Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - Edward

Pages: [1] 2 3
1
Studi Sutta/Sutra / Karma
« on: 14 December 2010, 09:01:25 PM »
Sering kita dengar anggapan bahwa dalam buddhisme (khususnya Mahayana) bahwa karma orang tua bisa menurun ke anak.
Dalam referensi Pali, sudah ada kutipan jelas bahwa setiap makhluk mewarisi karma-nya sendiri.
Apakah dalam sutra mahayana juga ada pembahasan mengenai karma ini?
Kalo bisa tolong diqoutekan jg donk yg versi Pali dan versi Kanon Mahayana...

2
Lingkungan / Aristoteles dan Buddha
« on: 29 June 2010, 11:25:40 AM »
Oleh Indra Gunawan M
Dua nama ini adalah orang besar dalam sejarah.

Aristoteles, hidup sekitar 300 tahun sebelum Masehi, adalah filsuf yang bersama Socrates dan Plato meletakkan dasar-dasar filsafat Barat. Pandangan Aristoteles jadi dogma filsafat skolastik. Sementara Siddharta Gautama adalah pangeran yang meninggalkan istana untuk menghayati derita dan duka kehidupan. Lewat kontemplasi dan semadi berkepanjangan di bawah pohon bodhi, ia jadi orang tercerahkan (Buddha). Ia hidup sekitar 200 tahun sebelum Aristoteles.

Kedua tokoh mempunya sistem kepercayaan dan logika berbeda dalam memandang persoalan. Menarik mengkaji pendekatan mereka terhadap berbagai persoalan aktual, khususnya yang kontroversial, seperti kasus Bibit-Chandra, Anggodo, Antasari, Century, Sri Mulyani, atau Susno Duadji. Adapun kajian ”Fuzzy Logic” atau ”Logika Samar” (baca misalnya ”Fuzzy Thinking”, Bart Kosko, Hyperion, 1993) coba mengontraskan perbedaan kedua pendekatan. Dalam pandangan dunia, Aristoteles yang dikenal adalah bivalensi, dua nilai, benar atau salah, hitam atau putih, positif atau negatif, siang atau malam, A atau bukan A.

Tidak ada tempat untuk semu atau abu-abu, perbauran di antara keduanya. Sementara logika Buddha menerima adanya multivalensi atau banyak nilai. Di antara putih sampai hitam ada sekian banyak kemungkinan gradasi warna. Dari nol hingga angka satu ada begitu banyak bilangan pecahan yang menggambarkan berbagai derajat perkembangan.

Ada celah yang sukar disebut siang atau malam di tengah remangnya senja atau samarnya fajar. Logika Aristoteles lebih dominan diterima di Barat. Mereka lebih menghargai kepastian di tengah ketidakpastian seperti dalam aritmatik sederhana (2+2>4) dan kurang menghargai kontradiksi atau paradoks. Namun, tak semua orang Barat berpikir dalam kerangka dikotomi. Misalnya, Heraclitus, filsuf Yunani yang hidup 500 sebelum Masehi. Ia dikenal dengan ucapannya ”Segala sesuatunya berubah, kecuali perubahan itu sendiri”.

Sebagian perubahan dapat diprediksi, sebagian lain berlangsung acak, tak dapat dipahami atau dikenali. Epigram lain ”Segala yang bertentangan mendatangkan manfaat” atau ”Jalan turun dan jalan naik adalah satu dan sama”. Atau Einstein yang pernah mengutarakan ”Sejauh hukum matematika menunjuk ke realitas, maka dia tidak pasti. Dan sejauh dia pasti, dia tak merujuk ke realitas”. Logika samar tampak dalam ungkapan di atas.

Simplisitas atau akurasi

Logika Buddha ”Fuzzy Logic” lebih dulu dikenal di dunia Timur. Selain dalam ajaran Buddha juga ditemukan pada Zen dan Taoisme yang menyukai teka-teki dan paradoks kehidupan. Yin dan Yang bukan sekadar dua hal berbeda, melainkan satu keniscayaan yang saling melengkapi, komplementer. Dalam Yin terdapat Yang dan sebaliknya.

Oleh pengaruh pendidikan yang diterima di sekolah, kebanyakan kita lebih terbingkai dalam logika Aristoteles. Kita perlu pegangan atau kepastian di tengah kegalauan agar hidup lebih lancar. Kalau perlu persoalan disederhanakan untuk menghindari keruwetan yang tak perlu. Buat sebagian, di mana persoalan sudah terang benderang seperti dalam aritmatika sederhana, sikap itu dapat dibenarkan. Namun, untuk persoalan kompleks dan penuh kontroversi seperti contoh di atas (Bibit-Chandra, Susno Duadji, Sri Mulyani, dan sebagainya) pendekatan komprehensif dari berbagai kajian lebih menghasilkan presisi.

Sikap tak berpihak, obyektif untuk menemukan akurasi dengan berpegang pada kepentingan umum agaknya perlu dikedepankan. Yang jadi persoalan, kata ”kepentingan umum” sudah diklaim para pihak yang bersengketa. Kalau kita mulai memahami logika Buddha, tampaknya orang tak akan mudah terjebak dalam dikotomi yang gencar dikembangkan sebagian politisi.

Mereka lewat ”layar kaca” (tv) atau media lain berusaha membentuk opini publik berdasar sikap subyektif, apriori, perasaan suka atau tak sukanya. Sudah tentu argumentasinya dibungkus lewat ”data” dan ”fakta” yang disaring lewat kaca mata kelompoknya sendiri. Dengan ”Fuzzy Logic”, kita akan lebih teliti dan kritis mengikuti rekam jejak mereka yang memakai standar ganda. Di satu pihak, mereka lantang menyerukan berantas korupsi khususnya yang disangkakan terhadap lawan politiknya. Sementara di pihak lain, mereka kuncup atau diam seribu bahasa jika tuduhan menimpa kelompoknya.

Secara ringkas, bivalensi dalam Aristoteles bertumpu pada dua pilihan ”ini” atau ”itu”. Ibarat sebuah film, pelaku lelakonnya terbagi hanya dua: ”orang baik” dan ”orang jahat”. Sementara multivalensi dalam Logika Samar mencoba melihat nuansa-nuansa dalam menangkap kebenaran Ada ”orang baik tetapi ada cacatnya” dan ”orang jahat tetapi ada segi baiknya”. Tak ada yang sempurna. ”Fuzzy Logic” ini tak hanya bergerak di tataran teori, sistem kepercayaan atau filsafat saja, melainkan membumi terkait dunia praktis yang menghasilkan produk-produk. Lewat prinsip dan sistem ”Fuzzy Logic”, sejumlah perusahaan seperti Matsushita, Mitsubishi, Sharp, Hitachi, Samsung, dan Daewoo telah mampu menghasilkan produk yang sanggup melakukan penyesuaian, tidak terbatas pada dua pilihan.

AC yang bekerja terlalu lama dan kelewat dingin akan otomatis berhenti sementara untuk kemudian menyala kembali kalau suhu naik melewati ambang batas yang ditentukan. Atau mesin cuci yang mampu secara adaptif menyelaraskan diri sesuai tingkat kekotoran, jenis tekstil, serta beban dan volume pakaian yang harus dibersihkan. Tampaknya, ”Fuzzy Logic” adalah pendekatan menarik dan penting dalam mengubah pola pikir bukan saja dalam mencari kebenaran kasus, melainkan juga dalam menciptakan produk inovatif yang lebih canggih dan lebih bermutu.

Indra Gunawan M Penulis Buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan Zen

taken from Kompas 29 June 2010

3
Sutra Mahayana / THE LARGER SUKHAVATIVYUHA SUTRA
« on: 01 June 2010, 10:30:58 PM »
Translated from the Sanskrit by F. Max Mueller
edited by Richard St. Clair

THE LARGER SUKHAVATI-VYUHA.

DESCRIPTION OF SUKHAVATI, THE LAND OF BLISS.

Om.

Adoration to the Three Treasures!

Om.

Adoration to all the glorious Buddhas and Bodhisattvas!

Adoration to all Buddhas, Bodhisattvas, Aryas, Sravakas, and Pratyekabuddhas, past, present, and to come, who dwell in the unlimited and endless world systems of the ten quarters!

Adoration to Amitabha!

Adoration to him whose soul is endowed with incomprehensible virtues!

Adoration to Amitabha, to the Jina, to thee, O Sage!

I go to Sukhavati through thy compassion also;

To Sukhavati, with its groves, resplendent with gold,

The delightful, adorned with the sons of Sugata,--

I go to it, which is full of many jewels and treasures;

And the refuge of thee, the famous and wise.

# 1. Thus it was heard by me. At one time the Bhagavat dwelt in Rajagriha, on the mountain Gridhrakuta, with a large assembly of Bhikkhus, with thirty-two thousands of Bhikkhus, all arhats, free from frailties and cares, who had performed their religious duties, whose thoughts had been thoroughly freed through perfect knowledge, with inquiring thoughts, who had broken the fetters of existence, who had obtained their desires, who had conquered, who had achieved the highest self restraint, whose thoughts and whose knowledge were unfettered, great heroes, possessed of the six kinds of knowledge, self-controlled, meditating on the eight kinds of salvation, possessed of the powers, wise in wisdom, elders, great disciples, that is, Ajnatakaundinya, Asvajit, Vashpa, Mahanaman, Bhadrajit, Yasodeva, Vimala, Subahu, Purna Maitrayaniputra, Uruvilva-kasyapa, Nadi-kasyapa, Gaya-kasyapa, Kumara-kasyapa, Maha-kasyapa, Shariputra, Mahamaudgalyayana, Mahakaushthilya, Mahakaphila, Mahakunda, Aniruddha, Nandika, Kampila, Subhuti, Revata, Khadiravanika, Vakula, Svagata, Amogharaja, Parayanika, Patka, Kullapatka, Nanda, Rahula, and the blessed Ananda--with these and with other elders, and great disciples, who were wise in wisdom, with the exception of one person who had still to be advanced on the path of the disciples, that is, the blessed Ananda--and with many noble-minded Bodhisattvas, led by Maitreya.

#2. Then the blessed Ananda, having risen from his seat, having put his cloak on one shoulder, and knelt on the earth with his right knee, making obeisance with folded hands in the direction of the Bhagavat, spoke thus to the Bhagavat: 'Thy organs of sense, O Bhagavat, are serene, the color of thy skin is clear, the color of thy face bright and yellowish. As an autumn cloud is pale, clear, bright and yellowish, thus the organs of sense of the Bhagavat are serene, the color of his face is clear, the color of his skin bright and yellowish. And as, O Bhagavat, a piece of gold coming from the Jambu river, having been thrown into a furnace by a clever smith or by his apprentice, and well fashioned, when thrown on a pale cloth, looks extremely clear, bright and yellowish, thus the organs of sense of the Bhagavat are serene, the color of his face is clear, and the color of his skin bright and yellowish. Moreover, I do not know, O Bhagavat, that I have ever seen the organs of sense of the Tathagata so serene, the color of his face so clear and the color of his skin so bright and yellowish before now. This thought occurs to me, O Bhagavat: probably, the Tathagata dwells to-day in the state of a Buddha, probably the Tathagata dwells to-day in the state of a Jina, in the state of omniscience, in the state of a Mahanaga; and he contemplates the holy and fully enlightened Tathagatas of the past, future, and present.'

After these words, the Bhagavat thus spoke to the blessed Ananda: 'Well said! well said! Ananda. Did the gods suggest this matter to you? or the blessed Buddhas? Or do you know this through the philosophical knowledge which you possess?'

After these words the blessed Ananda spoke thus to the Bhagavat: 'The gods, O Bhagavat, do not suggest this matter to me, nor the blessed Buddhas, but this thought occurs to me by my own philosophy alone, that is, that probably the Tathagata dwells to-day in the state of a Buddha, probably the Tathagata dwells to-day in the state of a Jina, in the state of omniscience, in the state of a Mahanaga; or he contemplates the venerable Buddhas of the past, future, and present.'

After these words the Bhagavat spoke thus to the blessed Ananda: 'Well said! well said! Ananda; excellent indeed is your question, good your philosophy, and beautiful your understanding! You, O Ananda, have arrived for the benefit and happiness of many people, out of compassion for the world, for the sake of the great body of men, for the benefit and happiness of gods and men, as you think it right to ask the Tathagata this matter: Thus, indeed, Ananda, might pile up intellectual knowledge under immeasurable and innumerable blessed, holy, and fully enlightened Tathagatas, and yet the knowledge of the Tathagata would not be exceeded thereby. And why? Because, O Ananda, one who possesses the knowledge of a Tathagata possesses an intellectual knowledge of causes that cannot be exceeded.

'If the Tathagata wished O Ananda, he could live for a whole kalpa on one alms-gift, or for a hundred kalpas, or for a thousand kalpas, or for a hundred thousand kalpas, to a hundred thousand nayutas of kotis of kalpas, nay, he could live beyond, and yet the organs of nature of the Tathagata would not perish, the color of his face would not be altered, nor would the color of his skin be injured. And why? Because, O Ananda, the Tathagata has so fully obtained the perfections which arise from Samadhi.

'The appearance of fully enlightened Buddhas is very difficult to be obtained in this world, O Ananda. As the appearance of Audumbara-flowers is very difficult to be obtained in this world; thus, O Ananda, the appearance of Tathagatas who desire welfare, wish for what is beneficial, are compassionate, and have arrived at the highest compassion, is very difficult to be obtained. But, O Ananda, it is owing to the grace of the Tathagata himself that you think that the Tathagata should be asked this question, so that there may arise in this world beings who can be teachers of all the world, for the sake of noble-minded Bodhisattvas. Therefore, O Ananda, listen, and take it well and rightly to heart! I shall tell you.'

'Yes, O Bhagavat,' so did the blessed Ananda answer the Bhagavat.

# 3. The Bhagavat then spoke to Ananda: 'At the time, O Ananda, which was long ago in the past, in an innumerable and more than innumerable, enormous, immeasurable, and incomprehensible kalpa before now--at that time, and at that moment, there arose in the world a holy and fully enlightened Tathagata called Dipankara. Following after Dipankara, O Ananda, there was a Tathagata Pratapavat, and after him, Prabhakara, Kandanagandha, Sumerukalpa, Kandana, Vimalanana, Anupalipta, Vimalaprabha, Nagabhibhu, Suryodana, Giririjaghosha, Merukuta, Suvarnaprabha, Gyotishprabha, Vaiduryanirbhasa, Brahmaghosha, Kandabhibho, 19. Turyaghosha, Muktakusumapratimanditaprabha, Srikuta, Sagaravarabuddhivikriditabhijna, Varaprabha, Mahagandhajanirbhasa, Vyapagatakhilamalapratighosha, Surakuta, Rananjaha, Mahagunadharabuddhipraptibhijna, Chandrasuryajihmikarana, Uttaptavaiduryanirbhasa, Chittadharabuddhisankusumitabhyudgata, Pushpavativanarajasankusumitabhijna, Pushpakara, Udakakandra, Avidyandhakaravidhvamsanakara, Lokendra, Muktakkhatrapravatasadrisa, Tishya, Dharmamativinanditaraja, Simhasigarakutavinanditaraja, Sagaramerukandra, Brahmasvaranadabhinandita, Kusumasambhava, Praptasena, Kandrabhanu, Merukuta, Chandraprabha, Vimalanetra, Girirajaghoshesvara, Kusumaprabha, Kusumavrishtyabhiprakirna, Ratnakandra, Padmabimbyupasobhita, Chandanagandha, Ratnabhibhasa, Nimi, Mahivyuha, Vyapagatakhiladosha, Brahmaghosha, Saptaratnabhivrishta, Mahijunadhara, Mahatamalapatrakandanakardama, Kusumabhijna, Ajnavidhvamsana, Kesarin, Muktakkhatra, Suvarnagarbha, Vaiduryagarbha, Mahaketu, Dharmaketu, Ratnaketu, Ratnasri, Lokendra, Narendra, Karunika, Lokasundara, Brahmaketu, Dharmamati, Simha, and Simhamati.

'After Simhamati, a holy and fully enlightened Tathagata arose in the world, Lokesvararaja by name, perfect in knowledge and conduct, a Sugata, knowing the world, without a superior, charioteer of men whose passions have to be tamed, teacher of gods and men, a Buddha, a Bhagavat. And again during the time of the preaching of this holy and fully enlightened Tathagata Lokesvararaja, O Ananda, there was a Bhikkhu, Dharmakara by name, richly endowed with memory, with understanding, prudence, and wisdom, richly endowed with vigor, and of noble character.

# 4. 'Then, O Ananda, that Bhikkhu Dharmakara, having risen from his seat, having put his cloak on one shoulder, and knelt on the earth with his right knee, stretching forth his folded hands to where the Bhagavat Tathagata Lokesvararaja was, and, after worshipping the Bhagavat, he, at that very time, praised him in his presence with these Gathas:

"O thou of immeasurable light, whose knowledge is endless and incomparable; not any other light can shine here where thou art! The rays of the moon of Siva and of the jewel of the sun, were not bright here in the whole world, (1)

"The form also is infinite in the best of beings; thus also the voice of Buddha is of infinite sound; his virtue likewise, with meditation, knowledge, strength; like unto thee there is no one in this world. (2)

"The Dharma is deep, wide, and subtle; the best of Buddhas is incomprehensible, like the ocean; therefore there is no further exaltation of the teacher; having left all faults, he is gone to the other shore. (3)

"Then the best of Buddhas, of endless light, lights up all regions, he the king of kings; and I, having become Buddha, and a master of the Dharma, may I deliver mankind from old age and death! (4)

"And I, on the strength of generosity, equanimity, virtue, forbearance, power, meditation and absorption, undertake here the first and best duties, and shall become a Buddha, the savior of all beings. (5)

"And I, seeking for the knowledge of the best of the Blessed Ones, shall always worship many hundred thousands of kotis of Buddhas, endless like the sand of the Ganges, the incomparable lords. (6)

"Whatever worlds there are, similar in number to the sand of the Ganges, and the endless countries which exist besides, there everywhere I shall send out light, because I have attained such power. (7)

"My land is to be noble, the first and the best; the Bodhi-tree excellent in this world. There is incomparable happiness arising from Nirvana, and this also I shall explain as vain. (8)

"Beings come hither from the ten quarters; having arrived there they quickly show my happiness. May Buddha there teach me the truth, I form a desire full of true strength and vigor. (9)

"I, knowing the worlds of the ten quarters, possessed of absolute knowledge--they also always proclaim my thought! May I, gone to Avichi hell, always abide there, but I shall never cease to practise the power of prayer! " (10)

# 5. 'Then, O Ananda, that Bhikkhu Dharmakara, having praised the Bhagavat, the Tathagata Lokesvararaja, in his presence, with those Gathas, spoke thus: "O Bhagavat, I wish to know the highest perfect knowledge. Again and again I raise and incline my thoughts towards the highest perfect knowledge. May therefore the Bhagavat, as a teacher, thus teach me the Dharma, that I may quickly know the highest perfect knowledge. May I become in the world a Tathagata, equal to the unequalled. And may the Bhagavat proclaim those signs by which I may comprehend the perfection of all good qualities of a Buddha country."

'After this, O Ananda, the Bhagavat Lokesvararaja, the Tathagata, thus spoke to that Bhikkhu: "Do you by yourself, O Bhikkhu, know the perfection of all excellences and good qualities of a Buddha country ?

' He said: "O Bhagavat, I could not do this, but the Bhagavat alone. Explain the perfection of the excellences and all the good qualities of Buddha countries of the other Tathagatas, after hearing which we may fulfil every one of their signs."

'Then, O Ananda, the Tathagata Lokesvararaja, holy and fully enlightened, knowing the good disposition of that Bhikkhu, taught for a full koti of years the perfection of all the excellences and good qualities of Buddha countries belonging to eighty-one hundred thousand nayutas of kotis of Buddhas, together with the signs, indication, and description, desiring welfare, wishing for benefits, compassionate, full of compassion, so that there might never be an end of Buddha countries, having conceived great pity for all beings. The measure of life of that Tathagata was full forty kalpas.

# 6. 'Then, O Ananda, that Bhikkhu Dharmakara, taking the perfections of all the excellences and good qualities of those Buddha countries, of those eighty-one hundred thousand nayutas of kotis of Buddhas, and concentrating them all on one Buddha country, worshipped with his head the feet of the Bhagavat Lokesvararaja, the Tathagata, turned respectfully round him to the right, and walked away from the presence of this Bhagavat. And afterwards, for the space of five kalpas, he thus concentrated the perfection of all the excellences and good qualities of the Buddha countries, such as had never been known before in the ten quarters of the whole world, more excellent, and more perfect than any, and composed the most excellent prayer.

# 7. 'Thus, O Ananda, that Bhikkhu concentrated in his mind a perfection of a Buddha country eighty-one times more immeasurable, noble, and excellent than the perfection of the eighty-one hundred thousand nayutas of kotis of Buddha countries that had been told him by the Bhagavat Lokesvararaja, the Tathagata. And then, proceeding to where the Tathagata was, he worshipped the feet of the Bhagavat with his head, and said: "O Bhagavat, the perfection of all the excellences and good qualities of the Buddha countries has been concentrated by me."

'After this, O Ananda, the Tathagata Lokesvararaja thus spoke to the Bhikkhu: "Preach then, O Bhikkhu; the Tathagata allows it. Now is the proper time, O Bhikshu. Delight the assembly, produce joy, let the lion's voice be heard, so that now and hereafter, noble-minded Bodhisattvas, hearing it, may comprehend the different subjects of the prayers for the perfection of the good qualities of a Buddha country."

'Then, O Ananda, that Bhikkhu Dharmakara thus spoke at that time to the Bhagavat: "May the Bhagavat thus listen to me, to what my own prayers are, and how, after I shall have obtained the highest perfect knowledge, my own Buddha country will then be endowed with all inconceivable excellences and good qualities.

# 8. 1. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine there should be either hell, animals, the realm of departed spirits, or the body of fighting spirits, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

2. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should die and fall into hell, the animal realm, the realm of departed spirits, or into the body of fighting spirits, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

3. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not all be of one color, that is, a golden color, then may I not obtain the hignest perfect knowledge.

4. "O Bhagavat, If in that Buddha country of mine there should be perceived any difference between gods and men, except when people count and tell, saying: 'These are gods and men, but only in ordinary and imperfect parlance,' then may I not obtain the highest perfect knowledge.

5. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not be possessed of the highest perfections of miraculous power and self-control, so that they could at least in the shortest moment of one thought step over a hundred thousand nayutas of kotis of Buddha countries, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

6. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not all be possessed of the recollection of their former births, so as at least to remember a hundred thousand nayutas of kotis of kalpas, then may I not the highest perfect knowledge.

7. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not all acquire the divine eye, so as at least to be able to see a hundred thousand nayutas of kotis of worlds, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

8. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not all acquire the divine ear, so as at least to be able to hear at the same time the good Dharma from a hundred thousand nayutas of kotis of Buddha countries, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

9. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not all be skilled in the knowledge of the thoughts of other people, so as at least to be able to know the deeds and thoughts of beings belonging to a hundred thousand nayutas of kotis of Buddha countries, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

10. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should form any idea of property, even with regard to their own body, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

11. "O Bhagavat, if in that Buddha country of mine the beings who are born there should not all be firmly established, that is, in absolute truth, till they have reached Mahaparinirvana, then may I not obtain the highest perfect knowledge.

4
Sutra Mahayana / Smaller Sukhavativyuha Sutra
« on: 01 June 2010, 10:29:26 PM »
Translated from the Chinese Version of Kumarajiva

by Nishu Utsuki

The Educational Department of the West Hongwanji

Kyoto, Japan: 1924

Public Domain.

1. Thus have I heard: Once the Buddha was dwelling in the Anathapindada Garden of Jetavana in the country of Shravasti together with a large company of Bhikshus of twelve hundred and fifty members. They were all great Arhats, well known among people, (to wit): Shariputra the elder, Mahamaudgalyayana, Mahakashyapa, Mahakatyayana, Mahakaushthila, Revata, Shuddhipanthaka, Nanda, Ananda, Rahula, Gavampati, Pindola-Bharadvaja, Kalodayin, Mahakapphina, Vakkula, Aniruddha, etc., all great Shravakas [lit.  disciples]; and with many Bodhisattva-Mahasattvas, (such as), Manjushri, Prince of the Lord of Truth, Bodhisattva Ajita, Bodhisattva Gandhahastin, Bodhisattva Nityodyukta, etc., all great Bodhisattvas; and also with a large company of innumerable devas, (such as) Shakrodevanam-Indra, etc.

2. Then the Buddha addressed Shariputra, the elder, and said, 'Beyond a hundred thousand kotis of Buddha-lands westwards from here, there is a world named Sukhavati. In that world there is a Buddha, Amita(-ayus) by name, now dwelling and preaching the law. Shariputra, why is that country named Sukhavati? The living beings in that country have no pains, but receive pleasures only. Therefore, it is called Sukhavati.

3. 'Again, Shariputra, in the land Sukhavati (there are) seven rows of balustrades, seven rows of fine nets, and seven rows of arrayed trees; they are all of four gems and surround and enclose (the land). For this reason the land is called Sukhavati.

4, 'Again, Shariputra, in the land Sukhavati there are lakes of the seven gems, in which is filled water with the eight meritorious qualities. The lake-bases are strewn with golden sand, and the stairs of the four sides are made of gold, silver, beryl, and crystal. On land there are stories and galleries adorned with gold, silver, beryl, crystal, white coral, red pearl and diamond [lit. agate]. The lotus-flowers in the lakes, large as chariot wheels, are blue-colored with blue splendor, yellow-colored with yellow splendor, red-colored with red splendor, white-colored with white splendor, and (they are all) the most exquisite and purely fragrant. Shariputra, the land Sukhavati is arrayed with such good qualities and adornments.

5. 'Again, Shariputra, in that Buddha-land there are heavenly musical instruments always played on; gold is spread on the ground; and six times every day and night it showers Mandarava blossoms. Usually in the serene morning lit. dawn] all of those who live in that land fill their plates with those wonderful blossoms, and (go to) make offering to a hundred thousand kotis of Buddhas of other regions; and at the time of the meal they come back to their own country, and take their meal and have a walk. Shariputra, the Sukhavati land is arrayed with such good qualities and adornments.

6. 'And again, Shariputra, in that country there are always various wonderful birds of different colors, -- swan, peacock, parrot, Chari, Kalavinka and the bird of double-heads [lit. double-lives]. Six times every day and night all those birds sing in melodious tune, and that tune proclaims the Five Virtues [lit. organs], the Five powers, the Seven Bodhi-paths, the Eight Noble Truths, and other laws of the kind. The living beings in that land, having heard that singing, all invoke the Buddha, invoke the Dharma, and invoke the Sangha. Shariputra, you should not think that these birds are in fact born as punishment for sin. What is the reason? (Because), in that Buddha-land there exist not the Three Evil Realms. Shariputra, in that Buddha-land there are not (to be heard) even the names of the Three Evil Realms. How could there be the realms themselves! All those birds are what Buddha Amitayus miraculously created with the desire to let them spread the voice of the Law. Shariputra, (when) in that Buddha-land a gentle breeze happens to blow, the precious trees in rows and the begemmed nets emit a delicate enrapturing tune, and it is just as if a hundred thousand musical instruments played at the same time. Everybody who hears that music naturally conceives the thought to invoke the Buddha, to invoke the Dharma, and to invoke the Sangha. Shariputra, that Buddha-land is arrayed with such good qualities and adornments.

7. 'Shariputra, what do you think in your mind, for what reason that Buddha is called Amita(-abha)? Shariputra, the light of that Buddha is boundless and shining without impediments all over the countries of the ten quarters. Therefore he is called Amita(-abha). Again, Shariputra, the life of that Buddha and of his people is endless and boundless in Asamkhya-kalpas, so he is named Amita(-ayus). Shariputra, since Buddha Amitayus attained Buddhahood, (it has passed) now ten Kalpas. Again, Shariputra, that Buddha has numerous Shravakas or disciples, who are all Arhats and whose number cannot be known by (ordinary) calculation. (The number of) Bodhisattvas (cannot be known) also. Shariputra, that Buddha-land is arrayed with such good qualities and adornments.

8. 'Again, Shariputra, the beings born in the land Sukhavati are all Avinivartaniya. Among them is a multitude of beings bound to one birth only; and their number, being extremely large, cannot be expressed by (ordinary) calculation. Only can it be mentioned in boundless Asamkhya-kalpas. Shariputra, the sentient beings who hear (this account) ought to put up their prayer that they may be born into that country; for they will be able to be in the same place together with those noble personages. Shariputra, by means of small good works [lit. roots] or virtues no one can be born in that country.

9. 'Shariputra, if there be a good man or a good woman, who, on hearing of Buddha Amitayus, keeps his name (in mind) with thoughts undisturbed for one day, two days, three days, four days, five days, six days, or seven days, that person, when about to die, (will see) Amitayus Buddha accompanied by his holy host appear before him; and immediately after his death, he with his mind undisturbed can be born into the Sukhavati land of Buddha Amitayus. Shariputra, as I witness this benefit, I say these words; Every being who listens to this preaching ought to offer up prayer with the desire to be born into that country.

10. 'Shariputra, as I now glorify the inconceivable excellences of Amitayus Buddha, there are also in the Eastern quarters Buddha Akshobhya, Buddha Merudhvaja, Buddha Mahameru, Buddha Meruprabhasa, Buddha Manjughosha, and Buddhas as many as the sands of the River Ganga, each of whom, in his own country stretching out his long broad tongue that covers three thousand greater worlds completely, proclaims these truthful words; All you sentient beings believe in this Sutra, which is approved and protected by all the Buddhas, and in which are glorified the inconceivable excellences (of Buddha Amitayus).

11. 'Shariputra, in the Southern worlds there are Buddha Candrasuryapradipa, Buddha Yacahprabha, Buddha Maharciskandha, Buddha Merupradipa, Buddha Anantavirya, and Buddhas as many as the sands of the River Ganga, each of whom, in his own country stretching out his long broad tongue that covers three thousand greater worlds completely, proclaims these truthful words: All you sentient beings believe in this Sutra, which is approved and protected by all the Buddhas, and in which are glorified the inconceivable excellences (of Buddha Amitayus).

12. 'Shariputra, in the Western worlds there are Buddha Amitayus, Buddha Amitalakshana, Buddha Amitadhvaja, Buddha Mahaprabha, Buddha Mahanirbhasa, Buddha Ratnala kshana, Buddha Shuddharashmiprabha, and Buddhas as many as the sands of the River Ganga, each of whom, in his own country stretching out his long broad tongue that covers three thousand greater worlds completely, proclaims these truthful words: All you sentient beings believe in this Sutra, which is approved and protected by all the Buddhas, and in which are glorified the inconceivable excellences (of Buddha Amitayus).

13. 'Shariputra, in the Northern worlds there are Buddha Arciskandha, Buddha Vaishvanaranirghosha, Buddha Dushpradharsha, Buddha Adityasambhava, Buddha Jaliniprabha, and Buddhas as many as the sands of the River Ganga, each of whom, in his own country stretching out his long broad tongue that covers three thousand greater worlds completely, proclaims these truthful words: All you sentient beings believe in this Sutra, which is approved and protected by all the Buddhas, and in which are glorified the inconceivable excellences (of Buddha Amitayus).

14. 'Shariputra, in the Nadir worlds there are Buddha Simha, Buddha Yacas, Buddha Yashaprabhava, Buddha Dharma, Buddha Dharmadhvaja, Buddha Dharmadhara, and Buddhas as many as the sands of the River Ganga, each of whom, in his own country stretching out his long broad tongue that covers three thousand greater worlds completely, proclaims these truthful words: All you sentient beings believe in this Sutra, which is approved and protected by all the Buddhas, and in which are glorified the inconceivable excellences (of Buddha Amitayus).

15. 'Shariputra, in the Zenith words there are Buddha Brahmaghosha, Buddha Nakshatraraja, Buddha Gandhottama, Buddha Gandhaprabhasa, Buddha Maharciskandha, Buddha Ratnakusumasampushpitagatra, Buddha Salendraraja, Buddha Ratnotpalashri, Buddha Sarvarthadarsha, Buddha Sumerukalpa, and Buddhas as many as the sands of the River Ganges^1, each of whom, in his own country stretching out his long broad tongue that covers three thousand greater worlds completely, proclaims these truthful words: All you sentient beings believe in this Sutra, which is approved and protected by all the Buddhas, and in which are glorified the inconceivable excellences (of Buddha Amitayus).

16. 'Shariputra, what do you think in your mind, why it is called the Sutra approved and protected by all the Buddhas? Shariputra, if there be a good man or a good woman who listens to those Buddhas' invocation of the name (of Buddha Amitayus) and the name of this Sutra, that good man or woman will be protected by all the Buddhas and never fail to attain Anuttara-samyaksambodhi. For this reason, Shariputra, all of you should believe in my words and in what all the Buddhas proclaim. Shariputra, if there are men who have already made, are now making, or shall make, prayer with the desire to be born in the land of Buddha Amitayus, they never fail to attain Anuttara-samyaksambodhi, and have been born, are now being born, or shall be born in that country. Therefore, Shariputra, a good man or good woman who has the faith ought to offer up prayers to be born in that land.

17. 'Shariputra, as I am now praising the inconceivable excellences of those Buddhas, so all those Buddhas are magnifying the inconceivable excellences of myself, saying these words: Shakyamuni, the Buddha, has successfully achieved a rare thing of extreme difficulty; he has attained Anuttara-samyaksambodhi in the Saha world in the evil period of five corruptions -- Corruption of Kalpa, Corruption of Belief, Corruption of Passions, Corruption of Living Beings, and Corruption of Life; and for the sake of all the sentient beings he is preaching the Law which is not easy to accept. Shariputra, you must see that in the midst of this evil world of five corruptions I have achieved this difficult thing of attaining Anuttara-samyaksambodhi, and for the benefit of all the beings I am preaching the Law which is difficult to be accepted. This is how it is esteemed as (a thing of) extreme difficulty.'

The Buddha having preached this Sutra, Shariputra and Bhikshus, and Devas, men, Asuras, etc., of all the worlds, who have listened to the Buddha's preaching, believed and accepted with joy, made worship, and went away.

Buddhabhashita-Amitayuh-Sutra

5
Bantuan Teknis, kritik dan saran. / Letak Shout box menggangu..
« on: 02 May 2010, 05:21:23 PM »
bro medho, mo usul untuk letak shout box..
bisa kaga yah d bikin supaya ukuran bix shout box fixed, jadi klo ada yg chat pake emoticon ato masukin gambar, kaga menggangu tampilan layar forum. soalny sering bgt karena ada perubahan ukuran shout box, jadi susah bwt nge-klik forum

lagian, sepertinya karena awal2 layar home pasti lokasi shout box rasanya jadi kurang bagus dan menggangu. Soalnya, bagi pengguna inet yg kaga begitu cepet, proses loading sb kaga langsung, dan pada saat muncul, langsung pindah gitu layar home-nya... bener2 jadi ribet rasanya...
thxxx

6
Pengembangan DhammaCitta / Sejarah DC Forum
« on: 30 March 2010, 01:18:16 AM »
Wokeh temans, dari SAng pencipta forum kan belum pernah menyatakan kapan pertama kali Forum DC ini muncul di dunia maya ini...
Mari kita sedikit melihat, coba ke bagian home, scroll ke bawah, dan bagian [more stats]
bisa dilihat kalo hari pertama yang tertulis di forum ialah 12 Juni 2007..
Dan pertama kali muncul post ialah 2007-06-15 , sooo, apakah tanggal tersebut bisa disebut dengan tanggal lahirnya DC Forum ke dunia maya ini?

7
Lingkungan / Dala Lama : China ingin membasmi Buddhisme
« on: 11 March 2010, 06:38:07 PM »
DHARAMSALA, KOMPAS.com - Dalai Lama, Rabu (10/3/2010), mengecam pihak berwenang China, dengan menuduh mereka mencoba untuk ”membasmi Buddhisme” di Tibet, saat dia memperingati sebuah pemberontakan yang gagal terhadap pemerintahan China atas kawasan itu.

click to enlarge

Komentar keras pemimpin spiritual Tibet itu tampaknya menandai frustrasinya dengan upaya sia-sia untuk merundingkan sebuah kompromi dengan China. Walau demikian, dia mengatakan tidak akan meninggalkan perundingan.

China selama ini menuduh Dalai Lama sebagai separatis yang menginginkan kemerdekaan bagi Tibet, yang menurut China merupakan wilayahnya. Dalai Lama mengatakan, dia hanya menginginkan sebentuk ekonomi bagi Tibet di dalam China yang akan memungkinkan kebudayaan, bahasa, dan agama Tibet tumbuh subur.

Dua tahun lalu, protes antipemerintah meletus di Tibet, dan China menindak keras.

Sejak itu, kehadiran polisi di ibu kota Lhasa sangat nyata, dan bahkan ditingkatkan dalam beberapa hari terakhir dengan polisi bersenapan menjaga persimpangan dan memeriksa identitas.

Dalam pidato tahunannya—dari tempat pengasingannya di India untuk memperingati 51 tahun sebuah pemberontakan Tibet yang gagal terhadap China—Dalai Lama mengatakan, pihak berwenang China melakukan sebuah kampanye ”re-edukasi patriotik” di biara-biara di Tibet.

”Mereka menempatkan para biksu dan biksuni dalam kondisi seperti di penjara, menghilangkan kesempatan mereka untuk belajar dan berpraktik dalam damai,” katanya, menuduh China berupaya untuk ”secara sengaja menghabisi Buddhisme”.

Pemimpin spiritual Tibet itu mengatakan bahwa ”apakah Pemerintah China mengakui atau tidak, ada masalah serius di Tibet,” tetapi upaya untuk berunding dengan kepemimpinan China mengenai pemberian otonomi terbatas pada rakyat Tibet tidak menghasilkan apa-apa.

”Menilai dari sikap kepemimpinan China yang sekarang, harapan kecil bahwa sebuah hasil akan dicapai segera. Meskipun demikian, pendirian kami untuk melanjutkan dialog tetap tidak berubah,” katanya dalam pidatonya berbahasa Tibet.

Kementerian Luar Negeri China tidak memberi tanggapan segera mengenai tuduhan Dalai Lama itu. Namun, Zhou Yuan, seorang akademisi China pada Pusat Riset Tibetologi China, yang punya pandangan sejalan dengan pemerintah, mengatakan, Dalai Lama marah karena gagal mencapai kemerdekaan Tibet dan menyangkal Beijing melakukan penganiayaan agama.

Dalam pidatonya, Dalai Lama menyatakan dukungannya pada minoritas Uighur di Provinsi Xinjiang, dengan menyebut kawasan itu sebagai ”Turkestan Timur”, nama yang diberikan oleh para eksil prokemerdekaan.

”Mari kita juga mengingat rakyat Turkestan Timur yang mengalami kesulitan dan tekanan,” katanya. ”Saya ingin menyampaikan solidaritas saya dan tetap mendampingi mereka.”

Komentar ini hampir dipastikan akan membuat berang Beijing. (AP/Reuters/DI

8
Pengembangan DhammaCitta / [fitur] baru di DC ,Calendar???
« on: 06 March 2010, 07:44:45 AM »
Wogh, baru pagi ini ane melihat penampakan ada fitur baru di DC ini...
Diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dalam Forum....
Fitur Kalender....

Jadi, kita bisa sekalian post jadwal atau event d forum DC ini yah boss?
Trus apa lagi kegunaannya?

9
Hijau Kuning Merah: Perjalanan Hidup Seorang Biksu

Teks sampul belakang   
Hijau Kuning Merah Perjalanan Hidup Seorang Biksu     
buah buku bagi mereka yang ingin mengetahui sebuah perjalanan menuju kebajikan     

Dalam buku ini, Sutoyo Raharto (Upaseno), seorang pengembara, mengisahkan pengalamannya dalam dunia Buddhis yang telah digeluti selama sepuluh tahun. Ketertarikannya ternyata hanya dimulai dari sebuah kejadian sederhana dalam obrolan dengan teman-teman di sebuah cafe di Kanada. Setelah itu, ia memutuskan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman hidupnya dengan menjalani beberapa praktik spiritual de beberapa tempat di beberapa negara: Indonesia, China, Thailand. Ia melambangkan pengalamannya dengan tiga warna: Hijau, Kuning, dan Merah. Tiap Warna memaknai sebuah pengalaman batin tersendiri yang penuh dengan tantangan. Tiap hari penuh kejadian yang menarik dan refleksi. Melalui buku ini kita dapat belajar untuk menjadi insan yang bukan saja memiliki kearifan dan kebijaksanaan, tetapi juga manusia yang penuhi rasa kasih.


   
Quote
”Kita tidak memiliki waktu untuk melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Demi kebaikan diri sendiri dan orang banyak, yang terpenting adalah melakukan hal yang paling baik dan yang paling berguna.”

Sebuah buku bagi mereka yang ingin mengetahui sebuah perjalanan menuju kebajikan. Dalam buku ini, Sutoyo Raharto (Upaseno), seorang pengembara, mengisahkan pengalamannya dalam dunia Buddhis yang telah digeluti selama sepuluh tahun. Ketertarikannya ternyata hanya dimulai dari sebuah kejadian sederhana dalam obrolan dengan teman-teman di sebuah cafe di Canada. Setelah itu, ia memutuskan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman hidupnya dengan menjalani beberapa praktek spiritual di beberapa tempat di beberapa negara: Indonesia, China, Thailand.

Ia melambangkan pengalamannya dengan tiga warna: Hijau, Kuning, dan Merah. Tiap warna memaknai sebuah pengalaman batin tersendiri yang penuh dengan tantangan. Tiap hari penuh kejadian yang menarik dan reflektif. Melalui buku ini kita dapat belajar untuk menjadi insan yang bukan saja memiliki kearifan dan kebijaksanaan, tetapi juga manusia yang dipenuhi rasa kasih.


Bukunya sudah dijual di Gramedia....Untuk seri Hijau dan Kuning, bisa di baca di perpustakaan DC...

BTw, ini buku mangtabs  :jempol:
Dan, id bhikku upaseno jg sempat aktif d DC ini...

11
Lingkungan / UU Penodaan Agama
« on: 05 February 2010, 01:37:08 PM »
Jika kita mengikuti berita, kita akan mendengar mengenai di ujimaterikan UU 1/pnps/1965 yang berisi mengenai Larangan penodaan agama. Dari berita yang berkembang, antara pro dan kontra, apakah teman2 mengetahui isi UU tersebut?
Jika belum, ada baiknya kita membaca isi UU tersebut sebelum mengutarakan pendapatnya...
yukk.. mariii...


Quote
PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 1965
TENTANG
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengamanan Negara dan Masyarakat,
cita-cita Revolusi Nasional dan pembangunan Nasional
Semesta menuju ke masyarakat adil dan makmur, perlu
mengadakan peraturan untuk mencegah penyalah-gunaan
atau penodaan agama;
b. bahwa untuk pengamanan revolusi dan ketentuan
masyarakat, soal ini perlu diatur dengan Penetapan
Presiden;
Mengingat : 1. pasal 29 Undang-undang Dasar;
2. pasal IV Aturan Peralihan Undang-undang Dasar;
3. penetapan Presiden No. 2 tahun 1962 (Lembara-Negara
tahun 1962 No. 34);
4. pasal 2 ayat (1) Ketetapan M.P.R.S. No. II/MPRS/1960;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN
AGAMA.
Pasal 1
Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum
menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan
umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama
yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan
keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan
dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang
dari pokok-pokok ajaran agama itu.
Pasal 2
(1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal
1 diberi perintah dan peringatan keras untuk
menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu
keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa
Agung dan Menteri Dalam Negeri.

2
(2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan
oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka
Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan
Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran
tersebut sebagai Organisasi/ aliran terlarang, satu dan
lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari
Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam
Negeri.
Pasal 3
Apabila, setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama
bersama-sama Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri
atau oleh Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan
dalam pasal 2 terhadap orang, Organisasi atau aliran
kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan dalam
pasal 1, maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota
Pengurus Organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana
dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.
Pasal 4
Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru
yang berbunyi sebagai berikut:
"Pasal 156a
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun
barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan
perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan
atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di
Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama
apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa."
Pasal 5
Penetapan Presiden Republik Indonesia ini mulai berlaku pada
hari diundangkannya.

3
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan
pengundangan Penetapan Presiden Republik Indonesia ini
dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 Januari 1965.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SUKARNO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Januari 1965
SEKRETARIS NEGARA,
MOHD. ICHSAN.
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1965 NOMOR 3.

4
PENJELASAN
ATAS
PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 1965
TENTANG
PENCEGAHAN PENYALAH-GUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA
I. UMUM
1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undangundang
Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia
telah menyatakan, bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945
menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan
konstitusi tersebut.
Menurut Undang-undang Dasar 1945 Negara kita berdasarkan :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
3. Persatuan Indonesia;
4. Kerakyatan;
5. Keadilan Sosial.
Sebagai dasar pertama, Ke-Tuhanan Yang Maha Esa bukan saja
meletakkan dasar moral diatas Negara dan Pemerintah, tetapi
juga memastikan adanya kesatuan Nasional yang berasas
keagamaan.
Pengakuan sila pertama (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa) tidak dapat
dipisah-pisahkan dengan Agama, karena adalah salah satu tiang
pokok daripada perikehidupan manusia dan bagi bangsa Indonesia
adalah juga sebagai sendi perikehidupan Negara dan unsur mutlak
dalam usaha nation-building.
2. Telah teryata, bahwa pada akhir-akhir ini hampir diseluruh
Indonesia tidak sedikit timbul aliran-aliran atau Organisasiorganisasi
kebatinan/kepercayaan masyarakat yang bertentangan
dengan ajaran-ajaran dan hukum Agama.
Diantara ajaran-ajaran/perbuatan-perbuatan pada pemeluk
aliran-aliran tersebut sudah banyak yang telah menimbulkan halhal
yang melanggar hukum, memecah persatuan Nasional dan
menodai Agama. Dari kenyataan teranglah, bahwa aliran-aliran
atau Organisasi-organisasi kebatinan/kepercayaan masyarakat
yang menyalah-gunakan dan/atau mempergunakan Agama sebagai

5
pokok, pada akhir-akhir ini bertambah banyak dan telah
berkembang kearah yang sangat membahayakan Agama-agama
yang ada.
3. Untuk mencegah berlarut-larutnya hal-hal tersebut diatas yang
dapat membahayakan persatuan Bangsa dan Negara, maka dalam
rangka kewaspadaan Nasional dan dalam Demokrasi Terpimpin
dianggap perlu dikeluarkan Penetapan Presiden sebagai realisasi
Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang merupakan salah satu
jalan untuk menyalurkan ketata-negaraan dan keagamaan, agar
oleh segenap rakyat diseluruh wilayah Indonesia ini dapat
dinikmati ketenteraman beragama dan jaminan untuk menunaikan
ibadah menurut Agamanya masing-masing.
4. Berhubung dengan maksud memupuk ketenteraman beragama
inilah, maka Penetapan Presiden ini pertama-tama mencegah agar
jangan sampai terjadi penyelewengan-penyelewengan dari ajaranajaran
agama yang dianggap sebagai ajaran-ajaran pokok oleh
para ulama dari agama yang bersangkutan (pasal 1-3); dan kedua
kalinya aturan ini melindungi ketenteraman beragama tersebut
dari penodaan/penghinaan serta dari ajaran-ajaran untuk tidak
memeluk agama yang bersendikan Ke-Tuhanan Yang Maha
Esa/(Pasal 4).
5. Adapun penyelewengan-penyelewengan keagamaan yang nyatanyata
merupakan pelanggaran pidana dirasa tidak perlu diatur lagi
dalam peraturan ini, oleh karena telah cukup diaturnya dalam
berbagai-bagai aturan pidana yang telah ada.
Dengan Penetapan Presiden ini tidaklah sekali-kali dimaksudkan hendak
mengganggu gugat hak hidup Agama-gama yang sudah diakui oleh
Pemerintah sebelum Penetapan Presiden ini diundangkan.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Dengan kata-kata "Dimuka Umum" dimaksudkan apa yang lazim diartikan
dengan kata-kata itu dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Agamaagama
yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, kr****n,
ka****k, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius).
Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di
Indonesia.

6
Karena 6 macam Agama ini adalah agama-gama yang dipeluk hampir
seluruh penduduk Indonesia, maka kecuali mereka mendapat jaminan
seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 Undang-undang Dasar, juga
mereka mendapat bantuan-bantuan dan perlindungan seperti yang
diberikan oleh pasal ini.
Ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya: Yahudi,
Zarasustrian, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia. Mereka mendapat
jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 dan mereka
dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang
terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lain.
Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalurkannya
kearah pandangan yang sehat dan kearah Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Hal ini sesuai dengan ketetapan M.P.R.S. No. II/MPRS/1960, lampiran A.
Bidang I, angka 6.
Dengan kata-kata "Kegiatan keagamaan" dimaksudkan segala macam
kegiatan yang bersifat keagamaan, misalnya menamakan suatu aliran
sebagai Agama, mempergunakan istilah-istilah dalam menjalankan atau
mengamalkan ajaran-ajaran kepercayaannya ataupun melakukan
ibadahnya dan sebagainya. Pokok-pokok ajaran agama dapat diketahui
oleh Departemen Agama yang untuk itu mempunyai alat-alat/cara-cara
untuk menyelidikinya.
Pasal 2
Sesuai dengan kepribadian Indonesia, maka terhadap orang-orang
ataupun penganut-penganut sesuatu aliran kepercayaan maupun anggota
atau anggota Pengurus Organisasi yang melanggar larangan tersebut
dalam pasal 1, untuk permulaannya dirasa cukup diberi nasehat
seperlunya.
Apabila penyelewengan itu dilakukan oleh organisasi atau penganutpenganut
aliran kepercayaan dan mempunyai effek yang cukup serius
bagi masyarakat yang beragama, maka Presiden berwenang untuk
membubarkan organisasi itu dan untuk menyatakan sebagai organisasi
atau aliran terlarang dengan akibat-akibatnya (jo pasal 169 K.U.H.P.).
Pasal 3
Pemberian ancaman pidana yang diatur dalam pasal ini, adalah tindakan
lanjutan terhadap anasir-anasir yang tetap mengabaikan peringatan
tersebut, dalam pasal 2. Oleh karena aliran kepercayaan biasanya tidak
mempunyai bentuk seperti organisasi/perhimpunan, dimana mudah
dibedakan siapa pengurus dan siapa anggotanya, maka mengenai aliranwww.
legalitas.org

7
aliran kepercayaan, hanya penganutnya yang masih terus melakukan
pelanggaran dapat dikenakan pidana, sedang pemuka aliran sendiri yang
menghentikan kegiatannya tidak dapat dituntut.
Mengingat sifat idiil dari tindak pidana dalam pasal ini, maka ancaman
pidana 5 tahun dirasa sudah wajar.
Pasal 4
Maksud ketentuan ini telah cukup dijelaskan dalam penjelasan umum
diatas. Cara mengeluarkan persamaan atau melakukan perbuatan dapat
dilakukan dengan lisan, tulisan ataupun perbuatan lain.
Huruf a, tindak pidana yang dimaksudkan disini, ialah yang semata-mata
(pada pokoknya) ditujukan kepada niat untuk memusuhi atau menghina.
Dengan demikian, maka, uraian-uraian tertulis maupun lisan yang
dilakukan secara obyektif, zakelijk dan ilmiah mengenai sesuatu agama
yang disertai dengan usaha untuk menghindari adanya kata-kata atau
susunan kata-kata yang bersifat permusuhan atau penghinaan, bukanlah
tinak pidana menurut pasal ini.
Huruf b, Orang yang melakukan tindak pidana tersebut disini, disamping
mengganggu ketentraman orang beragama, pada dasarnya menghianati
sila pertama dari Negara secara total, dan oleh karenanya adalah pada
tempatnya, bahwa perbuatannya itu dipidana sepantasnya.
Pasal 5
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2726.

sumber : http://www.legalitas.org/database/puu/1965/uu1-1965.pdf

12
Kafe Jongkok / Ditemukan Reaktor Nuklir Berumur 2 Miliar Tahun
« on: 22 January 2010, 12:57:11 AM »
Tahukah agan.. bahwa pada tahun 1972 telah ditemukan reaktor nuklir berusia 2 milyar tahun?

Begini Kisahnya

Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.
Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebarluas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!





sumber :
http://www.m44rif*Forbidden*/2009_08_01_archive.html
http://www.newsguide.us/education/sc...th-Go-Nuclear/

Kira-kira siapa yang buat yah gan?

UPDATE

Asal Peradaban Prasejarah

Penemuan reaktor nuklir di Gabon, harus diakui merupakan keunggulan peradaban prasejarah. Pertanyaannya, siapa yang membangun peraban tinggi itu? Saat ini terdapat dua penafsiran dari para ilmuwan mengenai pertanyaan ini. Pertama adalah peradaban itu merupakan peninggalan makhluk angkasa luar yang melakukan penyelidikan di bumi, dan yang kedua adalah sebelum peradaban manusia masa sekarang, pernah ada keunggulan peradaban prasejarah manusia yang bertaraf tinggi.

Karena semakin banyak orang yang percaya dengan penafsiran kedua, maka ada ilmuwan yang mengusulkan diadakannya diskusi mengenai teori peradaban bumi. Arkeolog biologi berpendapat bahwa selama 4,5 miliar tahun munculnya bumi hingga hari ini, sudah mengalami 5 kali kepunahan yang dahsyat, musnah dan terbentuk kembali, berputar dan kemudian memulai lagi, hingga pada kepunahan dahsyat yang terakhir yang terjadi 65 juta tahun lalu. Ada yang menarik kesimpulan berdasarkan hal tersebut di atas, bahwa 2 miliar tahun yang lalu di bumi pernah ada peradaban tingkat tinggi. Namun malang, karena mengalami kepunahan akibat sebuah perang nuklir yang hebat atau perubahan bencana alam yang dahsyat. Perubahan dunia pada ratusan juta tahun yang lalu telah membawa serta semua peninggalan peradaban, dan hanya menyisakan segelintir peninggalan benda-benda purbakala, yang sekarang menjadi sebuah teka-teki tak terpecahkan oleh manusia.

Ada juga yang berpendapat bahwa punahnya peradaban prasejarah manusia yang bertaraf tinggi, dikarenakan perubahan berskala besar pada iklim bumi. Atau dikarenakan kehilangan kestabilan gaya tarik bumi. Di saat sistem tata surya bergerak pada posisi tertentu di ruang orbit bumi, maka secara periodik akan muncul iklim yang tidak serasi dengan kehidupan manusia di bumi. Pada 65 juta tahun yang lampau, musnahnya dinosaurus oleh karena hal tersebut di atas adalah merupakan sebuah contoh. Perubahan iklim secara berkala di bumi ini, mengatur siklus awal dan evolusi makhluk berinteligensi tinggi. Tentu saja, semua ini hanya merupakan pandangan dari sebuah versi atau beberapa penafsiran saja, sedangkan mengenai misteri peradaban prasejarah, kita perlu lebih serius lagi untuk menyelaminya.

copaz from :http:///showthread.php?t=3070716

13
Lingkungan / Rahasia Tantra Borobudur
« on: 18 January 2010, 12:35:40 AM »
Candi Borobudur merupakan suatu mahakarya terutama bagi yang beragama Buddha. Candi yang berasal dari abad 9 ini diketahui berasal dari dinasti Syailendra. Candi ini hilang secara misterius dan bersamaan dengannya terpendamnya sebuah misteri tentang tantra Borobudur.

Seseorang eyang bercerita dan demikian yang kudengar:

Alkisah, pada abad ke 4 sebelum wangsa Sailendra berkuasa, di Jawa Barat berdiri sebuah kerajaan Shepo (Bumi- Sherpa) yang mana terdiri dari wangsa Holing (beragama Buddha) dan wangsa Taruma (beragama Hindu). Bukti adanya situs Batujaya. Kerajaan ini berkembang dan terus berkembang hingga melakukan expansi ke luar dari daerahnya. Di Jawa Barat dikenal dengan kerajaan Tarumanegara (Hindu), Jawa Tengah dengan kerajaan Kalingga (Buddha), dan Sumatra dengan kerajaan Sriwijaya (Buddha).

Pada abad ke 7, kerajaan Kalingga yang berkuasa di Jawa (bahasa Sansekerta: Pavaya Dwipa) dan kerajaan Sriwijaya yang berkuasa di Sumatra (bahasa Sansekerta: Suvarana Dwipa) berkembang menjadi kerajaan besar. Hal ini dikarenakan kerajaan yang terletak di dekat pantai dimana menjadi pusat jalur perdagangan dan agama. Jalur ini merupakan penghubung negara Tiongkok, India dan Arab (jalur sutra) lintas laut selatan. Wajar bila kebudayaan kita bagaikan campuran dari kebudayaan ketiga negara tersebut. Oyah, ada seorang mahaguru Dharma Buddha yang terkenal saat itu yaitu Jnana Bhadra.

Di kerajaan Kalingga pada abad ke 8, ada seseorang mahaguru yang mempunyai garis keturunan Sanyang Purwa Brata dari Gunung Mahameru Himalaya India Utara. Mahaguru Dharma Vajra Carya yang bernama Ban Hong (Ba-Gong) ini sangat mahir siddhi kebatinan Arya Tara, Arya Chunda , Cintamani Cakra. Dengan adanya jalur sutra, Ban Hong memperoleh kesempatan pergi menuju Tiongkok dan India untuk belajar, kepada seorang mahaguru yang bernama Hui Guo. Ia belajar Madhyamika, Yogacara, Shusiddhi Karma, Vajra Sekhara Yoga, Mahavairocana Garbhasoka, Zhishey Chod, Phowa, dll. Apa yang ia pelajari adalah cikal bakal ajaran Buddha Sekte Tantra Laut Kidul (Borobudur).

Ban Hong tentu tak lupa akan tanah airnya. Ia kembali pada awal abad ke 9 yang ternyata kerajaan Kalingga telah melebur menjadi kerajaan Mataram (Kuno). Pada zaman itu pembagian wilayah dalam pembangunan candi agama Buddha di Jawa Tengah terjadi. Hal ini dikarenakan kerajaan yang terdiri dari wangsa Sailendra (Buddha) memiliki ikatan perkimpoian putri kerajaan Sriwijaya, dan wangsa Sanjaya (Hindu) yang memiliki hubungan dengan wangsa Taruma di Jawa Barat.

Pembagian candi terbagi atas 2 kelompok yaitu candi yang dibangun oleh wangsa Syailendra dan candi yang dibangun oleh wangsa Sanjaya. Candi oleh wangsa Syailendra berada di barat daya Gunung Merapi seperti candi Ngawen, Pawon, Mendut dan Borobudur. Candi oleh wangsa Sanjaya berada di tenggara Gunung Merapi yang memiliki ciri candi Buddha berdampingan dengan candi Hindu. Candi Buddha-nya antara lain candi Kalasan, Sari, Sajiwo, Sewu, Lumbung Bubrah dan Plaosan.

Pada abad ke 10, terjadi sebuah fenomena alam yang membuat kerajaan Mataram (kuno) dan candi seperti Borobudur hilang secara misterius. Gempa, tsunami, gunung berapi menjadikan Tantra Candi Borobudur hampir tidak meninggalkan bekas di bumi pertiwi ini. Ajaran Tantra yang tersisa diwarisi oleh keturunan wangsa Syailendra Balaputera Dewa yang menjadi raja Sriwijaya dan oleh wangsa Sanjaya yaitu raja Pikatan dan permaisuri Pramodhawardhani yang berkembang menjadi ajaran Tantra Syiwa Buddha di Jawa Timur.

Tantra yang diwarisi oleh keturunan Syailendra dibawa dan berkembang di Tibet oleh Atisa pada abad 11, akan tetapi ajaran tantra di Sumatra lenyap karena jatuhnya kerajaan Sriwijaya pada abad 14. Tantra yang diwarisi oleh keturunan Sanjaya-pun lenyap karena runtuhnya kerajaan Majapahit pada abad 15.

Ini adalah secibir mantra yang kudengar dari eyang;

1. Arya Tara Mantra: Om Tare Tam Soha.
2. Arya Dakini Mantra: Om Sarva Dakini Sita Mapala Saparana Vajra Nuwite Ah Hung.
3. 5 Dhyanibuddha Mantra: Om Vajradhatu Vah, Om Aksobhya Hung, Om Ratna Sambhawa Tram, Om Lokesvara Raja Hrih, Om Amogha Siddhi Ah (Om Hung Tram Hrih Ah).
4. Vajra Sattva Mantra: Om Vajra Satto Hung Phet
5. Puja Mandala Mantra: Om Vajra Bhumi Ah Hung, Om Vajra Rake Ah Hung, Om Mandala Puja Mega Samudra Saparana Samaya Ah Hung.

copas from



14
Sutra Mahayana / Struktur Sutra Mahayana
« on: 08 June 2009, 05:19:03 PM »
Mohon petunjuk yang sejelasnya donk..
Penjelasan mengenai struktur sutra mahayana tersebar di beberapa thread.Ada yg bersedia mengulang kembali di sini, dan sekaligus penjelasan bagaimana cara pembagiannya? Dan apakah sutra yang 'resmi' hanya terdapat dalam bahasa mandarin?

15
Pengalaman Pribadi / Cerita sebuah cetiya di Rusun
« on: 27 March 2009, 01:36:28 AM »
Suatu hari saya bertemu via ym dengan sobat lama dalam Dhamma.
Beberapa tahun lalu saya mengikuti kelas meditasi dan retret meditasi yg dibimbing oleh teman saya yang pada saat itu masih menggunakan "jubah kuning".Setelah sekitar 1 thn lebih tidak berkomunikasi, kali ini saya berbicara dalam kapasitas yang berbeda.Pembimbing saya tersebut memutuskan untuk "pensiun dini" dalam seragam jubah kuning.Obrolan pun berputar sekitar kabar masing2.
Ternyata, setelah lama tak berkomunikasi, Sobat sekarang menjadi umat awam, tetapi tetap ingin berkarya dlm Dhamma.Sehingga Sobat mau berbagi pengalaman dan pengetahuannya mengenai meditasi.

Karena saya merasa cocok dengan metode bimbingannya, saya pun meminta jadwal dan alamat tempat dia mengajarkan meditasi. Dia pun menulis, "saya mengajar meditasi di sebuah cetiya kecil di rusun cengkareng, for free...".Karena tempatnya dekat dan jadwalnya pun sesuai, saya mengatakan saya akan datang ke sana.

Pada hari dimana kelas meditasi tersebut akan diadakan, saya sempat berpikir, wah, kayaknya tempatnya cukup terpencil dan "berbeda", jadi saya mempersiapkan segala kemungkinan yg ada, karena tekad saya untuk belajar meditasi tidak akan terbendung dengan kondisi-kondisi sepele....



*bersambung....

Sory, baru nyadar hampir pagi.Udah ngantuk dan besok harus kuliah pagi, lain waktu pasti akan saya selesaikan cerita ini.

Pages: [1] 2 3