//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - marcedes

Pages: 1 ... 94 95 96 97 98 99 100 [101] 102
1501
Sutta Vinaya / Re: PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA YANG MEMAKAN TINJA
« on: 17 December 2008, 11:55:26 AM »
yah...ada yang menyesal ada yang tidak....demikianlah makhluk-makhluk secara umum..
kalau makhluk yang ikut teman saya itu....memiliki penyesalan dalam hal cinta.^^

umurnya telah 1000 tahun...dan dia seorang wanita.
dulunya seorang putri kerajaan...yang bunuh diri akibat di suruh nikah paksa sama seorang lelaki yang tidak di cintai nya dan telah memiliki kekasih lain.......mati nya kecebur di sungai.

peta ini memiliki kemampuan meramal kan nasib seseorang lewat rupa dan garis tangan.

dan mengapa teman saya yang diikuti?
karena setelah meninggal dan kemelekatan akan pria yang dicintai nya itu..
makhluk itu mengembara mencari pria tersebut.
dan melihat teman saya memiliki sifat dan ciri-ciri yang mirip dengan pria tersebut. sehingga lengket^^

mungkin juga sewaktu kehidupan lampau..teman saya adalah kekasih dari wanita tersebut.

_/\_ salam

1502
Sutta Vinaya / Re: PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA YANG MEMAKAN TINJA
« on: 15 December 2008, 11:30:30 PM »
[at] HatRed

saya tidak tahu semua peta ingat atau tidak....
tapi teman saya yang di ikuti oleh sesosok makhluk halus,,ingat akan kehidupan lampau nya.....tetapi ingat hanya sampai ketika hidup sebagai manusia.
lebih dari itu, tidak ingat.

makhluk halus itu bisa saja seorang peta bisa saja sesosok dewa...tapi kemungkinan paling besar adalah peta...

1503
dalam buddhism theravada..tidak pernah di ajarkan untuk meminta-minta didepan dewa maupun altar sang buddha.

hanya saja masih ada avijja yang menyelimuti beberapa umat yang tidak mengerti...sehingga mencari dewa agar bisa memenuhi permintaan-nya.

dalam tradisi orang tionghoa, jika memerlukan suatu jawaban alternatif dari klenteng,biasa nya melakukan upacara dengan melempar sepasang kayu yang berbentuk bulan sabit...dengan beberapa arti
1.buka-buka
2.tutup-tutup
3.buka-dan tutup.
lalu mengambil beberapa kayu batangan yang isi nya ada nomor....lalu setelah gerakan sembayang di naik turunkan maka akan keluar 1 nomor...(orang etnis tionghoa yang suka ke kelenteng pasti tahu yang ini)
biasa di lakukan di depan altar guang kong, atau pun yang di anggap dewa.

dalam buddhism theravada ada memang beberapa umat yang masih memegang hal ini sebagai jalan alternatif.
dimana mereka melakukan dengan memberi terlebih dahulu seperti
1.membakar dupa
2.mempersembahkan buah-buahan
3.mempersembahkan kelapa yang memiliki akar.
4.menyalakan lilin
5.lalu mengambil sepasang kayu yang berbentuk bulan sabit.
lalu seterus nya seperti di atas.

banyak yang berkata bahwa si mian fo(buddha 4 wajah) merupakan manifestasi dari brahma sahampati......
========================================

tapi seorang buddhism sejati tidak lah melakukan hal yang seperti demikian melainkan melihat hal-hal dalam faktor diri sendiri
seperti dijelaskan sang buddha dalam landasan kekuatan batin(4 iddhipada)

1. Chanda Iddhipada
bergembira dan puas dengan hasil yg diperoleh

2. Viriya Iddhipada
Menekuni kehidupannya/pekerjaanya dengan penuh semangat, rajin, ulet serta memiliki kesabaran dan keteguhan hati

3. Citta Iddhipada
Melaksanakan kehidupan/pekerjaan dengan penuh keyakinan, penuh konsentrasi, waspada, tidak melamun, dan menjalani hidup/bekerja tidak ngawur atau asal-asalan.

4. Vimamsa Iddhipada
Menyelidiki kembali, meneliti dan memeriksa dengan seksama kekurangan atau kelemahan, apa yang harus diperbaiki atau ditingkatkan lagi sehingga dengan demikian dapat diraih hasil yang optimal.

1504

Dalam KBBI, sesat itu banyak pengertian.. kenapa Hatred hanya mengambil arti = jahat ?
Itu yang perlu dipertanyakan..


karena kehati2an saya bila umat aliran maitreya/orang umumnya mengambil arti = jahat.

kita kan tidak tahu nanti bagaimana seseorang mengartikan kata "sesat" itu.
itulah kelihatan bahwa bagaimana kita menjaga dan melatih pikiran...bukankah buddha pernah berkata bahwa "pikiran adalah yang utama dan pelopor"

kadang orang berkata yang tidak enak didengar kita langsung tersinggung.....

baca brahmajala sutta sebagai referensi. _/\_

1505
Quote
Sebenarnya.. aliran mana dalam Buddhisme yang benar2 tepat dengan ajaran Buddha Dhamma sesungguhnya sih ?
Kita di sini membahas Aliran Maitreya yang tidak tepat dengan Buddha Gotama
Saya pribadi sih lebih 'prefer' ke aliran Theravada
Namun ada segelintir orang yang menganggap bahwa aliran yang saya anut ini adalah termasuk 'aliran keras' dari aliran Buddhis yang laen (contoh: Mahayana & Tantrayana)
Sebab kita kurang 'cin cai' sama tradisi/adat yang sudah lama berjalan sebelumnya..  :-?
YANG MERUPAKAN AJARAN SANG BUDDHA


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa

”Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: `Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.` Tetapi, Ananda, hendaknya tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku pergi.”
(Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)



Dewasa ini banyak di antara kita yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Banyak pertanyaan yang dilontarkan seperti : Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran Buddhisme ? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat ? Apakah ajaran ini merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha ? Dan sebagainya.

Dari kebingungan tersebut timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana kita membedakan mana yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha dengan yang bukan ? Apakah Sang Buddha pernah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini ? Jawabannya ya, Sang Buddha telah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini.

Di bumi ini tidak ada Guru lain seperti Sang Buddha. Sang Buddha adalah Guru yang penuh dengan ketelitian, memiliki kecermatan, dan pandangan luas ke depan. Di saat-saat menjelang Parnibbana, sebelum Ia Parinibbana, Ia sudah mempersiapkan, dan memastikan secara benar kesiapan, keutuhan apa yang telah Ia temukan dan ia rintis yaitu keberadaan Dhamma, Vinaya, dan Sangha. Beliau mengatakan bahwa yang menggantian Beliau setelah Ia tiada bukanlah salah satu siswa UtamaNya, bukan Y.A Maha Kasappa yang ahli dalam latihan, bukan Y.A Upali yang ahli dalam Vinaya, dan bukan juga Ananda yang merupakan Bendahara Dhamma. Tetapi yang menggantikan Beliau sebagai Guru bagi para siswaNya adalah Dhamma (ajaran) dan Vinaya (tata tertib). Selain untuk menghindari perselisihan , hal ini ditetapkan juga untuk menghindari pengkultusan individu di masa yang akan datang yang akan menimbulkan kemelekatan pada diri seseorang, dan ini akan mengganggu pencapaian seseorang.

Dengan demikian setelah Sang Buddha parinibbana sampai sekarang tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.

Lebih jauh seseorang mungkin akan bertanya, ”Bagaimana kita mengetahui dan memastikan bahwa Dhamma dan Vinaya yang kita pelajari sekarang adalah Dhamma dan Vinaya yang di ajarkan oleh Sang Buddha?” Pertanyaan kritis ini sangat penting karena akan menepis kepercayaan membuta terhadap suatu ajaran.

Jauh sebelum Sang Buddha Parinibbana, Ia juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Hal ini berguna untuk membedakan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.

Dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:

"Bila, Gotami, engkau mengetahui hal-hal secara pasti: `Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan` - tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: `Ini bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.`”

"Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pasti: `Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu, bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan, bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada kehidupan mewah` - tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: `Ini adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.`”


Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :

"Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` - dari ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: Ini bukan Dhamma; ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.`"

"Tetapi Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` - dari hal-hal semacam itu engkau bisa merasa yakin: Inilah Dhamma; inilah Vinaya; inilah Ajaran Sang Guru.`”


Dari petunjuk Sang Buddha berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Gotami Sutta maupun SatthuSasana Sutta kita bisa melihat, menganalisa, meneliti secara hati-hati terhadap berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang bukan ajaran Sang Buddha (yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha), mana yang tidak. Misalnya ketika kita menemukan sebuah ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan alasan tertentu, kita bisa menjadikan penjelasan Sang Budda mengenai apa itu Dhamma dan Vinaya sebagai panduan. Setelah kita menganalisanya, kita dapat mengetahui bahwa membunuh itu menuju pada nafsu dan tidak menuju pada pelepasan, maka ajaran yang mengajarkan untuk membunuh tersebut bukan merupakan Dhamma dan Vinaya, bukan ajaran Sang Buddha. Dan kita perlu menghindarinya.

Dari apa yang disampaikan di atas, semoga kebingungan kita akan pembedaan antara mana yang merupakan ajaran Sang Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita ketahui dan pahami.

Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan. _/\_


1506
Tolong ! / Re: Tolong.. Kesurupan
« on: 11 December 2008, 09:32:33 PM »
dikutip dari buddhavamsa.....bisa di coba  _/\_



Upacara Pembacaan âtanatiya Paritta

Si pembaca âtanatiya Paritta harus memiliki pengetahuan yang mendalam dalam hal paritta, baik dalam hal kata-kata maupun maknanya. Ia harus dapat mengucapkan setiap kata dengan benar. Jika terdapat cacat dalam pengucapan dalam pembacaan, maka efektifitas paritta tersebut tidak akan memberikan hasil yang seharusnya. Efektifitasnya tergantung dari keterampilan dalam pembacaan.
Jika si pembaca memiliki motif pribadi untuk memperoleh sesuatu dalam memelajari dan membaca paritta, tujuan membacakan parita tidak akan tercapai. Si pembaca harus termotivasi oleh keinginan mencapai Pembebasan dari lingkaran kelahiran, dan membacakan paritta demi kebaikan semua makhluk. (Komentar Pàthika Vagga.)
Untuk mengatasi yakkha yang menguasai seseorang, Mettà Sutta, Dhajagga Sutta, Ratana Sutta dapat dibacakan terlebih dahulu. Hanya setelah membacakan sutta-sutta tersebut, tetapi masih gagal meskipun dibacakan sehari penuh, selanjutnya âtanatiya Paritta boleh dibacakan.

Bhikkhu yang membacakan harus menghindari memakan kue atau roti yang terbuat dari adonan, ikan, daging, dan makanan-makanan non-vegetarian lainnya, ia juga sebaiknya tidak menetap di pekuburan.
Alasannya adalah para yakkha menyukai makanan-makanan tersebut, dan juga menyukai pekuburan sebagai tempat tinggal mereka sehingga mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk menguasai orang-orang.
Tempat di mana paritta dibacakan harus dilapisi dengan kotoran sapi.(yang ini sy ragu melakukannya ;D) Sebuah alas duduk yang bersih harus disediakan bagi sipembaca, yang harus memperhatikan kebersihan diri.

Bhikkhu yang akan membacakan paritta harus diantarkan ke tempat khusus di rumah si korban, dikelilingi oleh para pengawal bersenjata. Pembacaan tidak boleh dilakukan di tempat terbuka, harus dilakukan dalam ruangan tertutup, dan dijaga oleh para penjaga bersenjata. Si pembaca harus memiliki sikap baik terhadap semua makhluk (termasuk kepada si yakkha pengganggu). Pemancaran màtta adalah penjaga internal bagi si pembaca sedangkan para penjaga bersenjata adalah penjaga eksternal. Pencegahan ini diperlukan agar pembacaan tidak mengalami hambatan.

Pertama-tama, si korban harus diberikan tuntunan (lima) peraturan. Hanya setelah ia menerima Lima Sila, selanjutnya paritta boleh dibacakan sebagai perlindungannya. Langkah ini akan mengakhiri gangguan para yakkha.
Jika yakkha belum membebaskan si korban hingga akhir pembacaan, si korban harus dibawa ke vihàra dan dibaringkan di halaman pagoda. Tempat di mana si korban berbaring harus dipersembahkan kepada Buddha bersama dengan persembahan pelita.
Halaman pagoda harus disapu bersih. Syair-syair yang menggembirakan (Manggala Sutta) boleh dibacakan sebagai langkah awal. Kemudian dilakukan seruan keras untuk memanggil semua bhikkhu yang berada di dalam lingkungan vihàra untuk berkumpul di halaman pagoda.

Pasti ada sebatang pohon tertentu di sekitar vihàra yang biasanya merupakan tempat tinggal dewa pohon. Seseorang harus mendatangi pohon tersebut bertindak sebagai seorang utusan resmi dari para bhikkhu, dan ia harus mengucapkan kata-kata, “O para yakkha, kehadiranmu diharapkan oleh para bhikkhu Sangha.” Para yakkha yang berdiam di sekitar tempat itu (termasuk yakkha yang menguasai si korban) tidak akan berani mengabaikan undangan resmi karena mereka tidak berani melawan kekuasaan Buddha dan empat raja dewa.

Kemudian si korban harus ditanya, “Siapakah engkau?” (bertanya kepada si korban di sini sebenarnya adalah bertanya kepada yakkha yang menguasai korban.) Ketika si yakka mengungkapkan
namanya, para bhikkhu harus berkata, “Teman yakkha, kami melimpahkan jasa atas persembahan bunga, tempat duduk, dan makanan kepada Buddha. Sangha telah membacakan untukmu syair-syair menggembirakan; syair-syair ini adalah hadiah dari Sangha untukmu, demi Sangha, bebaskanlah korban ini.”

Si yakkha pengganggu akan memenuhi permohonan para bhikkhu yang dilakukan dengan penuh cinta kasih. Jika ia menolak, maka boleh dibacakan doa terhadap tiga puluh delapan jenderal dewa seperti Inda, Soma, Varuna, dan kepada mereka diberitahukan dalam kata-kata, “Jenderal Dewa, seperti yang kalian katahui, yakkha ini tidak memenuhi permohonan kami yang kami lakukan dengan penuh cinta kasih. Oleh karena itu kami terpaksa menggunakan kekuasaan Buddha.” Setelah memberitahu para jenderal dewa mengenai perlunya membacakan âtanatiya Paritta, maka pembacaan paritta tersebut dapat dilakukan. Ini adalah prosedur di mana si korban adalah seorang umat awam.

===========

Jika yang dikuasai oleh yakkha adalah seorang bhikkhu, tempat berkumpulnya para bhikkhu harus dibersihkan; kemudian dilakukan seruan yang menyatakan bahwa para bhikkhu telah berkumpul, selanjutnya dilakukan pelimpahan jasa kepada yakkha pengganggu (atas persembahan bunga, dan lain-lain kepada Buddha). Kemudian dilanjutkan dengan permohonan yang ramah kepada yakkha itu agar mundur. Hanya jika yakkha tersebut tidak mau memenuhi permohonan para bhikkhu, maka âtanatiya Paritta boleh dibacakan. (Ini adalah prosedur di mana si korban adalah seorang bhikkhu).

1507
Diskusi Umum / Re: Buddha Bar, kok bisa ya?
« on: 11 December 2008, 06:51:58 PM »
memakai nama seperti YE**S atau MUHA***D sampai buddha adalah hal yang sering di dunia ini.
saya pernah membaca media cetak bahwa seorang pemain terkenal di liga inggris....kedapatan membawa pacar barunya di-diskotik nama diskotik itu "buddha funky".

Quote
5. Sang Buddha bersabda, “Para bhikkhu, seandainya ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, janganlah lalu kamu membenci, dendam, atau memusuhinya. Seandainya karena hal tersebut kalian menjadi marah atau merasa tersinggung, maka hal itu hanyalah akan menghalangi jalan Pembebasan kalian, dan mengakibatkan kalian menjadi marah dan tidak senang. Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau tidak baik?”

“Tidak baik, Bhante “

“Karena itulah seandainya ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya, dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar, atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami, dan bukan pada kami.”

6. “Tetapi, para bhikkhu, seandainya ada orang lain memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira dan senang hati. Seandainya kamu bersikap demikian, maka hal itu akan menghalangi jalan Pembebasan kalian. Maka itulah, seandainya ada orang lain memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, maka kamu harus menyatakan mana yang benar dan menunjukkan faktanya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu memang begitu, hal demikian ada pada kami, dan benar pada kami.”

7. “Walaupun oleh hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga, ataupun karena sila (disiplin moral), maka dapat menyebabkan orang-orang memuji Tathagata (Sang Buddha). Apakah hal-hal kecil yang kurang berharga ataupun sila, yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata?”

SILA-SILA YANG DIMILIKI SANG BUDDHA SEHINGGA BELIAU MENDAPAT PUJIAN DAN PENGHORMATAN

1508
Quote
kelakuan baik tanpa pemahaman yang benar gak sampe nibbana loh

ibarat org ingin membuat patung Buddha yang terbuat dari kayu
tapi ia menggunakan tanah liat
setekun apapun dikerjakan
sebaik apapun hasilnya
seulet apapun usahanya
patung Buddha itu gak bisa berubah jadi kayu kalo buatnya pake tanah liat
perumpamaan yang bijak, salut kepada anda. _/\_
mempelajari SILA setinggi apapun,jika tidak di ikutkan dengan PANNA....maka akan sia-sia...

perdebatan tiada akhir.....sungguh tiada akhir.
kapan kah merenung dan berpikir "apakah aku bahagia saat ini"

Quote
[at] All

biar gak salah anggap mohon diberikan pandangan nya terhadap Aliran maitreya ini

1. Apakah Sesat

2. Apakah tidak sesuai Ajaran Buddha Gotama

3. Apakah tidak sesuai Dhamma

4. Apakah berbeda dengan Ajaran Buddha Gotama

5. Apakah Suatu ajaran baru menuju Nibbana

6. Apakah sebagai khazanah ilmu religi tuk tujuan masing2

7. Apakah ajaran yang salah

8. ................................................Silahkan isi sendiri
1. Apakah Sesat
J:sesat jika di pandang dari sudut pandangan buddhism. tetapi universal tidak.

2. Apakah tidak sesuai Ajaran Buddha Gotama
J:jelas tidak...tetapi seperti berbuat baik berusaha meninggalkan kejahatan adalah hal yang umum.

3. Apakah tidak sesuai Dhamma
J:apa bedanya dengan pertanyaan nomor 2? _/\_

4. Apakah berbeda dengan Ajaran Buddha Gotama
J:mirip dengan no 2.....ia berbeda dengan ajaran gotama.

5. Apakah Suatu ajaran baru menuju Nibbana
J:pengertian Nibbana dalam ajaran buddha gotama berbeda dengan pengertian nibbana/nirvana dalam maitreya

6. Apakah sebagai khazanah ilmu religi tuk tujuan masing2
J:maaf khazanah itu apa?...saya tidak mengerti.  [at] _ [at]

7. Apakah ajaran yang salah
J:mirip dengan no1. Salah dalam pandangan buddhism.....benar dalam pandangan universal.

jika ada pernyataan
"karena pandangan universal itu lebih luas....tentu lebih benar dari pandangan buddhism"
saya sendiri siap untuk belajar dengan anda.

dimana yang kita perdebatkan adalah pandangan bukan individu...
boleh di bilang mirip upali sutta....

1509
[at] mercedes

saat beliau tahu jalan menuju nibbana, beliau baru "menyesatkan" lima orang pertapa

^ itu adalah tafsir saya terhadap perilaku beliau. karena beliau tahu diri. setelah tahu jalan(path) yang benar menuju nibbana. beliau baru "menyesatkan" (secara halusnya "menyadarkan") kelima orang pertapa tersebut. jadi bukan saat beliau belum mencapai nibbana.



mengenai perumpamaan tersebut. mungkin yang dimaksud mercedes tentang 1 orang ini adalah Sang Buddha.

bagi saya walaupun ada orang yang "mengaku" sudah sampai tempat tujuan dan memberikan "peta" nya. tetap saja saya tidak layak menyalahkan orang lain yang memilih jalan yang lain. karena saya belum sampai pada tujuan, berdasar ataupun tidak berdasar peta tersebut.

bukankah anda sendiri yakin dengan "Ehipassiko". kenapa anda yakin mentah mentah "Peta" yang ditunjukan sang Buddha??? apakah itu yang dinamakan Ehipassiko???

sebagai ref : "Raungan Singa Sariputta"
_/\_anda senang bercanda yah.... ^:)^..tawa adalah memulai perjalanan yang baik....
terlalu banyak tertawa adalah orang gila ;D
------------------------------------------------
saya tidak tahu apa yang anda tulis ini kiasan atau apalah _/\_....tapi saya membaca secara kata hanya kata sesuai dengan teks indo _/\_

jika seseorang ibarat berdiri di garis START....dan melihat 2 orang yang berlari berbeda jalan....tanpa melihat dimana garis Finish nya.
tentu jika dipandang dari sudut ini....orang ini tidak akan bisa berkata bahwa yang mana jalan benar?
karena dirinya sendiri belum melangkah dan hanya berdiri di tempat itu,, tentu tidak akan tahu garis Finish.

cobalah ikuti "peta" tersebut.....ketika anda mulai melangkah mengikuti "peta" tersebut...
walau anda belum sampai pada garis FINISH....tetapi garis FINISH itu sudah terlihat..walau masih jauh.

saya sendiri tidak yakin secara "mentah/buta/langsung percaya" apa yang diajarkan sang buddha....
saya sendiri sudah pernah mengikuti banyak "peta" tapi tidak satupun "peta" yang membawa saya memperlihatkan garis Finish.
bahkan pernah saya ragu akan "peta" yang saat ini saya pakai.

salam hangat _/\_

mungkin yang dimaksud kan adalah Sampasadaniya Sutta

1510
[at] mercedes

sudahkah anda "datang dan buktikan sendiri".

==========================================

meneladani sikap petapa Gotama saat tahu bahwa "meditasi menyiksa diri adalah tidak berguna" beliau tidak "menyesatkan" lima orang pertapa.

saat beliau tahu jalan menuju nibbana, beliau baru "menyesatkan" lima orang pertapa

layaknya dua manusia yang menuju tempat yang sama, tetapi memilih jalan yang berbeda. layakkah antara kedua orang tersebut saling menyesatkan padahal mereka berdua belum sampai ke tujuan

sekali lagi saya masih tahap belajar _/\_

===============================================
saat beliau tahu jalan menuju nibbana, beliau baru "menyesatkan" lima orang pertapa

saya tidak menyatakan seperti itu.

coba baca baik-baik dulu

T:Kenapa petapa Gotama, saat tahu bahwa "menyiksa diri" adalah tidak berguna, beliau tidak memberitahukan kepada lima pertapa?
J: ketika pertapa gotama sadar praktek menyiksa diri tidak lah benar
(dimana ada sekelompok pemain musik yang mengatakan bahwa "jika senar ini di tarik terlalu kencang,,,,maka akan putus....tetapi jika ditarik terlalu lemah,,,maka suara nya sumbang)
hal ini lah yang disadari Boddhisatva Gotama bahwa "segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik"
tetapi ketika beliau telah mencapai Anuttarosammasamboddhi...beliau memberitahukannya kok.

ketika sang buddha telah mencapai Anuttarosammasamboddhi(pencerahan sempurna)...tidak 1x pun beliau menyesatkan seseorang....
bahkan ketika sebelum mencapai Anuttarosammasamboddhi...beliau tidak pernah mengajarkan dhamma.

jika menurut anda menyesatkan..babarkanlah...sesat bagaimana yang anda maksudkan.


Quote
layaknya dua manusia yang menuju tempat yang sama, tetapi memilih jalan yang berbeda. layakkah antara kedua orang tersebut saling menyesatkan padahal mereka berdua belum sampai ke tujuan
perumpaan ini tidaklah tepat dengan kenyataan saat ini.....
1 orang telah sampai pada nibbana....dan melihat jalan yang di lalui nya hanya 1 jalan....yakni 4kesunyataan dan jalan mulia yang beruas 8.
bagaimanakah yang 1 nya?....perumpamaan ini tidaklah tepat


salam cinta kasih _/\_

1511
[at] mercedes

kalau begitu

1. layakkah kita memberitahu bahwa aliran Maitreya tidak mengantar ke Nibbana, seakan kita tahu "bahwa itu tidak berguna".?

2. dan layakkah kita memberitahu bahwa aliran Maitreya tidak mengantar ke Nibbana, saat kita tahu "bahwa itu tidak berguna".?
nomor 1 dan nomor 2 sama pertanyaan...jadi sy jawab 1 saja _/\_

T:layakkah kita memberitahu bahwa aliran Maitreya tidak mengantar ke Nibbana, seakan kita tahu "bahwa itu tidak berguna".?
J:tergantung situasi dan kondisi _/\_
ketika seseorang "ingin" mempelajari dhamma agung dari sang buddha....dimana ada faktor terpenting yaitu "niat"...dengan sendiri nya akan muncul 7 faktor dalam dirinya...salah satu nya adalah Dhammavicayo (penyelidikan akan dhamma).

dalam buddhis selalu ditekan kan akan "ehipassiko" yaitu "silahkan datang dan buktikan sendiri"
perlu kita tahu....tidaklah mungkin ajaran sang buddha yang melebihi sunyata mampu ditembus ibarat seorang missionaris agama datang ke rumah seseorang lalu menceramahi orang tersebut.
(masalah lainnya adalah parami,jika parami dari perumah tangga tersebut ada..mungkin bisa)

masalah layak atau tidak....bukanlah persoalan....tetapi "mau atau tidaknya" seseorang mencari kebahagiaan dan membandingkan kebahagiaan tersebut dengan buddha dhamma.
ketika kemelekatan timbul dari diri seseorang akan suatu aliran...tanpa mau membuka mata ke aliran lain...tentu sudah merupakan kebutaan.

NB:
ketika seseorang mempelajari dhamma dengan 7 faktor hingga mengerti sebagaimana timbul dan lenyap segala sesuatu hal yang tidak memuaskan(dukkha) dan mengembangkan 4 brahmavihara agar mencapai ketenangan batin.
ketenangan batin menuntun pada perkembangan pelaksanaan konsentrasi. sehingga dengan jelas mengetahui segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha.

salam _/\_

1512
[at] mercedes

Kenapa para Buddha memberikan jalan ke nibbana setelah mereka mendapat "Pencerahan"?
kenapa tidak sebelumnya?
[at] mercedes

Kenapa petapa Gotama, malah ikut menyiksa diri bersama lima pertapa?

Kenapa petapa Gotama, saat tahu bahwa "menyiksa diri" adalah tidak berguna, beliau tidak memberitahukan kepada lima pertapa?

Kenapa Buddha Gotama saat tahu jalan tengah(nibbana), beliau memberitakan kepada lima pertapa?
T:kenapa para buddha memberikan jalan ke nibbana setelah mereka mendapat pencerahan?
J:sebelum mencapai pencerahan...maka gotama bukanlah BUDDHA......kalau sebelum nya .....yah gotama mana tahu tentang nibbana.
andai tahu....cara mencapai nya bagaimana?.....(4 kesunyataan mulia belum terlihat dengan jelas) _/\_

T:Kenapa petapa Gotama, malah ikut menyiksa diri bersama lima pertapa?
J: karena pertapa gotama,mengira cara penyiksaan diri seperti itu bisa mengantarkannya ke PENCERAHAN.
 hal ini sekaligus menyakinkan bahwa sewaktu GOTAMA lahir...beliau itu BELUM LANGSUNG MENJADI BUDDHA.....hanya sebagai "CALON"
tetapi dengan kesempurnaan PARAMI, serta TEKAD sewaktu itu...maka beliau mampu mencapai AnuttaroSammasamboddhi

T:Kenapa petapa Gotama, saat tahu bahwa "menyiksa diri" adalah tidak berguna, beliau tidak memberitahukan kepada lima pertapa?
J: ketika pertapa gotama sadar praktek menyiksa diri tidak lah benar
(dimana ada sekelompok pemain musik yang mengatakan bahwa "jika senar ini di tarik terlalu kencang,,,,maka akan putus....tetapi jika ditarik terlalu lemah,,,maka suara nya sumbang)
hal ini lah yang disadari Boddhisatva Gotama bahwa "segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik"
tetapi ketika beliau telah mencapai Anuttarosammasamboddhi...beliau memberitahukannya kok.

T:Kenapa Buddha Gotama saat tahu jalan tengah(nibbana), beliau memberitakan kepada lima pertapa?
J: ketika Buddha gotama pertama kali "ingin" mengajarkan Dhamma dimana Brahma SAHAMPATI meminta beliau....
beliau mengarahkan pikirannya ke Pemimpin aliran ALARA dari suku KALAMA sesaat merenungkan bahwa pemimpin itu memiliki tiga PANNA....Setelah itu, dewa datang tanpa menampakkan dirinya dan berkata, “Buddha yang mulia, hari ini telah lewat tujuh hari sejak pemimpin aliran ALARA dari suku kalama meninggal dunia"

Buddha kemudian merenungkan lebih jauh, “Kepada siapakah Aku akan mengajarkan Dhamma pertama kali? Siapakah yang dapat dengan cepat memahami Dhamma yang Kuajarkan?” Kemudian Beliau berpikir, “pemimpin aliran Udaka, putra Rama, adalah seorang yang seperti alaran, memiliki tiga Panna. Ia juga seorang apparajakkha puggala. Mata kebijaksanaannya bebas dari debu kilesa dalam waktu yang sangat lama. Baik sekali jika Aku mengajarkan Dhamma kepadanya pertama kali. Ia akan melihat jelas Dhamma yang Kuajarkan.”
Setelah itu, dewa yang lain datang tanpa menampakkan dirinya dan berkata, “Buddha yang mulia, pemimpin aliran Udaka, putra Rama telah meninggal dunia tengah malam kemarin.” Buddha, yang tidak menyangka akan mendengar kata-kata dewa tersebut, melihat melalui Sabbanutta nanaa dan mengetahui bahwa pemimpin aliran Udaka sungguh telah meninggal tengah malam sebelumnya seperti yang disebutkan oleh dewa tersebut dan telah terlahir di Alam Arupa Brahmà Nevasannavasannayatana Alam Brahmà Arupa keempat (disebut juga Bhavagga) dari empat Alam Arupa Brahmà.

Setelah itu, (merenungkan), “Kerugian besar bagi pemimpin aliran
Udaka, putra Rama, kehilangan kesempatan menembus Magga-Phala yang layak ia dapatkan; jika ia dapat mendengarkan Dhamma yang Kuajarkan, ia akan dengan cepat melihat Empat Kebenaran Mulia.” Buddha kemudian merenungkan lebih jauh, “Kepada siapakah Aku akan mengajarkan Dhamma pertama kali? Siapakah yang dapat dengan cepat memahami Dhamma yang Kuajarkan?”
Kemudian Buddha berpikir, “Kelompok lima petapa, Pancavaggiyà, telah banyak membantu-Ku sewaktu Aku mempraktikkan dukkaracariya selama enam tahun di Hutan Uruvela, jadi, baik sekali jika Aku mengajarkan Dhamma kepada kelompok lima petapa pertama kali.” Setelah merenungkan, “Di manakah lima petapa itu berada saat ini?” Dan dengan Dibbacakkhu Abhinnà, Beliau melihat mereka berdiam di Migadàya, sebuah taman rusa besar yang juga disebut Isipatana, dekat Kota Vàrànasi.


dengan kata lain sang buddha melihat orang-orang terdekat nya yang paling cepat menembus dhamma...yakni memiliki tiga panna.yaitu:
1.pengetahuan akan kelahiran (jàti-pannà),
2.pengetahuan meditasi (bhàvanà-pannà),
3.pengetahuan melestarikan (pàrihàrika-pannà).
Ia juga seorang yang mata kebijaksanaannya telah bebas dari debu kilesa (upparajakkha puggala) dalam waktu yang sangat lama.
salam metta _/\_

1513
tetapi dari sudut pandang buddhis
aliran ini membutakan jalan menuju nibbana.....(semangat buddha selama mencari dhamma kebenaran dan tujuan tertinggi)

Yang tercerahkan kah anda?
sy bukanlah yang tercerahkan ^:)^......saya hanya manusia biasa yang sedang belajar. ;D
saya perjelas kata-kata saya....

ketika buddha menyatakan tujuan tertinggi adalah nibbana
di satu sisi ajaran Kris**n menyatakan tujuan tertinggi adalah masuk surga....

jika di pandang dari sudut buddhis tentu YE**S membutakan jalan ke nibbana.
demikian sebalik nya jika sang buddha gotama dipandang dari sudut Kris**n...yakni membutakan jalan menuju surga/bersama-sama TUHAN.

tercerahkan?
ketika merasa tercerahkan maka sesungguh nya kita terbodohkan....ketika kita merasa terbodohkan maka sesungguh nya adalah kebutaan.
tidak terjerat dari tercerahkan dan terbodohkan adalah kedamaian. :lotus:

nah bagaimana jika pandangan ini bersatu? tentu menyatukan air dan minyak adalah mustahil
demikian lah pandangan buddhism dengan pandangan maitreya....tidak akan bisa bersatu tetapi hanya bisa di satu wadahkan...entah itu gelas,baskom,dsb-nya kata kiasan nya adalah bumi,indonesia,forum.

jika membahas suatu aliran....tentu bukan berarti menghina aliran tersebut..(ini paling sering di salah artikan)
saya ambil contoh dari forum lain............
ketika suatu media cetak melakukan jajak pendapat tentang kinerja SBY..
ada yang mengatakan SBY tidak becus,,Cara SBY salah, SBY salah mengambil keputusan..

apakah bisa dikatakan Menghina SBY?..apalagi dikatakan didasari KEBENCIAN?
apakah harus dikatakan kinerja SBY baik, memuaskan...apa bisa dikatakan didasari cinta kasih jika berkata demikian?
ketika seseorang berbicara "ini benar" "ini salah" belum tentu didasari kebencian maupun cinta kasih.
hanya pikiran kita lah yang kadang menyesatkan.
waspadalah akan pikiran

sang buddha sering mengatakan "orang dungu" atau "orang bodoh" apa sang buddha membenci orang tersebut?
bukan demikian cara memandang LDM.... [-X
sungguh suatu pandangan keliru amat dalam jika seperti itu.

semoga semua makhluk berbahagia... _/\_

1514
at N1AR
memang benar apa yang anda katakan...
jika dilihat dari sudut pandang universal...tentu saja aliran tersebut baik....tidak mengajarkan keburukan..

tetapi dari sudut pandang buddhis
aliran ini membutakan jalan menuju nibbana.....(semangat buddha selama mencari dhamma kebenaran dan tujuan tertinggi)

jadi dibilang salah juga tidak...di bilang benar juga tidak. ^^
yah mirip orang katakan...not white and not black...just grey _/\_

pada intinya semua makhluk hidup ingin bahagia...jika ada seseorang yang lebih bahagia di aliran tersebut...ya moggo(silahkan) no problem
. ;D

1515
dalam aliran maitreya di sebut qiu tao....(maaf kalau salah)
dalam aliran yi guan dao di sebut kai kuang (maaf kalau salah)

tapi pada umum nya sama saja....
di qiu tao itu....umat yang ingin di qiu tao akan menerima 3 mustika
1.menerima tao(dengan cara di totok pada bagian tengah alis)
2.menerima 5 suku kata yang katanya bisa menyelamatkan disaat-saat kritis.
   5 suku kata itu ( WU DAO FO MI LE )....saya belum pernah melihat tulisan asli-nya...
   tetapi FO MI LE artinya BUDDHA MAITREYA.."WU DAO" saya tidak tahu
3.menerima gerakan tangan yaitu bagian tangan menutup tangan lainnya..

kemudian di suruh sumpah jika membocorkan 3 mustika ini maka biarlah 5 petir menyambar menghacurkan tubuh!!

lalu kalau tidak salah ada ritual yang membakar kertas bertuliskan nama yang barusan di qiu tao.
kemudian di bakar....(dengan maksud nama itu telah sampai di surga/telah disediakan tempat disurga dan tidak akan masuk neraka)

lebih lengkap coba baca di perpusatakaan DC
"bagaimana saya melepaskan diri dari yi kuang tao"

salam




Pages: 1 ... 94 95 96 97 98 99 100 [101] 102
anything