//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Indra

Pages: 1 ... 4 5 6 7 8 9 10 [11] 12 13 14 15 16 17 18 ... 937
151
Studi Sutta/Sutra / Re: Ucapan kasar, bolehkah?
« on: 30 November 2017, 02:03:25 PM »
Itu Tathagata om, kalo umat awam?  :-$

oh jadi perilaku Tathagata gak boleh ditiru ya?

152
Studi Sutta/Sutra / Re: Ucapan kasar, bolehkah?
« on: 30 November 2017, 01:35:19 PM »

“Demikian pula, Pangeran, kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, dan juga yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, tetapi tidak bermanfaat, dan juga yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, dan bermanfaat, tetapi tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: Sang Tathāgata mengetahui waktunya untuk mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, tetapi disukai dan menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, tetapi tidak bermanfaat, dan disukai dan menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, dan bermanfaat, dan juga yang disukai dan menyenangkan bagi orang lain: Sang Tathāgata mengetahui waktunya untuk mengucapkan kata-kata itu. Mengapakah? Karena Sang Tathāgata berbelas kasih pada makhluk-makhluk.”

MN 58. Abhayarājakumāra Sutta

153
pandangan benarnya ya sebaliknya, pindah agama tidak ada yang hubungannya cuman kayak orang pindah sekolah aja, gak ada kutukan.

bagaimana menurut anda jika seorang yang tadinya Buddhis yang berpandangan hukum karma lalu pindah menganut agama lain yang berpandangan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah rencana tuhan?

154
ini mana lanjutannya? target blm tercapai kok udah berhenti? saceng ayo lanjutkan

155
Theravada / Re: Raja Asoka dan "Pali"?
« on: 29 November 2017, 09:18:12 AM »
Buat apa saya jawab? Tanya aja sama kelompok Theravada, mereka yang buat.

perhatikan ini
Lantas bahasa Pali di kitab suci Buddhis, itu bahasa Magadhi? Kan Sang Buddha memberi izin Ajaran Buddha harus pertama kali dibuat dengan bahasa Pali.

kalimat Bold itu yg saya pertanyakan dan itu anda tulis kemarin (yesterday) jam 02:22:08 PM, kenapa anda menuding pihak lain atas apa yang anda lakukan sendiri?

156
Buddhisme untuk Pemula / Re: Sepatu
« on: 28 November 2017, 11:44:22 PM »
Saya sudah jawab.

Jika seseorang telah sampai di tujuan, akankah ia disebut masih di tengah jalan? Bukankah ia telah mencapai tujuan?
Demikian pula, jika pemasuk-arus telah sampai di seberang berarti sudah mencapai Arahat.

kalimat bold di atas bertentangan dengan kalimat bold di bawah ini:
Quote
Ya sotaphana sudah ada di nibbana

157
Pure Land / Tanah Suci / Re: melafal nama Buddha sampai samadhi?
« on: 28 November 2017, 11:36:45 PM »
Meditasi cinta-kasih bisa melahap 4 jhana, ini hanyalah sebagai faktor pendukung. Ia mengambil objek lain yang bisa menghasilkan jhana, dengan cinta kasih sebagai pendukung.

Bhikkhu Devadatta jhana-nya merosot karena tidak memiliki faktor pendukung, hanya mengandalkan jhana. Fungsi meditasi cinta kasih adalah mempertahankan jhana-nya, paling kasar jika jhana-nya merosot maka dengan bantuan cinta kasih, ia akan meraih kembali jhana-nya. Atau kalau susah dimengerti maka seperti ini:

cinta kasih = menghalau 5 rintangan dengan kuat
cinta kasih = mempertahankan seseorang yang ingin maju ke jhana dua (agar tidak jatuh dan agar lebih mudah masuk ke jhana dua), dst. (hingga jhana 4)

Memang tanpa cinta kasih, dengan jhana saja, seseorang bisa naikhingga 8 pencapaian, tetapi istilah "petapa jahat" akan muncul, ia akan menggunakan jhana-nya untuk hal yang tidak baik.

cinta kasih kemudian melatih jhana (dari objek lain), atau jhana + cinta kasih = jhana-nya tidak akan dipakai untuk hal yang aneh-aneh
Ada jhana, tidak melatih cinta kasih = jhana-nya bisa dipakai untuk hal yang aneh-aneh.

Oleh karena itu, Sang Buddha mengajarkan cinta kasih itu, supaya ketika seseorang mencapai jhana, ia memiliki cinta kasih, ia tidak akan seperti bhikkhu Devadatta.

cinta kasih cukup kuat untuk menghalau 5 rintangan pada tahap awal.
Cinta kasih bukan hanya berarti melingkup semua makhluk (ini puncaknya), cinta kasih bisa saja hanya melingkup diri sendiri atau 2 orang, atau hanya satu rumah.

Jika ingin melingkup seluruh dunia, pemula tidak mungkin bisa, ia harus melingkup diri sendiri dulu baru kepada hewan-hewan kecil dan seterusnya hingga seluruh dunia (tidak semudah membalik telapak tangan).

Seseorang bisa saja mengatakan "Semoga semua makhluk berbahagia", mulut bisa saja sesuai, tetapi pikiran bisa nyeleweng. Mengapa? Karena melingkupi orang jahat saja, jika tak mampu, bagaimana ia melingkupi semua makhluk? Jika ia bisa melingkupi orang jahat, apalagi orang baik maka itu mungkin. Atau melingkupi cinta kasih kepada diri sendiri saja tidak mampu, bagaimana mungkin ia melingkupi seluruh dunia?

Oleh karena itu, meditasi cinta kasih harus didahului kepada "Diri sendiri", jika tidak, mimpi, kalau mau mendapatkan cinta kasih yang universal.

meditasi cinta kasih = tidak menghasilkan jhana.
Jhana apa yang akan dihasilkan dari cinta kasih? Tidak ada. Akan tetapi, manfaat meditasi cinta kasih cukup banyak, kalau tidak salah ada 20 lebih, jika meditasi cinta kasih dijadikan kendaraan ke mana-mana.

Seseorang yang penuh cinta kasih, 5 rintangan meditasi cukup mudah untuk ditaklukkan, di sinilah seperti komentar saya sebelumnya, ketika ia telah mahir dlaam cinta kasih, seharusnya tidak sulit baginya untuk melatih objek (lain) yang menghasilkan jhana.

Seseorang yang ingin mencapai jhana, tanpa mempelajari 5 rintangan = akan mendapat jhana (jhana-jhana-an), di mimpi :))
Cinta kasih cukup kuat untuk menghalau 5 rintangan itu, minimal selama ia duduk meditasi, ia menamkan cinta kasih di pikirannya saat itu.

anda menjawab panjang lebar entah apakah bertujuan untuk mengalihkan pertanyaan saya, atau ada tujuan lain. jadi saya ulangi sekali lagi
bagaimanakah anda memahami frasa mettā­ceto­vimutti yang tersebar dalam banyak sutta, misalnya dalam SN 46.54? saya yakin anda cukup paham Pali untuk dapat menerjemahkan kata itu

158
Theravada / Re: Raja Asoka dan "Pali"?
« on: 28 November 2017, 11:29:04 PM »
Lantas bahasa Pali di kitab suci Buddhis, itu bahasa Magadhi? Kan Sang Buddha memberi izin Ajaran Buddha harus pertama kali dibuat dengan bahasa Pali.

saya tertarik dengan kalimat bold itu, dimanakah tercatat hal yg bold itu? ref pls

159
Buddhisme untuk Pemula / Re: Sepatu
« on: 28 November 2017, 01:48:54 PM »
Para bhikkhu tidak bergembira karena bhikkhu-bhikkhu itu menganut pandangan Nibbana sebagai suatu alam, atau suatu tempat, atau suatu kondisi ke-ada-an, atau dengan kata lain, mereka menganut pandangan "Diri". (Di lain waktu, para bhikkhu itu diajarkan hingga mencapai Arahat.)

Adakah alam Sepatu? Adakah alam Duduk? Adakah alam Tidur? Adakah alam Layar? (dll.)
Jawabannya: ini pertanyaan kosong! Ngaco!

Demikian pula jika seseorang menganggap ada alam Nibbana, ini pandangan kosong (salah), ngaco! Walaupun ia tidak mengatakan demikian, dari cara ungkapannya telah dipahami, ia menganggap Nibbana sebagai suatu tempat, keberadaan atau kondisi.

Saya menulis pernyataan itu, tentunya saya pahami, mengapa saya tidak bergembira?

"... Tidak seharusnya ...." Inilah yang harus digarisbawahi.

di atas saya sudah menunjukkan 2 error sehubungan dengan kalimat "Sotapanna sudah ada di Nibbana" struktur kalimat ini sama seperti misalnya "Gwi Cool sudah ada di rumah", di mana rumah menunjukkan tempat, demikian pula dengan kalimat bercetak tebal itu, Nibbana di sana menunjukkan tempat, dan error ke 2 adalah bahwa Sotapanna sudah ada di Nibbana, yang menyiratkan bahwa Sotapanna sudah mencapai tujuan, terlepas dari apakah nibbana itu tempat atau bukan. tapi saya setuju dengan anda bahwa ini adalah pandangan sesat yg berusaha untuk mengaburkan ajaran Sang Buddha.

160
Buddhisme untuk Pemula / Re: Sepatu
« on: 28 November 2017, 12:54:05 PM »
Siap om,...
Tetang sotaphana yang sudah berada di nibbana dimaksud kan sudah naik gerbong om,... Emang sotaphana harus masih berlatih lagi agar dia bisa pindah gerbong selanjutnya.
Karena itu saya hanya membahas dari level umat awam ke sotapana,... Sebab seorang sotapana pasti dengan sendirinya tau level selanjutnya apa yang ia harus kerjakan.
Cerita diatas hanya kiasan gambaran umat awam untuk melangkah ke jalur sotaphana.


Nibbana adalah tujuan. jika anda naik kereta, ketika anda sudah naik gerbong, apakah dengan begitu anda sudah sampai tujuan? sebuah tulisan akan dibaca orang-orang dari berbagai kalangan, bagaimana jika tulisan ini dibaca oleh orang yg memahaminya demikian? bahwa naik gerbong berarti sampai tujuan? bukankah ini pemahaman sesat?

161
Buddhisme untuk Pemula / Re: Sepatu
« on: 28 November 2017, 11:46:53 AM »
“Demikian pula, para bhikkhu, Aku melihat jalan setapak tua, jalan tua yang dilalui oleh mereka Yang Tercerahkan Sempurna di masa lalu. Dan apakah jalan setapak tua itu, jalan tua itu? Bukan lain adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar. Aku mengikuti jalan itu dan dengan melakukan hal ini Aku telah secara langsung mengetahui penuaan-dan-kematian, asal-mulanya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya. Aku secara langsung mengetahui kelahiran … penjelmaan … kemelekatan … ketagihan … perasaan … kontak … enam landasan indria … nama-dan-bentuk … kesadaran … bentukan-bentukan kehendak, asal-mulanya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya. 2.107setelah mengetahuinya secara langsung, Aku telah menjelaskannya kepada para bhikkhu, para bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan. Kehidupan suci ini, para bhikkhu, telah menjadi berhasil dan makmur, meluas, terkenal, menyebar, dibabarkan dengan sempurna di antara para deva dan manusia.” )SN 12.65)


Bahkan Sang Buddha tidak membangun jalan apa pun, Sang Buddha hanya menemukan jalan tua itu, dan Jalan itu yang telah ditemukan oleh Sang Buddha juga telah dinyatakan, diumumkan, diajarkan kepada para dewa dan manusia, dan tercatat dalam sutta-sutta. Lalu kenapa masih harus membangun jalan yang mungkin saja malah menyesatkan? dan parodi di atas juga jelas bertentangan dengan ajaran Sang Buddha, contohnya bahwa Sotapanna sudah ada di Nibbana, kalimat ini saja sudah dua pertentangan dengan ajaran Buddha, yaitu bahwa Nibbana adalah suatu tempat, dan bahwa Sotapanna sudah ada di Nibbana, yang menurut Sang Buddha seorang Sottapanna masih ada yang harus dilakukan untuk mencapai Nibbana, beda dengan para Arahat yang apa yang harus dilakukan telah dilakukan

Peringatan:
Hati-hati mengikuti jalan palsu yang mungkin menjerumuskan anda

162
Penerjemahan dan penulisan Teks Buddhisme / Re: Buku "Jalur Nibbana"
« on: 27 November 2017, 11:48:53 PM »
iya, kayaknya DC hanya menerima karya dari orang bernama, tetapi siapa yang peduli? Yang penting isinya dibaca bhikkhu terpelajar, ini yang terpenting (intinya).

seorang penulis harus bisa mempertanggungjawabkan tulisannya, akan sulit meminta pertanggungjawaban dari orang tak bernama

163
Pure Land / Tanah Suci / Re: melafal nama Buddha sampai samadhi?
« on: 27 November 2017, 11:47:22 PM »
Yang saya tahu perenungan terhadap Sang Buddha, tidak akan menghasilkan jhana, kayak meditasi cinta kasih, tidak akan menghasilkan jhana.

Akan tetapi, tujuannya dapat mengarah ke sana, meditasi perenungan terhadap Sang Buddha, atau cinta kasih, tujuannya, selain mendapat manfaat itu sendiri, juga ia akan menyukai meditasi jika dilakukan dengan benar, jika ia telah menyukai dan mantap dengan meditasi, di sini, seharusnya tidak sulit baginya untuk mengambil objek yang bisa menghasilkan jhana, misalnya kasina warna, kasina tanah, dll.

Perenungan terhadap Sang Buddha, yang benar adalah merenungkan kualitas dari Sang Buddha, dimulai dari keyakinan terhadap Beliau seperti: "Itipi so Bhagava Araham Sammasambuddho ... Bhagava." "Sang Bhagava adalah Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, guru para deva dan manusia, Yang Terberkahi." (ada versi lengkapnya).

Kemudian merenungkan 10 kekuatan Sang Buddha; kualitas lainnya dari Beliau, cara pengajaran, belas kasih yang universal, dll. (Yang terpenting, poin utamanya, merenungkan kualitas Sang Buddha, Yang Tercerahkan Sempurna.)

anda katakan meditasi cinta kasih tidak akan menghasilkan jhana, lalu bagaimanakah anda memahami frasa mettā­ceto­vimutti yang tersebar dalam banyak sutta, misalnya dalam SN 46.54?

164
Kafe Jongkok / Re: Welcome back to me
« on: 27 November 2017, 05:48:32 PM »
 :'(
sesajen om kumis nih...

terharu :'( :'( :'(

Sorry, you can't repeat a karma action without waiting 720 hours.

165
Buddhisme untuk Pemula / Re: Pattidana hanya untuk org mati?
« on: 26 November 2017, 11:08:15 PM »
Poin utama:
Karena Tuan tidak memahami arti pelimpahan jasa maka ini harusnya dipahami terlebih dahulu, jika tidak maka akan berputar-putar terus. Seperti yang saya katakan, komentar pertama saya sudah cukup jelas.

Pelimpahan jasa
Pelimpahan jasa adalah seseorang melimpahkan kebaikannya kepada seseorang (bisa satu atau lebih). Ini seperti halnya seseorang mengkopi file dan memindahkannya ke flashdisk seseorang. Tidak ada yang berkurang, kebajikan yang diterima orang pertama walaupun dibagi, tidak akan berkurang.
kita akan berputar2 terus selama anda masih tidak mampu memberikan referensi otentik tentang di mana Sang Buddha mengajarkan pelimpahan jasa ini. sebagai seorang Buddhis adalah sewajarnya saya mengikuti ajaran Sang Buddha, dan bukan ajaran lain apalagi ajaran anda. tapi sepertinya apa yang anda sampaikan sejauh ini adalah ajaran anda, karena jika anda mempelajari ini dari Sang Buddha atau dari catatan ajaran Sang Buddha anda tentu tidak perlu berlagak seolah-olah habis nabrak tiang listrik.

Quote
Ini berbeda dengan menolong seseorang. Misalnya orang itu orang jahat, kita ingin dia menjadi baik, "pelimpahan jasa" belum tentu membuatnya menjadi baik, sekali lagi, belum tentu. Pelimpahan jasa melimpahkan jasa kebajikan agar limpahan itu berbuah untuk si penerima, bukan berarti si penerima langsung jadi baik. Artinya, jika si penerima memiliki perbuatan jahat, perbuatan jahat itu akan berbuah padanya, dengan bantuan pelimpahan jasa, ia memiliki kebajikan baru, kebajikan tambahan. Seperti halnya jika warisan, pelimpahan jasa itu seperti warisan yang diberikan, jika seseorang miskin, itu akibat perbuatan buruknya, pelimpahan jasa adalah untuk meringankannya, tergantung limpahan itu, seperti tergantung jumlah warisan. jumlah warisan bisa saja cuman (katakanlah) sejuta, (jika) ia memiliki hutang besar (misalnya) maka ia hanya terbantu sedikit.

hutang besar = kamma buruk
sejuta = pelimpahan jasa.

Pelimpahan jasa = untuk meringankan seseorang, jika ia (si penerima) bermoral, itu bisa sangat bagus, jika tidak bermoral, ya, kamma buruk tidak cukup untuk limpahan yang ada.
ini menarik, jika karma seseorang mengarahkannya pada kelahiran di alam neraka, maka jika dilimpahkan jasa sebanyak2nya maka bisa jadi dia batal ke neraka. dengan kata lain anda mengatakan bahwa hukum karma bisa dibatalkan atau di-override oleh jasa. ini jelas tidak sejalan dengan ajaran Sang Buddha.

Jasa
Jasa = hasil dari perbuatan baik.
Siapa yang tidak mau perbuatan baik menjadi berbuah? Kita kesampingkan para Arahanta.
Jasa adalah akibat dari perbuatan baik. walaupun ia mengatakan saya tidak mau jasa, tetap saja jika ia berbuat baik maka "pikirannya" mau jasa, mau perbuatan baik itu berbuah. Kita kesampingkan para Arahanta.

Perbuatan baik berbuah, inilah jasa.
[/quote]
oh jadi anda di sini diam-diam meralat statement anda sebelumnya, biar saya bantu ingatkan, sebelumnya anda mengatakan Jasa = menginginkan perbuatan baik berbuah lalu ketika dipertanyakan anda kemudian meralat menjadi jasa=hasil dari perbuatan baik, karena ada 2 versi statement berbeda maka saya harus meminta anda untuk mengkonfirmasi sekali lagi yang mana yang benar dari 2 statement anda yang berbeda itu.

Quote
Beda "pelimpahan jasa", "membantu seseorang", dan "jasa"
Contoh kalimat:
1. Saya limpahkan jasa saya kepada si "A"
Artinya: ia ingin berbagi kebaikan dari hasil perbuatannya. Seperti halnya orangtua mewariskan warisan kepada anaknya. Baik anaknya jahat ataupun baik, si anak akan menerima warisan, tetapi orangtua mana yang mau memberikan warisan yang banyak kepada anak yang jahat? Jika orangtua itu bijak? Kecuali mungkin anak satu-satunya, atau mungkin kasihan/belas kasih. Tetap saja, orangtua yang bijak, tidak akan memberikan warisan yang banyak kepada anaknya yang jahat.
apakah anda mewakili semua orangtua? anda tidak mungkin bisa mengetahui bagaimana orangtua akan membagikan warisan kepada anak2nya,  saya percaya bahwa tiap orangtua memiliki pertimbangannya masing-masing, hanya setelah melakukan riset dengan menginterview sample orangtua baru bisa disimpulkan demikian, walaupun data statistik pun tidak mutlak benar, selalu terjadi anomali dalam riset statistik mana pun.

Quote
2. Saya membantu si "A"
Artinya: si "A" kurang baik atau pelaku kejahatan, saya membantunya agar ia menjadi baik, tidak terjerumus ke yang jahat karena itu akan menuntun pada kesengsaraannya. Saya akan membantunya di jalan yang baik karena itu akan menuntunnya kepada kesejahteraannya. Saya kira ini cukup jelas, tidak perlu panjang lebar.
ini memang cukup jelas, tapi apakah kualifikasi yang anda miliki untuk menilai sesuatu itu baik dan jahat? sesuatu yang baik menurut anda belum tentu baik bagi orang lain, dan sebaliknya.

Quote
3. Saya  mau perbuatan baik saya berbuah.
Saya berbuat baik, saya menolong seseorang, saya menjalankan sila, saya menghormati mereka yang pantas, "Semoga saya terlahir di alam yang baik"; "Semoga perbuatan baik menuntunku pada kesejahteraanku." Inilah "jasa". Ketika dikatakan para deva ingin "jasa", inilah maksudnya.

Menurut Mahakammavibhanga Sutta, bahkan orang yg selama hidupnya menjalankan sila, menghormati mereka yang pantas, walaupun berharap  "Semoga saya terlahir di alam yang baik", "Semoga perbuatan baik menuntunku pada kesejahteraanku. akan tetapi ia malah nyemplung ke neraka. bagaimana dengan ini? Apakah ini juga "jasa"?

Pages: 1 ... 4 5 6 7 8 9 10 [11] 12 13 14 15 16 17 18 ... 937
anything