Sila Bodhisattva, 18 Pelanggaran Utama, versi tradisi Tibet.
Kumpulan kutipan sumber akar.
Kumpulan sumber akar untuk 18 Pelanggaran Utama (Parajika) yang mematahkan Sila Bodhisattva
1. Memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain
Dikarenakan kemelekatan kuat terhadap materi dan reputasi, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain adalah sebuah pelanggaran utama seorang bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Karena kemelekatan untuk mendapatkan keuntungan dan ketenaran, Engkau memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
Memuji kualitas diri sendiri dengan harapan mendapatkan keuntungan, reputasi, dan pujian, serta mencemarkan nama orang lain. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, seorang bodhisattva pemula mungkin adalah seorang munafik, memikirkan satu hal tetapi mengklaim hal lain. Mereka juga mungkin menyebarkan dan menulis ajaran Mahayana, dan demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan mereka mungkin melafalkan bait-bait tersebut, mengulang, menghapal, membaca, dan menjelaskan mereka, dan bahkan mengajarkan pada orang lain hal-hal yang mereka hanya dengar sebelumnya, mengatakan, "saya adalah pengikut Mahayana; tetapi orang lain bukan."
Karena mereka mencari keuntungan dan kehormatan, mereka menjadi cemburu dan marah ketika orang lain dihargai dan dihormati. Menyebut nama orang lain, mereka merendahkan, menghina, dan menjelek-jelekkan orang lain, dan malah memuji diri sendiri. Karena kecemburuan, mereka mengatakan, "Saya mempunyai kualitas unggul."
Perbuatan ini adalah pelanggaran dan membuat mereka kehilangan kebahagiaan dari Mahayana. Maka ini dipandang sebagai pelanggaran yang sangat serius yang membawa kelahiran di alam rendah. Analoginya adalah seperti sekelompok orang yang ingin pergi ke pulau permata dan mengarungi samudera luas dengan perahu, tetapi perahu tersebut hancur di tengah lautan. Dengan cara yang sama, walaupun para bodhisattva pemula ini ingin menyebrangi samudera luas Mahayana, mereka menghancurkan perahu keyakinan mereka dan berpisah dari kekuatan penting kebijaksanaan ketika mereka berbohong karena iri hati. Karena itu, bodhisattva pemula melakukan pelanggaran yang sangat berat ketika mereka berbohong karena iri hati. (Akasagarbha Sutra)
Ada empat prinsip yang, ketika ditemukan dalam seorang bodhisattva, menjaganya dari penyimpangan sehingga ia bisa terus maju ke tujuan....., kebanggaannya terkikis, ia meredam kecemburuan dan keserakahan, ketika ia melihat kesuksesan orang lain pikirannya dipenuhi kebahagiaan. (Manjusribuddhakshetragunavyuhalankara Sutra)
2. Tidak memberi harta atau dharma
Mempunyai benda-benda dan ketika memilikinya, dikuasai oleh kemelekatan, karena kekerasan hati menolak untuk memberikan benda materi pada pemohon yang terlantar, yang tidak memiliki makanan, pelindung, pendukung, dan yang memohon dengan cara yang benar, atau menolah untuk membagikan ajaran Dharma kepada mereka yang tertarik pada Dharma dan yang memintanya dengan cara yang benar dikarenakan kepelitan mengenai Dharma, adalah perbuatan pelanggaran utama bagi bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Bagi mereka yang kesusahan karena tidak memiliki pelindung, didorong oleh kekikiran, tidak memberikan kekayaan ataupun Dharma. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
3. Menolak permintaan maaf seseorang atau; karena marah menyerang orang lain.
Seorang bodhisattva, tidak mengurangi kemarahannya tetapi malahan membiarkan klesha meningkat dan mengucapkan perkataan kejam, dan setelah dikuasai kemarahan, memukul makhluk hidup lain dengan tangan kosong, batu, atau tongkat, melukai mereka atau menyakiti mereka dengan cara apapun, dan ketika orang lain meminta maaf, hanya membuat kekesalannya meningkat, tidak mendengarkan, tidak menerima [permintaan maaf], dan tidak melepaskan kemarahannya – adalah sebuah pelanggaran utama seorang bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Tidak mendengarkan orang lain walaupun mereka meminta maaf, dan karena kemarahan menyerang orang lain. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
4. Menyangkal Mahayana dan menyebarkan doktrin keliru
Menyangkal kumpulan sutra-sutra bodhisattva, berdasarkan inisiatif sendiri atau mengikuti contoh seseorang; membaktikan diri pada doktrin keliru, menghormati doktrin keliru, menjelaskan doktrin keliru, dan mendesak orang lain untuk mempraktikkan doktrin keliru tersebut, adalah sebuah pelanggaran utama bagi bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Menyangkal ajaran Mahayana dan menyebarkan doktrin-doktrin yang menyesatkan. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
Terpengaruh oleh klesha diri sendiri atau orang lain, menjelaskan doktrin-doktrin keliru. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
5. Mencuri milik Triratna.[/b]
Mengambil apa yang menjadi milik Sang Triratna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Bodhisattva Maitreya bertanya, "Yang Terberkahi, makhluk hidup yang ternoda oleh pelanggaran utama kehilangan akar kebajikan mereka dan ditakdirkan untuk lahir di alam rendah. Mereka berada dalam keadaan 'terkalahkan' dan akan kehilangan kebahagiaan dewa dan manusia. Tetapi putra keluarga berbudi ini membawa makhluk-makhluk ini untuk mendapatkan kebahagiaan alam tinggi dan pembebasan. Apakah tepatnya pelanggaran-pelanggaran ini?"
Yang Terberkahi menjawab, "Putra keluarga berbudi, ada lima pelanggaran utama untuk seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan. Dengan melakukan yang manapun dari pelanggaran utama ini, seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan akan kehilangan semua akar kebajikan yang sebelumnya telah dihimpun, dan akan berada dalam keadaan 'terkalahkan'. Orang tersebut akan kehilangan kebahagiaan dewa dan manusia, dan akan pergi ke alam rendah.
Apakah lima pelanggaran ini? Putra keluarga berbudi, untuk seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan, mencuri dari tempat pemujaan (stupa), mencuri dari apa yang telah dipersembahkan pada Sangha lokal ataupun Sangha di empat penjuru, atau mendorong orang lain untuk mencuri hal itu; ini adalah pelanggaran utama pertama [bagi ksatria]."
"Maitreya, pelanggaran bagi seorang Menteri juga ada lima. Apakah lima ini? Mencuri dari tempat pemujaan (stupa), atau mencuri dari apa yang telah dipersembahkan pada Sangha di empat penjuru; adalah pelanggaran utama pertama bagi seorang Menteri." (Akasagarbha Sutra)
6. Menolak Dharma yg murni
Menolak Dharma suci Sang Muni. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
"Memaksa seseorang untuk meninggalkan Dharma, apakah itu instruksi mengenai pembebasan pasti Shravaka, instruksi mengenai pembebasan pasti Pratyekabuddha, atau instruksi mengenai pembebasan pasti Mahayana, dan juga menciptakan halangan terhadap Ajaran, atau menyembunyikan mereka; semua ini adalah pelanggaran utama kedua [bagi ksatria]."
"Lebih jauh lagi, bagi seorang Menteri, memaksa seseorang untuk meninggalkan Dharma, apakah itu instruksi mengenai pembebasan pasti Shravaka, instruksi mengenai pembebasan pasti Pratyekabuddha, atau instruksi mengenai pembebasan pasti Mahayana, dan juga menciptakan halangan terhadap Ajaran, atau menyembunyikan mereka; ini adalah pelanggaran utama ketiga [bagi Menteri]" (Akasagarbha Sutra)
"Di dalam kitab suci Sarvadharmavaipulyasamgraha Sutra ada satu lagi kejahatan yang diuraikan:
"Halus, O Manjusri, halangan bagi kebajikan yang datang dari menolak Dharma. Dalam satu kasus seseorang memuji prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Tathagata, sementara di kasus lain dia mengatakan celaan; dia menolak Dharma. Dengan melakukannya, dia menolak Sang Tathagata, dan menolak Dharma, dan melecehkan Sangha. Orang tersebut yang berkata [tentang Dharma], 'aturan ini sesuai, yang itu tidak sesuai' benar-benar menolak Dharma.
Saya tidak pernah membabarkan Dharma dalam bagian-bagian terpisah, satu untuk Kendaraan Shravaka, satu untuk Kendaraan Pratyekabuddha, satu untuk Kendaraan Agung. Karena itu mereka adalah anak-anak kebingungan yang membuat pemisahan seperti ini dalam Dharma-Ku, dengan mengatakan 'Ini masuknya ke Kendaraan Shravaka, yang itu ke Kendaraan Pratyekabuddha, dan yang itu milik Kendaraan Bodhisattva.' Dia yang mengatakan ini menolak Dharma dengan menyatakannya sebagai terbagi-bagi. Demikian pula orang yang mengatakan, 'Poin Dharma ini adalah masuk kategori Disiplin Bodhisattva, poin berikutnya tidak.' (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
7. Menyita jubah, atau menyerang, atau memenjarakan, atau memaksa lepas jubah seorang bhiksu.
Menyita jubah seorang bhiksu, menyerang dirinya, memenjarakan atau mengurungnya, memecatnya, walaupun dia seorang bhiksu yang tidak menjaga ikrar dengan baik. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Mengambil dengan paksa jubah kuning dari mereka yang demi Buddha telah mencukur rambut dan jangut mereka dan memakai jubah kuning – apakah mereka menjaga sila atau tidak, apakah mereka menjalankan disiplin (vinaya) atau tidak – sehingga membuat mereka menjadi perumahtangga; menerapkan hukuman fisik pada mereka, memenjarakan mereka, atau membunuh mereka; semua ini adalah pelanggaran utama ketiga [bagi seorang Ksatria]
Lebih jauh lagi, bagi seorang Menteri, menyakiti mereka yang telah menerima penahbisan dengan [di dalam Dharma dan Vinaya] Sang Bhagava, apakah mereka menjaga sila atau tidak, apakah mereka menjalankan disiplin (vinaya) atau tidak, mengambil paksa jubah kuning mereka sehingga membuat mereka menjadi perumahtangga, menghukum mereka secara fisik, memenjarakan mereka atau mengambil nyawa mereka; semua ini adalah pelanggaran utama keempat [bagi seorang Menteri] (Akasagarbha Sutra)
Lagi, di dalam kitab suci Kshitigarbha ditulis:
"O Brahma perkasa, dia yang telah ditahbiskan dalam nama-Ku, tetapi telah jatuh ke dalam jalur kejahatan dan tak bermoral, dan walaupun terkenal sebagai seorang Bhiksu tetapi adalah manusia kosong, bukan samana sesungguhnya walaupun berpura-pura sebagai petapa, bukan orang selibat walaupun mengaku selibat, pecah, jatuh, dikalahkan oleh banyak kesalahan, walaupun demikian bhiksu tersebut yang jahat dan berdosa dapat saja sampai hari ini menjadi pengajar bagi dewa dan manusia, yea, bagi semua yang adalah wadah kebajikan, dia mungkin saja menjadi Kalyanamitra [Guru].
Dan di setiap saat dia adalah objek yang tidak pantas. Tetapi karena tiada rambut di kepala dan dagunya, karena penampilannya yang memakai jubah kuning, walaupun ini dilakukan hanya untuk berpura-pura, dia mungkin saja masih menumbuhkan akar kebajikan pada teman-temannya dan menunjukkan mereka jalan menuju keselamatan. Karena itu, siapapun yang telah ditahbiskan dalam namaku, apakah mereka bajik atau tidak, dalam kasusnya Aku tidak mengizinkan kaisar atau raja, bahkan yang berpihak pada keadilan, untuk melakukan pada orang ini mencambuknya, atau memenjarakannya, atau memotong anggota tubuhnya, atau menghukum mati dia; apalagi yang tidak adil.
Di kitab yang sama dikatakan: "Siapapun yang melukai orang yang telah ditahbiskan dalam nama Buddha dan berada dalam Jalan Pencerahan atau wadah ajaran menuju pencerahan, mereka menjadi pelanggar besar di mata semua Buddha di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan; akar kebajikan mereka terbuang dan himpunan kebajikannya terbakar habis; dan mereka berada dalam jalan menuju neraka." (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Di dalam Pravrajyantaraya Sutra lagi sebuah kejahatan diulas:
"Ada empat hal, O Mahanama, yang jika dilakukan seorang perumahtangga, dia akan terlahir di waktu yang tidak menguntungkan. Yaitu dia akan terlahir buta, atau bodoh, atau bisu, atau sebagai Candala....... hermaprodit, kasim, budak permanen, wanita, anjing, babi, keledai, unta, atau ular berbisa. Apa saja empat ini?
Kasus pertama, Mahanama, seorang perumahtangga menghalangi pikiran untuk meninggalkan keduniawian, atau untuk menerima pentahbisan, atau mengikuti Jalan Mulia yang telah dibabarkan oleh Buddha di masa lalu terhadap makhluk lain. Ini adalah hal pertama.
Lagi, seorang perumahtangga karena kemelekatan pada harta kekayaan atau kemelekatan pada anaknya, tidak meyakini hukum karma, menyebabkan halangan pada pentahbisan anak lelaki, anak perempuan, istri, atau pada anggota keluarganya, karena posisinya sebagai kepala rumah tangga. Inilah hal kedua.
Ada dua lainnya: Melecehkan Dharma, dan kemarahan terhadap petapa dan brahmana. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
8. Melakukan lima perbuatan keji.
Melakukan lima kejahatan besar. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, seorang ksatria melakukan pelanggaran utama keempat dengan melakukan salah satu dari lima kejahatan besar ini: dengan sengaja membunuh ibu sendiri, membunuh ayah, membunuh shravaka, arahat, atau Sang Bhagava; memecah belah Sangha; atau dengan sengaja dan dengan niat jahat menyebabkan seorang Tathagata, Arahat, Buddha yang tercerahkan lengkap sempurna berdarah.
......
Terakhir, bagi seorang Menteri untuk melakukan satu atau lebih dari lima kejahatan besar adalah pelanggaran utama kelima. (Akasagarbha Sutra)
9. Menganut pandangan salah
Berpegang pada pandangan yang salah. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
"Lebih jauh, jika seorang Ksatria mendukung filosofi ketiadaan sebab dan akibat, menyangkal keberadaan kehidupan mendatang, memeluk sepuluh perbuatan tidak bajik dan menjalankannya, dan juga mempengaruhi banyak orang lain untuk mengikuti sepuluh perbuatan tidak bajik, memanipulasi mereka, menyemangati mereka dan membawa mereka untuk melakukannya; perbuatan ini adalah pelanggaran utama kelima [bagi Ksatria] (Akasagarbha Sutra)
10. Menghancurkan desa dan kota dan sebagainya
Menghancurkan sebuah tempat atau wilayah. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Menghancurkan sebuah desa, wilayah, atau kota, adalah pelanggaran utama kedua [bagi Menteri] (Akasagarbha Sutra)
11. Menjelaskan sunyata kepada mereka yang tidak siap.
Menjelaskan kesunyataan kepada mereka yang belum siap mendengarkannya. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Ada makhluk-makhluk yang lahir di dunia yang penuh gangguan dan lima ketidakmurnian karena mereka melakukan perbuatan jahat di masa lampau. Mereka bertumpu pada seorang sahabat spiritual dan mendengarkan ajaran Mahayana yang paling mendalam, dikarenakan adanya akar kebajikan kecil yang mereka miliki. Walaupun mereka melakukannya dengan sedikit pengertian, para putra keluarga baik ini membangkitkan aspirasi untuk mencapai pencerahan lengkap sempurna yang tak tertandingi.
Beberapa bodhisattva pemula diantara mereka mendengarkan kumpulan sutra yang menjelaskan kekosongan yang terdalam, membaca dan menuliskannya. Di hadapan makhluk-makhluk lain yang mengertinya sama sedikitnya dengan yang disebutkan sebelumnya, mereka mengulang sutra-sutra ini dengan rinci dalam kata-kata dan makna, sebagaimana mereka telah dengar dan pahami.
Ketika makhluk-makhluk biasa yang tidak matang, yang belum menjalani latihan keras, mendengar sutra yang amat dalam tersebut, mereka menjadi sangat takut dan ngeri. Karena mereka takut, mereka berbalik dari [aspirasi untuk] mencapai pencerahan yang lengkap sempurna yang tak tertandingi, dan beraspirasi untuk [memasuki] kendaraan shravaka. Ini adalah pelanggaran akar pertama bagi seorang bodhisattva pemula.
Putra keluarga berbudi, karena pelanggaran akar ini, mereka akan kehilangan akar kebajikan yang sebelumnya telah mereka dapatkan. Mereka akan berada dalam keadaan 'terkalahkan' dan akan kehilangan kebahagiaan kelahiran alam tinggi dan kebahagiaan kebebasan. Mereka akan mengkhianati bodhicitta mereka, batin pencerahan, dan pergi ke alam rendah.
Misalnya seperti ini. Sama halnya, contohnya, seseorang mengarungi lautan luas dalam tahap-tahap, dengan cara yang sama bodhisattva juga harus pertama-tama mengetahui [kapasitas] makhluk lain, kecenderungan mereka dan sifat-sifat mereka. Sesuai dengan watak dan kecenderungan bodhisattva pemula lain, mereka harus mengajarkan dharma langkah demi langkah. (Akasagarbha Sutra)
12. Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana
Mengalihkan tujuan seseorang yang hendak mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, beberapa bodhisattva pemula mungkin mengatakan pada beberapa orang:
"Engkau tidak mampu untuk menerapkan latihan enam kesempurnaan (paramita). Engkau tidak dapat mewujudkan dan dengan lengkap merealisasi pencerahan lengkap sempurna yang tiada banding. Karena itu, cepat-cepatlah alihkan pikiranmu kepada kendaraan Shravaka atau kendaraan Pratyekabuddha dan engkau akan dengan segera dengan pasti terbebaskan dari samsara."
Mengatakan kata-kata ini adalah pelanggaran akar kedua bagi bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)
13. Menyebabkan orang lain melepaskan Ikrar Pratimoksa mereka dan memasuki Mahayana
Menyebabkan seseorang sepenuhnya melepaskan Ikrar Pratimoksa dan memasuki Mahayana, [sebagai pengganti disiplin sila dan vinaya]. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, beberapa bodhisattva pemula mungkin mengatakan pada beberapa orang:
"Oh, apa gunanya melatih vinaya pembebasan pribadi, disiplin moral, dan perilaku baik? Engkau seharusnya segera membangkitkan pikiran yang beraspirasi untuk pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada banding dan mempelajari Mahayana. Kemudian, bahkan tindakan jahat paling kecil yang telah engkau lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran karena didorong oleh klesha akan dimurnikan, dan mereka tidak akan berbuah."
Mengatakan kata-kata ini adalah pelanggaran akar ketiga bagi bodhisattva pemula. . (Akasagarbha Sutra)
14. Meremehkan Kendaraan yang lebih kecil dan menyebabkan orang lain berperilaku demikian.
Mempertahankan pandangan bahwa Kendaraan-kendaraan praktisi yang masih berlatih tidak memungkinkan seseorang untuk mengatasi kemelekatan dan seterusnya, dan menyebabkan orang lain memiliki pandangan yang sama. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, putra keluarga baik, seorang bodhisattva pemula mungkin akan berkata : "Putra berbudi, hindarilah ajaran-ajaran dari kendaraan shravaka! Jangan mendengarkannya, jangan membacanya, dan jangan mengajarkannya pada orang lain. Putra berbudi, hindarilah ajaran kendaraan shravaka! Mereka (ajaran shravaka) adalah alasan penyebab anda tidak mampu mendapatkan hasil yang unggul, penyebab anda tidak dapat menghapuskan noda batin. Maka, yakinlah pada ajaran-ajaran Mahayana. Dengarkanlah, pelajarilah, dan ajarkanlah ajaran-ajaran Mahayana. Dengan demikian maka anda tidak akan pergi menuju ke alam rendah, anda tidak akan memasuki jalan menuju alam rendah, dan dengan cepat anda akan mencapai keadaan pencerahkan lengkap sempurna yang tak tertandingi."
Jika kata-kata ini diucapkan dan sang pendengar berbuat seperti yang diinstruksikan dan mengambil pandangan seperti demikian, maka kedua tindakan tersebut menyebabkan pelanggaran akar. Ini adalah pelanggaran akar ke-4 dari bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)
15. Dengan sengaja, keliru menyatakan telah mencapai realisasi, misalnya sunyata.
Berbohong menyatakan, "saya telah menembus kebenaran tertinggi" [kesunyataan]. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, putra keluarga baik, di masa depan akan ada bodhisattva pemula, perumah tangga atau ditahbiskan (sebagai anggota sanggha), yang akan membaca, mengulang, dan melafalkan sutra yang mengandung makna mendalam tentang kekosongan. Sutra - sutra mahayana ini adalah objek pengertian bagi bodhisattva yang hanya membutuhkan sedikit usaha, dan yang adalah makhluk dengan kecerdasan agung, dihiasi <telah mencapai> dharani, kesabaran, konsentrasi meditatif, dan tahapan (tingkat bodhisattva)
Setelah mengulang mereka (sutra-sutra), mereka mengajarkan sutra-sutra ini dengan luas pada orang lain. Mereka berkata, "Aku telah memahami ajaran ini dengan kecerdasanku sendiri; Aku mengajarkannya padamu dengan cara ini karena aku berwelas asih. Maka kamu harus bermeditasi pada Dharma yang mendalam ini supaya kamu dapat melihatnya secara langsung dan kamu juga akan dapat melihat kebijaksaan primordial, seperti yang dapat kulakukan sekarang"
Bukannya mengatakan, "Aku belum mencapai Dharma yang paling mendalam ini, tetapi mengajarkannya hanya dengan membacakannya", mereka mempromosikan diri mereka sendiri demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan. Maka, di mata para Tathagata, Arahat, Buddha Yang Tercerahkan Sempurna di tiga masa, para Bodhisattva Mahasattva, dan makhluk-makhluk suci, mereka telah ternoda oleh kesalahan. Sebuah pelanggaran berat telah terjadi. Setelah menipu para dewa dan manusia dengan menggunakan Mahayana, bagi para bodhisattva tersebut bahkan tidak akan ada kendaraan shravaka yang diajarkan Buddha , apalagi untuk Mahayana, atau realisasi khusus yang menjadi pintu gerbang memasuki Mahayana, atau pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada tara.
"Analoginya adalah seperti seseorang yang mengembara di daerah liar terpencil, dimana dia menderita karena kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Dia kemudian mendekati sebuah pohon, ingin memakan buahnya. Tetapi, mengabaikan pohon dengan aroma wangi dan buah yang enak, ia malah memanjat pohon beracun yang berbuah tanpa rasa, dan memakan buah beracun. Dengan melakukan itu dia menyebabkan kematiannya sendiri. Bodhisattva pemula yang melakukan pelanggaran keenam dikatakan seperti orang di analogi ini"
"Maka, jika bodhisattva pemula yang telah mendapatkan kelahiran sebagai manusia yang sulit didapatkan ini tinggal dengan seorang teman spiritual dan berharap memasuki mahayana, tetapi malah memuji diri sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain demi mendapatkan keuntungan, kehormatan, dan popularitas, mereka melakukan pelanggaran serius. Karena pelanggaran akar ini, semua orang bijaksana akan mengkritik mereka dan mereka akan pergi ke alam rendah. Tidak ada ksatria, brahmana, waisya, atau sudra yang akan mengandalkan orang demikian. Siapapun yang mengandalkan orang demikian pastilah tidak bijaksana. Ini adalah pelanggaran akar keenam dari bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)
16. Menerima sesuatu yang dicuri dari Triratna. Atau mendenda / menghukum seorang bhiksu
Menjatuhkan denda kepada praktisi-praktisi yang mengambil penahbisan dan menerima apa yang telah dipersembahkan atau yang tadinya hendak dipersembahkan kepada Sang Triratna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, putra berbudi, di masa depan para raja (Ksatria) akan mempunyai Menteri dan Penasehat yang jahat, prajurit yang jahat, dan tabib yang jahat – orang-orang dungu yang kaya dan berkuasa, yang bangga dengan keahliannya. Terlihat melibatkan diri dalam banyak perbuatan bajik seperti berdana, mereka akan menjadi sombong dan angkuh karena perbuatan memberi mereka.
Didorong oleh arogansi dan kesombongan, mereka akan menyebabkan perpecahan diantara Ksatria, dan juga perpecahan diantara monastik dan Ksatria. Didukung oleh Ksatria, mereka bahkan akan menghukum para praktisi yang ditahbiskan, merampok mereka dengan cara menjatuhkan denda. Lalu, karena dianiaya demikian, para praktisi yang ditahbiskan ini akan mencuri dari siapapun, atau sangha lokal, atau sangha di empat penjuru, dan tempat pemujaan (stupa) manapun, dan memberi apa yang mereka telah curi untuk membayar denda.
Dan orang-orang jahat ini kemudian akan mempersembahkan uang /barang-barang ini kepada Ksatria. Kedua tindakan ini menjadi pelanggaran utama. Ini adalah pelanggaran utama ketujuh [bagi bodhisattva pemula]. (Akasagarbha Sutra)
17. Membuat peraturan yang memberatkan atau membahayakan
Menyebabkan seseorang meninggalkan meditasi ketenangan batin dan menyerahkan benda-benda milik ahli meditasi kepada mereka yang melafalkan doa-doa.
Ini adalah pelanggaran-pelanggaran utama, sebab-sebab bagi makhluk untuk terlahir kembali di neraka besar. Akuilah kesalahan-kesalahan ini dalam mimpi, dengan berdiri di hadapan Arya Akashagarbha. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, para Ksatria jahat ini bersama-sama dengan praktisi monastik melakukan pelanggaran seperti ini. Mereka menyatakan Dharma yang murni sebagai bukan Dharma, dan mengatakan apa yang bukan Dharma sebagai Dharma, sehingga meninggalkan Dharma sejati. Mereka tidak menjaga disiplin sila dari sutra dan vinaya, tidak juga mereka menjalankan ajaran luar (Tirthika), tidak juga ajaran agung (Buddhadharma).
Setelah meninggalkan latihan mereka dalam cinta kasih (metta), welas asih agung (mahakaruna), dan penyempurnaan kebijaksanaan (prajnaparamita), dan juga latihan mereka dalam cara mahir (upayakausalya) dan latihan-latihan yang diajarkan di dalam sutra-sutra, mereka menetapkan tugas-tugas untuk komunitas monastik yang tidak berhubungan dengan aktivitas bajik [yang telah disebutkan sebelumnya] demi merugikan para bhiksu.
Karena tugas-tugas seperti itu telah ditetapkan, para bhiksu dirugikan. Mereka meninggalkan praktek meditasi ketenangan batin (samatha) dan pandangan terang (vipasyana). Niat-niat jelek meningkat di dalam diri para meditator itu, dan sebagai hasilnya mereka tidak dapat menenangkan emosi mereka yang belum terkendali. Karena [pikiran jelek] ini tidak teredam, para bhiksu ini merosot dalam hal motivasi, dispilin moral (sila), perilaku, dan pandangan. Karenanya, mereka menjadi lengah, dan menjadi semakin lengah lagi, dan disiplin moral (sila) mereka merosot.
Walaupun mereka bukan [lagi] seorang monastik, mereka berpura-pura [masih] menjadi monastik, dan walaupun mereka tidak menjalankan kehidupan suci, mereka berpura-pura [menjalankannya]. Mereka serupa keledai, dan mereka menjelaskan Dharma dengan sangat jelas. Ketika mereka telah dihormati dan dimuliakan besar-besaran oleh para Ksatria dan pengikutnya dan telah menerima persembahan mereka, mereka [bhiksu jahat itu] mengkritik, di depan para perumahtangga, bhiksu-bhiksu yang mempraktekkan meditasi dengan rajin.
Dan para Ksatria beserta rombongan pengikutnya menjadi marah pada bhiksu-bhiksu yang rajin bermeditasi, dan menghina mereka.
Jika sokongan dan benda-benda materi yang seharusnya diberikan kepada bhiksu-bhiksu yang rajin mempraktekkan meditasi [malah kemudian] dipersembahkan kepada bhiksu-bhiksu yang melafalkan doa-doa, pada poin ini, maka kedua tindakan [dari monastik dan penderma] menjadi pelanggaran utama. Mengapa? Karena bhiksu yang melatih meditasi adalah orang suci, tetapi mereka yang hanya melafalkan doa dan mengajar orang lain tidak. Para bhiksu yang bermeditasi telah menjadi wadah bagi konsentrasi meditatif, dharani, kesabaran, dan tahapan.
Mereka telah menjadi makhluk suci yang pantas untuk menerima persembahan; mereka telah menjadi wadah suci. Mereka menyinari dunia dan menunjukkan jalan, membebaskan makhluk-makhluk dari dunia karma dan klesha dan menempatkan mereka pada Jalan menuju akhir penderitaan.
Putra berbudi, karena mereka tidak mempunyai rasa bersalah pada tindakan tersebut dan tidak takut pada akibatnya, ini adalah pelanggaran utama kedelapan bagi bodhisattva pemula. Ketika bodhisattva pemula melakukan pelanggaran-pelanggaran ini, mereka kehilangan semua akar kebajikan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Mereka telah menjadi 'terkalahkan', akan kehilangan kebahagiaan alam-alam tinggi dan kebahagiaan pembebasan, dan telah menipu diri mereka sendiri. (Akasagarbha Sutra)
18. Meninggalkan bodhicitta
Meninggalkan batin pencerahan. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Singkatnya, hanya ada dua hal yang menyebabkan seseorang kehilangan ikrar etika bodhisattva otentik yang telah diambil: sepenuhnya meninggalkan aspirasi untuk mencapai pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada tara; dan melakukan perbuatan yang serupa dengan 'kekalahan' (parajika) dengan faktor- faktor pengikat. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Bodhisattva Nyanajina bertanya kepada Buddha, "Bhagavan, kapankah seorang Bodhisattva disebut melakukan pelanggaran?"
Buddha memberitahukan kepada Bodhisattva Nyanajina, "Putra yang berbudi, jika seorang Bodhisattva menganut Dharma dari para Shravaka dan Pratyekabuddha, maka ia telah melakukan pelanggaran berat, walaupun ia telah menjalankan Pratimoksa, hanya makan buah-buahan dan rumput-rumputan selama ratusan ribu kalpa dan bisa tabah menerima baik pujian maupun celaan dari mahkluk hidup. Putra yang berbudi, seperti halnya kaum Shravaka tidak bisa mencapai Nirvana dalam kehidupan ini apabila mereka melakukan pelanggaran berat, maka demikian juga Bodhisattva tidak akan memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi apabila mereka tidak menghilangkan Dharma Shravaka dan Pratyekabuddha yang telah dianut, tidak melepaskannya dan tidak menyesali perbuatannya. Adalah tidak mungkin bagi Bodhisattva ini untuk mendapatkan Buddhadharma [selama ia tetap berpikiran seperti itu]. (Upayakausalya Sutra)