Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - Hikoza83

Pages: [1] 2 3 4 5
1
Buddhisme untuk Pemula / METTA
« on: 06 May 2009, 08:46:52 AM »
Dalam bahasa Inggris, kata “Love” sering mengacu pada “sesuatu yang saya sukai”. Misalnya, “saya suka nasi yang lembek”, “saya suka mangga yang manis”. Artinya kita memang sungguh-sungguh menyukainya. Menyukai berarti menjadi melekat kepada sesuatu, seperti makanan misalnya, yang memang benar-benar kita sukai ataupun kita nikmati.

Metta berarti Anda mengasihi musuh-musuh Anda; hal ini tidak berarti Anda menyukai musuh-musuh Anda.

Jika seseorang bermaksud membunuh Anda dan Anda berkata, “Saya menyukai dia”, ini adalah suatu ketololan!

Akan tetapi kita dapat mengasihi mereka, yang berarti kita dapat menjauhkan diri dari pikiran-pikiran buruk dan kedengkian, dari berbagai keinginan untuk melukai atau membinasakan mereka. Meskipun Anda mungkin tidak menyukai orang tersebut - orang celaka dan keji itu - Anda dapat tetap bersikap baik, murah hati, serta toleran terhadap mereka. Jika seorang pemabuk masuk ke dalam ruangan ini dalam keadaan kumal dan menjijikan, buruk dan berpenyakit, dan tiada suatu apapun yang menarik pada dirinya, kita mengatakan, “Saya menyukai orang ini”, tentu itu hal yang menggelikan.

2
Kafe Jongkok / Menimang Laba dari Boneka Nan Lucu
« on: 16 April 2009, 01:40:28 PM »
Kamis, 16 April 2009 | 08:21 WIB

KOMPAS.com — Kalau menyebut boneka, pasti Anda membayangkan mainan anak-anak berbentuk figur manusia yang cantik dan menggemaskan. Namun, banyak pula orang yang tetap suka mengoleksi boneka hingga dewasa dan tua. Selain sebagai benda koleksi, banyak pula yang menggunakan boneka sebagai bagian dari dekorasi ruangan.

Dengan pasar yang begitu besar, tak heran bisnis boneka terus berkembang. Irina Suharto telah menikmati sukses dari bisnis boneka ini. "Boneka saya hand made, bukan pakai mesin," ungkap Irina. Selain itu, ada ciri khas yang unik, yaitu boneka yang mencerminkan etnik tertentu, yang tecermin pada aneka ragam baju yang dikenakan si boneka.

Misalnya, ada boneka yang dibalut baju tradisional Meksiko, Belanda, dan Jepang. Tentu saja ada boneka yang mengenakan pakaian daerah Indonesia. Dengan keunikan itu, tak heran kalau boneka buatan Irina mempunyai daya tarik sendiri di pasar boneka. Lantaran peminat lumayan banyak, dia sampai harus merekrut delapan pekerja untuk memenuhi permintaan pasar.

Meski bisa menjadi teman bermain si kecil, boneka etnik kreasi Irina lebih banyak dipakai orang untuk dekorasi, misal dipajang di ruang tamu.

Irina menggeluti bisnis ini sejak pertengahan 2005. Ide bisnis ini muncul dari kegemaran Irina membuat boneka di sela-sela kesibukannya. "Sejak 1996 saya hobi mengutak-atik boneka dan belajar bikin boneka sendiri," ajar Irina.

Marginnya lebih dari 100 persen

Hobi Irina pun berubah menjadi ladang bisnis tatkala seorang teman mengajak Irina ikut pameran dan memajang boneka bikinannya. Ajang pameran pertama yang diikuti Irina adalah pameran di Brunei Darussalam. "Waktu itu saya bawa 100 boneka yang pernah saya buat," pasar Irina.

Tak disangka, lewat pameran tersebut produk Irina mulai dikenal luas dan diminati banyak orang. Maka, dengan modal koleksi boneka yang telah ia buat sebelumnya, Irina mulai berbisnis.

Seiring meningkatnya permintaan, dia merekrut empat pekerja dan kemudian menambah lagi hingga delapan pekerja. "Saya memproduksi boneka berdasarkan pesanan pembeli," katanya.

Kini, total produksi Irina sekitar 100-400 boneka per bulan tergantung permintaan pasar. Boneka tersebut dijual mulai dari Rp 45.000 untuk ukuran 12 cm sampai Rp 350.000 untuk ukuran 45 cm.

Kini Irina menerima pesanan boneka etnik dari sejumlah negara, di antaranya Brunei Darussalam, India, Jepang, Turki, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Mereka mengenal produk Irina lewat pameran-pameran yang secara rutin ia ikuti. Irina juga memajang produknya di outlet yang ia miliki di Jakarta. Sebagian besar  pembeli Irina adalah kolektor.

Menurut Irina, peluang pasar boneka etnik cukup besar, bahkan ia belun bisa memenuhi semua permintaan. "Karena saya mau total menjaga kualitas," katanya.

Irina mengaku, omzet rata-rata per bulan Rp 15 juta. Tapi tingkat keuntungan alias marginnya besar, bisa lebih dari 100 persen.

Bagi yang mau menjajal bisnis ini, menurut Irina, cukup menyediakan modal Rp 3 juta dan Anda bisa menghasilkan 100 boneka. Dalam usaha ini memang bukan uang yang utama. Uang hanyalah modal pendamping. Modal utamanya adalah imajinasi untuk membuat desain baju dan karakter boneka. "Selama ini saya mendapat ide dari buku-buku dongeng yang banyak desain baju lucu," kata Irina. (Dessy Rosalina/Kontan)

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/16/08214281/menimang.laba.dari.boneka.nan.lucu

3
Tibetan / PENGENALAN TENTANG LAMRIM
« on: 15 April 2009, 10:30:15 AM »
artikel berikut ini adalah tulisan dari saudara bodhimanggala di Dharmajala pada tanggal 15 May 2005. Dengan melihat manfaat mendalam dari pengenalan Buddhadharma secara luas dan utuh, baik Theravada, Mahayana, maupun Vajrayana, saya bermaksud membaginya kepada para kalyanamitra. setelah membaca tentang apa yang disampaikan dalam artikel ini, dapat membantu kita dalam memperluas wawasan dan pengetahuan kita tentang praktek Buddhadharma dalam kehidupan sehari-hari.

semoga buddhadharma dapat berkembang di seluruh penjuru Nusantara, dan semoga semua makhluk memperoleh manfaatnya.
 _/\_


By : Zen

4
Lingkungan / SRIWIJAYA, Riwayat Masa Lampau
« on: 01 April 2009, 12:56:57 AM »
malam ini, saya tertarik dengan artikel2 sejarah indonesia masa lampau..
setelah searching cukup lama di google,
akhirnya ketemu artikel yang cukup menarik dan komplit..
saya pikir sayang kalau ngga dibagi dengan anak2 DC, karena saya belajar sesuatu dari sana.. :)
semoga bermanfaat..
 _/\_


By : Zen

5
Humor / MOVED: Tokai ^^
« on: 28 March 2009, 09:54:42 PM »
maaf, di sensor dulu ya.. :)


By : Zen

6
Kafe Jongkok / Dari Kompos Menjadi Tempe
« on: 25 March 2009, 07:32:48 AM »
Dari Kompos Menjadi Tempe

Selasa, 17 Maret 2009 | 22:26 WIB

KOMPAS, KOMPAS.com - Tahukah Anda bahwa jamur kompos (media tanam padat hasil pengolahan sampah organik) bisa menjadi bahan utama pembuatan tempe, tempe gembus, dan tahu?

Inilah yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Nasional pada Bedah sains yang mengangkat tema "Mengubah Sampah menjadi Sumber Rupiah" di Jakarta, Sabtu (14/3).

Melalui proses laboratorium kompos diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan jamur bernama Rizopus. Proses ini menurut Ika Sugiarti, mahasiswi Bio Industri Unas hanya bisa dilakukan pada uji laboratorium. Namun, masyarakat umum bisa membeli secara bebas di pasar-pasar tradisional dengan nama Larutempe.

"Ambil satu gram kompos dicampur 10 mili air aqua des. Dari sini campuran itu kembali diencerkan agar proses isolasi benar-benar murni. Kembali diambil lagi 1 mili cairan itu, masukkan kedalam medium selektif dan dicampur dengan 10 mili aqua des. Ini dilakukan selama 10 kali berturut-turut dengan mengawalinya melalui fortex (pengocokan)," katanya saat menjadi pemandu dalam bedah sains tersebut.

Selanjutnya dari 10 medium selektif ini dihasilkan dua bakteri bernama Basilus Naptilus, Pseudunomas dan satu jamur bernama Rizopus.

Dari sini, rizopus bisa langsung dipergunakan untuk kedelai yang akan diubah menjadi tempe, tempe gembus dan juga tahu. Dengan perbandingan satu kilo kedelai yang telah direbus menggunakan satu gram rizopus, begitupun dengan tempe gembus dan tahu.

Masa fermentasi, menurut Ika tidak jauh berbeda dengan produk pasar lainnya (larutempe) yang menghabiskan waktu 2-3 hari.

Namun Ika dan kawan-kawan belum melepas ke pasar Indonesia. "Ya, ini hanya sebatas uji laboratorium dan proses pembelajaran teman-teman akademik," Ika merendah.

Kata Ika, penelitian ini telah dilakukan sejak 2004. Berangkat dari ketidakpuasan mengolah sampah-sampah organik menjadi kompos, Ika dan kawan-kawan lantas berinovasi bagaimana menghasilkan jamur dari kompos yang lebih menghasilkan uang. Jadilah uji laboratorium, yang menghasilkan bakteri rizopus.

Menurut Ika sampah organik berasal dari aktivitas harian mahasiswa Unas berikut daun-daun di sekitar kampusnya. "Kenapa organik, karena proses pembusukan relatif cepat dan mudah, selain itu material yang dibutuhkan tidak terlalu mahal dan masih tersedia di alam," ungkapnya.

Institusinya menyadari dampak sampah pada lingkungan tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, namun lembaga pendidikan dan juga masyarakat ikut bertanggung jawab.

C2-09

Sumber : http://sains.kompas.com/read/xml/2009/03/17/2226360/dari.kompos.menjadi.tempe

7
Humor / Kumpulan Humor Singkat Tentang Pernikahan
« on: 07 March 2009, 01:41:37 PM »
-Kamu punya dua pilihan dalam hidupmu : Hidup single saja dan menderita sepanjang hidup atau menikah dan kemudian berharap kamu mati saja

-Seorang gadis memasang iklan di koran nasional yang berjudul "Dicari Seorang Suami". Esok harinya ia mendapatkan kurang lebih 100 surat yang berbunyi sama : "Ambil aja punyaku..."

-Seorang penasihat pernikahan memberikan nasihat jitu : Ketika seorang wanita mencuri suamimu, tidak ada pembalasan yang terbaik dan termanis kecuali membiarkannya memilikinya....

-Seorang anak bertanya "Yah, berapa biaya untuk menikahi cewek?" "Well, anakku, ayah tidak tahu jumlah pastinya....karena sampai sekarang Ayah masih membayar..."

-"Benarkah di benua lain, seorang pria menikahi gadis tanpa mengenal calonnya itu?" tanya seorang anak lagi. Jawab si Ayah "Ah tidak, Itu terjadi di semua benua sayangku...."

-Pria I : "Istriku seorang malaikat !"
Pria II : "Sungguh beruntung bung, istriku sih masih hidup."

-Doa seorang wanita : "Tolong berikan aku kebijaksanaan untuk mengerti pria untuk mencintai dan memaafkan dan bersabar terhadap tingkahnya. Karena, kalau aku meminta kekuatan... aku bisa memukulinya sampai mati...."

8
Tibetan / Komentar saya mengenai topik : Mencapai Pencerahan dengan sex?
« on: 13 February 2009, 10:01:53 AM »
Saya tidak sempat mengikuti jalannya debat / diskusi pada topik ini, dan topiknya telah di lock. namun saya tertarik untuk sedikit berkomentar terhadap topik ini.

Saya teringat sebuah kisah tentang seorang pejabat yang datang berkunjung ke sebuah vihara. Monk ini menyuguhi pejabat tersebut dengan secangkir teh yang dituang terus menerus hingga meluber dan tumpah. Pejabat tersebut tampak panik, dan mengingatkan sang Guru itu akan kecerobohannya. Tetapi ia terperangah mendengarkan jawaban Guru Zen itu,
“sama seperti cangkir ini, engkau datang kemari dengan kepala penuh gagasan dan pikiran. Bagaimana aku dapat mengajarimu Zen kalau engkau tidak mengosongkan pikiranmu terlebih dahulu?”

Ada beberapa nasehat yang bisa saya peroleh dari cerita di atas :
1.   kosongkan cangkir kita sebelum menerima teh, agar kita bisa minum teh yang disajikan tuan rumah.
2.   pastikan cangkir kita tidak bocor, agar teh tidak kemana-mana sebelum kita minum.
3.   pastikan cangkir kita tidak terbalik, sehingga teh tidak bisa dituangkan ke cangkir.

Semoga bermanfaat bagi saudara-saudari se-dharma.
 _/\_


By : Zen

9
Informasi dan Pengumuman Kegiatan Buddhis / Halo Palembang!
« on: 11 February 2009, 05:34:33 PM »
Mari ikuti 2 hari Dharma Teaching bersama YM Bhiksu Bhadra Ruci.

Lokasi : hotel Royal Asia Palembang, Bougenville room.

Hari : Sabtu, 14 februari 2009,
Waktu : 14.00-17.00 WIB.
Topik : Lamrim, Jalan Menuju Pencerahan.

dan

Hari : Minggu, 15 Februari 2009,
Waktu : 14.00-17.00 WIB.
Topik : Berlindung, Pintu Gerbang Ajaran.


CP :

Agustinus [0878-97110928];
Diana [0813-67131800];
Fenta Husin [0882-74001689].

Tidak dipungut biaya.

nb : bagi yang berminat, harap konfirmasi kehadiran.

10
Buddhisme untuk Pemula / Menjalani Hidup Dengan hati Yang Baik
« on: 17 December 2008, 08:59:54 AM »
Menjalani Hidup Dengan hati Yang Baik
Oleh Yang Mulia Lama Thubten Yeshe

Mengapa kita bosen, kesepian dan malas?

Karena kita tidak punya niat membuka hati kita seluas langit kepada makhluk hidup lain. Bila anda mempunyai kekuatan niat untuk membuka hati anda kepada makhluk hidup lain, anda akan melenyapkan kemalasan, egois, dan kesepian. Sebenarnya, alasan anda kesepian adalah anda tidak sedang mengerjakan apa-apa. Bila anda sibuk, anda tidak punya waktu untuk kesepian. Kesepian hanya dapat muncul dalam pikiran yang tidak aktif. Bila pikiran anda bosen dan tubuh anda tidak aktif, maka anda kesepian. Secara mendasar, ini datang dari sikap egois, mementingkan diri sendiri. Itulah sebab kesepian, malas dan hati yang tertutup.

Tidak ada cara lain untuk mendapatkan kepuasan abadi kecuali anda mengubah sikap dimana anda membuka selebar-lebarnya hati anda dan mendedikasikan diri anda untuk orang lain dan makhluk hidup lainnya. Bila anda dapat melakukannya, anda terjamin kepuasan batinnya dan tidak akan pernah malas.

11
Buddhisme untuk Pemula / ANDALAH YANG BERTANGGUNG JAWAB
« on: 16 December 2008, 02:08:06 PM »
ANDALAH YANG BERTANGGUNG JAWAB

OLEH : Ven. K. Sri Dhammananda
Alih Bahasa : Upi. Sumanawati

Kita semua, manusia sebagaimana umumnya, cenderung menyalahkan orang lain untuk kekeliruan atau kemalangan kita sendiri. Pernahkah anda berpikir bahwa anda bertanggung jawab untuk kesulitan dan persoalan anda sendiri? Kesedihan dan duka anda tidak disebabkan oleh kutukan keluarga yang turun menurun dari generasi ke generasi. Juga tidak disebabkan oleh dosa asal nenek moyang kita yang telah kembali dari bawah kubur untuk menghantui anda. Juga kesedihan dan duka anda tidak disebabkan oleh dewa  Brahma atau setan atau Mara. Kesedihan anda disebabkan oleh anda sendiri. Kesedihan anda dibuat oleh anda sendiri. Anda yang memenjarakan diri anda; anda pula pembebas diri anda.

Anda harus belajar memikul tanggung jawab kehidupan anda dan untuk mengakui kelemahan anda sendiri tanpa menyalahkan atau mengganggu yang lain. Ingatlah pepatah kuno :
“Orang yang tak beradab selalu menyalahkan orang lain; orang yang setengah beradab menyalahkan diri sendiri dan orang yang benar-benar beradab tidak menyalahkan siapapun”.

12
Sutta Vinaya / NIDHIKANDA SUTTA
« on: 13 December 2008, 07:11:03 PM »
NIDHIKANDA SUTTA

Walaupun harta seseorang ditimbun dalam-dalam di dasar sumur, dengan tujuan: bila suatu saat diperlukan untuk pertolongan, harta yang disimpan itu dapat digunakannya. Atau ia berpikir; "Untuk membebaskan diri dari kemarahan raja, atau untuk uang tebusan bila aku ditahan sebagai sandera, atau untuk melunasi hutang-hutang bila keadaan sulit, atau mengalami musibah".

Inilah alasan-alasan seseorang untuk menimbun harta. Meskipun hartanya ditimbun dalam-dalam di dasar sumur, sama sekali tidak akan mencukupi semua kebutuhannya untuk selama-lamanya.

Jika timbunan harta itu berpindah tempat, atau ia lupa dengan tanda-tandanya, atau bila "Naga-Naga" mengambilnya, atau Yakkha-Yakkha mencurinya. Mungkin juga timbunan itu dicuri oleh sanak keluarga, atau ia tidak menjaganya dengan baik, atau bila buah KAMMA baiknya telah habis, semua hartanyapun akan lenyap.

Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu serta mempunyai pengendalian diri, adalah timbunan "Harta" yang terbaik, bagi seorang wanita maupun pria. "Harta" tersebut dapat diperoleh dengan berbuat kebajikan, kepada cetiya-cetiya atau Sangha, kepada orang lain atau para tamu, kepada Ibu dan Ayah, atau kepada orang yang lebih tua.

Inilah "Harta" yang disimpan paling sempurna, tidak mungkin hilang, tidak mungkin ditinggalkan, walaupun suatu saat akan meninggal, ia tetap akan membawanya. Tak seorangpun yang dapat mengambil "Harta" itu, perampok-perampokpun tidak dapat merampasnya. Oleh karena itu, lakukanlah perbuatan-perbuatan bajik karena inilah "Harta" yang paling baik.

Inilah "Harta" yang sangat memuaskan, yang diinginkan para dewa dan manusia, dengan buah kebajikan yang ditimbunnya, apa yang diinginkan akan tercapai. Wajah cantik dan suara merdu, kemolekan dan kejelitaan, kekuasaan dan pengikut, semua diperoleh berkat buah kebajikan itu. Kedaulatan dan kekuasaan kerajaan besar, kebahagiaan seorang raja Cakkavati, atau kekuasaan dewa di alam surga, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu.

Setiap kejayaan manusia, setiap kebahagiaan surga, bahkan kesempurnaan Nibbana, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu. Memiliki sahabat-sahabat sejati, memiliki kebijaksanaan dan mencapai pembebasan, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu.

Memiliki pengetahuan untuk mencapai pembebasan, mencapai kesempurnaan sebagai seorang siswa, menjadi Pacceka Buddha atau Samma Sambuddha, semuanya diperoleh berkat buah kebajikan itu.

Demikian besar hasil yang diperoleh dari buah kebajikan itu, oleh karenanya orang Bijaksana selalu bertekad untuk menimbun "Harta" kebajikan.

13
Buddhisme untuk Pemula / Antara Yakin Dan Percaya
« on: 12 December 2008, 12:03:11 AM »
Berikut ini adalah artikel yang saya baca di Buletin Maya Indonesia, Dharma Manggala Edisi Juli 2005. Artikel ini ditulis oleh saudara Junarto M Ifah. Tujuan saya memposting tulisan ini adalah untuk menambah wawasan bagi para member DC, dan juga bagi saya sendiri.

Satu hal yang menarik jika kita mengkaji berbagai sudut pandang dan pendekatan yang digunakan dalam sekolah-sekolah Buddhisme, agar tidak terjebak oleh pandangan bahwa pendapat kita adalah yang paling benar, yang lain pasti salah, seolah-olah 'menghakimi' praktek pribadi orang lain, sementara 'lupa diri' dalam pengendalian batin kita masing2.

semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi orang yang beruntung, membaca dan merenungkannya.
semoga berbahagia. :)
 _/\_


By : Zen

14
Saya melihat bahwa akhir-akhir ini debat mengenai konsep Arahat dan Bodhisattva dalam Buddhisme Theravada dan Mahayana berlangsung cukup hangat dan menarik. :)

Setelah membongkar file-file lama, saya menemukan artikel yang menarik untuk di-share kepada para Kalyanamitra sekalian. Akhirnya izin untuk memposting artikel ini turun juga dari penulisnya, Ivan Taniputera aka bro Tan, via YM, saya bermaksud untuk berbagi pengetahuan kepada para sahabat Dharma. Semoga artikel ini bisa membantu perkembangan batin kita selaras dengan Dharma dan memperluas wawasan kita tentang topik : konsep Arahat & Bodhisattva dalam Buddhisme Theravada & Mahayana.

Semoga semua makhluk berbahagia dan hidup selaras dengan Dharma!
 _/\_


By : Zen

15
Mahayana / Koeksistensi di sebuah kampung global
« on: 24 November 2008, 07:28:08 PM »
Koeksistensi di sebuah kampung global
Oleh : Professor Cheng Chen Huang *
Alih Bahasa : Junarto M. Ifah

Dari semua filosofi Buddhis, filosofi Hua Yen dari Sutra Avatamsaka adalah yang paling dalam. [Filosofi] ini adalah ringkasan paling pamungkas dari pemikiran Buddhis. [Filosofi] ini mencoba menggambarkan seluruh jagad raya di dalam satu sikap ‘total menyeluruh, saling-penetrasi dan keberadaan bersama [All inclusive, inter-penetrating and inter-being]. Tetapi ini tidak dapat [sepenuhnya] dijelaskan. Ini tidak dapat disampaikan melalui bahasa atau simbol-simbol apapun. Ini kondisi dari pengalaman langsung sebagai realiasi ke-Buddha-an. Jika kita masih terperangkap di dalam pola pemikiran manusia biasa, kita tidak akan mampu memahami esensi dari filosofi pemikiran Hua Yen.

Di dalam Sutra Avatamsaka, dikatakan bahwa, nun jauh di sana. Di tempat kediaman Dewa Agung bernama Sakra, ada sebuah jaring yang menakjubkan yang dibentang disana oleh seorang perancang yang licik. Jaring itu menebar tak terhingga ke seluruh mata penjuru. Sesuai dengan selera mewah para dewa-dewi, perancang itu juga menggantungkan permata yang berkilau di setiap mata jaring yang, karena jaring itu sendiri tak berhingga dimensinya, jumlahnya juga menjadi banyak tak terhingga.

Di sana, permata-permata itu tergantung, berkilau seperti bintang-bintang order pertama, menjadi pemandangan yang menakjubkan untuk dinikmati. Jika kita, sekarang, secara acak, memilih satu permata untuk diinspeksi, dan melihatnya secara teliti, kita akan menemukan bahwa di permukaan permatanya yang bersih, direfleksikan semua permata tak terhingga banyaknya, yang tergantung di jaring tersebut. Dan, setiap permata yang direfleksikan di satu permata ini juga direfleksikan di semua permata yang lain. Sehingga di sana terjadi sebuah proses refleksi menakjubkan yang tak berhingga banyaknya.

Ini menyimbolkan dunia kita dimana setiap mahkluk hidup dan fenomena saling berhubungan [inter-related] satu sama lain. Sebagai contohnya, anda dapat memandang semua jagad raya dari sebutir beras yang kecil. Udara, air, cahaya matahari, sawah, kerja keras para petani dan pedagang beras semuanya tercakup di setiap butir beras yang kecil.

Ini adalah visi alam semesta yang dialami oleh mereka yang telah cerah sempurna. Hanya para Buddha yang bisa memahami hakikat koeksistensi dan totalitas dari ‘semua di dalam satu dan satu di dalam semua’

Hari ini, dunia telah ‘susut’. Karena kemajuan di teknologi informasi seperti internet, seluruh dunia bergerak bersama menuju ke arah satu kampung global. Dari pemikiran Buddhis, dunia ini akan menyadari dirinya sebagai bekerjanya hukum totalitas Hua Yen yang mencakup semua [all-inclusive and all-embracing]. Anda tidak dapat memisahkan satu dari yang lain karena kita semua berada di dalam totalitas ini.

Ini berarti, diri saya ada dalam dirimu dan anda ada di dalam diri saya. Adalah karena keberadaan anda sekalian maka saya ada di sini. Adalah bukan hanya karena keberadaan eksistensi kekinian dan fenomena [yang menyebabkan] saya ada di sini. Adalah juga karena keberadaan mahkluk lain di masa lampau maka saya ada di sini.

Fenomena yang tak terlihat ini juga memberi kontribusi kepada keberadaan saya di sini. Ini adalah arti dari totalitas. Totalitas juga berarti tidak ada perbedaan antara ‘besar’ atau ‘kecil’, ‘satu’ atau ‘semua’, ‘terang’ atau ‘gelap’.

Tetapi kita manusia [suka] bersikap diskriminatif. Kita suka membedakan diri kita dari yang lain. Kita menempel pada diri kita, ego kecil kita. Karena kebodohan kita, kita melekat pada konsep ‘atman’ (diri yang tetap) atau entitas individu. Adalah karena kemelekatan kepada ego dan konsep atman, maka kita terperangkap di dalam siklus samsara, mengalami kelahiran lagi dan lagi. Kita tidak bahagia karena kita menderita tanpa akhir karena kemelekaran ego kita yang disebabkan oleh kebodohan kita.

Dengan demikian, memahami totalitas adalah melampaui pemahaman orang biasa. Kita beroperasi di sebuah dunia akan keteraturan eksplisit dimana kita menangkap dan menginterpretasi segalanya dengan sebuah pikiran yang membeda-bedakan sehingga setiap fenomena kelihatan terpisah dan berbeda. Pada saat kita memberi label kepada segala sesuatunya, di sana muncul pengalaman suka dan tidak suka terhadap yang lain. Pada saat kita bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang kita suka, kita melekat kepadanya. Tetapi pada saat kita berjumpa pada sesuatu atau seseorang yang kita tak sukai, kebencian dan penolakan muncul di dalam pikiran kita. Kita kemudian ‘bertarung’ melawan orang atau fenomena yang tidak kita sukai dan terjadilah penderitaan.

Tetapi melalui latihan konstan akan Enam Paramita (Penyempurnaan akan Dana, Moralitas, Kesabaran, Usaha, Konsentrasi dan Kebijaksanaan), kita memahami bahwa segala sesuatu memiliki esensi identik dan berbagi prinsip yang sama.

Menurut Buddha, sebenarnya tidak ada perbedaan antara segala sesuatu - tidak ada perbedaan antara ‘putih’ dan ‘merah’, ‘kecil’ dan ‘besar’ - karena semua fenomena ini berbagi azas dan totalitas yang sama, yang tiada lain adalah ‘Sunyata’, yang berarti ‘kosong’ dari eksistensi diri yang terpisah dan kekal.

Sang ‘aku’ atau ‘diri’ tidaklah eksis. Kenyataannya, kita tidak eksis secara [bebas] independen dari yang lain. Setiap mahkluk dan fenomena adalah ‘saling bergantungan’ dan berhubungan. Kekosongan akan hakikat diri sebenarnya adalah [identik] dengan prinsip muncul-lenyap saling bergantungan dari segala sesuatu.

Sebuah fenomena muncul karena koeksistensi harmonis dari berbagai kondisi yang tak terhitung. Walaupun kita bisa mengkategorikan kondisi-kondisi itu sebagai kondisi ‘akar’ (kondisi yang diperlukan agar sesuatu dapat menjelma, contohnya: sebutir bibit) dan ‘kondisi eksistensial’ (seperti air, cahaya matahari dan tanah yang memungkinkan bibit tersebut tumbuh), kita semua berbagi prinsip yang sama akan kesunyataan – kita semua kosong dari entitas yang tetap. Ini adalah jalan bagaimana kita dapat berkoeksis secara damai di sini.

Oleh karenanya semua fenomena tidaklah menghalangi satu sama lain, karena kita semua berada dalam satu keluarga ‘totalitas’ dan ‘keberadaan berinteraksi’. Ini adalah kebenaran fundamental. Pada saat seseorang mampu memahami ini, semua akan damai. Dunia akan eksis secara harmonis karena setiap orang akan mampu menerima perbedaan satu sama lain dan mencakup semuanya dengan welas asih dan pemahaman.

Professor Cheng adalah guru Buddhis yang dikenal yang telah memberikan banyak ceramah Dharma, workshops dan retreat meditasi di Taiwan, Amerika dan Asia Tenggara. Dikenal akan pemahamannya dalam filosofi dan praktik Buddhis, Ia telah menerbitkan lebih dari 500 artikel dan 20 buku tentang Buddhisme. Beberapa di antaranya termasuk versi terjemahan Chinese dari ‘Tibetan Book of Living and Dying’; ‘Consciousness at Crossroads’; ‘Anapanasati’, ‘Zen in The Martial Arts’, ‘Beginning to See’; ‘Mind Like Fire Unbound’.


(*) Professor Cheng Chen Huang adalah seorang cendekiawan dan praktisi Buddhis yang dikenal. Beliau bercerita kepada kita mengapa kita semua ber-inter-relasi berdasarkan filosofi Hua Yen yang diajarkan Sang Buddha 2500 tahun yang lalu.


Sumber : Dharma Manggala, Buletin Maya Indonesia Edisi Febuari 2006

Pages: [1] 2 3 4 5