkerja selalu on dengan batt+adaptor.

kermarin setelah kalibrasi baru coba dengan full batt didiamkan saja bisa tahan 1jam-an , tapi kalo sambil kerja palingan cuma 20menit-an, sebelumnya didiamkan saja 20menitan langsung lowbat.


11
Seremonial / Re: Happy Birthday om Indra yang ke-640 tahun
« on: 04 October 2011, 05:41:56 PM »
Happy prosperous bday 8)

gile 640 tahun.

12
Kesehatan / Re: [help]Sebenarnya saya sakit apa, Dok?
« on: 30 September 2011, 03:21:54 PM »
pakai oksigen yang tabung gitu aja.

udah cek paru2 belum? coba minta pendapat dokter. di scan aja.


13
Ulasan Buku, Majalah, Musik atau Film / Re: Dari BUDHA Hingga YESUS
« on: 29 September 2011, 12:33:12 PM »
Ludah tersebut adalah ludah dari seorang Bhikkhuni yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Jadi di sini, Ambhapali menghina seorang arahat, sehingga karma buruknya pun besar.

Kita tidak tau bagaimana persisnya karma bekerja, berapa kali atau berapa berat penderitaan yang akan dialami, dst. Tapi saya setuju bahwa akibat dari perbuatan baik/buruk yang kita lakukan ke orang biasa, adalah berbeda dibandingkan bila perbuatan baik/buruk itu dilakukan ke seorang mulia.

cetana yang muncul kan tidak kepada bhikkhuni yg arahat tersebut.

14
harga berapa (rp) yg dimaksud mahal ?



berry di kebun, pencahaya dgn 30 LED, macro khusus utk bro hatRed
barusan tadi gw photo (malam hari), gimana hasilnya menurut bro ?

hasilnya masih kurang memuaskan, kurang tajam :P

15
Kafe Jongkok / Re: market price....apakah harga bisa lebih MURAH ?
« on: 26 September 2011, 02:29:03 PM »
Masalahnya adalah kita tidak punya alternativ supply


Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 477