Forum Dhammacitta

Topik Buddhisme => Buddhisme untuk Pemula => Topic started by: hariyono on 05 November 2009, 06:52:54 PM

Title: Debat
Post by: hariyono on 05 November 2009, 06:52:54 PM
Jika kita bertindak dan berbicara keras ketika kita pikir bahwa diri kita benar , masalah apa yang akan muncul ?

Ketika kita pikir bahwa diri kita benar , kita tidak berhenti berbantah sampai kita menang .
Jika kita mendesak terlalu kuat , kita merusak persahabatan kita dengan orang lain .
Ungkapan bahwa " mereka yang memegang kebenaran tidak harus mengampuni orang lain "
berati bahwa kita terus berbantah mati-matian ketika kita pikir diri kita benar ,
karena kita melekat pada prinsip kita sendiri .
Namun ,
ini keliru,
karena inilah cara makhluk hidup menciptakan karma buruk .
Semua makhluk harus kita pertimbangkan .
Ketika kita menapaki jalan pengembangan bathin ,
kita juga harus membiarkan mahkluk hidup lain mengembangkan karma baik .
Oleh karena itu ,
Ketika keadilan ada di pihak Anda , Anda harus berbicara lembut .

sadhu. sadhu. sadhu.
Title: Re: Debat
Post by: Peacemind on 05 November 2009, 07:59:41 PM
Benar sekali... Selain itu, anggapan bahwa diri kita yang paling benar yang mana acap kali menimbulkan perdebatan muncul sesungguhnya karena kemelekatan kita terhadap pandangan tertentu. Perdebatan yang berakar pada kemelekatan ini bukan hanya menjadi penyebab bertambahnya kamma buruk, tapi juga sering memicu konflik sosial dan yang paling penting, perdebatan semacam ini menjadi batu penghalang bagi kemajuan batin kita dalam menuju pembebasan sejati.

Be happy.
Title: Re: Debat
Post by: char101 on 05 November 2009, 09:00:32 PM
When dwelling on views
   as "supreme,"
a person makes them
the utmost thing
in the world,
&, from that, calls
all others inferior
and so he's not free
from disputes.
When he sees his advantage
in what's seen, heard, sensed,
or in precepts & practices,
seizing it there
he sees all else
as inferior.

That, too, say the skilled,
is a binding knot: that
in dependence on which
you regard another as inferior.

So a monk shouldn't be dependent
   on what's seen, heard, or sensed,
   or on precepts & practices;
nor should he conjure a view in the world
   in connection with knowledge
   or precepts & practices;
shouldn't take himself
   to be "equal";
shouldn't think himself
   inferior or superlative.

Abandoning what he had embraced,
abandoning self, not clinging,
he doesn't make himself dependent
even in connection with knowledge;
doesn't follow a faction
among those who are split;
doesn't fall back
on any view whatsoever.

One who isn't inclined
toward either side
         — becoming or not-, here or beyond —
who has no entrenchment
when considering what's grasped among doctrines,
hasn't the least
preconceived perception
with regard to what's seen, heard, or sensed.
By whom, with what,
should he be pigeonholed
here in the world?
   — this brahman
   who hasn't adopted views.

They don't conjure, don't yearn,
don't adhere even to doctrines.

A brahman not led
by precepts or practices,
gone to the beyond
   — Such —
   doesn't fall back.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.4.05.than.html
Title: Re: Debat
Post by: char101 on 05 November 2009, 09:05:16 PM
Bukankah "penyektean" (ejaannya sudah diverifikasi oleh Guru Dhammasiri lho ;) ) bertentangan dengan sutta di atas - conjure a view in the world in connection with knowledge or precepts & practices.
Title: Re: Debat
Post by: char101 on 05 November 2009, 09:09:46 PM
"Only here is there purity"
   — that's what they say —
"No other doctrines are pure"
   — so they say.
Insisting that what they depend on is good,
they are deeply entrenched in their personal truths.

Seeking controversy, they plunge into an assembly,
regarding one another as fools.
Relying on others' authority,
they speak in debate.
Desiring praise, they claim to be skilled.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.4.08.than.html

Title: Re: Debat
Post by: dhammasiri on 05 November 2009, 09:11:47 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 09:05:16 PM
Bukankah pen-sekte-an (benar tidak ya ejaannya ;D) bertentangan dengan sutta di atas - conjure a view in the world in connection with knowledge or precepts & practices.
Ejaan yang benar adalah "Penyektean".
Title: Re: Debat
Post by: char101 on 05 November 2009, 09:12:01 PM
"Dwelling on
their own views,
quarreling,
different skilled people say:
'Whoever knows this, understands Dhamma.
Whoever rejects this, is
      imperfect.'
Thus quarreling, they dispute:
'My opponent's a fool & unskilled.'
Which of these statements is true
when all of them say they are skilled?"
"If, in not accepting
an opponent's doctrine,
one's a fool, a beast of inferior discernment,
then all are fools
of inferior discernment —
all of these
who dwell on their views.
But if, in siding with a view,
one's cleansed,
with discernment made pure,
   intelligent, skilled,
then none of them
are of inferior discernment,
for all of them
have their own views.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.4.13.than.html

Jadi kalau kita bilang orang yang tidak menerima pandangan kita bodoh maka kita juga bodoh karena tidak menerima pandangan mereka ;D
Title: Re: Debat
Post by: Yumi on 05 November 2009, 09:37:16 PM
QuoteJadi kalau kita bilang orang yang tidak menerima pandangan kita bodoh maka kita juga bodoh karena tidak menerima pandangan mereka ;D

maksudny gmn ko char?
Bs tlg terjemahin kutipan ko yg english semua di atas? Thx.
Title: Re: Debat
Post by: ian chen on 05 November 2009, 09:42:57 PM
hueeehhhh ngak mau debat lagi ahhh..... ^^
Title: Re: Debat
Post by: pannadevi on 05 November 2009, 09:48:41 PM
 [at]  Bro Ian Chen yg baik,
mohon jangan ikut2an urusan orang ya...

pls...

sebaiknya anda lewat perkenalan dlu, sebelum ditegur...(sekali lagi sorryyyyy....)
mettacittena,
Title: Re: Debat
Post by: ian chen on 05 November 2009, 09:51:02 PM
hihihihi samaneri maap yo all
Title: Re: Debat
Post by: dhammasiri on 05 November 2009, 10:45:51 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 09:05:16 PM
Bukankah "penyektean" (ejaannya sudah diverifikasi oleh Guru Dhammasiri lho ;) ) bertentangan dengan sutta di atas - conjure a view in the world in connection with knowledge or precepts & practices.
Wah jangan begitu dong. Kita di sini sama-sama belajar. Tidak ada yang jadi guru dan tidak ada yang jadi murid. Karena mulanya anda bertanya tentang ejaan yang benar ya, saya beritahu apa yang saya tahu.
Thanks
Title: Re: Debat
Post by: char101 on 05 November 2009, 11:00:45 PM
 [at] Yumi, berikut terjemahan saya, tidak dijamin 100% benar (yah 75% paling bagus, tapi saya harap tidak mengubah arti yang sebenarnya)

Ketika memegang pandangan sebagai "yang tertinggi",
seseorang membuat pandangan-pandangan itu sebagai hal terutama di dunia,
dan berdasarkan hal itu, mengatakan hal lain sebagai lebih rendah
sehingga ia tidak lepas dari sengketa.
Ketika ia melihat keuntungan,
pada apa yang dilihat, didengar, dirasakan,
atau pada aturan dan praktek,
memegang semua hal itu,
ia melihat hal lainnya sebagai lebih rendah.

Itu juga, kata orang bijaksana,
adalah simpul ikatan: bahwa bergantung pada hal itu
kau melihat orang lain sebagai lebih rendah.

Jadi seorang bhikkhu tidak boleh tergantung
  pada apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan,
  atau pada aturan dan praktek;
juga tidak seharusnya dia membuat pandangan di dunia
  terhadap pengetahuan atau aturan atau praktek;
tidak seharusnya dia menganggap dirinya "sama";
tidak seharusnya dia menggaggap dirinya lebih rendah atau lebih tinggi/

Meninggalkan apa yang dijunjungnya,
meninggalkan diri, tidak bergantung,
ia tidak membuat dirinya tergantung
bahkan terhadap pengetahuan;
tidak mengikuti kalangan tertentu
di antara mereka yang telah terpecah;
tidak jatuh pada pandangan apapun.

Seseorang yang tidak mengarah
pada kedua pihak
    -- ada atau tidak, di sini atau di sana --
tidak memiliki celah
ketika merenungkan apa yang telah diketahui di antara ajaran-ajaran,
tidak memiliki pandangan sedikitpun
terhadap apa yang dilihat, diedengar, atau dirasakan.
Oleh siapa, dengan apa,
ia bisa dilabeli
di dunia ini?
    -- brahma ini
      yang tidak memiliki pandangan
      
Mereka tidak membuat atau menginginkan,
tidak tergantung bahkan pada ajaran.

Seorang brahma tidak dipimpin
oleh aturan atau praktek,
pergi ke seberang
    -- orang seperti itu
      tidak jatuh lagi.
      
http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.4.05.than.html

"Hanya di sini ada kesucian"
  -- itu yang mereka katakan --
"Tidak ada ajaran lain yang murni"
  -- demikian kata mereka.
Memaksakan bahwa apa yang mereka percayai adalah benar,
mereka sangat terperusuk pada kebenaran pribadi.

Mencari kontroversi, mereka datang ke tempat-tempat ramai,
melihat satu sama lain sebagai orang bodoh.
Bergantung pada pengetahuan orang lain,
mereka berbicara dalam debat.
Menginginkan pujian, mereka menyatakan diri sebagai ahli.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.4.08.than.html

"Berdiam dalam,
pandangannya sendiri,
bertengkar,
tiap-tiap akhi mengatakan:
'Siapa pun yang mengetahui ini, mengerti Dhamma.
Siapa pun yang menolah ini, memiliki kesalahan.'
Bertengkar seperti itu, mereka rusuh:
'Lawan [bicaraku] bodoh dan tidak kompeten.'
Pernyataan mana yang benar jika mereka semua mengatakan
bahwa mereka semua adalah ahli?"

"Jika, dengan tidak menerima ajaran dari pihak lain,
seseorang itu bodoh, monster dengan pengetahuan yang rendah,
maka mereka semua itu bodoh
memiliki pengetahuan yang rendah --
mereka semua
yang berdiam dalam pandangannya sendiri.
Tapi jika, ketika perpihak dengan pandangan,
seseorang itu bersih,
dengan pengetahuan murni,
pintar, ahli,
maka tidak ada yang memiliki pengetahuan yang rendah,
karena mereka semua
memiliki pandangannya masing-masing.

http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.4.13.than.html
Title: Re: Debat
Post by: char101 on 05 November 2009, 11:12:08 PM
Quote from: dhammasiri on 05 November 2009, 10:45:51 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 09:05:16 PM
Bukankah "penyektean" (ejaannya sudah diverifikasi oleh Guru Dhammasiri lho ;) ) bertentangan dengan sutta di atas - conjure a view in the world in connection with knowledge or precepts & practices.
Wah jangan begitu dong. Kita di sini sama-sama belajar. Tidak ada yang jadi guru dan tidak ada yang jadi murid. Karena mulanya anda bertanya tentang ejaan yang benar ya, saya beritahu apa yang saya tahu.
Thanks

Saya tulis Guru untuk menunjukkan interest Anda terhadap ejaan :) , tapi maaf postnya tidak bisa saya ubah lagi (tidak ada link modifynya-mungkin karena sudah diquote). Maaf juga kalau Anda merasa tidak nyaman dengan label tersebut :)
Title: Re: Debat
Post by: dhammasiri on 05 November 2009, 11:19:06 PM
Quote from: ian chen on 05 November 2009, 09:42:57 PM
hueeehhhh ngak mau debat lagi ahhh..... ^^
Jangan kuatir untuk nimbrung di sini. Tidak ada yang perlu ditakuti. Kita sama-sama belajar, kita juga sama-sama anggota forum ini. Sepanjang kita tidak melanggar norma yang ditetapkan oleh moderator, sepanjang itu pula, kita adalah anggota yang baik, patuh pada hukum forum ini.
Title: Re: Debat
Post by: Indra on 05 November 2009, 11:27:57 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 11:12:08 PM
Quote from: dhammasiri on 05 November 2009, 10:45:51 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 09:05:16 PM
Bukankah "penyektean" (ejaannya sudah diverifikasi oleh Guru Dhammasiri lho ;) ) bertentangan dengan sutta di atas - conjure a view in the world in connection with knowledge or precepts & practices.
Wah jangan begitu dong. Kita di sini sama-sama belajar. Tidak ada yang jadi guru dan tidak ada yang jadi murid. Karena mulanya anda bertanya tentang ejaan yang benar ya, saya beritahu apa yang saya tahu.
Thanks

Saya tulis Guru untuk menunjukkan interest Anda terhadap ejaan :) , tapi maaf postnya tidak bisa saya ubah lagi (tidak ada link modifynya-mungkin karena sudah diquote). Maaf juga kalau Anda merasa tidak nyaman dengan label tersebut :)

button "Modify" hilang setelah post berumur 30 menit, bukan karena quote
Title: Re: Debat
Post by: dhammasiri on 05 November 2009, 11:39:16 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 11:12:08 PM
Quote from: dhammasiri on 05 November 2009, 10:45:51 PM
Quote from: char101 on 05 November 2009, 09:05:16 PM
Bukankah "penyektean" (ejaannya sudah diverifikasi oleh Guru Dhammasiri lho ;) ) bertentangan dengan sutta di atas - conjure a view in the world in connection with knowledge or precepts & practices.
Wah jangan begitu dong. Kita di sini sama-sama belajar. Tidak ada yang jadi guru dan tidak ada yang jadi murid. Karena mulanya anda bertanya tentang ejaan yang benar ya, saya beritahu apa yang saya tahu.
Thanks

Saya tulis Guru untuk menunjukkan interest Anda terhadap ejaan :) , tapi maaf postnya tidak bisa saya ubah lagi (tidak ada link modifynya-mungkin karena sudah diquote). Maaf juga kalau Anda merasa tidak nyaman dengan label tersebut :)
ya, sudah tidak apa-apa kalau tidak dapat diubah. Lupakan itu, tapi jangan tulis guru lagi di masa yang akan datang.
Title: Re: Debat
Post by: johan3000 on 06 November 2009, 09:43:27 AM
biasanya juga ada acara

debate competition...........

jadi berdebat utk menang pun ok2 aja...
berdebat dlm pandangan/hal.... bukan orang tuanya...
Title: Re: Debat
Post by: ryu on 06 November 2009, 10:04:22 AM
PASURA SUTTA

Perselisihan Mempertahankan Pandangan -- dan Kesia-siaannya
1.    Banyak orang mengatakan bahwa kemurnian hanyalah milik mereka saja. Mereka tidak mengatakan bahwa ada pula kemurnian di dalam ajaran-ajaran lain. Mereka menyatakan bahwa ajaran yang mereka tekuni adalah yang paling hebat, sehingga secara terpisah mereka mengukuhi beranekaragam kebenaran.    (824)
2.    Mereka yang ikut berbantahan, setelah ikut bergabung, mulai berselisih dan saling menyebut 'manusia tolol'. Karena bergantung pada guru tertentu, mereka mencari pujian, dan menyebut diri mereka 'pakar'.    (825)
3.    Karena terlibat perselisihan di antara banyak orang, pendebat itu menjadi frustasi pada waktu mencari pujian bagi dirinya. Bila kalah dia menjadi terpukul, lalu mencari-cari kesalahan manusia lain, dan bila dikritik dia marah.    (826)
4.    Ketika mereka yang telah menguji pertanyaan-pertanyaannya mengatakan bahwa pembicaraannya salah, dia bersedih, meratap dan menangis dalam perselisihan-perselisihan yang tak berharga, seraya mengatakan: 'Mereka telah mengalahkan saya!'    (827)
5.    Perselisihan-perselisihan ini muncul di antara para pertapa dan akibatnya muncullah rasa gembira yang meluap-luap serta rasa tertekan. Melihat hal ini, hindarilah perselisihan. Tidak ada nilai yang terkandung kecuali pujian yang dimenangkan dengan cara itu.    (828)
6.    Dia yang dipuji di antara banyak orang --karena telah berhasil mempertahankan pandangannya-- akan dipenuhi perasaan senang dan pikirannya terbuai kegembiraan yang meluap-luap karena telah menjadi pemenang.    (829)
7.    Kegembiraan yang meluap-luap itu sendiri adalah landasan untuk keruntuhannya; karena dia tetap akan berbicara dengan kesombongan dan kecongkakan. Melihat hal ini, seharusnya manusia tidak berselisih; karena para bijaksana tidak pernah mengatakan bahwa kemurnian dapat dicapai dengan perselisihan.    (830)
8.    Bagaikan si pemberani yang kokoh kuat karena makanan yang baik, dia meraung maju mencari lawan. Di mana pun ada lawan semacam itu, engkau boleh pergi ke sana. Namun ingatlah, di sini tidak lagi tersisa apa pun yang dapat menimbulkan perkelahian.    (831)
9.    Dengan mereka yang telah memegangi suatu teori dan kemudian bersikeras mengenai hal itu dengan menyatakan bahwa hanya teori itu saja yang benar, engkau boleh berbicara pada mereka. Tetapi ingatlah, 'tidak ada lawan untuk bertempur denganmu'.    (832)
10.    Apakah yang akan kau peroleh dari mereka yang menang setelah mengatasi lawan tanpa membalas satu teori dengan teori lain, o, pemberani? Bagi mereka, tidak sesuatu pun dipegang sebagai yang tertinggi.    (833)
11.    Dengan berspekulasi di pikiran mengenai berbagai pandangan filsafat yang berbeda, engkau telah merenungkan pandangan-pandangan itu. Tetapi engkau tidak dapat maju sembari mengikatkan diri pada manusia yang telah murni.    (834)
Title: Re: Debat
Post by: hariyono on 06 November 2009, 10:46:36 AM
Quote from: ryu on 06 November 2009, 10:04:22 AM
PASURA SUTTA

Perselisihan Mempertahankan Pandangan -- dan Kesia-siaannya
1.    Banyak orang mengatakan bahwa kemurnian hanyalah milik mereka saja. Mereka tidak mengatakan bahwa ada pula kemurnian di dalam ajaran-ajaran lain. Mereka menyatakan bahwa ajaran yang mereka tekuni adalah yang paling hebat, sehingga secara terpisah mereka mengukuhi beranekaragam kebenaran.    (824)
2.    Mereka yang ikut berbantahan, setelah ikut bergabung, mulai berselisih dan saling menyebut 'manusia tolol'. Karena bergantung pada guru tertentu, mereka mencari pujian, dan menyebut diri mereka 'pakar'.    (825)
3.    Karena terlibat perselisihan di antara banyak orang, pendebat itu menjadi frustasi pada waktu mencari pujian bagi dirinya. Bila kalah dia menjadi terpukul, lalu mencari-cari kesalahan manusia lain, dan bila dikritik dia marah.    (826)
4.    Ketika mereka yang telah menguji pertanyaan-pertanyaannya mengatakan bahwa pembicaraannya salah, dia bersedih, meratap dan menangis dalam perselisihan-perselisihan yang tak berharga, seraya mengatakan: 'Mereka telah mengalahkan saya!'    (827)
5.    Perselisihan-perselisihan ini muncul di antara para pertapa dan akibatnya muncullah rasa gembira yang meluap-luap serta rasa tertekan. Melihat hal ini, hindarilah perselisihan. Tidak ada nilai yang terkandung kecuali pujian yang dimenangkan dengan cara itu.    (828)
6.    Dia yang dipuji di antara banyak orang --karena telah berhasil mempertahankan pandangannya-- akan dipenuhi perasaan senang dan pikirannya terbuai kegembiraan yang meluap-luap karena telah menjadi pemenang.    (829)
7.    Kegembiraan yang meluap-luap itu sendiri adalah landasan untuk keruntuhannya; karena dia tetap akan berbicara dengan kesombongan dan kecongkakan. Melihat hal ini, seharusnya manusia tidak berselisih; karena para bijaksana tidak pernah mengatakan bahwa kemurnian dapat dicapai dengan perselisihan.    (830)
8.    Bagaikan si pemberani yang kokoh kuat karena makanan yang baik, dia meraung maju mencari lawan. Di mana pun ada lawan semacam itu, engkau boleh pergi ke sana. Namun ingatlah, di sini tidak lagi tersisa apa pun yang dapat menimbulkan perkelahian.    (831)
9.    Dengan mereka yang telah memegangi suatu teori dan kemudian bersikeras mengenai hal itu dengan menyatakan bahwa hanya teori itu saja yang benar, engkau boleh berbicara pada mereka. Tetapi ingatlah, 'tidak ada lawan untuk bertempur denganmu'.    (832)
10.    Apakah yang akan kau peroleh dari mereka yang menang setelah mengatasi lawan tanpa membalas satu teori dengan teori lain, o, pemberani? Bagi mereka, tidak sesuatu pun dipegang sebagai yang tertinggi.    (833)
11.    Dengan berspekulasi di pikiran mengenai berbagai pandangan filsafat yang berbeda, engkau telah merenungkan pandangan-pandangan itu. Tetapi engkau tidak dapat maju sembari mengikatkan diri pada manusia yang telah murni.    (834)


terima kasih rekan ryu
bantuan untuk lebih membabarkan / menyempurnakan posting saya Debat yang masih memerlukan rekan rekan seperti Anda .
Sekali lagi terima kasih PASURA SUTTA posting Anda ..banyak sekali membantu penyempurnaan posting debat saya

sadhu.sadhu.sadhu.
Title: Re: Debat
Post by: Tekkss Katsuo on 06 November 2009, 12:25:25 PM
Seperti yang saya harapkan dari Master Ryuuuu, emank patent  ^:)^ ^:)^ ^:)^

_/\_