Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - hudoyo

Pages: [1] 2
1
Seremonial / ANICCA VATA SANKHARA - Bpk TATANG KURDI, 64 tahun
« on: 11 September 2008, 08:43:36 AM »
Telah meninggal dunia dengan tenang pada hari Rabu, 10 September 2008, pukul 10.50 WIB, Bapak TATANG KURDI (Khoe Kwee Kian) dalam usia 64 tahun di RS Gading Pluit, Jakarta, karena kanker yang berasal dari rongga hidung.

Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Jelambar, Ruang VIP A, Jln Pangeran Tubagus Angke no.49, Jakarta Barat. Jenazah akan diperabukan pada hari Sabtu, 13 September 2008, di Krematorium King Palace, Dadap Kamal (Tangerang), berangkat dari rumah duka pukul 13.00 WIB.

Mendiang Bapak Tatang Kurdi dikenal sebagai seorang spiritualis yang sangat dermawan, terutama oleh masyarakat yang tinggal di sekitar villa beliau di desa Sindangjaya, Cipanas. Setiap tahun Bapak Tatang Kurdi selalu membagikan sembako kepada warga setempat. Setiap tukang ojek di wilayah itu tahu di mana rumah Bapak Tatang Kurdi. Villa beliau sering digunakan untuk pertemuan-pertemuan berbagai kelompok spiritual. Kantor beliau di Tanah Abang juga digunakan untuk pertemuan peminat Krishnamurti sebulan sekali.

Mendiang Bapak Tatang Kurdi sendiri adalah seorang peminat Krishnamurti dan praktisi MMD. Beliau mengikuti retret akhir pekan MMD pada bulan Oktober 2007, yang untuk pertama kali diadakan di villa beliau di Cipanas. Sejak itu telah diadakan beberapa kali retret MMD di villa beliau, yang terakhir retret MMD seminggu pada tanggal 10 s.d. 18 Agustus 2008. Beliau selalu terbuka meminjamkan villanya untuk digunakan sebagai tempat retret MMD tanpa menarik fee sedikit pun dari para peserta, sesuai dengan prinsip MMD.

Kepergian mendiang Bapak Tatang Kurdi termasuk sangat cepat. Pada hari Rabu pagi beliau masih sempat duduk dan bercakap-cakap dengan Erik, putra bungsu beliau yang baru menikah beberapa bulan lalu. Namun beberapa jam kemudian kesadaran beliau menurun dengan cepat, dan beliau meninggal dunia pada pukul 10.50 WIB.

Bapak Tatang Kurdi meninggalkan empat orang putra-putri dan lima cucu.

Dengan ini seluruh keluarga besar MMD mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Bapak Tatang Kurdi. Semoga beliau mendapat jalan yang lapang untuk meneruskan perjalanannya mencapai padamnya aku & pembebasan dari dukkha.

“Anicca vata sankhara
Uppada vaya dhammino
Uppajjhitva nirujjhanti
Tesam vupasamo sukho”

“Tidak kekal segala yang terkondisi
Terkena  muncul dan lenyap
Setelah muncul pasti lenyap kembali
Berhentinya semua itulah kebahagiaan sejati.”

Salam,
Hudoyo Hupudio
Pembimbing MMD

2
Diskusi Umum / [BUDDHISME MODERN][Dark Zen] FAQ
« on: 08 September 2008, 03:29:23 PM »
Tanya:
Apa yang Anda maksud dengan "Zen Gelap" (Dark Zen)?

Jawab:
Zen Gelap adalah sinonim dari Zen mistikal. Itu adalah kebenaran tertinggi dari Zen, yang disampaikan (transmitted) melalui kebangunan-diri (self-awakening) dari Batin (Mind). Di sini Anda menyatu sepenuhnya dengan hakikat sejati dari Batin itu sendiri. Dalam jangka waktu satu pikiran Anda menyelesaikan tahap-tahap Bodhisattva dan memasuki garis keturunan para Buddha, sampai pada Buddha pertama. Tanpa keraguan lagi, Anda menyadari bahwa semua fenomena bergantung pada hakikat Batin cerah yang menghidupkan.

Tanya:
Apa perbedaan antara Zen Gelap dan Zen konvensional?

Jawab:
Mengingat bahwa landasan dasar dari Zen konvensional bersumber pada Zen Gelap, tidak berarti bahwa Zen konvensional juga bisa menyampaikan (transmit) hakikat-Buddha. Itulah perbedaan pokok di antara keduanya. Apa sesungguhnya yang disampaikan oleh Zen konvensional adalah ajaran bekas (tangan-kedua). Ajaran tangan-kedua seperti itu hanya dimaksudkan untuk memberikan rasa nyaman dan mengilhami mereka yang ingin berjalan sendiri untuk menyelami lebih dalam lagi batin mereka, sehingga terjaga dan melihat hakikat Batin yang misterius.

Tanya:
Benarkah bahwa garis keturunan Zen dimulai dengan Sang Buddha memberikan pengetahuan beliau kepada Mahakashyapa, yang pada gilirannya memberikan ajaran itu kepada Ananda, yang akhirnya disampaikan kepada guru-guru hari ini? Apakah Anda mengatakan garis keturunan ini salah?

Jawab:
Sejarah penyampaian dari satu guru kepada guru lain dikarang oleh seorang tokoh Zen Gelap pada masa dinasti Sung di Cina sebagai cara untuk mengilhami orang-orang yang lebih lemah yang tidak memahami bahwa Buddha adalah batin mereka sendiri. Jujur saja, garis keturunan yang Anda sebutkan itu, yang diuraikan dalam "Penyampaian Nyala Api" adalah suatu alegori panjang lebar yang bicara tentang berbagai ide dan aspek dari Batin yang mutlak sementara ia mekar. Sekarang menjawab pertanyaan Anda. Kisah-kisah ini tidak salah jika itu membimbing Anda untuk melihat hakikat Batin itu sendiri. Tetapi, kisah-kisah ini akan mengelabui orang yang tidak memiliki Mata Sejati untuk melihat hakikat Batin di dalam setiap kisah, dan alih-alih, secara bodoh melekat pada serangkaian manusia guru dengan menganggap bahwa setiap guru benar-benar menyampaikan hakikat Batin yagn cemerlang kepada pewarisnya!

Tanya:
Guru saya sendiri mengklaim sebagai pewaris Dharma dari ajaran gurunya, terus sampai kepada Sang Buddha. Apakah ia bukan pewaris sejati dari ajaran Zen?

Jawab:
Sekali lagi, itu ajaran Zen konvensional. Itu bukan ajaran tertinggi. Guru Anda mewarisi opini gurunya tentang hakikat Batin yang misterius. Itu saja. Itu tidak berarti ia tercerahkan terhadap hakikat Batin itu sendiri. Itu hanya berarti bahwa ia adalah bagian dari suatu garis keturunan yang menerima doktrin Batin Zen. Di dalam Zen Gelap, yang disebut "pewaris Dharma" adalah orang yang telah melihat langsung hakikat Batin yang murni, setelah melewati semua tingkatan seorang Bodhisattva. Dari sini mereka mampu menyampaikan ajaran Sang Buddha dari zaman dahulu, menciptakan cara-cara yang tepat untuk mengajarkan kepada orang lain maksud sesungguhnya dari Buddhisme.

Tanya:
Guru saya yang tercerahkan tampak mengetahui semua jawaban terhadap koan. Bukankah itu bukti dari kearifannya?

Jawab:
Bila seorang guru memberikan kepada pewaris Dharma-nya sebuah koleksi koan beserta jawabannya, yang sedikit banyak dianggap pewarisan Dharma, ia hanya sekadar mengakui potensi muridnya untuk menjadi Bodhisattva yang sejati. Dengan kata lain, pewaris Dharma itu baru membuktikan pemahamannya akan Buddhisme, tapi bukan pencapaiannya. Jika Anda mengira orang ini dapat menafsirkan sebuah Sutra Mahayana dengan benar, atau memiliki Bodhicitta yang sejati, setelah lima atau sepuluh tahun belajar, Anda tertipu. Sebelum zaman dinasti Sung dan dongeng tentang garis pewarisan, selama hampir empat ratus tahun sebelum itu, Zen yang terutama adalah Zen Gelap. Para guru melihat pencerahan sejati dalam batin orang lain tanpa menggunakan koan sebagai cara menguji. Pada dewasa ini, semua itu sudah berubah.

Tanya:
Bagaimana Zen modern telah bergeser dari perspektif Zen Gelap?

Jawab:
Dari perspektif Zen Gelap, lembaga Zen masa kini sangat berbeda. Itu didasarkan pada kesetiaan pada guru, formalisme, ritual membuta, dan kebhiksuan. Kita harus menyadari bahwa esensi Zen yang murni tidak ditemukan di dalam unsur-unsur lahiriah dari agama, yang ditampilkan oleh lembaga-lembaga itu kepada masyarakat. Isi Zen yang sejati hanya bisa ditemukan di dalam batin kita yang telah dibersihkan dari semua prakonsepsi. Akhirnya, izinkan saya berkata, lembaga Zen sesungguhnya diperuntukkan bagi orang-orang yang takut melepas pikiran konseptual dan emosi mereka. Orang-orang seperti itu masih didorong oleh cara-cara duniawi dengan mengerahkan usaha untuk membangun suatu bangunan kultural yang mereka percaya akan bisa menghindari terpaan gelombang dukkha. Berbeda dengan itu, Zen Gelap adalah bagi orang-orang yang memahami bahwa sumber misterius dari ajaran ini tidak bisa dikonseptualisasikan melalui indra, tidak bisa diajarkan, atau bahkan dilatih. Bahkan sesungguhnya tidak bisa disampaikan (transmitted). Sesungguhnya makna kata 'transmisi' adalah tidak lebih dari bangun terhadap seluk-beluk Batin itu sendiri, dan dengan demikian mengakhiri dukkha untuk selamanya.

Tanya:
Guru saya punya otoritas untuk mengajarkan Zen. Saya sudah melihat ijazah-ijazahnya. Apakah otoritas Anda dan di manakah bukti Anda?

Jawab:
Buddhisme hanya mengenal satu otoritas. Yaitu Batin, yang adalah juga Buddha. Bila Anda sudah melihat hakikat Batin, maka Anda punya otoritas, yang Anda terima dari Buddha, untuk berbuat sesuai dengan kehendak Anda. Jika tidak, maka Anda harus selalu menjaga kata-kata dan tindakan Anda. Mereka yang mengklaim memiliki otoritas untuk mengajarkan Zen, dengan memamerkan jubah mereka dan ijazah mereka, sesungguhnya tidak mempunyai otoritas, oleh karena benda-benda itu bukanlah Batin. Selama tahun-tahun belakangan ini, saya melihat bahwa orang yang punya cukup uang bisa menjadi Master Zen hanya dalam waktu semalam. Jadi tidak ada gunanya membualkan ijazah-ijazah guru Anda. Di zaman dulu, murid yang baik dapat mengenali guru yang baik hanya dengan mendengarkan satu-dua patah kata. Dalam hati mereka, mereka mencari sumber sejati yang tunggal dari segala sesuatu, setelah menyadari bahwa bayangan Mara selalu mengikuti mereka. Dan oleh karena mereka mencari dengan cara ini, hati mereka akan bergaung dengan guru yang ideal, yang telah menyeberang ke pantai seberang. Sekarang ini, murid-murid yang kurang cerdas hanya bisa mengenali guru-guru yang kurang cerdas, dengan menilainya dari barang-barang yang dijualnya, tidak ubahnya seperti pedagang. Ini berarti bahwa hanya bergaung dengan materialisme dan bukan Batin. Dan tentang bukti, jika Anda hanya menginginkan tahi tikus, dan bukan emas, saya tidak mampu meyakinkan Anda akan hal sebaliknya. Jelas, Anda hanya melekat pada tetek-bengek Zen konvensional. Tapi jangan salah, Zen Gelap, yang juga dinamakan Zen Yin, adalah ajaran sejati yang dibawa oleh Bodhidharma ke Cina.

(Disajikan oleh Zenmar, Mistikus Zen Gelap)

*****

[Hudoyo: Jelas artikel di atas tidak bisa dicampur dengan artikel Zen konvensional dalam satu board, karena pasti akan ada yang merasa "terganggu" dan memrotes, seperti halnya MMD. Tapi saya bisa melihat kebenaran yang jauh lebih dalam di dalam Zen Gelap daripada dalam Zen konvensional.]
 

3
Pengembangan DhammaCitta / MMD bukan Buddhisme ?
« on: 31 August 2008, 11:10:09 PM »
helo moderator.. koq mmd belon dimasukkan ke budhisme moderen..? harusnya menggunakan kata "modern" bukan "moderen" sih.. :-?

Langkah pembentukan board "Buddhisme Modern" sangat saya hargai. Saya yakin akan berdampak sangat positif dalam mendorong pluralisme, sikap menghargai pandangan yang berbeda, dan perkembangan pemahaman baru atas ajaran Sang Buddha, dan menjadi contoh bagi situs-situs serupa. Kata "moderen" supaya diganti dengan "modern" sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Tolong thread "MMD [pool]" dan "Pindahan artikel MMD dari thread lain" juga dipindahkan dari board "Buddhisme & Aliran lain" ke "Buddhisme Modern".

Tinggal satu tuntutan saya: pencabutan pernyataan Dewan Moderator bahwa "MMD bukan Buddhisme". ... Saya tidak lagi menuntut permintaan maaf dari Dewan Moderator, saya tidak minta pengakuan bahwa "MMD sesuai dengan Buddhisme", saya cuma minta pernyataan itu dicabut. Itu harga mati buat saya.

Salam,
Hudoyo

4
Dari thread sebelah:

Quote from: hudoyo
Anda menceritakan saat-saat keheningan dalam vipassana tradisional setelah hari keempat itu, yang tampaknya genuine. ... Memang vipassana tradisional pun bisa mengantar pada berhentinya pikiran & si aku; itu tidak pernah saya mungkiri ... Tetapi ketika Anda berkata "... disitulah saya memahami anicca, dukha dan anatta ...", itu tidak lain adalah tafsiran pikiran yang muncul kembali yang menggunakan konsep tilakkhana

 [at]  Pak Hud
Kata disitulah saya pahami bukan saat disana saya berpikir nah ini tilakhana, tetapi pengertian yg muncul karena ada mengetahui,menyadari dan perhatian , jadi bukan tilakhana yg berasal dari proses berpikir. Seperti in one strike, Maaf moment ini saya tidak pandai konsepkan dalam tulisan.Kalau dikonsepkan tilakhana itu kesimpulan setelah keluar dari meditasi dan saya melakukan peninjauan ulang secara mendalam dititik pengalaman mana "in one strike itu terjadi" oleh karena itu saya sebut "disitulah".

Rekan Bond,

Saya rasa, memang benar Anda mengalami pencerahan atau intuisi (insight, nyana), melihat karakteristik yang kemudian Anda sebut 'anicca' & 'dukkha'. Ini yang disebut 'sammasana-nyana'.... Pencerahan itu terjadi di luar pikiran. ... Itu sama dengan seorang praktisi Zen yang mengalami Satori dan berkata "Aha!" ... Di situ tidak ada pikiran ... pikiran dan si aku berhenti ... dan karena tidak ada pikiran, maka tidak ada kata-kata, tidak ada ingatan, tidak ada konsep ... jadi tidak ada kata 'anicca', tidak ada kata 'dukkha' ... Menurut Mulapariyaya-sutta, Anda berada dalam persepsi murni (langkah #1) ... itulah yang Anda ungkapkan kembali di atas.

Tetapi, sedetik setelah nyana itu muncul, pikiran Anda bergerak lagi ... merespon pencerahan yang baru Anda alami itu ... merespon dengan munculnya memori tentang tilakkhana yang pernah Anda pelajari di masa lampau ... lalu pikiran Anda berkata: "Itu dia 'anicca'." ... Demikianlah, kata atau pengertian 'anicca' itu bukan nyana itu sendiri, melainkan respons pikiran Anda terhadap nyana itu. ...

Ada seorang teman Muslim yang ketika itu tinggal di tengah hutam Kalimantan di sebuah perusahaan kayu. ... Ia belajar MMD melalui internet dan menjalankan MMD sendiri, dengan bimbingan saya melalui email. ... Pada suatu hari ia menulis pada saya, "Pak, tadi pagi tiba-tiba saya menyadari bahwa hidup ini mengalir seperti sungai, tidak ada apa-apanya." ... Ini berbeda sekali dengan pandangan & sikap Muslim pada umumnya, yang melihat hidup ini sebagai 'anugerah Tuhan yang PATUT DISYUKURI'. ... Membaca emailnya itu saya langsung tahu bahwa ia telah mengalami sammasana-nyana, seperti yang Anda alami juga. ... Ia melihat karakteristik eksistensi ini yang dalam ajaran agama Buddha disebut 'anicca' dan 'dukkha'. ... Tapi ia tidak memakai istilah itu karena ia tidak pernah belajar tentang tilakkhana sebelumnya. ... Alih-alih, ia berkata 'hidup ini mengalir seperti sungai' (= 'anicca'), dan 'tidak ada apa-apanya' (= 'dukkha' ... saya tahu ini 'dukkha' karena ini bertentangan dengan pandangan & sikap Muslim pada umumnya). ... Kedua pengertian itu--'hidup mengalir seperti sungai' dan 'tidak ada apa-apanya'--itu muncul dalam meditasinya, sesaat setelah mendapat pencerahan atau intuisi (nyana) itu, tapi kedua istilah itu bukan nyana itu sendiri (yang timbul di luar pikiran, sehingga tidak ada kata, tidak ada label, tidak ada pengertian/konsep). ...

Begitu pula, ketika kata/pengertian 'anicca' & 'dukkha' itu muncul dalam batin Anda dalam meditasi Anda, nyana itu (yang terjadi di luar pikiran) baru saja lewat ... sekarang pikiran Anda menanggapi nyana itu dengan berkata "Oh, anicca" ... "Oh, dukkha" ... Penjelasan ini bisa Anda pahami kalau Anda mempelajari proses terjadinya pikiran sebagaimana tercantum dalam Mulapariyaya-sutta.

Itu tentang 'anicca' & 'dukkha'. ... Lain lagi dengan 'anatta' ... tidak ada pencerahan tentang 'anatta'. ... 'Anatta' hanya dialami oleh seorang arahat. ... Karena Anda belum arahat, maka dalam meditasi Anda tidak mungkin Anda mengalami 'anatta'. ... Yang sesungguhnya terjadi ialah: ketika muncul nyana tentang karakteristik yang kemudian ditanggapi oleh pikiran Anda sebagai 'anicca' dan 'dukkha', kedua istilah itu berasal dari memori tentang 'tilakkhana' ... sehingga mau tidak mau muncul pula pengertian/konsep yang ketiga, yaitu 'anatta' ... sehingga SEOLAH-OLAH Anda melihat 'anatta' ... padahal Anda dan saya, selama belum bebas penuh, tidak mungkin melihat 'anatta'. ... Itulah sebabnya dalam testimoni Anda, Anda berkata bahwa 'anicca'-lah yang pertama kali Anda lihat dan paling jelas. ...

Itulah sebabnya dalam retret MMD saya tidak pernah mengajarkan 'anatta' lagi ... Saya mengajarkan karakteristik yang dalam agama Buddha disebut 'anicca' & 'dukkha' ... lalu 'atta' yang selalu muncul sebagai pikiran, keinginan, harapan, ketidaksenangan dsb. ... 'Atta' ini yang melekat kepada segala sesuatu yang 'anicca' sehingga terjadilah 'dukkha'. ... (Sudah tentu saya tidak menggunakan kata-kata Pali itu kalau pesertanya non-Buddhis.) ... Saya tidak pernah lagi mengajarkan tilakkhana sebagai kombinasi 'anicca, dukkha, anatta' ... alih-alih, saya mengajarkan 'anicca, dukkha, atta' karena hanya inilah yang bisa kita alami dalam meditasi. ... 'Anatta' tidak bisa kita alami dalam meditasi, 'anatta' cuma konsep dari ingatan/pikiran yang mencampuri meditasi sehingga orang tidak melihat 'anicca, dukkha & atta' seperti apa adanya. ... Selanjutnya, 'anicca, dukkha & atta' itu akan lenyap bila pikiran & aku berhenti (khanika-samadhi), sekalipun cuma untuk sementara. ... DI SINILAH PERBEDAAN AJARAN SAYA DENGAN KONSEP TILAKKHANA yang pervasif di dalam Tipitaka Pali ... ini perbedaan pengertian seorang praktisi MMD dengan praktisi vipassana tradisional atau umat Buddha yang hanya menghafal konsep tilakkhana.

Salam,
hudoyo

5
Studi Sutta/Sutra / Tambahan Mulapariyaya-sutta:
« on: 26 August 2008, 08:14:35 AM »
Setelah Sang Buddha menguraikan proses terjadinya pikiran ketika orang (puthujjana, sekha dan arahat/buddha) mencerap tanah (pa.thavi), maka Sang Buddha juga menguraikan proses yang sama ketika orang mencerap berbagai obyek pencerapan, baik yang konkrit maupun yang abstrak (konsep):
- air (aapo)
- api (tejo)
- angin (vaayo)
- makhluk (bhuta)
- dewa (deva)
- pajapati (pajapati)
- brahma (brahma)
- dewa yang bercahaya (aabhassara)
- dewa yang cemerlang (subhaki.n.na)
- dewa yang penuh berkah (vehapphala)
- makhluk agung (abhibhu)
- dimensi ruang tanpa-batas (aakaasaana~ncaayatana)
- dimensi kesadaran tanpa-batas (vi~n~naa.na~ncaayatana)
- dimensi kekosongan (aaki~nca~n~naayatana)
- dimensi bukan-pencerapan-bukan-pula-non-pencerapan (nevasa~n~naanaasa~n~naayatana)
- segala yang terlihat (di.t.tha.m)
- segala yang terdengar (suta.m)
- segala yang tercerap [dg ketiga indra lainnya] (muta.m)
- segala yang dikenali (vi~n~naata.m)
- keesaan (ekata.m)
- keanekaan (naanata.m)
- segala sesuatu (sabba.m)
- nibbana (nibbaana.m)

6
Studi Sutta/Sutra / Hati-hati membaca Anattalakkhana-sutta
« on: 26 August 2008, 12:11:02 AM »
http://dhammacitta.org/tipitaka/sn/sn22/sn22.059.than.html -- Anatta-lakkhana-sutta

Rekan Sumedho,

Harap berhati-hati membaca Anatta-lakkhana-sutta. ... Sebagian besar umat Buddha terperosok ketika membaca sutta itu, sehingga merasa memahami FAKTA 'anatta', padahal sebenarnya mereka hanyalah memegang DOKTRIN 'anatta'.

Kunci untuk memahami Anatta-lakkhana dengan benar terletak pada bagian akhir sutta itu:

"Setiap fenomena nama-rupa apa pun ... dilihat sebagai apa adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.'
"Melihat demikian, murid yang ariya ... berpaling dari nama-rupa. Setelah berpaling, dia menjadi tidak tertarik. Setelah tidak tertarik, dia terbebas sepenuhnya. Dengan terbebas penuh, disana ada pengetahuan, 'Terbebas sepenuhnya.' Dia mengerti bahwa 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini.'"

Nah ... jadi yang bisa melihat 'Ini bukan milikku; ini bukan aku; ini bukan diri/atta-ku,' HANYALAH seorang ariya ... Dengan kata lain, FAKTA 'anatta' HANYA bisa dilihat oleh seorang ariya. ...

Kita-kita yang puthujjana hanya bisa memiliki DOKTRIN INTELEKTUAL tentang 'anatta' ... DOKTRIN 'anatta' bukanlah FAKTA 'anatta' itu sesungguhnya; DOKTRIN 'anatta' tidak membebaskan. ... Mengapa? ... Karena dalam batin seorang puthujjana seperti kita-kita ini--sekalipun memiliki DOKTRIN 'anatta'--SELALU ada pikiran "Ini milikku. Ini aku. Ini diri/atta-ku." ("eta.m mama, eso hamasmi, eso me atta 'ti.")

Maka, menurut Mulapariyaya-sutta, dalam batin puthujjana, setiap kali pikiran muncul, selalu muncul pula atta/diri. ... Jadi, boleh dikatakan, bagi puthujjana pikiran adalah sinonim dengan atta/diri/aku.


Admin: utk mulapariyaya sutta dipindahkan ke http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=4262.0

Salam,
hudoyo

7
Studi Sutta/Sutra / Membaca Sutta secara kritis
« on: 24 August 2008, 06:46:12 PM »
4.8. ‘Seandanya seorang bhikkhu mengatakan: “Teman-teman, aku mendengar dan menerima ini dari mulut Sang Bhagava sendiri: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru”, maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian, tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan ungkapannya harus dengan teliti dicatat dan dibandingkan dengan Sutta-sutta dan dipelajari di bawah cahaya disiplin. Jika kata-katanya, saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti tidak selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami oleh bhikkhu ini”, dan kata-katanya itu harus ditolak. [/b] Tetapi jika saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami oleh bhikkhu ini.”
(Mahaparinibbana Sutta)
saya agak tidak mengerti maksud dari kutipan sutta ini di sini, terlebih bagian yg di bold...
jika sdr. Semit ingin membahas isi sutta, silahkan dilanjutkan ke bagian Studi Sutra/Sutta
kemudian bagian yg saya bold merah kan...
Sutta atau disiplin
sutta di-sini saya yakini adalah dhamma kotbah2 Sang Buddha yg terjadi sekitar 2500 tahun yg lalu, bukan Sutta Pitaka. Sutta-Pitaka disusun setelah Sang Buddha parinibbana, jadi jelas itu bukan mengacu kepada Sutta Pitaka... apa terjemahannya seharusnya dhamma(kebenaran) & vinaya(aturan kedisplinan)? CMIIW
ini terjemahan bahasa inggrissnya:
Quote
"In such a case, bhikkhus, the declaration of such a bhikkhu is neither to be received with approval nor with scorn. Without approval and without scorn, but carefully studying the sentences word by word, one should trace them in the Discourses and verify them by the Discipline. If they are neither traceable in the Discourses nor verifiable by the Discipline, one must conclude thus: 'Certainly, this is not the Blessed One's utterance; this has been misunderstood by that bhikkhu — or by that community, or by those elders, or by that elder.' In that way, bhikkhus, you should reject it. But if the sentences concerned are traceable in the Discourses and verifiable by the Discipline, then one must conclude thus: 'Certainly, this is the Blessed One's utterance; this has been well understood by that bhikkhu — or by that community, or by those elders, or by that elder.' And in that way, bhikkhus, you may accept it on the first, second, third, or fourth reference. These, bhikkhus, are the four great references for you to preserve."
kata yg ditemukan hanyalah 'Dhamma and the Discipline' :)

Terjemahan Indonesia (dari Maurice O'Connell Walshe): "... Kemudian, tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan ungkapannya harus dengan teliti dicatat dan dibandingkan dengan Sutta-sutta dan dipelajari di bawah cahaya disiplin...."

Terjemahan Inggris (Thanissaro Bhikkhu): "... Without approval and without scorn, but carefully studying the sentences word by word, one should trace them in the Discourses and verify them by the Discipline. .."

Teks aslinya: "... Anabhinanditvaa appa.tikkositvaa taani padabya~njanaani saadhuna.m uggahetvaa sutte otaaretabbaani vinaye sandassetabbaani. ..."

Jadi, ternyata terjemahan Indonesia (dari M.O.Walshe) maupun terjemahan Inggris (Thanissaro Bhikkhu) di atas cocok dengan teks aslinya. (Kalau tidak cocok tentu sudah lama diprotes oleh pembaca yang teliti. :) )

*****

Jadi bagaimana kita harus menganalisis dan menafsirkan kejanggalan dalam Mahaparinibbana-sutta yang terlihat oleh Rekan Tesla di atas?

Bagian Mahaparinibbana-sutta yang dipermasalahkan ini mempunyai subjudul bernama "Cattari Maha-upadesa" (Empat Rujukan Besar, the Four Great References). Maksudnya, ada empat rujukan yang masing-masing mengklaim sebagai rujukan dari ajaran Sang Buddha, yaitu:
(1) bhikkhu yang mengaku mendengar sendiri dari mulut Sang Buddha;
(2) suatu komunitas bhikkhu dengan seorang ketua;
(3) beberapa Thera;
(4) seorang Thera.
Menghadapi keempat rujukan tersebut, kata-kata mereka harus dicek dulu, apakah sesuai atau tidak dengan "sutta" dan "vinaya". ... Demikianlah ditampilkan dalam Mahaparinibbana-sutta.

Nah, di sinilah kejelian Rekan Tesla: ia melihat kejanggalan dalam istilah "sutta" dan "vinaya" yang digunakan di sini. Saya pun melihat kejanggalan itu. ...

Dalam puluhan sutta, Sang Buddha selalu menamakan ajarannya sebagai "dhamma-vinaya", bukan "sutta" & "vinaya". Bahkan di paragraf ini pun istilah "dhamma-vinaya" muncul:
- "Inilah Dhamma, inilah Disiplin, inilah Ajaran Sang Guru" (Indonesia/dari M.O.Walshe)
- "This is the Dhamma and the Discipline, the Master's Dispensation" (Thanissaro Bhikkhu)
- "Aya.m dhammo, aya.m vinayo, ida.m satthusaasanan'ti" (teks asli).

Jadi, di zaman Sang Buddha masih hidup, beliau selalu menamakan ajarannya 'dhamma-vinaya'. ... Kok, tiba-tiba di bagian Mahaparinibbana-sutta ini muncul istilah "sutta" dan "vinaya". ... Apa artinya itu?

Kita tahu, setelah Sang Buddha meninggal dunia, para bhikkhu berkumpul dalam Konsili I, lalu menyusun khotbah-khotbah Sang Buddha dan mengumpulkannya (menghafalkannya) dalam keranjang yang dinamakan "Sutta Pitaka", sedangkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kehidupan kebhikkhuan dikumpulkan/dihafalkan dalam keranjang yang dinamakan "Vinaya Pitaka". (Abhidhamma Pitaka baru muncul dalam Konsili III, tiga ratus tahun setelah Sang Buddha meninggal dunia.)

Menurut hemat saya, dari sinilah asal istilah 'sutta' dan 'vinaya' yang terlihat oleh Rekan Tesla itu. ... Dengan kata lain, kesimpulan saya: di sini telah terjadi ANAKRONISME (kerancuan berhubungan dengan waktu) ... Istilah 'sutta' & 'vinaya' telah menyusup masuk ke dalam Mahaparinibbana-sutta dan ditampilkan seolah-olah datang dari mulut Sang Buddha sendiri!

Para penghafal Mahaparinibbana-sutta menyisipkan, seolah-olah Sang Buddha mengatakan bahwa di kemudian hari semua klaim ajaran Buddha harus dicek keotentikannya berdasarkan "Sutta Pitaka" dan "Vinaya Pitaka". ... Jadi "Sutta Pitaka" & "Vinaya Pitaka" sudah diangkat menempati kedudukan MUTLAK, menggantikan kebenaran sesungguhnya dari 'dhamma-vinaya, ajaran Sang Guru'. ... Inilah klaim dari bhikkhu-bhikkhu Theravada yang menyusup masuk ke dalam Mahaparinibbana-sutta ...

Mungkin ini terjadi di zaman ketika agama Buddha di India pada waktu itu mulai terpecah menjadi Maha-sanghika (Mahayana) dan sekte-sekte Hinayana (yang di dalamnya terdapat Sthaviravada, cikal bakal Theravada), kira-kira dua ratus tahun setelah zaman Sang Buddha. ... Untuk menjamin survival sektenya, maka bhikkhu-bhikkhu Sthaviravada mengklaim Sutta Pitaka & Vinaya Pitaka sebagai satu-satunya kriteria bagi keabsahan ajaran Sang Buddha, dengan menampilkan klaim itu seolah-olah datang dari mulut Sang Buddha sendiri. ... Memang tidak ada maksud jelek di sini ... hanya keinginan untuk menjunjung tinggi dan memutlakkan sekte yang dianut sendiri.

Bahwa suatu kitab suci (apa pun) harus digunakan sebagai kriteria dari kebenaran, hal itu harus saya tolak sebagai datang dari mulut Sang Buddha! Ini sangat bertentangan dengan ajaran Sang Buddha tentang bagaimana kita menilai suatu ajaran yang benar, sebagaimana tercantum dalam Kalama-sutta ...

Ini salah satu contoh lagi bagaimana sisipan-sisipan yang tidak otentik telah masuk ke dalam Mahaparinibbana-sutta. Dulu saya pernah menyoroti apa yang ditampilkan dalam Mahaparinibbana-sutta seolah-olah sebagai "kata Sang Buddha", yakni bahwa hanya dalam ajaran Sang Buddha terdapat pembebasan, sedangkan dalam ajaran-ajaran lain tidak ada pembebasan.

Semua itu tidak mengherankan, mengingat Mahaparinibbana-sutta dari Digha Nikaya ini termasuk salah satu sutta yang relatif "muda", yang memperoleh bentuknya yang final jauh setelah Sang Buddha wafat.

Salam,
hudoyo

8
Meditasi / Abhidhamma & vipassana
« on: 29 July 2008, 09:45:38 PM »
Dari thread sebelah:

Maaf ya, Rekan Willibordus, saya mau lugas, mohon jangan dimasukkan ke dalam hati ... :)

Nggak apa2 Pak  :), selama diskusi di forum ini sy tidak pernah menganggap semua balasan secara personal... terlebih akhir2 ini setelah semakin banyak bertukar pikiran dengan rekan2 yg lain, sy merasa lebih terbuka dibanding dahulu dan juga, setiap pendapat yg berbeda, sy usahkan direnungkan dulu sebelum dibalas...

Syukurlah.

Quote
Quote
Lalu, apakah Anda sekarang cukup belajar Abhidhamma saja tanpa melakukan vipassana? ... (Ngomong-ngomong, saya jadi berpikir, apakah kebanyakan pelajar Abhidhamma tidak menjalankan vipassana, yah? :) Kalau begitu Buddha-Dhamma itu dipelajari cuma sebatas teori saja dan diambil mana-mana yang "enak" untuk si aku saja. ...) ... Hidup ini singkat, dan Sang Buddha berkata, sangat sulit untuk terlahir sebagai manusia, apalagi terlahir sebagai manusia di zaman ada Buddha-Dhamma.

Sy belajar Abhidhamma secara formal hanya satu hari pertemuan Pak  ;D
Tapi apa yg sy dapatkan dari satu hari pertemuan itu telah berhasil mengubah pemahaman sy. Dan perenungan2 sy selanjutnya byk berbasiskan pengetahuan Abhidhamma sehingga sy bisa mengikis kebiasaan2 buruk sy. Mungkin Pak Hud juga mengetahui bahwa sy bisa cocok dgn Ajaran Buddha pada mulanya dikarenakan dukkha hebat yg sy alami saat dulu itu. Sy menganggap mengerti Abhidhamma seperti memahami cara kerja sebuah mesin, sehingga kita akan tau apa penyebab rusaknya dan bagaimana memperbaikinya. Banyak orang menyangka jika kita banyak berbicara dari segi Abhidhamma berarti kita bukanlah seorang meditator. Kenyataannya bukan begitu, sepanjang yg sy tau, banyak rekan2 sy yg melakukan meditasi rutin (juga sy sendiri). Memang, sy jarang membahas soal meditasi dikarenakan sangat sulit bertukar pikiran soal pengalaman meditatif, lebih tepat sasaran jika membahas masalah sehari2 dari segi analisis sistematis (Abhidhamma).

Syukurlah jika Abhidhamma bisa "mengikis kebiasaan2 buruk Anda". ... Saya sendiri tidak mendapat manfaat apa-apa sama sekali dari Abhidhamma yang pernah saya hafalkan beberapa puluh tahun lalu (Abhidhammattha-sangaha); bagi saya, Abhidhamma hanya merupakan pengetahuan pikiran (knowledge) yang menghalangi vipassana, yang justru mengamati pikiran dengan segala isinya sampai pikiran itu berhenti dengan sendirinya. ... Anda melakukan meditasi rutin? Meditasi apa, kalau boleh saya tahu? ...


Quote
Kenapa sy bilang putthujana, karena memang sebatas yg bisa sy bahas hanyalah masalah sehari2 dan 'pemadaman ego'. Dari pengalaman selama ini banyak rekan (termasuk sy sendiri) yg bisa memecahkan masalah (penderitaan) sehari2 dengan menganalisisnya secara sistematis dan jarang yg akan terpecahkan masalah latent-nya dengan saran2 yg sejuk semata, misalnya: 'tersenyumlah' atau 'sadarilah' atau 'meditasi'lah.....

Masalah-masalah kehidupan duniawi memang dapat dan harus dipecahkan dengan pikiran (analisis dsb). Tapi masalah eksistensial (kenapa saya ada? mengapa semua ini dukkha? Apa penyebab dari dukkha? ... semua yang diajarkan oleh Sang Buddha) tidak bisa dipecahkan dengan analisis pikiran. ... Dukkha dan lenyapnya dukkha hanya dapat dipahami/dialami dengan memahami pikiran/aku itu sendiri di dalam kesadaran vipassana.

Di dalam khotbah-khotbah di kalangan umat Buddha sering kali dibangun kesan bahwa ada dinding pemisah atau jarak yang sangat jauh antara batin seorang puthujjana dan seorang ariya. Padahal di dalam kesadaran vipassana seorang puthujjana bisa mencapai padamnya aku (untuk sementara). Saya tidak melihat perbedaan antara padamnya aku seorang puthujjana dengan padamnya aku seorang arahat KECUALI yang tersebut pertama bersifat sementara dan yang tersebut terakhir bersifat permanen. Saya tidak membesar-besarkan perbedaan puthujjana dan ariya; bagi saya, yang ada hanyalah 'sadar' dan 'tidak sadar', sekalipun 'sadar' itu baru bersifat sementara bagi seorang puthujjana.


Quote
Quote
Menanggapi pertanyaan Anda, memang betul, 'berhentinya pikiran' berarti 'melihat apa adanya' (yathabhutam nyanadassanam). 'Berhentinya pikiran' berarti pula 'mencicipi nibbana', kata alm. Buddhadasa Mahathera. Rasanya tidak berbeda dengan apa yang dialami oleh orang yang sudah bebas sepenuhnya (arahat), cuma di sini hanya berlangsung sementara.

IMO, Pak, banyak persamaan antara Abhidhamma dan Vipassana. Kedua2nya jika dipraktikkan akan sampai pada "Melihat apa adanya"... yg satu masuk melalui analisis sistematis (mengetahui cara kerja citta, mengamati dan akhirnya menyadari pada saat suatu niat tercetus, memang butuh praktik dan latihan yg intents juga), begitu juga dengan vipassana (pada praktik duduk diam mengamati gejolak batin apa saja yg timbul tanpa melekati-nya, dgn segala macam varian tekniknya... tapi tetap butuh latihan yg intents juga, sama saja). Jika keduanya digabung (pengetahuan analisis dan meditasi vipassana) maka bagi beberapa orang akan sangat membantu mengatasi persoalan hidupnya dan usaha pengembangan kualitas batinnya.

Pengalaman saya justru sebaliknya: Abhidhamma tidak kompatibel sama sekali dengan vipassana. Yang satu menggunakan pikiran sebagai instrumennya, yang lain justru mengamati pikiran itu sampai berhenti dengan sendirinya. Menurut saya, tidak mungkin orang mempelajari Abhidhamma dan menjalankan vipassana sekaligus; dia harus memilih salah satu.


Quote
BTW, informasi2 yg Pak Hud berikan dan diskusi panjang lebar selama ini sangat bermanfaat bagi saya

Turut bermudita-citta.

Salam,
hudoyo

9
Menurut Pak Hud jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan tidak? (cuma nanya, jadi mau tahu gimana pandangan Pak Hud mengenai jalan beruas 8 ) :))

Menurut hemat saya, kalau orang melekat pada Jalan Mulia Berunsur Delapan ia akan tetap terbelenggu.
Karena sesungguhnya tidak ada jalan ... tidak ada tujuan ... tidak ada pantai seberang.
Nibbana itu sendiri berarti padam.

Salam,
Hudoyo

10
Teman-teman yang berminat bisa membaca beritanya di thread MMD (board: Meditasi).

Salam,
Hudoyo

11
Theravada / Arahat dalam waktu 7 hari harus menjadi bhikkhu?
« on: 08 June 2008, 07:21:25 PM »
Ada pendapat yang mengatakan, bila seorang awam (non-bhikkhu) menjadi arahat, maka dalam waktu 7 hari harus menjadi bhikkhu, kalau tidak ia akan meninggal.

Adakah rekan-rekan yang bisa memberikan referensinya? Terima kasih.

Salam,
hudoyo

12
Theravada / Untuk Riky: THE WORD OF THE BUDDHA (01)
« on: 03 June 2008, 04:51:09 AM »
Riky,

Berikut ini Ajaran Sang Buddha, langsung dari mulut Sang Buddha sendiri.

Semoga Riky, anakku, tercerahkan.

Salam,
hudoyo

THE WORD OF THE BUDDHA
OR
THE FOUR NOBLE TRUTHS

Thus has it been said by the Buddha, the Enlightened One:

It is through not understanding, not realizing four things, that I, Disciples, as well as you, had to wander so long through this round of rebirths. And what are these four things? They are:

(1) The Noble Truth of Suffering (dukkha);
(2) The Noble Truth of the Origin of Suffering (dukkhasamudaya);
(3) The Noble Truth of the Extinction of Suffering (dukkhanirodha);
(4) The Noble Truth of the Path that leads to the Extinction of Suffering (dukkha-nirodha-gaamini-pa.tipadaa).
Digha Nikaya, 16

As long as the absolutely true knowledge and insight as regards these Four Noble Truths was not quite clear in me, so long was I not sure that I had won that supreme Enlightenment which is unsurpassed in all the world with its heavenly beings, evil spirits and gods, amongst all the hosts of ascetics and priests, heavenly beings and men.

But as soon as the absolute true knowledge and insight as regards these Four Noble Truths had become perfectly clear in me, there arose in me the assurance that I had won that supreme Enlightenment unsurpassed.
Samyutta Nikaya, LVI. 11

And I discovered that profound truth, so difficult to perceive, difficult to understand, tranquilizing and sublime, which is not to be gained by mere reasoning, and is visible only to the wise.

The world, however, is given to pleasure, delighted with pleasure, enchanted with pleasure. Truly, such beings will hardly understand the law of conditionality, the Dependent Origination (pa.ticca-samuppaada) of everything; incomprehensible to them will also be the end of all formations, the forsaking of every substratum of rebirth, the fading away of craving, detachment, extinction, Nibbaana.

Yet there are beings whose eyes are only a little covered with dust: they will understand the truth.
Majjhima Nikaya, 26

<to be continued>

13
Theravada / Kitab SUTTA NIPATA - Buddhisme pra-doktrinal
« on: 27 May 2008, 08:49:56 AM »
[Rekan-rekan yang berminat terhadap artikel ini, ada baiknya memiliki kitab Sutta-Nipaata yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Sangha Theravada Indonesia./hudoyo]


BUDDHISME PRA-DOKTRINAL DI DALAM KITAB SUTTA-NIPAATA:
POTRET PSIKOLOGIS ORANG SUCI BUDDHIS ZAMAN AWAL
[01]

Oleh: Dharmacaari Naagapriya

        Apakah doktrin-doktrin Buddhisme yang paling pokok? Apakah sesungguhnya yang diajarkan oleh Sang Buddha? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menggoda dan banyak diperdebatkan, dan mungkin tidak akan pernah ada jawaban yang diterima secara universal. Dalam kenaifan kita, kita mungkin serta-merta menjawab dengan, misalnya: Empat Kebenaran Suci, Jalan Suci Berunsur Delapan, Tiga Sifat Eksistensi (Tilakkha.na), atau Hukum Mengada Saling Bergantungan (Pa.ticca-samuppaada). Mungkin dianggap bahwa jawaban seperti itu sesuai dengan ortodoksi (paham keagamaan yang diterima secara umum) dan dengan demikian tidak ada masalah. Barangkali tidak ada seorang Buddhis akan mengingkari bahwa semua rumusan Dharma yang telah saya sebutkan---ditambah beberapa lagi--membentuk landasan yang tak mungkin dihilangkan, yang di atasnya dibangun tradisi Buddhisme (sekalipun mungkin mereka mengklaim bahwa tradisi mereka sendiri jauh melampaui ajaran-ajaran ini). Yang menarik perhatian ialah bahwa rumusan-rumusan doktrinal ini sama sekali tidak tercantum dalam kitab Sutta-Nipaata atau sedikit sekali disinggung.  Sesungguhnya, kitab Sutta-Nipaata--yang termasuk Khuddaka Nikaaya dari Sutta Pi.taka--memperlihatkan secara mencolok tidak adanya rumusan-rumusan doktrinal apa pun. [2]

        Pengamatan ini bisa disimpulkan dengan beberapa cara. Pertama, kita dapat menyimpulkan begitu saja bahwa dengan demikian Kitab Sutta-Nipaata merupakan penyimpangan dan bukan kitab Buddhis yang sesungguhnya. Kedua, kita bisa menyimpulkan bahwa ajaran-ajaran di dalam Sutta-Nipaata ditujukan kepada orang-orang yang terlalu sederhana untuk memahami kedalaman doktrin-doktrin Buddhis. Namun, bahkan penyelidikan sepintas lalu terhadap isi Sutta-Nipaata dan perenungan sedikit mengenai beraneka-ragamnya orang-orang yang berbicara dengan Sang Buddha akan menunjukkan bahwa pendapat ini tidak bisa dipertahankan. Banyak  di antara ajaran-ajaran di dalam Sutta-Nipaata sesungguhnya dalam [3], dan banyak di antara pencari spiritual yang tampil di dalam teks ini adalah orang-orang yang relatif berpendidikan dan canggih--seperti para brahmana Weda [4]--atau bahkan telah cukup jauh maju secara spiritual [5] ketika mereka bertemu dengan Sang Buddha. Dalam beberapa kasus, Sang Buddha hanya sekadar "mendorong mereka dari tepi  jurang". Sekalipun jelas bahwa sebagian besar sutta-sutta itu ditujukan kepada pelaku awam [6], semuanya memiliki kemurnian isi tanpa kompromi, suatu integritas spiritual yang tampak memperkuat kedalamannya.

        Ketiga, yang jauh lebih mungkin, kita dapat memperkirakan bahwa isi kitab Sutta-Nipaata merekam suatu periode dari masa mengajar Sang Buddha--dan dengan demikian suatu periode dalam perkembangan Buddhisme--sebelum salah satu sajian sistematik yang terkenal dari ajaran telah berkembang. Inilah tesis yang menarik bagi saya dan akan saya kembangkan dalam tulisan ini. Tetapi ada satu kemungkinan lain yang menarik bagi saya: mungkin susunan pertanyaannya keliru. Mungkin bertanya, "Apakah doktrin orisinal Buddhisme?", adalah suatu anakronisme (pertanyaan yang tidak pas untuk zaman Buddhisme awal itu sendiri), yang sama sekali tidak cocok dengan sifat-sifat dan citarasa Buddhisme awal. Singkatnya, mungkin tidak ada doktrin apa-apa pada Buddhisme awal. Tapi, jika demikian, apa yang ada?

[Kalau kemungkinan ini benar, maka suasana ajaran pada zaman Buddhisme awal mirip dengan apa yang kita lihat dalam abad ke-20 ini dalam fenomena J. Krishnamurti: Sang Buddha mengajarkan sadar/eling, tanpa teori metafisikal apa pun, begitu pula J Krishnamurti./hudoyo]

        Bagaimana pun juga, di situ ada Sang Buddha--teladan Pencerahan yang dapat dicapai oleh manusia. Ada beliau seperti apa adanya, karakter beliau, bagaimana tingkah laku beliau, dan bagaimana beliau berkomunikasi dengan manusia. Lebih dari doktrin apa pun, Sang Buddha memberikan, melalui kepribadian beliau sendiri, suatu teladan dari cita-cita Pencerahan--tidak perlu ada deskripsi yang canggih mengenai hal itu. Kitab Sutta-Nipaata, dan banyak teks lainnya, banyak menampilkan dampak pribadi dari Sang Buddha terhadap orang-orang yang bicara dengan beliau [7], khususnya dengan banyak penekanan pada peristiwa melihat Sang Buddha sebagai peristiwa yang secara spiritual bermanfaat [8]. Lebih daripada apa pun yang beliau katakan, kehadiran Sang Buddha itu sendirilah--karisma spiritual beliau [9]--yang memberikan landasan bagi otoritas dan dampak transformatif beliau pada pendengarnya. Ajaran beliau adalah beliau sendiri: suatu saksi hidup dari pesan yang diserukan oleh beliau. Di dalam kitab Sutta-Nipaata--dan sesungguhnya juga di dalam teks-teks Paali lainnya--kita menemukan banyak contoh tentang Sang Buddha memberikan apa yang sesungguhnya ajaran yang amat sederhana dan gamblang. Ketika mendengar ajaran itu, satu--atau kadang-kadang lebih--dari hadirin mencapai kesucian Sotapanna. Begitu mudah tampaknya! Di dalam membaca sutta-sutta, kita harus membayangkan dampak langsung dari kehadiran Sang Buddha terhadap hadirin, suatu kehadiran yang dikomunikasikan melalui kata-kata yang beliau ucapkan, tetapi tidak sepenuhnya terkandung di dalamnya. Berabad-abad kemudian, kita harus merekonstruksikan kembali secara imajinatif kehadiran Sang Buddha hidup untuk dapat memahami dampak beliau terhadap orang lain.

        Sekalipun jika uraian yang diikhtisarkan di atas diterima, itu hanya menimbulkan kesulitan lebih jauh. Jika sifat Buddhisme zaman awal dapat paling baik dipahami melalui kepribadian Sang Buddha (yang sekarang tidak diketahui lagi), maka timbul pertanyaan: seperti apa Sang Buddha itu sesungguhnya? Pertanyaan ini juga penuh dengan kesulitan. Begitu banyak terselimuti kabut waktu, begitu banyak tertutupi pengubahan-pengubahan editorial dari generasi-generasi berikutnya, mencari sosok Sang Buddha tampak akan sia-sia seperti mengejar pelangi. Individu historis yang bernama Gotama Buddha tampak hilang tanpa dapat ditemukan kembali. Bahkan, pencarian apa yang dianggap biografi Sang Buddha 'historis' itu sendiri mungkin keliru dan tak dapat diandalkan. Berapa banyak dari kitab-kitab suci yang ada (Kanon Paali) mewakili ajaran Sang Buddha yang sesungguhnya dan berapa banyak merupakan tambahan-tambahan belakangan, sama sekali tidak mudah untuk ditetapkan dengan akurat. Namun, kitab-kitab suci itu mungkin menyajikan petunjuk-petunjuk berharga tentang, jika bukan Sang Buddha sendiri, sekurang-kurangnya manusia seperti apa yang dicita-citakan oleh kaum Buddhis zaman awal.

--------------------
Catatan kaki:

[1 : Orang suci Buddhis bisa laki-laki bisa perempuan.]
[2 : Kekecualian yang paling nyata terhadap ini ialah Sn 3.12 yang, di
dalam konteks seluruh kumpulan teks ini, agak tidak cocok tempatnya.]
[3 : Lihat, misalnya, seluruh A.t.taka-vagga, yang menyajikan kritik yang
amat tinggi dan canggih terhadap hakekat paham-paham.]
[4 : Lihat, misalnya, brahmana Aggikabhaaradvaaja (sutta 1.7) atau brahmana
Sundarikabhaaradvaaja (sutta 3.4).]
[5 : Lihat, misalnya, petapa kelana Sabhiya (sutta 3.6).]
[6 : Misalnya, sutta-sutta 1.6, 2.4.]
[7 : Lihat, misalnya, sutta 3.1.]
[8 : Praktek ini di Barat dikenal sebagai 'darshan' (Hindi).]
[9 : Kamus Collins: "suatu sifat atau kekuatan pribadi yang istimewa dari
seseorang, yang membuatnya mampu mempengaruhi atau mengilhami sejumlah
besar orang." Saya tidak menggunakan istilah itu dalam pengertiannya yang
modern dan sekuler.]

<bersambung>

14
Yang berikut ini saya baca dalam buku Pak-Auk Sayadaw:

Quote
"The splendour, radiance, light, brilliance and brightness of wisdom that you have developed [dengan konsentrasi seperti diuraikan terdahulu/hh] enables you to go back along the line of successive mentality-materiality from the present to the moment of your rebirth in this life, to the moment of your death in your past life, and further back in the same way to as many lives as you can discern, and then also look into the future, to the time of your own Parinibbāna. ...

Without seeing past lives and future lives it is impossible for you to understand dependent origination as it really is: to know and see how past causes have given results in the present, and present causes will give results in the future, and how the cessation of the causes gives the cessation of the results. And without knowing and seeing dependent origination, it is impossible to know and see the Noble Truth of the Origin of Suffering as it really is. ...
"

Betulkah ini? Betulkah untuk bisa MELIHAT/MENEMBUS Paticcasamuppada--dan dengan demikian untuk mencapai nibbana--orang harus memiliki abhinna untuk melihat kehidupannya di masa lampau dan masa depan?
Adakah arahat yang tidak memiliki abhinna itu?

Lalu argumentasi itu dihubungkan dengan kutipan dari Visuddhimagga:

Quote
"It is explained in the Visuddhi Magga:

There is no one, even in a dream, who has got out of the fearful round of rebirths, which is ever destroying like a thunderbolt, unless he has severed with the knife of knowledge well whetted on the stone of sublime concentration, this Wheel of Becoming, which offers no footing owing to its great profundity, and is hard to get by owing to the maze of many methods.

And this has been said by the Blessed One:
'This dependent origination is profound, Ānanda, and profound it appears. And, Ānanda, it is through not understanding, through not penetrating it, that this generation has become a tangled skein, a knotted ball of thread, matted as the roots in a bed of reeds, and finds no way out of the round of rebirths, with its states of loss, unhappy destinations… perdition.' (Maha-nidana Sutta, DN 15)"

(Pa-Auk Sayadaw, "Knowing and Seeing", Revised Edition, halaman 30-31)

Sepertinya kutipan Visuddhimagga itu kok tidak nyambung dengan argumentasi di atasnya, ya. ...

Salam,
hudoyo



15
Theravada / TUVATAKA-SUTTA
« on: 22 May 2008, 10:01:32 AM »
Ini adalah salah satu sutta favorit saya. Di sini Sang Buddha tidak mengajarkan teknik-teknik meditasi yang canggih-canggih seperti dalam Mahasatipatthana-sutta. Yang diajarkan di sini justru adalah meditasi yang sangat sederhana, yakni mengamati (sadar/eling) akan gerak-gerik si aku. Itu saja.

Meditasi yang diajarkan Sang Buddha di sini sejalan dengan yang diajarkan dalam Bahiya-sutta dan Malunkyaputta-sutta. Ajaran seperti inilah yang melandasi MMD.

Bahiya-sutta, Malunkyaputta-sutta, Tuvataka-sutta dsb adalah sutta-sutta pendek. Menurut penelitian linguistik, sutta-sutta pendek--seperti yang tercantum dalam Udana, Itivuttaka, Suttanipata dsb--termasuk lapisan yang sangat tua dari Tipitaka Pali. Artinya, sutta-sutta pendek itu lebih dekat ke zaman Sang Buddha dibandingkan sutta-sutta yang lebih panjang, seperti sutta-sutta dari Digha Nikaya dan Majjhima Nikaya.

Yang menarik pula dari sutta ini adalah judulnya, "Tuva.taka-sutta". 'Tuva.ta.m' berarti "segera", maksudnya: "segera padam".

Salam,
hudoyo

*****

TUVA.TAKA SUTTA.M
Sutta-nipata, 4.14

Quote
1. Pucchaami ta.m aadiccabandhu.m
Viceka.m santipada~nca mahesi.m,
Katha.m disvaa nibbaani bhikkhu
Anupaadiyaano lokasmi.m ki~nci.

1.
“Aku bertanya kepada Sang Arif, Sanak Matahari,
yang telah padam, damai:
Bagaimanakah seorang
bhikkhu padam (nibbaani),
tidak melekat pada apa pun di dunia?” 

Quote
2. Mula.m papa~nca sankhaaya
(iti bhagavaa)
Mattaa asmiti sabbamuparundhe,
Yaa kaaci ta.nhaa ajjhatta.m
Taasa.m vinayaa sadaa sato sakkhe.

2.
(Jawab Sang Bhagava:)
“Ia harus menghentikan semua akar kerumitan:
‘Akulah si pemikir’;
Ia harus terus berlatih, selalu sadar,
Meredam keinginan di dalam dirinya

Quote
3. Ya.m ki~nci dhammamabhija~n~naa,
Ajjhatta.m athavaapi bahiddhaa,
Na tena maana.m kubbetha
Na hi saa nibbuti sata.m vuttaa.

3.
Kebenaran apa pun yang diketahuinya
Di dalam atau di luar,
Jangan terperangkap dengan itu,
Itu bukan nibbana, kata para Luhur.

Quote
4. Seyyo na tena ma~n~neyya
Niveyyo atha vaapi sarikkho,
Phu.t.tho anekaruupehi
Naatumaana.m vikappaya.m ti.t.the.

4.
Demi hal itu janganlah berpikir
Aku lebih tinggi, lebih rendah, atau sama
Tersentuh kontak dalam berbagai cara
Jangan terus menciptakan diri.

Quote
5. Ajjhattameva upasame
Na a~n~nato bhikkhu santimeseyya,
Ajjhatta.m upasannassa
Natthi attaa kuto nirattaa vaa.

5.
Hening di-dalam, seorang bhikkhu
Jangan mencari kedamaian dari apa pun yang lain
Bagi orang yang hening di-dalam,
Tiada diri yang dipegang,
Dari mana pula lawan-diri?

Quote
6. Majjhe yathaa samuddassa hoti,
Uumi no jaayati .thito hoti,
Eva.m .thito anejassa
Ussada.m bhikkhu na kareyya kuhi~nci.

6.
Bagaikan di tengah samudra hening,
Tiada alunan gelombang,
Begitu pula bhikkhu, tak tergoyahkan, hening
Tidak membesarkan diri di mana saja.”

Quote
7. Akittayi viva~nacakkhu
Sakkhidhamma.m parissayavinaya.m.
Pa.tipada.m vadehi bhaddante
Paatimokkha.m athavaapi samaadhi.m.

7.
“Ia yang matanya terbuka
Menguraikan Dhamma yang dilihatnya
Meredakan bahaya.
Uraikanlah, Bhante, Jalan itu:
Disiplin tinggi atau samadhi.”

8.
“Janganlah memandang dengan keserakahan,
Tutuplah telinga dari obrolan kota,
Jangan mendambakan citarasa lezat,
Jangan memandang apa pun di dunia sebagai ‘milikku’.

9.
Bila tersentuh kontak ia tidak meratap,
Tidak mendambakan keberadaan apa pun di mana pun,
Tanpa sedikit pun gemetar ketakutan.

10.
Memperoleh makanan, minuman,
kudapan dan pakaian,
Ia tidak menyimpan.
Tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya.

11.
Terserap dalam keheningan,
Tidak keluyuran,
Tidak gelisah,
Tidak lalai,
Duduk dan berbaring dalam kesunyian.

12.
Tidak terlalu banyak tidur,
Rajin dan senang jaga,
Menanggalkan kemalasan,
Pengelabuan, tertawa-tawa,
olah raga, sanggama, dan menghias diri.

13.
Tidak membuat jimat,
Menafsir tanda-tanda tubuh,
Mimpi, rasi bintang, bunyi binatang,
Tidak memberi obat-obatan
Atau membuat keguguran.

14.
Bila dicela tidak gemetar,
Bila dipuji tidak menyombong,
Mengesampingkan sikap mementingkan-diri,
keserakahan, ucapan memecah-belah, amarah;

15.
Tidak berjual beli
Atau menghina siapa pun di mana pun,
Tidak diam di kota,
Atau menyanjung untuk memperoleh keuntungan.

16.
Bhikkhu itu tidak membual
atau bicara dengan maksud tersembunyi,
Tidak berlatih menghujat
Atau melontarkan kata-kata bermusuhan.

17.
Tidak berdusta,
menipu dengan sengaja,
Tidak merendahkan orang lain
dalam hal kehidupan, moral, pengetahuan & perilakunya.

18.
Menerima banyak cercaan
dari petapa dan orang biasa,
Ia tidak menjawab dengan kasar,
Mereka yang membalas belumlah tenang.

19.
Mengetahui Ajaran ini
Bhikkhu itu berlatih terus, dengan penuh perhatian.
Memahami peredaan adalah kepadaman,
Ia rajin menjalankan Ajaran Sang Gotama.

20.
Yang tak tercapai akan tercapai,
Ajaran inilah saksinya,
Aku melihat keadaan sehat itu.
Oleh karena itu, berlatihlah di dalam Ajaran Sang Bhagava,
Dengan tekun dan penuh penghormatan.”



Pages: [1] 2