Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - hudoyo

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 128
1
Berarti orang awam gak akan bisa melihat apa adanya?
Berarti hanya orang suci yang bisa melihat apa adanya?
Yang berbahaya menurut aye mengambil sepenggal atau sebagian trus ditafsirkan untuk membenarkan pendapat pribadinya lho ;D
Kalo ngambil kata2 ci lily Objek adalah netral itu termasuk juga kitab suci juga netral khan ;D
Ketika orang menafsirkan apakah jadi netral?

Yang Anda mau sanggah dengan pertanyaan itu sesungguhnya justru yang benar: seorang puthujjana tidak pernah bisa melihat apa adanya. Mengapa? Karena apa pun yang dilihatnya selalu diwarnai oleh kacamata akunya (dg segala lobha, dosa, moha). Kalau Anda bisa melihat apa adanya, biarpun hanya semenit, maka semenit itu Anda bebas, padam (nibbana).

2
Berikut ini kompilasi debat saya dengan Reenzia:

...bla...bla...bla....

Hudoyo


kenapa repot2 nge-file begini?

lepaskanlah pak... lepaskan....
jangan digenggam

anjali,
willi

::

Anda terus menanggapi saya secara negatif .... lepaskan, lepaskan ...

3
iya makanya sebaiknya kita bisa melihat "APA ADANYA" bukan menafsirkan :)

Jangan berkata, "Sebaiknya begini, sebaiknya begitu," karena di situ Anda tidak melihat apa adanya batin Anda, melainkan hanya didorong oleh norma, cita-cita; Anda tidak melihat bahwa Anda sedang menafsirkan kata-kata orang tercerahkan, menjadikannya aturan, norma. Yang penting, sadari saja setiap saat Anda tengah berpikir menafsirkan; dan itu sering kali terjadi dalam satu hari ... kalau pikiran-pikiran ini disadari, ada kemungkinan akan diam dengan sendirinya.

4
Oh iya, perbedaan MMD dengan meditasi yang lain mungkin :
MMD = meditasi tanpa usaha
Meditasi lain = Meditasi dengan usaha

Betul tidak pak ? :)

Membandingkan seperti itu tidak ada gunanya sama sekali kalau tidak merasakan sendiri perbedaannya.

5
Bagi seorang puthujjana, seperti anda dan saya, "pandangan benar" itu sangat subyektif.
Bahkan tafsiran terhadap ajaran Sang Buddha pun sangat subyektif.

Makanya sebaiknya jangan main tafsir tafsir terhadap ajaran Sang Buddha :)

Tidak ada orang yang TIDAK menafsirkan ajaran Buddha; semua orang, termasuk Anda dan saya, MENAFSIRKAN ajaran Sang Buddha menurut kecenderungan masing-masing.

BAHKAN SELURUH ISI TIPITAKA PALI ADALAH TAFSIRAN TERHADAP AJARAN BUDDHA. Isi Tipitaka Pali itu hafalan dan ditulis empat ratus tahun kemudian, kemungkinan besar sudah banyak berubah dari apa yang dikatakan Buddha sesungguhnya. Tidak seorang pun tahu apa persisnya kata-kata Buddha 2500 tahun lalu! Tafsiran Mahayana lain lagi, tafsiran Vajrayana lain lagi.

Hudoyo

6
ON THE DANGERS OF SAMADHI
(TENTANG BERBAGAI BAHAYA SAMADHI)


Samadhi dapat membawa banyak kerugian atau banyak manfaat bagi
pemeditasi; Anda tidak bisa bilang samadhi hanya membawa salah satu
saja. Bagi orang yang tidak memiliki kearifan samadhi merugikan,
tetapi bagi orang yang memiliki kearifan samadhi bisa membawa manfaat
nyata, samadhi bisa menuntun kepada Pencerahan.

Yang mungkin paling merugikan bagi pemeditasi adalah Samadhi Absorpsi
(Jhana), yakni samadhi dengan ketenangan yang mendalam dan menetap.

Samadhi ini membawa kedamaian besar. Di mana ada kedamaian, di situ
ada kebahagiaan. Di mana ada kebahagiaan, keterikatan dan kelekatan
kepada kebahagiaan itu muncul. Pemeditasi tidak mau
mengkontemplasikan apa-apa lagi, ia hanya mau berada di dalam
perasaan yang nikmat itu. Bila kita telah berlatih untuk waktu lama,
kita mungkin mahir memasuki samadhi ini dengan cepat sekali. Begitu
kita mulai mencatat obyek meditasi kita, batin memasuki ketenangan,
dan kita tidak mau keluar lagi untuk meneliti apa pun. Kita menjadi
terpaku dalam kebahagiaan itu. Ini adalah bahaya bagi orang yang
berlatih meditasi.

Kita harus menggunakan Upacara Samadhi. Di sini, kita memasuki
ketenangan, dan kemudian, ketika batin sudah cukup tenang, kita
keluar lagi dan mengamati kegiatan di-luar.[5] Mengamati apa yang di
luar dengan batin tenang menghasilkan kearifan. Ini sukar dipahami,
oleh karena hal itu hampir mirip seperti berpikir dan membayangkan
yang biasa. Ketika ada pikiran, kita mungkin berpikir batin tidak
hening, tetapi sesungguhnya berpikir itu terjadi di dalam ketenangan.
Kita dapat menampilkan pikiran untuk mengkontemplasikannya. Di sini
kita mengambil pikiran untuk menyelidikinya; ini bukan berarti kita
berpikir tanpa tujuan untuk menyelidikinya, bukan berarti kita
berpikir atau menduga-duga tanpa arah; itu muncul dari batin yang
hening. Ini dinamakan "sadar di dalam ketenangan dan tenang di dalam
keadaan sadar." Jika itu sekadar berpikir atau berkhayal biasa, batin
tidak akan hening, batin akan terganggu. Tetapi saya tidak bicara
tentang berpikir biasa, ini suatu perasaan yang muncul dari batin
yang hening. Itu dinamakan "kontemplasi". Kearifan lahir di sini. --

[***[5] 'Kegiatan di-luar' mengacu pada segala macam kesan-kesan
indriawi. Istilah itu digunakan sebagai kontras dari 'kegiatan
di-dalam', yakni samadhi absorpsi (jhana), di mana batin tidak pergi
"keluar" kepada kesan-kesan indriawi di luar.]

Jadi, ada samadhi benar dan samadhi salah. Samadhi salah ialah di
mana batin memasuki ketenangan dan tidak disadari sama sekali. Orang
bisa duduk dua jam atau bahkan sepanjang hari, tetapi batin tidak
tahu di mana ia berada atau apa yang terjadi. Ia tidak tahu apa-apa.
Ada ketenangan, tetapi hanya itu. Itu seperti pisau yang tajam, yang
kita tidak peduli dipakai untuk apa. Ini ketenangan yang tertutup
ketidaktahuan, karena tidak ada banyak kesadaran-diri. Pemeditasi
mungkin mengira ia telah mencapai yang tertinggi, jadi ia tidak
peduli untuk mengamati apa-apa lagi. Samadhi bisa menjadi musuh pada
tingkat ini. Kearifan tidak bisa muncul oleh karena tidak ada keadaan
sadar tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Tentang samadhi benar, tidak peduli tingkat ketenangan apa pun yang
tercapai, ada keadaan sadar. Ada perhatian penuh dan pemahaman
jernih. Inilah samadhi yang dapat menghasilkan kearifan; orang tidak
bisa tersesat di situ. Para pemeditasi harus memahami ini dengan
baik. Anda tidak bisa berjalan tanpa keadaan sadar ini, itu harus ada
dari awal sampai akhir. Samadhi seperti ini tidak mengandung bahaya.

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana manfaat muncul, bagaimana
kearifan muncul dari samadhi? Bila samadhi benar telah berkembang,
kearifan bisa muncul sepanjang waktu. Ketika mata melihat wujud,
telinga mendengar suara, hidung mencium bau, lidah mengecap rasa,
tubuh mengalami sentuhan atau batin mengalami kesan batin--di dalam
posisi mana pun--batin tetap memiliki pengetahuan penuh tentang
hakekat sejati dari kesan-kesan indriawi itu, ia tidak "memilah dan
memilih". Di dalam posisi tubuh apa pun, kita sadar sepenuhnya akan
lahirnya kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kita melepaskan kedua hal
ini, kita tidak melekat. Ini dinamakan Latihan Benar, yang terdapat
dalam semua posisi. Ungkapan "semua posisi" tidak hanya mengacu pada
posisi tubuh, tetapi juga mengacu pada batin, yang memiliki perhatian
penuh dan pemahaman jernih akan kebenaran sepanjang waktu. Bila
samadhi telah berkembang dengan benar, kearifan muncul seperti ini.
Ini dinamakan "pencerahan", pengetahuan akan kebenaran.

Ada dua jenis kedamaian -- yang kasar dan yang halus. Kedamaian yang
datang dari samadhi adalah jenis yang kasar. Bila batin damai, ada
kebahagiaan. Batin menganggap kebahagiaan sebagai kedamaian.
Tetapi kebahagiaan dan ketidakbahagiaan adalah proses menjadi dan
kelahiran. Tidak ada kebebasan dari 'samsara'[6], oleh karena kita
masih melekat kepada itu. Jadi kebahagiaan bukanlah kedamaian,
kedamaian bukanlah kebahagiaan.

[***[6] 'Samsara', roda Kelahiran dan Kematian, alam semua fenomena
terkondisi, batiniah maupun jasmaniah, yang mempunyai tiga sifat:
Tidak Kekal, Tidak Memuaskan, dan Bukan-Diri.]

Jenis kedamaian yang lain adalah yang datang dari kearifan. Di sini
kita tidak mencampuradukkan kedamaian dengan kebahagiaan; kita tahu
batin yang mengkontemplasikan dan mengetahui kebahagiaan dan
ketidakbahagiaan sebagai kedamaian. Kedamaian yang muncul dari
kearifan bukanlah kebahagiaan, melainkan adalah yang melihat
kebenaran dari kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Di situ tidak
muncul kelekatan kepada keadaan-keadaan itu, batin keluar mengatasi
mereka. Inilah tujuan sesungguhnya dari semua praktek Buddhis.

"... Buddha meletakkan Moralitas, Konsentrasi dan Kearifan sebagai
Jalan menuju kedamaian, jalan menuju Pencerahan. Tetapi sesungguhnya
semua itu bukanlah esensi dari Buddhisme. Itu sekadar Jalan ...
Esensi Buddhisme adalah kedamaian, dan kedamaian itu muncul dari
pemahaman yang sesungguhnya terhadap hakekat segala sesuatu. ..."

Ajahn Chah, dalam "A Taste of Freedom"

*****

TANYA: Anda mengatakan 'samatha' dan 'vipassana' , atau konsentrasi
dan pencerahan, itu sama. Dapatkah Anda menjelaskan lebih lanjut?


JAWAB: Itu sederhana sekali. Konsentrasi (samatha) dan kearifan
(vipassana) bekerja bersama-sama. Mula-mula batin menjadi hening
dengan berpegang pada suatu obyek meditasi. Ia hening hanya selama
Anda duduk dengan mata Anda tertutup. Inilah 'samatha'; dan kelak
dasar samadhi ini merupakan penyebab dari munculnya kearifan atau
'vipassana'. Di situ batin hening, entah Anda duduk dengan mata
tertutup, entah berjalan-jalan di kota yang ramai. Seperti ini: Dulu
Anda anak kecil. Sekarang Anda dewasa. Apakah anak kecil dan orang
dewasa itu sama? Anda bisa bilang, keduanya sama; atau melihatnya
dari sudut lain, Anda bisa bilang keduanya berbeda. Secara ini
'samatha' dan 'vipassana' juga dapat dilihat sebagai berbeda. Atau
seperti makanan dan kotoran. Makanan dan kotoran dapat dikatakan sama
dan dapat dikatakan berbeda. Jangan hanya percaya apa yang saya
katakan, berlatihlah dan lihatlah sendiri. Tidak dibutuhkan apa-apa
yang istimewa. Jika Anda memeriksa bagaimana konsentrasi dan kearifan
muncul, Anda akan mengetahui sendiri kebenarannya. Pada dewasa ini
banyak orang melekat pada kata-kata. Mereka namakan latihan mereka
'vipassana'; 'samatha' diremehkan. Atau mereka namakan latihan mereka
'samatha'; adalah esensial untuk berlatih 'samatha' sebelum
'vipassana', kata mereka. Semua itu bodoh. Jangan repot-repot
berpikir seperti itu. Lakukan saja latihan Anda, dan Anda akan melihat sendiri.

TANYA: Apakah perlu untuk mampu masuk ke dalam absorpsi [jhana] dalam
latihan kita?


JAWAB: Tidak, absorpsi [jhana] tidak perlu. Anda harus menegakkan
ketenangan dan pemusatan batin sampai taraf tertentu. Lalu Anda
gunakan itu untuk menyelidiki diri Anda sendiri. Tidak dibutuhkan
apa-apa yang istimewa. Jika absorpsi [jhana] muncul dalam praktek
Anda, itu juga OK. Tapi jangan melekat kepadanya. Sementara orang
memikirkan terlalu banyak tentang absorpsi [jhana]. Kita bisa
bermain-main dengan itu secara sangat menyenangkan. Anda harus tahu
batas-batas yang semestinya. Jika Anda arif, maka Anda akan tahu
kegunaan dan keterbatasan absorpsi [jhana], persis seperti Anda tahu
keterbatasan anak-anak dibandingkan orang dewasa.

Ajahn Chah, dalam "Bodhinyana"

7
Kembali ke khotbah Ajahn Chah, beliau tidak anti Jhana (yg biasanya dikotakkan/dikonvensikan di dalam sebutan Samatha),

Ya, jelas Ajahn Chah tidak ANTI terhadap jhana ... untuk apa pula beliau ANTI-jhana?

Tetapi di lain pihak, Ajahn Chah dengan tegas menyatakan jhana tidak perlu untuk pembebasan. ... Ini berbeda dengan pandangan banyak bhikkhu lain, termasuk pandangan muridnya sendiri Ajahn Brahmavamso.

Hudoyo

8
Inilah kata-kata seorang guru meditasi, bukan kata-kata orang yang melekat pada kitab suci Tipitaka Pali:

"...The Buddha laid down Morality, Concentration and Wisdom as the Path to peace, the way to enlightenment. But in truth these things are not the essence of Buddhism. They are merely the Path... The essence of Buddhism is peace, and that peace arises from truly knowing the nature of all things..."

"Sang Buddha mengajarkan Sila, Samadhi dan Kearifan sebagai Jalan menuju kedamaian, jalan menuju pencerahan. Tetapi sesungguhnya hal-hal ini BUKANLAH ESENSI BUDDHISME. Mereka sekadar Jalan ... Esensi Buddhisme adalah kedamaian, dan kedamaian itu muncul dari melihat dengan sebenarnya hakikat dari segala sesuatu [yathabhutam nyanadassanam]."

-Ajahn Chah

http://www.what-buddha-taught.net/Books/Ajahn_Chah_A_Taste_of_Freedom.htm

9
wah.. sip buat postingan yg ini. baru tau ada pernyataan Ajahn Chah ttg ini..

grp sent.. later.. kalo udah 720jam :))

pentingnya tidak membeda-bedakan antara samatha dan vipassana:
[....]
Referensi: History of Mindfulness: How Insight Worsted Tranquility in Satipatthana Sutta
oleh: Bhikkhu Sujato

anumodana buat yg Ajahn Chah bro hendra..
sabar ya 720hr lg :)) hehehe ^-^

_/\_

Tolong deh, jangan dicampur-campur: bedakan ajaran Ajahn Chah dan Bhikkhu Sujato. Dari kutipan Anda di atas jelas pandangan mereka tentang PERLU atau TIDAK PERLU-nya jhana untuk pembebasan sangat berbeda.

Hudoyo

10
Yang Anda maksud dengan "konsentrasi terus-menerus" tentunya adalah Jhana.
Yang salah bukan pada Jhana, namun pada "melekat"nya.

Bukan masalah "salah" atau "benar", melainkan menurut pendapat saya, jhana--entah apa pun itu--tidak pernah membebaskan. Apalagi BIASANYA orang melekat pada pengalaman meditasi yang nikmat.

Lagi pula, jhana tidak bisa "dilepaskan" dari batin orang yang mengalaminya. Jadi bicara tentang jhana, tentulah bicara tentang batin orang yang mengalaminya. -- Ini seperti kilah banyak orang: "Yang salah bukan agamanya, tapi orangnya." Mana ada 'agama' yang berada di awang-awang, di luar kepala penganutnya? :)

11
Menurut saya sih.. Bhante Pannya mengikuti pengalaman beliau sendiri yg ada kecocokan dgn pandangan Ajahn Chah. Heheh..
Tidak bs dikatakan kita mengikuti orang juga, meski sedikit banyak pandangan org tsb berkontribusi pd pandangan kita.

Kata "mengikuti" perlu dipahami dalam kaitan dengan WAKTU. Ajahn Chah lebih dulu, Bhante Pannya menyusul.

Orang yang menyusul belakangan tentu menerima masukan dari ajaran orang yang datang sebelumnya. Tetapi begitu ajaran itu dibuktikan sendiri dalam pengalaman batinnya, dengan kata lain: diinternalisasikan, maka tidak bisa dibilang lagi ia "mengikuti orang lain itu". - Saya menjadi siswa Sang Buddha hanya selama ajaran Buddha itu terletak di luar batin saya, belum saya internalisasikan.

D
Quote
gn cara ini, dlm situasi tertentu, kita tidak memiliki guru. :)

Menurut saya, dalam semua situasi, kita harus mencermati kelekatan pada guru ini sejak awal perjalanan spiritual.

Quote
[at] bro Hendra
Kalau begitu.. pastilah yg dimaksud Ajahn Chah tidak anti terhadap teknik meditasi yg lain itu adlh cara berpraktek yg benar. Nah pertanyaannya, gmn dgn teknik meditasi/cara berpraktek yg salah? Apakah akan didukung oleh Ajahn Chah? :)

Sudah saya tanggapi dalam posting menjawab Hendra.


12
Trima kasih atas penjelasannya,
Dari referensi yg saya dapat dari forum ini, Ajahn Chah (yang Anda katakan diikuti oleh Bhante Pannya) tidak anti dengan teknik2 meditasi yang lain, sebagaimana yg saya kutip dari khotbah beliau,

"Satu point yang sangat esensial, dimana semua cara berprak- tek yang benar, akhirnya pasti kembali pada `Jangan melekat!'."

 _/\_

Setuju. "Semua cara praktik yang benar akhirnya akan kembali pada 'jangan melekat'." Artinya apa? Artinya, kalau ada praktik yang terus melekat, misalnya, melekat pada konsentrasi terus-menerus, tentu itu bukan 'cara praktik yang benar', bukan.

13
Bhante Pannya mengikuti Ajahn Chah, karena beliau datang belakangan daripada Ajahn Chah; dan itu pun saya ketahui dari pembicaraan-pembicaraan secara pribadi dengan beliau.
Bhante Pannya tidak mengikuti MMD, melainkan mendukung MMD secara terang-terangan. Sudah baca wejangan beliau pada pembukaan dan penutupan retret MMD seminggu di Vihara Mendut Desember lalu?

Hudoyo

14
Berikut ini kompilasi debat saya dengan Reenzia:

TESLA: [menanggapi posting LILY W.]

hahaha... ga nyambung :D

HUDOYO:

Iyalah, sudah terlalu penuh dengan teori Abhidhamma kali, sehingga tidak bisa melihat lagi baitn sendiri masih mengandung miccha-ditthi atau tidak.

REENZIA:

terlalu banyak mengamati batin orang lain juga berpotensi membuat diri sendiri lupa mengamati batin sendiri
bukankah jalan yang akan ditempuh masing-masing dipilih sendiri?

HUDOYO:

Tolong katakan itu kepada Ibu Lily. Itulah yang saya mau katakan kepada beliau.

REENZIA:

saia menulis untuk siapapun yang ingin menerimanya


*****

BOND:

Biarkanlah thread ini dikhususkan MMD, :D biar yg punya kepentingan lega  yg pasti jelas MMD memang bukan meditasi buddhisme dan sudah dalam tempat yg selayaknya :)

HUDOYO:

Lagu lama, Rekan Bond.  ... Ini yang dimaksud Bu Lily dengan "pandangan pribadi" kali.

Anda akan melihat MMD dipraktekkan oleh semakin banyak umat Buddha di Indonesia, apa pun yang Anda katakan.

REENZIA:

banyak tidaknya orang lain yang berpedoman pada dhamma ataupun MMD
tak mempengaruhi jalan orang yang memiliki pandangan yang benar

mau bnyk kek... mau ngga kek, itu gak jadi patokan bahwa jalan itu adalah benar

mayoritas belum tentu benar kan?

coba lihat saja berapa banyak orang yang masih tertutup matanya oleh debu dan sama sekali tak berniat untuk membersihkannya dibandingkan orang yang sedikit demi sedikit telah menyadari bahwa matanya telah tertutup debu
dan berniat menyingkirkan debu dimatanya untuk melihat kenyataan

HUDOYO:

<< banyak tidaknya orang lain yang berpedoman pada dhamma ataupun MMD
tak mempengaruhi jalan orang yang memiliki pandangan yang benar>>

Bagi seorang puthujjana, seperti anda dan saya, "pandangan benar" itu sangat subyektif.
Bahkan tafsiran terhadap ajaran Sang Buddha pun sangat subyektif.


<<mau bnyk kek... mau ngga kek, itu gak jadi patokan bahwa jalan itu adalah benar
mayoritas belum tentu benar kan?>>

Anda tidak membaca apa yang saya tulis, tapi Anda cuma membaca disertai prasangka (prejudice) yang ada di kepala Anda. Repot berdiskusi dengan orang yang sudah punya prasangka.

Saya gak pernah bilang MMD "paling benar", saya gak prnah bilang bahwa MMD adalah "mayoritas". Yang saya bilang semakin lama semakin banyak orang menjalankan MMD. Dan itu akan Anda lihat sendiri di kanan-kiri Anda di waktu yang akan datang.


REENZIA:

<<Tolong katakan itu kepada Ibu Lily. Itulah yang saya mau katakan kepada beliau.>>

saia menulis untuk siapapun yang ingin menerimanya


<<Bagi seorang puthujjana, seperti anda dan saya, "pandangan benar" itu sangat subyektif.
Bahkan tafsiran terhadap ajaran Sang Buddha pun sangat subyektif.>>

saia tak menganggap ini benar atau itu benar
saia hanya berkata pandangan benar orang yang benar tak akan terpengaruh apapun, thats it
tanpa asumsi apapun


<<Anda tidak membaca apa yang saya tulis, tapi Anda cuma membaca disertai prasangka (prejudice) yang ada di kepala Anda. Repot berdiskusi dengan orang yang sudah punya prasangka.
Saya gak pernah bilang MMD "paling benar", saya gak prnah bilang bahwa MMD adalah "mayoritas". Yang saya bilang semakin lama semakin banyak orang menjalankan MMD. Dan itu akan Anda lihat sendiri di kanan-kiri Anda di waktu yang akan datang.>>

saia juga tak berprasangka bahwa ini lebih benar dari pada yang itu kok, anda tau dari mana kalo saia berprasangka?
saia hanya menegaskan mayoritas tak selalu adalah yang benar
saia tak pernah menyebutkan bahwa MMD atau dhamma tidak benar atau benar kan?

kenapa terlalu banyak berasumsi bahwa saia telah mempunyai prasangka?
prasangka hanya muncul dalam pikiran anda sendiri

HUDOYO:

<<saia hanya berkata pandangan benar orang yang benar tak akan terpengaruh apapun, thats it
tanpa asumsi apapun>>

Lalu saya tanggapi bahwa bagi puthujjana seperti Anda dan saya, "pandangan benar" itu sangat subyektif, sehingga tidak bisa disebut "pandangan benar".

Sekali lagi saya tegaskan, bagi puthujjana seperti Anda dan saya tidak ada "pandangan benar".


<<saia juga tak berprasangka bahwa ini lebih benar dari pada yang itu kok, anda tau dari mana kalo saia berprasangka?
saia hanya menegaskan mayoritas tak selalu adalah yang benar>>

Anda menulis seperti ini: "banyak tidaknya orang lain yang berpedoman pada dhamma ataupun MMD tak mempengaruhi jalan orang yang memiliki pandangan yang benar. mau bnyk kek... mau ngga kek, itu gak jadi patokan bahwa jalan itu adalah benar. mayoritas belum tentu benar kan?" sebagai jawaban Anda terhadap pernyataan faktual saya: "Anda akan melihat MMD dipraktekkan oleh semakin banyak umat Buddha di Indonesia, apa pun yang Anda katakan."

Dari rangkaian debat ini SANGAT JELAS prasangka Anda!


<<kenapa terlalu banyak berasumsi bahwa saia telah mempunyai prasangka?
prasangka hanya muncul dalam pikiran anda sendiri>>

Dari kompilasi ini sangat jelas prasangka Anda!

Tidak perlu diteruskan lagi bicara dengan orang yang sudah berprasangka. Debat ini sudah menjurus kepada debat kusir lagi. Sampai di sini saja.

Hudoyo

15
sadhu, sadhu, sadhu

Ajaran Ajahn Chah memang paling dekat dengan MMD, dan ini diikuti oleh Sri Pannyavaro Mahathera.

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 128