Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Buddhisme Awal, Sekte dan Tradisi => Theravada => Topic started by: K.K. on 19 October 2012, 06:35:02 PM

Title: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 19 October 2012, 06:35:02 PM
Di masa lampau, di danau Kuliradaha, ada seekor kepiting emas raksasa yang suka memangsa gajah yang minum di sana. Kawanan gajah yang ketakutan lari dan Bodhisatta yang waktu itu terlahir sebagai gajah, kembali ke danau tersebut. Ketika kepiting tersebut muncul, Bodhisatta lari terlambat dan kakinya tertangkap capit. Teman-temannya lari ketakutan kecuali seekor gajah betina yang tidak tega. Kemudian gajah betina ini berusaha merayu si kepiting, dan mendengar suara lembutnya, capitnya melemah, dan Bodhisatta berhasil lepas dan menginjak kepiting tersebut sampai hancur.

Beberapa waktu berlalu, banjir datang menghanyutkan serpihan kepiting tersebut. Satu dari dua capit hanyut ke laut dan diambil oleh para Asura dan dibuat genderang bernama ālambara. Capit lainnya terdampar di sungai Gangga dan diambil oleh suku khattiya yang disebut Dasaraha.

Dari capit, dibuatlah sebuah genderang yang disebut 'Sang Pemanggil' (ānaka). Ketika ditabuh, genderang ini menggetarkan genderang lain dan terdengar sampai 12 yojana. Orang-orang akan berdatangan dari segala penjuru dan berkumpul. Ada kalanya genderang itu rusak dan kemudian digantikan pasak untuk menopangnya. Semakin lama, semakin banyak banyak pasaknya dan pada akhirnya tidak ada lagi bagian tersisa, hanya sekumpulan pasak saja. Pada saat itu, tabuhannya bahkan tidak terdengar dari bilik sebelah yang dipisahkan oleh kain.

Buddha Gotama mengumpamakan genderang itu sebagai Ajarannya, sementara pasak adalah bukan ajaran Buddha, namun menarik dan indah didengar. Di masa depan, orang-orang lebih menyenangi ajaran 'pasak' ini yang akhirnya menyebabkan Ajaran Buddha tidak lagi didengarkan.

Oleh karena itu, Buddha Gotama menasihati para bhikkhu:
Ketika khotbah dari ajaran Tathagata yang -dalam, dalam maknanya, transenden, berhubungan dengan kesunyataan- dibabarkan, kami akan mendengarkan, memperhatikan dengan sungguh-sungguh, menganggapnya ajaran ini sebagai patut dimengerti dan dilatih.

(ye te suttantā tathāgatabhāsitā gambhīrā gambhīratthā lokuttarā suññatappaṭisaṃyuttā, tesu bhaññamānesu sussūsissāma, sotaṃ odahissāma , aññā cittaṃ upaṭṭhāpessāma, te ca dhamme uggahetabbaṃ pariyāpuṇitabbaṃ maññissāmā.)

Bagaimana Ajaran Buddha bertahan adalah tergantung dari kita juga. Jika kita memilih "menyisipkan pasak-pasak ke dalam genderang 'sang pemanggil'", maka kita juga yang mempercepat kepunahan dhamma.


Spoiler: ShowHide
-Samyutta Nikaya, Opammasamyutta, Āṇisutta
-Jataka 267: Kakkata Jataka
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Indra on 19 October 2012, 06:36:43 PM
kan udah pernah?
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 19 October 2012, 06:42:27 PM
kan udah pernah?
Pernahnya di FB, dan kalau dibiarkan pasti tenggelam. Post di sini biar gampang kalo mo baca lagi.
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Sumedho on 19 October 2012, 07:37:38 PM
kan ada disini http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_20.7:_Āṇi_Sutta (http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_20.7:_Āṇi_Sutta)
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: dato' tono on 19 October 2012, 08:22:02 PM
jaman berubah, proses instant yang di cari oleh orang, karena tidak mau bersusah payah untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan. kemalasan dan kebodohan yang menjadi dasar, sehingga dhamma yang dalam, dalam maknanya, Lokuttara, menjelaskan kekosongan tidak menjadi pilihan utama.

saya teringat sebuah pepatah. jadi lah seperti intan, yang indah dan istimewah karena proses...
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: kamala on 19 October 2012, 09:00:18 PM
pasak pasak sudah mulai bermunculan.

pertanyaannya, bagaimana membedakan antara pasak dengan ajaran Sang Buddha ? jika perbedaannya menyolok bisa kita ketahui, tapi jika berbeda sedikit ??
semakin tebal debu di mata maka semakin sulit untuk mengetahui yang mana ajaran Sang Buddha.
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Indra on 19 October 2012, 09:03:57 PM
pasak pasak sudah mulai bermunculan.

pertanyaannya, bagaimana membedakan antara pasak dengan ajaran Sang Buddha ? jika perbedaannya menyolok bisa kita ketahui, tapi jika berbeda sedikit ??
semakin tebal debu di mata maka semakin sulit untuk mengetahui yang mana ajaran Sang Buddha.


dari DN 16 Mahaparinibbana Sutta:

4.7. Di Bhoganagara, Sang Bhagavā menetap di Kuil Ananda. Dan di sini, Beliau berkata kepada para bhikkhu: ‘Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian empat kriteria. Dengarkanlah, perhatikan baik-baik, dan Aku akan berbicara.’ [124] ‘Baik, Bhagavā,’ jawab para bhikkhu.
4.8. ‘Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Teman-teman, aku mendengar dan menerima ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian, tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan ungkapannya harus dengan teliti dicatat dan dibandingkan dengan Sutta-sutta dan dipelajari di bawah cahaya disiplin. Jika kata-katanya, saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti tidak selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami oleh bhikkhu ini,” dan kata-katanya itu harus ditolak. Tetapi jika saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami oleh bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria pertama.’
4.9. ‘Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat komunitas para bhikkhu dengan bhikkhu-bhikhu senior dan guru-guru terkemuka. Aku telah mendengar dan menerima ini dari komunitas tersebut,” maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya ... (seperti paragraf 4.8). [125] Ini adalah kriteria ke dua.’
4.10. ‘Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat banyak bhikkhu senior yang terpelajar, pewaris tradisi, yang mengetahui Dhamma, disiplin, peraturan-peraturan ...” (seperti paragraf 4.8). Ini adalah kriteria ke tiga.’
4.11. ‘Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat seorang bhikkhu senior yang terpelajar ... aku telah mendengar dan menerima ini dari bhikkhu senior tersebut ...” (seperti paragraf 4.8). Tetapi jika saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: ‘Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami oleh bhikkhu ini.’’
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: kamala on 19 October 2012, 09:15:42 PM
 [at]  Ko Indra

intinya dicocokan ajaran itu dengan sutta dan vinaya, kalau begitu daripada repot dicocokan lebih baik langsung baca sutta dan vinaya aja dong ??
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: seniya on 19 October 2012, 09:30:51 PM
Biar tambah "hot":

Apakah Abhidhamma itu termasuk pasak yg disisipkan ke dalam genderang ajaran Buddha?
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Indra on 19 October 2012, 09:54:46 PM
[at]  Ko Indra

intinya dicocokan ajaran itu dengan sutta dan vinaya, kalau begitu daripada repot dicocokan lebih baik langsung baca sutta dan vinaya aja dong ??


kan pertanyaannya "bagaimana membedakan antara pasak dengan ajaran Sang Buddha", ya itu jawabannya
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: tuwino gunawan on 19 October 2012, 10:44:12 PM
Ikut nyemplung :

Bagaimana dengan Milinda Panha, cerita jataka.....

apakah termasuk pasak juga??
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: will_i_am on 20 October 2012, 12:33:08 AM
izin copas yahh..... ;D
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: adi lim on 20 October 2012, 07:15:43 AM
Ikut nyemplung :

Bagaimana dengan Milinda Panha, cerita jataka.....

apakah termasuk pasak juga??

coba simak/baca DN 16 Mahaparinibbana Sutta berulang-ulang, mungkin bisa membantu.
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 20 October 2012, 09:14:37 AM
pasak pasak sudah mulai bermunculan.

pertanyaannya, bagaimana membedakan antara pasak dengan ajaran Sang Buddha ? jika perbedaannya menyolok bisa kita ketahui, tapi jika berbeda sedikit ??
semakin tebal debu di mata maka semakin sulit untuk mengetahui yang mana ajaran Sang Buddha.
Memang tidak ada 'baku'-nya dalam membedakan 'Anaka' dan 'pasak'. Kalau saya pribadi melihat dengan cara kembalikan lagi kepada diri kita sendiri apakah dengan memahami dan melaksanakan satu ajaran, LDM berkembang atau LDM terkikis.

Misalnya kita bicara saddha, yang tentu positif. Tapi saddha ini hanya beda tipis dengan fanatik buta, yang biasa juga diklaim sebagai saddha. Bagaimana kita membedakannya? Coba direnungkan apakah bermanfaat dan adakah bahaya dari saddha ini? Apakah dengan saddha ini saya jadi orang yang lebih baik ataukah saya malah jadi marah kalau orang menghina agama saya? Apakah saya menjadi subjektif dan percaya buta tanpa observasi dulu?

Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 20 October 2012, 09:14:57 AM
kan ada disini http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_20.7:_Āṇi_Sutta (http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_20.7:_Āṇi_Sutta)
Ga ada cerita kepiting raksasanya.



izin copas yahh..... ;D
Silahkan. Boleh diperbanyak asal tidak diperjual-belikan. ;D
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 20 October 2012, 09:18:16 AM
Biar tambah "hot":

Apakah Abhidhamma itu termasuk pasak yg disisipkan ke dalam genderang ajaran Buddha?

Ikut nyemplung :

Bagaimana dengan Milinda Panha, cerita jataka.....

apakah termasuk pasak juga??
Kembali ke masing-masing untuk menilainya. Tidak usah jauh-jauh, kalau mau ngomong objektif, bahkan sutta-vinaya pun bukan berarti bebas dari masuknya 'pasak'. Intinya memang kita harus 'teliti' sebelum 'menelan' ajaran.

Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: sanjiva on 20 October 2012, 11:31:40 AM
kan ada disini http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_20.7:_Āṇi_Sutta (http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_20.7:_Āṇi_Sutta)

Gw tertarik akan perbedaan versi terjemahan DC dengan yg dikutip Kainin Kutho-KK (terjemahan DC juga kah?)
-  Versi DC menyebutkan: "...khotbah Sang Tathagata yang dalam maknanya, lokuttara, menjelaskan kekosongan ...."
-  Dari KK mengutip: "Ketika khotbah dari ajaran Tathagata yang -dalam, dalam maknanya, transenden, berhubungan dengan kesunyataan- ..."

IMHO terjemahan DC koq kayaknya kurang pas untuk mengartikan suññata sebagai "kekosongan" dan lebih pas kalau menggunakan seperti dari kutipan KK.

Kesunyataan (suññata) yang gw pahami adalah kebenaran tertinggi bahwa segalanya anicca, dukkha, dan anatta.***  Penggunaan terjemahan dengan kata "kekosongan" bisa menimbulkan arti dan makna yang berbeda. CMIIW.
 _/\_



*** Sabbe sankhara anicca dan dukkha, sabbe dhamma anatta.
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 20 October 2012, 11:40:24 AM
Gw tertarik akan perbedaan versi terjemahan DC dengan yg dikutip Kainin Kutho-KK (terjemahan DC juga kah?)
-  Versi DC menyebutkan: "...khotbah Sang Tathagata yang dalam maknanya, lokuttara, menjelaskan kekosongan ...."
-  Dari KK mengutip: "Ketika khotbah dari ajaran Tathagata yang -dalam, dalam maknanya, transenden, berhubungan dengan kesunyataan- ..."

IMHO terjemahan DC koq kayaknya kurang pas untuk mengartikan suññata sebagai "kekosongan" dan lebih pas kalau menggunakan seperti dari kutipan KK.

Kesunyataan (suññata) yang gw pahami adalah kebenaran tertinggi bahwa segalanya anicca, dukkha, dan anatta.***  Penggunaan terjemahan dengan kata "kekosongan" bisa menimbulkan arti dan makna yang berbeda. CMIIW.
 _/\_



*** Sabbe sankhara anicca dan dukkha, sabbe dhamma anatta.
Kalau yang saya tahu, memang "suññata" adalah 'kekosongan', maksudnya 'kekosongan dari segala pengaruh kekotoran bathin', berbeda dengan persepsi kekosongan (akincanayatana) yang adalah ketiadaan. Memang agak rancu, tapi sepertinya masih 'kena' juga sih.

Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Sumedho on 20 October 2012, 12:27:48 PM
benar sekali, sunyata itu artinay memang kosong

shunyata |ˈSHo͞onyəˌtä|(also sunyata )
nounBuddhism
the doctrine that phenomena are devoid of an immutable or determinate intrinsic nature.


Jadi Cattari Ariya Saccani itu memang yg benar empat KEBENARAN mulia, bukan empat KESUNYATAAN/KEKOSONGAN mulia
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Indra on 20 October 2012, 01:13:44 PM
entah siapa yg memulai penyesatan 4 kekosongan mulia itu
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 20 October 2012, 01:22:56 PM
entah siapa yg memulai penyesatan 4 kekosongan mulia itu
"Kekosongan tentang dukkha;
Kekosongan asal mula dukkha;
Kekosongan lenyapnya dukkha;
Kekosongan jalan menuju lenyapnya dukkha."

Ikan kribo jadinya.
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: sanjiva on 20 October 2012, 01:23:40 PM
entah siapa yg memulai penyesatan 4 kekosongan mulia itu

deleted.
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Indra on 20 October 2012, 01:25:45 PM
"Kekosongan tentang dukkha;
Kekosongan asal mula dukkha;
Kekosongan lenyapnya dukkha;
Kekosongan jalan menuju lenyapnya dukkha."

Ikan kribo jadinya.

jadi CatuAriyaSacca = 4 omong kosong?
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 20 October 2012, 01:28:59 PM
jadi CatuAriyaSacca = 4 omong kosong?
Kurang lengkap, mungkin jadinya "Empat Omong-kosong Mulia".

(Lebih ikan kribo lagi.)
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: adi lim on 21 October 2012, 06:50:05 AM
entah siapa yg memulai penyesatan 4 kekosongan mulia itu

sepertinya aliran khas di Indonesia
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: Afoe286 on 21 October 2012, 02:56:24 PM
Memang tidak ada 'baku'-nya dalam membedakan 'Anaka' dan 'pasak'. Kalau saya pribadi melihat dengan cara kembalikan lagi kepada diri kita sendiri apakah dengan memahami dan melaksanakan satu ajaran, LDM berkembang atau LDM terkikis.

Misalnya kita bicara saddha, yang tentu positif. Tapi saddha ini hanya beda tipis dengan fanatik buta, yang biasa juga diklaim sebagai saddha. Bagaimana kita membedakannya? Coba direnungkan apakah bermanfaat dan adakah bahaya dari saddha ini? Apakah dengan saddha ini saya jadi orang yang lebih baik ataukah saya malah jadi marah kalau orang menghina agama saya? Apakah saya menjadi subjektif dan percaya buta tanpa observasi dulu?
Saya kira saddha juga harus diimbangi dg panna,yaitu hasil dari belajar & praktek Dhamma.Cuma bisakah saddha ini saya anggap sebagai 'kemelekatan' pada Pandangan Benar & pandangan2 yg bermanfaat membawa pencerahan bro?Sebagai lawan dari kemelekatan pada pandangan salah & pandangan2 yg tidak bermanfaat membawa pencerahan yg dpt menyebabkan kelahiran berulang.Dg mempunyai saddha/'melekat' pd Buddha,Dhamma & Sangha justru membawa kebebasan.Kira2 bisa ngak begitu?
Title: Re: Dasaraha & Pasak
Post by: K.K. on 24 December 2012, 09:37:36 AM
Saya kira saddha juga harus diimbangi dg panna,yaitu hasil dari belajar & praktek Dhamma.Cuma bisakah saddha ini saya anggap sebagai 'kemelekatan' pada Pandangan Benar & pandangan2 yg bermanfaat membawa pencerahan bro?Sebagai lawan dari kemelekatan pada pandangan salah & pandangan2 yg tidak bermanfaat membawa pencerahan yg dpt menyebabkan kelahiran berulang.
Betul, menurut saya saddha yang benar muncul dari pemahaman atas kebenaran (yang didapat dari praktik kehidupan sehari-hari), sehingga kebenaran itu menjadi dasar dari keyakinan kita. Saddha yang ngaco itu tidak berdasarkan pada kebenaran, hanya kesenangan pada pandangan saja, maka cenderung pada percaya buta dan mudah menjurus pada fanatisisme.


Quote
Dg mempunyai saddha/'melekat' pd Buddha,Dhamma & Sangha justru membawa kebebasan.Kira2 bisa ngak begitu?
IMO, melekat pada "Buddha-Dhamma-Sangha" tidak akan membawa pada pembebasan, bahkan bisa membawa pada fanatisisme. Secara sederhana, pembebasan dimulai dari penyelidikan, maka timbul pengetahuan. Setelah ada pengetahuan, direalisasi, maka dicapailah kebebasan. Setelah melihat & mengalami sendiri kebebasan tersebut, maka timbullah keyakinan tak tergoyahkan itu.

Jadi jangan dibalik dimulai dari keyakinan tak tergoyahkan, lalu bisa mencapai pembebasan. Sederhananya, ketika kita mencapai Sotapatti, melihat sendiri kebenaran itu, barulah timbul keyakinan tak tergoyahkan pada Tiratana. Namun orang fanatik menggila pada doktrin Tiratana, tidak akan mengantarkan seseorang melihat kebenaran, apalagi mencapai pembebasan.

Kalau analogi sederhana, setelah seorang anak memahami "1+1=2" maka ia punya keyakinan tak tergoyahkan. Namun anak yang tidak mengerti, hanya hafalan mati "1+1=2", betapapun ia lekati dan pertahankan hafalan itu, tidak akan membuatnya mengerti.