Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Peacemind

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 65
1
Game / Re: game bahasa Pali
« on: 24 July 2011, 09:53:18 PM »
ravaṇa?

2
Kafe Jongkok / Re: FORUM vs FB, anda ingin yg mana ?
« on: 24 July 2011, 09:51:10 PM »
Oh ini....

3
Studi Sutta/Sutra / Re: bagaimana Angulimala mencapai Kearahatan
« on: 03 July 2011, 09:30:05 AM »
Di dalam bahasa Pali, kata yang digunakan 'siddhatthaka'. Rhys Davids, dalam kamusnya 'Pali English Dictionary' menerjemahkan kata siddhatthaka sebagai 'white mustard'.  Is white mustard biji mostar atau biji lada?

4
Studi Sutta/Sutra / Re: bagaimana Angulimala mencapai Kearahatan
« on: 03 July 2011, 09:20:48 AM »
 [at] Indra: Yang benar kayaknya bija lada. Saya sendiri ragu mengatakan bawang putih karena saya sendiri lupa-lupa ingat. Oleh karenanya, saya beri tanda tanya (?). Thanks telah memberikan koreksi.

5
Studi Sutta/Sutra / Re: bagaimana Angulimala mencapai Kearahatan
« on: 03 July 2011, 09:05:23 AM »
 [at] Indra:

Di Kitab Komentar hanya dikatakan demikian:

"Tena hīti yasmā te kāruññaṃ uppannaṃ, tasmāti attho. Ariyāya jātiyāti, aṅgulimāla, etaṃ tvaṃ mā gaṇhi, nesā tava jāti. Gihikālo esa, gihī nāma pāṇampi hananti, adinnādānādīnipi karonti. Idāni pana te ariyā nāma jāti. Tasmā tvaṃ ‘‘yato ahaṃ, bhagini, jāto’’ti sace evaṃ vattuṃ kukkuccāyasi, tena hi ‘‘ariyāya jātiyā’’ti evaṃ visesetvā vadāhīti uyyojesi".

"(Kalimat Sang Buddha)' tena hi / kalau begitu' bermakna 'karena (Sang Buddha) memiliki kasih sayang kepadanya (Angulimala), oleh karenanya (dikatakan demikian). Kalimat 'ariyāya jātiya / sejak  terlahir mulia', berarti: '(Sang Buddha berpikir)', 'Aṅgulimala, jangan ambil itu (pernyataan yang pertama), itu bukanlah kelahiran (mulia)mu. Di kala hidup sebagai perumah tangga, orang-orang membunuh makhluk, melakukan pencurian, dsb. Sekarang engkau telah lahir mulia. Oleh karenanya, jika engkau menyesal untuk mengatakan, 'Sejak aku dilahirkan..(yang pernyataan pertama)', sekarang, katakanlah, 'Sejak terlahir mulia'."

Pernyataan Kitab Komentar di atas memang tidak menunjukkan alasan mengapa Sang Buddha mengatakan pernyataan pertama meski Beliau sendiri mengharapkan bhikkhu Angulimala untuk tidak menerimanya. Namun saya pribadi berpendapat bahwa ini merupakan taktik Sang Buddha. Jika Sang Buddha langsung memberikan pernyataan kedua, kesan yang tertanam pada Aṅgulimala terhadap pernyataan kedua  tidak akan menjadi sangat kuat. Namun, jika ia sendiri telah mengakui betapa jahatnya dia sebelum menjadi bhikkhu, dan juga mengetahui melalui kebenaran pernyataan Sang Buddha kedua bahwa setelah menjadi bhikkhu (lahir mulia) ia tidak sedikitpun memiliki keinginan untuk membunuh, kesan yang ditimbulkan dari pernyataan yang kedua sebagai kebenaran menjadi tertanam kuat. Kesan yang kuat ini atau dengan kata lain, keyakinan kuat yang ditimbulkan oleh kebenaran semua ini (pengakuan kejahatannya sebelum menjadi bhikkhu dan pengakuan bahwa ia tidak melakukan pembunuhan setelah menjadi bhikkhu), akan membantunya bukan hanya perempuan tersebut, tetapi praktiknya sendiri. Sebenarnya, kutipan dari kitab komentar yang saya kutip pertama sudah ada indikasi bahwa Sang Buddha sengaja membuat Angulimala untuk mengatakan pernyataan kebenaran (saccakiriya). Oleh karenanya, Beliau membuat dua pernyataan kepada Angulimala.

Sebenarnya kasus pertama memiliki kemiripan dengan kasus Kisagotami. Untuk membuat Kisagotami sadar dengan sendirinya, Sang Buddha menyuruhnya untuk mencari bawang putih (?) di keluarga di mana belum ada peristiwa kematian. Sang Buddha tahu bahwa hal itu tidak mungkin didapatkan, tetapi jika tidak menyuruhnya, Kisagotami tidak akan sadar dengan sendirinya. Demikian pula, jika Sang Buddha langsung memberikan peryataaan kedua kepada Angulimala, kesan yang ditimbulkan tidak akan menjadi kuat. Oleh karena itu, Beliau mengatakan pernyataan kedua untuk mengajakanya berpikir dan mengakui kesalahannya sendiri terlebih dahulu.

Mettacittena,

6
Studi Sutta/Sutra / Re: bagaimana Angulimala mencapai Kearahatan
« on: 02 July 2011, 09:08:27 PM »
Kalau di kitab komentar, secara sekilas, bhikkhu Angulimala mencapai kesucian arahat setelah mengembangkan vipassana. Dikatakan pula Beliau melatih meditasi dengan obyek tertentu tetapi tidak dikatakan apa obyeknya. Di Kitab komentar ada pertanyaaan mengapa Sang Buddha memberikan paritta untuk membantu wanita yang melahirkan kepada Angulimala, demikian:

Kiṃ pana bhagavā theraṃ vejjakammaṃ kārāpesīti? Na kārāpesi. Therañhi disvā manussā bhītā palāyanti. Thero bhikkhāhārena kilamati, samaṇadhammaṃ kātuṃ na sakkoti. Tassa anuggahena saccakiriyaṃ kāresi. Evaṃ kirassa ahosi – ‘‘idāni kira aṅgulimālatthero mettacittaṃ paṭilabhitvā saccakiriyāya manussānaṃ sotthibhāvaṃ karotīti manussā theraṃ upasaṅkamitabbaṃ maññissanti, tato bhikkhāhārena akilamanto samaṇadhammaṃ kātuṃ sakkhissatī’’ti anuggahena saccakiriyaṃ kāresi. Na hi saccakiriyā vejjakammaṃ hoti. Therassāpi ca ‘‘samaṇadhammaṃ karissāmī’’ti mūlakammaṭṭhānaṃ gahetvā rattiṭṭhānadivāṭṭhāne nisinnassa cittaṃ kammaṭṭhānābhimukhaṃ na gacchati, aṭaviyaṃ ṭhatvā manussānaṃ ghātitaṭṭhānameva pākaṭaṃ hoti. ‘‘Duggatomhi, khuddakaputtomhi, jīvitaṃ me dehi sāmīti maraṇabhītānaṃ vacanākāro ca hatthapādavikāro ca āpāthaṃ āgacchati, so vippaṭisārī hutvā tatova uṭṭhāya gacchati, athassa bhagavā taṃ jātiṃ abbohārikaṃ katvāvāyaṃ vipassanaṃ vaḍḍhetvā arahattaṃ gaṇhissatīti ariyāya jātiyā saccakiriyaṃ kāresi.

Apakah Sang Buddha membuat Sang thera (Bhikkhu Angulimala) untuk menjadi tabib? Tidak, Beliau tidak membuatnya (untuk menjadi tabib). Orang-orang akan lari ketakutan setelah melihat Bhikkhu Angulimala. Akibatnya, Ia kesusahan untuk mendapatkan makanan dalam pindapata dan tidak bisa mempraktikkan kehidupan pertapaannya dengan baik. Sang Buddha membuat Sang thera untuk mengucapkan pernyataan kebenaran untuk membantunya (keluar dari kesusahannya). Sang Buddha membuat Sang Thera mengucapkan pernyataan kebenaran untuk membantunya,  berpikir, "Orang-orang akan berpikir bahwa Sang thera adalah sangat pantas untuk dikunjungi setelah berpikir, 'Sekarang thera Angulimala memiliki pikiran cinta kasih dan dengan kekuatan pernyataan kebenaran Ia memberikan berkah kepada para manusia'". Pernyataan kebenaran ini adalah bukan perkerjaan tabib. Sang Thera sendiri setelah mengambil obyek utama dalam meditasi, berpikir, "Saya akan melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang samana". Namun ketika duduk (bermeditasi) siang dan malam, pikiran tidak terpusat pada obyek meditasinya. Berdiri di hutan, muncullah gambaran pada dirinya tempat di mana orang-orang telah dibunuhnya. Bayangan kaki dan tangan dan suara-suara orang-orang yang takut akan kematian pun muncul, "Tuan, saya telah pergi di alam yang menderita, kembalikan kehidupanku, kembalikan anak kecilku". Bhikkhu Angulimala menjadi sangat menyesal, bangun dari tempat itu, ia pergi. Sang Buddha membuat Angulimala untuk mengucapkan pernyataan kebenaran mengenai kelahiran mulia kepadanya, berpikir, "Berbasis pada kelahiran mulianya yang tidak terputus, Ia (Angulimala) akan mengembangkan vipassana dan mencapai kesucian arahat".

Di atas, adalah apa yang dikatakan di dalam Kitab komentar untuk Angulimala Sutta, Majjhimanikāya. Perlu diketahui pula bahwa ketika bhikkhu Angulimala mengucapkan 'sejak aku terlahir di kelahiran mulia (ariyā jāti)', kelahiran mulia ini bukan dimaksudkan Ia telah mencapai kesucian, namun mengacu kepada waktu sejak ia menjadi seorang bhikkhu. Dari pernyataan ini dan didukung oleh kitab komentar, bisa disimpulkan bahwa sebelum Angulimala membuat pernyataan di depan Sang Buddha bahwa ia tidak pernah memiliki kehendak sedikitpun  untuk membunuh setelah menjadi bhikkhu, Ia tampaknya sangat menyesal dengan perbuatan lampaunya membunuh banyak orang sehingga Ia pun tidak bisa bermeditasi. Ketika Ia membuat pernyataan kebenaran di depan Sang Buddha di atas, Ia memperoleh confidence pada dirinya sehingga ia mampu mengembangkan meditasi vipassana dan akhirnya mencapai kesucian arahat.

Mettacittena,

7
Meditasi / Re: Kenapa Bisa Ketakutan Saat Meditasi?
« on: 24 June 2011, 09:42:12 PM »
Dari ciri2nya, memang sleep paralyze..

8
Theravada / Re: alam neraka siapa yg bertugas
« on: 24 June 2011, 09:36:57 PM »
[at]  rev peacemind
Rev anumodana atas penjelasannya. Namun saya jadi binggung karena dari info yg saya dapet melalui para romo/ramani bahwa penjaga neraka itu tdk ada yg ada hanya kondisi alam neraka yg seperti demikian. Kalau seperti rev katakan bahwa penjaga neraka ada memiliki karmanya sendiri lalu yg yg dia lakukan adalah menyiksa berarti kamma buruk.
 Nantinya merka akan terlahir d mana?
 Lalu 4 raja neraka tsb memerintah neraka seperti tatanan sosial pada alamk dewa atau tidak?
Dalam tradisi theravada ada raja neraka (raja yama) saya kira dewa ( yama) dlm tradisi mahayana


Wah....terus terang saja, saya pribadi tidak bisa menjawab hal ini. Soalnya, di kitab suci, juga tidak dijelaskan lebih lanjut apa karma para penjaga neraka tersbt, juga tidak dijelaskan bagaimna empat raja neraka tersebut memerintah...

9
Theravada / Re: alam neraka siapa yg bertugas
« on: 20 June 2011, 11:57:27 PM »
Kalau untuk schedulenya ngga tahu lah.. Saya hanya mengutip apa yang ada di kitab sja.. :D

10
Theravada / Re: alam neraka siapa yg bertugas
« on: 20 June 2011, 11:24:47 PM »
Menurut kitab komentar untuk Devadūta Sutta, ada beberapa bhikkhu yang tidak setuju bahwa ada benar2 makhluk seperti penjaga neraka. Sub komentar (ṭikā) menjelaskan bahwa para bhikkhu ini adalah pengikut tradisi Andhaka dan Viññanavāda. Mereka berkesimpulan bahwa makhluk2 penjaga neraka itu adalah ciptaan kamma semata. Sementara itu, tradisi Theravāda berpendapat bahwa penjaga neraka itu ada, dan Raja Yama yang dimaksud adalah raja Vemānikapeta. Jika melihat kata Vemānikapetarājā, kata ini mengacu kepada seorang raja para peta yang memiliki istana dewa. Yama adalah nama raja ini. Jadi Yama di sini bukan makhluk Yama yang ada di alam Yama. Raja Yama yang menjaga alam neraka dikatakan telah berbuat baik sehingga ia menjadi raja di sini. Di alam neraka, tidak hanya ada satu raja Yama saja, tetapi ada empat raja  yang menempati empat penjuru alam neraka.

mettacittena,

11
Game / Re: game bahasa Pali
« on: 20 June 2011, 11:02:38 PM »
Vimala - tanpa noda.

tacasāra?

12
Game / Re: game bahasa Pali
« on: 07 May 2011, 04:13:51 PM »
1. kammaja = resulting from karma
2. dari buku RAPB, ketemu kata
    kammaja rūpa = tubuh karma

kammaja itu beda dengan kammajā ?

jadi next question tetep, kammajā artinya apa?


Kammaja dan kammajā memiliki arti yang tidak berbeda. Keduanya berarti 'lahir atau muncul karena kamma / perbuatan'. Yang membedakan keduanya adalah penempatan di mana kedua kata tersebut ditempatkan. Kedua kata ini biasanya merupakan kata sifat. Jika kata ini mengikuti obyek atau subyek yang tunggal, misal, 'rūpaṃ', maka di sini akan menggunakan kata kammajaṃ dan menjadi kammajaṃ rūpaṃ. Jika digabung, ini akan menjadi 'kammajarūpaṃ' yang berarti 'materi yang muncul karena kamma' (dan bukan 'tubuh karma' seperti di atas karena pernyataan ini bisa disalah artikan). Jika yang diikuti adalah obyek atau subyek femine yang biasanya berakhir ā atau plural, maka kata yang digunakan adalah kammajā. Sebagai contoh, kalāpā kammajā santi - ada atom-atom yang muncul karena kamma'.

nissaya?

13
Game / Re: game bahasa Pali
« on: 02 May 2011, 09:49:09 AM »
pāṇa = napas, kehidupan
cāga = menghindari, menjauhi, melepaskan
pāṇacāga = kematian

pāṇacāgo apakah sama dengan pāṇacāga?

sagga?

Pāṇacāgo dan pāṇācāga sama. Pāṇacāgo = subyek dalam kalimat, sedangkan pāṇacāga = vocative word.

sagga = surga.

Kammajā?

14
Memohon kepada Sangha Theravada Indonesia untuk tidak menutup pintu kebajikan umat awam, hendaknya lah para Bhikku yang tingga di kota dimana banyak umat awam nya menggunakan patta dari tanah liat bakar atau keramik hingga bila rusak atau pecah maka umat awam lain mempunyai kesempatan berdana patta tersebut karena bila menggunakan patta terbuat dari logam atau stainles steel mungkin patta ini tidak akan rusak ( mungkin di pakai seumur hidup sang bhikku tersebut) dan ini juga tidak sesuai juga dgn prinsip anicca.

hendaknya lah penggunaan patta logam atau stainles steel hanya di pertimbangkan digunakan pada bhikku duthanga ( bhikku yang tinggal di hutan), tempat terpencil dan daerah konflik.

Oh Sangha yang agung dimanapun juga baik didunia ini maupun dunia dunia lain nya dengar lah permohonan ini.

dan bagi umat awam lain nya tolong bersikap bijaksana lah dalam memberi pesembahan patta ini kepada anggota sangha pertimbangkan lah agar umat yang lain juga agar dapat berdana patta ini bila suatu saat rusak.

Seharusnya seseorang turut berbahagia jika para bhikkhu memperoleh patta yang kuat terbuat dari logam. Dengan memiliki patta yang kuat, setidaknya, para bhikkhu tidak akan kepikiran tentang patta dan ini juga akan mendukung mereka untuk lebih fokus ke dalam praktik. Turut berbahagia (mudita) juga perbuatan baik. Selain itu, masih banyak perbuatan2 baik lainnya yang lebih besar buahnya yakni dengan praktik ajaran-ajaran lainnya seperti, sila, samādhi, paññā.

Btw, di Indo, kalaupun para bhikkhu mendapatkan patta terbuat dari tanah liatpun, patta itu tidak akan hancur2... lha.. pattanya saja hanya digunakan kalau pas ada program pindapatta yang terkadang muncul setahun sekali. ;D So...

15
Game / Re: game bahasa Pali
« on: 01 May 2011, 09:08:05 PM »
bāḷhagilāna = klinik, balai pengobatan

dubbala ?

bāḷhagilāna = sakit keras. Bāḷha = keras, gilāna = sakit. Balai pengobatan / rumah sakit = ārogyasālā

dubbala = lemah, dari awalah du = buruk, dan kata bala = kuat = tidak kuat / lemah.

pāṇacāgo?

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 65