//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Ayasma Vangisa Thera  (Read 3125 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Ayasma Vangisa Thera
« on: 20 October 2017, 02:32:17 PM »
Peramal tengkorak

Di Rājagaha hiduplah seorang brahmana bernama Vaṅgīsa, yang mampu mengetahui tempat kelahiran-kembali dari orang-orang yang telah meninggal. Ia selalu mengetuk tengkorak mereka dan berkata, “Ini adalah tengkorak orang yang telah terlahir kembali di alam Neraka; orang ini telah terlahir kembali sebagai seekor hewan; orang ini telah terlahir kembali sebagai sesosok setan; ini adalah tengkorak orang yang telah terlahir kembali di alam manusia.”

Para brahmana berpikir sendiri, “Kita dapat memperalat orang ini untuk menguasai dunia.” Maka dengan memakaikan dua jubah merah untuknya, mereka membawanya berkeliling, dengan berkata kepada setiap orang yang mereka jumpai, “Brahmana Vaṅgīsa ini dapat mengetahui tempat kelahiran-kembali dari orang-orang yang telah meninggal dengan mengetuk tengkorak mereka; minta dirinya untuk memberitahukan tempat kelahiran-kembali dari para kerabatmu yang telah meninggal.” Orang-orang memberinya uang sebanyak sepuluh keping ataupun dua keping hingga seratus keping sesuai dengan kehendak mereka, dan bertanya kepadanya tentang tempat kelahiran-kembali dari para kerabat mereka yang telah meninggal.

Setelah berjalan dari tempat ke tempat, mereka akhirnya tiba di Sāvatthī dan berdiam di dekat Jetavana. Setelah bersantap sarapan, mereka melihat kerumunan orang-orang yang sedang bepergian untuk mendengarkan Dhamma dengan membawa wewangian, untaian bunga, dan sejenisnya. “Ke manakah kalian hendak pergi?” tanya mereka. “Pergi ke Vihara untuk mendengarkan Dhamma,” jawabnya. “Apa yang akan kalian dapatkan dengan pergi ke sana?” tanya para brahmana; “Tidak ada orang lain yang bisa menyamai saudara kita, brahmana Vaṅgīsa. Ia dapat mengetahui tempat kelahiran-kembali dari orang-orang yang telah meninggal dengan mengetuk tengkorak mereka. Tanyakan saja di manakah tempat kelahiran-kembali dari para kerabat kalian yang telah meninggal.”  “Apa yang diketahui oleh Vaṅgīsa!” jawab para siswa Sang Buddha, “Tiada seorang pun yang dapat menyamai Guru kami.” Namun, para brahmana membalas, “Tiada seorang pun yang dapat menyamai Vaṅgīsa,” dan perdebatan ini kian memanas. Hingga pada akhirnya, para siswa Sang Buddha berkata, “Ayolah, mari kita pergi cari tahu siapakah di antara kedua orang ini, yakni Vaṅgīsa dan Guru kami, yang tahu lebih banyak.” Maka dengan membawa para brahmana, mereka pergi ke Vihara.

Sang Buddha, mengetahui bahwa mereka sedang berada dalam perjalanan, menyiapkan dan menderetkan lima buah tengkorak, yang masing-masing telah terlahir-kembali di empat alam kehidupan: neraka, binatang, manusia, dan dewa; dan sebuah tengkorak dari seorang Arahat. Ketika mereka tiba, Beliau bertanya kepada Vaṅgīsa, “Apakah kamu adalah orang yang dikatakan dapat mengetahui tempat kelahiran-kembali dari orang-orang yang telah meninggal dengan mengetuk tengkorak mereka?” “Ya,” kata Vaṅgīsa. “Lalu tengkorak siapakah ini?” Vaṅgīsa mengetuk tengkorak tersebut dan berkata, “Ini adalah tengkorak dari seorang yang telah terlahir-kembali di alam Neraka.” “Bagus! Bagus!” seru Sang Buddha, memujinya. Kemudian Sang Buddha bertanya kepadanya tiga buah tengkorak lagi dan Vaṅgīsa pun menjawab dengan benar. Sang Buddha memujinya untuk setiap jawaban yang Beliau berikan dan hingga akhirnya Beliau menunjukkan tengkorak ke lima. “Tengkorak siapakah ini?” tanya Beliau. Vaṅgīsa mengetuk tengkorak ke lima itu seperti terhadap tengkorak lainnya, tetapi ia sendiri mengakui bahwa dirinya tidak tahu di manakah tempat kelahiran-kembali dari sang empunya tengkorak itu.
Lalu Sang Buddha berkata, “Vaṅgīsa, apakah kamu tahu?” “Tidak,” jawab Vaṅgīsa, “Saya tidak mengetahuinya.” “Saya tahu,” kata Sang Buddha. Kemudian Vaṅgīsa memohon kepada Beliau, “Ajarkanlah saya jampi ini.” “Saya tidak dapat mengajarkannya kepada seseorang, selain bhikkhu.” Sang Brahmana berpikir sendiri, “Jika hanya saya sendiri yang mengetahui jampi ini maka saya akan menjadi orang termasyhur di seluruh India.” Lalu ia meninggalkan para brahmana lainnya, dengan berkata, “Tetaplah di sini selama beberapa hari; saya ingin menjadi seorang bhikkhu.” Ia pun menjadi seorang bhikkhu atas nama Sang Buddha, ditahbiskan secara penuh menjadi anggota Saṅgha, dan kemudian dikenal sebagai Vaṅgīsa thera.

Mereka memberinya objek meditasi berupa tiga puluh dua orang pembentuk tubuh dan berkata kepadanya, “Ulangilah kalimat pendahuluan ini.” Ia mengikuti perintah mereka dan mengulang kalimat pendahuluan tersebut. Dari waktu ke waktu para bhikkhu selalu bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah mempelajari kalimat itu?” dan sang thera selalu menjawab, “Tunggulah sebentar lagi! Saya sedang mempelajarinya.” Hanya dalam beberapa hari ia pun mencapai tingkat kesucian Arahat. Ketika para bhikkhu kembali bertanya kepadanya, ia menjawab, “Para Bhikkhu, kini saya tidak sanggup mempelajarinya.” Sewaktu para bhikkhu mendengar jawabannya, mereka berkata kepada Sang Buddha, “Bhante, bhikkhu ini telah berkata tidak benar dan berdusta.” Sang Buddha menjawab, “Para Bhikkhu, janganlah berkata seperti itu. Para Bhikkhu, siswa Saya mengetahui segala hal mengenai kematian dan kelahiran-kembali makhluk hidup.” Setelah berkata demikian, Beliau mengucapkan bait-bait berikut:

“Ia yang mengetahui tentang kematian,
Dan kelahiran kembali makhluk hidup di segala tempat,
Ia yang bebas dari kemelekatan, sukacita, dan telah tercerahkan,
Orang seperti inilah yang Saya sebut sebagai brahmana.

Ia yang tempat kelahiran kembalinya,
Tidak diketahui oleh para dewa, para gandabha, maupun umat manusia,
Ia yang telah memusnahkan keinginan jahat dan telah mencapai ke-Arahat-an,
Orang seperti inilah yang Saya sebut sebagai brahmana. [Komentar Dhammapada xxvi.37].

Bhikkhu Vaṅgīsa memasuki Saṅgha dengan tujuan untuk mempelajari bagaimana menentukan alam kelahiran-kembali seorang Arahanta, akan tetapi segera ia melepaskan tujuan itu ketika ia menyadari bahwa kehidupan suci dijalani untuk tujuan yang lebih mulia. Dalam waktu beberapa hari saja, bhikkhu Vaṅgīsa merealisakan buah ke-arahat-an. Ia dipuji Sang Buddha sebagai siswa yang terunggul dalam hal menggubah syair inspiratif (secara spontan). Bhikkhu Vaṅgīsa juga memuji kedua Siswa Utama serta banyak siswa unggulan lainnya, dengan syair spontan. Sumber: brahmathira.com
« Last Edit: 20 October 2017, 02:40:09 PM by Gwi Cool »
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.