Forum Dhammacitta

Buddhisme Awal, Sekte dan Tradisi => Mahayana => Topic started by: xenocross on 26 February 2026, 01:08:21 PM

Title: Argumen Kemajemukan Buddha
Post by: xenocross on 26 February 2026, 01:08:21 PM
Pertanyaan: Apakah Buddha hanya ada di dunia Saha ini, dan di waktu sekarang di seluruh semesta tidak ada Buddha lain yang hidup dan mengajar, walaupun di sistem dunia lain yang sangat jauh?

Jawab:

Argumen yang mendukung kemajemukan Buddha
Diambil dari Mahaprajnaparamitasastra [The Treatise on The Great Wisdom of Nagarjuna], diterjemahkan Etienne Lamotte, Vol 1.
Hal 427-430

1) Di dalam Samyuktaagamasutra, dikatakan "Ketika hujan turun, tetesan hujan (bindu) adalah sangat dekat sehingga mereka tak bisa dihitung. Sama halnya seperti sistem dunia (lokadhatu). Di arah timur (purvasyam dis), Aku melihat tak terhitung banyaknya makhluk lahir, hidup, dan mati. Jumlah mereka sangat banyak, melampaui hitungan. Seperti itu jugalah di sepuluh penjuru arah. Di alam-alam semesta di sepuluh penjuru, tak terhitung banyaknya makhluk mengalami tiga macam penderitaan fisik (kayadukkha), penuaan (jara), sakit (vyaddhi) dan kematian (marana); ketiga macam penderitaan mental, hasrat (raga), kebencian (dvesa), dan kegelapan batin (moha); dan ketiga jenis penderitaan kelahiran kembali (purnabhavadukkha), kelahiran di alam naraka, hantu kelaparan (preta), dan binatang (tiryagyoni).
Semua alam ini memiliki tiga jenis manusia, inferior (avara), menengah (madya), atau superior (agra). Manusia inferior melekat (sakta) pada kesenangan saat ini, manusia menengah melekat pada kesenangan [kehidupan] mendatang, tetapi manusia superior mencari Sang Jalan; mereka dipenuhi dengan cinta kasih (maitri) dan welas asih (karuna) dan mempunyai rasa iba pada makhluk-makhluk"
Ketika sebab dan kondisi [yang dibutuhkan untuk datangnya soerang Buddha] hadir, mengapa akibatnya, [yaitu, datangnya seorang Buddha] tidak dihasilkan? Sang Buddha telah berkata: "Jika tidak ada sakit, penuaan, dan kematian, Buddha tidak akan muncul." [AN 10.76]
Adalah karena seseorang melihat orang-orang tersiksa oleh penuaan, sakit, dan mati, seseorang membuat tekad (pranidhana) untuk menjadi Buddha untuk menyelamatkan semua makhluk, menyembuhkan sakit mental mereka dan mengeluarkan mereka dari derita tumimbal lahir.
Sekarang, alam-alam semesta ini di sepuluh penjuru menampilkan semua sebab dan kondisi yang dibutuhkan bagi kemunculan seorang Buddha (buddhapradurbhava). Bagaimana mungkin anda dapat mengatakan bahwa alam semesta  kita adalah satu-satunya yang mempunyai Buddha sementara alam semesta lainnya tidak? Ini seperti anda mengatakan bahwa "Ini ada kayu, tetapi tidak ada api; tanah ini basah, tetapi tidak ada air." Sama halnya dengan para Buddha. Makhluk-makhluk ini menderita karena penuaan, sakit, dan kematian melanda tubuh mereka; pikiran mereka sakit oleh hasrat (raga), kebencian (dvesa), dan kebodohan (moha); Buddha muncul di dunia untuk menghancurkan tiga jenis penderitaan dan memperkenalkan makhluk-makhluk pada Tiga Kendaraan (yanaytraya). Bagaimana mungkin Buddha tidak muncul di semua alam semesta dimana penderitaan ini ada?
Adalah salah untuk mengatakan bahwa satu obat (agada) adalah cukup untuk menyembuhkan orang buta yang tak terhitung jumlahnya (andhapurusa) [dan karena itu, satu Buddha untuk menyembuhkan makhluk yang tak terhitung jumlahnya.] Karena itu, Buddha-Buddha yang ada di sepuluh penjuru haruslah ada.

2) Lebih jauh, sebuah sutra dalam Dirghaagama [Atanatikasutra,
paralel: Taisho 1245 Vaisravana Sutra / Fo shuo P'i-sha-mên T'ien-wang Ching
Paralel Pali: Atanatiya Sutta, Digha Nikaya 32]
mengatakan
"Tatkala itu Raja Dewa Vaiśravaṇa, beserta ratusan, ribuan, tak terhitung yakṣa pengiringnya, datang bersama-sama ke tempat Buddha di waktu jaga pertama di malam hari. Ia memancarkan cahaya cemerlang yang menerangi seluruh kawasan Hutan Jeta, lalu bersujud dengan kelima anggota tubuhnya menyentuh tanah di bawah kaki Bhaga-van, berdiri di satu sisi, berañjali menghadap Buddha, dan memuji dengan gāthā:
"Hormat bagi Yang Teragung Tanpa Ketakutan,
Saṃbuddha yang terunggul di antara makhluk berkaki-dua.
Para dewa, dengan mata dewanya,
tidak dapat melihat makna (Kebenaran)
 [seperti yang Kauamati].
Kepada para Buddha di masa lampau, sekarang, dan akan datang,
Pemimpin yang Penuh Kasih-Sayang dari ketiga masa,
— ya, kepada para Samyaksaṃbuddha ini satu per satu —
kini aku pergi berlindung dan menyembah."
Di dalam bait-bait ini, adalah pertanyaan mengenai Buddha di sepuluh penjuru. Sang Raja Dewa bersujud pada Buddha di tiga masa; dan khususnya, beliau berlindung pada Buddha Sakyamuni. Jika Buddha di sepuluh penjuru sejatinya tidak ada, beliau hanya akan berlindung di dalam Buddha Sakyamuni dan beliau tidak akan mengatakan apapun mengenai Buddha lain di masa lalu, masa depan, dan masa kini. Inilah kenapa kita menyetujui keberadaan Buddha di sepuluh penjuru.

3) Lebih jauh, jika ada, di masa lalu, Buddha yang jumlahnya tak terhitung, jika akan ada, di masa depan, Buddha yang jumlahnya tak terhitung, maka haruslah ada, di masa sekarang, tak terhitung banyaknya Buddha.

4) Lebih jauh, jika, di dalam teks sravaka, Buddha  mengatakan mengenai Buddha-Buddha yang tak terbilang dan tak terhitung jumlahnya di sepuluh penjuru, makhluk-makhluk akan mengatakan: "Karena para Buddha adalah sangat mudah ditemukan, tidaklah perlu untuk rajin dan giat untuk mencari pembebasan. Jika kita tidak bertemu Buddha yang ini, kita akan menemukan Buddha lain nanti."
Karena kemalasan (kausidya) mereka tidak akan dengan tekun mengejar pembebasan mereka. Seekor rusa yang belum pernah ditembak panah tidak mempunyai rasa takut; tetapi setelah sudah dipanah, ia akan kabur [ketika melihat pemburu]. Dengan cara yang sama, orang-orang yang sudah mengetahui penderitaan usia tua, sakit, dan kematian dan yang telah mendengar bahwa hanya ada satu Buddha yang sangat jarang ditemukan, akan merasa takut, berusaha dengan penuh semangat, dan dengan cepat keluar dari penderitaan.
Inilah kenapa di teks sravaka, Buddha tidak mengatakan mengenai keberadaan para Buddha di sepuluh penjuru, tapi juga tidak mengatakan bahwa mereka tidak ada.

5) Jika Buddha di sepuluh penjuru [ternyata benar-benar] ada dan anda menyangkal keberadaan mereka, anda telah melakukan kesalahan yang hukumannya tanpa jeda (anantaryapatti)
Di lain pihak, jika Buddha di sepuluh penjuru [ternyata] tidak ada, tetapi saya menyetujui keberadaan mereka hanya untuk menciptakan ide Buddha yang jumlahnya tanpa batas (apramanabuddhasamjna), saya mendapatkan kebajikan dari menghormat kepada mereka (satkarapunya). Mengapa demikian?
Karena adalah niat baik (kusalacitta) yang menghasilkan kebajikan besar. Maka, di dalam samadhi cinta kasih (maitricittasamadhi), seseorang memikirkan semua makhluk dan mengharapkan mereka semua bahagia; walaupun tidak ada manfaat nyata untuk makhluk-makhluk [yang dipikirkan jadi bahagia], orang yang memikirkan dengan cara ini mendapatkan banyak kebajikan. Demikian juga sama [dengan orang yang memikirkan] ide mengenai Buddha di sepuluh penjuru.
Jika Buddha di sepuluh penjuru benar-benar ada dan seseorang menyangkal keberadaan mereka, seseorang melakukan sebuah kesalahan besar dari menyerang semua Buddha di sepuluh penjuru. Kenapa? Karena seseorang menyerang sesuatu yang benar.
Orang itu tidak melihat dengan organ mata (mamsacaksus); tetapi jika dia menyatakan keberadaan mereka [Buddha-Buddha di sepuluh penjuru], kebajikannya (punya) adalah besar.
Sebaliknya, jika dia secara mental menyangkal keberadaan mereka, karena Buddha-Buddha ini nyatanya ada, kesalahan (apatti) dia sangatlah buruk.
Jika, kemudian, orang itu harus mempercayai keberadaan [Buddha di sepuluh penjuru[ dari cahaya mereka sendiri, kenapa dia kemudian tidak seharusnya percaya pada mereka, ketika Buddha sendiri sudah menyatakan keberadaan Buddha-Buddha ini di dalam Mahayana?