//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - marcedes

Pages: 1 ... 93 94 95 96 97 98 99 [100] 101 102
1486
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 27 December 2008, 02:25:26 PM »

dan manakah yang lebih menyenangkan....
tidak terlahir atau terlahir.?
tidak berbentuk atau berbentuk?
tidak menjelma atau menjelma?
tidak berkondisi atau berkondisi?
tidak ada(lepas dari ruang dan waktu) atau ada(masih merupakan lingkungan ruang dan waktu)?


Quote from: chingik link=topic=5941
Ya, Dari sudut pada Mahayana sendiri memang merasa tidak saling bertabrakan. Karena hakikat dhamma itu adalah tanpa inti, sedangkan konsep2 yg dimunculkan itu hanya sebagai upaya kosala nyana utk membimbing para makhluk.  
cukup simple...jawab saja pertanyaan tsb...akan kelihatan bertabrakan atau tidak.^^  _/\_
nanti setelah jawab baru saya akan munculkan argumen ke-2....bertahap-tahap...biar jelas ^^

1487
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 27 December 2008, 12:11:26 PM »
tetapi abhidhamma tidak saling bertabrakan dengan 4 kesunyataan mulia beserta tujuan para buddha...

sekarang bagaimana dengan avatamsaka sutra dan Saddharmapundarika sutra?
sejalankah dengan 4 kesunyataan mulia?
maka-nya saya langsung saja kepada kenyataan.
Quote
dan manakah yang lebih menyenangkan....
tidak terlahir atau terlahir.?
tidak berbentuk atau berbentuk?
tidak menjelma atau menjelma?
tidak berkondisi atau berkondisi?
tidak ada(lepas dari ruang dan waktu) atau ada(masih merupakan lingkungan ruang dan waktu)?

sy harap jawaban nya ^^
sudah jelas sekali dalam ke-2 sutra ini
ibarat menuliskan seorang buddha itu adalah dokter dan jago meracik obat,
tetapi diri nya sendiri tidak pernah makan obat. bagaimana mungkin seseorang tahu yang namanya "kesembuhan" jika tidak pernah makan obat?

inilah kontradisksi dalam 4 kesunyataan mulia, dan mahayana juga mengakui kalau 4 kesunyataan mulia itu merupakan kebenaran.

1488
Diskusi Umum / Re: Seorang Bodhisatva lebih rendah dari Sotapanna ?
« on: 26 December 2008, 10:25:39 PM »
Quote
Bagaimana dengan BAHIYA yang belum bhikkhu tetapi mencapai kesucian ARAHAT, demikian juga dengan Raja Sudhodhana yang meninggal sebagai ARAHAT dalam status umat awam yang belum ditabhiskan sebagai bhikkhu ?
di tahbiskan atau tidak bukanlah masalah....(hanya menjadi penghambat perhatian dalam latihan)
asalkan batin ini mampu mencapai tingkatan arahat...maka sy yakin pikiran anda saat itu tidak lagi memperdulikan  masalah "ditabiskan atau tidak"...
tidak di tabiskan juga gpp....masuk sangha juga gpp....everything it's oke.....
kemelekatan nya juga memang sudah tidak ada toh ^^..._/\_


1489
Diskusi Umum / Re: Seorang Bodhisatva lebih rendah dari Sotapanna ?
« on: 26 December 2008, 10:19:19 PM »
bisa baca-baca ini kisah raja suddhodana
Quote
Suddhodana mengundang Sang Bhagava ke istananya dan menjamuNya. Setelah makan, Sang Bhagava membabarkan ajarannya kepada Suddhodana yang kemudian mencapai tingkat spiritual kedua yaitu sakadāgāmī (Jātaka i.90).
Suddhodana mencapai tingkat sipirtual ketiga yaitu anāgāmī setelah mendengar Mahādhammapāla Jātaka (Jātaka iv.55). Ketika Suddhodana  akan meninggal, Sang Bhagava datang dari Vesāli untuk mengunjunginya dan membabarkan ajaran kepadanya, dan setelah mendengarnya Suddhodana mencapai tingkat spiritual Arahat dan akhirnya parinibbana (kemangkatan sempurna).
Suddhodana pada kehidupan lampaunya juga pernah menjadi ayah dari sang bodhisatta untuk banyak kehidupan, seperti yang dikisahkan dalam beberapa Jātaka seperti: Katthahāri, Alīnacitta, Susīma, Bandhanāgāra, Kosambī, Mahādhammapāla, Dasaratha, Hatthipāla, Mahāummagga, dan Vessantara.
masalah tekad,,,tentu lebih tinggi boddhisatva,,,asalkan tekad itu berupa boddhicitta-sammasambuddha.
kalau asal tekad....saya rasa semua orang bisa...tapi menjalankan tekad nya itu adalah masalah.

jadi tentu dari segi kualitas batin, seorang sotapanna lebih tinggi.

sy tunggu Abhidhamma nya^^

1490
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 26 December 2008, 06:26:44 PM »
Quote
La pertanyaannya, sampai seberapa bagus merknya itu? La kalau di tengah jalan rakitnya kesangkut batu karang? Kan nggak sampe pantai seberang tuh......

Quote
Wahahaha..... jangan berpikiran negatif dulu ah!!

Kok malah nanya-nanya rakit saya sih? Emang saya ngomong rakit anda kesangkut?
anggap saja pertanyaan pertama itu saya pakai dan balik bertanya....sy tunggu yah jawabannya^^

=========================
tau mengapa saya bahas soal Dukkha?
dalam Saddharmapundarika sutra dikatakan kalau buddha gotama telah mencapai ke-buddha-an pada kalpa-kalpa sebelumnya......berarti pada waktu masih menjadi pertapa sumedha sudah jadi buddha^^
kalau jadi buddha....kok masih bisa lahir jadi Siddharta Gotama?
jadi Lahir,sakit,tua,mati itu bukan penderitaan?

berarti ke-buddha-an yang di capai Gotama itu masih bisa terlibat dalam lahir,sakit,tua,mati?

dalam avatamsaka sutra
Quote
Menerima ramalan dari Tathagatha,
aku akan menciptakan tubuh yang tak terhitung,
dan dengan kekuatan kebijaksanaan yang besar dan luas
mengembara ke-10 penjuru untuk memberi manfaat ke alam makhluk hidup.

jinanatu rupatu laksanatas ca
varmatu gotratu bhoti-r upetah
tirthika-mara-ganebhir adhrsyah
pujitu bhoti sa sarva-trilike

Alam dari dunia-dunia dan ruang angkasa bisa berakhir,
serta karma dan penderitaan makhluk hidup bisa di hilangkan,
tetapi tidak bisa habis-habisnya
demikian juga semua ikrarku adalah tidak habis-habisnya
jadi menurut mahayana.....lahir,sakit,tua,dan mati.....itu merupakan hal yang bukan penderitaan?
jadi bagaimana mungkin menuntun makhluk hidup bebas dari penderitaan kalau penuntun-nya sendiri menderita?

1. Avatamsaka ----- Tathagatagarbha(Inti)
2. Agama ----Dasar
3. Vaipulya ----- Mahayana Dasar
4. Prajnaparamita ---- Shunyata
5. Saddharmapundarika ---- Tathagatagarbha (Inti)

sy tidak melihat hal nyambung dari 4 kesunyataan mulia yang merupakan kebenaran...jika dikaitkan dengan avatamsaka sutra dan saddharmapundarika....

=================================
ada hal sederhana yang saya ingin tanyakan kepada anda.
apakah lahir,sakit,tua,mati itu bukan dukkha?

dan manakah yang lebih menyenangkan....
tidak terlahir atau terlahir.?
tidak berbentuk atau berbentuk?
tidak menjelma atau menjelma?
tidak berkondisi atau berkondisi?
tidak ada(lepas dari ruang dan waktu) atau ada(masih merupakan lingkungan ruang dan waktu)?


sy harap jawaban nya ^^

salam metta _/\_

1491
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 26 December 2008, 10:29:40 AM »
Quote
La pertanyaannya, sampai seberapa bagus merknya itu? La kalau di tengah jalan rakitnya kesangkut batu karang? Kan nggak sampe pantai seberang tuh......
yah cari rakit lain...kalau tidak ada rakit lain
katakan pada diri sendiri "anda kurang beruntung,kasian de loe" ^^

dan saya balik bertanya bagaimana kalau rakit yang anda yakini juga demikian?

Quote
La wong yang Sotapanna aja nggak bisa tahu tingkat pencapaian orang yang sudah Sakadagamin kok....

    "Bhante, sebenarnya kami tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui pikiran para Arahat, Sammasambuddha, baik dari masa lampau, yang akan datang maupun sekarang. Tetapi, meskipun demikian kami memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo)."
    "Bhante, sama seperti perbatasan-negara milik seorang raja yang mempunyai benteng yang kokoh, dengan dinding dan menara penjagaan yang kuat dan hanya mempunyai sebuah pintu saja. Dan di sana, ada seorang penjaga pintu yang pandai, berpengalaman serta cerdas, yang akan mengusir orang-orang yang tidak dikenal dan hanya mengijinkan masuk orang-orang yang dikenal saja. Ketika ia memeriksa dengan menyusuri jalan yang mengelilingi dinding benteng-negara itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah, di dinding benteng-negara itu, yang cukup untuk dilewati oleh binatang, sekali pun hanya sekecil seekor kucing. Dan ia berpikir: "Seberapa pun besarnya mahluk-mahluk yang akan masuk atau meninggalkan negara ini, mereka semua hanya dapat melalui pintu ini."
    "Bhante, hanya dengan cara demikian aku memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo). Oleh karena, para Bhagava, Arahat, Sammasambuddha yang pernah ada pada masa lampau, dengan meninggalkan lima rintangan batin (pancanivarana) dan noda-noda pikiran (citta-upakkilesa) melalui kekuatan kebijaksanaan, dan dengan pikiran yang terpusat baik pada empat landasan kesadaran (cattarosatipatthana), serta mengembangkan dengan sempurna tujuh faktor Penerangan Sempurna (satta-sambojjhanga), maka mereka telah mencapai kesempurnaan sepenuhnya dalam Penerangan Sempurna (Sambodhi) yang tiada bandingannya (anuttara)."

=============
saya pun demikian tidak tahu tentang batin seorang arahat,anagami,sakadagami,sottapanna....tetapi tahu dari tradisi pencapaian seorang arahat,anagami,sakadagami,sottapanna.

seseorang yang terlatih dengan baik mengerti tentang dukkha,penyebab dukkha,akhir dari dukkha,jalan melenyapkan dukkha....akan melihat magga(jalan)...ketika mengikuti itu maka akan mendapatkan phala(buah)

apakah dukkha, apakah penyebab dukkha, apakah akhir dari dukkha, apakah jalan melenyapkan dukkha...saya rasa tidak perlu dijelaskan...
tetapi yang jelas
jalan melenyapkan dukkha...bukanlah
apakah arahat masuk dalam 10 tingkatan boddhisatva?
apakah yang diajarkan Tathagatha pertama kali?

sadar dan mengetahui tentang penyebab dukkha dan melihat jalan....adalah yang telah di sebutkan Y.M Sariputta yakni:
meninggalkan lima rintangan batin (pancanivarana) dan noda-noda pikiran (citta-upakkilesa) melalui kekuatan kebijaksanaan, dan dengan pikiran yang terpusat baik pada empat landasan kesadaran (cattarosatipatthana), serta mengembangkan dengan sempurna tujuh faktor Penerangan Sempurna (satta-sambojjhanga), maka mereka telah mencapai kesempurnaan sepenuhnya dalam Penerangan Sempurna (Sambodhi) yang tiada bandingannya (anuttara)."

apakah ini yang anda maksudkan anti-klimaks?
Quote
Sebagai klimaks Bhavaviveka mengutip Simsapavana Sutra:
“Ananda, Dharma yang kumengerti tetapi tidak kuajarkan padamu lebih banyak daripada dedaunan di hutan pohon simsapa ini.”

Di sana jelas bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan semua Dharma pada kaum Sravaka. Yang tidak diajarkan pada kaum Sravaka itu, diajarkan sang Buddha pada para Bodhisattva.

Quote
Ketika Yang Terberkahi tinggal di Kosambi didalam hutan simsapa.1 Kemudian, memungut beberapa lembar daun simsapa dengan tangannya, beliau bertanya pada para bhikkhu, "Menurut kalian, para bhikkhu; Manakah yang lebih banyak, beberapa lembar ditanganku atau yang berada diatas di hutan simsapa?"

"Daun-daun yang berada ditangan Yang Terberkahi lebih sedikit, Yang Mulia. Yang diatas di hutan simpasa lebih banyak."

"Demikianlah, para bhikkhu, hal-hal yang telah saya ketahui dengan pengetahuan langsung tetapi tidak diajarkan lebih banyak [dibandingkan dengan apa yang saya ajarkan]. Dan mengapa aku tidak mengajarkannya? Karena hal-hal tersebut tidak berhubungan dengan tujuan, tidak berhubungan dengan prinsip dari kehidupan suci, dan tidak membawa pada pembebasan, pada pelepasan, pada penghentian, pada ketenangan, pada pengetahuan langsung, pada pencerahan, pada pelepasan. Karena itulah aku tidak mengajarkannya.

"Dan apakah yang aku ajarkan?" 'Ini dukkha... Inilah penyebab dari dukkha... Inilah berhentinya dari dukkha... Inilah jalan latihan yang membawa pada berhentinya dukkha': Inilah yang aku ajarkan. Dan mengapa aku mengajarkan hal-hal tersebut? Karena hal-hal tersebut berhubungan dengan tujuan, berhubungan dengan prinsip dari kehidupan suci, dan membawa pada pembebasan, pada pelepasan, pada penghentian, pada ketenangan, pada pengetahuan langsung, pada pencerahan, pada pelepasan. Inilah mengapa aku mengajarkan hal-hal tersebut.

"Karena itu tugas kalian adalan merenungkan, 'Inilah dukkha... Inilah sumber dari dukkha... Inilah berhentinya dukkha.' Tugas kalian adalah merenungkan, 'Inilah jalan latihan yang membawa pada berhentinya dukkha."



cacatan sejarah bisa saja keliru....tapi kebenaran dari masa lalu hingga masa sekarang...tidak pernah keliru.

apakah kebenaran itu?
dukkha.

1492
Lingkungan / Re: Patung Wihara Budha di Bali Testeskan Air Suci
« on: 24 December 2008, 11:29:00 PM »
harum hanyalah harum....lalu mau di apain coba?
di minum juga tidak akan membawa pencerahan.....

itulah bukti betapa dalam nya kebodohan batin seseorang


1493
Diskusi Umum / Tidur
« on: 24 December 2008, 12:30:07 PM »
manusia normal kadang tidur hingga 6-8jam....
tapi seorang bikkhu tidur kadang hanya 4 jam...bahkan sang buddha tidur cuma 1 jam.

nah, sekarang orang menilai tidur bukanlah dari banyak jam...melainkan kualitas tidur.
jadi....bagaimana cara membangun kualitas tidur...bisa beri info?

1494
Diskusi Umum / Re: MARRIED VS KARMA
« on: 24 December 2008, 08:10:21 AM »
Bagaimana Dapat Bersatu Lagi di Kehidupan Mendatang?

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa(3X)

Dhammacārī sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca’ti

Barang siapa yang hidup sesuai dengan Dhamma, maka akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya.

(Dhammapada 169)

Segala sesuatu yang kita perjuangkan di dunia ini, yang kita kerjakan dan yang kita lakukan, bila sudah memberikan hasil, maka dari hasil itu pula jika bisa dinikmati dengan sepenuhnya, akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Hampir semua orang bila apa yang dikerjakan, apa yang diperjuangkan dan apa yang dilakukan bila sudah mendatangkan keberhasilan, keuntungan, dan kesuksesan, maka diharapkan terus-menerus berjalan/ berlanjut. Benarkah demikian? Coba saja kita perhatikan ketika kita memulai membuka sebuah usaha misal usaha berdagang/berjualan apa saja, bila sudah berhasil/ sukses pasti menginginkan di waktu berikutnya demikian. Demikian juga terhadap bidang lainnya. Tidak itu saja sampai kehidupan rumah tangga suami-istri pun bila merasa cocok, serasi, sepadan, seucap dan sekata, maka diharapkan sampai usia tua tetap selalu berkumpul berdua.

Jadi, segala sesuatu yang kita nikmati atau yang kita miliki ingin selalu bersama kita seperti halnya anak-anak dan orangtua (suami-istri) selalu hidup bersama. Sebagian orang yang belum mengerti Dhamma banyak yang berpikir dan mereka mengharapkan bagaimana agar kehidupan suami-istri itu bisa berlanjut di kemudian hari/sesudah kita meninggal nanti. Hal ini sesungguhnya tidak asing lagi jika kita mengerti Dhamma bahwa dalam ajaran Sang Buddha kita tidak saja bisa ketemu/berjodoh dalam kehidupan sekarang, tetapi juga pada kehidupan yang akan datang setelah kita meninggal (pada kelahiran yang baru). Sebagai contohnya adalah Guru Agung kita Sang Buddha, dikisahkan bahwa sebanyak 500 kali kelahiran selalu hidup berpasangan dengan istrinya yang dalam kehidupan sekarang; yaitu Yasodhara.

Inginkah bapak/ibu bersatu kembali dalam kehidupan yang akan datang dengan pasangan bapak/ibu? Kalau ingin, ikutilah kisah berikut:

”Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di antara penduduk Bhagga, dekat Sungsumaragiri, di taman Rusa di Hutan Bhesakala. Suatu pagi Sang Buddha berpakaian, mengambil jubah atas dan mangkuk-Nya, lalu pergi ke tempat tinggal perumah tangga Nakulapita. Setelah tiba di sana, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Perumah tangga Nakulapita dan istrinya, Nakulamata mendekati Sang Buddha. Setelah memberi hormat, mereka duduk di satu sisi. Kemudian, perumah tangga Nakulapita berkata kepada Sang Buddha, ”Yang Mulia, sejak istri saya, Nakulamata yang masih muda, di bawa ke rumah saya yang pada waktu itu juga masih muda, saya tidak pernah secara sadar telah melayani dia sekalipun di dalam pikiran, apalagi di dalam tindakan. Yang Mulia, kami berkeinginan untuk tidak berpisah selama kehidupan ini masih berlangsung dan di dalam kehidupan mendatang juga.”

Kemudian Nakulamata sang istri itu berkata kepada Sang Buddha, ”Yang Mulia, sejak saya yang pada waktu itu masih muda dibawa ke rumah suamiku Nakulapita yang masih muda, saya tidak pernah secara sadar telah melayani dia secara sadar sekalipun di dalam pikiran, apalagi di dalam tindakan. Yang Mulia, kami berkeinginan untuk tidak berpisah selama kehidupan ini masih berlangsung dan di dalam kehidupan mendatang juga.”

Kemudian Sang Buddha berkata demikian, ”Perumah tangga, jika suami dan istri ingin tidak terpisah selama kehidupan ini masih berlangsung dan di dalam kehidupan yang akan datang juga, harus memiliki keyakinan yang sama, moralitas yang sama, kedermawanan yang sama, kebijaksanaan yang sama, dengan demikian mereka tidak akan berpisah selama kehidupan ini masih berlangsung dan di dalam kehidupan mendatang juga.

Bila keduanya memiliki keyakinan dan kedermawanan,

Memiliki pengendalian diri, Menjalani kehidupan yang benar,

Mereka datang bersama sebagai suami dan istri,

Penuh cinta kasih satu sama lain.

Banyak berkah datang kepada mereka,

Mereka hidup bersama di dalam kebahagiaan,

Musuh-musuh mereka dibiarkan merana,


Bila keduanya setara moralitasnya.

Setelah hidup sesuai Dhamma di dunia ini,

Setara dalam moralitas dan ketaatan,

Mereka bersuka cita di alam dewa setelah kematian,

Menikmati kebahagiaan yang melimpah.”

(Aṅguttara Nikāya V, 55)

Sedangkan syarat lainnya Sang Buddha juga menjelaskan di dalam Sigalovāda Sutta, ada lima kewajiban suami dan istri sebagai pedoman kehidupan rumah tangga yang baik. Dengan lima cara seorang istri diperlakukan dengan baik oleh suaminya, yaitu: perhatian, ramah-tamah, setia, menyerahkan kekuasaan tertentu kepadanya, dan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

Demikian juga seorang istri memperlakukan suaminya dengan lima cara, yaitu: melakukan kewajiban-kewajibannya dengan sebaik-baiknya, berlaku ramah-tamah kepada sanak keluarga dari kedua belah pihak, setia, menjaga barang-barang yang ia bawa, serta pandai dan rajin mengurus segala pekerjaan rumah tangga.

(Sigalovāda Sutta, Dīgha Nikāya)

Demikianlah hal-hal yang harus dilakukan agar pada kelahiran mendatang anda dapat bertemu kembali sebagai pasangan suami istri yang cocok.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā

1495
jawaban terbaik tentu nya anda buktikan sendiri ketika mencapai jhana _/\_

1496
Pengalaman Pribadi / Re: Ketika Praktek Cinta Kasih dipertanyakan
« on: 20 December 2008, 11:33:52 AM »
memang demikian, walau menolong seseorang tanpa disadari kebijaksanaan adalah hal bodoh.

ada teman kadang yang suka memanfaatkan kebaikan kita demi keuntungan sendiri.....ketika kita tahu kita telah di manfaatkan demi tujuan yang tidak benar....maka setidak nya berhentilah menolong.

saya juga punya cerita

ada kenalan saya.....karena rumah nya terpencil dan letaknya dalam lorong/gang jadi agak sepi....ketika dia pulang malam...
ada beberapa orang berdiri-berdiri depan rumah seperti sedang mencari-cari alamat..
kemudian kenalan saya ini pulang...
mulanya...ada rasa tidak enak(seperti akan di todong)...

tetapi dia masuk kedalam rumah dan mengununci pintu pertama.(rumah nya ada 2lapis pintu....1.pintu jenis seperti jeruji...2.pintu kayu)
pada saat telah mengunci pintu jenis jeruji(harus nya sudah aman)...
eh...tau-tau karena kasih sayang nya tinggi...dia bertanya "ada yang bisa saya bantu pak"...
dengan cepat tangan perampok itu langsung memegang tangan kenalan saya...dan mengeluarkan pisau...

HP dan dompet pun raib.

ternyata pada awalnya korban bertemu pelaku....pelaku masih ragu-ragu akan melakukan tindakan penodongan atau tidak.
itu sebabnya bisa masuk ke rumah dengan aman dan mengunci pintu.

kesimpulan :
berhati-hatilah.....ketika kita yakin bisa menolong seseorang barulah kita tolong...
jika tidak yakin...sebaiknya jangan, tunda saja niat anda.
ibarat mau menolong orang tenggelam di kolam tapi diri sendiri tidak tahu berenang. ^^

1497
Theravada / Re: Tanya Jawab Seputar AbhiDhamma
« on: 18 December 2008, 09:13:31 PM »
apakah se-waktu pikiran kita mengganti-ganti objek terdapat adanya jeda? atau nyambung terus?
tolong dijelaskan dalam abhidhamma.

1498
Sutta Vinaya / Re: PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA YANG MEMAKAN TINJA
« on: 17 December 2008, 07:14:55 PM »
tapi dia bilang kalau sudah tidak ingin lagi mencintai seseorang....karena terus-terus menderita.......
yah bisa di bilang saat ini mungkin sedang menikmati dan bisa saja sudah mulai belajar melepas

tapi entah lah...

1499
Teknologi Informasi / Re: Free Software and Open Source from me
« on: 17 December 2008, 12:10:25 PM »
sy butuh program stok inventory sekaligus invoice..

yah buat toko grosir kelas menengah.... ada saran?

1500
ajaran sang buddha meliputi JB 8...dan refrensi lain bisa di lihat
pencet aja: ShowHide

YANG MERUPAKAN AJARAN SANG BUDDHA

 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa

”Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: `Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.` Tetapi, Ananda, hendaknya tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku pergi.”
(Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)


Dewasa ini banyak di antara kita yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Banyak pertanyaan yang dilontarkan seperti : Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran Buddhisme ? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat ? Apakah ajaran ini merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha ? Dan sebagainya.

Dari kebingungan tersebut timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana kita membedakan mana yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha dengan yang bukan ? Apakah Sang Buddha pernah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini ? Jawabannya ya, Sang Buddha telah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini.

Di bumi ini tidak ada Guru lain seperti Sang Buddha. Sang Buddha adalah Guru yang penuh dengan ketelitian, memiliki kecermatan, dan pandangan luas ke depan. Di saat-saat menjelang Parnibbana, sebelum Ia Parinibbana, Ia sudah mempersiapkan, dan memastikan secara benar kesiapan, keutuhan apa yang telah Ia temukan dan ia rintis yaitu keberadaan Dhamma, Vinaya, dan Sangha. Beliau mengatakan bahwa yang menggantian Beliau setelah Ia tiada bukanlah salah satu siswa UtamaNya, bukan Y.A Maha Kasappa yang ahli dalam latihan, bukan Y.A Upali yang ahli dalam Vinaya, dan bukan juga Ananda yang merupakan Bendahara Dhamma. Tetapi yang menggantikan Beliau sebagai Guru bagi para siswaNya adalah Dhamma (ajaran) dan Vinaya (tata tertib). Selain untuk menghindari perselisihan , hal ini ditetapkan juga untuk menghindari pengkultusan individu di masa yang akan datang yang akan menimbulkan kemelekatan pada diri seseorang, dan ini akan mengganggu pencapaian seseorang.

Dengan demikian setelah Sang Buddha parinibbana sampai sekarang tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.

Lebih jauh seseorang mungkin akan bertanya, ”Bagaimana kita mengetahui dan memastikan bahwa Dhamma dan Vinaya yang kita pelajari sekarang adalah Dhamma dan Vinaya yang di ajarkan oleh Sang Buddha?” Pertanyaan kritis ini sangat penting karena akan menepis kepercayaan membuta terhadap suatu ajaran.

Jauh sebelum Sang Buddha Parinibbana, Ia juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Hal ini berguna untuk membedakan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.

Dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:

"Bila, Gotami, engkau mengetahui hal-hal secara pasti: `Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan` - tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: `Ini bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.`”

"Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pasti: `Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu, bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan, bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada kehidupan mewah` - tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: `Ini adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.`”

Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :

"Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` - dari ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: Ini bukan Dhamma; ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.`"

"Tetapi Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` - dari hal-hal semacam itu engkau bisa merasa yakin: Inilah Dhamma; inilah Vinaya; inilah Ajaran Sang Guru.`”

Dari petunjuk Sang Buddha berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Gotami Sutta maupun SatthuSasana Sutta kita bisa melihat, menganalisa, meneliti secara hati-hati terhadap berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang bukan ajaran Sang Buddha (yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha), mana yang tidak. Misalnya ketika kita menemukan sebuah ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan alasan tertentu, kita bisa menjadikan penjelasan Sang Budda mengenai apa itu Dhamma dan Vinaya sebagai panduan. Setelah kita menganalisanya, kita dapat mengetahui bahwa membunuh itu menuju pada nafsu dan tidak menuju pada pelepasan, maka ajaran yang mengajarkan untuk membunuh tersebut bukan merupakan Dhamma dan Vinaya, bukan ajaran Sang Buddha. Dan kita perlu menghindarinya.

Dari apa yang disampaikan di atas, semoga kebingungan kita akan pembedaan antara mana yang merupakan ajaran Sang Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita ketahui dan pahami.

Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan.

Pages: 1 ... 93 94 95 96 97 98 99 [100] 101 102