Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Asia

Pages: [1] 2 3 4 5
1
Kafe Jongkok / Re: Curhat Kamu
« on: 25 September 2014, 08:29:23 AM »
- Coffee Bean -

Biasanya gua jarang bgt minum kopi di coffee bean ini. Gara2 billboard didepannya beli ice blended diskon 50% dengan kartu kredit MEGA, tertariklah masuk dan bertanya.

Ternyata harus beli minimum 75rb baru dpt diskon. Karena da didepannya, ya udah lah beli cappucino dan cheesecake..
ternyata setelah beli diskonnya cuma 30%. Koq gak diskon 50%?
Ternyata pembelian minimal 250rb, baru dapat diskon 50%.

oala.. ketipu deh.. alhasil setelah diskon 30% jadi byr 54rb dpt cappucino dan cheese cake satu potong.. kayaknya sih masih murah ya...

Cappucino nya not bad untuk double shoot(maksudnya espressonya 2x flavour lebih keras). Gak bikin mules2 banget seperti Starbucks punya sih...

Cheesecake nya belum coba tapi menurut kasir nya ada campuran lemonade nya juga jadi berasa enak.. We'll see later nya..

promo diskon 50% dengan minimal pembelian 250 ribu, itu sudah berjalan lebih dari satu tahun. 1,5 tahun juga kayaknya sudah ada ;D

biasanya ada tulisan minimal pembeliannya, atau pakai * (syarat dan ketentuan berlaku). Yang pakai * ini yang kurang jelas.

menu makanannya - termasuk cake - tidak enak menurut saya. Seperti tidak fresh dan rasanya standar. Kalau kopinya memang enak.


2
Buddhisme untuk Pemula / Re: Tanya ? Jawab untuk Pemula
« on: 03 June 2013, 08:12:44 AM »
 [at] CintaViolet:

http://dhammacitta.org/perpustakaan/kategori/ebook/biografi-ebook/


Ralat: sori setelah baca ulang pertanyaannya, ternyata yang ditanya adlaah tokoh yang di Indonesia. Kalau tokoh yang di Indonesia, saya tidak tahu.

3
kalau "tidak beruntung", jawabannya diberikan via email?

kalau "beruntung" tapi tidak ikut seminarnya?

pertanyaannya boleh pakai bahasa indonesia?

4
Meditasi / Re: (ask) meditasi
« on: 27 June 2012, 12:54:12 PM »
terus klw cmn pemahaman saja,, knp dikatakan bahwa melatih samatha bhavana dapat menimbulkan kekuatan batin ?
kan hanya kita tahu tentang pemahaman saja ..  :-? :-?

Saya tidak punya kekuatan batin dan saya tidak begitu tertarik dengan kekuatan batin. Saya belum tau apakah benar dengan melatih samatha bhavana dapat membuat saya memiliki kekuatan batin, dan saya tidak mempraktikkan meditasi (entah samatha atau vipassana) demi perolehan itu.

Sepertinya tujuan meditasi kita berbeda. Dalam pertanyaanmu, selalu ada kata "hanya" dan "saja" tentang pemahaman. Sepertinya, bagimu pemahaman tidak begitu penting dibandingkan kekuatan batin. Sedangkan bagi saya, sebaliknya.

Suatu ketika saya menyadari bahwa setiap harinya saya memupuk lapis demi lapis kebodohan, dan saya semakin sering menderita karenanya. Tapi dengan meditasi, laju pertambahan lapisan kebodohan itu berkurang, dan tentu saja penderitaan berkurang. Ini tujuan saya bermeditasi, dan ini yang terpenting bagi saya.

5
Diskusi Umum / Re: perlukah harapan itu ?
« on: 27 June 2012, 12:27:20 PM »
Tergantung pengertian masing-masing orang tentang "pengharapan" itu sendiri. Dalam Buddhism juga ada pengharapan, yaitu harapan bahwa kita bisa mengakhiri dukkha. Tapi ya, harapan itu hanya mungkin terwujud, jika kita tau jalannya.

6
Studi Sutta/Sutra / Re: (ask) Cara membaca Sutta/Sutra
« on: 22 June 2012, 03:18:11 PM »
hahaha... selamat sore ;D

7
Studi Sutta/Sutra / Re: (ask) Cara membaca Sutta/Sutra
« on: 22 June 2012, 03:08:52 PM »
Tentu saja boleh :D

8
Studi Sutta/Sutra / Re: (ask) Cara membaca Sutta/Sutra
« on: 22 June 2012, 01:11:17 PM »
walahh bagaimana tuh caranya  :))
ntar adanya makannya berantakan meditasinya pun berantakan lagi  :-? :-?

Untuk meditasi samatha (pengembangan konsentrasi), memang biasanya dilakukan saat meditasi duduk, lalu fokus ke satu objek misalnya nafas.

Tapi untuk meditasi vipassana (pengembangan perhatian) bisa dilakukan kapan saja, dalam posisi apapun juga. Apapun yang paling kentara, apakah itu pikiran, perasaan, atau sentuhan, itulah yang diperhatikan.

Untuk melatihnya, anda bisa mencoba melakukan satu hal di satu waktu. Kebanyakan kita melakukan banyak hal berbarengan. Misalnya, makan sambil baca buku. Makan sambil nonton. Kerja sambil chatting, dst. Saat itu pikiran terpencar, pikiran begitu reaktif, dan perhatian lemah. Jadi belajarlah melakukan satu hal di satu waktu, lama kelamaan perhatian semakin baik.

3. Kesadaran jernih

4. ‘Kemudian, seorang bhikkhu, ketika berjalan maju atau mundur, sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan,[23] dalam melihat ke depan atau ke belakang, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam menunduk dan menegakkan badan, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam membawa jubah dalam dan luarnya dan mangkuknya, ia sadar atas apa yang sedang ia lakukan, dalam makan, minum, mengunyah, dan menelan, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam buang air besar atau buang air kecil, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam berjalan, berdiri, duduk, tertidur, dan bangun dari tidur, dalam berbicara atau berdiam diri, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan.’ [293]

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal .... Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

http://dhammacitta.org/dcpedia/DN_22:_Mahasatipatthana_Sutta#3._Kesadaran_jernih


Quote
btw kk Asia,, boleh minta saran/pendapat gag?
wa hobi main musik, wa suka dengerin dhamma, wa suka menjadi buddhis.
gw takut klw kehidupan ini berakhir, dikehidupan berikutny nda bsa berjodoh am buddhis lg,, kita" bagusan kk suggest saya ngapain ? mksudny biar menghilangkan rasa takut gw gtu .. hmm  :-? :-?

Menurut saya,

pertama, jalinlah jodoh yang baik dengan teman-teman yang baik. Saya percaya, kedekatan kita dengan orang-orang yang baik, memungkinkan kita untuk dekat dengan mereka lagi di kehidupan yang akan datang. Bertemanlah dengan:

1. teman yang berusaha menaati 5 sila. Ini universal ya, tidak harus seorang buddhis, dan
2. teman yang bijaksana dalam hal pemahamannya akan Dhamma. Diskusilah dengannya, lakukan hal-hal baik bersama-sama.

Kedua, praktikkanlah Jalan Mulia. Sang Buddha telah membabarkan Dhamma yang begitu indah. Pelajari, praktikkanlah, pahamilah. Bahkan jika di kehidupan yang akan datang nanti, mungkin ajaran Buddha sudah tidak terdengar lagi, tapi apa yang sudah anda praktikkan dan pahami tetap akan menjadi bagian dari dirimu.

Dulu waktu masih kecil, papa saya bertanya ke saya dan saudara saya: "Ini ada permen, tapi hanya satu. Siapa yang mau? atau, adakah yang ingin merelakan permen ini untuk saudaranya?" Waktu itu saya masih kecil, tapi entah bagaimana saat itu saya mampu memperhatikan pikiran saya. Saya tau, saya ingin permen itu. Saya tau, papa sedang menguji kami. Dan saya tau, saya lebih mementingkan permen itu daripada lolos ujian ;D 

Saat itu, saya sudah memperhatikan pikiran saya padahal saya sama sekali belum pernah membaca tentang meditasi vipassana. Dan ketika 2 tahun lalu, saya mulai mempelajari Mahasatipatthana Sutta, saya merasakan suatu kebahagiaan, seperti cocok dan pas, ini yang saya mau :)

Jadi, praktikkanlah Jalan Mulia, bahkan jika kelak anda tidak mendengar teori Dhamma, tapi kecenderunganmu selaras dengan Dhamma.

9
Mahayana / Re: Filosofi Mahayana Mencapai Nirvana Bersama-sama
« on: 22 June 2012, 11:49:28 AM »
 [at]  Sugi Then: yang jadi penumpang (umat awam), enak dong, tinggal duduk saja sudah bisa sampai. Bhiksu-nya yang repot mendayung ???

10
Studi Sutta/Sutra / Re: (ask) Cara membaca Sutta/Sutra
« on: 22 June 2012, 11:31:07 AM »
oooo ... berarti bebas yah,, hahahaha :D
saya pikir harus melafalkan bahasa aslinya .. kan susah itu ,, wkwkwkkw

btw anyway untuk pemula meditasi vipasanna klw 10 menit ajh terus posisiny duduk aj bagus ga ?

boleh-boleh saja. Bahkan, saat lagi makan pun bisa sambil meditasi vipassana ;D

11
Studi Sutta/Sutra / Re: (ask) Cara membaca Sutta/Sutra
« on: 22 June 2012, 08:12:09 AM »
ASK:
RED : Klw membaca sutta boleh gak hanya melafalkan bahasa Indonesia saja? dan tolong jelaskan alasannya jika boleh dan tidak boleh.
GREEN : boleh minta sumber yang lengkap untuk belajar meditasi vipasanna gak ? sekalian mw minta manfaatnya,,,
BLUE : klw mengikuti meditasi 3 hari / 1 minggu , itu mksudny kita meditasi selama 24 jam atau seperti biasa 1 jam tiap hari gtu?

sekian dan trims :D

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga Semua makhluk hidup berbahagia saddhu3x

Namo Buddhaya  _/\_

Answer:

Red: boleh. Sutta adalah khotbah-khotbah sang Buddha. Membaca sutta adalah seperti mengulang khotbah Buddha serta memahaminya. Jadi gunakanlah bahasa yang dipahami.

Green: sumbernya bisa dilihat di sini: http://dhammacitta.org/dcpedia/DN_22:_Mahasatipatthana_Sutta
Kalau ada yang kurang jelas, silakan bertanya.

Blue: kalau meditasi 3 hari atau 1 minggu, tergantung pihak penyelenggaranya. Ada yang meditasi terus (kecuali saat tidur), tapi posisi meditasinya bergantian antara duduk dan jalan, jadi kalau pegel duduk terus, bisa meditasi jalan.

Tapi ada juga program meditasi yang meditasinya tidak terus-terusan, ada selingan khotbah juga. Anda domisilinya di mana? kalau di Jakarta, ada yang meditasinya hanya 2 jam di hari sabtu/minggu.

12
Meditasi / Re: (ask) meditasi
« on: 22 June 2012, 08:00:50 AM »
berarti dengan hanya melakukan meditasi kita hanya dapat mendapat kesadaran, ketenangan bathin, tanpa kekacauan saja yah?

bukan. Meditasi bukan semata-mata untuk mencari ketenangan, melainkan untuk memperoleh pemahaman. Kita semakin memahami atau mengenal jasmani dan batin. Kita semakin paham ketidakkekalan (Anicca), ketidakpuasan (Dukkha), dan ketiadaan-inti/diri (Anatta).

Meditasi (pengembangan perhatian) adalah salah satu faktor dari Jalan Mulia untuk bebas dari penderitaan.

Quote
hmm.. tapi saya masih penasaran dengan abhinna (kekuatan bathin)
menurut kk bagus tidak untuk melakukan meditasi dengan tujuan seperti itu?  :-? :-?

Sebenarnya bukan tentang bagus atau tidaknya.

Kalau boleh saya tau, apa yang membuat anda ingin memiliki kekuatan batin?

13
Meditasi / Re: (ask) meditasi
« on: 22 June 2012, 07:46:07 AM »
ooo .. begitu ternyata  :-?
terima kasih kk hahaha  :))

tapi sebelumnya saya ingin tau,, saya sudah mulai bermeditasi 2 hari yg lalu. saya bermeditasi jam 06:00 A.M dan saya berlatih anapanasati. tapi waktunya hanya sekitar 5-10 menit   ^-^

Problemnya : terkadang banyak sekali perasaan" yg muncul .. mulai dari bernapas hingga terasa sangat nikmat nafasnya dan seterusnya hingga saya merasa tubuh saya merinding, berkeringat, kemudian kaki tidak terasa lagi, kemudian semakin lama semakin susah untuk bernafas dan akhirnya saya kehilangan objeknya dan meditasi pun serasa gagal  :'(.. padahal saya sudah duduk bersila dengan kaki kiri diatas paha kanan dan sebaliknya, serta saya duduk diatas busa yang tidak terlalu tinggi( 2cm doang) dan tulang punggung saya tegak. tapi kenapa bisa seperti itu yah ?

mohon pencerahannya  :)
Namo Buddhaya  _/\_

Kaki kiri di atas paha kanan dan sebaliknya? wah, kalau belum biasa, biasanya kurang nyaman. Posisi duduk tidak perlu terlalu dipaksakan harus begini atau begitu, yang penting bisa duduk dengan punggung tegak, tidak bersandar, tapi rileks. Mungkin anda merinding/berkeringat karena posisi duduk yang terlalu dipaksakan. Seandainya tidak tahan dengan posisi itu, boleh-boleh saja ganti posisi. Jangan menyiksa diri. Coba perbaiki posisi duduknya, semoga lebih baik. Coba satu kaki saja yang diletakkan di atas paha kaki yang lain. Jangan keduanya.

Intinya bukan tentang berapa lama kita bisa duduk, sesempurna apa posisi duduk kita, dst. Bukan itu.

Menurut saya, meditasi juga bukan sesuatu yang mistis, bukan bertujuan membuat kita menjadi makhluk luar biasa, punya kekuatan ini dan itu, bisa ini dan itu, dst. Bukan begitu. Meditasi adalah belajar menjadi biasa, belajar menjadi apapun apa adanya.

Inti dari meditasi adalah mengembangkan perhatian. Meditasi adalah belajar mengenal jasmani dan batin. Kalau pikiran kacau, tau pikiran sedang kacau. Kalau muncul perasaan senang, tau ada perasaan senang. Kalau muncul nafsu, tau nafsu muncul. Tau bagaimana dia berkembang, tau bagaimana dia reda, dst. Tau ketidakkekalan, tau ketidakpastian, tau ketidakpuasan. Sesederhana itu.

Lalu kalau meditasi tidak lancar, lalu muncul pikiran bahwa anda gagal, perhatikan munculnya hal itu. Perhatikan bagaimana pikiran itu cukup mampu membuatmu sedih. Bahkan di saat anda memperhatikan hal itu, saat itu anda sedang bermeditasi. Karena seperti yang saya bilang, meditasi adalah mengembangkan perhatian. Dengan perhatian yang semakin kuat, anda tidak terhanyut terlalu jauh oleh pikiran-pikiran itu.

14
Meditasi / Re: (ask) meditasi
« on: 21 June 2012, 05:17:57 PM »
Namo Buddhaya  _/\_

Terima kasih atas perhatian dan bimbingannya  :)
sebenarnya saya sudah memikirkan hal ini sejak lama  :-?
selain memikirkan saya juga sering membaca buku tentang sejarah agama buddha (ajahn cha, dll)
tapi dipikir" lagi saya sedang bingung .. :( jika saya melatih anapanasati dan hingga mencapai jhana IV dan mendapat kekuatan yg disebut abhina, hal itu malah akan membuat saya menjadi sombong dan sebagainya   :-?
jadi ragu untuk meditasi hahahaha
 
eh kk .. saya tadi ke gramedia book store dan membaca buku yang sama yang diterangkan kk Asia
dan saya juga uda baca kutipan diatass hahahaha :)) sepertinya saya ada jodoh sama buku ini (soalny td baca cmn bagian ini aj)

Menurut saya, dengan meditasi yang benar, makin lama kita makin peka dengan bentuk-bentuk pikiran yang muncul. Kenapa? Karena tugas kita saat meditasi adalah melatih perhatian (pada jasmani, perasaan, pikiran, dan objek-objek pikiran).

Jadi, saat muncul keangkuhan atau pikiran yang merendahkan orang lain, maka kemungkinan besar kita akan menyadarinya.

Dengan menyadari bahwa bentuk pikiran itu tidak bermanfaat, maka kita tidak memupuknya. Justru tanpa meditasi, keangkuhan lebih mudah muncul dan berkembang.

Jadi, tenang saja, meditasi yang benar adalah hal yang baik. ;D

15
Meditasi / Re: (ask) meditasi
« on: 21 June 2012, 11:22:57 AM »
lanjutan...

Murid: Saya ingin mendapatkan ketenangan. Saya ingin bermeditasi dan membuat batin saya damai.
 
Ajahn Chah: Nah itu dia. Anda ingin mendapatkan sesuatu. Jika Anda benar-benar menginginkan ini, Anda harus merenungi apa sebenarnya yang menyebabkan batin ini tidak damai. Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi karena sebab. Namun kita berharap buah itu langsung jatuh ke tangan kita. Ini seperti ingin makan semangka tanpa pernah menanam semangka. Jadi dari mana semangka itu datang? Anda hanya pernah mendapatkan semangka sesekali, dan kemudian Anda berpikir, “Oh, semangka begitu manis, begitu enak!” dan Anda ingin lagi—“Eh, bagaimana saya bisa mendapat semangka lagi? Dari mana semangka berasal? Bagaimana orang bisa punya semangka untuk dimakan?” namun semangka tidak datang dari sekedar berspekulasi mengenainya.
 
Kita harus memikirkannya dengan seksama untuk mendapatkan gambaran besarnya. Lihatlah semua aktivitas batin. Setelah lahir ke dunia ini, mengapa kita memiliki duka, kesukaran, dan beban? Kita menderita lagi dan lagi karena segala sesuatu yang kuno yang sama, karena pengetahuan kita tidak menyeluruh.
 
Apa masalahnya? Kita hidup dengan kesulitan dan menciptakan kesulitan bagi kita sendiri, namun kita tidak memahami di mana letak kesulitannya. Hidup di rumah, kita merasa kita memiliki kesukaran dengan pasangan kita, anak-anak kita, apa saja. Kita berbicara mengenainya, namun kita tidak benar-benar memahaminya, jadi ini sungguh sulit. Berjuang untuk membuat batin menjadi Samadhi juga sama. Kita tidak bisa mengetahui mengapa kita tidak mampu merealisasi Samadhi. Kita perlu memahami kebenaran sebab-akibat, apa sebab yang membuat kita dalam kondisi ini. Setiap hal muncul dari sebab. Namun kita tidak memahaminya. Ini seperti memiliki sebuah botol yang penuh air, kemudian kita meminumnya hingga habis dan kepingin lebih—tidak ada lagi air yang bisa keluar dari botol. Namun jika kita mengambil air dari sungai, maka kita bisa terus minum, karena sungai terus menyediakan air.
 
Aliran sungai itu seperti melihat ketidaktetapan, ketidakpuasan, dan ketiadadirian secara mendalam, mengetahuinya secara menyeluruh. Pengetahuan biasa, dangkal, tidak tahu secara menyeluruh, namun dengan pandangan cerah menembus, kita menyadari kedalaman dan citarasa penuh dari ketiga ciri ini, dan kemudian apa pun yang muncul, kita melihat kebenarannya. Ketika fenomena lenyap, kita melihat kebenaran akan hal itu. Batin selalu mencerap realita, dan dengan pandangan ini kita sampai di tempat kedamaian, di mana tidak ada duka atau beban yang ditanggung. Masalah melekat pada segala sesuatu dan memberi mereka makna akan terus berkurang. Kita melihat segala sesuatu muncul dan melihat mereka berlalu, muncul lagi dan berlalu lagi. Lihatlah Dhamma ini sering-sering, renungi dalam-dalam, kembangkan kesadaran ini banyak-banyak. Hasilnya adalah pelepasan dan lenyapnya nafsu, Anda secara mutlak akan menjadi tidak bernafsu terhadap setiap hal.
 
Segala sesuatu yang berkontak dengan telinga, mata, hidung, dan lidah, segala sesuatu yang lahir dalam batin, kita akan pahami dengan jernih—kita akan melihat bahwa mereka semua adalah sama. Dengan melihat bahwa semua Dhamma (fenomena) ini sifat alaminya tidak tetap, tidak memuaskan, dan tiada-diri, dan tidak layak dilekati bahkan sedikitpun, keterbebasan pun akan lahir. Ketika mata melihat wujud atau telinga mendengar suara, kita mengetahui mereka sebagaimana adanya. Ketika batin bahagia atau menderita, ketika batin bereaksi puas atau benci, kita mengetahui semua hal ini. Jika kita melekat ke hal-hal ini, mereka menempel pada kita dan segera membuat kita dumadi. Jika kita melepas mereka, mereka pun pergi sendiri. Lepaslah pemandangan dan mereka pun pergi sendiri. Namun ketika kita butuh, kita bisa menggunakan mereka.
 
Biarkan segala sesuatu berjalan sesuai sifat mereka. Jika kita sadar dengan cara ini, kita akan melihat realita ketidaktetapan. Semua fenomena yang muncul adalah ilusi, tanpa kecuali; mereka semua mengelabui. Namun ketika kita mengenali bahwa mereka adalah semu, barulah kita benar-benar bisa damai. Memiliki penyadaran murni dan pemahaman jernih, memiliki kebijaksanaan, kita tidak melihat apa pun selain fakta bahwa fenomena muncul dan beginilah sifatnya. Bahkan ketika kita tidak melakukan apa pun secara khusus, apa pun yang mungkin kita pikirkan, kita akan mengenali pikiran kita sebagai yang Cuma seperti itu dan tidak akan terperangkap dalam pikiran. Jika batin menjadi hening, kita akan berpikir, “Hening; bukan hal besar. Keheningan tidaklah tetap.” Hanya ada fenomena yang tidak tetap, tidak ada yang lain. Di mana pun kita duduk, di situlah Dhamma, dan kebijaksanaan muncul—jadi apa yang bisa membuat kita menderita?
 
Kita menderita karena segala sesuatu yang tidak benar-benar bisa diraih, karena memikirkan hal-hal yang tidak layak dipikirkan. Kita memiliki segala macam keinginan dan menginginkan segala sesuatu menjadi ini-itu. Ingin menjadi apa pun—seperti jika Anda ingin jadi Araha, makhluk yang tercerahkan penuh—akan membawa duka bagi Anda sendiri. Buddha mengajarkan kita untuk berhenti menginginkan menjadi sesuatu, karena Buddha menyadari bahwa segala keinginan mendapatkan sesuatu dan menjadi sesuatu adalah duka.

Pages: [1] 2 3 4 5