namaste suvatthi hotu
Apakah yang dimaksud dengan Bodhicitta?
Apakah Bodhicitta cuma dikenal di kalangan Mahayana?
Ada yg bisa bantu?
Thuti
ajaran tentang Kesadaran Murni oleh Dharmakirti seorang guru besar dari sumatera dan muridnya yg terkenal Atisha
http://www.kadamchoeling.or.id/news.php?nav_id=5.1.4&lang=id&id=83
yup, lebih ke mahayana. tapi ga ngaruh, mau dari aliran mana aja, silahkan belajar bodhicitta. ini penting karena ajaran mengenai bodhicitta berasal dari negara kita sendiri, Indonesia.
Bodhicitta adalah batin pencerahan
Merujuk pada keadaan mental seseorang yang mempunyai rasa cinta kasih terhadap semua makhluk dan kasihan pada penderitaan mereka.
Bedanya dengan Metta dan karuna adalah bahwa bodhicitta melibatkan tindakan dan komitmen
Tekad dan komitmen agar dapat membebaskan semua makhluk dari penderitaan samsara. Karena cara paling efektif adalah menjadi Samma SamBuddha, maka orang ini bertekad mencapai ke-Buddhaan.
Orang yang mempunyai bodhicitta mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri..
Bodhicitta ada 2 macam: yang dibuat-buat/ diusahan supaya ada, dan yg spontan.
Setelah mengembangkan bodhicitta spontan, satu makhluk akan menjadi seorang Bodhisattva, memasuki jalan bodhisattva (bodhisattvayana)
Setelah mengumpulkan banyak kebajikan dan kesempurnaan, bodhisattva akan menyatakan tekad untuk mencapai ke-Buddhaan di depan seorang Buddha yg hidup, dengan pikiran, ucapan, dan perbuatan. Pada tahap pernyataan dengan perbuatan, Buddha tersebut akan memberikan ramalan yang pasti mengenai nama, ayah, ibu, istri, murid, dll yang akan dimiliki ketika Bodhisattva menjadi Buddha. Dalam tahap ini Bodhisattva sudah menjadi Bodhisattva penuh.
Ajaran bodhicitta lebih ditekanan dalam mahayana, bahkan merupakan pilar mahayana yg tidak boleh hilang. Sedangkan dalam Theravada, tidak ditekankan dan hanya sebats dikagumi dan tercatat dalam tipitaka pali.
Saya pertama kali dengar istilah bodhicitta dalam sutra prajna paramitta...
Bodhicitta adalah batin pencerahan.
Apakah batin pencerahan itu?
Dlm mahayana sering disebut2 setiap makhluk memiliki bodhicitta untuk menjadi seorang buddha.apakah maksudnya?
Dlm IKT, bodhicitta malah disamakan dengan atta. apakah ada penjelasan yg benar mengenai ini?
Sering disebut, untuk selalu mengembangkan bodhicitta. Bagaimana kita mengembangkan bodhjicitta?
Apakah pemahaman bodhicitta dalam mahayana dan theravada sama?
Mohon penjelasannya yah.... ^:)^
Bodhicitta is a mind (including thought, action, feeling and speech) totally dedicated to others and to achieving full enlightenment in order to benefit all sentient beings as fully as possible. Bodhicitta is often called the 'Wish Fulfilling Jewel', because like a magic jewel it brings true happiness. There are two levels of bodhichitta:
(1) aspirational,
(2) engaged.
Aspirational bodhichitta is the complete wish to overcome our emotional afflictions and delusions to realise our full potentials to bring all fellow beings to the enlightened state free from suffering.
Aspirational Bodhicitta has two stages
1) Heartfelt wishing to become a Buddha to benefit all sentient beings.
2) Pledging never to abandon this aim until it is achieved.
Developing the wishing state does not involve a pledge. With the pledged state of bodhicitta, we promise to train in five actions that help us never to lose our determination. . The first four trainings determine our bodhicitta aspiration and pledge not to decline during this lifetime. The fifth training determines us not to lose our intention in future lives.
Engaged bodhichitta means engaging in the practices and behaviour that bring about this goal by taking the bodhisattva vows to restrain from actions detrimental to it.
http://www.bodhicitta.net/What%20is%20Bodhicitta.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Bodhicitta
In Buddhism, bodhicitta[1] (Ch. 菩提心, pudixin, Jp. bodaishin, Tibetan jang chub sem, Mongolian бодь сэтгэл) is the wish to attain complete enlightenment (that is, Buddhahood) in order to be of benefit to all sentient beings – beings trapped in cyclic existence (samsāra) and have not yet reached Buddhahood. One who has bodhicitta as the primary motivation for all of his or her activities is called a bodhisattva.
Etymologically, the word is a combination of the Sanskrit words bodhi and citta. Bodhi means "awakening" or "enlightenment". Citta is derived from the Sanskrit root cit, and denotes "that which is conscious" – mind or consciousness. Bodhicitta may be translated as "awakening mind" or "thought of enlightenment".
Bodhicitta may also be defined as the union of compassion and wisdom. This is a development of the concept of luminous mind in the Pali Canon.[2] While the compassion and wisdom aspects of bodhicitta are actually highly dependent on each other, in the Mahāyanā tradition they are often referred to as:
* Relative bodhicitta, in which the practitioner works for the good of all beings as if it were his own.
* Absolute, or ultimate, bodhicitta, which refers to the wisdom of shunyata (śunyatā, a Sanskrit term often translated as "emptiness", though the alternatives "openness" or "spaciousness" probably convey the idea better to Westerners[citation needed]). The concept of śunyatā in Buddhist thought does not refer simply to nothingness, but loosely to freedom from attachments (particularly attachment to the idea of a static or essential self) and fixed ideas about the world and how it should be. The classic text on śunyatā is the Prajñāpāramitā Hṛdaya Sūtra, a discourse of the Buddha commonly referred to as the "Heart Sūtra."
So, the term bodhicitta in its most complete sense would combine both:
* the arising of spontaneous and limitless compassion for all sentient beings, and
* the falling away of the attachment to the illusion of an inherently existent self.
Bodhicitta dapat dibangkitkan oleh semua makhluk. Semua makhluk punya potensi untuk menjadi Buddha. Kenapa? Katanya nih, karena sifat alami semua makhluk adalah sunyata (kekosongan). Jangan tanya saya maksudnya apa, saya juga tidak mengerti....
atta (pali)/ atman (sansekerta) = kepercayaan bahwa ada "diri"/"aku"/"roh"/"jiwa" yang sejati/kekal
Bodhicitta dengan atta konsepnya jaauuuuuuuuuuuuhhh.
Mahayana dan Theravada saya pikir tidak ada perbedaan konsep bodhicitta.
Cara mengembangkan? sabar ya pake teks inggris, lebih gampang dicari dan lebih lengkap.
http://en.wikipedia.org/wiki/Bodhicitta
The seeds of both Absolute and Relative bodhicitta often arise spontaneously – for example, when seeing someone close to us who is suffering, or in the face of a major unexpected event that upsets our world view. Unfortunately they can also vanish again just as quickly, which is why many Buddhist traditions, and in particular the Mahāyāna, provide specific methods for the intentional cultivation of both absolute and relative bodhicitta. This cultivation is considered to be one of the most difficult aspects of the path to complete enlightenment. Any teaching or activity cannot be held to be a genuine Mahāyāna activity unless it is conjoined with at least a contrived bodhicitta. Practitioners of the Mahāyāna make it their primary goal to go beyond contrived forms of bodhicitta and to develop a genuine, uncontrived bodhicitta which remains within their mindstreams continuously without having to rely on conscious effort.
Among the many methods for developing uncontrived Bodhicitta given in Mahāyāna teachings are:
* The awareness that all sentient beings have been your mother in infinite previous lives
* Contemplation of the Four Immeasurables (Brahmaviharas) - Immeasurable Loving-Kindness (Maitri), Immeasurable Compassion (Karunā), Immeasurable Joy in the Good Fortune of Others (Mudita), and Immeasurable Equanimity (Upeksa)
* The practice of the Pāramitās (Generosity, Patience, Virtue, Effort, Meditation, and Insight).
* The Taking and Sending (tonglen) practice, in which one takes in the pain and suffering of others on the inbreath and sends them love, joy, and healing on the outbreath.[11], and the Lojong ('Mind Training') practices of which tonglen forms a part[5].
Classical Tibetan Mahāyāna teachings hold that there are two distinct lineages by which one may cultivate uncontrived bodhicitta: (1) through the Seven Fold Cause-and-Effect method and (2) by Exchanging Self with Others (which uses the aforementioned tonglen practice). These two methods are explained in detail (along with a method for combining them) in Pabongka Rinpoche's seminal work Liberation in the Palm of Your Hand.
Lafalkan dan renungkan doa dibawah setiap hari:
With a wish to free all beings
I shall always go for refuge
To the Buddha, Dharma and Sangha,
Until I reach full enlightenment
Enthused by wisdom and compassion,
today in the Buddhas' presence
I generate the Mind for Full Awakening
For the benefit of all sentient beings
As long as space remains,
As long as sentient beings remain,
Until then, may I too remain
And dispel the miseries of the world
http://kmbui.net/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=33
Bodhicitta
oleh: Bhiksu Nirmana Sasana
Sakyamuni Buddha. Kita sebagai umat Buddha yang taat sudah pasti mengenalNya sebagai Guru Junjungan kita yang pada 544 tahun yang lalu mengabdikan 49 tahun dari masa hidupNya untuk membabarkan Dharma; mengajarkan kita untuk menemukan dan menjalankan Dharma dalam kehidupan sehari-hari kita. Bila kita perhatikan, Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha tidak pernah terlepas dari apa yang disebut dengan Bodhicitta, seperti di dalam Sutra Amitabha, Sutra Saddharmapundarika, terlebih di dalam Sutra Bodhicitta itu sendiri.
Di dalam Sutra Bodhicitta, kita dapat melihat bahwa setiap kalimat yang ada di dalamnya mengajarkan kita untuk mengembangkan jiwa Bodhisattva. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa dalam menjalankan Buddhadharma dalam kehidupan sehari-hari, pengembangan jiwa Bodhisattva adalah merupakan suatu hal yang mutlak.
Memang benar, kita sebagai umat Buddha, hendaknyalah kita selalu melaksanakan jiwa Bodhisattva dengan berbuat kebajikan. Seperti pepatah berkata: "Berbuat kebajikan akan mendapat buah baik, Berbuat kejahatan akan menerima buah buruk." Namun, apa yang dimaksud dengan kebajikan di sini? Apakah kebajikan akan terwujud tanpa pengembangan Bodhicitta? Lagipula, apakah yang disebut "Bodhicitta" itu? Dalam bahasa sehari-hari, kita sering mendengar kata "Pencerahan". Apakah ini yang dimaksud dengan Bodhicitta?
Bodhicitta bukanlah hanya sekedar "Pencerahan" biasa, tetapi Pencerahan ini adalah Pencerahan yang mengandung Tekad mencapai keBuddhaan. Terutama di dalam aliran Mahayana yang selalu tidak terlepas dari kata "Metta, Karuna, Mudita"(cinta kasih). Yang dimaksud "cinta kasih" di sini bukanlah seperti cinta kasih antara dua makhluk yang berlainan jenis atau bahkan sesama jenis, tetapi "cinta kasih" yang dimaksud dalam Buddhadharma adalah cinta kasih yang universal. Cinta kasih universal ini dikembangkan dari hati nurani kita yang terdalam, bukan yang hanya diucapkan di bibir belaka, atau yang timbul karena keinginan-keinginan tertentu (ego kita).
Bagaimana kita dapat mengembangkan Bodhicitta atau tekad mencapai keBuddhaan ini? Kita dapat mengembangkannya bila kita telah dapat mengikrarkan TEKAD kita.
Apakah yang dimaksud dengan "tekad"? Tekad adalah tujuan positif yang akan kita hadapi dan jalankan.
Untuk menimbulkan tekad, apa yang harus kita lakukan? Tekad dapat timbul di saat kita telah:
- Melepaskan keserakahan
- Melepaskan kebencian
- Melepaskan kebodohan
Tekad terbagi menjadi 2 jenis:
1. Tekad kecil.
Tekad ini biasa dilakukan oleh orang awam, dan umumnya hanya untuk diri sendiri atau keluarga, tidak peduli dengan orang banyak.
2. Tekad besar.
Tekad ini dilakukan oleh orang yang telah mengerti tentang Bodhicitta, atau mereka yang mau menjalankan jiwa dan semangat Bodhisattva. Orang-orang ini selalu menyadari bahwa makhluk hidup yang ada di alam semesta ini hidup dengan penuh penderitaan. Bagi mereka yang melaksanakan, dan menjalankan jiwa/semangat Bodhisattva akan selalu bertekad untuk menolong agar semua mahkluk hidup bahagia dan dapat mencapai Alam Bahagia (Tanah Suci Sukhavati). Bila kita mengembangkan tekad besar, kita akan selalu melakukan kebajikan demi kebahagiaan orang lain dan bahkan seluruh makhluk, tanpa mengharapkan imbalan. Kita sebenarnya tidak perlu mengharapkan imbalan. Ingat! Di dalam ajaran Sang Buddha telah dijelaskan tentang "Hukum Sebab dan Akibat." Segala sebab yang kita perbuat, baik maupun buruk, kita pasti akan menerima akibatnya. Hal ini tidak terelakkan, tidak bisa dipungkiri dan tidak dapat dihapus dengan apapun juga. Satu pepatah agama Buddha berkata: "Memberi adalah mendapat".
Setelah kita menjalankan tekad besar ini dengan ikhlas dan tulus, sekaligus melepaskan keserakahan dan keterikatan kita akan nama dan kedudukan, barulah dengan sendirinya kita dapat mengembangkan Bodhicitta (bertekad mencapai pencerahan keBuddhaan, untuk menolong sesama makhluk).
Ada hal lain yang penting untuk kita sadari. Sebenarnya segala sesuatu juga tidak terlepas dari proses jodoh. Untuk mengembangkan dan melaksanakan jiwa/semangat Bodhisattva inipun juga tergantung proses jodoh. Bila tidak mempunyai satu pertemuan antara A dan B, maka jiwa Bodhisattva tidak dapat terlaksanakan.
Proses jodoh apa saja yang memungkinkan bagi kita untuk mengembangkan Bodhicitta?
1. Mengingat jasa Sang Buddha, Guru Junjungan kita:
- Mengingat saat Sakyamuni Buddha pertama kali mengembangkan tekad untuk menolong seluruh makhluk.
- Mengingat jasa Sang Buddha bagi kita di saat kita ditutupi oleh kebodohan sendiri dan tidak dapat menerima pendapat dan nasehat orang lain. Dengan kebodohan ini kita masuk neraka untuk menerima karma buruk yang telah kita perbuat. Melihat penderitaan yang kita alami, Sang Buddha pasti akan merasakan sedih dan berusaha untuk menolong kita dengan cara apapun juga.
- Sang Buddha selalu dengan jiwa besar mengembangkan dan menjalankan Bodhicitta demi kita semua dan seluruh makhluk di Alam Semesta ini.
2. Mengingat jasa kedua orang tua kita:
- Mengingat ibu yang melahirkan kita dan orang tua yang telah memelihara kita hingga dewasa.
- Selalu mengenang jasa kedua orang tua kita di setiap kehidupan.
- Mengenang jasa orang tua kita di kehidupan yang lampau, intinya, semua makhluk adalah orang tua kita.
3. Mengingat jasa para guru:
- Mengingat jasa Guru Besar kita yang telah mengajarkan Dharma kepada kita.
- Mengingat jasa guru sekolah dari kelompok bermain hingga kita sarjana.
- Mengingat bahwa kehidupan para guru hanyalah dari pengabdian saja.
4. Mengingat orang-orang yang telah berjasa:
- Mengingat jasa para petani, pahlawan, dokter dan lainnya.
5. Mengingat jasa para makhluk hidup:
- Kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat hidup tanpa orang lain.
- Menyadari bahwa setiap makhluk hidup ada kaitannya dengan kita dan ini disebut dengan tali perjodohan yang telah terjalin berkalpa-kalpa yang lalu.
6. Mengingat penderitaan hidup dan mati:
- Kita dan para makhluk lain tidak hentinya lahir dan mati.
- Kita kadang terlahir di Alam Bahagia, kadang terlahir di alam manusia, dan kadang terlahir di alam neraka, yang mana sama-sama menerima penderitaan dan penyiksaan yang diakibatkan oleh karma perbuatan buruk kita sendiri.
7. Mengingat para Sesepuh:
- Mengingat para Buddha dan Sakyamuni Buddha yang telah mencapai pencerahan sempurna.
- Mengingat para Bodhisattva yang selalu melaksanakan Bodhicitta demi menolong sesama makhluk.
- Mengingat para sesepuh yang telah mencapai pencerahan.
- Menyadari bahwa kita masih saja terus bergelut dengan karma dan tumimbal lahir.
8. Menyesali karma-karma buruk:
- Karma buruk kecil saja kita sudah sulit menerimanya, apalagi karma buruk besar. Apakah kita dapat menerimanya?
9. Meminta terlahir di Alam Bahagia (Pantai Seberang):
- Melatih diri dengan tekun
- Mengembangkan perbuatan baik.
- Mengembangkan jiwa dan melapangkan dada untuk selalu berdana
- Bila tidak mengembangkan kebajikan, maka sulitlah untuk dapat mencapai Pantai Bahagia. Ini disebut kemunduran atau kegagalan dalam mengembangkan bibit Bodhicitta.
10. Berupaya agar Buddhadharma tidak musnah:
- Sang Buddha mengajarkan DharmaNya, dan mengajarkan bagaimana menjalankan Dharma.
- Selalu melatih diri, selalu sabar atas yang sulit disabari, selalu melakukan perbuatan baik yang sulit dilakukan.
- Tidak membeda-bedakan, tidak gossip, dan tidak menciptakan keributan.
Apabila kita dapat menghayati ke-10 proses jodoh ini dengan baik, saya yakin kita semua dengan sendirinya akan mengembangkan tekad untuk Bodhicitta. Mungkin pada awalnya kita dapat mengembangkan jiwa/semangatnya Bodhicitta kecil (cinta kasih), yang hanya untuk lingkungan kita. Bila kita sering mengembangkan dan menjalankannya, maka lama kelamaan tanpa kita sadari kita akan lebih maju dalam pengembangan cinta kasih yang universal.
Yang penting untuk kita sadari adalah, kita dan seluruh makhluk tercipta dari unsur-unsur di alam semesta ini. Sebagai contoh, jasmani kita tercipta dari sebagian unsur kecil dari semesta ini. Oleh karena itu, kita jangan sombong dan jangan lupa diri, karena makhluk lain juga terdiri dari unsur-unsur semesta ini. Kita mempunyai enam indera. Para makhluk juga mempunyai enam indera. Kita harus bisa menerima kesamaan ini dan harus mempunyai kepercayaan terhadap Buddha, Dharma dan Sangha (Triratna).
Dengan selalu menghayati dan mengkaji penderitaan makhluk lain, maka otomatis kita membangkitkan Bodhicitta kita. Setelah Bodhicitta berkembang, wajah kita akan memancarkan cahaya, sinar kebajikan yang terang dan tenang. Kita akan selalu disenangi oleh seluruh makhluk dan disegani oleh musuh-musuh kita. Dengan demikian, kita akan terlepas dari segala malapetaka dan hidup berbahagia selalu.
_/\_
Pertanyaan pertama sepertinya sudah disampaikan oleh rekan-rekan yang lain.
Untuk pertanyaan kedua. "Apakah Bodhicitta cuma dikenal di kalangan Mahayana?" Jika yang dimaksud Romo adalah kata "bodhicitta" nya, sejauh ini saya belum menemukannya dalam literatur Theravada. Tetapi jika yang dimaksud adalah pengertian dari "bodhicitta" itu sendiri maka ada dalam literatur Theravada, seperti misalnya mengenai Brahma Vihara, dll.
Dari pencarian saya, jika kita berpatokan pada pengertian "bodhicitta" maka terdapat juga dalam literatur Theravada dengan istilah yang berbeda, yaitu pabhassara citta (pikiran bercahaya).
Mungkin lebih lengkapnya rekan-rekan yang lain bisa menjelaskan apa itu pabhassara citta.
Demikian. _/\_
Thx Bro Xeno, postingannya lengkap sekali..
Gw cukup mengerti sekarang..
Jika gw simpulkan sendiri secara sederhana, bearti bodhicitta lebih kepada kondisi batin bukan? Tapi mash timbul pertanyaan, terutama dengan postingan yang terakhir.
Quote
Cinta kasih universal ini dikembangkan dari hati nurani kita yang terdalam, bukan yang hanya diucapkan di bibir belaka, atau yang timbul karena keinginan-keinginan tertentu (ego kita).
Apakah hati nurani itu? Dimanakah letak hati nurani?
Dan mengenai 10 langkah untuk mengembangkan bodhicitta,
1.
Melihat penderitaan yang kita alami, Sang Buddha pasti akan merasakan sedih dan berusaha untuk menolong kita dengan cara apapun juga.Apakah Sang Buddha masih ada perasaan sedih?
2.
8. Menyesali karma-karma buruk:
- Karma buruk kecil saja kita sudah sulit menerimanya, apalagi karma buruk besar. Apakah kita dapat menerimanya?Apakah karma buruk harus disesali? Terima atau tidak, bukankah proses karma akan selalu berjalan?
3.
Meminta terlahir di Alam Bahagia (Pantai Seberang):
- Melatih diri dengan tekun
- Mengembangkan perbuatan baik.
- Mengembangkan jiwa dan melapangkan dada untuk selalu berdana
- Bila tidak mengembangkan kebajikan, maka sulitlah untuk dapat mencapai Pantai Bahagia. Ini disebut kemunduran atau kegagalan dalam mengembangkan bibit Bodhicitta.Apakah bearti, kita melakukan hal2 yg disebutkan tersebut dengan tujuan mendapat imbalan? Dalam hal ini "meminta terlahir d alam bahagia?
Mohon penjelasannya yahhh...Thx
mgkn bro xeno merangkai kata2 nya kurang pas.
hati nurani: biar bro xeno yg menjelaskannya (aye jg bingunk)
Budha sedih: ga tau deh... setau ku sih engga...
karma itu disadari. dari lahir sampai sekarang, karma yg kita bentuk itu gelap/hitam. kalo kita inget ini, kan rasanya sakit, uda itu jelas, kalo mati masuk mana. kesadaran ini harus bangkit, selalu bangkit, agar kita dpt sadar diri di setiap waktu.
semua mau bahagia. Dalai Lama pun berkata begitu. maksud bro xeno mgkn lebih ke motivasi y, jadi biar kita terus sadar n memacu (booster) diri untuk mencapai kebahagiaan sejati.
CMIIW
Quote from: xenocross on 25 December 2008, 12:50:26 AM
Ajaran bodhicitta lebih ditekanan dalam mahayana, bahkan merupakan pilar mahayana yg tidak boleh hilang. Sedangkan dalam Theravada, tidak ditekankan dan hanya sebats dikagumi dan tercatat dalam tipitaka pali.
namaste suvatthi hotu
Bagaimana anda tahu bahwa dalam Theravada tidak ditekankan dan hanya sebatas dikagumi dan tercatat dalam tipitaka pali. Apakah anda dapat memberikan rujukan Bodhicitta ada di sutta?sutra apa?
thuti
Quote from: Edward on 25 December 2008, 02:52:52 AM
Saya pertama kali dengar istilah bodhicitta dalam sutra prajna paramitta...
Bodhicitta adalah batin pencerahan.
Apakah batin pencerahan itu?
Dlm mahayana sering disebut2 setiap makhluk memiliki bodhicitta untuk menjadi seorang buddha.apakah maksudnya?
Dlm IKT, bodhicitta malah disamakan dengan atta. apakah ada penjelasan yg benar mengenai ini?
Sering disebut, untuk selalu mengembangkan bodhicitta. Bagaimana kita mengembangkan bodhjicitta?
Apakah pemahaman bodhicitta dalam mahayana dan theravada sama?
Mohon penjelasannya yah.... ^:)^
namaste suvatthi hotu
Penjelasan yang akurat ini yang sedang kita tunggu, ada yang mau bantu?
thuti
Tathāgataguhyasūtra -> Sutra Mahayana konon adalah yang pertama mencantumkan Bodhicitta
Kalau di Theravada -> katanya komentar dari abad ke 13, tapi gak tau komentar apa itu.
Quote from: Wolverine on 27 December 2008, 12:17:36 PM
Tathāgataguhyasūtra -> Sutra Mahayana konon adalah yang pertama mencantumkan Bodhicitta
Kalau di Theravada -> katanya komentar dari abad ke 13, tapi gak tau komentar apa itu.
namaste suvatthi hotu
ada yg bisa bantu cari sumber di tipitaka pali?
melihat tulisan bodhicitta mestinya bersumber pada teks pali, apabila ada dalam teks sanskerta yang biasa digunakan kaum Mahayana mestinya ditulis bodhicitra
thuti
ralat - ralat...
Saya tidak bisa menemukan istilah Bodhicitta dalam Tipitaka Pali. Jadi sepertinya bodhicitta dalam Theravada benar-benar implisit :o
Bodhicittta untuk menjadi Samma Sambuddha ada secara implisit dalam Tipitaka Pali. Kalau baca Kronologi Hidup Buddha, dan Riwayat Agung Para Buddha kita bisa menyimpulkan kalau dalam Buddhavamsa dan Jataka, bodhicitta sudah dikenal, namun istilahnya mungkin berbeda.
Saya tahu Theravada tidak menekankan dari kata pengantar Bhikku Bodhi dalam
A Treatise on the Påramis
by Acariya Dhammapåla
Translated from the Påli by Bhikkhu Bodhi
Buddhist Publication Society
The Wheel Publication No. 409/411
© 1996 Buddhist Publication Society
Saya yakin bisa dicari dan didownload dari BPS. Itu adalah komentar versi Theravada terhadap Bodhisattvayana, tentunya sebagai reaksi dari awal berkembangnya mahayana. Lumayan menarik lho.
Secara implisit juga ada dalam Angutara Nikaya IV : 95
Kebaikan Diri Sendiri dan Kebaikan Orang Lain
Empat jenis orang ini, O para bhikkhu, terdapat di dunia ini. Apakah yang empat itu? Ada orang yang hidup untuk kebaikannya sendiri tetapi tidak untuk kebaikan yang lain; orang yang hidup untuk kebaikan orang lain tetapi tidak untuk kebaikannya sendiri; orang yang hidup tidak untuk kebaikannya sendiri dan tidak juga untuk kebaikan orang lain; dan orang yang hidup untuk kebaikannya sendiri dan untuk kebaikan orang lain.
(1) (IV, 96) Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup untuk kebaikannya sendiri tetapi tidak untuk kebaikan orang lain? Dia berlatih untuk menghilangkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin di dalam dirinya, tetapi tidak mendorong orang lain untuk menghapus nafsu, kebencian, dan kebodohan batin.
(IV, 99) Dia sendiri menjauhkan diri dari membunuh, mencuri, perilaku seksual yang salah, ucapan yang tidak benar dan zat-zat yang bersifat racun, tetapi dia tidak mendorong orang lain untuk pengendalian seperti itu.
(2) (IV, 96) Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup untuk kebaikan orang lain tetapi tidak untuk kebaikannya sendiri? Dia mendorong orang lain untuk menghilangkan nafsu, kebencian, dan kebodohan batin, tetapi dia sendiri tidak berlatih untuk menghapusnya.
(IV, 99) Dia mendorong orang lain untuk menjauhkan diri dari membunuh, mencuri, perilaku seksual yang salah, ucapan yang tidak benar dan zat-zat yang bersifat racun, tetapi dia sendiri tidak mempraktekkan pengendalian seperti itu.
(3) (IV, 96) Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup tidak untuk kebaikannya sendiri dan tidak juga untuk kebaikan orang lain? Dia tidak berlatih untuk menghilangkan nafsu, kebencian dan kebodohan batinnya sendiri, dan tidak juga dia mendorong orang lain untuk melakukan itu.
(IV, 99) Dia sendiri tidak berlatih untuk menjauhkan diri dari membunuh dan sebagainya, dan tidak juga dia mendorong orang lain untuk pengendalian seperti itu.
(4) (IV, 99) Dan para bhikkhu bagaimana orang hidup untuk kebaikannya sendiri dan untuk kebaikan orang lain? Dia sendiri berlatih untuk menghilangkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin, dan dia juga mendorong orang lain untuk melakukan itu.
(IV, 99) Dia sendiri berlatih menjauhkan diri dari membunuh dan sebagainya, dan dia juga mendorong orang lain untuk pengendalian seperti itu.
Lalu, dari kata-kata Pertapa Sumedha, sudah jelas dia sedang mengucapkan tekad bodhicitta
Diambil dari buku RAPB halaman 46
Sumedhà, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, "Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahanta yang mana àsava dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi Buah Arahatta dan Nibbàna sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dãpaïkarà? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai Kebuddhaan."
"Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai Kebuddhaan dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan."
"Setelah mencapai Kebuddhaan sebagai hasil dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dãpaïkarà, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan."
"Setelah menyeberangi sungai saÿsàra dan meninggalkan tiga alam kehidupan, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa." Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.
iya romo, kenapa bodhicitta bukan bodhicitra? di google cari bodhicitra, keluar result tapi ga banyak. Artinya sama, tapi entah kenapa yg lebih populer bodhicitta
Quotekenapa bodhicitta bukan bodhicitra?
lha supaya aye gak disangka ikut-ikutan... :hammer: ...
Bodhicitta (terminologi Mahayana) di dalam paham Theravada (menurut saya sendiri) dijabarkan sebagai
"Citta untuk melihat segala sesuatu secara mendalam agar benar benar mampu memahami sifat dasar ketidak kekalan (Anicca), tiada diri yang terpisah (An-atta), akan saling ketergantungan dari segala sesuatu (Pattica Samupada). Citta ini adalah jalan untuk mengatasi kebodohan bathin. Setelah kebodohan bathin di atasi, penderitaan pun terlampaui. Itulah pembebasan sejati (Bodhi)".
Ketika para Master Zen mencapai pencerahan, sifat bodhicitta yang alami akan bangkit seperti proses di atas... Mengapa bodhicitta dikatakan sebagai sifat alami ke-buddha-an setiap orang ? Karena avijja (kebodohan bathin) membuat diri tidak mampu melihat secara mendalam dan memahami anicca, an-atta dan dan paticca samupada sebagai penyebab dukkha. Ketika avijja dilampaui, dengan sendiri bodhi (pencerahan) akan didapatkan.
pembahasan bodhicitta secara baik dilakukan oleh Master Zen China ke-enam Hui Neng di dalam Sutra Altar (Sutra Dasar).
http://www.angelfire.com/realm/bodhisattva/platform-sutra.html
http://www.thezensite.com/ZenTeachings/Translations/Platform_Sutra_Yampolsky.pdf
http://www.thezensite.com/ZenTeachings/Translations/PlatformSutra_DharmaJewel.pdf
Quote from: xenocross on 28 December 2008, 12:00:33 AM
iya romo, kenapa bodhicitta bukan bodhicitra? di google cari bodhicitra, keluar result tapi ga banyak. Artinya sama, tapi entah kenapa yg lebih populer bodhicitta
namaste suvatthi hotu
ternyata dalam teks pali ada loh, aku kutipkan teks pali nya semoga, eyang karuna atau mbah Indra bisa menemukan terjemahannya, trims
Dīghanikāye; Sīlakkhandhavagga; abhinavaṭīkā;
1. Brahmajālasuttaṃ; Cūḷasīlavaṇṇanā
[/b]
Tathā yasmā sammāsambodhiyā katābhinīhārena mahāsattena pāramīparipūraṇatthaṃ sabbakālaṃ yuttappayuttena bhavitabbaṃ ābaddhaparikaraṇena, tasmā kālena kālaṃ ''ko nu kho ajja mayā puññasambhāro, ñāṇasambhāro vā upacito, kiṃ vā mayā parahitaṃ kata''nti divase divase paccavekkhantena sattahitatthaṃ ussāho karaṇīyo, sabbesampi sattānaṃ upakārāya attano pariggahabhūtaṃ vatthuṃ, kāyaṃ, jīvitañca nirapekkhanacittena ossajjitabbaṃ,
yaṃ kiñci kammaṃ karoti kāyena, vācāya vā, taṃ sabbaṃ
sambodhiyaṃ ninnacitteneva kātabbaṃ,
bodhiyā pariṇāmetabbaṃ, uḷārehi, ittarehi ca kāmehi vinivattacitteneva bhavitabbaṃ, sabbāsu ca itikattabbatāsu upāyakosallaṃ paccupaṭṭhapetvā paṭipajjitabbaṃ.
Tasmiṃ tasmiñca sattahite āraddhavīriyena bhavitabbaṃ iṭṭhāniṭṭhādisabbasahena avisaṃvādinā. Sabbepi sattā anodhiso mettāya, karuṇāya ca pharitabbā. Yā kāci sattānaṃ dukkhuppatti, sabbā sā attani pāṭikaṅkhitabbā.
Sabbesañca sattānaṃ puññaṃ abbhanumoditabbaṃ, buddhānaṃ mahantatā mahānubhāvatā abhiṇhaṃ paccavekkhitabbā,
yañca kiñci kammaṃ karoti kāyena, vācāya vā, taṃ sabbaṃ
bodhicittapubbaṅgamaṃ kātabbaṃ.
Iminā hi upāyena dānādīsu yuttappayuttassa thāmavato daḷhaparakkamassa mahāsattassa bodhisattassa aparimeyyo puññasambhāro, ñāṇasambhāro ca divase divase upacīyati.
thuti
Yang ini romo? yang mana yang diterjemahkan dari kata bodhicitta?
Brahmajala Sutta
Cula Sila
'Tidak membunuh makhluk, Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang, ia malu melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan hatinya kepada semua makhluk, menyebabkan semua orang memuji Sang Tathagata.'
Atau ia berkata: "Tidak mengambil apa yang tidak diberikan, Samana Gotama tidak mau memiliki apa yang bukan kepunyaan-Nya. Ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian. Ia hidup dengan jujur dan suci"7). Atau ia berkata: "Tidak melakukan hubungan kelamin8), Samana Gotama hidup membujang9). Ia menjauhkan diri dari perbuatan yang ternoda dan tidak melakukan hubungan kelamin".
# Atau ia berkata: "Tidak berdusta, Samana Gotama telah menjauhkan diri dari dusta. Ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, dan tidak mengingkari kata-kataNya di dunia".
Atau ia berkata: "Tidak memfitnah, Samana Gotama menjauhkan diri dari fitnah. Apa yang Ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain yang dapat menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat ini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakan-Nya di sini sehingga tidak menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat lain. Dalam hidupnya Ia menyatukan mereka yang berlawanan, mengembangkan persahabatan di antara mereka, pemersatu, mencintai persatuan, menyenangi persatuan, membicarakan kesatuan10). Atau ia berkata: "Tidak mengucapkan kata-kata kasar, Samana Gotama menjauhkan diri dari ucapan-ucapan kasar. Ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, yang menyenangkan, menarik, mengena di hati, sopan, menggembirakan orang dan disukai orang".
Atau ia berkata: "Tidak menghabiskan waktu dengan ceritera yang tidak berguna, Samana Gotama menjauhkan diri dari obrolan tentang hal-hal yang tidak berguna. Ia berbicara pada waktu yang tepat, sesuai dengan kenyataan, bermanfaat, yang berhubungan dengan Dhamma dan Vinaya. Ia berbicara pada saat yang tepat dengan kata-kata yang bermanfaat bagi pendengar dan dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tepat".
# Atau ia berkata: "Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan. Ia makan sekali sehari, tidak makan setelah tengah hari atau tidak makan di malam hari. Ia tidak menyaksikan pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
Ia tidak menggunakan alat-alat merias, bunga-bunga, wangi-wangian dan perhiasan. Ia tidak menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia tidak menerima: emas, perak, padi, daging mentah, wanita, budak, biri-biri atau kambing, babi, gajah, sapi, kuda dan unggas. Ia tidak bertani. Ia tidak melakukan perdagangan, penipuan dengan timbangan atau dengan ukuran, penyogokan, penipuan atau pemalsuan, melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
Demikianlah para bhikkhu, yang menyebabkan orang-orang memuji sang Tathagata.
Quote from: xenocross on 29 December 2008, 08:37:42 PM
Yang ini romo? yang mana yang diterjemahkan dari kata bodhicitta?
namaste suvatthi hotu
Yang anda kutip dari:
Dīghanikāyo; Sīlakkhandhavaggapāḷi; 1. Brahmajālasuttaṃ; CūḷasīlaṃYang aku kutip dari kitab sub komentar:
Dīghanikāye; Sīlakkhandhavagga; abhinavaṭīkā;
1. Brahmajālasuttaṃ; CūḷasīlavaṇṇanāMaaf aku belum menemukan di sutta Pali kata dengan term "Bodhicitta".
ada yg bisa bantu?
thuti
Bodhicitta bukannya dilambungkan oleh Mahayana,kalo aliran lain jarang menggunakan term ini?aku bertanya lho,masih ragu2
Quote from: nyanadhana on 30 December 2008, 05:22:23 PM
Bodhicitta bukannya dilambungkan oleh Mahayana,kalo aliran lain jarang menggunakan term ini?aku bertanya lho,masih ragu2
Kalo baca dibuku "liberation in the palm of your hand" kayaknya bodhicitta ini perlu dikembangkan kl di vajrayana.....dan dimana Athisa mengembara sampai ke sriwijaya untuk belajar bodhicitta dari dharmakirti kalo tidak salah....
Ooo.. adanya di bagian Tika toh. :o
Quote from: william_phang on 30 December 2008, 05:26:18 PM
Quote from: nyanadhana on 30 December 2008, 05:22:23 PM
Bodhicitta bukannya dilambungkan oleh Mahayana,kalo aliran lain jarang menggunakan term ini?aku bertanya lho,masih ragu2
Kalo baca dibuku "liberation in the palm of your hand" kayaknya bodhicitta ini perlu dikembangkan kl di vajrayana.....dan dimana Atisha mengembara sampai ke sriwijaya untuk belajar bodhicitta dari dharmakirti kalo tidak salah....
mahayana jg. ga cuman vajrayana. n kalo bs mah semua umat Budhis.
ada seorang bhante senior Theravada pernah ketemu asun di airport hehehh...bhante tsb merekomendasikan untuk mempelajari boddhicitta karena ini sangat penting katanya...
Dalam ajaran Mahayana, bodhicitta memang satu pilar penting utk mempraktikkan jalan bodhisatva. Karena Bodhicitta adalah katalisator sekaligus stimulus menuju puncak pencerahan sempurna. Meskipun Bodhicitta merujuk pada Pencerahan Sempurna (Samyaksambuddha) , namun bila kita telusuri pengertiannya maka term ini tetap relevan dan berlaku pada semua aliran Buddhisme. Mengapa? Bodhi berarti Pencerahan. Setiap praktisi tentu berlatih dengan kiblat ke arah pencerahan. Meskipun pencerahan memiliki beberapa jenis. (Savaka-bodhi, Pacceka-bodhi, atau Sammasambodhi), namun pada intinya adalah jalan menuju Bodhi itu sendiri. Oleh karena Bodhicitta walaupun secara terminologi tidak dikembangkan secara luas dalam Theravada, namun arti pentingnya adalah setara.
Apakah benar Bodhicitta adalah semangat membaktikan diri untuk kebahagiaan semua makhluk guna mencapai Pencerahan Tertinggi?
Bagaimana pengertian Bodhicitta dilihat dari sisi terminologi Bodhi dan citta ? (tolong yang ngerti bahasa pali diartikan)...
Quote from: dilbert on 05 January 2009, 08:36:14 AM
Bagaimana pengertian Bodhicitta dilihat dari sisi terminologi Bodhi dan citta ? (tolong yang ngerti bahasa pali diartikan)...
namaste suvatthi hotu
bodhicitta (kata majemuk kepemilikan dari kata Bodhi + citta > bodhicitta
bodhi = pencerahan (sempurna); penerangan (sempurna)
citta = pikiran; batin; kesadaran
bodhicitta = "batin yang tercerahkan"
thuti
Quote from: cunda on 05 January 2009, 09:16:55 PM
Quote from: dilbert on 05 January 2009, 08:36:14 AM
Bagaimana pengertian Bodhicitta dilihat dari sisi terminologi Bodhi dan citta ? (tolong yang ngerti bahasa pali diartikan)...
namaste suvatthi hotu
bodhicitta (kata majemuk kepemilikan dari kata Bodhi + citta > bodhicitta
bodhi = pencerahan (sempurna); penerangan (sempurna)
citta = pikiran; batin; kesadaran
bodhicitta = "batin yang tercerahkan"
thuti
berarti sesuai dengan feeling saya akan pengertian bodhicitta... bukan benih kebuddhaan kan ? soalnya kalau benih kan masih belum buah, sedangkan batin yang tercerahkan sudah mencapai buah (PHALA)...
bodhi = pencerahan (sempurna); penerangan (sempurna)
satta = makhluk
makhluk yang tercerahkan? Ariya Pugalla?
Quote from: Wolverine on 08 January 2009, 09:39:38 AM
bodhi = pencerahan (sempurna); penerangan (sempurna)
satta = makhluk
makhluk yang tercerahkan? Ariya Pugalla?
namaste suvatthi hotu
dalam istilah bodhicitta mungkin yang dimaksud adalah semangat untuk mengembangkan pikiran yang menuju penerangan sempurna (kebodhian)
thuti
bukan semangat, tapi seperti pola pikir.
Quote from: kiman on 10 January 2009, 01:45:59 PM
bukan semangat, tapi seperti pola pikir.
namaste suvatthi hotu
terimakasih atas koreksinya
thuti
_/\_
Quote from: xenocross on 25 December 2008, 03:42:08 AM
http://kmbui.net/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=33
Bodhicitta
oleh: Bhiksu Nirmana Sasana
Sakyamuni Buddha. Kita sebagai umat Buddha yang taat sudah pasti mengenalNya sebagai Guru Junjungan kita yang pada 544 tahun yang lalu mengabdikan 49 tahun dari masa hidupNya untuk membabarkan Dharma; mengajarkan kita untuk menemukan dan menjalankan Dharma dalam kehidupan sehari-hari kita. Bila kita perhatikan, Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha tidak pernah terlepas dari apa yang disebut dengan Bodhicitta, seperti di dalam Sutra Amitabha, Sutra Saddharmapundarika, terlebih di dalam Sutra Bodhicitta itu sendiri.
Di dalam Sutra Bodhicitta, kita dapat melihat bahwa setiap kalimat yang ada di dalamnya mengajarkan kita untuk mengembangkan jiwa Bodhisattva. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa dalam menjalankan Buddhadharma dalam kehidupan sehari-hari, pengembangan jiwa Bodhisattva adalah merupakan suatu hal yang mutlak.
Memang benar, kita sebagai umat Buddha, hendaknyalah kita selalu melaksanakan jiwa Bodhisattva dengan berbuat kebajikan. Seperti pepatah berkata: "Berbuat kebajikan akan mendapat buah baik, Berbuat kejahatan akan menerima buah buruk." Namun, apa yang dimaksud dengan kebajikan di sini? Apakah kebajikan akan terwujud tanpa pengembangan Bodhicitta? Lagipula, apakah yang disebut "Bodhicitta" itu? Dalam bahasa sehari-hari, kita sering mendengar kata "Pencerahan". Apakah ini yang dimaksud dengan Bodhicitta?
Bodhicitta bukanlah hanya sekedar "Pencerahan" biasa, tetapi Pencerahan ini adalah Pencerahan yang mengandung Tekad mencapai keBuddhaan. Terutama di dalam aliran Mahayana yang selalu tidak terlepas dari kata "Metta, Karuna, Mudita"(cinta kasih). Yang dimaksud "cinta kasih" di sini bukanlah seperti cinta kasih antara dua makhluk yang berlainan jenis atau bahkan sesama jenis, tetapi "cinta kasih" yang dimaksud dalam Buddhadharma adalah cinta kasih yang universal. Cinta kasih universal ini dikembangkan dari hati nurani kita yang terdalam, bukan yang hanya diucapkan di bibir belaka, atau yang timbul karena keinginan-keinginan tertentu (ego kita).
Bagaimana kita dapat mengembangkan ................................... (saya cut biar nda kepanjangan)
thank's to bro xeno..
Info yang sangat membantu...
kalau soal Buddha bisa bersedih...
menurut saya sang Buddha bisa bersedih juga apabila melihat banyak makhluk yang menderita.
Karena cinta kasih lah maka sang Buddha bisa bersedih.
Akan tetapi kesedihan sang Buddha tidak lah sama dengan kesedihan manusia umumnya....
Apabila sang Buddha tidak bisa bersedih, apakah sang Buddha tdak memiliki cinta kasih?
Ini hanya pandangan pribadi saya...
Apabila ada yang salah mohon di koreksi...
Terimakasih...
_/\_
sang Buddha bersedih tetapi tidak melekat dalam kesedihanNya.
sang Buddha bergembira tetapi tidak melekat dalam kegembiraanNya.
sang Buddha sedih tapi tidak sedih...
sang Buddha gembira tapi tidak gembira...
Quote from: SuryaPadma on 07 September 2012, 02:52:17 PM
kalau soal Buddha bisa bersedih...
menurut saya sang Buddha bisa bersedih juga apabila melihat banyak makhluk yang menderita.
Karena cinta kasih lah maka sang Buddha bisa bersedih.
Akan tetapi kesedihan sang Buddha tidak lah sama dengan kesedihan manusia umumnya....
Apabila sang Buddha tidak bisa bersedih, apakah sang Buddha tdak memiliki cinta kasih?
Ini hanya pandangan pribadi saya...
Apabila ada yang salah mohon di koreksi...
Terimakasih...
_/\_
sang Buddha bersedih tetapi tidak melekat dalam kesedihanNya.
sang Buddha bergembira tetapi tidak melekat dalam kegembiraanNya.
sang Buddha sedih tapi tidak sedih...
sang Buddha gembira tapi tidak gembira...
jadi aneh ???
bisa juga :
sang Buddha berjalan tapi tidak berjalan ...
sang Buddha mandi tapi tidak mandi ...
sang Buddha makan tapi tidak makan ...
sang Buddha sakit tapi tidak sakit ...
sang Buddha tua tapi tidak tua ...
sang Buddha sedang konsentrasi tapi tidak konsentrasi ...
sang Buddha sudah Parinibbana tapi tidak Parinibbana ...
Semua makhluk yg tercerahkan sempurna selalu digerakkan/termotivasi oleh Empat Keadaan Luhur.Termasuk dlm membantu makhluk lain yg blm tercerahkan.Mungkin lebih tepat dikatakan bhw Buddha terdorong oleh cinta kasih & welas asihnya hingga Beliau mau membantu makhluk lain.Beliau tdk sedih,cuma berempati kpd makhluk lain.
Quote from: SuryaPadma on 07 September 2012, 02:52:17 PM
kalau soal Buddha bisa bersedih...
menurut saya sang Buddha bisa bersedih juga apabila melihat banyak makhluk yang menderita.
Karena cinta kasih lah maka sang Buddha bisa bersedih.
Akan tetapi kesedihan sang Buddha tidak lah sama dengan kesedihan manusia umumnya....
Sedih adalah keadaan pikiran yang bersekutu dengan akusalacitta 12 (lobha, dosa, moha) dan ini adalah pikiran makhluk lokiya (yang belum suci).
Pikiran Sang Buddha sebagai seorang arahat sudah di lokuttara citta dan sudah terbebas dari lobha, dosa dan moha. Sehingga mengatakan Sang Buddha bersedih adalah suatu pandangan salah.
Quote
Apabila sang Buddha tidak bisa bersedih, apakah sang Buddha tdak memiliki cinta kasih?
Memiliki cinta kasih tidak berarti harus bersedih.
Kalau cinta kasih Buddha karena didasari sedih, pastilah Buddha makhluk yang paling sedih karena cinta kasihNya yang demikian besar. :-?
Kutipan di bawah sudah dijawab bro Adi.
Quote
sang Buddha bersedih tetapi tidak melekat dalam kesedihanNya.
sang Buddha bergembira tetapi tidak melekat dalam kegembiraanNya.
sang Buddha sedih tapi tidak sedih...
sang Buddha gembira tapi tidak gembira...