Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - pannadevi

Pages: [1]
1
Diskusi Umum / Dimanakah Negara Buddhist yang Maju dan Kaya ?
« on: 07 June 2011, 08:27:01 AM »
Dear All,

saya sedang ada tugas untuk menyusun paper yang pokok bahasannya tentang sang Buddha telah memberikan segala petunjuk untuk mengembangkan cara hidup secara benar, mencari kekayaan secara benar, mencapai kebahagiaan secara materi dan spirituil secara benar yang kemudian dikaitkan dengan realitas, negara Buddhist mana sajakah  yang berhasil menerapkan hal ini secara sukses? tentunya yang menjadi negara maju dan kaya.

karena tugas paper ini semua bahasan selalu harus dikaitkan dengan sutta, mohon tanggapan yang bersedia membantu saya disertai referensi sutta ya....thanks before and after.

mettacittena,

2
Sutta Vinaya / Nanduttara Therigatha-atthakatha
« on: 31 December 2010, 03:34:06 AM »
Suttapiṭaka (aṭṭhakathā)
Therīgāthā-aṭṭhakathā, 5. Pañcakanipāto

5. Nanduttarātherīgāthāvaṇṇanā
Aggiṃcandañcātiādikā nanduttarāya theriyā gāthā. Ayampi purimabuddhesu katādhikārā tattha tattha bhave vivaṭṭūpanissayaṃ kusalaṃ upacinitvā imasmiṃ buddhuppāde kururaṭṭhe kammāsadhammanigame brāhmaṇakule nibbattitvā , ekaccāni vijjāṭṭhānāni sippāyatanāni ca uggahetvā nigaṇṭhapabbajjaṃ upagantvā, vādappasutā jambusākhaṃ gahetvā bhaddākuṇḍalakesā viya jambudīpatale vicarantī mahāmoggallānattheraṃ upasaṅkamitvā pañhaṃ pucchitvā parājayaṃ pattā therassa ovāde ṭhatvā sāsane pabbajitvā samaṇadhammaṃ karontī na cirasseva saha paṭisambhidāhi arahattaṃ patvā attano paṭipattiṃ paccavekkhitvā udānavasena –

87.
‘‘Aggiṃ candañca sūriyañca, devatā ca namassihaṃ;
Nadītitthāni gantvāna, udakaṃ oruhāmihaṃ.
88.
‘‘Bahūvatasamādānā, aḍḍhaṃ sīsassa olikhiṃ;
Chamāya seyyaṃ kappemi, rattiṃ bhattaṃ na bhuñjahaṃ.
89.
‘‘Vibhūsāmaṇḍanaratā, nhāpanucchādanehi ca;
Upakāsiṃ imaṃ kāyaṃ, kāmarāgena aṭṭitā.
90.
‘‘Tato saddhaṃ labhitvāna, pabbajiṃ anagāriyaṃ;
Disvā kāyaṃ yathābhūtaṃ, kāmarāgo samūhato.
91.
‘‘Sabbe bhavā samucchinnā, icchā ca patthanāpi ca;
Sabbayogavisaṃyuttā, santiṃ pāpuṇi cetaso’’ti. –

Imā pañca gāthā abhāsi.

Tattha aggiṃ candañca sūriyañca, devatā ca namassihanti aggippamukhā devāti indānaṃ devānaṃ ārādhanatthaṃ āhutiṃ paggahetvā aggiñca, māse māse sukkapakkhassa dutiyāya candañca, divase divase sāyaṃ pātaṃ sūriyañca, aññā ca bāhirā hiraññagabbhādayo devatā ca, visuddhimaggaṃ gavesantī namassihaṃ namakkāraṃ ahaṃ akāsiṃ. Nadītitthānigantvāna, udakaṃ oruhāmihanti gaṅgādīnaṃ nadīnaṃ pūjātitthāni upagantvā sāyaṃ pātaṃ udakaṃ otarāmi udake nimujjitvā aṅgasiñcanaṃ karomi.

Bahūvatasamādānāti pañcātapatappanādi bahuvidhavatasamādānā. Gāthāsukhatthaṃ bahūti dīghakaraṇaṃ. Aḍḍhaṃ sīsassa olikhinti mayhaṃ sīsassa aḍḍhameva muṇḍemi. Keci ‘‘aḍḍhaṃ sīsassa olikhinti kesakalāpassa aḍḍhaṃ jaṭābandhanavasena bandhitvā aḍḍhaṃ vissajjesi’’nti atthaṃ vadanti. Chamāya seyyaṃ kappemīti thaṇḍilasāyinī hutvā anantarahitāya bhūmiyā sayāmi. Rattiṃ bhattaṃ na bhuñjahanti rattūparatā hutvā rattiyaṃ bhojanaṃ na bhuñjiṃ.

Vibhūsāmaṇḍanaratāti cirakālaṃ attakilamathānuyogena kilantakāyā ‘‘evaṃ sarīrassa kilamanena natthi paññāsuddhi. Sace pana indriyānaṃ tosanavasena sarīrassa tappanena suddhi siyā’’ti mantvā imaṃ kāyaṃ anuggaṇhantī vibhūsāyaṃ maṇḍane ca ratā vatthālaṅkārehi alaṅkaraṇe gandhamālādīhi maṇḍane ca abhiratā. Nhāpanucchādanehi cāti sambāhanādīni kāretvā nhāpanena ucchādanena ca. Upakāsiṃ imaṃ kāyanti imaṃ mama kāyaṃ anuggaṇhiṃ santappesiṃ. Kāmarāgena aṭṭitāti evaṃ kāyadaḷhībahulā hutvā ayonisomanasikārapaccayā pariyuṭṭhitena kāmarāgena aṭṭitā abhiṇhaṃ upaddutā ahosiṃ.

Tato saddhaṃ labhitvānāti evaṃ samādinnavatāni bhinditvā kāyadaḷhībahulā vādappasutā hutvā tattha tattha vicarantī tato pacchā aparabhāge mahāmoggallānattherassa santike laddhovādānusāsanā saddhaṃ paṭilabhitvā. Disvā kāyaṃ yathābhūtanti saha vipassanāya maggapaññāya imaṃ mama kāyaṃ yathābhūtaṃ disvā anāgāmimaggena sabbaso kāmarāgo samūhato. Tato paraṃ aggamaggena sabbe bhavā samucchinnā, icchā ca patthanāpi cāti paccuppannavisayābhilāsasaṅkhātā icchā ca āyatibhavābhilāsasaṅkhātā patthanāpi sabbe bhavāpi samucchinnāti yojanā . Santiṃ pāpuṇi cetasoti accantaṃ santiṃ arahattaphalaṃ pāpuṇiṃ adhigacchinti attho.

Nanduttarātherīgāthāvaṇṇanā niṭṭhitā.


3

Saya mengalami ini untuk pertama kalinya, sehingga ingin berbagi cerita ini kepada rekan2 disini, karena jika untuk seorang umat awam Buddhist yang meninggal saya rasa dimana2 sama, seperti yang sudah saya alami juga kurang lebih sama, namun ini seorang Dasasilamata yang mana di Indonesia belum ada (di Indonesia adanya Bhikkhuni Theravada, yang kebetulan di forum ini belum ada yg menulis bagaimana proses kremasi Bhikkhuni), semoga cerita ini ada manfaatnya.

Nunnery ini telah merawat seorang Dasasilamata yg telah lanjut usia (80 thn) dan menderita sakit parah selama 6 tahun, saya sering merasa iba, setiap melihat beliau saya selalu berdoa dalam hati agar segera terbebaskan dari penderitaannya, karena kamar beliau dekat dg toilet, otomatis tiap hari akan beberapa kali melihat beliau, sekarang beliau telah berhasil terbebaskan dari penderitaannya pada tgl.26 dec 2010 jam 5 sore waktu setempat. Tanda2 kematian beliau mulai nampak pada tgl.24 Dec 2010, dg menolak makan tapi masih mau minum, namun minum itupun untuk malam terakhir kali minum, karena keesokannya sudah tidak mau sama sekali makan dan minum, hanya berbaring dan menutup mulut rapat2 tp masih bernafas, kemudian kemarin tgl.26 dec 2010 sejak pagi sudah tersengal2, semua sudah tahu bahwa akan meninggal hari itu juga, sore hari, bahkan beberapa sudah menebak jam nya dan tepat sekali tebakan mereka (maaf ya, bukan maksud sy utk menceritakan bhw masih percaya ramal meramal), kami hanya membicarakan hal yg sedang terjadi utk mempersiapkan hal2 yg diperlukan. Sejak pagi sudah diputarkan kaset paritta lengkap, dengan begitu beliau dpt mendengar paritta2 tsb beliau akan merasakan kebahagiaan disaat2 terakhir. Ternyata beliau berhasil berangkat jam 5 sore (persis dg yg diperhitungkan mereka2), lalu Chief nun segera memanggil dokter wanita untuk memeriksa beliau, saya segera mengambil kain baru serta sabun yang baru juga utk memandikan beliau tapi dilarang oleh Chief nun karena selama ini  mereka tidak pernah melakukan itu, segala sesuatunya sudah ada yg urus, kami dilarang mengotak atik jenasah, lalu dokter datang dan memeriksa, ternyata masih ada denyut nya lemah, disuruh menunggu dulu sampe 3 jam, kemudian dari “Kumari” suatu badan yg menangani jenasah datang dan mengambil jenasah utk diurus lebih lanjut.

Seperti umumnya jenasah yang lain pasti pagi harinya akan diantarkan kembali dg lengkap segalanya,  jenasah berpakaian lengkap (kalau pria lengkap dg stelan pakaian jas semua serba baru, kalau wanita dg gaun putih spt pengantin juga serba baru), sedangkan beliau karena Dasasilamata maka berjubah lengkap serba baru, peti yg telah dihias baik sisi dalam maupun luar, sisi dalam peti diselubungi kain yg dijahit lipit2 disusun cantik sekali (bila umat biasanya kain berwarna putih, sedangkan Dasasilamata  ini berwarna orange sesuai warna jubah Srilanka, dan hiasan kain dilipit2 bag.dalam sepertinya sudah bentuk baku semua peti pasti dihiasin lipit2 demikian), rangkaian bunga diatas peti maupun disamping peti, karpet, hiasan gading (palsu), tenda yg memayungi peti, pokoknya semua udah rapi ditangani oleh badan urusan jenasah ini.  Sedangkan jenasah ini kok belum juga sampai pdhal udah jam 8 pagi, lalu saya tanya dg Chief nun kenapa jenasah belum datang? Pdhal wkt udah menunjukkan jam 8 pagi, beliau bilang krn Nunnery blm menelpon mereka, jika telah siap semua maka akan menelpon dan jenasah pasti segera datang, rupa2nya Nunnery sy masih blm selesai membersihkan ruangan yg akan dipakai utk upacara jenasah, setelah siap lalu mereka menelpon, hasilnya kok ternyata membuat Chief Nun segera pergi untuk sesuatu yg mendesak, hanya pembicaraan yg sempat sy dengar bhw jenasah ditahan, jadi jenasah hanya akan diantar ke nunnery utk upacara pemberangkatan ke kremasi saja, rupa2nya di Srilanka hal ijin ttg ke-jenasahan agak ketat, saya pikir kayak di Indonesia bisa menunggu hingga beberapa hari tanpa ijin segala (bayangan saya setidaknya 3 hari seperti umumnya umat2), disini ternyata ketat harus ada ijinnya, sehingga Chief Nun bergegas pergi entah untuk ketemu siapa, hasil akhir stlah beliau datang yg sy dengar hanya bhw urusan kremasi udah ok, oven udah segera disiapkan, jadi tidak perlu kuatir lagi semua udah siap, kemudian jam 2 siang jenasah datang dan tak berapa lama para bhikkhu datang (ada 6 orang) dan upacara pemberangkatan jenasah segera dimulai.

Upacara dimulai dg pembukaan Chief Nun mempersembahkan daun sirih (adat Srilanka selalu pakai daun sirih utk upacara apapun) dan namaskara, kemudian seorang Bhikkhu Kepala memimpin upacara :
1.   para umat diminta utk mengucap Namakāra gāthā diawali dg “sadhu” 3x, kemudian “Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa” 3x. (Namakāra gāthā nya beda dg Indonesia, kalau ini di Indonesia disebut Pubbabhāganamakāra/Vandanā)
2.   Saraṇāgamanaṃ (di Indonesia disebut Tisaraṇa)
3.   Pancasila.
4.   Dilanjutkan dengan kami tanpa umat yg juga dibimbing oleh beliau, membaca gāthā persembahan (persembahan berupa kain 3 warna, kuning, orange, putih, entah kenapa mereka mempersembahkan 3 warna, saya tahu warnanya itu krn sy yang membungkusnya, waktu membungkus persembahan tsb sy tidak mempertanyakan, karena dlm situasi yg sedang sibuk sekali, tikar, bantal, sapu utk ruangan, sapu lidi), kemudian Chief nun menyerahkan persembahan
5.   Dhammadesana (bhs Sinhala).
6.   Pelimpahan jasa kebajikan dilakukan oleh para Dasasilamata dg menuangkan air putih kedlm mangkok, sambil membaca gāthā “idaṃ vo ñātinaṃ hotu sukhita hontu ñātayo” 3x (Arti: “semoga jasa2 ini melimpah pada sanak keluarga yg telah meninggal, semoga mereka berbahagia”).
diikuti para bhikkhu membaca gāthā :
“Yathā vārivahā pūrā,
Paripūrenti sāgaraṃ,
Evameva ito dinnaṃ,
Petānaṃ upakappati.”
(Arti : “Laksana sungai-sungai yg melimpah airnya, memenuhi samudera, demikian pula dengan yg diberikan disini akan memberi manfaat kepada arwah yang menderita.”)
7.   Paṃsukulā gāthā.
8.   Bhikkhu Kepala (beda dg yg memimpin upacara tadi, beliau adalah Kepala membawahi daerah kami) memberi kata2 perpisahan yg antara lain menceritakan beliau mengenal almarhumah dan penderitaan sakitnya.
9.   Ditutup

Peti diangkat masuk mobil jenasah, lalu kami berangkat ke crematorium. Bayangan saya seperti di Indonesia kami dapat menyaksikan prosesnya pembakaran jenasah dari kaca jendela, ternyata beda sekali, oven dibuat tertutup rapat dari bahan stainless steel, salah satu wakil diminta menekan tombol penyalaan api, lalu selesai. Tidak ada terlihat sedikitpun api, ternyata api dari kamar lain yg terpisah gang bbrp meter, disitu terdapat 6 tabung besar dan tingginya lebih tinggi dari saya (tinggi badan 158cm), semua gas diputar dg volume besar, ada suara mendesis tp tidak panas sama sekali, begitu pula ruangan oven, tapi kami segera diminta keluar. Proses pembakaran jenasah hanya 1,5 jam, cepat sekali, pengalaman saya waktu di Indonesia butuh lebih dari 5 jam. Tidak nampak asap tebal membumbung ke udara dari cerobong asap, padahal  pengalaman saya waktu di Indonesia nampak asap tebal mengepul dan menebarkan bau pembakaran. Saya pikir Indonesia perlu meniru cara mereka, bagaimana tehnik membuat cerobong asap dari oven kremasi pembakaran jenasah tidak banyak asapnya dan menebarkan bau hangus (maaf ya, jenasah selalu mengeluarkan bau hangus waktu kremasi).

Saya tanya dg Chief nun, bagaimana selanjutnya abu? Ternyata abu disimpan disana, waduh, kasihan juga pikir saya, kenapa tidak dilakukan penaburan di laut seperti umumnya di Indonesia. Waktu kami datang ketempat crematorium memang sy melihat banyak sekali pajangan nisan yg memuat foto & data (nama, tgl.lahir, tgl.meninggal), jadi sama persis seperti nisan kuburan hanya nisan kepala saja tanpa badan, maka yg ada di dinding pagar (sekali lagi ini benar2 dinding pagar yg mengelilingi halaman crematorium) adalah deretan nisan kepala yg tertanam dlm dinding,  rasanya kasihan juga kita seperti melihat seseorang terpaku di dinding, berderet sepanjang dinding pagar mengelilingi halaman krematorium. Tapi mo gimana lagi karena adat budaya yang berbeda2.

Tidak ada lagi upacara apapun, bahkan pembacaraan parittapun tidak ada lagi. Kami hanya mengelilingi 3 kali memutari kamar oven sebagai penghormatan terakhir, setelah penekanan tombol api dinyalakan. Kami menunggu kira2 setengah jam disana lalu pulang kembali ke nunnery.

Bayangan saya akan ada pembacaan paritta yg dilakukan oleh para nun di crematorium ternyata tidak ada, simple sekali tata caranya.

Cerita ini bukan sebuah cerita istimewa, hanya sebuah kejadian sederhana yg saya alami pertama kali, siapa tahu ada membawa manfaat bagi yg lain. Sayapun kelak jika dikremasi ingin yg simple aja spt ini, tdk perlu upacara lama2, baca paritta lama2, toch yg penting adalah bekal yg sudah dilakukan selama hidup. Dibacain paritta berjam2 kalau memang akan jatuh kealam menderita, neraka atau binatang (sesuai dg perbuatan yg telah dilakukan/timbunan kamma) maka akan tetap terjadi. Justru yang penting dilakukan oleh sanak keluarga atau teman adalah pelimpahan jasa kebajikan yang dilakukan penuh cinta kasih dan kasih sayang maka akan sampai ke almarhum (Tirokuddasutta), walau menurut sutta hanya kaum peta saja yg bisa ditolong, namun saya tetap yakin akan sampai (maaf keyakinan pribadi saya ini jangan dikaitkan dg Tipitaka).

Mettacittena,


4
Regional / Srilanka
« on: 26 December 2010, 09:57:47 AM »
semoga thread ini bisa digunakan untuk menampung yg ada di Srilanka, atau yang ingin mengumpulkan info sapa tahu segera menyusul.

mettacittena,

5
Kesehatan / MADURUTALA
« on: 20 October 2010, 08:17:56 AM »
MADURUTALA
tanaman langka di srilanka yg bisa dimanfaatkan untuk mengusir nyamuk secara alami

Sejak pertama kali masuk kuliah th.2006 disini, teman2 dari Negara lain mengeluhkan keluhan yg sama yaitu menjadi korban keroyokan nyamuk, sungguh luar biasa sekali nyamuk disini, hampir setiap hari selalu yg dibahas ini, mereka saling berbagi info utk mencegah nyamuk. Dan akhirnya disepakati oleh mereka semua utk memasang net disemua lobang, sehingga tidak ada nyamuk yg bisa lewat. Tetapi ada dosen yg asli orang Srilanka menganjurkan agar menggunakan secara alami aja, menanam tanaman “Madurutala” dihalaman rumah maka rumah akan menjadi bebas dari serbuan nyamuk. Hanya sayangnya tanaman ini sudah langka sekali dan jarang ditemukan di Srilanka lagi. Terdorong rasa penasaran sy tanya chief nunnery sy seperti apa tanaman langka madurutala, beliau menjelaskan ciri2nya sama dengan dosen saya, dan lagi2 dibilang tanaman yg amat langka sudah hampir punah di srilanka, wah penasaran banget deh dibilang udah langka sekali. Saya mencoba bertanya kepada beberapa orang hampir seluruhnya heran karena tidak mengenal nama ini, malah mereka nanya darimana sy tahu nama ini krn merekapun baru tahu dari saya, sungguh aneh klo tanaman ini telah hampir tidak dikenal lagi oleh warga hanya beberapa saja yg tahu.

Kelangkaan tanaman ini baru saya ketahui kemarin beberapa hari yg lalu sewaktu mengunjungi nunnery hutan di daerah Kandy, kami mampir ke salah satu nunnery yg juga dilokasi yg terpencil, sy tertarik dg suatu tanaman yg merupakan “favorit” saya, langsung sy ambil benih2nya (yaitu bunga yg udah mengering berwarna coklat kehitaman) rencananya akan saya semai ditabur dihalaman nunnery saya.  Dengan berbekal sedikit daun yg saya petik saya tunjukkan kepada chief nunnery sy, apa nama tanaman ini? Ternyata sungguh diluar dugaan : “Madurutala”. Saya kaget sekali, saya Tanya lagi ke orang lain juga dijawab sama, kembali lagi ke chief nunnery sy, mengapa dibilang tanaman langka yg hampir punah? Krn ini adl tanaman yang amat sepele di tanah air saya dan merupakan lalapan favorit siapa saja. Mereka tercengang tidak percaya, dan baru tahu bahwa tanaman langka mereka adl tanaman sepele dan merupakan lalapan favorit siapa saja. Tahukah kalian apa nama tanaman ini ditanah air kita? Dia adalah “Kemangi”. Jadi tanamlah kemangi di halaman rumah maka rumah akan menjadi bebas nyamuk.
Beberapa faedah tanaman Madurutala/Kemangi :
1.   Sebagai penurun tekanan darah tinggi.
Bagi penderita tekanan darah tinggi jika mengkonsumsi lalapan kemangi maka tekanannya akan segera normal kembali, dan amat cepat tanpa efek samping. BAHAYA bagi penderita tekanan darah rendah karena akan segera menjadi drop dlm waktu yg relative singkat, sebaiknya segera cek tekanan darah anda sebelum dan sesudah mengkonsumsi lalapan kemangi.

2.   Sebagai pengusir nyamuk alami.
Hal ini yg membuat sy penasaran dg tanaman Madurutala sejak awal masuk Srilanka, ternyata amat sepele sekali, yaitu tanaman Kemangi. Utk bunganya bisa dipetik yg masih segar ditaruh di gelas/Vas dipasang dimeja, maka kamar menjadi bebas nyamuk hingga bunga itu mengering coklat kehitaman pun nyamuk tetap tdk mau masuk kamar, jadi tahan lama sekali. Selain kamar menjadi harum juga bebas nyamuk.

3.   Sebagai penguat gigi.
Menurut orang Srilanka, melalap daun Madurutala/Kemangi maka gigi akan menjadi kuat. Saya belum pernah melakukan riset sebaiknya tanya kepada moderator saja. Bro Forte yg baik, apakah benar fungsi daun kemangi bisa menguatkan gigi?

4.   Sebagai anti-biotik alami.
Jika mengkonsumsi lalap kemangi menurut mereka akan mengobati luka didalam tubuh. Ini perlu konsultasi lagi dengan moderator kesehatan, apakah benar demikian bro Forte?

Saya sangat geli sekali menemukan tanaman langka ini yg memakan waktu 4,5 thn sejak thn.2006 baru berhasil saya dapatkan sekarang akhir th.2010, dimana merupakan tanaman yg amat favorit dikonsumsi sbg lalapan harian kita di tanah air.

Mettacittena,

6
saya alami sendiri saat melakukan registrasi tidak ada kolom gender, sehingga saya tidak terlihat gendernya (Female), dan ini juga dialami beberapa member, bagi yg udah ahli komp tentu tidak masalah, sedang bagi yg gaptek kayak saya pasti tidak akan menemukan kolom ini, apakah bisa mengajukan usulan agar dapat ditambahkan prog susulan sehingga bagi member lama ada pesan khusus agar mengisi gendernya melalui link tertentu, sedang bagi member baru otomatis ada kolom itu. atau mungkin sudah ada tapi saya yg belum tahu, mohon diberitahu jika memang udah ada, agar sy bisa merevisi ID saya juga.thanks.

mettacittena,

7
sebab2 tidaknya ballikkkkkkk

salah satu sebab juga karna FB (faceBook)...banyak yg lebih suka aktif di FB sendiri gitu...

sebab lain udah register gak balik lagi yakni kena BAN... :'( :'(

sebab yg lain lagi... wuuehhh internetan bayar lhoo... kecuali dpt yg gratis n cepat!

sebab lain lagi........... janjinya mau buatin cerita story telling...eh nyatanya batal, janji meleset...

bro Saceng yang baik,
saya ingat pernah memposting akan menampilkan cerita pengalaman pribadi pengalaman Waisak pertama kali di Srilanka, tapi sayang file nya tidak ketemu.

saya pernah menulis ini th.2008 ketika saya pulang ke tanah air dan diminta utk menulis kisah pengalaman pribadi pertama kali masuk Srilanka, jadi saya menulis kisah ttg Waisak karena kebetulan bertepatan Waisak waktu itu. katanya akan dimuat dimajalah Buddhist, tapi ternyata tidak pernah dimuat, mungkin tata bahasa saya kurang bagus atau cerita ini kurang mengena. jadi hal ini pula yg membuat saya ragu utk menampilkan kisah ini. namun karena anda masih berminat sekali dg masih mengingatkan saya lagi, ok deh sy posting. untuk memenuhi janji. lunas ya.....

mettacittena,

Dear All,
saya sebenarnya malu menampilkan kisah saya karena saya kurang menguasai cara membuat cerita jadi menarik, jadi maafkan bila ada kata2 yang kurang pas. cerita pengalaman pribadi ini saya alami sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Srilanka pas bertepatan dengan Waisak.

janji saya ada di link ini : http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=16440.msg264468#msg264468

cerita pengalaman pribadi :
Quote


MEMPERINGATI WAISAK DI SRILANKA

Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa.

Pengalaman pertama dalam hidup saya merayakan Hari Raya Waisak di Srilanka pada tahun 2006. Saya berangkat ke negara tersebut dalam rangka memperdalam studi di bidang agama Buddha, selama ini negara Sri Lanka terkenal sebagai “The best place for Buddhism” (tempat belajar agama Buddha yang terbaik), dalam tradisi Theravada.  Ada pendapat lain yang menyatakan Thailand juga sebagai tempat belajar yang terbaik buat Buddhism, tetapi negara Sri Lanka memiliki alasan yang sangat kuat dengan mengangkat diri sebagai “The best place for Buddhism” karena beberapa hal sebagai berikut :

1.   Negara Sri Lanka merupakan negara yang melakukan penulisan pertama kalinya kitab suci Tripitaka di Alu Vihara Matale pada abad 1M.  Sedangkan negara India yang merupakan  tanah kelahiran Guru Agung kita Sang Buddha, justru baru pada abad ke 12M melakukan penulisan pertama kalinya kitab suci Tripitaka.  Sehingga mereka memiliki alasan yang kuat bahwa negara mereka merupakan negara yang sungguh-sungguh mempertahankan agama Buddha sesuai dengan ajaran yang murni, dimana penulisan ini telah dilakukan oleh para arahat yang benar-benar mempertahankan ajaran Sang Buddha secara murni, sehingga mereka menjaga dengan sungguh-sungguh agar tidak dipalsukan atau dibelokkan ke ajaran yang sesat.
2.   Negara Sri Lanka merupakan satu-satunya negara yang dikunjungi langsung oleh Guru Agung kita Sang Buddha sampai tiga kali, yaitu delapan bulan setelah pencapaian penerangan sempurna Sang Buddha berkunjung ke Mahiyangana, kemudian lima tahun  setelah pencapaian ke-Buddhaan nya beliau berkunjung ke Nagadipa dan delapan tahun setelah pencapaian ke-Buddhaan nya beliau berkunjung ke Kelaniya.
3.   Negara Sri Lanka mendapat kehormatan langsung dari Raja Asoka yang mengirimkan putra kandungnya yaitu YM.Mahinda Thera arahat untuk menyebarkan agama Buddha ke Srilanka pada abad 3SM (3 abad setelah Mahaparinibbana Sang Buddha), diwaktu Raja Asoka mengirimkan sembilan missionari ke seluruh dunia untuk menyebarkan agama Buddha beliau mengutus putera kandungnya sendiri untuk melakukan penyebaran agama Buddha di Sri Lanka karena diantara kedua negara ini telah terjalin hubungan persahabatan yang sangat erat. Bahkan Bhikkhuni Sasana yang terbentuk disana juga dilakukan oleh puteri kandung Raja Asoka sendiri yaitu YM.Sanghamita Theri arahat. Dimana dari Bhikkhuni sasana Sri Lanka ini yang kemudian pada abad 2M Fa Shien membawa dua orang Bhikkhuni dari Sri Lanka untuk menyebarkan agama Buddha di Cina dan membentuk Bhikkhuni Sasana disana, sehingga sebenarnya garis ke-bhikkhunian tidak putus jika ditinjau dari riwayat sejarah YM.Bhikkhuni Devasara yang dibawa oleh Fa Shien ke Cina
4.   Negara Sri Lanka adalah satu-satunya negara yang memiliki relik tubuh Sang Buddha secara utuh, yaitu pada saat kekuasaan Raja Devanampiyatissa yang membangun Maha Stupa dan mengajukan permohonan kepada Raja Asoka agar dapat memiliki relik Sang Buddha, oleh Raja Asoka relik Sang Buddha dikirim secara utuh semuanya karena Sang Buddha sendiri telah memprediksikan sebelum Mahaparinibbana beliau pada saat detik-detik terakhir, bahwa relik beliau akan terbagi sama porsi sebanyak 8 porsi dan akan dikumpulkan  kembali oleh Raja Ajattasatu dan selanjutnya oleh cucunya akan dikirim ke Srilanka agar selamat dari penyerangan agama lain.
5.   Negara Sri Lanka adalah negara yang sampai sekarang masih memegang teguh tradisi kuno yang dipercayai oleh mereka telah merupakan tradisi sejak jaman Sang Buddha.
6.   Negara Sri Lanka masih diakui oleh dunia international sebagai pusat agama Buddha tradisi Theravada

Dengan pertimbangan hal-hal tersebut diatas maka masih kuat alasan mereka mengangkat diri sebagai Negara “The best place for Buddhism”

Saya memperingati  hari Raya Waisak tahun 2006 di Sri Lanka untuk pertama kalinya, dan ini merupakan pengalaman pertama dalam hidup saya.  Pemandangan dimana-mana terlihat pemandangan  Torana yang indah (semacam panggung baliho yang penuh hiasan), sangat indah sekali, disemua tempat setiap daerah seperti saling berlomba menghias Torana seindah mungkin dan sebesar mungkin, ada yang berisi cerita Sang Buddha, ada yang lukisan utuh tubuh Sang Buddha lengkap dengan lampu warna-warni yang sangat indah, apabila dilihat malam hari maka akan indah sekali.  Hari Raya Waisak seperti suasana lebaran di negara kita, karena dimana-mana semua rumah open house, mereka menyediakan makanan dan minuman gratis, semua orang yang lewat depan rumah mereka, kenal atau tidak kenal dipersilahkan untuk menikmati hidangan mereka, hal ini sangat dinikmati oleh beberapa teman sekelas saya yang berasal dari negara Cina, mereka belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.  Bagi mereka ini adalah pengalaman yang menyenangkan.

Dalam tradisi Sri Lanka perayaan Hari Raya Waisak adalah dua hari sama seperti negara kita merayakan Hari Raya Idul Fitri, yang menyelenggarakan secara resmi dua hari, demikian pula dengan Sri Lanka yang merayakan Hari Raya Waisak secara resmi dua hari pula.

Hari pertama hari Raya Waisak saya puja bakti di Mahavihara Kelaniya, dalam benak saya akan ada puja bakti yang dipimpin anggota sangha, ternyata hal tersebut tidak saya temui tidak seperti bayangan saya, semua warga Buddhis datang dan pergi melakukan puja bakti secara perorangan tidak ada yang memimpin puja bakti.  Mahavihara Kelaniya merupakan vihara terbesar di Sri Lanka, seluas 10.000M2 (menurut informasi seluas 10 hektar, tapi saya belum menyaksikan luas yang sesungguhnya). Berdasarkan catatan sejarah  dalam buku Mahavamsa diceritakan dengan sangat jelas bahwa Sang Buddha setelah 8 tahun pencapaian ke-Buddha-an nya beliau mengunjungi Sri Lanka untuk ketiga kalinya, yaitu Mahavihara Kelaniya ini.  Sampai sekarang masih ada telapak kaki sang Buddha yang dipelihara dengan baik hingga saat ini, semua orang yang berdoa disana selalu melakukan namaskara ke kaki Sang Buddha tersebut. Saya pun bernamaskara di kaki Sang Buddha ini. Bahkan selama saya tinggal di Sri Lanka dua tahun, beberapa kali saya mengunjungi vihara Kelaniya untuk puja bakti dan namaskara di kaki Sang Buddha saya melihat banyak sekali bayi-bayi yang diletakkan di atas tapak kaki beliau untuk memohon perlindungan agar anaknya selalu dilindungi oleh Sang Buddha, menjadi anak yang baik, mempunyai kecerdasan dan kehebatan seperti Sang Buddha.

Setelah dari Mahavihara Kelaniya ini saya melakukan puja bakti di Vihara Belanwilla, disana ada Buddha rupam dari Indonesia yang merupakan persembahan YM.Bhante Sri Pannavaro Mahathera dari Mendut tepat dibawah pohon Bodhi.  Semua orang melakukan puja bakti disana dan bernamaskara di bawah Buddha rupam tersebut, ada semacam keharuan tersirat dalam hati sekaligus kebanggaan bahwa ada karya putera Indonesia yang dihormati oleh seluruh rakyat Sri Lanka yaitu Buddha rupam ini yang telah dibawa oleh YM.Sri Pannavaro Mahathera dari Indonesia ke Sri Lanka.

Tradisi peringatan Hari Raya Waisak yang dipusatkan dalam satu tempat seperti di Indonesia yaitu candi Borobudur tidak ada disana, hanya dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing vihara. Semua warga Buddhis memperingati hari Raya Waisak di Vihara tempat dimana mereka menjadi umat. Tradisi di Sri Lanka setiap Uposatha warga Buddhis akan puja bakti dan mendengarkan dhamma desana di Vihara satu hari penuh sejak subuh sampai sore hari, pada saat hari Waisak yang sudah tentu merupakan hari uposatha umat melakukan puja bakti dan mendengarkan dhamma desana di Vihara sehari penuh.  Kehidupan yang agamis bernuansa Buddhis amat sangat terasa karena jarak satu Vihara dengan Vihara yang lain sangat dekat, seperti layaknya masjid., dengan dimana-mana terdengar lantunan paritta dan gatha yang sangat menyentuh hati membuat saya sulit melupakan Sri Lanka karena salah satunya hal ini, dimanapun kita berada selalu terdengar lantunan paritta atau gatha dari speaker yang dipasang setiap Vihara. Setiap pagi hari (subuh) dan sore hari (magrib) Vihara saya juga memasang paritta dan gatha, yang pada saat pertama kali saya mendengar saya terkejut oleh suara adzan dari vihara saya, ternyata setelah saya perhatikan lebih seksama adalah lantunan vandana yang dilantunkan dengan nada mirip adzan. Sungguh menyejukkan hati bagi yang mendengarkan berkumandangnya paritta dan gatha disetiap vihara seluruh Sri Lanka.  Hal yang tidak mungkin terjadi di Indonesia memasang paritta dan gatha pada subuh hari dan magrib dengan menggunakan speaker.

Semua saluran TV dan Radio menayangkan Dhamma desana dalam rangka peringatan hari Raya Waisak serta penayangan tentang tempat-tempat suci agama Buddha yaitu: empat tempat seperti yang tercantum dalam mahaparinibbana sutta (D.16): Taman Lumbini, Buddhagaya, Taman Rusa Isipatana dan Kushinara.

Demikian sedikit cerita tentang pengalaman saya memperingati hari Raya Waisak di Sri Lanka pada tahun 2006.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Dhamma metta cittena,
Samaneri Pannadevi.
Semarang, May 2008.


mettacittena,


8
Pojok Seni / Buddha Rupam di Maligavilla, Srilanka
« on: 03 October 2010, 12:51:02 PM »
semoga gambar ini bisa muncul, ini baru test
Quote
[spoiler]
[admin]removed... 5 MB image [/admin]

lokasi ini di Srilanka telah ada sejak abad 3SM hingga sekarang masih terpelihara dg baik, hutannya luas dan rindang serta bebas dari sampah, masyarakat sangat menghormati tempat2 suci.

mettacittena,

9
Waroeng Mandarin / help : story "wo jia"
« on: 15 September 2010, 11:32:29 AM »
wo de hanyu bu hao, wo bu hui xie "wo jia"

pls help.

mettacittena,

10
sebelum memposting hal ini sy telah diskusi dulu dg penerjemah (Tuhan), beliau menyarankan agar diposting saja, maka sy memposting hal yg sy tanyakan kepada beliau tsb, agar diketahui oleh pembaca yg lain. bagaimana tanggapan member yg lain ?

yang saya tanyakan adalah terjemahan dari kalimat :
Quote
“...adassa Bāhiyam  Dārucīriyam  kālankatam....ganhatha bhikkhave Bāhiyassa Dārucīriyassa sarirakam  mañcakam  āropetvā nīharitvā jhāpetva thūpañ  c'assa karotha, sabrahmacārī vo bhikkhave kālankato'ti...."

yg diterjemahkan sbg :
Quote
melihat Bahiya telah meninggal. Ketika melihatnya, beliau berkata pada para bhikkhu, "Ambil jasad Bahiya dan, letakkan pada sebuah tandu dan bawa pergi, dikremasi dan buatkanlah sebuah nisan. Sahabat dalam kehidupan sucimu telah meninggal."

dibandingkan dg terjemahan bhs.Inggrisnya :
Quote
saw that Bahiya had died. On seeing him, he said to the monks, "Take Bahiya's body and, placing it on a litter and carrying it away, cremate it and build him a memorial. Your companion in the holy life has died."

menurut sy kata yang berasal dari bahasa pali "Thupa" yg berarti "Stupa" memang sebaiknya tetap digunakan saja, yaitu diterjemahkan "Stupa" saja kedalam bahasa indonesia. klo menurut kamus pali-chinese 佛塔,宝塔,石堆纪念碑,竖立在埋葬圣者骨灰处的纪念碑。(pagoda, monumen puing-puing, didirikan di tempat menyimpan abu untuk peringatan orang-orang suci.)

begitu pula utk kalimat "Udana",
Quote
Atha kho bhagavā etamatthaṃ viditvā tāyaṃ velāyaṃ imaṃ udānaṃ udānesi –

yang diterjemahkan sbg :
Quote
Kemudian, dengan menyadari pentingnya hal tersebut, Yang Terberkahi pada saat itu berseru:

dibandingkan dg versi bhs Inggrisnya :
Quote
Then, on realizing the significance of that, the Blessed One on that occasion exclaimed:

dimana menurut saya sebaiknya kata "Udana" ini diterjemahkan sbg "ungkapan kebahagiaan" atau "memberikan pujian", menurut kamus pali-chinese 【中】 有感而發表,一種情緒地發表。(merasakan dorongan untuk membentuk ungkapan untuk mempublikasikan.)

dan saya juga telah diskusi dg yg ahli bhs pali (kebetulan member juga disini), memberikan jawaban sbb :
Quote
Sebenarnya thupa sama dengan stupa atau cetiya. Setelah dikremasi, relik / abu jenazah Bahiya kemudian disimpan di stupa yang dibuat. Tentu thupa juga bisa disebut sebagai memorial, namun jika diterjemahkan sebagai memorial biasanya kata ini bisa diinterprestasikan berbagai macam. Tugu, prasasti juga sebagai memorial. Padahal stupa, meski salah satu tanda memorial, memiliki ciri tersendiri. Sementara itu, nisan dalam bahasa Indonesia, mengesankan kepada tanda di mana seorang meninggal dikubur. Padahal, Bahiya tidak dikubur melainkan dikremasi. Daripada menjadi rancu, lebih baik kata thupa ini diterjemahkan sebagai stupa saja atau tetap thupa.

Untuk udana, seseorang bisa menterjemahkan sebagai 'exclaimed'. tetapi kata ini bermakna sebagai ungkapan kebahagiaan. Biasannya disana ditulis udanam udanesi  yang artinya mengucapkan kata2 bahagia (exclaimed rejoice words).

sy belum ahli pali, jadi sy diskusi dlu dg yg ahli, dan postingan sy ini juga atas saran penerjemah, mohon agar jangan ada salah pengertian, postingan sy ini hanya utk memberi wacana saja, sy tetap menghormati pekerjaan beliau yg telah menerjemahkan Tipitaka dg tekad mulia (pekerjaan yg amat sangat sulit, bukan pekerjaan yg mudah).

smg DC semakin maju dan sukses dlm penyebaran dhamma di bumi pertiwi tercinta.

mettacittena,

11
Tolong ! / mohon bantuan info judul buku
« on: 07 May 2010, 11:00:11 PM »
Namo Buddhaya,
salam sejahtera selalu,

mohon bantuan apakah ada yg tahu judul buku yang ada bergambar patung kepala terbuat dari batu yg amat besar sekali (berukuran raksasa dan hanya kepala manusia saja tanpa badan) dan merupakan peninggalan kebudayaan maya dipedalaman Amazon. jumlahnya patung batu tsb di cover buku adl 3 buah patung.

saya ada diskusi dg teman kuliah tapi sy tidak berhasil menemukan buku tsb di internet dan sayangnya semua buku2 saya telah dibakar oleh kakak saya karena dikategorikan buku aneh dan tidak bermanfaat, termasuk buku yg paling saya sayangi yaitu "Isis Unvieled" (by : helena blavanzky), buku2 tsb telah sy miliki sejak sy berumur 15thn skrg sy mendekati 50 thn wajar kalau lupa judulnya, tp ttg cerita tdk pernah lupa.

buku ini diterbitkan sekitar th.1940/1950, berdasarkan penemuan patung tsb, krn juga diketemukan ttg landasan pacu utk mendaratnya pesawat ruang angkasa lengkap dg petunjuknya yg amat jelas terlihat dari angkasa (disertai foto2 yg diambil dari ketinggian lbh dr 10.000M tentunya dg alat yg dimiliki pesawat ruang angkasa), padahal ini semua peninggalan suku maya. juga diketemukan gua yg lengkap dg gambar2, jg ttg manusia dg pakaian astronotnya (persis dg baju astronot sekarang). lucunya kebudayaan ini masih diabadikan oleh ketururnan2 yg sekarang dg adat mereka ttg pahlawan mereka yg mereka kenakan baju spt astronot pula.

saya ada diskusi dg teman kuliah karena berkaitan dg th.2012 dimana teman kuliah saya bertanya dg salah seorang dosen bagaimana pandangannya? dan sy menceritakan bhw itu sdh ada sejak jaman kebudayaan maya dan ini karena berdasarkan system calendar maya yg diambil dari  perhitungan orbit peredaran sirius sehingga akan kembali ke Nol lagi karena kembali ke orbit semula. sehingga teman kuliah saya tertarik utk membaca buku tsb namun sy search di internet belum ketemu udah 3 hari ini.

semoga ada member yg pernah membaca buku ini dan dapat membantu saya.
sebelum dan sesudahnya diucapkan terima kasih.

may all beings be happy

mettacittena,

Pages: [1]