Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - CHANGE

Pages: [1]
1

Bagaimana pandangan bro dan sis mengenai artikel ini :

http://dennytan.blogspot.com/2010/11/iman-kr****n-vs-karma-denny-teguh.html


22 NOVEMBER 2010

IMAN kr****n VS KARMA

oleh: Denny Teguh Sutandio




Teman saya yang beragama kr****n dan non-kr****n pernah mengupdate statusnya di BlackBerry Messenger (BBM) dengan mengatakan bahwa ternyata karma itu ada. Apa itu karma? Dari mana konsep karma itu muncul? Bagaimana orang-orang “kr****n” zaman ini menafsirkan karma? Apa kata Alkitab tentang karma?


I. KARMA: ASAL USUL DAN AJARANNYA
Karma atau dalam bahasa Pali: kamma yang berasal dari India kuno ini berarti konsep “aksi” atau “perbuatan” yang dalam agama India dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan seluruh siklus kausalitas (yaitu, siklus yang disebut “samsara”). Konsep ini dijaga kelestariannya di filsafat Hindu, Jain, Sikh dan Buddhisme.[1] Di dalam Buddhisme, karma berarti “niat untuk melakukan perbuatan.”[2] Karma bisa melalui pikiran (perbuatan yang dilakukan dengan pikiran), ucapan (perbuatan yang dilakukan dengan ucapan), dan badan (perbuatan yang dilakukan dengan badan). Selanjutnya, dalam Buddhisme, hukum karma berarti hukum sebab akibat. Di dalam Samyutta Nikaya dinyatakan: “Sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pulalah buah yang dituai. Mereka yang menanam kebajikan akan tumbuh kebahagiaan.”[3] Lalu, jika kita melihat kondisi dunia kita, bukankah bisa terjadi sebaliknya (yang baik malahan menderita, yang jahat malahan sukses)? Menanggapi hal demikian, Bhikkhu Utamo Thera dalam artikelnya Hukum Karma menjelaskan,
“Kalau hukum karma diumpamakan sebagai sebuah sawah yang mempunyai tanaman padi dan jagung, di mana tanaman padi dan jagung tersebut mempunyai usia panen yang berbeda, maka tanaman jagung tentu akan panen terlebih dahulu daripada tanaman padi. Demikian pula perbuatan baik dan buruk. Kalau kita sudah berbuat baik tetapi masih menderita, ini disebabkan karena perbuatan baik kita belum saatnya dituai/dipanen. Dalam hal ini kita memetik buah dari perbuatan buruk terlebih dahulu. Jadi semua itu ada waktunya, walaupun adakalanya masih bisa dipercepat sampai batas-batas tertentu.”[4]

Oleh karena itu, Bhikkhu Utamo Thera menggolongkan karma dari segi waktu, fungsi, dan bobot. Dari segi waktu, ada 4 kategori karma:[5]
a). Karma yang langsung berbuah
Misalnya kita mencuri helm milik orang lain, karena helm kita dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna merah. Akhirnya kita ditangkap polisi. Terpaksa kita harus membayar tilang Rp 15.000, - (padahal harga sebuah helm hanya Rp 10.000,-). Ini adalah karma yang langsung berbuah.
b). Karma yang berbuah agak lama tetapi masih dalam satu kehidupan.
Misalnya orang yang melakukan meditasi hingga tingkat jhana yang tinggi sekali, setelah meninggal langsung terlahir di alam brahma.
c). Karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan yang berikutnya.
Misalnya orang yang sering mendengarkan Dhamma pasti akan terlahir di alam sorga dalam kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian? Dengan mendengarkan Dhamma berarti kita melatih dana perhatian. Pikiran, ucapan dan perbuatan kita terjaga dengan baik pada saat itu. Kita bisa mengerti dan melaksanakan Dhamma. Bahkan hal ini amat sesuai dengan salah satu sutta Sang Buddha, bahwa mendengarkan Dhamma pada saat yang tepat adalah berkah utama.
d). Karma yang tidak sempat berbuah karena kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan untuk berbuah.
Sering ada orang yang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana apabila karma baik dan buruk telah habis. Padahal karma itu tidak mungkin habis karena jumlahnya tidak terbatas. Tetapi karma bisa dipotong! Kita bisa merasakan karma apabila kita mempunyai badan dan batin, artinya kita dilahirkan. Kalau kita tidak dilahirkan kembali, kesempatan untuk merasakan karma baik dan buruk menjadi tidak ada. Akhirnya ada karma yang tidak sempat berbuah.

Dari segi fungsi, karma dibagi menjadi:[6]
a). Fungsi karma yang melahirkan
Misalnya: ada orang yang dilahirkan dalam kondisi mempunyai banyak penyakit. Kenapa terjadi demikian? Sesuai dengan benih yang ditanam, demikian pula buah yang dituainya; karena ada penyiksaan maka bisa terlahir sakit-sakitan.
b). Fungsi karma yang mendukung à mendukung fungsi karma yang melahirkan. Misalnya: selain terlahir di keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam keadaan cacat. Ini adalah karma yang mendukung.
c). Fungsi karma yang mengurangi à berhubungan dengan perbuatan kita saat ini. Misalnya: meskipun miskin dan cacat, orang tersebut mempunyai sila yang baik.
d). Fungsi karma yang memotong
Karena silanya baik, ucapannya baik, tingkah lakunya baik, maka ada orang yang simpati kepadanya. Orang tersebut diberi pekerjaan yang sesuai dengan keadaannya. Ini adalah karma yang memotong, artinya bertentangan dengan yang sedang terjadi. Karma juga berhubungan dengan perbuatan saat ini. Apa yang terjadi pada saat ini, itulah yang menentukan karma kita. Jadi karma bukanlah nasib! Karma masih bisa diperbaiki dan diubah dengan melihat fungsi karma karena karma adalah niat berbuat. Perbuatan itulah yang paling penting!

Menurut bobotnya, karma dibagi menjadi:[7]
a). Bobot karma super berat
Karma super berat yang baik misalnya; orang yang mencapai jhana, setelah meninggal langsung terlahir di alam brahma; atau memperoleh pañña yang berarti tercapainya Nibbana. Sedangkan super berat yang buruk ada 5 (lima) yaitu membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh seorang Arahat, melukai Sammasambuddha, dan memecah belah Sangha. Apabila salah satunya dilakukan maka setelah meninggal orang tersebut langsung terlahir di alam neraka.
b). Karma yang muncul pada saat kematian
Di dalam pikiran akan terjadi satu seleksi pada saat proses kematian yaitu mengingat perbuatan yang pernah berkesan di dalam diri kita. Misalnya; sebelum meninggal, seseorang teringat bahwa dia sering mendengarkan Dhamma, sering bertemu bhikkhu-bhikkhu dan meninggal dalam keadaan bahagia maka orang tersebut akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau kesannya tidak baik, orang tersebut dapat terlahir di alam menderita.
c). Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada yang berkesan atau tidak sempat terpikir, misalnya karena meninggal dalam keadaan koma maka yang berbuah adalah kebiasaannya. Umpamanya orang yang mempunyai kebiasaan latah maka seandainya setelah meninggal terlahir menjadi manusia, dia akan menjadi orang yang suka humor.
d). Bobot yang super ringan atau kecil à apabila karma yang super berat, karma pada saat kematian, dan karma kebiasaan tidak muncul maka karma yang super ringan yang akan berbuah. Misalnya: pada suatu waktu kita melihat ada paku payung di jalan lalu kita singkirkan supaya tidak mencelakakan orang lain. Ini adalah bobot yang super ringan. Apabila bobot yang super ringan ini muncul pada saat kematian dan kita merasa bahagia karena bisa menolong orang lain maka kita akan terlahir di alam bahagia.

Dengan kata lain, konsep karma dapat disingkat dengan pernyataan berikut, “Hidup kita ditentukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh suatu makhluk adikuasa.”[8] Di artikel yang sama, si penulis mengungkapkannya dengan jelas, “Sang Buddha menekankan bahwa kita lah yang menentukan hidup kita sendiri. Kita juga bisa seperti Buddha dan setara dengan Buddha untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi atau penerangan sempurna dengan segenap usaha, semangat, ketekunan, dan pengetahuan sendiri. Kita dapat bertekad untuk mencapai ke Buddha an dengan segala apa yang kita miliki. Oleh sebab itu, berbahagialah kita karena kita pun bisa mencapai kesucian seperti guru junjungan kita. Hal yang sangat jarang dalam kepercayaan lain yang melemahkan posisi manusia yang telah jatuh ke dalam Lumpur Dosa dan hanya oleh kekuatan tetentu saja baru bisa keluar dari sana.”[9]

Lalu, apa akibat dari karma?
“Akibat dari karma buruk adalah tumimbal lahir di tiga alam penderitaan (neraka, hantu kelaparan, dan binatang). Contoh karma buruk yang dapat menyebabkan seseorang terlahir di alam neraka antara lain: membunuh orangtua kandung, membunuh orang suci/ Arahat/Bodhisattva, dan melukai Buddha. Sedangkan akibat dari karma baik adalah tumimbal lahir di alam manusia atau surga. Sedangkan para Buddha, Arahat dan Bodhisattva yang sudah mencapai Pencerahan Sempurna memperoleh karma tidak bergerak, namun Bodhisattva yang karena welas-asihnya untuk menyeberangkan semua makhluk yang menderita dapat saja bertumimbal lahir lagi di alam manusia.”[10]

Bagaimana caranya kita mengetahui karma pada hidup manusia?
“Memang proses bekerjanya karma tidak dapat kita amati atau dibuktikan secara ilmiah, namun prinsip bahwa kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam itulah yang penting untuk kita renungkan. Proses bekerjanya karma hanyalah dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang Buddha atau Yang Telah Tercerahkan. Untuk mengetahui karma dari kelahiran kita sebelumnya, maka renungkanlah berbagai kejadian baik berupa penderitaan [dukkha] ataupun kebahagiaan [sukkha] yang menimpa kita dalam kehidupan saat ini. Sehingga kita tidak tersudut ke dalam suatu kondisi di mana kita harus mencela orang lain sewaktu menderita ataupun terlalu menjunjung orang lain sewaktu kita berbahagia. Karma yang berbuah dalam kehidupan ini apakah menghasilkan kebahagiaan ataupun penderitaan haruslah kita syukuri sebagai makin berkurangnya timbunan karma kita sehingga makin terbukalah peluang untuk kita keluar dari arus kelahiran dan kematian. Namun demikian kitapun tidak perlu terjebak pada sikap pesimistik dengan menyalahkan kehidupan sebelumnya yang menciptakan karma buruk pada kehidupan saat ini karena Buddhisme tidak mengajarkan fatalisme yaitu suatu sikap yang menyalahkan segala sesuatu kejadian sebagai kodrat, takdir ataupun nasib. Buddhisme mengajarkan suatu tuntunan buat kita untuk melihat kehidupan saat ini sebagai alam kehidupan yang memungkinkan manusia untuk berlatih diri keluar dari lingkaran kehidupan dan kematian.”[11]

2
Keluarga & Teman / Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« on: 05 August 2010, 03:14:01 PM »
DARIMANA KEBAHAGIAAN ITU SEBENARNYA?

Mungkin kita semua telah mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, bahkan kita sering mendengar perkataan ( mungkin juga melakukan ) seperti kalimat ini ” saya ingin membahagiakan pasangan hidup saya”, atau saya rela berkorban untuk kebahagiaan pasangan hidup, dll.

Dan SEANDAINYA ANDA telah melakukannya semuanya untuk membahagiakan pasangan hidup, apakah anda akan marah dan merasa malu jika pengorbanan anda tersebut tidak diakui didepan umum seperti cerita dibawah ini ( asumsi anda adalah tokoh dalam artikel )


*****************

John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan? (Kalau satu arah mah namanya khotbah  :)) )

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, "Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak."

Seluruh ruangan langsung terkejut. "TIDAK," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia."

Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. (Kebayang ga malunya Maxwell saat itu.  :-[)  Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Malu ui!  :-[  :-[  :-[

Kemudian, lanjut Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"



( Kita semua pasti mengetahui jawaban yang akan diberikan oleh Margaret atau pasangan hidup kita karena telah belajar banyak  dan  mendapat manfaat melalui forum DC. ) Dan jawabannya adalah ...


"Karena," jawabnya, "tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri."


( Setelah mendengar jawaban dari pasangan hidup anda yang sangat REALITIS dan LOGIS di depan umum, apakah anda MARAH dan MALU ? )

3
DETAIL SUATU CINTA

Apakah anda adalah pasangan suami istri yang paling mengasihi ?
 


Dalam suatu acara perayaan,  panitia Kelurahan setempat ingin memberi penghargaan terhadap pasangan suami istri yang paling mengasihi pasangannya di wilayah itu.

Setelah melewati beberapa babak penyisihan, ada 3 pasang suami istri yang terpilih. Maka panitia pun memberitahu ketiga pasang suami istri tersebut agar pergi ke kantor panitia pada hari sabtu pagi, untuk mengikuti penilaian final.

Tiga pasang suami istri datang menepati janji, sepasang demi sepasang  duduk di atas kursi yang terletak di luar kantor panitia, sedang menanti panggilan dari tim juri.

Tim juri memanggil pasangan pertama untuk masuk ke kantor, membiarkan mereka bercerita bagaimana mereka berdua saling mengasihi. Sang istri berkata, beberapa tahun yang lalu ia mengalami kelumpuhan, hanya bisa berbaring di atas ranjang. Dokter telah memvonis bahwa kemungkinan ia dapat berdiri lagi sangat kecil, hal ini membuatnya merasa putus asa dan hampir bunuh diri.

Tetapi suaminya selalu menyemangatinya untuk tetap bertahan hidup. Demi sang istri, suaminya telah membawanya ke berbagai penjuru untuk berobat, tidak meninggalkannya apalagi mencampakkannya, dan dengan rela hati memikul tanggung jawab untuk merawatnya. Berkat kasih sayang dan perhatian suaminya, akhirnya ia dapat berdiri kembali. Ceritanya sangat menyentuh perasaan, wajah setiap juri yang mendengar cerita itu tergugah.

Selanjutnya, masuklah pasangan yang kedua, mereka berdua berkata, mereka telah menikah 10 tahun, sama sekali tidak pernah bertengkar hebat, selama ini mereka berdua selalu mengasihi dan mencintai, saling menghormati satu sama lain. Para juri setelah mendengar cerita mereka itu diam-diam menganggukkan kepala.

Giliran pasangan suami istri yang ketiga. Lama sekali tim juri menunggu pasangan suami istri yang tidak kunjung masuk ke dalam ruangan. Para juri menunggu hingga kesabaran mereka telah habis, mereka lalu keluar dari kantor untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata pasangan suami istri yang ketiga itu masih duduk di atas kursi yang terletak di depan pintu, kepala si lelaki sedang disandarkan di bahu kanan istrinya, tertidur dengan lelap.

Salah seorang juri bermaksud berteriak untuk membangunkan si lelaki, tapi sang istri buru-buru mencegah dengan memberi tanda menempelkan jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar mereka jangan bersuara. Lalu dengan hati-hati ia mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pena dari dalam tasnya, ia menulis sebaris kalimat, lalu disodorkan kepada para juri.

Semua itu dilakukannya dengan tangan kiri, dan dengan gerakan yang sangat lembut, takut akan membangunkan suaminya, bahu kanannya sama sekali tidak bergoyang, dengan mantap tetap menyangga kepala sang suami.

Para juri menerima kertas itu, karena ditulis oleh wanita itu dengan tangan kiri, tulisannya morat marit sulit untuk dibaca, tapi semua orang masih dapat membaca tulisannya, di kertas itu tertulis, “Mohon jangan bersuara, suami saya kemarin malam tidak tidur dengan baik.”

Salah seorang juri mengambil pena dan menuliskan, “Tetapi kami ingin mendengar cerita dari kalian berdua, jika tidak membangunkan suami anda maka pekerjaan kami akan terhambat". Wanita itu menerima kertas itu dan setelah membacanya, ia kembali menulis dengan menggunakan tangan kirinya, “Kalau begitu, lebih baik kami mengundurkan diri saja dari pertandingan ini, tidak ada hal apa pun yang lebih penting dari pada membuat suamiku bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman.”

Para juri menjadi panik, wanita ini demi untuk tidak membangunkan suaminya dari tidur, di luar dugaan telah rela melepaskan pertandingan, sungguh tidak masuk di akal, sama sekali terbalik dengan logika. Tapi akhirnya mereka memutuskan untuk terus menunggunya.

Satu jam kemudian, lelaki itu telah bangun, tangan kanan wanita itu akhirnya bisa digerakkan, dari dalam tas ia mengeluarkan selembar kertas tissue dengan maksud hendak membersihkan air liur yang mengalir dari ujung bibir suaminya, tapi ketika lengannya baru diangkat, kertas tissue tersebut jatuh ke tanah. Dengan terkejut lelaki itu bertanya pada istrinya, “Ada apa?” Sang istri tersenyum dan berkata dengan lembut, “Tidak apa-apa.”

Saat itu salah seorang juri sudah tidak sabar lagi dan segera menarik si lelaki untuk segera masuk ke dalam ruangan, barulah istrinya perlahan-lahan menjulurkan tangan kirinya untuk memijat bahu kanannya. Ia melihat beberapa orang juri sedang melihat kelakuannya itu dengan penuh perhatian, ia hanya tersenyum dengan perasaan sungkan dan berkata, “Sungguh tidak apa-apa. Hanya pundak saya yang terlalu lama ditekan kepala suami saya sehingga agak mati rasa.”

Setelah lelaki itu dipersilahkan masuk ke dalam kantor, para juri lalu bertanya padanya, mengapa ia bisa tidur sedemikian lelap. Lelaki itu tertawa dengan canggung, dan berkata, “Rumah saya berada di lantai satu, nyamuknya sangat banyak. Kemarin tengah malam saya terbangun karena gigitan nyamuk, dan baru saya sadari bahwa obat anti nyamuk di rumah saya telah habis. Di tengah malam juga tidak ada toko yang jualan, karena takut istri saya juga terbangun akibat gigitan nyamuk, maka semalaman itu saya mengusir nyamuk, sehingga saya tidak tidur lagi sampai pagi.” Dengan tercengang para dewan juri mendengar ucapannya, sesaat lamanya mereka semua terdiam.

Hasil penilaian akhir dari suami istri yang paling saling mengasihi ini, oleh dewan juri ditambah dua kategori juara lagi. Pasangan suami istri pertama dinobatkan sebagai “Suami Istri Yang Senasib dan Sepenanggungan”.

Lalu pasangan suami istri yang kedua dinobatkan sebagai “Suami Istri Yang Saling Menghormati”.

Dan juara sesungguhnya suami istri yang paling saling mengasihi dianugrahkan kepada pasangan suami istri yang ketiga.

Semoga menginspirasi perumah tangga yang telah menjalani kehidupan rumah tangga.

Semoga Bermanfaat

4
Jika kita TIDAK menyadari kesalahan yang dilakukan, dan melanjutkan bahkan mengulang kesalahan tersebut maka mungkin dua cerita dibawah ini cocok untuk perenungan. Yang artinya pembelajaran Dhamma HANYA digunakan untuk menunjukkan SUPERIOR secara intelektual dan spiritual ( merasa paling benar dan sombong ), dan Dhamma digunakan sebagai “alat” atau “memperalat” Dhamma sebagai dasar untuk menunjukkan “AKU”, maka mentalitas ini akan mengatakan Dhamma adalah TONTONAN. Artinya tidak ada MANFAAT DHAMMA yang dapat diperoleh dari mentalitas ini karena memper-TONTON-kan ke-AKU-an dibalik KEAGUNGAN BUDDHA DHAMMA yang dipelajari.

Dan sebenarnya hakikat pembelajaran Dhamma adalah melihat dan memahami Dhamma sebagai TUNTUNAN, memberi arahan ke arah yang baik. Jika prinsip ini diterapkan maka sikap dan perilaku kita tidak menodai Dhamma, bahkan otomatis mendapat PENILAIAN POSITIF dari lingkungan dan masyarakat. Inilah PENGHARGAAN MURNI dari contoh keteladanan yang diberikan berdasarkan sikap dan perilaku yang memahami Dhamma sebagai tuntunan bukan tontonan. Bahkan sesungguhnya penghargaan  hanya merupakan “label” yang kadang-kadang membuat kita lengah dan terjatuh  jika tidak waspada, karena menganggap telah  “mendapat dan memberi sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain”, sehingga kesombongan intelektual dan spiritual muncul.

Untuk menjawab pertanyaan  Secangkir Coklat Panas adalah Tontonan ATAU Tuntunan ???, maka  pertanyaan dimunculkan berdasarkan pemahaman terhadap 2 cerita yang dibaca dan dipahami.
 
Pertanyaan dari cerita yang pertama.

Puisi Bau Kentut

Seorang cendekiawan, Zhou Zi, yang telah mempelajari KONSEP Buddhisme dari gurunya, seorang Mahabhikshu Zen, pada suatu hari membuat suatu puisi yang menurutnya merupakan pencerminan keadaan batinnya yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam puisinya tersebut, dilukiskan bagaimana dia telah mencapai keadaan batin yang damai, kokoh, tidak terpengaruh oleh bahkan delapan mata angin sekalipun.

Sungguh bangga sekali Zhou Zi akan puisi barunya tersebut, sehingga dia berniat untuk mengirimkan kepada gurunya yang tinggal di seberang sungai, dengan harapan akan memperoleh pujian. Zhou Zi segera mengirimkan kurir untuk menyampaikan puisinya tersebut, yang diberi judul ‘Hati yang Tiada Tergoyahkan’. Setelah gurunya menerima kiriman puisi tersebut dan membacanya, dimana oleh kurir cendekiawan dimintakan agar gurunya dapat menuliskan kesannya, maka beliau menuliskan sesuatu di balik kertas puisi tersebut dan diserahkannya kembali melalui kurir.

Zhou Zi menunggu kedatangan kurirnya untuk membaca pujian yang disampaikan oleh gurunya, dan segera dibuka sampul berisi kertas puisinya. Betapa marahnya Zhou Zi menemukan tulisan gurunya berupa tinta merah dengan tiga huruf besar, ‘PUISI BAU KENTUT’. Sungguh geram Zhou Zi, dia menilai gurunya benar-benar tidak mengerti ungkapan yang mendalam dari dia akan konsep Buddhisme tentang keseimbangan batinnya. Zhou Zi memutuskan untuk segera ke seberang sungai menemui gurunya.

Sesampainya di tempat gurunya, Zhou Zi menanyakan dengan emosi yang ditahan, “Kenapa suhu mencela puisi saya, apakah suhu tidak bisa menangkap arti kiasan yang begitu mendalam dari puisi ini?” Mahabhikshu Zen tersebut tertawa dan berkata, “Ha…ha..ha…, lihatlah dirimu sendiri muridku, baru terkena satu angin kentut saja, Anda sudah lari terbirit-birit ke sini…., apalagi kalau diterpa delapan mata angin sekaligus!”
(satu angin yang dimaksud oleh Mahabhikshu Zen tersebut adalah keadaan batin yang dicela karena ke AKU an yang menonjol dari Zhou Zi). Karena Zhou Zi melihat Dhamma sebagai tontonan.

Artinya jika kita mendapat nilai negatif ( misalnya BRP ) yang beruntun seharusnya menjadi intropeksi diri dan pertimbangan positif untuk merubah diri sendiri , baik dari segi bertutur kata, etika, kesopanan, moralitas dll. Jika melalui cerita di atas, kemudian dibuat menjadi pertanyaan dalam pilihan berganda, maka pertanyaannya adalah :

1. Tujuan “AKU” belajar Buddha Dhamma, karena Dhamma adalah :

a. TONTONAN.
b. TUNTUNAN.

Silahkan kita memilih. Kita bebas menentukan PILIHAN. Apa yang menjadi PILIHANMU ?

5
Kafe Jongkok / Tujuh Gaya Komunikasi Yang Kurang Sehat
« on: 17 March 2010, 10:45:49 AM »
Sharing mengenai gaya komunikasi.

Ada orang-orang tertentu yang seolah-olah dilahirkan untuk menjadi orang yang sukses dalam pergaulan. Dengan mudahnya mereka dapat menjalin persahabatan setiap bertemu dengan teman yang baru.

Bukan itu saja,persahabatan mereka pun biasanya bertahan sampai kekal. Sebaliknya, ada pula orang-orang yang justru mengalami kesukaran dalam pergaulan. Tema "disalah mengerti" merupakan tema pokok hidup mereka meski mereka tak henti-hentinya berusaha mengoreksi diri. Banyak faktor yang terlibat yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita dalam pergaulan, salah satunya adalah gaya kita berkomunikasi dalam lisan dan tulisan.

Tanpa kita sadari, sebenarnya gaya komunikasi itu sendiri adalah bagian dari isi berita yang kita komunikasikan. Pada umumnya orang yang sukses dalam pergaulan bukan saja memahami dampak gaya komunikasinya pada orang lain, ia pun telah berhasil mengubahnya menjadi gaya komunikasi yang luwes dan menyenangkan.

Gaya komunikasinya bukan saja tidak mengganggu isi berita yang ingin ia sampaikan, malah gayanya yang luwes itu menambah kekuatan atau bahkan adakalanya melengkapi kekurangan isi berita yang ingin ia kemukakan.

Di bawah ini saya mencoba menjabarkan TUJUH GAYA KOMUNIKASI YANG TIDAK SEHAT. Mudah-mudahan dapat menolong kita memperbaiki keterampilan yang sangat penting ini.

Gaya 1: Si Penganggap

Ungkapan yang biasanya terlontar dari dirinya adalah, "Saudara seharusnya sudah mengerti maksud saya." Si Penganggap umumnya melakukan satu kesalahan yang cukup serius dalam komunikasi, yakni menganggap orang lain pasti memahami isi hatinya.
Sebelum kita menganggap orang lain sudah menangkap maksud kita, kita perlu mengecek ulang, apakah benar ia sudah memahami pembicaraan kita. Gaya komunikasi seperti ini acap kali membuahkan kekecewaan dan bahkan kemarahan.

Gaya 2: Si Sepenggal

Orang ini berpikir, "Bukankah sudah saya katakan semuanya itu?!" namun sesungguhnya yang terjadi adalah ia memang belum mengemukakan seluruh pikirannya -- baru sepenggal saja. Sewaktu kita berbicara, kecepatan pikiran kita bergerak dari satu topik ke topik yang lainnya tidaklah sama dengan kecepatan lidah kita mengungkapkan isi pikiran itu sendiri.
Bagi Si Sepenggal, pikirannya bergerak telalu cepat atau lidahnya terlalu lamban sehingga maksud hatinya tidak tertuang sepenuhnya melalui bahasa ucapan dan tulisan. Masalahnya ialah, ia tidak menyadari hal ini, sehingga dalam benaknya, ia sudah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan. Si Sepenggal rentan terhadap frustasi karena komunikasinya menjadi terpotong-potong dan sudah tentu, membuka pintu terhadap kesalahpahaman.

Gaya 3: Si Peremeh

Ucapan Si Peremeh pada umumnya ditandai dengan kalimat sejenis ini, "Kenapa tidak mengerti-mengerti?" atau "Memang bodoh kamu!" Si Peremeh memiliki satu masalah yang lumayan serius yakni ia memperlakukan semua orang sama seperti dirinya. Alhasil, apabila orang lain tidak bisa mengikuti kemauan atau pikirannya, ia pun marah.
Sewaktu marah, bukannya ia melihat bahwa memang orang lain berbeda dengannya, ia justru memandang perbedaan sebagai kekurangan di pihak orang lain. Gaya komunikasi ini cenderung merusakkan hubungan dengan orang lain. Siapa saja yang pernah disakitinya akan menjaga jarak karena tidak mau terluka lagi.

Gaya 4: Si Penyenang

Si Penyenang mempunyai satu misi dalam hidupnya, yakni menyenangkan hati semua orang. Akibatnya, tema seperti ini sering keluar dari bibirnya, "Saya akan lakukan apa saja bagimu asal kamu bahagia." Bicara dengan Si Penyenang memang bisa menyenangkan karena ia akan mengangguk-angguk saja, namun biasanya gaya komunikasi ini dapat mendangkalkan relasi pribadi. Sukar sekali untuk mengetahui hati Si Penyenang karena ia tidak terbuka. Ketidakterbukaannya itu juga cenderung membuatnya menumpuk semua perasaan dalam hati. Kalau tidak tertahankan, ia mudah menjadi orang tertekan dan tidak bahagia.

Gaya 5: Si Pelupa

Kita bisa lupa dan adakalanya sengaja melupakan peristiwa tertentu. Malangnya, Si Pelupa lupa dan melupakan terlalu banyak hal dan frekuensinya terlalu sering. Ia acap kali berujar, "Tidak, saya tidak mengatakan hal itu." Namun kenyataannya ialah ia mengatakan hal tersebut. Baik lupa atau melupakan informasi yang akhirnya dibutuhkan oleh orang lain cenderung melemahkan kepercayaan orang pada dirinya sendiri. Orang lain dapat membentuk anggapan bahwa Si Pelupa meremehkan atau bisa juga, orang lain menilai bahwa Si Pelupa tidak tulus. Ini bahaya! Komunikasi sangat bergantung pada kepercayaan; tanpa itu, yang mendengar adalah suara belaka.

Gaya 6: Si Pendebat

Repot juga berkomunikasi dengan Si Pendebat karena pembicaraan dengannya cenderung menjadi arena balapan kebenaran. Perhatikan kata- kata yang biasanya keluar dari mulutnya, "Apa benar saya berkata demikian? Apa kamu yakin? Bagaimana dengan dirimu sendiri?" Si Pendebat kaya dengan kata-kata dan gaya berkomunikasinya mirip dengan taktik menyerbu orang lain dengan bombardemen kata-kata. Si Pendebat cenderung melemparkan fokus masalah ke pihak lawannya sehingga ia bebas dari kesulitan. Gaya komunikasi ini bisa menimbulkan rasa tidak suka dan jenuh pada orang lain karena bicara dengannya membuat diri merasa diserang. Lebih jauh lagi, Si Pendebat akhirnya membuat orang beranggapan bahwa ia senantiasa mengelak dari tanggung jawabnya.

Gaya 7: Si Talenan

Rasa iba, kasihan, simpati adalah beberapa kata yang sering diasosiasikan dengan Si Talenan karena perasaan-perasaan seperti itulah yang timbul tatkala melihatnya. Si Talenan selalu menyediakan dirinya menjadi sasaran tudingan orang lain tanpa benar-benar menyadari di mana letak kesalahannya (kalau memang ada).
Ucapan seperti ini cenderung muncul dari bibirnya, "Betul, memang saya yang salah dan sudah sepantasnya dimarahi." Masalahnya ialah, ia melakukan itu karena tidak berani atau berkekuatan memperhadapkan orang lain dengan kebenaran. Ia tidak suka keributan dan baginya silang pendapat tidaklah bijaksana, jadi, harus dihindarkan.
Gaya komunikasi ini sangat merugikan dirinya dan bisa mengundang penghinaan dari orang lain. Orang lain semakin berani berbuat sekehendak hatinya tanpa mempedulikan perasaannya. Namun, bukankah ia jugalah yang memulainya?




Dari penjelasan di atas kita melihat bahwa gaya komunikasi dapat memancarkan kepribadian kita yang sesungguhnya, namun bisa pula merupakan gaya yang dipelajari.

Adakalanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain, kita terpaksa mengikuti gaya komunikasi yang tertentu. Atau kita belajar dari keluarga kita sendiri sehingga kita menganggap gaya komunikasi kita dipahami semua orang, alias universal. Jika gaya komunikasi kita memang merupakan buah kepribadian sendiri, sudah tentu perlu koreksi.

Obat penawarnya ada beberapa, misalnya meminta tanggapan orang lain. Mungkin kita dapat memeriksa ucapan-ucapan kita dengan lebih teliti dan menanyakan, apa kira-kira yang orang lain rasakan (bukan kita, sebab kalau kita, mungkin sekali kita tak merasa apa-apa karena sudah terbiasa) tatkala mendengar kata-kata kita. Kita rela membayar mahal dan menanamkan waktu yang panjang untuk pendidikan kita; ironisnya, kita sering tidak bersedia membayar mahal untuk belajar menyehatkan gaya komunikasi kita. Memang, adakalanya hal yang penting tampaknya sederhana.

Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are....

Apakah diri kita sendiri atau teman diskusi kita menpunyai salah satu atau gabungan dari beberapa gaya komunikasi yang kurang sehat ?


6
Personality / Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« on: 11 March 2010, 10:58:52 AM »
Tambahan 2 artikel cerita untuk menambah wawasan ( diluar dari buku ):

Semangkuk Nasi Putih

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih." Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum, "Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!"
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir, "Kuah sayur gratis." Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.

"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya!"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang ke kota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti. Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi ? Suaminya kemudian membisik kepadanya :"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."

"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

"Terima kasih, saya sudah selesai makan," pemuda ini pamit kepada mereka.

Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat!" katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik. Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.

"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur diperusahaan kamu?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.
"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya. Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka, "Bersemangat ya! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok!"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.

Semoga Bermanfaat.

7
Personality / Re: Temukan Jati Diri
« on: 10 March 2010, 12:19:58 PM »
Minta izin sharing 2 artikel. Semoga dapat memberikan manfaat bagi yang mempunyai masalah dengan jati diri.

Untuk melihat bagaimana bentuk Hakiki JATI DIRI yang sering menjadi masalah, maka digunakan perumpamaan seperti dibawah ini.


KEPAKLAH SAYAP TERBANGLAH TINGGI

Ada seorang ahli biologi ketika dia berjalan melewati sebuah peternakan di sebuah desa, dengan tidak sengaja dia melihat ada seekor anak elang yang hidup berbaur bersama dengan gerombolan anak ayam, melihat hal tersebut dia merasa sangat heran.

Dia lalu bertanya kepada pemilik peternakan, “Mengapa seekor elang yang sebenarnya adalah raja dari rumpun unggas, bisa hidup bersama dengan gerombolan ayam? Ini sulit dipercaya.”

Pemilik peternakan menjelaskan dengan berkata, “Karena saya setiap hari memberi dia makan dengan makanan ayam, menganggap dan melatih dia sebagai seekor ayam, membiarkan dia hidup sama persis dengan kehidupan ayam, maka burung elang tersebut tidak bisa terbang hingga sekarang. Segala tindak tanduknya sama persis dengan seekor ayam. Lama kelamaan, elang ini sudah menganggap dirinya adalah bagian dari gerombolan ayam-ayam itu, dan sudah bukan seekor elang lagi.”

Ahli biologi ini berkata, “Begitukah? Saya yakin watak hakiki itu tidak bisa berubah. Dia asalnya adalah seekor elang, seharusnya bisa segera terbang jika diajarkan terbang.”

Setelah ahli biologi dan pemilik peternakan melewati suatu perundingan, akhirnya pemilik setuju untuk mencoba mengajarkan elang itu untuk terbang.

Dia mengamati bagaimana ahli biologi itu perlahan-lahan meletakkan elang itu di atas lengannya, lalu berkata, “Kamu seharusnya terbang di atas langit yang biru, bukan berdiri di atas tanah, kepakkanlah sayapmu, terbanglah dengan gagah berani!”

Elang tersebut mendengarkan perkataan ini wajahnya penuh dengan keraguan, karena dia tidak bisa memahami perkataan dari ahli biologi tersebut. Ketika dia melihat gerombolan ayam sedang mematuk makanan di atas tanah, dia melompat turun dan berkumpul dengan mereka.

Ahli biologi ini tidak putusasa, dia membawa elang itu ke atas atap rumah untuk merangsang dia terbang. Dia berkata, “Sebenarnya dirimu adalah seekor elang, kamu bisa terbang, bentangkan sayapmu dan terbanglah ke atas langit biru!”

Elang itu memandang ke atas langit, lalu memandang ke tanah di bawah, dia merasa ketakutan terhadap dunia yang asing baginya dan status dirinya yang tidak jelas. Ketika dia melihat bayangan dari gerombolan ayam-ayam itu, di melompat turun ke tanah lagi ikut serta dengan mereka mematuk makanan di atas tanah.

Hingga hari yang ketiga, ahli biologi tersebut masih tetap tidak berputus asa, dia sengaja bangun sangat pagi, membawa burung elang ini ke atas gunung. Raja unggas ini dia angkat tinggi di atas kepalanya, sekali lagi dengan nada yang penuh dengan keyakinan dia berkata, “Kamu benar-benar adalah seekor elang, kamu pemilik langit yang biru ini bukan pemilik kandang ayam yang kecil itu, bentangkan sayapmu kepakkan dan terbanglah dengan gagah berani!”

Elang itu menengok ke tanah pertanian yang berada di kejauhan, lalu melihat ke atas langit. Ragu-ragu untuk sejenak, tetapi masih tetap tidak mau terbang.

Ahli biologi itu sekali lagi menjunjung tinggi elang itu ke arah matahari. Selanjutnya kemukjizatan terjadi! Tubuh elang itu mulai bergemetaran, lalu perlahan-lahan elang itu membentangkan sayapnya. Akhirnya, elang itu m***kikkan suara kemenangan, mengepakkan sayap terbang menembus ke langit biru.

Inspirasi dari cerita ini

Elang di dalam cerita ini karena dia berbaur dan dibesarkan di dalam gerombolan ayam sehingga nalurinya telah pudar, dan ketika dia melepaskan diri dari lingkungan itu kembali ke jati dirinya yang sebenarnya, bersamaan juga telah memulihkan nalurinya untuk terbang ke atas langit.

Kita manusia juga sama, berasal dari watak hakiki yang murni tanpa cacat ( pikiran murni atau pikiran apa adanya ), juga memiliki kemampuan terpendam tanpa batas. Tapi sering kali karena kerumitan dalam masyarakat, tak terasa terpengaruh oleh apa yang terus-menerus dilihat dan didengar ( konsepsi dan persepsi terbentuk ), demi mendapatkan keuntungan untuk mempertahankan hidup telah memendam watak hakiki yang sesungguhnya dan yang tadinya arif dan bijaksana. Sehingga mata bathin tertutup baik sengaja ataupun tidak sengaja karena konsepsi dan persepsi. Akhirnya kemurnian dan kebijaksanaan menjadi pudar dan luntur. Jati diri menjadi permasalahan dalam “PENCARIAN”.

Jika kita bisa mencampakkan ( minimal mengurangi ) hasrat keinginan yang berlebihan yakni melompat keluar dari gangguan-gangguan yang disebabkan oleh konsepsi dan persepsi yang berlebihan sehingga membatasi dimensi ruang dan waktu pergerakan hati dan pikiran kita pada saat KEKINIAN, maka kita akan bisa melihat jelas diri kita dan kembali ke jati diri kita yang asli, dengan demikian akan hidup lebih bebas dan tak terikat karena merasakan kebebasan dan terbebas  dari belenggu konsepsi dan persepsi . Kebebasan karena menerima APA ADANYA.


Jadi menemukan “JATI DIRI ” sebenarnya dimulai dari “MEMPELAJARI DIRI SENDIRI”, karena tugas utama kita hanya “ MENEMUKAN ” BUKAN “ MENCIPTAKAN “. Karena penciptaan suatu jati diri yang baru akan meniadakan JATI DIRI KITA SEBENARNYA. Dan Harta Karun jati diri yang sangat berharga ini tersimpan dengan baik disebuah tempat yang dinamakan PIKIRAN.

Semoga Bermanfaat

 _/\_

Bersambung….

8
Buddhisme untuk Pemula / Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« on: 05 March 2010, 11:06:01 AM »
Sharing mengenai artikel berbagai jenis dana, semoga bermanfaat.

Berdana merupakan suatu sifat kemuliaan yang sangat ditekankan dalam berbagai aliran Buddhisme. Berdana yang dilakukan dengan keyakinan, penuh hormat, secara tepat waktu, ikhlas dan tanpa merugikan diri sendiri ataupun pihak lain akan menghasilkan buah karma yang baik berupa kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah, sebagaimana sabda Sang Buddha pada Anguttara Nikaya Vol. III, 48)

“Oh, para bhikhu, kelima hal ini adalah dana dari seorang yang baik. Apakah kelima hal itu ? Ia berdana dengan keyakinan ; ia berdana dengan hormat; ia berdana tepat pada waktunya; dengan hati ikhlas; dan ia berdana tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun pihak lain.”

“Dengan memberikan dana dengan keyakinan dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, maka akan datanglah kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; serta ia akan elok dipandang, tampan/cantik, bagaikan keindahan bunga teratai yang mengagumkan.”

“Dengan berdana secara hormat dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, maka ia akan memperoleh kemakmuran , kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; dan anak-istrinya, para pesuruh dan pegawainya akan mendengarkan kata-katanya dengan sabar dan patuh, serta akan melayaninya dengan hati yang penuh pengertian.”

“Dengan berdana secara tepat waktu dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, maka ia akan memperoleh kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; dan kebaikan akan datang kepadanya tepat pada waktunya dan berlimpah ruah.”

“Dengan berdana secara ikhlas dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, ia akan memperoleh kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang melimpah; dan pikirannya akan menikmati sepenuhnya kebahagiaan dari kelima panca inderanya.”

“Dengan berdana tanpa merugikan diri sendiri maupun pihak lain dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, ia akan memperoleh kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; dan tidak akan ada dari manapun juga sesuatu yang akan merugikan harta bendanya ; baik api atau air, pemerintah atau pencuri, atau ahli waris yang berwatak buruk.”

Berdana tidak hanya ditinjau dari sudut materi saja tetapi juga bisa dari pembicaraan yang ramah, senyuman yang tulus, budi pekerti yang menyenangkan, dan memberikan pengertian yang benar mengenai ajaran Sang Buddha.

“Memberi makanan, seseorang memberikan kekuatan; memberi pakaian, seseorang memberikan keindahan; memberi penerangan, seseorang memberikan penglihatan; memberi angkutan, seseorang memberikan kesenangan; memberi perlindungan, seseorang memberikan semuanya; tetapi seseorang yang mengajarkan Dharma, ajaran Sang Buddha yang istimewa, orang seperti itu memberikan makanan surgawi.” (Samyutta Nikaya, I, 32)

“Kedermawanan, perkataan yang ramah, melakukan hal yang baik untuk orang-orang lain, dan memperlakukan semua orang secara sama; bagi dunia, tali-tali simpati ini bagaikan penyambung roda kereta.” (Anguttara Nikaya, Vol. 32)

Tentunya dalam berdana secara materi kepada yang membutuhkan , haruslah sumber dana tersebut diperoleh dari usaha sendiri yang dihimpun secara benar.

“Dengan kekayaan yang dihimpun secara benar, yang diperoleh melalui usaha sendiri, ia membagikan makanan dan minuman kepada makhluk-makhluk yang membutuhkan.” (Itivuttaka, 66)

Untuk dapat menghimpun dana secara benar, maka kita haruslah giat dalam bekerja dan senantiasa mengumpulkan bekal secara benar sewaktu masih muda, sebagaimana sabda Sang Buddha:

“Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda , akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya. Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan terbaring seperti busur panah yang rusak, menyesali masa lampaunya.” (Dhammapada, 155, 156).

Dengan senantiasa berdana yang terbaik dalam segala hal maka akan terbina sifat kemuliaan yang tak terkira.
“Yang memberikan hal-hal yang baik akan memperoleh yang baik;

Yang memberikan hal-hal yang terbaik akan memperoleh yang terbaik;

Yang memberikan hal-hal yang terpilih akan menerima yang terpilih;

Yang memberikan hal-hal yang utama maka keutamaan akan dimenangkannya;

Ia yang memberikan yang terbaik, yang terpilih, yang utama

maka orang itu akan mempunyai kemuliaan dan umur panjang dimanapun juga ia berada.” (Anguttara Nikaya, vol . III, 44)

bersambung...

9
Kafe Jongkok / Alasan-alasan untuk MALAS
« on: 23 February 2010, 10:05:33 AM »
MALAS adalah penghambat kemajuan dalam segala bidang termasuk pengembangan bathin.

Tujuannya adalah siapa saja yang ingin sharing pengalaman diri sendiri maupun orang lain dalam bidang apapun, sehingga memberikan PENGETAHUAN POSITIF untuk kita semua, bahwa pikiran, ucapan dan perbuatan sejenis ini dikategorikan sebagai malas. Sederhananya kadang-kadang kita sendiri mungkin tidak mengetahui dan memahami bahwa pikiran, ucapan dan tindakan sejenis ini adalah menandakan atau cenderung ke arah malas ( relative ).

Dengan mengetahui alasan untuk malas, berarti membuat kita BELAJAR DARI KESALAHAN, sehingga dapat memperbaikinya dan mengubahnya.

Mohon PENDAPAT  nya. 

10
Kafe Jongkok / Teka-Teki
« on: 10 February 2010, 08:58:32 AM »
1.Suatu hari dimusim hujan, tiba-tiba listrik ( PLN ) mati, dan rumah anda menjadi gelap gulita, untuk membantu penerangan dan menggunakan lilin sebanyak 15 batang. Rumah anda menjadi terang. Tiba-tiba ada ada angin
kencang yang mematikan lilin-lilin sebanyak 8 batang.

Pertanyaannya sisa berapakah lilin yang ada kemudian ?

2. Anda penggemar ikan hias, dan anda mempunyai aquarium yang bagus dan memelihara ikan Louhan sebanyak 15 ekor, karena  listrik ( PLN ) padam, maka ikan kekurangan oksigen. Sehingga ikan anda mati sebanyak 8 ekor.

Pertanyaannya tinggal berapa ekor ikan Louhan yang ada di aqurium kemudian ?

11
Personality / Sikap dan Perilaku yang mengagumkan
« on: 03 February 2010, 12:57:59 PM »
Hayati cerita dibawah ini dan temukan cara bersikap dan berperilaku yang mengagumkan dari sosok Wu Rongquan dalam cerita ini.

BEBEK PEKING YANG KURANG 1 KAKI


 
Kota Columbus di negara bagian Georgia Amerika Serikat adalah sister city kota Taizhong, Taiwan. Pada suatu ketika perkumpulan komunitas Taiwan pergi ke kota Columbus untuk mengadakan pertunjukan menari. Mereka mendapatkan sambutan hangat dan perjamuan makan yang disponsori oleh kamar dagang kota itu.

Untuk itu Wu Rongquan dan Xu Qiuyue suami istri kepala seksi dari kota Atlanta pergi ke Columbus khusus mengundang wali kota Robert Poydasheft dan ketua kamar dagang, Michael Goymon, beserta istri masing masing untuk menghadiri perjamuan ini, bersamaan itu mereka juga mengundang pasangan Wang De dan Gao Dahong yang dulu pernah tinggal di Taizhong sebagai pendamping.

Dalam perjamuan itu mereka mengobrol dengan akrab, gelak tawa terdengar tiada hentinya, ini adalah kali pertama penulis berada bersama dengan sahabatnya dari Amerika berada bersama dalam sebuah perjamuan makan dan minum yang penuh kehangatan dan gelak tawa. Boleh dikatakan selain hidangan dan minumannya lezat, tamu yang hadir pun juga penuh keakraban.

Sebelum hidangan dikeluarkan, mereka saling menyilahkan minum, pelayan menyajikan bebek panggang Beijing untuk dipamerkan, Wu Rongquan menggunakan bahasa Inggris menceritakan sebuah lelucon tentang “bebek panggang Peking” yang bisa membuat setiap orang merenungkannya.

Dia katakan di Taiwan setiap kali orang mengadakan perjamuan selalu memiliki kebiasaan merendah, Nyata-nyata di atas meja penuh dengan berbagai macam hidangan makanan dan minuman mereka masih meminta maaf karena makanan dan minuman yang dihidangkan masih kurang.

Dahulu ada seorang keluarga kaya, suatu ketika dia menjamu tamu, ketika sang juru masak menyajikan 1 piring bebek panggang Peking yang harum dan lezat, sang majikan berkata, ”Masakannya kurang enak silahkan dinikmati jangan sungkan-sungkan.”

Suatu malam berikutnya ketika dia mengadakan perjamuan untuk ke-2 kalinya, saat bebek panggang Peking dikeluarkan, dia mendapatkan bebek panggang Peking tersebut pahanya kurang sebuah. Setelah para tamu pulang, sang majikan memarahi si juru masak. Juru masak itu dengan tenang berkata, ”Mari tuan ikuti saya.”

Mereka berjalan keluar rumah hingga tiba di kandang bebek, di bawah sinar rembulan, si juru masak menunjuk ke arah bebek-bebek itu dan berkata,”Tuan coba lihat, bukankah bebek-bebek itu hanya ada 1 kaki?” Ternyata ketika malam, bebek memiliki kebiasaan tidur dengan menarik sebuah kakinya.

Mendengar ini semua orang tak bisa menahan tawanya karena kecerdasan si juru masak. Wu kemudian melanjutkan ceritanya, ”Akan tetapi si majikan itu, ternyata juga adalah seorang yang pandai, segera dia menepuk kedua tangannya dengan keras, tepukan tangan itu mengejutkan bebek-bebek tersebut, sehingga mereka mengibas-ngibaskan sayapnya dan meloncat pergi. Majikan itu lalu berkata, ”Kamu lihat, bukankah bebek-bebek itu memiliki 2 kaki ?”

Kembali semua tertawa salut dengan kecerdasan sang majikan, juga mengira kalau ceritanya telah berakhir.

Tidak terduga, ketika suara tawa telah reda, segera Wong Rongquan melanjutkan ceritanya. ”Juru masak itu lalu berkata kepada majikannya, jika anda seperti ini, banyak memberikan tepuk tangan, maka bebek-bebek itu tidak akan kehilangan 1 paha.”

Lagi-lagi kita semua tertawa, Wong Rongquan  lalu melanjutkan lagi, ”Marilah kita semua bertepuk tangan untuk sang juru masak, agar nanti bebek panggangnya tidak kurang 1 paha.

Semua orang tepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak, Tentu saja sang juru masak wajahnya penuh dengan senyuman.

Lelucon dari Wong Rongquan ini lebih harum, lebih manis dan lebih membuat orang terkesan dari pada bebek panggang Peking yang sedang disantap saat itu.

Catatan : Sungguh suatu talenta yang luar biasa dan bahkan sangat pintar dari seorang Wong Rongquan, menyampaikan suatu perhargaan dengan kerendahan hati, tidak sombong, menunjukkan jati diri sebagai orang besar dengan sikap dan perilaku yang mengagumkan.



Sebagai tambahan cerita diatas, dalam strategi seni perang Sun Tzu mengawali ajarannya dengan suatu yang sangat bermakna :

Saya menpunyai tiga harta yang saya simpan dan sangat saya hargai :
Pertama adalah KEBAIKAN.
Kedua adalah KESEDERHANAAN. Dan
Ketiga adalah TIDAK MENGANGGAP DIRI LEBIH PENTING DARIPADA ORANG LAIN.

Dengan KEBAIKAN seseorang menjadi berani.
Dengan KESEDERHANAAN seseorang dapat menjangkau keluasan.
Dengan TIDAK MENGANGGAP DIRI LEBIH PENTING DARIPADA ORANG LAIN seseorang dapat bertahan secara efektif.

Jika seseorang meninggalkan kebaikan dan keberanian, meninggalkan kesederhanaan dan keluasan, dan mengganti kerendahan hati dengan kemurkaan, kemarahan dan keganasan, seseorang akan “mati”.

Penerapan kebaikan di dalam “ perang “ ( lingkungan ) akan menuntun ke kemenangan, penerapan kebaikan dalam pertahanan akan menuntun ke keamanan.

Semoga Bermanfaat

 _/\_

12
Keluarga & Teman / Re: Membuktikan kebenaran Hukum Karma? II
« on: 19 October 2009, 10:29:31 AM »
Cerita motivasi ini bertujuan untuk menekankan MANFAAT atas "keyakinan" terhadap hukum kamma. Sehingga memotivasi kita untuk lebih mempraktekkan KEBENARAN BUDDHA DHAMMA.

HUKUM UNIVERSAL ( HUKUM KAMMA )

Ada dua orang India sedang mengarungi badai salju di pegunungan Himalaya. Mereka berjalan dengan susah payah karena udara yang sangat dingin terasa sampai ke sumsum tulang dan terpaan angin dingin juga menambah beratnya perjalanan mereka.

Di tengah perjalanan tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang tergeletak di pinggir jalan. Karena kasihan melihat keadaan orang itu, orang India yang pertama berkata kepada temannya, " Orang ini masih hidup. Kasihan sekali kalau dia dibiarkan tergeletak di sini, dia pasti akan meninggal, mari kita tolong dia." Tapi temannya menjawab," Bagaimana kita bisa menolongnya kalau membawa diri sendiri saja sudah sangat susah di tengah badai seperti ini. Kalau kau ingin membawanya, silahkan, tapi aku tidak akan menolongmu."

Maka orang yang pertama dengan sangat susah payah memanggul tubuh orang yang tak berdaya itu sedangkan temannya lebih dulu melanjutkan perjalanan sendirian. Orang India yang pertama memang pada awalnya merasa perjalannya sangat berat karena beratnya tubuh orang yang dipanggulnya itu, tapi lama kelamaan ia tidak terlalu merasa kedinginan lagi karena kehangatan tubuh orang yang dipanggulnya itu juga menjalar ke tubuhnya, maka ia terus berjalan dengan pelan-pelan.

Kemudian di tepi perjalanan, dia melihat satu orang lagi yang tergeletak di tengah jalan, ketika ia memperhatikan lebih dekat orang itu sudah meninggal dunia dan dia adalah teman seperjalanannya tadi.

Jadi karena tidak tahan terhadap cuaca yang sangat dingin itu, temannya itu akhirnya meninggal dunia karena kedinginan, sedangkan ia tertolong oleh panas tubuh orang yang ditolongnya itu.

Maka Anda lihat bukan, bahwa karena niatnya untuk menolong orang lain, sebenarnya dia telah menolong dirinya sendiri, jadi banyak-banyaklah berbuat baik terhadap siapa saja tak peduli betapa sulit pun keadaan kita. Karena kita tidak pernah tahu apa yang menanti kita di depan sana.


Semoga Bermanfaat



13
Studi Sutta/Sutra / Dhammapada
« on: 30 July 2009, 09:39:07 AM »
Sebagian kutipan cerita Dhammapada Attakhata syair 2

Brahmana Adinnapubbaka mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan. Selesai makan, ia bertanya, "Bhante, apakah seseorang dapat, atau tidak dapat, terlahir di alam surga; hanya karena berkeyakinan terhadap Buddha tanpa berdana dan tanpa melaksanakan moral (sila)?"

Sang Buddha tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian Beliau memanggil dewa Matthakundali agar menampakkan dirinya. Matthakundali segera menampakkan diri, tubuhnya dihiasi dengan perhiasan surgawi, dan menceritakan kepada orang tua dan sanak keluarganya yang hadir, bagaimana ia dapat terlahir di alam surga Tavatimsa. Orang-orang yang memperhatikan dewa tersebut menjadi kagum, bahwa anak brahmana Adinnapubbaka mendapatkan kemuliaan hanya dengan keyakinan terhadap Sang Buddha.

Bro Kainyn, apakah arti yang saya bold merah ini menjelaskan bahwa hanya percaya saja dapat terlahir di alam berbahagia, atau ada penjelasan yang lainnya, karena menurut pribadi agak ganjil jika hanya percaya tanpa berbuat.

 _/\_



Pages: [1]