//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - seniya

Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9 10 ... 228
31
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 10)
« on: 02 April 2021, 03:28:48 PM »
109. Kotbah [Pertama] tentang Menyelidiki Pikiran Diri Sendiri<305>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Jika seorang bhikkhu tidak dapat dengan terampil menyelidiki pikiran orang lain, maka ia seharusnya dengan terampil menyelidiki pikirannya sendiri; ia seharusnya melatih dirinya sendiri seperti ini.<306>

Bagaimanakah seorang bhikkhu dengan terampil menyelidiki pikirannya sendiri? Seorang bhikkhu pasti akan memastikan banyak manfaat bagi dirinya sendiri jika ia merenunungkan seperti ini: “Apakah aku telah mencapai ketenangan internal sementara belum mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena? Apakah aku telah mencapai kebijaksaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena sementara belum mencapai ketenangan internal? Apakah aku belum mencapai baik ketenangan internal maupun kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena? Apakah aku telah mencapai baik ketenangan internal dan kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena?”

Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku telah mencapai ketenangan internal sementara belum mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena,” maka bhikkhu ini, setelah mencapai ketenangan internal, seharusnya mengerahkan usaha untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena. Kemudian, setelah mencapai ketenangan internal, ia juga mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena.

Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku telah mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena sementara belum mencapai ketenangan internal,” maka bhikkhu itu, setelah mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena, seharusnya mengerahkan usaha untuk mencapai ketenangan internal. Kemudian, setelah mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena, ia juga mencapai ketenangan internal.

Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku belum mencapai baik ketenangan internal maupun kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena,” maka seorang bhikkhu demikian, yang belum mencapai keadaan-keadaan bermanfaat ini, karena ingin mencapainya, seharusnya mengerahkan usaha dengan cepat dengan segala cara, berlatih dengan ketekunan sepenuhnya, tanpa henti, dengan perhatian benar dan pemahaman benar.

Seperti halnya seseorang yang kepalanya terbakar atau pakaiannya terbakar akan dengan cepat mencari cara untuk menyelamatkan kepalanya dan menyelamatkan pakaiannya. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu yang belum mencapai keadaan-keadaan bermanfaat ini, karena ingin mencapainya, seharusnya mengerahkan usaha dengan cepat dengan segala cara, berlatih dengan ketekunan sepenuhnya, tanpa henti, dengan perhatian benar dan pemahaman benar. Kemudian, setelah mencapai ketenangan internal, ia juga mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena.

Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku telah mencapai ketenangan internal dan juga mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena,” maka bhikkhu itu, yang berkembang dalam keadaan-keadaan bermanfaat ini, seharusnya mengerahkan usaha untuk merealisasikan pengetahuan lebih tinggi atas hancurnya noda-noda. Mengapakah demikian?

Aku mengatakan tentang jubah yang tidak dapat disimpan semua orang dari mereka, [tetapi] aku juga mengatakan tentang jubah yang dapat disimpan semua orang dari mereka. Apakah jenis jubah yang kukatakan tidak dapat disimpan? Jika dengan menyimpan sehelai jubah [tertentu] keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat meningkat dan keadaan-keadaan bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis jubah itu tidak dapat disimpan. Apakah jenis jubah yang kukatakan dapat disimpan? Jika dengan menyimpan sehelai jubah [tertentu] keadaan-keadaan bermanfaat meningkat dan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis jubah itu dapat disimpan.

Seperti halnya dengan jubah, dengan cara yang sama juga untuk makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta desa dan kota kecil.

Aku mengatakan [lebih lanjut] bahwa seseorang tidak dapat bergaul dengan semua orang, [tetapi] aku juga mengatakan bahwa seseorang dapat bergaul dengan semua orang. Apakah jenis orang yang kukatakan tidak dapat dipergauli? Jika melalui pergaulan dengan seseorang keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat meningkat dan keadaan-keadaan bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis orang itu tidak seharusnya dipergauli. Apakah jenis orang yang kukatakan dapat dipergauli? Jika melalui pergaulan dengan seseorang keadaan-keadaan bermanfaat meningkat dan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis orang itu dapat dipergauli.<307>

[Demikianlah] seseorang mengetahui kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan sebagaimana adanya, dan seseorang mengetahui kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan sebagaimana adanya. Mengetahui kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan dan kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan sebagaimana adanya, seseorang tidak mengembangkan kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan dan ia mengembangkan kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan. Ketika seseorang tidak mengembangkan kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan,<308> dan mengembangkan kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan, kualitas-kualitas bermanfaat meningkat dan kualitas-kualitas jahat dan tidak bermanfaat berkurang. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu dengan terampil menyelidiki pikirannya sendiri, dengan terampil mengetahui pikirannya sendiri, dengan terampil mengambil [beberapa kualitas] dan dengan terampil meninggalkan [kualitas-kualitas lainnya].

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

32
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 10)
« on: 02 April 2021, 03:25:02 PM »
108. Kotbah [Kedua] tentang Hutan<302>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa aku akan mencapai tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan,<303> [juga] bahwa semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”<304>

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu [ia merenungkan demikian]: “Tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu tidak kucapai, [walaupun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Aku telah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan, bukan demi tujuan jubah dan selimut, bukan demi makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, [yaitu,] bukan demi semua kebutuhan hidup. Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu tidak kucapai, [walaupun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya meninggalkan hutan itu dan pergi.

[Selanjutnya,] seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa aku akan mencapai tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, [juga] bahwa semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu, dan setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu [ia merenungkan demikian]: “Tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu kucapai, [walaupun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.”

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Aku telah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan, bukan demi tujuan jubah dan selimut, bukan demi makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, [yaitu] bukan demi semua kebutuhan hidup. Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu kucapai, [walaupun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.” Bhikkhu itu, setelah merenugkan seperti ini, seharusnya berdiam di hutan itu.

[Selanjutnya,] seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa aku akan mencapai tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, [juga] bahwa semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu [ia merenungkan demikian]: “Tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu tidak kucapai; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.”

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu tidak kucapai; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya meninggalkan hutan itu, bahkan di tengah malam, dan pergi, tanpa berpamitan kepada orang lain.

[Selanjutnya,] seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa aku akan mencapai tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, [juga] bahwa semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu [ia merenungkan demikian]: “Tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu kucapai; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tujuan seorang pertapa, demi kepentingan di mana aku telah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, tujuan itu kucapai; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya melanjutkan berdiam dengan bergantung pada hutan itu sampai akhir hidupnya.

Seperti halnya berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan, dengan cara yang sama untuk berdiam dengan bergantung pada sebuah pekuburan, pada sebuah desa atau kota kecil, atau pada seseorang.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

33
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 10)
« on: 02 April 2021, 03:22:56 PM »
Bagian 10
Tentang Hutan

107. Kotbah [Petama] tentang Hutan
<300>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku sedang berdiam dengan bergantung pada hutan ini,mungkin bahwa, tanpa perhatian benar, aku akan mencapai perhatian benar; bahwa memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku akan mencapai pikiran yang terkonsentrasi; bahwa tidak terbebaskan, aku akan mencapai pembebasan; bahwa belum mengakhiri noda-noda, aku akan mencapai akhir noda-noda; bahwa belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku akan mencapai nirvana; [juga] bahwa segala seuatu yang diperlukan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu [oleh karenanya] berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu, jika ia tidak memiliki perhatian benar, ia tidak mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, ia tidak mencapai konsentrasi pikiran; tidak terbebaskan, ia tidak mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, ia tidak mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, ia tidak mencapai nirvana; [namun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.<301>

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Aku telah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan, bukan demi tujuan jubah dan selimut, bukan demi tujuan makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, dan juga bukan demi tujuan semua kebutuhan hidup. Ketika berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tanpa perhatian benar, aku tidak mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku tidak mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, aku tidak mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, aku tidak mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku tidak mencapai nirvana, [walaupun] semua hal yang diperlukan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya meninggalkan hutan itu dan pergi.

[Selanjutnya,] seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa tanpa perhatian benar, aku akan mencapai perhatian benar; bahwa memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku akan mencapai pikiran yang terkonsentrasi; bahwa tidak terbebaskan, aku akan mencapai pembebasan; bahwa belum mengakhiri noda-noda, aku akan mencapai akhir noda-noda; bahwa belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku akan mencapai nirvana; [juga] bahwa segala seuatu yang diperlukan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu, tanpa perhatian benar, ia mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, ia mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, ia mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, ia mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, ia mencapai nirvana, [walaupun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Aku telah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan, bukan demi tujuan jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, obat-obatan, dan juga bukan demi tujuan semua kebutuhan hidup. Ketika berdiam bergantung pada hutan ini, tanpa perhatian benar, aku telah mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku telah mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, aku telah mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, aku telah mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku telah mencapai nirvana, [walaupun] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya tetap berada di hutan itu.

[Selanjutnya,] seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa tanpa perhatian benar, aku akan mencapai perhatian benar; bahwa memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku akan mencapai pikiran yang terkonsentrasi; bahwa tidak terbebaskan, aku akan mencapai pembebasan; bahwa belum mengakhiri noda-noda, aku akan mencapai akhir noda-noda; bahwa belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku akan mencapai nirvana; [juga] bahwa semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu, tanpa perhatian benar, ia tidak mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, ia tidak mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, ia tidak mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, ia tidak mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, ia tidak mencapai nirvana; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Ketika berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tanpa perhatian benar, aku tidak mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku tidak mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, aku tidak mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, aku tidak mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku tidak mencapai nirvana; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh hanya dengan kesulitan besar.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya meninggalkan hutan itu, bahkan di tengah malam, dan pergi, tanpa berpamitan kepada orang lain.

[Selanjutnya,] seorang bhikkhu yang berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan tertentu [merenungkan demikian]: “Ketika aku berdiam dengan bergantung pada hutan ini, mungkin bahwa tanpa perhatian benar, aku akan mencapai perhatian benar; bahwa memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku akan mencapai pikiran yang terkonsentrasi; bahwa tidak terbebaskan, aku akan mencapai pembebasan; bahwa belum mengakhiri noda-noda, aku akan mencapai akhir noda-noda; bahwa belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku akan mencapai nirvana; [juga] bahwa semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu akan diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.”

Bhikkhu itu kemudian berdiam dengan bergantung pada hutan itu. Setelah berdiam dengan bergantung pada hutan itu, tanpa perhatian benar, ia mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, ia mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, ia mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, ia mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, ia mencapai nirvana; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.

Bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Ketika berdiam dengan bergantung pada hutan ini, tanpa perhatian benar, aku telah mencapai perhatian benar; memiliki pikiran tanpa konsentrasi, aku telah mencapai pikiran yang terkonsentrasi; tidak terbebaskan, aku telah mencapai pembebasan; belum mengakhiri noda-noda, aku telah mencapai akhir noda-noda; belum mencapai kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, aku telah mencapai nirvana; [juga] semua hal yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berlatih dalam sang jalan – jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup – semua itu diperoleh dengan mudah, tanpa kesulitan.” Bhikkhu itu, setelah merenungkan seperti ini, seharusnya melanjutkan berdiam dengan bergantung pada hutan itu sampai akhir hidupnya.

Seperti halnya berdiam dengan bergantung pada sebuah hutan, dengan cara yang sama untuk berdiam dengan bergantung pada sebuah pekuburan, pada sebuah desa atau kota kecil, atau pada seseorang.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

34
DhammaCitta Press / Madhyama Agama vol. II (Bagian 10)
« on: 02 April 2021, 03:19:38 PM »
Berikut adalah terjemahan Madhyama Agama bagian 10 yang terdiri dari kotbah 107-116.

35
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 02:14:37 PM »
Catatan Kaki:

<197> Padanan Pāli adalah Mahānidāna-sutta, DN 15 dalam DN II 55.

<198> Mengambil varian 令 alih-alih 念.

<199> Mahānidāna-sutta melanjutkan lebih lanjut, melalui perasaan, kontak, dan nama-dan-bentuk, sampai dengan kesadaran.

<200> Mengambil bacaan varian 蛟 alih-alih 蚊

<201> Mahānidāna-sutta juga menyebutkan kelahiran hewan berkaki empat.

<202> Mahānidāna-sutta alih-alih mendaftarkan tiga jenis penjelmaan: [penjelmaan di] alam indria, bentuk, dan tanpa bentuk.

<203> Mahānidāna-sutta menyebutkan empat jenis kemelekatan pada kenikmatan indria, pada pandangan, pada aturan dan ketaatan, dan pada ajaran diri.

<204> Mahānidāna-sutta mendaftarkan enam jenis ketagihan, berdasarkan pada enam objek indria.

<205> Mahānidāna-sutta melanjutkan lebih lanjut pada topik perasaan.

<206> Terjemahan di sini dan di bawah didasarkan pada perbaikan. MĀ 97 menghubungkan kontak dengan kelompok nama dengan cara “penolakan” 對, dan dengan kelompok bentuk dengan cara “penyebutkan”, 增語. Mahānidāna-sutta alih-alih menghubungkan kontak dengan kelompok nama dengan cara “penyebutan”, adhivacana, dan dengan kelompok bentuk dengan cara “penolakan”, paṭigha. Penyajian dalam Mahānidāna-sutta jelas lebih tepat, sedangkan bacaan saat ini dalam MĀ 97 tampaknya dihasilkan dari pertukaran yang salah antara kedua istilah itu.

<207> Mahānidāna-sutta juga menyebutkan terlahir, menjadi tua, meninggal dunia, dst., sebagai akibat dari kondisionalitas yang saling timbal-balik antara kesadaran dan nama-dan-bentuk.

<208> Dalam Mahānidāna-sutta Sang Buddha pertama-tama menyelidiki gagasan yang berbeda tentang diri sebagai berbentuk dan tanpa bentuk, terbatas atau tidak terbatas, sebelum membahas tiga cara yang menghubungkan pandangan diri dengan perasaan.

<209> Dalam Mahānidāna-sutta penganut pandangan diri menyimpulkan bahwa diri telah pergi ketika jenis perasaan tertentu yang diidentifikasi sebagai diri lenyap.

<210> Mengambil bacaan varian 雜 alih-alih 離.

<211> Mahānidāna-sutta, di mana ini adalah yang kedua dari tiga jenis pandangan diri sehubungan dengan perasaan, alih-alih membantah bahwa gagasan “aku adalah ini” tidak ada lagi.

<212> Alasan yang diberikan dalam Mahānidāna-sutta lebih terperinci, dengan menunjukkan bahwa seseorang terbebaskan dari jalan penyebutan dan konseptualisasi, tetapi tidak tepat untuk memandang seorang bhikkhu yang terbebaskan demikian sebagai seseorang yang tidak mengetahui dan tidak melihat.

<213> Karena Mahānidāna-sutta memiliki pemaparan yang berhubungan lebih awal, sebelum penyelidikan tiga jenis pandangan diri sehubungan dengan perasaan, pada titik ini ia alih-alih melanjutkan dengan mendaftarkan tujuh stasiun kesadaran, dua landasan, dan delapan pembebasan, yang juga ditemukan belakangan dalam MĀ 97.

<214> Dalam Mahānidāna-sutta seseorang yang mendukung suatu jenis diri tertentu alih-alih diharapkan merealisasi jenis diri itu setelah kematian.

<215> Padanan Pāli adalah Satipaṭṭhāna-sutta, MN 10 dalam MN I 55; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 73–97, dan Perspectives on Satipaṭṭhāna (Cambridge: Windhorse, 2013).

<216> Pernyataan tentang para Tathāgata masa lampau, masa depan, atau masa sekarang tidak ditemukan dalam Satipaṭṭhāna-sutta.

<217> Satipaṭṭhāna-sutta sebagai tambahan menyebutkan bahwa perenungan demikian dijalankan dengan tekun, dipahami dengan jernih, dan bebas dari keinginan atau kekesalan terhadap dunia.

<218> Urutan perenungan jasmani dalam Satipaṭṭhāna-sutta berbeda, berlanjut dari perhatian terhadap pernapasan menuju postur tubuh, aktivitas tubuh, bagian-bagian anatomis, unsur-unsur, dan perenungan pekuburan.

<219> Satipaṭṭhāna-sutta tidak menyebutkan tertidur atau terjaga sebagai bagian dari perenungan postur tubuh.

<220> Satipaṭṭhāna-sutta juga menyebutkan perenungan ketidakkekalan dan menunjuk pada berdiam dengan tidak bergantung, tanpa melekat pada apa pun.

<221> Satipaṭṭhāna-sutta juga menyebutkan makan, minum, memakan makanan, mengecap, buang air besar, dan buang air kecil.

<222> Latihan ini dan berikutnya tidak disebutkan dalam Satipaṭṭhāna-sutta.

<223> Mengambil varian 絣 alih-alih 拼.

<224> Terjemahan didasarkan pada perbaikan apa yang dalam aslinya merupakan suatu penunjukan pada “aktivitas ucapan” ketika menghembuskan napas, jelas suatu kesalahan tekstual. Satipaṭṭhāna-sutta memiliki perumpamaan tentang tukang bubut yang bekerja dengan peralatan bubut untuk menggambarkan perhatian terhadap pernapasan.

<225> Sementara Satipaṭṭhāna-sutta tidak menyebutkan tiga latihan ini dan berikutnya, Kāyagatāsati-sutta, MN 119 dalam MN III 92, menyebutkan pengalaman jasmani dari masing-masing empat jhāna sebagai cara perenungan jasmani.

<226> Latihan ini dan berikutnya tidak disebutkan dalam Satipaṭṭhāna-sutta.

<227> 觀相, yang mungkin sama dengan paccavekkhaṇanimitta.

<228> Ini adalah daftar benih yang berbeda dari daftar yang diberikan dalam perumpamaan yang sama dalam MĀ 81, padanan Kāyagatāsati-sutta.

<229> Satipaṭṭhāna-sutta hanya mendaftarkan empat unsur tanah, air, api dan udara.

<230> Kremasi atau pemakaman tidak disebutkan dalam Satipaṭṭhāna-sutta.

<231> Para bhikkhu tidak secara eksplisit disebutkan dalam Satipaṭṭhāna-sutta, walaupun hal yang sama bersifat implisit, karena istilah “bhikkhu” dapat mewakili monastik dari kedua gender; lihat Alice Collett dan Bhikkhu Anālayo, “Bhikkhave and Bhikkhu as Gender-inclusive Terminology in Early Buddhist Texts,” Journal of Buddhist Ethics 21 (2014): 760–797.

<232> Satipaṭṭhāna-sutta tidak menyebutkan perbedaan antara perasaan jasmani dan batin, atau antara perasaan yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan kenikmatan indria.

<233> Satipaṭṭhāna-sutta tidak menyebutkan keadaan-keadaan mental yang terkotori atau tidak terkotori, rendah atau mulia, berkembang atau tidak berkembang.

<234> Perenungan dharma-dharma dalam Satipaṭṭhāna-sutta juga mencakup merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati dan Empat Kebenaran Mulia, yang merupakan latihan kedua dan kelima dalam versi empat satipaṭṭhāna-nya.

<235> Dalam Satipaṭṭhāna-sutta, di mana perenungan enam landasan indria adalah latihan ketiga di bawah perenungan dharma-dharma, tugasnya adalah juga mengetahui indria dan objeknya seperti demikian, sebagai tambahan mengetahui belenggu yang muncul bergantung pada keduanya.

<236> Mengambil bacaan varian yang menambahkan 擇.

<237> Satipaṭṭhāna-sutta melanjutkan dari periode latihan tujuh tahun  yang menurun secara bertahap sampai dengan tujuh hari, tetapi tidak lebih jauh dari itu.

<238> Padanan Pāli adalah Mahādukkhakkhandha-sutta, MN 13 dalam MN I 83; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 117–121.

<239> Dalam Mahādukkhakkhandha-sutta para bhikkhu sendiri, dalam perjalanan mereka menuju kota untuk mengumpulkan dana makanan, mendekati para pengembara ajaran lain.

<240> Mahādukkhakkhandha-sutta memperlakukan apa yang telah disebutkan sejauh sampai tiga kasus berbeda yang menggambarkan bahaya kenikmatan indria, yaitu penderitaan yang dialami ketika bekerja, ketika pekerjaan demikian tidak berhasil, dan ketika apa yang telah diperoleh hilang lagi.

<241> Menurut Mahādukkhakkhandha-sutta, para anggota keluarga dapat sampai sejauh mengambil senjata dan melukai satu sama lain.

<242> 男女, “pria dan wanita”, yang dalam konteks saat ini tampaknya berarti “orang-orang”.

<243> Penyesalan yang dialami oleh pelaku kejahatan tidak disebutkan dalam Mahādukkhakkhandha-sutta, yang oleh sebab itu tidak memiliki perumpamaan bayangan gunung. Sebuah versi perumpamaan ini dapat ditemukan dalam Bālapaṇḍita-sutta, MN 129 at MN III 164.

<244> Padanan Pāli adalah Cūḷadukkhakkhandha-sutta, MN 14 at MN I 91; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 121–124.

<245> Permintaan ini, yang tidak memiliki padanan dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta, menyatakan bahwa Mahānāma masih seorang duniawi pada saat kotbah ini. Namun menurut komentar Cūḷadukkhakkhandha-sutta, ia adalah seorang yang sekali-kembali pada waktu itu.

<246> Dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta Sang Buddha pertama-tama mengisahkan bagaimana beliau mengatasi keinginan indria pada masa sebelum pencerahan beliau. Pemaparan berikunya tentang keinginan indria adalah sama seperti dalam Mahādukkhakkhandha-sutta.

<247> Cūḷadukkhakkhandha-sutta memperlakukan apa yang telah disebutkan sejauh sampai tiga kasus berbeda yang menggambarkan bahaya dalam kenikmatan indria, yaitu penderitaan yang dialami ketika bekerja, ketika pekerjaan demikian tidak berhasil, dan ketika apa yang telah diperoleh hilang karena pencurian, dst.

<248> Menurut Cūḷadukkhakkhandha-sutta, para anggota keluarga dapat sampa sejauh mengambi senjata dan melukai satu sama lain.

<249> Lihat catatan no. 242.

<250> Penyesalan yang dialami pelaku kejahatan tidak disebutkan dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta, yang oleh sebab itu tidak memiliki perumpamaan bayangan gunung. Sebuah versi perumpamaan ini dapat ditemukan dalam Bālapaṇḍita-sutta, MN 129 at MN III 164.

<251> Dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta Sang Buddha mengisahkan pandangan terangnya ke dalam kenikmatan indria pada waktu sebelum pencerahan beliau, dengan menjelaskan bahwa walaupun [mencapai] pandangan terang ini beliau melampaui daya tarik kenikmatan indria hanya setelah beliau mengalami bentuk-bentuk kebahagiaan yang lebih unggul, seperti yang tersedia melalui pencapaian jhāna.

<252> Lokasinya dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta adalah Gunung Puncak Burung Bangkai.

<253> Menurut Cūḷadukkhakkhandha-sutta, para Nigaṇṭha menyatakan sifat kemahatahuan guru mereka.

<254> Dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta Sang Buddha alih-alih bertanya apakah para Nigaṇṭha telah memiliki pengetahuian atas perbuatan-perbuatan mereka sebelumnya yang dilakukan oleh mereka dan apakah mereka mengetahui tingkat di mana perbuatan-perbuatan ini sekarang sedang dihancurkan.

<255> Cūḷadukkhakkhandha-sutta menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan demikian adalah tindakan pembunuhan.

<256> Teguran Sang Buddha dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta kurang tegas; beliau hanya menunjukkan bahwa mereka berkata kasar dan seharusnya bertanya kepada beliau atas hal ini.

<257> Dalam Cūḷadukkhakkhandha-sutta kemampuan Sang Buddha untuk tetap tidak bergerak dalam sukacita dan kebahagiaan selama sampai dengan tujuh hari mengambil bentuk penegasan alih-alih sebagai pertanyaan.

<258> Cūḷadukkhakkhandha-sutta berakhir pada titik ini.

<259> Padanan Pāli adalah Vitakkasaṇṭhāna-sutta, MN 20 at MN I 118; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 140–143.

<260> Mengambil varian 絣 alih-alih 拼.

<261> Vitakkasaṇṭhāna-sutta alih-alih menggambarkan seorang tukang kayu yang mencabut pasak kasar dengan bantuan pasak yang lebih halus.

<262> Mengambil varian正alih-alih 政.

<263> Vitakkasaṇṭhāna-sutta melanjutkan dengan suatu penggambaran tentang pencapaian pembebasan.

<264> Padanan Pāli adalah Dvedhāvitakka-sutta, MN 19 dalam MN I 114; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 138–140.

<265> Dvedhāvitakka-sutta tidak mengikuti penggambaran pemikiran berulang-ulang yang membawa pada kecenderungan pikiran untuk bergembira dalam pemikiran demikian dengan pernyataan tentang kebebasan dari dukkha. Alih-alih, dalam versi Pāli perumpamaan penggembala muncul pada titik ini.

<266> Penggambaran yang diharapkan dari jhāna pertama tidak ada di sini, tetapi muncul dalam Dvedhāvitakka-sutta. Ini dapat dipulihkan sebagai berikut: “Terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, ia berdiam setelah mencapai jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan.”

<267> Dvedhāvitakka-sutta menyebutkan ingatan kehidupan lampau dan mata dewa sebelum beralih ke pelenyapan noda-noda. Perbedaan lain dalam versi Pāli adalah bahwa orang yang mencapai jhāna dan tiga pengetahuan yang lebih tinggi adalah Sang Buddha sendiri.

<268> Di sini dan di bawah, Dvedhāvitakka-sutta hanya mengidentifikasi sang jalan dengan jalan mulia atau salah berunsur delapan, bukan dengan tiga pemikiran tidak bermanfaat atau tidak bermanfaat.

<269> Perumpamaan dalam Dvedhāvitakka-sutta tidak mengandung penjaga; oleh sebab itu penjelasan perumpamaannya juga tidak memiliki penunjukan pada pengikut Māra.

<270> Padanan Pāli adalah Cūḷasīhanāda-sutta, MN 11 dalam MN I 63, yang memiliki Hutan Jeta di Sāvatthī sebagai lokasinya; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 99–105.

<271> Ini akan menunjuk pada empat tingkat pencerahan; lihat AN 4.239 dalam AN II 238.

<272> Cūḷasīhanāda-sutta memiliki ketagihan dan kemelekatan sebagai dua topik yang terpisah. Topik berikutnya yang didiskusikannya adalah tanpa penglihatan, menyukai dan bermusuhan, dan menikmati proliferasi konseptual, papanca. Ia tidak menambahkan semua kualifikasi dari tujuan akhir yang diliputi demikian.

<273> Dalam Cūḷasīhanāda-sutta ketagihan jenis keempat adalah kemelekatan pada “ajaran diri” alih-alih pada “suatu diri”.

<274> Cūḷasīhanāda-sutta menghubungkan empat jenis kemelekatan pada ketidaktahuan melalui tujuh mata rantai kemunculan bergantungan, paṭicca samuppāda.

<275> Cūḷasīhanāda-sutta tidak mengulangi penunjukan pada auman singa.

<276> Padanan Pāli adalah Udumbarika-sutta, DN 25 dalam DN III 36 (mengikuti edisi Asia untuk judul; dalam edisi PTS judulnya adalah Udumbarika-sīhanāda-sutta).

<277> Dalam Udumbarika-sutta nama perumah tangga itu adalah Sandhāna.

<278> 無恚 secara harfiah, “tanpa kemarahan”, tampaknya salah mengartikan nigrodha sebagai ni + krodha.

<279> 鳥論 secara harfiah, “pembicaraan burung”; di tempat lain Madhyama-āgama menggunakan ungkapan畜生之論 sebagai padanan tiracchānakathā.

<280> Udumbarika-sutta tidak melaporkan Nigrodha membuat pernyataan apa pun tentang bagaimana Sang Buddha seharusnya diberikan tempat duduk.

<281> Dalam Udumbarika-sutta Nigrodha dan para pengikutnya sebenarnya telah bermaksud untuk bertanya kepada Sang Buddha pertanyaan ini jika beliau bergabung dengan mereka. Akibatnya, versi Pāli tidak melaporkan perenungan oleh perumah tangga Sandhāna bahwa Nigrodha mengatakan kebohongan.

<282> Salah satu dari beberapa perbedaan adalah bahwa Udumbarika-sutta tidak menyebutkan pencukuran rambut dan janggut (suatu praktik yang kenyataannya diikuti oleh para monastik Buddhis sendiri).

<283> Daftar kekotoran penyiksaan-diri yang sebagian berbeda dalam Udumbarika-sutta tidak menyebutkan penyerapan energi matahari, suatu referensi yang maknanya tidak jelas.

<284> Mengambi varian yang menambahkan 子 lainnya.

<285> “Pandangan” adalah topik lain yang tidak dimasukkan dalam daftar kekotoran penyiksaan-diri Udumbarika-sutta.

<286> Empat pengendalian dalam Udumbarika-sutta adalah tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berkata bohong, dan tidak merindukan kenikmatan indria (mengikuti penjelasan komentar untuk yang terakhir). Versi Pāli melanjutkan sampai menggambarkan pengunduran diri ke dalam keterasingan dan mengatasi lima rintangan.

<287> Di sini dan di bawah, menurut Udumbarika-sutta, Nigrodha berpikir bahwa saat ini latihan penyiksaan-diri telah mencapai intinya.

<288> Dalam Udumbarika-sutta mereka alih-alih berseru bahwa mereka kalah, karena mereka tidak mengetahui pencapaian yang lebih tinggi ini. Segera setelah itu perumah tangga Sandhāna mengintervensi, dengan mengingatkan Nigrodha atas pernyataan meremehkannya tentang Sang Buddha dan bualannya bahwa ia akan mengalahkan Sang Buddha dengan satu pertanyaan.

<289> Udumbarika-sutta tidak mengandung penjelasan jalan bertahap menuju pencerahan.

<290> Dalam Udumbarika-sutta Nigrodha secara formal mengakui pelanggarannya karena mengatakan seperti ini tentang Sang Buddha.

<291> Udumbarika-sutta mendaftarkan berbagai waktu dari tujuh tahun menurun sampai tujuh hari di mana seorang siswa dapat mencapai tujuan.

<292> Dalam Udumbarika-sutta Sang Buddha juga menunjukkan bahwa ia tidak memerlukan para praktisi ajaran lain untuk meninggalkan aturan dan cara hidup mereka, untuk melakukan apa yang mereka anggap tidak bermanfaat, atau untuk menghindari diri dari apa yang mereka anggap bermanfaat. Versi Pāli tidak menyebutkan kecurigaan bahwa Sang Buddha mungkin tertarik dalam menangkap dan menghancurkan mereka atau dalam memperoleh persembahan atau kemasyhuran.

<293> Udumbarika-sutta tidak mencatat komentar atau pengajaran yang diberikan Sang Budhda kepada sang perumah tangga, yang kembali ke Rājagaha sendiri.

<294> Padanan Pāli adaah Ākhaṅkheyya-sutta, MN 6 dalam MN I 33; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 45–49.

<295> Mengambil varian住 alih-alih任.

<296> Ākhaṅkheyya-sutta tidak memiliki kisah pendahuluan yang mencatat perenungan bhikkhu itu. Ia mulai dengan Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu, dengan menekankan perlunya mempertahankan perilaku bermoral, melihat bahaya dalam kesalahan kecil sekali pun.

<297> Dalam Ākhaṅkheyya-sutta harapan diajarkan oleh Sang Buddha tidak ada dalam daftar harapannya, yang memasukkan sebagai berikut: dicintai oleh para bhikkhu lain, menerima kebutuhan pokok, menjadi sumber jasa kebajikan bagi para penyokong, menjadi sumber jasa kebajikan bagi para sanak keluarga, menahan ketidaknyamana, menahan ketakutan, dan mencapai empat jhāna, pencapaian tanpa bentuk, pemasuk-arus, yang sekali-kembali, yang tidak-kembali, dan masing-masing dari enam pengetahuan yang lebih tinggi.

<298> Ākhaṅkheyya-sutta tidak melaporkan bahwa para bhikkhu menjalankan perkataan Sang Buddha.

<299> Chizen Akanuma, The Comparative Catalogue of Chinese Āgamas & Pāli Nikāyas (Delhi: Sri Satguru, 1990, cetakan ulang), hal. 15, mendaftarkan sebagai paralel MĀ 106 Mūlapariyāya-sutta, MN 1 dalam MN I 1. Namun, kedua kotbah ini sangat berbeda dan tidak tampak sebagai “paralel”, yang disebutkan secara benar; lihat pembahasan dalam Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 23.

36
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 02:09:57 PM »
106. Kotbah tentang Persepsi<299>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Jika sehubungan dengan tanah, seorang pertapa atau brahmana memiliki persepsi tentang bumi [berkenaan dengan] “tanah adalah diri”, “tanah milik diri”, “diri milik tanah”, dengan berspekulasi bahwa tanah adalah diri – maka ia tidak mengetahui tanah.

Dengan cara yang sama sehubungan dengan air, … api, … udara, … makhluk halus, … para dewa, … Pajāpati, … Brahmā, … [para dewa] tanpa-kegelisahan, … [dan para dewa] tanpa-penderitaan. … [Jika] sehubungan dengan kemurnian ia memiliki persepsi tentang kemurnian [berkenaan dengan] “kemurnian adalah diri”, “kemurnian milik diri”, “diri milik kemurnian”, dengan berspekulasi bahwa kemurnian adalah diri – maka ia tidak mengetahui kemurnian.

[Dengan cara yang sama untuk] landasan ruang tanpa batas, ... landasan kesadaran tanpa batas, ... landasan kekosongan, ... landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, ... kesatuan, ... keberagaman, ... keanekaragaman, ... yang dilihat, ... yang didengar, ... yang dikenali, ... yang diketahui, ... kemampuan untuk merenungkan pemikiran dalam pikiran, ... [kemampuan untuk merenungkan] kehendak mental, ... dari dunia ini menuju dunia itu, ... dari dunia itu menuju dunia ini. ... [Jika] sehubungan dengan segalanya ia memiliki persepsi tentang segalanya [berkenaan dengan] “segalanya adalah diri”, “segalanya milik diri”, “diri milik segalanya”, dengan berspekulasi bahwa segalanya adalah diri, maka ia tidak mengetahui segalanya.

[Namun,] jika, sehubungan dengan tanah seorang pertapa atau brahmana mengetahui tanah [sehubungan dengan] “tanah adalah bukan diri”, “tanah bukan milik diri”, “diri bukan milik tanah”, dengan tidak berspekulasi bahwa tanah adalah diri – maka ia mengetahui tanah.

Dengan cara yang sama sehubungan dengan air, ... api, ... udara, … makhluk halus, … para dewa, … Pajāpati, … Brahmā, … [para dewa] tanpa-kegelisahan, … [dan para dewa] tanpa-penderitaan. … [Jika] sehubungan dengan kemurnian ia mengetahui kemurnian [berkenaan dengan] “kemurnian adalah bukan diri”, “kemurnian bukan milik diri”, “diri bukan milik kemurnian”, dengan tidak berspekulasi bahwa kemurnian adalah diri – maka ia mengetahui kemurnian.

[Dengan cara yang sama sehubungan dengan] landasan ruang tanpa batas, ... landasan kesadaran tanpa batas, ... landasan kekosongan, ... landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, ... kesatuan, ... keberagaman, ... keanekaragaman, ... yang dilihat, ... yang didengar, ... yang dikenali, ... yang diketahui, ... kemampuan untuk merenungkan pemikiran dalam pikiran, ... [kemampuan untuk merenungkan] kehendak mental, ... dari dunia ini menuju dunia itu, ... dari dunia itu menuju dunia ini. ... [Jika] sehubungan dengan segalanya ia mengetahui segalanya [berkenaan dengan] “segalanya adalah bukan diri”, “segalanya bukan milik diri”, “diri bukan milik segalanya”, dengan tidak berspekulasi bahwa segalanya adalah diri – maka ia mengetahui segalanya.

Sehubungan dengan tanah, aku mengetahui tanah [berkenaan dengan] “tanah adalah bukan diri”, “tanah bukan milik diri”, “diri bukan milik tanah”. Tidak berspekulasi bahwa tanah adalah diri, aku mengetahui tanah.

Dengan cara yang sama sehubungan air, ... api, ... udara, … makhluk halus, … para dewa, … Pajāpati, … Brahmā, … [para dewa] tanpa-kegelisahan, … [dan para dewa] tanpa-penderitaan. … Sehubungan dengan kemurnian, aku mengetahui kemurnian [berkenaan dengan] “kemurnian adalah bukan diri”, “kemurnian bukan milik diri”, “diri bukan milik kemurnian”. Tidak berspekulasi bahwa kemurnian adalah diri, aku mengetahui kemurnian.

[Dengan cara yang sama sehubungan dengan] landasan ruang tanpa batas, ... landasan kesadaran tanpa batas, ... landasan kekosongan, ... landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, ... kesatuan, ... keberagaman, ... keanekaragaman, ... yang dilihat, ... yang didengar, ... yang dikenali, ... yang diketahui, ... kemampuan untuk merenungkan pemikiran dalam pikiran, ... [kemampuan untuk merenungkan] kehendak mental, ... dari dunia ini menuju dunia itu, ... dari dunia itu menuju dunia ini. ... Sehubungan dengan segalanya, aku mengetahui segalanya [berkenaan dengan] “segalanya adalah bukan diri”, “segalanya bukan milik diri”, “diri bukan milik segalanya”. Tidak berspekulasi bahwa segalanya adalah diri, aku mengetahui segalanya.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

37
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 02:08:50 PM »
105. Kotbah tentang Harapan-Harapan<294>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu terdapat seorang bhikkhu yang tinggal sendirian, dalam keterasingan, berdiam di suatu tempat yang jauh dan sunyi.<295> Ketika duduk bermeditasi dan merenung, ia berpikir demikian, “Sang Bhagavā telah menghiburku dengan perkataan beliau dan mengajarkanku Dharma. [Oleh sebab itu,] aku memenuhi aturan-aturan latihan, tidak mengabaikan jhāna, menyempurnakan pandangan terang, dan berdiam di tempat yang kosong dan sunyi.” Kemudian, setelah berpikir demikian, pada waktu sore menjelang malam bhikkhu itu bangkit dari duduk bermeditasi dan mendekati Sang Buddha.<296>

Ketika melihat bhikkhu itu datang dari kejauhan, Sang Bhagavā, dikarenakan bhikkhu [yang sedang mendekat] itu, berkata kepada para bhikkhu:

Jika kalian berharap, “Semoga Sang Bhagavā menghiburkan dengan perkataan beliau dan mengajarkanku Dharma!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.<297>

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Dikarenakan diriku semoga sanak keluargaku, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian, pasti naik menuju alam kehidupan yang baik dengan terlahir kembali di alam surga!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Para pendana yang menyediakanku dengan jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan, semoga mereka dikarenakan pemberian ini [dapat] memiliki kebajikan besar, kecemerlangan besar, dan memperoleh buah besar!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku dapat menahan rasa lapar dan haus, dingin dan panas, nyamuk dan serangga pengganggu, lalat dan kutu, pengaruh angin dan matahari, perkataan jahat dan [bahkan] dipukuli dengan tongkat; semoga aku juga dapat menahan penyakit yang menyerang jasmani dengan kesakitan dan penderitaan ekstrem, cukup membuatku berharap untuk mengakhiri kehidupanku; juga [pengalaman lain] yang tidak menyenangkan – semoga aku dapat menahan semuanya!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku dapat menahan ketidakpuasan; jika ketidakpuasan muncul, semoga pikiranku tidak pernah melekat padanya!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap semoga aku dapat menahan ketakutan; jika ketakutan muncul, semoga pikiranku dapat mengakhirinya dan tidak melekat padanya!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Jika tiga pemikiran jahat dan tidak bermanfaat muncul – pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran kekejaman – semoga pikiranku mengakhiri tiga pemikiran jahat dan tidak bermanfaat serta tidak melekat padanya!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikhu, jika kalian berharap, “Semoga aku, terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, berdiam setelah mencapai, … sampai dengan … jhāna keempat!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku, setelah menghancurkan tiga belenggu, menjadi seorang pemasuk-arus, seorang yang tidak akan jatuh ke dalam kondisi-kondisi jahat dan yang pasti maju menuju pencerahan sempurna dalam paling banyak tujuh kehidupan [lagi]; dan, setelah melewati [paling banyak] tujuh kehidupan di alam surga atau manusia, semoga aku mencapai akhir dukkha!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku, setelah menghancurkan tiga belenggu dan setelah melemahkan nafsu indria, kemarahan, dan ketidaktahuan, mencapai yang sekali-kembali dan, setelah melalui satu kehidupan di alam surga atau manusia, mencapai akhir dukkha!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku, setelah menghancurkan lima belenggu yang lebih rendah, terlahir kembali di alam lain dan di sana mencapai nirvana akhir, setelah mencapai kondisi yang tidak-kembali, dengan tidak kembali ke dunia ini!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku mencapai pembebasan damai yang melampaui bentuk, setelah mencapai yang tanpa bentuk, dan dengan konsentrasi yang sesuai berdiam setelah secara langsung merealisasinya; dan dengan menggunakan kebijaksanaan dan pandangan terang [semoga aku] menghancurkan noda-noda dan mengetahui bahwa noda-noda [telah dihancurkan]!”, maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Para bhikkhu, jika kalian berharap, “Semoga aku memperoleh kekuatan batin, pengetahuan telinga dewa, pengetahuan atas pikiran orang lain, pengetahuan atas kehidupan lampau, pengetahuan atas kelahiran dan kematian [makhluk-makhluk]; dan setelah menghancurkan semua noda [semoga aku] mencapai pembebasan pikiran tanpa noda, pembebasan melalui kebijaksanaan, dengan mengetahui dan merealisasinya oleh dirinya sendiri di sini dan saat ini, dan berdiam setelah menyempurnakan realisasi-diri, dengan mengetahui sebagaimana adanya: ‘Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain!’” [jika kalian berharap semua ini] maka penuhilah aturan-aturan latihan, janganlah mengabaikan jhāna, sempurnakan pandangan terang, dan berdiamlah di tempat yang kosong dan sunyi.

Kemudian para bhikkhu, setelah mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, menerimanya dengan baik dan mengingatnya dengan baik. Bangkit dari tempat duduk mereka, mereka memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.

Para bhikkhu itu, setelah menerima ajaran ini dari Sang Buddha, duduk bermeditasi di tempat yang jauh dan sunyi, berlatih dengan tekun, pikiran mereka bebas dari kelalaian. Dengan duduk bermeditasi di tempat yang jauh dan sunyi serta berlatih dengan tekun, dengan pikiran mereka bebas dari kelalaian, mereka mengetahui dan merealisasi bagi diri mereka sendiri, di sini dan saat ini, [pencapaian] itu demi kepentingan di mana para anggota keluarga mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan rumah mereka demi keyakinan, memasuki keadaan tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan hanya demi kepentingan mencapai sepenuhnya puncak kehidupan suci; dan mereka berdiam setelah secara pribadi merealisasi, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.” Para yang mulia itu, setelah mengetahui Dharma, telah menjadi para Arahant.<298>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

38
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 02:06:38 PM »
Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati berkata:

Nigrodha, Sang Bhagava sedang [duduk] tepat di sini. Engkau sekarang dapat menghancurkannya dengan satu argumen, seperti engkau dapat [memecahkan] kendi kosong, dan mengatakan pada beliau perumpamaan tentang sapi buta yang merumput di pinggiran.

Ketika mendengar hal ini, Sang Bhagavā bertanya kepada praktisi ajaran lain Nigrodha, “Apakah engkau benar-benar berkata seperti ini?” Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Aku benar-benar [berkata] seperti ini, Gotama.”

Sang Bhagavā bertanya lagi:

Nigrodha, tidakkah engkau telah mendengar hal ini dari para praktisi senior dan sebelumnya? “Para Tathāgata dari masa lampau, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, melakukan latihan duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang.

“Semua Buddha, para Bhagavā, telah melakukan latihan duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang. Mengikuti latihan duduk bermeditasi, mereka selalu menikmati berada di daerah-daerah yang jauh, dengan damai dan bahagia. Sejak awalnya mereka tidak pernah berkumpul siang dan malam dalam sebuah kelompok,” seperti yang engkau lakukan hari ini dengan para pengikutmu.

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab:

Gotama, aku telah mendengar hal ini dari para praktisi senior dan sebelumnya: “Para Tathāgata dari masa lampau, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, melakukan latihan duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang.

“Semua Buddha, para Bhagavā, telah melakukan latihan duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang. Mengikuti latihan duduk bermeditasi, mereka selalu menikmati berada di daerah-daerah yang jauh, dengan damai dan bahagia. Sejak awalnya mereka tidak pernah berkumpul siang dan malam dalam sebuah kelompok,” seperti yang kulakukan hari ini dengan para pengikutku.

[Sang Buddha berkata:]

Nigrodha, tidakkha engkau memiliki perenungan demikian: “Seperti halnya para Bhagavā [dari masa lampau] tersebut melakukan latihan duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang; dan mereka selalu menikmati duduk bermeditasi di daerah-daerah yang jauh, dengan damai dan bahagia – [demikian juga pada masa sekarang] pertapa Gotama berlatih jalan menuju pencerahan sempurna?”

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab:

Gotama, jika aku mengetahui hal ini, apakah alasan yang kumiliki untuk membuat pernyataan seperti ini, “Aku akan menghancurkan beliau dengan satu argumen, seperti aku dapat [memecahkan] kendi kosong, dan aku mengatakan pada beliau perumpamaan tentang sapi buta yang merumput di pinggiran”?<290>

Sang Bhagavā berkata:

Sekarang, Nigrodha, aku memiliki Dharma, yang bermanfaat dan berhubungan dengan yang bermanfaat, di mana setiap kalimatnya yang berhubungan dengan pembebasan dapat direalisasi. Adalah untuk alasan ini sehingga Sang Tathāgata menyebut dirinya sendiri ‘tanpa ketakutan.’ Semua bhikkhu yang datang padaku sebagai para siswa, tanpa suka menyanjung, tanpa tipu daya, jujur, dan tanpa tipuan, setelah diajarkan olehku dan mengikuti pengajaranku, pasti akan mencapai pengetahuan akhir.<291>

Nigrodha, jika engkau berpikir, ‘pertapa Gotama mengajarkan Dharma demi keinginan untuk menjadi seorang guru,’ janganlah berpikir seperti itu! [Tugas] guru tetap menjadi milikmu bahkan ketika aku mengajarkanmu Dharma.

Nigrodha, jika engkau berpikir, ‘pertapa Gotama mengajarkan Dharma demi keinginan untuk memperoleh para siswa,’ janganlah berpikir seperti itu! Para siswa ini tetap menjadi milikmu bahkan ketika aku mengajarkanmu Dharma.

Nigrodha, jika engkau berpikir, ‘pertapa Gotama mengajarkan Dharma demi keinginan untuk memperoleh persembahan,’ janganlah berpikir seperti itu! Persembahan tetap menjadi milikmu bahkan ketika aku mengajarkanmu Dharma.

Nigrodha, jika engkau berpikir, ‘pertapa Gotama mengajarkan Dharma demi keinginan atas pujian dan sanjungan,’ janganlah berpikir seperti itu! Pujian dan sanjungan tetap menjadi milikmu bahkan ketika aku mengajarkanmu Dharma.

Nigrodha, engkau mungkin berpikir: ‘Jika aku memiliki Dharma, yang bermanfaat dan berhubungan dengan yang bermanfaat, di mana setiap kalimatnya yang berkaitan dengan pembebasan dapat direalisasi, maka pertapa Gotama akan menangkapku dan menghancurkanku.’ Janganlah berpikir seperti itu! Dharma tetap menjadi milikmu bahkan ketika aku mengajarkanmu Dharma.<292>

Atas hal ini [semua dalam] perkumpulan besar itu tetap berdiam diri. Mengapakah demikian? Karena mereka di bawah kendali Raja Māra.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada perumah tangga Pikiran Sejati:

Lihatlah bagaimana perkumpulan besar ini tetap berdiam diri. Mengapakah demikian? Karena mereka di bawah kendali Raja Māra. Karenanya, di antara perkumpulan praktisi ajaran lain ini tida ada seorang pun praktisi ajaran lain yang berpikir, “Biarlah aku mencoba mengembangkan kehidupan suci di bawah pertapa Gotama.”

Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā mengajarkan Dharma kepada perumah tangga Pikiran Sejati, dengan menasihati, menginspirasi, dan sepenuhnya menggembirakannya. Setelah menasihati, menginspirasi, dan sepenuhnya menggembirakan mereka dengan mengajarkannya Dharma menggunakan tak terhitung cara terampil, [Sang Buddha] bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, membawa perumah tangga Pikiran Sejati pada lengannya, beliau terbang ke angkasa menggunakan kekuatan batinnya dan pergi.<293>

Demikianlah yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, perumah tangga Pikiran Sejati bergembira dan menerimanya dengan hormat.

39
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:52:47 PM »
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, dan melakukan perbuatan jahat.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, dan melakukan perbuatan jahat, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia tanpa keyakinan, lalai, tanpa perhatian benar dan pemahaman benar, dan dikuasai oleh kedunguan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia tanpa keyakinan, lalai, tanpa perhatian benar dan pemahaman benar, dan dikuasai oleh kedunguan, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Nigrodha, tidakkah aku telah mengatakan kepadamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran?

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Benar, Gotama telah mengatakan kepadaku bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran.”

[Sang Buddha berkata,] “Nigrodha, aku juga akan mengatakan kepadamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari dengan tak terhitung kekotoran.”

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya lagi, “Gotama, apakah yang dapat engkau katakan kepadaku tentang bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari oleh tak terhitung kekotoran?”

Sang Buddha berkata:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memandang matahari untuk menyerap energi matahari.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memandang matahari untuk menyerap energi matahari, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi angkuh, [dengan berpikir,] “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya tidak terikat dan melekat padanya.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi angkuh, [dengan berpikir,] “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya tidak terikat dan melekat padanya, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku berlatih pertapaan ekstrem. Aku berlatih apa yang sangat sulit.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku berlatih pertapaan ekstrem. Aku berlatih apa yang sangat sulit,” maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, tidak menjadi iri hati, dengan berkata: “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain tidak menjadi iri hati, dengan berkata: “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain tidak memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata, “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini. Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain tidak memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata: “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini. Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi khawatir dan gelisah, demikian ketakutan sehingga ia berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi khawatir dan gelisah, demikian ketakutan sehingga ia berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini, tidak muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas, pandangan ekstrem, pandangan salah, atau pandangan yang kondusif pada kemelekatan, dan ini menyebabkan tidak sulit bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, sehingga ia merealisasi apa yang dapat direalisasi para pertapa atau brahmana.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini, tidak muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas, pandangan ekstrem, pandangan salah, atau pandangan yang kondusif pada kemelekatan, dan itu menyebabkan tidak sulit bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, sehingga ia merealisasi apa yang dapat direalisasi para pertapa dan brahmana – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, atau gegabah.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, atau gegabah – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, atau melakukan perbuatan jahat.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, atau melakukan perbuatan jahat – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak tanpa keyakinan, tidak lalai tetapi memiliki perhatian benar dan pemahaman benar, dan tidak dikuasai oleh kedunguan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak tanpa keyakinan dan lalai tetapi memiliki perhatian benar dan pemahaman benar, dan tidak dikuasai oleh kedunguan – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Nigrodha, tidakkah aku telah mengatakan kepadamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari oleh tak terhitung kekotoran?

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Benar, Gotama telah mengatakan kepadaku bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari oleh tak terhitung kekotoran.”

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya, “Gotama, apakah penyiksaan-diri ini mencapai yang tertinggi? Apakah ia mencapai inti sejatinya?”

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, penyiksaan-diri ini tidak mencapai yang tertinggi; ia tidak mencapai inti sejatinya. Namun demikian, terdapat dua cara [penyiksaan-diri] yang mencapai kulitnya dan mencapai persendiannya.

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya lagi, “Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri ini mencapai kulit luarnya?”

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana menjalankan empat latihan: tidak membunuh makhluk hidup, tidak menyuruh orang lain membunuh, dan tidak menyetujui pembunuhan; tidak mencuri, tidak menyuruh orang lain mencuri, dan tidak menyetujui pencurian; tidak mengambil istri orang lain, tidak menyuruh orang lain mengambil istri orang lain, dan tidak menyetujui orang lain mengambil istri orang lain; tidak berkata bohong, tidak menyuruh orang lain berkata bohong, dan tidak menyetujui perkataan bohong. Ia menjalankan empat latihan ini, bergembira di dalamnya, dan tidak melanggarnya.<286>

Ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat, dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Ia berdiam meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, [dengan pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Dengan cara yang sama, ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih, ... dengan kegembiraan empatik, ... dengan keseimbangan, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, [dengan pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan? Apakah penyiksaan-diri demikian mencapai kulit luarnya?

Nigrodha menjawab, “Gotama, jenis penyiksaan-diri ini mencapai kulit luarnya. Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri ini mencapai persendiannya?”<287>

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana menjalankan empat latihan: tidak membunuh makhluk hidup, tidak menyuruh orang lain membunuh, dan tidak menyetujui pembunuhan; tidak mencuri, tidak menyuruh orang lain mencuri, dan tidak menyetujui pencurian; tidak mengambil istri orang lain, tidak menyuruh orang lain mengambil istri orang lain, dan tidak menyetujui orang lain mengambil istri orang lain; tidak berkata bohong, tidak menyuruh orang lain berkata bohong, dan tidak menyetujui perkataan bohong. Ia menjalankan empat latihan ini, bergembira di dalamnya, dan tidak melanggarnya.

Ia mengingat tak terhitung kehidupan lampau yang dijalaninya pada masa lampau, bersama dengan aktivitas-aktivitasnya dan penampilan [dalam kehidupan itu]: satu kelahiran, dua kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengembangan [dunia], berkalpa-kalpa pengerutan [dunia], berkalpa-kalpa pengembangan dan pengerutan [dunia], [demikian]:

[Aku adalah] makhluk hidup itu yang bernama Anu; aku melalui pengalaman-pengalaman masa lampau tersebut; aku [dulu] terlahir di sana, dengan nama keluarga ini, nama yang diberikan ini, aku memiliki jenis penghidupan ini dan jenis makanan dan minuman ini, mengalami jenis kenikmatan dan kesakitan ini, masa kehidupanku adalah seperti ini, aku bertahan hidup selama ini, dan kehidupanku berakhir seperti ini. Meninggal dari sana aku terlahir kembali di sini, meninggal dari sini aku terlahir kembali di sana. Aku terlahir kembali di sini dengan nama keluarga ini, nama yang diberikan ini, aku memiliki jenis penghidupan ini dan jenis makanan dan minuman ini, aku mengalami jenis kenikmatan dan kesakitan ini, masa kehidupanku adalah seperti ini, aku bertahan hidup selama ini, dan kehidupanku berakhir seperti ini.

Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan? Apakah jenis penyiksaan-diri ini mencapai persendiannya?Nigrodha menjawab:
Gotama, jenis penyiksaan-diri ini mencapai persendiannya. Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri ini mencapai yang tertinggi, bagaimanakah ia mencapai inti sejatinya?

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya seorang pertapa atau brahmana menjalankan empat latihan: tidak membunuh makhluk hidup, tidak menyuruh orang lain membunuh, dan tidak menyetujui pembunuhan; tidak mencuri, tidak menyuruh orang lain mencuri, dan tidak menyetujui pencurian; tidak mengambil istri orang lain, tidak menyuruh orang lain mengambil istri orang lain, dan tidak menyetujui orang lain mengambil istri orang lain; tidak berkata bohong, tidak menyuruh orang lain berkata bohong, dan tidak menyetujui perkataan bohong. Ia menjalankan empat latihan ini, bergembira di dalamnya, dan tidak melanggarnya.

Dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] orang [biasa], ia melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali, rupawan atau jelek, tinggi atau rendah, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik dan buruk, sesuai dengan perbuatan makhluk-makhluk hidup ini [sebelumnya]. Ia melihat sebagaimana adanya bahwa, jika makhluk-makhluk hidup ini melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat, jika mereka menghina para mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab-sebab dan kondisi ini ketika hancurnya jasmani pada saat kematian mereka pasti pergi ke alam kehidupan yang buruk, dan terlahir kembali di neraka.

[Namun,] jika makhluk-makhluk hidup ini melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang baik, jika mereka tidak menghina para mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab-sebab dan kondisi ini ketika hancurnya jasmani setelah kematian mereka pasti naik menuju alam kehidupan yang baik, dan terlahir kembali di alam surga. Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan: apakah jenis penyiksaan-diri ini telah mencapai yang tertinggi? Apakah ia telah mencapai inti sejatinya?

Nigrodha menjawab:

Gotama, jenis penyiksaan-diri ini telah mencapai yang tertinggi; ia telah mencapai inti sejatinya. Gotama, apakah untuk merealisasi penyiksaan-diri ini sehingga para siswa pertapa Gotama berlatih kehidupan suci bergantung pada pertapa Gotama?

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, bukan untuk merealisasi penyiksaan-diri ini sehingga para siswaku berlatih kehidupan suci bergantung padaku. Nigrodha, terdapat hal lain yang sangat mulia, sangat luhur, sangat luar biasa, demi realisasi di mana para siswaku berlatih kehidupan suci bergantung padaku.

Atas hal ini perkumpulan praktisi ajaran lain yang kacau itu berseru dengan keras:

Seperti inilah, seperti inilah! Realisasi dari hal itu adalah mengapa para siswa pertapa Gotama berlatih kehidupan suci bergantung pada pertapa Gotama!<288>

Kemudian praktisi ajaran lain Nigrodha menegur perkumpulannya. Setelah menenangkan mereka, ia bertanya:

Gotama, apakah hal lain yang sangat mulia, sangat luhur, sangat luar biasa, demi realisasi di mana para siswa pertapa Gotama berlatih kehidupan suci bergantung pada pertapa Gotama?

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

Nigrodha, Sang Tathāgata muncul di dunia, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.
[Seorang siswa Sang Tathāgata] meninggalkan lima rintanngan yang mengotori pikiran dan melemahkan kebijaksanaan. Terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, ia berdiam setelah mencapai ... sampai dengan ... jhāna keempat.<289>

Dengan pikirannya yang terkonsentrasi dan dimurnikan dengan cara ini, tanpa kekotoran, tanpa gangguan, lunak, kokoh, setelah mencapai ketanpa-ganguan, ia mengarahkan pikiran pada pengetahuan dan realisasi penghancuran noda-noda.

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah dukkha.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya dukkha.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya dukkha.” Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya dukkha.”

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah noda-noda.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya noda-noda.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya noda-noda.” Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.”

Mengetahui seperti ini, melihat seperti ini, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, ... dari noda kelangsungan, pikirannya terbebaskan dari noda ketidaktahuan. Terbebaskan, ia mengetahui bahwa ini terbebaskan, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Nigrodha, ini disebut sebagai hal lain yang sangat mulia, sangat luhur, sangat luar biasa, demi realisasi di mana para siswaku berlatih kehidupan suci bergantung padaku.

40
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:48:53 PM »
104. Kotbah di [Hutan] Udumbara<276>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha, di Hutan Bambu, Tempat Perlindungan Tupai.

Pada waktu itu terdapat seorang perumah tangga bernama Pikiran Sejati,<277> yang pagi-pagi sekali telah meninggalkan Rājagaha dengan maksud untuk mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan kepada beliau.

Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati berpikir, “Untuk sementara waktu, tidak perlu mendekati Sang Buddha. Sang Bhagavā dan para bhikkhu mungkin [masih] duduk bermeditasi. Biarlah aku lebih baik pergi ke hutan udumbara dan mendekati taman para praktisi ajaran lain.” Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati pergi menuju hutan udumbara dan mendekati taman para praktisi ajaran lain.

Pada waktu itu di taman para praktisi ajaran lain di hutan udumbara terdapat seorang praktisi ajaran lain bernama Nigrodha,<278> yang dihormati sebagai seorang guru di antara para praktisi ajaran lain, dihormati oleh orang-orang sebagai seseorang yang menaklukkan banyak [musuh] dan adalah pemimpin dari lima ratus orang praktisi ajaran lain.

Ia sedang bersama perkumpulan yang kacau yang sedang membuat kegaduhan besar, terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan hewan,<279> diskusi [tentang hal-hal seperti] pembicaraan tentang raja-raja, pembicaraan tentang pencuri, pembicaraan tentang perang, pembicaraan tentang makanan dan minuman, pembicaraan tentang pakaian dan selimut, pembicaraan tentang wanita yang telah menikah, pembicaraan tentang anak perempuan, pembicaraan tentang wanita yang berselingkuh, pembicaraan tentang kebiasaan duniawi, pembicaraan tentang jalan latihan salah, pembicaraan tentang lautan, dan pembicaraan tentang negeri. Mereka semua duduk bersama di sana membicarakan berbagai jenis pembicaraan hewan ini.

Ketika praktisi ajaran lain Nigrodha melihat perumah tangga Pikiran Sejati datang dari kejauhan, ia menegur para pengikutnya, dengan mengatakan agar mereka diam:

Teman-teman yang mulia, diamlah! Janganlah berbicara! Nikmatilah berdiam diri! Biarlah masing-masing mengendalikan dirinya!

Mengapakah demikian? Perumah tangga Pikiran Sejati, seorang siswa pertapa Gotama, sedang datang. Di antara para siswa pertapa Gotama yang memiliki nama baik yang besar atas kebajikan dan layak dihormati, dan yang hidup sebagai perumah tangga di Rājagaha, ia adalah yang terkemuka. Ia tidak [banyak] berbicara tetapi menikmati keheningan dan berlatih pengendalian diri. Jika ia mengetahui bahwa perkumpulan ini berkembang dalam keheningan, ia mungkin akan mendekati kita.

Kemudian, setelah menenangkan perkumpulannya, praktisi ajaran lain Nigrodha sendiri berdiam diri. Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati mendekati praktisi ajaran lain Nigrodha, bertukar salam ramah tamah, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata:

Nigrodha, Sang Bhagavā kami berlatih duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] yang terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang.

Ini adalah pembawaan Sang Buddha, Sang Bhagavā. Beliau berlatih duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau gunung hutan, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] yang terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang. Beliau selalu menikmati duduk bermeditasi di daerah-daerah yang jauh, dengan damai dan bahagia.

Sejak awalnya Sang Buddha, Sang Bhagavā, tidak pernah mengadakan pertemuan bersama dengan suatu kelompok besar, siang dan malam, seperti yang engkau lakukan hari ini dengan para pengikutmu.

Atas hal ini praktisi ajaran lain Nigrodha berkata:

Hentikanlah, perumah tangga, hentikanlah! Bagaimanakah engkau mengetahui? Pertapa Gotama adalah kosong dari kebijaksanaan dan pembebasan. Engkau tidak memiliki dasar yang cukup untuk mengatakan apakah [perilaku beliau] tepat atau tidak, apakah ini layak atau tidak.

Bahwa pertapa Gotama melekat pada pinggiran [daerah berpenduduk], menikmati pinggiran dan berdiam di pinggiran. Seperti halnya seekor sapi buta yang merumput di pinggiran dan melekat pada pinggiran, menikmati pinggiran dan berdiam di pinggiran, demikian juga dengan pertapa Gotama. Perumah tangga, jika pertapa Gotama itu datang ke perkumpulan ini, aku akan menghancurkannya dengan satu argumen, bagaikan seseorang dapat [memecahkan] kendi kosong, dan aku akan mengatakan padanya perumpamaan tentang sapi buta.

Kemudian praktisis ajaran lain Nigrodha berkata kepada perkumpulannya:

Teman-teman yang mulia, seumpamanya pertapa Gotama datang ke perkumpulan ini – jika ia harus datang, maka janganlah menunjukkan penghormatan kepadanya dengan berdiri dari tempat duduk kalian dan merentangkan tangan, dengan telapak tangan yang disatukan, terhadapnya; dan janganlah mengundangnya untuk duduk pada tempat duduk yang telah disediakan. Ketika ia tiba, katakan sesuatu seperti, “Gotama, terdapat tempat duduk. Duduklah di mana engkau suka!”<280>

Pada waktu itu Sang Bhagavā sedang duduk bermeditasi, dan dengan telinga dewa yang dimurnikan yang melampaui [kemampuan pendengaran] orang [biasa] beliau mendengar percakapan antara perumah tangga Pikiran Sejati dan praktisi ajaran lain Nigrodha ini.

Kemudian, pada saat sore menjelang malam, beliau bangkit dari duduk bermeditasi dan mendekati taman para praktisi ajaran lain di hutan udumbara. Ketika praktisi ajaran lain Nigrodha melihat Sang Bhagavā datang dari kejauhan, ia bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu dan, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, ia dengan ramah berkata, “Selamat datang, pertapa Gotama! Sudah lama sejak anda berada di sini. Mohon ambillah tempat duduk ini!”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir, “Orang bodoh ini mengabaikan perintahnya sendiri.” Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā duduk pada tempat duduk itu. Praktisi ajaran lain Nigrodha bertukar salam ramah tamah dengan Sang Bhagavā, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.

Sang Bhagavā berkata, “Nigrodha, apakah topik yang sedang kalian diskusikan dengan perumah tangga Pikiran Sejati? Karena hal apakah kalian duduk bersama di sini?”

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab:

Gotama, kami berpikir demikian: “Apakah ajaran di mana dengannya pertapa Gotama mengajarkan para siswanya, sedemikian sehingga para siswanya, setelah diajarkan, mencapai kesejahteraan dan menghabiskan sisa hidup mereka berlatih kehidupan suci dalam kemurnian dan mengajarkannya kepada orang lain?”

Gotama, ini adalah topik yang telah kudiskusikan dengan perumah tangga Pikiran Sejati; ini adalah hal di mana karenanya kami duduk bersama di sini.<281>

Ketika mendengar kata-kata ini, perumah tangga Pikiran Sejati berpikir, “Betapa anehnya bahwa praktisi ajaran lain Nigrodha ini mengatakan kebohongan! Mengapakah demikian? Ia tepat di hadapan Sang Buddha berusaha untuk memperdaya Sang Bhagavā.”

Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā berkata:

Nigrodha, ajaran-ajaranku adalah mendalam, mengagumkan, dan istimewa. Mereka sulit direalisasi, sulit untuk diketahui, sulit untuk dilihat, dan sulit untuk dicapai – yaitu, ajaran-ajaran di mana dengannya aku mengajarkan para siswaku, sedemikian sehingga setelah diajarkan demikian para siswaku menghabiskan sisa hidup mereka berlatih kehidupan suci dalam kemurnian dan mengajarkannya kepada orang lain.

Nigrodha, jika engkau memiliki pertanyaan tentang latihan penyiksaan-diri yang diajarkan oleh para guru kalian, maka tanyakanlah kepadaku. Aku pasti akan dapat menjawab sampai engkau puas.

Atas hal ini perkumpulan praktisi ajaran lain yang kacau itu semuanya berseru secara serentak:

Pertapa Gotama adalah mengagumkan dan istimewa, dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar, jasa yang besar, dan kemuliaan yang besar! Mengapakah demikian? Beliau dapat melepaskan ajarannya sendiri dan menjawab pertanyaan yang ditanyakan sehubungan dengan ajaran orang lain.

Atas hal ini, praktisi ajaran lain Nigrodha menegur perkumpulannya, dengan mengatakan agar mereka diam. Ia bertanya, “Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri mencapai pemenuhan, dan bagaimanakah ia tidak mencapai pemenuhan?”

Kemudian Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, terdapat beberapa pertapa atau brahmana yang pergi berkeliling telanjang, tidak berpakaian, atau yang menggunakan tangan mereka sebagai pakaian [untuk menutupi bagian pribadi mereka], atau menggunakan dedaunan sebagai pakaian, atau menggunakan manik-manik sebagai pakaian; yang menghindari diri dari menggunakan kendi untuk mengambil air, atau menghindari diri dari menggunakan centong untuk mengambil air; yang tidak makan makanan yang telah dicuri dengan pisau atau tongkat, yang tidak makan makanan yang [diperoleh] dengan menipu, atau [yang telah diperoleh] mereka sendiri dengan mendekati [seorang pendana], atau dengan mengirim seorang utusan [kepada pendana], atau [saat mendengar seorang pendana berkata,] “Datanglah, yang mulia!” atau “Sangat bagus, yang mulia!” atau “Tinggallah, yang mulia!”; atau yang tidak makan makanan dari rumah di mana terdapat dua orang makan bersama, atau makanan dari rumah seorang wanita hamil, atau dari rumah dengan anjing peliharaan, atau yang tidak makan makanan dari rumah di mana terdapat lalat pemakan-kotoran; atau yang tidak makan ikan, tidak makan daging, tidak minum minuman keras, tidak minum air jelek, atau yang tidak meminum apa pun sama sekali, berlatih dalam latihan tidak minum; yang makan [hanya] satu suap dan puas dengan satu suap, atau makan [hanya] dua, ... tiga, ... empat, ... sampai dengan ... tujuh suap dan puas dengan tujuh suap; atau makan [hanya] apa yang diperoleh pada satu [rumah] dan puas dengan apa yang diperoleh pada satu [rumah], atau [hanya] apa yang diperoleh pada dua, ... tiga, ... empat, ... sampai dengan ... tujuh [rumah] dan puas dengan apa yang diperoleh pada tujuh [rumah]; atau yang makan [hanya] satu kali sehari dan puas dengan makan satu kali sehari, atau makan [hanya] satu kali setiap dua hari, ... atau tiga, ... atau empat, ... atau lima, ... atau enam, ... atau tujuh hari, ... atau satu kali setiap dua minggu, ... atau satu kali sebulan dan puas dengan makan [hanya] satu kali [sebulan]; yang makan [hanya] sayuran hijau, atau makan [hanya] jawawut, atau padi liar, atau dedak padi, atau buih beras, atau makan [hanya] makanan kasar; atau yang pergi ke hutan, dan [hidup] bergantung pada hutan, makan [hanya] akar-akaran, atau makan [hanya] buah-buahan, atau makan [hanya] buah-buahan yang telah jatuh dengan sendirinya; yang jubah tambalan, atau jubah yang terbuat dari rambut, atau jubah yang terbuat dari bahan tenunan, atau yang memakai kulit hewan lengkap, atau kulit hewan dengan lubang, atau [baik] kulit hewan lengkap dan kulit hewan dengan lubang; atau yang membuat rambutnya kusut, atau membuat rambutnya terjalin, atau membuat rambutnya kusut dan terjalin; yang mencukur rambutnya, atau yang mencukur janggutnya, atau mencukur baik rambut dan janggut;<282> yang mencabut rambutnya, atau mencabut janggutnya, atau mencabut baik rambut dan janggut; yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk; atau bergerak dalam posisi berjongkok; atau berbaring di atas semak duri, membuat tempat tidur dari semak berduri; atau berbaring di atas buah-buahan, membuat tempat tidur dari buah-buahan; yang memuja air dan membuat persembahan siang dan malam; atau yang memuja api, menjaganya menyala terus-menerus; atau yang memuja matahari dan bulan sebagai makhluk halus dengan kekuatan besar, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan [sebagai penghormatan] kepada [matahari dan bulan].

Dengan cara ini dan itu, mereka mengalami tak terhitung penderitaan, berlatih dalam latihan menyiksa [diri mereka sendiri]. Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan: apakah penyiksaan-diri jenis ini mencapai pemenuhan, atau apakah ia tidak mencapai pemenuhan?

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Gotama, penyiksaan-diri jenis ini mencapai pemenuhan; ia tidak gagal mencapai pemenuhan.”

Sang Bhagavā berkata lebih lanjut, “Nigrodha, aku akan mengatakan padamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran.”

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya, “Gotama, apakah yang dapat engkau katakan kepadaku tentang bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran?”

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karen latihan pertapaan keras ini memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memandang matahari untuk menyerap energi matahari.<283>

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memandang matahari untuk menyerap energi matahari, maka ini, Nigrodha, disebut suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini menjadi angkuh, [dengan berpikir] atas dirinya sendiri, “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya terikat dan melekat padanya.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini menjadi angkuh, [dengan berpikir] atas dirinya sendiri, “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya terikat dan melekat padanya, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku berlatih pertapaan ekstrem; aku berlatih apa yang sangat sulit.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku menjalankan pertapaan ekstrem; aku berlatih apa yang sangat sulit,” maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia menjadi iri hati dan berkata, “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia menjadi iri hati dan berkata, “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata, “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini.<284> Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata, “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini. Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi khawatir dan gelisah, penuh ketakutan [sehingga ia] berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi khawatir dan gelisah, penuh ketakutan [sehingga] ia berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas (sakkāya), pandangan ekstrem, pandangan salah, pandangan yang kondusif pada kemelekatan, yang menyulitkan bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, dengan akibat bahwa ia tidak merealisasi apa yang tidak dapat direalisasi para pertapa atau brahmana.<285>

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas, pandangan ekstrem, pandangan salah, pandangan yang kondusif pada kemelekatan, yang menyulitkan bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, dengan akibat bahwa ia tidak merealisasi apa yang tidak dapat direalisasi para pertapa atau brahmana – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, dan kurang ajar.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, dan kurang ajar – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

41
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:41:52 PM »
103. Kotbah tentang Auman Singa<270>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Kuru di kota Kuru bernama Kammāsadhamma.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Ketika kalian di antara perkumpulan-perkumpulan, kalian dapat mengaumkan auman singa sejati seperti ini: “Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat.<271> Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati].”

Para bhikkhu, seumpamanya bahwa para praktisi ajaran lain datang dan bertanya kepada kalian, “Teman-teman yang mulia, apakah [cara] latihan, apakah kekuatan, apakah pengetahuan yang kalian miliki, di mana melalui kebaikannya kalian membuat pernyataan demikian ketika kalian berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: ‘Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati]’?”

Para bhikkhu, kalian seharusnya menjawab para praktisi ajaran lain seperti ini: “Teman-teman yang mulia, Sang Bhagavā kami memiliki pengetahuan dan penglihatan, beliau adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna. Beliau telah menyatakan empat prinsip, dan adalah karena empat prinsip ini sehingga kami membuat pernyataan demikian ketika berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: ‘Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati].’

“Apakah empat [prinsip] itu? Teman-teman yang mulia, kami memiliki keyakinan kepada sang guru; kami memiliki keyakinan kepada ajaran; kami memiliki keyakinan kepada, dan memiliki moralitas dari aturan latihan; dan kami merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka.

“Teman-teman yang mulia, Sang Bhagavā kami, yang memiliki pengetahuan dan penglihatan, yang adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, telah menyatakan empat prinsip ini, dan adalah karena empat prinsip ini sehingga kami membuat pernyataan ketika berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: ‘Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati]’.”

Para bhikkhu, seumpamanya para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, kami juga memiliki keyakinan kepada sang guru, yaitu, kepada guru kami; kami memiliki keyakinan kepada ajaran, yaitu, kepada ajaran kami; kami memiliki moralitas dari aturan latihan, yaitu, aturan latihan kami; dan kami merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka, yaitu, teman-teman dalam jalan kami, baik mereka yang telah pergi meninggalkan keduniawian maupun mereka yang berdiam dalam rumah tangga.

“Teman-teman yang mulia, sehubungan dengan dua pengajaran ini, pengajaran pertapa Gotama dan pengajaran kami, apakah yang lebih tinggi [atau lebih rendah], apakah maknanya, dan apakah perbedaannya?”

Para bhikkhu, kalian seharusnya bertanya kepada para praktisi ajaran lain demikian: “Teman-teman yang mulia, apakah terdapat satu tujuan akhir atau terdapat banyak tujuan akhir?” Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, terdapat satu tujuan akhir; bukan terdapat banyak tujuan akhir,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut, “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki keinginan indria atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa keinginan indria?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir adalah dicapai oleh seseorang yang tanpa keinginan indria; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki keinginan indria,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki permusuhan atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa permusuhan?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa permusuhan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki permusuhan,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki delusi atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa delusi?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa delusi; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki delusi,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki ketagihan dan kemelekatan atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa tanpa ketagihan dan kemelekatan?”<272>

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa ketagihan dan kemelekatan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki ketagihan dan kemelekatan,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana, atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang bermusuhan dan menyebabkan perselisihan, atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang bermusuhan dan menyebabkan perselisihan,” maka, para bhikkhu, katakanlah hal ini kepada para praktisi ajaran lain: “Teman-teman yang mulia, menurut apa yang telah kalian katakan, terdapat satu tujuan akhir; bukan terdapat banyak tujuan akhir. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa keinginan indria; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki keinginan indria.

“Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa permusuhan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki permusuhan. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa delusi; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki delusi. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa ketagihan dan kemelekatan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki ketagihan dan kemelekatan.

“Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang bermusuhan dan menyebabkan perselisihan.”

Jika para pertapa dan brahmana cenderung pada tak terhitung pandangan, maka mereka semua cenderung pada dua pandangan [mendasar]: pandangan penjelmaan dan pandangan tanpa penjelmaan. Jika mereka cenderung pada pandangan penjelmaan, maka mereka melekat pada pandangan penjelmaan, bergantung pada pandangan penjelmaan, mengambil posisi pada pandangan penjelmaan, dan berselisih dengan [mereka yang menganut] pandangan tanpa penjelmaan. Jika mereka cenderung pada pandangan tanpa penjelmaan, maka mereka melekat pada pandangan tanpa penjelmaan, bergantung pada pandangan tanpa penjelmaan, mengambil posisi pada pada tanpa penjelmaan, dan berselisih dengan [mereka yang menganut] pandangan penjelmaan.

Para pertapa dan brahmana yang tidak mengetahui sebab [dari dua pandangan ini], yang tidak mengetahui munculnya, tidak mengetahui lenyapnya, tidak mengetahui kepuasan di dalamnya, tidak mengetahui bahaya di dalamnya, dan tidak mengetahui jalan membebaskan diri darinya – mereka semua memiliki keinginan indria, mereka memiliki permusuhan dan delusi, mereka memiliki ketagihan, mereka memiliki kemelekatan, mereka tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana, dan mereka bermusuhan dan menyebabkan perselisihan. Akibatnya, mereka tidak bebas dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian serta tidak dapat membebaskan diri mereka dari kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan, dukacita dan kesakitan, kesengsaraan dan kekesalan; mereka tidak mencapai akhir dukkha.

Para pertapa dan brahmana yang mengetahui sebab dari [dua] pandangan ini, yang mengetahui munculnya, mengetahui lenyapnya, mengetahui kepuasan di dalamnya, mengetahui bahaya di dalamnya, dan mengetahui jalan membebaskan diri darinya – mereka semua adalah tanpa keinginan indria, tanpa permusuhan, tanpa delusi, tanpa ketagihan, tanpa kemelekatan, mereka memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana, dan mereka tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan. Mereka bebas dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, serta dapat membebaskan diri mereka dari kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan, dukacita dan kesakitan, kesengsaraan dan kekesalan; karenanya, mereka mencapai akhir dukkha.

Mungkin terdapat para pertapa dan brahmana yang menyatakan ditinggalkannya kemelekatan tetapi tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan. Mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria tetapi mereka tidak menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada aturan, kemelekatan pada pandangan, dan kemelekatan pada suatu diri.<273> Mengapakah demikian?

Para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui tiga hal [kemelekatan] ini sebagaimana adanya; akibatnya, walaupun mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan, mereka tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan.

Selanjutnya, terdapat para pertapa dan brahmana yang menyatakan ditinggalkannya kemelekatan tetapi tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan. [Mereka] menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada aturan tetapi mereka tidak menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada pandangan dan kemelekatan pada suatu diri. Mengapakah demikian?

Para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui dua hal [kemelekatan] ini sebagaimana adanya; akibatnya, walaupun mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan, mereka tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan.

Selanjutnya, terdapat para pertapa dan brahmana yang menyatakan ditinggalkannya kemelekatan tetapi tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan. [Mereka] menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada aturan, dan kemelekatan pada pandangan tetapi mereka tidak menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada suatu diri. Mengapakah demikian?

Para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui satu hal [kemelekatan] ini sebagaimana adanya; akibatnya, walaupun mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan, mereka tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan.

Dalam suatu ajaran dan disiplin demikian, jika seseorang memiliki keyakinan kepada sang guru, itu tidak tepat dan tidak [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki keyakinan kepada ajaran, itu juga tidak tepat dan tidak [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki moralitas dari aturan latihan; jika seseorang merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka, itu juga tidak tepat dan tidak [membawa pada] yang tertinggi.

Seorang Tathāgata muncul di dunia, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.

Beliau menyatakan ditinggalkan kemelekatan, dengan menyatakan di sini dan saat ini meninggalkan semua [jenis] kemelekaatan. Beliau menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada aturan, kemelekatan pada pandangan, dan kemelekatan pada suatu diri.

Apakah sebab dari empat [jenis] kemelekatan ini? Dari apakah mereka muncul? Dari manakah mereka mereka lahir? Apakah sumber mereka? Empat [jenis] kemelekatan ini disebabkan oleh ketidaktahuan, mereka muncul [karena] ketidaktahuan, mereka lahir dari ketidaktahuan, dan mereka memiliki ketidaktahuan sebagai sumbernya.<274>

Jika seorang bhikkhu menghancurkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan, maka ia kemudian mengakhiri kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada aturan, kemelekatan pada pandangan, dan kemelekatan pada suatu diri. Tidak melekat, ia tidak gelisah; tanpa kegelisahan dan setelah meninggalkan sebab dan kondisinya, ia pasti mencapai nirvana akhir, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Dalam Dharma dan disiplin sejati demikian, jika seseorang memiliki keyakinan kepada sang guru, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki keyakinan kepada ajaran, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki moralitas dari aturan latihan, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi.

Teman-teman yang mulia, ini adalah [cara] latihan, ini adalah kekuatan, ini adalah pengetahuan yang kami miliki, di mana dengan kebaikannya kami membuat pernyatana demikian ketika kami berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: “Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati].”<275>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

42
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:38:07 PM »
102. Kotbah tentang Pemikiran-Pemikiran<264>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Sebelumnya, ketika aku belum mencapai pencerahan yang tiada bandingnya, sempurna, dan sepenuhnya, aku berpikir: “Biarkanlah aku membedakan pemikiran-pemikiranku menjadi dua bagian, dengan pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran kekejaman sebagai satu bagian, serta pemikiran tanpa keinginan indria, pemikiran tanpa permusuhan, dan pemikiran tanpa kekejaman sebagai bagian lain.”

Setelah itu aku membagi semua pemikiranku menjadi dua bagian, dengan pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran menyakiti sebagai satu bagian, serta pemikiran tanpa keinginan indria, pemikiran tanpa permusuhan, dan pemikiran tanpa menyakiti sebagai bagian lain.

Dengan berlatih seperti ini, aku pergi dan berdiam di tempat yang jauh dan terpencil, berlatih dengan tekun dengan pikiran yang bebas dari kelalaian. [Jika] pemikiran keinginan indria muncul, aku langsung memahami “Pemikiran keinginan indria telah muncul, yang berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana.” Ketika memahami bahwa ia berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana, ia dengan cepat lenyap.

Selanjutnya, [jika] pemikiran permusuhan, … [atau] pemikiran kekejaman muncul, aku langsung memahami “Pemikiran permusuhan, … [atau] pemikiran kekejaman telah muncul, yang berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana.” [Ketika aku] memahami bahwa ia berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana, ia dengan cepat lenyap.

[Jika] pemikiran keinginan indria muncul dalam diriku, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, memuntahkannya keluar. [Jika] pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman muncul, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, dan memuntahkannya keluar. Mengapakah demikian? Karena aku melihat bahwa tak terhitung keadaan-keadaan tidak bermanfaat yang jahat pasti akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Seperti halnya pada bulan terakhir musim semi, karena lahan-lahan telah ditanam, wilayah di mana sapi-sapi dapat merumput terbatas, dan seorang penggembala sapi setelah membebaskan sapi-sapi di daerah rawa yang tidak digarap, menggunakan tongkat untuk mencegah mereka tersesat ke lahan orang lain. Mengapakah demikian? Karena penggembala sapi mengetahui bahwa ia pasti akan ditegur, dipukuli, atau dipenjara [jika sapi-sapi itu] memasuki lahan orang lain. Karena alasan ini, penggembala sapi menggunakan tongkat untuk mencegahnya.

Dengan cara yang sama, [jika] pemikiran keinginan indria muncul dalam diriku, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, dan memuntahkannya keluar. [Jika] pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman muncul, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, dan memuntahkannya keluar. Mengapakah demikian? Karena aku melihat bahwa tak terhitung keadaan jahat dan tidak bermanfaat pasti akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Para bhikkhu, sesuai dengan apa yang seseorang kehendaki, sesuai dengan apa yang seseorang pikirkan, pikiran bergembira di dalam hal itu. Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran keinginan indria dan meninggalkan pemikiran tanpa keinginan indria, maka dengan sering memikirkan pemikiran keinginan indria pikirannya bergembira di dalamnya.

Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman dan meninggalkan pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman, maka dengan sering memikirkan pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman pikirannya bergembira di dalamnya.

Demikianlah seorang bhikkhu yang tidak meninggalkan pemikiran keinginan indria, tidak meninggalkan pemikiran permusuhan, dan tidak meninggalkan pemikiran kekejaman tidak akan dapat membebaskan dirinya kelahiran, usia tua, kematian, kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan; ia tidak akan dapat membebaskan diri dari semua dukkha ini.<265>

Dengan berlatih seperti ini, aku pergi dan berdiam di tempat yang jauh dan terpencil, berlatih dengan tekun dengan pikiran yang bebas dari kelalaian. [Jika] pemkiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku langsung memahami, “Pemikiran tanpa keinginan indria telah muncul, yang tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan, dan pada pencapaian nirvana.” Ketika memahami bahwa ia tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, serta bahwa ia akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan dan pada pencapaian nirvana, aku dengan cepat mengembangkannya dan berulang-ulang melakukannya.

Selanjutnya, [jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul dalam diriku, aku langsung memahami, “Pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman telah muncul, yang tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan dan pada pencapaian nirvana.” Ketika memahami bahwa ia tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, serta bahwa ia akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan dan pada pencapaian nirvana, aku dengan cepat mengembangkannya dan berulang-ulang melakukannya.

[Jika] pemikiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku dengan sengaja terus-menerus memikirkannya. [Jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul, aku dengan sengaja terus-menerus memikirkannya.

Aku lebih lanjut berpikir: “Jika aku dengan sengaja terus-menerus memikirkan[nya] jasmaniku akan kehilangan kekuatan dan pikiranku akan terganggu. Biarkanlah aku sebaiknya menjaga pikiranku terkendali dari dalam, dengan terus-menerus berdiam dalam ketenangan internal, terpusat, setelah mencapai konsentrasi, sehingga pikiranku tidak akan terganggu.”
Setelah itu aku menjaga pikiranku terkendali dari dalam, dengan terus-menerus berdiam dalam ketenangan internal, terpusat, setelah mencapai konsentrasi, dan pikiranku tidak lagi terganggu.

[Jika] pemikiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. [Jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. Mengapakah demikian? [Karena] aku tidak melihat bahwa tak terhitung keadaan jahat dan tidak bermanfaat akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Seperti halnya pada bulan terakhir musim gugur, ketika seluruh hasil panen telah dikumpulkan, seorang penggembala sapi membebaskan sapi-sapi di lahan yang tidak digarap dan memperhatikan mereka, dengan berpikir, “Sapi-sapiku berada di sana dalam kawanannya.” Mengapakah demikian? Karena anak penggembala sapi itu tidak melihat bahwa ia akan ditegur, dipukuli, atau dipenjara karena masuknya sapi-sapi itu ke lahan orang lain. Karena alasan ini ia memperhatikan mereka demikian, “Sapi-sapiku berada di sana dalam kawanannya.”

Dengan cara yang sama, [jika] pemikiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. [Jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. Mengapakah demikian? [Karena] aku tidak melihat bahwa tak terhitung keadaan jahat dan tidak bermanfaat akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Para bhikkhu, sesuai dengan apa yang seseorang kehendaki, sesuai dengan apa yang seseorang pikirkan, pikiran bergembira di dalam hal itu. Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran tanpa keinginan indria dan meninggalkan pemikiran keinginan indria, maka karena sering memikirkan pemikiran tanpa keinginan indria pikirannya bergembira di dalamnya.

Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman, dan meninggalkan pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman, maka karena sering memikirkan pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman indria pikirannya bergembira di dalamnya.<266>

Dengan penenangan kesadaran [terarah] dan perenungan [berkelanjutan], dengan ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, ia berdiam setelah mencapai jhāna kedua, yang tanpa kesadaran [terarah] dan perenungan [berkelanjutan] serta dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi.

Terasing dari sukacita dan kenikmatan, dengan berdiam dalam keseimbangan dan tanpa mencari apa pun, dengan perhatian benar dan pemahaman benar, mengalami kenikmatan dengan jasmani, ia berdiam setelah mencapai jhāna ketiga, yang dikatakan para orang mulia sebagai keseimbangan dan perhatian mulia, suatu kediaman yang membahagiakan.

Dengan lenyapnya kenikmatan dan lenyapnya kesakitan, dan dengan lenyapnya sebelumnya sukacita dan penderitaan, dengan bukan kesakitan juga bukan kenikmatan, dan dengan kemurnian perhatian dan keseimbangan, ia berdiam setelah mencapai jhāna keempat.

Dengan pikirannya yang terkonsentrasi dan dimurnikan dengan cara ini, bebas dari kekotoran, bebas dari gangguan, lunak, kokoh, setelah mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada realisasi pengetahuan lebih tinggi atas hancurnya noda-noda.<267>

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah dukkha”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya dukkha”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya dukkha”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan [menuju] lenyapnya dukkha.”

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah noda-noda”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya noda-noda”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya noda-noda”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan [menuju] lenyapnya noda-noda.”

Mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda kelangsungan, dan dari noda ketidaktahuan. Terbebaskan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Bhikkhu ini, yang bebas dari pemikiran keinginan indria, bebas dari pemikiran permusuhan, dan bebas dari pemikiran kekejaman, mencapai pembebasan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan. Ia bebas dari semua dukkha.

Seperti halnya sekawanan rusa yang hidup di daerah yang terpencil di mana terdapat mata air besar. Seseorang datang yang tidak mencari manfaat dan kesejahteraan kawanan rusa itu, tidak mencari keamanan dan kebahagiaan mereka. Ia menutup jalan yang benar dan membuka jalan palsu, menggali sebuah lubang [sebagai sebuah jebakan], dan menyuruh seseorang menjaganya. Dengan cara ini seluruh kawanan rusa akan [terjebak dan] dibunuh.

Seumpamanya seseorang yang lain datang, yang mencari manfaat dan kesejahteraan kawanan rusa itu serta mencari keamanan dan kebahagiaan mereka. Ia membuka jalan yang benar, menutup jalan yang buruk, dan mengusir penjaga itu. Dengan cara ini seluruh kawanan rusa tersebut akan tetap aman dan selamat.

Para bhikkhu, kalian seharusnya mengetahui bahwa aku telah mengucapkan perumpamaan ini dengan berharap kalian mengetahui maknanya. Ketika mendengar suatu perumpamaan seorang yang bijaksana memahami maksudnya. Ini adalah makna dari perkataan ini: Mata air besar melambangkan lima utas kenikmatan indria yang menyenangkan, dirindukan, dan disenangi.

Apakah lima hal itu? Mereka adalah bentuk-bentuk terlihat yang diketahui oleh mata, suara-suara yang diketahui oleh telinga, bebauan yang diketahui oleh hidung, rasa-rasa yang diketahui oleh lidah, dan sentuhan yang diketahui oleh badan. Kalian seharusnya mengetahui bahwa “mata air besar” melambangkan lima kenikmatan indria ini.

Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa kawanan besar rusa [melambangkan] para pertapa dan brahmana. Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa seseorang yang datang dan tidak mencari manfaat dan kesejahteraan mereka, keamanan dan kebahagiaan mereka, [melambangkan] Māra, Si Jahat. Menutup jalan yang benar dan membuka jalan yang buruk [melambangkan] tiga jenis pemikiran jahat dan tidak bermanfaat: pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran kekejaman.

Kalian seharusnya mengetahui bahwa jalan jahat [melambangkan] tiga pemikiran jahat dan tidak bermanfaat ini. Selanjutnya, terdapat jalan jahat lainnya, yaitu jalan salah berunsur delapan: pandangan salah, ... sampai dengan ... konsentrasi salah;  ini adalah delapan hal itu.<268> Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa lubang besar [melambangkan] ketidaktahuan. Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa pengawas [melambangkan] pengikut Māra, Si Jahat.<269>

Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa orang lain yang datang, mencari manfaat dan kesejahteraan [kawanan rusa itu], mencari keamanan dan kebahagiaan, [melambangkan] Sang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna. Membuka jalan yang benar dan menutup jalan yang jahat [melambangkan] tiga pemikiran bermanfaat: pemikiran tanpa keinginan indria, pemikiran tanpa permusuhan, dan pemikiran tanpa kekejaman. Kalian seharusnya mengetahui bahwa jalan itu [melambangkan] tiga pemikiran bermanfaat ini. Selanjutnya, terdapat jalan lain, yaitu jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, ... sampai dengan ... konsentrasi benar; ini adalah delapan hal itu.

Para bhikkhu, aku telah membuka jalan yang benar untuk kalian dan menutup jalan yang jahat; aku telah menambal lubang dan mengusir penjaganya. Apa yang seharusnya dilakukan seorang guru untuk para siswanya demi belas kasih agung, kebaikan, simpati, dan perhatian, dengan mencari manfaat dan kesejahteraan mereka, mencari keamanan dan kebahagian mereka, telah kulakukan sekarang.

Kalian juga seharusnya melakukan tugas kalian. Pergilah dan duduk bermeditasi di tempat yang terpencil, di gunung, di dalam hutan, di bawah sebatang pohon dan tempat yang kosong dan tenang. Janganlah lalai, lakukan usaha yang tekun, agar kalian tidak menyesal kelak. Inilah instruksiku, inilah pengajaranku.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

43
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:35:13 PM »
101. Kotbah tentang Keadaan Pikiran yang Lebih Tinggi<259>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi (adhicitta) maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan lima tanda. Melalui perhatian berulang-ulang pada lima tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan, pikiran akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Apakah lima [tanda] itu? Jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul [ketika] seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka karena tanda [yang mendahului] ini [telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], ia [seharusnya] alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak akan muncul kembali.

[Jika,] karena tanda [yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], ia alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya seorang tukang kayu atau murid tukang kayu dapat menerapkan seutas benang bertinta pada sepotong kayu [untuk menandai garis lurus],<260> dan kemudian memotong kayu itu dengan sebuah kapak yang tajam untuk membuatnya lurus.<261> Dengan cara yang sama, karena tanda [yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], bhikkhu itu alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak akan muncul kembali.

[Jika,] karena tanda [yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], ia alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan apa yang bermanfaat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda pertama [yang berbeda] ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul [ketika] seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka ia [seharusnya] merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan diliputi oleh bahaya [demikian]: “Pemikiran-pemikiran ini adalah tidak bermanfaat, pemikiran-pemikiran ini adalah jahat, pemikiran-pemikiran ini dicela oleh para bijaksana. Seseorang yang dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran ini tidak akan mencapai penembusan, tidak akan mencapai jalan menuju pencerahan, tidak akan mencapai nirvana, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh].”

[Jika] ia merenungkannya dengan cara ini sebagai jahat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya seseorang pemuda yang sangat tampan dapat mandi dan membersihkan dirinya sendiri,<262> berpakaian dalam pakaian yang bersih, menggunakan wewangian pada tubuhnya, dan menyisir janggut dan rambutnya, agar bersih tanpa noda. Jika seseorang mengambil bangkai ular, bangkai anjing, atau mayat manusia yang telah setengah dimakan [oleh hewan], atau berwarna kebiruan, bengkak dan membusuk, dengan ketidakmurnian mengalir keluar, dan meletakkan [bangkai hewan atau mayat itu] di sekeliling leher [pemuda itu], maka [orang itu] akan jijik terhadap kotoran itu, mereka tidak akan menikmati atau menyukainya. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu [seharusnya] merenungkan pemikiran-pemikiran [yang muncul] ini sebagai jahat dan diliputi oleh bahaya [demikian]: “Pemikiran-pemikiran ini adalah tidak bermanfaat, pemikiran-pemikiran ini adalah jahat, pemikiran-pemikiran ini dicela oleh para bijaksana. Seseorang yang dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran ini tidak akan mencapai penembusan, tidak akan mencapai jalan menuju pencerahan, tidak akan mencapai nirvana, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh].”

[Jika] ia merenungkannya dengan cara ini sebagai jahat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda kedua ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, dan jika ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang berbahaya muncul kembali, maka bhikkhu itu seharusnya tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh].

[Jika] ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya ketika terdapat bentuk-bentuk terlihat di suatu tempat yang cukup terang dan seseorang dengan penglihatan baik yang tidak [memiliki] keinginan untuk melihatnya menutup matanya atau berbalik dan pergi. Apakah yang kalian pikirkan? Bentuk-bentuk terlihat [tersebut] yang berada di suatu tempat yang cukup terang, apakah orang itu dapat menerima gambaran bentuk tersebut?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ia tidak akan [menerima gambaran tersebut].”

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu seharusnya tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh]. [Jika] ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda ketiga ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika bhikkhu itu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat; dan jika, ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul kembali; dan jika, ketika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang lebih jauh; maka, sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, bhikkhu itu seharusnya menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

[Jika] sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran itu secara bertahap, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya seseorang yang berjalan dengan cepat, terburu-buru, dapat merenungkan, “Mengapakah aku terburu-buru? Tidakkah lebih baik aku berjalan lebih perlahan sekarang?” dan demikianlah ia berjalan dengan perlahan. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku berjalan dengan perlahan? Tidakkah lebih baik aku berdiri diam?” dan demikianlah ia berdiri diam. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku berdiri? Tidakkah lebih baik aku duduk?” dan demikianlah ia duduk. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku duduk? Tidakkah lebih baik aku berbaring?” dan demikianlah ia berbaring. Dengan cara ini orang itu secara bertahap menenangkan aktivitas jasmani kasarnya.

Seharusnya dipahami bahwa bhikkhu itu juga seperti ini bahwa [ketika], sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

[Jika,] sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran itu secara bertahap, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda keempat ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat; dan jika, ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat juga muncul; dan jika, ketiak ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang lebih lanjut muncul; dan jika ketika ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul kembali; maka bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Jika, karena pemikiran-pemikiran ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat ini muncul dalam diri seorang bhikkhu, maka bhikkhu itu seharusnya, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.”

[Jika] ia menggunakan pikiran untuk menggendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya dua orang yang kuat dapat mencengkeram seorang yang lemah, dengan menggenggamnya dan menundukkannya. Dengan cara yang sama seorang bhikkhu, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

[Jika] ia menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, menggenggamnya dan menundukkannya, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda kelima ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan lima tanda ini. Melalui perhatian berulang-berulang pada lima tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan pada apa yang bermanfaat, pemikiran-pemikiran jahat tidak muncul kembali; [jika] ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran [jahat] sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; [jika] ketika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran [jahat], pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; jika ketika ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran [jahat] secara bertahap, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; [dan] jika ketika ia menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali – maka ia telah mencapai penguasaan diri. Ia berpikir apa yang ingin ia pikirkan dan tidak berpikir apa yang tidak ia ingin pikirkan.

Jika seorang bhikkhu berpikir apa yang ingin ia pikirkan dan tidak berpikir apa yang tidak ingin ia pikirkan, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang berpikir menurut keinginannya, yang memiliki penguasaan atas jalan pikiran.<263>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

44
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:30:06 PM »
Mahānāma, suatu ketika aku sedang berdiam di dekat Rājagaha, di Gunung Vebhāra di Gua Sattapaṇṇi [yang sering dikunjungi oleh] para pertapa.<252> Mahānāma, pada saat sore menjelang malam, setelah bangkit dari duduk bermeditasi, aku mendekati lereng gunung itu.

Di sana aku melihat banyak Nigaṇṭha menjalankan latihan tidak duduk, berdiri terus-menerus tanpa duduk, mengalami kesakitan yang sangat hebat. Aku mendekati mereka dan bertanya, “Para Nigaṇṭha, karena alasan apakah kalian menjalankan latihan tidak duduk, berdiri terus-menerus tanpa duduk ini, mengalami kesakitan seperti ini?”

Mereka berkata, “Gotama, kami memiliki seorang guru, seorang Nigaṇṭha bernama Nātaputta, yang mengajarkan kami, dengan berkata,<253> ‘Para Nigaṇṭha, apa pun karma tidak bermanfaat yang dilakukan dalam kehidupan lampau kalian pasti akan dihancurkan melalui latihan keras. Jika kalian mempertahankan ucapan jasmani dan perilaku batin yang baik, maka karena hal itu kalian tidak akan melakukan karma jahat dan tidak bermanfaat lebih lanjut’.”

Mahānāma, aku bertanya kepada mereka lebih lanjut, “Para Nigaṇṭha, apakah kalian memiliki keyakinan kepada guru kalian dan apakah kalian bebas dari keragu-raguan?”<254> Mereka menjawab, “Ya tentu saja, Gotama. Kami memiliki keyakinan kepada guru kami dan bebas dari keragu-raguan.”

Mahānāma, aku bertanya kepada mereka lebih lanjut, “Para Nigaṇṭha, jika demikian, maka [apakah ini berarti bahwa] dalam kehidupan lampau kalian dan guru Nigaṇṭha kalian berulang-ulang melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat,<255> dan setelah sebelumnya melakukan [perbuatan demikian] kalian para Nigaṇṭha, pada saat meninggal dunia dan terlahir kembali sekarang di alam manusia, pergi meninggalkan keduniawian sebagai para Nigaṇṭha untuk menjalankan latihan tidak duduk, berdiri terus-menerus tanpa duduk, mengalami kesakitan seperti ini, seperti halnya yang sedang kalian dan para siswa kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Gotama, kebahagiaan dicapai tidak melalui kebahagiaan tetapi melalui kesakitan. Kebahagiaan yang dialami oleh pertapa Gotama tidak dapat menyamai kebahagiaan Raja Bimbisāra.”

Aku berkata lebih lanjut, “Kalian kebingungan. Apa yang kalian katakan tidak bermakna. Mengapakah demikian? Tidak terampil, tanpa pemahaman, dan tidak mengetahui waktu yang tepat, kalian telah membuat pernyataan ini:<256> ‘Kebahagiaan yang dialami oleh pertapa Gotama tidak dapat menyamai kebahagiaan Raja Bimbisāra.’ Para Nigaṇṭha, kalian seharusnya pertama-tama bertanya, ‘Siapakah [yang mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi, Raja Bimbisāra atau pertapa Gotama?’ Para Nigaṇṭha, aku akan menjawab seperti ini, ‘Aku [mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi; Raja Bimbisāra tidak dapat menyamainya.’ Namun, para Nigaṇṭha, kalian menyatakan bahwa ‘Kebahagiaan yang dialami oleh pertapa Gotama tidak dapat menyamai kebahagiaan Raja Bimbisāra’.”

Kemudian para Nigaṇṭha berkata, “Gotama, kami sekarang bertanya kepada pertapa Gotama: Siapakah [yang mengalami] kebahagiaan yang lebih besar, Raja Bimbisāra atau pertapa Gotama?”

Aku menjawab lebih lanjut, “Para Nigaṇṭha, aku sekarang akan bertanya kepada kalian. Jawablah sesuai dengan pemahaman kalian. Para Nigaṇṭha, apakah yang kalian pikirkan? Dapatkah Raja Bimbisāra, menurut keinginannya, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama tujuh hari dan tujuh malam?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Tidak, Gotama.”

[Aku bertanya lebih lanjut, “Dapatkah ia, menurut keinginannya, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian] memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama enam hari, … lima, … empat, … tiga, … dua hari, … atau satu hari dan satu malam?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Tidak, Gotama.”

Aku bertanya lagi, “Para Nigaṇṭha, dapatkah aku, menurut keinginanku, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama satu hari dan satu malam?”<257> Para Nigaṇṭha menjawab, “Ya tentu saja, Gotama.”

[Aku bertanya lagi, “Dapatkah aku, menurut keinginanku, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian] memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama dua, … tiga, … empat, … lima, … enam, … atau tujuh hari dan tujuh malam?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Ya tentu saja, Gotama.”

Aku bertanya lagi, “Para Nigaṇṭha, apakah yang kalian pikirkan, siapakah yang [mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi, Raja Bimbisāra atau diriku?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Gotama, seperti yang kami terima dan pahami apa yang dikatakan pertapa Gotama, Gotama [mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi; Raja Bimbisāra tidak dapat menyamainya.”<258>

Mahānāma, karena alasan ini ketahuilah bahwa tidak ada kebahagiaan dalam kenikmatan indria; hanya terdapat penderitaan dan kesedihan tak terhitung. [Jika] seorang siswa mulia tidak melihat hal ini sebagaimana adanya, maka ia diselubungi oleh kenikmatan indria, terjerat dalam apa yang jahat dan tidak bermanfaat, dan tidak akan mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya.

Mahānāma, dengan cara ini seorang siswa mulia mengalami kemunduran karena kenikmatan indria. Mahānāma, aku mengetahui bahwa tidak ada kebahagiaan dalam kenikmatan indria; hanya terdapat penderitaan dan kesedihan tak terhitung. Mengetahui hal ini sebagaimana adanya, aku tidak diselubungi oleh kenikmatan indria, tidak terjerat oleh keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, serta dengan demikian mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya. Mahānāma, karena alasan ini aku tidak mengalami kemunduran karena kenikmatan indria.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Mahānāma orang Sakya dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat

45
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 01:28:12 PM »
100. Kotbah [Kedua] tentang Kumpulan Dukkha<244>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Sakya di Kapilavatthu, di Taman Nigrodha.

Pada waktu itu Mahānāma orang Sakya, ketika sedang berjalan-jalan setelah tengah hari, mendekati Sang Buddha. Setelah memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi, ia berkata:

Sang Bhagavā, seperti aku memahami ajaran Sang Bhagavā, aku harus melenyapkan tiga kekotoran dalam pikiranku: kekotoran pikiran oleh keserakahan, kekotoran pikiran oleh kebencian, dan kekotoran pikiran oleh delusi.

Sang Bhagavā, [walaupun] aku memahami ajaran seperti ini, tetapi keadaan-keadan keserakahan, keadaan-keadaan kebencian, dan keadaan-keadaan delusi masih muncul dalam pikiranku. Sang Bhagavā, aku berpikir: Apakah kondisi yang belum kuhancurkan yang masih menyebabkan keadaan-keadaan keserakahan, keadaan-keadaan kebencian, dan keadaan-keadaan delusi muncul dalam pikiranku?

Sang Bhagavā berkata:

Mahānāma, [di dalam] dirimu terdapat satu kondisi yang belum dihancurkan, yaitu [di mana karenanya] engkau tetap seorang perumah tangga, alih-alih meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan dan menjadi seorang tanpa rumah untuk berlatih sang jalan. Mahānāma, jika engkau telah menghancurkan satu kondisi ini, engkau pasti tidak akan tetap seorang perumah tangga tetapi pasti akan meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan dan menjadi seorang tanpa rumah untuk berlatih sang jalan. Adalah karena satu kondisi ini belum dihancurkan sehingga engkau tetap seorang perumah tangga alih-alih meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan dan menjadi seorang tanpa rumah untuk berlatih sang jalan.

Atas hal ini Mahānāma orang Sakya bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangannya disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata kepada Sang Bhagavā, “Semoga Sang Bhagavā mengajarkanku Dharma, sehingga pikiranku menjadi murni, membebaskannya dari keragu-raguan, dan mencapai sang jalan!”<245>

Sang Bhagavā berkata:<246>

Mahānāma, terdapat lima utas kenikmatan indria yang diinginkan, dipikirkan, disenangi, berhubungan dengan nafsu, dan dinikmati oleh orang-orang. Apakah lima hal itu? Mereka adalah bentuk-bentuk terlihat yang dikenali oleh mata, suara-suara yang dikenali oleh telinga, bebauan yang dikenali oleh hidung, rasa-rasa yang dikenali oleh lidah, dan sentuhan yang dikenali oleh badan.

Dari hal-hal ini, raja dan para pengiring raja memperoleh kenikmatan dan kegembiraan. Mahānāma, ini adalah kepuasan tertinggi dalam kenikmatan indria. Tiada yang melampauinya, [tetapi] ia diliputi oleh banyak bahaya.

Mahānāma, apakah bahaya dalam kenikmatan indria? Mahānāma, seorang anggota keluarga dapat menggunakan apa pun kemampuan atau keterampilan yang ia miliki untuk memperoleh penghidupan, apakah itu pertanian, perdagangan, menggunakan pengetahuan akademis, keterampilan dalam pembukuan, pengetahuan berhitung, keterampilan dalam mengukir cap, menulis naskah, membuat alat tulis, memahami kitab-kitab suci, bertugas sebagai panglima pemberani, atau melayani raja.

Ketika cuaca dingin, ia [diserang oleh] rasa dingin; ketika cuaca panas, ia [diserang oleh] rasa panas; ia menjadi lapar, haus, dan lelah, serta digigit oleh nyamuk dan serangga pengganggu ketika ia menjalankan pekerjaan demikian dalam pencariannya atas kekayaan. Mahānāma, jika anggota keluarga itu, yang melakukan usaha demikian, menjalankan kegiatan demikian dan perjuangan demikian, tidak memperoleh kekayaan, maka ia mengalami dukacita dan ketidakbahagiaan, ia khawatir dan bersedih, kecewa dan jengkel, serta kebingungan muncul dalam pikirannya. Ia berkata [pada dirinya sendiri], “Pekerjaanku sia-sia, penderitaanku sia-sia, perjuanganku tidak berhasil!”

[Namun,] Mahānāma, jika anggota keluarga itu, yang melakukan usaha demikian, menjalankan kegiatan demikian dan perjuangan demikian, memperoleh kekayaan, maka ia menyayangi dan menghargai kekayaan itu, dengan menjaganya dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi. Mengapakah demikian?

[Karena ia berpikir,] “Semoga kekayaanku ini tidak diambil secara paksa oleh raja, dicuri oleh pencuri, atau terbakar dalam api; semoga ia tidak rusak dan hancur atau hilang! Semoga tidak ada uangku yang keluar tanpa [menghasilkan] keuntungan, atau digunakan untuk apa pun pekerjaan yang gagal!” [Karena alasan ini,] ia menjaga [kekayaannya] demikian dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi.

Jika kekayaan itu diambil secara paksa oleh raja, dicuri oleh pencuri, terbakar dalam api; jika ia rusak atau hancur atau hilang, maka dukacita dan ketidakbahagiaan muncul. Ia khawatir dan bersedih, kecewa dan jengkel, dan kebingungan muncul dalam pikirannya, dan ia berkata [pada dirinya sendiri,] “Yang kusimpan selama waktu yang lama sekarang hilang!” Seperti ini, Mahānāma, adalah kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.<247>

Selanjutnya, Mahānāma, [di antara] makhluk-makhluk hidup, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, seorang ibu berselisih dengan anaknya, atau seorang anak berselisih dengan ibunya, seorang ayah [berselisih dengan] anaknya, ... seorang kakak laki-laki dengan adik laki-lakinya, ... seorang kakak perempuan dengan adik perempuannya, ... atau para sanak keluarga berselisih satu sama lainnya.

Setelah berselisih seperti ini, seorang ibu berkata buruk terhadap anaknya, seorang anak berkata buruk terhadap ibunya, seorang ayah [berkata buruk] terhadap anaknya, ... seorang kakak laki-laki terhadap adik laki-laki, ... seorang kakak perempuan terhadap adik perempuannya, ... atau para sanak keluarga berkata buruk satu sama lainnya, apalagi orang lain.<248> Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, [di antara] makhluk-makhluk hidup, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, raja berselisih dengan raja, brahmana berselisih dengan brahmana, perumah tangga berselisih dengan perumah tangga, warga kota berselisih dengan warga kota, dan negeri berselisih dengan negeri.

Karena mereka berselisih dan membenci satu sama lain, mereka mengambil berbagai jenis senjata untuk melukai satu sama lain, menyerang [satu sama lain] dengan tinju, atau melempar batu [satu sama lain], atau memukul [satu sama lain] dengan tongkat, atau melukai [satu sama lain] dengan pedang. Selama perselisihan mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai serta pergi berperang. Mereka bertempur di atas gajah, kuda, atau kereta, atau sebagai pasukan pejalan kaki, atau mereka bertempur sebagai orang [biasa].<249> Selama pertempuran mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai, serta [berangkat untuk] menaklukkan negeri lain. Mereka mengepung sebuah kota dan menghancurkan bentengnya, berbaris dalam barisan perang sampai memukul genderang, meniup terompet, dan berteriak keras. Mereka menyerang dengan palu, atau mereka menggunakan tombak dan tombak berkapak, atau mereka menggunakan roda pemotong, atau mereka menembakkan anak panah, atau mereka melemparkan batu, atau mereka menggunakan katapel besar, atau mereka menuangkan butiran tembaga cair. Selama pertempuran mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai, dan maju memasuki desa, kota kecil, kampung, atau kota. Mereka menerobos dinding dan membuka ruang penyimpanan untuk mencuri harta kekayaan. Mereka memutus jalan raya raja atau menjangkau jalan lainnya. Mereka menghancurkan pedesaan, merusak kota-kota kecil, memusnahkan perkampungan, dan memporak-porandakan kota-kota.

Dalam proses itu mereka mungkin ditangkap oleh orang-orang raja, yang menjatuhkan mereka berbagai hukuman, seperti memotong tangan mereka, kaki mereka, atau baik tangan maupun kaki; memotong telinga mereka, hidung mereka, atau baik hidung maupun telinga; atau mengiris potongan [daging] mereka, atau menarik janggut atau rambut mereka, atau menarik baik janggut maupun rambut, atau menempatkan mereka dalam kurungan dan membakar pakaian mereka, atau menyelimuti mereka dalam jerami dan membakarnya; atau menempatkan mereka dalam perut “keledai besi” atau mulut “babi besi” atau mulut “macan besi” dan kemudian memanaskannya; atau menempatkan mereka dalam ketel tembaga atau besi dan merebus mereka; atau memotong mereka menjadi potongan-potongan, atau menusuk mereka dengan garpu tajam, atau mengaitkan mereka dengan kait besi, atau membaringkan mereka di atas ranjang besi dan membuat mereka melepuh dengan minyak panas, atau mendudukkan mereka dalam lumpang besi dan menumbuk mereka dengan alu besi, atau membiarkan mereka digigit oleh ular atau ular besar, atau mencambuk mereka dengan cambuk, atau memukul mereka dengan tongkat, atau memukul mereka dengan gada, atau menusuk mereka hidup-hidup pada tonggak tinggi, atau memenggal mereka.

Dalam proses itu mereka akan tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Pada waktu belakangan mereka terserang oleh penyakit dan berbaring di atas tempat tidur, atau duduk atau berbaring di atas tanah, dengan kesakitan menekan tubuh mereka, mengalami kesakitan yang sangat berat yang sama sekali tidak diinginkan.

Pada saat kematian perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka yang jahat muncul di hadapan mereka dan menyelubungi mereka. Seperti halnya ketika matahari tenggelam, bayangan puncak gunung besar menyelubungi bumi, dengan cara yang sama perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka yang jahat muncul di hadapan mereka dan menyelubungi mereka.<250>

Mereka berpikir: “Sebelumnya aku melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yang [sekarang] muncul di hadapanku dan menyelubungiku. Sebelumnya aku tidak melakukan perbuatan-perbuatan bajik; aku melakukan banyak perbuatan jahat. Jika terdapat tempat di mana orang-orang terlahir kembali yang melakukan apa yang jahat, buruk, dan berbahaya, yang hanya melakukan kejahatan, yang tidak berbuat kebajikan dan tidak melakukan perbuatan baik, yang tanpa ketakutan [terhadap akibatnya], tanpa kebergantungan, tanpa perlindungan – aku pasti akan terlahir kembali di sana.”

Dari hal ini mereka merasakan penyesalan, dan karena menyesal mereka mengalami kematian yang buruk, dan kehidupan mereka berakhir tanpa kebajikan. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Karena perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat tersebut, dengan hal ini sebagai sebab, dengan hal ini sebagai kondisi, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian mereka pasti akan pergi menuju alam yang buruk dan terlahir kembali di neraka. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Mahānāma, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa tidak ada kebahagiaan dalam semua kenikmatan indria; [hanya terdapat] penderitaan dan kesedihan tak terhitung. [Jika] seorang siswa mulia tidak melihat hal ini sebagaimana adanya, maka ia diselubungi oleh kenikmatan indria dan tidak akan mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya.

Mahānāma, dengan cara ini seorang siswa mulia mengalami kemunduran karena kenikmatan indria. Mahānāma, aku mengetahui bahwa tidak ada kebahagiaan dalam kenikmatan indria, tetapi hanya kesedihan tak terhitung. Mengetahui hal ini sebagaimana adanya, Mahānāma, aku tidak diselubungi oleh kenikmatan indria dan tidak dikuasai oleh apa yang jahat, dan dengan demikian aku mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya. Mahānāma, karena alasan ini aku tidak mengalami kemunduran karena kenikmatan indria.<251>

Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9 10 ... 228
anything