Forum Dhammacitta

Buddhisme Awal, Sekte dan Tradisi => Mahayana => Chan atau Zen => Topic started by: xenocross on 26 February 2026, 06:09:47 PM

Title: Khotbah Arus Darah
Post by: xenocross on 26 February 2026, 06:09:47 PM
Khotbah Arus Darah

Semua yang muncul di tiga alam datang dari pikiran. Karenanya, Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan dari pikiran ke pikiran tanpa merepotkan diri pada definisi

Q: Tetapi jika mereka tidak mendefinisikan, apa yang dimaksud dengan pikiran?

Kamu bertanya, itu adalah pikiranmu. Aku menjawab. Itu adalah pikiranku.
Jika aku tidak punya pikiran, bagaimana aku bisa menjawab? Jika kamu tidak punya pikiran, bagaimana kamu bisa bertanya?
Apa yang bertanya adalah pikiranmu. Melalui kalpa-kalpa yang tak berujung tanpa awal, apapun yang kamu lakukan, dimanapun kamu berada, itu adalah pikiranmu yang sejati, itulah Buddha-mu yang sejati.

"Pikiran inilah Buddha" artinya sama. Di luar pikiran ini kamu tidak akan menemukan Buddha yang lain. Untuk mencari pencerahan atau nirvana di luar pikiran ini adalah tidak mungkin. Realitas dari hakikat dirimu sendiri, ketidakhadiran sebab-akibat, adalah apa yang dimaksud dengan pikiran. Pikiranmu adalah nirvana. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu dapat menemukan Buddha atau pencerahan di suatu tempat di luar pikiran, tapi tempat seperti itu tidak ada.

Mencoba menemukan Buddha atau pencerahan adalah seperti ingin memegang ruang. Ruang punya nama tapi tidak berbentuk. Itu bukan sesuatu yang dapat diangkat atau ditaruh. Dan kamu pastinya tidak dapat memegangnya. Di luar pikiran ini kamu tidak akan dapat melihat Buddha. Buddha adalah produk dari pikiranmu. Kenapa mencari Buddha di luar pikiran ini?

Buddha di masa lalu dan masa depan hanya membicarakan pikiran ini. Pikiran adalah Buddha, dan Buddha adalah pikiran. Di luar pikiran tidak ada Buddha, dan di luar Buddha tidak ada pikiran. Jika kamu pikir ada Buddha di luar pikiran, dimana dia? Tidak ada Buddha di luar pikiran, jadi kenapa mengkhayalkan itu? Kamu tidak dapat mengetahui pikiran sejatimu selama kamu masih menipu dirimu sendiri. Selama kamu masih terpikat oleh bentuk yang tidak hidup, kamu tidak bebas. Jika kamu tidak percaya padaku, menipu dirimu sendiri tidak membantu. Ini bukan salah Buddha. Tetapi orang-orang dipengaruhi delusi. Mereka tidak sadar bahwa pikirannya sendiri adalah Buddha. Jika tidak, mereka tidak akan mencari Buddha di luar pikiran.

Buddha tidak menolong Buddha [lain]. Jika kamu menggunakan pikiranmu untuk mencari Buddha [di luar], kamu tidak akan melihat Buddha. Selama kamu mencari Buddha di tempat lain, kamu tidak akan melihat bahwa pikiranmu sendiri adalah Buddha. Jangan menggunakan Buddha untuk memuja Buddha. Dan jangan menggunakan pikiran untuk memanggil Buddha. Buddha tidak mendaraskan sutra. Buddha tidak menjaga sila. Dan Buddha tidak melanggar sila. Buddha tidak menjaga atau melanggar [sila] apapun. Buddha tidak melakukan kebaikan atau kejahatan.

Untuk menemukan Buddha, kamu harus melihat sifat sejati dirimu sendiri. Siapapun yang melihat sifat sejati adalah seorang Buddha. Jika kamu tidak melihat sifat sejatimu, [maka] memanggil Buddha, mendaraskan sutra, membuat persembahan, dan menjaga sila semuanya adalah tidak berguna. Memanggil Buddha menghasilkan karma baik, mendaraskan sutra menghasilkan ingatan baik, menjaga sila menghasilkan kelahiran kembali yang baik, dan membuat persembahan menghasilkan berkah di masa depan -- tapi tiada Buddha.

Jika kamu tidak paham dengan kekuatan sendiri, maka kamu harus mencari seorang guru untuk mengerti makna kehidupan dan kematian. Tetapi jika dia belum melihat sifat sejati dirinya sendiri, orang itu bukanlah seorang guru [sejati]. Walaupun dia dapat melafalkan dua belas bagian kitab suci, dia tidak dapat lolos dari roda kelahiran dan kematian. Dia menderita di tiga alam tanpa ada harapan untuk bebas.

Di masa lalu, bhiksu Bintang Baik dapat melafalkan seluruh isi kitab suci. Tetapi dia tidak lolos dari roda samsara, karena dia belum melihat sifat sejati. Jika ini terjadi bahkan pada bhiksu Bintang Baik, maka orang-orang zaman sekarang yang melafalkan beberapa sutra dan sastra dan berpikir itu adalah dharma, adalah orang dungu. Kecuali kamu melihat pikiranmu sendiri, melafalkan prosa begitu banyak adalah sia sia.

Untuk menemukan Buddha apa yang harus dilakukan hanyalah melihat sifat hakikatmu sendiri. Hakikatmu adalah Buddha. Dan Buddha adalah seorang yang bebas: bebas dari rencana, bebas dari kekhawatiran. Jika kamu tidak melihat sifat sejatimu sendiri dan berlari kesana kemari mencari di tempat lain, kamu tidak akan pernah menemukan Buddha.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu ditemukan. Tetapi untuk mencapai pemahaman demikian butuh seorang guru dan kamu perlu berjuang untuk membuat dirimu mengerti. Hidup dan mati adalah penting. Jangan menjalaninya dengan sia-sia. Tidak ada gunanya menipu diri sendiri. Walaupun kamu punya bergunung-gunung permata dan banyak sekali pelayan sebanyak butiran pasir di sungai Gangga, kamu melihatnya ketika matamu terbuka. Tetapi bagaimana ketika matamu tertutup [karena mati]. Kamu harus menyadari bahwa semua yang kamu lihat adalah seperti mimpi atau ilusi.

~~ Kutipan dari "Bloodstream Sermon", oleh Bodhidharma
Sumber: The Zen Teaching of Bodhidharma.

Translated by Red Pine