//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Recent Posts

Pages: 1 ... 3 4 5 6 7 8 9 [10]
91
Sutta Vinaya / Pācittiya 84
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:38:05 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang benda-benda berharga

Pācittiya 84. Aturan Latihan tentang Benda-Benda Berharga

Kisah Asal-mula

Sub-kisah pertama

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, seorang bhikkhu sedang mandi di sungai Aciravatī, ketika seorang brahmana juga datang ke sana untuk mandi. Ia meletakkan sebuah tas berisi lima ratus keping di atas tanah, mandi, lupa pada tas tersebut, dan pergi. Bhikkhu itu berpikir, "Ini adalah tas milik brahmana itu; tidaklah baik jika hilang," dan ia memungutnya.

Segera sang brahmana teringat. Ia bergegas kembali dan bertanya kepada bhikkhu itu, "Yang Mulia, apakah engkau melihat tasku?"

Dengan menjawab, "Ya aku melihatnya," ia menyerahkannya kepadanya.

Si brahmama berpikir, "Bagaimanakah agar aku terhindari dari memberikan imbalan kepada bhikkhu ini?" Dan ia berkata, "Aku bukan memiliki lima ratus keping, melainkan seribu keping!" dan ia menangkap bhikkhu tersebut.

Setelah dilepaskan, bhikkhu itu kembali ke vihara dan memberitahu para bhikkhu apa yang telah terjadi. Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritiknya, "Bagaimana mungkin seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga?" ... "Benarkah, bhikkhu, bahwa engkau melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegurnya ... "Orang dungu, bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan awal pertama

'Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.

Sub-kisah kedua

Tidak lama kemudian mereka sedang mengadakan perayaan di Sāvatthī, dengan orang-orang pergi ke taman berpakaian indah, seperti juga Visākhā Migāramātā. Ketika ia meninggalkan desanya, ia berpikir, "Apakah yang akan kulakukan ketika aku sampai di taman? Mengapa aku tidak mengunjungi Sang Buddha!" kemudian ia melepaskan semua perhiasannya, mengikatnya dalam satu buntelan dengan jubah atasnya, dan memberikannya kepada seorang gadis budak, dengan mengatakan, "Dengar! jagalah buntelan ini."

Kemudian Visākā mendatangi Sang Buddha, bersujud, dan duduk. Dan Sang Buddha memberikan instruksi, menginspirasi, dan menggembirakannya dengan suatu ajaran, setelah itu ia bangkit dari duduknya, bersujud, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi. Dan si gadis budak juga pergi, lupa pada buntelan itu.

Para bhikkhu melihatnya dan memberitahu Sang Buddha. "Baiklah, para bhikkhu, pungutlah dan simpan." Segera setelah itu Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu: "Di dalam sebuah vihara, para bhikkhu, kalian harus memungut benda-benda berharga atau apa pun yang dianggap berharga, atau menyuruh orang lain memungutnya, dan kemudian menyimpannya dengan pikiran, 'Siapa pun yang memiliki ini akan datang dan mengambilnya.' Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan awal kedua

'Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, kecuali di dalam sebuah vihara, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.

Sub-kisah ketiga

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika meminta seluruh desa itu untuk bekerja untuknya di negeri Kāsī, dan ia telah menyuruh seorang wakilnya di sana bahwa jika para bhikkhu tiba maka ia harus mempersiapkan makanan untuk mereka. Segera setelah itu sejumlah bhikkhu sedang mengembara di negeri Kāsī, ketika mereka sampai di desa itu. Ketika orang itu melihat mereka datang, ia mendatangi mereka, dan berkata, "Para Mulia, sudilah menerima makanan dari Anāthapiṇḍika besok." Para bhikkhu itu menerima dengan berdiam diri.

Keesokan paginya, setelah mempersiapkan berbagai jenis makanan-makanan baik, ia memberitahu para bhikkhu bahwa waktunya telah tiba untuk makan. Ia melepas cincinnya dan kemudian mempersembahkan makanan kepada para bhikkhu, dengan berkata, "Para Mulia, silakan kalian pergi setelah makan. Aku harus bekerja." Dan ia pergi, melupakan cincinnya.

Para bhikkhu melihatnya dan berkata, "Jika kita pergi begitu saja, cincin ini mungkin hilang," dan karena itu mereka berdiam di sana. Ketika orang itu kembali dari bekerja, ia melihat para bhikkhu dan berkata kepada mereka, "Mengapakah kalian masih berada di sini?" Dan para bhikkhu itu memberitahunya apa yang terjadi.

Para bhikkhu itu kemudian pergi menuju Sāvatthī di mana mereka memberitahu para bhikkhu, yang kemudian memberitahu Sang Buddha.

Setelah membabarkan suatu ajaran, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: "Di dalam sebuah vihara, para bhikkhu, atau di suatu penginapan, kalian harus memungut benda-benda berharga atau apa pun yang dianggap berharga, atau menyuruh orang lain memungutnya, dan kemudian menyimpannya dengan berpikir, 'Siapa pun yang memiliki ini akan datang dan mengambilnya.' Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, kecuali di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. 'Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, maka ia harus menyimpannya dengan pikiran, "Siapa pun yang memilikinya akan mengambilnya." Ini adalah prosedur yang benar.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Sesuatu yang berharga:

Mutiara, permata, beril, cangkang mutiara, kuarsa, koral, perak, emas, mirah, mata kucing.

Seuatu yang dianggap berharga:

Apa yang orang-orang anggap berharga atau berguna—ini disebut "dianggap sebagai berharga".

Kecuali di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah:

selain daripada di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah.

Di dalam sebuah vihara:

Jika vihara tersebut berpagar, maka di sebelah dalam pagar. Jika vihara tersebut tidak berpagar, maka di area sekitar vihara.

Di dalam sebuah rumah:

Jika rumah tersebut berpagar, maka di sebelah dalam pagar. Jika rumah tersebut tidak berpagar, maka di area sekitar rumah.

Memungut:

Jika ia mengambilnya sendiri, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Menyuruh orang lain memungut:

Jika ia menyuruh orang lain untuk mengambilnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, maka ia harus menyimpannya:

Setelah mengingat penampakannya atau mengenali ciri-cirinya, ia harus menyimpannya, dan kemudian membuat pengumuman: "Siapa pun yang kehilangan sesuatu silakan datang." Jika seseorang datang, ia harus diberitahu, "Mohon jelaskan barangmu." Jika ia menggambarkan penampakannya atau ciri-cirinya dengan benar, maka benda itu harus diberikan kepadanya. Jika tidak, maka ia harus diberitahu, "Carilah lagi." Jika bhikkhu itu hendak meninggalkan vihara, ia harus terlebih dulu menyerahkan benda-benda itu kepada bhikkhu yang tepat di sana. Jika tidak ada bhikkhu yang tepat, ia harus menyerahkan benda-benda itu kepada perumah tangga yang tepat di sana.

Ini adalah prosedur yang benar:

Ini adalah metode yang benar.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, dan kemudian menyimpannya dengan pikiran, "Siapa pun yang memilikinya akan mengambilnya;" jika ia mengambil sesuatu yang dianggap berharga atas dasar kepercayaan atau ia meminjamnya atau ia mengangapnya sebagai telah dibuang; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang benda-benda berharga, yang kedua, selesai




92
Sutta Vinaya / Pācittiya 83
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:37:42 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang benda-benda berharga

Pācittiya 83. Aturan Latihan tentang Lingkungan Istana

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, Raja Pasenadi dari Kosala memberitahu penjaga tamannya, "Pergilah dan bersihkan taman; aku akan pergi ke sana."

"Baik, Baginda." Sewaktu sedang membersihkan taman, ia melihat Sang Buddha duduk di bawah sebatang pohon. Kemudian ia mendatangi Raja Pasenadi dan berkata, "Taman sudah bersih, Baginda, tetapi Sang Buddha sedang duduk di sana." "Menakjubkan! Aku akan mengunjungi Beliau."

Raja pergi ke taman dan mendatangi Sang Buddha, tetapi pada saat itu seorang umat awam sedang duduk di sana. Ketika Raja melihatnya, ia menjadi takut dan berhenti. Tetapi ia mempertimbangkan, "Orang ini pasti tidak jahat, karena ia sedang mengunjungi Sang Buddha." Dan karena itu ia mendatangi Sang Buddha, bersujud, dan duduk. Tetapi ketika umat awam itu, karena hormatnya kepada Sang Buddha, tidak bersujud kepada Raja juga tidak berdiri untuknya, Sang Raja menjadi kesal. Sang Buddha menyadari apa yang terjadi dan berkata kepada Raja, "Baginda, umat awam ini adalah seorang terpalajar, yang menguasai tradisi, dan ia bebas dari keinginan indria."

Raja berpikir, "Umat awam ini tidak semestinya berada pada posisi rendah, karena Sang Buddha memujinya." Dan ia berkata kepada umat awam itu, "Silakan mengatakan apa yang engkau inginkan."

"Terima kasih, Baginda."

Kemudian Sang Buddha memberikan instruksi, menginspirasi, dan menggembirakan Raja Pasenadi dengan suatu ajaran, setelah itu Sang Raja bangkit dari duduknya, bersujud, dan mengelilingi Sang Buddha dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi.

Tidak lama kemudian Raja Pasenadi sedang berada di atas rumah panggung terbaiknya, ketika ia melihat umat awam itu sedang berjalan di jalan, memegang sebuah payung. Ia memanggilnya dan berkata, "Engkau adalah seorang terpelajar, yang menguasai tradisi. Baik sekali jika engkau mengajar haremku."

"Apapun yang kuketahui, Baginda, aku mengetahuinya dari para bhikkhu. Merekalah yang seharusnya mengajar harem."

Menyadari bahwa umat awam itu benar, Raja mendatangi Sang Buddha, bersujud duduk, dan berkata, "Baik sekali, Yang Mulia, jika Yang Mulia menyuruh seorang bhikkhu untuk mengajar haremku." Sang Buddha kemudian memberikan instruksi, menginspirasi, dan menggembirakan Raja Pasenadi dengan suatu ajaran, setelah itu Sang Raja bangkit dari duduknya, memberi hormat seperti sebelumnya, dan pergi.

Tidak lama kemudian, Sang Buddha berkata kepada Yang Mulia Ānanda, "Baiklah, Ānanda, ajarilah harem Raja."

"Baik, Yang Mulia." Dan dari waktu ke waktu ia akan mendatangi harem dan mengajar.

Kemudian, setelah mengenakan jubah di pagi hari, Ānanda membawa mangkuk dan jubahnya dan mendatangi rumah Raja Pasenadi.

Pada saat itu Sang Raja sedang berada di tempat tidur bersama dengan Ratu Mallikā. Ratu melihat Ānanda datang dan segera bangkit, tetapi gaun gemerlap keemasannya jatuh. Ānanda berbalik di sana dan kembali ke vihara. Dan ia menceritakan apa yang terjadi kepada para bhikkhu.

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritiknya, "Bagaimana mungkin Yang Mulia Ānanda memasuki lingkungan istana tanpa terlebih dulu diumumkan?" ... "Benarkah, Ānanda, bahwa engkau melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegurnya ... "Ānanda, bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... Setelah menegurnya ... Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu:

"Para bhikkhu, terdapat sepuluh bahaya dalam memasuki lingkungan istana. Apakah sepuluh ini?

Mungkin terjadi seorang bhikkhu memasuki tempat di mana raja sedang duduk bersama ratunya. Sang ratu tersenyum ketika ia melihat bhikkhu itu atau bhikkhu itu tersenyum ketika melihat sang ratu. Raja berpikir, 'Pasti mereka telah melakukannya, atau akan melakukannya.'

Kemudian lagi, karena raja sangat sibuk, ia tidak ingat telah tidur bersama dengan perempuan tertentu, namun perempuan itu menjadi hamil karenanya. Raja berpikir, 'Hanya bhikkhu itu yang memasuki tempat ini. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, sebuah permata lenyap dari lingkungan istana. Raja berpikir, 'Hanya bhikkhu itu yang memasuki tempat ini. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, pembahasan rahasia di dalam lingkungan istana tersebar ke luar. Raja berpikir, 'Hanya bhikkhu itu yang memasuki tempat ini. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, di dalam lingkungan istana seorang ayah menyerang putranya, atau seorang putra menyerang ayahnya. Mereka berpikir, 'Hanya bhikkhu itu yang memasuki tempat ini. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, raja mempromosikan seseorang. Mereka yang tidak menyukai hal ini berpikir, 'Raja dekat dengan bhikkhu itu. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, raja mendemosikan seseorang. Mereka yang tidak menyukai hal ini berpikir, 'Raja dekat dengan bhikkhu itu. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, setelah mengirim bala tentara di waktu yang tidak tepat, raja memerintahkannya untuk kembali selagi masih dalam perjalanan. Mereka yang tidak menyukai hal ini berpikir, 'Raja dekat dengan bhikkhu itu. Apakah ia bertanggung jawab atas hal ini?'

Kemudian lagi, lingkungan istana ramai dengan gajah-gajah, kuda-kuda, dan kereta-kereta, serta pemandangan, suara, bau-bauan, rasa kecapan, dan sentuhan-sentuhan yang menggoda yang tidak sesuai bagi seorang bhikkhu.

Para bhikkhu, ini adalah sepuluh bahaya dalam memasuki lingkungan istana."

Kemudian, setelah menegur Ānanda dalam berbagai cara, Sang Budha mencela orang yang sulit disokong ... Sang Buddha berkata, "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu, tanpa terlebih dulu diumumkan, menyeberangi ambang pintu menuju kamar tidur seorang raja bangsawan yang sah, ketika raja dan ratu ada di sana, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Bangsawan:

Terlahir baik dari pihak ibu maupun ayah, murni dalam keturunan, tidak tercela dan sempurna sehubungan dengan kelahiran hingga delapan generasi leluhur laki-laki sebelumnya.

Yang sah:

Sah dengan penahbisan kebangsawanan.

Raja ada di sana:

Raja belum meninggalkan kamar.

Ratu ada di sana:

Ratu belum meninggalkan kamar. Atau keduanya belum meninggalkan kamar.

Tanpa terlebih dulu diumumkan:

Tanpa terlebih dulu diberitahukan.

Ambang pintu:

Yang dimaksudkan adalah ambang pintu menuju kamar tidur.

Kamar tidur:

Di mana pun tempat tidur raja dipersiapkan, bahkan jika hanya ditutupi dengan tirai kain.

Menyeberangi ambang pintu menuju kamar tidur:

Jika ia menyeberangi ambang pintu dengan kaki pertama, ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia menyeberangi dengan kaki kedua, ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika ia belum diumumkan, dan ia tidak menyadarinya sebagai sudah diumumkan, dan ia menyeberangi ambang pintu menuju kamar tidur, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia belum diumumkan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia menyeberangi ambang pintu menuju kamar tidur, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia belum diumumkan, tetapi menyadarinya sebagai sudah diumumkan, dan ia menyeberangi ambang pintu menuju kamar tidur, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia sudah diumumkan, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai sudah diumumkan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia sudah diumumkan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia sudah diumumkan, dan ia menyadarinya sebagai sudah diumumkan, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia sudah diumumkan; jika raja itu bukan raja bangsawan; jika raja itu belum ditahbiskan dengan penahbisan kebangsawanan; jika raja telah meninggalkan kamar tidur; jika ratu telah meninggalkan kamar tidur; jika keduanya telah pergi; jika ruangan itu bukan kamar tidur; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang lingkungan istana, yang pertama, selesai
93
Sutta Vinaya / Pācittiya 82
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:37:04 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 82. Aturan Latihan tentang Mengalihkan

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, suatu perkumpulan telah mempersiapkan makanan bersama dengan kain-jubah untuk Sangha. Mereka berkata, "Setelah memberikan makanan, kami akan mempersembahkan kain-jubah."

Tetapi para bhikkhu dari kelompok enam mendatangi perkumpulan itu dan berkata, "Sudilah memberikan kain-jubah itu kepada para bhikkhu ini."

"Para Mulia, kami tidak dapat melakukan itu. Kami telah mempersiapkan persembahan dana makanan tahunan bersama dengan kain-jubah untuk Sangha."

"Sangha memiliki banyak penyumbang dan penyokong. Tetapi karena para bhikkhu ini menetap di sini, mereka mencari sokongan dari kalian. Jika kalian tidak memberikan kepada mereka, siapakah yang akan memberikan? Karena itu berikanlah kain-jubah kepada mereka." Karena didesak oleh para bhikkhu dari kelompok enam, perkumpulan itu memberikan kain-jubah yang telah dipersiapkan itu kepada para bhikkhu itu dan melayani Sangha dengan makanan.

Para bhikkhu yang mengetahui bahwa makanan serta kain-jubah telah dipersiapkan untuk Sangha, tetapi tidak mengetahui bahwa kain-jubah telah diberikan kepada para bhikkhu dari kelompok enam, berkata, "Kalian boleh mempersembahkan kain-jubah."

"Tidak ada lagi. Kain-jubah yang telah kami persiapkan telah dialihkan oleh para bhikkhu dari kelompok enam."

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam mengalihkan kepada individu benda-benda yang mereka ketahui ditujukan untuk Sangha?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Ketika seorang bhikkhu mengalihkan kepada individu benda-benda sokongan yang mereka ketahui ditujukan untuk Sangha, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Ia ketahui:

Ia mengetahuinya sendiri atau orang lain memberitahunya atau si penyumbang memberitahunya.

Untuk Sangha:

Diberikan kepada Sangha, dilepaskan untuk Sangha.

Benda-benda sokongan:

Jubah, makanan, tempat kediaman, dan obat-obatan; bahkan sedikit bubuk mandi, pembersih gigi, atau seutas tali.

Ditujukan:

Jika mereka mengatakan, "Kami akan memberikan," "Kami akan mempersiapkan," dan ia mengalihkannya kepada seorang individu, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika itu ditujukan kepada Sangha, dan ia menyadarinya sebagai ditujukan kepada Sangha, dan ia mengalihkannya kepada seorang individu, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika itu ditujukan kepada Sangha, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia mengalihkannya kepada seorang individu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu ditujukan kepada Sangha, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai ditujukan kepada Sangha, dan ia mengalihkannya kepada seorang individu, maka tidak ada pelanggaran.

Jika itu ditujukan kepada satu Sangha dan ia mengalihkannya kepada Sangha lain atau kepada sebuah altar, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu ditujukan kepada satu altar dan ia mengalihkannya kepada altar lainnya atau kepada suatu Sangha atau kepada individu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu ditujukan kepada satu individu dan ia mengalihkannya kepada individu lain atau kepada sebuah sangha atau kepada sebuah altar, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Jika itu tidak ditujukan kepada Sangha, tetapi ia menyadarinya sebagai ditujukan kepada Sangha, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu tidak ditujukan kepada Sangha, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu tidak ditujukan kepada Sangha, dan ia tidak menyadarinya sebagai ditujukan kepada Sangha, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ditanya, "Ke manakah kami dapat memberi? Ia menjawab, "Berikanlah di mana pemberianmu akan menjadi perlengkapan," "... di mana pemberianmu akan menjadi perbaikan," "... di mana pemberianmu akan bertahan dalam waktu lama," "... di mana engkau merasa terinspirasi;" jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang mengalihkan, yang kedua belas, selesai

SUB-BAB KEDELAPAN TENTANG SECARA SAH SELESAI
Berikut ini adalah rangkumannya:
"Secara sah, merendahkan,
Berdusta, memukul;
Mengangkat tangan, tanpa dasar,
Dan dengan sengaja, menguping;
Menghalangi, dan menyetujui,
Dan Dabba, mengalihkan."


94
Sutta Vinaya / Pācittiya 81
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:36:33 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 81. Aturan Latihan tentang Apa yang Usang

Kisah Asal-mula

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, taman suaka tupai. Pada waktu itu Yang Mulia Dabba orang Malla, yang menjadi pengalokasi tempat-tempat kediaman dan penjatah makanan, memiliki sebuah jubah yang telah usang. Saat itu Sangha baru saja memperoleh sebuah jubah, yang diberikan kepada Dabba. Para bhikkhu dari kelompok enam mengeluhkan dan mengkritik hal ini, "Para bhikkhu mengalihkan perolehan materi Sangha berdasarkan persahabatan."

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam memberikan jubah sebagai bagian dari Sangha yang sepakat dan kemudian mengkritiknya setelah itu?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Ketika seorang bhikkhu memberikan jubah sebagai bagian dari Sangha yang sepakat dan kemudian mengkritiknya setelah itu, dengan mengatakan, "Para bhikkhu mengalihkan perolehan materi Sangha berdasarkan persahabatan," maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Sangha yang sepakat:

Bagian dari sekte Buddhis yang sama dan menetap di area vihara yang sama.

Memberikan:

Memberikannya sendiri.

Berdasarkan persahabatan:

Berdasarkan persahabatan, berdasarkan pertemanan, berdasarkan seorang kepada siapa ia berbakti, karena menjadi sesama siswa, karena menjadi sesama murid.

Milik Sangha:

Yang diberikan kepada Sangha, yang dilepaskan untuk Sangha.

Perolehan materi:

Jubah, makanan, tempat kediaman, dan obat-obatan; bahkan sedikit bubuk mandi, pembersih gigi, atau seutas tali.

Mengkritiknya setelah itu:

Ketika kain-jubah telah diberikan kepada seseorang yang telah sepenuhnya ditahbiskan dan yang adalah pengalokasi tempat-tempat kediaman atau penjatah makanan atau pembagi bubur atau pembagi buah-buahan atau pembagi makanan segar atau pembagi benda-benda kebutuhan kecil, dan ia telah ditunjuk oleh Sangha untuk itu, jika seorang bhikkhu mengkritik pemberian itu, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, dan ia menyadarinya sebagai sah, dan ia mengkritik pemberian kain-jubah itu, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia mengkritik pemberian kain-jubah itu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi ia menyadarinya sebagai tidak sah, dan ia mengkritik pemberian kain-jubah itu, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia mengkritik pemberian benda kebutuhan lainnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Ketika kain-jubah atau benda kebutuhan lainnya telah diberikan kepada seseorang yang sepenuhnya ditahbiskan dan yang adalah pengalokasi tempat-tempat kediaman atau penjatah makanan atau pembagi bubur atau pembagi buah-buahan atau pembagi makanan segar atau pembagi benda-benda kebutuhan kecil, tetapi ia belum ditunjuk oleh Sangha untuk itu, jika seorang bhikkhu mengkritik pemberian itu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Ketika kain-jubah atau benda kebutuhan lainnya telah diberikan kepada seseorang yang tidak sepenuhnya ditahbiskan dan yang adalah pengalokasi tempat-tempat kediaman atau penjatah makanan atau pembagi bubur atau pembagi buah-buahan atau pembagi makanan segar atau pembagi benda-benda kebutuhan kecil, apakah ia telah atau belum ditunjuk oleh Sangha untuk itu atau tidak, jika seorang bhikkhu mengkritik pemberian itu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi ia menyadarinya sebagai sah, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, dan ia menyadarinya sebagai tidak sah, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia mengkritik seseorang yang biasanya bertindak atas dasar pilih kasih, kebencian, kebodohan, atau ketakutan, dengan mengatakan, "Apakah gunanya memberikan kepadanya—ia akan merusaknya atau menggunakannya dengan tidak benar;" jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang apa yang usang, yang kesebelas, selesai
95
Sutta Vinaya / Pācittiya 80
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:36:07 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 80. Aturan Latihan tentang Pergi Tanpa Memberikan Persetujuan

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, Sangha telah berkumpul untuk suatu urusan. Para bhikkhu dari kelompok enam sibuk membuat jubah dan karena itu mereka memberikan persetujuan mereka kepada salah satu di antara mereka.

Ketika Sangha telah siap untuk melakukan prosedur hukum yang karenanya mereka berkumpul, Sangha mengajukan usul. Bhikkhu dari kelompok enam itu berpikir, "Ini adalah bagaimana mereka melakukan prosedur hukum atas kami satu demi satu, tetapi yang ini atas siapakah kalian akan lakukan?" dan tanpa memberikan persetujuannya, ia bangkit dari duduknya dan pergi.

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritiknya, "Ketika Sangha sedang berada di tengah-tengah suatu diskusi, bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam itu bangkit dari duduknya dan pergi tanpa memberikan persetujuannya?" ... "Benarkah, bhikkhu, bahwa engkau melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegurnya... "Orang dungu, bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Ketika Sangha sedang berada di tengah-tengah suatu diskusi, jika seorang bhikkhu bangkit dari duduknya dan pergi tanpa terlebih dulu membeikan persetujuannya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Ketika Sangha sedang berada di tengah-tengah suatu diskusi:

Ketika topik telah diumumkan tetapi diskusi masih belum selesai, atau ketika usul telah diajukan, atau ketika pengumuman sedang berlangsung.

Bangkit dari duduknya dan pergi tanpa terlebih dulu membeikan persetujuannya:

Jika ia pergi, dengan berpikir, "Bagaimanakah agar prosedur hukum ini terganggu?" atau "Bagaimanakah agar prosedur hukum ini dilakukan oleh kumpulan yang tidak lengkap?" atau "Bagaimanakah agar prosedur hukum ini tidak dilakukan?" maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.  jika ia sedang dalam proses pergi melebihi serentangan tangan dari pertemuan itu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Ketika ia sudah pergi melebihi serentangan tangan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, dan ia menyadarinya sebagai sah, dan ia bangkit dari duduknya dan pergi tanpa terlebih dulu memberikan persetujuan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia bangkit dari duduknya dan pergi tanpa terlebih dulu memberikan persetujuan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi ia menyadarinya sebagai tidak sah, dan ia bangkit dari duduknya dan pergi tanpa terlebih dulu memberikan persetujuan, maka tidak ada pelanggaran

Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi ia menyadarinya sebagai sah, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, dan ia menyadarinya sebagai tidak sah, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia pergi karena ia berpikir bahwa akan ada pertengkaran atau perselisihan di dalam Sangha; Jika ia pergi karena ia berpikir bahwa akan ada keretakan atau perpecahan di dalam Sangha; Jika ia pergi karena ia berpikir bahwa prosedur hukum itu akan menjadi tidak sah, dilakukan oleh kumpulan yang tidak lengkap, atau dilakukan atas seorang yang tidak semestinya menerimanya; jika ia pergi karena ia sakit; jika ia pergi karena ia harus merawat seseorang yang sedang sakit; jika ia pergi karena ia perlu buang air; jika ia pergi dengan niat untuk kembali, dan bukan karena ia hendak membatalkan prosedur hukum tersebut; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang pergi tanpa memberikan persetujuan, yang kesepuluh, selesai
96
Sutta Vinaya / Pācittiya 79
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:35:42 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 79. Aturan Latihan tentang Menghalangi Prosedur Hukum

Kisah Asal-mula

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Vihara Anāthapiṇḍika Pada saat itu para bhikkhu dari kelompok enam berperilaku buruk, tetapi ketika suatu prosedur hukum sedang dilakukan atas salah satu di antara mereka, mereka akan keberatan.

Pada suatu hari Sangha telah berkumpul untuk suatu urusan. Para bhikkhu dari kelompok enam sedang sibuk membuat jubah dan oleh karena itu mereka memberikan persetujuannya kepada salah seorang di antara mereka. Ketika para bhikkhu melihat bahwa hanya satu bhikkhu dari kelompok enam yang datang, mereka melakukan prosedur hukum atas dirinya. Ketika ia kembali pada para bhikkhu dari kelompok enam, mereka menanyainya, "Apakah yang dilakukan oleh Sangha?"

"Sangha melakukan prosedur hukum atas diriku."

"Kami tidak memberikan persetujuan kami untuk itu. Jika kami mengetahui bahwa suatu prosedur akan dilakukan atas dirimu, kami tidak akan memberikan persetujuan kami."

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam memberikan persetujuan atas suatu prosedur hukum dan kemudian mengkritiknya setelahnya?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu memberikan persetujuannya atas suatu prosedur hukum yang sah, dan kemudian mengkritiknya setelahnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Suatu prosedur hukum yang sah:

Suatu prosedur hukum yang terdiri dari memperoleh izin, suatu prosedur hukum yang terdiri dari satu usul, suatu prosedur hukum yang terdiri dari satu usul dan satu pengumuman, suatu prosedur hukum yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman; yang dilakukan menurut Ajaran, menurut Hukum Monastik, menurut instruksi Sang Guru. ini disebut suatu "prosedur hukum yang sah". Jika ia memberikan persetujuannya, dan kemudian mengkritik prosedur tersebut, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, dan ia menyadarinya sebagai sah, dan ia mengkritiknya setelah memberikan persetujuannya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia mengkritiknya setelah memberikan persetujuannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi ia menyadarinya sebagai tidak sah, dan ia mengkritiknya setelah memberikan persetujuannya, maka tidak ada pelanggaran

Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi ia menyadarinya sebagai sah, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, dan ia menyadarinya sebagai tidak sah, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia mengkritiknya karena ia mengetahui bahwa prosedur hukum tersebut adalah tidak sah, dilakukan oleh kumpulan yang tidak lengkap, atau dilakukan atas seorang yang tidak semestinya menerimanya; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang menghalangi suatu prosedur hukum, yang kesembilan, selesai


97
Sutta Vinaya / Pācittiya 78
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:35:19 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 78. Aturan Latihan tentang Menguping

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, para bhikkhu dari kelompok enam sedang berdebat dengan para bhikkhu baik. Para bhikkhu baik berkata, "Para bhikkhu dari kelompok enam ini tidak tahu malu; tidaklah mungkin berdebat dengan mereka."

Dan para bhikkhu dari kelompok enam berkata, "Mengapakah kalian memfitnah kami dengan menyebut kami tidak tahu malu?"

"Bagaimana kalian mengetahui itu?"

"Kami menguping kalian."

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam menguping para bhikkhu yang berdebat dan berselisih dengan mereka?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu menguping para bhikkhu yang sedang berdebat dan berselisih, dengan berpikir, "Aku akan mendengarkan apa yang mereka katakan," dan ia melakukan hal itu hanya karena alasan ini dan bukan karena alasan lainnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Para bhikkhu lain:

bhikkhu lainnya.

Yang sedang berdebat dan berselisih:

Yang terlibat dalam suatu persoalan hukum.

Menguping:

Jika ia sedang dalam perjalanan untuk menguping, dengan berpikir, "Setelah mendengarkan apa yang mereka katakan, aku akan menuduh mereka," "aku akan mengingatkan mereka," "aku akan membalas tuduhan mereka," "... aku akan balas mengingatkan mereka," "... aku akan mempermalukan mereka," maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Di mana pun ia berdiri mendengarkan, ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia berjalan di belakang seseorang, dan ia mempercepat dengan niat untuk menguping, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Di mana pun ia berdiri mendengarkan, ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia berjalan di depan seseorang, dan ia memperlambat dengan niat untuk menguping, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Di mana pun ia berdiri mendengarkan, ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia datang ke tempat seorang bhikkhu sedang berbicara secara rahasia sedang berdiri, duduk, atau berbaring, maka ia harus berdeham atau memberitahukan kedatangannya. Jika ia tidak berdeham atau memberitahukan kedatangannya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Ia melakukan hal itu hanya karena alasan ini dan bukan karena alasan lainnya:

Tidak ada alasan lain untuk menguping.

Permutasi

Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, dan ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan ia mengupingnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia mengupingnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan ia mengupingnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia mengupingnya seorang yang tidak sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, dan ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia pergi, dengan berpikir: "Setelah mendengarkan apa yang mereka katakan, aku akan menahan diri," "... aku akan menghindari," "... aku akan mengatasinya," "... aku akan membebaskan diriku;" jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang menguping, yang kedelapan, selesai

98
Sutta Vinaya / Pācittiya 77
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:34:53 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 77. Aturan Latihan tentang dengan Sengaja

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Vihara Anāthapiṇḍika, para bhikkhu dari kelompok enam dengan sengaja membuat para bhikkhu dari kelompok tujuh belas menjadi khawatir. Mereka berkata, "Sang Buddha telah menetapkan aturan bahwa seorang yang berumur kurang dari dua puluh tahun tidak boleh diberikan penahbisan penuh. Dan kalian berumur kurang dari dua puluh tahun ketika kalian menerima penahbisan penuh. Mungkinkah bahwa kalian tidak sepenuhnya ditahbiskan?" Mereka menangis. Para bhikkhu lain bertanya mengapa mereka menangis, dan mereka berkata, "Para bhikkhu dari kelompok enam dengan sengaja membuat kami khawatir."

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam melakukan hal ini?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu dengan sengaja membuat seorang bhikkhu lain khawatir, dengan berpikir, "Dengan cara ini ia akan menjadi tidak nyaman setidaknya selama sesaat," dan ia melakukan hal itu hanya karena alasan ini dan bukan karena alasan lainnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Seorang bhikkhu lain:

bhikkhu lainnya.

Dengan sengaja:

Dengan mengetahui, menyadari, setelah meniatkan, setelah memutuskan, ia melanggar.

Membuat khawatir:

Ia membuatnya khawatir, dengan mengatakan, "Tampaknya engkau berumur kurang dari dua puluh tahun ketika engkau diberikan penahbisan penuh," "Tampaknya engkau telah makan di waktu yang salah," "Tampaknya engkau telah meminum alkohol," "Tampaknya engkau telah duduk di tempat tertutup bersama dengan seorang perempuan," maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Ia melakukan hal itu hanya karena alasan ini dan bukan karena alasan lainnya:

Tidak ada alasan lain untuk membuatnya khawatir.

Permutasi

Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, dan ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan ia dengan sengaja membuatnya khawatir, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia dengan sengaja membuatnya khawatir, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan ia dengan sengaja membuatnya khawatir, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia dengan sengaja membuat seorang yang tidak sepenuhnya ditahbiskan menjadi khawatir, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, dan ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika, tanpa berniat untuk membuatnya khawatir, ia mengatakan: "Tampaknya engkau berumur kurang dari dua puluh tahun ketika engkau diberikan penahbisan penuh," "Tampaknya engkau telah makan di waktu yang salah," "Tampaknya engkau telah meminum alkohol," "Tampaknya engkau telah duduk di tempat tertutup bersama dengan seorang perempuan," dan kemudian "Pastikanlah hal ini, agar engkau tidak menjadi khawatir nanti;" jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang dengan sengaja, yang ketujuh, selesai


99
Sutta Vinaya / Pācittiya 76
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:34:33 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 76. Aturan Latihan tentang Tanpa Dasar

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, para bhikkhu dari kelompok enam secara tanpa dasar menuduh seorang bhikkhu dengan tuduhan melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan.

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam melakukan hal ini?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu secara tanpa dasar menuduh seorang bhikkhu lain dengan tuduhan melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Seorang bhikkhu lain:

bhikkhu lainnya.

Tanpa dasar:

Tidak dilihat, tidak didengar, tidak dicurigai.

Pelanggaran yang mengharuskan penskorsan:

Satu dari tiga belas.

Menuduh:

Jika ia menuduhnya atau menyuruh orang lain menuduhnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, dan ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan ia secara tanpa dasar menuduh orang itu dengan tuduhan melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia secara tanpa dasar menuduh orang itu dengan tuduhan melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan ia secara tanpa dasar menuduh orang itu dengan tuduhan melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia menuduhnya dengan kegagalan dalam perilaku atau kegagalan dalam pandangan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia menuduh seorang yang tidak sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, dan ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia menuduh seseorang, atau menyuruh orang lain menuduhnya, menurut apa yang ia sadari; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang tanpa dasar, yang keenam, selesai

100
Sutta Vinaya / Pācittiya 75
« Last post by Indra on 16 September 2022, 08:34:01 AM »
Koleksi Theravāda tentang Hukum Monastik
Aturan Kebhikkhuan dan Analisisnya
Bab tentang Pelanggaran-Pelanggaran yang Mengharuskan Penebusan
Sub-bab tentang secara sah

Pācittiya 75. Aturan Latihan tentang Mengangkat Tangan

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, para bhikkhu dari kelompok enam dalam kemarahan mengangkat tangan mereka terhadap para bhikkhu dari kelompok tujuh belas. Karena mereka mengira akan dipukul, mereka menangis. Para bhikkhu lain bertanya mengapa mereka menangis, dan mereka memberitahukan apa yang telah terjadi.

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, "Bagaimana mungkin para bhikkhu dari kelompok enam melakukan hal ini?" ... "Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?"

"Benar, Yang Mulia."

Sang Buddha menegur mereka ... "Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang ..." ... "Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

'Jika seorang bhikkhu dalam kemarahan mengangkat tangan terhadap seorang bhikkhu lain, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.'"

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

... Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Terhadap seorang bhikkhu lain:

Terhadap bhikkhu lainnya.

Dalam kemarahan:

Ketidakpuasan, memendam kebencian, permusuhan.

Mengangkat tangan:

Jika ia mengangkat bagian tubuhnya yang manapun atau apapun yang terhubung dengan tubuhnya, bahkan jika hanya sehelai daun teratai, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, dan ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan dalam kemarahan ia mengangkat tangannya terhadapnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan dalam kemarahan ia mengangkat tangannya terhadapnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika orang itu sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, dan dalam kemarahan ia mengangkat tangannya terhadapnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika dalam kemarahan ia mengangkat tangannya terhadap seorang yang tidak sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang itu tidak sepenuhnya ditahbiskan, dan ia tidak menyadarinya sebagai sepenuhnya ditahbiskan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika mengangkat tangannya untuk membela diri; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang mengangkat tangan, yang kelima, selesai
Pages: 1 ... 3 4 5 6 7 8 9 [10]