//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: bulu dekat pantat bebek mandarin + baca sutra = pernikahan harmonis..benarkah?  (Read 88840 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
TAMBAHKAN SATU LAGI: "KALAU SUTRA MAHAYANA SALAH, KENAPA MASIH TERUS DILAKUKAN PEMBENARAN? KALAU MEMANG SALAH YAH TERIMA AJA, TOH THERAVADA PUN MAU MENERIMA KESALAHAN YANG ADA DI SUTTA PALI SENDIRI"
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline kusalaputto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.288
  • Reputasi: 30
  • Gender: Male
  • appamadena sampadetha
misalnya paritta angulimala: "...dulu saya telah banyak membunuh makhluk hidup. dengan pernyataan kebenaran ini, semoga anda dapat melahirkan dengan selamat".[Saccakiriya Gatha]
bro  sory yah sepertinya refernsi kitab yg anda dapat salah deh ini yg saya dapat artinya dari parita keluaran sti
"saudari sejak lahir sebagai seorang ariya aku tidak teringat dengan sengaja  membunuh mahluk hidup atas kebenaran ini semoga anda selamat, semoga bayi dalam kandungan selamat."

TAMBAHKAN SATU LAGI: "KALAU SUTRA MAHAYANA SALAH, KENAPA MASIH TERUS DILAKUKAN PEMBENARAN? KALAU MEMANG SALAH YAH TERIMA AJA, TOH THERAVADA PUN MAU MENERIMA KESALAHAN YANG ADA DI SUTTA PALI SENDIRI"

 bro dari yang sudah saya baca dari komen anda n gandalf sama sekali tidak mencerminkan belajar namun menghujat plz di kurangi tensinya kita sebagai sesama buddhis baiknya saling mengayomi kalau memang ada yg salah pada sutta tersebut biarkan dari pihak mahayana yg memperbaiki.
lebih baik kita proteksi dari ancaman kr****nisasi yg meraja lela
semoga kamma baik saya melindungi saya, semoga kamma baik saya mengkondisikan saya menemukan seseorang yang baik pada saya dan anak saya, semoga kamma baik saya mengkondisikan tujuan yang ingin saya capai, semoga saya bisa meditasi lebih lama.

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
 [at] bro Riky,
Statement-statement anda sangat meresahkan umat Mahayana. Saya cukup terperangah bahwa ini bisa dilontarkan oleh seseorang yang dirinya merasa mewakili pandangan Theravada. Bahkan sebutan Sakyamuni yang sangat kita junjungi (yang bahkan sering dibacakan oleh umat Theravada sendiri dalam Ratana Sutta) juga tidak luput dari celaannya.     
Sebaiknya anda bercermin pada diri sendiri.

 

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.230
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
angulimala paritta

Quote
Yatoham bhagini ariyaya
Jatiya jato
Nabhijanami sancicca
Panam jivita voropeta
Tena saccena sotthi te
Hotu sotthi gabbhassa

"saudari,Sejak kelahiran ku sebagai seorang Ariya ( di dalam Persaudaraan Sangha ),
seingat ku, aku tidak pernah membunuh dengan sadar
suatu makhluk hidup apa pun
berdasarkan kesunyataan ini,
selamatlah engkau !
Selamatlah anak yang engkau lahirkan !"

Sister, from the day I was born of the Noble Birth, (i.e., since my Ordination), I have not consciously deprived any living being of life. By this truth may health be to thee and thy unborn child".

itu artinya...
...

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
 [at]  bro Riky..
sebelum mohon maaf jika out of topic..

terlepas salah benarnya sutta yang ada di dalam mahayana.. walau Anda, Saya lebih condong ke Theravada, kita juga wajib untuk berusaha melatih sila ke 4, yaitu berkata benar. Berkata benar tidak hanya mengungkapkan sesuatu yang benar secara vulgar.. namun juga memperhatikan cara penyampaian yang sopan dan baik.. agar tidak menyakiti perasaan orang..

sebelumnya juga perlu saya perjelas, saya di sini pun bukan kapasitas menggurui karena apa yang saya katakan di atas pun masih sekedar teori.. dan kadang kala saya yang masih dipenuhi LDM ini juga menyampaikan sesuatu dengan tidak sopan dan tidak baik. Jadi postingan ini berguna sekedar saling mengingatkan antar teman.. :) semoga bro Riky berkenan mempertimbangkannya
« Last Edit: 19 March 2010, 03:53:35 PM by Forte »
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
konyol sekali di saat sang buddha menekunkan kehidupan melepaskan segala bentuk duniawi, BELIAU MALAH MENYURUH BHIKSU UNTUK MEMBACA MANTRA DI DEPAN PATUNG AVALOKITESVARA. bukankah di dalam kisah mahayana katanya avalokitesvara pun ada di zaman itu. berarti avalokitesvara itu bisa ditemui oleh orang2. kalo begitu, ngapain baca mantra di depan patung nya. mendingan juga datang dan ketemu langsung dengan avalokitesvara. ini SUTRA YANG SANGAT KONYOL.

dalam SUTTA THERAVADA, sang buddha  menyatakan bahwa kita sebaiknya menghindari mata pencahrarian yang tidak benar. mata pencahian yg tidak benar ini contohnya PENIPUAN, PENUJUMAN, PRAKTIK LINTAH DARAT, dll..[salah 1 dari 8 Jalan Mulia,mata pencaharian benar]

nah terus juga ada sutta [Digha Nikaya] di mana sang buddha menyatakan bahwa di saat petapa-petapa lain bermata pencaharian dengan meramal, menjadi makcomblang, menghitung astronomi, menjadi penengah suami-istri, memberikan jimat2, dll... kita tidak melakukan itu. "kita" yang dimaksud sang buddha adalah PARA BHIKKHU. jadi sang buddha dan para bhikkhu yang benar itu bermata pencaharian yang benar. apa yang benar itu? yang benar yah pindapata dan menerima undangan makan dari perumah tangga. asalkan perumah tangga itu setidaknya bukan orang yang mencapai tataran kesucian (sotapanna - arahat).

adi maksudnya, di zaman sang buddha, ada banyak petapa aliran lain yang dapat makan / bermata pencaharian dengan cara  meramal, menjadi makcomblang, menghitung astronomi, menjadi penengah suami-istri, memberikan jimat2, dll. NAH HAL HAL SEPERTI INI JUSTRU "DIIZINKAN" DALAM MAHAYANA. makanya secara theravada, bhiksu mahayana itu KACAU!
Dalam mengkaji Sutra Mahayana, maka yang digunakan adalah referensi dari Mahayana juga, bukan yang lain. Jadi tidak tepat membandingkan Bhiksu Mahayana dengan peraturan Theravada.



Quote
dan satu lagi...
dalam mahayana, sering dipakai istilah "BUddha sakyamuni". sakkyamuni ini berasal dari kata "sakya" dan "muni". "sakya" adalah nama suku siddhatha gotama. kalau "muni" itu nama gelar terhormat, seperti "MASTER" atau "guru". dalam pemahaman kita, "SAKYAMUNI" itu pengertiannya RENDAH SEKALI. SAKYAMUNI = GURU TERHORMAT DARI SUKU SAKYA

coba pahami itu! sangat rendah. sama aja seperti BATAKMUNI, JAWAMUNI, SUNDAMUNI. padahal buddha gotama itu guru seluruh alam semesta. panggilan SAKYAMUNI ini hanya terkenal dari kaum brahmana. kaum brahmana di zaman sang buddha itu sering manggil buddha gotama dengan panggilan "PETAPA GOITAMA" atau "SAKYAMUNI". karena dengan panggilan itu, para brahmana merasa tidak lebih rendah dari buddha gotama. sebab panggilan "BUDDHA" itu benar2 mulia, jadi para brahmana itu tidak mau memanggil buddha gotama dengan panggilan "BUDDHA".

istilah "SAKYAMUNI" itu adalah istilah yang dipakai oleh orang luar. orang luar itu tentu saja para brahmana dan umat awam dari sekte lain. para bhikkhu maupun umat awam yang sudah berlindung pada buddha gotama, PASTI AKAN MEMANGGIL BELIAU DENGAN SEBUTAN "SANG BUDDHA", "SANG BHAGAVA". TIDAK PERNAH ADA UMAT BUDDHA DI ZAMAN DULU YANG MANGGIL BUDDHA GOTAMA DENGAN SEBUTAN "BUDDHA SAKYAMUNI". panggilan sakyamuni benar2 mencirikan panggilan orang dari pihak  luar...[yang EGO nya masih sangat KUAT]
Menurut Bro Riky sendiri, apa bedanya penghormatan penyebutan Buddha Gotama & Buddha Sakyamuni? Gotama merujuk pada marganya, sedangkan Sakya merujuk sukunya. Mengapa yang satu dianggap lebih merendahkan?

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
dan gak perlu huruf kapital semua. dalam etika dunia maya, huruf kapital semua dianggap berteriak.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
setelah baca2 sekilas...

ada sepenggal sepenggal, bagian sutra tersebut yang memiliki pembenaran

namun secara keseluruhan mempunyai dasar yang salah...

bro Ricky_dave sepertinya cukup jelas memaparkannya :)
i'm just a mammal with troubled soul



Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
gw jadi pingin tau gimana menggunakan bulu bebek mandarin yg efektif dan benar.
Apakah tercantum pada suta (ayat) berikutnya?

mohon masukan.
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
misalnya paritta angulimala: "...dulu saya telah banyak membunuh makhluk hidup. dengan pernyataan kebenaran ini, semoga anda dapat melahirkan dengan selamat".[Saccakiriya Gatha]
bro  sory yah sepertinya refernsi kitab yg anda dapat salah deh ini yg saya dapat artinya dari parita keluaran sti
"saudari sejak lahir sebagai seorang ariya aku tidak teringat dengan sengaja  membunuh mahluk hidup atas kebenaran ini semoga anda selamat, semoga bayi dalam kandungan selamat."
thanks bro kusala atas koreksinya...saya perbaiki.

Yatoham Bhagani
Ariyaya jatiya jato,
Nabhijanami sancicca
Panam jivita voropeta
Tena saccena sotthi te
Hotu sotthi gabbhassa.
[sori OOT ,btw ada yang mau ngajarin saya gimana cara buat huruf yang ada tanda seperti itu?]

Saudari,sejak lahir sebagai seorang Ariya,
aku tidak teringat dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
Atas pernyataan kebenaran ini,semoga Anda selamat;
semoga bayi dalam kandungan selamat.

[Semoga kaum Mahayana,bisa melihat contoh Kaum Theravada seperti saya :p kalau salah ya ngaku salah dan perbaiki kesalahannya,bukan ngotot kayak yang sering dilakukan kaum Mahayana,itu bahasa hokkiennya disebut "au ban kau e si"]




Quote

 bro dari yang sudah saya baca dari komen anda n gandalf sama sekali tidak mencerminkan belajar namun menghujat plz di kurangi tensinya kita sebagai sesama buddhis baiknya saling mengayomi kalau memang ada yg salah pada sutta tersebut biarkan dari pihak mahayana yg memperbaiki.
lebih baik kita proteksi dari ancaman kr****nisasi yg meraja lela
Bro yang baik..saya mau nanya...bagusan mana ya?Umat buddha pindah ke kr****n atau umat buddha yang sok tahu merasa "satu ajaran sesat" sebagai Ajaran Bhagava?saya lebih ironis melihat ketika banyak muncul umat Buddha yang "au ban/gk mau ngalah" "ngotot" "fanatik" terhadap Ajaran Buddha yang notabene adalah Dhamma palsu,dan menganggapnya sebagai dhamma yang asli.. Ingat bahwa didalam sutta tercantum jelas,"Siapa pun yang berpandangan salah atau menyebabkan seseorang berpandangan salah maka dia akan menuju salah 1 alam dari 2 alam yaitu Niraya atau Tirachana.."[Kalau kalian masuk neraka atau surga bukan urusan saya,tetapi menjadi problema ketika itu menyangkut nama besar Buddha,itu menghancurkan Ajaran Buddha lebih cepat daripada "kr****nisasi",kalau kita tegas didalam Dhamma asli kita,kita tidak bakal bisa dikr****nisasi,kalau anda benar2 peduli dengan Ajaran Buddha,anda pastinya tahu penyebab umat Buddha pindah ke agama kr****n,100% disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang Dhamma,menganggap yang bukan Dhamma sebagai Dhamma,yang perlu diperbaiki itu paham terhadap Ajaran Buddha,kita tidak perlu mencampuri yang bukan Ajaran Buddha,kurang kerjaan banget menurut gua,,agama sendiri aja belum beres sudah sok2an ngurus agama orang lain..Yang penting kita kokoh dan perbaiki kesalahan2 agama kita,itu dah lebih dari cukup dan menyelamatakan "Buddha Dhamma" serta generasi muda dari kehilangan Ajaran Buddha yang ASLI..] ..dan salah 1 ramalan Buddha Gotama juga menunjukan bahwa nantinya jauh setelah Buddha Gotama parinibbana maka akan muncul banyak Dhamma palsu,saya akui bahwa saya bukan seorang Ahli Dhamma atau pun orang cerdas yang hebat didalam Dhamma,tetapi saya berusaha bertindak sesuai Kalama Sutta dan Bramahjala Sutta,dan saya adalah penerus Dhamma,jikalau saya terus menerus mentolerir sutra2 palsu semacam ini,maka sutra2 palsu semacam ini akan semakin marak dan dipercayai sebagai sutra asli,ini akan menyebabkan kehancuran Dhamma..Anda seharusnya sadar sebagai pengikut Buddha,anda seharusnya berusaha melindungi Dhamma Bhagava,dengan mempertahankannya dari sutra2 palsu semacam itu..

Dhammapada Atthakantha,Sang Buddha membabarkan syair 11 dan 12 berikut :

Mereka yang menganggap ketidak-benaran sebagai kebenaran, dan kebenaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran keliru seperti itu, tak akan pernah dapat menyelami kebenaran.

Mereka yang mengetahui kebenaran sebagai kebenaran dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran benar seperti itu, akan dapat menyelami kebenaran.


16 RAMALAN SANG BUDDHA [ 2553 BE ]

Pada zaman Sang Buddha, Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang mimpi-mimpi yang aneh, dan ingin mengetahui apakah itu meramalkan kejadian yang baik atau buruk. Oleh karena itu Beliau meminta Sang Buddha untuk meramalkan ke-16 mimpinya.


Mimpi No.6
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang tentang sekelompok orang yang mengorbankan talam emas yang berharga, sebagai tempat kencing dan berak bagi serigala-serigala.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.6
Jauh dimasa yang akan datang, orang-orang dungu akan membiarkan ajaran-ajaran Sang Buddha (Dhamma), disalah-gunakan dan dihancurkan oleh berbagai pemujaan keagamaan dengan cara memodifikasi Dhamma agar sesuai dengan ajaran-ajaran mereka sendiri yang tidak murni dan penuh nafsu.
Kemudian mereka akan mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha merupakan bagian dari kepercayaan mereka. Banyak orang yang kemudian akan salah mengerti, mengira bahwa ajaran Sang Buddha itu setara dengan kepercayaan-kepercayaan lain tersebut, dan karenanya, sama saja. Kenyataannya cara-cara pemujaan itu tidak mengerti sama sekali nilai dari ajaran Sang Buddha. Orang-orang seperti mereka itu akan muncul ketika Sang Buddha telah mencapai Parinibbana. Akan ada begitu banyak cara pemujaan yang menyatakan bahwa mereka adalah agama yang benar.

Mimpi No.10
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang nasi yang ditanak dalam panci, pada satu bagian panci nasinya matang, pada bagian lain setengah matang, pada bagian yang lain lagi sama sekali tidak matang.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.10
Jauh dimasa yang akan datang, orang akan terpecah di dalam keyakinannya. Sekelompok orang akan percaya pada ajaran-ajaran Sang Buddha, Dhamma sejati, yang ketika dipraktikkan sampai jenjang terakhir, benar dapat melenyapkan berbagai penderitaan. Kelompok ini akan mempercayai Nibbana, padamnya berbagai kekotoran batin dan penderitaan, sebagai tujuan dari jalan mulia. Mereka mempercayai bahwa ada neraka dan surga, bahwa kebajikan dan perbuatan jahat menyebabkan hasil baik dan buruk yang sesuai, dan tumimbal-lahir akan mengikuti kematian orang yang masih mempunyai kekotoran dan nafsu keinginan.
Kelompok yang lain akan ragu-ragu tentang apakah Jalan Mulia masih ada ketika agama Buddha sudah begitu lama. Mereka tidak yakin apakah ajaran Sang Buddha tetap sempurna, serta apakah masih ada bhikkhu yang baik yang bisa mencapai tingkat Nibbana. Mereka penuh dengan keragu-keraguan.
Kelompok yang lain lagi menolak mempercayai keseluruhan dari Jalam Mulia, hasil-hasilnya, serta Nibbana. Diantara kelompok ini tidak ada hal seperti neraka atau surga, maupun akibat apapun dari kebaikan dan kejahatan, ataupun kehidupan setelah kematian. Menjelang akhir dari agama Buddha, orang akan memiliki lebih banyak lagi pandangan-pandangan salah.


Mimpi No.11
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang sekelompok orang menukarkan kayu wangi yang berharga dan mahal, hanya dengan satu mangkuk susu asam, yang tidak sebanding harganya.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.11
Jauh dimasa yang akan datang, sekelompok orang akan memperdagangkan ajaran-ajaran Sang Buddha demi uang. Mereka akan menulis berbagai buku tentang ajaran Buddha serta menjualnya sebagai penghidupan mereka. Mereka akan menyusun berbagai syair tentang ajaran serta mengajarkannya demi sesuatu yang nilainya tidak sebanding sebagai gantinya. Kejadian ini akan terjadi menjelang berakhirnya agama Buddha.

Mimpi No.12
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang sebuah botol labu kering dan berlubang yang tenggelam di dalam air, bukannya mengapung seperti mestinya.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.12
Jauh dimasa yang akan datang, orang yang baik, berpengetahuan luas, cerdas, baik para bhikkhu maupun umat awam, tak akan dikagumi dalam masyarakat. Mereka setiap saat akan dihalangi oleh orang-orang yang jahat dan penuh dosa. Orang-orang yang jujur dan memenuhi syarat, tidak akan mendapat kesempatan untuk dipilih di dalam dewan nasional, serta untuk memimpin negara. Kalaupun mereka terpilih, mereka tidak bisa mengabdi kepada negara secara penuh. Kelompok yang dapat disuap akan berusaha memecat mereka demi kepentingannya sendiri. Menurut pendapat orang-orang yang tidak jujur, orang yang baik adalah musuh mereka, karena mereka tidak akan bekerjasama di dalam kejahatan mereka. Jadi tidak akan ada orang baik pada masyarakat semacam itu.
Demikian pula, para bhikkhu yang sejati dan baik hati, yang berlatih sesuai dengan Jalan Mulia, tak akan dihormati. Orang-orang tidak ingin mengunjungi mereka atau mendengarkan ajaran mereka. Mereka dianggap kuno dan tidak terhormat. Orang-orang tidak akan memperhatikan dan menghormati mereka. Meskipun orang-orang ini kaya-raya, tetapi mereka tidak akan memberikan apapun kepada para bhikkhu atau mereka hanya memberikan sedikit. Para bhikkhu akan menjalani kehidupan kebhikkhuan dengan sulit. Oleh sebab itu, tidak ada orang yang mau memasuki kehidupan kebhikkhuan, dan terjadilah kelangkaan bhikkhu yang baik di dalam agama Buddha. Kejadian ini akan terjadi jauh di masa yang akan datang.

Mimpi No.13
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang sebongkah batu yang sebesar rumah mengapung di permukaan air, seperti perahu layar yang kosong. Biasanya batu tenggelam di air, tetapi yang satu ini mengapung di permukaan air.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.13
Jauh dimasa yang akan datang, orang yang jahat dan penuh dosa, yang tidak menjalankan sila apapun dan tidak bermoral, kejam, perayu dan tak tahu malu, akan dikagumi di masyarakat. Mereka akan mendapatkan kekuasaaan dan kemasyhuran serta mempunyai banyak pengikut dan pelayan. Umat awam seperti ini akan sangat dihormati, diterima dan disenangi oleh masyarakat. Sesungguhnya mereka adalah seperti cermin yang memantulkan keadaan dari masyarakat dan negara tersebut. Apakah masyarakatnya berkembang atau merosot, dapat dilihat dari cermin besar ini di dalam dewan nasional. Ini merupakan petunjuk, jendela, atau pintu dari masyarakat itu. Di suatu negara, wakil-wakil raja yang dipilih oleh masyarakat akan menunjukkan jenis masyarakat itu sendiri.
Dalam masyarakat bhikkhu dan bhikkhuni, agama bisa berkembang atau merosot adalah tergantung kepada empat kumpulan??? [maybe maksudnya 4 kebutuhan pokok]. Para bhikkhu tidak dapat hidup sendiri di dalam masyarakat. Bhikkhu akan dijadikan terkenal oleh umat awam yang SUPRANATURAL dan kesucian sang bhikkhu. Ini adalah menurut kepercayaan si umat awam tersebut tentang yang mana yang Suci. Pada saat itu, para Arahat – mereka yang telah bebas dari kekotoran batin dan penderitaan, adalah tergantung pada kepercayaan para pengikut. Pengikut pada setiap tradisi kepercayaan akan mempunyai definisinya sendiri tentang Arahat. Mereka akan memberitakan latihan keras dari bhikkhu mereka secara berlebihan. Itulah mengapa batu padat mengapung di permukaan air. Para bhikkhu yang terkenal dengan jalan ini hanya akan menggunakan pakaian kebhikkhuannya untuk usaha mereka. Mereka menggunakan agama untuk penghidupan mereka. Menjelang berakhirnya agama Buddha, orang-orang akan kehilangan rasa hormat mereka kepada agama. Kepercayaan mereka akan merosot karena mereka melihat kelakuan yang tidak baik diantara para bhikkhu. Orang bijaksana yang kokoh dalam pertimbangan akan mencari bhikkhu yang benar. Menjelang berakhirnya agama Buddha, kejadian ini akan terjadi.

Mimpi No.14
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang seekor katak pohon betina mengejar seekor kobra besar untuk disantap. Ketika ia menangkap kobra itu, ia segera menelan si kobra.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.14
Jauh dimasa yang akan datang, para bhikkhu yang terkenal dan populer akan berbicara dengan kata-kata yang mengesankan. Mereka berkotbah seperti kobra mengembangkan kepalanya, memainkan peranan penting dalam masyarakat serta mendapatkan penghormatan dan kepercayaan dari masyarakat. Mereka menerima kekayaan, ketenaran, dan gelar yang begitu banyak sehingga mereka melupakan diri sendiri serta kehilangan kesadaran dan kebijaksanaannya. Mereka tidak memiliki pengendalian terhadap mata, telinga, hidung, lidah, dan pikiran mereka, serta membiarkan indera-inderanya menikmati berbagai bentuk, suara, bau, rasa, dan sensasi-sensasi sentuhan, sampai kesenangan hawa nafsu memenuhi benak mereka. Itulah mengapa “katak-pohon betina yang kecil” mempunyai kesempatan dan merencanakan untuk menyerang pikiran dengan muslihat serta kata-kata manis, sampai “binatang kecil itu” dapat menangkap dan menelannya pada saat yang tepat.

Mimpi No.15
Raja Pasenadi Kosala bermimpi tentang sekawanan angsa keemasan mengelilingi burung gagak. Kemana saja burung gagak itu pergi, angsa keemasan itu mengikuti di sekeliling mereka.

Ramalan Sang Buddha mengenai Mimpi No.15
Jauh dimasa yang akan datang, bhikkhu-bhikkkhu yang baru saja ditahbiskan, yang masih lugu dalam Dhamma, akan mengelilingi para bhikkhu yang tidak bermoral. Para bhikkhu baru ini akan menghormati bhikkhu-bhikkhu tersebut sebagai guru mereka. Para bhikkhu yang tidak bermoral ini pandai dalam mendapatkan harta, persis seperti burung gagak dalam mendapatkan makanan. Mereka akan memberi kepada bhikkhu-bhikkhu baru tersebut bagian mereka dari harta itu. Itulah mengapa angsa keemasan menyerah pada burung gagak. Menjelang berakhirnya agama Buddha, masyarakat kebhikkhuan akan berubah seperti ini. Jumlah bhikkhu yang tidak bermoral akan bertambah. Para bhikkhu junior yang tidak berpendidikan tak akan menjalankan aturan (vinaya) kebhikkhuan. Mereka tak akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak, serta apa saja tugas mereka. Mereka akan memasuki kehidupan kebhikkhuan hanya karena tradisi. Kejadian ini akan terjadi jauh di masa yang akan datang.



kalau memang anda menganggap sutra tersebut tidak palsu,tunjukan bahwa sutra tersebut asli dan memiliki "alibi" kuat didalamnya,bukan menyerang secara pribadi semacam ini,ini adalah taktik kotor..atau bersikap kayak bro chingik yang menulis seperti berikut :

Quote
Dear all,

Dalam Mahayana memang ada Sutra2 yang sifatnya memberi manfaat secara duniawi.  Kekuatan yang bersifat metafisik itu ada bukan tidak ada.
Dharma diajarkan dengan memberi manfaat kepada siapa pun yang merasa cocok, sehingga ada yang bersifat lokiya, ada yang bersifat lokuttara, ada yg bersifat Neyartha ada yg bersifat Nitharta, ada yang bersifat  paramartha, ada yang bersifat samvrti.  Semua ditujukan tergantung pada makhluk yang berbeda-beda karakternya.
Dan satu hal lagi, kaidah penafsiran sutra mahayana tidaklah sekedar dilihat secara tersurat, apalagi secara sepotong-sepotong. Sutra-sutra itu seperti sebuah jaringan yang saling terkait satu sama lain, sehingga tidak selalu dilihat secara satu sisi saja.  Dalam konteks Mahayana , sutra seperti sebuah jejaring (net).
 
Saya tidak ingin mendebatkan isi sutra ini. Tapi mohon diingat
Sekotor apapun pandangan saudara2 terhadap sebuah sutra, adalah tidak baik bersikap  menyindir (dgn cara yg sangat halus ) atau mentertawakannya.   
 oleh karena itu mohon kendalikan batin masing2. karena akan merugikan diri sendiri , dan tidak membawa pada kemajuan. Kita sama2 merasa diri sebagai siswa Buddha, maka minimal mari berusaha bersikap seperti yang dipuji oleh para ariya.

Apa maksud pernyataan semacam itu?Menyuruh kami "mengendalikan" batin kami masing2,tetapi ketika kalian dari kaum Mahayana,mempertanyakan sutta pali kami,seakan bersikap sangat kritis dan membombadir[semoga kaum Mahayana tidak hanya sekedar kritis terhadap Sutta pali,tetapi juga kritis terhadap Sutranya sendiri]..lihat Seniya yang aktif dalam mempertanyakan sutta Pali,apakah sudah tidak ada azas keseimbangan dan keadilan disini?Kami dari Theravada,tidak pernah tuh menggunakan "cara licik" semacam ini..Kalau Kaum Mahayana,bertanya,mengkritisi Sutta kami,kami selalu berusaha menjawab dengan pengetahuan kami,dan pastinya itu "logika" dan bisa diterima..[Saya rasa kami kaum Theravada,terutama saya,tidak pernah menjawab dengan kata "kendalikan lha batin kalian masing2" "jangan menjelek2an" "ini hanya mengenai kepercayaan" "ini hanya bla2"..Jujur saya sangat bosan melihat hal2 semacam ini,saya hanya berusaha bersikap terbuka(Sebagaimana yang kita ketahui bahwa didalam Ajaran Buddha tidak ada rahasia apapun,semuanya dijelaskan dan dibuka sebuka2nya...[mirip pansus century kan?Buka seterang2annya yang gelap...])]

jadi kalau bila ada kata2 saya yang kurang berkenan,saya secara terbuka meminta maaf,tetapi saya tidak akan menarik semua kata2 yang telah saya lontarkan...saya berharap kita semua bisa berdiskusi secara sehat,dan terpelajar,bukan selalu melihat negatif suatu objek kata,tetapi lihat "isi substansi" nya tersebut...dan setahu saya "thread" ini di taruh di board Studi Sutta/Sutra..jadi saya rasa tidak ada yang salah ,jika saya mengemukakan pendapat saya...

Anumodana _/\_
« Last Edit: 19 March 2010, 07:22:48 PM by Riky_dave »
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
[at] bro Riky,
Statement-statement anda sangat meresahkan umat Mahayana. Saya cukup terperangah bahwa ini bisa dilontarkan oleh seseorang yang dirinya merasa mewakili pandangan Theravada. Bahkan sebutan Sakyamuni yang sangat kita junjungi (yang bahkan sering dibacakan oleh umat Theravada sendiri dalam Ratana Sutta) juga tidak luput dari celaannya.     
Sebaiknya anda bercermin pada diri sendiri.

 

Lho?Kalau tidak salah,tidak perlu resah,,yang resah itu ditujukan oleh orang2 yang salah,kalau sutra anda benar,maka anda tenang2 saja dengan seluruh Statement yang saya lontarkan..kalau Statement saya yang salah,maka silakan di "quote" kan dan kasih pendapat mengapa menurut anda Statement saya itu salah..nah selesai lha masalah dan jalan demokratis pun ditegakkan disini..

Ini hanya berupa pandangan saya belaka,silakan bukankah semua orang bebas berpandangan disini?atau kebebasan disini telah dibatasi?

saya menulis berdasarkan fakta yang ada,kecuali saya menulis sesuka hati saya dan mengucapkan kata2 kotor atau menghina secara "pribadi" dan lain-lain semacam itu..tetapi saya rasa konteks pernyataan saya masih sesuai atau masih dalam "ranah" diskusi ini..

Dimana TS bertanya,maka saya mengomentarinya..

Jikalau memang ada kesalahan,saya membutuhkan "bimbingan" anda,untuk menujukkan atau mengklarifikasikan pernyataan saya yang salah..Saya rasa Gandalf yang menggunakan kata2 kayak kotoran gitu,Theravada biasa2 saja dan stay cool..sudahlah jangan bersifat "posesif" berlebihan..Kita kan hanya diskusi saja..

Anumodana _/\_
« Last Edit: 19 March 2010, 07:55:14 PM by Riky_dave »
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Quote
Dalam mengkaji Sutra Mahayana, maka yang digunakan adalah referensi dari Mahayana juga, bukan yang lain. Jadi tidak tepat membandingkan Bhiksu Mahayana dengan peraturan Theravada.

Berati Buddha sudah salah ucap dong?Buddha Gotama berkata bahwa,"Semua ajaran Buddha adalah SAMA"..Berati dalam mengakaji Agama kr****n gunakanlah alkitab/referensi kr****n,dalam mengkaji Agama Islam gunakan/referensi lah Alquaran Islam,dan mengkaji Tao gunakan rujukan/referensi Tao,dalam mengkaji TriDhamma gunakanlah kitab/referensi TriDhamma..Gitu toh?berati anda harus menarik semua ucapan anda tentang TIDAK ADANYA TUHAN yang PERSONAL,karena TIDAK BISA DIBUKTIKAN lewat AJARAN BUDDHA,karena harus menggunakan AJARAN/REFERENSI kr****n[Alkitab]..[Dalam arti bahwa TUHAN menurut kr****n adalah BENAR ADANYA,karena KITA TIDAK BISA MEMBANTAHNYA karena KALAU MAU MEMBANTAHNYA harus MENGGUNAKAN REFERENSI AJARAN kr****n BUKAN AJARAN BUDDHA]lucu sekali.. :)

Quote
Menurut Bro Riky sendiri, apa bedanya penghormatan penyebutan Buddha Gotama & Buddha Sakyamuni? Gotama merujuk pada marganya, sedangkan Sakya merujuk sukunya. Mengapa yang satu dianggap lebih merendahkan?

Bro Kain yang baik,yang menjadi masalah bukan sukunya tetapi ini kalau "muni" itu nama gelar terhormat, seperti "MASTER" atau "guru"

masa Buddha Gotama dikatakan sebagai SAKYAMUNI = GURU TERHORMAT DARI SUKU SAKYA?

Setahu saya Buddha Gotama adalah Guru Para Manusia dan Deva[Sattha Devamanussanam]..

Anumodana _/\_

« Last Edit: 19 March 2010, 07:39:38 PM by Riky_dave »
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
dan gak perlu huruf kapital semua. dalam etika dunia maya, huruf kapital semua dianggap berteriak.

sori lha bro..hehehe...kepencet caps lock..alah objek itu kan netral,tak perlu lha dibombandir,yang penting kan isinya coy.. ^^

_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Quote
Dalam mengkaji Sutra Mahayana, maka yang digunakan adalah referensi dari Mahayana juga, bukan yang lain. Jadi tidak tepat membandingkan Bhiksu Mahayana dengan peraturan Theravada.
bro kaiyin, kalau membahas sutra mahayana lalu memakai refrensi mahayana...apa gunanya ada diskusi?

memakai refrensi kenyataan/realita saya rasa lebih bagus dan langsung terbukti dari pada membahas x-men memakai refrensi komik marvel.
yang kita cari d sini kebenaran realita pada kehidupan nyata. yah jelas pakai kenyataan sebagai refrensi nya juga.
itu kan guna nya diskusi..hihihi

seperti dulu ada topic kalau tidak salah mengenai Visuddhimagga mengatakan diameter matahari dan bulan...
apakah saya harus melakukan pembenaran dengan berbagai alasan kalau jelas-jelas memang SALAH !!! ? .saya rasa kita diskusi mencari kebenarna bukan pembenaran coy.
kalau memang visudhi magga mengatakan diameter cuma beda 1 yojana....ini jelas yg nulis nya salah total..


« Last Edit: 20 March 2010, 12:31:41 AM by marcedes »
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Hendra Susanto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Quote
Dalam mengkaji Sutra Mahayana, maka yang digunakan adalah referensi dari Mahayana juga, bukan yang lain. Jadi tidak tepat membandingkan Bhiksu Mahayana dengan peraturan Theravada.
bro kaiyin, kalau membahas sutra mahayana lalu memakai refrensi mahayana...apa gunanya ada diskusi?

memakai refrensi kenyataan/realita saya rasa lebih bagus dan langsung terbukti dari pada membahas x-men memakai refrensi komik marvel.
yang kita cari d sini kebenaran realita pada kehidupan nyata. yah jelas pakai kenyataan sebagai refrensi nya juga.
itu kan guna nya diskusi..hihihi

seperti dulu ada topic kalau tidak salah mengenai Visuddhimagga mengatakan diameter matahari dan bulan...
apakah saya harus melakukan pembenaran dengan berbagai alasan kalau jelas-jelas memang SALAH !!! ? .saya rasa kita diskusi mencari kebenarna bukan pembenaran coy.
kalau memang visudhi magga mengatakan diameter cuma beda 1 yojana....ini jelas yg nulis nya salah total..


klo ngomong bahasa indonesia jawabnya pake bahasa inggris... dimana keduanya tidak saling memahami kedua bahasa... apa pantas disebut diskusi??

 

anything