//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - marcedes

Pages: 1 ... 88 89 90 91 92 93 94 [95] 96 97 98 99 100 101 102
1411
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 16 February 2009, 11:57:31 AM »
Quote
tapi perpecahan itu terbentuk dari murid...bukan dari naskah kitab sucinya...
jelas kan....

lalu nagarjuna membawa kitab perpecahan itu untuk apa?...sudahkah pikir akibat nya belum..
bukan membawa perdamaian...bahkan dengan sengaja tertulis 2 aliran disitu.

Apa anda pikir Tripitaka Hinayana cuma ada versi Theravada doang?

Apa anda tidak tahu bahwa ada Tripitaka versi Sarvastivada maupun Mahasanghika? Yang notabene sejajar dengan aliran Theravada?

 _/\_
The Siddha Wanderer
kalau pun ada, silahkan post disini Tipitaka versi Sarvastivada, dan bagian mana yang menujukkan ada 2 versi.

saya,anda juga semua tahu bahwa Tipitaka dalam Theravada paling di akui kemurniannya(sangka ke 1) adalah 4 nikaya tertua,dsb-nya
memang pada konsili ke-3 barulah di tambahkan beberapa......seperti milinda ataupun lainnya
tetapi saya tidak melihat theravada menulis 2 sekter berbeda.

dan kata hinaya dalam mahayana itu artinya apa?
termasuk Theravada kan. atau tidak?.....


kalau mahasangsika kan mahayana

1412
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 16 February 2009, 11:52:30 AM »
Quote
“Sekte Mahasanghika akan terbagi menjadi tujuh bagian
Sekte Sthavira menjadi sebelas bagian,
Inilah apa yang kita istilahkan sebagai 12 sekte [dari Mahasthavira],
Delapan belas termasuk di dalamnya dua sekte awal,
Semua ini muncul dari Mahayana,
Yang mengatakan bukan kesetujuan pun bukan kontradiksi."
(Manjusri Pariprccha Sutra)
nah yang bilang ini pun dari sesepuh siapa yah?.... ^^
mahayana lah.

Quote
jadi bisakah saya tarik kesimpulan "selama Sang Buddha selalu mau mengajarkan dhamma,di situ ada penderitaan bukan.?"

lalu, bagian mana yang dikatakan Sang Buddha telah bebas dari penderitaan?
nah, inilah yang saya sebut...mengajarkan bebas dari penderitaan tetapi dirinya sendiri menderita....
apakah Sang buddha pernah merasakan betul-betul bebas dari penderitaan?
saya yakin "tidak akan pernah bebas dari penderitaan"

jadi apakah yang diajarkan seorang buddha?...yakni terus menderita?
jadi kebalik bukan dengan 4 kesunyataan mulia.

lalu pada akhirnya bertabrakan pula dengan ajaran Theravada.

La wong Bodhisattva yang nolong terus menerus aja kagak menderita kok anda yang protess..... Penderitaan mamang ada tapi ya cuma penderitaan fisik, batin ya kagak menderita.

Quote
saya rasa tidak bakalan nyambung..Theravada mengajarkan

Segala bentukan adalah penderitaan, dan untuk bebas dari penderitaan adalah bebas dari bentukan.

sedangkan mahayana? ^^

Ya begitu...  ^-^  ^-^

Quote
coba renungkan ini..dan keinginan untuk mengajar terus menerus itu masuk mana yah dari 3 ini.^^

apalagi kalau bukan ketamakan. dimana merujuk pada "mau terus"

Terusnya hanya prosesss.......  ^-^  ^-^ Anda paham kusala chanda gak sih??

Kok yang dipikiran cuma lobha.... lobha............lobha....... ya anda terus menerus mencari nafkah buat anak istri anda supaya mereka hidup sejahtera dan berbahagia itu LOBHA ya? Ohhh... kalau gitu harus cepet2 dilenyapkan nih tuh LOBHA...... gak usah cari nafkah sekalian karena nambah LOBHA. Ngapain nunda2 untuk nglenyapin LOBHA. Gitu? Tentu tidak bukan?

Seorang Bodhisattva yang berikrar untuk menolong terus menerus..... apakah pada akhirnya tidak jadi Samyaksambuddha? Ya jadi dong!
oh. jadi bukan lobha yah???....ini lobha yang bersifat halus.
dan kalau tidak mau mencari makan dengan pikiran bodoh seperti itu disebut MOHA...tetapi tidak terikat kedua-dua nya disebut orang bijak lagi.
dan berusaha membuang jauh-jauh bisa saja menimbulkan kebencian....

makanya bikkhu punya banyak SILA yang jelas. agar betul-betul memusanakan LDM nya.

seperti nya anda bukan seorang meditator dan seorang teoriawan..sory kalau nebak-nebak saya minta maaf..
tapi jikalau memang demikian.. saya rasa tidak guna membahas masalah LDM yang sifat nya halus...karena bakalan tidak nyambung. ^^

loh boddhisatva tidak menderita? ataukah lupa akan penderitaan......


"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya,
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."

anda katakan cuma penderitaan fisik ya?...
aduh,,,,jadi itu bukan penderitaan juga?......
belajar dulu ke basic 4 kesunyataan mulia saja dah.
sungguh tidak bakalan nyambung ngomong kalau begini. ^^

Quote
Renungkan Mahayana dengan cangkir yang tidak penuh, tapi dengan cangkir kosong. Renungkan... renungkan..... tanpa perenungan ataupun meditasi terhadap Ajaran, hanya dengan intelektualitas semata, maka hasilnya kebanyakan akan meleset.
cangkir saya hanya ingin saya isi yang berguna saja...tetapi sebelum di-isi saya tentu filter dulu.

dan 4 kesunyataan mulia itu merealisasikan kenyataan yang benar-benar kenyataan (paramatha)
masalah "kedamaian extrim" saya juga ingin post..tetapi sudah ada yang lebih dulu ^^

semoga diskusi ini bukan menambah kebencian, melainkan menambah wawasan semata.
waspada akan pikiran.


salam metta.

1413
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 16 February 2009, 11:38:41 AM »
Quote
Perpecahan Sangha sudah terjadi sebelum Nagarjuna membawa Sutra Mahayana.... malah bukan 3 aliran lagi.... tapi malah 18 aliran..... Wuuiiiikkk  Cool  Cool
tapi perpecahan itu terbentuk dari murid...bukan dari naskah kitab sucinya...
jelas kan....

lalu nagarjuna membawa kitab perpecahan itu untuk apa?...sudahkah pikir akibat nya belum..
bukan membawa perdamaian...bahkan dengan sengaja tertulis 2 aliran disitu.

1414
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 16 February 2009, 11:36:12 AM »
Quote
Ini tuduhan serius, Arahat yang masih bisa merosot, bisa sebutkan contoh dan referensinya?

Baca Abhidharmakosa. Di sana ada sebutin Arhat yang masih bisa merosot dan ada yang tidak.....

Kalau Mahasanghika malah semua Arhat ada kemungkinan melakukan kemerosotan dalam 5 hal.

Jadi sebenarnya dalam aliran Hinayana sendiri telah ada indikasi tentang ketidaksempurnaan seorang Shravaka Arhat.

 _/\_
The Siddha Wanderer
posting disini pls...kan sama2 baca lebih enak. _/\_


Quote
Kalau saya bilang Hinayana yang nge-klaim kalau tidak ada S2 gimana??  chuckle  chuckle  chuckle
memang hinaya sudah mengklaim kalau jalan Nibbana itu sudah FINISH..tidak ada S2.

dan yang menyatakan ada S2. itu MAHAYANA bro....

mahayana yang buat versi ada S2....theravada tidak buat versi.....gimana sih..


Quote
Ini adalah pertanyaan konyol.

Apabila Nagarjuna tidak mengambil Sutra Mahayana.... Anda pikir tidak akan ada perpecahan Sangha??

Lah 18 sekte awal yang konsepnya berbeda-beda anda pikir itu apa?

Kalau gak ada Mahayana, mungkin zaman sekarang akan ada 18 sekte agama Buddha yang sedang bertarung dan gontok-gontokan.

Tahu 18 sekte awal itu apa saja?

Malah Theravada yang katanya banyak orang murni itu justru menurut Mahasanghika adalah sekte yang dengan seenaknya menambahi Vinaya yang diajarkan Sang Buddha! Nah lho? Jadi yang bikin Sanghabheda itu siapa?

Coba renungkan! Belajar sejarah, pahami, baru tanyakan!

La Ajahn Chah, Luangta Maha Boowa, Ajahn Mun Bhuridatto ada kejodohan gak bertemu ajaran Mahayana?

Apakah mereka seorang Arhat masih belum tentu bukan? Apakah mereka mempunyai kemampuan lebih [abhinna] anda juga gak tahu pastinya bukan?

Lagipula kalau mereka Arhat, belum tentu juga merupakan seorang Arhat yang mampu memahami Mahayana? Ingat contoh kisah Arhat yang mampu memahami Mahayana dan yang tidak mampu memahami Mahayana?
sejak kapan dalam Theravada ada 18 versi?....di TIPITAKA mana tertulis ada 18 versi?
jadi jelas yang membedakan versi situ adalah murid nya....bukan Theravada.

misalkan seorang bikkhu belajar metode meditasi vipassana mahassi, yang satu nya belajar versi lain seperti ajahn mun...
ini berarti murid nya yang membedakan......tetapi "nibbana" dalam Theravada tetap 1 makna.
yakni bebas se-bebas bebas nya.

masalah sesepuh seperti Ajahn chah,Luanta, dsb-nya....justu kesimpulan bahwa ketika tamat S1 sudah harus lanjut S2. itu pandangan MAHAYANA
dan berarti jika dilihat dari sudut pandang MAHAYANA bahwa mereka semua itu BELUM TAMAT S1.

anda tidak mengerti apa yang saya katakan...versi yang berbeda-beda diciptakan itu adalah CIPTAAN MAHAYANA....

sekali lagi di TIPITAKA PALI tidak ada PERBEDAAN SEKTE....yang ada hanya di Tripitaka MAHAYANA.

salam metta ^^

1415
Mahayana / Re: mantra pelindung
« on: 15 February 2009, 06:13:18 PM »
pake Jattukham saja ^^

1416
Diskusi Umum / Re: Keangkuhan/Kebodohan Suku Sakya
« on: 15 February 2009, 03:04:56 PM »
"Saat sang buddha ingin kembali ke kampung halamannya, ia berpikir, suku sakya adalah suku yang angkuh/bodoh, jika saya datang tanpa seperti biasa, mereka pasti tidak akan percaya bahwa saya seorang yg tercerahkan. jika saya memperlihatkan suatu kekuatan gaib maka itu tidak akan lagi ada keraguan bagi mereka.."

Saudara2, mari kita telaah makna dari cerita tersebut, cerita diatas hanyalah tulisan ulang dari saya. harap baca kembali RAPB untuk versi yg lebih jelasnya.

Dalam cerita tersebut kita dapat mengambil suatu analisa, analisa yang saya dapat adalah

1. Kisah ini adalah memang nyata

2. Kisah ini adalah perumpamaan.

Namun saya kurang begitu yakin dengan analisa pertama, karena sebagaimana anda tahu, bagaimana mungkin seseorang dapat mengambang di udara lalu mengeluarkan air dan api secara bergantian yang menutupi tubuhnya... tanpa suatu alat apaapun. Jika anda mengatakan mungkin di jaman sekarang ini, maka dapat saya katakan anda masih memiliki pola pikir masyarakat kuno.

Namun saya lebih senang mengartikan pada analisa kedua, yaitu kita hendaknya mengambil hikmah dari cerita ini.

Saudara2 sebangsa dan setanah air, Pada jaman dahulu kala teknologi serta penelitian tidaklah sekritis jaman sekarang, dahulu masyarakat kuno menganggap hal yang diluar kuasa serta hal yang diluar pikiran mereka adalah sesuatu hal yang gaib, sesuatu hal yang mejik. Hal ini memang aneh, karena kita selalu cenderung tertarik terhadap hal2 demikian.

Dalam cerita tersebut sebenarnya merupakan refleksi dari kita juga, kita ini seperti suku sakya yang sombong dan bodoh. sombong karena mereka menginginkan seorang yg dianggap patut dihormati itu karena benar2 secara nyata lebih berkuasa dari mereka, dan bodoh karena tidak dapat menghormati yang patut dihormati berdasar pengetahuan/kebijaksanaannya.

Kita selalu menggambarkan sosok yang mempunyai kemampuan yang diluar kemampuan kita sebagai Tuhan ataupun Guru besar, kita selalu mengharapkan mereka dapat diandalkan, maka itu kita selalu mensyaratkan mereka memiliki kemampuan yang tidak kita miliki, suatu kemampuan super yang dapat menjawab semua persoalan.

Demikian sulitkah persyaratan bagi orang yang bijak dan kaya pengetahuannya?

begitu sombongnya kita, begitu bodohnya kita...
jaman sekarang Tanah dan Air pun di bayar. ^^

tapi bahan perenungan nya boleh juga...thx

1417
Theravada / Re: pertanyaan mengenai kemampuan seorang buddha.
« on: 15 February 2009, 03:01:05 PM »
dengan kekuatan bathinnya, BUDDHA bisa melakukan semua hal yang dikatakan di atas, tetapi jangan lupa, BUDDHA memiliki kekuatan bathin untuk melihat potensi karma dan berbuahnya karma makhluk lain. Jika makhluk tersebut dalam kehidupan ini belum bisa mendapatkan pengajaran dhamma maka tidak akan bisa (semuanya kan berkondisi).

- Sulit untuk dilahirkan sebagai manusia.
- Lebih Sulit untuk dilahirkan sebagai manusia pada jaman adanya ajaran BUDDHA.
- Lebih Lebih Sulit lagi untuk dilahirkan sebagai manusia dan mendapat ajaran BUDDHA.
- Sangat Jarang untuk terlahirkan sebagai manusia dan menjadi siswa BUDDHA langsung.

Betul, Buddha bukan seperti singa tua ompong yang meraung-raung di seluruh hutan tetapi tidak bisa menangkap mangsa.
Bukan juga seperti petani yang menabur benih di tempat kering dan tandus, atau menuai sesuatu yang belum waktunya panen.
yah ,salahsatu alasan yang sangat masuk akal...disamping jika buddha mengeluarkan terlalu banyak kesaktian, disisi satu bisa saja anggota sangha banyak masuk demi mencari kesaktian atau lainnya.

disisi satu buddha tidak langsung terbang ke sini kemari...adalah melihat potensi kamma berbuah sebuah makhluk..

Buddha juga dikatakan memang memiliki KESAKTIAN tetapi bukan berarti "MAHA BISA" seperti gagasan agama lain.

misalkan bahkan lebih gampang lagi...suara buddha bisa melebihi 1-10.000 tata surya atau bahkan lebih lagi semau yang buddha mau...tetapi mengapa buddha tidak melakukannya.

karena Seorang buddha sebelum melakukan "beliau telah mampu menangkap apa yang terjadi apa bila dilakukannya"
karena buddha mampu melihat Kamma-Vipaka secara jelas.

disisi satu bisa saja membuat orang menyembah berhala lagi karena mendengar suara aneh. ^^

1418
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 15 February 2009, 02:46:12 PM »
Quote
Barangkali Bro Gandalf tahu mengapa Saddharma Pundarika Sutra tidak diulang oleh Ananda pada Konsili I, sehingga lolos dari Tipitaka Pali.

Ada 4 penyebab:

1. Beda tempat
Tipitaka Pali kan diulang di Goa Sattapani, sedangkan ajaran Mahayana diulang di Gunung Vimalasvabhava, jadi beda tempat

2. Memisahkan dengan ajaran Hinayana
Konsili di Goa Sattapani juga mengundang para Arhat yang belum mampu memahami Mahayana, maka tentu sabda Mahayana tidak diulang di sana. Ananda pergi ke Gunung Vimalasvabhava untuk mengulang sabda Mahayana di sana bersama dengan para Bodhisattva.

3. Diulang dan dilestarikan secara terpisah
Ajaran Hinayana dilestarikan dalam kelompok besar [beribu-ribu bahkan mungkin berpuluh-puluh ribu], sedangkan ajaran Mahayana dilestarikan dalam kelompok kecil / sedang [ratusan saja]. 2 kelompok ini memang berkembang secara terpisah dari awalnya.

4. Cara terampil
Ini adalah cara terampil para Arhat yang memahami Mahayana dalam mewejangkan sabda Sang Buddha secara keseluruhan yang dimulai dari Hinayana kemudian masuk ke Mahayana. Sehingga ini menunjukkan bahwa sabda Sang Buddha pertama harus dipahami lewat Hinayana dulu, baru masuk ke Mahayana dan Vajrayana, tidak tercampur-campur tak karuan.

 _/\_
The Siddha Wanderer
mari kita perhatikan 3 penyebab itu.

jika para Mahayana yang notabane nya memiliki "kebijaksanaan" yang "LEBIH" di banding yang mengikuti "Theravada"
mengapa "para sesepuh yang mengerti itu"
tidak melihat Ke masa depan dengan kemampuan nya Superiornya kalau bakalan ada kekacauan seperti ini?

jadi bisa donk para Theravada menyalahkan para sesepuh mahayana yang "bijak" itu dengan alasan.
kalau "orang bijak lebih tahu dari pada orang tidak bijak harusnya mengambil keputusan tepat hingga perbedaan pandangan yang sedemikian dalam kalangan Theravada dan Mahayana dapat dihindari"

kalaupun dengan alasan makanya Kitab itu disimpan di ALAM NAGA...lalu siapa yang bodoh mengambil kitab itu tanpa pikir panjang?
jikalau sudah Tamat S1(theravada) harusnya dengan sendiri memiliki Abhinna untuk ke Alam NAGA dan belajar disitu. ^^

1419
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 15 February 2009, 02:37:45 PM »
Quote
Sudah saya katakan, kalau anda menyebutkan "menolong hanya menolong", maka "membimbing terus menerus HANYALAH membimbing terus menerus."

saya yakin para praktek vipassana tidak akan berkata demikian...
entah anda pernah belajar vipassana atau tidak
tapi saya juga mengharapkan jawaban sama seperti [at]indra tentang Arahat dapat merosot.

salam metta. ^^

1420
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 15 February 2009, 02:30:05 PM »
Quote
kalau jaman dulu saja...kapasitas arahat pada waktu itu yang dibimbing langsung oleh Buddha tidak mampu mempelajari mahayana..

sudah dikatakan dulu...Seorang Sammasambuddha sebelum mengajar..beliau sudah tahu sampai dimana kemampuan pendengarnya....
jadi kalau di analogikan contoh anda......Buddha gotama sudah memperkirakan tanaman mana yang menyerap banyak yang mana tidak......bukan asal menyebar air....nanti banjir loh ^^

jadi tidaklah mungkin Buddha gotama berbicara Sia-Sia didepan seseorang yang dia TAHU kalau orang tersebut tidaklah mungkin mengerti apa yang IA katakan....dengan kata lain bicara sia-sia

Tentu seorang Samyaksambuddha tahu sampai dimana kemampuan pendengarnya

Saya beri contoh gini deh....

Sang Buddha pergi dengan diiringi 1000 siswa Arahat dan 1000 orang Bodhisattva [baik umat awam maupun bhiksu]. Sang Buddha melihat bahwa ada potensi 500 Arahat memahami ajaran Beliau tentang Mahayana dan 200 Bodhisattva dapat memperoleh pemahaman baru apabila Beliau membabarkan Dharma di waktu dan tempat itu.

Maka tentu Sang Buddha kemudian membabarkan ajaran beliau tentang Mahayana. Dan memang benar ke-500 Arahat dan 200 orang Bodhisattva tersebut paham akan ajaran Sang Buddha.

Namun 500 Arahat lainnya yang masih melekat pada "kedamaian ekstrim" mereka, tentu tidak paham akan ajaran Sang Buddha tentang Mahayana....

Nah dari kisah di atas, maka yang terjadi adalah Sang Buddha tetap tahu sampai dimana kemampuan pendengarnya.

Hanya saja tentu, bisa saja tidak semua pendengarnya paham bukan? Dan ini adalah sebuah hal yang wajar....

Apabila ada 1000 murid yang saat itu hadir, apa mesti semuanya harus bisa paham?

Kalau hanya 500 saja yang akan bisa paham, apakah Sang Buddha tidak jadi memberikan ajaran-Nya?

Apakah hanya karena 500 Arahat lainnya nggak bisa paham, maka Sang Buddha tidak jadi mengajarkan ajaran Mahayana pada 500 Arahat dan 200 Bodhisattva yang bisa memahami?

Coba Renungkan!

Jadi tentu Sabda Sang Buddha TIDAK PERNAH SIA-SIA.

 _/\_
The Siddha Wanderer
jika sesuai yang anda katakan dimana belajar Theravada dulu baru mahayana....
lalu mengapa para sesepuh Theravada seperti Ajahn Chah,Luanta maha bowa tidak belajar mahayana?
ataukah mereka tidak sanggup?
berarti Ajahn chah,Luanta Maha bowa,Ajahn Mun Bhuridatto itu semua belum tamat dari Theravada?

logikanya kan kalau sudah tamat S1 pasti masih ada S2...lalu mengapa Ajahn Chah,dan lainnya tidak lanjut belajar Mahayana?

Nah di katakan bahwa "nagarjuna" mengerti Mahayana...jikalau demikian berarti Nagarjuna lebih bijaksana dibanding arahat.
Seharusnya nagarjuna "mampu" melihat ke depan efek akibat diambilnya kitab suci dialam NAGA.
dan yang pada akhirnya Sangha terbecah belah 2 menjadi demikian.

berarti ketika "nagarjuna" mengambil kitab suci dialam naga...tidak pakai pikir dulu kah?

dan jika memang dasarnya adalah belajar Theravada...coba perhatikan..
ketika seseorang mampu menguasai Theravada.....dengan baik lalu dengan abhina nya sendiri pergi kealam Naga lalu baca kitab disana. kemudian belajar disana.
dengan begitu tidak akan ada 2 mazhab yang membingunkan bukan?

tapi kenyataan
bahkan pemula bisa langsung ditabhiskan menjadi bikkhu Mahayanis.

seperti "jikalau anda belum S1(sarjana)"...seharusnya menjadi  S1(sarjana) terlebih dahulu barulah menjadi "S2(master)"
dan tidak mungkin menjadi S2 langsung...mengapa Mahayana tidak gabung saja ke Theravada.
dan berarti sisa "para S2/sesepuh mahayana" bisa belajar di alam DEWA.

justru kenyataan-nya tidak demikian. ketika belajar THERAVADA dan sampai pada akhirnya.
tidak bakalan ada LANJUTAN S2...lalu mengapa ada klaim ada lanjutan S2?
justru klaim tersebut berawal dari Mahayana sendiri.


1421
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 15 February 2009, 02:20:36 PM »
Quote
justru membimbing terus menerus muncul alur..maka ada "ke-aku-an" disitu....coba lihat patticasammupada lagi dah...
ada suatu ego disitu.....
kalau masih tidak percaya..coba tanya yang praktik langsung vipassana....kalau saya sendiri...menyatakan ada "ego" disitu.

berarti Anatta dalam mahanyana dan Theravada berbeda lagi ^^

Sudah saya katakan, kalau anda menyebutkan "menolong hanya menolong", maka "membimbing terus menerus HANYALAH membimbing terus menerus."

Memangnya kagak bisa orang menolong terus menerus dengan tanpa memiliki rasa Aku?? Yang seharusnya diperhatikan bukanlah "terus menerus" sebagai sebuah keinginan yang penuh dengan rasa haus. Kalau rasa "terus menerus" ini didasari oleh rasa haus dan nafsu, maka tentu ini bukan keinginan seorang Bodhisattva. karena keinginan macam ini hanya menimbulkan penderitaan saja.

Membimbing terus menerus ini harus dipandang sebagai sebuah tindakan yang apa adanya. Menolong ya menolong. Berhenti ya hanya berhenti. Terus menerus ya hanya terus menerus. Seperti bumi yang berputar terus menerus, tidak ada lobha yang menyebabkan bumi berputar bukan? Maka membimbing terus menerus harus dipahami sebagai "Hanya Tindakan". Hanya satu alasan kenapa para Bodhisattva membimbing terus menerus, yaitu Maitri Karuna.

Membimbing terus menerus dalam praktek Bodhisattva diiringi dengan maitri karuna dan keinginan [harapan] positif [chanda], bukan lobha.

Makhluk yang mampu membimbing terus menerus tanpa lobha hanyalah para Bodhisattva yang telah melewati tingkat Arahat, Tidak Tergoyahkan.

Kita sebagai umat awam yang berniat untuk membimbing terus menerus, maka tidak dipungkiri bahwa akan ada sedikit lobha dalam pikiran kita, Tapi ini tidak jadi soal, karena lobha akan terus terkikis seiring dengan pemahaman kita mengenai maitri karuna, anatman dan kusala chanda terus meningkat, tentu diiringi dengan praktek meditasi seperti Vipasyana dan Samatha.

Anatta dalam Theravada dan Mahayana tidak berbeda, hanya saja Mahayana lebih meluaskan konsep Anatman itu ketimbang Theravada. Anda tidak mau terima, it's OK.

Ketimbang saya menjudge ada "Ego" di mana-mana, mendingan saya nge-judge bahwa diri saya ini masih penuh dengan "Ego".

 _/\_
The Siddha Wanderer
jadi bisakah saya tarik kesimpulan "selama Sang Buddha selalu mau mengajarkan dhamma,di situ ada penderitaan bukan.?"

lalu, bagian mana yang dikatakan Sang Buddha telah bebas dari penderitaan?
nah, inilah yang saya sebut...mengajarkan bebas dari penderitaan tetapi dirinya sendiri menderita....
apakah Sang buddha pernah merasakan betul-betul bebas dari penderitaan?
saya yakin "tidak akan pernah bebas dari penderitaan"

jadi apakah yang diajarkan seorang buddha?...yakni terus menderita?
jadi kebalik bukan dengan 4 kesunyataan mulia.

lalu pada akhirnya bertabrakan pula dengan ajaran Theravada.

Quote
4. Cara terampil
Ini adalah cara terampil para Arhat yang memahami Mahayana dalam mewejangkan sabda Sang Buddha secara keseluruhan yang dimulai dari Hinayana kemudian masuk ke Mahayana. Sehingga ini menunjukkan bahwa sabda Sang Buddha pertama harus dipahami lewat Hinayana dulu, baru masuk ke Mahayana dan Vajrayana, tidak tercampur-campur tak karuan.
saya rasa tidak bakalan nyambung..Theravada mengajarkan

Segala bentukan adalah penderitaan, dan untuk bebas dari penderitaan adalah bebas dari bentukan.

sedangkan mahayana? ^^

Quote
Kata kuncinya padamnya LDM, kalau mengarah ke sana dan menghasilkan magga dan phala --->nibbana berarti sudah  benar tipitakanya dan aplikasinya . Coba renungkan sumber dari semua dukkha,samsara,tumimbal lahir.
coba renungkan ini..dan keinginan untuk mengajar terus menerus itu masuk mana yah dari 3 ini.^^

apalagi kalau bukan ketamakan. dimana merujuk pada "mau terus"

1422
Theravada / Re: pertanyaan mengenai kemampuan seorang buddha.
« on: 15 February 2009, 01:29:49 PM »
Sebenernya guidance dalam Tipitaka Pali dan prakteknya jelas. Kalau  guidance dari Tipitaka yg teraplikasi dalam praktek yg mana mengikis sampai habis Lobha, dosa dan Moha maka itu yg Benar. Misalnya ada Tipitaka aliran X tertulis ritual bisa mengikis LDM atau tantrik sex bisa mencapai pencerahan/nibbana ;D nah silakan kita berpikir secara akal sehat. Jadi lihatlah apa2 yg merupakan Ajaran prinsip dasar dari Semua Buddha.

Kata kuncinya padamnya LDM, kalau mengarah ke sana dan menghasilkan magga dan phala --->nibbana berarti sudah  benar tipitakanya dan aplikasinya . Coba renungkan sumber dari semua dukkha,samsara,tumimbal lahir.

Seringkali kita bingung untuk memilih. Nah jawabannya cuma satu lakukanlah banyak kebajikan dan banyak belajar dari para Ariya ttg kebijaksanaan sehingga pilihan2 kita terdukung oleh parami kita. Memang ini sulit sekali dicapai oleh karena itu inilah salah satu keberuntungan terbesar jika dapat memahami dan menjalankan Ajaran Sang Tathagatha dengan benar.

Sekalipun Sang Buddha menemukan sendiri Dhamma yg telah hilang , patut diingat pula pada kehidupan lampau Beliau juga belajar dan mengunjungi  para Ariya atupun Buddha terdahulu (Dipankara) sehingga semua itu adalah suatu proses yg saling mendukung.

Kesaktian Sang Buddha sangat sulit dilukiskan yaitu bisa membuat orang tidak terlahirkan lagi melalui ajaran-Nya(TERBUKTI LHO). Coba renungkan  tentang kesaktian/kemampuan yg satu ini yg tidak ada bandingnya dibandingkan kesaktian manusia, deva ataupun Brahma yg paling sakti.
_/\_ hanya bahasa kenyataan yang menggambarkan sebenar-benarnnya..

1423
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 15 February 2009, 08:16:28 AM »
Thx Bro Chingik atas jawabannya,
tapi ada satu hal yg masih mengganjal pikiran saya.

Quote
Lebih lanjut Bhavaviveka dalam Tarkajvala juga menyanggah klaim Hinayana dengan ofensif, yaitu dengan mengatakan bahwa Sutra-Sutra Mahayana memang bukan diperuntukkan untuk kaum Hinayana [Sravaka], tetapi untuk para Bodhisattva. Wajar saja kalau Hinayana tidak tahu.

Sebagai klimaks Bhavaviveka mengutip Simsapavana Sutra:
“Ananda, Dharma yang kumengerti tetapi tidak kuajarkan padamu lebih banyak daripada dedaunan di hutan pohon simsapa ini.”

Di sana jelas bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan semua Dharma pada kaum Sravaka. Yang tidak diajarkan pada kaum Sravaka itu, diajarkan sang Buddha pada para Bodhisattva.

Kisah hutan Simsapa ini juga disebutkan dalam Mahaparinirvana Sutra:

Kasyapa berkata pada sang Buddha: “O Bhagava! Ketika Sang Buddha berada di tepi sungai Gangga, di hutan Simsapavana, Pada waktu itu, sang Tathagata mengambil satu dahan pohon simsapa yang kecil dengan beberapa daun di batang tersebut dan berkata pada para bhiksu:
“Apakah daun yang berada di dalam genggaman tangan-Ku banyak atau semua daun dari rerumputan dan pepohonan di seluruh hutan banyak?”
Semua bhiksu menjawab: “O Bhagava! Dedaunan dari rerumputan dan pepohonan dari seluruh hutan sangat banyak dan tidak dapat dihitiung. Apa yang Tathagata pegang di tangan-Nya sangat sedikit dan tidak berharga untuk disebutkan.”
“O para bhiksu! Pengetahuan yang aku ketahui adalah seperti dedaunan dari rerumputan dan pepohonan di muka bumi; apa yang Aku berikan pada semua makhluk bagaikan daun dalam genggaman tangan-Ku.”
Sang Bhagava kemudian berkata: Hal-hal yang tidak terbatas yang diketahui oleh Tathagata adalah merupakan ajaran-Ku apabila mereka mencakup Empat Kebenaran Mulia. Jika tidak, maka akan ada 5 Kebenaran.”
………..
Bodhisattva Kasyapa berkata pada Buddha: “Jika semua hal tersebut berada dalam Empat kebenaran Mulia, mengapa Anda mengatakan bahwa mereka belum dibabarkan?”
Sang Buddha menjawab: “O pria yang berbudi! Meskipun mereka berada di dalam Empat kebenaran Mulia, kita tidak dapat mengatakan bahwa mereka telah dibabarkan. Mengapa tidak? O pria yang berbudi! Ada 2 macam kebijaksanaan berkaitan dengan pengetahuan Kebenaran Mulia. Yang pertama adalah tingkat menengah dan yang lainnya adalah tingkat superior. Apa yang dinamakan sebagai kebijaksanaan tingkat menengah adalah para Sravaka dan Pratyekabuddha; apa yang dimaksud sebagai tingkat superior adalah para Buddha dan Bodhisattva.


Dikatakan bahwa karena Kausala nya, maka Buddha Sakyamuni tidak mengajarkan sutta2 mahayana kpd para arahat pada jaman Beliau hidup.
Karena Sang Buddha mengetahui bahwa para arahat tsb tidak dapat memahami Ajaran Mahayana.
Dan Beliau mengajarkan sutta2 Mahayana hanya kpd Bodhisatva yg berada di suatu surga (saya lupa) :)
Tapi secara jelas di dalam Mahayana para Arahat diakui sebagai Bodhisatva tingkat 7.
Yg jadi pertanyaan saya:
Apabila arahat sudah mencapai Bodhisatva tingkat 7, mengapa masih tidak bisa memahami ajaran sutta2 Mahayana???
Dan aneh nya lagi, apabila Arahat (Bodhisatva tingkat 7) saja tidak dapat memahami, mengapa skrg malah banyak umat2 awam yg bisa menjelaskan ttg isi sutta2 Mahayana, yg menandakan mereka MENGERTI dan MEMAHAMI?
Seperti anda dan Bro Gandalf, yg saya rasa paham sekali ttg ajaran Mahayana.

Mohon diberi penjelasan, krn saya benar2 ingin mengerti.

 _/\_

Jangan salah paham. Buddha tidak pernah tidak mengajarkan para Arahat tentang jalan Bodhisatva. Contoh saja, Setiap pembabaran dharma Budha selalu dihadiri serombongan besar Bhikkhu Arahat. Yang dimaksud Arahat tidak mengetahui jalan Bodhisatva adalah Arahat tidak sanggup memahami jalan Bodhisatva. Buddha tetap berkotbah tentang jalan Bodhisatva, namun para Arahat tidak memahaminya sehingga dianalogikan bahwa Arahat tidak mendengar ajaran Mahayana. Kotbah Sang Buddha seperti guyuran hujan dari angkasa, para makhluk ibarat tanaman yg terguyur, rumput kecil hanya sanggup menyerap air sedikit, pohon besar menyerap air hujan dgn lebih banyak, semua terguyur, namun kapasitas menerima air (ajaran) tergantung masing-masing tanaman. Begitu juga umat awam hanya sanggup menyerap ajaran lokiya, sedangkan mereka yg menjadi bhikkhu dapat memahami ajaran yg lebih tinggi sehingga menyerap lebih banyak ajaran Buddha seperti pohon besar. Demikian seterusnya semua ini tergantung pada kapasitas masing2. 
kalau jaman dulu saja...kapasitas arahat pada waktu itu yang dibimbing langsung oleh Buddha tidak mampu mempelajari mahayana..

sudah dikatakan dulu...Seorang Sammasambuddha sebelum mengajar..beliau sudah tahu sampai dimana kemampuan pendengarnya....
jadi kalau di analogikan contoh anda......Buddha gotama sudah memperkirakan tanaman mana yang menyerap banyak yang mana tidak......bukan asal menyebar air....nanti banjir loh ^^

jadi tidaklah mungkin Buddha gotama berbicara Sia-Sia didepan seseorang yang dia TAHU kalau orang tersebut tidaklah mungkin mengerti apa yang IA katakan....dengan kata lain bicara sia-sia

1424
Mahayana / Re: Bhavaviveka "vs" Hinayana
« on: 15 February 2009, 08:10:19 AM »
Quote
Saya menyebutkan kata lakon dgn tanda petik dgn harapan agar anda memahami maksud yg saya kemukakan. Namun saya menangkap cara bro menanggapinya dgn sangat aburd. Atau memang ingin bertanya dgn sangat sangat serius? Saya pernah berdiskusi dgn seorang rekan yg tidak meyakini ajaran Buddha, namun ketika beliau mendengar hal-hal yg diluar pemahaman beliau, bagaimanapun juga beliau tidak akan bertanya tentang hal-hal yg seolah-olah sangat absurd. Dari mempelajari ajaran Buddha, kita sama-sama memahami bahwa Buddha adalah manusia yg sangat luar biasa karismatiknya. Ini tercermin dari kata-kata bijaknya. Dari sisi ini saja, seharusnya tidak perlu sampai memunculkan rasa curiga bahwa seorang Buddha sedang bersandiwara. Kalaupun ingin mengatakan sandiwara, maka sepatutnya konteks sandiwara itu dibedakan dgn tanda petik, karena tentu ini sangat berbeda. Singkatnya, Buddha tentu tidak mungkin bersandiwara. Bagi bro yg sudah terpaten dgn konsepsi Theravada, memang sulit menerima bahwa Buddha dapat muncul lagi di dunia lain dgn alur : "lahir, menjadi pertapa, mencapai pencerahan, membabarkan dhamma, Mahaparinibbana". Namun bagi Mahayana hal ini sejalan dgn ikrar agung dan tidaklah mustahil ini dilakukan seorang Buddha, mengapa? Seorang Buddha sudah tidak melekat lagi dgn Keakuan, karena tidak melekat lagi itulah maka apalah artinyan jika setelah Mahaparibbana lalu sampai suatu waktu muncul lagi dgn alur seperti di atas utk mengajar di sebuah lokadhatu yg msh asing sama sekali dgn dhamma? Mungkin Mahaparinibbana yg bro hendaki adalah padam total, namun ingatlah bahwa Buddha tidak pernah mengatakan bahwa mencapai nibbana itu sama dgn lenyap, jiak sama dgn lenyap bukankah sama dgn paham nihilis? Sedangkan bagi Mahayana, muncul lagi di suatu tempat pd satu kondisi yg tepat tidak menandakan bahwa Mahayana menganut paham kekal. Jika dikatakan paham kekal, maka seharusnya Buddha tidak perlu Mahaparinibbana, namun Mahayana lebih menganggapnya sebagai perubahan yg terus menerus, dan hakikat dhamma itu tetap ada karena dhammatanya, dan karena Buddha tidak melekat pd Keakuan itu pula maka Beliau bebas leluasa dgn kearifan sejati tetap akan membimbing orang yg kondisi karmanya selaras utk dibimbing Buddha.
justru membimbing terus menerus muncul alur..maka ada "ke-aku-an" disitu....coba lihat patticasammupada lagi dah...
ada suatu ego disitu.....
kalau masih tidak percaya..coba tanya yang praktik langsung vipassana....kalau saya sendiri...menyatakan ada "ego" disitu.

berarti Anatta dalam mahanyana dan Theravada berbeda lagi ^^

1425
Theravada / Re: pertanyaan mengenai kemampuan seorang buddha.
« on: 14 February 2009, 09:49:12 AM »
Sang Buddha tidak memakai kekuatan gaib-Nya untuk segala hal. Itu adalah tindakan yang bijaksana. Coba bandingkan dengan orang yang memiliki kesaktian namun tidak diimbangi oleh kebijaksanaan. Orang yang punya kendaraan (contoh : mobil) saja cenderung untuk pergi ke mana-mana dengan mengendarai mobil. ^-^

Sang Buddha meninggal (memasuki Parinibbana) atas 'kehendak-Nya' sendiri. Kontroversi soal keracunan makanan itu sebenarnya salah paham.
begini...seandainya sang buddha memakai kekuatan iddhi-nya untuk mengajarkan dhamma...
misalkan tidak berjalan kaki tapi dalam sekejab saja sudah tiba...bukankah menghemat waktu?
disisi lain lebih banyak yang bisa SangBuddha tolong.

(ini pertanyaan kebenaran perspektif...jadi hanya tambah-tambah ilmu saja) ^^

Pages: 1 ... 88 89 90 91 92 93 94 [95] 96 97 98 99 100 101 102