//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Bhavaviveka "vs" Hinayana  (Read 140569 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #405 on: 06 December 2008, 05:37:19 PM »
Quote
“Maka dari itu Sang Tathagata tidak mendirikan Mahayana; Mahayana dibuat oleh mereka yang bersifat iblis dengan tujuan untuk menipu mereka yang bodoh dan berpikiran buruk.”, demikian klaim para Hinayana.

dear gandalf
yang menyatakan mahayana adalah pembodohan siapa? "demikian klaim para hinayana"
sampai kapan mau terjebak dalam lingkaran ini....
adalah suatu pembodohan.


Quote
Poin awal pembahasan topik ini memang ke arah situ. Karena ditanggapi dengan masalah perbedaan penafsiran, maka melebar menjadi sedemikian rupa.
ya, memang sejak awal Mahayana sudah menganggap T sama M sama2 merupakan ajaran Buddha. Yang menolak utk mengakuinya emangnya siapa? 

dear cinghik
ada beberapa bikhu yang belum mencapai tingkat kesucian sering menyatakan kalau yang ia belajar adalah original........bisa dibilang rakit punya dia adalah ASLI...

sy sendiri sudah sering ketemu dengan bikhu theravada yang berkelakuan demikian....
adapun yang sok pintar tapi salah.....itulah manusia yang belum mencapai tingkat kesucian....macam-macam bentuk juga ada. ^^
sy sendiri belum mencapai apa-apa....masih dalam belajar....

tapi kita umat buddhis berlindung pada ariya sangha.....
mari kita lihat guru Ajahn Chah......apakah pernah dia menyatakan ini ASLI...itu PALSU?
yang beliau ajarkan selalu menuju pada kebijaksanaan yaitu "cobalah sendiri"

jadi perlu kita ketahui sama-sama....yang berdebat seperti itu ini asli itu palsu adalah orang bodoh.
garis menuju nibbana sendiri sudah ditetapkan oleh guru kita sang buddha gotama.
4 kesunyataan mulia dan JB 8
jika kita melihat JB 8.....semua yang dibabarkan adalah "Kondisi" bukan syarat utama harus "ini"

mari kita lihat salah satu unsur JB 8 "samma-samadhi" dan "samma-sati"
dan coba bandingkan dengan aliran meditasi yang ada saat ini..

sy pernah bertemu dengan bikhu yang ngotot dengan jalan bahwa harus samantha-bhavana dulu baru belajar vipassana-bhavana......(mirip metode Pa-AUK-sayadaw)
hasilnya dia menolak metode mahassi sayadaw.....
lalu yang mana yang benar?....
cobalah teliti batin kita sendiri
ketika kita merasa lebih cepat berkembang dengan metode mahassi..yah digunakan saja...
ketika kita merasa lebih cepat berkembang dengan metode pa-auk...yah di gunakan saja....

manusia ada yang cocok dengan ini....cepat berkembang dengan cara "ini"
ada pula yang cocok dengan "itu" dan cepat berkembang dengan cara "itu"
lalu apakah mau dipaksakan manusia itu semua sama?.....
sama saja menambah penderitaan....perdebatan tiada akhir.

semua itu hanya "cara".....hanya "cara"......apalah arti dari "cara"
yang kita inginkan adalah "hasil"......apakah nibbana itu?
jika kita merasa menggunakan "cara" ini/itu lebih mengantarkan pada kebijaksanaan maupun pelepasan..
pakai saja cara yang disukai itu...

theravada dan mahayana memang memiliki konsep yang berbeda....lalu yang manakah terbaik?
dalam kalama-sutta.
sang buddha bersabda....
ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan,' maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut."

dan

Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, 'Hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,' maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut."

jika mahayana lebih cepat mengatarkan pada kebijaksanaan yah....jalankan saja
jika theravada lebih cepat mengatarkan pada kebijaksanaan yah....ikuti saja.
lalu masalah nya apa?
karakter setiap orang berbeda-beda...itulah kenyataan

Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #406 on: 06 December 2008, 06:09:37 PM »
Quote
Justru arahat hinayana yg telah mencapai kondisi egaliter non dualisme yg katanya tiada nirvana dan samsara. Jika tiada samsara, apa yg mau diselamatkan oleh arahat? Justru bodhisatva ala mahayana yg masih berkutat pada penyelamatan makhluk hidup, krn masih membedakan nirvana dan samsara.
Jika Arahat hinayana benar-benar mencapai kondisi non dualisme, justru seharusnya dapat secara leluasa tetap memberi bimbingan kepada para makhluk samsara. Tetapi Arahat hinayana justru memilih mencapai parinibbana, sama seperti orang yg mendapatkan harta kekayaan lalu tidak mempedulikan kaum miskin papa. Bagaimana bisa disebut egaliter?
Dalam pandangan Mahayana, walaupun dikatakan tidak ada perbedaan samsara-nirvana dan tidak ada konsep penyelamatan, tidak berarti samsara itu tidak ada, makhluk itu tidak ada. JIka anggapan tidak ada samsara dan makhluk dan tidak ada perlu penyelamatan, maka apa bedanya dengan pandangan kaum Nihilis yg setelah mati segalanya sirna.
Yang benar-benar disebut egaliter non-dualisme adalah saat makan tidak melekat pada konsep makan, saat mewejangkan dhamma tidak melekat pada konsep mewjangkan dhamma, sehingga saat melakukan tugas penyelamatan, tidak melekat pada konsep penyelamatan. Saat berdiam dalam kondisi nirvana, tidak melekat pada kondisi itu, sehingga secara leluasa membimbing para makhluk samsara.

Mas Chingik, menurut yang saya baca, banyak sekali Arahat yang telah menyelamatkan mahluk lain untuk juga mencapai Nirvana dengan mencapai tingkat kesucian Arahat seperti mereka, yaitu dengan mengajarkan meditasi Vipassana.

Mengenai Arahat mencapai Parinirvana, saya rasa konsisten dengan ajaran anitya, yaitu kehidupan tidak kekal, manusia yang terlahir pasti akan mati seperti juga Sang Buddha. Jika dikatakan Arahat egois karena Parinirvana, maka secara tidak langsung mas Chingik juga menuduh Sang Buddha egois karena Beliau juga Parinirvana, kenapa Sang Buddha Parinirvana? mengapa tidak terus menyelamatkan mahluk hidup?

mohon penjelasannya mas Chingik,

terima kasih   _/\_

Pertanyaan anda tepat sasaran.  
Pertanyaan seperti ini sama seperti yang diajukan oleh Bodhisatva Kasyapa (ini bukan MahaKassapa) kepada  Buddha dalam Mahaparinirvana Sutra. Buddha mengatakan Seorang Buddha tidaklah benar-benar Parinibbana-> oleh karena itu aktivitasnya sebagai guru penunjuk jalan tidak pernah berkesudahan. Buddha telah berkali-kali "menampakkan diri" terlahir di salah satu alam tertentu di semesta ini, mencapai pencerahan sempurna dan Parinibbana, namun sesungguhnya Buddha tidak benar-benar Parinibbana. Aktivitas seperti ini akan terus berlangsung jika ada kondisi yg tepat di masa tertentu, di alam tertentu. Inilah yg selaras dengan ikrar awal sejak di hadapan Buddha Dipankara. Tidaklah mungkin Buddha yg telah berlatih selama 4 asankheya kalpa, hanya cukup mengajar disekeliling India selama 45 th lalu lenyap begitu saja bahkan meninggalkan kitab suci yg hanya bertahan beberapa ratus tahun lalu terpecah belah seperti halnya perpecahan siswa2 Nigantha. Bgm bisa selaras dgn anggapan bahwa Pencapaian Buddha sebagai pencapaian teragung di semesta ini?

Dalam Mahaparinivana Sutra, Bodhisatva Kasyapa menolak pernyataan Buddha dan mengatakan bahwa ucapan Buddha bertolak belakang dengan ajaran hukum ketidakkekalan. Bodhisatva Kasyapa bahkan mempertanyakan bahwa jika demikian, mengapa Buddha harus memilih Parinirvana juga. 
Buddha lalu memberi penjelasan bahwa semua ini adalah cara-cara bijak Buddha dalam mengajar. Tidaklah mudah memamami sifat "kekekalan" sejati Buddha, namun bagaimanapun Silahkan menyelidiki sendiri.

Ajahn Mun saja mengalami satu komunikasi yg diyakini adalah nimitta Buddha (sama seperti Sambhogakaya Buddha). Saya tidak mengatakan kita harus percaya dgn Beliau, tetapi penyelidikan secara objektif anda tentu sangat dihargai. Dan saya menyarankan anda utk tidak menerima tapi juga jgn dulu menolak secara mentah2. Silakan meneliti melalui disiplin Sila, Samadhi dan Panna. Master Zen kontemper yg sangat disegani yakni Master XuYUn pun mengaku telah bertemu dnegan Bodhisatva Maitreya dan Y.A Ananda. Yaah..kita boleh tidak percaya dgn mereka, tetapi kita tentu lebih tidak boleh percaya dgn pemahaman awam kita. Akhir kata silakan menelitinya dgn penuh hati-hati.  Membuktikan kebenaran tidak semata-mata melalui kajian logika verbal konvensional.
 _/\_
  
  

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #407 on: 06 December 2008, 06:18:05 PM »
Quote
jika mahayana lebih cepat mengatarkan pada kebijaksanaan yah....jalankan saja
jika theravada lebih cepat mengatarkan pada kebijaksanaan yah....ikuti saja.
lalu masalah nya apa?
karakter setiap orang berbeda-beda...itulah kenyataan

Nah, saya setuju dgn pernyataan ini. Minimal mencerminkan keterbukaan pikiran dan tidak melulu terpaku pada pola radikalis.
Kondisi ajaran masa kini memang sdh jauh lebih rumit karena terkontaminasi dgn ajran2 palsu.
Tetapi Buddhisme telah membuat kesepakatan bahwa mainstream dari sasana masih dipegang teguh. yakni Triratna, 8 jalan kebenaran, 4 kebenaran mulia, Buddha Sakyamuni sbg guru utama. Semua ini tetap dipegang teguh oleh mainstream Maha, Thera dan Tantra.

Sisanya silakan berpolemiklah kalo masih merasa ga puas. hehe...

 

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #408 on: 06 December 2008, 06:36:23 PM »
Quote
Bebek tetap bebek, ayam tetap ayam...
Ops...betul juga ya, makanya
Buddha tetap Buddha, Arahat tetap Arahat... :))

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #409 on: 06 December 2008, 07:18:16 PM »
BUDDHA GOTAMA dalam semua pembabaran dharma baik kepada para pencari kebenaran maupun kepada penganut dan pengajar ajaran lain, tidak pernah menggunakan KATA-KATA "OFENSIF" seperti ini. Semua penjelasan BUDDHA GOTAMA adalah berdasarkan kebenaran yang LOGIS. Seperti juga jawaban dari NAGASENA kepada RAJA MILINDA, alih alih menggunakan kata-kata RETORIKA yang METAFISIS ataupun yang TIDAK BERLOGIS, semua JAWABAN NAGASENA adalah berdasarkan LOGIKA yang tidak dapat dibantah bahkan dengan intelektual dan kebijaksanaan seorang puthujana.

Jika ketika semua jawaban berakhir pada keharusan untuk mencapai suatu tingkat kesucian tertentu, lantas siapa yang bisa memberikan jawaban tersebut ?


Anda bukan Nagasena. Begitu juga saya. Nagasena berbicara berdasarkan pencapaian yang diperolehnya melalui praktik. Lalu pencapaian kita apa jika berbicara sepotong-sepotong berdasarkan pengetahuan yang kita baca? Jika demikian, setiap orang yang bisa membaca dapat menjawab hal ini kalau menemukan sumber yang sesuai? Jika demikian bukankah kita hanya mendebatkan kata-kata kosong?

Kalau Anda mengira dapat mendiskusikan Buddha Dharma layaknya diskusi ilmiah, Anda terjebak dalam ujung yang tak ada akhirnya. Silahkan menempuh jalan ini, jika Anda menginginkannya Mungkin dengan cara ini Anda menjadi lebih bahagia dan puas.Saya mengharapkan demikian :)

Sebenarnya jawabannya sudah jelas: jika pertanyaannya BEDA atau SAMA? Namun tujuan pertanyaan sdr. Dilbert jauh lebih dari itu. Lebih tepatnya permasalahan yang diajukan secara samar-samar adalah: MANA YANG LEBIH BENAR atau MANA YANG LEBIH OTENTIK
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #410 on: 06 December 2008, 10:08:00 PM »
BUDDHA GOTAMA dalam semua pembabaran dharma baik kepada para pencari kebenaran maupun kepada penganut dan pengajar ajaran lain, tidak pernah menggunakan KATA-KATA "OFENSIF" seperti ini. Semua penjelasan BUDDHA GOTAMA adalah berdasarkan kebenaran yang LOGIS. Seperti juga jawaban dari NAGASENA kepada RAJA MILINDA, alih alih menggunakan kata-kata RETORIKA yang METAFISIS ataupun yang TIDAK BERLOGIS, semua JAWABAN NAGASENA adalah berdasarkan LOGIKA yang tidak dapat dibantah bahkan dengan intelektual dan kebijaksanaan seorang puthujana.

Jika ketika semua jawaban berakhir pada keharusan untuk mencapai suatu tingkat kesucian tertentu, lantas siapa yang bisa memberikan jawaban tersebut ?


Anda bukan Nagasena. Begitu juga saya. Nagasena berbicara berdasarkan pencapaian yang diperolehnya melalui praktik. Lalu pencapaian kita apa jika berbicara sepotong-sepotong berdasarkan pengetahuan yang kita baca? Jika demikian, setiap orang yang bisa membaca dapat menjawab hal ini kalau menemukan sumber yang sesuai? Jika demikian bukankah kita hanya mendebatkan kata-kata kosong?

Kalau Anda mengira dapat mendiskusikan Buddha Dharma layaknya diskusi ilmiah, Anda terjebak dalam ujung yang tak ada akhirnya. Silahkan menempuh jalan ini, jika Anda menginginkannya Mungkin dengan cara ini Anda menjadi lebih bahagia dan puas.Saya mengharapkan demikian :)

Sebenarnya jawabannya sudah jelas: jika pertanyaannya BEDA atau SAMA? Namun tujuan pertanyaan sdr. Dilbert jauh lebih dari itu. Lebih tepatnya permasalahan yang diajukan secara samar-samar adalah: MANA YANG LEBIH BENAR atau MANA YANG LEBIH OTENTIK


pernyataan di atas adalah tafsiran anda tentang pemikiran saya... bahwa saya mengajukan kesimpulan tentang MANA YANG LEBIH BENAR dan MANA YANG LEBIH OTENTIK. Kalau sdr.Sobat dharma melihat kepada posting saya selama ini yang berkaitan dengan ajaran Theravada dan Mahayana, tidak sedikitpun saya menghakimi bahwa Theravada pasti BENAR dan Mahayana pasti SALAH atau sebaliknya. Karena saya melihat memang konsep Theravada dan Mahayana itu berbeda, makanya tidak bisa diperbandingkan antara katakanlah APEL dan JERUK.

Yang saya katakan adalah bahwa di dalam konsep Mahayana sendiri (didalam sutra sutra Mahayana) terdapat inkonsistensi konsep, seperti misalnya apa yang dibabarkan didalam Sutra Hati, Sutra Intan dibandingkan dengan Saddharmapundarika dan Mahaparinirvana. Kemudian kan muncul pernyataan-pernyataan RETORIKA tentang bahwa AJARAN itu (Theravada dan Mahayana) sama dan bla bla bla... Makanya saya kemukakan pernyataan terakhir tentang apa yang dikatakan di dalam Theravada (tentang Arahat/SAvaka yang parinibbana dan FINAL itu kelahiran terakhir, akhirnya tercapai pembebasan) dibandingkan dengan Mahayana (tentang Arahat/Savaka yang masih bisa LANJUT ke tingkat bodhisatva yang lebih tinggi).

Kemudian berdasarkan apa yang sdr.sobat katakan tentang praktek, apa yang dikemukakan oleh saya misalnya kutipan kutipan Milindan Panha adalah berdasarkan apa yang diucapkan oleh NAGASENA, bukan buah karya saya sendiri, karena memang itu hasil karya dari pemikiran NAGASENA, lantas mengapa harus selalu membenturkan dan menanyakan sesuatu yang tidak dapat dijadikan pegangan (misalnya selalu menanyakan tentang praktek dsbnya yang tidak bisa diukur oleh pribadi kita sendiri apalagi oleh orang lain).

Pendapat anda yang menyatakan bahwa Buddha Dharma tidak dapat didiskusikan layaknya diskusi ilmiah membuat BUDDHA DHARMA seolah olah harus di"masuki" dari pintu Ke-IMAN-an dan Ke-PERCAYA-an... Kalau kita simak pendapat dari berbagai kalangan ilmuwan baik dari kalangan ilmuwan terapan (spt Einstein dll) atau ilmuwan psikologi terkenal (spt Carl Jung) dan lain-lain, jelas sekali dikatakan bahwa DARI SEGI ILMIAH-nya, TIDAK DIRAGUKAN LAGI DHARMA ajaran BUDDHA itulah yang paling selaras dengan ilmu pengetahuan, selaras dengan hal hal yang ILMIAH yang bisa dibuktikan dengan berbagai hipotesa dan eksperimen (bukankah ini selaras dengan konsep EHI PHASSIKO). Para ilmuwan itu OTAK dan PEMIKIRAN-annya tidak dapat DIATUR dan DIGIRING sedemikian rupa dengan konsep konsep IMAN dan PERCAYA BUTA saja. Semuanya berdasarkan apa yang dipraktekkan dan bisa dipelajari baik secara filosofis maupun secara metode ilmiah.
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #411 on: 06 December 2008, 10:59:16 PM »
gampang nya.....cobalah semua aliran dan rasakan sendiri alias ehipassiko
yang mana cocok dan membawa anda ke nibbana.....lakukan saja ^^
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #412 on: 07 December 2008, 04:40:29 PM »

pernyataan di atas adalah tafsiran anda tentang pemikiran saya... bahwa saya mengajukan kesimpulan tentang MANA YANG LEBIH BENAR dan MANA YANG LEBIH OTENTIK. Kalau sdr.Sobat dharma melihat kepada posting saya selama ini yang berkaitan dengan ajaran Theravada dan Mahayana, tidak sedikitpun saya menghakimi bahwa Theravada pasti BENAR dan Mahayana pasti SALAH atau sebaliknya. Karena saya melihat memang konsep Theravada dan Mahayana itu berbeda, makanya tidak bisa diperbandingkan antara katakanlah APEL dan JERUK.


Dalam komunikasi selalu terjadi tafsir informasi, sebab tanpa menafsir bagaimana bisa saya memahami pembicaraan orang lain? Benar tidaknya tafsiran ini tergantung pada penilaian Anda sendiri, membenarkannya atau menolaknya, selain tentunya semua anggota forum yang ikut mengikuti diskusi ini bisa menilainya.



Yang saya katakan adalah bahwa di dalam konsep Mahayana sendiri (didalam sutra sutra Mahayana) terdapat inkonsistensi konsep, seperti misalnya apa yang dibabarkan didalam Sutra Hati, Sutra Intan dibandingkan dengan Saddharmapundarika dan Mahaparinirvana. Kemudian kan muncul pernyataan-pernyataan RETORIKA tentang bahwa AJARAN itu (Theravada dan Mahayana) sama dan bla bla bla... Makanya saya kemukakan pernyataan terakhir tentang apa yang dikatakan di dalam Theravada (tentang Arahat/SAvaka yang parinibbana dan FINAL itu kelahiran terakhir, akhirnya tercapai pembebasan) dibandingkan dengan Mahayana (tentang Arahat/Savaka yang masih bisa LANJUT ke tingkat bodhisatva yang lebih tinggi).


Tentu saja ini perspektif Mahayana. Bagi Mahayanis, ajaran dalam Tipitaka Pali termasuk di dalamnya. Jika penganut Theravada tidak sepaham dengan ini kan boleh-boleh saja. Lapipula, Tipitaka Pali bukan hanya monopoli atau semata-mata milik penganut Theravada belaka. Setiap orang yang mempelajarinya boleh mengajukan tafsirnya sendiri sesuai dengan paham yang dianutnya. Jika kemudian ada pihak yang merasa memiliki otoritas lebih tinggi dalam menafsirkan kemudian melarang tafsir-tafsir yang lain, jadinya yang muncul adalah masalah kekuasaan dan otoritas. Jadinya nggak beda dong dengan MUI?   


   

Kemudian berdasarkan apa yang sdr.sobat katakan tentang praktek, apa yang dikemukakan oleh saya misalnya kutipan kutipan Milindan Panha adalah berdasarkan apa yang diucapkan oleh NAGASENA, bukan buah karya saya sendiri, karena memang itu hasil karya dari pemikiran NAGASENA, lantas mengapa harus selalu membenturkan dan menanyakan sesuatu yang tidak dapat dijadikan pegangan (misalnya selalu menanyakan tentang praktek dsbnya yang tidak bisa diukur oleh pribadi kita sendiri apalagi oleh orang lain).

Nggak jelas maksudmu. Coba kutip langsung kata-katanya Nagasena supaya lebih jelas.

   
Pendapat anda yang menyatakan bahwa Buddha Dharma tidak dapat didiskusikan layaknya diskusi ilmiah membuat BUDDHA DHARMA seolah olah harus di"masuki" dari pintu Ke-IMAN-an dan Ke-PERCAYA-an... Kalau kita simak pendapat dari berbagai kalangan ilmuwan baik dari kalangan ilmuwan terapan (spt Einstein dll) atau ilmuwan psikologi terkenal (spt Carl Jung) dan lain-lain, jelas sekali dikatakan bahwa DARI SEGI ILMIAH-nya, TIDAK DIRAGUKAN LAGI DHARMA ajaran BUDDHA itulah yang paling selaras dengan ilmu pengetahuan, selaras dengan hal hal yang ILMIAH yang bisa dibuktikan dengan berbagai hipotesa dan eksperimen (bukankah ini selaras dengan konsep EHI PHASSIKO). Para ilmuwan itu OTAK dan PEMIKIRAN-annya tidak dapat DIATUR dan DIGIRING sedemikian rupa dengan konsep konsep IMAN dan PERCAYA BUTA saja. Semuanya berdasarkan apa yang dipraktekkan dan bisa dipelajari baik secara filosofis maupun secara metode ilmiah.

Ada perbedaan antara cara seorang praktisi dalam mempelajari Buddha Dharma dengan seorang CG Jung mempelajari Buddha Dharma. Seorang praktisi Buddha Dharma mempraktikkannya dengan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-harinya sehingga mencapai pencerahan tertentu. Seorang CG Jung mempelajarinya semata-mata dengan perspektif pribadinya dan hasilnya hanyalah komentarnya tentang Buddha Dharma dalam perspektif tertentu. Bedakan antara seorang pemain sepak bola dengan komentator sepak bola.

Tentang GG Jung, setelah ia mempelajari Buddhisme, Yoga dan berbagai filsafat timur jelas-jelas mengatakan bahwa psikologi timur tidak cocok untuk orang barat. Ia tidak menyarankan orang barat untuk mempraktikan Buddhisme dan filosofi timur lainnya. Nah ini sepintas tentang pendapat CG Jung, saya tidak sependapat dengannya, entah bagaimana pendapat Anda?

Kalau menggunakan metode filosofis dan ilmiah, saya boleh tahu metode apa yang digunakan oleh Bro dilbert? Positivisme? Fenomenologis? Kritikal? Post-modernisme? Saya koq belum melihat adanya suatu pendekatan metode ilmiah tertentu dalam diskusi dengan Bro Dilbert? Sejauh ini saya hanya melihat Anda menggunakan common sense belaka dalam bernalar. Sorry kalau saya salah 
« Last Edit: 07 December 2008, 04:42:48 PM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline truth lover

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 392
  • Reputasi: 3
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #413 on: 07 December 2008, 07:36:29 PM »
Quote
Justru arahat hinayana yg telah mencapai kondisi egaliter non dualisme yg katanya tiada nirvana dan samsara. Jika tiada samsara, apa yg mau diselamatkan oleh arahat? Justru bodhisatva ala mahayana yg masih berkutat pada penyelamatan makhluk hidup, krn masih membedakan nirvana dan samsara.
Jika Arahat hinayana benar-benar mencapai kondisi non dualisme, justru seharusnya dapat secara leluasa tetap memberi bimbingan kepada para makhluk samsara. Tetapi Arahat hinayana justru memilih mencapai parinibbana, sama seperti orang yg mendapatkan harta kekayaan lalu tidak mempedulikan kaum miskin papa. Bagaimana bisa disebut egaliter?
Dalam pandangan Mahayana, walaupun dikatakan tidak ada perbedaan samsara-nirvana dan tidak ada konsep penyelamatan, tidak berarti samsara itu tidak ada, makhluk itu tidak ada. JIka anggapan tidak ada samsara dan makhluk dan tidak ada perlu penyelamatan, maka apa bedanya dengan pandangan kaum Nihilis yg setelah mati segalanya sirna.
Yang benar-benar disebut egaliter non-dualisme adalah saat makan tidak melekat pada konsep makan, saat mewejangkan dhamma tidak melekat pada konsep mewjangkan dhamma, sehingga saat melakukan tugas penyelamatan, tidak melekat pada konsep penyelamatan. Saat berdiam dalam kondisi nirvana, tidak melekat pada kondisi itu, sehingga secara leluasa membimbing para makhluk samsara.

Mas Chingik, menurut yang saya baca, banyak sekali Arahat yang telah menyelamatkan mahluk lain untuk juga mencapai Nirvana dengan mencapai tingkat kesucian Arahat seperti mereka, yaitu dengan mengajarkan meditasi Vipassana.

Mengenai Arahat mencapai Parinirvana, saya rasa konsisten dengan ajaran anitya, yaitu kehidupan tidak kekal, manusia yang terlahir pasti akan mati seperti juga Sang Buddha. Jika dikatakan Arahat egois karena Parinirvana, maka secara tidak langsung mas Chingik juga menuduh Sang Buddha egois karena Beliau juga Parinirvana, kenapa Sang Buddha Parinirvana? mengapa tidak terus menyelamatkan mahluk hidup?

mohon penjelasannya mas Chingik,

terima kasih   _/\_

Pertanyaan anda tepat sasaran.  
Pertanyaan seperti ini sama seperti yang diajukan oleh Bodhisatva Kasyapa (ini bukan MahaKassapa) kepada  Buddha dalam Mahaparinirvana Sutra. Buddha mengatakan Seorang Buddha tidaklah benar-benar Parinibbana-> oleh karena itu aktivitasnya sebagai guru penunjuk jalan tidak pernah berkesudahan. Buddha telah berkali-kali "menampakkan diri" terlahir di salah satu alam tertentu di semesta ini, mencapai pencerahan sempurna dan Parinibbana, namun sesungguhnya Buddha tidak benar-benar Parinibbana. Aktivitas seperti ini akan terus berlangsung jika ada kondisi yg tepat di masa tertentu, di alam tertentu. Inilah yg selaras dengan ikrar awal sejak di hadapan Buddha Dipankara. Tidaklah mungkin Buddha yg telah berlatih selama 4 asankheya kalpa, hanya cukup mengajar disekeliling India selama 45 th lalu lenyap begitu saja bahkan meninggalkan kitab suci yg hanya bertahan beberapa ratus tahun lalu terpecah belah seperti halnya perpecahan siswa2 Nigantha. Bgm bisa selaras dgn anggapan bahwa Pencapaian Buddha sebagai pencapaian teragung di semesta ini?

Dalam Mahaparinivana Sutra, Bodhisatva Kasyapa menolak pernyataan Buddha dan mengatakan bahwa ucapan Buddha bertolak belakang dengan ajaran hukum ketidakkekalan. Bodhisatva Kasyapa bahkan mempertanyakan bahwa jika demikian, mengapa Buddha harus memilih Parinirvana juga. 
Buddha lalu memberi penjelasan bahwa semua ini adalah cara-cara bijak Buddha dalam mengajar. Tidaklah mudah memamami sifat "kekekalan" sejati Buddha, namun bagaimanapun Silahkan menyelidiki sendiri.

Ajahn Mun saja mengalami satu komunikasi yg diyakini adalah nimitta Buddha (sama seperti Sambhogakaya Buddha). Saya tidak mengatakan kita harus percaya dgn Beliau, tetapi penyelidikan secara objektif anda tentu sangat dihargai. Dan saya menyarankan anda utk tidak menerima tapi juga jgn dulu menolak secara mentah2. Silakan meneliti melalui disiplin Sila, Samadhi dan Panna. Master Zen kontemper yg sangat disegani yakni Master XuYUn pun mengaku telah bertemu dnegan Bodhisatva Maitreya dan Y.A Ananda. Yaah..kita boleh tidak percaya dgn mereka, tetapi kita tentu lebih tidak boleh percaya dgn pemahaman awam kita. Akhir kata silakan menelitinya dgn penuh hati-hati.  Membuktikan kebenaran tidak semata-mata melalui kajian logika verbal konvensional.
 _/\_
  
  

Terima kasih atas penjelasan mas Chingik,

Maaf kalau saya boleh tahu, bila seorang Buddha tidak sungguh-sungguh Parinirvana, seorang Arahat juga tidak Parinirvana, tidak Bodhisattva maupun Pratyeka Buddha, lantas yang Parinirvana itu siapa? apakah bedanya kita yang bukan Bodhisattva dan Bodhisattva dan Buddha? bukankah kita semua sama-sama belum Parinirvana?

BILA DEMIKIAN MAKA BUKANKAH PENCAPAIAN BUDDHA TIDAK ADA ARTINYA?

mohon penjelasan lebih lanjut, bingung nih.

 terima kasih   _/\_
The truth, and nothing but the truth...

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #414 on: 07 December 2008, 10:34:42 PM »
Quote
Terima kasih atas penjelasan mas Chingik,

Maaf kalau saya boleh tahu, bila seorang Buddha tidak sungguh-sungguh Parinirvana, seorang Arahat juga tidak Parinirvana, tidak Bodhisattva maupun Pratyeka Buddha, lantas yang Parinirvana itu siapa? apakah bedanya kita yang bukan Bodhisattva dan Bodhisattva dan Buddha? bukankah kita semua sama-sama belum Parinirvana?

BILA DEMIKIAN MAKA BUKANKAH PENCAPAIAN BUDDHA TIDAK ADA ARTINYA?

mohon penjelasan lebih lanjut, bingung nih.

 terima kasih   

Maksud Tidak benar2 Parinirvana Buddha disini tentu berbeda dengan makhluk awam yg belum parinirvana. Buddha tidak benar2 Parinirvana di sini merujuk pada konteks bahwa ketika Beliau siap-siap "Parinirvana", itu hanyalah bagian dari performa yang dipertunjukkan utk diselaraskan dengan fenomena dunia ini. Karena muncul dalam tubuh fenomenal, maka bagian dari sisi ini tentu diselaraskan dengan konseptual fenomenal yakni hukum anicca, maka yang diperlihatkan adalah Tathagata memasuki Parinirvana. Pada sisa absolut, seorang Tathagata terbebas dari konsep Parinirvana maupun tidak parinirvana. Karena terbebas dari konsep ini, maka Beliau menggunakan kebijaksanaan sempurna utk terus menerus melakukan aktivitas dharma.

Justru itulah maka pencapaian ini bukan tdk berarti, malahan sangat berarti.
Karena Arahat menganggap Parinirvana sebagai fenomena yang nyata, maka Arahat memilih mencapai Parinirvana yang diangap benar2 padam. Buddha mengatakan Parinirvana bagaikan api lilin yang padam. Tetapi yang padam adalah kilesa, sedang yang tetap ada adalah sumbu. Ketika Bodhisatva Kasyapa mengatakan bahwa sumbu juga anicca. Buddha lalu mengatakan bahwa tubuh Tathagata tidak dapat disamakan dengan benda duniawi. Tubuh Tathagata adalah diluar konsep fenomena ada atau tiada, wujud maupun tanpa wujud. Tentu sampai sini kita tidak dapat menyanggah dengan nalar awam kita. So, Selanjutnya silakan selidiki sendiri.   

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #415 on: 07 December 2008, 10:40:09 PM »
gampang nya.....cobalah semua aliran dan rasakan sendiri alias ehipassiko
yang mana cocok dan membawa anda ke nibbana.....lakukan saja ^^
Sip. Saya setuju. Ujung2nya memang perlu Ehipassiko sendiri. 

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #416 on: 08 December 2008, 08:47:08 AM »
[at]sdr.sobat dharma.
Ok. Saya coba dgn analisis ilmiah.

Hipotesa 1 : agama sutra = pali kanon. Didalam pali kanon (yg digunakan theravadin) menyatakan arahat parinibbana adalah FINAL. Dan agama sutra(pali kanon) merupakan salah satu sutra mahayana.

Hipotesa 2 : dalam ajaran Mahayana lanjutan spt saddharmapundarika sutra dan mahaparinirvana sutra mengatakan Arahat (savaka) blm final, krm masih di golongkan dlm bodhisatva tkt 7, masih bisa lanjut ke tkt lebih tinggi dan mencapai annutara samyaksambodhi. (sebagaimana diramalkan pencapaian samyaksambodhi beberapa arahat)

Kesimpulan : krn agama sutra = pali sutra dan merupakan bagian dari 5 masa pembabaran sutra mahayana. Kemudian terdapat kontradiksi pernyataan ttg arahat parinibbana. Maka terdapat in-konsistensi pernyataan / konsep tentang arahat parinibbana dari agama sutra dan sutra lainnya (baca : saddharmapundarika dan mahaparinirvana)
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline truth lover

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 392
  • Reputasi: 3
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #417 on: 08 December 2008, 04:19:17 PM »
Quote

Terima kasih atas penjelasan mas Chingik,

Maaf kalau saya boleh tahu, bila seorang Buddha tidak sungguh-sungguh Parinirvana, seorang Arahat juga tidak Parinirvana, tidak Bodhisattva maupun Pratyeka Buddha, lantas yang Parinirvana itu siapa? apakah bedanya kita yang bukan Bodhisattva dan Bodhisattva dan Buddha? bukankah kita semua sama-sama belum Parinirvana?

BILA DEMIKIAN MAKA BUKANKAH PENCAPAIAN BUDDHA TIDAK ADA ARTINYA?

mohon penjelasan lebih lanjut, bingung nih.

 terima kasih   

Maksud Tidak benar2 Parinirvana Buddha disini tentu berbeda dengan makhluk awam yg belum parinirvana. Buddha tidak benar2 Parinirvana di sini merujuk pada konteks bahwa ketika Beliau siap-siap "Parinirvana", itu hanyalah bagian dari performa yang dipertunjukkan utk diselaraskan dengan fenomena dunia ini. Karena muncul dalam tubuh fenomenal, maka bagian dari sisi ini tentu diselaraskan dengan konseptual fenomenal yakni hukum anicca, maka yang diperlihatkan adalah Tathagata memasuki Parinirvana. Pada sisa absolut, seorang Tathagata terbebas dari konsep Parinirvana maupun tidak parinirvana. Karena terbebas dari konsep ini, maka Beliau menggunakan kebijaksanaan sempurna utk terus menerus melakukan aktivitas dharma.

Terima kasih mas Chingik,

Bila seorang Buddha terus-menerus melakukan aktivitas Dharma, maka bukankah itu sama saja dengan pemikiran bahwa Sang Buddha kekal abadi (nitya/nicca)? apa bedanya dengan dewa yang ada di alam surga?
Quote

Justru itulah maka pencapaian ini bukan tdk berarti, malahan sangat berarti.
Karena Arahat menganggap Parinirvana sebagai fenomena yang nyata, maka Arahat memilih mencapai Parinirvana yang diangap benar2 padam. Buddha mengatakan Parinirvana bagaikan api lilin yang padam. Tetapi yang padam adalah kilesa, sedang yang tetap ada adalah sumbu. Ketika Bodhisatva Kasyapa mengatakan bahwa sumbu juga anicca. Buddha lalu mengatakan bahwa tubuh Tathagata tidak dapat disamakan dengan benda duniawi. Tubuh Tathagata adalah diluar konsep fenomena ada atau tiada, wujud maupun tanpa wujud. Tentu sampai sini kita tidak dapat menyanggah dengan nalar awam kita. So, Selanjutnya silakan selidiki sendiri.   

Wah bagaimana jelasnya yang dimaksud dengan diluar konsep fenomena ada atau tiada, wujud maupun tanpa wujud?
bisa tolong dijelaskan mas chingik?

terima kasih   _/\_
« Last Edit: 08 December 2008, 04:22:00 PM by truth lover »
The truth, and nothing but the truth...

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #418 on: 08 December 2008, 06:25:25 PM »
Quote
Terima kasih mas Chingik,

Bila seorang Buddha terus-menerus melakukan aktivitas Dharma, maka bukankah itu sama saja dengan pemikiran bahwa Sang Buddha kekal abadi (nitya/nicca)? apa bedanya dengan dewa yang ada di alam surga?
Tentu tidak sama. Semua kualitas seorang Buddha sudah dijabarkan dalam naskah suci. Buddha adalah makhluk yg telah mencapai sabbanuta nana (pengetahuan mahatahu).
Buddha melakukan aktivitas sehari-hari,makan, minum, berpindapata, bukankah tampak seperti tidak ada beda dengan makhluk putthujana? namun tidak demikian bukan?

Quote
Wah bagaimana jelasnya yang dimaksud dengan diluar konsep fenomena ada atau tiada, wujud maupun tanpa wujud? bisa tolong dijelaskan mas chingik?
Seperti memegang tanduk kelinci.
 
« Last Edit: 08 December 2008, 06:26:59 PM by chingik »

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« Reply #419 on: 08 December 2008, 11:20:52 PM »
Quote
Terima kasih mas Chingik,

Bila seorang Buddha terus-menerus melakukan aktivitas Dharma, maka bukankah itu sama saja dengan pemikiran bahwa Sang Buddha kekal abadi (nitya/nicca)? apa bedanya dengan dewa yang ada di alam surga?
Tentu tidak sama. Semua kualitas seorang Buddha sudah dijabarkan dalam naskah suci. Buddha adalah makhluk yg telah mencapai sabbanuta nana (pengetahuan mahatahu).
Buddha melakukan aktivitas sehari-hari,makan, minum, berpindapata, bukankah tampak seperti tidak ada beda dengan makhluk putthujana? namun tidak demikian bukan?


devadatta juga makan, minum dan pindapata

Quote
Terima kasih mas Chingik,

Bila seorang Buddha terus-menerus melakukan aktivitas Dharma, maka bukankah itu sama saja dengan pemikiran bahwa Sang Buddha kekal abadi (nitya/nicca)? apa bedanya dengan dewa yang ada di alam surga?
Tentu tidak sama. Semua kualitas seorang Buddha sudah dijabarkan dalam naskah suci. Buddha adalah makhluk yg telah mencapai sabbanuta nana (pengetahuan mahatahu).
Buddha melakukan aktivitas sehari-hari,makan, minum, berpindapata, bukankah tampak seperti tidak ada beda dengan makhluk putthujana? namun tidak demikian bukan?

Quote
Wah bagaimana jelasnya yang dimaksud dengan diluar konsep fenomena ada atau tiada, wujud maupun tanpa wujud? bisa tolong dijelaskan mas chingik?
Seperti memegang tanduk kelinci.

dijamin sdr.truth lover kagak tahu apa itu memegang tanduk kelinci...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan