Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - btj

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 13
1
Diskusi Umum / Re: jika benar kehidupan sulit, apa penyebabnya
« on: 22 November 2015, 04:28:44 PM »
hampir semua itu dimulai dari SULIT.....
Jadi teringat prinsip "kalau bisa dipersulit, ngapain dipermudah".


Quote
karna SULIT belajar....maka ada guru LESS (guru less yg dpt duitnya)....
Lalu nanti guru les akan memberikan kesulitan tersendiri thd anak didik, misalnya meminta bayaran tinggi, ngasi PR seabrek, dstnya.

Quote
karna SULIT buang air besar....maka ada obat utk itu (pabrik obat yg untung....)
Ini pun tidak menutup kesulitan di atas kesulitan, seperti masalah pelanggaran POM, dll.

Quote
karna ada yg merasa hidup itu SULIT,...... maka sacheng ikut posting... ^:)^
Jika kedua contoh di atas mendapatkan uang dari kesulitan orang lain, bagaimana dengan postingan Sacheng, apakah mendapatkan upah, sacheng dollar misalnya???nahh...




Quote
note: setelah ada mesin cuci, apakah ibu rumah tangga tetap aja SULIT menjalankan hidupnya ?
Mungkin sebagian terbantu pekerjaan mencucinya.
Sebagian lainnya justru mengalami kesulitan karena tagihan listrik membengkak, korsleting listrik gegara colokan mesin cucinya terkena air,  kabel colokannya digigit tikus, dstnya.

Tp karena pertanyaannya "menjalankan hidupnya", hidupnya secara keseluruhan tentunya tidak terlalu berdampak terlalu signifikan oleh kehadiran sebuah mesin cuci. :))

2
Diskusi Umum / Re: jika benar kehidupan sulit, apa penyebabnya
« on: 22 November 2015, 04:09:00 PM »
bicara soal uang menjadi MENARIK....
karna Bhiku/Bhikuni gak boleh punya rekening bank (uang tunai yg disimpan) gitu...
dan lagi pula baju (jubahnya) cuma terbatas n tanpa model khusus lagi....warnanya pun cuma 1 warna...

apakah bhiku/bhikuni BAHAGIA ? nahhhh ini pertanyaan menarik....

Jika saya teliti, sepertinya kasus (topik)nya TS hendak menyampaikan bahwa gara2 ada konsep (pertukaran) dengan menggunakan uang, maka timbullah berbagai kesulitan yang disebabkan oleh uang.
Jika tanpa alat tukar uang, tentu tidak akan ada kesulitan yang disebabkan oleh yg namanya uang, ini jelas.

Tapi tanpa uang, bukan berarti tidak ada kesulitan yang dihadapi oleh kita, akan ada pengganti penyebabnya. Misalnya pakai sistem barter, tetap aja akan ada kesulitan tersendiri.
Nantinya kita akan mengatakan bahwa sistem barter telah menjadi penyebab banyak kesulitan.

Jika kita tarik mundur terus, mungkin akan didapatkan akar permasalahan/penyebab dari semua kesulitan ini, yaitu kebutuhan dan keinginan.
Barter, lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan primer, sekunder dan tertier, yang kemudian meningkat menjadi keingian (setelah kebutuhan telah mulai terpenuhi).

Jadi, uang bisa menjadi penyebab kesulitan dan kemudahan.
Tanpa (tidak memegang) uang pun, bisa menjadi kesulitan maupun kemudahan.

Kehidupan Bhikkhu/ni tanpa memegang uang, tapi membutuhkan uang secara tidak langsung, karena dana dari umat memerlukan uang untuk mengadakannya.
Jadi Bhikkhu/ni sebenarnya memegang uang secara tak langsung (tangan kedua), dan mereka bisa saja bahagia, bisa juga tidak, siapa tahu.

3
Diskusi Umum / Re: jika benar kehidupan sulit, apa penyebabnya
« on: 21 November 2015, 05:36:03 PM »
bangun pagi uang, berangkat kerja uang, sarapan pagi uang, 
Ada teman saya dia suka bangunnya kesiangan, sarapan pun digabung (terlewatkan) dengan maksi. Jadi bisa ngirit sarapan :))

Quote
bekerja uang, pulang kerja uang, minum kopi uang,
ke kamar mandi uang,  tidur uang.
semuanya memerlukan uang.

hanya meditasi yg tidak memerlukan uang, katanya.

apa benar uang penyebab semua kesulitan ini.
ataukah ada sebab yg lainnya.

Bekerja kalau gak dapat uang mending ngobrol di sini aja. :))

Nurut saya kesulitan tidak semuanya disebabkan oleh uang tapi bisa yang lain, misalnya suka kepoin urusan orang.

Dan, uang bukan hanya penyebab kesulitan, tapi sekaligus solusi kesulitan, juga penyebab kebahagiaan dan kesenangan. 

4
http://buddhazine.com/atasi-stres-pelajar-new-york-pilih-meditasi/

Kapan ya di Indonesia meditasi bisa masuk kurikulum, mungkin bisa mengurangi tawuran antar pelajar.

Kapan iya? Mungkin ketika para pelajar sudah berhenti tawuran kali.

5
Kafe Jongkok / Re: [Share]Kalau anda dikatakan BODOH.............
« on: 12 November 2015, 07:41:59 AM »
Orang yg merasa dirinya pintar, memiliki beban batin, karena harus selalu menjaga eksistensi atau statusnya.
Orang bodoh tidak perlu repot2 menjaga reputasi sbg org pintar.
Jadi mana yg lbh menjanjikan? :D

6
Kafe Jongkok / Re: [Share]Kalau anda dikatakan BODOH.............
« on: 12 November 2015, 07:34:25 AM »
Tapi pada intinya, orang bodoh disayang Tuhan, itu yang penting. Makanya jadilah orang bodoh jika ingin disayang Tuhan. :D

7
Kafe Jongkok / Re: [Share]Kalau anda dikatakan BODOH.............
« on: 11 November 2015, 10:19:44 PM »
Orang bodoh belum tentu membahas tentang bodoh,
Dan justru orang pintar tidak perlu membahas bagaimana menjadi lebih pintar, karena yang berusaha menjadi pintar adalah orang bodoh.
Seperti kita membahas tentang kebodohan di sini bukan karena bodoh tapi mungkin karena........
bodoh bangat. Kakakakaka

Tweeter membatasi 140 karena belum mengetahui di DC bisa menulis panjang lebar, ini tentu tidak memerlukan pemikiran berarti.

8
Kafe Jongkok / Re: [Share]Kalau anda dikatakan BODOH.............
« on: 11 November 2015, 02:52:32 PM »
Tidak ada faktor mutlak suatu kebodohan, bahkan kebodohan sendiri pun tidak mutlak alias relatif.
Seseorang bodoh di mata anda, belum tentu di mata orang lain. Bahkan jika beberapa orang melihat seseorang sbg bodoh, tingkatan atau kadar kebodohan yang dinilainya bisa beragam.

Atau mungkin saja, ketika kita melihat kebodohan seseorang, itu tak lain tak bukan adalah wujud dari kebodohan kita sendiri, menurut hukum kamma dan sebab akibat.
Ketika kita melihat kebodohan seseorang, lalu timbul kesenangan ataupun kekesalan, hal tsb bisa saja merupakan eksekutor atau manifestasi dari kamma kita sendiri. Karena bicara kamma, erat kaitannya dgn apa yang kita rasakan dari suatu fenomena. Bagaimana kita mempersepsikan sampai timbulnya perasaan dalam batin ketika berhadapan dengan suatu hal/benda.

Seperti ada pepatah mengatakan, Buddha melihat segalanya sbg sifat Buddha, orang dungu melihat orang lain sebagai bodoh, kira2 begitu.

9
Kafe Jongkok / Re: [Share]Kalau anda dikatakan BODOH.............
« on: 11 November 2015, 02:41:54 PM »
Orang bodoh tidak akan emosi jika dikatai bodoh, wong dia tidak menyadari kebodohannya. Hahaha.

Kebodohan hanya merupakan salah satu faktor penyebab emosional, disamping beberapa faktor lainnya seperti  karena cinta, faktor lingkungan, dstnya.

Menulis panjang juga tidak logis dibilang bodoh, banyak penulis terkenal tingkat intelegensinya tinggi, alias bukan orang bodoh.
Ada orang bodoh, menulis satu huruf saja belepotan, apalagi disuruh menulis panjang lebar.

10
Kafe Jongkok / Re: [Share]Kalau anda dikatakan BODOH.............
« on: 09 November 2015, 03:21:29 PM »
Mungkin setiap orang ada (unsur) bodohnya, hanya berbeda kadar dan bidangnya saja, karena luas dan buramnya definisi bodoh.
Walaupun seseorang yang pandai, bahkan pakar dalam bidang tertentu, tapi belum tentu sudah sempurna tanpa cacat, mungkin saja masih ada orang yang lebih menguasai (lebih pinter) darinya. Sehingga orang tersebut pandai di mata orang tertentu tapi masih bodoh di mata orang yg jauh lebih pintar darinya pada bidang yang sama.
Begitu pula jika kita meninjaunya dari sudut/bidang yang lain.

Seorang Buddha, Nabi, atau tokoh tertentu mungkin sudah sempurna (tidak terdapat lagi kebodohan) di mata para pengikutnya, namun di mata pengikut berbeda apalagi berseberangan, Buddha dan Nabi tersebut bisa saja dianggap masih bodoh dibanding guru mereka.
Seorang Buddha atau tokoh bidang lainnya mungkin sudah sempurna menggenapi pengetahuannya dlm bidang terkait (misalnya hal spiritualis), tapi jika dibandingkan dengan tokoh atau pakar bidang duniawi lainnya misalnya teknologi, kedokteran, sosiologi, dllnya, mungkin saja menjadi kelihatan bodoh atau minimal kurang menguasai.

Bodoh di bidang duniawi, mungkin bodoh di bidang nonduniawi, dan sebaliknya.
Ada orang tertentu (bahkan mungkin menjadi kebiasaan umum) yang selalu berusaha menonjolkan kepandaiannya sehingga menutupi kebodohannya. Orang seperti ini, mungkin dia bisa termotivasi utk terus menggali atau memperdalam bakatnya, tapi sisi negatifnya adalah dia menjadi terlalu "pandai" sendiri karena sibuk berbicara kepandaiannya dan lupa untuk mendengarkan kepandaian orang lain.
Selalu ada yang lebih bodoh, karena kepandaian tidak ada batasannya.

11
Keluarga & Teman / Re: Kangen dengan teman-teman di DC
« on: 06 November 2015, 04:53:06 PM »
Kehidupan penuh ketidakpastian :O

12
Diskusi Umum / Re: Apa yang membuat kita membenci orang lain?
« on: 09 July 2015, 03:47:28 PM »
Di "unquote" aja, beres kan?

Dengan cara yang sama, untuk mengembalikan kebencian pada seseorang, bukan dengan membalas apa yang dia lakukan terhadap kita, tapi dengan mengembalikan apa yang telah dia lakukan/berikan kepada kita. Nah lho apa bedanya?
:O

Kebencian muncul dari sesuatu yang tadinya tidak ada (tadinya tidak benci) menjadi ada (benci).
Maka yang "ada" (kebencian) ini seharusnya bisa dikembalikan ke asalnya (diuraikan ke sumbernya masing2) menjadi tiada.

Kebencian sebenarnya hanya bayangan pikiran (ego) semata, tampak nyata ketika kita lalai, dan hilang tanpa bekas ketika kita "memplototinya" (sadari, lihat mendalam, aware).

13
Buddhisme untuk Pemula / Re: RESIKO SAYA MENYAKINI BUDHA
« on: 26 June 2015, 07:27:30 AM »
Bukankah tujuan beragama adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan. Terutama utk kesejahteraan kita dan orang lain.
Dan biasanya usaha mensejahterakan  tsb dimulai dari orang2 sekitar kita seperti keluarga, kerabat dan teman2.
Nah jika hal yg ditimbulkan (terjadi) adalah sebaliknya seperti pertengkaran, permusuhan sampai pemutusan hubungan keluarga, kerabat atau pekerjaan, sy pikir ini sepertinya ada yg salah dengan agama yg kita ikuti.

Saya pikir lebih baik kita mengganti pola dari yg biasanya dengan cara memeluk dan menyakini, menjadi cukup dengan menjalankan dan menerapkan saja.
Karena keyakinan yg berlebihan berpotensi menimbulkan sikap fanatik. Sedangkan sikap fanatik berpotensi menimbulkan konflik (pembelaan mati2an ketika merasa diusik atau diserang).

Ajaran Buddha adalah jalan sehari2. Dapat diterapkan oleh siapapun, di mana saja dan kapan saja. Tak perlu harus dengan masuk sebagai penganutnya.
Jika memang berjodoh maka akan datang sendirinya, jika tidak maka lebih baik jangan dipaksa.
Penerapan/implementasi ajaranNya dlm kehidupan nyata sehari2 (seperti berbakti pada orang tua, tidak membunuh, tidak berbohong, tidak mencuri, dll) lebih penting ketimbang label pada KTP dan ritualnya (seperti cara sembahyangnya, cara berbusana, dll).

Maaf kalau ada salah kata.

14
Keluarga & Teman / Re: Mohon Saran Cara Menyampaikan Pada Orang Tua
« on: 25 June 2015, 11:08:42 AM »
Yang saya tangkap, posisi terakhir, TS sudah menikah secara Buddhist (karena pacarnya setuju dgn keinginan TS)dan udah punya anak skrg.
Skrg mereka bertiga juga sering ke vihara.
Istrinya malah skrg lebih serius mendalami Dhamma.

Hanya saja orang tua istrinya belum mengetahui hal ini (putrinya telah menyakini, menganut atau mendalami ajaran Buddha dgn serius.
Menurut perkiraan TS, orang tua istrinya mengira putrinya hanya sekedar mengikuti syarat TS menikah secara Buddhist, bukan mengganti agamanya menjadi Buddha.

Ini yg menjadi ganjalan di hati mereka (TS dan istrinya), serasa telah membohongi org tuanya.

Apa benar?

15
Buddhisme untuk Pemula / Re: RESIKO SAYA MENYAKINI BUDHA
« on: 25 June 2015, 10:42:36 AM »
Setahu ane (dari bacaan yang pernah saya cicipin), Buddha tak pernah menyarankan apalagi memaksa seseorang yang (datang sendiri) tertarik dengan ajaranNya agar menjadi pengikutNya dengan meninggalkan ajaran/guru sebelumnya.
Bahkan Buddha selalu menganjurkan (setelah seseorang paham dan bertekad menjadi muridNya) agar orang tersebut tetap menghormati gurunya (yang ada sebelumNya).
Apalagi sampai harus meninggalkan keluarganya, saya pikir ini bukanlah ciri khas seorang Buddhist yang dianjurkan oleh Buddha.

Kalau tidak salah, berangkat dari ini juga yang menyebabkan Buddha membuat peraturan bahwa jika seseorang ingin masuk anggota sangha harus mendapatkan izin dari ortu?

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 13