Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - Yong_Cheng

Pages: [1] 2
1
PARA ILMUWAN MANUSIA DARI PLANET LAIN MENCIPTAKAN SEMUA KEHIDUPAN DIATAS BUMI MEMAKAI DNA.

Jejak-jejak dari maha-karya penciptaan ini dapat ditemukan didalam semua tulisan dan tradisi keagamaan. Kepada merekalah bahwasanya Musa, Yesus, Buddha dan Muhammad mengacu. Sekarang saatnya menyambut mereka.

APA YANG TERJADI?

Pada 13 Desember 1973, jurnalis Perancis Rael dihubungi oleh seorang pendatang dari planet lain, dan diminta untuk mendirikan sebuah Kedutaan untuk menyambut orang-orang ini kembali ke bumi.

Mahluk manusia angkasa luar tingginya sedikit diatas empat kaki, memiliki rambut panjang berwarna gelap, mata berbentuk oval, kulit seperti zaitun, dan memancarkan keselarasan dan kejenakaan. Rael baru-baru ini menggambarkan dia dengan perkataan sederhana, "Seandainya dia mondar-mandir di sebuah jalan di Jepang, bisa jadi dia tak akan diperhatikan." Dengan kata lain, mereka menyerupai kita, dan kita menyerupai mereka. Dalam kenyataannya, kita diciptakan "dalam citra mereka" sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Injil.

Dia berkata kepada Rael bahwa:

"Kamilah yang merancang semua kehidupan diatas bumi"
"Kalian salah mengira kami sebagai dewa-dewa"
"Kami adalah asal-usul dari agama-agama utama kalian"
"Sekarang bahwasanya kalian cukup matang untuk mengerti ini,kami berkeinginan berhubungan secara resmi melalui sebuah kedutaan"


AMANAT-AMANAT

Amanat-amanat yang didiktekan kepada Rael menjelaskan bahwa kehidupan diatas bumi bukan hasil dari evolusi acak, juga buka karya dari seorang 'Tuhan' supranatural. Ini adalah ciptaan yang disengaja, memakai DNA, oleh sekelompok ilmuwan yang telah maju secara ilmiah yang telah membuat mahluk manusia secara harafiah "dalam citra mereka" -- yang dapat disebut "penciptaan ilmiah." Referensi untuk ilmuwan-ilmuwan ini dan karya mereka, seperti halnya lambang mereka tentang ketidak terbatasan, dapat ditemukan didalam teks-teks kuno dari banyak kebudayaan. Misalkan, dalam Kitab Kejadian, kisah Penciptaan di Injil, kata "Elohim" telah salah diterjemahkan sebagai kata tunggal "Tuhan", yang sebenarnya sebuah kata jamak yang berarti "mereka yang datang dari langit", dan kata tunggalnya adalah "Eloha" (dikenal juga sebagai "Allah"). Kebudayaan-kebudayaan asli diseluruh dunia mengingat "dewa-dewa" ini yang datang dari langit, termasuk penduduk asli dari Afrika (Dogon, Twa, dll.), Amerika, Asia, Australia, dan Eropa.

Membiarkan umat manusia berkembang dengan sendirinya, meskipun demikian Elohim telah memelihara hubungan dengan kita melalui para nabi termasuk Buddha, Musa, Muhammad, dll., semuanya dipilih dan dididik secara khusus oleh mereka. Peran dari para nabi adalah untuk memajukan manusia melalui Amanat-amanat yang mereka ajarkan, masing-masing sesuai dengan kebudayaan dan tingkat pemahaman mereka pada waktu itu. Mereka juga meninggalkan jejak-jejak Elohim sehingga kita dapat mengenali mereka sebagai Pencipta kita dan sesama manusia ketika kita telah cukup maju secara ilmiah untuk memahami mereka. Yesus, yang ayahnya seorang Eloha, diberi tugas untuk menyebarkan amanat-amanat ini keseluruh dunia sebagai persiapan untuk zaman yang penting ini didalam mana sekarang kita semua berhak untuk hidup: Abad Pengungkapan yang telah diramalkan.

Mohon pendapatnya,

download ebook: http://id.rael.org/download.php?view.70

2
Kafe Jongkok / SMS gratis? coba aja
« on: 28 November 2008, 11:15:55 AM »
SMS gratis? coba aja  ;D ;D

buat hilangin stress hehe

http://www.ziddu.com/download/2777431/SMS-gratiskeSemuaHP.rar.html








3
Biji bunga teratai merupakan bagian dari bunga yang dianggap sebagai lambang kesucian bagi umat Budha. Biji bunga teratai diyakini bisa menyembuhkan penyakit. Selain mendorong agar limpa sehat, membantu menghentikan diare, juga dapat memperkuat jantung dan ginjal.

Biji teratai atau yang dalam bahasa Cina disebut lian mi, berarti biji lotus, merupakan tanaman air yang mampu bertahan hidup cukup lama. Cirinya, bunga dan daun berdiri tegak di air.

Ketika bunga telah mekar, terbentuk kelopak biji yang berisi 20-30 lubang kecil. Pada setiap lubang tersembunyi satu buah biji.

Kulit luar biji teratai ini keras dan berwarna hitam. Bila dibuka, tampak biji yang berwarna merah. Di dalamnya terdapat daging biji yang berwarna kuning pucat, berbulu, dan agak seperti bubuk.

Aroma biji ini tidak terlalu menyengat dan rasanya agak manis. Di tengah-tengah biji terdapat kecambah kecil warna hijau, yang biasanya disebut hati teratai, rasanya agak pahit.

Rasa kelopak bunganya manis dan mengandung astringen, zat yang menyebabkan pengerutan jaringan. Karena dapat mengurangi sekresi, daging buahnya baik untuk perawatan kulit.

Sifat biji bunga teratai tidak panas maupun dingin. Khasiatnya mendorong agar limpa sehat, membantu menghentikan diare, dan memperbaiki jantung serta ginjal.

Menghilangkan Panas

    *Rasa daging buah teratai pahit namun menyegarkan. Khasiatnya meredakan panas dalam perut, menghentikan pendarahan, dan mencegah keluarnya mani di malam hari.

Daging buah biji teratai mengandung karbohidrat, protein, minyak, kanji, kalsium, fosfor, dan besi. Daging biji teratai juga mengandung banyak alkaloid, glukosida, dan sebagainya.

Menurut Dr. Setiawan Dalimartha, dokter yang banyak menggunakan resep tanaman obat dan metode holistik dalam menangani pasiennya, sifat khas dari biji bunga teratai ialah mendinginkan. “Salah satu kegunaan biji teratai ini ialah menghilangkan panas dalam di lambung, serta mengeluarkan panas dan lembab dari usus,” kata Dr. Setiawan.

Endah Lasmadiwati, ahli tanaman obat dari Bogor, mengingatkan bahwa penggunaan biji teratai yang berlebihan bisa menyebabkan diare. Sebab, kandungan protein nabatinya sangat besar.

“Jadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, untuk menyembuhkan penyakit, disarankan menuruti benar apa yang tertulis dalam resep,” ujar istri Putu Oka Sukanta, akupunturis dan pemilik Kebun Obat Taman Sringanis Bogor ini.

Kini biji bunga teratai mudah didapatkan di mana-mana, semisal di toko obat Cina atau toko ramuan khusus, termasuk di hypermarket dan pasar swalayan. Ada di antaranya yang sudah dalam bentuk terkupas rapi, ada pula yang masih seperti aslinya.  [at]  Suharso Rahman

Pengobatan Penyakit Menggunakan Ramuan Biji Teratai

1. Mengembalikan stamina setelah sakit parah, mengembalikan tenaga karena kerja berlebihan, atau untuk mereka yang seusai melahirkan

Ambil 30 gram daging biji teratai, 30 gram gula merah, 30 gram anggur beras, dan dua telur ayam negeri. Aduk menjadi satu adonan, kukus. Makan setiap malam hingga keluhan berkurang.

2. Disentri berkepanjangan
Ambil 30 gram daging biji teratai, kukus hingga matang. Jemur dan tumbuk menjadi bubuk. Tambahkan pada menu makan sehari-hari. Lakukan tiga kali sehari.

3. Limpa dan perut melemah setelah diare
Ambil 120 gram daging biji teratai dan 120 gram beras. Secara terpisah, sangrai kedua bahan tersebut hingga berwarna kuning. Tumbuk hingga menjadi bubuk. Campur dengan 2 sendok teh gula pasir dan air matang. Kompreskan di daerah yang sakit.

4. Tekanan darah tinggi
Ambil 1,5 gram biji teratai. Setelah dibersihkan hingga mendapatkan intinya, masukkan dalam mulut dan kunyah. Kemudian telan dengan minum air. Lakukan tiga kali sehari.

5. Mata merah dan bengkak, mata tegang, air mata sering keluar
Ambil 3 gram biji teratai dan 9 gram bunga seruni. Kumpulkan dalam kain bersih, kukus. Setelah agak dingin, kompreskan pada mata. Lakukan dua kali sehari, pagi dan malam hari.

6. Susah tidur
Siapkan 5-12 gram biji teratai, rendam, rebus dengan tiga gelas air hingga menjadi satu gelas. Setelah agak dingin, minum airnya dan bijinya dimakan. Lakukan hingga ada perubahan.

7. Depresi, stres, gelisah
Ambil 20 butir biji teratai, 15 gram biji lengkeng, 10 butir angco, dan 10 gram kim cim. Semuanya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Setelah agak dingin, minum airnya. Biji teratai, angco, dan kim cim rebus bisa dimakan. Lakukan hingga keluhan berkurang.

8. Menunda penuaan
Siapkan 30 gram biji teratai, 15 gram bunga teratai, dan 50 gram akar rimpang teratai yang telah dipotong-potong. Rebus semuanya bersama 25 gram beras merah sampai menjadi bubur. Selagi hangat, makan.

Catatan: Sebelum mencoba resep ini, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter atau terapis kesehatan untuk mencegah kontraindikasi.

Sumber: http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0405/09/093845.htm

4
Kafe Jongkok / Beredar Rekaman Suara Kokpit AdamAir
« on: 02 August 2008, 12:07:33 PM »
Di internet beredar rekaman pembicaraan yang disebut-sebut sebagai rekaman terakhir pembicaraan di kokpit pesawat naas AdamAir dengan nomor penerbangan KI 574 tujuan Surabaya-Manado yang jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007 silam.

Rekaman pembicaraan ini tersebar secara berantai melalui e-mail. Entah, sejak kapan rekaman ini beredar. Juga tidak diketahui secara pasti benar atau tidaknya rekaman ini.

Rekaman berdurasi 5:38 menit itu merupakan percakapan dua orang lelaki dengan latar belakang suara gemuruh di sepanjang percakapan. Seorang lelaki dalam percakapan itu dipanggil "Kep" (Captain). Lelaki yang satunya lagi tidak bisa diidentifikasi. Namun, tertangkap dengan jelas dari nada suaranya, lelaki yang dipanggil "Kep" adalah pimpinan dari lelaki yang satunya.

Di awal percakapan mereka membicarakan tentang cuaca yang buruk dan ketidakjelasan posisi. Pilot kemudian memutuskan untuk terbang menggunakan sesuatu yang disebutnya "attitude".

Menjelang akhir rekaman, kedua orang itu banyak menyebut angka. Radio komunikasi tidak putus-putus berbunyi. Di akhir percakapan, nada suara kedua orang itu terdengar panik. Suara lelaki yang dipanggil "Kep" berulang kali berteriak, "Coba naik...Coba naik...."

Lalu suara gemuruh terdengar lebih keras dan kedua orang itu berulang-ulang menyebut asma Allah, "Allahu Akbar...Allahu Akbar..." Kemudian terdengar suara seperti benturan diikuti teriakan asma Allah yang panjang dan rekaman itu berakhir.

Mirip?

Kalau dicermati, rekaman percakapan ini mirip dengan persoalan yang dihadapi almarhum Kapten Pilot Refri A Widodo dan kopilot Yoga di kabin pesawat naas itu. Berdasarkan penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pesawat yang membawa 96 penumpang ini awalnya dihantam cross wind (angin yang tiba-tiba muncul dari arah samping pesawat) yang membuat pesawat keluar dari lintasan. Pilot kehilangan posisi.

Berdasarkan rekaman pembicaraan antara kokpit AdamAir dengan Air Traffic Control (ATC) Makassar pesawat diduga keluar jalur lintasan penerbangan dari Surabaya-Manado. Kokpit AdamAir sempat meminta ATC Makassar memandunya.

Ketika pilot melaporkan adanya cross wind, radar ATC Makassar menangkap pesawat bergeser ke luar lintasan ke arah barat. ATC lantas meminta pesawat mengubah arah. Namun, sebelum mencapai jalur pesawat sudah hilang dari radar.

Sementara itu, berdasarkan analisis KNKT, pesawat yang terbang pada hari pertama tahun 2007 itu mengalami kerusakan alat bantu navigasi inertial reference system atau IRS.

Pilot mengalami disorientasi spasial, tidak menyadari kemiringan pesawat. Kemiringan pesawat mencapai 100 derajat dan posisinya menunduk 60 derajat. Pesawat meluncur sangat kencang dengan kecepatan Mach 0,926 atau setara dengan 1.100 kilometer per jam. Padahal, kecepatan normal Mach 0,82. Akibatnya pesawat tidak mampu lagi dikendalikan dan jatuh ke laut.

Rekaman itu

Berikut rekaman pembicaraan itu:

.....suara gemuruh yang monoton....

Lelaki yang dipanggi "Kep" (Capt): Ini posisinya dia di sono...

.....suara pembicaraan dalam bahasa Inggris di radio komunikasi (tidak jelas)....

Capt: Ujung pandang di luar..
Lelaki lain (Lelaki): Cuaca....ampun deh..

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Lho, ini diembinye dia? (apakah yang dimaksud DMB?)
Lelaki: Iya, makanya itu Capt, ngaconya di situ
Capt: Lha, ini mike kilo siera (MKS)?

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Tapi nggak jelas nih
Capt: Anginnya dah mulai normal lagi
Lelaki: Ya

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....
sempat terdengar, "Selamat tahun baru, Mas....ok di-copy, disampaikan nanti insya allah.."

Capt: ....(tidak jelas)...diembi gue beda dengan diembi gambarnya ini
Lelaki: Iya, ngaco dia, benar
Capt: Udah ngaco emang...(jeda)... udah mulai kapal bambu, udah.... (jeda)....mendingan kita percaya sama ini aja deh..
Lelaki: Hehe..(tertawa kecil) iya lah
Capt:...Terlalu jauh banget...

.....suara gemuruh yang monoton...

Capt: Salah lagi itunya

.....suara gemuruh yang monoton...

Capt: Coba tolong confirm posisi aja .....(tidak jelas, Capt memerintahkan lelaki berbicara tentang sesuatu)....

........komunikasi radio dalam bahasa Inggris, "Confirm radio...contack to radio 307.."...selanjuntya tidak jelas....

Capt: Ok, that's confirm..ok that's confirm
Capt: Ngaco...bla..bla..nya... (terdengar seperti SMS-nya) SMS telah mengacaukan dirinya sendiri, edan opo (gila apa)
Capt: Woi, terbangnya melanglang buana'e...

.....suara gemuruh yang monoton...

Lelaki: ...tidak jelas...
Capt: Coba gue pake ini aja deh terbangnya....(tidak jelas)...taruh di attitude...
Lelaki: Yes...

.....suara gemuruh yang monoton...

Lelaki: Masuk ke..?
Capt: Fill aja
Lelaki: Fill?
Capt: Iya full aja
Lelaki: Full aja ya
Capt: Kita pake atitude aja ni
Lelaki: Yang left?

....percakapan tertutup komunikasi radio dalam bahasa Inggris.......

.....kreett..krett...komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Masukin heading
Lelaki: Heading berapa nih, Capt?
Capt: Zero..zero..seven nine ya
Lelaki: Ya

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Coba naik lagi
Capt: Coba left lagi
Lelaki: Yes
Capt: Coba left...coba left ...
Lelaki: Ok Capt
Capt: Jangan dibelokin nih (suara Captain mengeras)
Lelaki: Captain...Captain... Captain...(panik)

......Suara gemuruh makin keras dan terndengar suara kretek....kretek...kretek....

Lelaki: Aduh Capt..Capt...
Capt: Ya..ya..

......Suara gemuruh makin keras dan terndengar suara kretek....kretek...kretek....

Tidak jelas lagi suara siapa, terdengar Alhahu Akbar berulang kali....disertai suara gemuruh yang semakin keras.....suara seperti benturan dan teriakan aaaahhhh.... Alhahu Akbar .....Alhahu Akbar ......Alhahu Akbaaaaaaaaaar......(rekaman berhenti)...

Download:
Rekaman_Adam_Air.mp3 - 2.3 Mb

5
Buddhisme untuk Pemula / Nibanna dan Parinibanna
« on: 01 August 2008, 02:46:06 PM »
arti nibanna dan parinibanna sebenarnya apa ya?
maaf pertanyaan yang mendasar sekali, kalo repost tlg di hapus aja ya, trims
 _/\_

6
Keluarga & Teman / [Renungan] Meja Makan
« on: 22 July 2008, 07:47:48 PM »
*semoga bermanfaat bagi kita semua

MEJA MAKAN

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia    6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh Ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."
Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana , sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan
makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?".

Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita....

7
Kafe Jongkok / PELUANG BISNIS YANG SANGAT MENJANJIKAN
« on: 14 June 2008, 01:20:02 PM »
PELUANG BISNIS YANG SANGAT MENJANJIKAN


Banyak orang yang mengatakan bahwa bisnis di Indonesia saat ini sedang
susah. Siapa bilang? Banyak kok peluang bisnis yang sangat menjanjikan di
Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya tidak membutuhkan modal apapun,
namun keuntungan yang diperoleh luar biasa. Selain itu, risiko usaha sangat
kecil, bebas pajak, dengan tingkat stress yang sangat minim, bahkan halal
lagi. Wah.... siapa yang tidak tertarik?


Berikut ini adalah beberapa peluang bisnis yang sangat menjanjikan dan
dapat dikembangkan di Indonesia. Anda berminat menjalankannya?





TUKANG PARKIR


Modal : Nol, yang penting berani malu dan tahu lokasi starategis.


Penghasilan :


Jika diasumsi bahwa :
a. Parkir mobil : Rp 1,000 / mobil / jam
b. Parkir motor : Rp 500 / motor/ jam


Maka jika diasumsikan Anda bekerja 8 jam sehari di mana tempat parkir Anda
dapat memuat 20 mobil atau 40 motor, maka Anda akan memperoleh :


8 jam x 20 mobil x Rp 1,000 = Rp 160,000 / hari.


Jika Anda bekerja 26 hari perbulan, maka penghasilan Anda menjadi Rp
160.000 x 26 hari = Rp 4,160.000 / bulan (bebas pajak).


Keuntungan yang diperoleh :
a. Bebas pajak
b. Jam kerja tidak mengikat
c. Masih bisa mengerjakan pekerjaan sambilan (jualan rokok di warung)
d. Tingkat stress rendah
e. Tidak beresiko. Kalau pun ada (klaim, tuntutan karena kendaraaan yang
   diparkir hilang / rusak), tinggal lari saja.




PENGAMEN


Modal   : gitar, kencrengan, atau nol sama sekali. Yang penting berani
malu.


Penghasilan :


Tergantung tempat dan sasaran. Jika sasaran yang dituju adalah mobil angkot
mungkin bisa lebih besar. Jika diansumsikan tempat yang dituju adalah lampu
merah dengan durasi 2 menit, dan pendapatan Rp 300 / angkot, dan bekerja 8
jam, maka :


8 jam x (60 /2 menit) x Rp 300 = Rp 72.000 / hari.


Jika bekerja 26 hari perbulan, maka pemasukan minimum yang diperoleh adalah
: Rp 72.000 x 26 hari = Rp 1.872.000.


Keuntungan yang diperoleh :
a. Bebas pajak
b. Waktu kerja tidak mengikat
c. Tidak butuh keahlian. Cuap-cuap tanpa suara pun pasti dapat.
d. Stress nyaris tidak ada. Justru bisa menghibur diri.
e. Tidak beresiko, asal hati-hati kalo menyeberang atau mengamen di
   tengah jalan ramai.
f. Jika gesit (misalnya dalam satu durasi lampu lalu lintas dapat
   menyambangi 2-3 angkot), penghasilan bisa meningkat 2-3 kali lipat.




TUKANG BERSIH-BERSIH KACA MOBIL


Modal : kain rombeng, pembersih bulu ayam, busa dan sabun detergen


Penghasilan :


Nyaris sama dengan pengamen, malah dapat 3-4 kali lipat, karena dalam 1
durasi lampu lalu lintas, dapat menyambangi 5-10 mobil sekaligus,
tergantung kegesitan kerja.


Keuntungan yang diperoleh :
a. Bebas pajak
b. Waktu kerja tidak mengikat.
c. Tidak butuh keahlian. Yang penting kerja cepat saja.
d. Hasil kerja bukan tujuan akhir.
e. Tingkat stress tidak ada.




PENGEMIS


Modal : baju kusut, dekil, dan tidak mandi seminggu. Dan yang terutama :
berani malu!


Penghasilan :


Tergantung kemampuan menarik hati orang. Semakin memelas, maka penghasilan
semakin besar. Pada tahun 1997, seorang mahasiswa di sebuah perguruan
tinggi swasta Jakarta pernah mengadakan penelitian dan menemukan bahwa
seorang pengemis di Jakarta rata-rata mampu mengumpulkan Rp 500.000
perhari, atau Rp 15 juta perbulan. Bahkan baru-baru ini ada seorang ibu
asal Garut yang mengakui di sebuah media Bandung, bahwa dengan menjadi
pengemis selama 1 bulan saja, dia telah mampu pulang kampung dengan membawa
Baleno keluaran terbaru yang bernilai 200-an juta rupiah, plus oleh-oleh
untuk keluarga di kampungnya. Sebuah hasil yang luar biasa.  So jangan
heran bahwa pekerjaan menjadi primadona banyak orang yang datang ke
kota-kota besar.


Keuntungan yang diperoleh :
a. Bebas pajak
b. Waktu kerja tidak mengikat
c. Hanya butuh keahlian menarik hati orang.
d. Tingkat stress tidak ada
e. Dapat prioritas pertama dari Pemerintah kalo ada program bantuan bagi
   kaum dhuafa.


8
Sosok mayat purbakala ditemukan tanpa sengaja di tempat konstruksi, diperkirakan sudah berusia 500 tahun. Anehnya dari mayat tersebut tidak membusuk dan kulitnya juga masih halus lembab dan elastis. Selain itu, di bulan Agustus lalu yang panas terik di Jiangnan, diluar dugaan mayatnya dingin bagaikan es. Mayat kuno dan misterius tersebut menimbulkan sejumlah besar pertanyaan, siapa dan mengapa tidak membusuk?

Pada 5 Agustus 2000 silam, kantor kepolisian kota Huayang, distrik Songshan, Shanghai mendapat sebuah laporan, ditemukan sesosok mayat ketika sedang meratakan tanah. Ketika polisi tiba di lokasi, peti mati sudah tersingkap, sesosok mayat membungkuk di atas tanah, sekujur tubuhnya mengenakan dandanan kuno. Ketika polisi Xia Jifang mendekat, ia terkejut bukan main, korban adalah sesosok mayat laki-laki, dilihat dari kulit dan raut wajahnya dipastikan korban bukan mayat zaman sekarang, tapi anehnya mayat tersebut tidak membusuk dan terawat utuh.

Setelah peristiwa penemuan mayat itu diberitakan di media massa, petugas dari museum Songjiang, Shanghai, Yan Kun, segera datang ke lokasi dan tahap awal diyakini bahwa ini mungkin sebuah makam kuno. Yang tak kalah mengejutkan ketika diraba mayat tersebut dingin seperti es.

Ketika mencari barang-barang yang dikubur bersama si mayat kuno tersebut, Yang kun menemukan sebuah surat pentasbihan. Surat pentasbihan adalah suatu bukti status yang diberikan kepada umat Buddha, biksu atau murid Buddha, ketika pemegang surat pentasbihan bekelana ke empat penjuru dan menggantungkan surat di Biara, mereka harus memperlihatkan surat pentasbihan tersebut membuktikan status diri sebagai biksu. Dari surat pentasbihan tersebut, pemegangnya bernama Yang Fuxin, surat pentasbihan tersebut diberikan pada masa dinasti Ming, tepatnya tahun 1439 masehi atau kurang lebih sudah 500 tahun hingga sekarang. Kesimpulan awal para ahli bahwa mayat tersebut adalah pemilik surat pentasbihan ini. Masa kehidupan Yang Fuxin adalah akhir dari dinasti Yuan (1271-1386) dan awal dari dinasti Ming (1368-1644) dan sudah meninggal lebih dari 500 tahun.
Patung kayu, lembing/tombak yang dibawa serta bersama si mati dan telapak tangan yang lebih besar dari orang pada umumnya menunjukkan kalau orang ini adalah seorang pesilat. Untuk mengetahui lebih jelas identitas Yang Fuxin, petugas khusus mulai mencari petunjuk di lokasi penemuan mayat tersebut, diantara barang-barang yang paling menarik perhatian tidak lebih dari patung kayu prajurit dan tombak kayu. Ahli dari balai penelitian Wushu di kantor pusat olahraga nasional yakni Kang Gewu mendapati, bahwa tombak kayu ini tidak sama dengan tombak umumnya yang digunakan untuk latihan.
Kang Gewu menuturkan, bahwa dibalik semua itu tersimpan sepotong sejarah persilatan yang diketahui umum : pada masa dinasti Yuan, bangsa Mongol utara masuk ke dataran tengah. Bagi bangsa Mongol setempat, mereka mengajurkan wajib menunggang kuda, gulat dan berlatih silat. Namun, terhadap bangsa Han, mereka mengambil kebijakan melarang berlatih silat.

Tombak yang dibawa bersama si mati menunjukkan bahwa semasa hidupnya Yang Fuxin gemar akan silat, bahkan mungkin juga hidup dengan cara bermain silat. Apakah ini dapat membantu kita menyingkap misteri jati dirinya? Melalui pemeriksaan yang cermat terhadap Yang Fuxin, ahli peneliti mayat kuno mendapati kulit Yang Fuxin lembab halus dan elastis, bahkan beberapa sendi masih aktif. Menurut penentuan awal, usianya berkisar antara 75-80 tahun. Dalam pemeriksaan ahli terkait juga mendapati sebuah temuan penting: Telapak tangan Yang Fuxin lebih besar, terutama tulang telapak tangannya lebih besar dari orang pada umumnya. Ciri khas ini, lebih lanjut menunjukkan kemungkinan Yang Fuxin sangat mahir akan silat semasa hidupnya. Karena sepanjang tahun berlatih Wushu, terutama mereka yang berlatih telapak tangan, dimana jika sering berlatih akan mengembangkan otot telapak tangan dan dapat merangsang pertumbuhan tulang lebih cepat.

Apakah tubuh Yang Fuxin yang tidak membusuk ini dikarenakan mengonsumsi warangan (arsenikum) dan air raksa atau benda beracun lainnya menjelang ajal. Patung kayu prajurit, tombak kayu yang dibawa bersama si mati dan telapak tangan yang besar, menunjukkan bahwa mungkin karena Yang Fuxin bertahun-tahun berlatih silat. Jika memang ia adalah orang dari dunia persilatan, mayatnya yang tidak membusuk, lantas apa mungkin ini berhubungan dengan sejumlah teknik rahasia dalam legenda persilatan?

Pada zaman Tiongkok kuno, suatu teknik rahasia yang tersebar luas dalam dunia persilatan adalah minum racun atas kemauan sendiri, selama beberapa bulan menjelang ajal, tetap mengonsumsi air raksa dan arsenikum dalam dosis kecil dan benda beracun lainnya, degan demikian, racun yang terhimpun dalam tubuh dapat memberi efek mencegah fisik tidak membusuk setelah meninggal dunia.
Tapi, teknik rahasia ini hanya kabar burung. Jika Yang Fuxin memakai cara ini, maka di dalam tubuhnya pasti akan meningalkan bekas. Unsur kimia arsenikum adalah arsenik, dan unsur kimia air raksa adalah Hydrargyrum (hg), keduanya ini termasuk unsur logam berat. Untuk menyingkap keraguan ini, para ahli memutuskan mengumpulkan sample rambut dan sample lainnya dari mayat tersebut, untuk memastikan kadar logam berat tersebut. Namun, setelah dianalisis secara kimiawi terhadap organ dalam dan rambut Yang Fuxin didapati, unsur logam berat di dalam tubuhnya tidak berbeda dengan orang pada umumnya, termasuk dalam batas normal. Tampaknya, Yang Fuxin tidak menenggak racun atas inisiatifnya sendiri. Tapi, apa yang membuat tubuhnya bisa secara gaib tetap terawat dengan baik?

Apakah faktor lingkungan penguburan atau struktur makam yang istimewa yang membuat mayat tersebut terawat utuh?

Dalam kondisi normal, dimana setelah manusia meninggal dunia, maka sel kita perlahan-lahan akan kehilangan daya hidupnya. Melarut dibawah efek enzim hidrolisa individu dan ini yang disebut dengan proses larutan sendiri. Kemudian diserang kuman busuk dan melalui penguraian kuman busuk, tubuh manusia kemudian menjadi seonggok tulang belulang. Ahli terkait memeriksa cairan jaringan dan larutan sendiri Yang Fuxin sangat mencukupi, sel dalam tubuhnya mulai mengurai setelah ia meninggal dunia. Jika memang demikian, maka selama 500 tahun berikutnya, efek bakteri semestinya telah mengurainya menjadi seonggok tulang kering sejak dulu. Akan tetapi, tubuhnya tetap terawat utuh hingga sekarang.

Dulu sebagian besar mayat yang tergali kebanyakan berasal dari pantai Gobi, Xinjiang atau kawasan gurun pasir dan tempat yang ekstrem kering. Tapi, tempat ditemukannya mayat Yang Fuxin adalah Shanghai yang beriklim lembab, di lingkungan seperti ini bagaimana mungkin mayat tersebut bisa terawat secara utuh?

Peti mayat Yang Fuxin memakai struktur tuang : dinding di sekeliling ditata dengan batu bata, setelah peti mati dimasukkan, kemudian “san he tu” (suatu cairan campuran kapur, tanah liat dan pasir yang akan mengeras setelah kering) dituang diantara peti dan tembok bata. Orang zaman dulu melapisi peti mayat dengan cara menuang. Diantara makam dinasti Ming di daerah Jiangzhe, sistem tuang seperti ini cukup banyak ditemui, karena itu awalnya ahli terkait tidak begitu mengindakan. Namun, setelah diteliti lebih lanjut mereka mendapati : cairan tuang disini memakai suatu bahan khusus¾ Tawas. Tawas dapat dibuat suatu zat pembeku/pengental, mencegah agar tidak merekah. Karena peti mati tertutup rapat, suhu tetap, ketiadaan oksigen, bakteri tidak dapat berkembang biak, inilah faktor yang membuat mayat terawat utuh.

Mengapa peti mati yang tertutup rapat itu dipenuhi dengan cairan, dan mayat tetap dalam keadaan lembab?. Xia Jifang teringat kembali sebuah peristiwa ganjil yang dilihatnya di lokasi ketika itu. Dalam peti Yang Fuxin yang terbuka dipenuhi dengan air, lagipula ketika itu tidak hujan, darimanakah air dalam peti tersebut? ada yang menduga itu pengawet yang khusus dibuat orang dulu, seperti cairan formalin sekarang, mayat tidak akan membusuk jika di rendam ke dalam formalin. Namun ahli terkait telah memeriksa dokumen kuno tapi tidak menemukan catatan terkait, dan Xu Yongqing juga menyatakan keberatan terhadap dugaan cairan pengawet tersebut.

Jika peti mati Yang Fuxin tertutup rapat, lalu dari mana sebenarnya cairan di dalam peti mati tersebut? saat peti mati itu dikeluarkan, diluar dugaan orang-orang mendapati: pengerjaan pada bagian dasar kuburan relatif sederhana, cairan pengeras lebih tipis daripada bagian atas dan sekeliling peti mati. Aliran sungai di daerah Songjiang panjang dan lebar, permukaan air bawah tanah lebih tinggi. Bagian dasar yang sengaja dibuat tipis, membuat air bawah tanah sedikit demi sedikit merembes masuk ke dalam selama 500 tahun, sehingga membentuk cairan. Namun sebelumnya, karena peti mati tertutup rapat dan tidak beroksigen, pembusukan mayat sudah terhenti, kemudian rendaman cairan dalam peti justru membantunya tetap dalam keadaan basah atau lembab.

Di Jiangnan, jika pengerjaan ruang peti mati tidak sesuai atau air yang merembes masuk tidak bersih, mengandung kuman, maka tidak mungkin dapat menyimpan mayat secara utuh. Seperti misalnya mayat Yang Fuxin ini, karena lingkungan (tutupan peti mati) yang rapat dan air bawah tanah yang bersih, maka membuat tubuhnya tidak membusuk

9
Tolong ingat kan teman wanita yang lain jika operasi usahakan ada yang mendampingi sebelum kita sadar…..makin gila saja ulah orang.

Temen temen.....

kebetulan temen aku ada yg pernah kerja di salah satu RS  sebagai perawat,

menurut info dr dia, kejadian spt itu kemungkinan besar bisa terjadi krn dia sbg perawat sering mergokin n dengerin obrolan paramedis lain yg ngrumpiin hal itu.

Kata dia si biasanya yg suka berulah spt itu adalah dokter anestesi n asisten anestesinya.....klo ada pasien yg cantik biasanya mrk ni(kaum adam lah yg pasti)pada ngajakin temen2 nya yg mungkin ga lg jd operator(lg off) buat "liat-liat" pasien yg masih engga sadar krn msh dalam pengaruh bius.

Beberapa waktu yang lalu, msh di RS yang sama ada 1 pasien wanita yg melahirkan secara cessar, dalam kondisi setengah sadar setengah engga, dia ngrasa klo ada beberapa laki2 yg lagi ngubek2 bagian kewanitaannya sambil komen...."wah masih bagus nih barangnya kayanya sectio terus ni....", akhirnya si pasien melaporkan kejadian itu ke Direktur RS dan  ke media massa.Cuman endingnya gmn jd ga jelas.

But....anyway... dmnpun kita berada emang musti hati2 de jeng...

apalagi klo mo operasi(apapun bentuknya) musti WASPADA, klo mo melahirkan jg jgn lupa ajak suami ke dalam ruang operasi. N wanti2 ma suami jgn pernah ditinggalin sampai kita siuman. Sereeeeeeeem.........


WASPADALAH.......!!!!

Bagi Ibu-ibu dan temen2 cewek yang masih single harap hati2... Tidak dimanapun juga... Bagi Bapak2 harap diperhatikan baik2
yah istrinya...

Bukti foto rekaman cctv di RS ada (bagi yang mau bisa pm ke saya) thanks

10
Kafe Jongkok / Nice game (must play!!)
« on: 23 May 2008, 06:42:20 PM »
http://www.jokesduniya.com/wp-content/uploads/2007/04/lab.swf

nb: untuk yang lemah jantung disarankan untuk tidak memainkan game ini

11
Jakarta: In Need of Improvements
 
Andre Vltchek
Worldpress.org contributing editor
July 26, 2007

Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested tr affic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta , the fourth largest city in the world. In between towering super-s tr uctures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management.

While almost all major capitals in the Southeast Asian region are investing heavily in public tr ansportation, parks, playgrounds, sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and convention centers, Jakarta remains brutally and determinately 'pro-market' profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor.

Most Jakartans have never left Indonesia , so they cannot compare their capital with Kuala Lumpur or Singapore ; with Hanoi or Bangkok . Comparative statistics and reports hardly make it into the local media. Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign visitors a 'hell on earth,' the local media describes Jakarta as "modern," "cosmopolitan, " and "a sprawling me tr opolis."

Newcomers are often puzzled by Jakarta 's lack of public amenities. Bangkok , not exactly known as a user-friendly city, still has several beautiful parks. Even cash-s tr apped Port Moresby , capital of Papua New Guinea , boasts wide promenades, playgrounds, long s tr etches of beach and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments. Manila , another city without a glowing reputation for its public amenities, has succeeded in cons tr ucting an impressive sea promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving its World Heritage Site at In tr amuros. Hanoi repaved its wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.

But in Jakarta , there is a fee for everything. Many green spaces have been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach dotted with private businesses.

 Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in en tr ance fees, something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public parks which survived privatization are in desperate condition and mostly unsafe to use.

 There are no sidewalks in the entire city, if one applies international standards to the word "sidewalk." Almost anywhere in the world (with the s tr iking exception of some cities in the United States , like Houston and Los Angeles ) the cities themselves belong to pedes tr ians. Cars are increasingly discouraged from tr aveling in the city centers. Wide sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and efficient forms of short-distance public tr ansportation in areas with high concen tr ations of people.

 In Jakarta , there are hardly any benches for people to sit and relax, and no free drinking water fountains or public toilets. It is these small, but important, 'details' that are symbols of urban life anywhere else in the world.

 Most world cities, including those in the region, want to be visited and remembered for their culture. Singapore is managing to change its 'shop-till-you- drop' image to that of the center of Southeast Asian arts. The monumental Esplanade Thea tr e has reshaped the skyline, offering first-rate international concerts in classical music, opera, ballet, and also featuring performances from some of the leading contemporary artists from the region. Many performances are subsidized and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.

 Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which is located right under the Pe tr onas Towers , among the tallest buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local orches tr a companies as well top international
performers. The city is currently spending further millions to refurbish its museums and galleries, from the National Museum to the National Art Gallery .

 Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major at tr action millions of visitors flock into the city to visit countless galleries stocked with canvases, which can be easily described as some of the best in Southeast Asia . Its beautifully restored Opera House regularly offers Western and Asian music tr eats.

 Bangkok 's colossal temples and palaces coexist with ex tr emely cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as well as authentic culinary delights from all corners of the world. When it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in Southeast Asia as vibrant as Manila .

 Now back to Jakarta . Those who have ever visited the city's 'public libraries' or National Archives building will know the difference. No wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to be 'profitable' (with the exception of pop music), and are therefore made absolutely irrelevant. The coun tr y spends the third lowest amount in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is now rapidly improving with the new progressive government).

 Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no important international exhibitions. They look like they fell on the city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or even public archives. It appears that the individuals running them are without vision and creativity. However, even if they did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.

 It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the great majority, no matter what the understated and manipulated government statistics say). The city abandoned itself to the private sector, which now con tr ols almost everything, from residential housing to what were once public areas.
                   
While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized, affordable housing equipped with running water, elec tr icity, a sewage system, wastewater tr eatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks and a mass public tr ansportation system.

 Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants boasts one me tr o line (Pu tr a Line), one monorail, several efficient Star LRT lines, suburban tr ain links and high-speed rail system connecting the city with its new capital Pu tr ajaya. The "Rapid" system counts on hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is subsidized; a bus ticket on "Rapid" costs only $.60 (2 Malaysian Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted daily and monthly passes are also available.

 Bangkok con tr acted German firm Siemens to build two long "Sky Train" lines and one me tr o line. It is also utilizing its river and channels as both public tr ansportation and as a tourist at tr action. Despite this enormous progress, the Bangkok city adminis tr ation claims that it is building an additional 50 miles (80 kilometers) of tr acks for these systems in order to convince citizens to leave their cars at home and use public tr ansportation. Polluting pre-historic buses are being banned from Hanoi , Singapore , Kuala Lumpur and gradually from Bangkok . Jakarta , thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own league even in this field.

 Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South Asian cities, below me tr opolises like Nairobi and Medellin .

 Considering that it is in the league with some of the poorest capitals of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most expensive city in the world for expa tr iate employees, well above Berlin (72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is expensive for expa tr iates, how is it for local people with a GDP per capita below $1,000?

 Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling air quality just as they have gotten used to the sight of children begging, even selling themselves at the major intersections; to entire communities living under elevated highways and in slums on the shores of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to floods and rats.

 But if there is to be any hope, the tr uth has to eventually be told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to tr eatment and a cure. As painful as the tr uth can be, it is always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighboring coun tr ies in esthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, tr ansportation, food quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur , Singapore , Brisbane and even in some instances from its poorer neighbors like Port Moresby , Manila and Hanoi .

 Comparative statistics have to be tr ansparent and widely available. Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand answers and accountability. Only if they understand to what depths their city has sunk can there be any hope of change. "We have to watch out," said a concerned Malaysian filmmaker during New Year's Eve celebrations in Kuala Lumpur . " Malaysia suddenly has too many problems. If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta !"

 Could this statement be reversed? Can Jakarta find the s tr ength and solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur ? Can decency overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?

 An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only the people of Jakarta can offer the answers and solutions.
 

12
Carolina Utara - Sampai kini masih simpang siur kaitan antara game kekerasan dengan perilaku agresif seseorang di kehidupan nyata. Meski demikian, kejadian berikut ini memberi citra yang sangat buruk pada game. Seorang pria bernama James Christopher Stitt, mengaku membunuh kedua orang teman serumahnya setelah bermain game bertema kriminal Grand Theft Auto (GTA) hingga pk.04.00 dini hari.

"Ia membunuh kedua orang temannya, George Katsigiannis dan Jenna Bologna, dalam kondisi tidak terkontrol, ia tidak mampu mengendalikan tindakannya pada saat itu," ujar Dr.Moira Artigues, psikiater yang dihadirkan sebagai saksi terakhir dalam kasus Stitt, seperti dikutip detikINET dari Fayobserver, Jumat (16/5/2008).

Artigues menilai tidak ada kaitan antara video game yang dimainkan Stitt dengan pembunuhan tersebut. Menurutnya, Stitt mengarang cerita fiktif tentang pembunuhan yang dikaitkan dengan video game Grand Theft Auto.

Kronologis pembunuhan seperti diceritakan Stitt kepada Artigues adalah sebagai berikut, malam sebelum pembunuhan terjadi, Stitt asyik bermain video game, sementara Katsigiannis dan Bologna pergi tidur.

Sekitar pk 04.00 dini hari, Stitt berhenti bermain game, dan berjalan ke ruang tidur, tempat kedua orang temannya tidur. Dia melihat pistol Katsigiannis dan membawanya ke ruang tamu.

Lalu, pria ini mengambil pisau, kembali ke ruang tidur dan mencoba memotong tenggorokan Katsigiannis. Pisau itu patah, maka dia berlari ke ruang tamu mengambil pistol, dan menembak wajah Katsigiannis. Saat Bologna berteriak, dia menembaknya dua kali di kepala.

Setelah itu Stitt melarikan diri. Beberapa saat kemudian dia kembali ke rumah dan berharap kedua temannya masih hidup. Namun, ternyata keduanya sudah tak bernyawa. Ia panik lalu pergi lagi.

Artigues yakin bahwa tindakan pembunuhan yang dilakukan Stitt ini merupakan imbas dari trauma masa kecil yang dialaminya. Disebutkan bahwa Stitt bermasalah di sekolahnya, beberapa kali dia tinggal kelas dan membuat ulah hingga akhirnya dikeluarkan.

Selain itu, dia juga bermasalah di rumah sehingga diusir ayahnya karena mencuri. Diyakini Stitt mengalami guncangan kejiwaan, trauma masa kecilnya terus membekas dalam ingatannya. Imbasnya, Stitt menjadi sulit mengontrol emosi dan tindakannya.

Pengadilan Cumberland County yang menangani kasus ini sedang mempertimbangkan hukuman yang sesuai untuk Stitt. Ada dua kemungkinan, yakni hukuman mati, atau hukuman penjara seumur hidup tanpa ada pembebasan bersyarat.


©DetikineT

13
Diskusi Umum / Ilmu Ramalan menurut sudut pandang agama Buddha
« on: 16 May 2008, 12:49:20 PM »
mau nanya bagaimana tentang Ilmu pe-Ramalan menurut Buddhist? Karma ditentukan oleh diri sendiri dan buah karma sendiri, tetapi kita dapat merubah nasib kita, ada yang pernah baca buku 4 Nasehat Liao Fan ?

14
Kafe Jongkok / Pro XL kartu SETAN??
« on: 16 May 2008, 12:28:26 PM »
pro XL adalah kartu setan, lambang X berarti lambang salib yang dipatahkan. L = Lucifer, pemimpin gereja setan tertinggi. jadi PRO-XL adalah PRO-SATAN = ANTIKRIS!, HANCURKAN KARTU2 ITU, siram dengan air suci!!! ikanasinz: "INDOSAT adalah provider SETAN, INDO-SAT, SAT diambil dari "SATAN", jika hp anda muncul provider id SAT-C maka artinya adalah SATAN SEE atau SETAN MELIHAT.. HANCURKAN KARTU2 ITU, ANTIKRIS, BERITAHU TEMAN2 ANDA Kalo pake three juga setan !!! alasannya kenapa ? petrus menyangkal Tuhan 3 kali.. 3 = THREE kalo GSM= Gabungan Setan Mejeng kalo CDMA apa ya?? Cetan Di Mana Aja kali yee jadi intinye jangan pake kartu apa2,setan smua... Karna apa ?? Ngabisin duit.... jadi?

 :o :o Jadi gimana ya?

15
Chan atau Zen / Buddha di rumah
« on: 24 April 2008, 07:36:23 PM »
Buddha di rumah

Yang Pu meninggalkan rumah dan pergi ke propinsi Si Chua untuk mengunjungi seorang Boddhisatva, ditengah perjalanan bertemu dengan bhiksu tua, “Hendak kemana anak muda?” tanya bhiksu tersebut, “Saya hendak mencari Boddhisatva” jawab Yang Pu, “Daripada mencari Boddhisatva kan lebih baik mencari Buddha, betul ndak?” kata Bhiksu tsb, “Cari Buddha dimana, bhiksu?” “Waktu kamu tiba di rumah, kamu akan disambut orang yang memakai handuk dengan sandal terbalik. Nah orang itulah Buddha” jawab Bhiksu tua

Ia mengikuti petunjuk dan ketika tiba dirumahnya hari telah gelap, Ibunya mendengar suaranya di depan pintu sangat bahagia sehingga ia begitu saja memakai handuk tanpa sempat berpakaian lagi dan bahkan memakai sandalnya secara terbalik. Ia melesat ke luar dan ketika Yang Pu melihat ibunya, ia terpesona

Orang bisa saja berjalan jauh mencari kebenaran tetapi ia harus menyadarinya dalam dirinya sendiri atau ia tidak akan menemukannya

Pages: [1] 2