Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - seniya

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 9
1
Diskusi Umum / Tradisi India dan Bumi Bulat
« on: 26 November 2018, 08:17:07 AM »
Copas tulisan dari FB:

Quote from: Eka Wirajhana
Ketika Tradisi India membantai TUHAN "agama Langit"

Di Satapatha Brahmana, Yajnavalka [900-800 SM] menyampaikan bahwa bumi berbentuk pari-mandala atau seluruhnya bulat [SB 7.1.1.37: "ayaṃ vaí loko gā́rhapatyaḥ parimaṇḍalá u vā́ ayáṃ lokáḥ/dunia ini adalah Gārhapatya, dunia ini seluruhnya bulat tak diragukan lagi"], bentuk matahari seluruhnya bulat/pari-mandala [SB 9.1.2.40: "asau va ādityo hŕ̥dayaṃ ślakṣṇá eṣá ślakṣṇaṃ hŕ̥dayam parimaṇḍalá eṣá parimaṇḍalaṃ/matahari dan inti matahari halus, inti halus matahari seluruhnya bulat, Ia (matahari) seluruhnya bulat] matahari mengikat planet-planet [SB 8.7.3.10: "tadasāvāditya imāṃlokāntsūtre samāvayate tadyattatsūtraṃ vāyuḥ/kemudian di sana matahari mengikat planet-planet ke dirinya dengan ikatan. ikatan ini sama dengan vayu (getar/gerak/tarik/angin)"]. Arti "mandala" = lingkaran, bentuk putaran/lengkungan yang membulat.[1]

Penggunaan kata "mandala" juga terdapat di teks Buddhis Hinayana/Theravada, misal "pathavimaṇḍala" (SNP 5.1, AN 7.62, SN 3.25, DN 21, DN 5), "jāṇumaṇḍala" (AN 5.196, AN 4.21, DN 14), "nalāṭamaṇḍala" (SNP 3.7, MN 91, 92, DN 3) dan "mandalāgga/maṇḍal’āgra". Arti mandalaagra = pedang/golok berbentuk lengkung membulat. Kata "Pathavi" = bumi/daratan; "jāṇu" = lutut; "nalāṭa" = dahi. Jadi, objek 3 dimensi ini (bumi, lutut dan dahi) bentuknya lengkung membulat

Selain kata "mandala", juga digunakan kata "gola"/bola dan "cakra"/lingkaran untuk menunjukan suatu benda yang berbentuk bulat [2], misal:

"Cakrācāsaħ pariņaham pŗthivyā"/Orang-orang berdiam di sekeliling permukaan bumi [Rig Veda 1.33.8]
"Madhye samantāņđasya bhūgolo vyomni tisthati"/Di tengah jagat/Brahmanda, Bulatan bumi berdiam kokoh di ruang angkasa [Surya Sidhantha 12.32, 1000 SM]
"Bhūgolaħ sarvo vŗttaħ"/Bola Bumi bulat di sekelilingnya [Astronom Indian, Aryabhatta (476 M), Aryabhattiyam, Golapada, sloka ke 6]
"Paňca mahābhūtam ayastrārāgaņa paňjare mahigolah"/5 element menyebabkan bumi di ruang angkasa seperti bola besi tergantung di dalam kandang [Astronom India, Varahamihirä, Abad ke-6 M, Pancha Sidhanthika, Bab 13-sloka 1]

Bahwa bumi berbentuk bulatan tampaknya sudah merupakan pengetahuan umum di India. misalnya lewat penjelasan ahli matematik India, Bhaskarachrya, 1150 M, dalam bukunya, “Leelavathi” yang menjawab pertanyaan seorang gadis cilik bernama Leelavathi:

"Apa yang matamu lihat bukanlah realitas. Bumi tidaklah datar seperti yang kau lihat. Ia Bulat. Ketika kau menggambarkan lingkaran besar dan dilihat dari ¼ lingkaran, engkau akan melihat suatu garis lurus. Namun sebenarnya lengkungan. Sama juga dengan Bumi adalah berbentuk bulat"

Juga bahkan diketahui bahwa bumi BEROTASI dan MENGELILINGI MATAHARI:

"ahastā yad apadī vardhata kṣāḥ śacībhirvedyānām śuṣṇaṃ pari pradakṣiṇid/bumi tanpa tangan dan kaki, dengan kekuatan tertentu bergerak berputar kearah kanan sekitar matahari".(ahasta = tanpa tangan; apadi = tanpa kaki; śacībhirvedyānām = tahu dengan kekuatan tertentu; Kshaa = Bumi (Nigantu 1.1); Vardhat = bergerak; Shushnam Pari = Sekitar matahari; Pradakshinit = memutar ke kanan) [Rig Veda 10.22.14]

Aitareya Brahmana [3] menyampaikan bahwa di saat yang sama, ketika matahari bersinar di suatu tempat, maka di tempat lain di belahan lainnya adalah malam hari:

"Atha yad enam prātar udetīti manyante rātrer eva tad antam itvā atha ātmānaṃ viparyasyate, ahar eva avastāt kurute rātrīm parastāt. Sa vai esha na kadācana nimrocati. Na ha vai kadācana nimrocaty etasya ha sāyujyaṃ sarūpatāṃ salokatām aśmute ya evaṃ veda" ["Matahari tidak pernah terbenam maupun terbit. Ketika manusia berpikir bahwa matahari tengah terbenam, Ia hanya tampak berubah (viparyasyate). Setelah sampai di penghujung siang dan membuat malam di bawah dan siang di sisi yang lainnya. Kemudian ketika manusia berpikir matahari terbit di pagi hari, Ia tampak berubah sendiri, setelah mencapai penghujung malam dan membuat siang di bawah dan malam di sisi lainnya. Sebenarnya Matahari tidaklah pernah tenggelam. Siapapun yang tahu ini bahwa matahari tidak pernah terbenam, Ia menikmati persatuan dan kesamaan alami dengannya dan berdiam di alam yang sama"]

Dalam Kitab komentar Sumangala Vilāsinī/DA, karya Buddhagosa, abad ke-5 M:

Ketika matahari terbit di Jambudipa adalah waktu jaga malam ke-2 [22.00-02.00] di Aparagoyāna. Ketika matahari terbenam di Aparagoyana adalah saat tengah malam di Jambudipa. Siang hari di Jambudipa, adalah ketika matahari terbenam di Pubbavideha dan tengah malam di Uttarakuru [DPPN: DA III.868]

Veda tampaknya tahu bahwa terdapat banyak matahari, misal: "kati agnayaḥ kati sūryāsaḥ/Berapa jumlah Api dan Matahari?" [Rig Veda 10.88.18], "sapta diśo nānāsūryāḥ/7 arah banyak matahari" [RV 9.114.3]. Tradisi India, tampaknya telah tahu tentang area semesta yang gelap yang tidak dapat ditembus cahaya, juga tentang suara dapat merambat di angkasa luar dan terdapat triliunan galaxy, serta variasi bentuk galaxy, sekurannya nampak dalam kitab Buddhism:

Area gelap Semesta yang tidak tembus cahaya:
"antara batasan loka (lokantarikā), tanpa udara (aghā), luas/tak berbatas (asaṃvutā), gelap (andhakārā), gelap gulita (andhakāratimisā), dimana cahaya matahari2 bulan2 yang sangat kuat-perkasa tak dapat menjangkau (yatthapimesaṃ can­dima­sūriyā­naṃ evaṃ­ma­hiddhi­kā­naṃ evaṃma­hā­nubhā­vā­naṃ ābhā nānubhonti)" [SN 56.46; AN 4.127; MN 123; DN 14] -> area tidak berpenghuni di antara sahassadhāloka

Suara dapat merambat di angkasa luar dan triliunan galaksi:
“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke 1000 sistem dunia (sahassilokadhātuṃ).’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya? [4]”

“Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Tathāgata adalah tidak terukur (appameyyā)

sejauh, Ananda, (Yāvatā, ānanda,) matahari-rembulan membawa kesekitar, menjelajahi arah cahayanya (candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā) sejauh 1000 dunia (tāva sahassadhā loke). 1000 dunia ini terdapat 1000 rembulan, 1000 matahari, 1000 raja pegunungan Sineru, 1000 Jambudīpa, 1000 Aparagoyāna, 1000 Uttarakuru, 1000 Pubbavideha, dan 1000 4 mahasamudra (alam asura); 1000 4 raja dewa, 1000 para deva yang dipimpin oleh 4 raja dewa, 1000 Tāvatiṃsa, 1000 Yāma, 1000 Tusita, 1000 para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, 1000 para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, 1000 alam brahmā. Inilah Ananda yang disebut 1000 dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu) [5]

Ananda, 1000 dunia kecil sejauh 1000 dunia ini (sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "dvisahassī majjhimikā lokadhātu".

Ananda, 1000 dunia menengah sejauh 1000 dunia (dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "tisahassī mahāsahassī lokadhātu".

Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat menyampaikan suara-Nya (saranena) hingga di Tisahassi mahasahassi lokadhatu [AN 3.80/culanika sutta]

Ragam bentuk semesta:
"..Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, "Para Murid Buddha, system dunia memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu.." [Avatamsaka Sutra, bab 4. Perkembangan sutra mahayana sekitar konsili ke-3, 247 SM, terjemahan ke bahasa China mulai abad ke-2 M]

--

Ketika tuhan agama langit kr****n dan islam mengklaim diri super benar, menyatakan bahwa bumi itu datar, diciptakan duluan dari langit, siang malam baru ada beberapa waktu kemudian setelah terciptanya matahari dan bulan, malah mengatakan bahwa bintang sebagai alat pelempar setan dan seterusnya, kemudian, memaksakan seluruh dunia harus tunduk menyembahNYA, maka ini adalah suatu tindakan TIDAK TAHU DIRI, karena bahkan Tradisi INDIA (dan YUNANI), pengetahuan para manusia telah jauh mengalahkan pengetahuan tuhannya kr****n dan islam.

----
Note:

[1] Lihat juga: https://insa.nic.in/writereaddata/UpLoadedFiles/IJHS/Vol33_3_1_SCKak.pdf dan http://www.keplersdiscovery.com/Ancients.html

[2] Sanskrit-English, William Monier: bhūgola: -gola m. 'earth-ball', the terrestrial globe. BhP. -vidyā f. knowledge of the terrestrial globe, geography MW. bhūcakra: -cakra n. 'earth-circle', the equator or equinoctial line. Arti "bhu" = bumi dan "gola" = bulatan, globe, globular, bola

[3] Aitareya Brahmana, abad ke-9/8 SM, III.44, Translasi Dr Haug, di kutip di "Indian Wisdom", Monier Williams, 1893, Ed.4, Ch.2, hal.35: https://books.google.co.id/books?id=CgBAAQAAMAAJ&pg=PA35#v=onepage&q&f=false atau juga di AB 4.29

[4] bukti suara dapat merambat di angkasa luar: https://www.telegraph.co.uk/news/science/space/12169511/Nasa-releases-recording-of-strange-space-music-heard-by-Apollo-10-astronauts.html . Untuk penjelasan: https://gizmodo.com/there-actually-is-sound-in-outer-space-1738420340 dan https://www.forbes.com/sites/startswithabang/2017/05/03/there-is-sound-in-space-thanks-to-gravitational-waves/#296aa9c64049

[5] Sahassilokadhātuṃ = sahassī cūḷanikā lokadhātu: 1000 alam Brahma beserta ribuan alam di bawahnya. Dvisahassilokadhātuṃ = Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu: 1000 x 1000 = 1.000.000. Tisahassiloka-dhātuṃ = Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000

Gimana pendapat teman2? Apakah benar kitab2 kuno India sudah mengetahui bumi itu bulat (bola) sebelum sains modern menemukannya?

2
Studi Sutta/Sutra / DA 11 & 12 (sutra Dirgha Agama tanpa paralel)
« on: 31 May 2018, 08:59:57 AM »
Berikut adalah terjemahan Dirgha Agama kotbah 11 dan 12 yang tidak memiliki padanan Pali:

Dīrghāgama 11
Kotbah Meningkat Satu per Satu

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Śrāvastī di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍada, bersama dengan perkumpulan besar dari seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan mengajarkan kalian Dhamma yang mulia, yang ungkapannya pada awal, pertengahan, dan akhirnya adalah benar keseluruhannya, yang mengandung makna dan diberkahi dengan kemurnian kehidupan suci, yaitu, hal-hal yang meningkat satu per satu. Dengarkanlah dan perhatikan apa yang akan kuajarkan kepada kalian.” Kemudian para bhikkhu menerima pengajaran itu dan mendengarkan.

1. Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Hal-hal yang meningkat satu per satu [adalah sebagai berikut]: satu hal yang membawa keberhasilan besar, satu hal yang seharusnya dilatih, satu hal yang seharusnya dipahami, satu hal yang seharusnya dilenyapkan, dan satu hal yang seharusnya direalisasikan.

1.1 “Apakah satu hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: tidak mengabaikan hal-hal yang bermanfaat.

1.2 “Apakah satu hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: perhatian terus-menerus pada jasmani sendiri.

1.3 “Apakah satu hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: dikontak oleh arus-arus [kekotoran batin]

1.4 “Apakah satu hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu: kesombongan ‘aku’.

1.5 “Apakah satu hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: pembebasan pikiran yang tidak terhalangi.

2. “Selanjutnya, dua hal yang membawa keberhasilan besar, dua hal yang seharusnya dilatih, dua hal yang seharusnya dipahami, dua hal yang seharusnya dilenyapkan, dan dua hal yang seharusnya direalisasikan.

2.1 “Apakah dua hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: memiliki rasa malu dan takut berbuat jahat.

2.2 “Apakah dua hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: ketenangan dan pandangan terang.

2.3 “Apakah dua hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: nama dan bentuk.

2.4 “Apakah dua hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu: ketidaktahuan dan ketagihan terhadap kelangsungan.

2.5 “Apakah dua hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: pengetahuan dan pembebasan.

3. “Selanjutnya, tiga hal yang membawa keberhasilan besar, tiga hal yang seharusnya dilatih, tiga hal yang seharusnya dipahami, tiga hal yang seharusnya dilenyapkan, dan tiga hal yang seharusnya direalisasikan.

3.1 “Apakah tiga hal yang membawa keberhasilan besar? Yang pertama adalah bergaul dengan para sahabat baik, kedua adalah [memasang] telinga untuk mendengarkan Dharma, dan ketiga adalah menjadi terampil dalam Dharma [sesuai dengan] Dharma.

3.2 “Apakah tiga hal yang seharusnya dilatih? Yaitu tiga konsentrasi: konsentrasi pada kekosongan, konsentrasi pada tanpa-tanda, dan konsentrasi pada tanpa-nafsu.

3.3 “Apakah tiga hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, dan perasaan netral.

3.4 “Apakah tiga hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu tiga jenis ketagihan: ketagihan terhadap kesenangan indera, ketagihan terhadap kelangsungan, dan ketagihan terhadap pemusnahan.

3.5 “Apakah tiga hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu tiga pengetahuan: pengetahuan tentang ingatan kehidupan lampau, pengetahuan mata dewa, dan pengetahuan lenyapnya arus-arus [kekotoran batin].

4. “Selanjutnya, empat hal yang membawa keberhasilan besar, empat hal yang seharusnya dilatih, empat hal yang seharusnya dipahami, empat hal yang seharusnya dilenyapkan, dan empat hal yang seharusnya direalisasikan.

4.1 “Apakah empat hal yang membawa keberhasilan besar? Yang pertama adalah berdiam di negeri tengah (madhyadeśa), kedua adalah bergaul dengan para sahabat baik, ketiga adalah pengendalian diri, dan keempat adalah telah menanam akar-akar kebajikan pada masa lampau.

4.2 “Apakah empat hal yang seharusnya dilatih? Yaitu empat penegakan perhatian: Sehubungan dengan jasmani internal seorang bhikkhu merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia; sehubungan dengan jasmani eksternal ia merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia; sehubungan dengan jasmani internal dan eksternal ia merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia. Perenungan perasaan ... pikiran ... dan objek-objek pikiran juga seperti ini.

4.3 “Apakah empat hal yang seharusnya dipahami? Yaitu empat jenis makanan: potongan makanan [dari bahan makanan yang bisa dimakan], makanan kontak, makanan pikiran [yang disertai kehendak], dan makanan kesadaran.

4.4 “Apakah empat hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu empat jenis kemelekatan: Kemelekatan pada kesenangan indera, kemelekatan pada diri, kemelekatan pada aturan moralitas, dan kemelekatan pada pandangan.

4.5 “Apakah empat hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu empat buah pertapaan: buah pemasuk-arus, buah sekali-kembali, buah tidak-kembali, dan buah Kearhatan.

5. “Selanjutnya, lima hal yang membawa keberhasilan besar, lima hal yang seharusnya dilatih, lima hal yang seharusnya dipahami, lima hal yang seharusnya dilenyapkan, dan lima hal yang seharusnya direalisasikan.

5.1 “Apakah lima hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu lima faktor pengerahan usaha: yang pertama adalah keyakinan terhadap Sang Buddha, Sang Tathāgata, arhat, yang memiliki sepuluh gelar; kedua adalah tidak memiliki penyakit, dengan tubuh yang selalu tenang; ketiga adalah jujur tanpa kebengkokan, benar-benar membangkitkan jalan menuju Nirvāṇa dari Sang Tathāgata; keempat adalah memiliki pikiran terpusat yang tidak bingung, [dapat] mengulangi kembali tanpa lupa; kelima adalah terampil dalam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena, dan dengan latihan mulia melenyapkan akar-akar duḥkha.

5.2 “Apakah lima hal yang seharusnya dilatih? Yaitu lima indria: indria keyakinan, indria semangat, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan.

5.3 “Apakah lima hal yang seharusnya dipahami? Yaitu lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati: kelompok jasmani yang dilekati, perasaan ... persepsi ... bentukan .... dan kelompok kesadaran yang dilekati.

5.4 “Apakah lima hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu lima rintangan: rintangan nafsu keinginan indera, rintangan kebencian, rintangan kemalasan dan kelambanan, rintangan kegelisahan dan kekhawatiran, dan rintangan keragu-raguan.

5.5 “Apakah lima hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu lima kelompok yang melampaui latihan (aśaikṣa): kelompok moralitas yang melampaui latihan, kelompok konsentrasi yang melampaui latihan, kelompok kebijaksanaan yang melampaui latihan, kelompok pembebasan yang melampaui latihan, dan kelompok pengetahuan dan penglihatan pembebasan yang melampaui latihan.

6. “Selanjutnya, enam hal yang membawa keberhasilan besar, enam hal yang seharusnya dilatih, enam hal yang seharusnya dipahami, enam hal yang seharusnya dilenyapkan, dan enam hal yang seharusnya direalisasikan.

6.1 “Apakah enam hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: enam prinsip penghormatan. Jika seorang bhikkhu mengembangkan enam prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, yang tidak berbeda dari berlatih sendiri. Apakah enam hal itu? Demikianlah seorang bhikkhu terus-menerus berperilaku dengan cinta kasih (maitrī), dengan melingkupinya pada [teman-temannya] dalam pengembangan kehidupan suci, berkembang dalam pikiran berbelas kasih – ini disebut prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, tidak berbeda dari berlatih sendiri.

“Selanjutnya, seorang bhikkhu berkata dengan cinta kasih ...

“[Selanjutnya], ia berpikir dengan cinta kasih ...

“[Selanjutnya], ia berbagi dengan yang lain barang-barang perlengkapannya sendiri, sampai dengan apa yang tersisa dalam mangkuknya, tanpa menyimpannya dari mereka ...

“Selanjutnya, seorang bhikkhu tidak melanggar aturan moralitas yang dilatih oleh para mulia, tidak melalaikannya dan tanpa noda [sehubungan dengan hal ini], seperti yang dipuji oleh para bijaksana, sepenuhnya diberkahi dengan penegakan aturan moralitas ...

“[Selanjutnya], ia menyempurnakan pandangan benar, yang mulia dan melampaui, dan yang sepenuhnya melenyapkan duḥkha, dengan melingkupi [pikirannya] kepada semua [teman-teman] dalam kehidupan suci – ini disebut prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, tidak berbeda dari berlatih sendiri.

6.2 “Apakah enam hal yang seharusnya dilatih? Yaitu enam perenungan: perenungan terhadap Sang Buddha, perenungan terhadap Dharma, perenungan terhadap Sangha, perenungan terhadap moralitas, perenungan terhadap kedermawanan, dan perenungan terhadap para dewa.

6.3 “Apakah enam hal yang seharusnya dipahami? Yaitu enam landasan internal: landasan mata, landasan telinga, landasan hidung, landasan lidah, landasan badan, dan landasan pikiran.

6.4 “Apakah enam hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu enam jenis ketagihan: ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap suara, ketagihan terhadap bebauan, ketagihan terhadap rasa kecapan, ketagihan terhadap sentuhan, dan ketagihan terhadap objek-objek pikiran.

6.5 “Apakah enam hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu enam pengetahuan yang lebih tinggi: yang pertama adalah pengetahuan lebih tinggi dari kemampuan batin, kedua adalah pengetahuan lebih tinggi dari telinga dewa, ketiga adalah pengetahuan lebih tinggi mengetahui pikiran orang lain, keempat adalah pengetahuan lebih tinggi mengingat kehidupan-kehidupan lampau, kelima adalah pengetahuan lebih tinggi tentang mata dewa, dan keenam adalah pengetahuan lebih tinggi tentang pelenyapan arus-arus [kekotoran batin].

7. “Selanjutnya, tujuh hal yang membawa keberhasilan besar, tujuh hal yang seharusnya dilatih, tujuh hal yang seharusnya dipahami, tujuh hal yang seharusnya dilenyapkan, dan tujuh hal yang seharusnya direalisasikan.

7.1 “Apakah tujuh hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu tujuh jenis harta: harta keyakinan, harta moralitas, harta rasa malu [berbuat jahat], harta rasa takut berbuat jahat, harta pembelajaran, harta kedermawanan, dan harta kebijaksanaan. Ini adalah tujuh jenis harta.

7.2 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: tujuh faktor pencerahan. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan faktor pencerahan perhatian yang bergantung pada kebosanan, bergantung pada lenyapnya, dan bergantung pada keterasingan; ia mengembangkan [faktor pencerahan] [penyelidikan] fenomena ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] semangat ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] sukacita ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] ketenangan ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] konsentrasi ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] keseimbangan yang bergantung pada kebosanan, bergantung pada lenyapnya, dan bergantung pada keterasingan.

7.3 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: tujuh stasiun kesadaran. Jika makhluk-makhluk hidup berbeda jasmaninya dan berbeda persepsinya, [seperti beberapa] dewa dan manusia – ini adalah stasiun kesadaran pertama.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya tetapi sama persepsinya, seperti para dewa Brahmā pada saat pertama kali mereka terlahir – ini adalah stasiun kesadaran kedua.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya tetapi berbeda persepsinya, seperti para dewa Ābhāsvara – ini adalah stasiun kesadaran ketiga.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya dan sama persepsinya, seperti para dewa Śubhakṛtsna – ini adalah stasiun kesadaran keempat.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah stasiun kesadaran kelima.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah stasiun kesadaran keenam.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kekosongan – ini adalah stasiun kesadaran ketujuh.

7.4 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu tujuh jenis kecenderungan tersembunyi: kecenderungan tersembunyi pada ketagihan terhadap kesenangan indera, kecenderungan tersembunyi pada ketagihan terhadap penjelmaan, kecenderungan tersembunyi pada pandangan, kecenderungan tersembunyi pada kesombongan, kecenderungan tersembunyi pada penolakan, kecenderungan tersembunyi pada ketidaktahuan, dan kecenderungan tersembunyi pada keragu-raguan.

7.5 “Apakah tujuh hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: tujuh kekuatan seorang yang telah melenyapkan arus-arus [kekotoran batin]. Demikianlah, seorang bhikkhu yang telah melenyapkan arus-arus memahami dan melihat sebagaimana adanya keseluruhan duḥkha, munculnya, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar [darinya].

“Ia merenungkan kesenangan indera bagaikan lubang yang berapi atau bagaikan sebilah pisau atau pedang, [sehingga ketika] ia mengetahui mengetahui kesenangan indera dan melihat kesenangan indera, ia tidak [memunculkan] nafsu terhadap kesenangan indera dan pikirannya tidak berdiam dalam kesenangan indera. Di sini setelah lebih jauh menyelidikinya dengan baik dan setelah memperoleh pengetahuan sebagaimana adanya, penglihatan sebagaimana adanya, ia tidak membangkitkan nafsu indera di dunia, hal-hal yang jahat dan tidak bermanfaat, dan ia tanpa arus-arus [kekotoran batin].

“Ia mengembangkan empat penegakan perhatian, terus-menerus mengembangkannya dan selalu melatihnya ... lima indria ... lima kekuatan ... tujuh faktor pencerahan ... jalan mulia berunsur delapan, terus-menerus mengembangkannya dan selalu melatihnya.

8. “Selanjutnya, delapan hal yang membawa keberhasilan besar, delapan hal yang seharusnya dilatih, delapan hal yang seharusnya dipahami, delapan hal yang seharusnya dilenyapkan, dan delapan hal yang seharusnya direalisasikan.

8.1 “Apakah delapan hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: delapan sebab dan kondisi untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh. Apakah delapan hal itu?

“Dalam hal ini seorang bhikkhu berdiam bergantung pada Sang Bhagavā, atau bergantung pada seorang guru senior, atau bergantung pada seorang sahabat yang bijaksana dalam kehidupan suci, dan dengan memiliki kasih sayang dan penghormatan [terhadap mereka] ia membangkitkan rasa malu dan takut berbuat jahat – ini adalah sebab dan kondisi pertama untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh.

“Selanjutnya, dengan berdiam bergantung pada Sang Bhagavā ... pada waktu yang tepat ia menanyakan pertanyaan: ‘Apakah makna dari ajaran ini? Bagaimanakah seseorang memunculkannya?’ Sang Bhagavā mengungkapkan kepadanya makna mendalamnya – ini adalah sebab dan kondisi kedua ....

Setelah ia mendengar ajaran itu, jasmani dan pikirannya menjadi gembira dan tenang – ini adalah sebab dan kondisi ketiga ....

“Ia tidak terlibat dalam berbagai pembicaraan yang tidak bermanfaat yang menghalangi sang jalan. Ketika ia tiba di antara perkumpulan [para bhikkhu], ia mengajarkan Dharma sendiri atau ia mengundang yang lain untuk mengajarkannya; namun ia juga tidak mengabaikan keheningan luhur – ini adalah sebab dan kondisi keempat ....

“Ia sangat terpelajar, mengingat tanpa lupa ajaran-ajaran mendalam yang baik pada awalnya, pertengahan, dan akhirnya, yang mengandung makna dan kebenaran, dan diberkahi dengan kehidupan suci; apa yang ia dengar memasuki pikirannya dan pandangannya tidak berubah-ubah – ini adalah sebab dan kondisi kelima ....

“Ia mengembangkan semangat untuk pelenyapan keadaan-keadaan tidak bermanfaat dan setiap hari meningkatkan keadaan-keadaan bermanfaat, ia berusaha dan tetap kokoh, tidak mengabaikan hal-hal [bermanfaat] ini – ini adalah sebab dan kondisi keenam ....

“Selanjutnya, ia mengetahui muncul dan lenyapnya fenomena, melalui kebijaksanaan yang dibangkitkan oleh para mulia, dan dapat melenyapkan duḥkha sepenuhnya – ini adalah sebab dan kondisi ketujuh ....

“Selanjutnya, ia merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, ciri-ciri munculnya dan ciri-ciri lenyapnya: ini adalah bentuk jasmani, ini adalah munculnya bentuk jasmani, dan ini adalah lenyapnya bentuk jasmani; ini adalah perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran, ini adalah munculnya kesadaran, dan ini adalah lenyapnya kesadaran – ini adalah sebab dan kondisi kedelapan untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh.

8.2 “Apakah delapan hal yang seharusnya dilatih? Yaitu [faktor-faktor] jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

8.3 “Apakah delapan hal yang seharusnya dipahami? Yaitu delapan kondisi duniawi: untung dan rugi, tidak terkenal dan terkenal, pujian dan celaan, penderitaan dan kebahagiaan.

8.4. “Apakah delapan hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu delapan [faktor jalan yang] salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah.

8.5 “Apakah delapan hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu delapan pembebasan: dengan memiliki bentuk, seseorang merenungkan bentuk – ini adalah pembebasan pertama; tidak mempersepsikan bentuk secara internal, seseorang merenungkan bentuk secara eksternal – ini adalah pembebasan kedua. Pembebasan melalui kemurnian – ini adalah pembebasan ketiga. Melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi hambatan, seseorang berdiam dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah pembebasan keempat. Melampaui landasan ruang [tanpa batas], seseorang berdiam dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah pembebasan kelima. Melampaui landasan kesadaran [tanpa batas], seseorang berdiam dalam landasan kekosongan – ini adalah pembebasan keenam. Melampaui landasan kekosongan, seseorang berdiam dalam landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi – ini adalah pembebasan ketujuh. Melampaui landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, seseorang berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan – ini adalah pembebasan kedelapan.

3
Berikut adalah terjemahan bebas (kata per kata) Samyukta Agama (SA) kotbah 1041 yang merupakan padanan Agama Sutra dari AN 10.177 tentang persembahan kepada leluhur/sanak keluarga yang telah meninggal dunia:

Saṃyuktāgama 1041
生聞
Jāṇussoṇi

如是我聞:
Demikianlah telah kudengar:

一時,佛住王舍城迦蘭陀 竹園。
Suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha di hutan bambu Kalandaka.

時,有生聞梵志來詣佛所,與世尊 面相問訊慰勞已,退坐一面,白佛言:「瞿曇! 我有親族,極所愛念,忽然命終,我為彼故,信 心布施。云何?世尊!彼得受不?」
Pada waktu itu, Brahmana Jāṇussoṇi mendatangi Sang Buddha. Setelah bertukar salam ramah tamah dengan Sang Bhagava, ia duduk pada satu sisi dan bertanya kepada Sang Buddha: “Gotama, aku memiliki sanak keluarga yang sangat disayangi dan telah meninggal dunia. Oleh sebab itu, aku memberikan persembahan dalam upacara sraddha [untuk sanak keluarga yang telah meninggal tersebut]. Bagaimanakah, Gotama? Apakah hal ini bermanfaat atau tidak bermanfaat?”

佛告婆羅門: 「非一向得。若汝親族生地獄中者,得彼地 獄眾生食,以活其命,不得汝所信施飲食; 若生畜生、餓鬼、人中者,得彼人中飲食,不 得汝所施者。婆羅門!餓鬼趣中有一處,名 為入處餓鬼,若汝親族生彼入處餓鬼中者, 得汝施食。」
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Tidak sepenuhnya bermanfaat. Jika sanak keluargamu terlahir kembali di neraka, mempertahankan hidupnya dengan memakan makanan makhluk neraka di sana, maka ia tidak memperoleh manfaat dari persembahan makanan dan minuman yang engkau berikan dalam upacara sraddha. Jika ia terlahir kembali sebagai binatang, hantu kelaparan, dan di antara para manusia, [mempertahankan hidupnya dengan] memakan makanan makhluk tersebut, maka ia [juga] tidak memperoleh manfaat dari persembahan yang engkau berikan. Brahmana, kelahiran kembali di antara para hantu kelaparan terdapat satu alam yang disebut hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya]; jika sanak keluargamu terlahir di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya] itu, maka ia memperoleh manfaat dari persembahan makanan yang engkau berikan.”

婆羅門白佛:「若我親族不生入 處餓鬼趣中者,我信施,誰應食之?」
Brahmana itu bertanya kepada Sang Buddha: “Jika sanak keluargaku tidak terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], siapakah yang akan memakan persembahan sraddha yang kuberikan?”

佛告婆 羅門:「若汝所可為信施親族不生入處 餓鬼趣者,要有餘親族知識生入處餓鬼趣 中者,得食之。」
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Jika  sanak keluarga yang engkau berikan  persembahan sraddha tidak terlahir kembali sebagai hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], masih terdapat sanak keluarga lainnya yang terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya] yang akan menerima persembahan makanan tersebut.”

婆羅門白佛:「瞿曇!若我所 為信施親族不生入處餓鬼趣中,亦無更 餘親族知識生入處餓鬼趣者,此信施食,誰 當食之?」
Brahmana itu bertanya kepada Sang Buddha: “Gotama, jika sanak keluarga yang kuberikan persembahan itu tidak terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], dan juga tidak ada lagi sanak keluarga lainnya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], persembahan makanan sraddha ini, siapakah yang akan memakannya?”

佛告婆羅門:「設使所為施親族知 識不生入處餓鬼趣中,復無諸餘知識生 餓鬼者,且信施而自得其福,彼施者所作 信施,而彼施者不失達嚫。」
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Bahkan jika sanak keluarga yang kuberikan persembahan itu tidak terlahir kembali di antara para hantu kelaparan yang bergantung [pada persembahan sanak keluarganya], dan juga tidak ada [sanak keluarga] lainnya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan, tetapi persembahan sraddha itu akan berbuah bagi dirinya sendiri, orang yang mengadakan persembahan sraddha itu, pendana itu tidak akan kehilangan [buah dari] pemberian tersebut.”

婆羅門白佛: 「云何施者行施,施者得彼達嚫?」
Brahmana itu bertanya kepada Sang Buddha: “Mengapakah dikatakan orang yang memberikan persembahan itu, pendana itu memperoleh [buah dari] pemberian tersebut?”

佛告婆羅 門:「有人殺生行惡,手常血腥,乃至十不善業 跡……」如淳陀修多羅廣說,「而復施諸沙門、婆 羅門,乃至貧窮、乞士,悉施錢財、衣被、飲食、燈 明、諸莊嚴具。婆羅門!彼惠施主若復犯戒, 生象中者,以彼曾施沙門、婆羅門錢財、衣 被、飲食,乃至莊嚴眾具故,雖在象中,亦得 受彼施報,衣服、飲食,乃至種種莊嚴眾具。
Sang Buddha berkata kepada brahmana itu, “Terdapat seseorang yang berbuat kejahatan dengan membunuh makhluk hidup, melukai makhluk hidup dengan tangannya, ... [dan seterusnya sampai dengan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat, yang disebutkan dalam Cunda Sutta (SA 1039 = AN 10.176)] berdana kepada para pertapa, brahmana, ... [dan seterusnya sampai dengan] orang-orang miskin, para bhikkhu [dengan memberikan] semua kekayaannya, pakaian, minuman dan makanan, cahaya pelita, dan berbagai hiasan. Brahmana, karena orang yang memberikan dana tersebut telah melanggar moralitas, maka ia terlahir kembali di antara para gajah, [tetapi] karena telah berdana kepada para pertapa dan brahmana [dengan memberikan] kekayaan, pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] berbagai hiasan, bahkan [ketika terlahir kembali] di antara para gajah ia juga memperoleh buah dari pemberian tersebut [berupa] pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] berbagai hiasan.

「若 復生牛、馬、驢、騾等種種畜生趣中,以本施惠 功德,悉受其報,隨彼生處所應受用,皆悉 得之。婆羅門!若復施主持戒,不殺、不盜,乃 至正見,布施諸沙門、婆羅門乃至乞士錢財、 衣服、飲食,乃至燈明,緣斯功德,生人道中, 坐受其報,衣被、飲食,乃至燈明眾具。
“Jika ia terlahir kembali di antara para sapi, kuda, keledai, bagal, dan berbagai jenis binatang lainnya, dengan akar kebajikan dari berdana tersebut ia memperoleh buahnya sesuai dengan tempat kelahiran di mana ia mengalami akibat perbuatannya dan memperoleh semua [benda yang didanakan] itu. Brahmana, jika ia menjalankan moralitas, dengan tidak membunuh, tidak mencuri, ... [dan seterusnya sampai dengan] memiliki pandangan benar, berdana kepada para pertapa, brahmana, ... [dan seterusnya sampai dengan] para bhikkhu [dengan memberikan] kekayaan, pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] cahaya pelita, dikondisikan oleh hal ini ia terlahir kembali di antara para manusia dan menikmati kenikmatan indria dari buah [pemberian]nya [berupa] pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] cahaya pelita [dan] berbagai [hiasan].

「復次,婆 羅門!若復持戒生天上者,彼諸惠施天上受 報,財寶、衣服、飲食,乃至莊嚴眾具。婆羅門!是 名施者行施,施者受達嚫,果報不失。」
“Lebih lanjut, Brahmana, jika melalui pelaksanaan moralitas ia terlahir kembali di alam surga, karena buah perbuatan berdana tersebut ia memperoleh kenikmatan indria surgawi [berupa] kekayaan, pakaian, minuman dan makanan, ... [dan seterusnya sampai dengan] berbagai hiasan. Brahmana, ini disebut dengan melakukan praktek berdana, seorang pendana memperoleh [buah dari] persembahannya, tidak akan kehilangan buahnya.”

時,生 聞婆羅門聞佛所說,歡喜隨喜,從坐起去。
Pada waktu itu, setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Brahmana Jāṇussoṇi sangat bergembira. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi [meninggalkan tempat itu].

4
DhammaCitta Press / Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« on: 15 February 2018, 08:34:15 AM »
Berikut ada terjemahan buku Bhikkhu Bodhi berjudul "The Buddha's Teaching on Social and Communal Harmony"

=================================================

KOTBAH SANG BUDDHA TENTANG KERUKUNAN SOSIAL
Bhikkhu Bodhi

Kata Pengantar
Oleh Yang Mulia Dalai Lama

Buddha historis, Shakyamuni, hidup, mencapai pencerahan, dan mengajar di India lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Namun, saya meyakini bahwa banyak dari apa yang beliau ajarkan begitu lama yang lampau masih relevan bagi kehidupan masyarakat saat ini. Sang Buddha melihat bahwa orang-orang dapat hidup bersama dengan bebas sebagai individu-individu, yang setara pada prinsipnya dan oleh sebab itu bertanggung jawab terhadap satu sama lain.

Beliau melihat bahwa tujuan kehidupan ini adalah untuk menjadi bahagia. Beliau menyatakan tentang penderitaan dalam konteks cara-cara untuk mengatasinya. Beliau mengetahui bahwa sementara ketidaktahuan mengikat makhluk-makhluk dalam keputusasaan dan penderitaa yang tiada akhir, pengembangan kebijaksanaan adalah bersifat membebaskan. Sang Buddha melihat bahwa setiap anggota keluarga manusia, apakah pria atau wanita, memiliki hak yang sama menuju pembebasan, tidak hanya dalam hal kebebasan politik atau bahkan spiritual, tetapi pada tingkat fundamental kebebasan dari ketakutan dan keinginan. Beliau mengetahui bahwa masing-masing dari kita hanyalah manusia biasa seperti halnya yang lain. Tidak hanya kita semua menginginkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan, tetapi masing-masing dari kita memiliki hak yang sama untuk mengejar tujuan-tujuan ini.

Dalam komunitas monastik yang dibangun Sang Buddha, individu-individunya adalah setara, apa pun kelas sosial atau kasta asal mereka. Kebiasaan berkeliling mengumpulkan dana makanan dijalankan untuk memperkuat kesadaran para bhikkhu atas ketergantungan mereka terhadap orang lain. Dalam komunitas itu, keputusan-keputusan diambil dengan pemungutan suara dan perbedaan-perbedaan diselesaikan dengan kesepakatan bersama.

Sang Buddha mengambil pendekatan praktis dalam menciptakan suatu dunia yang lebih bahagia, yang lebih damai. Tentu saja beliau menetapkan jalan menuju pembebasan dan pencerahan yang terus diikuti oleh para umat Buddha di banyak bagian dunia saat ini, tetapi beliau juga secara konsisten memberikan nasehat bahwa siapa pun dapat memperhatikan untuk hidup dengan bahagia di sini dan saat ini.

Pilihan-pilihan dari nasehat dan pengajaran Sang Buddha yang dikumpulkan dalam buku ini – di bawah judul yang berhubungan untuk menjadi orang yang realistis, berdisiplin, bertutur kata lembut, bersabar alih-alih menjadi marah, memperhatikan kebaikan orang lain – semuanya memiliki hubungan dengan menjalin persahabatan dan mempertahankan perdamaian dalam komunitas.

Kita umat manusia adalah hewan sosial. Karena masa depan kita bergantung pada orang lain, kita membutuhkan teman-teman untuk memenuhi kepentingan kita. Kita tidak berteman dengan bertengkar, iri hati, dan marah, tetapi dengan bersungguh-sungguh dalam perhatian kita terhadap orang lain, dengan melindungi kehidupan mereka, dan menghormati hak-hak mereka. Berteman dan membangun kepercayaan adalah landasan di mana masyarakat bergantung padanya. Seperti para guru besar lainnya, Sang Buddha memuji toleransi dan sifat memaafkan dalam mengembalikan kepercayaan dan menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang muncul karena kecenderungan kita untuk melihat orang lain sehubungan dengan “kita” dan “mereka.”

Dalam buku yang mengagumkan ini Bhikkhu Bodhi, seorang bhikkhu Buddhis yang terpelajar dan berpengalaman, telah mengambil dari kitab-kitab dari tradisi Pāli, salah satu dari catatan ajaran Sang Buddha yang paling awal, untuk menggambarkan perhatian Sang Buddha terhadap kerukunan sosial dan komunal. Saya yakin para umat Buddha akan menemukan kumpulan ini berharga, tetapi saya berharap para pembaca umum akan menemukan ketertarikannya juga. Bahan-bahan yang dikumpulkan di sini jelas menunjukkan bahwa tujuan tertinggi Buddhisme adalah untuk melayani dan memberi manfaat dalam kemanusiaan. Karena apa yang menarik saya bukanlah mengubah keyakinan orang lain ke dalam Buddhisme, tetapi bagaimana kita umat Buddha dapat berkontribusi pada masyarakat menurut pemikiran kita sendiri, saya yakin bahwa para pembaca yang hanya tertarik dalam menciptakan suatu dunia yang lebih bahagia, yang lebih damai akan juga menemukan buku ini bersifat memperkaya [wawasan mereka].
 
Dalai Lama

Kata Pembuka
Oleh Hozan Alan Senauke

Buddha Gotama tumbuh dewasa di sebuah negeri dari kerajaan-kerajaan, suku-suku, dan varna, yang bermakna kelas sosial atau kasta. Itu adalah suatu masa dan tempat yang berbeda tetapi serupa dengan zaman kita, di mana kehidupan seseorang secara erat ditentukan oleh status sosial, pekerjaan keluarga, identitas budaya, dan jenis kelamin. Sebelum pencerahan Sang Buddha, identitas adalah bersifat definitif. Jika seseorang dilahirkan dalam kasta ksatria atau kasta pedagang atau kasta petani atau kasta buangan, ia menjalankan kehidupan itu sepenuhnya dan hampir selalu menikahi seseorang dari kelas atau kasta yang sama. Anak-anaknya melakukan hal yang sama. Tidak ada pemahaman hak individu atau nasib personal, tidak ada cara untuk mewujudkan kemampuan manusia selain dari peran sosial yang diberikan sejak lahir. Maka ajaran Sang Buddha dapat dilihat sebagai penegasan keras atas kemampuan individual. Hanya melalui usaha seseorang pencerahan dimungkinkan, melampaui batasan kasta, kedudukan sejak lahir, atau realitas konvensional. Dalam syair 396 dari Dhammapada, Sang Buddha mengatakan:

Aku tidak menyebut seseorang sebagai seorang brahmana hanya karena kelahiran, karena ia dilahirkan dari seorang ibu (brahmana). Jika ia memiliki kemelekatan, ia hanya disebut “sombong.” Seseorang yang tanpa kemelekatan, tanpa keterikatan – ia kusebut sebagai seorang brahmana.

Pada waktu yang sama, Sang Buddha dan para siswanya tinggal di tengah-tengah masyarakat. Mereka tidak mendirikan vihara-vihara mereka di puncak gunung yang terpencil tetapi di pinggiran kota-kota besar seperti Sāvatthī, Rājagaha, Vesālī, dan Kosambī. Mereka bergantung pada umat awam perempuan dan laki-laki, upāsikā and upāsaka, untuk kebutuhan kehidupan mereka. Bahkan saat ini para bhikkhu dan bhikkhuni dalam tradisi Theravāda di Burma (atau Myanmar), Thailand, Sri Lanka, Kamboja, dan Laos pergi pada pagi hari untuk berkeliling mengumpulkan dana makanan sebagai makanan mereka. Walaupun mereka menjalankan disiplin monastik yang ketat, adalah salah membayangkan bahwa vihara-vihara Asia Tenggara tertutup dan terpisah dari saudara-saudarinya di dunia sekuler. Vihara-vihara dan komunitas sekuler adalah saling bergantungan, dalam suatu tradisi yang manis dan sepenuhnya hidup.

Pada musim gugur tahun 2007 masyarakat dari sekeliling dunia terinspirasi oleh “Revolusi Saffron” Burma yang teguh tetapi damai – yang dibawakan oleh suatu protes tanpa kekerasan dari para bhikkhu Burma terhadap penindasan pemerintahan militer. Protes itu dipicu oleh naiknya harga bahan bakar secara tiba-tiba dan tajam yang secara drastis mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk bekerja atau mendapatkan bahan bakar untuk masak atau bahkan makanan pokok. Hubungan yang erat antara para bhikkhu, bhikkhuni, dan umat awam secara historis telah bermakna sehingga ketika satu bagian mengalami kesengsaraan, yang lainnya merespon. Para bhikkhu Burma telah memiliki sejarah panjang bersuara melawan ketidakadilan. Mereka telah berani menentang kolonialisme Inggris, pemerintahan diktator, dan dua dasawarsa junta militer.

Bagi Buddhis Burma para bhikkhu telah menjadi agen perubahan dalam masyarakat yang berdiri pada jurang perubahan nyata. Walaupun perubahan ini tidak terhindarkan, junta militer telah sebelumnya menentangnya dengan tekad yang kuat. Pertemuan dari keadaan-keadaan ini menciptakan suatu celah: terpilihnya suatu pemerintahan sipil yang baru (meskipun orang dapat mempertanyakan proses pemilihannya), dibebaskannya para tahanan politik (termasuk pemenang hadiah Nobel Daw Aung San Suu Kyi setelah bertahun-tahun ditahan sebagai tahanan rumah), gerakan tanpa kekerasan di sekeliling dunia yang didorong oleh “Musim Seni Arab” tahun 2011, dan dialog baru antara pemimpin Burma dan perwakilan dari Eropa, Amerika Serikat, dan kekuatan-kekuatan ekonomi lainnya. Terdapat suatu perasaan kemungkinan dan harapan di mana-mana.

Kumpulan teks ini menggarisbawahi kehidupan dalam Dhamma dalam suatu masyarakat yang bebas dan rukun, dengan menggunakan ucapan Sang Buddha yang telah teruji oleh waktu. Kembali dari Burma pada bulan November 2011, saya telah berpikir tentang perlunya di sana dan di tempat lain atas jenis kumpulan dari sutta-sutta Pāli ini. Pada tahun 2012 kekerasan komunal meletus di negara bagian Rakhine Burma dan di tempat lain di negeri itu. Perlunya untuk melihat secara mendalam ke dalam ajaran-ajaran Sang Buddha tentang kerukunan sosial telah menjadi mendesak. Karena bukan seorang cendikiawan atau seorang penerjemah, saya menghubungi beberapa teman yang terpelajar. Ternyata bahwa beberapa tahun belakangan Bhikkhu Bodhi, salah seorang penerjemah Buddhisme Awal kita yang paling dihormati dan produktif, telah mengumpulkan suatu kumpulan yang demikian sebagai tambahan dalam kurikulum pelatihan untuk kerukunan sosial di Sri Lanka, yang diorganisasikan oleh Institut untuk Studi Hak-Hak Asasi Manusia di Universitas Columbia.

Di sini terdapat nasehat Sang Buddha tentang bagaimana hidup secara rukun dalam masyarakat yang tidak menindas mereka yang berbeda agama atau latar belakang etnisnya, dengan tidak memperlakukan dengan kejam dan mengeksploitasi diri mereka sendiri atau orang lain. Walaupun situasi di Burma, Sri Lanka, Thailand, India, atau Amerika Serikat berbeda-beda, ajaran-ajaran sosial Sang Buddha memberikan sejenis kebijaksanaan yang melampaui kekhususan waktu dan tempat. Ajaran-ajaran beliau menyediakan suatu landasan kebebasan di mana masing-masing bangsa dan masyarakat dapat membangunnya menurut keperluannya sendiri.

Saya sangat berterima kasih kepada Bhikkhu Bodhi atas kebijaksanaan dan kemurahan hati beliau. Orang-orang dari semua keyakinan dan kepercayaan di seluruh negeri mendambakan kebahagiaan dan kebebasan. Saya memberikan penghormatan kepada mereka yang bergerak menuju kebebasan, dan berharap agar ucapan Sang Buddha tentang kerukunan sosial dapat membawa kita tanpa rasa takut sepanjang jalan kita.

Berkeley, CA

Ucapan Terima Kasih

Pada tahun 2011 Bhikkhu Khemaratana membagikan saya suatu ringkasan teks-teks dari Kanon Pāli yang telah beliau persiapkan tentang tema kerukunan monastik, suatu topik di mana beliau secara khusus tertarik padanya. Teks-teks yang telah saya pilih untuk beberapa bagian dari kumpulan teks ini disarankan oleh teks-teks yang dipilih oleh Ven. Khemaratana, walaupun perlakuan saya terhadap topik itu telah dipengaruhi oleh tujuan dari kumpulan teks ini dan dengan demikian berbeda dari ringkasan beliau. Saya juga berterima kasih kepada Alan Senauke untuk menuliskan suatu kata pembuka dan penutup pada buku ini, yang mengambil dari pengalamannya sendiri menggunakan versi lebih awal dari kumpulan teks ini dalam pekerjaannya memelihara kerukunan sosial dan rekonsiliasi di India dan Myanmar.

5
Studi Sutta/Sutra / MA 98 Kotbah tentang Penegakan Perhatian
« on: 21 January 2018, 09:34:39 AM »
Berikut adalah terjemahan Madhyama Agama (MA) kotbah 98 yang merupakan padanan Satipatthana Sutta (MN 10):

Madhyamāgama 98
Kotbah tentang Penegakan Perhatian

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di antara penduduk Kuru di Kammasādhamma, sebuah kota negeri Kuru. Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat ‘satu jalan’ (ekāyana-magga) yang memurnikan makhluk-makhluk, mengatasi dukacita dan kekhawatiran, melenyapkan penderitaan dan kesedihan, meninggalkan tangisan dan ratapan, dan mencapai Dharma sejati – yaitu empat penegakan perhatian.

“Para Tathāgata masa lampau, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, semuanya telah menghancurkan lima rintangan, kekotoran-kekotoran pikiran dan yang melemahkan kebijaksanaan, mengembangkan pikiran [mereka] [dan] berdiam sepenuhnya dalam empat penegakan perhatian, telah melatih tujuh faktor pencerahan, dan telah mencapai pencerahan sempurna yang tiada bandingnya. Para Tathāgata masa yang akan datang, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, semuanya akan menghancurkan lima rintangan, kekotoran-kekotoran pikiran dan yang melemahkan kebijaksanaan, akan mengembangkan pikiran [mereka] [dan] berdiam sepenuhnya dalam empat penegakan perhatian, akan melatih tujuh faktor pencerahan, dan akan mencapai pencerahan sempurna yang tiada bandingnya. Sekarang Aku, Sang Tathāgata masa sekarang, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, juga telah menghancurkan lima rintangan, kekotoran-kekotoran pikiran dan yang melemahkan kebijaksanaan, telah mengembangkan pikiran[-Ku] [dan] berdiam sepenuhnya dalam empat penegakan perhatian, telah melatih tujuh faktor pencerahan, dan telah mencapai pencerahan sempurna yang tiada bandingnya. Apakah empat itu? Penegakan perhatian yang adalah perenungan jasmani sebagai jasmani; demikian juga penegakan perhatian yang adalah perenungan perasaan ... pikiran ... dan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran.

[I. Perenungan Jasmani]

[1. Postur Tubuh]

“Apakah penegakan perhatian yang adalah perenungan jasmani sebagai jasmani? Seorang bhikkhu, ketika berjalan, memahami: ‘[Aku sedang] berjalan’; ketika berdiri, ia memahami: ‘[Aku sedang] berdiri’; ketika duduk, ia memahami: ‘[Aku sedang] duduk’; ketika berbaring, ia memahami: ‘[Aku sedang] berbaring’; ketika tertidur, ia memahami: ‘[Aku sedang] tertidur’; ketika terjaga, ia memahami: ‘[Aku sedang] terjaga’; ketika sedang tertidur [dan] terjaga, ia memahami: ‘[Aku sedang] tertidur [dan] terjaga.’ Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan (ñāṇa), penglihatan (dassana), dan kebijaksanan (vijjā). Ini adalah apa yang disebut dengan ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[2. Kewaspadaan Penuh]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan tubuh sebagai tubuh [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu mengetahui dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan keluar dan masuk, mengamati dengan baik dan menganalisis; ia mengetahui dengan penuh kewaspadaan ketika membengkokkan dan merentangkan [lengannya], menundukkan dan mengangkat [kepalanya], perilakunya yang tenang dan hening, dengan benar mengenakan jubah saṅghāṭi-nya dan jubah [lainnya] [dan membawa] mangkuknya, berjalan, berdiri, duduk, berbaring, tertidur, terjaga, berbicara dan berdiam diri. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[3. Melenyapkan Pikiran Tidak Bermanfaat]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Ketika pikiran-pikiran jahat yang tidak bermanfaat muncul, seorang bhikkhu memotong dan melenyapkan[nya] dengan memperhatikan objek pikiran yang bermanfaat. Seperti halnya seorang tukang kayu atau murid tukang kayu memegang seutas benang yang diberi tinta dan menggunakannya pada kayu, kemudian membelah kayu itu dengan sebuah kapak tajam untuk meluruskannya, demikian juga ketika pkiran-pikiran jahat yang tidak bermanfaat, seorang bhikkhu memotong dan melenyapkan[nya] dengan memperhatikan objek pikiran yang bermanfaat. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu, dengan mengertakkan giginya dan menekankan lidahnya ke langit-langit mulut, mengendalikan pikiran dengan pikiran, memotong dan melenyapkan [pikiran lainnya]. Seperti halnya dua orang yang kuat menangkap seorang yang lemah, mencengkeramnya secara acak pada bagian mana pun [dari tubuhnya] dan memukulinya sekehendak hatinya, demikian juga seorang bhikkhu, dengan mengertakkan giginya dan menekankan lidahnya ke langit-langit mulut, mengendalikan pikiran dengan pikiran, memotong dan melenyapkan [pikiran lainnya]. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[4. Perhatian pada Pernapasan]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu, ketika memperhatikan napas masuk, memahami: ‘[Aku sedang] memperhatikan napas masuk’; ketika memperhatikan napas keluar, ia memahami: ‘[Aku sedang] memperhatikan napas keluar.’ Menarik napas panjang, ia memahami: ‘[Aku sedang] menarik napas panjang’; menghembuskan napas panjang, ia memahami: ‘[Aku sedang] menghembuskan napas panjang.’ Menarik napas pendek, ia memahami: ‘[Aku sedang] menarik napas pendek’; menghembuskan napas pendek, ia memahami: ‘[Aku sedang] menghembuskan napas pendek.’ Ia berlatih menarik napas [dengan mengalami] keseluruhan tubuh; ia berlatih menghembuskan napas [dengan mengalami] keseluruhan tubuh. Ia berlatih menarik napas dengan menghentikan bentukan jasmani; ia berlatih menghembuskan napas dengan menghentikan bentukan ucapan. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[5. Jhāna-Jhāna]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi tubuhnya; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan. Seperti halnya seorang petugas pemandian mengisi sebuah penampungan dengan bubuk mandi, dan mencampurkan [bubuk mandi dan] air menjadi sebuah gumpalan, dengan membuat air membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi [gumpalan itu] dengan tidak ada bagian yang tidak diliputi; demikian juga seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi tubuhnya; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi tubuhnya; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi. Seperti halnya sebuah mata air di pegunungan, bersih dan tidak berlumpur, penuh dan meluap, dan tidak ada kesempatan bagi air dari keempat arah memasuki [mata air itu], dan dari dasar mata air, air memancar ke atas secara spontan dan membanjiri, membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi pegunungan dengan tidak ada bagian yang tidak diliputi; demikian juga seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi tubuhnya; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu membuat kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi tubuhnya; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita. Seperti halnya seroja biru, merah dan putih lahir dan tumbuh dalam air, muncul dalam air, demikian juga akar, batang, bunga dan daunnya semuanya dibasahi, dilembabkan, diliputi dan diisi [oleh air] dengan tidak ada bagian yang tidak diliputi; demikian juga seorang bhikkhu membuat kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita membasahi, melembabkan, meliputi dan mengisi tubuhnya; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu bertekad meliputi tubuhnya dengan pikiran yang murni dan cerah, dengan mencapai dan berdiam [di dalamnya]; tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Sepertinya hal seseorang ditutupi oleh kain [berukuran] tujuh hasta atau kain [berukuran] delapan hasta, [sehingga] tidak ada bagian tubuhnya yang tidak ditutupi; demikian juga bagi seorang bhikkhu tidak ada tubuhnya yang tidak diliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[6. Persepsi Cahaya]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu, dengan memperhatikan persepsi cahaya, dengan baik menggenggam, dengan baik memegang dan dengan baik mengingat kembali apa yang ia perhatikan. Seperti sebelumnya, demikian juga setelahnya; seperti setelahnya, demikian juga sebelumnya; seperti pada siang hari, demikian juga pada malam hari; seperti pada malam hari, demikian juga pada siang hari; seperti di bawah, demikian juga di atas; seperti di atas, demikian juga di bawah. Demikianlah dengan tidak menyimpang (aviparyasta), pikiran[nya] bebas dari gangguan. Ia mengembangkan pikiran yang cerah, dan pada akhirnya pikirannya tidak tertutupi oleh kegelapan. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[7. Objek Peninjauan-Kembali]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu dengan baik menggenggam objek peninjauan-kembali (paccavekkhaṇā­-nimitta) dan dengan baik mengingat kembali apa yang ia perhatikan. Seperti halnya seseorang duduk merenungkan orang [lain] yang sedang berbaring, atau berbaring merenungkan orang [lain] yang sedang duduk; demikian juga seorang bhikkhu dengan baik menggenggam objek peninjauan-kembali dan dengan baik mengingat kembali apa yang ia perhatikan. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[8. Bagian-Bagian Tubuh]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu, bagaimana pun tubuhnya diposisikan sebagaimana ia sukai atau tidak, melihat [tubuhnya] dari kepala sampai kaki [sebagai] penuh dengan berbagai jenis ketidakmurnian: ‘Dalam tubuhku ini terdapat rambut kepala, rambut badan, kuku, gigi, kulit tipis yang kasar [dan] halus, kulit, daging, urat, tulang, jantung, ginjal, hati, paru-paru, usus besar, usus halus, limpa, perut, gumpalan kotoran, otak, akar otak, air mata, keringat, ingus, ludah, nanah, darah, lemak, sumsum, dahak, dan air kencing. Seperti halnya sebuah wadah yang diisi dengan beberapa biji-bijian, dan seseorang dengan mata [yang tidak cacat] dapat melihat semuanya dengan jelas, yaitu ‘padi, biji gandum, dan biji lobak dan moster’; demikian juga seorang bhikkhu bagaimana pun tubuhnya diposisikan sebagaimana ia sukai atau tidak, melihat [tubuhnya] dari kepala sampai kaki [sebagai] penuh dengan berbagai jenis ketidakmurnian: ‘Dalam tubuhku ini terdapat rambut kepala, rambut badan, kuku, gigi, kulit tipis yang kasar [dan] halus, kulit, daging, urat, tulang, jantung, ginjal, hati, paru-paru, usus besar, usus halus, limpa, perut, gumpalan kotoran, otak, akar otak, air mata, keringat, ingus, ludah, nanah, darah, lemak, sumsum, dahak, dan air kencing. Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

[9. Unsur-Unsur]

“Kemudian, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani [sebagai berikut:] Seorang bhikkhu merenungkan unsur-unsur jasmani, [dengan berpikir:] ‘Dalam tubuhku ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran.’ Seperti halnya seorang tukang daging, setelah membunuh seekor sapi dan menguliti kulitnya, membentangkan[nya] di atas tanah dan membagi[nya] ke dalam enam bagian; demikian juga seorang bhikkhu merenungkan unsur-unsur jasmani, [dengan berpikir:] ‘Dalam tubuhku ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran.’ Demikianlah seorang bhikkhu merenungkan jasmani internal sebagai jasmani, merenungkan jasmani eksternal sebagai jasmani, dan mengembangkan perhatian sehubungan dengan jasmani, dengan memiliki pengetahuan, penglihatan, dan kebijaksanaan. Ini adalah apa yang disebut ‘seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

6
Berikut adalah terjemahan bebas (kata per kata) Samyukta Agama (SA) kotbah 784 yang merupakan padanan Agama Sutra dari SN 45.8 tentang penjelasan faktor-faktor JMB8:

Saṃyuktāgama 784
邪正
[Jalan yang] Salah dan Benar

如是我聞:
Demikianlah telah kudengar:

一時,佛住舍衛國祇樹給孤獨園。
Suatu ketika, Sang Buddha berdiam di Savatthi di Jetavana, taman Anathapindika.

爾時,世尊告諸比丘:「有邪、有正。諦聽,善思,當為汝說。何等為邪?謂邪見,乃至邪定。何等為正?謂正見,乃至正定。
Pada waktu itu, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat [jalan yang] salah, terdapat [jalan yang] benar. Dengarkanlah dengan baik, perhatikanlah dengan seksama, aku akan menjelaskan kepada kalian. Apakah [jalan yang] salah? Yaitu pandangan salah ... sampai dengan ... konsentrasi salah. Apakah [jalan yang] benar? Yaitu pandangan benar ... sampai dengan ...  konsentrasi benar.

何等為正見?謂說有施、有說、有齋,有善行、有惡行,有善惡行果報,有此世、有他世,有父母、有眾生生,有阿羅漢善到、善向,有此世、他世自知作證具足住:『我生已盡,梵行已立,所作已作,自知不受後有。』
Apakah pandangan benar?  Yaitu ada persembahan, ada pelafalan, ada penghindaran, ada perbuatan bermanfaat, ada perbuatan tidak bermanfaat,  ada akibat perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat, ada dunia ini, ada dunia lain, ada ayah dan ibu, ada kemunculan makhluk-makhluk [secara spontan], ada para Arahant yang sepenuhnya tiba dan sepenuhnya maju menuju, dengan mengetahui bagi dirinya sendiri dunia ini dan dunia lain dan berdiam setelah merealisasi bagi dirinya sendiri [bahwa]: ‘Kelahiranku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku mengetahui bagi diriku sendiri bahwa tiada kelangsungan lebih jauh lagi.’

何等為正志?謂出要志、無恚志、不害志。
Apakah kehendak benar? Yaitu kehendak melepaskan [keduniawian], kehendak tidak memusuhi, dan kehendak tidak melukai.

何等為正語?謂離妄語、離兩舌、離惡口、離綺語。
Apakah ucapan benar? Yaitu menghindari ucapan bohong, menghindari ucapan memecah belah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari omong kosong.

何等為正業?謂離殺、盜、婬。
Apakah perbuatan benar? Yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, dan perbuatan seksual yang salah.

何等為正命?謂如法求衣服、飲食、臥具、湯藥,非不如法。
Apakah penghidupan benar? Yaitu sesuai dengan Dharma mendapatkan jubah, minuman dan makanan,  tempat tinggal, dan obat-obatan, bukan tidak sesuai dengan Dharma.

何等為正方便?謂欲、精進、方便、出離、勤競、堪能常行不退。
Apakah usaha benar? Yaitu kehendak, ketekunan, mengerahkan usaha, pelepasan, berusaha keras, [untuk] dapat terus-menerus berlatih tanpa kemunduran.

何等為正念?謂念隨順,念不妄、不虛。
Apakah perhatian benar? Yaitu perhatian yang sesuai dengan perhatian yang tidak dibiarkan jatuh dan tidak kosong.

何等為正定?謂住心不亂、堅固、攝持、寂止、三昧、一心。」
Apakah konsentrasi benar? Yaitu berdiam dengan pikiran yang tidak berhamburan, kokoh, fokus, [dengan] ketenangan, konsentrasi, dan keterpusatan pikiran.”

佛說此經已,諸比丘聞佛所說,歡喜奉行。
Setelah Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu yang mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan mengingatnya dengan baik.

7
Sains / All About Astronomy
« on: 10 December 2017, 08:01:25 PM »
Apakah Astronomi itu?

Selamat datang calon astronom atau pemula astronomi !

Disini kalian akan disediakan beberapa materi tentang Astronomi untuk kalian yang ingin mahir di bidang astronomi / ingin menjadi astronom amatir.

Astronomi adalah ilmu alam yang mempelajari dan meneliti benda langit (seperti bintang, galaksi, dll) dan peristiwa langit (seperti gerhana, hujan meteor, dll.)

Astronomi berasal dari 2 kata bahasa Yunani Kuno, yaitu :
  • astron (bintang)
  • nomos (mengatur / hukum)
yang kemudian jika digabungkan maka akan menjadi astronomos (mengatur bintang / hukum bintang).

Kemudian, kata astronomos diturun ke bahasa Latin menjadi astronomia, dan diturun ke bahasa Perancis Kuno menjadi astronomie. Akhirnya terbentuklah kata astronomy dalam bahasa Inggris pertengahan.

Perlu dicatat bahwa secara garis besar astronomi sangat berbeda dengan astrologi dimana astrologi merupakan ilmu yang mempergunakan pergerakan benda langit untuk memprediksi nasib kehidupan manusia.

Astronomi diketahui memiliki ratusan cabang dan turunan cabang juga. Dibawah berikut ini adalah cabang-cabang astronomi yang terpopuler dan terpenting :
  • Astrofisika = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari perilaku dan kelakuan suatu benda langit di alam semesta.
  • Astrobiologi = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari kehidupan di alam semesta.
  • Astrometri = cabang ilmu Astronomi yang mengukur dan mempetakan posisi dan gerakan dari benda langit.
  • Astroarkeologi = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari astronomi di masa lalu dengan cara kebudayaan dan agama. (Beda dengan kita kalau sekarang pakai pengamatan dan penelitian)
  • Astronomi Surya = cabang ilmu astronomi yang mempelajari Matahari.
  • Astronomi Bintang = cabang ilmu astronomi yang mempelajari bintang beserta karateristiknya.
  • Astronomi Bola = cabang ilmu Astronomi yang memusatkan perhatian pada letak benda langit di bola langit.
  • Astronomi Galaktik = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari galaksi dimana kita tinggal, yaitu galaksi Bimasakti.
  • Astronomi Ekstragalaktik = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari galaksi-galaksi diluar galaksi Bimasakti.
  • Astronomi panjang gelombang = cabang ilmu Astronomi yang meneliti suatu benda langit dengan cara mengamati dari berbagai panjang gelombang seperti Inframerah, Sinar-X, dll.
  • Astronomi gelombang gravitasi = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari gelombang gravitasi
  • Astrofisika partikel = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari fisika partikel di bidang astronomi.
  • Planetologi = disebut juga Ilmu Keplanetan. cabang ilmu astronomi yang mempelajari keplanetan seperti planet, asteroid, meteor, exoplanet, dll.
  • Kosmologi = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari struktur, evolusi, formasi, awal mula, dan sistem alam semesta.
  • Fotometri = cabang ilmu Astronomi yang mengukur kecerahan cahaya benda langit jika dilalui oleh filter yang berbeda-beda.
  • Spektroskopi = cabang ilmu Astronomi yang mempelajari spektrum-spektrum dari benda langit

Sumber: https://anchaastronomi.wordpress.com/2017/12/10/apakah-itu-ilmu-astronomi/

8
Buddhisme Awal / MOVED: Tanya desktop DELL
« on: 18 April 2017, 06:45:33 PM »

9
DhammaCitta Press / Dirgha Agama vol. 1
« on: 12 September 2016, 09:57:28 PM »
Berikut adalah terjemahan dari The Canonical Book of the Buddha’s Lengthy Discourses vol. 1, yang diterjemahkan oleh Shohei Ichimura dari Taisho Tripitaka no. 1 (T 1). Volume 1 ini terdiri dari 10 sutra/kotbah pertama dan di-post di sini per sutra.

10
DhammaCitta Press / Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« on: 03 September 2016, 05:37:32 PM »
Tentang Enam Landasan Indera (1)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 188 sampai 229 (Jilid 8 )

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid kedelapan dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 188 sampai 229.< 1>

188. [Kotbah tentang Pembebasan dari Kesenangan dan Nafsu]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya dengan benar menyelidiki mata sebagai tidak kekal. Seseorang yang menyelidikinya seperti ini disebut ‘[seseorang] dengan pandangan benar’. Karena dengan benar merenungkannya, kekecewaan muncul. Karena munculnya kekecewaan, seseorang bebas dari kesenangan dan bebas dari nafsu.<3> Karena bebas dari kesenangan dan nafsu, aku katakan pikiran dengan benar terbebaskan.

“Dengan cara yang sama [seseorang seharusnya dengan benar menyelidiki] telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran ... [sampai dengan] ... seseorang bebas dari kesenangan dan bebas dari nafsu. Para bhikkhu, karena bebas dari kesenangan dan nafsu, aku katakan pikiran dengan benar terbebaskan.

“Seseorang yang pikirannya dengan benar terbebaskan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”<4>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk tidak kekal, dengan cara yang sama juga [kotbah-kotbah] diulangi dengan cara ini untuk dukkha, kosong, dan bukan-diri.

189. [Kotbah tentang Perhatian Seksama]<5>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya memberikan perhatian seksama pada mata dan menyelidikinya sebagai tidak kekal. Mengapa demikian? Karena memberikan perhatian seksama pada mata dan menyelidikinya sebagai tidak kekal, keinginan dan nafsu terhadap mata ditinggilkan. [Bagi seseorang yang] telah meninggalkan keinginan dan nafsu, aku katakan, pikirannya dengan benar terbebaskan.

“Karena memberikan perhatian seksama pada telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran dan menyelidikinya [sebagai tidak kekal], keinginan dan nafsu [terhadapnya] ditinggalkan.<6> Bagi seseorang yang telah meninggalkan keinginan dan nafsu, aku katakan, pikirannya dengan benar terbebaskan.

“Para bhikkhu, seseorang yang pikirannya dengan benar terbebaskan dengan cara ini dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”<7>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

190. [Kotbah Pertama tentang Mata]<8>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seseorang tidak mengetahui dan memahami mata, tidak meninggalkan dan tidak terbebaskan dari keinginan terhadapnya, seseorang tidak dapat dengan benar melenyapkan dukkha.<9>

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, seseorang yang mengetahui dan memahami mata, [49c] dan yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat dengan benar melenyapkan dukkha. Seseorang yang mengetahui dan memahami telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, dan yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat dengan benar melenyapkan dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

191. [Kotbah Kedua tentang Mata]<10>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seseorang yang tidak mengetahui dan memahami mata, tidak meninggalkan dan tidak terbebaskan dari keinginan terhadapnya, tidak dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Seseorang yang tidak mengetahui dan tidak memahami telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, tidak meninggalkan dan tidak terbebaskan dari keinginan terhadapnya, tidak dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.

“Para bhikkhu, seseorang yang mengetahui dan memahami mata,<11> yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Seseorang yang mengetahui dan memahami telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

12
Tentang Pandangan-Pandangan dan Pengetahuan Penetratif
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 139 sampai 187 (Jilid 7)

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid keenam dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 139 sampai 187.<1>

[Kotbah-Kotbah Berhubungan tentang Pandangan-Pandangan]

139. [Kotbah Pertama tentang Kekhawatiran, Dukacita, Kekesalan, dan Kesakitan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kelangsungan dari sebab apakah, dengan melekat pada apakah,<2> dengan dibelenggu dan terikat pada apakah, dengan melihat apakah sebagai diri, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan yang belum muncul menjadi muncul dan kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan yang telah muncul menjadi meningkat lebih jauh?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Semoga beliau menjelaskan hal ini sepenuhnya. Setelah mendengarnya, para bhikkhu akan menjunjung tinggi dan menerimanya dengan hormat.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Kelangsungan bentuk jasmani adalah sebabnya, dengan melekat pada bentuk jasmani, dengan dibelenggu dan terikat pada bentuk jasmani, dengan melihat bentuk jasmani sebagai diri, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan yang belum muncul menjadi muncul dan kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan yang telah muncul menjadi meningkat lebih jauh. Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, apakah yang kalian pikirkan, apakah bentuk jasmani adalah kekal atau ia tidak kekal?”

Mereka menjawab: “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi: “Apa yang tidak kekal, apakah ia adalah dukkha?”

Mereka menjawab: “Ia adalah dukkha, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata:] “Dengan cara ini, para bhikkhu, apa yang tidak kekal adalah dukkha. Karena terdapat dukkha, dengan munculnya hal ini, terdapat yang dibelenggu, yang terikat, dan pandangan diri. Ini menyebabkan kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan yang belum muncul menjadi muncul, dan ini menyebabkan kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan yang telah muncul menjadi meningkat lebih jauh. Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, [43a] indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar. Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

“Lagi, apa yang dilihat, didengar, dialami, diketahui, dibangkitkan, dicari, diingat, diikuti dengan awal pikiran (vitakka), dan diikuti dengan kelangsungan pikiran (vicāra), semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Jika terdapat pandangan bahwa suatu diri ada dan dunia ada, dan bahwa keberadaan dunia ini dan keberadaan dunia lain adalah kekal, abadi, dan tidak berubah – semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Jika terdapat lagi pandangan bahwa dunia ini dan diri tidak ada, bahwa tidak ada milik diri di dunia ini, bahwa diri itu tidak akan ada pada masa depan dan apa pun milik diri itu tidak akan ada pada masa depan – semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Seumpamanya seorang siswa mulia yang terpelajar memeriksa enam sudut pandang ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri. Seseorang yang merenungkan dengan cara ini meninggalkan keragu-raguan sehubungan dengan Sang Buddha, meninggalkan keragu-raguan sehubungan dengan Dharma ... sehubungan dengan Komunitas (Sangha). Para bhikkhu, ini disebut seorang siswa mulia terpelajar yang tidak lagi melakukan suatu perbuatan jasmani, ucapan atau pikiran yang akan membawa pada tiga tujuan buruk. Bahkan jika ia lalai, siswa mulia itu pasti berlanjut menuju pencerahan, dalam tujuh kehidupan kepergian dan kedatangan di antara para deva dan manusia ia akan mengakhiri dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

13
Tentang Rādha dan Pandangan-Pandangan
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 111 sampai 138 (Jilid 6)

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid keenam dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 111 sampai 138.<1>

[Kotbah-Kotbah Berhubungan tentang Rādha]

111. [Kotbah tentang Saluran Kemenjadian]
<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Gunung Makula.<3> Kemudian seorang bhikkhu pelayan bernama Rādha,<4> yang bangkit dari meditasi pada sore hari, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Seperti yang telah diajarkan Sang Bhagavā, terdapat arus kemenjadian. Apakah yang disebut arus kemenjadian? Apakah yang disebut lenyapnya arus kemenjadian?”

Sang Buddha berkata kepada Rādha: “Adalah bagus bagimu untuk menanyakan hal ini. Aku akan menjelaskannya kepadamu, yaitu apa yang disebut arus kemenjadian. Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena tidak memahami sebagaimana adanya, ia menginginkan dan bergembira dalam bentuk jasmani, ia memujinya, ia menggenggamnya, dan terkotori oleh keterikatan [padanya]. Bergantung pada ketagihan dan kenikmatan dalam bentuk jasmani, terdapat kemelekatan. Bergantung pada kemelekatan, terdapat kemenjadian. Bergantung pada kemenjadian, terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan meningkat. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan dukkha muncul. Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini. Ini disebut arus kemenjadian.<5>

“Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena memahami sebagaimana adanya, ia tidak memunculkan ketagihan dan kenikmatan sehubungan dengan bentuk jasmani demikian, memujinya, memegangnya, atau terkotori oleh keterikatan [padanya]. Karena tanpa ketagihan dan kenikmatan, kemelekatan lenyap. Dengan lenyapnya kemelekatan, kemenjadian lenyap. Dengan lenyapnya kemenjadian, kelahiran lenyap. Dengan lenyapnya kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kesakitan dan kekesalan lenyap.<6> Dengan cara ini keseluruhan kumpulan dukkha lenyap.

Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

“Ini disebut arus kemenjadian dan lenyapnya arus kemenjadian, seperti yang diajarkan Sang Tathāgata.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Rādha bergembira dan menerimanya dengan hormat.

112. [Kotbah tentang Pengetahuan yang Menembus]<7>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Gunung Makula.<8> Kemudian seorang bhikkhu pelayan bernama Rādha, yang bangkit dari meditasi pada sore hari, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, seperti yang telah diajarkan Sang Bhagavā, terdapat pemahaman yang menembus terhadap bentuk jasmani, pemahaman yang menembus terhadap perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran?”<9>

Sang Buddha berkata kepada Rādha: “Adalah bagus bagimu untuk menanyakan hal ini. Aku akan menjelaskannya kepadamu. Pelenyapan, memudarnya, lenyapnya, penenangan, dan hancurnya kekhawatiran, dukacita, kesakitan dan kekesalan sehubungan dengan bentuk jasmani, ini disebut pemahaman yang menembus terhadap bentuk jasmani. Pelenyapan, memudarnya, lenyapnya, penenangan, dan hancurnya kekhawatiran, dukacita, kesakitan dan kekesalan sehubungan dengan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran, [38a] ini disebut pemahaman yang menembus terhadap perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran.”<10>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Rādha bergembira dan menerimanya dengan hormat.

14
Salam Sejahtera,
Namo Buddhaya,

Kabar gembira dari Komunitas Meditasi Samatha-Vipassana Jambi yang telah mengundang Sayadaw U Dhammasara untuk memberikan ceramah Dhamma pada:

Hari/Tanggal: Sabtu, 30 April 2016
Pukul : 18.00 WIB s/d selesai
Tempat : Aula Kanaan Global School - Kebun Handil.

Adapun tema ceramah Dhamma adalah "Why We Meditate" ( Mengapa Kita Bermeditasi).

Tiket masuk gratis - free. Tiket sudah dapat diambil saat ini....

Kemudian pada esok harinya Sayadaw berkenan membimbing langsung sesi meditasi pada :
Hari/Tanggal : 01 Mei 2016.
Pukul : 16.00 - 21.00 WIB.
Tempat : Candi Muara Jambi.

NB: Peserta Meditasi Terbatas (50 peserta)

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi Kontak Person dibawah ini :
1. Hendra Mahaputra (0852 6652 3100).
2. Dharmananda Oenang ( 0813 6886 4785).
3. Felix Hariyanto ( 0823 7731 0999). (No Khusus Pendaftaran Peserta Meditasi)
4. Engpo ( 0821 8396 4211).

Tiket Bisa juga diambil di Maha Cetiya Oenang Hermawan (Wayan).

Spoiler: ShowHide

15
DhammaCitta Press / Madhyama Agama vol. 1 - Pendahuluan
« on: 09 April 2016, 09:58:50 AM »
Berikut adalah terjemahan bagian pendahuluan dari The Madhyama Āgama (Middle-Length Discourses) Volume I yang ditulis oleh editor utamanya Marcus Bingenheimer, yang berisi informasi sekilas tentang kitab Agama pada umumnya dan sejarah penerjemahan Madhyama Agama dari bahasa India aslinya ke bahasa Mandarin.

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 9