//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - marcedes

Pages: 1 ... 91 92 93 94 95 96 97 [98] 99 100 101 102
1456
Quote
bukan "jangan" menilai, namun sadari ketika pikiran kita sedang menilai.
ketika kita menilai, kita tidak sedang sadar/sati Smiley
ketika anda sadari pikiran sedang menilai, aksi menilai tsb telah berlalu.
ketika aksi menilai anda berlalu, anda tidak butuh jawaban dari pertanyaan menilai tadi.
seperti nya tidak nyambung situasi nya

 _/\_

ketika kita ditanya seseorang "apakah peduli kepada teman itu baik?"
apa jawaban / respon anda(jika sedang sadar menurut versi mmd seperti yang anda pahami)..........


Quote
dalam hal ini saya senada dg Pak Hud, menilai sesuatu "baik" atau "tidak-baik" adalah gerak dari "aku"/ego. di sini permasalahannya bukanlah karena [peduli teman] itu adalah perbuatan yg salah (atau benar).

apakah ini jawaban?..... _/\_


1457
memang benar apa yang dikatakan [at]cunda.
segala konsep ttg sesuatu muncul karena kesepakatan bersama....

tetapi tidaklah mungkin jika kita berkata "ayam dan bebek adalah sama"
dan bisa saja dikatakan "sama"
karena ayam dan bebek semua terdiri dari jasmani dan batin....jadi sama
tetapi hakekat nya tidak sama.

memahami 1 dan memahami lainnya saling melengkapkan......jadi tidak lah perlu membebani pikiran dengan hal-hal yang melekat....
biarkan saja demikian. _/\_

salam metta.

1458
pikiran yang terjebak dalam segala konsep merupakan pikiran yang terbelit....tetapi pikiran yang tidak dapat membedakan hitam dan putih merupakan pikiran yang buta.
saya coba menanggapi berdasarkan pengalaman saya sendiri ya :)
pikiran memang bertugas membentuk konsep, pendapat, pandangan, filosofi dll
ketika kita berbicara, pasti kita sedang berbicara sesuatu yg konseptual
bahkan ketika kita membicarakan pengalaman yg sama,
misalnya saya & anda "melihat" lukisan monalisa
kemudian kita berbincang2 soal lukisan tsb,
yg kita bicarakan adalah konsep.
yg non-konsep adalah "melihat" itu sendiri.
melihat, mendengar, membau, mengecap, merasakan sentuhan, berpikir adalah non-konsep.
namun adalah sesuatu yg harus "dialami"

Quote
mengetahui benar dari salah adalah baik...tidak memberikan nilai benar dari salah adalah baik...

tetapi tidak bisa membedakan benar dan salah adalah buta.
belajar dhamma sejauh ini,apakah hanya untuk mengayung ditengah lautan samsara lantas lupa arah?
menurut saya, ada keterbatasan bahasa dalam kata "berhentinya pikiran" yg digunakan oleh Pak Hudoyo
jika bathin orang yg belum mengalami "berhentiny pikiran" (versi Pak Hudoyo) mencoba memahami yg disampaikan, kurang lebih yg ditangkap adalah suatu tindakan pembodohan diri. (atau bahkan seperti mengosongkan pikiran, yg jg sering ditepis Pak Hudoyo)
padahal (jika pemahaman saya sama dg Pak Hudoyo), di sana masih ada apa yg dikatakan Buddha kepada Bahiya:
"dalam yg dilhat hanya ada yg dilihat" ... "dalam yg dikenali hanya ada yg dikenali"
yg tidak ada adalah "aku yg melihat", "aku yg mengenali" dan segala respon "aku" lagi...

Quote
kita mengetahui salah, untuk mencari benar........terjebak dalam benar dan salah adalah bodoh.....

metode sebaik apapun tidak membawa pada pencerahan,bahkan membawa pada kebahagiaan yang disebut buta...apa bedannya dengan tidak melihat keadaan sekitar lalu berkata di sini indah,walau berada ditengah tumpukan sampah....

tentulah indah bagi diri sendiri...karena hanya diri sendiri ada disitu....
orang bijak tentu lebih mengetahui di sini indah,disitu kotor....dan tidak berada di-kedua tempat merupakan hal yang paling bebas.........lepas-lepas...
yg paling original adalah pengalaman itu sendiri...
ketika kita mengkonsepkannya agar orang lain mengerti, kita mengkonsepkan berdasarkan pengetahuan yg kita punya & itu dipersepsikan berbeda2 bagi orang yg menerima. tak jarang kita ribut2 soal penerimaan yg berbeda tadi :)

metta

_/\_

sama-sama bagi pengalaman _/\_
ketika saya sedang berusaha mengamati seperti petunjuk.......

ada sebuah kejadian (dari sekian banyak kejadian)
dimana saya ditanyakan sebuah masalah.....
pertanyaan nya sih,,,tidaklah sama...tetapi tidak jauh berbeda....
"apakah peduli kepada teman adalah baik?"

ketika hal ini ditanyakan........batin saya bertolak dengan yang disebut pak hud "aku"
dimana janganlah berproses pada penilaian...label...dsb-nya....
lalu?jika saya berkata baik..apakah maksud kata itu?
jika saya tidak menjawab....apakah maksud dari tindakan itu?

ketika hal ini berlangsung....dari dalam batin saya merasa "something wrong" dengan ini....
ditambah lagi saya membaca beberapa Tipitaka dan disitu ada sebuah hal yang sama dengan yang saya alami....
(tetapi sayang pak hud tidak menjelaskan dan beranggap bahwa Tipitaka itu ditulis oleh orang awam(bukan arahat) )

jadi bertambahlah kebingungan itu.
wajar saja karena referensi nya Tipitaka itu....

Quote
yg paling original adalah pengalaman itu sendiri...
ketika kita mengkonsepkannya agar orang lain mengerti, kita mengkonsepkan berdasarkan pengetahuan yg kita punya & itu dipersepsikan berbeda2 bagi orang yg menerima. tak jarang kita ribut2 soal penerimaan yg berbeda tadi
betul sekali kata anda.......ribut soal itu ini...hanyalah pikiran yang tidak bebas.....

tetapi membandingkan pendapat/pengalaman tanpa pikiran melekat.....sungguh diskusi yang baik.


Quote
menurut saya, ada keterbatasan bahasa dalam kata "berhentinya pikiran" yg digunakan oleh Pak Hudoyo
jika bathin orang yg belum mengalami "berhentiny pikiran" (versi Pak Hudoyo) mencoba memahami yg disampaikan, kurang lebih yg ditangkap adalah suatu tindakan pembodohan diri. (atau bahkan seperti mengosongkan pikiran, yg jg sering ditepis Pak Hudoyo)
padahal (jika pemahaman saya sama dg Pak Hudoyo), di sana masih ada apa yg dikatakan Buddha kepada Bahiya:
"dalam yg dilhat hanya ada yg dilihat" ... "dalam yg dikenali hanya ada yg dikenali"
yg tidak ada adalah "aku yg melihat", "aku yg mengenali" dan segala respon "aku" lagi...
demikian yang saya dengar juga.........

tetapi saya pun berpandangan lain...dan saya hanya sampaikan pandangan saya....berbagi pengalaman saja _/\_
apa yang dilihat sebagai apa yang dilihat..kata-kata ini berkaitan dengan JB 8
begitu melihat tubuh...kita melihat tubuh sebagaimana adanya....
tidak kekal,tidak konstan dan berubah-ubah...

begitu mendengar sebagai apa yang didengar...kata-kata ini berkaitan dgn JB 8
objek suara apapun baik dimasa lampau atau sekarang tidaklah pernah kekal...
ketika kita melekat disitu penderitaan ada...
apakah yang harus di lekat-kan jika ada penderitaan?.....inilah faktor lenyapnya dukkha.

begitu juga apa yang dikenali sebagai apa yang dikenali..

tidaklah mungkin berpandangan bahwa semua itu adalah "milik-ku" atau berhubungan dengan "aku"
dari situ muncullah penderitaan.....
----------------------------------------
sedangkan dalam yang Pak hud ajarkan sejauh yang saya tangkap dan mudah-mudahan salah tangkap _/\_

segala keputusan.....tidaklah baik kita memberi label........karena itu adalah "aku"
termasuk baik dan buruk........misalkan ketika kita ditanyakan tentang
"apakah perbuatan ini baik?"

dalam versi sejauh yang saya tangkap dan mudah-mudahan salah tangkap....
tentu lah ini tidak dijawab.....

sedangkan sejauh saya belajar dhamma tentu jawaban nya berbeda........
"lakukanlah jika baik dalam pandangan mu tentu hasil nya baik....tetapi jangan lupa untuk melihat sekitar mu"

salam....... _/\_

1459
anda lebih pakar karena anda bisa membabarkan pengetahuan langsung anda... _/\_

cobalah kemukakan pendapat anda.....

ketika ada perantau tidak tahu jalanan / kesasar di kota besar Jakarta.....lalu bertanya pada seseorang penduduk..."pak dimana jalan "hayam wuruk?"
lalu penduduk ini berkata "anda adalah ahli nya karena anda berani datang ke sini"

bagaimana pendapat anda tentang penduduk ini?
tentu penduduk ini kelihatan aneh bukan........

kadang ketika kita tidak tahu menjawab....lebih baik bilang tidak tahu.
atau tidak mengerti apa yang kita tanyakan....lebih baik bertanya lagi apa yang dimaksud.........

dari pada harus berbicara panjang lebar. beribu-ribu kata....
dan tidak bisa menjawab ataupun membantu....dan bahkan jauh dari kenyataan.....
apakah itu bisa dikatakan bijak dalam ucapan?
_/\_

saran ini mau di dengar juga baik,,,,tidak di dengar juga tidak apa-apa..
harap jagalah hati ini. adalah mencerminkan kita ke-arah lebih baik.

Quote
saya pikir dari semua tulisan yang dipaparkan oleh Hudoyo dan yang sudah praktek, memberikan banyak bahan masukan untuk meditasi,tetapi why anda terus bertanya, kenapa kenapa kenapa? bagaimana bagaimana bagaimana? anda sendiri mencemplungkan delusi pikiran dalam dualitas, ah ini baik,ah ini buruk,jika anda terus berpikir demikian maka anda juga menciptakan Nibbana dualitas yaitu vs. Samsara.
orang yang bijaksana berkata setelah ia praktek,bukan cuman omdo(omong doang) soal teori yang ga habis2. orang setelah mengerti teori ,ia praktek,baru bisa tanya,eh pengalaman saya seperti ini lho. tapi sama sekali saya belum melihat anda praktek atau anda selama ini hanya duduk diam seperti patung Buddha?

1460
nah,,ini dia.....tetapi sayang pakar nya sudah tidak mau menjawab. _/\_
makanya pula saya melihat tidak tambahnya kebijaksanaan dalam latihan...
malah sebaliknya kebijaksanaan saya seperti orang awam..bahkan menganggap semua itu sama.

pikiran yang terjebak dalam segala konsep merupakan pikiran yang terbelit....tetapi pikiran yang tidak dapat membedakan hitam dan putih merupakan pikiran yang buta.

mengetahui benar dari salah adalah baik...tidak memberikan nilai benar dari salah adalah baik...

tetapi tidak bisa membedakan benar dan salah adalah buta.
belajar dhamma sejauh ini,apakah hanya untuk mengayung ditengah lautan samsara lantas lupa arah?

kita mengetahui salah, untuk mencari benar........terjebak dalam benar dan salah adalah bodoh.....

metode sebaik apapun tidak membawa pada pencerahan,bahkan membawa pada kebahagiaan yang disebut buta...apa bedannya dengan tidak melihat keadaan sekitar lalu berkata di sini indah,walau berada ditengah tumpukan sampah....

tentulah indah bagi diri sendiri...karena hanya diri sendiri ada disitu....
orang bijak tentu lebih mengetahui di sini indah,disitu kotor....dan tidak berada di-kedua tempat merupakan hal yang paling bebas.........lepas-lepas.......


salam metta _/\_

Coba saya yang tanya anda saja yah.
Menurut anda sendiri, benar atau salah, batasannya bagaimana? Apakah yang menentukan sebuah perbuatan itu benar atau salah?
kita belajar dhamma tentu harus tahu belajar apa itu benar dan apa itu salah........
sehingga tahu batasan benar...

misalkan tubuh ini........seperti ajahn suwaat katakan.........
tidaklah mungkin pikiran ini kekal dan ada "aku" disitu,,,,karena semua itu bentukan.......
atau tidaklah mungkin tubuh ini kekal.....
ini disebut pandangan salah.

dan memandang sesuai alamiah,kenyataan itu disebut pandangan benar....karena selaras.

lalu bagaimana perbuatan baik dikatakan baik...........tentu tidak merugikan diri sendiri dan orang lain........serta dapat membahagiakan diri sendiri dan orang lain.........
dan ini memang alamiah nya...........
karena sepanjang saya hidup bahkan sejarah...belum pernah ada seseorang itu menyukai penderitaan...dan membenci kebahagiaan....

dan semua yang dilakukannya itu semata-mata untuk memuaskan nafsu nya. alias membahagiakan dirinya...hanya saja caranya kadang keliru.


1461

soalnya ada buku JK berjudul spt :
Happy is the Man who is Nothing ~

nah begini malah membuat org pingin tanya....
koq judulnya begitu?...


maaf bos anda itu kalau mau bertanya ke orang yang tulis bukunya langsung,tanya ke sini percuma,ga ada yang kenal ama JK yang bisa interview dia kenapa tulis buku seperti itu,baca buku bukan meresapi judulnya tapi meresapi makna dari isi buku tersebut.

nah,,ini dia.....tetapi sayang pakar nya sudah tidak mau menjawab. Namaste
makanya pula saya melihat tidak tambahnya kebijaksanaan dalam latihan...
malah sebaliknya kebijaksanaan saya seperti orang awam..bahkan menganggap semua itu sama.

saya pikir dari semua tulisan yang dipaparkan oleh Hudoyo dan yang sudah praktek, memberikan banyak bahan masukan untuk meditasi,tetapi why anda terus bertanya, kenapa kenapa kenapa? bagaimana bagaimana bagaimana? anda sendiri mencemplungkan delusi pikiran dalam dualitas, ah ini baik,ah ini buruk,jika anda terus berpikir demikian maka anda juga menciptakan Nibbana dualitas yaitu vs. Samsara.
orang yang bijaksana berkata setelah ia praktek,bukan cuman omdo(omong doang) soal teori yang ga habis2. orang setelah mengerti teori ,ia praktek,baru bisa tanya,eh pengalaman saya seperti ini lho. tapi sama sekali saya belum melihat anda praktek atau anda selama ini hanya duduk diam seperti patung Buddha?
saya memang hanya umat awam........yang hanya berusaha mencapai nibbbana. _/\_
apa yang saya sampaikan adalah pengetahuan langsung....
menganggap itu praktek atau teori itu merupakan hak anda....

jika anda pakarnya.....bisa beri saya jawaban?

1462
pertanyaan saya sederhana....ketika atau menurut MMD seseorang mengalami ke-eling....dan ditanya oleh seseorang...."apakah sopan-santun dalam ucapan,menjaga tingkah,memelihara Sila,menjaga pikiran...bisa dikatakan perbuatan baik atau buruk?

jika dijawab ya....coba tanya pada diri sendiri..mengapa "ya"
jika dijawab tidak...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak"
jika tidak dijawab...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak dijawab"


sy tidak melihat adanya perkembangan panna/kebijaksanaan disini.

Hudoyo:

Baik pikiran positif maupun pikiran negatif kedua-duanya tidak terlepas dari aku/diri, dan pada hakikatnya adalah sumber dari derita. ... Sadari kedua-duanya tanpa menilai dan memilih-milih: ini positif, ini negatif.


cuma copas aja :P

nah,,ini dia.....tetapi sayang pakar nya sudah tidak mau menjawab. _/\_
makanya pula saya melihat tidak tambahnya kebijaksanaan dalam latihan...
malah sebaliknya kebijaksanaan saya seperti orang awam..bahkan menganggap semua itu sama.

pikiran yang terjebak dalam segala konsep merupakan pikiran yang terbelit....tetapi pikiran yang tidak dapat membedakan hitam dan putih merupakan pikiran yang buta.

mengetahui benar dari salah adalah baik...tidak memberikan nilai benar dari salah adalah baik...

tetapi tidak bisa membedakan benar dan salah adalah buta.
belajar dhamma sejauh ini,apakah hanya untuk mengayung ditengah lautan samsara lantas lupa arah?

kita mengetahui salah, untuk mencari benar........terjebak dalam benar dan salah adalah bodoh.....

metode sebaik apapun tidak membawa pada pencerahan,bahkan membawa pada kebahagiaan yang disebut buta...apa bedannya dengan tidak melihat keadaan sekitar lalu berkata di sini indah,walau berada ditengah tumpukan sampah....

tentulah indah bagi diri sendiri...karena hanya diri sendiri ada disitu....
orang bijak tentu lebih mengetahui di sini indah,disitu kotor....dan tidak berada di-kedua tempat merupakan hal yang paling bebas.........lepas-lepas.......


salam metta _/\_

1463
pertanyaan saya sederhana....ketika atau menurut MMD seseorang mengalami ke-eling....dan ditanya oleh seseorang...."apakah sopan-santun dalam ucapan,menjaga tingkah,memelihara Sila,menjaga pikiran...bisa dikatakan perbuatan baik atau buruk?

jika dijawab ya....coba tanya pada diri sendiri..mengapa "ya"
jika dijawab tidak...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak"
jika tidak dijawab...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak dijawab"


sy tidak melihat adanya perkembangan panna/kebijaksanaan disini.

Dalam keadaan 'sati/perhatian murni', ditanya tentang sopan santun = perbuatan baik/buruk?
Itu seperti menanyakan 'perbuatan tertentu etis atau tidak bagi kaum homoseksual' kepada seorang heteroseksual.
Seperti anak kecil bertanya pada orang dewasa, "Batman sama Superman itu lebih hebat yang mana?". 
aduh....tidak ngerti juga maksud saya toh....
sudahlah tidak perlu dibahas lagi. _/\_

1464
wah,pertanyaan saya sudah pindah beberapa halaman....
lupa dijawab ya? atau tidak bisa dijawab?

hehehe... beberapa lembar halaman tersebut "mempertanyakan" eksistensi dan identitas MMD.... apakah ada jawaban di dalamnya ?

pertanyaan saya sederhana....ketika atau menurut MMD seseorang mengalami ke-eling....dan ditanya oleh seseorang...."apakah sopan-santun dalam ucapan,menjaga tingkah,memelihara Sila,menjaga pikiran...bisa dikatakan perbuatan baik atau buruk?

jika dijawab ya....coba tanya pada diri sendiri..mengapa "ya"
jika dijawab tidak...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak"
jika tidak dijawab...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak dijawab"


sy tidak melihat adanya perkembangan panna/kebijaksanaan disini.
Istilahnya menghilangkan dualitas, dan jangan berpikir harus begini atau begitu, yang terpenting sadari.
seperti nya anda tidak mengerti apa yang saya maksudkan....
wah,pertanyaan saya sudah pindah beberapa halaman....
lupa dijawab ya? atau tidak bisa dijawab?

hehehe... beberapa lembar halaman tersebut "mempertanyakan" eksistensi dan identitas MMD.... apakah ada jawaban di dalamnya ?

pertanyaan saya sederhana....ketika atau menurut MMD seseorang mengalami ke-eling....dan ditanya oleh seseorang...."apakah sopan-santun dalam ucapan,menjaga tingkah,memelihara Sila,menjaga pikiran...bisa dikatakan perbuatan baik atau buruk?

jika dijawab ya....coba tanya pada diri sendiri..mengapa "ya"
jika dijawab tidak...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak"
jika tidak dijawab...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak dijawab"


sy tidak melihat adanya perkembangan panna/kebijaksanaan disini.

ada tapi anda sendiri yang tidak bisa melihat karena belum "sadar" itu.
Dalam pikiran yang sadar terotomatisasi penjagaan sila ,dari sila yang sadar,otomatis mendukung terciptanya samadhi di setiap waktu,dan akhirnya berkembang panna karena sadar akan dalam dan luar sekeliling.
sepertinya pemikiran MMd harus kembali diluruskan yaitu fenomena anggapan Arahat, kekuatan(bala) dan segala macamnya baru anda bisa melihat maksud dari 2 Sutta yang digunakan Hudoyo.

Sopan santun adalah garis kewajaran masyarakat. dalam Buddhisme ,bukan sopan santun tapi sati(perhatian).jika anda menggunakan kata sopan santun,berarti yang anda ikuti adalah garis sosialnya.

Rekan marcedes,kira2 mengikuti perbincangan awal Hudoyo dengan rekan DC?kalo anda memulai dari pertengahan,mungkin wajar kalo terpancing emosinya.
_/\_.....ini juga sama.....tidak connect dengan maksud saya.

1465
Mahayana / Re: perbedaan mahayana ama theravada
« on: 22 January 2009, 11:27:14 AM »
bebek berbeda dengan ayam..pada hakikat nya..........jadi orang tidak bijaksana saja yang tidak bisa melihat perbedaan itu dan menanggapnya sama.

dan jikalau sudah beda....apakah yang masih mau di tanyakan/diperdebatkan?

pikiran yang menembus segala batasan,lepas dari konsep adalah bagus.
pikiran yang menembus segala pikiran termasuk ada dan tiada adalah suci.

1466
wah,pertanyaan saya sudah pindah beberapa halaman....
lupa dijawab ya? atau tidak bisa dijawab?

hehehe... beberapa lembar halaman tersebut "mempertanyakan" eksistensi dan identitas MMD.... apakah ada jawaban di dalamnya ?

pertanyaan saya sederhana....ketika atau menurut MMD seseorang mengalami ke-eling....dan ditanya oleh seseorang...."apakah sopan-santun dalam ucapan,menjaga tingkah,memelihara Sila,menjaga pikiran...bisa dikatakan perbuatan baik atau buruk?

jika dijawab ya....coba tanya pada diri sendiri..mengapa "ya"
jika dijawab tidak...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak"
jika tidak dijawab...coba tanya pada diri sendiri mengapa "tidak dijawab"


sy tidak melihat adanya perkembangan panna/kebijaksanaan disini.

1467
memang kadang ada beberapa buddhism yang belum memiliki pengetahuan....bisa saja goyah.......

tetapi kepercayaan agama lain lebih disebabkan dengan dogma..sedangkan buddhism kenyataan.

1468
wah,pertanyaan saya sudah pindah beberapa halaman....
lupa dijawab ya? atau tidak bisa dijawab?

1469
Diskusi Umum / Re: emptiness
« on: 22 January 2009, 01:04:30 AM »
pernahkah anda di vonis mati?....
ketika anda belum mengalami kematian secara "calon" mungkin masih melupakan penderitaan...

tetapi ketika di voniss......sungguh kematian itu adalah tetangga terdekat kita. dan bisa kapan saja memanggil........

siapkah anda?....itulah pandangan pertama....inilah dukkha.

1470
Quote
"Tidak jadi menggaruk", "tidak jadi minum", "tidak jadi mandi", "tidak ingin namaskara"--KALAU itu memang benar-benar terjadi pada Anda, dan di sini saya mulai meragukan kejujuran Anda!--itu tidak lebih daripada REAKSI dari si aku lagi. ... Yang tadinya tanpa berpikir panjang dilakukan, sekarang segala sesuatu dinegasikan ... kedua-duanya adalah reaksi si aku terhadap suasana di sekitarnya.

Di dalam sadar yang sebenarnya, tidak ada yang seperti itu, tidak ada pola tertentu yang diikuti: kalau gatal, bisa menggaruk bisa pula tidak; kalau haus, bisa minum bisa pula tidak; kalau badan gerah, bisa mandi bisa pula tidak. ... Jadi sadar itu bukan berarti melahirkan suatu pola tingkah laku yang seragam dan bisa diprediksi lebih dulu, seperti perilaku orang yang selalu terseret oleh pikirannya.
pada saat anda marah...ketika anda melihat marah dan sadar....
apakah masih marah?...sy bukannya melihat "tidak jadi marah,dsb-nya"
karena yang saya alami...dimana keinginan itu muncul....tetapi diberi kesadaran didalamnya
maka tidak jadi berlanjut

ambil saja contoh sederhana pak hud.........
ketika dalam kesadaran penuh vipassana seperti yang anda maksudkan.....

lalu anda ditanya kepada seseorang "apakah menjaga ucapan,pikiran,tindakan itu baik?"
jawaban apa yang anda berikan?



saya merasa belajar seperti ini,ibarat kembali ke seseorang yang tidak dapat lagi membedakan hal baik dan buruk..........
memang di satu sisi pikiran ini tidak lagi terjebak "ini baik"  "ini buruk" seperti plongg...
tetapi ada masalah dalam batin saya...(sulit saya jelaskan) hanya bisa saya katakan
"it's something wrong"

sekira nya anda dapat membimbing saya..._/\_

-------------------------------------------------
Quote
Yang menghafalkan dan menulis Tipitaka itu bukan arahat, bukan orang yang telah bebas. Orang yang telah bebas tidak punya motivasi untuk menulis kitab suci.

lalu bahiya sutta itu anda dapat dari mana?....
bagaimana jika saya katakan ananda yang mencapai tingkat kesucian arahat sebenarnya tidak punya motivasi untuk mengulang dhamma dan vinaya bersama Upali dan Maha Kassapa...
dan tertulis dalam bahiyasutta ataupun semua Tipitaka itu bohong dan karangan belaka?.....

_/\_

--------------------------------
Quote
Ini sudah saya jawab, tidak perlu diulang-ulang lagi. Jangan mencoba-coba memahami jalan pikiran seorang arahat, sebelum Anda sendiri menjadi arahat.
tidak ada masalah jika tidak ingin menjawab-nya..................ataupun tidak tahu..
sy anggap pertanyaan yang disimpan saja........

sekali lagi saya tidak ingin mengajak berdebat ataupun membenarkan argumen saya....
apa yang saya alami hanya sebagai pertanyaan atas mengapa ini. mengapa itu.........
dan saya hanya ingin belajar semua apa yang ada. _/\_

Pages: 1 ... 91 92 93 94 95 96 97 [98] 99 100 101 102