Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Hikoza83

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 146
1
Humor / Ada Serangga Aritmatika [humor]
« on: 10 May 2009, 11:36:17 PM »
Seorang guru bertanya kepada muridnya yang sedang menggaruk-garuk kepala.

Guru : "Mengapa kamu menggaruk kepalamu seperti itu?"

Murid: "Ada serangga aritmatika di kepalaku?"

Guru : "Serangga aritmatika ...? Apa itu?"

Murid: "Beberapa orang menyebutnya kutu rambut."

Guru : "Lalu mengapa kamu menyebutnya serangga aritmatika?"

Murid: "Karena mereka menambah penderitaanku, mengurangi kebahagiaanku, membagi perhatianku, dan jumlah mereka berlipat kali ganda cepat sekali."

2
Humor / Perbincangan Dokter Jiwa Dengan Pasiennya [humor]
« on: 10 May 2009, 11:33:57 PM »
Seorang pasien bernama Ferry di sebuah Rumah Sakit Jiwa melapor kepada Dokter yang merawatnya.

"Selamat pagi, Dok, hari ini saya menjadi Komandan..!!", kata Ferry.

"Baiklah, saya akan menjadi anak buahmu.", kata Dokter.

Keesokan harinya, Ferry melapor lagi.

"Selamat pagi, Dok. Hari ini saya seorang Guru!!", kata Ferry bersemangat.

"Kalau begitu, biarlah saya menjadi muridmu", kata Dokter dengan tersenyum.

Dan pada hari Jum'at, lagi-lagi Ferry itu mwlapor.

"Selamat pagi, Dok. Hari ini saya seorang Psikolog!!!", kata Ferry.

Dokter itu terdiam saja tidak bisa menjawab apa-apa.

3
Humor / Mencari Jalan Terdekat [humor]
« on: 10 May 2009, 11:32:53 PM »
Nasruddin terjatuh dari pohon sampai tak sadarkan diri. Tetangga mengira dia sudah mati. Mereka mengafani nasruddin dan memandikan,juga memasukan nasruddin dalam keranda.

Mereka segera membawa ke kuburan. di jalan, mereka bertengkar tentang jalan terdekat. pertengkaran pun memuncak.

Nasruddin yang ada di dalam keranda tiba-tiba menongolkan kepalanya, "ketika, aku masih hidup, jalan belok kirilah yang terdekat!."

4
Humor / Re: Kumpulan 500 cerita humor pilihan
« on: 07 May 2009, 07:10:11 AM »
masih ada yang minat lanjutannya gak...?

bro, postingnya by 1 aja.. jgn combo hit..
ntar anak2 DC pada kram, krn ketawa dpn kompie.. :)


By : Zen

5
Buddhisme untuk Pemula / Re: METTA
« on: 06 May 2009, 08:52:07 AM »
Bilamana Anda menyukai seseorang; bahkan kesalahan kesalahannya dapat Anda toleransi atau maklumi - kesalahan-kesalahan kecil yang tidak membahayakan. Jadi kenalilah hal ini dalam pengalaman Anda sendiri, amati kekuatan rasa suka dan tidak suka tersebut. Kesabaran yang luhur, Metta, merupakan alat yang sangat berguna dan efektif untuk menghadeapi segala macam hal yang sepele (tak berguna) yang dibentuk oleh pikiran terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan.

Metta juga merupakan cara yang amat bermanfaat (tepat) bagi mereka yang mempunyai perasaan diskriminasi dan kritis. Mereka yang hanya dapat melihat kesalahan-kesalahan dalam setiap hal; tetapi mereka tidak pernah melihat pada diri mereka sendiri; mereha hanya melihat apa yang “di luar sana”.

Dewasa ini sudah sangat jamak/ biasa untuk selalu mengeluh tentang cuaca atau pemerintah. Kepongahan pribadi menciptakan komentar-komentar yang buruk/keji terhadap tentang segala hal; atau Anda mulai membicarakan seseorang yang tidak ada di dekat Anda, menjelek-jelekannya, dengan begitu cerdasnya dan begitu objektifnya. Anda menjadi begitu analitis, Anda mengetahui apa yang harus dilakukan olehnya dan apa yang seharusnya tidak dia lakukan, serta kenapa dia berbuat begini atau begitu. Sangat mengesankan memiliki pikiran yang tajam dan kritis seperti itu, serta mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan.

Sudah tentu Anda mengatakan, “Sungguh-sungguh, saya jauh lebih baik daripada dia”. Anda bukannya harus membutakan diri Anda terhadap kesalahan-kesalahan serta cacat-cacat dalam segala hal, Anda cukup dengan damai/tenang berbaur bersama-sama mereka. Anda tidak menuntut bahwa hal itu harus terjadi yang sebaliknya. Jadi Metta kadang-kadang perlu memaafkan apa yang salah atau tidak beres dengan diri Anda dan juga orang lain. Ini tidak berarti bahwa Anda tidak memperhatikan hal-hal tersebut, tetapi ini berarti bahwa Anda tidak membuat masalah-masalah di seputar hal-hal tersebut. Anda menghentikan kebiasaan-kebiasaan semacam itu dengan cara bermanis budi serta bersabar - berbaur bersama dengan damai/tenang.

[Dimuat atas izin dari Ir. Lindawati T. Judul : Mindfulness: The Path to the Deathless, Amaravati Publication 1987. Dikutip dari Mutiara Dhamma VI.]]
www.geocities.com/bbcid.geo

Sumber : Dharma Manggala, Buletin Maya Indonesia, Edisi Feb 08

6
Buddhisme untuk Pemula / Re: METTA
« on: 06 May 2009, 08:50:06 AM »
Saya dahulu merasa betul-betul tidak memiliki metta (kesabaran yang luhur). Saya dahulu selalu berdiam di dalam kebencian (merasa benci) terhadapnya, kemudian saya memutuskan untuk berlatih meditasi kesabaran yang luhur (metta-bhavana) selagi bepergian dengan kerea bawah tanah London.

Selanjutnya saya mulai benar-benar menikmatinya dan tidak lagi berdiam di dalam kedongkolan. Saya mulai merasa senang/manis-budi terhadap orang-orang disana. Rasa dongkol dan keluh-kesah tersebut sirna semuanya, secara total. Bila Anda merasa muak kepada seseorang, Anda dapat memperhatikan kecenderungan yang mulai ditambahkan kepadanya; “Dia melakukan hal ini dan hal itu, dan dia seharusnya begini dan tidak seharusnya begitu”.

Selanjutnya bila Anda sungguh-sungguh menyukai seseorang, Anda berpikir, “Dia boleh melakukan hal ini dan hal itu. Dia baik serta manis budi”. Akan tetapi bila seseorang mengatakan, “Orang itu sungguh-sungguh buruk!”, Anda akan marah. Bila anda membenci seseorang dan orang lain memujinya, Anda juga menjadi marah, Anda tidak ingin mendengar betapa baiknya musuh Anda. Bila Anda dipenuhi dengan kemarahan, Anda tidak dapat membayangkan bahwa seseorang yagn Anda benci mungkin memiliki beberapa sifat kebajikan; bahkan seandainya mereka sungguh-sungguh memiliki beberapa sifat-sifat baik pun, Anda tidak pernah dapat mengingatnya sedikitpun. Anda hanya dapat mengingat semua hal-hal buruk itu.

7
Buddhisme untuk Pemula / Re: METTA
« on: 06 May 2009, 08:49:20 AM »
Sebagian orang cukup tolol dengan mengatakan, “Kesalahan-kesalahanku membuat diriku menarik. Saya adalah sosok pribadi yang menarik dikarenakan oleh kelemahan-kelemahanku”. Metta tidak mengkondisikan Anda untuk mempercayai bahwa Anda menyukai sesuatu yang sama sekali tidak Anda sukai, ia hanyalah berarti untuk tidak berdiam di dalam kebencian.

Adalah mudah untuk memiliki Metta terhadap sesuatu yang anda sukai - anak kecil yang manis, orang-orang yang cakep, orang-orang yang berperilaku manis, anjing kecil, bunga yang indah - kita dapat memiliki metta terhadap diri kita sendiri bilamana kita sedang merasa senang/enak. “Sekarang saya merasa bahagia terhadap diri saya sendiri”. Bilamana semuanya berjalan lancar, kita akan mudah merasa senang/baik terhadap sesuatu yang bagus, indah, dan cantik. Pada titik ini kita bisa tersesat. Metta bukan hanya harapan-harapan atau kemauan-kemauan baik, perasaan/kenangan yang menyenangkan, pikiran-pikiran berbudi baik; tetapi Metta adalah suatu hal yang bersifat praktis. Jika Anda menjadi terlalu idealis, dan Anda membenci seseorang, lantas anda merasa “Aku tidak seharusnya membenci siapapun. Umat Buddha haruslah memiliki Metta bagi semua makhluk hidup. Saya seharusnya mengasihi setiap orang”.

Memiliki Metta terhadap kebencian yang Anda rasakan, terhadap berbagai bentuk pikiran, keirihatian, kedengkian, berarti berbaur bersama-sama secara dalam/tenang, tidak menciptakan masalah-masalah, tidak menjadikannya sulit, pun tidak menciptakan kesulitan yang timbul didalam kehidupan, didalam batin dan jasmani kita. Di London, saya biasanya menjadi sangat kalap saat berpergian dengan kereta bawah tanah. Saya dahulu membencinya, stasiun kereta bawah tanah yang mengerikan itu dengan poster-poster iklan menyeramkan serta kerumunan orang yang demikian padat diatas kereta-kereta buram, ornament-ornament yang meraung-raung di sepanjang terowongan.

8
Buddhisme untuk Pemula / Re: METTA
« on: 06 May 2009, 08:47:22 AM »
Tetapi seseorang biasa mengasihinya, tidak antipati, tidak terperangkap dalam reaksi atas keadaannya yang tidak menyenangkan. Itulah yang kita maksud dengan metta. Kadang-kadang terdapat hal-hal yang di dalam diri kita sendiri yang tidak kita sukai, tetapi  Metta berarti tidak terperangkap di dalam pikiran-pikiran kita tersebut, sikap-sikap tersebut, problem-problem tersebut, bentuk-bentuk pikiran serta perasaan-perasaan dari batin tersebut. Dengan demikian hal ini secara langsung akan menjadi suatu latihan untuk memiliki perhatian/kesadaran.

Memiliki perhatian/kesadaran berarti memiliki Metta terhadap perasaan takut yang ada di dalam batin, terhadap kemarahan, ataupun terhadap kecemburuan/keiri-hatian. Metta berarti tidak menciptakan masalah-masalah disekitar kondisi-kondisi yang ada, membiarkan mereka mereda, dan lenyap. Sebagai misal, bilamana rasa takut/cemas memenuhi batin Anda, Anda dapat memiliki Metta bagi rasa takut tersebut - yang berarti Anda tidak membangun perasan benci terhadap rasa takut itu, Anda dapat hanya menerima kehadirannya dan membiarkannya untuk berlalu dan lenyap. Anda juga dapat mengurangi rasa takut tersebut dengan memahaminya bahwa itu adalah perasaan takut yang sama seperti yang dimiliki oleh setiap orang, juga oleh binatang-binatang.

Perasaan takut itu bukan milikku, ia bukan suatu makhluk (suatu pribadi), ia merupakan perasaan takut yang impersonal. Kita kemudian mulai memiliki rasa belas kasihan terhadap makhluk hidup lainnya bila kita memahami penderitaan yang berkaitan dengan reaksi terhadap perasaan takut dalam kehidupan kita sendiri -seperti misalnya kesakitan, rasa sakit pada jasmani bila ditendang oleh seseorang. Rasa sakit tersebut persis sama seperti rasa sakit seekor anjing bilamana ia ditendang. Karena itu Anda dapat memiliki Metta terhadap rasa sakit, yang berarti suatu niat baik atau kesabaran untuk tidak berdiam di dalam kebencian (merasa benci/dongkol). Kita dapat bekerja dengan Metta secara internal, dengan semua masalah-masalah emosional kita; Anda berpikir, “Aku akan mengenyahkannya, hal tersebut mengerikan”. Itu berarti Anda tidak memiliki Metta bagi diri Anda sendiri bukan? Kenalilah keinginan: “untuk mengenyahkan” itu! Janganlah berdiam di dalam kebencian/kedongkolan terhadap kondisi-kondisi emosional yang muncul. Anda tidak harus berpura-pura untuk merasa membenarkan/menyetujui akan kesalahan-kesalahan Anda. Anda tidak usah berpikir, “Aku menyukai kesalahan-kesalahanku”.

9
Buddhisme untuk Pemula / METTA
« on: 06 May 2009, 08:46:52 AM »
Dalam bahasa Inggris, kata “Love” sering mengacu pada “sesuatu yang saya sukai”. Misalnya, “saya suka nasi yang lembek”, “saya suka mangga yang manis”. Artinya kita memang sungguh-sungguh menyukainya. Menyukai berarti menjadi melekat kepada sesuatu, seperti makanan misalnya, yang memang benar-benar kita sukai ataupun kita nikmati.

Metta berarti Anda mengasihi musuh-musuh Anda; hal ini tidak berarti Anda menyukai musuh-musuh Anda.

Jika seseorang bermaksud membunuh Anda dan Anda berkata, “Saya menyukai dia”, ini adalah suatu ketololan!

Akan tetapi kita dapat mengasihi mereka, yang berarti kita dapat menjauhkan diri dari pikiran-pikiran buruk dan kedengkian, dari berbagai keinginan untuk melukai atau membinasakan mereka. Meskipun Anda mungkin tidak menyukai orang tersebut - orang celaka dan keji itu - Anda dapat tetap bersikap baik, murah hati, serta toleran terhadap mereka. Jika seorang pemabuk masuk ke dalam ruangan ini dalam keadaan kumal dan menjijikan, buruk dan berpenyakit, dan tiada suatu apapun yang menarik pada dirinya, kita mengatakan, “Saya menyukai orang ini”, tentu itu hal yang menggelikan.

10
Tibetan / Re: Pujian Kepada 21 Tara
« on: 05 May 2009, 07:05:16 AM »

halo juga bro.
1. menurut saya, boleh2 saja. pembacaan Sutra/Sutta seyogyanya dipahami artinya. salah satunya dengan pembacaan bahasa yang dimengerti oleh kita. dengan memahami dan mengulang, kita akan memahami makna yang terkandung dalam Sutra/Sutta tsb. hal yang sama juga berlaku dlm puja Tibetan.

2. seperti yg dikatakan bro xenocross, butuh syarat2 dan kondisi tertentu.
bro bisa belajar tentang konsep hukum karma dan akibatnya terlebih dahulu.

3. jika karma phala telah berbuah, Buddha datang pun tak bisa tolong kita.. jika sebelum semua kondisi yang dibutuhkan untuk benih karma berbuah, masih bisa diutak-atik. :)

semoga bermanfaat.
 _/\_


By : Zen


Tapi... saya masih bertanya tanya...
 kejadian Tibet yang diserang kenapa bisa disebut telah berbuah ?

bukankah bangsa Tibet sudah ribuan tahun berdoa demi kesejahterahan dan keamanan Tibet ?

apa bedanya antara Tibet yang diserang dengan  saudagar yang diserang bandit ?
Kenapa Tara menyelamatkan saudagar yang hanya membawa harta barang berharga ?
sementara itu kenapa penghancuran kuil dan teks Tibetan serta sangha Tibet justru dibiarkan saja ???
Kenapa wanita tuna susila yang diserang hewan buas diselamatkan ? kenapa sangha tidak ditolong ?

bukankah Tara itu layaknya seperti seorang ibu yang bisa menolong.

Kalau hanya karena kematian sudah tiba atau karma buruk terlalu berat dan tetap saja tertimpa kemalangan ? lalu apa gunanya mengulang ulang nama Tara ? apa gunanya pujian menolong dari delapan macam bahaya ?

bahkan YA Moggalana juga tidak bisa lolos dari kekuatan karma phala yang bekerja saat akhir hidupnya, sehingga Beliau wafat dibunuh para perampok. buah karma ini akibat di salah satu kehidupan sebelumnya, Beliau pernah membunuh kedua orang tuanya. [kejadian ini dijelaskan oleh Guru Buddha]

karma dilihat dari akibat yang ditimbulkannya, jika akibatnya menyenangkan, kita menyebutnya karma bajik, jika akibatnya menyedihkan/membuat kita menderita, maka kita menyebutnya karma buruk. karena kita tidak ingin menderita sekecil apa pun dan ingin memperoleh kebahagiaan, mari belajar untuk menghindari perbuatan2 negatif dan melakukan perbuatan2 positif, berusaha membantu yang lain, atau paling tidak dengan tidak membuat mereka menderita.

cara bekerja hukum karma dan akibatnya hanya bisa diketahui secara persis oleh seorang Samma-Sambuddha. yang bisa kita lakukan sebagai seorang Buddhist adalah meyakini keberadaan hukum sebab dan akibat ini.

semoga bermanfaat.
 _/\_


By : Zen

11
Tibetan / Re: Pujian Kepada 21 Tara
« on: 04 May 2009, 07:48:07 AM »
halo teman teman Tibetan,

saya mau nanya :

1. apakah boleh melafal teks yang dalam bahasa indonesia ? karena terus terang saya sulit mengucap bahasa Tibetan.

2. bagaimana Arya Tara bisa dikatakan mampu memurnikan karma buruk kita ??

3. Kalau Tara memang Bodhisattva yang demikian hebatnya, kenapa di Tibet masih bisa diserang China ? masih bisa dibantai ? kenapa Tara tidak membebaskan mereka ? padahal mereka siang malam membuat puja dengan tidak sedikit persembahan pada Tara.


terima kasih

halo juga bro.
1. menurut saya, boleh2 saja. pembacaan Sutra/Sutta seyogyanya dipahami artinya. salah satunya dengan pembacaan bahasa yang dimengerti oleh kita. dengan memahami dan mengulang, kita akan memahami makna yang terkandung dalam Sutra/Sutta tsb. hal yang sama juga berlaku dlm puja Tibetan.

2. seperti yg dikatakan bro xenocross, butuh syarat2 dan kondisi tertentu.
bro bisa belajar tentang konsep hukum karma dan akibatnya terlebih dahulu.

3. jika karma phala telah berbuah, Buddha datang pun tak bisa tolong kita.. jika sebelum semua kondisi yang dibutuhkan untuk benih karma berbuah, masih bisa diutak-atik. :)

semoga bermanfaat.
 _/\_


By : Zen

12
Seremonial / Re: Selamat Hari Suci Waisak 2553BE teman-teman...
« on: 03 May 2009, 01:10:35 AM »
Quote
TEMA WAISAK 2553 BE:

ELING MEMBANGUN KEMENANGAN PURNAMA WAISAK,
DAMAI DALAM DIRI,
HARMONI DENGAN SESAMA.



                                                                                                SAGIN

Happy Waisak 2553 BE to All DC members..
semoga semuanya selalu berada dalam lindungan Triratna!
Semoga harapan2 yang baik tercapai dengan baik pula!
don't worry, be happy.. ^_^


By : Zen


13
Theravada / Re: implementasi ajaran budhis dalam kehidupan sehari2
« on: 01 May 2009, 10:19:49 PM »
3 syair pertama dari karaniya metta sutta mungkin bisa kita renungkan semua :

Quote
Inilah yang harus dikerjakan
oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan.
Untuk mencapai ketenangan,
Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur,
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.

Merasa puas, mudah disokong/dilayani
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang inderanya, berhati-hati
Tahu malu, tak melekat pada keluarga.

Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil
yang dapat dicela oleh Para Bijaksana
Hendaklah ia berpikir :
Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram,
Semoga semua makhluk berbahagia.


semoga bermanfaat

metta

 _/\_

14
Meditasi / Re: Meditasi ala mahayana
« on: 01 May 2009, 10:11:21 PM »
setahuku, buku ke-3 terbit bln ini.. tunggu aja ya.. :)


By : Zen

15
Meditasi / Re: Meditasi ala mahayana
« on: 01 May 2009, 12:11:49 AM »
untuk penjelasan ttg Lamrim lebih lanjut, bisa membaca :
http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,10136.0.html

kalau sudah dibaca, bisa buka topik diskusi yang sesuai, di lokasi yang sesuai..  :)
setahu saya, Guru Buddha mengajarkan meditasi samatha dan vipassana tak terpisahkan.
ibarat dua sisi mata uang, kalo cuma ada satu salah satu sisi saja, ya resikonya mata uang itu ga laku.
dengan belajar buddhadharma secara utuh dan mendalam akan memberikan manfaat bagi kesinambungan mental kita, baik di masa sekarang maupun yang akan datang, sampai ke tujuan akhir, nirvana.. ^_^

 [at]  hokben : ttg Bodhisattva dan Arahat, tak sesederhana yang kita bayangkan.
ya kalo dibilang begini, akan kembali ke debat lama, hehehe.

kalau selama ini dengan terlibat dalam berbagai berdiskusi/debat 'kusir',
ternyata batin kita tidak berkembang menjadi lebih baik,
something wrong inside, not outside..

mari cek batin masing2 ya, daku belum arahat atau bodhisattva.. :P
blm punya berbagai siddhi, dan kemampuan ajaib lainnya..  :whistle:
mari kita belajar untuk jadi lebih baik. :)
 _/\_


By : Zen

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 146