Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - RetjaPentung

Pages: [1] 2
1
Meditasi / Re: Pengalaman meditasi objek api/lilin
« on: 18 October 2017, 06:44:48 PM »
meditasi bisa dicapai dalam 7 hari atau paling cepat 3 minggu kalau jadi petapa.
Umat awam biasanya berpuluhan tahun. Bahkan ada bhikkhu yang butuh 20 tahunan, jadi umat awam harus rutin meditasi.
Setiap pertapa, pada awalnya juga adalah seorag pemula.
Kan seseorang tidak mendadak menjadi pertapa.

BTW, meditasi bukan pencapaian, tetapi adalah "kegiatan".

jika di kehidupan lampau pernah meditasi dan masih kuat, sekali pandang objek akan langsung terserap, jika lebih lemah dari itu, seminggu (7 hari) bisa mencapainya, atau jika lebih lemah dari itu, 3 minggu bisa dicapai. Seperti anak kecil yang berbakat menggambar, nyanyi, ia akan langsung mahir dalam hal demikian, tetapi beberapa perlu latihan yang lama.
Tentu kita tidak bicara soal "simpanan" di kehidupan lalu. Itu sesuatu yang kita tidak bisa ketahui saat ini.
Kita hanya bisa menyimpulkan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Berapa banyak orang yang mampu menggapai samadhi hanya dalam kurun waktu 7 hari, mengingat untuk duduk selama 1 jam saja banyak yang tidak mampu.

Kalau mendengar suara tetangga, itu juga pernah saya alami (suara bisikan), menurut saya itu cuman bunyi suara sekitar saja yang mulai masuk ke telinga karena "kita sudah mulai fokus". Kunci meditasi adalah "pelepasan". Melepaskan semuanya, baik pekerjaan maupun keinginan, terutama lima utas kenikmatan atau dengan kata lain, harus rutin mempelajari 5 rintangan dan persepsi cahaya. Tapi, ya tetap saja, menurut saya, guru meditasi sangat diperlukan

Ketika konsentrasi sudah sangat kuat, pikiran akan sangat terfokus, sehingga segala kebisingan disekitar akan tersingkirkan ke "background".
Suara-suara bising itu ada di sekitar, tapi hanya di latar belakang, tidak mengganggu.
Dalam kondisi seperti ini, seorang pemeditasi tidak lagi menyadari waktu, dan karenanya tidak akan terasa bahwa dia telah duduk bermeditasi selama berjam-jam.



2
Meditasi / Re: Pengalaman meditasi objek api/lilin
« on: 18 October 2017, 12:02:02 AM »
Dari pengalaman saya, saya sangat yakin bahwa anda sempat masuk dalam faktor jhana Vitaka.
Saya bermeditasi anapanasati, dan pernah mengalami kejadian yang mirip-mirip yang anda rasakan.
Seakan "tersedot" dalam suatu keheningan, semua suara menjadi seperti hanya pada "background", ada tapi tidak kentara dan tidak mengganggu.
Pikiran sangat fokus, indera sangat tajam. Bahkan saya bisa mendengar suara pembicaraan tetangga, yang mana biasanya tidak terdengar.

Pada satu kesempatan retret MMD, pernah saya tanyakan pada Romo Hudoyo, dan menurut pendapat Romo, itu adalah Vitaka.

Vitaka adalah awal dari meditasi yang mendalam, karena Vitaka Dan setelahnya Vicara adalah awal dari Uggaha nimitta.

Namun, setelah mencapai Vitaka, biasanya para pemeditasi akan mengalami stuck alias sulit kembali mencapai vitaka pada sesi-sesi berikutnya.
Hal ini dikarenakan si "aku" terus-terus berekspektasi untuk mengalami hal tersebut lagi.
Pada pengalaman pertama, karena belum pernah mengalami, vitaka dicapai tanpa ada "persiapan", alias batin tidak mengoceh.
Sedangkan pada sesi berikutnya, batin cenderung berceloteh "ini dia"... yang berarti si "aku" yang harus pasif telah ikut campur.
Maka ketika akan memasuki vitaka, celoteh batin "ini dia" memutus konsentrasi dari obyek (walau hanya sepersekian detik).

Ya, its suck!
Tapi memang demikianlah susahnya meditasi.

Lalu bagaimana?
Apakah selamanya tidak akan bisa kembali mencapai tahap vitaka tersebut?
Sulit bukan berarti tidak bisa.

Menurut aku, teruslah berusaha, teruslah bermeditasi dengan durasi sepanjang mungkin.
kadang memang akan membuat kita sebal, duduk berjam-jam tapi koq seakan ga ada hasilnya.
Tetaplah duduk bermeditasi. Walau tidak memasuki vitaka, tidak ada kemajuan, minimal kamu mempertahankan apa yang sudah kamu capai, yakni ketahanan fisik dan mental untuk mampu duduk sekian lama bermeditasi.
Jika kamu kendor, lalu meninggalkan meditasi, kelak bila kamu kembali bermeditasi, kamu akan harus memulai lagi melatih kemampuan untuk duduk sekian lama.

Menurut aku lagi, dengan membiasakan duduk meditasi dan memperpanjang durasi meditasi kita, walau tanpa hasil yang kita "harapkan", lama-lama kita akan mengabaikan harapan kita tersebut. Kita akan terbiasa. Kita tidak lagi berekspektasi, dan mungkin pada satu ketika kita kembali "tersedot" kembali tanpa sempat kita berekspektasi dan berceloteh "ini dia".

BTW, kalau ada retret yang bilang bisa mencapai jhana dalam waktu 7 hari, 10 hari, 1 bulan, gak usah dipercaya.
Meditasi yang memiliki tenggat/target waktu adalah bukan meditasi.

3
Theravada / Re: Cuci mobil dan sila pertama
« on: 17 October 2017, 11:27:22 PM »
Sila pertama Pancasila Buddhist.
Pannatipata Veramani Sikkhapadang Sammadiyami.
Bertekad berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup.

Tidak ada larangan, tidak ada perintah.
Tidak yang melarang, tidak ada yang memerintah.
Semua adalah atas dasar tekad karena hal tersebut baik dan pantas untuk dilakukan.

Ketika melakukan suatu kegiatan, lalu tanpa ada niat suatu makhluk terbunuh, itu adalah diluar niat kita.

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan tentang mencuci kendaraan, lalu ekses dari mencuci kendaraan tersebut menyebabkan adanya semut-semut di lantai terbunuh. Ini berbeda dengan melihat sarang semut di pohon, lalu kemudian menyulut api untuk menghancurkan sarang semut tersebut.

Jika memang berniat menghindarkan ekses dari mencuci kendaraan mengenai binatang-binatang kecil di lantai, okelah, silakan pindah tempat mencucinya. Atau bawa kendaraan ke tempat jasa pencucian kendaraan.

Buddha ajarkan bahwa hidup adalah penderitaan. Hidup itu sudah penuh derita. Jangan membuat segala sesuatu menjadi lebih sulit lagi.
Prinsipnya ya JANGAN BERLEBIHAN.

Kalau berlebihan, maka jangankan soal cuci kendaraan, kita mungkin juga harus pusingkan bagaimana dengan air cucian baju dari mesin cuci yang mengandung deterjen lalu mengalir ke got dan bisa membunuh cacing-cacing di got.
Wah, kalau beragama jadi membuat hidup lebih susah, mendingan gak usah beragama saja.

4
Perkenalan / Re: salam kenal lagi
« on: 08 September 2017, 03:27:30 AM »
salam kenal alv88... forum ini walaupun belakangan kurang aktif, sebenarnya cukup banyak databasenya..
sebelum bertanya, boleh search topik2 yang sudah ada sebelumnya, barangkali sudah pernah didiskusikan sebelumnya..
tetapi jika topik yang bersangkutan tidak ditemukan, silakan buat thread baru.. trims.  _/\_

Forum ginian memang di mana-mana sudah kurang aktif.
Salah satu sebabnya adalah perkembangan teknologi informasi yang demikian luar biasa pesat.
Orang-orang sekarang lebih suka pakai app di phone mereka... dan terutama sibuk main game.

5
Theravada / Re: Cuci mobil dan sila pertama
« on: 08 September 2017, 03:24:07 AM »
Hidup itu jangan berlebihan.
Menjalankan Dhamma jangan terlalu maksa...
Kamu niatnya cuci mobil, bukan membunuh semut... ya sudah cuci saja tanpa perlu pikir lainnya.

Sesungguhnya yang disebut kamma adalah cettana.

6
hai saya seorang buddhist yang mempelajari agama buddha secara otodidak tiada guru,
saya belajar dari berbagai ceramah dan buku yang ada di indonesia dalam bahasa indonesia dan mendengar ceramah dari youtube ataupun di vihara sekitar. pada awalnya saya yakin akan ajaran buddha sebagai satu satunya ajaran yang paling cocok dan bener dimuka bumi ini. tetapi setelah saya mencapai pada titik keterpurukan saya hilang dengan keyakinan itu dan merasa ajaran buddha di indonesia begitu begitu saja. tidak ada yang dapat membuat saya berbeda hanya lebih menyendiri dan semakin kehilangan arah. sampai pada titik sekarang saya meragukan buddha itu sendiri tidak lebih hanya seorang yogi yang berhasil dalam latihannya. saya hilang sudah keyakinan kepada buddha dhamma dan sangha.

pertanyaan saya adalah apa yang saya harus lakukan ?

Sepertinya harus diperjelas,
Sesungguhnya anda kehilangan keyakinan pada Tiratana, ataukah anda kecewa karena anda terpuruk, anda meminta tolong pada PATUNG Buddha, berharap akan ada keajaiban, namun keajaiban yang anda harapkan tersebut tidak pernah terjadi.

Jika, keyakinan anda hilang pada Buddha Dhamma Sangha adalah karena seperti dugaan saya di atas, maka sesungguhnya anda tidak pernah memahami ajaran Sang Buddha, karena seperti sebagian besar orang yang mengaku UMAT BUDDHA, sangat melekat pada SILABBATAPARAMASA - berpikir bahwa sembahyang, ritual, kebaktian, berlutut, bernamaskara, memohon, meminta-minta, mengemis di depan patung Buddha akan membawakan HASIL. Padahal sang Buddha sendiri sudah mengatakan bahwa Silabbataparamasa adalah salah satu dari 10 Samyojana yang harus dikikis.

Lebih dari 20 tahun, saya melepaskan LABEL UMAT BUDDHA dari diri saya, tidak pernah kebaktian, tidak pernah ritual apalagi mengemis-ngemis meminta bantuan pada patung Buddha. Saya hanya menjadi seorang praktisi Dhamma (Dhammiko), karena pada era Sang Buddha, tidak ada yang disebut sebagai Buddhist (Umat Buddha), tetapi hanya Dhammiko (Praktisi Dhamma). Saya hanya berpraktik Dhamma (walau dalam skala yang sangat kecil), tetapi saya tidak mengikat diri dalam ritual (walau dalam skala yang kecil juga). Bahkan dalam praktik meditasi saya setiap malam, saya tidak mengawali dengan ritual apapun, termasuk melafal paritta.

Tapi tidak apa-apa... yang terpenting adalah apakah anda bahagia?
Jika kehilangan keyakinan pada Buddha, Dhamma, Sangha justru membawa kebahagiaan pada anda, maka itu adalah hal yang baik.
Jadi tidak ada yang perlu anda risaukan atau khawatirkan.

7
Meditasi / Re: Susahnya di mana?
« on: 17 August 2017, 12:43:51 AM »
terlepas dari tujuannya apakah "mencapai" atau "melepas", tetap saja entah susahnya di mana.

8
Apakah LSY seorang Buddha?
Simple saja!
Seorang buddhist tidak pantas menggunakan standard ganda, alias plintat plintut.
Jika percaya pada ajaran Buddha, maka pertama harus diyakini adalah bahwa seorang Buddha memiliki 32 tanda primer alias Maha Purisa Lakkhana.

Nah, adakah LSY memiliki 32 tanda tersebut?
 :)) :)) :)) :))

9

Kalau Anda mengacu pada Vinaya, tidak ada larangan mengenakan jam mewah. Bahkan kalau mau jujur ada bhikshu2 yang punya HP mewah. Apakah itu melanggar Vinaya? Lagipua definisi mewah dan tidak mewah tidak sama di berbagai tempat dan juga berubah sepanjang zaman.

Demikian sekilas penjelasan dari paria.

Really?
Ini termasuk LOGICAL FALLACY alias kesesatan logika.
Menggunakan sebuah contoh yang salah untuk membenarkan kesalahan yang sama.
Apakah karena ada bhikkhu menggunakan HP mewah, lalu kemudian seorang yang ngaku ngaku buddha hidup kemudian menjadi benar melakukan hal yang sama?
Ingat ya... 1 salah + 1 salah, tidak menghasilkan 1 benar, tetapi 2 salah.

Kembali pada prinsip dasar.
Dunia hanya sangggup menahan kehadiran 1 buddha pada 1 masa.
Selama ajaran Buddha Sakyamuni masih ada, masih ada yang praktik, masih ada yang mempelajari, masih ada yang membahasnya, masih ada yang mendengarnya, adalah TIDAK MUNGKIN hadir buddha lainnya.
Dari prinsip dasar ini saja, kita sudah harusnya punya keyakinan teguh, TIDAK ADA BUDDHA dalam masa ini karena ajaran Sakyamuni Buddha masih exist!!!


10
Buddhisme Awal / Re: apakah kita buddhist?
« on: 02 August 2017, 02:01:46 AM »
Saya menanggalkan jubah buddhist aku, sekitar 20 tahun lalu.
Saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai umat Buddha lagi (walaupun untuk administrasi negara, di katepe saya masih tertulis agama buddha).
Saya menyebut diri saya sebagai Dhammiko, sebuah sebutan untuk praktisi Dhamma di masa hidup Sang Buddha, sebelum Buddha Dhamma diturunkan levelnya jadi agama Buddha.
Lalu apa beda Dhammiko dengan Buddhist?
Dhammiko adalah praktisi AJARAN Buddha.
Buddhist adalah penggila RITUAL AGAMA Buddha.

11
Meditasi / Medsos Mengganggu Praktik Meditasi
« on: 02 August 2017, 01:53:19 AM »
Jika anda berminat dengan praktik meditasi, ada baiknya anda mulai mengurangi kemelekatan anda pada gadget dan medsos. Mempunyai sekian banyak gadget dengan berbagai aplikasi komunikasi di dalamnya adalah sebuah hambatan besar untuk bermeditasi, karena semua interaksi (via pintu indriya) adalah sumber dari munculnya belenggu, karena semakin banyak informasi yang tidak perlu yang kita terima hanya memperbanyak hal yang dapat mengganggu fokus kita.

Membaca status2 orang lain, lalu berkomentar, lalu balas-balasan komentar...
Membaca berita kelakuan anggota DPR, lalu emosi, dan lalu memberi komen...
Membaca twitwar, lalu ikut berkicau....
Semua akan menjadi menambah daftar pengganggu dalam pikiran saat kita berusaha fokus pada obyek.

Jika memang benar-benar berminat dengan prakti meditasi, tutup twitter, FB, Instagram, dan akun-akun medsos sejenisnya. Namun, kemelekatan (termasuk pada medsos), bukan hal yang mudah untuk dihilangkan...

12
Meditasi / Susahnya di mana?
« on: 02 August 2017, 01:42:24 AM »
Taukah anda, bahwa meditasi itu sesungguhnya hanya kegiatan DUDUK dan MEMFOKUSKAN PIKIRAN.
Duduknya juga biasanya di bantal empuk yang nyaman, bukan di atas kompor atau di atas beling.
Lalu kenapa meditasi seakan menjadi momok yang menyiksa ya?


13
Pengalaman Pribadi / Re: "Kosong = Isi, Isi = Kosong"
« on: 02 August 2017, 01:28:17 AM »
Topik ini saya buat untuk menyoroti kalimat "kosong = isi, isi = kosong", yang menjadi perdebatan di thread sebelumnya: http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23460.new.html#new

Sekedar saran dari saya sebagai pembuat topik, ada baiknya bila ingin memberikan pendapat/pandangan, sanggahan, dlsb, agar ditunjang/dilandasi dengan pengetahuan (prajna/wisdom) dari meditasi (khususnya vipassana). Karena bila membahas sesuatu berkenaan dengan kebenaran, terutama yang sulit dijangkau oleh intelektual, maka samadhi menjadi jalan keluar yang baik (menurut saya).

Bila hanya menggunakan intelektual, dikhawatirkan terdapat banyak batasan; dari pengalaman tiap makhluk yang subyektif, tingkat kemampuan berpikir yang berbeda-beda, ego (LDM) yang setiap saat bisa mempengaruhi pandangan (delusi), dan banyak faktor-faktor mental non-konstruktif lainnya yang berpengaruh terhadap pencarian dari kebenaran itu sendiri.

Baiklah, tanpa panjang lebar lagi, mari langsung masuk pada pembahasan, "kosong = isi, isi = kosong".

Terlepas apakah kalimat ini valid atau tidak, secara historis diakui/tidak, kejelasan sumber literatur, dsb...

Saya hanya akan membahas dari perspektif Sunyata (dalam korelasinya dengan thread sebelumnya).

Jadi topik ini fokus pada esensi kalimat "kosong = isi, isi = kosong", bukan kevalidan secara konvensional, historis literatur, dsb.

Mari langsung pada makna tulisan ini: "kosong = isi, isi = kosong". Apakah maksud tulisan itu ditinjau dari pemahaman (khususnya penembusan/realisasi) Sunyata?

Saya akan lanjutkan di postingan berikutnya.

Sejatinya, yang sudah memiliki panna, tidak lagi membahas kosong=isi, isi=kosong.
sebaliknya, yang membahasnya sudah pasti belum memiliki panna.


14
Vegetarian / Re: "YESUS SEORANG VEGETARIAN"
« on: 02 August 2017, 01:22:18 AM »


♥ YESUS DAN VEGETARIAN ♥


Yesus berasal dari tradisi Essene. Pandangan bahwa Yesus Kristus adalah seorang Guru dan pelopor vegetarisme didukung oleh banyak bagian buku di Injil Perdamaian Essene (The Essene Gospel of Peace): Buku Satu dan Injil Perdamaian Essene: Buku Empat – Ajaran Orang-Orang yang Terpilih, yang diterbitkan oleh Lembaga Internasional Biogenik. Teks-teks ini diterjemahkan oleh Edmond Bordeaux Szekely dari naskah kuno berbahasa Yahudi dan Aramaik di dalam Arsip Rahasia Vatikan dan dari tulisan bahasa Slavia kuno di dalam Perpustakaan Kerajaan Hapsburgs (sekarang milik pemerintah Austria). Anda juga dapat membaca versi ringkasan buku-buku ini dengan mengunjungi:
http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm

Anjuran Yesus mengenai Vegetarisme

Injil Perdamaian Essene: Buku Satu memuat banyak acuan yang dengan jelas mengungkapkan pandangan Yesus mengenai vegetarisme. Sebagai contoh, pada satu bagian Yesus ditanya, “Musa, yang terbesar di Israel, memperbolehkan nenek moyang kami untuk makan daging hewan yang halal, dan melarang hanya daging dari hewan yang haram. Tetapi, mengapa Engkau melarang kami memakan semua daging hewan? Hukum mana yang berasal dari Tuhan – hukum Musa atau hukum-Mu?”

Untuk pertanyaan ini, Yesus menjawab, “Tuhan memerintahkan nenek moyangmu: ‘Kamu jangan membunuh’. Tetapi hati mereka menjadi keras dan mereka membunuh. Lalu Musa menginginkan paling tidak mereka tidak membunuh manusia, lalu ia memperbolehkan mereka untuk membunuh hewan. Dan kemudian hati nenek moyangmu bahkan menjadi semakin keras. Mereka membunuh manusia dan juga hewan. Tetapi Aku sungguh-sungguh berkata kepadamu: Jangan membunuh manusia, maupun hewan, dan tidak juga untuk dimakan dan dimasukkan ke dalam mulutmu. Karena jikalau kamu memakan makanan yang hidup, makanan yang sama akan menghidupkanmu, tetapi jikalau kamu membunuh makananmu, makanan yang sudah mati akan membunuhmu juga. Karena kehidupan hanya datang dari yang hidup, dan dari yang mati selalu mendatangkan kematian.”

Yesus kemudian menjelaskan lebih rinci dengan menyebutkan makanan tertentu yang boleh dimakan oleh para pengikutnya: “Karena tubuhmu adalah apa yang kamu makan, dan jiwamu adalah apa yang kamu pikirkan. Sebab itu, siapkan dan makanlah semua buah dari pepohonan, semua rumput dari ladang, dan semua susu dari hewan liar untuk dimakan. Karena semua ini diberi makan dan dimatangkan oleh api kehidupan; semuanya adalah pemberian dari para malaikat Bunda Semesta kita. Tetapi jangan makan apa pun di mana hanya api kematian memberikan rasa, karena hal seperti ini berasal dari Iblis. Dengan demikian, makanlah selalu dari meja Tuhan: buah-buahan dari pohon, padi dan rumput dari ladang, susu hewan, serta madu lebah. Karena segala sesuatu di luar ini adalah berasal dari Iblis, dan membawa pada jalan dosa serta penyakit menuju kematian. Tetapi makanan yang kamu makan dari meja Tuhan yang melimpah, dapat memberi kekuatan dan kesegaran pada tubuhmu, dan kamu tidak akan pernah menemui penyakit.”

Kutipan-kutipan dari kitab Injil Essene ini mendukung pernyataan tegas mengenai asal mula Essene dan warisan vegetarian Yesus: “Yesus adalah vegetarian sejak Ia lahir dan bahkan ketika Ia berada dalam kandungan. Yesus lahir ke dalam suatu keluarga vegetarian, sebuah tradisi vegetarian, tradisi Essene. Hal ini dapat Anda pelajari dalam buku mengenai kehidupan Yesus.”

http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm

Dan katanya Borobudur itu dibangun nabi sulaiman, dan Gajah Mada itu muslim bernama Gaj Almada, serta Majapahit itu kesultanan Islam.
Klaim-klaim tidak berdasar dan tidak perlu, hanya karena fanatik buta.

15
Vegetarian / Re: Vegetarian tidak disenangi orang ???
« on: 02 August 2017, 01:18:40 AM »
Saya cuma pengen bertanya pengalaman kalian menjadi vegetarian.
Saya sudah 4 bulan menjadi vegetarian setelah menonton film "Earthlings"  yg membuat saya terharu.
Pada saat itu saya share pengalaman saya dgn bbrp teman dekat mengenai issue makan daging.
Saya ngak suruh mereka jadi vegetarian lohhh, tapi menghimbau mereka utk lebih banyak makan sayuran karena lebih sehat.
Tapi kok saya merasakan adanya "permusuhan"   setelah saya bahas masalah ini yach.  Dlm pembahasan itu juga muncul suara2 "miring" yg seolah2 tidak bisa menerima hal tsb.
Saya rasakan demikian karena mendadak teman2 tsb spt  mendadak jarang contact, dll.

Pada saat orang lain (saudara2 sendiri spt sepupu, dll ) juga mengetahui bahwa saya menjadi vegetarian.  Mereka juga rata2 seperti memperlakukan saya spt seorang "Mahkluk aneh", terlihat dari cara mereka memandang saya.

Apakah kalian juga merasakan hal spt itu ?

Jujur saja,
Kalau anda punya kebiasaan yang menurut anda baik, dan anda jalani untuk diri anda, lalu anda mulai "MENDAKWAHKAN" pada saya, saat itu juga saya menyingkir dari hadapan anda, tanpa peduli anda tersinggung atau tidak.

Masalah terbesar dari orang yang bervegetarian adalah lupa bahwa dalam buddhisme, sebuah ajaran adalah untuk dipraktikkan ke dalam, bukan ke luar. Lakukanlah praktik untuk diri anda. Tidak perlu mempromosikan praktik anda kepada orang lain.
Jangan meniru kebiasaan buruk dari umat agama lain yang karena berpuasa, lalu kemudian merasa perlu mendakwahkan praktik puasanya pada orang lain. Orang lain tidak berpuasa, tidak perlu anda dakwahkan untuk berpuasa.
Orang lain tidak bervegetarian, tidak perlu anda dakwahkan untuk bervegetarian.

Vegetarian itu baik untuk kesehatan, SELAMAT! Itu bagus untuk kesehatan anda. TITIK.

Jika tidak ingin dipandang aneh, jangan menempatkan diri anda istimewa (lalu berdakwah tentang keistimewaan anda) hanya karena anda vegetarian.

Berhentilah mempromosikan praktik anda, karena sikap seperti itu MENYEBALKAN!

Pages: [1] 2