Forum Dhammacitta

Topik Buddhisme => Buddhisme untuk Pemula => Topic started by: xenocross on 26 February 2026, 01:30:16 PM

Title: Mengapa Buddha, bukan dewa?
Post by: xenocross on 26 February 2026, 01:30:16 PM
Ta Chwang Yan King Lun
Asvagosha
diterjemahkan ke Mandarin oleh Kumarajiva

Dahulu kala, ada seorang umat biasa (upasaka) yang melakukan perjalanan ke Mathura dengan didampingi oleh beberapa pedagang. Karena menemukan sebuah stupa Buddha di dalam kota, dia pun pergi ke stupa tersebut untuk memberikan penghormatan setiap paginya. Tidak berapa lama, perjalanan yang ia lakukan tiap hari diketahui oleh sekumpulan penduduk kaya yang berbaring di taman dan mandi di sepanjang jalan utama. Karena kelakuannya yang sangat berbeda dengan mereka, mereka mulai mentertawakan dan mengejeknya. Suatu hari, ketika upasaka tersebut pulang dari stupa, seorang Mathura berkedudukan tinggi memanggil dan memintanya untuk mendekat. "Kemarilah dan silakan duduk. Saya penasaran. Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu. Apakah Anda tidak mengenal dewa-dewa agung yang kami puja di negara ini? Anda harus memuja mereka, bukan memuja Buddha." Sementara itu, kerumunan orang mulai berkumpul
Upasaka tersebut menjawab bahwa dia tahu tentang beberapa kualitas yang mengagumkan dari Buddha, tetapi dia belum mengetahui kebaikan dari dewa mereka. Jawaban ini menimbulkan teriakan ketidaksetujuan. Dengan satu suara, penduduk terhormat menyampaikan suatu syair yang menunjukkan kekuatan dari dewa utama mereka:
 "Dinding kota dari Asura
 Menara tinggi jalur tiga lipat;
 Karena itu tergantung, kota tersebut tergantung di dalam ruang;
 Penuh dengan penduduk (anak-anak muda dan wanita)
 Dewa kita, membengkokkan busur
 Dari Jauh, ditembak dari dalam dinding kota,
 Dapat membakarnya dan menghancurkannya dalam sekejap,
 Seperti rumput kering terbakar oleh api.
Upasaka tersebut tidak dapat menahan tawanya. "Jika begini caranya Anda menjelaskan dewamu, tidak heran jika saya tidak dapat menghormatinya. Perkenankan saya menanyaimu:
"Kehidupan adalah seperti setetes embun di atas sekuntum bunga
Nasib terakhir dari semua yang hidup adalah kematian
Beritahu aku, kebijaksanaan apa yang ada di sana
Membawa kematian bersama dengan busur dan panah?"
Para penduduk memarahinya atas penghinaan terhadap kebesaran dan kekuatan dewa mereka. Selama perdebatan yang berkelanjutan, upasaka tersebut mengemukakan argumen berikut ini dalam suatu syair yang panjang:
"Dewa yang anda hormati dan puja,
Dengan tidak berperikemanusiaan dan jahat suka menghancurkan.
Tetapi tentu saja, jika anda berkorban untuk dewa-dewa ini,
Menganggap mereka pantas untuk menerima layanan seperti itu,
Kemudian anda harus melakukan penghormatan
Terhadap singa, harimau, dan serigala
Yang ketika tersinggung dan marah, menghancurkan kehidupan,
Setan Jahat, sama halnya, dan Raksha
Orang bodoh, dikarenakan ketakukan,
Memuja tanpa pertimbangan.
Tetapi bagi mereka yang mempunyai kebijaksanaan
Harus mempertimbangkan dan memikirkannya baik- baik
Jika menghadapi mereka yang tidak mencelakakan (tidak menyebabkan kesakitan)
Kita secara alami terdorong untuk menghormati
Kemudian bagi mereka yang benar-benar baik
Yang tidak mencelakakan, (Kita abaikan)
Sementara mereka yang melakukan kejahatan
Tidak bisa tidak  mencelakakan orang lain (dan mereka sendiri adalah jahat)
jika kita tidak dapat mengenal yang baik,
Juga tidak dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik,
Jika kebaikan bisa mengandung suatu hati yang jahat dan ketidakbaikan dengan pikiran yang baik
Maka pembunuh dan kriminal
Bisa sangat dipuja oleh orang bodoh,
Dan kebaikan dan kebajikan,
Di sisi lain, kurang dihargai.
Kemudian dunia ini jadi terbalik;
Kita tidak dapat memberitahukan apa yang harus dipuja.
Tetapi bagi mereka yang terlahir di Gandhara.
Tahu benar bagaimana membedakan antara yang baik dan buruk
Karena itu, kami percaya pada Tathagata
Dan tidak menganggap para pemusnah."
Warga Mathura kalah dalam debat tetapi mereka menolak untuk mengakuinya. "Anda orang Gandhara, kebaikan religius apa yang dimiliki oleh Buddha?" Jawaban syair lain dilantunkan:
"Terlahir sebagai seorang pangeran Sakya,
Semuanya bijaksana.
Kebajikannya terkumandang ke segala arah
Membubarkan kejahatan seperti awan
Setiap makhluk yang terlahir
Diberkahi oleh-Nya sejak dari awal sekali
Diperkenalkan dengan sifat dari segala kebenaran,
Tercerahkan secara sempurna,
Bhagavat ini,
Kita sebut Buddha."
Orang Mathura menanyakan kepada upasaka tersebut, "Anda mengatakan bahwa Buddha adalah seorang bhagavat, seorang yogi hebat. Di negara kami, para yogi hebat dapat menciptakan mantra yang menghancurkan seluruh negara. Sanggupkah Buddha melakukannya?" Mereka tertawa dan terkikik-kikik.
Upasaka tersebut memberitahukan kepada mereka untuk tidak memfitnah para bhagavat. "Anda ingin membicarakan mengenai pesona? Biar saya memberitahumu tentang pesona-Nya:"
"Dikarenakan nafsu, kemarahan, dan ketidaktahuan,
Guna-guna jahat digunakan.
Dan ketika kata-kata yang menyakitkan seperti itu terangkai
Roh jahat menangkap kata-katanya
Dan menggunakannya untuk menyakiti dunia
Dan melakukan perbuatan jahat di mana-mana.
Buddha telah menghancurremukkan nafsu, ketidaktahuan dan kemarahan;
Cinta kasih-Nya membawakan keuntungan dan kelimpahan,
Mencapai akar dari segala pesona
Beliau menunjukkan segala perbuatan bajik
Dan karena itu, Buddha, Raja Dunia (Lokesvara, Lokanatha)
Tidak menggunakan guna-guna untuk memadamkan kejahatan,
Tetapi melalui kekuatan dari kebajikannya yang hebat
Beliau menyelamatkan kita dari sengsara yang tak berakhir.
Lalu bagaimana Anda mengatakan bahwa Buddha tidak memiliki kekuatan yang besar?"
Orang-orang Mathura tersebut mulai menghargai logika dari jawabannya. Ketika mereka meneruskan pertanyaan tentang Buddha kepada upasaka, mereka menanyakannya tanpa ada kemarahan atau penyesalan. Upasaka tersebut mengambil kesempatan ini untuk memberikan ceramah kepada mereka:
Maha Belas Kasih (Mahakarunika), yang mengasihi segalanya.
Berkeinginan hanya untuk menyelamatkan dunia dari penderitaan;
Melihat mereka yang menderita (Avalokita), Beliau tahu
Kejahatan mereka terhadap diri mereka sendiri telah membawakan kesakitan;
Tetapi jangan katakan bahwa Beliau telah menggunakan guna-guna kejahatan
Dan membawa kejahatan ke dunia.
Tubuh bagi semua yang hidup adalah menderita adanya
Dalam bentuk kelahiran, penyakit, umur tua, dan kematian,
Seperti keperihan akibat abu api yang masih membara
Bagaimanakah dia bisa terpikir untuk menambah kesengsaraan?
Sebaliknya, dengan Dhamma-Nya yang murni dan menyejukkan
Beliau membuat sakit yang berapi-api ini tersembuhkan."
Mendengar demikian, orang-orang Mathura tersebut akhirnya mengakui bahwa kata-kata orang Gandhara tersebut masuk akal. "Gandha berarti memegang. Anda orang Gandhara menganut prinsip yang tidak umum. Tetapi Anda memegang prinsip yang bagus dan melepaskan prinsip yang tidak bagus. Jadi Anda memang tepat dinamakan demikian, terpujilah teman termasyhur!"
Senang dengan kejadian pagi tersebut, upasaka tersebut meninggalkan mereka dengan melantunkan suatu syair perpisahan:
"Pertimbangkan dengan baik-baik kebajikan dari Buddha,
Sempurna dan lengkap dalam setiap aspek.
Dalam mengkaji hukum moralitas, dalam ketenangan dan kebijaksanaan,
Beliau tiada duanya,
Sumeru adalah yang tertinggi di antara gunung-gunung
Samudra adalah pemimpin dari air-air
Di antara dewa dan manusia,
Tiada yang seperti Buddha.
Demi semua yang hidup ,
Beliau menanggung setiap jenis penderitaan
Sehingga Beliau bisa mencapai tujuan
Dan tidak membiarkan kematian dalam bentuk apapun
Setiap orang yang mencari perlindungan dari Buddha
Telah mendapatkan keuntungan
Dan mendapatkan kebebasan.
Mereka yang mengikuti ajaran Buddha
Telah bebas dari kesengsaraan mereka.
Buddha dengan kekuatan yang menakjubkan
Telah mengatasi semua orang berpandangan salah
Nama-Nya termasyhur
Di seluruh alam semesta, dalam seluruh sepuluh penjuru.
Dengan suara Singa-Nya (Simhanada), Buddha
Menyatakan khayalan Samsara,
Bicara tanpa setengah-setengah,
Tetapi mengikuti Jalan Tengah.
Manusia dan dewa
Mengulang-ulang: "Semoga demikian" (Sadhu)
Mereka yang tidak mampu melihat kebenaran
Masih terikat dalam lingkaran Samsara
Setelah Parinirvana-Nya Tathagata
Tiap negara mendirikan stupa-stupa,
Yang didekorasi secara meriah dengan menggunakan permata
Seperti bintang-bintang yang tergantung di angkasa.
Karena itu, biarlah setiap orang menyatakan Buddha sebagai Penguasa Tertinggi."

Ta Chwang Yan King Lun
oleh Asvagosha
diterjemahkan ke Mandarin oleh Kumarajiva

Dari buku "Guanyin: 101 pertanyaan".