Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - abhassara

Pages: [1]
1
Theravada / Pelaksanaan Pemakaman Tionghoa secara Buddhis Theravada
« on: 28 January 2018, 07:46:37 PM »
Pelaksanaan Pemakaman Tionghoa secara Buddhis Theravada
Oleh: Venerable Suvanno

Hari dan malam berlalu
Hidup berlalu dengan cepat
Kehidupan makhluk hidup lenyap
Bagaikan air yang mengalir dalam sungai kecil.
                                             - Sang Buddha, Samyutta Nikaya


Pertama, beberapa kata tentang apa yang bisa dilakukan sebelum kematian. Jika seseorang sakit parah dan telah menjelang ajal, adalah baik sekali bila kita mengundang satu atau beberapa bhikkhu untuk memberikan khotbah Dhamma, membaca paritta Buddhis, dan mengucapkan Tisarana dan Panca Sila. Umat Buddha yang mempunyai keyakinan akan merasakan kebahagiaan dan kenyamanan ketika melihat bhikkhu.

            Umat  Buddha harus mencoba mempertahankan pikiran tenang dan sadar selama mendekati kematian. Dia harus merenungkan perbuatan baik yang telah dilakukannya dan menimbulkan keyakinan bahwa perbuatan baik ini dapat memberikan kelahiran kembali yang baik dan membantunya dalam kehidupan berikut. Dia harus menerima kematian sebagai sesuatu hal yang wajar dan tidak dapat dihindarkan, merenungkan bahwa kita semua datang sesuai perbuatan (kamma) kita dan pergi sesuai dengan perbuatan (kamma) kita. Dengan kerelaan melepas semuanya dan menerima kematian, dia akan meninggal dengan tenang dan memperoleh harapan kelahiran kembali yang baik di alam surga atau jika dia dilahirkan kembali ke dunia, dia akan lahir pada orang tua yang baik dan menjadi manusia yang cerdas.

            Mengingat kebenaran bahwa kita adalah pemilik perbuatan (kamma) kita sendiri, penting sekali agar ketika kita masih hidup, kita melakukan perbuatan baik dan bermanfaat sehingga kita akan memiliki jaminan kelahiran kembali yang bahagia setelah meninggal. Tentu saja, tujuan akhir semua umat Buddha adalah mencapai Nibbana, yang merupakan akhir dari kelahiran kembali. Tetapi sebelum kita membuang kekotoran batin, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan, kita masih akan tetap berada dalam samsara, siklus kelahiran dan kematian.

            Bagaimanapun juga dapat dimengerti bahwa akan ada duka dan kesedihan pada saat kematian. Namun, akan lebih baik bagi anggota keluarga untuk mempertahankan diri dari tangisan dan ratapan sebelum seseorang meninggal. Karena tangisan dan emosi hanya akan membuat sedih orang yang akan meninggal sehingga membuatnya lebih sulit untuk berpisah. Kita harus membiarkan seseorang pergi dengan damai, dengan memahami bahwa ketika waktu seseorang telah tiba, maka dia harus pergi. Kemelekatan dan cinta yang terlalu berlebihan hanya akan menimbulkan lebih banyak penderitaan. Sesungguhnya, anggota keluarga bisa meyakinkan orang yang akan meninggal bahwa dia tidak perlu khawatir tentang mereka, dia harus menjaga pikirannya tetap tenang dan damai, dan tidak mengapa bagi dia untuk pergi jika saatnya telah tiba. Dengan cara ini, orang yang akan meninggal juga akan merasa ringan dan meninggal dengan damai.

===

           Ketika seseorang telah mati, tubuh jasmani seharusnya dibersihkan dan dikenakan pakaian yang sederhana saja. Permata dan perhiasan, asli ataupun imitasi, tidak seharusnya dipakaikan. Karena yang meninggal telah dilahirkan dan tidak dapat membawa apa pun bersamanya.

           Mengenai peti mati, tidak perlu yang mahal. Boleh dengan harga menengah, atau jika miskin, peti mati yang murah juga boleh. Seorang umat Buddha yang mengerti Dhamma tidak akan mau anggota keluarganya menanggung biaya yang tidak perlu. Malah dia akan lebih memilih untuk berdana dengan uang yang dihemat dari pemakaman sederhana.

           Foto almarhum boleh diletakkan di depan peti mati. Bunga-bunga dan karangan bunga juga boleh diletakkan di sekeliling peti mati. Susunan kata-kata Dhamma, seperti kata-kata terakhir dari Sang Buddha: “Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal. Berusahalah dengan tekun untuk pembebasan dari penderitaan”, boleh dipasang sebagai suatu pengetahuan dan inspirasi, jadi kita dapat merenungkannya dan berusaha menjalani hidup dengan penuh manfaat.

            Ada banyak tradisi dan pantangan yang saat ini dijumpai dalam upacara pemakaman Chinese. Bagaimanapun, umat Buddha Chinese yang ingin mempertahankan kemurnian tata cara pemakaman dalam agama Buddha tradisi Theravada, harus menghilangkan praktek-praktek ini. Tanpa mengurangi rasa hormat atau pun dengan maksud menghina mereka yang ingin mengikuti upacara dan ritual pemakaman tradisi Chinese, nasihat berikut hanya untuk mereka yang ingin melaksanakan upacara pemakaman sesuai dengan agama Buddha tradisi Theravada:
Umat Buddha Theravada tidak perlu membakar kertas sembahyang,
tidak perlu meletakkan sebaskom air dan handuk di bawah peti mati (karena almarhum tidak mungkin menggunakannya);
tidak perlu meletakkan semangkuk nasi dengan sumpit di depan peti mati (karena almarhum tidak bisa makan lagi);
tidak perlu membakar dupa atau lilin di depan peti mati;
tidak perlu menggantung kelambu di atas peti mati;
tidak perlu memasang lampu-lampu dekorasi di sekeliling peti mati;
tidak perlu membagikan benang merah kepada mereka yang hadir;
pintu boleh ditutup pada malam hari bila pengunjung sudah pulang, sehingga anggota keluarga boleh istirahat;
setelah upacara pemakaman, tidak perlu mengadakan upacara pembersihan rumah untuk menghalau nasib buruk karena ini hanya berupa praktek takhyul;
tidak perlu membasuh muka dengan air “suci” karena Sang Buddha telah mengajari kita untuk selalu percaya pada diri sendiri, yaitu dalam praktek Dhamma, praktek dana (kemurahan hati), sila (kesusilaan), dan bhavana (meditasi). Sang Buddha mengajarkan bahwa tempat perlindungan kita yang sebenarnya terletak pada kamma (perbuatan) baik kita, yaitu dengan berbuat baik, menjaga sila, dan meditasi.
Oleh karena itu, jika kita telah mengikuti Ajaran Buddha sesuai dengan Jalan Mulia Beruas Delapan, kita telah memiliki perlindungan yang paling baik dan benar, dan kita tidak perlu lagi mengambil jalan takhyul dan praktek non-Buddhis.

            Kita yakin dengan kesederhanaan dan tingkah laku yang bijaksana, mengingat almarhum telah dilahirkan kembali, dan jika dia adalah seorang Buddhis Theravada yang memahami Ajaran Buddha, dia tentu juga akan menginginkan dibuangnya prosedur yang tidak bermanfaat
.

            Jadi, tidak perlu membakar rumah kertas, mobil kertas, uang “neraka”, ataupun perlengkapan kertas sembahyang lainnya serta pengadaan berbagai upacara dan ritual, karena semua ini menimbulkan sejumlah biaya yang sangat besar tetapi sama sekali tidak bermanfaat karena almarhum tidak memperoleh keuntungan dari semua ritual ini. Menurut agama Buddha tradisi Theravada, tidaklah mungkin apa yang dibakar di alam ini dapat terwujud di alam lain. Apa yang terbakar akan terbakar. Dan juga tidaklah mungkin bahwa kesadaran seseorang dapat dituntun dari neraka atau dari suatu tempat ke surga. Kelahiran kembali terjadi secara spontan setelah kematian, dan jenis kelahiran kembali akan tergantung pada kamma atau perbuatan yang telah dilakukan orang tersebut semasa hidupnya yang dulu. Jadi, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kita perlu menjalani kehidupan secara baik, karena ketika kita meninggal maka kita tidak dapat berharap untuk “diselamatkan” oleh upacara, ritual, dan lain-lainnya.

           Uang yang dihemat dari pelaksanaan upacara dan ritual yang tidak bermanfaat dapat digunakan untuk ber-dana, penyediaan keperluan bhikkhu dan vihara, dan sumbangan kepada lembaga amal untuk mengenang almarhum. Keluarga almarhum juga boleh meminta sahabat dan anggota keluarga lainnya menyumbang untuk lembaga amal sebagai pengganti karangan bunga. Kebaikan ini dapat dilimpahkan kepada almarhum dan semua makhluk.

           Anggota keluarga tidak diharuskan memakai pakaian khusus berwarna hitam atau pakaian kemalangan yang kasar (boon tar), tetapi boleh memakai pakaian biasa, putih, abu-abu, atau warna sederhana seadanya, untuk mencerminkan suasana duka. Dalam agama Buddha, kita diajari untuk menerima fakta adanya kematian, dan untuk tidak bersedih dan meratap. Sang Buddha berkata bahwa tangis dan air mata tidak akan menghidupkan yang mati melainkan hanya mengakibatkan hidup ini lebih menderita.

            Tentunya hal ini bukan berarti kita harus menyembunyikan atau menyangkal kesedihan kita. Kita, sampai saat ini, masihlah bukan Buddha ataupun Arahat yang tidak merasakan kesedihan lagi. Jadi, apa yang dapat kita lakukan adalah dengan menyadari dan mengetahui perasaan sedih yang timbul pada diri kita. Kita boleh mengeluarkan air mata. Kita boleh berduka. Tetapi dengan kesadaran dan pemikiran bijaksana, kita tidak akan diliputi kesedihan yang berlebihan. Kita dapat bertahan dengan rela dan tenang. Dan kita dapat merenungkan bahwa Sang Buddha mengajarkan kita tentang ketidakkekalan diri atau tidak adanya keakuan. Bahkan pada akhirnya kita pun bukan milik kita. Kita terbentuk oleh ketidaktahuan dan keinginan yang menciptakan kamma (perbuatan) yang menuntun kita pada kelahiran kembali.

            Umat Buddha yang mengerti Dhamma akan mencontoh Ajaran Buddha dan merenungkan Empat Kebenaran Mulia, selanjutnya akan diwujudkan dengan melaksanakan Jalan Mulia Beruas Delapan untuk mengakhiri kelahiran dan penderitaan. Dia akan mewujudkannya dengan melatih kemurahan hati, menjaga lima sila (Panca Sila), dan melatih kesadaran serta meditasi untuk memusnahkan kekotoran batin.

===

           Anggota keluarga juga tidak perlu membelakangi peti mati ketika jenazah almarhum diletakkan ke dalam, atau ketika peti mati akan diangkut dari rumah ke mobil jenazah pada hari pemakaman. Tidak ada akibat apa pun bagi umat Buddha Theravada yang mengamati peristiwa ini, malah akan lebih tidak menghormati dan melukai almarhum seandainya dia dapat mengamati apa yang sedang terjadi (yakni anggota keluarganya membelakangi almarhum). Sebaliknya, anggota keluarga boleh berdiri, mengamati dalam keheningan penuh penghormatan, sewaktu peti mati diangkut keluar dari rumah. Mereka dapat merenungkan ketidakkekalan kondisi manusia bahwa kita semua pasti meninggal suatu hari nanti dan betapa pentingnya bagi kita untuk berbuat baik dan hidup dengan penuh manfaat selagi kita masih hidup. Tentu saja, mereka juga dapat memancarkan pengharapan kepada almarhum, “Semoga almarhum berbahagia dalam kelahirannya yang baru.”

           Praktek lain yang salah menurut Theravada adalah persembahan makanan, seperti ayam, bebek, babi panggang, dan sayuran di depan almarhum, terutama pada saat penghormatan terakhir yang biasanya diadakan secara tradisi Chinese. Persembahan yang demikian tidaklah perlu karena almarhum telah dilahirkan kembali dan tidak dapat memakan makanan tersebut lagi.

           Penggunaan grup musik untuk memainkan musik khidmat selama proses pemakaman bukanlah merupakan keharusan. Akan sama baiknya bila seseorang menginginkan upacara diadakan dalam keheningan.

         Penguburan atau kremasi merupakan pilihan, meskipun kremasi akan lebih praktis, lebih murah, dan lebih disukai. Apa yang tertinggal dari tubuh setelah kematian hanyalah kerangka, sedangkan almarhum telah mengalami kelahiran yang baru. Dan pertanyaan yang muncul sekarang adalah berapa lama jenazah boleh disimpan? Kremasi atau penguburan dapat dilakukan dengan segera, pada keesokan harinya, atau bahkan pada hari yang sama. Akan tetapi, mungkin ada keluarga yang ingin menyimpan jenazah untuk beberapa hari karena berbagai alasan, seperti untuk menunggu kepulangan anggota keluarga yang jauh, atau untuk memberi kesempatan bagi sanak saudara dan sahabat untuk memberikan penghormatan terakhir. Jadi, keputusan untuk segera dikuburkan atau dikremasi, atau disimpan selama beberapa hari, tergantung pada keputusan keluarga atau permintaan almarhum jika dia ada menyatakan keinginannya sebelum meninggal.

            Sebelum dikremasi, apa yang seharusnya dilakukan terhadap abunya? Umat keturunan Chinese mempunyai kebiasaan meletakkan abu di dalam kendi di tempat penyimpanan abu jenazah (columbarium). Umat Buddha Theravada di Myanmar biasanya membiarkan abunya di krematorium untuk dibuang oleh pekerja, walapuna ada beberapa anggota keluarga yang memilih mengumpulkan abunya dan membuangnya di laut atau sungai.
Bagi umat Buddha Theravada di Malaysia, biasanya:
1.   Abu diletakkan di tempat penyimpanan abu jenazah;
2.   Membiarkan abu tersebut dibuang pekerja krematorium; atau
3.   Membuang abu tersebut ke laut atau sungai.
Semuanya merupakan pilihan. Jika seseorang memilih meletakkan abu tersebut di tempat penyimpanan abu jenazah dengan tujuan untuk mengenang, tidaklah perlu mempersembahkan atau menyelenggarakan berbagai upacara atau ritual atas kendi yang berisi abu tersebut. Hal ini karena almarhum telah dilahirkan kembali dan apa yang tertinggal hanyalah abu. Daripada menyelenggarakan upacara yang tidak bermanfaat, lebih baik ber-dana ke vihara dan melimpahkan jasa kebajikan kepada almarhum.

           Membiarkan abu di krematorium atau menaburnya di laut atau sungai juga boleh. Karena, seperti yang telah dikatakan, apa yang tertinggal hanyalah sisa jenazah, hanya unsur tanah, air, angin, dan api. Seseorang itu bukanlah tulang atau abu.

           Kesadarannya telah terpisah dan dilahirkan dalam bentuk baru. Maka itu, abunya boleh dibuang, tanpa adanya sikap tidak hormat. Sang Buddha mengajarkan kebijaksanaan dan ketidakmelekatan. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah memperlakukan sesama dengan cinta kasih ketika kita masih hidup, dan setelah orang yang kita kasihi meninggal, kita tetap menjalankan hidup dengan penuh manfaat sehingga almarhum, seandainya dia bisa mengetahuinya, akan bangga kepada kita, bangga dengan kita yang hidup dengan baik sesuai dengan Ajaran Buddha.

===

Jika jenazah disimpan selama beberapa hari sebelum penguburan atau kremasi, kita boleh mengundang bhikkhu (satu atau lebih) untuk memberikan khotbah Dhamma, membaca paritta atau sutta, dan menganugerahi tuntunan Tisarana dan Panca Sila. Para sahabat yang beragama Buddha boleh melayat dan membaca paritta juga. Mereka juga boleh duduk bermeditasi bersama atau mengadakan diskusi Dhamma. Pembacaan sutta tertentu dari kitab suci juga boleh dilakukan. Kita bisa memilih kutipan yang tepat dan bermanfaat dari kitab suci untuk upacara ini. [Syair bahasa Pali untuk dibaca dan direnungkan ada pada Lampiran (i) dan (ii) dari buklet ini]. Anggota keluarga dan sahabat juga boleh mengucapkan beberapa patah kata, mengenang perbuatan baik dan sifat baik dari almarhum. Jadi, seperti yang terlihat, segalanya tergantung pada keluarga almarhum apakah mereka mau mengadakan pertemuan dan pelayanan yang bermanfaat dan bermakna. Kita boleh kreatif dan melakukan hal yang baru dalam melaksanakan pelayanan tersebut untuk menghormati almarhum.

            Pada hari pemakaman atau pengkremasian, bhikkhu boleh diundang untuk membacakan paritta dan menganugerahi tuntunan Panca Sila, setelah itu mereka juga boleh memimpin atau mengikuti mobil jenazah dengan mobil yang lain ke tempat pemakaman atau krematorium. Biasanya, ada kebiasaan mempersembahkan jubah kepada bhikkhu sebagai suatu bentuk kebajikan. Anggota keluarga boleh mempersembahkan jubah kepada bhikkhu, baik di rumah sebelum berangkat ke krematorium ataupun ketika tiba di krematorium. Jubah boleh diletakkan di atas peti mati agar bhikkhu mengambilnya sebagai jubah pamsukula (jubah yang telah dibuang) atau dapat dipersembahkan langsung kepada bhikkhu. Tidak ada aturan yang baku untuk prosedur di atas. Kita boleh menyesuaikan dan mengubahnya sesuai keperluan. Setelah persembahan jubah, bhikkhu akan memimpin anggota keluarga melaksanakan pelimpahan jasa kepada almarhum dan semua makhluk. Pada tempat pemakaman atau krematorium, bhikkhu akan membacakan paritta singkat sebelum peti mati diturunkan ke dalam tanah atau dimasukkan ke dalam tungku pembakaran.

            Biasanya, pembacaan paritta diakhiri dengan syair berikut:
Anicca vata sankhara
Uppadava yadhammino
Uppajjitva nirujjhanti
Tesam vupasamo sukho
Ketidakkekalan adalah hakekat dari segala sesuatu yang berkondisi.
Secara alami timbul dan lenyap.
Setelah timbul, akan hancur dan lenyap.
Penaklukan dan penghentian keadaan tersebut adalah kebahagiaan sejati.
[Jika tidak ada bhikkhu, anggota keluarga, sanak saudara, atau sahabat dekat boleh membacakan syair ini di krematorium. Sutta lain yang berhubungan, seperti Paticca Samuppada (lihat hlm. 55) atau Salla Sutta (Anak Panah; lihat hlm. 67) juga boleh dibacakan]

            Penaklukan dan penghentian di sini menunjukkan pencapaian kearahatan, tingkat kesucian tertinggi dalam agama Buddha. Seorang arahat, yang telah terbebas dari kemelekatan, tidak akan dilahirkan kembali. Jika ada kelahiran maka akan ada kematian. Jika tidak ada kelahiran, tidak akan ada kematian. Penghentian kelahiran berarti penghentian penderitaan. Inilah kebahagiaan sejati.

===
Bersambung ...

2
Buddhisme Awal / Apakah Theravada adalah Buddhisme Awal?
« on: 28 January 2018, 12:04:55 PM »
Selengkapnya tentang beberapa sejarah maupun hipotesis kemunculan aliran-aliran dalam Buddhisme awal dapat dibaca dalam Sects and Sectarianism oleh Bhikkhu Sujato.

Bagi yang memiliki info atau sumber lain tentang aliran-aliran awal ini, silahkan menambahkan atau mengoreksi jika ada kesalahan.

Terima kasih
Tambahakan juga histori sekte buddhayana (ekayana), sama sekte tsu zhi.

3
Theravada / Jual kitab suci buddha!?
« on: 28 January 2018, 11:23:52 AM »
Ada yang tahu gak mengapa kitab suci buddha bisa "dijual" khususnya di amazon? harganya amazing juga 30 dollar lebih, belum ongkir lagi, per buku. Bukankah yang nulis kitab suci itu para bhikkhu sepuh (di sri lanka), dan lisensi hak cipta seharusnya dari para bhikkhu sepuh (pastinya mereka sudah meninggal), yang sudah pasti free, tidak mungkin berbayar.

4
Theravada / Seberapa lemah nafsu dan kebencian sakadagami!?
« on: 25 December 2017, 10:52:17 AM »
A: Dikatakan “Yang-kembali-sekali, Yang-kembali-sekali,” bagaimanakah hal ini dapat dipahami?
B: Ia terlahir hanya sekali lagi di kamaloka (alam indria) sebelum mencapai Nibbana akhir, oleh karena itu, disebut Yang-kembali-sekali. Akan tetapi, jika ia meninggal dengan jhana ia memiliki peluang mencapai Nibbana akhir tanpa kembali ke kamaloka, yaitu sebagai jahananagamita (yang-tidak-kembali-jhana) di rupaloka.
A: Mungkinkah ada metode lain untuk memahami Yang-kembali-sekali (Sakadagami)?
B: mungkin saja.
A: Apakah metode lainnya itu?
B: Dua hal yang harus ditinggalkan, yaitu (1) ketidaktahuan dan (2) keinginan akan penjelmaan. Ia tidak lagi mengingikan (haus) akan satu hal, yaitu penjelmaan/kelahiran kembali (batinnya tidak lagi menginginkan kelahiran karena lemahnya nafsu padanya); di satu sisi ia mengetahui pasti akan terlahir kembali (akibat nomor satu: ketidaktahuan). Seperti manusia yang tidak ingin mati namun ia tahu ia pasti akan mati. Pikiran akan meluncur pada satu hal, yaitu Dhamma sejati mengenai pelepasan; (satu hal lainnya) ketidakserakahan, (satu hal lainnya) tanpa permusuhan, (satu hal lainnya) tanpa kekejaman.
Ada sembilan hal yang berakar pada ketagihan, (1) pencarian = 6 landasan ekternal; (2) perolehan = mendapatkan kesenangan (keuntungan) 6 landasan ekternal; (3) pertimbangan = setelah memperoleh keuntungan, ia mempertimbangkan dengan memikirkan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, mana yang dinginkan atau ditolak; (4) nafsu; (5) kemelekatan = berhubungan dengan kepemilikan karena dapat ia melekat itu adalah miliknya tidak boleh dicuri/tidak senang kalau hilang atau rusak; (6) kepemilikan = melalui ketagihan dan pandangan; (7) menjadi kikir = enggan berbagi; (8) penjagaan = menumpuk kekayaan; (9) dimulailah pengambilan tongkat pemukul dan senjata, pertengkaran, pertikaian, dan perselisihan, penuduhan, ucapan memecah-belah, dan kebohongan, dan banyak hal-hal buruk yang tidak bermanfaat.
Yang diatas sakadagami “mulai” tidak mencarinya, jika didapatkan maka keserakahan tidak akan menguasainya, jika hilang, ia tidak bersedih karena apa? Sebenarnya ia tidak menginginkannya, jika dapat ya dapat, hilang ya hilang. Atau dengan kata lain, sakadagami sudah melemah akan “rugi”. Ia mungkin saja sedih karena kehilangan, tetapi akan segera kembali melalui peninjauan akan tilakkhana. Pada momen memasuki-arus, ia masih cukup tinggi untuk kecewa (misalnya anathapindika kehilangan anaknya, Visakha kehilangan anaknya), pada momen sakadagami, kekecewaan akan segera pudar jika terjadi padanya, seperti gigitan nyamuk, akan segera hilang jika digaruk atau dibersihkan.
Nah, pada kisah anak dari anathapindika, yaitu sumana devi, ia putus cinta dan meninggal. Janganlah seseorang mengatakan ia meninggal karena putus cinta itu, tetapi harus dipahami karena ia telah belajar menghilangkan pencarian, karena ia adalah sakadagami, jadi jika dapat cintanya ia mungkin menikah, jika tidak hal itu tidak masalah. Ia meninggal karena batas usianya yang telah habis, bukan karena putus cinta kemudian mati.
A: Apakah dengan tidak menginginkan kelahiran kembali, ia sudah dapat dipastikan sebagai sakadagami?
B: Tentu saja tidak, ini tidak dapat diperoleh begitu saja dengan hanya menginginkan. Ada tiga jenis ketagihan ini: (1) ketagihan akan kenikmatan indria; (2) ketagihan akan penjelmaan; dan (3) ketagihan akan tanpa-penjelmaan. Ketiga jenis ketagihan ini, seorang sakadagami tidak menginginkan lagi, ia tidak bernafsu lagi akan kelahiran kembali (nafsu melemah), namun di satu sisi ia tahu, ia pasti mengalami kelahiran kembali. Oleh karena itu dikatakan nafsu dari sakadagami telah melemah. Dan oleh karena itu pulalah, ia akan berjuang sekarang untuk mencapai jhana mencapai anagami hingga arahat.
Mereka yang mengatakan tidak ingin terlahir kembali namun jika ketiga ketagihan itu dapat menguasainya kapan pun bukan memotongnya maka ia harus menyadari bahwa ia masih terikat kuat oleh ketiga ketagihan itu. Atau dengan kata lain ia bukan sakadagami apalagi di atasnya.
A: Bagaimanakah lemahnya nafsu pada sakadagami, seperti apa lemahnya?
B: Di sini, seorang sakadagami, ketika mengalami kontak, nafsu akan muncul, akan tetapi nafsu itu akan terus terpotong dengan sendirinya tanpa pengerahan usaha, apalagi dengan usaha. Terutama nafsu sensual karna ini kenikmatan yang paling nikmat dari 5 utas kenikmatan namun pada sakadagami justru sangat lemah.
Mis: ia memainkan sensasi 18+ dalam sesi permainan sendiri, nafsu akan memotongnya, atau dengan kata lain, bukannya makin menggebu-gebu, setiap sesi, nafsu akan mandek hingga merosot turun tanpa usaha, apalagi dengan usaha. Pada kasus sotapanna, nafsu akan menggebu-gebu seperti kaum biasa. Akan tetapi, pada momen sakadagami, nafsu yang menggebu-gebu sekali pun, akan mandek dan terpotong-potong, ia mengetahuinya! Ia merasakan sensasi yang sama bukan berbeda atau tidak ada sensai namun nafsu mulai memudar ketika dikobarkan. Karena apa? Karena ia telah memasukkan senjata pada pandangan benar, berbeda dengan sotapanna yang pandangan benarnya tanpa senjata ketika nafsu dinikmati tanpa pelanggaran. Apakah senjata itu, yaitu objek asubha, atau 32 organ tubuh (yang paling umum). Ketika ia melakukan aksi itu, pikirannya telah tertanam bahwa ia sedang menikmati sebongkah daging, tulang, tahi, darah, ingus, nanah, dll. (atau jika ia menggunakan metode asubha maka akan tampak sedang bermain dengan mayat, menjijikkan bukan?)
Atau misalnya ia melakukannya dengan istri, itu akan tampak bayangannya bahwa perempuan itu (istrinya) seperti sebongkah daging, tahi kotoran, keringat, darah (darah itu kayak ludah, bau!), bau busuk! Ia merasakan sensasi yang sama (nikmatnya hubungan kelamin sama seperti orang lain) namun seperti yang dikatakan nafsu itu mandek! Terus memotongnya (menurun) seperti kakek tua hanya beberapa sesi sudah lemah, tetapi dalam kasus ini, ia masih kuat dan mungkin tahan lama namun nafsunya melemah, bukan orangnya. Seperti halnya anak kecil itu, sekuat apa pun ia mengerahkan kekuatannya, ia tidak akan sanggup menahan beban orang dewasa, ia akan kewalahan atau seperti perempuan biasa yang tidak akan tahan menahan beban berat, dimana laki-laki karena memiliki otot yang banyak akan dapat menahan beban yang lebih berat, misalnya: laki-laki dapat menggendong perempuan. Dapatkah perempuan dewasa mengendong laki-laki dewasa dan menaikkan tinggi-tinggi? Secara umum tidak bisa, kecuali lelakinya kurus kering, itu pun berat bagi perempuan, selemah itulah nafsu sakadagami. Atau seperti halnya lima jari, jari yang paling lemah adalah kelingking, seperti itulah lemahnya nafsu sakadagami. Tetapi janganlah mengatakan sakadagami orang loyo, bukanlah demikian, nafsunya walau dikobarkan, itu akan segera melemah, ini maksudnya. Nafsunya lemah, tetapi semangat mungkin lebih kuat dari orang biasa.
Jika kita berbicara lebih jauh lagi, mungkin akan semakin jorok pembicaraan ini.
(Kenikmatan indria dalam Disiplin Yang Mulia adalah disebut objek-objek indria karena apa? Karena itu hanya berupa nafsu.)
A: Jika demikian, apakah ia tidak menikmati hal itu?
B: Ia bisa saja menikmatinya karena masih ada nafsu, tetapi sudah mandek. Kalau menggebu-gebu, itu akan segera merosot. Ketika 3 akar disatukan, nafsu yang mandek itu akan bertahan bukan menurun. Yaitu ketika (1) delusi + (2) landasan internal + (3) objeknya -- mendapat posisi tepat maka nafsunya akan naik namun perlu diketahui, itu sudah mandek, Setinggi, sekuat apa pun nafsunya, akan, segera menurun, ketika ketiga itu mendapat tempat yang tepat maka akan mandek walaupun menggebu-gebu di awal, akan, segera mandek dan harus dikerahkan usaha untuk menurunkan nafsu.
A: Seperti apa posisi yang tepat itu?
B: Dilakukan dengan orang yang dicintai karena mungkin sudah lama tidak melakukan atau faktor lain, seperti permintaan istri atau mungkin si sakadagami ingin istrinya senang. Satu hal lagi, Sakadagami hanya memuaskan lawan jenis, ia tidak lagi berhasrat memuaskan dirinya karena ia tahu ia tidak akan puas akan permainan nafsu seperti orangtua yang bermain robot-robot atau boneka dengan anaknya, ia tahu ia tidak menyenangi permainan anak-anak itu namun hanya agar anak itu senang saja. Nafsunya lemah, tetapi mau menaikkan nafsu orang, alasannya karena kebencian telah melemah, ia tidak ingin menyakiti istrinya.
A: Apakah hanya nafsu seksual yang melemah?
B: Semuanya, 5 utas kenikmatan: --benuk-bentuk, suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, dan objek sentuhan--. Nafsu yang paling nikmat adalah kontak-badan makanya di urutan buncit, kelima utas kenikmatan ini bisa dijumpai lengkap pada lawan jenis; ketika lima utas ini dinikmati sekaligus, nafsu seseorang akan berkobar-kobar, secara kodrat hal ini hal yang biasa. Pada momen sakadagami, itu juga mungkin saja terjadi pada istri/suaminya namun akan segera menurun seperti seseorang yang melambungkan beban ke atas, akan melambung sesuai kemampuannya namun benda itu akan segera turun (jatuh) demikianlah nafsu si sakadagami akan segera turun sehebat apa pun dikobarkan. Ia memang merasakan sensasi kenikmatan yang sama namun nafsunya, keserakahan akan nafsu telah melemah. Memang agak sulit menjelaskan seberapa lemah nafsunya karena nafsu lemah, seperti kasus ini, mungkin akan berkobar nafsunya, si sakadagami tampak seperti kaum biasanya namun kenyatannya nafsunya sudah berbeda dengan kaum duniawi, ia tidak lagi mendewakan kenikmatan indria.
Pada pikirannya, pikirannya juga akan gencar melawan nafsu, si sakadagami akan dengan sendirinya perlahan mulai memotong pikiran-pikiran tidak bermanfaat. Tetapi pikiran itu cukup luas, oleh karenanya, ia akan mengejar meditasi.
A: Apa itu pikiran tidak bermanfaat?
B: Pikiran bernafsu, pikiran serakah, pikiran niat jahat, pikiran kerinduan, pikiran kekejaman, ini tidak bermanfaat karena hanya berupa hayalan semata. Sakadagami mulai tidak membenci (kebencian masih ada namun halus/lemah) akan hal apa pun (sotapanna kadang galau kalau akibat buruk yang besar berbuah atau orang yang dicintai meninggal misalnya anathapindika saat anaknya meninggal dan visakha saat anak/cucunya meninggal, akan galau), mulai menghindari fitnah, ucapan kasar, dan gosip (sotapanna masih bisa muncul di sini, terutama ucapan kasar dan gosip). Gosip adalah obrolan tanpa tujuan: misalnya bicara pemerintah, balap, sepakbola, bisnis ini itu, sakadagami sudah mulai menghindari pembicaraan ini, ia akan mengejar pembicaraan Dhamma. Pemasuk-arus masih menyukainya (gosip) namun ia akan membicarakan hal yang benar, bukan kebohongan apalagi sakadagami.
A: Lalu apa itu pikiran bermanfaat?
B: Sebaliknya, mengejar pikiran yang tanpa nafsu, pikiran tanpa keserakahan, pikiran niat baik, pikiran tanpa-kerinduan, pikiran tanpa-kekejaman, ini bermanfaat karena hayalan akan berkurang.
A: Apakah ada metode lain untuk mejelaskan sakadagami?
B: Ada. Di sini ia telah menghancurkan 3 belenggu, yaitu pandangan identitas, keragu-raguan skeptis, cengeraman keliru pada sila dan upacara (kewajiban), dan dengan melemahnya dua belenggu: nafsu (keserakahan [lobgha]) dan niat jahat (permusuhan dan kekejaman).
Nafsu dan niat jahat adalah bagian dari kehendak salah. Kehendak Benar = kehenedak meninggalkan duniawi, kehendak tanpa permusuhan, kehendak tanpa kekejaman. Ini disebut kehendak benar.
A: Di sutta dikatakan ada 4 faktor memasuki arus yang dengannya seseorang dapat mengetahui ia sebagai pemasuk arus, ada berapa faktor seseorang menjadi sakadagami?
B: Sebelumnya saya jelaskan sedikit tentang sotapanna. Memang dikatakan itu 4 faktor memasuki-arus, akan tetapi itu adalah hasil. Seperti pohon menghasilkan buah. Sotapanna adalah menghancurkan 3 belenggu, dengan hancurnya 3 belenggu, 4 faktor akan terpenuhi dengan sendirinya. Hanya dengan 4 faktor itu, ia tidak bisa disebut pemasuk-arus karena itu adalah hasilnya. Intinya ia harus mengutamakan penghancuran 3 belenggu dengan 4 faktor sebagai pegangan (peninjauan). Banyak orang fokus di 4 faktor itu kemudian mengabaikan 3 belenggu dan yang lebih parah lagi, ia melalaikan belenggu ke tiga dengan mengatakan: 2 belenggu telah cukup. Ini seperti mencabut pohon dengan menyisakan akar, ia tidak akan memasuki-arus hanya melenyakan 2 belenggu, tetapi harus 3 belenggu. Untuk meyakinkan jika 3 belenggu telah berhasil maka ia akan memeriksa apakah 4 faktor telah ada? Jika tidak ada maka ia seharusnya dapat menyimpulkan bahwa ia belum sepenuhnya menghancurkan 3 belenggu, tetapi jika ia melirik 4 fatkor itu ada padanya maka ia dapat menyimpulkan ia adalah pemasuk-arus, dengan peninjauan berulang-ulang. 4 faktor itu ada kesimpulan, untuk meyatakan pencapainnya sendiri. 2 belenggu pertama dibagi atas dua: pandangan identitas dan kecenderungan tersembunyi akan pandangan identitas; keragu-raguan dan kecenderungan tersembunyi akan keragu-raguan. Jika kecenderungan tersembunyi masih bersemayam maka dapat dipastikan, ia bingung akan belenggu nomor 3. Walaupun ia mengetahui: “Ini bukan milikku (hancur pada momen anagami); ini bukan aku (hancur pada momen Arahat), ini bukan diriku (hancur pada momen Sotapanna).” Tetap saja jika belenggu nomor tiga belum hancur, kecenderungan tersembunyi belenggu satu dan dua sebenarnya masih bersemayam. Ketiga belenggu dihancurkan tanpa sisa, bukan sementara, bukan terka-terkaan, tetapi hancur tanpa sisa.
4 hal yang dapat memunculkan penglihatan Dhamma, yaitu
pergaulan dengan orang baik (tidak berteman [tidak membencinya] dengan orang jahat = pelanggar 5 sila),
mendengarkan Dhamma Sejati;
perhatian seksama;
praktik sepenuhnya akan Dhamma itu. Ini harus dipegang kuat-kuat.
Jika ia telah memenuhi keempat ini, ia harus melirik silanya: “Apakah aku mejalankan 5 sila hanya karena takut alam rendah atau mendapat kelahiran kembali yang baik atau karena ingin memasuki ariya magga?” Jika ia tidak memiliki pemikiran bahwa menjalankan sila adalah untuk dapat mengejar jalan sotapanna maka dapat disimpulkan 4 hal yang dapat memunculkan penglihatan Dhamma sebenarnya ada yang salah, misalnya Dhamma-nya dibabarkan buruk/adhamma, atau ia tidak dapat membedakan mana yang teman baik mana teman buruk (ia membenci yang tidak ia sukai, ini harus dihilangkan, ia harusnya akrab dengan siapa pun namun menjalin ikatan kuat dengan mereka yang baik), atau perhatiannya selalu kacau, atau ia sebenarnya jarang mempraktekkan Dhamma.
Yang harus diperhatikan lebih adalah 3 belenggu dengan 4 faktor sebagai pegangan. 4 faktor inilah yang nantinya akan terus ditinjau ulang. Jika ragu, ia akan kembali ke 3 belenggu; bahkan jika ia sudah yakin, tiba-tiba muncul kecenderungan tersembunyi akan ketidakyakinan, itu dapat dipastikan belenggunya masih tersisa.
Pada kasus sakadagami, Sang Buddha memang tidak memberikan faktor apa saja namun Sang Buddha menjelaskan tentang 5 belenggu rendah, jika hancur maka akan mencapai Anagami, tetapi jika lemah maka telah merealisakan sakadagami. Atau dengan kata lain, kita sebenarnya dapat menyimpulkan: bahwa sakadagami pasti mengetahui pencapaianya, dengan menguji dirinya apakah ia penuh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan. Seperti apa pengujiannya, seperti pertanyaan pertama hingga terkahir dan mungkin ada sakadagami yang lebih hebat atau mandek atau yang lebih rendah.
Intinya nafsunya mulai dapat terpotong dengan sendirinya, nafsunya sudah mandek, itulah sakadagami, kebencian mulai dapat terpotong dengan sendirinya, kebencian sudah mandek, itulah sakadagami, keserakahan mulai dapat terpotong dengan sendirinya, keserakahan sudah mandek, itulah sakadagami, hayalan aneh-aneh tentang masa depan, masa lalu, dan masa sekarang mulai terpotong, itulah sakadagami, niat jahat mulai dapat terpotong dengan sendirinya, sudah mandek, itulah sakadagami, Seperti halnya tisu basah jika dibakar dengan mancis/atau korek api, maka api akan berhenti di tengah jalan, seperti halnya kuku ditekan dikulit (kayak saat digigit semut, seseorang memberikan tanda dengan kuku), akan segera menghilang dengan sendirinya, tidak ada rasa sakit.
A: Lalu praktik apa yang mengarah menuju sakadagami?
B: Harusnya ia telah menghancurkan tiga belenggu, jika tidak, itu adalah mustahil.
A: Jika sudah melenyapkan 3 belenggu, apa yang harus dilakukan untuk mencapai Sakadagami?
B: Ia harus benar-benar telah menghancurkan 3 belenggu. Jika 3 belenggu telah lenyap, ia akan mulai menghindari perdebatan, ia akan mulai tidak mencari-cari kesalahan orang lain walaupun orang itu salah, ia akan mulai meninggalkan sikap kekeraskepalaan, ia akan mulai tidak menghina orang lain yang bisa menyebabkan celaan panjang. Ini beberapa hal spesial dari pemasuk-arus (pada momen sakadagim hal ini lebih mantap lagi), jika hal ini masih di luar jangakauannya, ia seharunya dapat dipahami, bukan pemasuk-arus, 3 belenggu belum tuntas.
Jika memang 3 belenggu telah hancur bukan karena menilai terlalu tinggi atau bohong, ia tidak mungkin maju di jalan Sakadagami atau yang lebih tinggi. Tetapi jalan memasuki-arus sebenarnya juga belum dicapai.
Yang mendukung sakadagami adalah kemampuan memasuki-arusnya, itu sudah pasti. Kemudian ia mulai mempelajari inti Ajaran Buddha secara menyeluruh, yaitu Empat Kesunyatan Mulia. Yang ingin menjadi sakadagami harusnya belajar untuk mengetahui apa itu Kebebaran Mulia penderitaan (secara mendalam, dengan catatan telah lulus sotapanna), asal mulanya, lenyapnya dan jalan menuju lenyapnya (bukan hapal mati).
Di Jalan Mulia Berunsur Delapan, Pemasuk arus hanya lulus (sempurna) Pandangan Benar. Oleh karena itu, sotapanna dikenali sebagai Yang-sempurna-dalam-pandangan. Ucapan benar hingga konsentrasi benar, Sotapanna hanya lebih unggul di moralitas, yaitu ucapan benar, perbuatan benar, dan penghidupan benar (belum sempurna), selebihnya masih mengalami banyak hal yang harus ditekuni, kelanjutannya itulah sakdagami. Sotapanna menikmati kepunyaan sendiri, tidak bermusuhan jika tidak diganggu, sedikit kesal jika diganggu, masih membenci mereka yang menyakiti orang yang disukai jika diganggu, atau jika orang lain menghina Ajaran Buddha, pemasuk-arus akan kecewa dengan orang itu, sementara mereka yang berlatih memasuki jalan sakadagami atau telah lulus maka jika kecewa hal itu hal yang segera kembali karena permusuhan telah melemah dan karena metode pembelajaran telah dikejar (pengembangan Jalan Mulia Berunsur Delapan), dalam kasus ini adalah 8 kondisi duniawi, salah satunya celaan telah ia pahami dengan baik, sotapanna masih mau pujian (kadang membanggakan diri sendiri seperti orang biasa), celaan masih menggangu pikirannya, terutama jika celaan itu cukup menusuk. Pada momen Sakadagami karena kebencian telah melemah, celaan itu ia anggap hal yang pasti terjadi bahkan Sang Buddha masih bisa dihina si dungu, jadi bagaimana mungkin ia tidak akan dihina?
Sotapanna lebih mengandalkan praktik daripada teori. Bukan berarti teori tidak penting, tetapi intinya ia lebih suka orang berbuat daripada berbicara doang. Walaupun ada juga orang biasa yang demikian namun sotapanna berhubungan dengan 5 sila dan mengenai Ajaran Buddha.
Sakadagami mengandalkan rumus: praktik + teori + praktek. Di sini, sakadagami mempraktekkan dan mempelajari yang lebih tinggi lagi, terutama mengejar pencapaian absorpsi karena nafsu adalah halangan utama dari absorpsi, ia telah melemah nafsunya maka perjuangan akan membuahkan hasil yang lebih cepat (jika konsentrasi mantap) karena nafsu tidak perlu ditahan kuat-kuat seperti pemasuk arus atau dibawahnya, tetapi memang sudah melemah pada sakadagami, dan berlatih dalam praktek yang lebih tinggi. Inilah maksudnya.
Perlu dicatat, bahwa orang biasa bisa saja seperti ini namun bedanya adalah kebijaksanaannya, mereka memahami itu, orang biasa hanya hapal mati atau menjelaskan berdasarkan yang diajarkan atau yang tertera atau asumsinya namun sotapanna, ia memahaminya dan mencapainya, sakadagami memahami, mencapai dan mendalami lebih.

5
Theravada / Anapanasati = vayo kasina; anapanasati = vipassana
« on: 23 December 2017, 10:08:16 AM »
Adakah yang berlatih meditasi pernapasan? Hampir semua meditator. Tetapi adakah yang mencapai jhana dengan meditasi ini? Hampir dipastikan jawabannya senyap.
Mari kita kunjungi MN 10. Adakah di akhir atau di awal atau dipertengah sutta itu (MN 10) membahas jhana? Dengan cukup terasing ..... hingga jhana ke empat? Tidak ada! Adakah sutta lain tentang meditasi pernapasan juga jhana mengikuti dalam penjelasan? Saya pikir tidak ada. Adakah komentar di sutta menyatakan meditasi pernapasan menghasilkan jhana? Kita kesampingkan hal ini dulu karena Buddhaghosa mengatakan ada sekitar 20 meditasi dapat menghasilkan jhana.

Jika kita baca MN 10, kita akan melihat di sana dibahas Perhatian Benar dan Pandangan Terang. Apa itu Perhatian Benar? Ada 4 yaitu: berdiam merenungkan 1. jasmani sebagai jasmani, 2. perasaan sebagai perasaan, 3. pikiran sebagai pikiran, 4. objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh perhatian dan kewaspadaan setelah meninggalkan kerinduan akan dunia. Ini disebut Perhatian Benar. Dan apakah Konsentrasi benar? jhana 1 hingga 4. Ini disebut konsentrasi benar. Adakah ini dibahas di sana? di MN 10? Tidak ada! Yang dibahas pandangan Terang.

Perenungan Jasmani
1. Perhatian pada Pernafasan
“Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani? Di sini, seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke sebuah gubuk kosong, duduk; setelah duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya, penuh perhatian ia menarik nafas, penuh perhatian ia mengembuskan nafas. Menarik nafas panjang, ia memahami: ‘Aku menarik nafas panjang’; atau mengembuskan nafas panjang, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas panjang.’ Menarik nafas pendek, ia memahami: ‘Aku menarik nafas pendek’; atau mengembuskan nafas pendek, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas pendek.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami keseluruhan tubuh’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami keseluruhan tubuh.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani.’ Bagaikan seorang pekerja bubut yang terampil atau muridnya, ketika melakukan putaran panjang, memahami: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau ketika melakukan putaran pendek, memahami: ‘Aku melakukan putaran pendek’; demikian pula, menarik nafas panjang, seorang bhikkhu memahami: ‘Aku menarik nafas panjang’ … ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani.’

Pandangan Terang
“Dengan cara ini ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, atau ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan sifat munculnya dalam jasmani, atau ia berdiam merenungkan sifat lenyapnya dalam jasmani, atau ia berdiam merenungkan sifat muncul dan lenyapnya dalam jasmani. Atau penuh perhatian bahwa ‘ada jasmani’ muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.
https://suttacentral.net/id/mn10

Adakah dibahas jhana? Tidak. Yang ada dibahas Perhatian Benar dan pandangan Terang.
Kesimpulan saya:
1. pembahasan ini diberikan kepada mereka yang tidak mampu mencapai 4 jhana atau lebih, atau biasanya yang hanya memiliki 1-3 jhana
2. Dengan perhatian benar dam pandangan teranglah mereka mencapai anagami atau arahat, bagi mereka yang sudah lulus jhana namun tidak bisa maju hingga 8 pencapaian.
3. Jika mencapai Arahat maka mereka akan melatih ini dan muncullah istilah Arahat tanpa jhana. Ketika menjadi Arahat, ia akan meninggalkan jhananya, dengan hanya fokus pada pernapasan.

Pertanyaan: dikatakan bodhisatta Gotama mencapai jhana dengan anapanasati saat berusia sekitar 7 tahun, duduk di bawah pohon jambu?
Coba kita gali lebih dalam, selama 6 tahun bodhisatta Gotama melakukan praktek ekstrim, ia memiliki 8 pencapaian namun tidak menggunakan satu jhana pun! Apa yang beliau gunakan selama 6 tahun? Saya berasumsi, beliau menggunakan meditasi pernapasan! Tidak menghasilkan jhana, hanya berupa ketenangan.
Di MN 36 tentang Saccaka, Beliau mengatakan saat praktik ekstrim beliau ttetap tidak tergoyahkan oleh praktik ekstrim itu, sementar beliau tidak menggunakan satu jhana pun. Dengan begitu, memungkinkan jika beliau menggunakan anapanasati sebagai meditasi tanpa jhana. Atau bisa juga dikatakan sebagai jhana kering.
Mengenai pencapaian jhana di bawah pohon jambu itu, saya berasumsi seperti judul di atas: anapanasati = vayo kasina (unsur udara). Artinya anapanasati yang dipakai adalah udara nafas. Coba kita pertimbangkan meditasi kasina udara: meditator duduk di bawah pohon merasakan angin yang datang, menuju tubuhnya atau pohon. Tetapi, kadang angin tidak datang, bagaimana ia melanjutkan meditasinya? Saya berasumsi ia menggunakan udara nafas masuk-keluar itu sembari menunggu angin.
Seperti halnya 32 organ tubuh, itu menurut saya tidaklah menghasilkan jhana, karena objeknya hingga 32. Menurut saya di sana meditator mengembangkan salah satu dari kasina warna atau unsur. Misalnya: kulit sebagai warna kuning; tulang sebagai warna putih, biru untuk rambut (rambut = biru kehitaman); merah: daging dan darah. 32 organ tubuh itu adalah Pandangan Terangnya.

Yang bisa menghasilkan jhana hanyalah 10 kasina. Selebihnya adalah untuk pandangan Terang. Kalau kita lihat, anapanasati masuk kategori perenungan, yaitu subjek perenungan, bukan objek. Objek yang tepat adalah 10 kasina

Bagaimana tanggapan teman-teman? Ini hanya asumsi saya mengatakan anapanasati sebenarnya adalah pandangan terang dan jika udara yang digunakan maka adalah vayo kasina (kasina angin).

6
Theravada / Adakah peluang mencapai Nibbana di zaman sekarang?
« on: 21 December 2017, 10:03:57 AM »
Sang Buddha lahir pada tahun 623 Sebelum Era Umum dan ada versi ke dua yang menyatakan 563 SEU
Sang Buddha hidup hingga 80 tahun, Parinibbana pada tahun 543 SEU atau versi ke dua = 483 SEU

Di Sutta dikatakan jika bhikkhuni tidak masuk Sangha maka kemurnian Dhamma Vinaya adalah 1.000 namun karena bhikkhuni ada di zaman Sang Buddha maka kemurnian Ajaran Buddha adalah 500 tahun. (Sang Buddha tidak mengatakan Dhamma akan lenyap; buktinya Empat Kesunyatan Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan masih utuh dengan sempurna hingga sekarang.)

Di Mahaparinibbana Sutta dikatakan selama Jalan Mulia Berunsur Delapan masih ada dan dipraktikkan, dunia ini tidak akan kosong dari Arahat (tidak mungkin tidak ada yang mencapai Arahat).

Kitab Komentar Ceylon menyatakan setelah Sang Buddha Parinibbana maka ada 1.000 tahun (456 Era Umum) untuk dapat mencapai Arahat 6 abhinna, 1.000 tahun (tahun 1456) arahat yang terbebaskan melalui kebijaksanaan, 1.000 tahun (tahun 2456) Anagami (tidak ada lagi Arahat); 1.000 tahun (tahun 3456) Sakadagami; 1.000 tahun (tahun 4456) Sotapanna.

Jika dihitung dari versi ke dua maka tinggal tambahkan 60 tahun, tetap saja di zaman sekarang tidak ada lagi Arahat, namun Anagami masih bisa dicapai dengan sisa 400 tahun lebih.

Namun versi Komentar Burma mengatakan bahwa setiap 500 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana maka ada 500 tahun (45 SEU) untuk menjadi Arahat yang lengkap abhinna, 500 tahun  (456 Era Umum) untuk Arahat yang terbebaskan dengan kebijaksanaan, 500 tahun (tahun 956) Anagami (tidak ada lagi Arahat); 500 tahun (tahun 1456) Sakadagami; 500 tahun (tahun 1956) Sotapanna. Kemudian kembali lagi 500 tahun (tahun 2456) untuk menjadi Arahat yang lengkap abhinna, 500 tahun  (tahun 2956) untuk Arahat yang terbebaskan dengan kebijaksanaan, 500 tahun (tahun 3456) Anagami (tidak ada lagi Arahat); 500 tahun (tahun 3956) Sakadagami; 500 tahun (tahun 4456) Sotapanna.

Jika dilihat dari pernyataan kitab Komentar Burma, maka seharusnya tahun 1957 sudah ada Arahat. Namun, jika kita gunakan versi ke dua dari kelahiran Sang Buddha hingga Parinibbana maka kita akan mendapatkan tahun 2016 (ditambah 60).

Artinya kemunculan Arahat seharusnya sudah ada pada tahun 2016.

Kemungkinan yang bisa terjadi adalah:
1. Berdasarkan versi Sri Lanka maka yang pencapaian paling tinggi adalah Anagami
2. Berdarakan versi Burma maka Arahat masih memungkinkan hingga tahun 2956 (sekarang tahun 2017)
3. Versi Burma jika menggunakan tahun Sang Buddha Parinibbana adalalah 543 SEU maka seharusnya ada Arahat di tahun 1957 (60 tahun telah berlalu, tidak ada jejak kemunculan Arahat).
4. Namun jika kita gunakan versi Sang Buddha Parinibbana di tahun 483 SEU maka Arahat memungkinkan muncul di tahun 2016.

Jika kita lihat, kemungkinan nomor 4 cukup meyakinkan karena kita lihat di zaman ini banyak sekali yang meragukan pencapaian sotapanna karena tahun 2016 itu akhir pencapaian sotapanna atau mungkin beberapa tahun sebelum memang sudah agak kosong, atau dengan kata lain, 500 tahun sebelumnya dari tahun sekarang sebenarnya tidak ada sakadagami hingga anagami dan arahat, yang ada sotapanna dan setelah lewat lebih dari 250 tahun, sotapanna sudah mulai berkurang. Dan lagi, kita lihat perkembangan Buddhisme di tahun sekarang mulai maju, jadi kemungkinan nomor 4 cukup meyakinkan. Orang sekarang gencar mengahapal sutta banyak-banyak saking gencarnya mereka mengabaikan 4 Kesunyatan Mulia, lebih mementingkan di luar itu padahal, Ajaran Buddha cukup singkat, hanya Empat Kesunyatan Mulia. Inilah yang seharunya dikejar, dijadikan prioritas utama. Bukan berarti yang lainnya tidak penting, yang lainnya seharunya dijadikan sekunder. Empat Kesunyatan Mulia harus dijadikan prioritas untuk dipelajari, kemudian dipraktekkan.
Jika nomor 4 sesuai fakta maka seharusnya sudah ada Arahat yang memiliki 6 abhinna, 8 pencapaian atau mungkin bisa menunggu beberapa tahun lagi karena baru mulai masuk ERA ARAHAT!_/\_

Pages: [1]