Menu

Show posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.

Show posts Menu

Messages - xenocross

#1
Memahami bahwa semua kesalahan dan noda batin
Muncul dari pandangan tentang adanya diri (sakkayaditthi)
Menyadari bahwa "diri" adalah objek dari pandangan salah tersebut,
Sang yogi menghilangkan "diri" tersebut
(6.120)

Bentuk bukanlah diri, diri tidak memiliki bentuk
Tidak ada "diri" di dalam bentuk, dan bentuk tidak ada di dalam diri
Aplikasikan ini pada empat skandha lainnya,
Dan inilah dua puluh pandangan tentang "diri/ aku"
(6.144)

Madhyamakavatara (Perkenalan terhadap Jalan Tengah), oleh Candrakirti
 

20 jenis pandangan tentang identitas sehubungan dengan lima skandha

Dan bagaimanakah, para bhikkhu, munculnya gejolak melalui kemelekatan? Di sini, para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terlatih, yang bukan pengikut para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang bukan pengikut orang-orang yang baik dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka,

(1) menganggap bentuk sebagai diri (rūpaṃ attato samanupassati),

(2) atau diri sebagai memiliki bentuk (rūpavantaṃ vā attānaṃ),

(3) atau bentuk sebagai di dalam diri (attani vā rūpaṃ),

(4) atau diri sebagai di dalam bentuk (rūpasmiṃ vā attānaṃ).


Bentuknya itu berubah dan berganti. Dengan perubahan dan pergantian bentuk itu, kesadarannya dipenuhi dengan perubahan bentuk itu. Gejolak dan suatu kondisi konstelasi pikiran yang muncul dari terus-menerus memikirkan perubahan bentuk menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi takut, menderita, dan khawatir, dan melalui kemelekatan ia menjadi bergejolak.


 
(5 - 8.) "Ia menganggap perasaan sebagai diri (Vedanaṃ attato samanupassati)...

(9 - 12) persepsi sebagai diri (Saññaṃ attato samanupassati) ......

(13 - 16) bentukan-bentukan kehendak sebagai diri (saṅkhāre attato samanupassati)....

(17 - 20) kesadaran sebagai diri (Viññāṇaṃ attato samanupassati)........ ,

Dengan perubahan dan pergantian perasaan; persepsi; bentukan-bentukan; kesadaran itu, kesadarannya dipenuhi dengan perubahan kesadaran itu. Gejolak dan suatu kondisi konstelasi pikiran yang muncul dari terus-menerus memikirkan perubahan perasaan; persepsi; bentukan-bentukan; kesadaran menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi takut, menderita, dan khawatir, dan melalui kemelekatan ia menjadi bergejolak.


 
SN 22.7   Upādāparitassanā Sutta  (Kegelisahan melalui Kemelekatan)

 
KOMENTAR

Teks di sini menguraikan kedua puluh jenis pandangan identitas (sakkāyadiṭṭhi), yang diperoleh dengan menempatkan suatu diri dalam empat cara yang ada sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang merupakan identitas personal (sakkāya). Pandangan identitas adalah satu dari tiga belenggu pertama yang harus dilenyapkan melalui pencapaian jalan Memasuki-arus.

Spk: ia menganggap bentuk sebagai diri (rūpaṃ attato samanupassati), dengan menganggap bentuk dan diri sebagai tidak dapat dibedakan, bagaikan api dari suatu pelita dan warnanya adalah tidak dapat dibedakan. Ia menganggap diri sebagai memiliki bentuk (rūpavantaṃ attānaṃ), ketika ia menganggap yang tanpa bentuk (yaitu, batin atau faktor-faktor batin) sebagai diri yang memiliki bentuk, seperti halnya sebatang pohon memiliki bayangan;

bentuk sebagai di dalam diri (attani rūpaṃ), ketika ia menganggap yang tanpa bentuk (batin) sebagai diri yang di dalamnya terdapat bentuk, bagaikan keharuman di dalam sekuntum bunga; diri sebagai di dalam bentuk (rūpasmiṃ attānaṃ), ketika ia menganggap yang tanpa bentuk (batin) sebagai diri yang terdapat di dalam bentuk, bagaikan permata di dalam petinya. Ia dikuasai oleh gagasan, "aku adalah bentuk, bentuk adalah milikku": ia menelan gagasan-gagasan ini dengan keinginan dan pandangan, berpendirian atasnya dan mencengkeramnya.
#2
Chan atau Zen / Khotbah Arus Darah
26 February 2026, 06:09:47 PM
Khotbah Arus Darah

Semua yang muncul di tiga alam datang dari pikiran. Karenanya, Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan dari pikiran ke pikiran tanpa merepotkan diri pada definisi

Q: Tetapi jika mereka tidak mendefinisikan, apa yang dimaksud dengan pikiran?

Kamu bertanya, itu adalah pikiranmu. Aku menjawab. Itu adalah pikiranku.
Jika aku tidak punya pikiran, bagaimana aku bisa menjawab? Jika kamu tidak punya pikiran, bagaimana kamu bisa bertanya?
Apa yang bertanya adalah pikiranmu. Melalui kalpa-kalpa yang tak berujung tanpa awal, apapun yang kamu lakukan, dimanapun kamu berada, itu adalah pikiranmu yang sejati, itulah Buddha-mu yang sejati.

"Pikiran inilah Buddha" artinya sama. Di luar pikiran ini kamu tidak akan menemukan Buddha yang lain. Untuk mencari pencerahan atau nirvana di luar pikiran ini adalah tidak mungkin. Realitas dari hakikat dirimu sendiri, ketidakhadiran sebab-akibat, adalah apa yang dimaksud dengan pikiran. Pikiranmu adalah nirvana. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu dapat menemukan Buddha atau pencerahan di suatu tempat di luar pikiran, tapi tempat seperti itu tidak ada.

Mencoba menemukan Buddha atau pencerahan adalah seperti ingin memegang ruang. Ruang punya nama tapi tidak berbentuk. Itu bukan sesuatu yang dapat diangkat atau ditaruh. Dan kamu pastinya tidak dapat memegangnya. Di luar pikiran ini kamu tidak akan dapat melihat Buddha. Buddha adalah produk dari pikiranmu. Kenapa mencari Buddha di luar pikiran ini?

Buddha di masa lalu dan masa depan hanya membicarakan pikiran ini. Pikiran adalah Buddha, dan Buddha adalah pikiran. Di luar pikiran tidak ada Buddha, dan di luar Buddha tidak ada pikiran. Jika kamu pikir ada Buddha di luar pikiran, dimana dia? Tidak ada Buddha di luar pikiran, jadi kenapa mengkhayalkan itu? Kamu tidak dapat mengetahui pikiran sejatimu selama kamu masih menipu dirimu sendiri. Selama kamu masih terpikat oleh bentuk yang tidak hidup, kamu tidak bebas. Jika kamu tidak percaya padaku, menipu dirimu sendiri tidak membantu. Ini bukan salah Buddha. Tetapi orang-orang dipengaruhi delusi. Mereka tidak sadar bahwa pikirannya sendiri adalah Buddha. Jika tidak, mereka tidak akan mencari Buddha di luar pikiran.

Buddha tidak menolong Buddha [lain]. Jika kamu menggunakan pikiranmu untuk mencari Buddha [di luar], kamu tidak akan melihat Buddha. Selama kamu mencari Buddha di tempat lain, kamu tidak akan melihat bahwa pikiranmu sendiri adalah Buddha. Jangan menggunakan Buddha untuk memuja Buddha. Dan jangan menggunakan pikiran untuk memanggil Buddha. Buddha tidak mendaraskan sutra. Buddha tidak menjaga sila. Dan Buddha tidak melanggar sila. Buddha tidak menjaga atau melanggar [sila] apapun. Buddha tidak melakukan kebaikan atau kejahatan.

Untuk menemukan Buddha, kamu harus melihat sifat sejati dirimu sendiri. Siapapun yang melihat sifat sejati adalah seorang Buddha. Jika kamu tidak melihat sifat sejatimu, [maka] memanggil Buddha, mendaraskan sutra, membuat persembahan, dan menjaga sila semuanya adalah tidak berguna. Memanggil Buddha menghasilkan karma baik, mendaraskan sutra menghasilkan ingatan baik, menjaga sila menghasilkan kelahiran kembali yang baik, dan membuat persembahan menghasilkan berkah di masa depan -- tapi tiada Buddha.

Jika kamu tidak paham dengan kekuatan sendiri, maka kamu harus mencari seorang guru untuk mengerti makna kehidupan dan kematian. Tetapi jika dia belum melihat sifat sejati dirinya sendiri, orang itu bukanlah seorang guru [sejati]. Walaupun dia dapat melafalkan dua belas bagian kitab suci, dia tidak dapat lolos dari roda kelahiran dan kematian. Dia menderita di tiga alam tanpa ada harapan untuk bebas.

Di masa lalu, bhiksu Bintang Baik dapat melafalkan seluruh isi kitab suci. Tetapi dia tidak lolos dari roda samsara, karena dia belum melihat sifat sejati. Jika ini terjadi bahkan pada bhiksu Bintang Baik, maka orang-orang zaman sekarang yang melafalkan beberapa sutra dan sastra dan berpikir itu adalah dharma, adalah orang dungu. Kecuali kamu melihat pikiranmu sendiri, melafalkan prosa begitu banyak adalah sia sia.

Untuk menemukan Buddha apa yang harus dilakukan hanyalah melihat sifat hakikatmu sendiri. Hakikatmu adalah Buddha. Dan Buddha adalah seorang yang bebas: bebas dari rencana, bebas dari kekhawatiran. Jika kamu tidak melihat sifat sejatimu sendiri dan berlari kesana kemari mencari di tempat lain, kamu tidak akan pernah menemukan Buddha.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu ditemukan. Tetapi untuk mencapai pemahaman demikian butuh seorang guru dan kamu perlu berjuang untuk membuat dirimu mengerti. Hidup dan mati adalah penting. Jangan menjalaninya dengan sia-sia. Tidak ada gunanya menipu diri sendiri. Walaupun kamu punya bergunung-gunung permata dan banyak sekali pelayan sebanyak butiran pasir di sungai Gangga, kamu melihatnya ketika matamu terbuka. Tetapi bagaimana ketika matamu tertutup [karena mati]. Kamu harus menyadari bahwa semua yang kamu lihat adalah seperti mimpi atau ilusi.

~~ Kutipan dari "Bloodstream Sermon", oleh Bodhidharma
Sumber: The Zen Teaching of Bodhidharma.

Translated by Red Pine
#3
Lingkungan / Zheng He seorang buddhis
26 February 2026, 06:04:17 PM
Zheng He: Antara Narasi dan Bukti
By admin_IN
November 11, 2025 70

Zheng He adalah sosok besar di balik 7 kali pelayaran diplomatik Dinasti Ming. Namun mengenai agamanya berkembang narasi bahwa ia beragama Islam sementara bukti menunjukkan ia beragama Buddha.
Agama Zheng He dinarasikan berbeda di Indonesia dan Malaysia, yakni beragama Islam. Bukti menunjukkan ia beragama Buddha.

Di Indonesia, sosok Laksamana Zheng He hampir selalu diasosiasikan dengan Islam. Kesan ini menguat seiring berdirinya berbagai masjid Cheng Ho, dimulai di Surabaya pada 2002, lalu diikuti beberapa wilayah lain. Pembangunan masjid-masjid ini sering diiringi narasi bahwa Zheng He adalah seorang Muslim, dan merupakan tokoh yang menyebarkan agama Islam pada masa kunjungannya.

Narasi Populer di Indonesia dan Malaysia
Narasi keislaman Zheng He yang beredar di Indonesia dan Malaysia bertumpu pada marga Ma yang umum di kalangan Muslim Hui, klaim bahwa ayahnya seorang haji, serta catatan bahwa ia pernah membantu memperbaiki masjid di pelabuhan asing. Namun, semua ini bersifat indikasi lemah (weak evidence) dan tidak didukung dokumen primer yang menegaskan keyakinan pribadinya.

Beberapa waktu lalu juga tersiar kabar tentang penemuan makam Cheng Ho di Tiongkok. Namun bukti ini juga lemah karena berdasarkan catatan Zheng He meninggal di Kalkuta tak lama setelah dimulainya penjelajahan ketujuhnya pada musim gugur 1433, dan armadanya kembali ke Tiongkok pada musim panas. Rentang waktu yang lama tentu tidak mungkin membawa raganya pulang. Berdasarkan tradisi para pelaut, diyakini bahwa Zheng He "dikuburkan" di lautan.

Apalagi kesimpulan para arkeolog pada pertengahan 2010 lalu menyatakan bahwa makam tersebut adalah makam Hong Bao, salah seorang wakil Zheng He dalam tujuh pelayaran yang terkenal tersebut. Makam ini semula berbentuk tapal kuda sebagaimana makam tradisional Tionghoa, baru pada 1985 diubah ke bentuknya yang baru.

Namun, jika ditelusuri dengan pendekatan sejarah, narasi yang ada selama ini jelas tidak memiliki dukungan kuat dari sumber primer maupun sekunder yang kredibel. Tidak ada dokumen resmi Dinasti Ming (Ming Shilu), catatan perjalanan, prasasti, atau artefak otentik yang menyebutkan Zheng He memiliki nama Islam, mengucapkan syahadat, atau melaksanakan ibadah khas Muslim.

Narasi ini sebagian besar terbentuk di era modern (abad 20), sering kali terkait kebutuhan representasi identitas di ruang publik. Diperkirakan mulai berkembang pada masa akhir Dinasti Qing dan transisi ke republik pada 1900an. Jika narasi populer menempatkan Zheng He sebagai tokoh muslim, bukti-bukti primer menunjukkan identitas keagamaan Zheng He yang berbeda.

Jejak Buddhis yang Terekam dalam Sumber Primer
Beberapa sumber primer yang ditemukan di Tiongkok, —seperti catatan dinasti Ming dan salinan sutra-sutra oleh Zheng He ataupun pihak lain yang didanainya—, menunjukkan dengan jelas bahwa Zheng He beragama Buddha. Diantaranya adalah bukti primer berikut:

1. Gelar Resmi: Sanbao Taijian (三寶太監)
Dalam Ming Shilu atau Catatan Resmi Dinasti Ming, Zheng He diberi gelar Sanbao Taijian. Secara harfiah berarti Kasim Tri Ratna (Sansekerta) atau Tiga Permata. Tiga Permata adalah konsep inti yakni Buddha, Dharma, dan Sangha. Umat Buddha menyatakan berlindung kepada Tiga Permata. Gelar ini bukan sekadar sapaan populer, melainkan penanda status yang diakui secara resmi oleh birokrasi kekaisaran, yang juga memuat konotasi religius jelas. Penjelasan catatan resmi dinasti tersebut juga diungkapkan Dreyer, EL 2007, Zheng He: China and the Oceans in the Early Ming Dynasty 1405-1433, Pearson Longman, New York.

2. Zheng He memiliki Nama Dharma
Umat Buddha yang telah ber-Tri Sarana atau mengucap berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha (Tri Ratna) akan mendapatkan nama dharma. Adapun nama dharma Zheng He diketahui dari temuan beberapa sutra kuno. Dalam sejumlah kolofon sutra tersebut, Zheng He sebagai penyalin sutra, menyebut dirinya dengan nama dharma Fu Jixiang (福吉祥). Zheng He juga dalam berbagai kolofon kerap mengagungkan San Bao, seperti:

        "Demi membalas berkah agung dari San Bao (Tri Ratna), aku menyalin sutra ini dengan harapan menyelamatkan semua makhluk."

Salah satu salinan sutra oleh Zheng He, berangka tahun Yongle 12 atau 1414 Masehi, telah ditemukan dan dilelang dengan harga fantastis di balai lelang Suthesby's New York 2015 lalu. Pada kolofon sutra ini Zheng He menyatakan tekadnya menyalin beberapa sutra Buddhis lainnya yaitu:

    Vajracchedika Prajnaparamitha Sutra (Jin Gan Jing)
    Guanyin Sutra (Guanyin Jing).
    Buddha Amithabha Sutra (Mituo Jing).
    Marici Bodhisatva Sutra (Molizhitian Jing).
    Prajnaparamithahrddya (Xin Jing).
    Suranggama Sutra (Leng Yang Jing).
    Nilakantha Dharani (Da Bei Zhou).

Penyalinan kitab suci Buddhis pada masa tersebut adalah salah satu praktik pengumpulan kebajikan. Banyak pejabat bahkan kaisar yang melakukannya, untuk memperoleh karma baik. Hasil penyalinan biasanya disebarkan ke berbagai vihara, untuk keperluan penyebaran agama Buddha.

Pada sutra yang saat ini tersimpan di Museum Long, Shanghai tersebut, Cheng Ho menyatakan bahwa ia melakukan penyalinan sutra karena "setiap mendapatkan perintah untuk melanglang buana selalu mendapat karunia dari San Bao." Cheng Ho memperkenalkan diri pada bagian awal naskah sebagai "da Ming Gui taijian Zheng He, faming Fu Jixiang" yang artinya "kasim negara Ming yang agung dengan nama dharma Fu Jixiang."

3. Zheng He dalam Kolofon Sutra
Kolofon Bhiksu Yao Guangxiao
Bhiksu Yao Guangxiao adalah seorang Kepala Kantor Administrasi Agama Buddha (Senglu Si) Dinasti Ming. Ia juga adalah penasehat Kaisar Zhu Di atau lebih dikenal dengan nama Kaisar Yongle, kaisar yang memerintahkan Zheng He untuk melanglang buana.

Pada bagian penutup Sutra Marici Bodhisatva (Fo Shuo Molizhi Tianzhi Jing) yang ia salin, ia mencatat bahwa pada 1403 tersebut Cheng Ho adalah Pusa jie dizi yakni umat yang sedang bertekad menjalankan sila bodhisatva. Selain itu juga dicatat bahwa Zheng He telah mendanakan sebagian hartanya untuk mencetak dan menyebarluaskan sutra yang disalin Bhiksu Yao tersebut di atas.

Kolofon Shamini Lijie Wen
Salah satu bagian Tri Pitaka yang disalin adalah Vinaya untuk Samaneri atau dalam bahasa Mandarin disebut Shamini Lijie Wen. Naskah yang ditemukan berangka tahun 1420. Zheng He sebagai yang memerintahkan dan mendukung pendanaan penyalinan ini, menulis pada kolofonnya "da Ming Guo feng Fo xin guan taijian Zheng He, faming Fu Jixiang" yang terjemahannya "kasim negara Ming yang agung Zheng He, penganut Buddha dengan nama dharma Fu Jixiang." Sutra ini masih tersimpan baik di Perpustakaan Provinsi Yunnan.

Kolofon Saddharma Pundarika Sutra
Zheng He juga menuliskan pernyataan serupa pada kolofon Sutra Saddharma Pundarika berangka tahun Ming Xuande 7 atau 1432 Masehi. Sutra ini ditemukan ketika terjadi pemugaran Vihara Baoben di Phinghu, Zhejiang pada 11 September 2002. Sekali lagi tertulis "kasim negara Ming yang agung Zheng He, penganut Buddha dengan nama dharma Fu Jixiang." Saat ini sutra tersebut dipajang dan tersimpan di Pinghu City Museum.

4.Keberadaan San Bao Gong (三寶宮)
Kuil yang menghormati Zheng He di Tiongkok, Malaysia, dan Indonesia umumnya bernama San Bao Gong. Ini konsisten dengan gelar kehormatan dari kekaisaran yaitu San Bao (Tri Ratna/Tiga Permata: Buddha, Dharma, Sangha), menunjukkan kesinambungan antara identitas spiritual Zheng He dan cara masyarakat Tionghoa mengenangnya
#4
Diskusi Umum / Roda Kehidupan / Bhavacakra
26 February 2026, 05:45:57 PM
Roda Kehidupan / Bhavacakra

[Sebelumnya, Mahamaudgalyayana selalu dikelilingi oleh para anggota sangha karena menceritakan tentang alam-alam lain dan akibat hukum karma, dan alasan untuk hal ini ditanyakan oleh Sang Buddha kepada Ananda.]

"Tetapi Ananda, Bhiksu Mahamaudgalyayana atau orang seperti Mahamaudgalyayana tidak bisa ada di semua tempat. Maka dari itu Roda Lima Bagian haruslah dibuat di gerbang masuk vihara."

Lalu Ananda menjawab, "Yang Terberkahi mengatakan bahwa Roda Lima Bagian harus dibuat di gerbang masuk vihara, tetapi para bhiksu tidak akan mengetahui Roda seperti apa yang harus dibuat."

"Lima Alam Keberadaan haruslah digambarkan," Sang Bhagava menjawab, "alam neraka, alam hewan, alam hantu kelaparan, alam dewa dan alam manusia. Di bawah, berbagai makhluk neraka haruslah digambarkan, dan juga hewan dan hantu kelaparan; di atas, dewa dan manusia. Empat benua harus digambarkan - Purvavideha, Aparagodaniya, Uttarakuru, dan Jambudvipa. Di tengah, kemelekatan (lobha), kebencian (dvesa), dan delusi (moha) haruslah digambarkan - kemelekatan dalam bentuk merpati, kebencian dalam bentuk ular, dan delusi dalam bentuk babi. Dan gambar Buddha haruslah digambarkan melihat lingkaran nirvana. Makhluk-makhluk terlahir secara spontan haruslah digambarkan mati dan terlahir kembali dalam sejenis tabung yang menyerupai kincir air. Di dekatnya, dua belas mata rantai kemunculan bergantungan (pratityasamutpada) haruslah digambarkan, maju dan mundur. Semuanya haruslah digambarkan sebagai dicengkram oleh ketidakkekalan.

Dan dua bait ini haruslah dituliskan:

"'Bangkitkan usahamu, berjuanglah!
Kerahkan dirimu dalam Ajaran Sang Buddha.
Hancurkan bala tentara Kematian
Seperti seekor gajah melakukannya pada gubuk terbuat dari buluh.
"Seseorang yang berdiam dengan tekun
Dalam Dhamma dan Disiplin ini,
Akan meninggalkan pengembaraan dalam siklus kelahiran yang tiada akhir
Dan mengakhiri penderitaan."


Sang Bhagava mengatakan bahwa Roda Lima Bagian harus dibuat di gerbang masuk vihara, sehingga para bhiksu membuatnya. [Karena banyak orang bertanya tapi ada bhiksu yang tidak tahu dan tidak bisa menjelaskan, maka bhiksu yang terpelajar ditunjuk untuk menjelaskan. Seorang anak pemuda datang ke vihara dan bertanya kepada bhiksu ini]

"Yang Mulia, apakah yang digambarkan di sini?"

"Sahabat, ini adalah lima alam keberadaan - alam neraka, binatang, hantu kelaparan, dewa, dan manusia."

"Yang Mulia, perbuatan apa yang makhluk neraka ini lakukan sehingga mereka mengalami penderitaan seperti itu?"

"Mereka membunuh, mencuri, melakukan perbuatan seks yang salah, berbohong, memfitnah, berkata kasar, atau berbicara tanpa guna; mempunyai pikiran tamak, pikiran mencelakai, atau berpandangan salah." Bhiksu itu menjelaskan. "Mereka dengan tingkat yang tinggi, melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan jahat, dan sebagai hasilnya mereka mengalami penderitaan misalnya ditarik, dicongkel, dipotong, dan ditusuk."

"Yang Mulia, saya mengerti. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam binantang sehingga mengalami penderitaan seperti itu?"

"Sahabat, mereka juga melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan jahat, dan sebagai hasilnya mereka mengalami penderitaan misalnya memakan satu sama lain."

"Yang Mulia, saya juga mengerti hal ini. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam hantu kelaparan sehingga mengalami penderitaan seperti itu?"

"Sahabat, mereka kikir, kejam, dan tidak dermawan dengan harta kekayaannya. Karena dengan pelit dan melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan jahat, dan sebagai hasilnya mereka mengalami penderitaan misalnya kelaparan dan kehausan."

"Yang Mulia, saya juga mengerti hal ini. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam dewa sehingga mereka mengalami kesenangan seperti itu?"

"Sahabat, mereka menghindari membunuh, mencuri, melakukan perbuatan seks yang salah, berbohong, memfitnah, berkata kasar, atau berbicara tanpa guna; mereka tidak mempunyai pikiran tamak, pikiran mencelakai, dan mereka mempunyai pandangan benar. Mereka dengan tingkat yang tinggi telah melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan bajik, dan sebagai hasilnya mereka mengalami kesenangan seperti misalnya taman, istana melayang, dan bermain dengan bidadari."

"Yang Mulia, saya juga mengerti hal ini. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam manusia sehingga mereka mengalami kesenangan seperti itu?"

"Sahabat, mereka juga dalam tingkat yang lebih rendah melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan bajik, walaupun pada bentuk yang lebih ringan dan lebih lemah, sehingga mereka mengalami kesenangan seperti [memiliki] gajah, kuda, kereta, makanan, minuman, tempat tidur, kursi, taman, dan bermain dengan perempuan."

Dikutip dari sahasodgatāvadānam / Kisah Mengenai Sahasodgata.

(sahasodgata(sya prakaraṇā) vadānamekaviṃśatimam
Cerita ke dua puluh satu dari yang jaya Divyavadana
=======================

Versi Bhavacakra yang biasa adalah enam bagian. Tetapi di teks ini adalah versi lima bagian.
Berikut di bawah adalah contoh bhavacakra dengan lima bagian.

#5
Diskusi Umum / Bait Pembobol Neraka
26 February 2026, 05:34:19 PM
Bait Pembobol Neraka
华严经寿经之破地狱偈


(Bait yang membebaskan diri dari neraka, Sutra Avatamsaka)

    若人欲了知,
    三世一切佛,
    应观法界性,
    一切唯心造。
    – 觉林菩萨

    《华严经》升夜摩天宫品第十九

    Verse For Breaking Free From Hell [1]
    If [a] person desires [to] understand fully,
    [the] three periods' [i.e. past, present and future (teachings of)] all Buddhas,
    [one] should contemplate [the] Dharma realm's [i.e. universe] nature,
    [to realise that] everything [is] only [by the] mind created.

    – Forest [Of] Awakening Bodhisattva
    (Flower Adornment [Avataṃsaka] Sūtra:
    Chapter 19 [On] Ascent [To] Yama Heaven Palace)


Asal muasal bait di atas, dicatat dalam "Catatan Cermin Esensial" 《宗镜录》oleh Patriak ke-6 Tradisi Tanah Murni, Guru Besar Yongming (净土宗六祖永明大师), ada disebutkan seorang lelaki bernama Wang Minggan (王明干) di zaman dinasti Song, yang menjadi seorang bhiksu bernama Sēngjùn (僧俊). Tetapi dia tidak berlatih menjalankan sila ataupun menghimpun kebajikan, dan dia meninggal dunia karena sakit.
Tiga hari kemudian, dia secara ajaib bangkit kembali, sambil menangis penuh penyesalan. Dia mengatakan bahwa ketika menjelang ajalnya, dua petugas neraka menangkapnya dan menuntut nyawanya. Dia dibawa ke neraka, dan di gerbangnya, dia bertemu seorang bhiksu yang mengaku dirinya adalah Bodhisattva Ksitigarbha (地藏菩萨), dan Bodhisattva mengatakan bahwa ketika [ Sēngjùn] berada di Jingcheng, dia pernah membuat citra Bodhisattva Ksitigarbha. Walaupun  Sēngjùn tidak bersujud ataupun memberi persembahan pada citra tersebut, dia akan mendapatkan balasan untuk satu pahala ini.

Bodhisattva Ksitigarbha kemudian mengajarkan sebuah bait, dan berkata: 'jika dia mampu mengulang atau mendengar bait ini, maka dia akan mampu terbebas dari penderitaan neraka' (诵得此偈,能破地狱之苦.) 'Dapat menutup pintu neraka, dan membuka jalan menuju Tanah Murni' (能闭地狱门,能开净土道) [jika diikuti dengan ingatan pada Buddha Amitabha]. Setelah mengatakan ini, Bodhisattva Ksitigarbha menghilang.
Ketika bhiksu  Sēngjùn masuk ke dalam kota neraka dan bertemu Raja Yama, dia ditanya apa pahala yang dia punya (karena dia telah bertemu dharma semasa hidupnya). Dia menjawab bahwa dia 'hanya mempunyai satu bait empat baris, dan mendaraskannya:

"Jika seseorang berharap untuk memahami sepenuhnya,
Ajaran semua Buddha dari tiga masa (sekarang, lampau, dan mendatang)
Seseorang seharusnya merenungkan sifat hakiki alam semesta,
Sadarilah bahwa semua fenomena diciptakan oleh pikiran. "


Raja Yama kemudian membebaskannya. "Ketika melafalkan bait ini, ketika ada yang mendengar , mereka yang mengalami penderitaan semua mencapai pembebasan dari penderitaan neraka. " (诵此偈时,当声至处,受苦之人,皆得解脱。)

Raja Yama dengan tergesa-gesa menyuruhnya untuk berhenti melafal [ karena makhluk neraka lain tidak pantas secara karma menerima ajaran tersebut], dan mengirimnya kembali ke alam manusia. Di kemudian hari, ketika dia memeriksa bait ini, dia menemukan bahwa bait ini berasal dari Sutra Avatamsaka. Setelahnya, dia menyampaikan hal ini kepada Guru Dharma Sēngdìng (僧定) di Vihara Kōngguān, dan kepada seluruh bhiksu yang hadir, dan semua yang mendengar membangkitkan aspirasi untuk meyakini sutra tersebut. 

Bait ini bekerja sesuai dengan yang diajarkan, karena membuat para makhluk neraka yang putus-asa, yang tidak tahu jalan keluar, untuk merenungkan dan menyadari bahwa penderitaan karma mereka yang sangat berat diciptakan dan dipertahankan oleh pikiran mereka sendiri. Setelah mengetahui, mereka mampu dengan tulus menyesal, yang membersihkan karma negatif penyebab penderitaan, dan menciptakan karma positif untuk membebaskan diri dari neraka. Maka bait ini dinamai 'Bait Pembobol Neraka'
#6
Buddhisme untuk Pemula / Mengapa Buddha, bukan dewa?
26 February 2026, 01:30:16 PM
Ta Chwang Yan King Lun
Asvagosha
diterjemahkan ke Mandarin oleh Kumarajiva

Dahulu kala, ada seorang umat biasa (upasaka) yang melakukan perjalanan ke Mathura dengan didampingi oleh beberapa pedagang. Karena menemukan sebuah stupa Buddha di dalam kota, dia pun pergi ke stupa tersebut untuk memberikan penghormatan setiap paginya. Tidak berapa lama, perjalanan yang ia lakukan tiap hari diketahui oleh sekumpulan penduduk kaya yang berbaring di taman dan mandi di sepanjang jalan utama. Karena kelakuannya yang sangat berbeda dengan mereka, mereka mulai mentertawakan dan mengejeknya. Suatu hari, ketika upasaka tersebut pulang dari stupa, seorang Mathura berkedudukan tinggi memanggil dan memintanya untuk mendekat. "Kemarilah dan silakan duduk. Saya penasaran. Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu. Apakah Anda tidak mengenal dewa-dewa agung yang kami puja di negara ini? Anda harus memuja mereka, bukan memuja Buddha." Sementara itu, kerumunan orang mulai berkumpul
Upasaka tersebut menjawab bahwa dia tahu tentang beberapa kualitas yang mengagumkan dari Buddha, tetapi dia belum mengetahui kebaikan dari dewa mereka. Jawaban ini menimbulkan teriakan ketidaksetujuan. Dengan satu suara, penduduk terhormat menyampaikan suatu syair yang menunjukkan kekuatan dari dewa utama mereka:
 "Dinding kota dari Asura
 Menara tinggi jalur tiga lipat;
 Karena itu tergantung, kota tersebut tergantung di dalam ruang;
 Penuh dengan penduduk (anak-anak muda dan wanita)
 Dewa kita, membengkokkan busur
 Dari Jauh, ditembak dari dalam dinding kota,
 Dapat membakarnya dan menghancurkannya dalam sekejap,
 Seperti rumput kering terbakar oleh api.
Upasaka tersebut tidak dapat menahan tawanya. "Jika begini caranya Anda menjelaskan dewamu, tidak heran jika saya tidak dapat menghormatinya. Perkenankan saya menanyaimu:
"Kehidupan adalah seperti setetes embun di atas sekuntum bunga
Nasib terakhir dari semua yang hidup adalah kematian
Beritahu aku, kebijaksanaan apa yang ada di sana
Membawa kematian bersama dengan busur dan panah?"
Para penduduk memarahinya atas penghinaan terhadap kebesaran dan kekuatan dewa mereka. Selama perdebatan yang berkelanjutan, upasaka tersebut mengemukakan argumen berikut ini dalam suatu syair yang panjang:
"Dewa yang anda hormati dan puja,
Dengan tidak berperikemanusiaan dan jahat suka menghancurkan.
Tetapi tentu saja, jika anda berkorban untuk dewa-dewa ini,
Menganggap mereka pantas untuk menerima layanan seperti itu,
Kemudian anda harus melakukan penghormatan
Terhadap singa, harimau, dan serigala
Yang ketika tersinggung dan marah, menghancurkan kehidupan,
Setan Jahat, sama halnya, dan Raksha
Orang bodoh, dikarenakan ketakukan,
Memuja tanpa pertimbangan.
Tetapi bagi mereka yang mempunyai kebijaksanaan
Harus mempertimbangkan dan memikirkannya baik- baik
Jika menghadapi mereka yang tidak mencelakakan (tidak menyebabkan kesakitan)
Kita secara alami terdorong untuk menghormati
Kemudian bagi mereka yang benar-benar baik
Yang tidak mencelakakan, (Kita abaikan)
Sementara mereka yang melakukan kejahatan
Tidak bisa tidak  mencelakakan orang lain (dan mereka sendiri adalah jahat)
jika kita tidak dapat mengenal yang baik,
Juga tidak dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik,
Jika kebaikan bisa mengandung suatu hati yang jahat dan ketidakbaikan dengan pikiran yang baik
Maka pembunuh dan kriminal
Bisa sangat dipuja oleh orang bodoh,
Dan kebaikan dan kebajikan,
Di sisi lain, kurang dihargai.
Kemudian dunia ini jadi terbalik;
Kita tidak dapat memberitahukan apa yang harus dipuja.
Tetapi bagi mereka yang terlahir di Gandhara.
Tahu benar bagaimana membedakan antara yang baik dan buruk
Karena itu, kami percaya pada Tathagata
Dan tidak menganggap para pemusnah."
Warga Mathura kalah dalam debat tetapi mereka menolak untuk mengakuinya. "Anda orang Gandhara, kebaikan religius apa yang dimiliki oleh Buddha?" Jawaban syair lain dilantunkan:
"Terlahir sebagai seorang pangeran Sakya,
Semuanya bijaksana.
Kebajikannya terkumandang ke segala arah
Membubarkan kejahatan seperti awan
Setiap makhluk yang terlahir
Diberkahi oleh-Nya sejak dari awal sekali
Diperkenalkan dengan sifat dari segala kebenaran,
Tercerahkan secara sempurna,
Bhagavat ini,
Kita sebut Buddha."
Orang Mathura menanyakan kepada upasaka tersebut, "Anda mengatakan bahwa Buddha adalah seorang bhagavat, seorang yogi hebat. Di negara kami, para yogi hebat dapat menciptakan mantra yang menghancurkan seluruh negara. Sanggupkah Buddha melakukannya?" Mereka tertawa dan terkikik-kikik.
Upasaka tersebut memberitahukan kepada mereka untuk tidak memfitnah para bhagavat. "Anda ingin membicarakan mengenai pesona? Biar saya memberitahumu tentang pesona-Nya:"
"Dikarenakan nafsu, kemarahan, dan ketidaktahuan,
Guna-guna jahat digunakan.
Dan ketika kata-kata yang menyakitkan seperti itu terangkai
Roh jahat menangkap kata-katanya
Dan menggunakannya untuk menyakiti dunia
Dan melakukan perbuatan jahat di mana-mana.
Buddha telah menghancurremukkan nafsu, ketidaktahuan dan kemarahan;
Cinta kasih-Nya membawakan keuntungan dan kelimpahan,
Mencapai akar dari segala pesona
Beliau menunjukkan segala perbuatan bajik
Dan karena itu, Buddha, Raja Dunia (Lokesvara, Lokanatha)
Tidak menggunakan guna-guna untuk memadamkan kejahatan,
Tetapi melalui kekuatan dari kebajikannya yang hebat
Beliau menyelamatkan kita dari sengsara yang tak berakhir.
Lalu bagaimana Anda mengatakan bahwa Buddha tidak memiliki kekuatan yang besar?"
Orang-orang Mathura tersebut mulai menghargai logika dari jawabannya. Ketika mereka meneruskan pertanyaan tentang Buddha kepada upasaka, mereka menanyakannya tanpa ada kemarahan atau penyesalan. Upasaka tersebut mengambil kesempatan ini untuk memberikan ceramah kepada mereka:
Maha Belas Kasih (Mahakarunika), yang mengasihi segalanya.
Berkeinginan hanya untuk menyelamatkan dunia dari penderitaan;
Melihat mereka yang menderita (Avalokita), Beliau tahu
Kejahatan mereka terhadap diri mereka sendiri telah membawakan kesakitan;
Tetapi jangan katakan bahwa Beliau telah menggunakan guna-guna kejahatan
Dan membawa kejahatan ke dunia.
Tubuh bagi semua yang hidup adalah menderita adanya
Dalam bentuk kelahiran, penyakit, umur tua, dan kematian,
Seperti keperihan akibat abu api yang masih membara
Bagaimanakah dia bisa terpikir untuk menambah kesengsaraan?
Sebaliknya, dengan Dhamma-Nya yang murni dan menyejukkan
Beliau membuat sakit yang berapi-api ini tersembuhkan."
Mendengar demikian, orang-orang Mathura tersebut akhirnya mengakui bahwa kata-kata orang Gandhara tersebut masuk akal. "Gandha berarti memegang. Anda orang Gandhara menganut prinsip yang tidak umum. Tetapi Anda memegang prinsip yang bagus dan melepaskan prinsip yang tidak bagus. Jadi Anda memang tepat dinamakan demikian, terpujilah teman termasyhur!"
Senang dengan kejadian pagi tersebut, upasaka tersebut meninggalkan mereka dengan melantunkan suatu syair perpisahan:
"Pertimbangkan dengan baik-baik kebajikan dari Buddha,
Sempurna dan lengkap dalam setiap aspek.
Dalam mengkaji hukum moralitas, dalam ketenangan dan kebijaksanaan,
Beliau tiada duanya,
Sumeru adalah yang tertinggi di antara gunung-gunung
Samudra adalah pemimpin dari air-air
Di antara dewa dan manusia,
Tiada yang seperti Buddha.
Demi semua yang hidup ,
Beliau menanggung setiap jenis penderitaan
Sehingga Beliau bisa mencapai tujuan
Dan tidak membiarkan kematian dalam bentuk apapun
Setiap orang yang mencari perlindungan dari Buddha
Telah mendapatkan keuntungan
Dan mendapatkan kebebasan.
Mereka yang mengikuti ajaran Buddha
Telah bebas dari kesengsaraan mereka.
Buddha dengan kekuatan yang menakjubkan
Telah mengatasi semua orang berpandangan salah
Nama-Nya termasyhur
Di seluruh alam semesta, dalam seluruh sepuluh penjuru.
Dengan suara Singa-Nya (Simhanada), Buddha
Menyatakan khayalan Samsara,
Bicara tanpa setengah-setengah,
Tetapi mengikuti Jalan Tengah.
Manusia dan dewa
Mengulang-ulang: "Semoga demikian" (Sadhu)
Mereka yang tidak mampu melihat kebenaran
Masih terikat dalam lingkaran Samsara
Setelah Parinirvana-Nya Tathagata
Tiap negara mendirikan stupa-stupa,
Yang didekorasi secara meriah dengan menggunakan permata
Seperti bintang-bintang yang tergantung di angkasa.
Karena itu, biarlah setiap orang menyatakan Buddha sebagai Penguasa Tertinggi."

Ta Chwang Yan King Lun
oleh Asvagosha
diterjemahkan ke Mandarin oleh Kumarajiva

Dari buku "Guanyin: 101 pertanyaan".
#7
Mahayana / Argumen Kemajemukan Buddha
26 February 2026, 01:08:21 PM
Pertanyaan: Apakah Buddha hanya ada di dunia Saha ini, dan di waktu sekarang di seluruh semesta tidak ada Buddha lain yang hidup dan mengajar, walaupun di sistem dunia lain yang sangat jauh?

Jawab:

Argumen yang mendukung kemajemukan Buddha
Diambil dari Mahaprajnaparamitasastra [The Treatise on The Great Wisdom of Nagarjuna], diterjemahkan Etienne Lamotte, Vol 1.
Hal 427-430

1) Di dalam Samyuktaagamasutra, dikatakan "Ketika hujan turun, tetesan hujan (bindu) adalah sangat dekat sehingga mereka tak bisa dihitung. Sama halnya seperti sistem dunia (lokadhatu). Di arah timur (purvasyam dis), Aku melihat tak terhitung banyaknya makhluk lahir, hidup, dan mati. Jumlah mereka sangat banyak, melampaui hitungan. Seperti itu jugalah di sepuluh penjuru arah. Di alam-alam semesta di sepuluh penjuru, tak terhitung banyaknya makhluk mengalami tiga macam penderitaan fisik (kayadukkha), penuaan (jara), sakit (vyaddhi) dan kematian (marana); ketiga macam penderitaan mental, hasrat (raga), kebencian (dvesa), dan kegelapan batin (moha); dan ketiga jenis penderitaan kelahiran kembali (purnabhavadukkha), kelahiran di alam naraka, hantu kelaparan (preta), dan binatang (tiryagyoni).
Semua alam ini memiliki tiga jenis manusia, inferior (avara), menengah (madya), atau superior (agra). Manusia inferior melekat (sakta) pada kesenangan saat ini, manusia menengah melekat pada kesenangan [kehidupan] mendatang, tetapi manusia superior mencari Sang Jalan; mereka dipenuhi dengan cinta kasih (maitri) dan welas asih (karuna) dan mempunyai rasa iba pada makhluk-makhluk"
Ketika sebab dan kondisi [yang dibutuhkan untuk datangnya soerang Buddha] hadir, mengapa akibatnya, [yaitu, datangnya seorang Buddha] tidak dihasilkan? Sang Buddha telah berkata: "Jika tidak ada sakit, penuaan, dan kematian, Buddha tidak akan muncul." [AN 10.76]
Adalah karena seseorang melihat orang-orang tersiksa oleh penuaan, sakit, dan mati, seseorang membuat tekad (pranidhana) untuk menjadi Buddha untuk menyelamatkan semua makhluk, menyembuhkan sakit mental mereka dan mengeluarkan mereka dari derita tumimbal lahir.
Sekarang, alam-alam semesta ini di sepuluh penjuru menampilkan semua sebab dan kondisi yang dibutuhkan bagi kemunculan seorang Buddha (buddhapradurbhava). Bagaimana mungkin anda dapat mengatakan bahwa alam semesta  kita adalah satu-satunya yang mempunyai Buddha sementara alam semesta lainnya tidak? Ini seperti anda mengatakan bahwa "Ini ada kayu, tetapi tidak ada api; tanah ini basah, tetapi tidak ada air." Sama halnya dengan para Buddha. Makhluk-makhluk ini menderita karena penuaan, sakit, dan kematian melanda tubuh mereka; pikiran mereka sakit oleh hasrat (raga), kebencian (dvesa), dan kebodohan (moha); Buddha muncul di dunia untuk menghancurkan tiga jenis penderitaan dan memperkenalkan makhluk-makhluk pada Tiga Kendaraan (yanaytraya). Bagaimana mungkin Buddha tidak muncul di semua alam semesta dimana penderitaan ini ada?
Adalah salah untuk mengatakan bahwa satu obat (agada) adalah cukup untuk menyembuhkan orang buta yang tak terhitung jumlahnya (andhapurusa) [dan karena itu, satu Buddha untuk menyembuhkan makhluk yang tak terhitung jumlahnya.] Karena itu, Buddha-Buddha yang ada di sepuluh penjuru haruslah ada.

2) Lebih jauh, sebuah sutra dalam Dirghaagama [Atanatikasutra,
paralel: Taisho 1245 Vaisravana Sutra / Fo shuo P'i-sha-mên T'ien-wang Ching
Paralel Pali: Atanatiya Sutta, Digha Nikaya 32]
mengatakan
"Tatkala itu Raja Dewa Vaiśravaṇa, beserta ratusan, ribuan, tak terhitung yakṣa pengiringnya, datang bersama-sama ke tempat Buddha di waktu jaga pertama di malam hari. Ia memancarkan cahaya cemerlang yang menerangi seluruh kawasan Hutan Jeta, lalu bersujud dengan kelima anggota tubuhnya menyentuh tanah di bawah kaki Bhaga-van, berdiri di satu sisi, berañjali menghadap Buddha, dan memuji dengan gāthā:
"Hormat bagi Yang Teragung Tanpa Ketakutan,
Saṃbuddha yang terunggul di antara makhluk berkaki-dua.
Para dewa, dengan mata dewanya,
tidak dapat melihat makna (Kebenaran)
 [seperti yang Kauamati].
Kepada para Buddha di masa lampau, sekarang, dan akan datang,
Pemimpin yang Penuh Kasih-Sayang dari ketiga masa,
— ya, kepada para Samyaksaṃbuddha ini satu per satu —
kini aku pergi berlindung dan menyembah."
Di dalam bait-bait ini, adalah pertanyaan mengenai Buddha di sepuluh penjuru. Sang Raja Dewa bersujud pada Buddha di tiga masa; dan khususnya, beliau berlindung pada Buddha Sakyamuni. Jika Buddha di sepuluh penjuru sejatinya tidak ada, beliau hanya akan berlindung di dalam Buddha Sakyamuni dan beliau tidak akan mengatakan apapun mengenai Buddha lain di masa lalu, masa depan, dan masa kini. Inilah kenapa kita menyetujui keberadaan Buddha di sepuluh penjuru.

3) Lebih jauh, jika ada, di masa lalu, Buddha yang jumlahnya tak terhitung, jika akan ada, di masa depan, Buddha yang jumlahnya tak terhitung, maka haruslah ada, di masa sekarang, tak terhitung banyaknya Buddha.

4) Lebih jauh, jika, di dalam teks sravaka, Buddha  mengatakan mengenai Buddha-Buddha yang tak terbilang dan tak terhitung jumlahnya di sepuluh penjuru, makhluk-makhluk akan mengatakan: "Karena para Buddha adalah sangat mudah ditemukan, tidaklah perlu untuk rajin dan giat untuk mencari pembebasan. Jika kita tidak bertemu Buddha yang ini, kita akan menemukan Buddha lain nanti."
Karena kemalasan (kausidya) mereka tidak akan dengan tekun mengejar pembebasan mereka. Seekor rusa yang belum pernah ditembak panah tidak mempunyai rasa takut; tetapi setelah sudah dipanah, ia akan kabur [ketika melihat pemburu]. Dengan cara yang sama, orang-orang yang sudah mengetahui penderitaan usia tua, sakit, dan kematian dan yang telah mendengar bahwa hanya ada satu Buddha yang sangat jarang ditemukan, akan merasa takut, berusaha dengan penuh semangat, dan dengan cepat keluar dari penderitaan.
Inilah kenapa di teks sravaka, Buddha tidak mengatakan mengenai keberadaan para Buddha di sepuluh penjuru, tapi juga tidak mengatakan bahwa mereka tidak ada.

5) Jika Buddha di sepuluh penjuru [ternyata benar-benar] ada dan anda menyangkal keberadaan mereka, anda telah melakukan kesalahan yang hukumannya tanpa jeda (anantaryapatti)
Di lain pihak, jika Buddha di sepuluh penjuru [ternyata] tidak ada, tetapi saya menyetujui keberadaan mereka hanya untuk menciptakan ide Buddha yang jumlahnya tanpa batas (apramanabuddhasamjna), saya mendapatkan kebajikan dari menghormat kepada mereka (satkarapunya). Mengapa demikian?
Karena adalah niat baik (kusalacitta) yang menghasilkan kebajikan besar. Maka, di dalam samadhi cinta kasih (maitricittasamadhi), seseorang memikirkan semua makhluk dan mengharapkan mereka semua bahagia; walaupun tidak ada manfaat nyata untuk makhluk-makhluk [yang dipikirkan jadi bahagia], orang yang memikirkan dengan cara ini mendapatkan banyak kebajikan. Demikian juga sama [dengan orang yang memikirkan] ide mengenai Buddha di sepuluh penjuru.
Jika Buddha di sepuluh penjuru benar-benar ada dan seseorang menyangkal keberadaan mereka, seseorang melakukan sebuah kesalahan besar dari menyerang semua Buddha di sepuluh penjuru. Kenapa? Karena seseorang menyerang sesuatu yang benar.
Orang itu tidak melihat dengan organ mata (mamsacaksus); tetapi jika dia menyatakan keberadaan mereka [Buddha-Buddha di sepuluh penjuru], kebajikannya (punya) adalah besar.
Sebaliknya, jika dia secara mental menyangkal keberadaan mereka, karena Buddha-Buddha ini nyatanya ada, kesalahan (apatti) dia sangatlah buruk.
Jika, kemudian, orang itu harus mempercayai keberadaan [Buddha di sepuluh penjuru[ dari cahaya mereka sendiri, kenapa dia kemudian tidak seharusnya percaya pada mereka, ketika Buddha sendiri sudah menyatakan keberadaan Buddha-Buddha ini di dalam Mahayana?
#8
Mahayana / Re: Sila Bodhisattva , 18 UTAMA
24 February 2026, 02:22:15 PM
15. Dengan sengaja, keliru menyatakan telah mencapai realisasi, misalnya sunyata.
Berbohong menyatakan, "saya telah menembus kebenaran tertinggi" [kesunyataan]. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, putra keluarga baik, di masa depan akan ada bodhisattva pemula, perumah tangga atau ditahbiskan (sebagai anggota sanggha), yang akan membaca, mengulang, dan melafalkan sutra yang mengandung makna mendalam tentang kekosongan. Sutra - sutra mahayana ini adalah objek pengertian bagi bodhisattva yang hanya membutuhkan sedikit usaha, dan yang adalah makhluk dengan kecerdasan agung, dihiasi <telah mencapai> dharani, kesabaran, konsentrasi meditatif, dan tahapan (tingkat bodhisattva)
Setelah mengulang mereka (sutra-sutra), mereka mengajarkan sutra-sutra ini dengan luas pada orang lain. Mereka berkata, "Aku telah memahami ajaran ini dengan kecerdasanku sendiri; Aku mengajarkannya padamu dengan cara ini karena aku berwelas asih. Maka kamu harus bermeditasi pada Dharma yang mendalam ini supaya kamu dapat melihatnya secara langsung dan kamu juga akan dapat melihat kebijaksaan primordial, seperti yang dapat kulakukan sekarang"
Bukannya mengatakan, "Aku belum mencapai Dharma yang paling mendalam ini, tetapi mengajarkannya hanya dengan membacakannya", mereka mempromosikan diri mereka sendiri demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan. Maka, di mata para Tathagata, Arahat, Buddha Yang Tercerahkan Sempurna di tiga masa, para Bodhisattva Mahasattva, dan makhluk-makhluk suci, mereka telah ternoda oleh kesalahan. Sebuah pelanggaran berat telah terjadi. Setelah menipu para dewa dan manusia dengan menggunakan Mahayana, bagi para bodhisattva tersebut bahkan tidak akan ada kendaraan shravaka yang diajarkan Buddha , apalagi untuk Mahayana, atau realisasi khusus yang menjadi pintu gerbang memasuki Mahayana, atau pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada tara.
"Analoginya adalah seperti seseorang yang mengembara di daerah liar terpencil, dimana dia menderita karena kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Dia kemudian mendekati sebuah pohon, ingin memakan buahnya. Tetapi, mengabaikan pohon dengan aroma wangi dan buah yang enak, ia malah memanjat pohon beracun yang berbuah tanpa rasa, dan memakan buah beracun. Dengan melakukan itu dia menyebabkan kematiannya sendiri. Bodhisattva pemula yang melakukan pelanggaran keenam dikatakan seperti orang di analogi ini"
"Maka, jika bodhisattva pemula yang telah mendapatkan kelahiran sebagai manusia yang sulit didapatkan ini tinggal dengan seorang teman spiritual dan berharap memasuki mahayana, tetapi malah memuji diri sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain demi mendapatkan keuntungan, kehormatan, dan popularitas, mereka melakukan pelanggaran serius. Karena pelanggaran akar ini, semua orang bijaksana akan mengkritik mereka dan mereka akan pergi ke alam rendah. Tidak ada ksatria, brahmana, waisya, atau sudra yang akan mengandalkan orang demikian. Siapapun yang mengandalkan orang demikian pastilah tidak bijaksana. Ini adalah pelanggaran akar keenam dari bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)

16. Menerima sesuatu yang dicuri dari Triratna. Atau mendenda / menghukum seorang bhiksu
Menjatuhkan denda kepada praktisi-praktisi yang mengambil penahbisan dan menerima apa yang telah dipersembahkan atau yang tadinya hendak dipersembahkan kepada Sang Triratna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, putra berbudi, di masa depan para raja (Ksatria) akan mempunyai Menteri dan Penasehat yang jahat, prajurit yang jahat, dan tabib yang jahat – orang-orang dungu yang kaya dan berkuasa, yang bangga dengan keahliannya. Terlihat melibatkan diri dalam banyak perbuatan bajik seperti berdana, mereka akan menjadi sombong dan angkuh karena perbuatan memberi mereka.
Didorong oleh arogansi dan kesombongan, mereka akan menyebabkan perpecahan diantara Ksatria, dan juga perpecahan diantara monastik dan Ksatria. Didukung oleh Ksatria, mereka bahkan akan menghukum para praktisi yang ditahbiskan, merampok mereka dengan cara menjatuhkan denda. Lalu, karena dianiaya demikian, para praktisi yang ditahbiskan ini akan mencuri dari siapapun, atau sangha lokal, atau sangha di empat penjuru, dan tempat pemujaan (stupa) manapun, dan memberi apa yang mereka telah curi untuk membayar denda.
Dan orang-orang jahat ini kemudian akan mempersembahkan uang /barang-barang ini kepada Ksatria. Kedua tindakan ini menjadi pelanggaran utama. Ini adalah pelanggaran utama ketujuh [bagi bodhisattva pemula]. (Akasagarbha Sutra)

17. Membuat peraturan yang memberatkan atau membahayakan
Menyebabkan seseorang meninggalkan meditasi ketenangan batin dan menyerahkan benda-benda milik ahli meditasi kepada mereka yang melafalkan doa-doa.
Ini adalah pelanggaran-pelanggaran utama, sebab-sebab bagi makhluk untuk terlahir kembali di neraka besar. Akuilah kesalahan-kesalahan ini dalam mimpi, dengan berdiri di hadapan Arya Akashagarbha. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, para Ksatria jahat ini bersama-sama dengan praktisi monastik melakukan pelanggaran seperti ini. Mereka menyatakan Dharma yang murni sebagai bukan Dharma, dan mengatakan apa yang bukan Dharma sebagai Dharma, sehingga meninggalkan Dharma sejati. Mereka tidak menjaga disiplin sila dari sutra dan vinaya, tidak juga mereka menjalankan ajaran luar (Tirthika), tidak juga ajaran agung (Buddhadharma).
Setelah meninggalkan latihan mereka dalam cinta kasih (metta), welas asih agung (mahakaruna), dan penyempurnaan kebijaksanaan (prajnaparamita), dan juga latihan mereka dalam cara mahir (upayakausalya) dan latihan-latihan yang diajarkan di dalam sutra-sutra, mereka menetapkan tugas-tugas untuk komunitas monastik yang tidak berhubungan dengan aktivitas bajik [yang telah disebutkan sebelumnya] demi merugikan para bhiksu.
Karena tugas-tugas seperti itu telah ditetapkan, para bhiksu dirugikan. Mereka meninggalkan praktek meditasi ketenangan batin (samatha) dan pandangan terang (vipasyana). Niat-niat jelek meningkat di dalam diri para meditator itu, dan sebagai hasilnya mereka tidak dapat menenangkan emosi mereka yang belum terkendali. Karena [pikiran jelek] ini tidak teredam, para bhiksu ini merosot dalam hal motivasi, dispilin moral (sila), perilaku, dan pandangan. Karenanya, mereka menjadi lengah, dan menjadi semakin lengah lagi, dan disiplin moral (sila) mereka merosot.
Walaupun mereka bukan [lagi] seorang monastik, mereka berpura-pura [masih] menjadi monastik, dan walaupun mereka tidak menjalankan kehidupan suci, mereka berpura-pura [menjalankannya]. Mereka serupa keledai, dan mereka menjelaskan Dharma dengan sangat jelas. Ketika mereka telah dihormati dan dimuliakan besar-besaran oleh para Ksatria dan pengikutnya dan telah menerima persembahan mereka, mereka [bhiksu jahat itu] mengkritik, di depan para perumahtangga, bhiksu-bhiksu yang mempraktekkan meditasi dengan rajin.
Dan para Ksatria beserta rombongan pengikutnya menjadi marah pada bhiksu-bhiksu yang rajin bermeditasi, dan menghina mereka.
Jika sokongan dan benda-benda materi yang seharusnya diberikan kepada bhiksu-bhiksu yang rajin mempraktekkan meditasi [malah kemudian] dipersembahkan kepada bhiksu-bhiksu yang melafalkan doa-doa, pada poin ini, maka kedua tindakan [dari monastik dan penderma] menjadi pelanggaran utama. Mengapa? Karena bhiksu yang melatih meditasi adalah orang suci, tetapi mereka yang hanya melafalkan doa dan mengajar orang lain tidak. Para bhiksu yang bermeditasi telah menjadi wadah bagi konsentrasi meditatif, dharani, kesabaran, dan tahapan.
Mereka telah menjadi makhluk suci yang pantas untuk menerima persembahan; mereka telah menjadi wadah suci. Mereka menyinari dunia dan menunjukkan jalan, membebaskan makhluk-makhluk  dari dunia karma dan klesha dan menempatkan mereka pada Jalan menuju akhir penderitaan.
Putra berbudi, karena mereka tidak mempunyai rasa bersalah pada tindakan tersebut dan tidak takut pada akibatnya, ini adalah pelanggaran utama kedelapan bagi bodhisattva pemula. Ketika bodhisattva pemula melakukan pelanggaran-pelanggaran ini, mereka kehilangan semua akar kebajikan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Mereka telah menjadi 'terkalahkan', akan kehilangan kebahagiaan alam-alam tinggi dan kebahagiaan pembebasan, dan telah menipu diri mereka sendiri. (Akasagarbha Sutra)


18. Meninggalkan bodhicitta
Meninggalkan batin pencerahan. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Singkatnya, hanya ada dua hal yang menyebabkan seseorang kehilangan ikrar etika bodhisattva otentik yang telah diambil: sepenuhnya meninggalkan aspirasi untuk mencapai pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada tara; dan melakukan perbuatan yang serupa dengan 'kekalahan' (parajika) dengan faktor- faktor pengikat. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Bodhisattva Nyanajina bertanya kepada Buddha, "Bhagavan, kapankah seorang Bodhisattva disebut melakukan pelanggaran?"
Buddha memberitahukan kepada Bodhisattva Nyanajina, "Putra yang berbudi, jika seorang Bodhisattva menganut Dharma dari para Shravaka dan Pratyekabuddha, maka ia telah melakukan pelanggaran berat, walaupun ia telah menjalankan Pratimoksa,  hanya makan buah-buahan dan rumput-rumputan selama ratusan ribu kalpa dan bisa tabah menerima baik pujian maupun celaan dari mahkluk hidup. Putra yang berbudi, seperti halnya kaum Shravaka tidak bisa mencapai Nirvana dalam kehidupan ini apabila mereka melakukan pelanggaran berat, maka demikian juga Bodhisattva tidak akan memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi apabila mereka tidak menghilangkan Dharma Shravaka dan Pratyekabuddha yang telah dianut, tidak melepaskannya dan tidak menyesali perbuatannya. Adalah tidak mungkin bagi Bodhisattva ini untuk mendapatkan Buddhadharma [selama ia tetap berpikiran seperti itu]. (Upayakausalya Sutra)

#9
Mahayana / Re: Sila Bodhisattva , 18 UTAMA
24 February 2026, 02:17:24 PM
8.     Melakukan lima perbuatan keji.
Melakukan lima kejahatan besar. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, seorang ksatria melakukan pelanggaran utama keempat dengan melakukan salah satu dari lima kejahatan besar ini: dengan sengaja membunuh ibu sendiri, membunuh ayah, membunuh shravaka, arahat, atau Sang Bhagava; memecah belah Sangha; atau dengan sengaja dan dengan niat jahat menyebabkan seorang Tathagata, Arahat, Buddha yang tercerahkan lengkap sempurna berdarah.
......
Terakhir, bagi seorang Menteri untuk melakukan satu atau lebih dari lima kejahatan besar adalah pelanggaran utama kelima. (Akasagarbha Sutra)

9.           Menganut pandangan salah
Berpegang pada pandangan yang salah. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
"Lebih jauh, jika seorang Ksatria mendukung filosofi ketiadaan sebab dan akibat, menyangkal keberadaan kehidupan mendatang, memeluk sepuluh perbuatan tidak bajik dan menjalankannya, dan juga mempengaruhi banyak orang lain untuk mengikuti sepuluh perbuatan tidak bajik, memanipulasi mereka, menyemangati mereka dan membawa mereka untuk melakukannya; perbuatan ini adalah pelanggaran utama kelima [bagi Ksatria] (Akasagarbha Sutra)

10. Menghancurkan desa dan kota dan sebagainya

Menghancurkan sebuah tempat atau wilayah. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Menghancurkan sebuah desa, wilayah, atau kota, adalah pelanggaran utama kedua [bagi Menteri] (Akasagarbha Sutra)

11. Menjelaskan sunyata kepada mereka yang tidak siap.
Menjelaskan kesunyataan kepada mereka yang belum siap mendengarkannya. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Ada makhluk-makhluk yang lahir di dunia yang penuh gangguan dan lima ketidakmurnian karena mereka melakukan perbuatan jahat di masa lampau. Mereka bertumpu pada seorang sahabat spiritual dan mendengarkan ajaran Mahayana yang paling mendalam, dikarenakan adanya akar kebajikan kecil yang mereka miliki. Walaupun mereka melakukannya dengan sedikit pengertian, para putra keluarga baik ini membangkitkan aspirasi untuk mencapai pencerahan lengkap sempurna yang tak tertandingi.
Beberapa bodhisattva pemula diantara mereka mendengarkan kumpulan sutra yang menjelaskan kekosongan yang terdalam, membaca dan menuliskannya. Di hadapan makhluk-makhluk lain yang mengertinya sama sedikitnya dengan yang disebutkan sebelumnya, mereka mengulang sutra-sutra ini dengan rinci dalam kata-kata dan makna, sebagaimana mereka telah dengar dan pahami.
Ketika makhluk-makhluk biasa yang tidak matang, yang belum menjalani latihan keras, mendengar sutra yang amat dalam tersebut, mereka menjadi sangat takut dan ngeri. Karena mereka takut, mereka berbalik dari [aspirasi untuk] mencapai pencerahan yang lengkap sempurna yang tak tertandingi, dan beraspirasi untuk [memasuki] kendaraan shravaka. Ini adalah pelanggaran akar pertama bagi seorang bodhisattva pemula.
Putra keluarga berbudi, karena pelanggaran akar ini, mereka akan kehilangan akar kebajikan yang sebelumnya telah mereka dapatkan. Mereka akan berada dalam keadaan 'terkalahkan' dan akan kehilangan kebahagiaan kelahiran alam tinggi dan kebahagiaan kebebasan. Mereka akan mengkhianati bodhicitta mereka, batin pencerahan, dan pergi ke alam rendah.
Misalnya seperti ini. Sama halnya, contohnya, seseorang mengarungi lautan luas dalam tahap-tahap, dengan cara yang sama bodhisattva juga harus pertama-tama mengetahui [kapasitas] makhluk lain, kecenderungan mereka dan sifat-sifat mereka. Sesuai dengan watak dan kecenderungan bodhisattva pemula lain, mereka harus mengajarkan dharma langkah demi langkah. (Akasagarbha Sutra)

12. Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana
Mengalihkan tujuan seseorang yang hendak  mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, beberapa bodhisattva pemula mungkin mengatakan pada beberapa orang:
"Engkau tidak mampu untuk menerapkan latihan enam kesempurnaan (paramita). Engkau tidak dapat mewujudkan dan dengan lengkap merealisasi pencerahan lengkap sempurna yang tiada banding. Karena itu, cepat-cepatlah alihkan pikiranmu kepada kendaraan Shravaka atau kendaraan Pratyekabuddha dan engkau akan dengan segera dengan pasti terbebaskan dari samsara."
Mengatakan kata-kata ini adalah pelanggaran akar kedua bagi bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)

13. Menyebabkan orang lain melepaskan Ikrar Pratimoksa mereka dan memasuki Mahayana
Menyebabkan seseorang sepenuhnya melepaskan Ikrar Pratimoksa dan memasuki Mahayana, [sebagai pengganti disiplin sila dan vinaya]. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, beberapa bodhisattva pemula mungkin mengatakan pada beberapa orang:
"Oh, apa gunanya melatih vinaya pembebasan pribadi, disiplin moral, dan perilaku baik? Engkau seharusnya segera membangkitkan pikiran yang beraspirasi untuk pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada banding dan mempelajari Mahayana. Kemudian, bahkan tindakan jahat paling kecil yang telah engkau lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran karena didorong oleh klesha akan dimurnikan, dan mereka tidak akan berbuah."
Mengatakan kata-kata ini adalah pelanggaran akar ketiga bagi bodhisattva pemula. . (Akasagarbha Sutra)

14. Meremehkan Kendaraan yang lebih kecil dan menyebabkan orang lain berperilaku demikian.
Mempertahankan pandangan bahwa Kendaraan-kendaraan praktisi yang masih berlatih tidak memungkinkan seseorang untuk mengatasi kemelekatan dan seterusnya, dan menyebabkan orang lain memiliki pandangan yang sama. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, putra keluarga baik, seorang bodhisattva pemula mungkin akan berkata : "Putra berbudi, hindarilah ajaran-ajaran dari kendaraan shravaka! Jangan mendengarkannya, jangan membacanya, dan jangan mengajarkannya pada orang lain. Putra berbudi, hindarilah ajaran kendaraan shravaka! Mereka (ajaran shravaka) adalah alasan penyebab anda tidak mampu mendapatkan hasil yang unggul, penyebab anda tidak dapat menghapuskan noda batin. Maka, yakinlah pada ajaran-ajaran Mahayana. Dengarkanlah, pelajarilah, dan ajarkanlah ajaran-ajaran Mahayana. Dengan demikian maka anda tidak akan pergi menuju ke alam rendah, anda tidak akan memasuki jalan menuju alam rendah, dan dengan cepat anda akan mencapai keadaan pencerahkan lengkap sempurna yang tak tertandingi."
Jika kata-kata ini diucapkan dan sang pendengar berbuat seperti yang diinstruksikan dan mengambil pandangan seperti demikian, maka kedua tindakan tersebut menyebabkan pelanggaran akar. Ini adalah pelanggaran akar ke-4 dari bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)
#10
Mahayana / Sila Bodhisattva , 18 UTAMA
24 February 2026, 02:16:08 PM
Sila Bodhisattva, 18 Pelanggaran Utama, versi tradisi Tibet.
Kumpulan kutipan sumber akar.


Kumpulan sumber akar untuk 18 Pelanggaran Utama (Parajika) yang mematahkan Sila Bodhisattva

1. Memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain
Dikarenakan kemelekatan kuat terhadap materi dan reputasi, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain adalah sebuah pelanggaran utama seorang bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Karena kemelekatan untuk mendapatkan keuntungan dan ketenaran, Engkau memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
Memuji kualitas diri sendiri dengan harapan mendapatkan keuntungan, reputasi, dan pujian, serta mencemarkan nama orang lain. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, seorang bodhisattva pemula mungkin adalah seorang munafik, memikirkan satu hal tetapi mengklaim hal lain. Mereka juga mungkin menyebarkan dan menulis ajaran Mahayana, dan demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan mereka mungkin melafalkan bait-bait tersebut, mengulang, menghapal, membaca, dan menjelaskan mereka, dan bahkan mengajarkan pada orang lain hal-hal yang mereka hanya dengar sebelumnya, mengatakan, "saya adalah pengikut Mahayana; tetapi orang lain bukan."
Karena mereka mencari keuntungan dan kehormatan, mereka menjadi cemburu dan marah ketika orang lain dihargai dan dihormati. Menyebut nama orang lain, mereka merendahkan, menghina, dan menjelek-jelekkan orang lain, dan malah memuji diri sendiri. Karena kecemburuan, mereka mengatakan, "Saya mempunyai kualitas unggul."
Perbuatan ini adalah pelanggaran dan membuat mereka kehilangan kebahagiaan dari Mahayana. Maka ini dipandang sebagai pelanggaran yang sangat serius yang membawa kelahiran di alam rendah. Analoginya adalah seperti sekelompok orang yang ingin pergi ke pulau permata dan mengarungi samudera luas dengan perahu, tetapi perahu tersebut hancur di tengah lautan. Dengan cara yang sama, walaupun para bodhisattva pemula ini ingin menyebrangi samudera luas Mahayana, mereka menghancurkan perahu keyakinan mereka dan berpisah dari kekuatan penting kebijaksanaan ketika mereka berbohong karena iri hati. Karena itu, bodhisattva pemula melakukan pelanggaran yang sangat berat ketika mereka berbohong karena iri hati. (Akasagarbha Sutra)
Ada empat prinsip yang, ketika ditemukan dalam seorang bodhisattva, menjaganya dari penyimpangan sehingga ia bisa terus maju ke tujuan....., kebanggaannya terkikis, ia meredam kecemburuan dan keserakahan, ketika ia melihat kesuksesan orang lain pikirannya dipenuhi kebahagiaan. (Manjusribuddhakshetragunavyuhalankara Sutra)

2. Tidak memberi harta atau dharma
Mempunyai benda-benda dan ketika memilikinya, dikuasai oleh kemelekatan, karena kekerasan hati menolak untuk memberikan benda materi pada pemohon yang terlantar, yang tidak memiliki makanan, pelindung, pendukung, dan yang memohon dengan cara yang benar, atau menolah untuk membagikan ajaran Dharma kepada mereka yang tertarik pada Dharma dan yang memintanya dengan cara yang benar dikarenakan kepelitan mengenai Dharma, adalah perbuatan pelanggaran utama bagi bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Bagi mereka yang kesusahan karena tidak memiliki pelindung, didorong oleh kekikiran, tidak memberikan kekayaan ataupun Dharma. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)

3. Menolak permintaan maaf seseorang atau; karena marah menyerang orang lain.
Seorang bodhisattva, tidak mengurangi kemarahannya tetapi malahan membiarkan klesha meningkat dan mengucapkan perkataan kejam, dan setelah dikuasai kemarahan, memukul makhluk hidup lain dengan tangan kosong, batu, atau tongkat, melukai mereka atau menyakiti mereka dengan cara apapun, dan ketika orang lain meminta maaf, hanya membuat kekesalannya meningkat, tidak mendengarkan, tidak menerima [permintaan maaf], dan tidak melepaskan kemarahannya – adalah sebuah pelanggaran utama seorang bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Tidak mendengarkan orang lain walaupun mereka meminta maaf, dan karena kemarahan menyerang orang lain. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)

4. Menyangkal Mahayana dan menyebarkan doktrin keliru
Menyangkal kumpulan sutra-sutra bodhisattva, berdasarkan inisiatif sendiri atau mengikuti contoh seseorang; membaktikan diri pada doktrin keliru, menghormati doktrin keliru, menjelaskan doktrin keliru, dan mendesak orang lain untuk mempraktikkan doktrin keliru tersebut, adalah sebuah pelanggaran utama bagi bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Menyangkal ajaran Mahayana dan menyebarkan doktrin-doktrin yang menyesatkan. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
Terpengaruh oleh klesha diri sendiri atau orang lain, menjelaskan doktrin-doktrin keliru. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)

5. Mencuri milik Triratna.[/b]
Mengambil apa yang menjadi milik Sang Triratna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Bodhisattva Maitreya bertanya, "Yang Terberkahi, makhluk hidup yang ternoda oleh pelanggaran utama kehilangan akar kebajikan mereka dan ditakdirkan untuk lahir di alam rendah. Mereka berada dalam keadaan 'terkalahkan' dan akan kehilangan kebahagiaan dewa dan manusia. Tetapi putra keluarga berbudi ini membawa makhluk-makhluk ini untuk mendapatkan kebahagiaan alam tinggi dan pembebasan. Apakah tepatnya pelanggaran-pelanggaran ini?"
Yang Terberkahi menjawab, "Putra keluarga berbudi, ada lima pelanggaran utama untuk seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan. Dengan melakukan yang manapun dari pelanggaran utama ini, seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan akan kehilangan semua akar kebajikan yang sebelumnya telah dihimpun, dan akan berada dalam keadaan 'terkalahkan'. Orang tersebut akan kehilangan kebahagiaan dewa dan manusia, dan akan pergi ke alam rendah.
Apakah lima pelanggaran ini? Putra keluarga berbudi, untuk seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan, mencuri dari tempat pemujaan (stupa), mencuri dari apa yang telah dipersembahkan pada Sangha lokal ataupun Sangha di empat penjuru, atau mendorong orang lain untuk mencuri hal itu; ini adalah pelanggaran utama pertama [bagi ksatria]." 
"Maitreya, pelanggaran bagi seorang Menteri juga ada lima. Apakah lima ini?  Mencuri dari tempat pemujaan (stupa), atau mencuri dari apa yang telah dipersembahkan pada Sangha di empat penjuru; adalah pelanggaran utama pertama bagi seorang Menteri."  (Akasagarbha Sutra)

6. Menolak Dharma yg murni
Menolak Dharma suci Sang Muni. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
"Memaksa seseorang untuk meninggalkan Dharma, apakah itu instruksi mengenai pembebasan pasti Shravaka, instruksi mengenai pembebasan pasti Pratyekabuddha, atau instruksi mengenai pembebasan pasti Mahayana, dan juga menciptakan halangan terhadap Ajaran, atau menyembunyikan mereka; semua ini adalah pelanggaran utama kedua [bagi ksatria]."
"Lebih jauh lagi, bagi seorang Menteri, memaksa seseorang untuk meninggalkan Dharma, apakah itu instruksi mengenai pembebasan pasti Shravaka, instruksi mengenai pembebasan pasti Pratyekabuddha, atau instruksi mengenai pembebasan pasti Mahayana, dan juga menciptakan halangan terhadap Ajaran, atau menyembunyikan mereka; ini adalah pelanggaran utama ketiga [bagi Menteri]" (Akasagarbha Sutra)
"Di dalam kitab suci Sarvadharmavaipulyasamgraha Sutra ada satu lagi kejahatan yang diuraikan:
"Halus, O Manjusri, halangan bagi kebajikan yang datang dari menolak Dharma. Dalam satu kasus  seseorang memuji prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Tathagata, sementara di kasus lain dia mengatakan celaan; dia menolak Dharma. Dengan melakukannya, dia menolak Sang Tathagata, dan menolak Dharma, dan melecehkan Sangha. Orang tersebut yang berkata [tentang Dharma], 'aturan ini sesuai, yang itu tidak sesuai' benar-benar menolak Dharma.
Saya tidak pernah membabarkan Dharma dalam bagian-bagian terpisah, satu untuk Kendaraan Shravaka, satu untuk Kendaraan Pratyekabuddha, satu untuk Kendaraan Agung. Karena itu mereka adalah anak-anak kebingungan yang membuat pemisahan seperti ini dalam Dharma-Ku, dengan mengatakan 'Ini masuknya ke Kendaraan Shravaka, yang itu ke Kendaraan Pratyekabuddha, dan yang itu milik Kendaraan Bodhisattva.' Dia yang mengatakan ini menolak Dharma dengan menyatakannya sebagai terbagi-bagi.  Demikian pula orang yang mengatakan, 'Poin Dharma ini adalah masuk kategori Disiplin Bodhisattva, poin berikutnya tidak.' (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)

7. Menyita jubah, atau menyerang, atau memenjarakan, atau memaksa lepas jubah seorang bhiksu.
Menyita jubah seorang bhiksu, menyerang dirinya, memenjarakan atau mengurungnya, memecatnya, walaupun dia seorang bhiksu yang tidak menjaga ikrar dengan baik. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Mengambil dengan paksa jubah kuning dari mereka yang demi Buddha telah mencukur rambut dan jangut mereka dan memakai jubah kuning – apakah mereka menjaga sila atau tidak, apakah mereka menjalankan disiplin (vinaya) atau tidak – sehingga membuat mereka menjadi perumahtangga; menerapkan hukuman fisik pada mereka, memenjarakan mereka, atau membunuh mereka; semua ini adalah pelanggaran utama ketiga [bagi seorang Ksatria]
Lebih jauh lagi, bagi seorang Menteri, menyakiti mereka yang telah menerima penahbisan dengan [di dalam Dharma dan Vinaya] Sang Bhagava, apakah mereka menjaga sila atau tidak, apakah mereka menjalankan disiplin (vinaya) atau tidak, mengambil paksa jubah kuning mereka sehingga membuat mereka menjadi perumahtangga, menghukum mereka secara fisik, memenjarakan mereka atau mengambil nyawa mereka; semua ini adalah pelanggaran utama keempat [bagi seorang Menteri] (Akasagarbha Sutra)
Lagi, di dalam kitab suci Kshitigarbha ditulis:
"O Brahma perkasa, dia yang telah ditahbiskan dalam nama-Ku, tetapi telah jatuh ke dalam jalur kejahatan dan tak bermoral, dan walaupun terkenal sebagai seorang Bhiksu tetapi  adalah manusia kosong, bukan samana sesungguhnya walaupun berpura-pura sebagai petapa, bukan orang selibat walaupun mengaku selibat, pecah, jatuh, dikalahkan oleh banyak kesalahan, walaupun demikian bhiksu tersebut yang jahat dan berdosa dapat saja sampai hari ini menjadi pengajar bagi dewa dan manusia, yea, bagi semua yang adalah wadah kebajikan, dia mungkin saja menjadi Kalyanamitra [Guru].
Dan di setiap saat dia adalah objek yang tidak pantas. Tetapi karena tiada rambut di kepala dan dagunya, karena penampilannya yang memakai jubah kuning, walaupun ini dilakukan hanya untuk berpura-pura, dia mungkin saja masih menumbuhkan akar kebajikan pada teman-temannya dan menunjukkan mereka jalan menuju keselamatan. Karena itu, siapapun yang telah ditahbiskan dalam namaku, apakah mereka bajik atau tidak, dalam kasusnya Aku tidak mengizinkan kaisar atau raja, bahkan yang berpihak pada keadilan, untuk melakukan pada orang ini mencambuknya, atau memenjarakannya, atau memotong anggota tubuhnya, atau menghukum mati dia; apalagi yang tidak adil.
Di kitab yang sama dikatakan: "Siapapun yang melukai orang yang telah ditahbiskan dalam nama Buddha dan berada dalam Jalan Pencerahan atau wadah ajaran menuju pencerahan, mereka menjadi pelanggar besar di mata semua Buddha di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan; akar kebajikan mereka terbuang dan himpunan kebajikannya terbakar habis; dan mereka berada dalam jalan menuju neraka." (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Di dalam Pravrajyantaraya Sutra lagi sebuah kejahatan diulas:
"Ada empat hal, O Mahanama, yang jika dilakukan seorang perumahtangga, dia akan terlahir di waktu yang tidak menguntungkan. Yaitu dia akan terlahir buta, atau bodoh, atau bisu, atau sebagai Candala....... hermaprodit, kasim, budak permanen, wanita, anjing, babi, keledai, unta, atau ular berbisa. Apa saja empat ini?
Kasus pertama, Mahanama,  seorang perumahtangga menghalangi pikiran untuk meninggalkan keduniawian, atau untuk menerima pentahbisan, atau mengikuti Jalan Mulia yang telah dibabarkan oleh Buddha di masa lalu terhadap makhluk lain. Ini adalah hal pertama.
Lagi, seorang perumahtangga karena kemelekatan pada harta kekayaan atau kemelekatan pada anaknya, tidak meyakini hukum karma, menyebabkan halangan pada pentahbisan anak lelaki, anak perempuan, istri, atau pada anggota keluarganya, karena posisinya sebagai kepala rumah tangga. Inilah hal kedua.
Ada dua lainnya: Melecehkan Dharma, dan kemarahan terhadap petapa dan brahmana. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
#11
Mahayana / Re: Perbedaan mahayana dan theravada
24 February 2026, 11:26:02 AM
Quote from: Vani on 31 October 2020, 10:43:30 PMMaaf saya masih awam sekali, saya mau tanya kalau saya umat mahayana tetapi membaca paritta theravada apa boleh?

boleeh sekali
#12
Ada yang pernah minta saya menerjemahkan. Daripada hanya bermanfaat untuk sedikit orang, saya bagikan saja disini.
==================

Syarat.
1.   Membuat arca. Tidak ada batasan dalam material. Pembuatan sehari semalam. Jika diwarnai, jangan memakai bahan hewani. Tinggi tidak melebihi 3, 5, atau 7 inci. Jangan biarkan banyak orang melihat saat membuat. Bakarlah dupa, tetaplah bersih, dan jangan makan lima makanan berbau menyengat.
2.   Di ruang bersih, buat teras/ mandala, ukuran diameter 1,5 cubit, tinggi satu jari, ditaburi tanah kuning. Jika tidak, buat altar kayu.
3.   Arca menghadap ke barat, pelaku ritual menghadap ke timur. Letakkan dua vas berharga, dan bunga colza kuning, bakar dupa , jika tidak ada, bakar kayu wangi evergreen dengan aloe/ agaru; persembahan adalah kue, bubur nasi susu, pil pembahagia, campuran ghee dan madu, lobak, kue keripik, buah, dan berbagai macam persembahan, untuk disajikan tiga kali sehari
4.   Guru ritual mengenakan pakaian putih, murid semua harus memakai pakaian murni, jika tidak mereka tidak boleh memuja. Jangan meniup api dengan mulut, tetapi dengan kipas. Orang – orang yang tidak boleh mendekat:  orang tanpa keyakinan, rumah dengan kematian dan kelahiran, budak lelaki dan perempuan, semua perempuan, biksu yang hanya gelarnya saja, [yang hanya mengaku] samanera dan murid pengikut ajaran non buddhis. Bantal duduk, ember, dan sendok, semua alat ini murni dan bersih
5.   Guru membangkitkan hati penuh welas asih pada semua makhluk, murni di dalam dan di luar. Tempat duduknya terbuat dari rumput kusa. Ia mengucapkan Kata Kata Sempurna dari Ganapati Emas, tangan membentuk mudra sesuai: menggabungkan dua tangan dalam "mengikat di luar dengan jari telunjuk bergabung di atas" (lihat gambar). Dalam harmoni tubuh, ucapan, dan batin, ia mengucapkan:
"Namo stu te ~~~(Mantra Hati Ganapati)

Melafalkan ini tiga kali sehari, seratus kali setiap sesi, ia memuja selama tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh malam.
6.   Jika ada setan sulit ditaklukan, putarlah benang putih dan dimantrai. Setiap siklus, satu simpul, sampai 9 simpul, pakailah di tangan kiri, semua setan akan terikat.
7.   Yang melakukan dharma ini tidak boleh melakukan selingkuh, mengatakan kata kata gegabah, atau penipuan bodoh. Makanan ini tidak boleh: rue, rapeseed/ rapa, bawang putih, coriander/ ketumbar, dan lima makanan berbau menyengat.
Lagi, dia tidak boleh masuk ke rumah orang berduka, rumah baru saja melahirkan anak. Jangan bergaul dengan orang jahat.

=============================================

Ārya Mahā Gaṇapati Hṛdaya Dhāraṇi Sutra

namo bhagavate āryamahāgaṇapatihṛdayāya |
namo ratnatrayāya ||

Demikianlah yang telah kudengar. Pada suatu waktu, Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagriha, di Puncak Burung Nasar, bersama dengan perkumpulan besar biksu: empat ribu lima ratus biksu dan banyak Bodhisatwa Mahasatwa. Pada waktu itu Yang Terberkahi berkata kepada Yang Mulia Ananda:
"Ananda, siapapun, putra atau putri dari silsilah tercerahkan, yang mengingat, melafalkan, mendapatkan, dan menyebarkan "[Mantra] Hati Ganapati", keberhasilan semua kegiatannya akan menjadi miliknya."

oṃ namo 'stu te mahāgaṇapataye svāhā
oṃ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ .
oṃ namo gaṇapataye svāhā .
oṃ gaṇādhipataye svāhā .
oṃ gaṇeśvarāya svāhā .
oṃ gaṇapatipūjitāya svāhā .
oṃ kaṭa kaṭa maṭa maṭa dara dara vidara vidara hana hana gṛhṇa gṛhṇa dhāva dhāva bhañja bhañja jambha jambha tambha tambha stambha stambha moha moha deha deha dadāpaya dadāpaya dhanasiddhi me prayaccha .
oṃ rudrāvatārāya svāhā .
oṃ adbhutavindukṣubhitacittamahāhāsam āgacchati .
mahābhayamahābalaparākramāya mahāhastidakṣiṇāya dadāpaya svāhā .
oṃ namo 'stu te mahāgaṇapataye svāhā .
oṃ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ .
oṃ namo gaṇapataye svāhā .
oṃ gaṇeśvarāya svāhā .
oṃ gaṇādhipataye svāhā .
oṃ gaṇapatipūjitāya svāhā .
oṃ suru suru svāhā .
oṃ turu turu svāhā .
oṃ muru muru svāhā .

"Ini, Ananda, adalah "Hati Ganapati".
 "Siapapun putra atau putri silsilah tercerahkan, apakah itu biksu atau biksuni, upasaka atau upasika, yang mengerjakan aktivitas misalnya ritual [memanggil makhluk suci dengan mantra], memuja tiga permata, berpergian ke negeri lain, pergi ke istana raja, atau bersembunyi; seharusnya setelah memuja Buddha Yang Terberkahi, mempraktekan tujuh kali mantra hati Arya Ganapati: untuknya semua kegiatan akan diselesaikan; tidak ada keraguan tentang ini! Dia seharusnya selamanya mengakhiri semua pertentangan dan pertengkaran, kekerasan, dan iri hati, dan menjadi seluruhnya tenang. Hari demi hari menuruti aturan dan berpraktik tujuh kali penuh: akan muncul keberuntungan bagi orang mulia ini! Ketika dia datang ke istana raja akan ada kebaikan besar. Dia akan menjadi penyimpan apa yang didengar. Tidak akan ada penyakit parah pada tubuhnya. Tidak akan pernah ia lahir sebagai tara-pradaksina atau sebagai lebah yang rendah: tiada yang lain yang akan terjadi padanya kecuali Batin Pencerahan. Dalam setiap kelahiran dia akan mengingat kelahiran [lampaunya]."
Demikian Yang Terberkahi bersabda, dan setelah menerima [ajaranNya], para biksu ini, para Bodhisatwa Mahasatwa ini dan seluruh hadirin, dunia beserta para dewa, manusia, asura, garuda, dan gandarva bersukacita pada ucapan Yang Terberkahi.
Hati dari Yang Mulia Maha Ganapati telah selesai.
======================================================

sumber:
https://www.persee.fr/docAsPDF/befeo_0336-1519_1988_num_77_1_1749.pdf
http://www.virtualvinodh.com/writings/mantras/arya-maha-ganapati

 
Ganapati.png
 
#13
kutipan di atas dari Patoda Sutta , AN 4.113

6. mahanaga

pali dictionary:
mahānāga
masculine
a big elephant.

Naga bisa berarti makhluk naga, bisa juga berarti hewan gajah.
mahanaga = naga perkasa, atau gajah perkasa

untuk orang, julukan ini juga diberikan, contohnya:

"Vipine kānane disvā,
appasadde nirākule;
Siddhatthaṃ isinaṃ seṭṭhaṃ,
āhutīnaṃ paṭiggahaṃ.

Nibbutattaṃ mahānāgaṃ,
nisabhājāniyaṃ yathā;
Osadhiṃva virocantaṃ,
devasaṅghanamassitaṃ.


In a quiet and trouble-free
forest grove, I once having seen
Siddhattha the Sage, the Supreme,
Sacrificial Recipient,

Gone-Out-One, the Great Elephant,
Bull of Men, like a thoroughbred,
shining forth like the morning star,
praised by the assembly of gods,
much happiness arose in me;
knowledge came into being then.
(Madhupiṇḍikattheraapadāna Tha Ap 99)

Mahanaga disini maksudnya adalah orang yang adalah pemimpin, atau mempunyai status dan wibawa.
Dalam Udana 4.4, Buddha menyebut Sariputta dan Mogallana sebagai mahanaga.

Buddha juga menyebut para arahat sebagai mahanaga:
Dasahaṅgehi sampannā,
mahānāgā samāhitā;
Ete kho seṭṭhā lokasmiṃ,
taṇhā tesaṃ na vijjati.


"Endowed with the ten factors,
Those great nagas, concentrated,
Are the best beings in the world:
No craving can be found in them.

"Memiliki sepuluh faktor,
Para nāga agung itu, terkonsentrasi,
Adalah makhluk terbaik di dunia:
Tidak ada ketagihan ditemukan dalam diri mereka.(SN 22.76)

7. kṛtakṛtya
pali: katakicca
adjective
having performed one's obligations.
sudah melaksanakan tugas

contoh:
"Jhāyiṃ virajamāsīnaṃ,
Katakiccaṃ anāsavaṃ;
Pāraguṃ sabbadhammānaṃ,
Atthi pañhena āgamaṃ;
Aññāvimokkhaṃ pabrūhi,
Avijjāya pabhedanaṃ".

Kepada meditator yang duduk tanpa debu,
Telah melakukan apa yang harus dilakukan, tanpa aliran-masuk,
Kepada seorang yang telah melampaui segala dharma,
Aku datang dengan sebuah pertanyaan kepadaNya:
Jelaskanlah dengan memecahkan ketidaktahuan
Bagaimana kebebasan melalui Pengetahuan Akhir.
(Sutta Nipata 5.14)

8. kṛtakaraṇīya
pali: katakaraṇīyā
done what had to be done = telah melakukan apa yang harus dilakukan
Ungkapan umum dalam menggambarkan arahat.

9. apahṛtabhāra
pali: ohitabhārā
telah menurunkan beban
Ungkapan umum dalam menggambarkan arahat.

anuprāptasvakārthaiḥ
pali : anuppattasadattho
telah mencapai tujuan
Ungkapan umum dalam menggambarkan arahat.


10. parikṣīṇabhavasaṃyojana
parikkhīṇabhavasaṃyojano
menghancurkan belenggu pada penjelmaan/ kelahiran kembali dalam samsara
Ungkapan umum dalam menggambarkan arahat.

11. samyagājñāsuvimuktacitta
istilah pali yang mirip: sammadaññāvimuttā
rightly freed through enlightenment, released through right gnosis
seorang yang sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir

samyag = benar, tepat
ajna = pengetahuan
su = baik
vimukta = bebas
citta = pikiran

samyagājñāsuvimuktacitta = batin terbebaskan dengan baik melalui pengetahuan benar

11.5   frase umum:

katakaraṇīyā ohitabhārā anuppattasadatthā parikkhīṇabhavasaṃyojanā sammadaññāvimuttā
telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan mereka, sepenuhnya menghancurkan belenggu kehidupan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan tertinggi (SN 3.3)

12. sarvacetovaśiparamapāramiprāpta
istilah pali yang mirip: cetovasippatto


They think what they want to think, and don't think what they don't want to think.
So yaṃ vitakkaṃ ākaṅkhati vitakketuṃ taṃ vitakkaṃ vitakketi, yaṃ vitakkaṃ nākaṅkhati vitakketuṃ na taṃ vitakkaṃ vitakketi

They consider what they want to consider, and don't consider what they don't want to consider.
yaṃ saṅkappaṃ ākaṅkhati saṅkappetuṃ taṃ saṅkappaṃ saṅkappeti, yaṃ saṅkappaṃ nākaṅkhati saṅkappetuṃ na taṃ saṅkappaṃ saṅkappeti.
Thus they have achieved mental mastery of the paths of thought.
Iti cetovasippatto hoti vitakkapathe.

"Ia memikirkan apa pun yang ingin ia pikirkan dan tidak memikirkan apa yang tidak ingin ia pikirkan; ia berniat pada apa yang ingin ia niatkan dan tidak berniat pada apa yang tidak ingin ia niatkan; demikianlah ia telah mencapai penguasaan pikiran atas cara berpikirnya. "
AN 4.35

Yo ve kilesāni pahāya pañca,
Paripuṇṇasekho aparihānadhammo;
Cetovasippatto samāhitindriyo,
Sa ve ṭhitattoti naro pavuccati.


Orang yang telah meninggalkan lima kekotoran,
seorang yang masih berlatih yang telah terpenuhi, tidak mungkin mundur,
telah mencapai penguasaan pikiran, indria-indrianya tenang:
orang ini disebut "orang yang kokoh dalam pikiran." (AN 4.5)

sarva =semua
ceto = pikiran
vaśi = kendali
parama = tertinggi, ultimate
pārami = kesempurnaan, transenden
prāpta = mendapat

sarvacetovaśiparamapāramiprāpta = mencapai pengendalian sempurna tertinggi atas seluruh pikiran
#14
Dalam pembukaan Sutra Prajna Paramita dalam 8000 baris, dikabarkan Buddha berada di puncak gunung Nasar disertai dengan kumpulan Sangha bhiksu, yang semuanya arahat. Mereka dikatakan:

teks sanskerta: sarvair arhadbhiḥ kṣīṇāsravair  niḥkleśair vaśībhūtaiḥ suvimuktacittaiḥ suvimuktaprajñair ājāneyair mahānāgaiḥ kṛtakṛtyaiḥ kṛtakaraṇīyair apahṛtabhārair  anuprāptasvakārthaiḥ parikṣīṇabhavasaṃyojanaiḥ  samyagājñāsuvimuktacittaiḥ sarvacetovaśiparamapāramiprāptair

terjemahan indonesia: semuanya adalah arahat yang telah mencapai penghancuran noda-noda batin dan tanpa klesha, sepenuhnya terkendali, batin mereka terbebaskan dengan tuntas, kebijaksanaan mereka terbebaskan, unggul, naga perkasa, tugas mereka telah dilaksanakan, pekerjaan mereka sudah selesai, beban mereka telah diturunkan, tujuan mereka telah dipenuhi, belenggu yang mengikat mereka ke siklus kelahiran kembali telah dipotong seluruhnya, batin mereka terbebaskan dengan tuntas melalui pemahaman sejati, setelah mencapai pengendalian sempurna tertinggi atas seluruh pikirannya.

Semua istilah ini dapat dilacak ke sutta dalam nikaya/agama. Mari kita bahas satu per satu.

1. Arahat.
Sudah jelas

2. kṣīṇāsrava
pali: Khīṇāsava
((khiṇa + āsava) adj.) whose mind is free from mental obsessions.
New Concise Pali English Dictionary
khīṇāsava
mfn.
(one) in whom the āsavas have perished; free from the āsavas, i.e. an arahant

Contoh: Idha, bhante, khīṇāsavassa bhikkhuno aniccato sabbe saṅkhārā yathābhūtaṃ sammappaññāya sudiṭṭhā honti.
"Di sini, Bhante, seorang bhikkhu dengan noda-noda yang telah dihancurkan telah dengan jelas melihat segala fenomena terkondisi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai tidak kekal. (AN 10.90 Khīṇāsavabalasutta)

2. niḥkleśa
nih = tanpa. Klesa = noda batin.
Nihklesa = tanpa noda batin.

Contoh: Asaṅgacitto nikleso,
asaṃsaṭṭho kule gaṇe;
Mahākāruṇiko vīro,
vinayopāyakovido.

Heart Unattached, Defilement-Free,
Not Mixing in the clan and group,
Greatly Compassionate, Hero,
Skilled in means of disciplining,
(Theragatha Apadana 433)

3. vaśībhūta
pali: vasībhūta
having become a master over.

contoh: Anuccāvacasīlassa,
nipakassa ca jhāyino;
Cittaṃ yassa vasībhūtaṃ,
ekaggaṃ susamāhitaṃ.

"Ia yang moralitasnya tidak goyah,
yang waspada dan meditatif,
yang pikirannya telah dikuasai,
terpusat, terkonsentrasi baik;
(AN 3.58)

4. suvimuktacitta suvimuktaprajña
su = baik
vimukta = bebas
citta = batin, pikiran
prajna = kebijaksanaan.

suvimuktacitta suvimuktaprajña = batin dan kebijaksanaan terbebaskan dengan baik

kemungkinan ini adalah perubahan dari frase pali yang lebih tua: cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ

"Catunnaṃ, bhikkhave, iddhipādānaṃ bhāvitattā bahulīkatattā bhikkhu āsavānaṃ khayā anāsavaṃ cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ diṭṭheva dhamme sayaṃ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharati.
"Para bhikkhu, adalah karena ia telah mengembangkan dan melatih empat landasan kekuatan spiritual maka seorang bhikkhu, dengan hancurnya noda-noda, dalam kehidupan ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dengan merealisasikannya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. (SN 51.18)

5.ājāneya
pali: ājānīya  mfn. & masculine
well-bred; thoroughbred, noble (of animals, esp. horses; also of people); a thoroughbred.

contoh: Idha, bhikkhave, ekacco bhadro purisājānīyo suṇāti: 'amukasmiṃ nāma gāme vā nigame vā itthī vā puriso vā dukkhito vā kālaṅkato vā'ti. So tena saṃvijjati, saṃvegaṃ āpajjati. Saṃviggo yoniso padahati. Pahitatto kāyena ceva paramasaccaṃ sacchikaroti, paññāya ca ativijjha passati. Seyyathāpi so, bhikkhave, bhadro assājānīyo patodacchāyaṃ disvā saṃvijjati saṃvegaṃ āpajjati; tathūpamāhaṃ, bhikkhave, imaṃ bhadraṃ purisājānīyaṃ vadāmi. Evarūpopi, bhikkhave, idhekacco bhadro purisājānīyo hoti. Ayaṃ, bhikkhave, paṭhamo bhadro purisājānīyo santo saṃvijjamāno lokasmiṃ.
"Di sini, para bhikkhu, satu jenis orang yang baik yang berdarah murni mendengar: 'Di desa atau pemukiman itu seorang perempuan atau laki-laki telah jatuh sakit dan meninggal dunia.' Ia tergerak oleh hal ini dan memperoleh rasa keterdesakan. Karena tergerak, ia berusaha dengan seksama. Dengan teguh, ia merealisasikan kebenaran tertinggi dengan tubuhnya dan, setelah menembusnya dengan kebijaksanaan, ia melihatnya. Aku katakan bahwa orang yang baik yang berdarah murni ini adalah serupa dengan kuda yang baik yang berdarah murni yang tergerak dan memperoleh rasa keterdesakan segera setelah ia melihat bayangan tongkat kendali. Demikianlah satu jenis orang yang baik yang berdarah murni. Ini adalah jenis pertama dari orang yang baik yang berdarah murni yang terdapat di dunia.

bersambung....
#15
Merekonstruksi Konsep Ketuhanan Buddhis Indonesia

Konsep "Sang Hyang Adi Buddha" digali dari kitab-kitab kuno Nusantara oleh Y.M. Biksu Ashin Jinarakkhita dan menjadi salah satu penentu keberhasilan perjuangan Beliau menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi di Indonesia 55 tahun yang lalu.

Namun, setelah lebih dari setengah abad berlalu, umat Buddha sendiri masih memperdebatkan Ketuhanan dalam Buddhadharma. Tak sedikit yang dengan cepat menyangkal eksistensinya atau mati-matian membelanya tanpa dasar pemahaman yang kokoh maupun studi yang mendalam.

Apakah Sang Hyang Adi Buddha memang hanya prasyarat agar Buddhadharma diakui sebagai agama? Atau jangan-jangan ada makna terdalam dan tersembunyi yang belum kita pahami dari konsep keagungan tertinggi dalam agama Buddha?

Masih ada satu lagi pertanyaan yang lebih mendesak:
Apa gunanya pemahaman akan konsep Sang Hyang Adi Buddha bagi kehidupan kita?

Temukan jawabannya di
Webinar Sang Hyang Adi Buddha: Konsep Ketuhanan dan Transendensi dalam Ajaran Buddha
Sabtu, 26 September 2020
Pukul 14:00-17:00 WIB

Via Zoom

DAFTAR SEKARANG JUGA!
bit.ly/sanghyangadibuddhaKCI

Informasi lebih lanjut: Syariv (+62 812-2158-8023)

Buka hati dan pikiran untuk menemukan kembali Buddha yang hilang dari Buddhadharma Indonesia!

Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu,
Kadam Choeling Indonesia