//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta  (Read 23020 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
"Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« on: 10 August 2014, 04:13:30 PM »
MN 22 Alagaddupama Sutta mengisahkan tentang seorang bhikkhu bernama Ariṭṭha memunculkan suatu pandangan sesat bahwa perilaku yang dilarang oleh Sang Buddha tidak benar-benar merupakan rintangan. Sang Buddha menegurnya dan, dengan serangkaian perumpamaan yang mengesankan, menekankan bahaya dalam kesalahan memahami Dhamma.

Di sini Sang Buddha menegur Bhikkhu Arittha dengan menyebutnya sebagai "orang sesat" (dalam versi terjemahan DC yang diambil dari Bhikkhu Bodhi):

6. “Orang sesat, dari siapakah engkau mendengar bahwa Aku mengajarkan Dhamma seperti itu? Orang sesat, dalam banyak khotbah bukankah Aku telah menyebutkan bagaimana hal-hal yang merintangi adalah rintangan, dan bagaimana hal-hal itu mampu merintangi seseorang yang menekuninya? Aku telah mengatakan bagaimana kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan, dan banyak keputus-asaan, dan bahwa bahaya di dalamnya bahkan lebih banyak lagi...”

Tampaknya di sini Sang Buddha berkata agak kasar dan berkonotasi tidak menyenangkan walaupun tujuannya untuk menyadarkan sang bhikkhu yang berpandangan salah tsb. Di sini timbul pertanyaan: kenapa kok Buddha bisa berkata demikian kasar dan tidak mengenakkan bagi orang lain? Apakah sutta ini benar-benar mencerminkan sikap Sang Buddha terhadap pandangan salah yang kemudian dicap sebagai "sesat"?

Fyi, definisi kata "sesat" menurut KKBI:

Quote
sesat /se·sat/ a 1 tidak melalui jalan yg benar; salah jalan: malu bertanya -- di jalan; mati --; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dr kebenaran (tt agama dsb): ajaran yg --;-- surut, terlangkah kembali, pb memperbaiki kesalahan yg telah dibuat;
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.404
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #1 on: 10 August 2014, 06:14:33 PM »
yg jadi masalah adalah ketika kita punya gambaran, ekspektas dan ideal sosok Buddha itu sendiri.

dan yg lebih rumit lagi... gambaran sosok seperti apa buddha, dan bagaimana beliau merespon itu dibentuk oleh riwayat dan kisah2 yg beraneka macam yg kita tidak tahu apakah itu adalah kebenaran atau hanya interpretasi dan dugaan saja. (sepertinya yg belakangan)
There is no place like 127.0.0.1

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #2 on: 11 August 2014, 07:28:57 PM »
Hmmm... Dalam MN 58 Abhayarajakumara Sutta dikatakan bahwa Sang Buddha hanya mengucapkan kata-kata yang benar, tepat dan bermanfaat terlepas dari apakah kata-kata itu disukai atau tidak, menyenangkan atau tidak:

8. “Demikian pula, Pangeran, (a) kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, dan juga yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata.
(b) Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, tetapi tidak bermanfaat, dan juga yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata.
(c) Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, dan bermanfaat, tetapi tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: Sang Tathāgata mengetahui waktunya untuk mengucapkan kata-kata itu.
(d) Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, tetapi disukai dan menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata.
(e) Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, tetapi tidak bermanfaat, dan disukai dan menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata.
(f) Kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, dan bermanfaat, dan juga yang disukai dan menyenangkan bagi orang lain: Sang Tathāgata mengetahui waktunya untuk mengucapkan kata-kata itu. Mengapakah? Karena Sang Tathāgata berbelas kasih pada makhluk-makhluk.”


Jadi, mungkin saja Sang Buddha menggunakan kata-kata yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain untuk menegur para siswa-Nya demi kebaikan mereka seperti dalam kasus Bhikkhu Arittha di atas.

Mungkin ada yang punya pendapat lain?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #3 on: 11 August 2014, 08:31:08 PM »
MN 22 Alagaddupama Sutta mengisahkan tentang seorang bhikkhu bernama Ariṭṭha memunculkan suatu pandangan sesat bahwa perilaku yang dilarang oleh Sang Buddha tidak benar-benar merupakan rintangan. Sang Buddha menegurnya dan, dengan serangkaian perumpamaan yang mengesankan, menekankan bahaya dalam kesalahan memahami Dhamma.

Di sini Sang Buddha menegur Bhikkhu Arittha dengan menyebutnya sebagai "orang sesat" (dalam versi terjemahan DC yang diambil dari Bhikkhu Bodhi):

6. “Orang sesat, dari siapakah engkau mendengar bahwa Aku mengajarkan Dhamma seperti itu? Orang sesat, dalam banyak khotbah bukankah Aku telah menyebutkan bagaimana hal-hal yang merintangi adalah rintangan, dan bagaimana hal-hal itu mampu merintangi seseorang yang menekuninya? Aku telah mengatakan bagaimana kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan, dan banyak keputus-asaan, dan bahwa bahaya di dalamnya bahkan lebih banyak lagi...”

Tampaknya di sini Sang Buddha berkata agak kasar dan berkonotasi tidak menyenangkan walaupun tujuannya untuk menyadarkan sang bhikkhu yang berpandangan salah tsb. Di sini timbul pertanyaan: kenapa kok Buddha bisa berkata demikian kasar dan tidak mengenakkan bagi orang lain? Apakah sutta ini benar-benar mencerminkan sikap Sang Buddha terhadap pandangan salah yang kemudian dicap sebagai "sesat"?

Fyi, definisi kata "sesat" menurut KKBI:


Menurut saya apa yang dikatakan Sang Buddha tidak kasar, karena mamang saat itu Bhikkhu Arittha berpikiran menyimpang, salah berpikir, salah jalan. Kalau salah jalan berarti istilah pendeknya ya tersesat.

Justru saya berpikir, jangan-jangan pikiran kita yang berkonotasi negatif terhadap kata "sesat" sebagai sesuatu yang sangat jahat, sangat amoral. Padahal dalam KBBI jelas berarti tidak melalui jalan yg benar; salah jalan. Jika kata "sesat" tetap dianggap tidak nyaman dibaca , ya ganti saja dengan kata "salah jalan".

Dalam bahasa Pali dari kata yang diterjemahkan oleh DC sebagai "orang sesat" adalah moghapurisa dari kata mogha dan purisa (orang). Mogha sendiri bisa banyak arti, bisa berarti:  tidak berguna, tidak berbuah, sia-sia, tidak tahu yang benar / salah (dari kata moha)
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #4 on: 11 August 2014, 09:05:12 PM »
Walaupun...
Secara tata bahasa dirubah menjadi...

Orang yang salah jalan,
dari siapakah engkau mendengar bahwa Aku mengajarkan Dhamma seperti itu?


Tetep aja esensi kasar, offence'nya tetep kerasa kasar.


Semacam...

"Guoblokkk!!!
Kapan2 kubilang belok kanan?
Belok pulak kau, kena tilang lah kau"

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #5 on: 11 August 2014, 09:13:32 PM »
Menurut aye sih ga salah lah buddha bilang gitu, lha wong ajarannya di putarbalikan, wajar saja sih dia meluruskan orang yang "salah jalan"
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #6 on: 11 August 2014, 09:16:38 PM »
Ryu,

tuk perbandingan

Nak...
Lain kali jangan belok kanan ya...
Ferboden itu, satu arah...

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #7 on: 11 August 2014, 09:31:00 PM »
Di lihat nya harus dari sisi cerita :

Buddha ternyata mengajarkan jalan ke kiri


Trus buddha mau meluruskan :
Woy sesat loh, gw bilang ke kanan loe malah bilang gw kekiri
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #8 on: 11 August 2014, 10:34:53 PM »
AN 5.198
Vaca Sutta: Ucapan

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima faktor, suatu
ucapan diucapkan dengan baik, bukan diucapkan
dengan buruk; ucapan itu tidak tercela dan di luar
celaan oleh para bijaksana. apakah lima ini?
[244] Ucapan itu diucapkan pada waktu yang
tepat; apa yang dikatakan adalah benar; ucapan
itu diucapkan dengan lembut; apa yang dikatakan
adalah bermanfaat; ucapan itu diucapkan dengan
pikiran cinta kasih. Dengan memiliki kelima faktor
ini, suatu ucapan diucapkan dengan baik, bukan
diucapkan dengan buruk; ucapan itu tidak tercela
dan di luar celaan oleh para bijaksana.”

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23950.msg438322.html#msg438322

Pertanyaannya: apakah teguran "orang sesat" itu memenuhi kelima syarat ucapan yg baik di atas?
« Last Edit: 11 August 2014, 10:37:28 PM by Shinichi »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.189
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #9 on: 12 August 2014, 06:25:47 AM »
Ya , mungkin karena harapan dan image berlebihan kepada Buddha. Apa iya seseorang harus sangat lemah lembut seperti itu?
Kalau liat stereotip bhikkhu theravada dari jawa memang seperti itu (yg saya tahu dan kenal). Ngomongnya halus dan lembut.
Kalau dipikir Buddha juga seperti itu jadinya terjadi dissonance.

Kalau kenal guru dharma yg lain, ada yg tanpa ragu memarahi muridnya dan bahasanya agak "kasar". Walaupun hatinya baik dan itu demi kebaikan muridnya. Jadi buat saya ngerasanya biasa aja, mungkin udah biasa dimarahin hahahahha
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #10 on: 12 August 2014, 07:06:09 AM »
Walaupun...
Secara tata bahasa dirubah menjadi...

Orang yang salah jalan,
dari siapakah engkau mendengar bahwa Aku mengajarkan Dhamma seperti itu?


Tetep aja esensi kasar, offence'nya tetep kerasa kasar.


Lalu pertanyaannya, disebut apakah orang yang salah jalan atau tersesat?

Seperti yang saya sampaikan kemungkinan justru kita yang berpikiran terlalu negatif pada kata "sesat".


Quote
Semacam...

"Guoblokkk!!!
Kapan2 kubilang belok kanan?
Belok pulak kau, kena tilang lah kau"

Sayangnya dalam teks Pali-nya, tidak ditemukan tanda baca, sehingga kita tidak bisa menilai apakah suatu kata yang di ucapkan oleh Sang Buddha itu dengan nada datar atau dengan nada keras dengan tanda seru seperti contoh yang Anda berikan. Ini yang pertama.

Kedua. Kata 'g****k' sendiri bisa diganti dengan kata "bodoh sekali" sebagai kata yang lebih halus.

Ketiga. Karena kita sebagai awam tidak tahu secara persis apakah seseorang benar-benar bodoh atau tidak maka kita tidak bisa sembarangan menggunakan kata itu untuk menyebut seseorang. Hal yang berbeda dengan Sang Buddha yang memang telah tahu bahwa Bhikkhu Arittha memiliki pandangan yang salah arah. Jadi Sang Buddha menyebutnya dengan kenyataan yang ada, bukan sebaliknya.

 
Hanya itu saja.

GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Predator

  • Sebelumnya: Radi_muliawan
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 585
  • Reputasi: 34
  • Gender: Male
  • Idealis tapi realistis dan realistis walau idealis
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #11 on: 12 August 2014, 08:18:23 PM »
Dalam kontek salah pemahaman dan terjebak dalam pemahamannya yg keliru maka "Orang sesat" lebih sesuai daripada "orang Nyasar" :D

Ketegasan dalam meluruskan pandangan keliru lain juga ada di Mahatanhasankhaya Sutta MN 38
susah dan senang, sakit dan sehat selalu silih berganti

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #12 on: 13 August 2014, 04:01:50 AM »
klo sy sih liat nya tidak kasar, biasa aja....mungkin karakter org sulsel sih...hehehe
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #13 on: 14 August 2014, 05:10:07 PM »
AN 5.198
Vaca Sutta: Ucapan

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima faktor, suatu
ucapan diucapkan dengan baik, bukan diucapkan
dengan buruk; ucapan itu tidak tercela dan di luar
celaan oleh para bijaksana. apakah lima ini?
[244] Ucapan itu diucapkan pada waktu yang
tepat; apa yang dikatakan adalah benar; ucapan
itu diucapkan dengan lembut; apa yang dikatakan
adalah bermanfaat; ucapan itu diucapkan dengan
pikiran cinta kasih. Dengan memiliki kelima faktor
ini, suatu ucapan diucapkan dengan baik, bukan
diucapkan dengan buruk; ucapan itu tidak tercela
dan di luar celaan oleh para bijaksana.”

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23950.msg438322.html#msg438322

Pertanyaannya: apakah teguran "orang sesat" itu memenuhi kelima syarat ucapan yg baik di atas?
Sepertinya tidak....ini menurut saya pribadi...

Ucapan bagai paku yang telah terpaku di daun pintu walau paku tsb telah dicabut tp bekas nya msh ada. Seperti hal nya kata2 yang kasar pasti akan selalu kita ingat apalagi bila sangat menyakitkan hati....
I'm an ordinary human only

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #14 on: 02 September 2014, 03:46:31 PM »
menurut wa sendiri penggunaan kata sesat tergantung jenis manusianya, bukankah Buddha mempunyai kemampuan untuk menghancurkan debu kotoran yang ada pada manusia.

Penggunaan kata2 yang tepat seperti kepada YA Ananda yang di tawari bidadari berkaki ungu

 

anything