Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - junxiong

Pages: [1]
1
Lowongan / Junior Web Developer [Jakarta Barat][31 Agustus 2015]
« on: 08 July 2015, 03:01:48 PM »

Kami dari PT Computesta Digital Indonesia mencari karyawan full time untuk posisi Junior Web Programmer.

Tanggung Jawab
- Bertugas untuk develop Web.
- Memberikan technical support untuk klien.
- Melakukan testing projek Web.
- Melakukan maintenance Web.
- Menulis dokumentasi cara penggunaan Web.


Requirement
- Menguasai PHP dan OOP dalam PHP.
- Mengerti JavaScript terutama jQuery.
- Mengerti CSS2 dan CSS3.
- Memahami Wordpress merupakan nilai lebih.
- Memahami Yii Framework merupakan nilai lebih.
- Memiliki pengalaman developing Web minimal setahun.
- Senang mempelajari hal-hal baru.
- Harap sertakan 3 portofolio terbaik Anda.

Bagi yang tertarik, silahkan kirim CV dan penawaran gaji Anda ke garry [at] computesta.com.
Atau, submit lamaran ke JobStreet di sini: http://jobs.jobstreet.com/id/jobs/1674759/

=Sekilas Mengenai Computesta: ShowHide

Sekilas Mengenai Computesta
Computesta adalah salah satu perusahaan berkembang Web agency yang berpusat di Jakarta. Kami meng-handle projek Web dari Web Corporate hingga projek portal Web skala besar.

Silahkan kunjungi situs kami di http://www.computesta.com untuk info lebih lanjut.  8)

2
Saya habis membaca sutta mengenai Deva Ankura
di sini http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=399.msg6695#msg6695

Karena saya masih kurang bijaksana, membaca sutta itu saya merasakan kesan ketika kita memberikan dana harus pilih-pilih kasih begitu~
Jika misalnya saya melihat seorang pengemis dengan seorang bikkhu yang diduga telah mencapai Arahat,
bukankah sesuai sutta itu saya lebih baik berdana kepada bikkhu itu saja?

Karena dengan berdana sedikit kepada seorang samana yang ladangnya lebih subur, saya mendapatkan hasil yang lebih baik, daripada saya harus berdana kepada orang yang masih penuh nafsu indriya (sang pengemis) dalam sejumlah besar.

Bagaimana pendapat para teman-teman ?  _/\_

3
Buddhisme untuk Pemula / Bagaimana kita bisa tahu jiwa tidak kekal
« on: 09 April 2011, 05:26:19 PM »
Salam semuanya,

Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa jiwa itu tidak kekal?
bagaimana cara membuktikan bahwa jiwa itu tidak kekal?

4
Kesehatan / [ASK] Mata tiba-tiba ada kabut
« on: 05 April 2011, 09:00:42 AM »
Salam untuk semuanya  _/\_,

Mau tanya kepada teman-teman... beberapa hari ini mata saya sebelah kanan tiba-tiba jadi blurred (seperti ada kabut)
saya penasaran apakah ini gara-gara efek samping obat yah? soalnya kemarin mata merah & bengkak, cek ke dokter mata katanya hanya infeksi virus biasa so dikasih tetes Floxa (Ofloxacin) ama obat salep Gentamicin (Gentamicin Sulfat). Penggunaannya 4 kali sehari, sudah pakai semingu, akhirnya dah gak merah2 lagi~

Saya sih curiga gara-gara salepnya, soalnya kalau dipakai emang bakal kabur awal-awal tapi hanya sementara. Belakangan sepertinya dipakai terus menerus malah menetap~ kira-kira ada yang pernah pakai obat itu?

5
Theravada / Pandangan Buddha terhadap Nigantha Nataputta
« on: 04 April 2011, 05:31:27 PM »
Di dalam sutta pernah disinggung seorang petapa bernama Nigantha Nataputta yang seharusnya merupakan petapa Mahavira dari aliran Jainisme. Jika saya melihat riwayat hidup Mahavira yang awalnya sebagai seorang pangeran kemudian pada umur 30 meninggalkan kehidupan duniawi, hidup menjadi petapa sangat mirip dengan kisah pangeran Siddhata. Tidak hanya itu, jika sang petapa Gautama ketika mencapai pencerahan dan menyebut dirinya sebagai Buddha, maka Mahavira ketika mencapai pencerahan menyebutnya sebagai Jina (Dia yang menang).

Berbeda dengan ajaran Buddha, Jina mengajarkan dengan menyiksa diri secara ekstrim barulah dapat terbebas dari samsara. Salah satu contoh ekstrimnya, ketika Mahavira menjadi petapa dia mencabut rambutnya dengan tangan.

Bahkan Jainisme ini sebetulnya sedikit banyak mempengaruhi Buddhisme. Misalnya, dulunya para bikkhu tetap melakukan pindapata pada masa vassa, sedangkan para pengikut Nigantha tidaklah demikian karena takut membunuh makhluk-makhluk kecil. Buddha yang walaupun tidak menerima ekstrimisme tetapi menghormati tradisi ini akhirnya membuat tradisi supaya bikkhu untuk berdiam di dalam ketika masa hujan.

Yang saya ingin tahu, dalam sutta sebetulnya bagaimana pendapat Sang Buddha mengenai Nigantha Nataputta ini? Apakah dia seorang yang termasuk petapa yang sebetulnya sudah masuk ke salah satu 4 pencapaian atau seorang yang dianggap pura-pura tercerahkan dan seorang penipu?

6
Theravada / Tumimbal Lahir dan Keegoisan
« on: 29 March 2011, 06:42:35 PM »
Salam semuanya  _/\_,
beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan teman.. dan ini menjadi pertanyaan juga bagi saya bagaimana kalau kelak ditanya orang..
karena saya dan teman saya masih dangkal akan pemahaman dhamma, diminta koreksi dan petunjuk dari sesepuh di sini  ^:)^

Jadi kemarin kami membahas seputar tumimbal lahir. Saya mengemukakan pendapat saya bahwa
tumimbal lahir konsepnya berbeda dengan reinkarnasi. Karena kalau tumimbal lahir, jiwa kita pun akan hilang bersamaan dengan matinya tubuh.
Jadi kalau mau bilang orang di kehidupan mendatang adalah saya nggak gitu benar, tapi bilang saya juga keknya nggak gitu salah.

nah.. permasalahannya adalah jika seseorang meninggal maka dia akan terlahir kembali sebagai makhluk lain, dengan ingatan yang baru yang boleh dibilang sudah seperti orang yang baru. Jika seseorang berpikir egois maka bisa saja dia berpikir "Karena nanti mati pun saya tidak akan ingat lagi apa yang terjadi pada saya. Maka saya berbuat kebajikan enak sekali donk orang yang di alam kelahiran berikut saya. Mending saya sebelum mati berbuat kejahatan saja. Semoga di kehidupan selanjutnya baru berbuah."

Kira-kira jika ada orang demikian apa yang harus kita nasehatkan ke orang itu?
Yang saya terpikirkan adalah bisa saja kamma buruknya berbuah di kehidupan sekarang, sehingga seseorang tidak seharusnya berbuat kejahatan. Tapi sepertinya itu bukan jawaban yang memuaskan.  ::)

maaf kalau pertanyaannya aneh, ini hanya karena sebuah penasaran saja...

7
Tolong ! / Nanya rute angkut
« on: 19 January 2011, 12:32:16 PM »
Hallo semuanya,

saya butuh bantuan kecil dari teman-teman DC, kalau ingin berangkat dari Kampus Bina Nusantara ke Kampus Universitas Budi Luhur, kira-kira naik angkat apa yah? Kalau tidak salah naik M09 ke Pasar Kebayoran Lama, kemudian lanjut C01 ke kampusnya benar tidak yah?

Terima kasih sebelumnya...

8
Mahayana / ATHEIS PIETIS - Oleh Aajin Sangmusafir
« on: 13 December 2010, 10:29:26 PM »
Hallo bro2 dan sis2,
Namo Amitabha _/\_
Kebetulan saya menemukan catatan yang sangat menarik ketika browsing. Tidak tahu apakah sudah ada atau belum
Terakhir di search sih tidak ada. Semoga tidak repost  ^:)^


Tahun ini adalah tahun yang membingungkan buatku. Baru di tahun ini rasanya aku merasa musim kemarau datang hanya sesaat. Bahkan bulan Agustus yang biasanya terik menyengat, malah menjadi dingin menusuk. Apa lagi kami tinggal di kota dimana hujan turun dengan melimpah.

Setiap kali hujan, biasanya manusia cenderung ogah, mengkerut dan moody. Begitu pula dengan saya saat ini. Malam menjelang, namun hujan gerimis yang mengguyur bumi dari tadi sore masih tampak jumawa, enggan berhenti. Dan tiap kali hujan gerimis turun, aku merasakan kesenduan, keheningan dan kehilangan. Kehilangan akan seseorang yang begitu bermakna. Kehilangan yang tidak akan mampu ditebus lagi. Kehilangan akan seseorang yang begitu dirindukan. Ia bukan pacar. Ia bukan saudara atau kerabat. Ia hanya seorang yang datang sesaat dalam kehidupanku, dan menyapaku dalam caranya yang lugu, khas dan sederhana, namun dampaknya bagaikan hantaman puting beliung dalam kepalaku. Ia hanya seorang laki-laki tua sederhana.

Beginilah ceritanya:

Sekitar dua puluhan tahun lalu, ketika aku masih muda, aku senang bepergian sendiri sebagai backpacker ke kota-kota sebelah timur, seperti Jogja, Magelang, Semarang, Kediri, Malang, Surabaya, Bali, bahkan sampai Papua. Berbekal uang seadanya dan saxophone untuk mengamen aku terbiasa pergi dari rumah sampai 2 bulan lebih.  Karena  cara mengamenku yang agak elite, mudah bagiku untuk mendapatkan uang ala kadarnya untuk melanjutkan perjalanan atau balik ke Jakarta. Itu aku lakukan sebelum kuliah dan selama liburan semester.

Suatu waktu kakiku menyeret tubuh dan sukmaku di jalanan kota kecil magelang. Saat itu malam hari dan hujan gerimis turun. Losmen yang aku tuju masih sekitar 500 meter lagi. Dan perut sudah keroncongan.  Di jajaran sebelah kiri aku lihat hanya ada sebuah warung angkringan. Sepi pula. Sop Buntut  dan Kaki Sapi Si Mbah. Demikian nama warung itu. Siapa nama Si mbah itu, tidak dituliskan. Namun aku berasumsi Si Mbah ini pasti sudah terkenal, jadi tidak perlu menuliskan lagi namanya.

Sesuai dengan nama warungnya, si pemilik memang sudah tua, kira-kira pertengahan awal 60an. Dengan sigap ia melayani pesananku. Tangannya yang ringkih dan keriput menciduk kuah sop di kuali. Sekalipun sendok sayur yang ia gunakan tidaklah panjang, tidak proporsional di bandingkan besarnya kuali kuah itu, tangannya tidak perlu merogoh sampai ke dasar. Terlihat jelas dari cara ia menciduk air kuah bahwa barang dagangannya masih banyak. Padahal ini sudah pukul 10 malam. Hujan gerimis dari tadi sore memang nampaknya tidak memberi ampun buat para pedagang angkringan ini.

Wajah pa tua ini kelihatan tegar.  Ia tampak santai tapi serius dengan sesuatu yang ada di kepalanya. Aku perhatikan sesekali bibirnya bergumam dan mengucapkan sesuatu yang tidak aku pahami.

“Silahkan mas dimakan,” sambil menyodorkan pesananku di meja.

“Trima kasih, pak,” aku jawab. Tanpa banyak menunggu langsung aku lahap sop kaki sapi ini.

Ia kembali ke tempat duduknya dan bibirnya terus mengucapkan sesuatu. Aku jadi tertarik ingin berbincang2 dengannya.

“Pak. Kalau boleh, kenapa bapak tidak duduk di sini saja? Khan gak ada orang lagi, cuma berdua. Dari pada anteng sendiri-sendiri mendingan kita ngobrol,” undangku.

“Wah, nanti Si mbah merepotkan, mas.”

“Apa yang direpotkan tokh pa?” tanyaku sampai meninggikan alis mataku, mengundangnya sekali lagi. Ia pun akhirnya duduk di depanku.

“Mas bukan dari orang kota ini,ya? Si mbah rasanya baru lihat.”

“Saya dari Jakarta, Mbah,” sekarang aku memberanikan diri menyebutnya mbah, sebagaimana ia menyebut dirinya.
 
“Sedang liburan mas?”

“Tidak Mbah, saya tukang ngamen. Cari duit dan pengalaman di sela-sela kuliah. Saya bawa alat tiup. Cuman malam ini saya lagi malas

karena hujan,” sambil aku menunjukan hard case saxophoneku. 

“Bagus sekali, mas. Jarang sekali si Mbah lihat pengamen pake saxophone.”

Lha kapan aku bilang saxophone, koq dia sudah tahu itu saxophone? Mungkin si mbah itu bukan orang udik. Mungkin di masa mudanya dia sering berdansa waltz atau cha-cha.

“Mbah sendirian berdagangnya?”

“Enggak mas, si mbah ditemani istri, dan seorang laden, tapi sekarang istri saya suruh pulang dan laden sedang ada perlu dulu. Nanti sebentar lagi dia datang.”

“Malam ini hujan terus ya Mbah. Orang pada males keluar rumah.”

“Ya begitulah,  mas. Daganganpun belum banyak laku. Tapi hidupkan harus tetap tabah dijalani. Sabar lan mantep aja mas.” Suaranya agak mendesah, namun tidak terkesan memelas.

“Mbah, dari tadi saya perhatikan mbah seperti sedang wiridan. Membaca asma Allah yah?” tanyaku penuh selidik.

“hahahhaha enggak mas. Mmm maksud si mbah itu bukan wiridan seperti yang mas pikirkan. Koq si mas perhatian banget sih?”

“Apaan dong mbah? Kalau boleh saya tahu. Saya pikir tadi si mbah wiridan supaya minta Allah hentikan hujan atau supaya orang banyak beli hehhe.”

“Si mbah menjapa Nammo Amitabha, mas,” jawabnya agak malu.

Ternyata si Mbah ini bukan muslim, tapi seorang buddhis. Oh bodohnya aku. Ini kan jawa tengah bukan Kampung Makassar di Jakarta. Dan aku berada di Magelang. Tentu saja ada banyak pemeluk Buddha di kota ini.

“Oh jadi si Mbah agamanya Buddha yah? Saya kira tadi si Mbah memanggil azma Allah.”

“Ah mas, kalo masalah agama, si Mbah ini orang bodoh, jadi gak tahu apa-apa. Maklum orang kampung. Apakah si mbah ini orang Buddha?  si mbah sendiri jarang ke vihara. Nanti kalau si mbah ini ngaku-ngaku orang Buddha malah mempermalukan orang-orang vihara.”

Nampaknya si pak tua ini menyembunyikan sesuatu dalam jawaban yang terkesan ditutup-tutupinya itu.

“Jadi kalau mbah memanggil-manggil Amitabha, itu gunanya untuk apa Mbah? Bukannya meminta hujan berhenti atau pembeli banyak berdatangan?” godaku. Ada sedikit rasa merendahkan dalam pertanyaanku.

Dari kecil sampai pradewasa aku dididik dalam islam militan. Guru-guru mengajiku mengajarkanku bahwa hanya islam agama yang diridhoi oleh Allah ta’ala. Agama lain sudah sesat dan palsu. Kitabnya dirubah-rubah sekehendak udel sendiri. Orang kr****n menuhankan manusia, tuhanya ada tiga, tuhan bapa, tuhan ibu dan tuhan anak. Orang Buddha dan Hindu memuja-muja patung yang mereka pahat sendiri. Pokoknya hanya ajaran islam yang luhur, murni, terakhir dan sempurna.

Waktu aku SMP aku dibawa saudara ke tanggerang melihat-lihat vihara dekat rumahnya. Banyak orang keturunan cina yang membawa buah-buahan ke depan patung. Wah bodoh sekali mereka patung koq dikasih makan buah-buahan. Tapi saudaraku yang lebih tua segera menukas, “Setidaknya tuhan mereka tidak meminta persembahan mahluk bernyawa,” katanya. Aku terlalu kecil untuk memahami makna kalimatnya. Orang-orang cina itu cuman pemuja Buddha dan Kong hucu yang tung-tung cep, alias orang2 yang muja-muji dewa dewi tunggak-tunggik kemudian nancepin hio cuman untuk minta diberkati secara material. Itulah apriori yang ada dibenakku selama ini.
 
“Mas, si mbah ini orang bodo, udik, dan tua, gak ngerti ajaran-ajaran Buddha dan agama. Jadi kalau si mas mau tanya ini itu,  si mbah ga bisa jawab. Berapa kilo meter dari sini ada vihara mendut, mas bisa tanya tentang ajaran Buddha sama wiku-wiku di sana (orang tua ini masih menyebut biksu dengan panggilan wiku).

Tapi mas, buat si Mbah, agama bukan masalah ajaran, tapi masalah laku hidup, masalah roso dan eling.

Kalau si mbah menjapa ‘nammo Amitabha’, yang artinya terpujilah Amitabha, bukan berarti memanggil-manggil dewa dari alam lain buat membantu si Mbah, tapi membuat si mbah ini selalu eling, sadar akan setiap laku, dan roso dalam sukma si mbah.

Apakah dengan si Mbah memanggil Namo Amitabha, Amitabha akan datang menghentikan hujan dan mendorong para pembeli berbondong-bondong ke warung sini? tentu tidak. Sama sekali tidak terpikir demikian dalam benak si mbah. Berdagang itu ada kalanya laku, ada kalanya tidak. Itu sudah biasa mas. Hari itu ada kalanya terik ada kalanya mendung, itu sudah fitrah alam mas. Buat apa membawa-bawa nama yang suci hanya untuk kepentingan pribadi kita yang dangkal dan sempit? Hujan ini datang karena suatu sebab, dan akan berakhir karena suatu sebab. Biarkan saja terjadi atas dasar siklus alam.

Menurut umat Buddha, Buddha Amitabha itu tinggal di sebuah alam surga penuh sukacita yang bernama Sukhowati. Mereka yang memanggil-manggil namanya ketika meninggal akan dibawa ke alam itu untuk belajar menjadi seorang Buddha. Itu kata umat Buddha, tapi buat si Mbah gak percaya.”

“Lha kalau si Mbah gak percaya kenapa masih memanggil-manggilnya?” sergahku keheranan.

“Semua itu cuman cerita mas. Amitabha itu sebenarnya kita sendiri. Surga Sukhowati itu adalah tubuh kita sendiri.  Ketika si mbah menjapa Nammo Amitabha, bukan berarti si mbah memanggil suatu dewa atau mahluk ilahi untuk datang mewujud di hadapan saya, sama seperti kita yang duduk berhadap-hadapan seperti ini.

Memanggil Amitabha berarti membangunkan roso, eling dan laku lampah yang mulia dalam diri kita, sehingga tubuh ini bukan untuk diri sendiri tapi untuk menjadi alat kebaikan bagi sesama, mas.

Menjapa namo Amitabha berarti menghadirkan ingatan dan kesadaran akan berartinya hidup ini dan menggugah pikiran ini untuk menjadikan kehidupan nyata kita sebagai surga sukhowati, suatu tempat agar semua mahluk mendapatkan kesempatan hidup yang layak dan jauh dari permusuhan dan kebencian.

Apa benar surga sukhowati itu ada dan kita masuki ketika si mbah nanti mati? Si mbah juga ga tau. Yang si mbah tahu itu cuma cerita. Agama itu cuman metoda, mas, bukan tujuan. Gusti Allah itu bukan seseorang yang duduk di suatu surga atau suatu zat tertentu, tapi suatu idea mulia. Menyembah gusti Allah itu artinya membangunkan diri ini agar tetap eling dan menerima hidup apa adanya dan mengusahakan yang terbaik darinya. Bukan memuja-muji suatu pribadi lain di luar diri.
 
Dulu waktu muda, si mbah orang yang suka memberontak dan berpikir bebas. Si mbah mempelajari ajaran-ajaran Tan Malaka, Karl Marx dan Lenin. Dan semua ini membikin si mbah analitis, gak mudah percaya dengan cerita-cerita tentang surga dan neraka.  Tapi justru dengan itu si Mbah bisa dengan mudah melihat arti rohani di balik kisah2 indah dan menawan itu.

Diri inilah amitabha itu. Diri inilah Avalokitesvara yang sedang berkarya di bumi. Diri inilah Buddha. Siapa yang memahami  diri yang sesungguhnya ialah yang telah sadar, yang eling, yang roso nya melimpah dengan ketenangan dan kelembutan. Entah itu para wiku, ulama, pedande ataupun umat awam semua adalah sama, calon-calon sang Buddha, sang eling dalam diri ini. 

Begitulah Mas, apa yang bisa si Mbah ceritakan.”

Aku tergagap-gagap mencoba memahami apa yang diulasnya. Aku tak pernah mendengar hal serupa dari guru ngaji, ulama dan da’i. Ironis sekali, justru dari seorang penjual angkringan seperti si mbah ini aku mendapatkan pelajaran berharga, sekalipun apa yang ia ajarkan harus memakan waktu bertahun-tahun agar tembok kekeraskepalaan ini bisa ditumbangkan. Namun apa yang ia ajarkan bagaikan api kecil yang membakar sumbu dalam otakku. Kelak sumbu ini akan mengantarkan si api kepada bensin yang siap dibakar.   

Melihat aku yang tertegun kebingungan, si mbah berkata:

“Para agamawan, mas, seperti para penjaja yang berjualan air segar di pinggiran sungai yang jernih. Banyak dari mereka tidak rela para pembelinya menyadari bahwa air jualan itu di ambil dari sungai jernih di belakang kios mereka. Untuk itu mereka membangun kios bederet-deret panjang dan tinggi menjulang, agar para pembeli tidak menyadari kehadiran air sungai segar dan jernih di belakangnya.”

Gila. Gila. Orang tua ini seakan-akan mampu membaca isi kepalaku dan memotong jalur kebingungan dalam otakku. Aku terdiam membatu. Mau didebat gimana, dia memang benar, mau di amini gimana, aku masih terlalu kukuh dengan kecetekan cara berpikir islamku ini.

“Mas, hujannya sudah berhenti “ sapa si Mbah membangunkan lamunanku.

Waduh. Aku baru ingat. Penjaga losmen tadi pagi bilang kalau losmen akan ditutup jam 11 malam demi keamanan. Segera aku membayar jajananku dan mengucapkan beribu-ribu trimakasih kepada si Mbah telah meluangkan waktu mengobrol dan mengajariku. Aku katakan bahwa aku akan kembali ke Jakarta besok siang, tapi kalau ada waktu, aku akan kembali ke Magelang dan bersua lagi dengan si Mbah. Pak tua ini hanya tertawa renyah dan menepuk-nepuk pundakku.

“Hati-hati di jalan, Mas.”

 
Pemahamanku Saat Ini

Perlu bertahun-tahun bagiku untuk mengendapkan perkataan si Mbah itu ke dalam relung hatiku. Memang begitu sukar tembok fanatisme dan neurosis agama lahiriah ini untuk ditembus. Namun pengalaman itu menjadi poin pemicu dalam diriku untuk mempelajari agama dan kebatinan lewat beragam penelaahan filsafat, psikologi, budaya, dan kebatinan.

Dan pencarian ini mengantarkanku pada statement bahwa apa yang si Mbah itu cocok bagiku. Menurut telaah studi yang kulakukan secara otodidak tentang kebathinan dalam agama Buddha, aku temui bahwa Buddha Amitabha tertulis dalam kitab Amitayus Sutra. Sangat memungkinkan bahwa kitab ini ditulis oleh seorang filsuf dan Yogi Nagarjuna, kira-kira 500 tahun setelah Gautama wafat.

Dalam Samadhi yang mendalam Nagarjuna “melihat” (tolong perhatikan makna tanda petik itu) Gautama sedang mengajar murid-muridnya. Gautama menceritakan tentang adanya seorang Buddha yang bernama Amita / Amida Buddha. Buddha ini tadinya adalah seorang raja yang dipuncak kejayaannya ia malah memutuskan untuk menempuh jalan kesucian. Ketika ia mencapai kesadaran tertinggi atau manunggal dengan semesta ia digelari Amida Buddha. Amida berarti cahaya tanpa batas. Buddha berarti kesadaran, atau yang sadar. Buddha Amitabha berarti cahaya kesadaran tanpa batas. Yang berarti personifikasi dari sang ilahi itu sendiri, samudra kesadaran tanpa batas.

Dalam misinya mencerahkan umat manusia, Buddha Amitabha dibantu oleh dua orang boddhisatwa yaitu Boddhisatva Avalokitesvara, yang bagi orang cina di sebut Dewi Kuan Im, dan Boddhisatva Maha Stamaprapta. Avalokitesvara adalah personifikasi dari sifat kelembutan, cinta kasih,  kemaharahiman, dan pengayoman alam semesta, sedangkan Maha Stamaprapta adalah personifikasi dari Kebijaksanaan.

Bagi orang yang mata bathinnya tajam, tentu saja semua ini sudah jelas, bahwa sebenarnya Amitabha Buddha itu adalah alegori perjalanan spiritual Buddha Gautama itu sendiri, yang mendesak dan mengundang si pembaca untuk menyikapi hidup ini dengan tujuan-tujuan mulia, bukan sekedar hidup dan akhirnya mati dan berharap masuk surga.

Baik itu Amitabha, Avalokitesvara dan Maha Stamaprapta adalah aspek2 mulia dalam diri kita sendiri. Amitabha mencerminkan aspek kerinduan akan kesempurnaan, Avalokitesvara mencerminkan cinta kasih, dan Maha Stamaprapta mencerminkan kebijaksanaan. Bukankah ketiga sifat ini; kerinduan akan kesempurnaan (summum bonum), Cinta Kasih (agape) dan Kebijasanaan (sofia) adalah sifat mendasar yang mewarnai mereka penempuh jalan mistik atau kebathinan?

Nagarjuna menuliskan Amitayus sutra sebagai upaya revolusioner, karena pada saat itu para biksu dari Aliran Selatan menjadikan jalan kebikuan sebagai pelarian kekanak-kanakan, childish escapism, dari kesumpekan hidup. Ajaran Buddha menjadi begitu dogmatis dan hanya bertumpu pada tafsir-tafsir elitis biksu saja. Sementara umat awam hanya memahami ajaran Gautama dari luarnya saja, para biksu malah disibukan dengan perbantahan dogma abstrak, winaya dan perselisihan antar sekte. Mereka sibuk dengan “nirwananya” sendiri. Adalah Nagarjuna, seorang yogi dan filsuf besar, bersama biksu dan yogi dari utara yang membidani Aliran Utara yg nantinya disebut Mahayana, kendaraan besar. Kenapa disebut kendaraan besar? karena kesucian dan kebuddhaan bukan hanya dicapai oleh sekelompok petapa berkepala pelontos saja (calon arahat), namun oleh semua orang, pria dan wanita umat awam yang membaktikan hidupnya dalam praksis kehidupan sehari-hari (jalan kebodhisatwaan).

Diri inilah Amitabha, diri inilah Avalokitesvara, dan diri inilah Buddha, yang telah eling dalam roso yang mendalam. Itulah kata si Mbah.

Dua tahun setelah kejadian itu, ketika aku mulai memahami lebih dalam perkataan si Mbah, aku kembali menapaki jalanan kota Magelang. Aku mencari kedai angkringannya. Namun sia-sia. Tempat angkringan itu telah berganti penghuni. Si penjual baru mengatakan bahwa si Mbah telah meninggal setahun sebelumnya. Dia sendiri tidak begitu kenal dengannya dan tidak tahu dimana pusara beliau. Mengalir air mata ini. Bersama dengan menangisnya langit malam Magelang saat itu.

Satu sesal yang tak kunjung berakhir dalam diri ini, kenapa aku tak sempat bertanya nama si Mbah. Nama apakah yang cocok buat aku sematkan padanya? Mbah Buddha? Mbah Amitabha? Rasanya tidak cocok. Mungkin yang cocok si Mbah sang Atheis Pietis. Atheis yang Suci.
……………………………

“Sopnya sudah siap,  pah. Cepet dimakan mumpung lagi panas. Dari tadi koq papah cuman menatapi jendela melihat hujan saja”

Aku terbangunkan dari lamunanku oleh suara merdu istriku. Sambil menyodorkan sop buntut. Loh koq seperti kebetulan. Hujan deras, malam yang dingin dan semangkuk sop buntut panas plus nasinya.

Tanpa sadar aku bergumam, “Amitabha. Amitabha”

“Ihhhh papah bicara apa sihhhhh?” seru istriku yang keheranan.

“Oh tidak…tidak…… itu artinya mensyukuri hidup kesempatan hidup yang indah ini yang memperkenalkan saya pada hidup yang mulia bersama seorang istri cantik yang setia.” Kataku mencari-cari alasan. Habis mau jelasin panjang lebar gimana?
 
“Ahhhh papah ini ada-ada saja.” Katanya.

“Ayo kita makan bersama di meja makan saja Mah, jangan di ruang kantor.” 

Istriku tersenyum, mencoba menebak-nebak apa yang dari tadi ada dalam benakku ini.

9
Buddhisme untuk Pemula / Pertanyaan Karma
« on: 14 November 2010, 10:56:46 PM »
Namo Buddhaya semuanya,

Newbie mau numpang tanya. Dulu saya pernah membaca buku tentang hukum karma. Dan disitu penjelasannya sangat menarik sayangnya saya sudah lupa isinya. Tetapi setidaknya saya masih mengingat salah satu ceritanya yang menceritakan sistem kerja karma, jadi ingin menanyakan pendapat bro2 dan sis2 semua. Jadi ceritanya kira-kira begini:

Ada dua orang si Hasan dan Budi. Hasan dan Budi keduanya memang kurang akur, sehingga memang kadang bertengkar. Suatu hari karena si Hasan sudah sangat kesal dengan si Budi, akhirnya si Hasan pukul si Budi, nah pukulan si Budi ini ceritanya sebesar 50 Newton (ini bukan soal fisika). Si Budi mau membalas si Hasan, tapi si Hasan sudah keburu kabur~
Si Budi setiap harinya selalu mengincar Hasan untuk membalas perbuatan si Hasan. Sedangkan si Hasan yang tidak ingin digebuk Budi,  setiap hari melatih otot-otot tubuhnya sehingga kekar dan kuat.
Akhirnya suatu hari si Budi bertemu dengan si Hasan, akhirnya dia membalas memukul Hasan dengan tenaga yang sama, 50 Newton. Sayangnya karena Hasan kuat, dia tidak merasa sakit yang sama seperti rasa sakit yang dialami si Budi waktu dipukul dulu.

Pertanyaannya:
1. Apakah karma buruk Hasan, yang dikarenakan memukul Budi, sudah berbuah?
2. Apakah Budi menciptakan karma buruk yang baru, walaupun sebetulnya pukulannya tidak menyakiti Hasan?

10
Kesehatan / [ask]Kok bekas gigitan serangga susah sembuh
« on: 13 November 2010, 10:13:33 AM »
Saya heran... Jadi di bagian tangan sama kaki saya ada bekas gigitan serangga. Saya sih tidak yakin, tapi kadang habis bangun tiba-tiba sudah ada bekas gigitannya. Curiganya sih semut merah kecil pelakunya!! Biasanya bekas gigitannya ada sebuah titik, terus disekitar titik itu kulit memerah dan cenderung gatal-gatal.

Kesalahan saya adalah kadang saya menggaruknya dan akibatnya kadang keluar cairan plus darah deh~

Nah masalahnya bekas gigitannya itu tidak sembuh-sembuh, selalu meninggalkan bekas, dan bekas itu kadang-kadang gatal. Dan jangka waktu sembuhnya lama~ sekali. Bingung deh ??? ??? Ada yang bisa kasi info atau saran gak? Kira-kira ini gara-gara serangga apa yah? Terus kok bisa yah lukanya sembuhnya lama banget~

11
Kesehatan / [ASK]Salah Duduk Bisa Fatal?
« on: 28 September 2010, 01:13:51 AM »
Namo Buddhaya,

Nanya donk semuanya,  apakah salah duduk bisa menyebabkan gejala-gejala seperti pingsan.
Ini agak aneh sih dan terjadi pada teman. Jadi dia dan saya duduk di lantai. Saya asik baca buku di komputer
dia pangku laptop. Nah pas teman saya pengen beranjak, tiba-tiba dia merasa sakit, gak bisa berdiri sempurna jadinya menyandar ke dinding

Awalnya saya kira owh paling salah posisi duduk, ntar sandar-sandar juga dah ilang rasa sakitnya. Ternyata salah, ini dah lewat beberapa saat
saya dah rasa ini keknya gak bener, kok sakitnya gak kunjung hilang. Biasanya orang kalau duduk kelamaan atau salah duduk mungkin pantat sakit bentar, ntar juga lama-lama hilang dan bisa berdiri. Ini dia sakitnya lama banget dan sulit sekali menggerakkan kakinya (gara-gara terlalu sakit)

Terus lama-lama tiba-tiba dia bilang pendengarannya mulai kurang, matanya juga mulai berkunang-kunang, seperti akan pingsan. Saya kan jadinya tambah bingung, ini orang kenapa yah  :o :o
Akhirnya saya membantu mengantarnya ke toilet (katanya jadi kebelet), akhirnya di toilet selain buang air kecil, akhirnya sekalian buang air besar. Setelah itu agak baikan sih... Tapi katanya pantat masih terasa sakit. ya udah ngobrol-ngobrol bentar nanya emang tadi duduk gimana saja, napain aja, dll

Pas ngobrol-ngobrol eh tiba-tiba dia gak merasa sakit sama sekali  :|
Jadi bingung deh, tuh orang kena apa yah sebetulnya. Perasaan beberapa menit yang lalu wajahnya pucat benar, seperti benar-benar akan pingsan, tiba-tiba gak sakit sama sekali...

Saya sih menduga dia posisi duduknya salah makanya ada urat kejepit (sakitnya tuh di bagian kiri doank), mungkin gak yah. Ada yang tau kira-kira itu kenapa gak??

12
Waroeng English / Biasa terjemahin instead of itu gimana
« on: 14 September 2010, 09:23:45 PM »
Saya biasa selalu mendapat kesulitan menerjemahkan kalimat yang mengandung "instead of"
misalnya

He walked to school instead of taking the car.

Umumnya orang menerjemahkannya menjadi "daripada" jadi seperti

Dia berjalan ke sekolah daripada naik mobil.

Tapi bagi saya kalimat Indonesia terdengar cukup aneh. Kira-kira tau gak gimana terjemahan yang baik ??

13
Kesehatan / Minum sebelum dan sehabis makan
« on: 31 August 2010, 09:54:33 PM »
Saya pernah mendengar orang mengatakan tidak baik minum air setelah makan. Harusnya tunggu sampai 1-2 jam setelah makan baru minum air. Demikian juga sebelum makan. Lebih baik sejam sebelum makan baru minum air. Katanya air bisa menetralkan asam lambung yang akibatnya malah proses pencernaan tidak baik...

Tapi saya juga pernah dengar sebenarnya tidak masalah minum sebelum atau sesudah makan. Malah disarankan untuk demikian, karena air yang ada di dalam lambung akan membantu memastikan makanan kita "on the track". Saya jadi bingung nih, sebenarnya benar mana yah??  ::)

Pages: [1]