//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...  (Read 481015 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #210 on: 28 March 2009, 09:50:21 AM »
Mari kita ulang secara lengkap 4  Kebenaran Ariya :
1. Kebenaran Ariya tentang dukkha;
2. Kebenaran Ariya tentang sebab dukkha;
3. Kebenaran Ariya tentang berakhirnya dukkha;
4. Kebenaran Ariya tentang Jalan menuju berakhirnya dukkha.

Apakah dukkha itu? Apakah serta merta dukkha = penderitaan? Dukkha dalam arti luas pun mengandung makna yg lebih dalam seperti : ketidakpuasan, ketidaksempurnaan, sakit, ketidakabadian, ketidakselerasan, ketidaknyamanan.

Anda bertanya "Apakah bagi Edward kelahiran merupakan penderitaan?" Tentu saya jawab "ya". Karena dalam kehidupan ini saya masih terbelenggu akan ikatan dan kebahagiaan yg terkondisikan.Tapi apakah sama bagi seseorang yg telah "TERBEBASKAN" sepenuhnya?Ketika kondisi2 telah dilepaskan, tubuh fisik telah dilepaskan dan yg ada adalah tubuh dhamma, yang tidak terkondisikan.Sama seperti makna akan Dhamma itu sendiri.

Jika mengikuti secara serta merta dukkha=penderitaan=kelahiran... Dan kita memasukkan ke dalam Kebenaran Ariya ke 3, menjadi "Kebenaran Ariya tentang Berakhirnya kelahiran" Woooww...Bukankah terlihat seperti paham nihilis? Jika diskusi mencapai k tahap ini, tentu saya akan mengakhiri, karena yg ada adalah spekulasi semata. Karena dengan kapasitas yang ada saat ini, saya belum mencapai tahap melihat dan memahami sepenuhnya dengan pengalaman sendiri.

Mengenai Amitabha Buddha.
Jika berikrar untuk terlahir dalam Sukhavati setelah kematian setelah kehidupan ini, berarti kita tidak mempelajari Dhamma dari Siddharta dan berlatih sesuai ajarannya pada kehidupan ini?Itu hanya ada dalam pikiran makhluk malas!

Dan seperti Jhana, BANYAK praktisi yang telah melihat alam Sukhavati dan tubuh dhamma Amitabha Buddha sebelum harus MATI dahulu.

Apakah Sukhavati memungkinkan menjadi tempat melihat sendiri 4 Kebenaran Ariya?Jika memaknai dukkha = penderitaan, tentu saja TIDAK.Tapi apakah makna dukkha sebegitu sempitnya? ???
bro edward yang bijak,
semua itu sudah masuk kategori penderitaan....walau dukkha banyak arti..tetapi menuju pada 1.

sama seperti baik hati, suka menolong, welas asih.......menuju pada 1 yakni.
kebijaksanaan dan kebahagiaan.

paham nihilis? ^.^
sebuah paham nihilis itu berpikir ada sebab tanpa ada akibat.
misalkan seseorang yang hanya beranggapan hidup kali ini saja.
padahal bahwa apabila citta belum padam, mana mungkin tidak ada bhava?

4 kesunyataan mulia?...baca paticasammupada lagi lah..
ingat ada sebab ada akibat......citta padam yah akibat nya "tidak ada bhava"

nah pikiran malas?...justru "berharap" bertemu dengan buddha dengan hanya malafalkan nama semata...adalah pikiran berfantasi tingkat tinggi.
kenyataan saja lah

ada yang sekarang didepan mata mala berharap yang didepan...
ntar kalau sudah di alam sukhavati sana, diajarkan melafalkan nama buddha mana lagi?



Quote
Apakah Sukhavati memungkinkan menjadi tempat melihat sendiri 4 Kebenaran Ariya?Jika memaknai dukkha = penderitaan, tentu saja TIDAK.Tapi apakah makna dukkha sebegitu sempitnya? Huh?

saudara edward yang bijak,
kadang ketika kenyataan menujukkan sebenarnya mengapa mencari jalan pembenaran fantasi?
hadapi saja itulah jalan kebenaran.

ada yang mengatakan "masih ada 84.000 cara" atau ada juga yang masih berkata "daun yang belum digenggam Tathagatha itu banyak."
semua itu hanya mencari pembenaran....kebenaran sejati itu hanya ada "sekarang"
bukan "nanti" atau "masa lalu"

saya jadi sangat mengerti mengapa sariputta begitu mendengar nasehat dari bikkhu Assaji.
bisa merealisasikan kehidupan pemasuk arus....yakni hanya terlahir sisa 7x.

Ye dhamma hetupabhava
Tesam hetum Tathagataha
Tesam ca yo nirodho
Evam vadi mahasamano
Dari segala hal yang timbul oleh karena suatu kondisi,
‘Kondisinya’ telah diberitahukan oleh Tathagata;
Dan juga pengakhirannya,
Inilah yang diajarkan oleh Pertapa Agung.


diskusi telah berakhir...

banyak berkah pada anda,
semoga semua makhluk berbahagia

"ada penderitaan, tetapi tidak ada yang menderita
ada jalan, tetapi tidak ada yang menempuhnya
ada nibbana, tetapi tidak ada yang mencapainya"

salam metta.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline ENCARTA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 797
  • Reputasi: 21
  • Gender: Male
  • love letters 1945
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #211 on: 28 March 2009, 10:03:10 AM »
mungkin saja tempat amitabah benar2 ada
testi, nenek aye sangat percaya.. sebelum meninggal katanya dia melihat surga amitabah
dan biasanya seorang sebelum meninggal melihat tempat yg akan dilaluinya

tapi menurut saya itu bukanlah jalan menujuh kebenaran
_/\_

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #212 on: 28 March 2009, 10:19:20 AM »
Ada seorang murid Zen yang sangat serius, bersemangat dan aktif belajar di sebuah Biara Zen.

Pada suatu ketika ia ditanya oleh Guru-nya :
' Kenapa engkau begitu rajin berlatih - siang dan malam ? '
Murid menjawab : ' Ya Sensei - karena aku ingin cepat-cepat menjadi seorang Buddha ! '.
Guru Zen tersebut mengambil sebuah batu dan menggosok-gosok batu tersebut dengan telapak tangannya , terus menerus, tanpa henti.
Murid yang keheranan kemudian bertanya : ' Sensei - apa yang sedang anda lakukan ? '.
' Aku sedang membuat sebuah cermin !.
' Sebuah Cermin ? - Bagaimana mungkin sebuah cermin dapat dibuat dari batu ? '
' S a m a. Engkau ingin cepat-cepat menjadi Buddha. Bagaimana mungkin ? '
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #213 on: 28 March 2009, 12:11:41 PM »
ada yang mengatakan "masih ada 84.000 cara" atau ada juga yang masih berkata "daun yang belum digenggam Tathagatha itu banyak."
semua itu hanya mencari pembenaran....kebenaran sejati itu hanya ada "sekarang"
bukan "nanti" atau "masa lalu"
Namun tidak semua orang bisa langsung merealisasikannya di sini dan sekarang. Rasanya semua orang juga memerlukan proses untuk menemukan kebenaran sejati "saat ini".



Quote
saya jadi sangat mengerti mengapa sariputta begitu mendengar nasehat dari bikkhu Assaji.
bisa merealisasikan kehidupan pemasuk arus....yakni hanya terlahir sisa 7x.

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.




Offline ENCARTA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 797
  • Reputasi: 21
  • Gender: Male
  • love letters 1945
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #214 on: 28 March 2009, 12:19:38 PM »
buddha sakyamuni mengharuskan semua menjadi seperti dirinya samyak sambodhi?
kalau bukan berarti bukan muridnya

Offline Gunawan

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 374
  • Reputasi: 28
  • Gender: Male
  • Siswa Berbaju Putih
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #215 on: 28 March 2009, 12:27:33 PM »
How Come , Agga Savaka Seperti Sariputta yang sudah Bebas dari L,D,M dan Mematahkan 10 Belenggu bisa terlahir kembali?.....  ^-^

Oopppsss ini kan Menurut pandangannya Sekte Mahayana.... ;D

 _/\_
Gunawan S S
Yo kho Vakkali dhamma? passati so ma? passati; yo ma? passati so dhamma? passati.
Dhammañhi, vakkali, passanto ma? passati; ma? passanto dhamma? passati"

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #216 on: 28 March 2009, 12:35:15 PM »
ada yang mengatakan "masih ada 84.000 cara" atau ada juga yang masih berkata "daun yang belum digenggam Tathagatha itu banyak."
semua itu hanya mencari pembenaran....kebenaran sejati itu hanya ada "sekarang"
bukan "nanti" atau "masa lalu"
Namun tidak semua orang bisa langsung merealisasikannya di sini dan sekarang. Rasanya semua orang juga memerlukan proses untuk menemukan kebenaran sejati "saat ini".



Quote
saya jadi sangat mengerti mengapa sariputta begitu mendengar nasehat dari bikkhu Assaji.
bisa merealisasikan kehidupan pemasuk arus....yakni hanya terlahir sisa 7x.

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.


jadi kapan baru kelahiran kembali terhenti (akhir dari penderitaan) ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #217 on: 28 March 2009, 01:16:24 PM »
Seperti saya bilang, ini 'kan pandangan Mahayana, jadi tidak bisa pakai acuan Theravada atau yang lain.
Ini seperti dalam Is1am, Yesus ga disalib; dalam Krist3n, Yesus disalib. Karakternya sama, tapi kisah dan ajarannya 'kan beda.

Kalau untuk akhir dari penderitaan, sepertinya sejak mencapai Arahat (sravaka/Pratyeka) sudah tidak ada penderitaan bathin lagi, tetapi Arahat yang benar akan mengambil jalan Mahayana untuk mencapai Anuttara Samyak Sambodhi demi orang lain.

Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #218 on: 28 March 2009, 01:37:45 PM »

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.





bole tau, di bab berapa dari sadharmapundarika sutra yang mengatakan demikian?
« Last Edit: 28 March 2009, 01:39:36 PM by naviscope »
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #219 on: 28 March 2009, 01:50:22 PM »

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.





bole tau, di bab berapa dari sadharmapundarika sutra yang mengatakan demikian?

Bab II.

Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #220 on: 28 March 2009, 01:56:44 PM »
"Lagi, Wahai Sariputra ! Jika para bhiksu dan bhiksuni yang menyatakan bahwa mereka telah menjadi Arhat dan berkata," inilah penitisan kami yang terakhir, sebelum mencapai Nirvana," dan kemudian mereka tidak berusaha lagi untuk mencari Penerangan Agung, maka ketahuilah bahwa golongan ini semuanya sangat sombong. Karena betapapun juga tidak ada hal yang seperti itu sebagai seorang bhiksu yang telah benar-benar mencapai kearhatan meskipun ia tidak menyakini hukum ini. Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir. Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.
« Last Edit: 28 March 2009, 02:08:32 PM by naviscope »
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #221 on: 28 March 2009, 02:04:43 PM »
IMO, sudah mencapai Arahat Trus Berhenti?
kenapa tidak lanjut ke pencapai-an lebih lanjut?

Apakah Arahat sudah = Buddha?
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #222 on: 28 March 2009, 02:06:35 PM »
Dalam satu terjemahan, ditulis demikian:
"Again, Shariputra, if there should be monks or nuns who claim that they already have attained the status of arhat, that this is their last incarnation, that they have reached the final nirvana, and that therefore they have no further intention of seeking anuttara-samyak-sambodhi, then you should understand that such as these are all persons of overbearing arrogance. Why do I say this? Because if they are monks who have truly attained the status of arhat, then it would be unthinkable that they should fail to believe this Law. The only
exception would be in a time after the Buddha had passed away, when there was no Buddha present in the world. Why is this? Because after the Buddha has passed away it will be difficult to find anyone who can embrace, recite, and understand the meaning of sutras such as this. But if persons at that time encounter another Buddha, then they will attain decisive understanding with regard to this Law."

Jelas di sini bahwa yang mengatakan kelahiran kembali telah berakhir namun tidak mengambil tekad mencapai Samyak Sambodhi, ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku sebagai Arahat.


Bait sebelumnya adalah:
"Now, Sâriputra, such disciples, Arhats, or Pratyekabuddhas who do not hear their actually being called to the Buddha-vehicle by the Tathâgata, who do not perceive, nor heed it, those, Sâriputra, should not be acknowledged as disciples of the Tathâgata, nor as Arhats, nor as Pratyekabuddhas."



Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #223 on: 28 March 2009, 02:10:17 PM »
^
^
^
jangan mengutip sepotong-sepotong,
karena mengutip sepotong sepotong, bisa menghasilkan salah presepsi...
sutra saddharma pundarika sutra, bukan sutra yang dalam 1-2 menit langsung bisa dipahami...
kalau masih terikat dengan kendaraan yang lain, akan sangat sulit menerima sutra ini.

Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir.

Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.

"Lagi, Wahai Sariputra ! Jika para bhiksu dan bhiksuni yang menyatakan bahwa mereka telah menjadi Arhat dan berkata," inilah penitisan kami yang terakhir, sebelum mencapai Nirvana," dan kemudian mereka tidak berusaha lagi untuk mencari Penerangan Agung, maka ketahuilah bahwa golongan ini semuanya sangat sombong. Karena betapapun juga tidak ada hal yang seperti itu sebagai seorang bhiksu yang telah benar-benar mencapai kearhatan meskipun ia tidak menyakini hukum ini. Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir. Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.
« Last Edit: 28 March 2009, 02:12:31 PM by naviscope »
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #224 on: 28 March 2009, 02:21:49 PM »
^
^
^
jangan mengutip sepotong-sepotong,
karena mengutip sepotong sepotong, bisa menghasilkan salah presepsi...
sutra saddharma pundarika sutra, bukan sutra yang dalam 1-2 menit langsung bisa dipahami...
kalau masih terikat dengan kendaraan yang lain, akan sangat sulit menerima sutra ini.

Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir.

Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.


Saya tidak masalah Mahayana mau percaya bagaimana, juga tidak akan mengatakan ini salah, itu benar. Silahkan saja.
Saya hanya mengatakan apa yang saya baca, dan memang sudah disebutkan bahwa yang paling benar memang jalan Mahayana, oleh karena itu tekad ke empat dari Buddha Bhaisajyaguru adalah membimbing Sravaka dan Pratyeka agar kembali ke jalan benar, yaitu: Mahayana. (Bhaisajyaguru Sutra.)