Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - Peacemind

Pages: [1] 2
1
Pertanyaan ini saya ajukan terutama berkaitan dengan konsep 'ehipassiko'. Pengetahuan umum mengenai konsep ini adalah seseorang harus membuktikan dulu sesuatu sebelum meyakininya. Sekarang, kita hidup di jaman kurang lebih 2500 tahun setelah Sang Buddha. Jangankan untuk mengetahui batin Sang Buddha, sedangkan melihatnya saja belum. Karena hal ini, kita sebenarnya tidak tahu apakah Sang Buddha telah mencapai penerangan sempurna ataukah belum. Namun demikian, saya pribadi meyakini penerangan sempurna berdasarkan batasan pengetahuan saya setelah mempelajari ajaran Beliau yang tertuang dalam Tipitaka. Salahkah saya dan juga salahkah mereka yang meyakini penerangan sempurna Sang Buddha meski tidak ber-ehipassiko terlebih dahulu?

2
Meditasi / 10 kekotoran Vipassana ada di Kitab Komentar saja!
« on: 30 March 2011, 09:39:56 PM »
Tidak bisa dipungkiri bahwa 10 kekotoran Vipassana merupakan pengalaman nyata bagi mereka yang mempratikkan Vipassana secara serius. Tetapi, anehnya, 10 kekotoran vipassana ini tidak disebutkan di dalam Suttapitaka atau Vinayapitaka. Kekotoran-kekotoran Vipassana ini disebutkan di dalam Kitab Komentar atau kitab-kitab yang bukan Kanon. Any idea?

3
Diskusi Umum / Sati adalah Vipassana?
« on: 24 March 2011, 08:42:23 AM »
Saat ini, banyak umat Buddha mengidentifikasi vipassana dengan pengembangan sati (mindfulness). Vipassana adalah semata-mata praktik kesadaran itu sendiri. Vipassana dan praktik sati adalah satu dan tidak berbeda. Jika seseorang mengalami fenomena entah baik dan buruk, para praktisi vipassana biasanya berkata, "Ah.. yang penting sadari saja". Pertanyaannya sekarang adalah, apakah sati hanya merupakan satu2nya aspek dalam vipassana? Apakah sati itu sendiri dan bagaimana sati menempati posisi penting dalam vipassana?

4
Diskusi Umum / Belajar agama Buddha tanpa harus menjadi umat Buddha!
« on: 20 February 2011, 03:23:34 PM »
Barusan saya lihat status di FB yang menghimbau agar seseorang belajar agama Buddha tanpa harus menjadi umat Buddha. Dalam himbauan tersebut, ada semacam kesan seakan-akan seseorang akan memperoleh manfaat yang diharapkan dengan mempelajari ajaran Buddha meskipun ia sendiri berasal dari agama lain. Pertanyaannya, benarkah dengan masih mengakui agama lain sebagai agamanya, seseorang benar-benar akan memperoleh manfaat yang semestinya dengan mempelajari ajaran Buddha?

5
Sutta ini terdapat dalam Anguttaranikāya, bagian empat (catukkanipata), sutta no. 232. Sutta ini menjelaskan ada kamma yang menghasilkan kebahagiaan, ada kamma yang menghasilkan penderitaaan, dan yang terakhir, ada kamma yang mengarah kepada lenyapnya kamma. Pertanyaanya, perbuatan apakah yang bisa dikategorikan ke dalam kamma terakhir ini?

6
Ini bukan pertanyaan tapi pernyataan. Tapi, mungkin ada yang mau memberikan komen?

7
Saat ini ada pendapat bhwa mereka yang mencapai kesucian akan meninggalkan relik yang mengkristal. Saya belum pernah mendapatkan satu pun sumber yang mengatakan demikian. Sebenarnya dari mana sumber yang mengatakan demikian?

8
Diskusi Umum / Sang Buddha menemukan jenis Jhana baru?
« on: 13 December 2010, 12:16:25 AM »
Kebetulan saya baru mengikuti seminar selama tiga hari untuk membicarakan beberapa topik Buddhisme. Salah satu topik yang cukup menarik diajukan oleh seorang lay upasika. Ia mengajukan topik ini berdasarkan pandangan Ajahn Brahmavamso yang menyatakan bahwa Jhana yang ditemukan Sang Buddha berbeda dari Jhana-jhana yang dicapai oleh guru-guru spiritual lain  di India sebelum Beliau. Lay Upasika ini berpendapat bahwa Sang Buddha memang menemukan jenis Jhana yang berbeda dari ajaran-ajaran lain sebelum Sang Buddha, namun pada saat yang sama ia tidak setuju dengan pandangan Ajahn Brahmavamso. Menurut dia, sangkalan Ajahn Brahmavamso bahwa Jhana yang ditemukan Sang Buddha berbeda dari jhana-jhana ajaran berdasarkan pada fakta di mana sebagai seorang pertapa yang belum mencapai penerangan sempurna pertapa Gotama meninggalkan pencapaian-pencapaian Jhana yang dipelajari dari dua gurunya, Alara Kalama dan Udaka Ramaputta (Ariyapariyesanasutta), namun untuk mencapai penerangan sempurna beliau justru  mempraktikkan kembali Jhana yang dicapainya di bawah pohon Jambu ketika beliau masih kecil (Sandaka Sutta). Lay upasika ini tampak setuju dengan pendapat Ajahn Brahmavamso dalam konteks ini, namun ia tidak setuju dengan pandangan Ajahn ini yang menyatakan bahwa ketika seseorang mencapai Jhana pikiran beku, tidak bisa berpikir apa-apa, fokus dengan satu obyek saja, dan lima indriya tidak berfungsi. Lay Upasika ini menolak pandangan ini karena dalam Anupada Sutta Bhikkhu Sāriputta, ketika berada dalam Jhana, mampu melihat muncul dan lenyapnya bentuk-bentuk mental yang muncul dalam Jhana. Dengan kata lain, menurut Lay Upasika ini, Jhana yang ditemukan Sang Buddha adalah kondisi Jhana di mana pada saat seseorang berada dalam Jhana ia masih mampu melihat muncul dan lenyapnya faktor-faktor mental yang ada dalam jhana tersebut. Untuk mendukung argumennya, ia juga melampirkan Samaññaphala Sutta di mana dlm Sutta ini dikatakan pada saat seseorang mencapai jhana ia masih merasakan keseluruhan tubuh yang diselimuti oleh joy. Ini membuktikan bahwa pada saat seseorang mencapai jhana pikiran tidak dalam keadaan frozen seperti yang dikatakan oleh Ajahn Brahmavamso.

Dalam Seminar tersebut, Bhikkhu Analayo (Bhikkhu dari Jerman, penulis Satipaṭṭhāna) memberikan pendapat yang berbeda. Beliau mengatakan bahwa Jhana yang dicapai Sang Buddha tidak berbeda dari Jhana-jhana para pertapa lain sebelum Sang Buddha. Alasannya, dalam Brahmajala Sutta, ada deskripsi jhana-jhana pertapa lain yang persis sama dengan deskripsi jhana yang dicapai  Sang Buddha. Menurut beliau, yang membedakan adalah jikalau dalam ajaran lain jhana dianggap sebagai kekal dan pencapaian tertinggi, dalam ajaran Buddha, jhana merupakan fenomena yang tidak kekal, berkondisi dan mengalami perubahan (Aṭṭhakanagara Sutta). Berkaitan dengan Anupada Sutta, beliau mengatakan bahwa kondisi jhana dideskripsikan dalam sutta ini sangat spesial, jarang dan tidak bisa dicapai oleh sembarang orang karena jhana ini dicapai oleh bhikkhu Sāriputta, dan sutta ini disabdakan oleh Sang Buddha untuk menunjukkan mengapa bhikkhu Sāriputta dianggap sebagai Mahā paññā (of great wisdom).

Ada pendapat?

9
Diskusi Umum / Ajaran Buddha: Buktikan dulu baru percaya. Benarkah?
« on: 09 December 2010, 09:57:06 AM »
Berbasis pada Kalama Sutta dan pernyataan 'ehipassiko', banyak penganut Buddhis biasanya tidak mau menerima atau percaya beberapa ajaran atau kepercayaan baik yang berasal dari luar maupun dari ajaran Buddha sendiri sebelum mereka mengalami dan membuktikkan kebenarannya. Pertanyaannya, apakah Sang Buddha mengajarkan kepada umatnya untuk membuktikkan semua ajaran beliau sebelum menempatkan kepercayaanya? Tidak bolehkah kita seorang Buddhis percaya terhadap beberapa ajaran Buddha yang belum kita realisasikan?

10
Diskusi Umum / Pertanyaan seputar Yakkha!
« on: 19 August 2010, 06:53:25 PM »
Sebenarnya, dalam Buddhisme, makhluk yakkha, dalam 31 alam kehidupan, termasuk dalam kategori apa? Ada beberapa pertanyaan muncul:

1. Jika yakkha termasuk makhluk rendah, namun mengapa ada beberapa yakkha bisa mencapai kesucian seperti yakkha suciloma, Ālavaka, Hemavata?
2. JIka termasuk makhluk dewa, mengapa sering dikatakan bahwa kelahiran sebagai mereka merupakan akibat perbuatan buruk? Ada beberapa cerita jātaka seperti Sutasomajātaka mengatakan demikian.
3. JIka mereka termasuk makhluk halus, mengapa beberapa mereka makan daging manusia? Contoh, kisah dalam Sutasomajātaka. Adakah kemungkinan mereka sebenarnya manusia? Sebagai informasi saja, dalam Encyclopaedia of Buddhism,ada pendapat bahwa yakkha adalah manusia primitif.
4. JIka mereka manusia, mengapa mereka memilki super normal power layaknya para dewa?

Silahkan yang mau menjawab.

11
Diskusi Umum / Mungkinkah seorang ariya bunuh diri?
« on: 09 August 2010, 12:03:45 AM »
Saya tidak tahu apakah topik ini sudah pernah dibahas di sini atau belum. Namun topik ini telah menjadi kontroversi di kalangan umat Buddha. Ada beberapa berpendapat bahwa seorang ariya tidak akan mungkin bunuh diri dengan alasan bahwa bahkan hanya seorang sotapana pun tidak akan mungkin membunuh makhluk hidup, sehingga ia pun tidak akan mungkin membunuh dirinya. Namun ada juga beberapa berpendapat bahwa seorang sotapanna bisa melakukan bunuh diri. DI Sri Lanka, pernah ada satu kasus seorang bhikkhu dari luar negeri bernama Bhikkhu Gñanavira. Beliau meninggal  dengan cara bunuh diri. Namun sebelum meninggal,  beliau meninggalkan surat yang mengatakan bahwa beliau telah mencapai sotapanna. Bagi beberapa orang yang dekat dengan beliau, mereka percaya bahwa bhikkhu ini telah mencapai kesucian terutama melihat dari tingkah laku dan pembicaraan beliau. Oleh karena itu, beberapa berpendapat bahwa seorang sotapanna bisa melakukan bunuh diri.

Bagaimana pendapat teman-teman di sini?

12
Diskusi Umum / Diskriminasi bhikkhunikah?
« on: 06 August 2010, 09:53:19 AM »
Jika menilik keseluruhan Tipitaka, kita menemukan jarang sekali Sang BUddha berkhotbah kepada seorang bhikkhuni atau para bhikkhuni. Bahkan jika dihitung, sejauh khotbah-khotbah yang ada dalam Tipitaka, khotbah Sang Buddha terhadap para perumah-tangga terlihat lebih banyak dibandingkan dengan khotbah2 beliau terhadap bhikkhuni. Sebagai suatu contoh, keseluruhan isi Itivuttaka dipercaya merupakan khotbah2 Sang Buddha yang didengarkan oleh perumah-tangga wanita bernama Khujjutara. Berdasarkan pada fakta ini, timbul pertanyaan mengapa Sang BUddha terlihat tidak sering berkhotbah kepada bhikkhuni?

Yang mau berpendapat dipersilahkan.....

13
Kita tahu bahwa dengan kedatangan para pedagang India ke Indonesia pada jaman kuno budaya Indonesia telah sangat dipengaruhi budaya India. Mereka tidak hanya memperkenalkan seni dagang, tani, politik dan semacamnya, tetapi juga memperkenalkan bahasa mereka ke orang-orang Indonesia. Saat ini jejak2 bahasa Pali / Sanskkrit masih tampak dalam beberapa kata dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:

1. Indonesia samudra, Pali samudda.
2. Indonesia negara, Pali nāgara.
3. Indonesia desa, Pali desa.
4. Indonesia raja, Pali rāja.
5. Indonesia bupati (pemimpin kabupaten), Pali bhūpati adalah raja. bhū adalah bumi, sedangkan pati adalah pemimpin.
6. Indonesia bumi, Pali bhūmi.
7. Indonesia pertiwi, Pali Pathavī.
8. Indonesia / Jawa teja, Pali teja.
9. Indonesia Suami, Pali sāmiko, Sanskrit svami.
10. Indonesia istri, Pali itthi (wanita), Sanskrit Stri (istri).
11. Indonesia angkasa, Pali ākāsa.
12. Indonesia dewa, Pali deva.
13. Indonesia cakra, Pali cakka.
14. Indonesia gua, Pali gūha.
15. Indonesia kala (waktu), Pali kāla.
16. Indonesia guru, Pali guru.
17. Indonesia siswa, Pali sissa.
18. Indonesia srigala, Pali sigala
19. Indonesia rupiyah (uang), Pali rūpiya.
20. Indonesia Kalpataru, Pali Kappataru.

Dan masih banyak lagi.... yang mau menambah juga dipersilahkan.  :)

14
Theravada / Rekayasa atau Kisah Nyata?
« on: 30 July 2010, 09:08:54 PM »
Jika kita menyimak riwayat hidup tiga bhikkhu terkenal yaitu Bhikkhu Buddhaghosa, Moggaliputtatissa dan Nagasena, semuanya memiliki kemiripan kisah. Ada beberapa yang berpendapat bahwa kisah tiga bhikkhu ini hanya merupakn rekayasa para bhikkhu jaman dulu untuk memperkuat posisi Theravada. Ketiganya berasal dari wilayah di mana Sang Buddha membabarkan Dhammanya. Ketiganya berasal dari keluarga brahmana dan sangat terpelajar dalam ajaran Veda. Ketiganya menjadi bhikkhu dengan cara yang sama. Ada pendapat?

15
Diskusi Umum / Buddhisme: Cerita-cerita aneh tapi nyata!
« on: 29 May 2010, 11:40:25 AM »
Dalam kitab suci agama Buddha baik Tipitaka maupun Atthakatha, ada banyak kisah-kisah menarik namun terkadang sulit dicerna masuk akal tapi dipercaya kebenarannya. Beberapa contohnya adalah:

1. Visākhā, penyokong wanita utama Sang Buddha, dikatakan memiliki kekuatan fisik sama dengan kekuatan lima gajah. Suatu kali untuk menguji kekuatan Visākhā, Raja Pasenadi mengirimkan gajah untuk berlari ke arahnya. 500 pengikut Visākhā berlari tungggang langgang. Sementara itu, Visākhā berpikir, 'jika ia mengeluarkan seluruh kekuatannya, gajah tersebut bisa mati'. Ia kemudian hanya menggunakan dua jarinya untuk mencubit belalai gajah tersebut untuk menaklukkannya.

2. Kekuatan fisik  Visākhā belum ada apa-apanya dibandingkan kekuatan fisik Sang Buddha. Sang Buddha dikatakan memilliki kekuatan fisik sama dengan kekuatan 10 gajah chaddanta (gajah yang memiliki enam gading dan hidup di danau anotatta). Ada caranya untuk mengukur kekuatan Sang Buddha. DIkatakan ada 10 macam gajah yakni kālāvaka, gaṅgeyya, paṇḍara, tamba, piṅgala, gandha, maṅgala, hema,, uposatha, dan chaddanta. Kekuatan satu gajah kālāvaka = kekuatan 10 manusia; kekuatan 10 gajah kālāvaka = satu gajah gaṇgeyya; 10 gajah gaṇgeyya = kekuatan satu gajah paṇḍara.......dihitung demikian secara berurut hingga dikatakan  kekuatan Sang Buddha sama dengan kekuatan 10 gajah chaddanta.

3. Bandhula, senapati kerajaan Kosala, memiliki kekuatan fisik sehingga hanya dengan satu panah yang ia luncurkan ia mampu membunuh 500 pangeran Licchavi.

Ada beberapa cerita-cerita demikian lainnya. Mau share di sini?

Pages: [1] 2